Anda di halaman 1dari 21

PENGATURAN KONDISI FISIK TEMPAT BELAJAR DAN

PENCIPTAAN IKLIM BELAJAR YANG MENUNJANG PROSES


PEMBELAJARAN

Makalah

Disusun untuk memenuhi salah satu Tugas Mata Kuliah Manajemen Kelas

Dosen Pengampu : Dra.Sri Sami Asih,M.Kes.

Disusun oleh :

Kelompok 6

1. Linda Setianti ( 1401419008 )


2. Markamah ( 1401419018 )
3. Novita Ramandanti ( 1401419021 )
4. Mega Pratiwi ( 1401419010 )

ROMBEL A

JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

TAHUN 2021

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan Kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat,
taufik serta karunia-Nya kepada kita. Sehingga kami bisa menyelesaikan makalah  ini
tepat pada waktunya, yang berjudul “Pengaturan Kondisi Fisik Tempat Belajar dan
Penciptaan Iklim Belajar yang Menunjang Proses Pembelajaran”.Kami berharap
makalah  ini dapat memberikan informasi dan pengetahuan bagi pembaca.Sehingga
mampu menambah wawasan pengetahuan semakin luas serta menjadikan ilmu yang
bermanfaat bagi orang lain.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan karena


keterbatasan pengetahuan kami. Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak yang
bersifat membangun selalu kami harapkan demi terciptanya kesempurnaan dalam
makalah.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan dalam makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga
Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Semarang,13 Maret 2021

Penulis

ii
Daftar Isi

Kata pengantar................................................................................................................ii

Daftar isi..........................................................................................................................iii

BAB I Pendahuluan........................................................................................................ 1

A. Latar Belakang....................................................................................................1
B. Rumusan Masalah...............................................................................................2
C. Tujuan.................................................................................................................2

BAB II Pembahasan........................................................................................................3

A. Pengaruh Kondisi Fisik tempat belajar terhadap Proses dan hasil belajar..........3
B. Pengaturan tempat duduk siswa..........................................................................9
C. Kelebihan dan kekurangan tiap formasi tempat duduk.......................................13
D. Pengaruh kondisi sosioemosional terhadap proses dan hasil belajar..................14
E.

BAB III Penutup.............................................................................................................

A. Simpulan.............................................................................................................
B. Saran...................................................................................................................

Daftar Pustaka.................................................................................................................

iii
iv
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah

Kondisi atau suasana belajar berpengaruh terhadap proses pembelajaran. Oleh


karena itu, salah satu faktor penting untuk keberhasilan pembelajaran adalah
terpenuhinya kondisi dan suasana belajar yang optimal. Tindakan manajeman kelas
adalah tindakan yang dilakukan guru dalam rangka menyediakan kondisi yang optimal
agar pembelajaran berlangsung efektif. Tindakan guru tersebut dapat berupa tindakan
pencegahan yaitu dengan cara menyediakan kondisi baik fisik maupun kondisi sosia-
emosional sehingga siswa merasa nyaman dan aman untuk belajar. Tindakan lainnya
dapat berupa tindakan kolektif terhadap tingkah laku siswa yang menyimpang dan
merusak kondisi optimal terhadap proses pembelajaran yang sedang berlangsung.
Tindakan pencegahan dapat berupa tindakan guru dalam mengatur lingkungan
belajar, mengatur siswa, peralatan dan lingkungan sosio-emosional sehingga dapat
mengoptimalakan keberhasilan pembelajaran.
Menciptakan kondisi dan iklim kelas yang menyenangkan,kondusif untuk
kegiatan belajar mengajar di kelas,efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran,serta
belajar bermakna bagi siswa merupakan harapan bagi guru sebagai manajerial di
kelasnya.Sebagai seorang manajerial,ia harus bisa mengatu dan menciptakan iklim
belajar yang menunjang proses pembelajaran.Penciptaan kondisi dan iklim belajar
yang menunjang,ruang lingkupnya meliputi penciptaan kondisi fisik kelas,kondisi
sosioemosional,kondisi organisasional,dan kondisi administrasi teknik. Penciptaan
kondisi dan situasi belajar-mengajar tersebut akan berpengaruh terhadap proses
pembelajaran yang efektif.Namun,dalam menciptakan proses belajar-mengajar yang
efektif,guru akan mengalami berbagai kendala.Salah satunya adalah pengaturan
kondisi fisik tempat belajar dan penciptaan iklim yang menunjang proses
pembelajaran.

