Anda di halaman 1dari 95

`PENGARUH KOMPETENSI,PROFESIONALISME DAN

INDEPENDENSIAPARAT PENGAWAS INTERN PEMERINTAH (APIP)


TERHADAP KUALITAS PEMERIKSAAN DI INSPEKTORAT
PENGAWASAN DAERAH POLDA JATIM

ABSTRAK

This study aims to examine the effect of competence, professionalism and independence
of the government internal supervisory apparatus (APIP) on the quality of inspection at the
East Java Regional Supervision Inspectorate. A common problem in this study is the
existence of audit findings that are not detected by APIP as an internal auditor, but are
found by an external auditor, the Supreme Audit Agency (BPK). This study uses a
quantitative approach. The study population was 10 auditors at the Inspectorate for
Regional Supervision of the East Java Regional Police and 30 Kasikeu Polres in the ranks
of the East Java Regional Police. Sampling using simple random sampling method. The
research data were analyzed using multiple regression methods with SPSS assistance. The
results of this study found that partially and simultaneously the variables of auditor
competence, professionalismand independence have a positive and significant effect on
the quality of audits.

Keywords: Competence;Professionalism;Independence; Quality inspection

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kompetensi, propesionalismedan


indenpendensiaparat pengawas intern pemerintah (APIP) terhadap kualitas pemeriksaan di
Inspektorat Pengawasan Daerah Jawa Timur. Dalam Penelitian menunjukkan terdapat
berbagai faktor yang dapat mempengaruhi kualitas pemeriksaan internal dalam
pelaksanaannya.Permasalahan umum dalam penelitian ini adalah adanya temuan audit
yang tidak terdeteksi oleh APIP sebagai auditor internal, namun ditemukan oleh auditor
eksternal, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Penelitian ini menggunakan pendekatan
kuantitatif. Populasi penelitian adalah sebanyak 10 orang parik / auditor pada kantor
Inspektorat Pengawasan Daerah Polda Jatim dan 30 Orang Kasikeu Polres jajaran Polda
Jatim. Pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling. Data
penelitian dianalisis menggunakan metode regresi berganda dengan bantuan SPSS. Hasil
penelitian ini menemukan bahwa secara parsial dan simultan variable kompetensi,
independensi dan profesionalisme auditor berpengaruh positif dan signifikan terhadap
kualitas Pemeriksaan.

Kata Kunci : Kompetensi; Profesionalisme;indenpendensi; Sistem; Kualitas pemeriksaan.


BAB I

A. Latar Belakang
Sebagai bentuk pertanggung jawaban keuangan Polri yang mendapatkan dukungan
anggaran dari Pemerintah atas Pengelolaan Keuangan Negara, maka setiap Tahunnya
Laporan Keuangan Polri harus diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). BPK
memiliki kebebasan dan kemandirian dalam ketiga tahap pemeriksaan, yaitu perencanaan,
pelaksanaan, dan pelaporan hasil pemeriksaan. Adapun kriteria pemberian opini tentang
tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara diatur dalam
Undang-Udang Nomor 15 Tahun 2004.

Peran Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) Memberikan keyakinan yang


memadai atas ketaatan, kehematan, efisiensi, dan efektivitas pencapaian tujuan
penyelenggaraan tugas dan fungsi instansi pemerintah (Peraturan Pemerintah Nomor 60
tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah pasal 11).Audit yang
dilaksanakan oleh APIP Inspektorat Pengawasan Umum Polri dan Inspektorat Pengawasan
daerah Polda saat ini masih menjadi sorotan oleh Badan Pemeriksa Keuangan
(BPK).Indikatornya adalah masih banyaknya temuan audit yang tidak terdeteksi oleh
APIP sebagai auditor internal, akan tetapi ditemukan oleh auditor eksternal yaitu BPK.

Kualitas hasil pemeriksan yang dilaksanakan oleh aparat Inspektorat Pengawasan


Daerah Polda Jatim saat ini masih menjadi sorotan, karena masih banyaknya temuan audit
yang tidak terdeteksi oleh aparat inspektorat sebagai auditor internal, akan tetapi
ditemukan oleh auditor eksternal yaitu Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Badan
Pemeriksa Keuangan (2018) menyebutkan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap
Laporan Keuangan Polri tahun anggaran 2018, terdapat 5 (lima) temuan. Temuan-temuan
tersebut berupa ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, kecurangan, serta
ketidakpatuhan dalam pelaporan keuangan. Dengan adanya temuan BPK tersebut, berarti
kualitas audit aparat inspektorat itwasum Polri khususnya Polda Jatim masih relatif
rendah.

Pada Tahun 2014 BPK RI melaksanakan pemeriksaan di Polda Jatim dan Polres
jajaran untuk pemeriksaan Laporan Keuangan Tahun Anggaran 2013, dengan hasil bahwa
terdapat 21 Temuan dimana sebagian besar temuan tersebut adalah temuan pengembalian
ke Kas Negara, pada saat dilaksanakan pemeriksaan oleh Auditor internal tidak terdeteksi,
hal ini menunjukan bahwa kualitas audit internal itwasda Polda Jatim sangat rendah.

Pada Tahun 2016 BPK RI melaksanakan lagi pemeriksaan di Polda Jatim dengan
sasaran Laporan keuangan (LK) Tahun 2015, dengan Temuan 8 temuan dan nilai temuan
sekitar 940.000.000,00 yang harus di kembalikan ke kas Negara.

Kasus lain yang mempertanyakan kualitas audit juga terjadi atas hasil audit yang
dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan dimana Pada Tahun 2019 dilaksanakan
pemeriksaan Oleh BPK RI dengan target sasaran pemeriksaan adalah Penerimaan Negara
Bukan Pajak dengan nilai pengembalian kurang lebih hampir Rp. 540.000.000,00

Belum lagi beberapa kasus penyimpangan yang dilakukan oleh oknum pembantu
bendahara penerimaan terhadap penjualan SKCK yang tidak disetorkan ke Kas Negara
senilai Rp. 152.000.000,00 dan Rp. 1.178.000.000,00 ini terjadi di dua polres dan
kasusnya masih dalam tahap investigatif ytang dilakukan oleh auditor Itwasda Polda Jatim

Adanya penyimpangan yang terjadi dilingkungan pemerintahan membuat


efektivitas peran dan kualitas audit Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) pun
dipertanyakan. Meskipun dalam teori dinyatakan secara jelas bahwa audit yang baik
adalah yang mampu meningkatkan kualitas informasi, namun dalam praktiknya terdapat
perbedaan. Hal ini dikarenakan sering terjadinya perilaku pengurangan kualitas audit.
Pengurangan kualitas dalam audit dijelaskan oleh Coram, et al (2014) sebagai suatu
perilaku pengurangan mutu dalam pelaksanaan audit yang dilakukan dengan sengaja oleh
auditor dalam suatu proses audit.

Perwujudan Peran Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) a).Memberikan


keyakinan yang memadai atas ketaatan, kehematan, efisiensi, dan efektivitas pencapaian
tujuan penyelenggaraan tugas dan fungsi instansi pemerintah; b).Memberikan peringatan
dini dan meningkatkan efektivitas manajemen risiko dalam penyelenggaraan tugas dan
fungsi instansi pemerintah;dan c).Memelihara dan meningkatkan kualitas tata kelola
penyelenggaraan tugas dan fungsi instansi pemerintah (Peraturan Pemerintah Nomor 60
tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah pasal 11). SPIP dan APIP
seharusnya menjadi "immune system" yang kuat yang dapat mendeteksi, menolak dan
menyingkirkan virus korupsi atau penyimpangan. Jika SPIP dan APIP berjalan dengan
baik dan sesuai tujuan maka diharapkan korupsi di sektor publik dapat diberantas,
sebaliknya jika SPIP dan APIP tidak berjalan semestinya atau bahkan menjadi pelaku
korupsi, maka korupsi justru akan semakin marak dan bebas terjadi.
Berbicara mengenai kualitas audit ini sulit untuk diukur secara objektif sehingga
untuk mendapatkan definisi yang pasti pun kemungkinan jarang. Sering kali terdapat
kesalahan dalam menentukan sifat dan kualitasnya yang dikarenakan dalam mengukur
kualitas audit itu sulit dipahami. Untuk mendapatkan atau meminta data perusahaan atau
organisasi yang rahasia maka seorang auditor harus sering berhubungan atau
berkomunikasi dengan manajemen pada saat melaksanakan audit. Mendapatkan bukti dari
hasil pemeriksaan atas kondisi yang diselidiki itu berasal dari bagaimana sikap seorang
auditor dalam menilai secara objektif. Tanggung jawab seorang manajemen akan dianggap
baik apabila auditor dapat menghasilkan laporan keuangan yang handal atas hasil
pemeriksaan. (Setiawan, 2017:1)

Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) memegang peranan penting untuk


memberikan keyakinan bahwa penyelenggaraan pemerintah dan pertanggungjawaban
melalui sistem akuntabilitas tersebut dapat dilaksanakan seperti yang diharapkan. APIP
untuk dapat melaksanakan pengawasan intern pemerintah tersebut harus didukung dengan
sumber daya manusia yang memiliki keahlian, independen dan taat pada etik. Salah satu
kegiatan utama yang dilakukan oleh APIP adalah audit (PERMENPAN, 2007).

Pengawasan intern Pemerintah merupakan fungsi manajemen yang penting dalam


mewujudkan penyelenggaraan kegiatan Pemerintah Negara yang baik dan bersih. melalui
pengawasan intern dapat diketahui apakah suatu instansi Pemerintah telah melaksanakan
kegiatan sesuai dengan tugas pokok fungsi secara efektif, efesien dan ekonomis sesuai
dengan rencana dan kebijakan berdasarkan peraturan perundang undangan. Pengawasan
intern atas penyelengaraan pemerintah di perlukan untuk mendorong terwujudnya
pemerintah yang baik dan tata kelola yang bersih, dalam rangka mendukung
penyelenggaraan Pemerintah yang efektif, efesien transparan dan akuntabel serta bebas
dari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme. Pengawasan intern sebagai bagian yang tak
terpisahkan dari pelaksanaan reformasi birokrasi Polri bertujuan untuk meningkatkan
kinerja Polri khususnya untuk membangun kapasitas kelembagaan seluruh unit
organisasi/satuan kerja di lingkungan Polri. Reformasi birokrasi Polri akan terwujud jika
tata kelolanya tidak memberikan peluang terhadap praktik-praktik Kolusi, Korupsi, dan
Nepotisme (KKN) (KEP Irwasum Polri Nomor: 01/I/2021 tanggal 4 Januari 2021 tentang
Program Kerja Pengawasan Tahunan Berbasis Resiko (PKPT) Itwasum Polri 2021)
Peran dan fungsi Inspektorat Pengawasan Daerah Polda Jatim secara umum
diatur dalam pasal 1 ayat 6 Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia
Nomor 14 Tahun 2018. Dalam pasal tersebut dinyatakan bahwa Itwasda adalah unsur
pengawas dan pembantu pimpinan dalam bidang pengawasan pada tingkat Polda yang
berada di bawah Kapolda.
Dalam melaksanakan tugas, Itwasda Polda Jatim menyelenggarakan fungsi:
a. Pengawasan untuk memberikan penjaminan kualitas melalui proses:
1) audit untuk memberikan keyakinan memadai bahwa
penyelenggaraanmanajemen aspek perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan danpengendalian dibidang operasional, Sumber Daya Manusia
(SDM),logistik dan anggaran keuangan (Garkeu) di lingkungan Polri
telahberdasarkan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP)
dankepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan
denganmengutamakan prinsip ekonomis, efektivitas dan efisiensi;
2) review untuk memberikan keyakinan terbatas bahwa hal yang direviu
telahdilaksanakan sesuai dengan ketentuan, standar, rencana atau normayang
telah ditetapkan;
3) pemantauan tindaklanjut;
4) evaluasi.
b. Pengawasan untuk memberikan konsultasi, antara lain melalui
konsultasi,sosialisasi dan asistensi;
c. Penyusunan dan perumusan kebijakan penyelenggaraan pengawasan
dilingkungan Polda Jatim;
d. perumusan, pengembangan dan penyusunan perencanaan
kebutuhanorganisasi, manajemen SDM dan logistik, sistem dan metode
termasukpelatihan fungsi pengawasan;
e. pelaksanaan analisa evaluasi atas hasil pelaksanaan pengawasan;
f. penanganan Pengaduan Masyarakat (Dumas) yang disampaikan oleh
instansi,masyarakat atau pegawai negeri pada Polri;
g. pemberian arahan dan bimbingan teknis perencanaan kebutuhan
personelserta saran pertimbangan, penempatan/pembinaan karier personel di
lingkungan Polri;
i. pendampingan kegiatan pengawasan lembaga pengawas ekstern di
lingkunganPolri.
Stuktur organisasi Inspektorat Pengawasan Daerah Polda Jatim terdiri dari
Inspektur. Auditor Kepolisian Tk III, Inspektur Bidang (Irbid), Parik / Auditor, Subbag
Dumasan dan Subbag Renmin

Pelaksanaan fungsi pengawasan intern tidak terbatas pada fungsi audit tetapi juga
sebagai konsultan dan penjamin kualitas terhadap pengelolaan sumber daya manusia,
operasional, sarana prasarana dan keuangan negara. Pengawasan Internal terdiri dari
Wasrik (audit), reviu, evaluasi, pemantauan, dan kegiatan pengawasan lain terhadap
penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi dalam rangka memberikan keyakinan yang
memadai bahwa kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan tolok ukur yang telah
ditetapkan secara efektif, efisien dan ekonomis untuk kepentingan pimpinan dalam
mewujudkan tata kelola kepemerintahan yang baik. Sehingga penyelarasan terhadap hasil
pelaksanaan tugas Inspektorat Pengawasan Umum (Itwasda) Polda Jatim diharapkan dapat
memberikan keyakinan yang memadai atas pencapaian tujuan Polda Jatim, sekaligus dapat
mengisi perannya dalam memberikan peringatan dini (early warning) terhadap potensi
penyimpangan/kecurangan yang terjadi, disebabkan kelemahan dalam sistem maupun
sebagai akibat dari tindak pidana dan/atau pelanggaran yang dilakukan oleh individu
dan/atau korporasi, serta mampu melaksanakan perannya sebagai konsultan dan penjamin
kualitas (quality assurance) dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya. (PKPT Itwasda
2021 Polda Jatim)

Jabatan fungsional Auditor, salah satu syarat untuk diangkat menjadi Auditor
adalah harus melalui pendidikan dan lulus sertifikasi auditor. Selain itu, untuk menambah
nilai kompetensinya maka Auditor harus terus menambah pengetahuan tentang
pengawasan. Dalam hal ini cukup banyak Pendidikan dan pelatihan (diklat) tentang
pengawasan yang diselenggarakan oleh Pusdiklat Pengawasan BPKP. Memiliki
sikap/attitude pemikiran yang analitis (analytical thinking), kemampuan untuk mencari
informasi (information seeking) , kemampuan untuk berkomunikasi yang baik dan efektif,
memiliki rasa percaya diri (self confidences) , perhatian terhadap kejelasan tugas (concern
for order), sikap kepemimpinan (leadership), dan kehendak untuk terus menerus
menambah pengetahuan (continuous learning), merupakan nilai – nilai kompetensi yang
juga harus dimiliki oleh seorang Auditor.(Inspektur Badan Ekonomi Kreatif tentang
analisa pengembangan Kompetensi APIP September 2019)
Pengawasan merupakan salah satu fungsi manajemen yang penting dalam
penyelenggaraan pemerintah. Tujuan utama pengawasan adalah menjaga dan menjamin
agar penyelenggaraan pemerintah dapat mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan
secara ekonomis, efektif dan efisien serta sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Penyelenggaraan pemerintahan yang baik tidak dapat dipisahkan dari pengawasan, karena
keduanya saling terkait dan berhubungan satu sama lain. Efektifitas dan efisiensi penye
Penyelenggaraan pemerintahan sangat tergantung pada efektifitas dan efisiensi
pengelolaan keuangan negara.( PERMENPAN Nomor: PER/03-1/M.PAN/3/2007)

fungsi auditor internal melaksanakan fungsi pemeriksaan internal yang


merupakan suatu fungsi penilaian yang independen dalam suatu organisasi untuk
menguji dan mengevaluasi kegiatan organisasi yang dilakukan. Selain itu, auditor
internal diharapkan pula dapat lebih memberikan sumbangan bagi perbaikan efisiensi
danefektivitas dalam rangka
peningkatankinerjaorganisasi.Dengandemikianauditorinternalpemerintahdaerah
memegang peranan yang sangat penting dalam proses terciptanya akuntabilitas dan
transparansi pengelolaan keuangan.Boynton (dalam Rohman, 2017)

Good quality audits require both competence (expertise) and independence. These
qualities have direct effects on actual audit quality, as well as potential interactive effects.
In addition, financial statement users’ perception of audit quality are a function of their
perceptions of both auditor independence and expertise.Christiawan (2002)

Standar Audit Intern Pemerintah Indonesia untuk menjaga kualitas audit yang
dilakukan oleh APIP. Standar tersebut mengatur bahwa auditor harus memiliki
pendidikan, pengetahuan, keahlian dan keterampilan, pengalaman serta kompetensi lain
yang dibutuhkan untuk melaksanakan tanggung jawabnya. Pimpinan APIP harus yakin
bahwa latar belakang pendidikan, kompetensi dan pengalaman auditor memadai untuk
pekerjaan audit yang akan dilaksanakan. Auditor dalam melaksanakan audit harus
memiliki kompetesi Asosiasi Auditor Intern Pemerintah Indonesia (2014)

Faktor lain yang mempengaruhi kualitas audit internal masalah Profesionalisme


Profesionalisme dapat diartikan sikap dan prilaku auditor dalam menjalakankan profesinya
dengan kesungguhan dan tanggung jawab, serta memelihara citra publik.(Putri, 2015).
profesionalisme merupakan mutu, kualitas, atau prilaku yang menunjukan profesi
seseorang atau orang yang profesional.(Antonius 2011 ; Arens dan Loebbecke 2008)
Profesionalisme seorang auditor merupakan syarat utama bagi profesi tersebut,
karena dengan memiliki pandangan profesionalisme yang tinggi maka para pihak yang
akan mengambil keputusan akan percaya terhadap hasil audit mereka. Auditor internal
dituntut secara profesional untuk melaksanakan fungsi audit dengan baik. Jadi seorang
auditor dapat menghasilkan laporan audit yang berkualitas jika auditor tersebut
melaksanakan pekerjaanya secara profesional.Martak (2015).

Kualitas audit merupakan kemungkinan (joint probability) seorang auditor akan


menemukan dan melaporkan pelanggaran yang ada dalam system akuntansi kliennya. (De
Angelo (1981) Hal tersebut akan dapat mudah ditemukan apabila seorang auditor dapat
melaksanakan auditnya sesuai dengan prosedur dan sesuai dengan SPAP. Standar
Profesional Akuntan Publik (SPAP) pedoman yang mengatur standar umum pemeriksaan
akuntan publik, mengatur segala hal yang berhubungan dengan penugasan, independensi
dalam sikap mental (Manullang,2010). Hingga saat ini, sudah banyak penelitian yang
bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas audit.
Beberapa penelitian terdahulu mengenai faktor-faktor yang serupa dengan peneliti
terkait kualitas audit internal diantaranya adalah Ajeng (2016) yang meneliti variabel
pengalaman kerja, kompetensi, dan independensi pada inspektorat provinsi daerah
Istimewa Yogyakarta. Hasil penelitiannya adalah bahwa pengalaman kerja, kompetensi
dan independensi berpengaruh terhadap kualitas audit internal. Putri (2015) meneliti
pengaruh kompetensi dan profesionalisme auditor internal terhadap kualitas audit pada
BUMN dan BUMD di Yogyakarta. Hasil penelitian menunjuk bahwa kompetensi auditor,
profesional auditor berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit. Peneltian
Muh. Taufik efendy (2020) bahwakompetensidanmotivasiberpengaruh
positifdansignifikanterhadapkualitasaudit,sedangkanvariabelindependensitidak
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kualitas audit. Nilai koefisien
determinasi menunjukkan bahwa secara bersama-sama kompetensi, independensi, dan
motivasi memberikan sumbangan terhadap variabel dependen (kualitas audit) sebesar
72,2%, sedangkan sisanya 27,8% dipengaruhi oleh fakor lain di luar model. Implikasi
temuan penelitian ini bagi upaya terwujudnya audit yang berkualitas adalah perlunya
pemberian motivasi kepada auditor tentang urgensi audit yang
berkualitasdisampingupayapeningkatankompetensimelaluipelatihan,
The Influence of Professionalism and Competence of Auditors towards the
Performance of Auditors. The study found that both variables of the professionalism and
competence of auditors have significant influences towards the performance of auditors
working (Studi tersebut menemukan bahwa keduanya variabel profesionalisme dan
kompetensi auditor pengaruh signifikan terhadap kinerja auditor),
The Influences of Competence, Independence, Due Professional Care, and Time
Budget toward Audit Quality: Psychological Condition As The Moderating Variables.
Lusy dkk (2017). The results show that competence, independence, due professional care,
and time budget have a positive effect on audit quality. (Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kompetensi, independensi, due professional care, dan anggaran waktu berpengaruh
positif terhadap kualitas audit)
The Influence of Competence, Independence, Professionalism of Internal Auditors
and Time Budget Pressure on Audit Quality (Case Study at Inspectorate General of the
Ministry of Marine Affairs and Fisheries) Ngali and hari 2019
In accordance with the results of the analysis in the previous chapter, it can be
concluded that:
a. Internal auditor competence has a significant effect on audit quality and its
direction is positive. This means that the higher the competence of internal
auditors, the better the audit quality.
b. The independence of internal auditors has no effect on audit quality.
c. Professionalism of the Internal Auditor has a significant effect on audit quality
and its directionis positive. This means that the higher the professionalism of the
internal auditor, the higher the audit quality
d. Time budget pressure does not affect audit quality.

Penelitian ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Rivani dan Triyanto
(2018). Perbedaan dengan dengan penelitian terdahulu peneliti menambahkan variabel
integritas dan time budget pressure yang diduga dapat mempengaruhi kualitas audit. Objek
penelitian juga berbeda, objek penelitian sebelumnya yaitu dilakukan pada BPK
Perwakilan Jawa Barat sedangkan objek dalam penelitian ini dilakukan di Inspektorat
Kabupaten Klaten, Inspektorat Kabupaten Blora dan Inspektorat Kabupaten Grobogan.
Berbeda dengan penelitian sebelumnya Fietoria (2016) menyatakan bahwa
profesionalisme tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas audit.Penelitian
lainnya, Maharany et.al., 2016 menyatakan bahwa kompetensi tidak memberikan
pengaruh yang signifikan terhadap kualitas audit
Penelitian yang dilakukan oleh Rivani dan Triyanto (2018) menunjukkan bahwa
variabel kompetensi, independensi, dan profesionalisme secara simultan berpengaruh
terhadap kualitas audit. Secara parsial variabel kompetensi berpengaruh signifikan
terhadap kualitas audit. Sedangkan, variabel independensi, dan profesionalisme tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas audit.

Hal ini berarti bahwa jika kompetensi, independensi, dan profesionalisme diterapkan
bersama oleh auditor dalam melaksanakan tugasnya, maka dapat berpengaruh terhadap
kualitas audit.

Perbedaan hasil dari beberapa penelitian tersebut terkait dengan tema kualitas audit
di lingkungan pemerintahan yang dipengaruhi oleh faktor kompetensidan profesionalisme
yang memengaruhi kualitas audit masih cukup menarik untuk diteliti lebih lanjut.
Penelitian-penelitian tentang hal yang terkait dengan faktorfaktor yang memengaruhi
kualitas audit sudah banyak dilakukan seperti yang telah diuraikan di atas.

