Anda di halaman 1dari 21

Kodifikasi Hadis: Sebuah

Telaah Historis

2 
  Orisinalitas dan otentitas hadis sebagai sesuatu yang valid dari Nabi
sering dipersoalkan para Inkarus-sunnah maupun Orientalis. Terlambatnya proses kodifikasi
hadis dari masa Nabi, termasuk di antara dasar argumen penolakan mereka terhadap hadis.
Tulisan ini mencoba menjawab persoalan tersebut, dalam tinjauan historis. Ternyata dapat
dibuktikan bahwa penulisan hadis sudah ada dan banyak dilakukan--ada 52 sahabat--pada masa
Nabi, hanya belum seluruhnya ditulis, karena adanya alasan-alasan yang argumentatif. Adanya
al-Sahifah al-Sahihah (pertengahan abad I H) dan Nuskhah Suhail ibn Shalih (sepertiga awal
abad 2 H), sebagai bukti sudah adanya tulisan-tulisan masa awal. Terjaganya tulisan-tulisan awal
dengan dinukilnya tulisan-tulisan tersebut secara kitabah¶maupun oral transmission oleh generasi
berikut dengan metode kutipan--yang bisa diandalkan--dan dengan metode komparatif sampai
terkodifikasinya hadis secara resmi dan serentak, abad II-III H, juga sebagai bukti lain tidak
perlunya meragukan orisinalitas seluruh tulisan hadis.


  

Peran hadis sebagai salah satu sumber ajaran Islam yang diakui oleh mayoritas madhhab, tidak
dapat dinafikan. Terlebih banyak nas al-Qur¶an menegaskan tentang itu, seperti dalam Q.S. al-
Hashr (59): 7; al-Nisa>¶ (4): 80,; al-Ahzab (33): 21, dan lain sebagainya. Hadis memang
diperlukan untuk menjelaskan, dan menegaskan apa yang tertuang secara global dalam al-
Qur¶an.

Ada satu hal yang perlu dicatat, bahwa keberadaan hadis jelas berbeda dengan al-Qur¶an.
Untuk kasus al-Qur¶an, hampir bisa dikatakan tidak ada tenggang waktu antara masa turun,
penulisan dan kodifikasinya, bahkan Rasul sendiri telah menunjuk beberapa sahabatnya menjadi
penulis wahyu. Sementara untuk hadis, kodifikasi hadis secara resmi, massal dan serentak --
khususnya Kutub al-Sittah-- memiliki rentang yang cukup panjang dengan masa Nabi. Realitas
tersebutlah yang mencuatkan pandangan beberapa pihak untuk mempersoalkan orisinalitas dan
otentitas hadis Nabi.

Oleh karena itu, dalam artikel ini penulis akan mengemukakan bagaimana dan kapan
sebenarnya hadis mulai ditulis untuk kemudian dikodifikasikan dalam sebuah kitab. Berapa
lama diperlukan untuk mentransmisi ³hadis´ dalam bentuk ³laporan tertulis´ qaul, fi¶il dan
taqrir Nabi, sehingga akan dapat menampakkan perlu tidaknya mempersoalkan otentitas dan
orisinalitas hadis Nabi.



 


1. Masa Nabi dan Sahabat

Tentang penulisan hadis pada masa awal, ada tiga pendapat yang berkembang. Pertama,
mereka yang berpendapat bahwa masa Nabi dan sahabat, tidak ada tulisan ataupun catatan sama
sekali, sehingga tidak ada bukti tertulis yang diketahui para tabi¶in tentang hadis Nabi. Penulisan
dan kodifikasi hadis baru dilakukan jauh setelah itu, yakni masa para tabi¶in, itupun atas perintah
penguasa µAbbasiyyah (µUmar ibn µAbdul µAziz). Hal ini terbukti, tidak adanya bukti tertulis
dari Nabi atau sahabat yang asli. Pandangan ini dipegangi kelompok yang mempersoalkan
orisinalitas hadis Nabi.

Kedua, pendapat yang dikemukakan Jumhur Ulama Hadis Sunni, yang menyatakan bahwa
penulisan hadis sejak masa Nabi sudah dilakukan, hanya bersifat perseorangan, yang ditulis
para sahabat tertentu untuk dirinya sendiri. Mereka berpandangan, tertundanya penulisan,
kompilasi dan kodifikasi hadis, karena beberapa hal; yakni, minimnya sarana tulis dan
kemampuan untuk menulis dengan baik, hafalan para sahabat yang kuat dan larangan Nabi
untuk menulis hadis.

Ketiga, pendapat yang menyatakan penulisan hadis sudah marak pada masa Nabi --meski
tidak semua hadis sudah selesai ditulis--bahkan tercatat ada 52 sahabat yang memiliki tulisan
Hadis, yang ini menjadi rintisan kodifikasi hadis. Argumen yang mereka pegangi adalah tradisi
tulis menulis sudah ada bahkan telah marak pada masa Nabi, sebagai bukti : (I) Banyaknya
penulis wahyu, mencapai 40 0rang (ii) Adanya penulis resmi untuk kenegaraan, seperti surat
menyurat dan perjanjian-perjanjian (iii) Adanya izin Nabi yang membebaskan tawanan perang
Badr dengan ditukar mengajar baca tulis pada 10 orang

(iv) Adanya Hadis Riwayat Abu Daud, yang artinya ³ Mengapa engkau tidak mengajar wanita
itu mengobati cacar, sebagaimana engkau mengajari mereka menulis?´

Dari tiga pendapat di atas, penulis cenderung mengikuti pandangan yang menyatakan bahwa
penulisan hadis sudah ada sejak masa Nabi dan banyak dilakukan oleh para sahabat,
sebagaimana tercatat dalam sejarah adanya manuskrip-manuskrip peninggalan abad 1 H dan
banyaknya riwayat sahabat dan tabi¶in yang menyatakan pernah melihat dan meriwayatkan
hadis-hadis dari tulisan para sahabat. Hanya saja, memang seluruh hadis Nabi belum tertulis dan
tercatat pada masa awal secara tuntas.

Dengan demikian, bila sejak masa Nabi tradisi tulis menulis sudah marak dan banyak sahabat
yang menulis hadis, maka adanya alasan belum tertulisnya dan terkodifikasinya hadis secara
tuntas masa Nabi atau alasan tertundanya kodifikasi hadis bukan karena kelangkaan sarana tulis,
minimnya kemampuan menulis dan rendahnya kualitas tulisan mereka. Argumen yang
mendasari adalah: pertama, karena sejarah telah mencatat keberhasilan penulisan al-Qur¶an
secara tuntas dan pengkodifikasiannya masa sahabat. Kedua, seandainya para sahabat memiliki
kemauan menulis hadis secara total, pasti tidak ada kesulitan untuk mewujudkannya,
sebagaimana terhadap al-Qur¶an. Kalau para sahabat terbatas kemampuannya dalam menulis,
mustahil al-Qur¶an selesai ditulis. Ketiga, untuk apa dilarang menulis hadis, kalau mereka tidak
dianggap tidak memiliki kemampuan. Adanya larangan melakukan sesuatu berarti pula
penegasan adanya kemungkinan besar sesuatu itu dapat dilakukan. Dengan demikian, adanya
anggapan bahwa mayoritas umat pada saat itu minim kemampuan tulis dan baca serta lebih
mengandalkan kemampuan verbal atau kekuatan ingatan, bukan berarti me-generalisasikan
semua sahabat dalam taraf yang sama dari kapasitas kekuatan hafalan dan bahwa tidak ada yang
bisa menulis dengan baik.