Sehingga,dalam makalah ini akan dibahas mengenai pengaturan kondisi fisik


tempat belajar,Pengaturan tempat duduk siswa,dan kondisi sosio emosional yang
berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar.

1
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas,maka rumusan masalahnya adala
sebagai berikut:
1. Apa pengaruh kondisi fisik tempat belajar terhadap proses dan hasil belajar
peserta didik?
2. Bagaimana pengaturan tempat duduk siswa dalam bentuk denah/formasi ?
3. Apa kelebihan dan kekurangan dari tiap formasi tempat duduk peserta didik
terhadap proses dan hasil belajar?
4. Apa pengaruh kondisi sosioemosional terhadap proses dan hasil belajar siswa?
5. Bagaimana pengaruh lingkungan psikososial terhadap pengelolaan kelas ?
6. Bagaimana upaya guru dalam manajamen Psikososial Siswa?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Guna memahami pengaruh kondisi fisik tempat belajar terhadap proses dan hasil
belajar peserta didik.
2. Guna memahami Pengaturan tempat duduk siswa dalam bentuk denah/formasi
3. Guna memahami kelebihan dan kekurangan dari tiap formasi tempat duduk
peserta didik terhadap proses dan hasil belajar.
4. Guna memahami pengaruh kondisi sosioemosional terhadap proses dan hasil
belajar siswa.
5. Guna memahami pengaruh lingkungan psikososial terhadap pengelolaan kelas
6. Guna memahami upaya guru dalam manajamen Psikososial Siswa.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A.PENGARUH KONDISI FISIK TEMPAT BELAJAR TERHADAP PROSES


DAN HASIL BELAJAR

Menurut Ahmadi dan Uhbiyati, lingkungan fisik adalah lingkungan alam di


sekitar anak, yang meliputi jenis tumbuh-tumbuhan, keadaan tanah, rumah, jenis
makanan, benda gas, benda cair, dan juga benda padat. Sementara Asmani
,menyatakan bahwa lingkungan fisik adalah lingkungan yang ada di sekitar peserta
didik belajar, berupa sarana fisik, baik yang ada di dalam sekolah maupun di sekitar
sekolah, termasuk masyarakat.Dalam hal ini lebih ditekankan pada lingkungan fisik
dalam kelas dan alat/media belajar yang ada.

Menurut Loisell,Terdapat beberapa prinsip dalam menata lingkungan fisik kelas


seperti yang disampaikan oleh Loisell yang meliputiL:

 Keleluasaan Pandangan (visibility)


 Mudah Dicapai (accessibility)
 Keluwesan (flexibility)
 Kenyamanan
 Keindahan

Salah satu faktor yang penting dalam belajar adalah lingkungan. Pengaruh
lingkungan fisik terhadap pendidikan telah disadari. Sistem pendidikan Sparta
misalnya, menyiapkan kehidupan anak-anak dengan mengirimkannya ke hutan yang
bertujuan agar anak belajar mempertahankan dirinya. Demikian yang dilakukan oleh
metode dan Temme dan Siere Leone, yang benar-benar menjalankan sekolah udara
terbuka di hutan.

Lingkungan fisik tempat belajar mempunyai pengaruh penting terhadap hasil


belajar.Lingkungan fisik yang menguntungkan dan memenuhi syarat akan mendukung
meningkatnya intensitas pembelajaran siswa dan mempunyai pengaruh positif
terhadap pencapaian tujuan pengajaran.Guru sebagai seorang pengajar/pendidik harus
dapat menciptakan lingkungan kelas yang membantu perkembangan pendidikan para

3
peserta didik. Melalui teknik motivasi yang akurat, guru dapat memberikan kontribusi
iklim kelas yang sehat, kondisi dan lingkungan hendaknya menjadi perhatian dan
kepedulian guru agar siswa dapat belajar secara optimal.