Berdasarkan hal tersebut, maka penulis melakukan penelitian dengan


judul“Pengaruh Kompetensi,Profesionalisme dan Indepedensi aparat Pengawas Intern
Pemerintah (APIP) terhadap kualitas pemeriksaan di Inspektorat Pengawasan Daerah
Polda Jatim

1.2. Rumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang penelitian di atas, maka permasalah yang akan

dijawab melalui penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Apakah kompetensi APIP berpengaruh terhadap kualitas Pemeriksaan di


Inpektorat Pengawasan Daerah Polda Jatim?

2) Apakah profesionalismeAPIP berpengaruh terhadap kualitas Pemeriksaandi


Inpektorat Pengawasan Daerah Polda Jatim ?

3) Apakah independensi APIP berpengaruh terhadap kualitas Pemeriksaandi


Inpektorat Pengawasan Daerah Polda Jatim ?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai oleh penulis dalam penyusunan penelitian ini adalah
sebagai berikut :
1) Menganalisis pengaruh kompetensi APIP terhadap kualitas Pemeriksaan.

2) Menganalisis pengaruh Profesionalisme APIP terhadap kualitas Pemeriksaan.

3) Menganalisis pengaruh Profesionalisme APIP terhadap kualitas Pemeriksaan.

1.4. Kegunaan Penelitian

Peneliti berharap agar hasil penelitian ini dapat berguna bagi pihak-pihak terkait
diantaranya adalah:

1) Bagi Penulis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan yang mendalam


kepada peneliti mengenai kualitas audit pada Perwakilan BPKP Provinsi Jawa
Timur, Kompetensi dan Profesionalisme yang harus dimiliki dan dipatuhi oleh
Pejabat Fungsional Auditor serta pengaruh kompetensi, Profesionalisme dan
independensi terhadap kualitas hasil Pemeriksaan ( Audit).

2) Bagi Objek Penelitian

Peneliti berharap hasil penelitian ini bermanfaat berupa masukan kepada


Inspektorat Pengawasan Daerah Jawa Timur dalam meningkatkan kualitas hasil
Pemeriksaan dengan diketahuinya pengaruh kompetensi, Profesionalisme dan
independensi terhadap kualitas hasil Pemeriksaan ( Audit).

3) Bagi Pembaca

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan masukan, serta
memberikan tambahan pemikiran terkait pengaruh kompetensi, Profesionalisme
dan independensi terhadap kualitas hasil Pemeriksaan ( Audit).

1.5. Sistematika Penulisan

Tesis ini terdiri dari lima bab, dimana tiap-tiap bab tersebut akan berisi
pembahasan sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan

Dalam bab ini menguraikan latar belakang masalah beserta segala informasi yang
melandasi perumusan masalah, rumusan masalah yangditeliti, tujuan dan kegunaan
penelitian dan sistematika penulisan yang menggambarkan garis besar pembahasan
secara menyeluruh.
Bab II Kajian Pustaka, Krangka Pemikiran dan Hipotesis Penelitian

Dalam bab ini menguraikan mengenai teori-teori dan konsep yang diambil dari
literatur yang penulis anggap relevan dengan topik yangdibahas. Penulis
menguraikan mengenai audit, jenis audit, internal audit, kualitas audit, kompetensi
auditor, independensi dan etik. Selain itu dalam bab ini, diuraikan beberapa hasil
penelitian sebelumnya yang relevan dengan hasil hipotesis dalam penelitian ini
serta rumusan hipotesis penelitian yang dilakukan.

Bab III Metode Penelitian

Dalam bab ini menyajikan desain penelitian yang dilakukan, lokasi penelitian,
obyek penelitian, identifikasi variabel yang diteliti, definisioperasional variabel,
jenis dan sumber data yang dipergunakan,populasi dan cara penentuan sampel yang
dilakukan dalam penelitian, metodologi pengumpulan data serta teknik analisis
data yang dilakukan.

Bab IV Data dan Pembahasan Hasil Penelitian

Dalam bab ini memberikan diskripsi atas data hasil penelitian, menganalisi data
yang diperoleh melalui uji validitas dan reliabilitas,melakukan pengujian klasik,
melakukan uji hipotesis menggunakan Regresi Linier berganda dan uji signifikansi,
menginterpretasikan dan melakukan pembahasan atas hasil pengujian.

Bab V Simpulan dan Saran

Dalam bab ini menyimpulkan hasil penelitian berdasarkan pembahasan yang telah
dilakukan pada bab sebelumnya, menjelaskan keterbatasan penelitian dan
memberikan saran-saran perbaikan yang bermanfaat.
BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

2.1 Kajian Pustaka


2.1.1 Kompetensi Auditor
2.1.1.1 Pengertian Kompetensi Auditor
Berbicara tentang definisi kompetensi, tentu sangat erat kaitannya dengan
kemampuan, keterampilan, kecakapan, dan lain-lain. Hal itu bertujuan
untuk mengetahui batasan dari seorang individu. Beberapa ahli
mendefinisikan mengenai Kompetensi sebagai berikut:
Menurut Alvin A. Arens, Randal J. Elder, Mark S. Beasley (2014:313)
yang dimaksud kompetensi adalah sebagai berikut:
“Competence is the knowledge and skill necessary to accomplish tasks
that define an individual’s job.”
“Kompetensi adalah pengetahuan dan keterlampilan yang diperlukan
untuk mencapai tugas-tugas yang menentukan suatu pekerjaan individu.”
Menurut Amin Widjaja Tunggal (2013:429) mendefinisikan kompetensi
adalah sebagai berikut:
“Kompetensi adalah pengetahuan dan keahlian yang diperlukan untuk
mencapai tugas yang menentukan pekerjaan individual.”
Sedangkan menurut Faiz Zamzami, Ihda Arifin, Mukhlis (2014:10) yang
dimaksud dengan kompetensi auditor internal adalah sebagai berikut:
“Kompetensi Auditor Internal menerapkan pengetahuan, keahlian, dan
pengalaman yang diperlukan dalam menjalankan tugas dan tanggung
jawabnya pada jasa layanan audit internal.”
Menurut Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (2010:3) tentang
standar kompetensi auditor adalah sebagai berikut:
“ukuran kemampuan minimal yang harus dimiliki auditor yang mencakup
aspek pengetahuan (knowledge), keterampilan/keahlian (skill) dan sikap
(attitude) untuk dapat melakukan tugas-tugas dalam jabatan fungsional
auditor dengan hasil baik”.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kompetensi auditor
adalah auditor yang dengan pengetahuan, keahlian, pengalaman,
pendidikan dan penelitian yang cukup dapat melakukan audit secara
objektif, cermat dan seksama akan menghasilkan audit yang berkualitas
tinggi.
Seorang auditor dengankompetensi yang baik dan sesuai akan dapat
memahami apa yang harus di kerjakan dan apa fungsi dirinya dalam
pekerjaan tersebut.

2.1.1.2 Ciri-ciri Auditor Internal yang Berkompeten


kompetensi menunjukkan karakteristik yang mendasari perilaku yang
menggambarkan motif, karakteristik pribadi (ciri khas), konsep diri, nilai-
nilai, pengetahuan atau keahlian yang dibawa seseorang yang berkinerja,
auditor internal harus peka terhadap persoalan yang terjadi dalam
organisasi di semua tingkatan. Sifat peka merupakan salah satu ciri
bahwa auditor internal tersebut berkompeten. Selain itu, auditor internal
juga harus berusaha agar seluruh pihak mau terbuka tentang segala hal
yang terkait dengan ruang lingkup auditnnya.
Menurut Amin Widjaja Tunggal (2013:22) auditor internal yang
kompeten harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Sifat ingin mengetahui
Auditor internal harus tertarik dan ingin mengetahui semua operasi
perusahaan. Auditor internal harus mempunyai perhatian terhadap
prestasi dan persoalan karyawan perusahaan baik di tingkat bawah
maupun di tingkat atas. Auditor internal harus berusaha agar
karyawan mau berbicara terbuka tentang pekerjaannya sehingga
menghasilkan kritik yang membangun dan ide-ide baru.

2. Ketekunan
Auditor harus terus mencoba sampai mengerti suatu persoalan.
Auditor internal harus melakukan pengujian, pemeriksaan,
memeriksa dan lainnya sampai ia puas bahwa pekerjaan telah
dilakukan seperti apa yang telah dijelaskan oleh auditor internal.
3. Pendekatan yang membangun
Auditor internal harus memandang suatu kesalahan sebagai sesuatu
yang harus di selesaikan, bukan sebagai suatu kejahatan. Auditor
internal harus memikirkan cara agar suatu kesalahan tersebut dapat di
hindarkan, bukannya menuduh siapa yang bertanggung jawab. Suatu
kesalahan di anggap sebagai pedoman untuk perbaikan di masa yang
akan datang.

4. Naluri dan kepahaman kewirausahaan


Auditor internal akan menelaah setiap hal dari pandangan yang luas
dan meninjau akibatnya pada operasi organisasi secara utuh. Auditor
menelaah semua pengaruh yang terjadi terhadap efesiensi dan
efektifitas kegiatan organisasi. Dalam menetapkan penilaian
terhadapsuatu bidang tertentu, auditor harus selalu mengingat pola
hubungan dari masing-masing kegiatan satu sama lain dan terhadap
kegiatan organisasi secara keseluruhan. Dalam proses analisa, selalu
di gunakan perspektif secara luas, bukan secara sempit.

5. Kerjasama/coorporation
Auditor internal akan melihat dirinya sebagai kawan usaha, bukan
sebagai saingan dengan siapa yang akan di periksa. Tujuannya adalah
membantu dan meninjau kembali nasihat-nasihat yang di berikan
pihak perusahaan. Titik perhatian seorang auditor adalah
meningkatkan kegiatan usaha dan lebih mementingkan peningkatan
itu terjadi daripada memperoleh balas jasa atas tercapainya
peningkatan tersebut.

2.1.1.3 Karakteristik yang membentuk Kompetensi Auditor

Spencer dan Spencer dalam Palan (2007:84) mengemukakan bahwa


kompetensi menunjukkan karakteristik yang mendasari perilaku yang
menggambarkan motif, karakteristik pribadi
1. “Pengetahuan; Faktor pengetahuan meliputi masalah teknis,
administratif, proses kemanusiaan, dan sistem. 
2. Keterampilan; merujuk pada kemampuan seseorang untuk melakukan
suatu kegiatan. 
3. Konsep diri dan nilai-nilai; merujuk pada sikap, nilai-nilai dan citra
diri seseorang, seperti kepercayaan seseorang bahwa dia bisa berhasil
dalam suatu situasi. 
4. Karakteristik pribadi; merujuk pada karakteristik fisik dan
konsistensi tanggapan terhadap situasi atau informasi, seperti
pengendalian diri dan kemampuan untuk tetap tenang dibawah tekanan. 
5. Motif; merupakan emosi, hasrat, kebutuhan psikologis atau dorongan-
dorongan lain yang memicu tindakan.”

Dari kelima karakteristik di atas, maka penulis dapat mengungkapkan


bahwa pendapat tentang pandangan mengenai kompetensi auditor
berkenaan dengan masalah kemampuan atau keahlian yang dimiliki
auditor didukung dengan pengetahuan yang bersumber dari pendidikan
formal dan disiplin ilmu yang relevan dan pengalaman yang sesuai
dengan bidang pekerjaan.
Kompetensi diperlukan sebagai kemampuan seseorang untuk
menghasilkan pada tingkat yang memuaskan di tempat kerja, juga
memajukan karakteristik pengetahuan dan keterlampilan yang di miliki
atau di butuhkan oleh setiap individu yang memampukan mereka untuk
melakukan tugas dan tanggung jawab mereka secara efektif dan
meningkatkan standar kualitas profesional dalam pekerjaan.
Menurut Mulyadi (2010:58) kompetensi profesional dapat dibagi menjadi
dua fase yang terpisah yaitu sebagai berikut:
1. Pencapaian Kompetensi Profesional
Pencapaian kompetensi profesional pada awalnya memerlukan standar
pendidikan umum yang tinggi, diikuti oleh pendidikan khusus,
pelatihan dan ujian profesional dalam subyek-subyek yang relevan,
dan pengalaman kerja, hal ini harus menjadi pola pengembangan yang
normal untuk anggota.
2. Pemeliharaan Kompetensi Profesional
a. Kompetensi harus dipelihara dan dijaga melalui komitmen untuk
belajar dan melakukan peningkatan profesional secara
berkesinambungan selama kehidupan profesional anggota.
b. Pemeliharaan kompetensi profesional memerlukan kesadaran
untuk terus mengikuti perkembangan profesi akuntansi, termasuk
di antaranya pernyataan-pernyataan akuntansi, auditing dan
peraturan lainnya, baik nasional maupun internasional yang
relevan.
Kompetensi menunjukkan terdapatnya pencapaian dan pemeliharaan
suatu tingkatan pemahaman dan pengetahuan yang memungkinkan
seorang anggota untuk memberikan jasa dengan kemudahan dan
kecerdikan. Dalam penugasan profesional melebihi kompetensi anggota
atau perusahaan, anggota wajib melakukan konsultasi atau menyerahkan
klien kepada pihak lain yang lebih kompeten.
Setiap anggota bertanggung jawab untuk menentukan kompetensi
masing-masing atau menilai apakah pendidikan, pengalaman dan
pertimbangan yang diperlukan memadai untuk tanggung jawab yang
harus dipenuhi.

2.1.2 Profesionalisme Auditor Internal


2.1.2.1 Pengertian Profesionalisme Auditor Internal
Auditor internal harus dilakukan secara ahli dan dengan ketelitian
profesional. Kemampuan profesional wajib dimiliki oleh setiap auditor
internal. Dalam setiap pemeriksaan, pimpinan audit internal haruslah
menugaskan orangorang yang secara bersama-sama memiliki
pengetahuan dan kemampuan dari berbagai disiplin ilmu.
Auditor internal yang profesional harus memiliki independensi untuk
memenuhi kewajiban profesionalnya, antara lain seperti memberikan
opini yang objektif, tidak bias, tidak dibatasi, dan melaporkan masalah
apa adanya bukan 50 melaporkan sesuai keinginan eksekutif atau
lembaga (Sawyer dalam Ali Akbar, 2006:35)
Hiro Tugiman (2014:119) menyatakan bahwa : “Profesionalisme
merupakan suatu sikap dan prilaku seseorang dalam melakukan profesi
tertentu” Arens, et al (2012:129) menyatakan bahwa : “Professional
means a responsibility for conduct that extend beyond satisfying
individual responsibilities and beyond the requirements of our society’s
laws and regulations”. Menurut Sedarmayanti (2011:96) profesionalisme
adalah sebagai berikut :
“Pilar yang akan menempatkan birokrasi sebagai mesin efektif bagi
pemerintah dan sebagai parameter kecekapan aparatur dalam bekerja
secara baik. Ukuran profesionalisme adalah kompetensi, efektifitas, dan
efesiensi serta bertanggung jawab”.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat penulis tarik kesimpulan
bahwa profesionalisme auditor merupakan sikap seseorang auditor yang
melakukan pekerjaanya secara profesional atau sesuai dengan apa yang
telah menjadi ketentuan suatu organisasi atau perusahaan. Seorang
auditor internal yang profesional mampu bekerja tanpa adanya tekanan
dari berbagai pihak dalam mengerjakan tugasnya sehingga dapat
menyelesaikan tugasnya secara efektif dan efisien.

2.1.2.2 Standar-Standar Profesional Auditor


Seorang auditor dikatakan profesionalisme diwajibkan untuk memenuhi
dan mematuhi standar-standar kode etik yang telah ditetapkan oleh Ikatan
Akuntansi Indonesia (IAI), dalam SPAP (2011) yaitu sebagai berikut :
1. Prinsip-prinsip yang telah ditetapkan oleh IAI yaitu standar ideal dari
perilaku etis yang telah ditetapkan oleh IAI seperti dalam terminology
filosofi.
2. Peraturan perilaku seperti standar minimum perilaku etis yang
ditetapkan sebagai peraturan khusus yang merupakan suatu keharusan.
3. Interprestasi peraturan perilaku tidak merupakan keharusan, tetapi para
praktisi harus memahaminya.
4. Ketetapan para etika seperti seorang akuntan publik, wajib untuk harus
memegang teguh prinsp kebebasan dalam menjalankan proses
auditnya, walaupun auditor dibayar oleh kliennya.
Hall dan Forgaty (1996:52) dalam Febriyanti (2012:166) seseorang
dikatakan memiliki profesionalisme yang tinggi akan didasari oleh :

1. Dedikasi terhadap profesi (sense of calling)


Seorang profesional harusnya memiliki dedikasi yang tinggi
terhadap profesi. Ia akan senang dan terdorong melihat dedikasi dan
idealisme teman seprofesinya dan antusias mencintai serta memiliki
komitmen yang tinggi terhadap profesi.
2. Percaya pada tanggung jawab (belive in public service)
Seorang profesional memiliki kesadaran akan tanggung jawab
sosial tinggi bahwa profesinya sangat penting bagi kesejahteraan
masyarakat luas. Jika terdapat kelemahan peranan atau
independensi, maka hal tersebut akan membahayakan masyarakat
luas.
3. Tuntutan otonomi (pernceirved autonomyin work)
Seorang profesional mendambakan otonomi sebesar-besarnya guna
memberikan pelayanan yang baik dan lebih independen terhadap
organisasi dan memiliki kesadaran penuh bahwa profesinya
menuntut kekhususan sehingga keputusan tentang profesinya tidak
dapat dibuat oleh pihak sembarangan.
4. Percaya pada pengaturan sendiri (belivie in self-regulation)
Seorang profesional seperti akuntan menyadari dengan sungguh-
sungguh bahwa sebagai profesi, akuntan publik memiliki standar
yang penting untuk diterapkan dan menyadari bahwa standar itu
merupakan ukuran agar profesionalisme akuntan publik dapat
diandalkan.
5. Dukungan terhadap organisasi (use of professional organization as
reference) Seorang profesional menyadari penuh pentingnya untuk
menambah ilmu pengetahuan dan informasi-informasi mengenai
hal-hal yang berkenan dengan profesinya melalui buku-buku,
jurmal-jurnal atau berpartisipasi dalam seminar-seminar. Seorang
profesional juga harus memberikan dukungan terhadap organisasi
profesinya.

2.1.2.3 Dimensi Profesionalisme Auditor Internal


Audit internal memiliki konsep profesionalisme yang banyak digunakan
oleh para peneliti untuk mengukur profesionalisme dari profesi auditor
yang tercermin dari sikap dan perilaku. Terdapat lima dimensi
profesionalisme menurut Hall dalam Ratna Ningsih (2012:34) adalah
sebagai berikut:
1. Pengabdian pada Profesi Pengabdian pada profesi dicerminkan dari
dedikasi profesionalisme dengan menggunakan pengetahuan dan
kecakapan yang dimiliki. Keteguhan untuk tetap melaksanakan
pekerjaan meskipun imbalan ekstrinsik kurang. Sikap ini adalah
ekspresi dari pencurahan diri yang total terhadap pekerjaan. Pekerjaan
didefinisikan sebagai tujuan, bukan hanya alat untuk mencapai tujuan.
Totalitas ini sudah menjadi komitmen pribadi, sehinga kompensasi
utama yang diharapkan dari pekerjaan adalah kepuasan rohani, baru
kemudian materi.
2. Kewajiban Sosial Kewajiban sosial adalah pandangan tentang
pentingnya peranan profesi dan manfaat yang diperoleh baik
masyarakat maupun profesional karena adanya pekerjaan tersebut,
auditor harus mempunyai pandangan bahwa dengan yang
dilaksanakannya untuk kepentingan publik karena dengan pendapat
auditnya terhadap suatu laporan keuangan akan mempengaruhi
pengambilan keputusan oleh pemakai laporan audit. Oleh karena itu
auditor mempunyai kontribusi yang sangat besar bagi masyarakat serta
profesinya. 54 Jadi apabila semakin tinggi kewajiban sosial maka akan
semakin tinggi profesionalisme auditor.
3. Kemandirian Kemandirian dimaksudkan sebagai suatu pandang
seseorang yang profesional harus membuat keputusan sendiri tanpa
tekanan dari pihak lain (pemerintah, klien, dan bukan anggota profesi).
Seorang auditor dituntut harus mampu mengambil keputusan sendiri
tanpa adanya pihak lain sesuai dengan pertimbangan-pertimbangan
yang dibuat berdasarkan kondisi dan keadaan yang dihadapinya.
Setiap ada campur tangan dari luar dianggap sebagai hambatan
kemandirian secara profesional.
4. Keyakinan terhadap Peraturan Profesi Keyakinan terhadap peraturan
profesi adalah suatu keyakinan bahwa yang paling berwenang menilai
pekerjaan profesional adalah rekan sesama profesi, bukan orang luar
yang tidak mempunyai kompetensi dalam bidang ilmu dan pekerjaan
mereka.
5. Hubungan dengan Sesama Profesi Hubungan dengan sesama profesi
adalah menggunakan ikatan profesi sebagai acuan, termasuk
didalamnya organisasi formal dan kelompok kolega informasi sebagai
ide utama dalam pekerjaan. Melalui ikatan profesi ini para profesional
membangun kesadaran profesional.

2.1.3Independensi Auditor Internal


2.1.3.1 Pengertian Indenpedensi
“A member in public practice shall be independence in the performance a
professional service as require by standards promulgated by bodies designated by
a council.
Independensi berarti sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak
dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada orang lain. Independensi juga
berarti adanya kejujuran dalam diri auditor dalam mempetimbangkan fakta dan
adanya pertimbangan yang objektif tidak memihak dalam merumuskan dan
menyatakan pendapatnya, maka audit yang dihasilkan akan sesuai dengan fakta
tanpa ada pengaruh dari luar.Alvin A. Arens, Mark S. Beasley dan Randal J. Elder
(2014:111)
“Independensi mencerminkan sikap tidak memihak serta tidak dibawah
pengaruh tekanan tertentu dalam mengambil tindakan dan keputusan”Mautz dan
Sharaf dalam Theodorus M. Tuanakotta(2011:64)

Independensi adalah standar umum yang kedua mengatur mental


independen auditor dalam menjalankan tugasnya. Independensi berarti sikap
mental bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung
pada orang lain. Independensi juga berarti adanya kejujuran dalam diri auditor
dalam mempertimbangkan fakta dan adanya pertimbangan yang objektif tidak
memihak dalam diri auditor dalam merumusakan dan menyatakan
pendapatnya.Mulyadi (2002 : 26)
“Independensi dalam audit berarti cara pandang yang tidak memihak di
dalam pelaksanaan pengujian, evaluasi hasil pemeriksaan, dan penyusunan
laporan audit, sikap mental independent tersebut harus meliputi Independence in
fact dan Independence in appearance”Siti Kurnia Rahayu dan Ely Suhayati
(2013:51)
Dari pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa independensi yaitu suatu
sikap netral, tindakan dan cara pandang yang tidak memihak dan tidak
dipengaruhi oleh siapapun pada saat mengambil keputusan.