Di antara 52 sahabat yang memiliki catatan hadis ialah: Abu Umamah al-Bahili, Abu Ayyub
al-Ansari, Abu Bakar al-Siddiq, Abu Bakrah al-Thaqafi, Abu Rafi¶, Abu Sa¶id al-Khudhriy, Abu
Shah, Abu Musa al-Ash¶ari, Abu Hurairah,Ubay bin Ka¶ab, Usaid bin Hudair, Anas bin Malik,
al-Barra¶ bin Azib, Jabir bin Samurah, Jabir bin µAbdullah, Jarir bin µAbdullah al-Bajali, Zaid
ibn Thabit, µAishah, µAbdullah ibn µAbbas, µAbdullah ibn µUmar, µUthman bin Affan, Abdullah
bin µAmr bin µAs, Ali bin Abi Talib, dsb.

Di antara tulisan-tulisan hadis masa awal yang sampai kepada kita, mengambil dua bentuk,
pertama dalam bentuk naskah yang lengkap, seperti: al-Sahifah al-Sahihah, karya Hammam bin
Munabbih (40-101 H), sahifah ini berisi kompilasi hadis yang diambil Hammam dari catatan
Abu Hurairah (w. 59 H), sahabat yang menyertai Nabi selama 4 tahun. Dua naskah sahifah ini
ditemukan oleh Muhammad Hamidullah di Berlin dan Damaskus. Sahifah ini memiliki nilai
sejarah, karena Hammam dipastikan bertemu sebelum meninggalnya Abu Hurairah (w. 59 H),
yang itu berarti pada pertengahan abad I H telah ada upaya kompilasi hadis. Sebagai bukti yang
lain yang menguatkan, Imam Ahmad bin Hanbal menukil semua hadis dari al-Sahifah al-
Sahihah(138 hadis) tersebut dalam Musnad Ahmad, dan Imam Bukhari menukil sebagian besar
hadis dalam al-Shahifah al-Shahihah. Adapun naskah awal yang lain, ialah Nuskhah Suhail ibn
Salih (w. 138 H). Naskah ini ditemukan dalam bentuk manuskrip oleh Muhammad Mustafa
Azami pada tahun 1966 di Perpustakaan al-Zahiriyyah, Damaskus. Naskah ini merupakan
naskah yang diterima Suhail dari ayahnya Abu Salih dan ayahnya menerima dari Abu Hurairah.
Oleh Azami, naskah tersebut diteliti, diedit dan diterbitkan beserta Disertasi Doktornya di
Universitas Cambridge, Inggris. Hal ini memperkuat bukti bahwa hadis sudah ditulis sejak dini,
masa-masa awal Islam.

Adapun yang kedua, dalam bentuk periwayatan dari sahabat, tabi¶in atau tabi¶i al- tabi¶in yang
menyatakan pernah melihat dan meriwayatkan dari tulisan dan catatan sahabat dan tabi¶in dari
sahabat. Adapun catatan-catatan asli dari para sahabat, sebagian besar tidak dapat kita temukan
aslinya, dan paling banyak kita dapatkan bahwa catatan-catatan mereka telah dikutip oleh para
murid dan seterusnya yang mereka kemudian mengkodifikasikannya dalam kitab hadis. Meski
catatan atau tulisan tentang hadis dari para sahabat tidak kita temukan bentuk aslinya, dan para
murid-nyalah yang kemudian menukilkannya, namun bukan berarti bahwa realitas tersebut
menafikan otentisitas suatu hadis, karena para transmitter hadis memiliki metode komparasi
dalam meriwayatkan hadis, dan ini dapat dibuktikan bahwa seringkali dalam tema tertentu yang
sama , kita menemukan sumber jalur yang berbeda yang jumlahnya mencapai puluhan bahkan
ratusan.

2. Kebolehan dan Larangan Menulis Hadis Nabi

Masalah boleh tidaknya menulis hadis Nabi, merupakan problem yang menarik untuk dikaji,
mengingat adanya anggapan hal tersebut sebagai salah satu faktor tertundanya kodifikasi hadis.
Dalam hal ini ternyata, ada beberapa riwayat hadis yang menyatakan kebolehan dan larangan
menulis Hadis yang disandarkan pada qauliyyah Nabi.
a. Larangan Menulis

Ada tiga sahabat --yang populer-- yang meriwayatkan bahwa Nabi SAW. melarang penulisan
hadis, yakni Abu Sa¶id al-Khudhriy, Abu Hurairah dan Yazid bin Thabit. Ada dua jalur sanad
yang melalui sahabat Abu Sa¶id al-Khudhriy:

1).Abu Sa¶id :

(a) melalui Hammam dari Zaid bin Aslam dari µAta¶ bin Yasar dari Abu Sa¶id al-
Khudhriy dari Nabi bersabda:

ϯϥω ΍ ϭ ΏΕ
ϙΕ΍ ϝ ϩ Ρϡ ϱϝϑ ϥ΁ έϕϝ΍ έϱύ ϯϥω ΏΕϙ ϥϡ ϭ

Artinya:

³Jangan kamu tulis ucapan-ucapanku, dan barang siapa menulis ucapan-ucapanku selain al-
Qur¶an, hendaklah ia menghapusnya´.

Jalur ini dinilai, sahih al-isnad.

(b) Melalui µAbd al-Rahman bin Zaid bin Aslam dari Zaid bin Aslam dari µAta¶ bin Yasar dari
Abu Sa¶id al-Khudhriy:

ϯΏ΃ϑΏ΍ Ε
ϙϝ΍ ϯϑ ΍ ϥϝ ϥΫ΅ϱ ϥ ΃ ϡ ϝ αϭ ϩϱϝω ϩϝϝ΍ ϯϝι ϯΏ
ϥϝ΍ Ώ ΍ϥ Ωϩ Ν

Artinya:

³Kami pernah minta izin Nabi SAW. untuk menulis hadis-hadis , tetapi beliau tidak
mengizinkannya ³.

Dalam jalur ini, ada rawi yang dinilai lemah, yakni µAbd al-Rahman.

2). Abu Hurairah

Melalui Abd al-Rahman bin Zaid bin Aslam dari Zaid bin Aslam dari µAta¶ bin Yasar
dari Abu Hurairah. Abu Hurairah berkata, Nabi diberitahu bahwa banyak sahabat menulis hadis,
maka beliau naik ke mimbar dan setelah membaca hamdallah, beliau bertanya: Apa yang kalian
tulis? Hadis-hadis yang kami dengar dari engkau. Nabi lalu bersabda:

ϡ ϡ ΃ϝ ΍ ϝ ν΍ ϡ ˮ ϥϭέΫΕ΃ ˮ ϩϝϝ΍ Ώ΍Εϙέ ϱύΏ΍Εϙϩ ϝ ϝ΍ Ώ΍Εϙω ϡ ΏΕ


ϙϝ ΍ ϥϡ ΍ ϭΏ
Εϙ΍ ΍ϡΏ ΍ ϝ · ϡϙϝΏϕ

Artinya:

³Kitab selain kitab Allah? Tahukah kalian? Tidaklah tersesat umat-umat sebelum kalian.,
kecuali karena kitab-kitab yang mereka tulis bersanma Kitabullah´.

Sanad ini lemah, karena ada rawi yang da¶if, µAbd al-Rahman.

3). Zaid bin Thabit

Dari Mutalib bin µAbdullah bin Hantab, Mutalib berkata Zaid bin Thabit datang kepada
Mu¶awiyyah, dan ditanya tentang suatu hadis. Mu¶awiyyah lalu menyuruh pembantunya
menuliskan hadisnya, Zaid lalu mengatakan Rasul melarang untuk menulis hadis. Riwayat ini
dianggap lemah, karena Mutalib tidak langsung mendengar dari Zaid.