Pendidik besar seperti comenius. John Dewey dan Tyler menggarisbawahi


pentingnya lingkungan terhadap pendidikan anak titik menurut timer proses belajar
terjadi melalui pengalaman yang diperoleh siswa dari lingkungan tempat siswa berada
titik sekalipun lingkungan itu mempunyai makna yang luas tetapi lingkungan fisik
sebagai salah satu dari sekian banyak masalah yang berhubungan dengan penciptaan
lingkungan yang baik yang mendesain tempat duduk siswa sehingga dapat
menciptakan suasana kelas yang mampu mendorong Siswa belajar dengan baik.

1. Lingkungan fisik kelas

Lingkungan ini meliputi dua faktor yaitu situasi fisik yang ada di dalam kelas
maupun situasi fisik diluar tempat berlangsungnya proses pembelajaran. Dalam hal
ini,guru memegang peranan penting menciptakan situasi sehingga proses
pembelajaran dapat mencapai tujuan yang diharapkan titik berbagai macam perubahan
yang terjadi, yang disebabkan oleh kedua vektor tersebut sepatunya dapat terbaca oleh
guru sehingga guru dapat menyesuaikan pola interaksinya dengan siswa sesuai dengan
situasi yang dihadapinya.

Guru harus dapat menciptakan lingkungan kelas Yang Membantu perkembangan


pendidikan subjek Didik nya yakni siswa. Dengan teknik motivasi yang akurat, guru
dapat menciptakan konstribusi iklim kelas yang sehat. Lingkungan ini hendaknya
mencerminkan kepribadian guru serta penghargaan atas usaha siswanya. Siswa harus
dibuat secara terus-menerus memberikan reaksi pada lingkungan,sehingga pengalaman
belajar dapat terjadi sesuai dengan kondisi yang diinginkan. Lalu, bagaimana hal itu
dilaksanakan? Langkah-langkah praktis yang dapat ditempuh antara lain sebagai
berikut:
a. Lingkungan fisik kelas harus bersih dan sehat. Harus ada bukti bahwa
keprihatinan Guru tidak hanya terhadap kebersihan kelas akan tetapi juga untuk
kesehatan semua siswanya.

4
b. Kelas adalah tempat anak menghabiskan sebagian besar kegiatan, ahli
pendidikan seperti John dewey merumuskan agar ruangan kelas itu sedapat
mungkin seluas rumah, sehingga siswa dapat berkembang semaksimal mungkin.
c. Kelas sedapat mungkin harus merupakan suatu tempat yang indah dan
menyenangkan. Dinding kelas harus dibuat hidup dengan proses kerja yang
dilakukan oleh siswa dan dengan koleksi benda-benda yang menarik dari daerah
sekitarnya. Guru harus selalu ingat bahwa setiap benda yang ada dalam kelas itu
menyampaikan pesan dan dapat menjadi butir vokal kegiatan belajar.
d. Guru membagi dan membuat tanggung jawab latar belakang fisik itu menjadi
milik siswa yang ada di kelas tersebut dan tidak hanya milik guru titik siswa
harus aktif dalam membuat keputusan mengenai tata pameran, dekorasi dan
sebagainya.
e. Banyak hal yang harus dipertimbangkan film mengorganisasi lingkungan fisik
kelas. Penataan dan dekorasi harus terlihat oleh semua siswa dan harus sering
diubah. setiap gambar dan dekorasi harus mempunyai maksud tujuan tertentu
titik oleh karena itu gambar dan dekorasi harus diganti apabila tujuan telah
tercapai. Lingkungan fisik kelas yang harus menyampaikan pesan kepada siswa
yang ada di dalam kelas dan harus menyajikan fenomena yang dinamis
f. Lingkungan fisik kelas harus mengandung unsur kesehatan titik Sebagai
tambahan pada semua hal tersebut di atas, peredaran udara dan cahaya yang
memadai sangat diperlukan. Bila sinar matahari masuk terlalu tajam pada papan
tulis atau wajah siswa, atau bila ada tetesan air pada musim hujan ku harus
berusaha secepat mungkin supaya Semuanya itu tidak mengganggu. Guru harus
menyadari adanya hubungan yang erat antara lingkungan fisik kelas, iklim
emosional kelas dan moral seluruh siswa.
2. Dinamika Kelas