2.1.3.2 Indikator Independensi


2 indikator dalam independensi auditor (Siti Kurnia Rahayu & Ely
Suhayati (2013:51)

1. Independence in fact (Independensi Dalam Kenyataan) Independen


dalam kenyataan aka nada apabila pada kenyataannya auditor mampu
mempertahankan sikap yang tidak memihak sepanjang pelaksanaan
auditnya. Artinya sebagai suatu kejujuran yang tidak memihak dalam
merumuskan dan menyatakan pendapatnya, hal ini berarti bahwa
dalam mempertimbangkan fakta-fakta yang dipakai sebagai dasar
pemberian pendapat, auditor harus objektif dan tidak berprasangka.
2. Independence in appearance (Independensi Dalam Penampilan)
Independensi dalam penampilan adalah hasil interpretasi pihak lain
mengenai independensi ini. Auditor akan dianggap tidak independent
apabila auditor tersebut memiliki hubungan tertentu (misalnya
hubungan keluarga) dengan kliennya yang dapat menimbulkan
kecurigaan bahwa auditor tersebut akan memihak kliennya atau tidak
independen.
2.1.3.3 Aspek-Aspek Independensi
2 aspek dari independensi. Aspek tersebut yaitu : The phylosopy of
auditing R.K. Mautz (1961:204)
1. Independensi sikap mental Independensi sikap mental yaitu,
adanya kejujuran di dalam diri akuntan dalam
mempertimbangkan fakta-fakta dan adanya pertimbangan yang
obyektif tidak memihak di dalam diri akuntan dalam
menyatakan pendapatnya.
2. Independensi penampilan Independensi penampilan yaitu,
kesan masyarakat bahwa akuntan publik bertindak independen
sehingga akuntan publik harus menghindari faktor-faktor yang
dapat mengakibatkan masyarakat meragukan kebebasannya.
Independensi penampilan berhubungan dengan persepsi
masyarakat terhadap independensi akuntan publik

2.1.4 Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP)


2.1.4.1 Pengertian APIP
Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP) adalah instansi pemerintah
yang dibentuk dengan tugas melaksanakan pengawasan internal/audit
internal di lingkungan pemerintah pusat dan/atau pemerintah daerah. Pada
Pasal 1 Ayat (3) Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur
Negara Nomor: PER/220/M.PAN/7/2008 Tentang Jabatan Fungsional
Auditor Dan Angka Kreditnya dijelaskan bahwa APIP adalah instansi
pemerintah yang dibentuk dengan tugas melaksanakan pengawasan
internal di lingkungan pemerintah pusat dan/atau pemerintah daerah, yang
terdiri dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP),
Inspektorat Jenderal Departemen, Inspektorat/unit pengawasan internal
pada Kementerian Negara, Inspektorat Utama/Inspektorat Lembaga
Pemerintah Non Departemen, Inspektorat/ unit pengawasan internal pada
Kesekretariatan Lembaga Tinggi Negara dan Lembaga Negara, Inspektorat
Provinsi/Kabupaten/Kota, dan unit pengawasan internal pada Badan
Hukum Pemerintah lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Pada Pasal 49 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 60 Tahun 2008, Aparat
Pengawasan Internal Pemerintah terdiri dari :
1. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)
BPKP adalah Aparat Pengawasan Internal Pemerintah yang
bertanggung jawab langsung kepada Presiden. BPKP melakukan
pengawasan internal terhadap akuntabilitas keuangan negara atas
kegiatan tertentu, meliputi :
a. Kegiatan yang bersifat lintas sektoral;
b. Kegiatan kebendaharaan umum negara berdasarkan penetapan
oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara; dan
c. Kegiatan lain berdasarkan penugasan dari presiden.
2. Inspektorat Jenderal Kementerian, Inspektorat/Unit Pengawasan
Internal pada Kementerian Negara, Inspektorat Utama/Inspektorat
Lembaga Pemerintah II-2 Non Kementerian, Inspektorat/Unit
Pengawasan Internal pada Kesekretariatan Lembaga Tinggi Negara
dan Lembaga Negara.
Inspektorat Jenderal atau nama lain yang secara fungsional
melaksanakan pengawasan internal adalah Aparat Pengawasan
Internal Pemerintah yang bertanggung jawab langsung kepada
menteri/pimpinan lembaga. Inspektorat Jenderal atau nama lain
yang secara fungsional melaksanakan pengawasan internal
melakukan pengawasan terhadap seluruh kegiatan dalam rangka
penyelenggaraan tugas dan fungsi kementerian negara/lembaga
yang didanai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

3. Inspektorat Pengawasan Daerah Polda Jatim (Itwasda)

Inspektorat Pengawasan Daerah Polda Jatim secara umum


diatur dalam pasal 1 ayat 6 Peraturan Kepala Kepolisian Negara
Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2018. Dalam pasal tersebut
dinyatakan bahwa Itwasda adalah unsur pengawas dan pembantu
pimpinan dalam bidang pengawasan pada tingkat Polda yang
berada di bawah Kapolda yang mempunyai tugas
menyelenggarakan pengawasan di lingkungan Polda untuk
memberikan penjaminan kualitas dan memberikan konsultasi serta
pendampingan kegiatan pengawasan dari lembaga eksternal dengan
rincian tugas sebagai berikut : menyelenggarakan penyusunan
rencana kerja dan anggaran, pengelolaan dan pembinaan
manajemen personel dan logistik, administrasi dan ketatausahaan,
serta pengelolaan keuangan, pengawasan untuk memberikan
penjaminan kualitas, pemberian konsultasi, sosialisasi dan asistensi.

2.1.4.2 Peran Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP)


Peran Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) yang efektif
mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2008 tentang
Sistem Pengendalian Intern Pemerintah pasal 11, yakni :
1.Memberikan keyakinan yang memadai atas ketaatan, kehematan,
efisiensi, dan efektivitas pencapaian tujuan penyelenggaraan tugas dan
fungsi instansi pemerintah;
2. Memberikan peringatan dini dan meningkatkan efektivitas manajemen
risiko dalam penyelenggaraan tugas dan fungsi instansi pemerintah;dan
3. Memelihara dan meningkatkan kualitas tata kelola penyelenggaraan
tugas dan fungsi instansi pemerintah.
peran APIP yang berjalan dengan baik dapat mencegah kecurangan,
menghasilkan keluaran yang berharga untuk menjadi masukan bagi pihak
auditor eksternal, eksekutif dan legislatif dalam memperbaiki pengelolaan
dan pertanggungjawaban keuangan daerah pada waktu yang akan datang.
BPK dapat memanfaatkan hasil pengawasan APIP terutama dari hasil
reviu atas laporan keuangan pemerintah, mendukung manajemen
pemerintah daerah dalam pelaksanaan rekomendasi BPK dan perbaikan
sistem pengendalian Internal. APIP yang profesional dan independen
mendorong peningkatan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan
keuangan yang dapat meningkatkan kewajaran laporan keuangan.

2.1.4.3 Gambaran Umum Peran APIP

Peran Aparat Pengawasan Internal Pemerintah dalam instansi pemerintah


adalah melaksanakan fungsi sebagai auditor internal. Definisi auditor
internal yang dikembangkan oleh organisasi Internal Auditor
International (IIA) adalah sebagai berikut: “Internal auditing is an
independent, objectives assurance and consulting activity designed to add
value and improve an organization’s operations.
It helps an organization accomplish its objectives by bringing a
systematic, diciplined approach to evaluate and improve the effectiveness
of risk management, control and governance processes” (IIA, 1999 dalam
Rahmat (2010)).
Sesuai definisi tersebut, untuk mewujudkan peran yang efektif, APIP
dituntut melakukan pendekatan dan praktik internal auditing yang
modern, berorientasi ke pencapaian tujuan organisasi, melalui kegiatan:
1. Pemberian kepastian, keyakinan, dan penjaminan yang memadai
(assurance) dengan melakukan kegiatan, antara lain audit, reviu,
penilaian, evaluasi, verifikasi, pengujian, dan pemantauan atau
monitoring;
2. Konsultasi (consulting) untuk pemberian solusi atas berbagai
permasalahan dalam pencapaian tujuan organisasi, dengan melakukan
kegiatan, antara lain sosialisasi, bimbingan, pendampingan, pemberian
saran/petunjuk (advice)/konsultasi, melakukan pelatihan (training),
dan survei.

Tidak ada perbedaan yang mutlak antara pekerjaan assurance dan


konsultasi, namun keduanya berkaitan erat. Setidaknya pekerjaan
assurance digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan pekerjaan
konsultasi sebagai bagian yang direkomendasikan, sementara pekerjaan
konsultasi memberikan kontribusi atas meningkatnya kepastian-assurance.
Organisasi Internal Auditor International (IIA), menegaskan bahwa dalam
melaksanakan penugasan konsultasi, auditor harus mengupayakan
perbaikan melalui pemberian masukan, saran, dan rekomendasi yang
berkualitas (spesifik, dapat diterapkan-applicable, dengan manfaat yang
lebih besar daripada biaya). Namun, hal tersebut tidak boleh memengaruhi
objektivitas dan pengambilan keputusan tetap merupakan fungsi
manajemen.
IIA juga memberikan gambaran perbedaan antara assurance dan consulting
sebagai berikut:
1. Jasa assurance merupakan penilaian yang objektif, untuk
memberikan pendapat/simpulan yang independen, atas menajamen
risiko, pengendalian, dan proses tata kelola. Sifat dan lingkup
kegiatan assurance ditentukan oleh internal auditor. Dalam
penugasan, assurance umumnya melibatkan tiga pihak, yaitu:
seorang atau sekelompok orang yang terlibat secara
langsung/pelaku atas suatu proses/sistem/kejadian, seorang atau
sekelompok internal auditor yang membuat penilaian, dan seorang
atau sekelompok pengguna jasa penilaian auditor.
2. Jasa-jasa consulting lebih bersifat pemberian saran dan pada
umumnya dilakukan berdasarkan permintaan khusus klien. Sifat
dan lingkup penugasan konsultasi bergantung pada perjanjian yang
ditugaskan oleh klien, bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah
dan perbaikan tata kelola organisasi, manajemen risiko, dan proses
pengendalian. Umumnya, kegiatan consulting melibatkan dua
pihak, yaitu internal auditor sebagai pemberi saran dan klien
sebagai penerima saran
Perwujudan peran APIP yang efektif, merupakan bagian dari
penyelenggaraan SPIP yang dibangun oleh manajemen intansi
pemerintah sebagai unsur lingkungan pengendalian. Dari sudut pandang
sistem pengendalian,

APIP membatu manajemen untuk melaksanakan pemantauan atas sistem


pengendalian internal melalui penilaian independen.
Pada akhirnya, perwujudan peran APIP yang efektif merupakan
kewajiban dari pimpinan intansi pemerintah, sebagai bagian dari upaya
menciptakan dan memelihara lingkungan pengendalian, agar
menimbulkan perilaku positif dan kondusif, untuk penerapan sistem
pengendalian internal dalam lingkungan kerjanya
PP No. 60 Tahun 2008 tentang SPIP, dalam upaya penguatan efektivitas
penyelenggaraan SPIP maka menteri/pimpinan lembaga, gubernur, dan
bupati/walikota bertanggung jawab atas efektivitas penyelenggaraan
Sistem Pengendalian Internal di lingkungan masing-masing. Untuk
memperkuat dan menunjang efektivitas Sistem Pengendalian Internal
dilakukan pengawasan internal atas penyelenggaraan tugas dan fungsi
Instansi Pemerintah termasuk akuntabilitas keuangan negara; dan
pembinaan penyelenggaraan SPIP. Pengawasan internal atas
penyelenggaraan tugas dan fungsi intansi pemerintah dilakukan oleh
APIP melalui audit, reviu, evaluasi, pemantauan dan kegiatan
pengawasan lainnya yang diuraikan sebagai berikut:
1. Audit
Audit merupakan proses identifikasi masalah, analisis, dan
evaluasi bukti yang dilakukan secara independen, objektif dan
profesional berdasarkan standar audit, untuk menilai kebenaran,
kecermatan, kredibilitas, efektivitas, efisiensi, dan keandalan
informasi pelaksanaan tugas dan fungsi instansi pemerintah.
Pelaksanaan audit terdiri atas audit kinerja dan audit dengan tujuan
tertentu. Audit kinerja merupakan audit atas pengelolaan keuangan
negara dan pelaksanaan tugas dan fungsi Instansi Pemerintah yang
terdiri atas aspek kehematan, efisiensi, dan efektivitas sedangkan
Audit dengan tujuan tertentu mencakup audit yang tidak termasuk
dalam audit kinerja. Pelaksanaan audit internal di lingkungan
Instansi Pemerintah dilakukan oleh pejabat yang mempunyai tugas
melaksanakan pengawasan dan yang telah memenuhi syarat
kompetensi keahlian sebagai auditor. Syarat kompetensi keahlian
sebagai auditor dipenuhi melalui keikutsertaan dan kelulusan
program sertifikasi.

Kebijakan yang berkaitan dengan program sertifikasi


ditetapkan oleh instansi pembina jabatan fungsional sesuai
peraturan perundang-undangan. Untuk menjaga perilaku pejabat,
disusun kode etik aparat pengawasan internal II-6 pemerintah.
Pejabat wajib menaati kode etik yang disusun oleh organisasi
profesi auditor dengan mengacu pada pedoman yang ditetapkan
pemerintah. Untuk menjaga mutu hasil audit yang dilaksanakan
aparat pengawasan internal pemerintah, disusun standar audit.
Setiap pejabat wajib melaksanakan audit sesuai dengan standar
audit. Standar audit disusun oleh organisasi profesi auditor dengan
mengacu pada pedoman yang ditetapkan oleh pemerintah
2. Reviu
Reviu merupakan penelaahan ulang bukti-bukti suatu kegiatan
untuk memastikan bahwa kegiatan tersebut telah dilaksanakan
sesusai dengan ketentuan, standar, rencana, atau norma yang telah
ditetapkan. Pada Pasal 57 PP No. 60 Tahun 2008 dijelaskan bahwa
setiap APIP wajib melakukan reviu atas laporan keuangan instansi
pemerintahan yang diawasi, yaitu :
a. Inspektorat Jenderal atau nama lain yang secara fungsional
melaksanakan pengawasan internal melakukan reviu atas
laporan keuangan kementerian negara/lembaga sebelum
disampaikan menteri/pimpinan lembaga kepada Menteri
Keuangan.
b. Inspektorat Provinsi melakukan reviu atas laporan keuangan
pemerintah daerah provinsi sebelum disampaikan gubernur
kepada Badan Pemeriksa Keuangan.
c. Inpektorat Polda melakukan reviu atas laporan keuangan
Kepolisian daerah sebelum disampaikan kepada Badan
Pemeriksa Keuangan melalui Kapusku Polri.
d. Inspektorat Kabupaten/Kota melakukan reviu atas laporan
keuangan pemerintah daerah kabupaten/kota sebelum
disampaikan bupati/walikota kepada Badan Pemeriksa
Keuangan.

e. BPKP melakukan reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah


Pusat sebelum disampaikan Menteri Keuangan kepada
Presiden.
f. Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara
menetapkan standar reviu atas laporan keuangan untuk
digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan reviu atas
laporan keuangan oleh aparat pengawasan internal pemerintah.

3. Evaluasi
Evaluasi merupakan rangkaian kegiatan membandingkan hasil
atau prestasi suatu kegiatan dengan standar, rencana, atau norma
yang telah ditetapkan, dan menentukan faktor-faktor yang
mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan suatu kegiatan dalam
mencapai tujuan.
4. Pemantauan
Pemantauan merupakan proses penilaian kemajuan suatu
program atau kegiatan dalam mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
5. Kegiatan Pengawasan Lainnya
Kegiatan Pengawasan Lainnya merupakan kegiatan
pengawasan, antara lain berupa sosialisasi mengenai pengawasan,
pendidikan dan pelatihan, bimbingan dan konsultasi, pengelolaan
hasil pengawasan, dan pemaparan hasil pengawasan.

Pada Peraturan Menteri Negara Perdayagunaan Aparatur Negara Nomor:


PER/220/M.PAN/7/2008 Tentang Jabatan Fungsional Auditor dan Angka
Kreditnya juga dijelaskan bahwa APIP melakukan pengawasan internal di
lingkungan pemerintah. Pasa Pasal 6 dijelaskan bahwa pengawasan dalam konteks
pengawasan internal adalah seluruh proses kegiatan audit, evaluasi, reviu,
pemantauan dan kegiatan pengawasan lain, seperti konsultansi (consultancy),
sosialisasi, asistensi, terhadap penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi dalam
rangka memberikan keyakinan yang memadai (assurance) bahwa kegiatan telah
dilaksanakan sesuai dengan tolok ukur yang telah ditetapkan secara efektif dan
efisien untuk kepentingan pimpinan dalam mewujudkan tata kelola/
kepemerintahan yang baik (good governance). Dalam malakukan pengawasan
internal di instansi pemerintah, maka dilakukan dengan 5 (lima) tahap yang
diuraikan sebagai berikut:

1. Kegiatan Perencanaan Pengawasan, yaitu suatu proses membantu


pimpinan unit pengawasan dalam merancang, menetapkan tujuan dan
sasaran kinerja pengawasan, memutuskan bagaimana mencapainya
dan mengidentifikasi tindakan-tindakan yang diperlukan untuk
mencapai tujuan dan sasaran pengawasan yang telah ditetapkan
tersebut.
2. Kegiatan Pengorganisasian Pengawasan, yaitu suatu proses
membantu pimpinan unit pengawasan dalam memilah, merinci,
membagi pekerjaanpekerjaan pengawasan yang akan dilakukan,
mengalokasikan sumber daya dan mengkoordinasikan hasil kegiatan
pengawasan ke pihak-pihak yang berkepentingan untuk mencapai
tujuan dan sasaran pengawasan yang telah ditetapkan.
3. Kegiatan Pengendalian Pengawasan, yaitu suatu proses membantu
pimpinan unit pengawasan dalam melaksanakan kegiatan
pemantauan atas kinerja pengawasan, membandingkan realisasi
kinerja dengan tujuan II-9 dan sasaran yang telah ditetapkan, dan
mengambil tindakan-tindakan perbaikan (corrective action) yang
diperlukan ke arah pencapaian hasil pengawasan yang telah
ditetapkan.
4. Kegiatan Evaluasi Pengawasan, yaitu suatu proses membantu
pimpinan unit pengawasan untuk membuat penilaian dan keputusan
tentang nilai suatu gagasan, metode atas kegiatan pengawasan
dengan menggunakan kriteria tertentu, seperti membuat kritik,
membuat penilaian, memberikan argumentasi, dan membuat
penafsiran untuk tujuan perbaikan kegiatan pengawasan.
5. Kegiatan Teknis Pengawasan, yaitu melaksanakan kegiatan audit,
evaluasi, reviu, pemantauan, dan pengawasan lain, mulai dari
persiapan, perencanaan, pelaksanaan sampai dengan penyusunan
laporan.
2.1.5. Audit Internal
2.1.5.1 Pengertian Audit Internal

Audit internal memiliki peranan penting dalam perkembangan suatu


organisasi khususnya di pemerintahan yang sangat memerlukan peran
audit internal.

Audit internal digunakan untuk mendukung keberjalanan manajemen


suatu organisasi sebagai fungsi controlling yang dapat menjamin
organisasi tersebut dapat berjalan sesuai dengan perencanaan dan
mengarah kepada tujuannya. Pada umumnya audit internal dilakukan oleh
unit yang berada di dalam organisasi yang memang ditugaskan untuk
melakukan audit terhadap laporan keuangan, berbagai catatan
pembukuan, serta bukti pendukung yang dibuat oleh manajemen suatu
organisasi.
Untuk lebih memahami pengertian audit internal itu sendiri, maka berikut
adalah beberapa pengertian audit internal yang dikemukakan oleh
beberapa ahli akuntansi, diantaranya adalah sebagai berikut :
Hery (2016:238) menyatakan bahwa :

“Audit internal adalah suatu fungsi penilaian yang dikembangkan secara


bebas dalam organisasi untuk menguji dan mengevaluasi kegiatan-
kegiatan sebagai wujud pelayanan terhadap organisasi perusahaan.
Pemeriksaan internal melaksanakan aktivitas penilaian yang bebas dalam
suatu organisasi untuk menelaah kembali kegiatan-kegiatan dalam bidang
akuntansi, 20 keuangan, dan bidang-bidang operasi lainnya sebagai dasar
pemberian pelayanannya pada manajemen. Faiz Zamzami, Ihda Arifin
Faiz dan Mukhlis (2015:7)menyatakan bahwa: “Audit internal adalah
kegiatan independen dan objektif yang menyediakan jasa asuransi dan
konsultasi, dirancang untuk memberikan nilai tambah dan meningkatkan
kegiatan operasi organisasi.

Audit internal membantu organisasi mencapai tujuannya melalui suatu


pendekatan yang sistematis dan teratur untuk mengevaluasi dan
meningkatkan efektivitas manajemen resiko, pengendalian dan
prosespengelolaan” Menurut Hiro Tugiman (2014:11) audit internal
adalah sebagai berikut : “Audit internal atau pemeriksaan internal adalah
suatu fungsi penilaian yang independen dalam suatu organisasi untuk
menguji dan mengevaluasi kegiatan organisasi yang dilaksanakan”

Menurut Sukrisno Agoes (2013:204) audit internal adalah sebagai


berikut:

“Audit internal adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh bagian internal


audit perusahaan, terhadap laporan keuangan dan catatan akuntansi
perusahaan maupun ketaatan terhadap kebijakan manajemen puncak yang
telah ditentukan dan ketaatan terhadap peraturan pemerintah dan
ketentuanketentuan dari ikatan profesi yang berlaku”

Berdasarkan beberapa definisi mengenai audit internal diatas, penulis


dapat menarik kesimpulan bahwa audit internal adalah suatu proses
sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti dan informasi
secara objektif yang dilakukan oleh seorang yang kompeten dan
independen dengan tujuan untuk menilai serta melaporkan tingkat
kesesuaian atau kewajaran laporan keuangan dengan kriteria yang telah
ditetapkan serta mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak yang
berkepentingan.

2.1.5.2 Tujuan Audit Internal

Pemeriksaan yang dilakukan oleh audit internal memiliki tujuan untuk


membantu anggota organisasi khususnya pimpinan suatu organisasi
dalam memberikan pertanggung jawaban yang efektif
Abdul Halim (2015:157) tujuan umum audit adalah sebagai berikut: “
Tujuan umum audit adalah untuk menyatakan pendapat atas kewajaran
dalam semua hal yang material, posisi keuangan, dan hasil usaha serta
arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang umum” Sukrisno Agoes
(2013:205) menyatakan bahwa :

“Tujuan audit internal adalah untuk membantu semua pimpinan


perusahaan (manajemen) dalam menyelesaikan tanggung jawabnya
dengan memberikan analisa, penilaian, dan komentar mengenai kegiatan
pemeriksaan”

Alfred F. Kaunang (2013:5), menyatakan bahwa terdapat dua tujuan


maupun sasaran dilakukannya aktivitas audit internal yaitu :
1. Penilaian independen dan rekomendasi kepada manajemen.
2. Melayani kepentingan manajemen.
Adapun penjelasan yang lebih mendalam mengenai dua hal diatas adalah
sebagai berikut :

Tujuan maupun sasaran secara menyeluruh dari internal audit department


(departemen audit internal) adalah memberikan penilaian yang
independen (tidak memihak) atas catatan-catatan akuntansi, keuangan
dan segala aktivitas yang ada di dalam suatu organisasi dan memberikan
rekomendasi yang berhubungan dengan penilaian tersebut kepada
manajemen organisasi untuk mengambil keputusan. Memberikan
gambaran kepada semua pihak bahwa tugas internal audit department
(departemen audit internal) adalah untuk melayani kepentingan
manajemen. Dalam memberikan pelayanan kepada manajemen tersebut,
audit internal dituntut untuk:
1. Lengkap dan berkualitas dalam menyajikan informasi kepada
manajemen.
2. Produktif dalam membuat dan memberikan rekomendasi atau
laporan atas berbagai macam kegiatan/operasional dan keuangan.
3. Menjadi perpanjangan tangan manajemen dalam hal pengawasan
(control)
Menurut Hery (2010:39) tujuan audit internal adalah Audit untuk
membantu segenap anggota manajemen dalam menyelesaikan
tanggung jawab mereka secara efektif dengan memberikan mereka
analisis, penilaian, saran dan komentar yang objektif mengenai
kegiatan atau hal-hal yang diperiksa”.

Berdasarkan penjelasan yang telah disampaikan diatas penulis dapat


menyimpulkan bahwa pada dasarnya audit internal adalah untuk
membantu manajemen di dalam suatu organisasi agar dapat menjalankan
tugas dan wewenangnya secara sistematis dan efektif dengan cara
memberikan analisis, penilaian, rekomendasi, konsultasi dan informasi
sehubungan dengan aktivitas yang diperiksanya.

