Anda di halaman 1dari 13

REFLEKSI KASUS FORENSIK

KASUS HIDUP
Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Kelulusan
Kepaniteraan Klinik Ilmu Forensik pada
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana

Disusun oleh:
Gusti Agung Sinta Shakuntala
42200416
Dosen Pembimbing Klinik:
dr. Lipur Riyantiningtyas B.S., S.H., Sp. F

KEPANITERAAN KLINIK ILMU FORENSIK


RUMAH SAKIT BETHESDA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN DUTA
WACANA
YOGYAKARTA
2021
I. Kronologis

Teman laki-laki korban berinisial R menyerang V dikamar dan berniat


menyetubuhinya. V kabur dan melapor ke polisi, kemudian diarahkan untuk
memeriksakan diri ke rumah sakit.

II. Idenditas Pasien


Nama : Nn.V
Usia : 17 Tahun
Jenis kelamin : Perempuan
III. Status Generalis
Kesadaran : Compos Mentis
Keadaan umum : Sadar penuh
Tanda-tanda vital :
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi : 90x/menit
Nafas : 18x/menit
Suhu : 36,5o C

IV. Pemeriksaan Forensik


Deskripsi luka:
1. Penilaian luka ke 1
Pada lengan kanan bagian bawah empat cm dari pergelangan
tangan dan dua puluh tiga cm dari sumbu tubuh terdapat luka
memar. Didapatkan luka memar berwarna kemerahan dengan
bentuk tidak teratur dan berbatas tidak tegas, jumlah luka
tunggal dengan ukuran panjang satu sentimeter dan lebar dua
sentimeter, permukaan luka rata, dasar luka kulit, keadaan
disekitar luka bersih.

Kesimpulan: Terdapat luka memar pada lengan kanan bawah


dekat pergelangan yang diduga diakibatkan oleh trauma benda
tumpul

2. Penilaian luka ke 2

Pada selangka bagian kanan sepuluh cm dari garis tengah


tubuh bagian depan terdapat luka memar. Luka berwarna
merah ukuran panjang tiga sentimeter dengan lebar tiga
sentimeter, jumlah luka tunggal, tepi rata berwarna merah,
bentuk luka berpola dan teratur, berbatas tegas, permukaan
luka rata, dasar luka kulit, dan keadaan disekitar luka bersih.
Kesimpulan: Terdapat luka memar pada selangka bagian
kanan yang diduga akibat dari gigitan.
3. Penilaian luka ke 3

Pada lengan kanan bagian kanan atas tepatnya lima belas


sentimeter dari bahu dan dua puluh tiga sentimeter dari sumbu
tubuh terdapat luka memar. Luka tampak ungu ke kuningan
ukuran panjang empat sentimeter dan lebar dua sentimeter,
berjumlah tunggal, bentuk luka tidak teratur, berbatas tidak
tegas, permukaan luka rata, dasar luka kulit, dan keadaan
disekitar luka bersih.
Kesimpulan: terdapat luka memar pada lengan kanan bagian
atas dekat bahu yang diduga akibat dari trauma benda tumpul.
V. Perasaan
Saya merasa simpati terhadap kejadian yang korban alami, sebagai seorang
tenaga medis saya akan membantu membuat pasien agar tetap tenang, melakukan
pemeriksaan dengan profesional, obyektif dan tetap beretika. Sehingga semua hasil
dari pemeriksaan ini diharapkan dapat membantu korban.
VI. Evaluasi
Hal yang didapat:
1. Dapat mendeskripsikan luka
2. Dapat mengatahui jenis-jenis luka
3. Dapat memahami proses pemeriksaan forensik
Hal yang masih kurang:
1. Pemeriksaan fisik yang dilakukan masih sangat superfisial
tidak dapat dilakukan palpasi untuk mengetahui adanya
peninggian pada luka tersebut atau tidak
2. Penilaian luka tidak secara langsung
3. Tidak dapatnya dilakukan komunikasi dengan pasien
VII. Analisis
a. Pendahuluan