Kelas adalah kelompok sosial yang dinamis yang harus dipergunakan dalam
setiap wali atau guru kelas untuk kepentingan murid dalam proses kependidikannya.
Dinamika kelas pada dasarnya berarti kondisi kelas yang diliputi dorongan untuk
secara terarah umum dikembangkan melalui kreativitas dan inisiatif murid sebagai
suatu kelompok, untuk itu setiap wali kelas harus berusaha menyalurkan berbagai
saran, pendapat, gagasan, keterampilan, potensi dan Energi yang dimiliki murid

5
menjadi kegiatan-kegiatan yang berguna. Dengan demikian kelas tidak akan
berlangsung secara statis, rutin dan membosankan.

Dinamika kelas dipengaruhi berbagai komponen yang sangat di syaratkan dalam


pengelolaan kelas yaitu

1. Kegiatan administrasi kelas


a) Perencanaan kelas
Kurikulum sebagai program umum harus diterjemahkan menjadi program-
program yang konkrit dengan mengaitkan menurut waktu yang tersedia, yang
dapat berbentuk program tahunan program semester atau caturwulan, program
bulanan, program mingguan dan bahkan muncul berupa program harian.
b) Pengorganisasian kelas
Program kelas sebagai rencana kerja harus bersifat realistis dalam arti benar-
benar dapat dilaksanakan dan dengan tujuan yang realistis pula dalam arti benar-
benar dapat diwujudkan.
c) Pengarahan kelas

Setelah program dan organisasi disusun, selanjutnya kegiatan dilaksanakan


titik pelaksanaan kegiatan itu harus diusahakan untuk tidak menyimpang dari
rencana atau program yang sudah disusun.

d) Koordinasi kelas

Koordinasi kelas diwujudkan dengan menciptakan kerjasama yang didasari


saling pengertian akan tugas dan peranan masing-masing. Koordinat yang efektif
memungkinkan setiap personil menyampaikan saran saran dan pendapat pendapat
serta gagasan-gagasan yang baik dalam bidang kerjanya sendiri maupun kerjaan
orang lain orang lain.

e) Komunikasi kelas
Komunikasi antar personal di kelas dapat berlangsung secara formal di dalam
rapat atau musyawarah dan diskusi si serta diwujudkan secara informal dalam
setiap kesempatan didalam dan diluar kelas

6
f) Kontrol kelas
Dalam bentuk konkrit kontrol dilakukan terhadap realisasi betul pengajaran,
disiplin guru dan disiplin murid, pelaksanaan tugas murid, partisipasi setiap
personal dalam program kelas dan lain-lain.
2. Penataan ruang dan alat pengajaran

Agar tercipta suasana belajar yang menggairahkan, perlu diperhatikan


pengaturan dan penataan ruang kelas atau belajar dan alat pengajaran. Penyusunan dan
pengukuran ruang belajar hendaknya memenuhi nggak enak duduk berkelompok dan
memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu siswa dalam belajar.

a. Pengaturan ruang belajar

Pengaturan tempat duduk ada beberapa bentuk tempat duduk di antaranya:

 Berbaris sejajar
 Individual
 Berbentuk lingkaran
 Pengelompokan yang terdiri atas 8 sampai 10 orang
 Setengah lingkaran seperti dalam teater
 Tersedianya ruang yang sifatnya bebas.