2.1.5.3 Fungsi Audit Internal

Fungsi audit internal merupakan suatu penilaian yang bebas dalam suatu
organisasi guna menelaah atau mempelajari serta menilai kegiatan-
kegiatan organisasi guna memberi saran-saran kepada manajemen.

Selain itu fungsi audit internal di dalam organisasi juga adalah untuk
menentukan apakah internal control organisasi sudah baik atau belum,
dapat menentukan kendalaan informasi yang dibuat oleh pihak
manajemen serta untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi atas
berbagai kegiatan operasioal organisasi.
“Fungsi audit internal adalah memberikan berbagai macam jasa kepada
organisasi termasuk audit kinerja dan audit operasional yang akan dapat
membantu manajemen senior dan dewan komisaris di dalam memantau
kinerja yang dihasilkan oleh manajemen dan para personil di dalam
organisasi sehingga auditor internal dapat memberikan penilaian yang
independen mengenai seberapa baik kinerja organisasi” Ardeno
Kurniawan (2012:53)
Menurut Mulyadi (2011:211) fungsi audit internal adalah sebagai berikut:

1. Fungsi audit internal adalah menyelidiki dan menilai pengendalian


internal dan efisiensi pelaksanaan fungsi berbagai tugas organisasi.
Dengan demikian fungsi audit internal merupakan bentuk
pengendalian yang fungsinya adalah untuk mengukur dan menilai
efektivitas dari unsur-unsur pengendalian internal yang lain.
2. Fungsi audit internal merupakan kegiatan penilaian bebas yang
terdapat dalam penilaian organisasi, keuangan, dan kegiatan lain
untuk memberikan jasa bagi manajemen dalam melaksanakan
tanggung jawab mereka. Dengan cara menyajikan analisis,
penilaian rekomendasi, dan komentar-komentar penting terhadap
kegiatan manajemen, auditor internal menyediakan jasa-jasa
tersebut.
Auditor internal berhubungan dengan semua tahapan kegiatan
perusahaan, sehingga tidak hanya terbatas pada unit atas catatan
akuntansi”.
Adapun fungsi audit internal secara menyeluruh mengenai pelaksanaan
kerja audit internal dalam mencapai tujuannya :
1. Membahas menilai kebaikan dan kepatuhan pelaksanaan
pengendalian akuntansi, keuangan serta operasi.
2. Meyakinkan apakah pelaksanaan sesuai dengan kebijaksanaan
rencana dan prosedur yang ditetapkan.

3. Meyakinkan apakah kekayaan perusahaan dapat dipertanggung


jawabkan dengan baik dan dijaga dengan aman terhadap segala
kemungkinan risiko kerugian.
4. Meyakinkan tingkat kepercayaan akuntansi dan cara lainnya yang
dikembangkan dalam organisasi.
5. Menilai kualitas pelaksanaan tugas dan tanggung jawab yang telah
dibebankan.
Dari penjelasan yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa secara umum fungsi audit internal adalah untuk
membantu manajemen dalam memberikan penilaian terhadap efektivitas
dan efisiensi pengendalian yang ditetapkan dalam suatu organisasi agar
dapat meyakinkan dan memperbaiki pelaksanaan tugas dan tanggung
jawab manajemen dalam mengurangi risiko-risiko yang terdapat di dalam
organisasi sehingga organisasi tersebut dapat berjalan dengan efektif
sesuai dengan tujuannya
2.1.5.4 Perbedaan Auditor internal dan Auditor Eksternal

Menurut Hery (2013:34) perbedaan auditor internal dan auditor eksternal


adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Perbedaan antara Auditor Internal dan Auditor Eksternal

Auditor Internal Auditor Eksternal

Dilakukan oleh auditor internal yang Dilakukan oleh auditor


merupakan orang dalam eksternal (akuntan publik) yang
perusahaan(pegawai perusahaan). merupakanorang luar perusahaan.
Pihak luar perusahaan Auditor eksternal adalah pihak yang
menganggapauditor internal tidak independen.
independen (in- appearance)
Tujuan pemeriksaan adalah untuk Tujuan pemeriksaan adalah untuk
membantu manajemen dalam memberikan pendapat (opini)
melaksanakan tanggung jawabnya mengenai kewajaran laporan
dengan memberikan analisis, keuangan yang telah disusun oleh
penilaian, saran dan komentar manajemen perusahaan (klien).
mengenai kegiatanyang diperiksanya.

Laporan auditor internal tidak berisi Laporan auditor eksternal berisi


opini mengenai kewajaran laporan opini mengenai kewajaran laporan
keuangan, tetapi berupa temuan audit keuangan, selain itu juga berupa
mengenai bentuk penyimpangan, management letter yang berisi
kecurangan, kelemahan pemberitahuan kepada
strukturpengendalian intern, beserta pihakmanajemen klien
saran-saranperbaikan (rekomendasi). mengenaikelemahan-kelemahan
dalam sistem
pengendalian intern beserta saran
perbaikannya.
Pemeriksaan berpedoman pada Pemeriksaan berpedoman pada
Internal Auditing Standards yang Standar Profesional Akuntan Publik
ditentukan oleh Institute of Internal (SPAP) yang ditetapkan oleh Institut
Auditors, atau pada Norma Akuntan Publik Indonesia (IAPI).
Pemeriksaan Internal yang ditentukan
BPKP untuk pengawasan internal
dalam
lingkunganBUMN/BUMD.
Pemeriksaan internal dilakukan lebih Pemeriksaan ekternal dilakukan
rinci dan memakan waktu sepanjang secara acak (sampling), mengingat
tahun, karena auditor internal terbatasnya waktu audit fee.
mempunyai waktu yang lebih
banyakdiperusahaannya.
Penanggung jawab pemeriksaan Pemeriksaan eksternal dipimpin oleh
intern tidak harus seorang registered (penanggung jawabnya adalah)
accountant. seorang akuntan publik yang
terdaftardan mempunyai nomor
register.

Tidak memerlukan client Sebelum menyerahkan


representation letter. laporannya,auditor eksternal terlebih
dahulu harus meminta client
representation letter.

Auditor internal tertarik pada Auditor eksternal hanya tertarik pada


kesalahan- kesalahan yang material kesalahan-kesalahan yang material,
maupun yang tidak material. Yang dapat mempengaruhi
kewajaran laporan keuangan.

2.1.6. Kualitas Audit Internal


2.1.6.1 Pengertian Kualitas Audit Internal

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menyatakan bahwa audit yang dilakukan


auditor dikatakan berkualitas, jika memenuhi standar auditing dan standar
pengendalian mutu yang menggambarkan praktik-praktik terbaik audit
internal serta merupakan ukuran kualitas pelaksanaan tugas untuk
memenuhi tanggung jawab profesinya.

Kualitas audit adalah karakteristik atau hasil audit berdasarkan standar


auditing dan standar pengendalian mutu yang menjadi ukuran
pelaksanaan tugas dan tanggung jawab profesi seorang auditor.
Mathius Tandiontang (2016:80) menyatakan bahwa : “Kualitas audit
internal adalah segala probabilitas seorang auditor dalam menentukan dan
melaporkan penyelewengan yang terjadi dalam sistem akuntansi klien
atau perusahaan
Mulyadi (2014:43) menyatakan bahwa : “Suatu proses sistematik untuk
memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai
pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomis, dengan
tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-
pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan serta
penyampaian hasil-hasil kepada pemakai yang berkepentingan”
Menurut Indra Bastian (2014:186) kualitas audit adalah : “Seorang
auditor harus memiliki kualitas audit agar hasil laporan keuangan yang
menjadi maksimal dan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan. Agar
hasil audit lebih berkualitas”.
Randal J. Elder, Mark S. Beasley dan Alvin A. Arens (2014:105)
menyatakan bahwa :
Audit quality means how tell an audit detects an report material
misstatement in financial statement. The detection aspect is a reflections
of auditor competence, while reporting is a reflection of ethic or auditor
integrity, particulary independence”.

Hiro Tugiman (2006:30) menyatakan bahwa :

“Keahlian pemeriksa internal dalam menerapkan berbagai standar,


prosedur dan teknik pemeriksaan yang diperlukan dalam pelaksanaan
pemeriksaan untuk menyediakan informasi tentang kelengkapan dan
keefektivan sistem pengendalian internal dan kualitas suatu pelaksanaan
tanggung jawab yang ditugaskan”.

Berdasarkan definisi menurut para ahli yang telah disampaikan diatas,


maka penulis dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa kualitas audit
internal merupakan suatu proses yang sistematik untuk memperoleh bukti

dan mengevaluasi secara objektif dan segala kemungkinan auditor pada


saat mengaudit laporan keuangan dapat menemukan pelanggaran yang
terjadi dan melaporkannya dalam laporan keuangan hasil audit, sehingga
dapat mengurangi adanya asimetri informasi. Dimana dalam
melaksanakan tugasnya auditor harus berpedoman pada standar atau kode
etik auditing yang berlaku.

2.1.6.2 Standar Kualitas AuditInternal

Peranan auditor untuk meningkatkan kualitas audit sangat diperlukan.


Kualitas audit perlu ditingkatkan karena dengan meningkatnya kualitas
audit yang dihasilkan oleh auditor, maka tingkat kepercayaan yang akan
diberikan oleh masyarakat semakin tinggi. Tujuan standar adalah untuk:
1. Menguraikan prinsip dasar yang menggambarkan auditinternal.
2. Memberikan suatu kerangka kerja dala melaksanakan dan
meningkatkan nilai tambah audit internal secaraluas.
3. Menetapkan dasar untuk mengevaluasi kinerja auditinternal.
4. Mendorong peningkatan proses dan operasionalorganisasi.
Indikator kualitas audit menurut Standar Pemeriksaan Keuangan Negara
(SPKN, 2017:90-94) menyatakan bahwa sebagai berikut:
1. Tepatwaktu
2. Lengkap
3. Akurat
4. Objektif
5. Meyakinkan
6. Jelas
7. Ringkas
Dari indikator kualitas audit di atas, dapat diuraikan penjelasannya sebagai
berikut:
1. Tepat waktu
Agar suatu informasi bermanfaat secara maksimal, maka
laporan hasil pemeriksaan harus tepat waktu. Laporan yang dibuat
dengan hati-hati tetapi terlambat disampaikan, nilainya menjadi
kurang bagi pengguna laporan hasil pemeriksaan.

Oleh karena itu, pemeriksa harus merencanakan penerbitan laporan


tersebut secara semestinya dan melakukan pemeriksaan dengan
dasar pemikiran tersebut. Selama pemeriksaan berlangsung,
pemeriksa harus mempertimbangkan adanya laporan hasil
pemeriksaan sementara untuk hal yang signifikan kepada pejabat
entitas yang diperiksa terkait. Laporan hasil pemeriksaan tersebut
bukan merupakan pengganti laporan hasil pemeriksaan akhir, tetapi
mengingatkan kepada pejabat terkait terhadap hal yang
membutuhkan perhatian segera dan memungkinkan pejabat tersebut
untuk memperbaikinya sebelum laporan hasil pemeriksaan akhir
diselesaikan.
2. Lengkap
Agar menjadi lengkap, laporan hasil pemeriksaan harus
memuat semua informasi dari bukti yang dibutuhkan untuk
memenuhi tujuan pemeriksaan, memberikan pemahaman yang
benar dan memadai atas hal yang dilaporkan dan memenuhi
persyaratan isi laporan hasil pemeriksaan. Hal ini juga berarti
bahwa laporan hasilpemeriksaanharus memasukkan informasi
mengenai latar belakang permasalahan secara memadai. Laporan
harus memberikan perspektif yang wajar mengenai aspek
kedalaman dan signifikan temuan pemeriksaan, seperti frekuensi
terjadinya penyimpangan dibandingkan dengan jumlah kasus atas
transaksi yang diuji, serta hubungan antara temuan pemeriksaan
dengan kegiatan entitas yang di periksa tersebut. Hal ini di perlukan
agar pembaca memperoleh pemahaman yang benar danmemadai.
3. Akurat
Akurat berarti bukti yang di sajikan benar dan temuan itu yang
di sajikan dengan tepat. Perlunya keakuratan di dasarkan atas
kebutuhan untuk memberikan keyakinan kepada pengguna laporan
hasil pemeriksaan bahwa apa yang di laporkan memiliki kredibilitas
dan dapat di andalkan. Satu ketidakakuratan dalam laporan hasil
pemeriksaan dapat menimbulkan keraguan atas keandalan seluruh
laporan tersebut dan dapat mengalihkan perhatian pengguna
laporan hasil pemeriksaan dari subtansi laporan tersebut.

Demikian pula, laporan hasil pemeriksaan yang tidak akurat


dapat merusak kredibilitas organisasi pemeriksa yang menerbitkan
laporan hasil pemeriksaan dan mengurangi efektifitas laporan
hasilpemeriksaan.
4. Objektif
Objektifitas berarti penyajian seluruh laporan harus seimbang
dalam isi dan nada. Kredibilitas suatu laporan ditentukan oleh
penyajian bukti yang tidak memihak, sehingga pengguna laporan
hasil pemeriksaandapat diyakinkan oleh fakta yang disajikan.
Laporan hasil pemeriksaan harus adil dan tidak menyesatkan. Ini
berarti pemeriksa harus menyajikan hasil pemeriksa secara netral
dan menghindari kecendrungan melebih-lebihkan kekurangan yang
ada.
Dalam menjelaskan kekurangan suatu kinerja, pemeriksa harus
menyajikan penjelasan pejabat yang bertanggung jawab termasuk
pertimbangan atas kesulitan yang dihadapi entitas yang diperiksa.
5. Meyakinkan
Agar meyakinkan maka laporan harus dapat menjawab tujuan
pemeriksaan, menyajikan temuan, simpulan, dan rekomendasi yang
logis, informasi yang disajikan harus cukup meyakinkan pengguna
laporan untuk mengakui validasi temuan tersebut dan manfaat
penerapan rekomendasi. Laporan yang disusun dengan cara ini
dapat membantu pejabat yang bertanggung jawab untuk
memusatkan perhatiannya atas hal yang memerlukan perhatian itu,
dan dapat membantu untuk melakukan perbaikan sesuai
rekomendasi dalam laporan hasil pemeriksaan.
6. Jelas
Laporan harus mudah dibaca dan dipahami. Laporan harus
ditulis dengan bahasa yang jelas dan sesederhana mungkin.
Pengguna bahasa yang lugas dan tidak teknis sangat mudah untuk
menyederhanakan penyajian. Jika digunakan istilah teknis,
singkatan dan akronim yang tidak begitu dikenal, maka hal itu
harus didefinisikan dengan jelas.

7. Ringkas
Laporan yang ringkas adalah laporan yang tidak lebih panjang
dari yang diperlukan untuk menyampaikan dan mendukung pesan.
Laporan yang terlalu rinci dapat menurunkan kualitas laporan,
bahkan dapat menyembunyikan pesan yang sesungguhnya dan
dapat membingungkan atau mengurangi minat pembaca.
Pengulangan yang tidak perlu juga harus dihindari. Meskipun
banyak peluang untuk mempertimbangkan isi laporan, laporan yang
lengkap tetapi ringkas, akan mencapai hasil yang lebihbaik.

2.1.6.3 Dimensi Kualitas Audit Internal


Standar Profesi Audit Internal (SPAI) dalam Hiro Tugiman
(2016:53) menjelaskan sifat dari kegiatan audit internal dan merupakan
ukuran kualitas pekerjaan audit. Standar tersebut terdiri dari:
1. Pengelolaan Fungsi Audit Internal
Penanggung jawab fungsi audit internal harus mengelola fungsi audit
internal secara efektif dan efisien untuk memastikan bahwa kegiatan
fungsi tersebut memberikan nilai tambah bagi organisasi.
2. LingkupPenugasan
Fungsi audit internal melakukan evaluasi dan memberikan kontribusi
terhadap peningkatan proses pengelolaan risiko, pengendalian dan
governance, dengan pendekatan yang sistematis, teratur dan
menyeluruh.
3. PerencanaanPenugasan
Auditor internal harus mengembangkan dan mendokumentasikan
rencana untuk setiap penugasan yang mencakup ruang lingkup,
sasaran waktu, dan alokasi sumber daya.
4. PelaksanaanPenugasan
Dalam melaksanakan audit, audit internal mengidentifikasi,
menganalisa dan mendokumentasikan informasi yang memadai untuk
mencapai tujuanpenugasan.

5. Komunikasi HasilPenugasan
Auditor internal harus mengkomunikasikan hasil penugasannya secara
tepat waktu.

6. Pemantauan TindakLanjut
Penanggung jawab fungsi audit internal harus menyusun dan menjaga
sistem untuk memantau tindak lanjut hasil penugasan yang telah
dikomunikasikan kepada manajemen.

2.1.6.4 Langkah-langkah Meningkatkan KualitasAudit

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menyatakan bahwa audit yang dilakukan


auditor dikatakan berkualitas, jika memenuhi standar auditing dan
standar pengendalian mutu. Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan kualitas audit adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan pendidikanprofesionalnya.
2. Mempertahankan independensi dalam sikap mental.
3. Dalam melaksanakan pekerjaan audit, menggunakan kemahiran dengan
cermat danseksama.
4. Melakukan perencanaan pekerjaan audit denganbaik.
5. Memahami struktur pengendalian intern klien denganbaik.
6. Memperoleh bukti audit yang cukup dankompeten.
7. Membuat laporan audit yang sesuai dengan kondisi atau sesuai dengan
hasiltemuan.
Sedangkan menurut Nasrullah Djamil (2011) kualitas audit dinilai
melalui sejumlah unit standarisasi dari bukti audit yang diperoleh oleh
auditor eksternal dan kegagalan audit dinyatakan juga sebagai kegagalan
auditor independen untuk mendeteksi suatu kesalahan material. Untuk
meningkatkan kualitas audit maka harus memperhatikan beberapahal
seperti:
1. Perubahan accounting requirement terhadap Legislation dan
Statements of Standard Accounting Practice.
2. Perubahan lingkunganbisnis.

3. Meningkatnya kompleksitas dari sistem akuntansi yang menggunakan


komputer.
2.1.6.5 Pelaksanaan KegiatanAudit

Dalam melakukan pemeriksaan, ada beberapa tahap yang harus dilakukan


auditor internal saat melakukan pemeriksaan, seperti yang dikatakan Hiro
Tugiman (2006:53-75) dimana pelaksanaan kegiatan audit adalah
sebagaiberikut:

1. Pengujian dan pengevaluasianinformasi


Tahap perencanaan audit merupakan langkah yang paling awal dalam
pelaksanaan kegiatan audit internal, perencanaan di buat bertujuan
untuk menentukan objek yang akan di audit/prioritas audit, arah dan
pendekatan audit, perencanaan alokasi sumber daya dan waktu, dan
merencanakan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan proses audit.
Perencanaan pemeriksaan internal harus di dokumentasikan yang
meliputi hal-halberikut:
a. Penetapan tujuan audit dan lingkuppekerjaan.

b. Peroleh informasi dasar (Background Information) tentang


kegiatan yang akandiperiksa.
c. Penentuan berbagai tenaga yang diperlukan untuk melaksanakan
audit.
d. Pemberitahuan kepada pihak yang dipandangperlu.
e. Melaksanakan survey untuk mengenali kegiatan yang diperlukan,
risiko-risiko danpengawasan-pengawasan.
f. Penulisan programaudit.
g. Menentukan bagaimana, kapan dan kepada siapa hasil-hasil audit
akandisampaikan.
h. Persetujuan bagi rencanakerja.

2. Pemberitahuan
Pada pengujian tahap ini audit internal haruslah mengumpulkan,
menganalisa, menginterpretasi dan membuktikan kebenaran
informasi untuk mendukung hasil audit. Proses pengujian dan
pengevaluasian informasi adalah sebagai berikut:
a. Dikumpulkannya berbagai informasi tentang seluruh hal yang
berhubungan dengan tujuan-tujuan pemeriksaan dan lingkupkerja.
b. Informasi haruslah mencukupi, kompeten, relevan dan berguna
untuk membuat suatu dasar yang logis bagi temuan audit dan
rekomendasi-rekomendasi.
c. Adanya prosedur-prosedur audit, termasuk teknik-teknikpengujian.

d. Dilakukan pengawasan terhadap proses pengumpulan,


penganalisaan, penafsiran dan pembuktian kebenaraninformasi.
e. Dibuat kertas kerjapemeriksaan.

3. Penyampaian hasillaporan
Laporan audit internal ditujukan untuk kepentingan manajemen
yang dirancang untuk memperkuat pengendalian audit intern, untuk
menentukan ditaati tidaknya prosedur/kebijakan-kebijakan yang
telah ditetapkan oleh manajemen. Audit internal harus melaporkan
kepada manajemen apabila terdapat penyelewengan/penyimpangan
yang terjadi di dalam suatu fungsi perusahaan dan memberikan
saran- saran/rekomendasi untuk perbaikannya. Audit internal harus
melaporkan hasil audit yang dilaksanakannya,yaitu:
a. Laporan tertulis yang ditanda tangani oleh ketua auditinternal.
b. Pemeriksa audit internal harus terlebih dahulu mendiskusikan
kesimpulan danrekomendasi.
c. Suatu laporan haruslah objektif, jelas, singkat, terstruktur dan
tepat waktu.
d. Laporan haruslah mengemukakan tentang masalah dari
hasil pelaksanaanpemeriksaan.
e. Laporan mencantumkan berbagairekomendasi.
f. Pandangan dari pihak yang diperiksa tentang berbagai
kesimpulan atau rekomendasi dapat pula dicantumkan dalam
laporan pemeriksaan.
g. Pimpinan audit internal mereview dan menyetujui laporan audit.
4. Tindak lanjut hasilpemeriksaan
Audit internal harus terus-menerus melakukan tindak lanjut
(follow up) untuk memastikan bahwa terhadap temuan-temuan
pemeriksaan yang dilaporkan telah dilakukan tindakan yang tepat.
Audit internal harus memastikan apakah suatu tindakan korektif
telah dilakukan dan memberikan berbagai hasil yang diharapkan,
atau manajemen senior telah menerima resiko akibat tidak
dilakukannya tindakan korektif terhadap berbagai temuan yang
dilaporkan.

2.1.7 PenelitianTerdahulu
Pencarian dari penelitian terdahulu dilakukan sebagai upaya memperjelas
tentang variabel-variabel dalam penelitian ini, sekaligus untuk membedakan
peneliti ini dan peneliti sebelumnya. Umumnya kajian yang dilakukan oleh
peneliti-peneliti dari kalangan akademis dan telah mempublikasikannya pada
beberapa jurnal cetakan atau jurnal online (internet) tentang Kompetensi,
Independensi, profesionalisme dan Kualitas Audit Internal.
Wiratama dan Budhiarta (2015) meneliti pengaruh independensi,
pengalaman kerja, due professional care dan akuntabilitas auditor terhadap kualitas
audit pada Kantor Akuntan Publik Di Denpasar. Responden dalam penelitian ini
adalah sebanyak 52 auditor pada Kantor Akunta Publik yang terdaftar di Directory
IAPI di Denpasar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bahwa meneliti pengaruh
independensi, pengalaman kerja, due professional care, dan akuntabilitas auditor
terhadap kualitas audit. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa secara parsial
independensi, pengalaman kerja, due professional care, dan akuntabilitas auditor
berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas audit.
Dewi dan Budiartha (2015) meneliti Pengaruh Kompetensi Dan
Independensi Auditor Pada Kualitas Audit Dimoderasi Oleh Tekanan Klien.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kompetensi dan independensi
auditor pada kualitas audit dengan tekanan klien sebagai variabel moderasi.
Penelitian ini mengambil tempat di seluruh kantor akuntan publik yang ada di
Bali. Dimana teknik penentuan sampel menggunakan teknik purposive sampling
dengan kriteria auditor yang sudah bekerja selama 1 tahun. Hasil penelitian
memperlihatkan bahwa kompetensi tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas
audit. Kemudian hipotesis yang kedua variabel kompetensi auditor dan tekanan
klien memperlemah hubungan kompetensi auditor dan tekanan klien terhadap
variabel kualitas audit ini menunjukkan hipotesis kedua ditolak. Hipotesis yang
ketiga independensi berpengaruh terhadap kualitas audit semakin tinggi
independensi yang dimiliki oleh seorang auditor maka kualitas audit yang
dihasilkan juga semakin baik. Dan hasil hipotesis yang keempat variabel
independensi auditor dan tekanan klien tidak berpengaruh signifikan terhadap
kualitas audit sehingga hipotesis 4 ditolak.

