Anda di halaman 1dari 6

Hari/ Tanggal : 21Agustus 2020

Nama Pemateri : Dr.

Materi : Kebijakan K3 dan UU 1970


Nama : Mukhlis Dwi Tanto

Hasil Resume :
ILO 1995
1. Promosi dan pemeliharran fisik
2. Pencegahan gangguan kerja di kondisi kerja
3. Perlindungan dari risiko faktor yg mengganggu kesehatan
4. Penempatan kerja sesuai psikologi
5. Penyesuaiaan pekerjaan

Pasal 27 ayat 2, UU no 13 th 2003, pasal 86 pasal 87 ttg kesehjateraan rakyat (buruh)


UU no 23 thn 1992 ttg kesehatan AK3 Rekomendasi dan pengawasan ketika safety
meetingPemeriksaan sebelum kerja, berkala, khusus

Tujuan pemeriksaan
1. Menilai kesehatan tenaga kerja sebelum diterima kerja
2. Memdeteksi gangguan kesehatan
3. Identifikasi PAK

Tujuan khusus
1 Rikes awal
Tenaga kerja diterima sehat, tidak pumya PM
2. Rikes berkala
Mepertahankan derajat kesehatan, menilai kemungkinan pengaruh dari pengaruh kerja,
pengendalian lingkungan
3. Rikes khusus
Menilai adanya pengaruh kerja ttt, menilai tenaga kerja ttt

Mekanisme pemeriksaan dilakukan Dokter hiperkes


Pemyakit khusus: Alergi, asma, kelainan, Tbc, kencing manis, gangguan jiwa, penyakit kulit
Pemeriksaan klinis Mental, fisik, Lab, khusus
Data pendukung anamnesa
Data kesehatan awal
Hasil pemeriksaan kesehatan
Pemeriksaan penunjang
Data lingkungan kerja
Statistik kesehatan kerja

Pelayanan kesehatan kerja Permen 3 Tahun 82 Preventif, kuratif, rehabilitative Pelayanan


kesehatan Di temat kerja:
Pelayanan Kesehatan Kerja
 Bagi pengusaha yang sudah mapan K3 nya biasanya akan membuat unit pelayanan khusus yang
digunakan untuk memberikan perlindungan kepada TK yang timbul akibat gangguan pekerjaan
(biasanya namanya Unit Pelayanan Tenaga Kerja).
 PKK besifat preventif (pencegahan) dan promotif (pendidikan)  bagi Ahli K3
a. Upaya preventif
 Pemeriksaan kesehatan awal, berkala, dan khusus
 Pemindahan TK sesuai kondisi kesehatan TK
 Penerapan hygiene dan sanitasi (PERMEN No. 5 tahun 2018)  misal bekerja di daerah
Papua yang sering terjadi penyakit malaria, maka dilakukan pengendalian hygiene dan
sanitasi
 Penerapan prinsip ergonomi kerja
 SOP dan APD
 Pelaporan PAK
 Pemantauan & pengendalian lingkungan kerja & alat-alat produksi
 Pemberian makanan sesuai kebutuhan gizi
 Vaksinasi (pemberian vaksin tergantung dari konteksnya, misal TK ditugaskan ke Afrika
maka diwajibkan untuk suntik meningitis  sehingga vaksin wajib diberikan apabila ada
sebabnya)
b. Upaya promotif
 Pendidikan & pelatihan K3
 Safety talk, safety meeting, dll
 OR / senam
 Program bebas rokok, bebas HIV/AIDS atau IMS di tempat kerja  PROGAM BEBAS
TANPA ROKOK/HIV AIDS/IMS (menggunakan pamflet, billboard)
 Bahan KIE (komunikasi, informasi, & edukasi) kesehatan kerja
c. Upaya Kuratif : pemberian P3K, pengobatan dan perawatan TK yang sakit, operasi
d. Upaya Rehabilitatif : pemberian prothese dan orthose (alat bantu spt kaca mata), fisioteraphi,
konsultasi psikologis, adanya program return to work

 Setiap TK berhak mendapatkan pelayanan kesehatan kerja dan pengurus wajib memberikan
pelayanan kesehatan kerja sesuai dengan kemajuan IPTEK.
 Syarat penanggung jawab PKK : ditunjuk oleh perusahaan, disetujui oleh BPJS (bagi orang
yang sudah bekerja).
 Untuk pembuatan laporan penyelenggaraan PKK, yang membuat adalah ahli K3 dengan
bantuan dari petugas medis/dokter unit PKK. Laporan biasanya dibuat bebarengan dengan
CSR.
1.Diselenggarakan sendiri Poloklinik, RS PT
2. Kerjasama
3. Vendor
Fungsi pelayanan optimal diberikan status independen
Pelaporan
1. Jumlah kunjungan pasien berobat
2. Data kecelakaan
3. Hasil pemantauan lingk kerja
4. Hasil kegiatan lainnya