Dalam Belajar tempat duduk sangatlah berpengaruh titik tempat hidupnya


bagus, tidak terlalu besar, bundar, persegi empat panjang, sesuai dengan keadaan
tubuh siswa maka akan dapat belajar dengan tenang titik penulis berpendapat
bahwa sebaiknya yang pendek, yang terganggu pendengarannya dan terganggu
penglihatan yang ditempatkan di bagian depan paling tinggi yang ditempatkan di
bagian belakang.

b. Ventilasi dan pengaturan cahaya

Suhu, ventilasi dan penerangan adalah aset penting untuk terciptanya suasana
belajar yang nyaman. Oleh karena itu ventilasi harus cukup menjamin kebebasan
siswa.

7
c. Pengaturan penyimpanan barang
Menurut soehino Suparno seperti yang dikutip oleh Abdul Majid
mengemukakan kriteria yang harus dipenuhi ketika melakukan penataan fasilitas
ruang kelas sebagai berikut
1. Penataan ruangan dianggap baik apabila menunjuk efektivitas proses
pembelajaran yang salah satu penyebabnya adalah bahwa anak-anak belajar
dengan aktif dan dapat mengelola kelas dengan baik
2. Pernyataan tersebut bersifat fleksibel sehingga perubahan dari satu tujuan
tujuan yang lain dapat dilakukan dengan sedemikian rupa sehingga sesuai
dengan sifat kegiatan yang dituntut oleh Tujuan yang akan dicapai pada
waktu itu
3. Ketika anak belajar tentang suatu konsep maka ada fasilitas-fasilitas yang
dapat memberikan bantuan untuk memperjelas konsep tersebut
4. Penataan ruang dan fasilitas yang ada di kelas harus mampu membantu
siswa meningkatkan motivasi siswa untuk belajar sehingga mereka merasa
senang dalam belajar
d. Pengaturan alur alat pengajaran
 Perpustakaan kelas
- sekolah yang maju ada perpustakaan di setiap kelas
- peraturannya bersama-sama siswa
 Alat-alat peraga media pengajaran

Alat-alat peraga atau media pengajaran diletakkan di kelas agar


memudahkan Dalam penggunaannya dan pengaturannya bersama siswa-siswa

a. papan tulis, kapur tulis: ukurannya disesuaikan ,warnanya harus kontras


b. Papan presentasi siswa ditempatkan di bagian depan sehingga dapat
dilihat oleh semua siswa yang difungsikan sebagaimana mestinya
 Pendapat keindahan dan kebersihan kelas
a. hiasan dinding hendaknya dimanfaatkan untuk kepentingan pengajaran,
Misalnya burung garuda,, teks proklamasi, slogan pendidikan para
pahlawan dan peta atau globe

8
b. penempatan lemari untuk buku di depan, sedangkan alat peraga di
belakang
c. pemeliharaan kebersihan hendaknya siswa bergiliran untuk
membersihkan kelas.
 Kedisiplinan kelas

Dalam arti luas disiplin mencakup setiap macam pengaruh yang


ditunjukkan untuk membantu peserta didik agar dapat memahami dan
menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan juga penting tentang cara
menyelesaikan tuntutan yang mungkin ini ditunjukkan peserta didik terhadap
lingkungannya. Suatu keuntungan lain dari Disiplin adalah peserta didik didik
dengan pembiasaan yang baik positif dan bermanfaat bagi dirinya dan
lingkungannya.

B.PENGATURAN TEMPAT DUDUK SISWA DALAM BENTUK DENAH

Pengaturan tempat duduk paling populer di kebanyakan kelas adalah siswa


secara berderet menghadap ke papan tulis dan guru titik pada umumnya tempat
duduk siswa diatur menurut tinggi pendeknya siswa titik yang tinggi di belakang
yang pendek di depan titik pada situasi tertentu misalnya jika ada siswa yang tidak
dapat melihat jarak jauh atau pendengarannya kurang, atau jika banyak yang
membuat gaduh, siswa tersebut duduk di deretan paling depan tanpa menghiraukan
tinggi badannya.