The Influence of Professionalism and Competence of Auditors towards


the Performance of Auditors. The study found that both variables of the
professionalism and competence of auditors have significant influences towards
the performance of auditors working (Studi tersebut menemukan bahwa keduanya
variabel profesionalisme dan kompetensi auditor pengaruh signifikan terhadap
kinerja auditor),
The Influences of Competence, Independence, Due Professional Care,
and Time Budget toward Audit Quality: Psychological Condition As The
Moderating Variables. Lusy dkk (2017). The results show that competence,
independence, due professional care, and time budget have a positive effect on
audit quality. (Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi, independensi,
due professional care, dan anggaran waktu berpengaruh positif terhadap kualitas
audit)
The Influence of Competence, Independence, Professionalism of Internal
Auditors and Time Budget Pressure on Audit Quality (Case Study at Inspectorate
General of the Ministry of Marine Affairs and Fisheries) Ngali and hari 2019
In accordance with the results of the analysis in the previous chapter, it
can be concluded that:
a. Internal auditor competence has a significant effect on audit quality and its
direction is positive. This means that the higher the competence of internal
auditors, the better the audit quality.
b. The independence of internal auditors has no effect on audit quality.
c. Professionalism of the Internal Auditor has a significant effect on audit
quality and its direction is positive. This means that the higher the
professionalism of the internal auditor, the higher the audit quality.
d. Time budget pressure does not affect audit quality.

Nainggolan dan Abdulah (2016) meneliti Pengaruh Akuntabilitas,


Objektivitas Terhadap Kualitas Audit Dengan Etika Auditor Sebagai Variabel
Moderasi Study Kasus Pada Kantor Akuntan Publik Di Kota Medan. Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis Pengaruh Akuntabilitas, Objektivitas Terhadap
Kualitas Audit Dengan Etika Auditor Sebagai Variabel Moderasi Study Kasus
Pada Kantor Akuntan Publik Di Kota Medan. Diharapkan dengan penelitian ini
memberikan masukan bagi para auditor untuk lebih menjaga nilai nilai
akuntabilitas dan objektivitas dalam rangka meningkatkan kualitas audit laporan
keuangan,

sehingga laporan keungan yang dihasilkan dapat menjadi sumber informasi yang
akuntabel bagi para pemakainya
Agneus Shintya, M. Nuryatno, Ayu Aulia, Seminar Nasional
Cendekiawan, Uiniversitas Trisakti, 2016 melakukan penelitian dengan judul
Pengaruh kompetensi, independensi dan tekanan anggaran waktu terhadap
kualitas audit dengan hasil penelitian Semakin tinggi kompetensi, semakin tinggi
tingkat independensi dan semakin ditekan secara waktu maka akan semakin baik
kualitas audit yang dihasilkan.
I Made Darayasa dan I Gede Supartha Wisadha, EJurnal Akuntansi
Universitas Udayana , 2016 melakukan penelitian dengan judul Etika auditor
sebagai pemoderasi pengaruh kompetensi dan independensi pada kualitas audit
adapun hasil penelitiannya Kompetensi dan independensi berpengaruh positif
terhadap kualitas audit dan etika auditor memoderasi (memperkuat) pengaruh
kompetensi pada kualitas audit

2.2 Kerangka Pemikiran


2.2.1 Pengaruh Kompetensi aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP)
Terhadap Kualitas pemeriksaan
Kompetensi auditor adalah kualifikasi yang dibutuhkan oleh Aparat
Pengawas Intern Pemerintah (APIP) selaku Auditor Internal untuk melaksankan
audit dengan benar. Dalam melaksanakan audit, seorang auditor harus memiliki
mutu personal yang baik, pengetahuan yang memadai serta keahlian khusus
dibidangnya. Kualitas jasa yang diberikan auditor tergantung pada kecermatan dan
keseksamaan dalam melaksanakan audit dan dalam menyusun laporan audit.
Seorang auditor harus menggunakan seluruh kemampuan, kompetensi, dan
keahliannya dalam melaksanakantugsanya.
Pada dasarnya kompetensi memiliki pengaruh posistif dengan kualitas
audit, sehingga dapat dikatakan bahwa seorang auditor yang memiliki kompetensi
yang disyaratkan dapat melaksanakan tugas pemeriksaan secara berkualitas. Otnil
Lam Togar (2016) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa“Kompetensi memiliki
pengaruh terhadap kualitas audit internal. Seorang auditor harus berkompeten, yaitu
memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam audit.”Nainggolan dan Abdulah
(2016) dalam penelitiannya menyebutkan Secara simultan Kompetensi auditor dan
objektivitas auditor berperngaruh terhadap kualitas audit. Mulyadi (2008:58)

terdapat hubungan antara kompetensi auditor dan kualitas audit antara lain sebagai
berikut:
“Kompetensi diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman, setiap anggota harus
melakukan upaya untuk mencapai tingkatan kompetensi yang akan meyakinkan
bahwa kualitas jasa yang diberikan memenuhi tingkatan profesionalisme tinggi
seperti disyaratkan oleh prinsipetika.”
Maka dari itu, auditor internal harus memiliki pengetahuan untuk
memahami entitas yang diaudit, kemungkinan auditor internal harus memiliki
kemampuan bekerja sama dalam tim serta kemampuan dalam menganalisa
permasalahan. Seorang auditor internal yang berkompeten, akan melakukan
pekerjaannya dengan mudah, cepat atau tidak melakukan suatu kesalahan, dan
didukung dengan pengetahuan, maka kualitas audit yang dibuat akan meningkat.
Semakin tinggi kompetensi auditor maka akan semakin berkualitas hasil
auditnya.Berdasarkan uraian di atas , maka hipotesis penelitian ini adalah:
H1: Kompetensi aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP)Terhadap Kualitas
pemeriksaan.

2.2.2. Pengaruh profesionalisme aparat Pengawas Intern Pemerintah


(APIP) Terhadap Kualitas pemeriksaan
Kemampuan profesional wajib dimiliki setiap auditor internal. Profesional
berarti bahwa auditor wajib melaksanakan tugas-tugasnya dengan kesungguhan,
kecermatan, dan penuh rasa tanggung jawab yang besar berdasarkan standar profesi,
pendidikan dan keahliannya agar terbentuk suatu mutu atau kualitas yang dihasilkan
dari pekerjaannya itu sendiri. Adanya peningkatan kualitas audit auditor internal
maka meningkat pula kepercayaan pihak yang membutuhkan jasa profesional.
Harapan masyarakat terhadap tuntutan transparansi dan akuntabilitas akan terpenuhi
jika auditor internal dapat menjalankan profesionalisme dengan baik sehingga
masyarakat dapat menilai kualitas audit.
Sulistiawati dan Maya (2014) menyatakan bahwa : “Profesionalisme berpengaruh
positif signifikan terhadap kualitas audit. Sikap profesionalisme berpengaruh dalam
memberikan perubahan yang berarti terhadap kualitas audit”Arens & Loobecke
(2009) profesionalisme adalah suatu tanggung jawab yang dibebankan lebih dari
sekedar dari memenuhi tanggung jawab yang dibebankan kepadanya dan lebih dari
sekedar dari memenuhi Undangundang dan peraturan masyarakat. Fietoria dan
Manalu (2016)

menyatakan bahwa profesionalisme, secara parsial tidak berpengaruh secara


signifikan terhadap kualitas audit, sedangkan secara simultan profesionalisme
berpengaruh terhadap kualitas audit
Berdasarkan uraian di atas , maka hipotesis penelitian ini adalah:
H2: Profesionalisme aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP) Terhadap Kualitas
pemeriksaan

2.2.3 Pengaruh Independensi aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP)


Terhadap Kualitas pemeriksaan
Indepedensi adalah sikap bebas yang diharapkan dari seorang auditor untuk
tidak mudah dipengaruhi, tidak memihak pihak manapun dalam pelaksanaan
tugasnya, sehingga tidak merugikan pihak manapun. Dengan adanya sikap
independensi dari seorang auditor dan diperkuat dengan adanya kepuasan auditor
dalam kaitannya dengandukungan rekan sekerja dan atasan, serta auditor yang
semakin puas dengan pekerjaannya, maka auditor tersebut dapat bekerja dengan
lebih baik sehingga berdampak pada semakin meningkatkan kualitas audit (Luthans,
2002) dalam (Iskandar dan Indarto 2015)
Independensi mempunyai empat faktor penting, yaitu lama hubungan dengan
klien (audit tenure), tekanan dari klien, telaah dari rekan auditor (peer review) serta
jasa non-audit. Dengan tingkat independensi yang tinggi akan menghasilkan audit
yang berkualitas tinggi. Penelitian Wiratama dan Budiartha (2015)menyatakan
bahwa Indepedensi berpengaruh positif terhadap kualitas audit. Hal ini menunjukkan
bahwa semakin auditor mampu menjaga indepedensinya dalam menjalankan
penugasan profesinya maka kualitas audit yang dihasilkan akan meningkat.
Berdasarkan uraian tersebut maka dapat dikembangkan hipotesis:
H3: Independensi aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP) Terhadap Kualitas
pemeriksaan

Berdasarkan uraian teori di atas, maka kerangka pemikiran yang


digunakan oleh penulis dapat dijelaskan dalam bagan sebagaiberikut:

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

Kompetensi
(X1)

Profesionalisme
(X2) Kualitas Pemeriksaan

Independensi
(X3)

2.3 Hipotesis Penelitian


Pengertian hipotesis menurut Sugiyono (2016:63) adalah sebagai berikut:
“Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah
penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam
bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang
diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan
pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data.“
Berdasarkan uraian terkait Kompetensidan Profesionalisme Aparat
Pengawas Intern Pemerintah (APIP) terhadap kualitas pemeriksaan di
Inspektorat Pengawasan Daerah Polda Jatim maka hipotesis dalam
penelitian ini adalah:
H1. Terdapat pengaruh kompetensi Aparat Pengawas Intern Pemerintah
(APIP) terhadap kualitas pemeriksaan di Inspektorat Pengawasan
Daerah Polda Jatim.
H2. Terdapat pengaruh Prefesionalisme Aparat Pengawas Intern
Pemerintah (APIP) terhadap kualitas pemeriksaan di Inspektorat
Pengawasan Daerah Polda Jatim.

H3. Terdapat pengaruh Independensi Aparat Pengawas Intern


Pemerintah (APIP) terhadap kualitas pemeriksaan di Inspektorat
Pengawasan Daerah Polda Jatim
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

. Data yang digunakan dalam penelitian ini termasuk data kuantitatif karena data
yang disajikan berupa data-data numerik dan merupakan jenis data yang dapat
diukur (measurable) atau dihitung secara langsung sebagai variabel angka atau
bilangan. Selain itu, adapun untuk memperoleh data primer, peneliti melakukan
penyebaran kuesioner dari responden pegawai

Penelitian kuantitaf merupakan metode positivistic karena berlandaskan pada


filsafat positvisme. Metode ini sebagai metode ilmiah/scientific karena telah
memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yaitu konkrit/empiris, obyektif, terukur, rasional,
dan sistematis. Metode ini juga disebut metode discovery, karena dengan metode
ini dapat ditemukan dan dikembangkan berbagai iptek baru. Metode ini disebut
metode kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis
menggunakan statistik (Sugiyono 2016:7)

Pada penelitian ini, penulis bermaksud untuk mendapatkan informasi yang luas
dari suatu populasi. Informasi tersebut berkaitan dengan keterkaitan atau pengaruh
antar variabel yakni Pengaruh Kompetensi dan Profesionalisme Aparat Pengawas
Intren Pemerintah (APIP) terhadap Kualitas Pemeriksaan. Metode penelitian yang
penulis gunakan yakni metode penelitian kuantitatif dengan analisis desktiptif dan
verifikatif.

3.2. Objek, lokasi dan waktu Penelitian

3.2.1 Objek penelitian

Objek penelitian merupakan sesuatu yang menjadi perhatian dalam penelitian.


Objek penelitian ini menjadi sasaran dalam penelitian untuk mendapatkan jawaban
ataupun solusi dari permasalahan yang terjadi. Dalam penelitian ini penulis
meneliti Pengaruh Kompetensi dan Profesionalisme Aparat Pengawas Intren
Pemerintah (APIP) terhadap Kualitas Pemeriksaan pada Inspektorat Pengawasan
Daerah Polda Jatim.
3.2.2. lokasi penelitian

Lokasi penelitian adalah situasi dan kondisi lingkungan dan tempat yang berkaitan
dengan masalah penelitian. Dalam penentuan lokasi penelitian cara terbaik yang
ditempuh dengan jalan mempertimbangkan teori substantif dan menjajaki lapangan
untuk mencari kesesuaian dengan kenyataan yang ada di lapangan, sementara itu
keterbatasan geografis dan praktis seperti waktu, biaya, dan tenaga perlu juga
dijadikan pertimbangan dalam penentuan lokasi(Moleong 2017). Untuk
memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini maka lokasi penelitian ini
yaitu pada Kantor Inspektorat Pengawasan Daerah Polda Jatim Jalan Achmad
Yani 116 Surabaya.

3.3 Definisi Operasional dan Indikator Variabel

Variabel Bebas (X)

a. Kompetensi (X1)

Pengertian komptenesiyaitu kompetensi adalah karakteristik dasar dari seseorang


yang memungkinkan pegawai mengeluarkan kinerja superior dalam pekerjaannya
Boulter et al. (dalam Rosidah, 2013:11) . Kompetensi Kompetensi menunjukkan
terdapatnya pencapaian dan pemeliharaan suatu tingkatan pemahaman dan
pengetahuan yang memungkinkan seseorang anggota untuk memberikan jasa
dengan kemudahan dan kecerdikan.” (Mulyadi 2013:19)“. competency refers to an
individual’s knowledge, skill, ability or personality characteristics that directly
influence job performance”. Artinya, kompetensi mengandung aspek-aspek
pengetahuan, keterampilan, (keahlian) dan kemampuan ataupun karakteristik
kepribadian yang mempengaruhi kinerja. McAshan (dalam Sudarmanto, 2012:
48) : Kompetensi merupakan pengetahuan, keahlian, dan kemampuan yang
dimiliki seseorang, yang menjadi bagian dari dirinya, sehingga dia bisa
menjalankan penampilan kognisi, afeksi, dan perilaku psikomotorik tertentu.
Pengertian dan arti kompetensi adalah : karakteristik yang mendasari seseorang
berkaitan dengan efektivitas kinerja individu dalam pekerjaannya atau karakteristik
dasar individu yang memiliki hubungan kausal atau sebagai sebab-akibat dengan
kriteria yang dijadikan acuan, efektif atau berkinerja prima atau superior di tempat
kerja atau pada situasi tertentu (Spencer dan Spencer dalam Moeheriono, 2013: 3)
.
kompetensi adalah : suatu kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan suatu
pekerjaan atau tugas yang dilandasi atas keterampilan dan pengetahuan serta
didukung oleh sikap kerja yang dituntut oleh pekerjaan tersebut. Wibowo
(2012:86) Berdasarkan uraian di atas makna kompetensi mengandung bagian
kepribadian yang mendalam dan melekat pada seseorang dengan perilaku yang
dapat diprediksi pada berbagai keadaan dan tugas pekerjaan. Prediksi siapa yang
berkinerja baik dan kurang baik dapat diukur dari kriteria atau standar yang
digunakan.Kompetensi sebagai pengetahuan keahlian, kemampuan, atau
karakteristik pribadi individu yang mempengaruhi secara langsung kinerja
pekerjaan.indikator kompetensi organisasi menurut Hiro Tugiman(2011:27):.

1) Mutu personal

a. Rasa ingin tahu


b. Berpikir luas
c. Mampu menangani ketidak pastian
d. Mampu menerima bahwa tidak ada solusi yang mudah
e. Menyadari bahwa beberapa temuan dapat bersifat Subjektif
f. Mampu bekerja sama dengan tim

2) Pengetahuan umum

a. Pengetahuan melakukan review Analisis


b. Pengetahuan teori organisasi untuk memahami suatu Organisasi
c. Pengetahuan tetang Auditing
d. Pengetahuan akuntansi yang akan membantu dalam mengelola angka
dan data.
3) Pendidikan
a. Mengikuti pelatihan profesi agar meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan
b. Mengikuti perkembangan audit internal
4) Kemampuan
a. Keahlian dalam Melakukan Wawancara
b. Keterampilan Menggunakan Computer
c. Mampu menulis dan mempresentasikanlaporan dengan baik.
b. Profesionalisme (X2)

Auditor internal harus dilakukan secara ahli dan dengan ketelitian profesional.
Kemampuan profesional wajib dimiliki oleh setiap auditor internal. Dalam setiap
pemeriksaan, pimpinan audit internal haruslah menugaskan orangorang yang
secara bersama-sama memiliki pengetahuan dan kemampuan dari berbagai disiplin
ilmu.

Auditor internal yang profesional harus memiliki independensi untuk memenuhi


kewajiban profesionalnya, antara lain seperti memberikan opini yang objektif,
tidak bias, tidak dibatasi, dan melaporkan masalah apa adanya bukan melaporkan
sesuai keinginan eksekutif atau lembaga (Sawyer dalam Ali Akbar, 2006:35) Audit
internal memiliki konsep profesionalisme yang banyak digunakan oleh para
peneliti untuk mengukur profesionalisme dari profesi auditor yang tercermin dari
sikap dan perilaku. Definisi profesionalisme adalah mutu, kualitas, dan tindak
tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau ciri orang yang profesional

Hiro Tugiman(2014:119), menyebutkan indikator Profesionalisme meliputi:


1) Pelayanan kepada publik
a. Meningkatkan sumber daya secara efektif dan efisien
b. Menghindari kegiatan ilegal
c. Melayani publik melalui hubungan kerja dengankomite audit,dewan
direksidan badan pengelolaan lainnya
2) Pelatihan khusus berjangka panjang
a. Mengikuti pelatihan profesi agar meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan
b. Mengikuti perkembangan audit internal
3) kode etik
a. Menaati Kode Etik untuk melaksanakan pengawasa dan
pemantauan tinak lanjut
b. Menaati standar
4) pengetahuan para auditorbersertifikat
a. Mengikuti ujian sertifikasi auditor internal
b. Memiliki gelar Certified Internal Auditor (CIA)
5. Menjadianggotaasosiasi
a. Menjadi anggota asosiasi
b. Menghadiri pertemuan
c. Independensi (X3)
Independensi. “Independensi dalam audit berarti sikap mental yang bebas
dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada orang
lain. Independensi juga berarti adanya kejujuran dalam diri auditor dalam
mempertimbangkan fakta dan adanya pertimbangan yang objektif tidak memihak
dalam diri auditor dalam merumuskan dan menyatakan pendapatnya.” (Mulyadi
2013:26-27)
Variabel Terikat (Y)
d. Hasil Pemeriksaan/ kualitas audit
Hasil pemeriksaan / kualitas audit adalah karakteristik atau hasil audit
berdasarkan standar auditing dan standar pengendalian mutu yang menjadi ukuran
pelaksanaan tugas dan tanggung jawab profesi seorang auditor. Audit internal adalah
segala probabilitas seorang auditor dalam menentukan dan melaporkan
penyelewengan yang terjadi dalam sistem akuntansi klien atau perusahaan ((Mathius
Tandiontang (2016:80) . Menyatakan bahwa Suatu proses sistematik untuk
memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan-
pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomis, dengan tujuan untuk
menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan
kriteria yang telah ditetapkan serta penyampaian hasil-hasil kepada pemakai yang
berkepentingan ((Mulyadi (2014:43))
Kualitas audit adalah : “Seorang auditor harus memiliki kualitas audit agar
hasil laporan keuangan yang menjadi maksimal dan sesuai dengan Standar
Akuntansi Keuangan. Agar hasil audit lebih berkualitas”).dikator kualitas audit
menurut Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN, 2017:90-94) menyatakan
bahwa sebagai berikut:
1. Tepat waktu
Agar suatu informasi bermanfaat secara maksimal, maka laporan hasil pemeriksaan
harus tepat waktu. Laporan yang dibuat dengan hati-hati tetapi terlambat
disampaikan, nilainya menjadi kurang bagi pengguna laporan hasil pemeriksaan.
Oleh karena itu, pemeriksa harus merencanakan penerbitan laporan tersebut secara
semestinya dan melakukan pemeriksaan dengan dasar pemikiran tersebut. Selama
pemeriksaan berlangsung, pemeriksa harus mempertimbangkan adanya laporan
hasil pemeriksaan sementara untuk hal yang signifikan kepada pejabat entitas yang
diperiksa terkait. Laporan hasil pemeriksaan tersebut bukan merupakan pengganti
laporan hasil pemeriksaan akhir, tetapi mengingatkan kepada pejabat terkait
terhadap hal yang membutuhkan perhatian segera dan memungkinkan pejabat
tersebut untuk memperbaikinya sebelum laporan hasil pemeriksaan akhir
diselesaikan.
2. Lengkap
Agar menjadi lengkap, laporan hasil pemeriksaan harus memuat semua informasi
dari bukti yang dibutuhkan untuk memenuhi tujuan pemeriksaan, memberikan
pemahaman yang benar dan memadai atas hal yang dilaporkan dan memenuhi
persyaratan isi laporan hasil pemeriksaan. Hal ini juga berarti bahwa laporan
hasilpemeriksaanharus memasukkan informasi mengenai latar belakang
permasalahan secara memadai. Laporan harus memberikan perspektif yang wajar
mengenai aspek kedalaman dan signifikan temuan pemeriksaan, seperti frekuensi
terjadinya penyimpangan dibandingkan dengan jumlah kasus atas transaksi yang
diuji, serta hubungan antara temuan pemeriksaan dengan kegiatan entitas yang di
periksa tersebut. Hal ini di perlukan agar pembaca memperoleh pemahaman yang
benar danmemadai.
3. Akurat
Akurat berarti bukti yang di sajikan benar dan temuan itu yang di sajikan dengan
tepat. Perlunya keakuratan di dasarkan atas kebutuhan untuk memberikan keyakinan
kepada pengguna laporan hasil pemeriksaan bahwa apa yang di laporkan memiliki
kredibilitas dan dapat di andalkan. Satu ketidakakuratan dalam laporan hasil
pemeriksaan dapat menimbulkan keraguan atas keandalan seluruh laporan tersebut
dan dapat mengalihkan perhatian pengguna laporan hasil pemeriksaan dari subtansi
laporan tersebut.
Demikian pula, laporan hasil pemeriksaan yang tidak akurat dapat merusak
kredibilitas organisasi pemeriksa yang menerbitkan laporan hasil pemeriksaan
dan mengurangi efektifitas laporan hasilpemeriksaan.
4. Objektif
Objektifitas berarti penyajian seluruh laporan harus seimbang dalam isi dan
nada. Kredibilitas suatu laporan ditentukan oleh penyajian bukti yang tidak
memihak, sehingga pengguna laporan hasil pemeriksaandapat diyakinkan oleh
fakta yang disajikan. Laporan hasil pemeriksaan harus adil dan tidak
menyesatkan. Ini berarti pemeriksa harus menyajikan hasil pemeriksa secara
netral dan menghindari kecendrungan melebih-lebihkan kekurangan yang ada.
Dalam menjelaskan kekurangan suatu kinerja, pemeriksa harus menyajikan
penjelasan pejabat yang bertanggung jawab termasuk pertimbangan atas
kesulitan yang dihadapi entitas yang diperiksa.
5. Meyakinkan
Agar meyakinkan maka laporan harus dapat menjawab tujuan pemeriksaan,
menyajikan temuan, simpulan, dan rekomendasi yang logis, informasi yang
disajikan harus cukup meyakinkan pengguna laporan untuk mengakui validasi
temuan tersebut dan manfaat penerapan rekomendasi. Laporan yang disusun
dengan cara ini dapat membantu pejabat yang bertanggung jawab untuk
memusatkan perhatiannya atas hal yang memerlukan perhatian itu, dan dapat
membantu untuk melakukan perbaikan sesuai rekomendasi dalam laporan hasil
pemeriksaan.
6. Jelas
Laporan harus mudah dibaca dan dipahami. Laporan harus ditulis dengan bahasa
yang jelas dan sesederhana mungkin. Pengguna bahasa yang lugas dan tidak
teknis sangat mudah untuk menyederhanakan penyajian. Jika digunakan istilah
teknis, singkatan dan akronim yang tidak begitu dikenal, maka hal itu harus
didefinisikan dengan jelas.