Penganiayaan adalah penggunaan kekuatan fisik, baik dalam kondisi terancam atau
tidak pada seseorang, kelompok, atau komunitas yang dapat menyebabkan trauma,
kematian, trauma psikologis, gangguan perkembangan, dan kerugian.Penganiayaan
terhadap tubuh dan nyawa manusia merupakan tindak pidana. Sanksi terhadap pelaku
penganiayaan diatur dalam KUHP, yang merupakan pijakan hukum dalam
menetapkan sanksi terhadap pelaku. Dalam tindak pidana penganiayaan, terdapat tiga
benda yang merupakan barang bukti yaitu korban, pelaku, dan alat atau senjata.
Jumlah tindakan penganiayaan berfluktuasi di Indonesia selama periode tahun 2011–
2016. Catatan pada Biro Pengendalian Operasi, Mabes Polri memperlihatkan jumlah
tindakan penganiayaan pada tahun 2011 sebanyak 35.800 kasus dengan kategori
penganiayaan ringan dan berat, menurun menjadi sebanyak 30.901 kasus pada tahun
2013 dan meningkat kembali pada tahun 2016 menjadi 35.153 kasus Korban dan
pelaku adalah barang bukti biologis sedangkan alat merupakan barang bukti non
biologis.
Data mengenai kekerasan perempuan di Indonesia telah banyak beredar.
Dalam kurun waktu 12 Tahun (2008-2020) kekerasan terhadap perempuan
meningkat sebanyak 792% atau 8 kali lipat menurut komnas perempuan.

b. Aspek Medikolegal

Ketentuan umum mengenai tindak pidana penganiayaan diatur dalam KUHP


bab XX pasal 351 sampai dengan pasal 358. Mengenai yang dimaksud dengan
penganiayaan tidak dijelaskan di dalam KUHP. Pasal 351 KUHP hanya menjelaskan
mengenai hukuman yang diberikan pada tindak pidana tesebut mengatakan bahwa :
(1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan
bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
(2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan
pidana penjara paling lama lima tahun.
(3) Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh
tahun
(4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan.
(5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.

Berkaitan dengan masalah penganiayaan, maka kekerasan sering merupakan


pelengkap dari bentuk kejahatan itu sendiri. Secara yuridis, apa yang dimaksud
dengan kekerasan atau kejahatan dengan kekerasan tidak dijelaskan di dalam
ketentuan KUHP, hanya saja ada beberapa pasal yang menyinggung hal tersebut
selain pasal-pasal tentang penganiayaan yang sudah dijelaskan diatas, ada beberapa
pasal lain di dalam KUHP yang menyinggung tentang kekerasan, antara lain:
a. Pasal 89 KUHP
“Membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan menggunakan
kekerasan”
b. Pasal 170 KUHP
(1) Barang siapa dengan terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan
kekerasan terhadap orang atau barang, diancam dengan pidana penjara paling lama
lima tahun enam bulan.
(2) Yang bersalah diancam: dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun, jika ia
dengan sengaja menghancurkan barang atau jika kekerasan yang digunakan
mengakibatkan luka-luka; dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun, jika
kekerasan mengakibatkan luka berat; dengan pidana penjara paling lama dua belas
tahun, jika kekerasan mengakibatkan maut.
c.Pasal 289 KUHP
”Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang untuk
melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan
perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana penjara paling
lama sembilan tahun.”
d. Pasal 335 KUHP
(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun atau denda paling banyak
empat ribu lima ratus rupiah:
1. Barang siapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan,
tidak melakukan atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan, sesuatu
perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan, atau dengan memakai
ancaman kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak
menyenangkan, baik terhadap orang itu sendiri maupun orang lain;
2. Barang siapa memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan atau
membiarkan sesuatu dengan ancaman pencemaran atau pencemaran tertulis.
(2) Dalam hal sebagaimana dirumuskan dalam butir 2, kejahatan hanya dituntut atas
pengaduan orang yang terkena.