Diagnosis PAK
1.Diagnosis klinis
2. Sebab akibat Penyakit
3. Jumlah pajanan
4. Penyebab lain
5. Menetapkan diagnosis

Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)


• Petugas P3K vs Petugas Paramedis
a. Petugas P3K : membawa kotak P3K
b. Petugas paramedis : mengawasi obat-obat an yang dibutuhkan oleh TK
• Mengapa perlu dilakukan P3K? karena ada waktu emas (golden periode) supaya tidak sia-sia
dan menyebabkan kefatalan  harus dilakukan secara cepat dan tepat kepada
pekerja/buruh/orang yang mengalami sakit/cidera di tempat kerja.
• Kotak P3K  terbuat dari bahan yang kuat dan mudah dibawa, berwarna dasar putih dengan
lambang P3K berwarna HIJAU. Tidak boleh diisi dengan alat yang tidak dibutuhkan, terdiri
dari 21 item.
• Jumlah dan tipe kotak P3K disesuaikan dengan kebutuhannya (ruang kerja perusahaan).
• Prasyarat petugas P3K : memiliki lisensi dan buku kegiatan P3K dari KEMNAKER (bekerja
pada perusahaan bersangkutan, sehat jasmani rohani, bersedia ditunjuk menjdai petugas P3K,
memiliki pengetahuan dasar dengan mengikuti diklat).
• Petugas P3K : tempat kerja dengan potensi bahaya rendah (25 - 150 = 1 orang, > 150 = 1
orang), tempat kerja dengan potensi bahaya tinggi (< 100 = 1 orang, > 100 = 1 orang). Petugas
P3K berhak meninggalkan pekerjaan apabila ada TK yang mengalami kecelakaan meskipun
lokasinya berbeda dengan tempat petugas P3K bekerja.
• Petugas P3K tidak harus ditunjuk oleh perusahaan, tetapi TK dapat secara suka rela
mengajukan diri menjadi petugas P3K dengan disetujui oleh pemimpin perusahaan.
• Alkohol 70% (kandungannya ethanol) pada kotak P3K tidak layak diminum, karena rantai
kimianya berbeda dengan alkohol yang dapat diminum. Jika diminum dapat menyebabkan
kecacatan (mata dan saraf telinga) bahkan kematian.
Penyakit Akibat Kerja
 Timbul karena pekerjaan, yang harus terdapat sebab muasal yang jelas (Contoh : TK di
pertambangan mineral terkena penyakit paru-paru akibat terpapar silica  penyakit silicosis)
akan tetapi dapat dicegah dengan hierarki pengendalian (eliminasi, subtitusi, rekayasa teknik,
kontrol administrasi, APD)  kemudian wajib dilaporkan dan mendapatkan kompensasi
(jaminan kecelakaan kerja/penyakit kerja yang dapat diklaim di BPJS ketenagakerjaan).
 Penyakit akibat kerja menggunakan 2 dasar hukum : PERPRES No. 7 tahun 2019 dan
PERMENNAKERTRANS No. 1 tahun 1981
 Langkah mendiagnosis PAK
a. Diagnosis klinis oleh dokter pemeriksa/dokter penasehat
b. Menentukan hubungan sebab akibat (cara kerja, sifat pekerjaan, jenis pajanan/paparan,
dengan interview : riwayat pekerjaan, riwayat penyakit)
c. Jumlah pajanan yang dialami
d. Kemungkinan penyebab lain
e. Menetapkan diagnosis PAK  maksimal dalam 2 x 24 jam WAJIB dilaporkan
 Faktor penyebab PAK
a. Faktor fisika : bising  tuli, radiasi non mengion seperti inframerah  katarak dan UV 
konjungtivitis, suhu tinggi  stroke, dll
b. Faktor Kimia : bahan baku, bahan tambahan, hasil antara, hasil samping, hasil (produk), sisa
produksi, atau bahan buangan (limbah)  bisa masuk ke dalam tubuh manusia dengan
terhirup, tertelan secara tidak sengaja maupun dengan sengaja, & penyerapan kulit dan
selaput lendir. Menyebabkan efek : iritasi, alergi, korosif, keracunan, kanker, kelainan janin,
efek bius (narkose), dll
c. Faktor Biologi : virus  rabies, hepatitis. bakteri  TBC, tetanus, anthrax, dll
d. Faktor Ergonomi : disebabkan oleh cara kerja, posisi kerja, alat kerja, lingkungan kerja,
konstruksi tidak ergonomis  lelah, nyeri otot, perubahan bentuk (lordosis, skoliosis,
kifosis), dislokasi, dll
e. Faktor Psikososial : disebabkan oleh hubungan kerja, komunikasi, keamanan, tipe kerja
(monoton, berulang-ulang, kerja berlebihan, dll)  stress, psikosomatis, somatis.