7. Ringkas
Laporan yang ringkas adalah laporan yang tidak lebih panjang dariyang
diperlukan untuk menyampaikan dan mendukung pesan. Laporan yang terlalu
rinci dapat menurunkan kualitas laporan, bahkan dapat menyembunyikan pesan
yang sesungguhnya dan dapat membingungkan atau mengurangi minat pembaca.
Pengulangan yang tidak perlu juga harus dihindari. Meskipun banyak peluang
untuk mempertimbangkan isi laporan, laporan yang lengkap tetapi ringkas, akan
mencapai hasil yang lebih baik.

Dari indikator kualitas audit di atas, dapat diuraikan penjelasannya sebagai berikut:
Tabel 3.1
Variabel, Indikator dan Skala Pengukuran
Variabel Indikator Variabel Skala
Pengukuran
Kompetensi (X1) 1. Mutu personal Interval
Hiro 2. Pengetahuan
Tugiman(2014:11)
3. Pendidikan
4. Kemampuan
Profesionalisme (X2) 1. Pelayanan kepada Interval
Tugiman(2014:11) publik
2. Pelatihankhusus
berjangka panjang
3. kode etik
4. pengetahuan para
auditor bersertifikat
5. Menjadi anggota
asosiasi

Indenpendensi (X3) 1. Bebas dari tekanan atau Interval


(Mulyadi 2013:26- intervensi
27) 2. Bebas dari intervensi
apapun
3. Bebas dari upaya pihak
luar yang memaksakan
pekerjaan audit
4. Bebas dari kepentingan
atau hubungan pribadi
5. Bebas dari perasaan
loyal kepada seseorang
Hasil 1. Tepat waktu Interval
Pemeriksaan
2. Lengkap
(Y)
Standar 3. Akurat
Pemeriksaan
4. Objektif
Keuangan
Negara (SPKN, 5. Meyakinkan
2017:90-94)
6. Jelas
7. ringkas

3.4. Populasi dan Sampel


3.4.1 Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas, obyek atau subyek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Dengan kata lain populasi adalah
seluruh anggota yang ada didalam organisasi yang berjumlah (40 orang) responden.
(Sugiyono 2015:80)

3.4.2 Sampel
Dalam suatu penelitian yang ditujukan untuk mengetahui karakteristik suatu
populasi, masalah penggunaan sampel merupakan sesuatu yang sangat penting. Pada
umumnya untuk memperoleh informasi tentang karakteristik suatu populasi diobservasi,
tetapi cukup hanya sebagiannya saja, sebagian anggota populasi tersebut disebut sampel.
“Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi
tersebut. Pengukuran sampel merupakan suatu langkah untuk menentukan besarnya
sampel yang diambil dalam melaksanakan penelitian suatu objek. Untuk menentukan
besarnya sampel bisa dilakukan dengan statistik atau berdasarkan estimasi penelitian.
Pengambilan sampel ini harus dilakukan sedemikian rupa sehingga diperoleh sampel
yang benar- benar dapat berfungsi atau dapat menggambarkan keadaan populasi yang
sebenarnya, dengan istilah lain harus representatif (mewakili)”.
Berdasarkan penghitungan tersebut maka sampel yang diambil dibulatkan menjadi
sebanyak 20 Account Representative, jadi sampel yang digunakan penelitian ini sebanyak
20 orang yang merupakan auditor internal dan Kasubag serta kasi / kaur keu

3.5 Jenis dan Sumber Data


Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua macam, yaitu data
primer dan data sekunder. Data primer dan data sekunder yang diperoleh dari penelitian
secara empiris untuk menjawab permasalahan pokok yang dikaji dalam penelitian ini.
1. Data primer. Menurut Hermawan & Amirullah (2016)data primer adalah data yang
secara khusus dikumpulkan untuk kebutuhan riset yang sedang berjalan. Data primer
menurut Sugiyono (2015)adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada
pengumpul data. Sumber data primer dalam penelitian ini didapat melalui penyebaran
angket dan kuesioner.
2. Data sekunder. Data sekunder merupakan data yang dikumpulkan tidak hanya untuk
keperluan suatu riset tertentu saja Hermawan & Amirullah (2016). Data ini digunakan
untuk mendukung informasi primer yang telah diperoleh yaitu dari bahan pustaka,
literatur, penelitian terdahulu, buku, dan lain sebagainya.Pengertian data sekunder
menurut Sugiyono (2015)adalah sumber data yang tidak langsung memberikan data
kepada pengumpul data, misalnya melalui orang lain atau dokumen. Data sekunder
penelitian ini adalah data yang diperoleh dari studi pustaka (library research).

3.6 Teknik Pengumpulan data


Metode yang digunakan peneliti untuk menyusun tesis agar memperoleh data dan
informasi yaitu dengan survei. Survei merupakan studi yang bersifat kuantitatif yang
digunakan untuk meneliti gejala suatu kelompok atau perilaku individu. Pada umumnya
survei menggunakan kuesioner sebagai alat pengambil data. Survei menganut aturan
pendekatan kuantitatif, yaitu semakin sampel besar, semakin hasilnya mencerminkan
populasi (Hermawan & Amirullah, 2016)

Bila dilihat dari segi cara atau teknik pengumpulan data, maka metode
pengumpulan dapat dilakukan dengan angket (kuesioner). Kuesioner merupakan
kumpulan dari pertanyaan-pertanyaan untuk mendapatkan informasi dari para responden.
Dalam istilah lain, kuesioner adalah daftar pernyataan atau pertanyaan yang dikirimkan
kepada responden baik secara langsung atau tidak langsung (melalui pos atau perantara)
untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan. Dua alasan utama mengapa metode
kuesioner ini digunakan adalah : (a) Memberi motivasi yang tinggi kepada responden
untuk memberikan jawaban yang jujur dan menghindarkan kejenuhan, kebosanan, serta
ketidakpekaan dari responden dan (b) Memperkecil kesalahantanggapan, seperti jawaban
tidak akurat, jawaban salah dicatat dan juga salah analisa. Metode pengumpulan informasi
ini meliputi menanyakan sejumlah pertanyaan tertentu yang dapat hanya dijawab dengan
cara yang sudah ditentukan (Hermawan & Amirullah, 2016)
Kuesioner adalah daftar pertanyaan tertulis yang telah dirumuskan sebelumnya di
mana responden akan mencatat jawaban mereka, biasanya dalam alternatif yang
didefinisikan dengan jelas. Kuesioner yang diberikan secara langsung adalah peneliti atau
anggota dari tim penelitian dapat mengumpulkan semua respons lengkap dalam periode
waktu singkat. Daftar pertanyaan tersebut dibuat cukup terperinci dan lengkap yang
merupakan penjabaran setiap indikator dari variabel yang akan diukurterkait pengaruh
knowledge sharing, individual innovation capability, disiplin kerja, dan kepemimpinan
terhadap kinerja pegawai dengan kepuasan kerja sebagai variabel intervening. Setiap poin
jawaban pada kuesioner ditentukan skornya menggunakan skala likert(Sekaran & Bougie
(2017)
Skala likertdigunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang
atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Jawaban setiap item instrumen yang
menggunakan skala likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif
yang berupa kata-kata (Sugiyono (2017). Bobot penilaian dapat dilihat pada tabel 3.2
sebagai berikut :
Tabel 3.2
Penilaian Skala Likert
Skor Kategori
5 Sangat Setuju
4 Setuju
3 Cukup Setuju
2 Kurang Setuju
1 Sangat Tidak Setuju
Sumber : Sugiyono (2015)

3.7 Teknik analisa data


Menurut Sugiyono,menyebutkan bahwa teknik analisis data pada penelitian
kuantitatif menggunakan statistik. Dalam penelitian ini analisis data akan
menggunakan teknik statistik deskriptif. Statistik deskriptif adalah statistik yang
digunakan untuk menganalisa data dengan mendeskripsikan atau menggunakan
data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat
kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Analisis data yang
dilakukan adalah analisis kuantitatif yang dinyatakan dengan angka-angka dan
perhitungannya menggunakan metode standar yang dibantu dengan aplikasi
Statistical Package Sosial Sciences (SPSS) Versi 24.
Setelah metode pengumpulan data ditentukan, kemudian ditentukan alat
untuk memperoleh data dari elemen-elemen yang akan diselidiki.Alat yang
digunakan dalam penelitian ini adalah daftar pernyataan atau kuesioner untuk
menentukan nilai dari kuesioner tersebut, penulis menggunakan skala likert. Daftar
kuesioner kemudian disebar kebagian-bagian yang telah ditetapkan. Setiap item
dari kuesioner tersebut merupakan pernyataan positif yang memiliki 5 jawaban
dengan masing-masing nilai yang berbeda
Apabila data terkumpul, kemudian dilakukan pengolahan data, disajikandan
dianalisis. Dalam penelitian ini penulis menggunakan uji statistik untuk menilai
variabel X1, X2, X3 dan Y, maka analisis yang digunakan berdasarkan rata-rata
dari masing-masing variabel. Nilai rata-rata ini didapat dengan menjumlahkan data
keseluruhan dalam setiap variabel, kemudian dibagi dengan jumlah responden.
Pengertian Statistik Deskriptif menurut Sugiyono (2016 : 254) adalah
sebagai berikut: “Statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara
mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana
adanya tanpa bermaksud membuat keismpulan yang berlaku untuk umum atau
generalisasi.”
Untuk menilai variabel X dan variabel Y, maka analisis yang digunakan berdasarkan
rata-rata (mean) dari masing-masing variabel. Nilai rata-rata ini didapat dengan
menjumlahkan dan keseluruhan dalam setiap variabel, kemudian dibagi dalam
jumlah responden.
Rumus rata rata (mean) yang dikutip oleh Sugiyono (2016:280) adalah
sebagai berikut:

∑𝑥
𝑀𝑒=
𝑛

Dimana :
Me = Mean (Rata-rata)
∑ = Epsilon (baca jumlah)
xi = Nilai x ke i sampai ke n
n = Jumlah Individu

Setelah rata-rata dari masing-masing variabel didapat, kemudian


dibandingkan dengan kriteria yang peneliti tentukan berdasarkan nilai terendah dan
nilai tertinggi dari hasil kuesioner. Nilai terendah dan nilai tertinggi tersebut peneliti
ambil banyaknya pernyataan dalam kuesioner dikalikan dengan skor terendah (1)
dan skor tertinggi (5) dengan menggunakan skala likert. Teknik
skalalikert,dipergunakan untuk mengukur jawaban.

a. Kompetensi

Untuk menilai variabel kompetensil, maka analisis yang dipergunakan


berdasarkan rata-rata (mean) dari variabel. Untuk variabel kompetensi (X1)
rumusnya adalah:

∑𝑥
𝑀𝑒=
𝑛

Dimana :
Me = Mean (Rata-rata)
∑ = Epsilon (baca jumlah)
xi = Nilai x ke i sampai ke n
n = Jumlah Individu

Setelah didapat rata-rata, kemudian dibandingkan dengan kriteria yang penulis


tentukan berdasarkan nilai terendah dan tertinggi dari hasil kuesioner.
Penulis mengambil skorter tinggi adalah 65(5x13) dan skor terendah adalah 13(1x13)
dan panjang kelas interval untuk setiap kategori adalah10,4 (65-13)/5).
Penulis menetapkan skor kuesioner di dalamtabel 3.3

Tabel3.3
Kriteria Penilaian Kompetensi
Kategori RentangNilai
Sangat Tidak berkompeten 13 – 23,4
Tidak berkompeten 23,4 – 33,8
Cukup berkompeten 33,8 – 44,2
Kompeten 44,2 – 54,6
SangatKompetens 54,6 – 65

b. Profesionalisme
Untuk menilai variable profesionalisme, maka analisis yang dipergunakan
berdasarkan rata-rata (mean) dari variable profesionalisme (X2) untuk rumusnya
adalah:
∑𝑥
𝑀𝑒=
𝑛
Setelah didapat rata-rata, kemudian dibandingkan dengan kriteria yang penulis
tentukan berdasarkan nilai terendah dan tertinggi dari hasil kuesioner. Penulis
mengambil skor tertinggi adalah 200 (5x40) dan skor terendah adalah 40(1x40) dan
panjang kelas interval untuk setiap kategori adalah 16 (200-40)/5). Penulis
menetapkan skor kuesioner di dalam tabel 3.4

Tabel3.4
KriteriaPenilaianProfesionalisme
Kategori RentangNilai
TidakProfesional 20 – 36,0
KurangProfesional 36,1 – 52,0
CukupProfesional 52,1 – 68,0
Profesional 68,1 – 84,0
Sangat Profesional 84,1 -100

c. Indenpendensi

Untuk menilai variable independensi, maka analisis yang dipergunakan


berdasarkan rata-rata (mean) dari variable independensi (X3) untuk rumusnya
adalah:
∑𝑥
𝑀𝑒=
𝑛

Setelah didapat rata-rata, kemudian dibandingkan dengan kriteria yang penulis


tentukan berdasarkan nilai terendah dan tertinggi dari hasil kuesioner. Penulis
mengambil skor tertinggi adalah 200 (5x40) dan skor terendah adalah 40(1x40) dan
panjang kelas interval untuk setiap kategori adalah 16 (200-40)/5). Penulis
menetapkan skor kuesioner di dalam tabel 3.4

Tabel3.5
Kriteria Penilaian independensi
Kategori RentangNilai
Tidak insependen 20 – 36,0
Kurang independen 36,1 – 52,0
Cukup independen 52,1 – 68,0
independen 68,1 – 84,0
Sangat independen 84,1 -100
d. Hasil pemeriksaan
Untuk menilai variabel kinerja audit Internal, maka analisis yang dipergunakan
berdasarkan rata-rata (mean) dari variabel hasil pemeriksaan. Untuk variabel hasil
pemeriksaan (Y) rumusnya adalah:
∑𝑥
𝑀𝑒=
𝑛
Setelah didapat rata-rata, kemudian dibandingkan dengan kriteria yang penulis
tentukan berdasarkan nilai terendah dan tertinggi dari hasil kuesioner. Penulis
mengambil skor tertinggi adalah 230 (5x46) dan skor terendah adalah 46 (1x46) dan
panjang kelas interval untuk setiap kategori adalah 36,8 ((230-46)/5). Penulis
menetapkan skor kuesioner di dalam tabel 3.5
Tabel 3.6
Kriteria Penilaian Hasil Pemeriksaan

Kategori Rentang Nilai


Sangat Buruk 46 – 82,8
Buruk 82,9 – 119,6
Kurag Baik 119,7 – 156,4
Baik 156,5 – 193,2
Sangat Baik 193,3 – 230

3.7.1 Analisis Regresi Linier Sederhana


Analisis regresi linier sederhana adalah hubungan secara linear antara satu
variabel independen (X) dengan variabel dependen (Y). Analisis ini untuk
mengetahui arah hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen
apakah positif atau negatif dan untuk memprediksi nilai dari variabel dependen
apabila nilai variabel independen mengalami kenaikan atau penurunan.. Data yang
digunakan biasanya berskala interval atau rasio. Rumus regresi linear sederhana
yaitu sebagai berikut :

Y = a + bX
Keterangan :
Y = Variabel dependen (nilai yang diprediksikan)
X = Variabel independen
a = Konstanta (nilai Y apabila X = 0)
b = Koefisien regresi (nilai peningkatan ataupun penurunan variabel
dependen yang didasarkan pada perubahan variabel independen)
3.7.2 Analisis Regresi Linier Berganda
Untuk mengetahui gambaran yang keseluruhan tentang pengaruh
knowledge sharing, individual innovation capability, disiplin kerja, dan
kepemimpinan terhadap kinerja pegawai dengan kepuasan kerja sebagai variabel
intervening, maka dalam penelitian ini dilakukan analisis regresi linier berganda.
Analisis regresi linier berganda adalah hubungan secara linear antara dua atau lebih
variabel independen (X1, X2, X3….Xn) dengan variabel dependen (Y). Analisis ini
untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dengan variabel
dependen apakah masing-masing variabel independen berhubungan positif atau
negatif dan untuk memprediksi nilai dari variabel dependen apabila nilai variabel
independen mengalami kenaikan atau penurunan. Data yang digunakan biasanya
berskala interval atau rasio.Analisis regresi linier berganda digunakan untuk
menjelaskan pengaruh variabel bebas kompetensi (X1), profesionalisme (X2),
Independensi (X3) terhadap variabel terikat kualitas pemeriksaan (Y). Rumus
untuk persamaan regresi linier berganda yang mempunyai dua buah variabel bebas
yaitu :
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3
Keterangan :
Y = kualitas pemeriksaan
a = Konstanta
b1,2,3 = Koefisien regresi
X1 = kompetensi
X2 = profesionalisme
X3 = indenpendensi
Agar data yang dihimpun atau dikumpulkan tersebut dapat berguna maka
teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linear berganda. Untuk
menjamin ketelitian dan keakuratan hasil perhitungan analisis regresi, maka
digunakan alat bantu program SPSS 22.

3.7.3 Uji Hipotesis


Uji hipotesis dipergunakan untuk menguji kebenaran suatu pernyataan
secara statistik dan menarik kesimpulan apakah menerima atau menolak
pernyataan tersebut. Pernyataan ataupun asumsi sementara  yang dibuat untuk diuji
kebenarannya tersebut dinamakan dengan hipotesis. Tujuan dari uji hipotesis
adalah untuk menetapkan suatu dasar sehingga dapat mengumpulkan bukti yang
berupa data-data dalam menentukan keputusan apakah menolak atau menerima
kebenaran dari pernyataan atau asumsi yang telah dibuat. Uji hipotesis juga dapat
memberikan kepercayaan diri dalam pengambilan  keputusan  yang bersifat
Objektif. Pengambilan keputusan dalam uji hipotesis dihadapi dengan dua
kemungkinan kesalahan yaitu :
1. Kesalahan Tipe I (Type I Error). Kesalahan yang diperbuat apabila menolak
hipotesis yang pada hakikatnya adalah benar. Probabilitas Kesalahan Tipe I ini
biasanya disebut dengan Alpha Risk (Resiko Alpha). Alpha Risk
dilambangkan dengan simbol α.
2. Kesalahan Tipe II (Type II Error). Kesalahan yang diperbuat apabila menerima
hipotesis yang pada hakikatnya adalah salah. Probabilitas Kesalahan Tipe II ini
biasanya disebut dengan Beta Risk (Resiko Beta). Beta Risk dilambangkan
dengan simbol β
Dalam pengujian hipotesis, diperlukan membuat 2 pernyataan hipotesis yaitu :
1. Pernyataan Hipotesis Nol (H0) yaitu : (a) Pernyataan yang diasumsikan benar
kecuali ada bukti yang kuat untuk membantahnya, (b) Selalu mengandung
pernyataan “sama dengan”, “tidak ada pengaruh”, “tidak perbedaan”, dan (c)
Dilambangkan dengan H0. Contoh : H0 : μ1 = μ2 atau H0 : μ1 ≥ μ2
2. Pernyataan Hipotesis Alternatif (H1) yaitu : (a) Pernyataan yang dinyatakan
benar jika Hipotesis Nol (H0) berhasil ditolak dan (b) Dilambangkan dengan
H1 atau HA. Contoh H1 : μ1 ≠  μ2 atau H1 : μ1 > μ2
Ciri-ciri hipotesis yang baik yaitu : (1) Hipotesis harus menyatakan hubungan antar
variabel, (2) Hipotesis harus sesuai dengan kaidah ilmu pengetahuan, (3) Hipotesis
harus dapat diuji, (4) Hipotesis harus sederhana, dan (5) Hipotesis harus
menerangkan fakta atau fenomena.

1. Uji Hipotesis Pertama (Uji F)


Untuk menguji pengaruh secara simultan variabel independen terhadap
variabel dependen dapat digunakan Uji F. Uji F dapat dilakukan dengan
membandingkan F hitung dengan tabel F dalam Excel, jika F hitung > dari F tabel,
(Ho ditolak Ha diterima) maka model signifikan atau bisa dilihat dalam kolom
signifikansi pada Anova. Model signifikan selama kolom signifikansi (%) < Alpha
(kesiapan berbuat salah tipe 1, yang menentukan peneliti sendiri. Dan sebaliknya
jika F hitung < F tabel, maka model tidak signifikan, hal ini juga ditandai nilai
kolom signifikansi (%) akan lebih besar dari alpha.
Derajat kepercayaan yang digunakan adalah 0,05. Apabila nilai F hasil
perhitungan lebih besar daripada nilai F menurut tabel maka hipotesis alternatif,
yang menyatakan bahwa semua variabel independen secara simultan berpengaruh
signifikan terhadap variabel dependen. Signifikan berarti hubungan yang terjadi
dapat berlaku untuk populasi. Penggunaan tingkat signifikansinya beragam,
tergantung keinginan peneliti, yaitu 0,01 (1%); 0,05 (5%); dan 0,10 (10%). Saat
menggunakan taraf signifikansi 5% (0,05) jika nilai probabilitas < 0,05, maka dapat
dikatakan terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama antara variabel
bebas terhadap variabel terikat. Namun, jika nilai signifikansi > 0,05 maka tidak
terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama antara variabel bebas
terhadap variabel terikat. Langkah-langkah uji F adalah sebagai berikut :
1. Merumuskan hipotesis :
H0 : β1 + β2 + β3 = 0, artinya variabel independen secara simultan berpengaruh
tidak signifikan terhadap variabel dependen.
H1 : β1 + β2 + β3 ≠ 0, artinya variabel independen secara simultan
berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen

2. Menghitung nilai F test


Nilai F hitung dicari dengan rumus :

Keterangan :
Fhit = Ftest
R2 = R squard
K = Jumlah varabel
N = Jumlah data
3. Menentukan kriteria penerimaan
Tingkat signifikan yang digunakan dalam penelitian adalah α = 0.05 atau
dengan interval keyakinan sebesar 95% dengan df = (k-1) dan (n-k) dimana k
adalah banyaknya variabel dan n adalah jumlah data.
4. Membandingkan nilai Ftest dengan Ftabel
Ho diterima jika F hitung < F tabel/P > 0.05
Ho ditolak jika F hitung > F tabel/P < 0.05
Statistik uji yang digunakan pada pengujian simultan adalah uji F dengan
rumus sebagai berikut

Keterangan :
R = Koefisien korelasi berganda
n = Jumlah sampel
k = Banyaknya komponen variabel bebas
Dalam uji F :
1. H0 ditolak jika Fhitung > Ftabel
2. H0 diterima jika Fhitung ≤ Ftabel
3. Uji Hipotesis Kedua (Uji t)
Untuk menguji pengaruh secara parsial variabel independen terhadap
variabel dependen dapat digunakan Uji T. Uji ini dapat dilakukan dengan
mambandingkan t hitung dengan t tabel atau dengan melihat kolom
signifikansi pada masing-masing t hitung. Hasil uji t dapat dilihat pada tabel
coefficients pada kolom sig (significance).