Dilihat dari perspektif kriminologi, kekerasan ini merujuk pada tingkah laku
yang berbeda-beda baik mengenai motif maupun mengenai tindakannya, seperti
perkosaan dan pembunuhan, kedua macam kejahatan ini diikuti dengan
kekerasan.Para pelaku kejahatan dapat melakukan aksinya dengan berbagai upaya
dan berbagai cara. Keadaan seperti itu yang disebut dengan istilah “modus operandi”
(model pelaksanaan kejahatan). Dengan kemajuan teknologi dewasa ini, modus
operandi para penjahat juga mengarah kepada kemajuan ilmu dan teknologi. Faktor-
faktor yang melatarbelakangi kejahatan, menurut Mulyana W. Kusumah pada
dasarnya dapat 7 dikelompokkan ke dalam 4 (empat) golongan faktor, yaitu:
a. Faktor dasar atau faktor sosio-struktural, yang secara umum mencakup aspek
budaya serta aspek pola hubungan penting di dalam masyarakat.
b. Faktor interaksi sosial, yang meliputi segenap aspek dinamik dan prosesual di
dalam masyarakat, yang mempunyai cara berfikir, bersikap dan bertindak individu
dalam hubungan dengan kejahatan
c. Faktor pencetus (precipitating factors), yang menyangkut aspek individu serta
situasional yang berkaitan langsung dengan dilakukannya kejahatan.
d. Faktor reaksi sosial yang dalam ruang lingkupnya mencakup keseluruhan respons
dalam bentuk sikap,
Hukum di Indonesia menyatakan bahwa penganiayaan termasuk tindak
pidana. Hal itu sesuai dengan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) (1958)
yang berbunyi, “Korban dengan luka ringan dapat merupakan hasil dari tindak
pidana penganiayaan ringan (pasal 352 KUHP), sedangkan korban dengan luka
“sedang” dapat merupakan hasil dari tindak pidana penganiayaan (pasal 351 (1) atau
353 (1)). Korban luka berat (pasal 90 KUHP) dapat merupakan hasil dari tindak
pidana penganiayaan dengan akibat luka berat (pasal 351 (2) atau 353(2)) atau akibat
penganiayaan berat (pasal 354 (1) atau 355(1)”. Perbuatan tersebut disertai ancaman
(sanksi) bagi yang melanggar dan diperlukan penegakan hukum.
c. Aspek Traumatologi
Dalam kasus kasus ini dapat dikatan korban mempunyai luka yang dicurigai
akibat oleh kekerasan benda tumpul. Kekerasan dengan benda tumpul ini dapat
menimbulkan luka memar, luka lecet, dan luka sobek. Luka memar adalah suatu
pendarahan pada jaringan bawah kulit subkutan/kutan diakibatkan oleh rupturnya
pembulu darah. Luka memar tidak akan menimbulkan kuntinuitas kulit hilang yang
berarti kulit tetap utuh. Penyebabnya terutama oleh trauma benda tumpul, faktor-
faktor yang mempengaruhi timbulnya luka memar:

1. Jaringan atau tempat timbulnya trauma


2. Usia
3. Jenis kelamin
4. Warna kulit
5. Penyakit bawaan

Untuk perkiraan umur luka memar terdapat pada tabel berikut:

Bitemark didefinisikan sebagai cetakan pola sebagai hasil kontak suatu objek
atau gigi- geligi (gigitan) pada kulit. Objek Pemeriksaan Sebagai objek pemeriksaan
dalam suatu penyelidikan secara garis besar dapat ditentukan antara lain:

1. Korban hidup

2. Korban mati

3. Manusia sebagai pelaku

4. Benda-benda mati yang terdapat di sekitar tempat kejadian perkara yaitu:


a. Bekas pola gigitan pada tubuh mayat.

b. Air liur di sekitar bekas pola gigitan dan bekas gigitan makanan tertentu.

c. Bercak-bercak darah korban.

d. Bercak-bercak darah pelaku.

5. Benda mati yang secara fisik dianggap sebagai barang bukti, antara lain:

a. Gigi palsu lepasan sebagian/ partial denture

b. Gigi palsu penuh/ full denturec. Mahkota dan jembatan/ crown and bridge

6. Semua jaringan rongga mulut yaitu pipi bagian dalam dan bibir yang lepas yang
terdapat di tempat kejadian perkara.

Objek-objek tersebut dicatat ke dalam formulir pemeriksaan awal karena terdapat


pemeriksaan lanjutan baik untuk kepentingan rekonstruksi dan baik pula untuk
kepentingan laboratoris khususnya dalam penentuan golongan darah dan DNA baik
korban maupun pelaku yang nantinya dicatat pula ke dalam suatu formulir
pemeriksaan laboratoris yang berguna untuk kelengkapan penyidikan yang
kesemuanya itu disebut sebagai oral and dental identification record.