Tipe pengaturan tempat duduk seperti ini tampaknya sangat baik untuk
pengajaran formal. Semua siswa duduk dalam deretan lurus dengan siswa yang
tertinggi duduk di belakang dan yang terpendek di depan. Papan tulis terletak di
muka semua siswa dan guru mengambil posisi tidak jauh dari papan tulis. Dengan
demikian papan tersebut mudah dicapai guru dan dapat dilihat oleh semua siswa.
Jenis pengaturan tempat duduk seperti ini juga memudahkan bergerak antara deretan
dan pengumpulan serta pembagian buku dan bahan lain.

9
Bila digambarkan maka tipe pengaturan tempat duduk tradisional seperti
tersebut diatas seperti yang dikemukakan Nurhadi adalah sebagai berikut

a. Denah tempat duduk pada umumnya (berbaris /berderet)

Gambar 1.1 Denah Penataan meja kursi klasik


Jenis pengaturan tempat duduk pada umumnya kandang-kandang
mengurangi kemampuan belajar siswa titik posisi guru membuat dirinya
mempunyai otoritas mutlak dan memberikan pengaruh langsung yang besar
kepada siswa akhirnya siswa menjadi terlalu tergantung Didik tidak ada
Kelompok kerja yang dapat dilakukan. Komunikasi antara siswa sangat terbatas.
b. Denah tempat duduk dengan pola berlompok

Gambar 1.2 Denah Tempat duduk pola berkelompok

10
Tipe atau pengaturan tempat duduk yang kedua adalah pola pengaturan
tempat duduk yang berkelompok pola ini mengatur tempat duduk secara
berkelompok. Siswa dapat berkomunikasi dengan mudah satu sama lain dan
tempat berpindah dari satu kelompok ke kelompok lainnya secara tak terbatas.
Pola ini lebih mudah bagi siswa untuk bekerja sama dan menolong satu sama
lain sebagai teman sebaya.
Kepemimpinan dan kerjasama merupakan dua unsur yang penting dari
hubungan kelas sebagai akibat dari pura tempat duduk ini. Bila anak perlu
mengerjakan tugas kelompok atau memecahkan masalah secara bersama-sama,
guru diserahkan memakai pola susunan tempat duduk berkelompok. Tempat
duduk dengan pola berkelompok ini adalah sebagai berikut
c. Denah tempat duduk dengan formasi tapal kuda

Gambar 1.3 Denah Tempat duduk formasi tapal kuda


Pada pola ini guru sebaiknya membatasi besarnya tiap kelompok agar tidak
lebih dari 6 anak titik perbatasan ini dapat mencegah adanya siswa yang
bersembunyi di belakang teman-teman lainnya dan tidak berpartisipasi penuh
dalam kegiatan kelompok. Kadang-kadang guru harus memutuskan sendiri
susunan kelompok siapa siapa yang menjadi anggotanya tetapi pada saat lain
siswa juga perlu diberi kesempatan mengurus diri sendiri menjadi anggota
kelompok yang sesuai dengan pilihannya.
Setiap kelompok harus ada pemimpinnya, namun sebaiknya kepemimpinan
dilakukan secara bergilir, sehingga setiap siswa sekurang-kurangnya

11
memperoleh kesempatan untuk memimpin.Dalam situasi ini otoritas guru
berperan dalam posisi terdesentralisasi titik dia hanya memberi bimbingan
kepada siswa. Pola pengaturan tempat putih yang ketiga ada pengaturan tempat
duduk formasi Tapal Kuda titik pada pola ini, posisi guru berada di tengah-
tengah siswanya.
Pola semacam ini dapat dipakai jika pelajaran banyak diterapkan diskusi
antara siswa dengan guru seperti ini menggarisbawahi otoritasku dan sekaligus
juga menyesalkan guru dari kelompok. Namun kelompok tetap dalam
pengawasan guru bagaikan sinar yang memancar ke setiap anggota kelompok
yang duduk dalam formasi ini.Hal ini juga memudahkan waktu pengaturan
berkonsultasi dan berkomunikasi. Demikian pula banyak membuang waktu jika
pengaturan seperti ini diubah menjadi pola berkelompok.
d. Pengaturan tempat duduk meja bundar