Dari beberapa jalur riwayat di atas, berdasar pentakhrijan para ulama, satu jalur sanad dari
Abu Sa¶id melalui Hammam yang kualitasnya sahih, dua jalur lain melalui µAbdal-Rahman
yang dianggap da¶if dan satu jalur riwayat Zaid dianggap tidak muttasil.

b. Kebolehan Menulis

Ada beberapa riwayat yang menyatakan kebolehan menulis hadis-hadis Nabi, di antaranya
dari µAbdullah ibn µAmr ibn µAs, Rafi¶ ibn Khudaij, Abu Hurairah dan Ibnu Abbas.

1). µAbdullah bin µAmr bin µAs

µAbdullah bin µAmr bin µAs, menyatakan bahwa ia menulis segala yang didengar dari
Nabi dan menghafalkannya, tetapi kaum Quraisy menegurnya dengan alasan ³Engkau menulis
segala apa yang Engkau dengar dari Nabi padahal Nabi manusia biasa yang berbicara pada saat
marah dan lega´, µAbdullah ibn µAmr ibn µAs lalu melapor kepada Nabi. Nabi pun menunjuk
mulutnya, seraya menyatakan:

Νέ Υ ΍ ϡ ϩΩ ϱΏϩ αϑϥ ϯ Ϋ ϝ΍ ϭ ϑ΍ϭΏ


Εϙ΍ ϕΡϝ΍ ΍ ϝ΍ ϩ ϥϡ

Artinya:

´Tulislah. Demi Zat yang menguasai jiwaku, tidaklah keluar dari mulut ini kecuali yang haq
(benar).´

2).Rafi¶ibn Khudaij

Rafi¶ bertanya kepada Nabi, ³Kami mendengar banyak hal dari engkau apakah kami boleh
menuliskannya? Jawab Nabi :

΍ϭ ΏΕϙ΃ ΝέΡ΍ ϝϭ

Artinya:

³Tulislah dan tidak apa-apa´.


3). Abu Hurairah

Pada peristiwa Fath al-Makkah, Nabi berpidato di hadapan umat Islam. Ketika itu, ada seorang
sahabat dari Yaman bernama Abu Shah meminta kepada Nabi agar dituliskan pidato Nabi. Nabi
lalu menyuruh para sahabat menuliskan:

ϩϝ ΍ ϭΏ
Εϙ΃

Artinya:

³Tuliskanlah untuk Abu Shah´.

4). Ibnu µAbbas

Bahwa tatkala Nabi sakit sangat parah, beliau berkata:

Ώ
΍ ΕϙΏ ϯϥ ϭ Εϱ· ϩΩ ω Ώ ϥϡ ΍ϭ ϝ ν
Ε΍ϝ ΍Ώ΍ Εϙ ϡϙϝ ΏΕϙ΃

Artinya:

´Bawakan kepadaku suatu kitab. Aku akan menuliskannya untuk kalian, yang setelah itu kalian
tidak tersesat´. Umar berkata, sesungguhnya Nabi sedang sakit dan mereka telah memiliki al-
Qur¶an. Sehingga para sahabat berselisih pendapat, dan terjadilah kegaduhan. Beliaupun
bersabda:

ωί΍ ϥΕ
ϝ΍ ϯΩϥω ϯϑΏΕϥ ΍ϝϭ ϯϥω ΍ ϭϡϭϕ

³Tinggalkan aku, tidak seyogyanya kalian bertikai di depanku.´

Berdasar penelitian para ulama hadis beberapa riwayat di atas, khususnya yang berasal dari
Sahih Bukhari maupun Sahih Muslim berkualitas sahih, sehingga dapat diambil kehujjahannya.

Berangkat dari beberapa riwayat yang muta¶aridah atau kontradiktif tersebut, beberapa ulama
menawarkan solusi untuk memahaminya:

(I) Hadis yang melarang penulisan hadis (hanya satu hadis yang sahih) mauquf µalaih atau
ditangguhkan, sehingga tidak dijadikan hujjah.

(2) Dengan metode al-jam¶u wa al-taufiq, bahwa larangan terhadap penulisan hadis berlaku
khusus bila penulisan hadis dan al-Qur¶an dalam satu naskah sehingga menjadikan kekhawatiran
bercampurnya tulisan hadis dan al-Qur¶an. Sehingga ketika ³illat´ yang tersirat tersebut tidak
ada, maka larangan tersebut tidak berlaku lagi.

(3) Larangan berlaku bagi orang yang dapat diandalkan hafalannya dan dikhawatirkan memiliki
ketergantungan dengan tulisan. Sedang kebolehan berlaku bagi orang yang tidak bisa
mengandalkan hafalannya, seperti kasus Abu Shah.

(4) Bahwa Larangan bersifat umum, kebolehan bersifat khusus bagi yang mahir baca tulis,
sehingga tidak dikhawatirkan melakukan kesalahan, sebagaimana kasus Abdullah ibn µAmr in
µAs.

Empat pandangan di atas meskipun agak berbeda, sebenarnya mengarah pada realitas
kebolehan menulis hadis Nabi, hanya saja pendapat kedua yang paling menukik dengan
mensyaratkan ³illah´ tidak satu naskah dan tidak takut tercampur dengan al-Qur¶an.

Berdasar data-data di atas, maka dapat kita pahami mengapa penulisan hadis secara
keseluruhan tidak selesai masa Nabi dan sahabat. Ada beberapa alasan yang mendukung untuk
itu: Pertama, fokus utama pada masa-masa awal Islam adalah mengkaji, menghafal, memahami
dan mendalami apa yang tertuang dalam sumber utama, al-Qur¶an. Kedua, segala apa yang
diajarkan dan disampaikan Nabi kepada para sahabat telah langsung diaplikasikan dalam
kehidupan sehari-hari mereka, dan ketika mereka menemukan satu persoalan mereka bisa
langsung menyakan dan mendapatkan jawabannya dari Nabi. Ketiga, adanya kekhawatiran
tercampurnya tulisan al-Qur¶an dengan hadis, karena al-Qur¶an sebagai kajian utama. Keempat,
secara kuantitas materi hadis relatif jauh lebih banyak dari al-Qur¶an, karena tidak saja
mencakup qauliyyah Nabi, tetapi juga fi¶liyyah, taqririyyah, bahkan sifat khalqiyyah maupun
khuluqiyyah Nabi. Terlebih ketika mendapatkan satu realitas bahwa periwayatan hadis bisa
dilakukan bil ma¶na juga, semakin memperbesar kuantitas materi hadis yang harus ditulis.

Adapun tentang persoalan ketiadaan naskah-naskah awal asli yang ditulis para sahabat yang
sampai kepada kita, bukan berarti menggoyahkan keyakinan bahwa mereka pernah menulis hadis
Nabi. Ketiadaan naskah tersebut bisa terjadi karena beberapa faktor: (i) Tulisan hadis tersebut,
sengaja dimusnahkan oleh penulisnya karena kekhawatiran tersebarnya periwayatan hadis secara
tidak benar. Sebagaimana riwayat dari µAisyah, ³Ayahku (Abu Bakar al-Siddiq) telah menulis
hadis sebanyak 500 buah. Pada suatu malam aku melihat ayahku membalik-balikkan badannya.
Lalu aku bertanya, µApakah ayah sedang sakit, atau ada suatu laporan yang sampai kepada
ayah?. Keesokan harinya beliau memanggilku seraya berkata µWahai puteriku bawalah ke sini
tulisan-tulisan hadis yang ada padamu¶. Kemudsian kuambilkan tulisan-tulisan hadis itu dan
kuberikan kepada beliau. Kemudian beliau membakarnya.´ Dalam kasus yang sama,
diriwayatkan juga, ketika ada seseorang yang meminta nasehat kepada Ibrahim bin Yazid al-
Taimy (w. 92 H), Ibrahim menyatakan ³Jangan engkau abadikan riwayat dariku dengan
tulisan´, sebelum wafat beliau meminta tulisan-tulisan miliknya dan membakarnya seraya
menyatakan ³Aku khawatir tulisan-tulisan itun dikuasai orang yang tidak bisa menempatkan
pada tempatnya´.