Derajat signifikansi yang digunakan adalah 0,05. Apabila nilai signifikan


lebih kecil dari derajat kepercayaan maka menerima hipotesis alternatif, yang
menyatakan bahwa suatu variabel independen secara parsial mempengaruhi
variabel dependen.

Jika probabilitas nilai t atau signifikansi < 0,05, maka dapat dikatakan
bahwa terdapat pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat secara
parsial.Namun, jika probabilitas nilai t atau signifikansi > 0,05, maka dapat
dikatakan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara masing-
masing variabel bebas terhadap variabel terikat.

Langkah-langkah Uji T adalah sebagai berikut: :


1. Merumuskan hipotesis :
H0 : β1 = 0 atau β2 = 0 atau β3 = 0, artinya X1 atau X2 atau X3 secara
parsial berpengaruh tidak signifikan terhadap Y .
H1 : β1 ≠ 0, atau β2 ≠ 0 atau β3 ≠ 0, artinya X1 atau X2 atau X3 secara
parsial berpengaruh signifikan terhadap Y
2. Menghitung nilai t tes

Nilai t hitung dicari dengan rumus :

Keterangan :

thit = ttest

bj = Koefisien Regresi

se(bj) = Standar Error Koefisien Regresi

3. Kriteria penerimaan

Dalam penelitian ini digunakan tingkat signifikan 0.05 dengan derajat bebas

(n-k), dimana n = jumlah pengamatan dan k = jumlah variabel.

H0 diterima jika thit ≥ t tab ≥ thit / P>0,05

H0 ditolak jika thit < ttab, thit / P.0,05

Berikut ini rumus uji t secara parsial sebagai berikut :

Keterangan :

r = Koefisien korelasi

n = Jumlah data

Pengujian hipotesis akan dilakukan dengan menggunakan tingkat


signifikansi sebesar 0,05 (α = 0) atau tingkat keyakinan sebesar 0,95. Dalam
ilmu-ilmu sosial tingkat signifikansi 0,05 sudah lazim digunakan karena
dianggap cukup tepat untuk mewakili hubungan antar variabel yang diteliti.
Hipotesis yang telah ditetapkan sebelumnya diuji dengan menggunakan
metode pengujian statistik uji t dan uji f dengan kriteria penerimaan dan
penolakan hipotesis sebagai berikut :

H0 diterima jika nilai – t tabel < t hitung < t tabel

H0 ditolak jika nilai – t hitung < t tabel atau t hitung < t tabel
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Obyek Penelitian


Pengawasan intern Pemerintah merupakan fungsi manajemen yang penting dalam
mewujudkan penyelenggaraan kegiatan Pemerintah Negara yang baik dan bersih. melalui
pengawasan intern dapat diketahui apakah suatu instansi Pemerintah telah melaksanakan
kegiatan sesuai dengan tugas pokok fungsi secara efektif, efesien dan ekonomis sesuai
dengan rencana dan kebijakan berdasarkan peraturan perundang undangan. Pengawasan
intern atas penyelengaraan pemerintah di perlukan untuk mendorong terwujudnya
pemerintah yang baik dan tata kelola yang bersih, dalam rangka mendukung
penyelenggaraan Pemerintah yang efektif, efesien transparan dan akuntabel serta bebas
dari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme. Pengawasan intern sebagai bagian yang tak
terpisahkan dari pelaksanaan reformasi birokrasi Polri bertujuan untuk meningkatkan
kinerja Polri khususnya untuk membangun kapasitas kelembagaan seluruh unit
organisasi/satuan kerja di lingkungan Polri. Reformasi birokrasi Polri akan terwujud jika
tata kelolanya tidak memberikan peluang terhadap praktik-praktik Kolusi, Korupsi, dan
Nepotisme (KKN) (KEP Irwasum Polri Nomor: 01/I/2021 tanggal 4 Januari 2021 tentang
Program Kerja Pengawasan Tahunan Berbasis Resiko (PKPT) Itwasum Polri 2021)

Peran dan fungsi Inspektorat Pengawasan Daerah Polda Jatim secara umum
diatur dalam pasal 1 ayat 6 Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia
Nomor 14 Tahun 2018. Dalam pasal tersebut dinyatakan bahwa Itwasda adalah unsur
pengawas dan pembantu pimpinan dalam bidang pengawasan pada tingkat Polda yang
berada di bawah Kapolda.
Dalam melaksanakan tugas, Itwasda Polda Jatim menyelenggarakan fungsi:
a. Pengawasan untuk memberikan penjaminan kualitas melalui proses:
1) audit untuk memberikan keyakinan memadai bahwa
penyelenggaraanmanajemen aspek perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan danpengendalian dibidang operasional, Sumber Daya Manusia
(SDM),logistik dan anggaran keuangan (Garkeu) di lingkungan Polri
telahberdasarkan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP)
dankepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dengan
mengutamakan prinsip ekonomis, efektivitas dan efisiensi;
2) review untuk memberikan keyakinan terbatas bahwa hal yang direviu
telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan, standar, rencana atau
normayang telah ditetapkan;
3) pemantauan tindaklanjut;
4) evaluasi.
b. Pengawasan untuk memberikan konsultasi, antara lain melalui
konsultasi,sosialisasi dan asistensi;
c. Penyusunan dan perumusan kebijakan penyelenggaraan pengawasan
dilingkungan Polda Jatim;
d. perumusan, pengembangan dan penyusunan perencanaan
kebutuhanorganisasi, manajemen SDM dan logistik, sistem dan metode
termasukpelatihan fungsi pengawasan;
e. pelaksanaan analisa evaluasi atas hasil pelaksanaan pengawasan;
f. penanganan Pengaduan Masyarakat (Dumas) yang disampaikan oleh
instansi,masyarakat atau pegawai negeri pada Polri;
g. pemberian arahan dan bimbingan teknis perencanaan kebutuhan
personelserta saran pertimbangan, penempatan/pembinaan karier personel di
lingkungan Polri;
i. pendampingan kegiatan pengawasan lembaga pengawas ekstern di
lingkungan Polri.

Stuktur organisasi Inspektorat Pengawasan Daerah Polda Jatim terdiri dari


Inspektur. Auditor Kepolisian Tk III, Inspektur Bidang (Irbid), Parik / Auditor, Subbag
Dumasan dan Subbag Renmin

Pelaksanaan fungsi pengawasan intern tidak terbatas pada fungsi audit tetapi juga
sebagai konsultan dan penjamin kualitas terhadap pengelolaan sumber daya manusia,
operasional, sarana prasarana dan keuangan negara. Pengawasan Internal terdiri dari
Wasrik (audit), reviu, evaluasi, pemantauan, dan kegiatan pengawasan lain terhadap
penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi dalam rangka memberikan keyakinan yang
memadai bahwa kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan tolok ukur yang telah
ditetapkan secara efektif, efisien dan ekonomis untuk kepentingan pimpinan dalam
mewujudkan tata kelola kepemerintahan yang baik. Sehingga penyelarasan terhadap hasil
pelaksanaan tugas Inspektorat Pengawasan Umum (Itwasda) Polda Jatim diharapkan dapat
memberikan keyakinan yang memadai atas pencapaian tujuan Polda Jatim, sekaligus dapat
mengisi perannya dalam memberikan peringatan dini (early warning) terhadap potensi
penyimpangan/kecurangan yang terjadi, disebabkan kelemahan dalam sistem maupun
sebagai akibat dari tindak pidana dan/atau pelanggaran yang dilakukan oleh individu
dan/atau korporasi, serta mampu melaksanakan perannya sebagai konsultan dan penjamin
kualitas (quality assurance) dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya. (PKPT Itwasda
2021 Polda Jatim)

4.2. Analisa Data dan Hasil Penelitian

4.2.1 Analisis Deskriptif

Dalam penelitian ini salah satunya yang digunakan adalah penelitian deskriptif.
Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskriptifkan atau
mengambarkan data yang telah terkumpul dari kuesioner yang telah disebarkan kepada
para responden.

Sebagaimana disebutkan pada tabel sebagai berikut :

Tabel 4.1

Tingkat Pengembalian kuesioner

Keterangan Jumlah
Kuesioner yang disebarkan 40
Kuesioner yang kembali 40
Persentase respon rate 100%
Kuesioner yang tidak kembali 0
Kuesioner yang di analisis 40
Sumber : Data diringkas dari hasil pengumpulan kuesioner

Berdasarkan tabel 4.1 diatas dari 40 kuesioner yang dibagikan kepada para
responden, jumlah kuesioner yang kembali sebanyak 40. Jadi presentasi ini akan meneliti
jawaban dari para responden yang berjumlah 40 orang responden. Berikut adalah
deskriptip responden yang dijadikan sampel oleh peneliti untuk memperoleh data.

1. Penilaian Responden Terhadap Identitas Responden

a. Karakteristik Responden Terhadap Jenis Kelamin

Tabel 4.2
Karakteristik Responden Terhadap Jenis Kelamin
Jenis kelamin

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid pria 20 50.0 50.0 50.0

wanita 20 50.0 50.0 100.0

Total 40 100.0 100.0

Sumber :Data diringkas dari hasil pengumpulan kuesioner

Berdasarkan tabel 4.2 diatas menunjukkan bahwa dalam penelitian ini,


responden berjenis kelamin laki-laki berjumlah 20 orang dengan persentase
50.0%, sedangkan responden berjenis kelamin perempuan berjumlah 20 orang
dengan persentase 50.0%.

b. Karakteristik Responden Terhadap Pendidikan

Tabel 4.2

Karakteristik responden terhadap Pendidikan

pendidikan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid S1 30 80.0 80.0 80.0

S2 10 20.0 20.0 100.0

Total 40 100.0 100.0

Sumber :Data diringkas dari hasil pengumpulan kuesioner

Berdasarkan tabel 4.3 diatas menunjukan bahwa dalam penelitian ini,


responden S1 sebanyak 30 orang dengan presentase 80.0%, dan responden
S2 sebanyak 10 orang dengan presentase 20.0%

c. Karakteristik Terhadap Lama Bekerja

Tabel 4.4
Karakteristik Responden Terhadap Lama Bekerja
Lamakerja

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
th
Valid 1-15 25 75.0 75.0 75.0

16-25th 15 25.5 100.0 100.0

Total 40 100.0 100.0

Berdasarkan tabel 4.4 diatas menunjukan bahwa dalam penelitian ini,

respondeng dengan masa kerja 1-15 th sebanyak 25 orang dengan persentase

75.0%, responden dengan masa kerja 16-25 th sebanyak 15 orang dengan

persentase 25.0%.

Tabel 4.5

Frekuensi Responden Terhadap Butir Pertanyaan

No Keterangan Score   Total


1 % 2 % 3 % 4 % 5 %
1   X1.1 0 0.0% 1 1.3% 14 30.0% 16 57.5% 9 11.3% 40
(X1) X1.2 0 0.0% 2 2.5% 14 30.0% 13 53.8% 11 13.8% 40
  X1.3 0 0.0% 1 1.3% 12 22.5% 18 65.0% 9 11.3% 40
  X1.4 0 0.0% 1 1.3% 11 26.3% 11 63.8% 7 8.8% 40
 
X1.5 0 0.0% 1 1.3% 18 22.5% 12 65.0% 9 11.3% 40
  £ 0 0.0% 6 1.5% 50 27.8% 65 59.5% 43 11.3% 200
% 0 0.0% 6 1.5% 111 27.8% 23 59.5% 45 11.3% 100%
8
2   X2.1 0 0.0% 1 1.3% 14 30.0% 16 57.5% 9 11.3% 40
(X2) X2.2 0 0.0% 2 2.5% 14 30.0% 13 53.8% 11 13.8% 40
  X2.3 0 0.0% 1 1.3% 12 22.5% 18 65.0% 9 11.3% 40
  X2.4 0 0.0% 1 1.3% 11 26.3% 11 63.8% 7 8.8% 40
 
X2.5 0 0.0% 1 1.3% 18 22.5% 12 65.0% 9 11.3% 40
  £ 0 0.0% 6 1.5% 50 27.8% 65 59.5% 43 11.3% 200
% 0 0.0% 6 1.5% 111 27.8% 23 59.5% 45 11.3% 100%
8
3 (X3) X3.1 0 0.0% 1 1.3% 14 30.0% 16 57.5% 9 11.3% 40
  X3.2 0 0.0% 2 2.5% 14 30.0% 13 53.8% 11 13.8% 40
  X3.3 0 0.0% 1 1.3% 12 22.5% 18 65.0% 9 11.3% 40
  X3.4 0 0.0% 1 1.3% 11 26.3% 11 63.8% 7 8.8% 40
  X3.5 0 0.0% 1 1.3% 18 22.5% 12 65.0% 9 11.3% 40
£ 0 0.0% 6 1.5% 50 27.8% 65 59.5% 43 11.3% 200
% 0 0.0% 6 1.5% 111 27.8% 23 59.5% 45 11.3% 100%
8
  Y1.1 0 0.0% 1 1.3% 14 30.0% 16 57.5% 9 11.3% 40
4 Y Y1.2 0 0.0% 2 2.5% 14 30.0% 13 53.8% 11 13.8% 40
  Y1.3 0 0.0% 1 1.3% 12 22.5% 18 65.0% 9 11.3% 40
  Y1.4 0 0.0% 1 1.3% 11 26.3% 11 63.8% 7 8.8% 40
  Y1.5 0 0.0% 1 1.3% 18 22.5% 12 65.0% 9 11.3% 40
£ 0 0.0% 6 1.5% 50 27.8% 65 59.5% 43 11.3% 200
% 0 0.0% 6 1.5% 111 27.8% 23 59.5% 45 11.3% 100%
8

Berdasarkan data yang telah diolah pada tabel 4.8 di atas, dapat disimpulkan
bahwa tanggapan responden mengenai variabel Kompetensi (X1) bersifat positif
dengan melihat rata-rata jawaban responden setuju dengan prosentase sebesar (59.5
%) dari pernyataan 40 responden, sedangkan pernyataan lain sebesar (0%)
menyatakan sangat tidak setuju, (1.5%) menyatakan tidak setuju, (27.8%)
menyatakan netral, dan (11.3%) menyatakan sangat setuju

Kemudian untuk hasil penelitian variabel Profesionalisme (X2) bersifat


positif dengan melihat rata-rata jawaban responden setuju dengan prosentase
sebesar (36.0%) dari pernyataan 40 responden. Sedangkan pernyataan lain (2.0%)
menyatakan sangat tidak setuju, (7.6%) menyatakan tidak setuju, (10.5%)
menyatakan netral, dan (42.8%) menyatakan sangat setuju.

Selanjutnya hasil penelitian untuk variabel Independensi(X3) dapat dilihat


pada tabel di atas bahwa tanggapan responden bersifat positif dengan melihat rata-
rata jawaban responden setuju dengan prosentase sebesar (61.5)% dari pernyataan
40 responden. Sedangkan pernyataan lain (0.0%) menyatakan sangat tidak setuju,
(1.3%) menyatakan tidak setuju, (16.3%) menyatakan netral, dan (21.0%)
menyatakan sangat setuju.

Sedangkan untuk hasil penelitian untuk variabel Kualitas Pemeriksaan (Y) bersifat
positif dengan melihat rata-rata jawaban responden setuju dengan prosentase
sebesar (65.5%) dari pernyataan 102 responden. Sedangkan pernyataan lain (0%)
menyatakan sangat tidak setuju, (2%) menyatakan tidak setuju, (13.8%)
menyatakan netral, dan (17.8%) menyatakan sangat setuju.

1. Pengujian Instrumen Penelitian


a. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
Dalam penelitian ini, uji validitas dilakukan dengan tujuan untuk
mengetahui bahwa setiap pertanyaan yang diajukan kepada responden telah
dinyatakan valid atau tidak menggunakan rumus Corrected Item-Total Corelation
dari Pearson. Kriteria pengujian dilakukan bila korelasi tiap factor positif dan
besarnya >0.3 maka factor tersebut merupakan construc yang kuat. Sebaliknya,
apabila nilai korelasi < 0.3, maka dapat disimpulkan bahwa butir instrument
tersebut tidak valid., sehingga harus diperbaiki atau dibuang. Pengujian juga dapat
dilakukan dengan membandingkan rhitung dan rtabel .suatu kuisioner dapat dikatakan
valid apabila rhitung>rtabel (sugiyono,2011) yang mana pertanyaan dalam kuisioner
tersebut mampu untuk menggungkapkan apa yang ingin diukur. Dengan
menggunakan bantuan program SPSS versi 18

Sedangkan untuk uji reliabilitas penulis menggunakan koefisien alfa atau


Crombach’S Alpha untuk mengukur reliabilitas atau konsistensi internal diantara
butur-butir pertanyaan dalam suatu instrument.berdasarkan Maholtra(2002) item
pengukuran dikatakan reliable jika memiliki koefisien alpha >0.6. hasil uji validitas
dan reliabilitas instrument dapat dilihat sebagai berikut
Tabel 4.6

Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Kompetensi

Item-Total Statistics

Scale Mean Scale Corrected


if Item Variance if Item-Total Cronbach's Alpha
Deleted Item Deleted Correlation if Item Deleted

X1.1 15.2375 4.664 .830 .859

X1.2 15.2375 4.614 .760 .876

X1.3 15.1625 5.277 .629 .902

X1.4 15.2250 4.987 .766 .874

X1.5 15.2375 4.791 .774 .872

Sumber : Data diolah menggunakan SPSS versi 18

Reliability Statistics

Cronbach's
Alpha N of Items

.899 5

Sumber : Data diolah menggunakan SPSS versi 18


Berdasarkan table diatas yang telah duiji dengan menggunakan software SPSS
menyatakan bahwa pada kolom Corrected Item-Total Correlation pada setiap item
pertanyaan menunjukan bahwa nilai korelasi item pertanyaan Kompetensi adalah valid dan
dapat digunakan. Sedangkan untuk uji reliabilitas menunjukan bahwa reliabilitas Alpha
Crombach positif dan lebih dari >0.6 yaitu 0,899. Hal itu dapat disimpulkan bahwa
variabel Kompetensi mempunyai nilai reliable yang tinggi dan dapat digunakan untuk
penelitian selanjutnya.
Tabel 4.7

Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Profesionalisme

Item-Total Statistics

Corrected Cronbach's
Scale Mean if Scale Variance Item-Total Alpha if Item
Item Deleted if Item Deleted Correlation Deleted

X2.1 16.7375 9.487 .175 .801

X2.2 16.3125 7.205 .727 .577

X2.3 16.5000 7.646 .485 .677

X2.4 16.1375 8.145 .653 .623

X2.5 16.0625 8.388 .497 .671


Sumber : Data diolah menggunakan SPSS versi 18

Reliability Statistics

Cronbach's
Alpha N of Items

.723 5
Sumber : Data diolah menggunakan SPSS versi 18

Berdasarkan table diatas yang telah duiji dengan menggunakan software SPSS
menyatakan bahwa pada kolom Corrected Item-Total Correlation pada setiap item
pertanyaan menunjukan bahwa nilai korelasi item pertanyaan Profesionalismeadalah valid
dan dapat digunakan. Sedangkan untuk uji reliabilitas menunjukan bahwa reliabilitas
Alpha Crombach positif dan lebih dari >0.6 yaitu 0,723. Hal itu dapat disimpulkan bahwa
variabel Profesionalisme nilai reliable yang tinggi dan dapat digunakan untuk penelitian
selanjutnya.
Tabel 4.8

Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Independensi

Item-Total Statistics

Scale Corrected Cronbach's


Scale Mean if Variance if Item-Total Alpha if Item
Item Deleted Item Deleted Correlation Deleted

X3.1 16.0875 4.537 .634 .826


X3.2 16.0375 4.391 .675 .816
X3.3 16.1000 4.319 .658 .820
X3.4 16.0750 4.425 .669 .817
X3.5 16.1500 4.433 .666 .818
Sumber : Data diolah menggunakan SPSS versi 18

Reliability Statistics

Cronbach's
Alpha N of Items

.850 5
Sumber : Data diolah menggunakan SPSS versi 18

Berdasarkan table diatas yang telah duiji dengan menggunakan software SPSS
menyatakan bahwa pada kolom Corrected Item-Total Correlation pada setiap item
pertanyaan menunjukan bahwa nilai korelasi item pertanyaan Independensi adalah valid
dan dapat digunakan. Sedangkan untuk uji reliabilitas menunjukan bahwa reliabilitas
Alpha Crombach positif dan lebih dari >0.6 yaitu 0,850 Hal itu dapat disimpulkan bahwa
variabel Independensi nilai reliable yang tinggi dan dapat digunakan untuk penelitian
selanjutnya.
.

Tabel 4.9

Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Kualitas Pemeriksaan


Item-Total Statistics

Corrected Cronbach's
Scale Mean if Scale Variance Item-Total Alpha if Item
Item Deleted if Item Deleted Correlation Deleted

Y.1 15.7750 3.999 .723 .810

Y1.2 15.7125 4.207 .616 .837


Y1.3 15.7250 4.025 .692 .817
Y1.4 15.6375 3.778 .688 .819
Y1.5 15.6000 4.268 .623 .835
Sumber : Data diolah menggunakan SPSS versi 18

Reliability Statistics

Cronbach's
Alpha N of Items

.854 5

Sumber : Data diolah menggunakan SPSS versi 18

Berdasarkan table diatas yang telah duiji dengan menggunakan software SPSS
menyatakan bahwa pada kolom Corrected Item-Total Correlation pada setiap item
pertanyaan menunjukan bahwa nilai korelasi item pertanyaan Kualitas Pemeriksaan adalah
valid dan dapat digunakan. Sedangkan untuk uji reliabilitas menunjukan bahwa reliabilitas
Alpha Crombach positif dan lebih dari >0.6 yaitu 0,854 Hal itu dapat disimpulkan bahwa
variabel Kualitas Pemeriksaan nilai reliable yang tinggi dan dapat digunakan untuk
penelitian selanjutnya.
Bedasarkan table validitas dan reliabilitas diatas,dapat disimpulkan semua butir
pertanyaan valid dan reliable. Sehingga peneliti dapat menggunakan secara keseluruhan

b. Pengujian Asumsi Klasik

Menurtt Sudarmanto (2005), uji asumsi klasik secara minimal perlu dilakukan

oleh peneliti yang menggunakan regresi linier berganda yaitu berupa:

1) Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah variabel bebas
dan variabel terikat berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas ini
menggunakan Plot of Regresion Standardized Residual. Data dinyatakan
berdistribusi normal, jika sebaran data membentuk titik0titik yang
mendekati garis diagonal,

Sumber : Data diolah menggunakan SPSS versi 18

Berdasarkan gambar diatas menunjukan bahwa sebaran data


membentuk titik-titik yang mendekati garis diagonal, maka dapat
disimpulkan bahwa data tersebut berdistribusi normal.

2) Uji Linieritas
Hasil uji linearitas akan menentukan teknik analisis regresi yang akan
digunakan. Jika hasil uji linieritas adalah linier,maka digunakan regresi
linier. Sebaliknya, jika hasil uji linieritas adalah tidak linier maka regresi
yang digunakan adalah regresi nonlinier. Untuk mengetahui apakah data
linier atau tidak, dengan mengamati nilai signifikasi. Jika nilai signifikasi
dari deviation from linearity lebih besar dari 0,05, ini mengindikasikan
bahwa model regresi adalah linier.
Tabel 4.11

Hasil Uji Linieritas

No Variabel F Sig
1 Kualitas Pemeriksaan * Kompetensi 1.750 .801
2 Kualitas Pemeriksaan * Profesionalisme . .975 .482
3 Kualitas Pemeriksaan * Independensi
1.818 .080

Berdasarkan table diatas dapat dijelaskan bahwa nilai f hitung 1.750 dengan
tingkat signifikan 0.801 > 0.05 maka model regresi memiliki hubungan yang
linier antara Kompetensi dengan Kualitas Pemeriksaan. Kemudian nilai f hitung
0.975 dengan tingkat signifikasi 0.482> 0.05 maka model regresi memiliki
hubungan yang linier antara Profesionalisme dengan Kualitas Pemeriksaan
Selanjutnya nilai f hitung 1.818 dengan tingkat signifikasi 0.080 maka model
regresi memiliki hubungan linier antara Independensi dengan Kualitas
Pemeriksaan.