A. Identifikasi korban melalui pola gigitan pelaku

Menurut William Eckert (1992), pola gigitan adalah bekas gigitan dari pelaku yang
tertera pada kulit korban dalam bentuk luka, jaringan kulit maupun jaringan ikat di
bawah kulit sebagai pola akibat dari pola permukaan gigitan dari gigi-gigi pelaku
melalui kulit korban. Menurut Bowers dan Bell (1955) mengatakan bahwa pola
gigitan merupakan suatu perubahan fisik pada bagian tubuh yang disebabkan oleh
kontak atau interdigitasi antara gigi atas dengan gigi bawah sehingga struktur
jaringan terluka baik oleh gigi manusia maupun hewan. Menurut Sopher (1976)
mengatakan bahwa pola gigitan yang ditimbulkan oleh hewan berbeda dengan
manusia oleh karena perbedaan morfologi dan anatomi gigi geligi serta bentuk
rahangnya. Menurut Curran et al (1680) mengatakan bahwa pola gigitan pada hewan
buasyang dominan membuat perlukaan adalah gigi kaninus atau taring yang
berbentuk kerucut. Menurut Levine (1976) mengatakan bahwa pola gigitan baik pola
permukaan kunyah maupun permukaan hasil gigitan yang mengakibatkan putusnya
jaringan kulit dandibawahnya baik pada jaringan tubuh manusia maupun pada buah-
buahan tertentumisalnya buah apel dapat ditemukan baik korban hidup maupun yang
sudah meninggal. Sedangkan menurut Soderman dan O’Connel pada tahun 1952
mengatakan bahwa yang paling sering terdapat pola gigitan pada buah-buahan yaitu
buah apel,pear dan bengkuang yang sangat terkenal dengan istilah Apple Bite Mark.
Sedangkan menurut Lukman (2003) mengatakan bahwa pola gigitan mempunyai
suatu gambaran darii anatomi gigi yang sangat karakteristik yang meninggalkan pola
gigitan pada jaringan ikat manusia baik disebabkan oleh hewan maupun manusia
yang masing-masing individu sangat berbeda.

B. Klasifikasi pola gigitan

Pola gigitan mempunyai derajat perlukaan sesuai dengan kerasnya gigitan, pada pola
gigitan manusia terdapat 6 kelas yaitu:

1. Kelas I : pola gigitan terdapat jarak dari gigi insisive dan kaninus.

2. Kelas II : pola gigitan kelas II seperti pola gigitan kelas I tetapi terlihat pola
gigitan cusp bukalis dan palatalis maupun cusp bukalis dan cusp lingualis tetapi
derajat pola gigitannya masih sedikit.

3. Kelas III : pola gigitan kelas III derajat luka lebih parah dari kelas II yaitu
permukaan gigit insisive telah menyatu akan tetapi dalamnya luka gigitan
mempunyai derajat lebih parah dari pola gigitan kelas II.

4. Kelas IV : pola gigitan kelas IV terdapat luka pada kulit dan otot di bawah kulit
yang sedikit terlepas atau rupture sehingga terlihat pola gigitan irreguler.

5. Kelas V : pola gigitan kelas V terlihat luka yang menyatu pola gigitan insisive,
kaninus dan premolar baik pada rahang atas maupun bawah.

6. Kelas VI : pola gigitan kelas VI memperlihatkan luka dari seluruh gigitan dari
rahang atas, rahang bawah, dan jaringan kulit serta jaringan otot terlepas sesuai
dengan kekerasan oklusi dan pembukaan mulut.
Bekas gigitan yang dapat menimbulkan luka, yaitu:

1) Kejahatan seksual seperti pemerkosaan.

2) Kekerasan dalam rumah tangga dan penyiksaan anak (oleh orang tua).

3) Kasus kriminal lain, dimana korban menyerang pelaku untuk melindungi dirinya
dengan cara menggigit.

4) Modus kriminal lainnya

Tipe-tipe gigitan ada beberapa macam,yaitu:

1) Haemorage = titik perdarahan kecil.

2) Abrasi = tidak ada bekas kerusakan kulit.

3) Luka memar = pembuluh darah putus, memar, biru, lebam.

4) Luka laserasi = tertusuk/sobek pada kulit.

5) Pengirisan = tusukan yang rapi pada kulit.

6) Avulsi = kulit terlepas.

7) Artifact = digigit hingga bagian tubuh menjadi terpotong.


\

Kuatnya suatu gigitan, dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1) Clearly Defined = Tekanan tergambar pada kulit.

2) Obviously Defined = Tekanan gigitan tingkat satu (terdapat lekukan jelas pada
kulit).

3) Quite Noticeable = tekanan penuh kekerasan (terjadi luka).

4) Lacerated = kulit ditekan dengan kasar sehingga rusak dari tubuh.


VIII. Kesimpulan

Pada kasus ini telah dilakukan pemeriksaan terhadap wanita berusia 17 tahun
dimana hasil penemuan didapatkan luka memar pada lengan kanan bagian atas , luka
memar pada lengan kanan bagian bawah dekat pergelangan,luka gigitan pada
selangka kanan Penyebab luka-luka tersebut oleh karena kekerasan dengan penggitan
dan pemukulan.Dari pemeriksaan yang di lakukan untuk dampak yang dialami
korban tidak mempengaruhi aktifitas kesehariannya.