(ii) Banyaknya naskah yang hilang, rusak dan musnah karena rentang masa yang panjang.

(iii) Adanya upaya oral transmission yang dilakukan para periwayat untuk menukil hadis dari
catatan tertulis maupun yang tidak dengan metode kutipan yang dapat dipertanggungjawabkan
dan komparasi yang selektif. Artinya para periwayat hadis dalam mentransmisikan hadis dengan
mengkomparasikan periwayat-periwayat yang lain dan selektif terhadap nara sumber
periwayatan.

Jembatan waktu yang kosong antara proses penulisan dan kodifikasi adalah metode referensi
atau kutipan yang dipakai. Para ulama telah mengembangkan sistem referensi yang tidak kalah
bagusnya dibandingkan dengan metode kutipan yang dikembangkan peneliti modern. Empat
metode kutipan yang dipakai diakui secara ilmiah sebagai bukti keabsahan dan kebenaran
sumber kutipan, yaitu: (I) Mengutip kata per kata secara langsung, ditulis di antara dua tanda
kutip. (ii) Mengutip kata per kata dan menambahkan sisi yang dianggap perlu di antara dua
kurung. (iii) Kutipan langsung dengan membuang bagian yang tidak relevan dengan memberi
tanda tiga titik. (iv) Kutipan tidak langsung, yakni mengambil intisari atau kandungan maknanya
saja. Keempat metode kutipan tersebut dapat kita cermati dalam kitab-kitab hadis.

V





Ada beberapa pendapat yang berkembang mengenai kapan kodifikasi secara resmi dan
serentak dimulai.

(1) Kelompok Syi¶ah, mendasarkan pendapat Hasan al-Sadr (1272-1354 H), yang menyatakan
bahwa penulisan hadis telah ada sejak masa Nabi dan kompilasi hadis telah ada sejak awal
khalifah Ali bin Abi Thalib (35 H), terbukti adanya Kitab Abu Rafi¶, Kitab al-Sunan wa al-
Ahkam wa al-Qadaya..

(2) Sejak abad I H, yakni atas prakarsa seorang Gubernur Mesir µAbdul µAziz bin Marwan yang
memerintahkan kepada Kathir bin Murrah, seorang ulama HImsy untuk mengumpulkan hadis,
yang kemudian disanggah Syuhudi Ismail dengan alasan bahwa perintah µAbdul µAziz bin
Marwan bukan merupakan perintah resmi, legal dan kedinasan terhadap ulama yang berada di
luar wilayah kekuasaannya.

(3) Sejak awal abad II H, yakni masa Khalifah ke-5 Dinasti µ Abbasiyyah, µUmar ibn µAbdul
µAziz yang memerintahkan kepada semua gubernur dan ulama di wilayah kekuasaannya untuk
mengumpulkan hadis-hadis Nabi. Kepada Ibnu Shihab al-Zuhri, beliau berkirim surat yang
isinya:´ Perhatikanlah hadis Rasulullah SAW., lalu tulislah. Karena aku mengkhawatirkan
lenyapnya ilmu itu dan hilangnya para ahli´ dan kepada Abu Bakar Muhammad ibn µAmr ibn
Hazm, beliau menyatakan: ³Tuliskan kepadaku hadis dari Rasulullah yang ada padamu dan hadis
yang ada pada µAmrah (Amrah binti Abdurrahman, w. 98 H), karena aku mengkhawatirkan ilmu
itu akan hilang dan lenyap.´

Pendapat ketiga ini yang dianut Jumhur Ulama Hadis, dengan pertimbangan jabatan khalifah
gaungnya lebih besar daripada seorang gubernur, khalifah memerintah kepada para gubernur dan
ulama dengan perintah resmi dan legal serta adanya tindak lanjut yang nyata dari para ulama
masa itu untuk mewujudkannya dan kemudian menggandakan serta menyebarkan ke berbagai
tempat.

Dengan demikian, penulisan hadis yang sudah ada dan marak tetapi belum selesai ditulis pada
masa Nabi, baru diupayakan kodifikasinya secara serentak, resmi dan massal pada awal abad II
H, yakni masa µUmar bin µAbdul¶Aziz, meskipun bisa jadi inisiatif tersebut berasal dari ayahnya,
Gubernur Mesir yang pernah mengisyaratkan hal yang sama sebelumnya.

Adapun siapa kodifikator hadis pertama, muncul nama Ibnu Shihab al-Zuhri (w. 123 H),
karena beliaulah yang pertama kali mengkompilasikan hadis dalam satu kitab dan
menggandakannya untuk diberikan ke berbagai wilayah, sebagaimana pernyataannya: ´Umar
bin µAbdul µAziz memerintahkan kepada kami menghimpun sunnah, lalu kami menulisnya
menjadi beberapa buku.´ Kemudian beliau mengirimkan satu buku kepada setiap wilayah yang
berada dalam kekuasaannya. Demikian pandangan yang dirunut sebagian besar sejarawan dan
ahli Hadis. Adapun ulama yang berpandangan Muhammad Abu Bakr ibn Amr ibn Hazm yang
mengkodifikasikan hadis pertama, ditolak oleh banyak pihak, karena tidak digandakannya hasil
kodifikasi Ibn Amr ibn Hazm untuk disebarluaskan ke berbagai wilayah.

Meski demikian, ada juga yang berpendapat bahwa kodifikator hadis sebelum adanya instruksi
kodifikasi dari Khalifah Umar ibn µAbdul µAzia telah dilakukan, yakni oleh Khalid bin Ma¶dan
(w. 103 H). Rasyid Ridha (1282-1354 H) berpendapat seperti itu, berdasar periwayatan, Khalid
telah menyusun kitab pada masa itu yang diberi kancing agar tidak terlepas lembaran-
lembarannya. Namun pendapat ini ditolak µAjjaj al-Khatib, karena penulisan tersebut bersifat
individual, dan hal tersebut telah dilakukan jauh sebelumnya oleh para sahabat. Terbukti adanya
naskah kompilasi hadis dari abad I H, yang sampai kepada kita, yakni al-Sahifah al-Sahihah.


 

2 

Semangat ilmiah penulisan dan kodifikasi hadis telah melahirkan berbagai karya yang
menghimpun hadis dalam waktu yang berdekatan di wilayah yang berbeda-beda. Namun ada
silang pendapat tentang siapa yang pertama kali menyusun kitab hadis dan mensistemasir
sedemikian rupa, di antara ulama hadis yang telah berkiprah ialah:

Abdul Malik bin Abdul Aziz (-150 H) di Makkah, Malik bin Anas (93-179 H) dan Muhammad
bin Ishaq (-151 H) di Madinah, Muhammad ibni Abdurrahman bin Dzi¶ib (80-158 H) di
Makkah, Rabi¶ bin Sabih (-160 H), Sa¶id bin µArubah (-156 H) dan Hammad ibn Salamah (-167
H) di Basrah, Sufyan al-Thauri (97-161 H) di Kufah, Khalid ibn Jamil al-¶Abd dan Ma¶mar ibn
Rashid (95-153 H) di Yaman, Abdurrahman bin µAmr al-Auza¶i (88-157 H) di Sham,
¶Abdullah ibn al-Mubarak (118-181 H) di Khurasan, Hashim ibnu Bushair (104-183 H) di
Wasit, Jarir ibn Abdul Hamid (110-188 H) di Rayy, Abdullah ibn Wahb (125-197 H) di Mesir.