3) Uji Heterokedastisitas
Uji heterokedasititas adalah menguji apakah dalam sebuah model
regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual dari satu pengamatan ke
pengamatan yang lain. Secara grafis apakah ada problem
heteroskedastisitas atau tidak dapat dilihat dari multivariate standardized
scatterplot.
Mendeteksi heteroskedastisitas dengan melihat ada tidaknya pola tertentu
pada grafik regresi. Jika ada pola tertentu seperti titik-titik (poimt) yang
ada meembentuk suatu pola tertentu yang teratur( bergelombang, melebar
kemudian menyempit) maka telah terjadi heterokedastisitas. Jika tidak ada
pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada
sumbu Y atau sumbu vertical, maka model regresi bersifat homogen atau
tidak terjadi heteroskedastisitas.
Gambar

Uji Heteroskedastisitas

Sumber : Data diolah menggunakan SPSS versi 18

Berdasarkan gambar diatas menyatakan bahwa data yang menyebar secara

acak, maka dapat disimpulkan bahwa homogeny atau tidak terjadi

heterokedastisitas.

4) Uji Multikolinearitas

Untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya problem


multikolinearitas atau tidak, atau untuk mengetahui ada tidaknya korelasi
antar sesame variabel independen atau variabel bebas, dilakukan melalui
uji multikolinearitas. Untuk mengetahui terjadi multikolinieritas atau tidak,
dilakukan ddengan mengamati besarnya nilai VIF (Variance Inflatio
Factor). Jika besarnya nilai VIF lebih kecil dari 10 (<10) dan toleransi
lebih besar dari 0,1 (>0,1) ini member indikasi tidak ada problem
multikolinearitas, demikian pula sebaliknya. Regresi yang baik seharusnya
tidak terjadi korelasi di antara variabel independen.
Coefficientsa

Model Collinearity Statistics

Tolerance VIF

1 KOMPETENSI .969 1.032

PROFESIONALISME .988 1.012

INDEPENDENSI .930 1.075

a. Dependent Variable: KUALITAS_PEMERIKSAAN

Sumber : Data diolah menggunakan SPSS versi 18


Berdasarkan table diatas, menunjukan bahwa hasil perhitungan nilai VIF
lebih kecil dari 10 (<10) dan toleransi lebih besar dari 0,1 (>0,1), maka dapat
disimpulkan bahwa antara variabel penjelas yang satu dengan variabel lainnya
tidak saling berkolinieritas.

5) Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi digunakann untuk mengetahui korelasi antara residual
pada suatu pengamatsn dengan pengamatan lain dalam model regresi.
Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Uji
autokorelasio bisa dilakukan menggunakan uji Durbin-Watson (DW),
dengan ketentuan sebagai berikut:
a) Jika nilai DW kurang dari -2, maka ini terjadi autokorelasi positif, jika
nilai DW diantara diantara -2 dan +3, maka ini tidak terjadi
autokorelasi
b) Jika nilai DW lebih besar dari +3, maka ini terjadi autokorelasi
negative.

Tabel 4.13

Hasil Uji Autokorelasi


Model Summaryb

Model Change Statistics

R Adjusted R Std. Error of R Square F Sig. F Durbin-


R Square Square the Estimate Change Change df1 df2 Change Watson

dimensio n0
1 .785a .616 .604 .1763 .616 49.716 4 75 .000 1.722

a. Predictors: (Constant), KOMPETENSI, PROFESIONALISME, INDEPENDENSI

b. Dependent Variable: KUALITAS PEMERIKSAAN


Sumber : Data diolah menggunakan SPSS versi 18

Berdasatkan tabel diatas, dapat dinyatakan bahwa nilai untuk Durbin

Watsonnya adalah 1.722, maka tidak terjadi autokorelasi. Karena, sesuai ketentuan

kedua yang berbunyi “nilai DW diantara diantara -2 dan +3, maka ini tidak terjadi

autokorelasi”

c. Analisis Regresi Linier Berganda

Uji linier berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh secara simultan

maupun parsial antara variabel independen (X) dan variabel dependen (Y).

Berikut hasil analisis regresi linier berganda dalam penelitian ini

menggunakan SPSS versi 18 statistic.

Tabel 4.14

Hasil Uji Analisis Regresi Linier Berganda


Coefficientsa

Model
95.0%
Unstandardized Standardized Confidence Collinearity
Coefficients Coefficients Interval for B Correlations Statistics

Std. Lower Upper Zero-


B Error Beta T Sig. Bound Bound order Partial Part Tolerance VIF

1 (Constant) 3.183 1.450 2.195 .031 304 23.166

KOMPETENSI .252 .100 .228 2.517 .014 .053 .163 .655 .235 .162 .505 1.900

PEOFESIONALISME .390 .062 .602 6.275 .000 .267 .768 .545 .120 .403 .449 2.229

INDEPENDENSI .014 .085 .012 .164 .870 -.156 .387 .017 .219 .011 .765 1.307

a. Dependent Variable: KUALITAS_PEMERIKSAAN


Sumber : Data diolah menggunakan SPSS versi 18

Berdasarkan hasil analisis di atas dapat dijelaskan melalui rumus sebagai

berikut:

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3

Y = 3.183 + 0.252X1 + 0.390X2 + 0.014 X3

Berdasarkan rumusan masalah diatas dapat diartikan sebagai berikut:

1) Nilai konstanta sebesar 3.183 menyatakan jika tidak ada 3 variabel bebas,
maka kualitas pemeriksaan sebesar 3.183
2) Nilai koefisien sebesar 0.252 menyatakan bahwa peningkatan Kompetensi
sebesar 1 akan meningkatkan kualitas pemeriksaan sebesar 0.252
3) Nilai koefisien sebesar 0.390 menyatakan bahwa peningkatan
Profesionalismes sebesar 1 akan meningkatkan kualitas pemeriksaan
sebesar 0.390
4) Nilai koefisien sebesar 0.014 menyatakan bahwa peningkatan Independensi
sebesar 1 akan meningkatkan kualitas pemeriksaan sebesar 0.014
4.3 Uji Hipotesis

1. Uji Simultan (Uji F)

Tabel 4.15
Hasil Uji Simultan (Uji F)
ANOVAb

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression 4.154 3 1.039 2.568 .045a

Residual 30.333 102 .404

Total 34.488 105

a. Predictors: (Constant), KOMPETENSI, PROFESIONALISME, INDEPENDENSI

b. Dependent Variable: KUALITAS PEMERIKSAAN


Sumber : Data diolah menggunakan SPSS versi 18

Berdasarkan table diatas dapat dijelaskan bahwa terdapat pengaruh simultan dari
ketiga variabel Kompetensi, Profesionalisme, Independensi terhadap kualitas pemeriksaan.
Hal ini dapat ditunjukan dengan nilai sig. 0.045< 0.05 maka H 0 diterima dengan ketentuan
bahwa Fhitung > Ftabel 2.558 < 2.340

2. Uji Parsial (Uji t)

Tabel 4.16

Hasil Uji Parsial (Uji t)

Coefficientsa

Model Standardize 95.0%


Unstandardized d Confidence Collinearity
Coefficients Coefficients Interval for B Correlations Statistics

Std. Lower Upper Zero-


B Error Beta T Sig. Bound Bound order Partial Part Tolerance VIF

1 (Constant) 3.183 1.450 2.195 .031 304 23.166

KOMPETENSI
.252 .100 .228 2.517 .014 .053 .163 .655 .235 .162 .505 1.900

PEOFESIONALISM
.390 .062 .602 6.275 .000 .267 .768 .545 .120 .403 .449 2.229
E

INDEPENDENSI
.014 .085 .012 .164 .870 -.156 .387 .017 .219 .011 .765 1.307

a. Dependent Variable: KUALITAS_PEMERIKSAAN

Sumber : Data diolah menggunakan SPSS versi 18

Derajat keabsahan df = (n-k-1) = 40-3-1 = 36 dan tingkat taraf kepercayaan


5% atau 0.05, maka nilai ttabel adalah sebesar 1.665
Berdasarkan table diatas dapat dijelaskan bahwa uji hipotesis secara individu
atau parsial sebagai berikut:

a. Probabilitas 0.14< 0.05 dengan persentase sebesar ( 25.3%), maka H 1


diterima , sehingga dapat diartikan bahwa terdapat pengaruh signifikan
variabel Kompetensi terhadap Kualitas Pemeriksaan ketentuan bahwa
thitung>ttabel , 2.517 >1.666
b. Probabilitas .000 <0.05 dengan persentase sebesar ( 54.5%), maka H 1
diterima , sehingga dapat diartikan bahwa terdapat pengaruh signifikan
variabel Profesionalisme terhadap Kualitas Pemeriksaan dengan ketentuan
bahwa thitung> ttabel , 6.275 >1.665
c. Probabilitas .0870 >0.05 dengan persentase sebesar ( 1.7%), maka H 1
diterima , sehingga dapat diartikan bahwa terdapat pengaruh signifikan
variabel Independensi terhadap Kualitas Pemeriksaan dengan ketentuan
bahwa thitung< ttabel , 0.614<1.666
d. Probabilitas .000 <0.05 dengan persentase sebesar ( 54.5%), maka H 1
diterima , sehingga dapat diartikan bahwa terdapat pengaruh signifikan
variabel Profesionalisme terhadap Kualitas Pemeriksaan dengan ketentuan
bahwa thitung> ttabel , 6.275 >1.665
e. Probabilitas .0870 >0.05 dengan persentase sebesar ( 1.7%), maka H 1
diterima , sehingga dapat diartikan bahwa terdapat pengaruh signifikan
variabel Independensi terhadap Kualitas Pemeriksaan dengan ketentuan
bahwa thitung< ttabel , 0.614<1.666
3. Koefisien Korelasi Berganda

Model Summaryb

Model Change Statistics

R Adjusted R Std. Error of R Square F Sig. F Durbin-


R Square Square the Estimate Change Change df1 df2 Change Watson

dimensio n0
1 .785a .616 .604 .1763 .616 49.716 4 75 .000 1.722

a. Predictors: (Constant), KOMPETENSI, PROFESIONALISME, INDEPENDENSI

b. Dependent Variable: KUALITAS PEMERIKSAAN

Sumber : Data diolah menggunakan SPSS versi 18


Jangkauan nilai R adalah berkisar 0 sampai 1. Semakin mendekati 1 berarti
hubungan antar variabel bebas secara bersama-sama dan variabel terikat adalah semakin
kuat. Semakin mendekati 0 berarti hubungan antar variabel bebas secara bersama-sama
dan variabel terikat adalah semakin lemah atau bahkan tidak ada sama sekali .
Berdasarkan table diatas dapat disimpulkan bahwa hubungan variabel dependen dam
independen semakin kuat

4. Koefisien Determinasi Berganda (R2)

Model Summaryb

Model Change Statistics

R Adjusted R Std. Error of R Square F Sig. F Durbin-


R Square Square the Estimate Change Change df1 df2 Change Watson

dimensio n0
1 .785a .616 .604 .1763 .616 49.716 4 75 .000 1.722

a. Predictors: (Constant), KOMPETENSI, PROFESIONALISME, INDEPENDENSI

b. Dependent Variable: KUALITAS PEMERIKSAAN

Sumber : Data diolah menggunakan SPSS versi 18

Berdasarkan table diatas dapat dijelaskan bahwa koefisien determinan pada


penelitian ini sebesar 0.616 atau 61.6% sehingga variabel Kompetensi, Profesionalisme,
Independensi dapat menjelaskan variabel Kualitas pemerikasaan dan sisanya 38.4
dijelaskan oleh variabel lain.

5. Pengujian Hipotesis

a. Pengujian Hipotesis Pertama

Pengujian Hipotesis pertama adalah ada pengaruh Kompetensi terhadap

Kualitas Pemeriksaan. Pengujian hipotesis yang pertama ini dengan

menggunakan uji t

Tabel 4.18

Hasil Uji Parsial (Uji t)


Coefficientsa

Model Standardize 95.0%


Unstandardized d Confidence Collinearity
Coefficients Coefficients Interval for B Correlations Statistics

Std. Lower Upper Zero-


B Error Beta T Sig. Bound Bound order Partial Part Tolerance VIF

1 (Constant) 3.183 1.450 2.195 .031 304 23.166

KOMPETENSI
.252 .100 .228 2.517 .014 .053 .163 .655 .235 .162 .505 1.900

PEOFESIONALISM
.390 .062 .602 6.275 .000 .267 .768 .545 .120 .403 .449 2.229
E

INDEPENDENSI
.014 .085 .012 .164 .870 -.156 .387 .017 .219 .011 .765 1.307

a. Dependent Variable: KUALITAS_PEMERIKSAAN

Sumber : Data diolah menggunakan SPSS versi 18

Derajat keabsahan df = (n-k-1) = 40-3-1 = 36 dan tingkat taraf kepercayaan 5% atau 0.05,
maka nilai ttabel adalah sebesar 1.665. adapun penjelasan pada masing-masing variabel
sebagai berikut.

1) Kompetensi (X1)
Nilai thitung dalam penelitian ini sebesar 2.517 dengan tingkat signifikasi
sebesar 0.14 lebih besar dari ttabel sebesar 1.665 dengan presentase sebesar
dengan persentase sebesar ( 25.3%), hal ini menunjukan bahwa terjadi
penolakan H0 dan penerimaan H1 yang berarti terdapat pengaruh signifikan
variabel Kompetensi (X1) terhadap Kualitas Pemeriksaan (Y)

b. Pengujian Hipotesis Kedua

Pengujian Hipotesis Kedua adalah ada pengaruh Profesionalisme terhadap

Kualitas Pemeriksaan. Pengujian hipotesis yang kedua ini dengan

menggunakan uji t

Tabel 4.18

Hasil Uji Parsial (Uji t)


Coefficientsa

Model Standardize 95.0%


Unstandardized d Confidence Collinearity
Coefficients Coefficients Interval for B Correlations Statistics

Std. Lower Upper Zero-


B Error Beta T Sig. Bound Bound order Partial Part Tolerance VIF

1 (Constant) 3.183 1.450 2.195 .031 304 23.166

KOMPETENSI
.252 .100 .228 2.517 .014 .053 .163 .655 .235 .162 .505 1.900

PEOFESIONALISM
.390 .062 .602 6.275 .000 .267 .768 .545 .120 .403 .449 2.229
E

INDEPENDENSI
.014 .085 .012 .164 .870 -.156 .387 .017 .219 .011 .765 1.307

a. Dependent Variable: KUALITAS_PEMERIKSAAN

Sumber : Data diolah menggunakan SPSS versi 18

Nilai thitung dalam penelitian ini sebesar 6.275 dengan tingkat signifikasi

sebesar 0.000 lebih besar dari ttabel sebesar 1.665 dengan presentase

sebesar dengan persentase sebesar ( 54.4%), hal ini menunjukan bahwa

terjadi penolakan H0 dan penerimaan H1 yang berarti terdapat pengaruh

signifikan variabel Profesionalisme (X2) terhadap Kualitas Pemeriksaan

(Y)

c. Pengujian Hipotesis Ketiga

Pengujian Hipotesis Ketiga adalah ada pengaruh independensi terhadap

Kualitas Pemeriksaan. Pengujian hipotesis yang ketiga ini dengan

menggunakan uji t

Tabel 4.18

Hasil Uji Parsial (Uji t)


Coefficientsa

Model Standardize 95.0%


Unstandardized d Confidence Collinearity
Coefficients Coefficients Interval for B Correlations Statistics

Std. Lower Upper Zero-


B Error Beta T Sig. Bound Bound order Partial Part Tolerance VIF

1 (Constant) 3.183 1.450 2.195 .031 304 23.166

KOMPETENSI
.252 .100 .228 2.517 .014 .053 .163 .655 .235 .162 .505 1.900

PEOFESIONALISM
.390 .062 .602 6.275 .000 .267 .768 .545 .120 .403 .449 2.229
E

INDEPENDENSI
.014 .085 .012 2.164 .870 -.156 .387 .017 .219 .011 .765 1.307

a. Dependent Variable: KUALITAS_PEMERIKSAAN

Sumber : Data diolah menggunakan SPSS versi 18

Nilai thitung dalam penelitian ini sebesar 0.164 dengan tingkat signifikasi

sebesar 0.870 lebih kecil dari ttabel sebesar 1.665 dengan presentase

sebesar dengan persentase sebesar ( 22%), hal ini menunjukan bahwa

terjadi penolakan H1 dan penerimaan H0 yang berarti tidak terdapat

pengaruh signifikan variabel Independensi (X3) terhadap Kualitas

Pemeriksaan (Y)

PEMBAHASAN
1. Kompetensi (X1) berpengaruh signifikan terhadap Kualitas Pemeriksaan (Y)
Berdasarkan pertitungan data diatas, nilai thitung dalam penelitian ini sebesar
2.517 dengan tingkat signifikasi sebesar 0.14 lebih besar dari ttabel sebesar 1.665
dengan presentase sebesar dengan persentase sebesar ( 25.3%), hal ini
menunjukan bahwa terjadi penolakan H0 dan penerimaan H1 yang berarti terdapat
pengaruh signifikan variabel Kompetensi (X1) terhadap Kualitas Pemeriksaan
(Y)
Penelitian ini didukung oleh penelitian Nungky, dkk (2011), ST Nur, dkk (2011)
dan Siti Nur (2010) yang menyatakan bahwa kompetensi berpengaruh positif
terhadap kualitas audit dan signifikan
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Muh. Taufik Efendy
(2010), Siti Nurmawah Indah (2010), Christiawan (2002) dan Alim dkk. (2007)
yang menyatakan bahwa kompetensi berpengaruh signifikan terhadap kualitas
audit. Jika auditor memiliki kompetensi yang baik maka auditor akan dengan
mudah melakukan tugas-tugas auditnya dan sebaliknya jika rendah maka dalam
melaksanakan tugasnya, auditor akan mendapatkan kesulitan-kesulitan sehingga
kualitas audit yang dihasilkan akan rendah pula. Selain itu dengan ilmu
pengetahuan yang cukup luas, auditor akan lebih mudah dalam mengikuti
perkembangan yang semakin kompleks sehingga tingkat keberhasilan
melaksanakan audit lebih tinggi dengan kualitas yang juga lebih baik. Siti
Nurmawar Indah (2010) yang menyatakan bahwa Adanya pengaruh positif
variabel pengalaman berarti semakin tinggi tingkat pengalaman auditor semakin
tinggi pula tingkat kualitas auditnya. Auditor yang berpengalaman cenderung
memiliki ketelitian dan kemampuan yang baik dalam menyelesaikan setiap
pekerjaannya
2. Profesionalisme (X2) terhadap Kualitas Pemeriksaan (Y)
Nilai thitung dalam penelitian ini sebesar 6.275 dengan tingkat signifikasi sebesar
0.00 lebih besar dari ttabel sebesar 1.665 dengan presentase sebesar dengan
persentase sebesar ( 12.0%), hal ini menunjukan bahwa terjadi penolakan H0 dan
penerimaan H1 yang berarti terdapat pengaruh signifikan variabel
Profesionalisme (X2) terhadap Kualitas Pemeriksaan (Y)
Seorang auditor yang bekerja dengan sikap profesionalisme yang tinggi dan
perilaku yang baik dalam melaksanakan audit akan menghasilkan suatu laporan
audit yang berkualitas. Untuk itu diharapkan dalam penerapannya seorang auditor
harus melaksanakan seluruh prosedur audit yang telah dibuat dan mematuhi kode
etik profesi akuntan publik sehingga laporan audit yang dibuat betul-betul
menggambarkan kondisi perusahaan sebenarnya tanpa ada rekayasa dan segala
bentuk kecurangan. Semakin profesional seorang auditor, maka semakin baik
kualitas audit yang dihasilkan. Jadi, ada sikap yang mendorong auditor untuk
bekerja sesuai dengan keahliannya. Penelitian ini mendukung penelitian empiris
Bustami (2013) dimana profesionalisme berpengaruh terhadap kualitas audit.
Penelitian ini juga mendukung penelitian Agusti dan Pertiwi (2013) bahwa
semakin profesional seorang auditor, maka semakin baik kualitas audit yang
dihasilkan. Jadi, ada sikap yang mendorong auditor untuk bekerja sesuai dengan
keahlian yang dimiliki oleh seorang auditor.
Seorang auditor profesional pasti akan bertanggung jawab melaksanakan
tugasnya dengan tekun dan seksama. Hal ini juga diterapkan dalam penetapan
tingkat materialitas, auditor yang profesional pasti merencanakan dan melakukan
tugasnya dengan keterampilan dan kepedulian yang secara umum diharapkan dari
akuntan profesional. Sikap profesionalisme mendukung penetapan tingkat
materialitas karena dalam penetapan tingkat materialitas laporan keuangan entitas
dibutuhkan pemikiran yang menyeluruh akan entitas tersebut yang harus
dilakukan dengan tekun dan seksama. Hal ini sejalan dengan penelitian Herawaty
(2009) dan Minanda (2013) yang menyatakan profesionalisme auditor
berpengaruh signifikan dan berkorelasi positif terhadap pertimbangan materialitas
berdasarkan hasil uji regresi linier berganda yang dilakukan. Pengaruh positif
artinya semakin tinggi tingkat profesionalisme yang dimiliki seorang auditor,
maka semakin tinggi pula pertimbangan tingkat materialitas dalam pemeriksaan
laporan keuangan. Berdasarkan hasil tersebut dapat terlihat bahwa seorang
auditor yang profesional seharusnya bertindak secara hati-hati dan selalu cermat
dan bertanggungjawab terhadap tugasnya. Tanggungjawab tersebut dapat
dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat materialitas dengan penuh kehati –
hatian. Pertimbangan tersebut harus dilakukan dengan memperluas
pemahamannya dan dengan tetap meningkatkan sikap skeptisisme.

3. Independensi (X3) terhadap Kualitas Pemeriksaan (Y)

Nilai thitung dalam penelitian ini sebesar 0.164 dengan tingkat signifikasi sebesar

0.870 lebih kecil dari ttabel sebesar 1.665 dengan presentase sebesar dengan

persentase sebesar ( 22%), hal ini menunjukan bahwa terjadi penolakan H 1 dan

penerimaan H0 yang berarti tidak terdapat pengaruh signifikan variabel

Independensi (X3) terhadap Kualitas Pemeriksaan (Y)

Namun tidak sejalan dengan penelitian terdahulu yang menunjukan Pengaruh

positif menunjukkan bahwa pengaruh independensi adalah searah dengan kualitas

auditor atau dengan kata lain keahlian yang baik/tinggi akan berpengaruh

terhadap kualitas auditor yang baik/tinggi, demikian sebaliknya bila independensi

rendah/buruk maka kualitas auditor akan rendah/buruk. Pengaruh signifikan

menunjukkan bahwa independensi mempunyai peranan yang penting dalam

meningkatkan kualitas auditor. Kondisi Sumber Daya Manusia (SDM)


pengawasan saat ini masih memprihatinkan Untuk mengatasi hal ini tentu ada

program peningkatan sumber daya manusia di bidang akuntansi dan diperlukan

rekrutmen tenaga baru untuk dijadikan auditor. Independensi auditor dalam

melakukan pemeriksaan akan mempengaruhi kualitas hasil pemeriksaan.

Menurut(Harahap, 2012), auditor harus bebas dari kepentingan terhadap

perusahaan dan laporan keuangan yang dibuatnya. Sejalan dengan peraturan

Menpan No. Per/05/M.Pan/03/2008, dan berdasarkan peraturan BPK No. 1 Tahun

2007 tentang Standar Pemeriksaan Keuangan Negara diatur mengenai standar

umum pemeriksaan yaitu Persyaratan kemampuan / keahlian, Independensi dan

Penggunaan kemahiran profesional secara cermat dan seksama