Pada awal abad II H, spesifikasi buku, catatan ataupun kitab-kitab hadis yang muncul dapat
dikategorikan menjadi dua; (a) berisi catatan hadis an-sich, koleksi acak tanpa sistematisasi
bahan (b) berisi hadis yang tercampur dengan keputusan resmi yang diarahkan oleh khalifah,
sahabat, atau tabi¶in tidak tersistematisasi dan merupakan koleksi acak. Baru pada pertengahan
abad II H, mengalami perubahan trend, yang mengarah pada sistematisa isi kitab berdasar tema-
tema tertentu, meski materi hadis masih berbaur dengan ucapan-ucapan sahabat maupun
pendapat-pendapat tabi¶in ( hadith marfu¶, mauquf dan maqtu¶), masih berbaurnya berbagai
hadis dalam kualitas (sahih, hasan, da¶if) dalam satu kitab. Di antara kitab-kitab hadis yang lahir
abad II H, kitab al-Muwatta¶ karya Imam Malik termasuk kitab tertua yang berhasil ditemukan.

Pada abad III H, kodifikasi hadis mengalami masa keemasan dengan munculnya beragam
kitab-khususnya Kutub al-Sittah--dengan beragam metode penyusunan, ada Kitab Jami¶, Sahih,
Musnad, Sunan, Mustadrak, Mustakhraj, Mustadrak,dsb.. Satu spesifikasi yang kentara terlihat,
kitab disusun berdasar permasalahan tertentu yang dibagi menjadi bab-bab dan sub-sub bab;
dipisahkan antara hadis marfu¶, mauquf dan maqtu; dipisahkan kualitas hadis sahih, hasan dan
da¶if. Masing-masing kitab memiliki kekhasan yang dimiliki pengarangnya. Oleh karenanya
untuk merujuk sebanyak mungkin satu tema hadis tertentu secara komprehensif adalah dengan
mempergunakan sebanyak mungkin informasi dari berbagai kitab hadis qualified.


 

Meskipun diakui banyak pihak kodiifikasi hadis secara total memiliki rentang waktu yang
panjang dengan masa Nabi, namun bukan berarti tidak ada tali pengait yang menjembatani
keduanya. Adanya naskah-naskah awal, adanya periwayatan dari kitab tertentu yang dikutip oleh
banyak orang dan itu disampaikan kepada generasi berikutnya dengan metode referensi yang
dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan dengan metode komparasi antar riwayat,
menjadi indikasi dapat terjaganya hadis ke dalam bentuk tulisan. Meski hal ini, tidak berlaku
untuk semua hadis dalam kitab hadis. Artinya, walaupun orisinalitas hadis dalam kitab hadis
secara umum, bisa diakui, tetapi filterisasi terhadap µhadis¶ yang diragukan otentitasnya (naqd al-
hadi>s|) tetap diperlukan.

DAFTAR PUSTAKA

Al-µAsqalani, Ibn Hajar. Fath al-Ba<ri. Juz I. Kairo: Mustafa al-Babi al-Halabi, 1959.

Azami, Muhammad Mustafa. Dira>sat fi> al-Hadis| al-Nabawi wa Tarikh Tadwinih. Juz I.
Beirut: al-Maktab al-Islami, 1980..

----------Metodologi Kritik Hadis. terj. A. Yamin. Jakarta: Pustaka Hidayah, 1992.

Al-Baghdadi, al-Khatib. Taqyid al-¶Ilm. Damaskus: t.p., 1949 M.

Hanbal, Ahmad bin. Musnad al-Imam Ahmad. Juz XII. tahqiq Ahmad Muhammad Shakir.
Kairo: Dar al-Ma¶arif, t.th.

Al-Khatib, Muhammad µAjjaj. Us}u>l al-Hadis µUlu>muh wa Mus}t}alahuh. Beirut: Da>r al-
Fikr, 1989.

Al-Naisaburi, Muslim al-Hajjaj. Sahih Muslim. Juz III. tahqiq Muhammad Fuad al-Baqi. Kairo:
Da>r Ihya¶ al-Kutub al-¶Arabiyyah, 1956.
Al-Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin Sharaf. Sahih Muslim bi Sharh al-Nawawi. Juz VIII.
Mesir: al-Matba¶ah al-Misriyyah, 1924.

Rahman, Abdullah ibn µAbd. Sunan al-Darimi. Juz I. Damaskus: t.p. 1349 H .

Al-Sijistany, Abu Daud Sulaiman. Sunan Abu Daud. Jilid II. Mesir: Mustafa al-Babi al-Halabi,
1950.

Ya¶qub, Ali Mustafa. Kritik Hadis. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996.

Al-Zahabi, Abu µAbdullah Muhammad bin Ahmad. Kitab Tadhkirah al-Huffaz. Juz I.
Hyderabad: Dairah al-Ma¶arif, 1955.

?
?

? ?
c c 

 
Oleh : Andi Wiliandi
08 PEDI 1232
  
Membahas masalah kodifikasi hadis, yang dimaksud dengan
kodifikasi hadis secara resmi ialah pengumpulan dan penulisan
hadis-hadis atas perintah Khalifah atau penguasa daerah untuk
disebarkan kepada masyarakat.1 Pengumpulan dan penulisan
tersebut dilakukan sejak masa sahabat dan tabi¶in yang ditulis di
atas 5  5  namun pengumpulan tersebut cenderung
bersifat individual yang diperuntukkan untuk kepentingan masingmasing.
Abdullah bin Amr menjelaskan bahwa ia menulis sendiri
5  ini. Di sini terhimpun seribu hadis Rasulullah saw.   
dalam tulisan tangan Abdullah bin Amr tidak ditemui sekarang,
namun isinya terhimpun di dalam kitab-kitab hadis terutama di
dalam
 
Kebenaran adanya 5  5  dan 5  5  lain
diakui oleh ucapan Abu Hurairah, ³tak seorang pun di antara
sahabat Rasulullah saw., yang lebih banyak menulis hadisnya
daripadaku, kecuali Ibn Amr, karena dia terus menuis dan aku
tidak.2
Keseluruhan deskripsi di atas merupakan bukti bahwa
sahabat telah melakukan penulisan hadis Rasul saw.,   
5  itu telah sampai kepada generasi berikutnya. Namun
disayangkan, naskah asli dari sejumlah 5  tersebut tidak
ditemukan lagi karena telah ditelan sejarah. Walau demikian,
1 Ramli Abdul Wahid, 

  (Bandung: Citapustaka Media, 2005),
h. 103.
2  h. 97.
1
sejumlah 5  yang tersisa masih dapat dijumpai lagi.
  ini mempunyai tempat khusus dalam pencatatan
hadis karena 5  tersebut telah sampai kepada generasi
sekarang dalam keadaan utuh dan selamat, persis yang
diriwayatkan dan dalam 5  Hammam dari Abu Hurairah.
Mu¥ammad Humaidullah, seorang peneliti terkemuka, secara
kebetulan menemukan 5  ini di dalam dua manuskrip yang
serupa di Damaskus dan Berlin. Isi 5  tersebut secara
keseluruhan mirip seperti yang ada dalam
 dan
banyak di antara hadis-hadisnya diriwayatkan dalam 5  

 pada bab-bab yang berbeda-beda.
Mengingat umat Islam pada masa itu telah memungkinkan
untuk menulis hadis, namun secara nyata tidak ada perintah
secara resmi untuk melakukan penulisan hadis, dikarenakan
adanya kontroversi antara para sahabat, tabi¶in, ulama dan umat
Islam pada saat itu. Kondisi ini memicu keterlambatan pembukuan
hadis yang dapat diukur dari tenggang waktu masa Rasul, sahabat
dan tabiin yang cukup relatif panjang.
Penulisan hadis baru resmi dilaksanakan pada abad ke-2 H,
yang diprakarsai oleh Khalifah µUmar ibn µAbd al-µAz³z yang
memerintah pada tahun 99-101 H.3 Hal tersebut diperintahkan atas
dasar beberapa pertimbangan dan faktor-faktor yang mendorong
sehingga dilaksanakan penulisan hadis secara resmi pada abad
tersebut.
Dalam makalah singkat ini, akan diuraikan beberapa
penjelasan : pencatatan hadis secara pribadi dan bukti-bukti
pencatatan hadis zaman awal Islam, kodifikasi hadis secara resmi,
hadis-hadis yang menganjurkan dan melarang penulisan hadis
serta cara mengkompromikannya, faktor-faktor yang mendorong
3  
2
kodifikasi, dan terakhir jasa µUmar ibn µAbd al-µAz³z dan Ibn Syihab
az-Zuhr³ dalam kodifikasi.
È  
 
Mengingat secara individual penulisan telah dilakukan oleh
para sahabat sejak zaman Rasul saw., yang hal ini dapat dilakukan
dikarenakan kemampuan umat Islam secara teknis telah
memungkinkan menuliskan hadis-hadis nabi saw. Namun kondisi
ini menurut para sarjana dan ilmuan hadis hanya disebarkan lewat
mulut ke mulut secara lisan, sampai akhir abad pertama Hijriah.4
Ada beberapa catatan yang mungkin dapat dijadikan bukti bahwa
pada masa awal Islam telah dilakukan penulisan hadis, sehingga
dapat ditelusuri ketika masa sahabat yang tercatat ada 50 orang
sahabat yang menulis hadis, diantaranya: Abu Ayub al-An¡ari (w.
52 H), Ab Bakar as-¢idd³q (w. 13 H), Abu Sa¶id al-Khudri (w. 74 H),
dan µAbdullah bin µAbb±s (w. 68 H).5 Masa tabiin juga terdapat 52
orang yang menuliskan hadis, diantaranya: Aban bin µUsm±n (w.
105 H), Ibrahim bin Yajid (w. 96 H), µUmar bin µAbdul µAziz (w. 101
H), dan Urwah bin Zubair (w. 93 H).6 Penulisan tersebut dilakukan
atas dasar keinginan individual dan kepentingan pribadi masingmasing,
jadi tidak ada perintah khusus dari Rasul saw.
c!"

Secara etimologi, kodifikasi (tadwin) dapat diartikan menulis,
mencatat (pembukuan).7 Secara terminologi, kodifikasi diartikan
4 Mu¥ammad Mustafa Azami,         (Jakarta: Pustaka
Firdaus, 1994), cet. I, h. 106.
5  h. 132-200.
6 Mu¥ammad Mustafa Azami,    h. 201-234.
7 Ahmad Warson Munawwir, 
 
   !  ,
(Yogyakarta: Pustaka Progressif, 1984), h. 435.
3
sebagai menghimpun syariat-syariat dalam undang-undang dasar8,
atau dapat juga mengumpulkan undang-undang dan merangkainya
atau mengaturnya.9 Dalam  
!     !  ,
kodifikasi diartikan sebagai perhimpunan berbagai peraturan
menjadi undang-undang, klasifikasi hukum penggolongan hukum
dan undang berdasarkan asas-asas tertentu di buku undangundang
yang baku, proses pencatatan norma yang telah dihasilkan
oleh pembakuan dalam bentuk buku tata bahasa, dan pemberian
nomor atau lambang pada perkiraan pos, jurnal, faktur, atau
dokumen lain yang berfungsi sebagai alat untuk membedakan pos
yang satu dengan yang lainnya dan termasuk satu golongan.10
Dari beberapa pengertian diatas, secara umum dapat
disimpulkan bahwa kodifikasi ialah suatu proses dimana
dilakukannya upaya penghimpunan, pembukuan, pengklasifikasian,
pencatat dan pemberian tanda terhadap suatu objek tertentu.
Apabila yang menjadi objek penghimpunan, pengumpulan dan
pencatatan itu adalah hadis-hadis, disebutlah kodifikasi hadis.
Dengan demikian, secara sederhana kodifikasi dapat diartikan
sebagai usaha menghimpun, mengumpul dan mencatat hadishadis
Rasul saw., dalam buku. Dalam catatan sejarah umumnya
dipercayai bahwa orang-orang yang pertama memikirkan dan
melakukan pengumpulan serta penulisan hadis secara resmi
adalah µUmar ibn µAbd al-µAz³z.
Terdorong oleh rasa tanggung jawab untuk melestarikan
hadis Nabi dan memelihara kemurniannya, Khalifah µUmar bin µAbd
µAziz mengintruksikan kepada gubernurnya dan para ulama
8 Ilyas A. Ilyas dan Edwar E. Ilyas, "#
 $5% &&  (Kairo,
Elies Modern Press, 1968), h. 143.
9 Munir Ba¶albaki, 
 %" 
 &&  (Mesir: D±r al-µIlm Lil
Malayin, 1979), h. 190.
10 Departemen Pendidikan Nasional,  
!     !  edisi
ketiga, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), h. 578.
4
terkemuka untuk mengumpulkan dan membukukan hadis supaya
disebarkan kepada masyarakat Islam. Ia mengirim instruksi kepada
Gubernur Madinah Abu Bakar bin Mu¥ammad bin µAmr bin Hazm
(w. 117 H.). Di antara isinya adalah :
Menurut riwayat lain redaksinya seperti berikut :
Umar ibn µAbd al-µAz³z adalah Khalifah pertama dalam
sejarah Islam yang mengambil kebijaksanaan untuk mengkodifikasi
hadis. Kodifikasi secara resmi seperti ini belum pernah dilakukan
penguasa-penguasa sebelumnya. Muhammad µAjj±j al-Khatib
menemukan adanya perintah dari Gubernur Mesir µAbd al-µAz³z bin
Marw±n (w. 85 H), ayah dari Khalifah µUmar kepada Katsir bin
Murrah (w. sekitar 70-80 H) agar menuliskan hadis selain dari hadis
Abu Hurairah, namun menurut para ulama hadis, kodifikasi
Umarlah kodifikasi resmi pertama. 11
Berdasarkan keterangan di atas, maka berbicara masalah
kodifikasi hadis harus bisa membedakan antara kodifikasi hadis
yang bersifat individual/pribadi yang disebut juga dengan   
   yang dilakukan oleh para sahabat dan tabiin dengan
kodifikasi hadis yang bersifat resmi yang disebut juga     
yang dilakukan oleh µUmar ibn µAbd al-µAz³z, para gubernur
dan ulama.
11 Mu¥ammad µAjj±j al-Kha¯ib, '5
   %$'


 
5(  (Beirut:
D±r al-Fikr, 1989), h. 218.
5
 #$$%$
$!!# 
Mencermati hal ini, ada beberapa kontroversi antara sahabat
tentang larangan dan yang membolehkan penulisan hadis yang
didasarkan kepada kekuatan dalil masing-masing mereka, dengan
demikian terjadilah berbagai spekulasi dan argumentasi yang
membedakan satu dengan lainnya dalam penulisan hadis. Ada
beberapa pendapat para sahabat dan tabiin yang melarang untuk
menulis hadis, diantaranya: Ibn µUmar, Ibn Masµd dan Zaid bin ¤
±bit, dan ada juga beberapa pendapat para sahabat dan tabiin
yang membolehkan untuk menulis hadis, diantaranya: µAbdull±h
bin Amer dan Anas, µUmar bin µAbdul Az³z dan kebanyakan dari
sahabat yang lainnya.
Adapun keterangan hadis yang melarang dan membolehkan
penulisan hadis dapat diamati dari beberapa kutipan hadis dibawah
ini :
í?Hadis-hadis yang melarang menuliskannya.
Abu Sa¶id al-Hudzri meriwayatkan bahwa Rasulullah saw.
bersabda:
³Jangan kalian menulis (hadis) dariku, dan barangsiapa menulis
dariku selain Alquran maka hendaklah ia menghapusnya´
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata, ³Rasulullah saw.
Mendatangi kami dan kami sedang menulis hadis. Kemudian
beliau bertanya, µApa yang sedang kalian tulis ini? Kami
menjawab, µKami menulis hadis yang kami dengar dari engkau,
ya Rasulullah.¶ Berliau bersabda:
6
³Tulisan selain Kitab Allah? Apakah kalian mengetahui? Bangsabangsa
sebelum kalian tidak sesat kecuali karena mereka
menulis tulisan lain bersama Kitab Allah´.
í?Hadis yang membolekan penulisannya
Abdullah bin Amr bin al-Ash r.a. berkata, ³Saya menulis segala
apa yang saya dengar dari Rasulullah saw. Saya hendak
menghafalnya, namun orang-orang Quraisy melarangku. Mereka
berkata, ³Engkau menulis segala sesuatu
Adanya kontroversi tentang yang melarang dan
membolehkan penulisan hadis-hadis, para ulama berusaha
mengkompromikannya dengan menawarkan beberapa
argumentasi seperti: Mu¥ammad µAjj±j al-Kha¯³b dalam konteks
mengkompromikan perbedaan-perbedaan pendapat tersebut
yaitu :
a. Bahwa sebahagian ulama berargumentasi bahwa
hadis Abu Sa¶id al-Khudr³, sebagaimana
diungkapkan sebelumnya adalah 

, sehingga
tidak dapat dijadikan sebagai 
)) 
b. Bahwa larangan penulisan hadis hanya terjadi pada
masa-masa awal Islam, karena dikhawatirkan hadis
akan bercampur dengan Alquran. Namun ketika
jumlah kaum muslimin semakin banyak dan mereka
telah memahami Alquran dengan baik dan mampu
membedakan antara Alquran dan hadis, maka
terhapuslah larangan penulisan hadis tersebut.
c. Bahwa larangan penulisan hadis itu ditujukan
7
kepada orang yang hafalannya bisa diandalkan,
sedangkan kebolehan menulis hadis itu ditujukan
kepada orang yang tidak kuat hafalannya.
d. Bahwa larangan penulisan hadis bersifat umum,
sedangkan pembolehannya bersifat khusus, yaitu
terbatas bagi orang yang pandai membaca dan
menulis, tidak melakukan kesalahan dalam menulis,
dan tidak dikhawatirkan berbuat kekeliruan.12
Lain halnya dengan Ibnu Hajar al-µAsqal±n³ dalam
mengkompromikan pendapat ulama tersebut sebagai berikut :
a. Sebagian ulama menggunakan metode * $

atau kompromi, yakni larangan menulis hadis
berlaku khusus pada saat wahyu Alquran turun,
sedang perintah kebolehan menulis hadis berlaku di
luar saat tersebut. Kebijaksanaan Nabi itu bertujuan
agar catatan wahyu Alquran terhindar dari yang
bukan Alquran.
b. Sebagian ulama lainnya menggunakan metode 
* $
atau kompromi, yakni larangan menulis hadis
berlaku bagi yang tidak cermat dalam mencatat,
sedang kebolehan keizinan menulis hadis berlaku
bagi yang tidak cermat dalam mencatat agar tidak
mencampuradukkan catatan Alquran dengan hadis
Nabi.
c. Sebagian ulama lainnya lagi menggunakan metode
* $
atau kompromi, yakni larangan menulis
hadis berlaku khusus bagi yang kuat hafalan,
sedang kebolehan menulis hadis berlaku bagi yang
12 Mu¥ammad µAjjaj al-Khatib, 
"   +  , (Beirut: D±r al-
Fikr, 1993), h. 306-308.
8
tidak kuat hafalan. Kebijaksanaan Nabi itu bertujuan
agar yang kuat hafalan tidak membiasakan diri
bersandarkan pada catatan.
Dari beberapa keterangan dan penjelasan di atas, maka
secara ringkas dapat disimpulkan bahwa jalan tengah dari
kontroversi tentang larangan dan perintah penulisan hadis pada
intinya harus :
a. Melihat kembali hadis yang melarang penulisan
tersebut itu apakah tergolong hadis  atau
tergolong hadis  dalam artian cross chek
ulang terhadap hadis tersebut.
b. Hadis yang melarang atau 

c. Bahwa larangan penulisan hadis itu ditujukan
kepada orang yang kuat hafalannya.
d. Bahwa larangan penulisan karena ditakutkan
kesalahan dalam penulisan yang dilakukan orang
yang tidak bagus tulisannya.
 !"!#$!!$!"
Ada beberapa hal yang mendorong µUmar bin µAbd al-µAziz
mengambil inisiatif untuk memerintahkan para gubernur dan
pembantunya untuk mengumpulkan dan menulis hadis,
diantaranya adalah :
a. Tidak ada lagi kekhawatiran bercampurnya hadis
dengan Alquran, karena Alquran ketika itu telah
dibuktikan dan disebarluaskan.13
b. Munculnya kekhawatiran akan hilang dan lenyapnya
hadis karena banyak para sahabat yang meninggal
dunia akibat usia atau karena seringnya terjadi
13 Nawer Yuslim, '

  (Jakarta: PT. Mutiara Widya, 2001), h. 126.
9
peperangan.14
c. Semakin maraknya kegiatan pemalsuan hadis yang
dilatar belakangi oleh perpecahan politik dan
perbedaan mazhab di kalangan umat Islam. Hal ini
upaya untuk menyelamatkan hadis dengan cara
pembukuannya setelah melalui seleksi yang ketat
harus segera dilakukan.
d. Karena telah semakin luasnya daerah kekuasaan Islam
disertai dengan semakin banyak dan kompleksnya
permasalahan yang dihadapi umat Islam, maka hal
tersebut menuntut mereka untuk mendapat petunjuk
dari hadis Nabi saw., selain petunjuk Alquran.
Senada dengan beberapa faktor-faktor yang telah dijelaskan
di atas, di dalam Studi Ilmu Hadis oleh H. Ramli Abdul Wahid,
menjelaskan bahwa selain faktor di atas, juga disebabkan adanya
hadis 
,
-Luasnya daerah Islam dan bertambahnya para

-  yang membutuhkan bimbingan keagamaan,15 sehingga
keadaan tersebut ikut mendorong penulisan hadis.
Melihat berbagai persoalan muncul di atas, sebagai akibat
terjadinya pergolakan politik, yang sudah cukup lama, dan
mendesaknya kebutuhan untuk segera mengambil tindakan guna
menyelamatkan hadis dari kemusnahan dan pemalsuan, maka
µUmar bin µAbd al-µAziz sebagai seorang Khalifah yang memiliki
tanggung jawab besar terhadap masalah agama, terdorong untuk
mengambil tindakan untuk mengkodifikasikan hadis secara resmi.
14 Utang Ranuwijaya, 
  , (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1996), h.
68.
15 Ramli Abdul Wahid, 

  h. 104-105.
10
 &'(''#)*
!"
1. Jasa-jasa Umar ibn Abdul Aziz dalam
kodifikasi hadis.
Nama lengkapnya adalah µUmar ibn µAbd al-µAziz ibn
Marwan ibn al-Hakim ibn Abi al-µA¡ ibn Umayyah ibn µAbd Syam
al-Quraisyi al-Umawi, atau disebut juga dengan Abu Hafs al-
Madani al-Dimasyqi. Ibunya adalah Umm Ashim binti Ashim ibn
Umar ibn Kha¯ab.16
µUmar bin µAbd al-µAziz adalah seorang Khalifah ke-8 dari
daulat Bani Umayyah. Ia memiliki perhatian cukup besar
terhadap hadis Nabi saw. Beliau secara langsung menuliskan
hadis-hadis yang di dengar dan diminatinya, selain mendorong
para ulama untuk melakukan hal yang sama. Menurut
pandangannya, dengan cara demikianlah hadis Nabi saw., dapat
terpelihara. Salah satu kebijakan µUmar bin µAbd al-µAziz adalah
menggalakkan para ulama dalam hal penulisan hadis serta
memberi izin untuk itu, yang sebelumnya belum ada perizinan
secara resmi.
Meskipun masa pemerintahan µUmar bin µAbd al-µAziz
relatif singkat, beliau telah mempergunakannya dengan
maksimal dan efektif untuk pemeliharaan hadis-hadis Nabi saw.,
yaitu dengan mengeluarkan perintah secara resmi untuk
pengumpulan dan pembukuan hadis. Atas prakarsa beliau dan
bantuan para pembantunya beserta para ulama dan ahli hadis.
Pada masa itu telah berhasil dikumpulkan dan dibukukan hadishadis
Nabi saw., sehingga menjadi pegangan umat sampat hari
16 Ibn Hajar al-µAsqal±n³,  + . + ., (Beirut: D±r al-Fikr, 1995),
h. 18.
11
ini.
2. Jasa-jasa Mu¥ammad ibn Syihab az-Zuhr³
dalam kodifikasi hadis.
Az-Zuhr³ telah meninggalkan pengaruh dan jasa-jasa
besar ke dalam bidang hadis, diantaranya adalah:
a. Az-Zuhr³ adalah orang pertama yang
memenuhi himbauan Khalifah µUmar bin µAbd
al-µAziz untuk membuktikan hadis, sehingga
dia telah berhasil menghimpunnya dalam
berbagai kitab. Kitab-kitab tersebut
selanjutnya di kirim oleh Khalifah kepada para
penguasa di daerah-daerah. Oleh sebab itu,
para ulama sepakat mengatakan bahwa az-
Zuhr³ adalah orang yang pertama
membukukan hadis secara resmi atas perintah
Khalifah.
b. Az-Zuhr³ telah berhasil mengumpulkan dan
meriwayatkan sejumlah tertentu dari hadis
Nabi saw., yang diriwayatkan oleh para perawi
lain, sehingga jerih payahnya tersebut telah
menyelamatkan hadis-hadis Nabi saw. dari
kepunahan. Al-Laits ibn Saµad berkata: Said
ibn µAbd ar-Rahman telah mengatakan
kepadaku, ³Wahai Abu al-Haris, sekiranya
tidak ada Ibn Shih±b, tentu telah hilang
sejumlah tertentu dari hadis. Imam Muslim
juga pernah mengatakan, ³Ada sekitar 90
hadis yang diriwayatkan oleh az-Zuhr³ yang
12
berasal dari Nabi saw. yang tidak diriwayatkan
oleh seorang perawi lain pun dengan sanad
yang baik.´ Pendapat yang senada
diungkapkan oleh al-H±fizh az-ªahab³.
c. Az-Zuhr³ adalah orang yang sampai intens dan
bersemangat dalam memelihara sanad hadis,
sehingga dia senantiasa mendorong dan
menggalakkan penyebutan sanad tatkala
meriwayatkan hadis kepada para ulama dan
penuntun hadis. Imam Malik berkata: ³Orang
yang pertama kali melakukan penyebutan
sanad hadis adalah Ibn Syih±b´.17 Yang
dimaksud oleh Imam Malik adalah bahwa az-
Zuhr³ adalah orang yang pertama dalam
menggalakkan penyebutan sanad hadis
tatkala meriwayatkannya.
d. Az-Zuhr³ telah memberikan perhatian yang
besar dalam pengkajian ilmu hadis, bahkan
dia bersedia memberikan bantuan materi
terhadap mereka yang berkeinginan
mempelajari hadis namun tidak mempunyai
dana untuk itu. Menurut Imam Malik ibn Anas,
az-Zuhr³ mengumpulkan orang dan mengajari
mereka maupun juga pada musim panas dan
mereka diberinya makanan sesuai dengan
musim tersebut.
?  
Penulisan hadis secara individual sudah dimulai sejak zaman
17 Mu¥ammad µAjj±j al-Kha¯³b, 
h. 493.
13
Rasul saw. hal ini ditandai dengan munculnya nama sahabat dan
tabi¶in dalam menulis hadis. Namun penulisan dan pembukuan
secara resmi adalah pada awal abad ke-2 H, yang dipimpin oleh
Khalifah µUmar bin µAbd al-µAziz beserta para gubernurnya.
Lambannya pembukuan hadis dilatar belakangi oleh
kontroversi tentang adanya hadis Nabi saw. yang membolehkan
dan melarang penulisan hadis, yang pada akhirnya diselesaikan
dengan mengambil jalan tengah, dengan mengkaji kembali hadishadis
tersebut dengan upaya :
a. Melihat kembali hadis yang melarang penulisan
tersebut itu apakah tergolong hadis , atau
tergolong hadis 5 dalam artian cross chek ulang
terhadap hadis tersebut.
b. Hadis yang melarang di atau di 
.
c. Bahwa larangan penulisan hadis itu ditujukan
kepada orang yang kuat hafalannya.
d. Bahwa larangan penulisan karena ditakutkan
kesalahan dalam penulisan yang dilakukan orang
yang tidak bagus tulisannya.
Berdasarkan hasil kompromi tersebut maka secara resmi
berdasarkan intruksi dari Khalifah µUmar bin µAbd al-µAziz beserta
para gubernurnya pada abad ke-2 H, dilakukan pembukuan hadis
dengan harapan untuk menjaga kemurnian ajaran Islam selain itu
untuk menyelamatkan hadis dari kehilangan yang disebabkan
meninggalnya para perawi hadis, menghindari pemalsuan hadis
serta gejolak politik yang mengakibatkan perpecahan dan
bergejolaknya pertentangan antara sesama umat Islam.
14
+
 (+c
Ahmad Warson Munawwir, 
 
   !  ,
Yogyakarta: Pustaka Progressif, 1984.
Al-Kha¯³b al-Bagd±d³, +   $Damaskus: tp, 1949.
Departemen Pendidikan Nasional,  
!     !  
edisi ketiga, Jakarta: Balai Pustaka, 2007.
Ibn Hajar al-µAsqal±n³,  + . + ., Beirut: D±r al-Fikr,
1995.
Ilyas A. Ilyas dan Edwar E. Ilyas, "#
 $5% &&  Kairo,
Elies Modern Press, 1968.
Muhammad Mustafa Azami,         (terj.) Ali
Mustafa Ya¶cub. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994, cet. I.
Munir Ba¶albaki, 
 %" 
 &&  Mesir: D±r al-µIlm Lil
Malayin, 1979.
Mu¥ammad µAjj±j al-Kha¯ib, '5
   %$'


 
5(  
Beirut: D±r al-Fikr, 1989.
__________________, 
"   +  , Beirut: Dar al-Fikr,
1993.
Nawer Yuslim, '

  Jakarta: PT. Mutiara Widya, 2001.
Ramli. Abdul Wahid, 

  Bandung: Citapustaka Media,
2005.
Utang Ranuwijaya, 
  , Jakarta: Gaya Media Pratama, 1996.
15?