Gambar 1.4 Denah tempat duduk meja bundar

Pola pengaturan ke-4 adalah pola pengaturan tempat duduk Meja Bundar
dan persegi titik aturan semacam ini juga baik untuk mengajar yang disajikan
dengan diskusi titik bentuk formasinya bisa pulang atau bisa persegi titik
berbeda dengan pola Tapal Kuda, otoritas guru sama sekali tidak terpusat dan
kepemimpinan formal tidak berperan sama sekali titik hakikatnya nya dalam
pengetahuan seperti ini biasanya tidak ada pemimpin titik nggak ada yang harus
direkam atau didengarkan mata bentuk ini adalah yang paling baik.
Seandainya ada satu objek yang harus diperagakan atau Dalam pengajaran
olahraga,, seni tari pada saat guru memberi contoh gerakan-gerakan yang

12
diajarkan maka guru berada di tengah-tengah sehingga mudah dilihat dan di beri
komentar oleh semua siswa. Selama kegiatan kelas tertentu, baik sekali untuk
tidak membatasi siswa dengan tipe pengaturan tempat duduk yang khusus.
Siswa diperbolehkan dengan siswa Siapa saja yang ia pilih di manapun untuk
belajar dengan baik titik Di sini perlu ditekankan bahwa guru harus dapat
melihat apa yang terjadi di berbagai lokasi tempat duduk berada.

C.KELEBIHAN DAN KEKURANGAN TIAP FORMASI TEMPAT DUDUK

Berikut kelebihan dan kekurangan tiap formasi tempat duduk:

1. Tempat duduk siswa berpola baris/deret


 Kelebihan:
a. Siswa mampu di jangkau oleh pandangan guru,
b. kelas tampak lebih teratur dam rapi, dan
c. guru dapat mengawasi dari depan.
 Kekurangan:
a. Guru biasanya kurang memperhatikan siswa yang ada di belakang.
b. Siswa yang tempat duduknya dibelakang biasanya tidak dapat menerima
pelajaran secara maksimal.
2. Tempat duduk siswa berkelompok
 Kelebihan:
a. Siswa dapat mendiskusikan masalah belajarnya dengan siswa satu
kelompoknya dan dapat memaksimalkan kegiatan belajarnya dengan baik.
 Kekurangan:
a) Kondisi kelas biasanya ramai dan materi yang disampaikan tidak dapat
disampaikan secara maksimal dalam kondisi kelas yang demikian.
3. Tempat duduk siswa berbentuk Tapal kuda/setengah lingkaran
 Kelebihan:guru dapat menjangkau seluruh peserta didik sehingga pembelajaran
dapat maksimal. 
   Kekurangan : kondisi ini digunakan untuk kelas yang jumlah siswanya tidak
terlalu banyak.

13
4. Tempat duduk berbentuk Lingkaran dan persegi 
 Kelebihan:
a. Sistem ini dapat menyelesaikan permasalahan kelompok secara bersama dengan
peserta didik yang jumlahnya banyak,
b. dapat menjadikan mudah permasalahan yang dianggap berat/ sulit. 
 Kekurangan: Pembelajaran kurang efektif dalam penerimaan dan pemberian tugas,
karena siswa sekolah dasar umumnya lebih suka bermain.
D.PENGARUH KONDISI SOSIOEMOSIONAL TERHADAP PROSES DAN
HASIL BELAJAR

Kondisi sosio-emosional akan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap


proses belajar-mengajar, kegairahan siswa dan efektifitas tercapainya tujuan
pengajaran. Kondisi sosio-emosional tersebut meliputi hal-hal berikut ini.
a. Tipe kepemimpinan
Peranan guru, tipe kepemimpinan guru atau administrator akan mewarnai suasana
emosional di dalam kelas. Tipe kepemimpinan yang lebih berat pada otoriter akan
menghasilkan sikap siswa yang submissive atau apatis. Tetapi di pihak lain juga akan
menumbuhkan sikap yang agresif.
Dengan tipe kepemimpinan yang otoriter siswa hanya aktif kalau ada guru dan
kalau guru tidak mengawasi maka semua aktifitas menjadi menurun. Aktifitas proses
belajar mengajar sangat tergantung pada guru dan menuntut sangat banyak perhatian
guru. Tipe kepemimpinan yang cenderung pada laizer-fair biasanya tidak produktif
walaupun ada pemimpin. Kalau ada guru, siswa lebih banyak melakukan kegiatan
yang sifatnya ingin diperhatikan. Dalam kepemimpinan tipe ini malahan biasanya
aktifitas siswa lebih produktif kalau gurunya tidak ada. Tipe ini biasanya lebih cocok
bagi siswa yang “innerdirected” dimana siswa tersebut aktif, penuh kemauan
berinisiatif dan tidak selalu menunggu pengarahan.
Tipe kepemimpinan guru yang lebih menekankan kepada sikap demokratis lebih
memungkinkan terbukanya sikap persahabatan guru dan siswa dengan dasar saling
memahami dan saling mempercayai. Sikap ini dapat membantu menciptakan iklim
yang menguntungkan bagi terciptanya kondisi belajar-mengajar optimal. Siswa akan
belajar secara produktif baik pada saat diawasi guru maupun tanpa diawasi guru.

14
Dalam kondisi semacam ini biasanya problema manajemen kelas bisa diperkecil
sesedikit mungkin.
Menurut Centra,Dalam upaya menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang
optimal, guru harus menempatkan diri sebagai : modal, pengembangan, perencanaan,
pembimbing, dan fasilitator.Berikut penjelasannya:
1) Guru sebagai modal adalah guru yang tidak menuntut banyak disiplin kaku
melainkan sebagai modal. Ia mengharapkan dengan permodalan yang ditampilkan
dapat memberikan pengalaman dan keantusiasan belajar siswa.
2) Guru sebagai pengembang adalah guru yang ahli dalam melaksanakan tugas
dengan format yang benar dan tepat. Ia tidak membiarkan dan mengijinkan siswa
bolos atau malas tanpa alasan yang sah. Guru seperti ini suka mengadakan
penilaian terhadap segala bidang yang di kerjakan pada siswa.
3) Guru sebagai perencana adalah guru yang ahli dalam bidangnya, yang mengatur
kelas sebagai tata ruang belajar. Ia memiliki pengetahuan dan wawasan luas. Guru
ini beranggapan bahwa para siswa belajar kepadanya karena ingin mempelajari
sebanyak mungkin apa yang diketahui oleh guru.
4) Guru sebagai pembimbing adalah guru yang saling membelajarkan antara dirinya
dengan sesama dengan siswanya. Dia mengajar dalam sistem sosial yang dinamis
dan ia mengharapkan ada interaksi belajar antara diri dan siswanya.
5) Guru sebagai fasilitator adalah guru yang menyadari bahwa pekerjaannya
merespon tujuan para siswa sekalipun tujuan itu bervariasi, ia kurang menyenangi
apabila ada siswa yang mendapat kesulitan belajar. Ia banyak mendengar dan
bertanya kepada siswa dan ia menginginkan siswa dapat belajar dan mencapai
tujuan sesuai yang diharapkannya.

b. Sikap guru
Sikap guru dalam menghadapi siswa yang melanggar peraturan sekolah
hendaknya tetap sabar, dan tetap bersahabat dengan suatu keyakinan bahwa tingkah
laku siswa akan dapat diperbaiki. Kalaupun guru terpaksa membenci, bencilah tingkah
lakunya siswa dan bukan membenci siswanya itu sendiri. Berlakulah adil dalam
bertindak. Ciptakan satu kondisi yang menyebabkan siswa sadar akan kesalahannya
sehingga ada dorongan untuk memperbaiki kesalahannya.

15
c. Suara guru
Suara guru, bukanlah faktor yang besar tapi turut mempengaruhi dalam belajar.
Suara yang melengkung tinggi atau senantiasa tinggi atau demikian rendah sehingga
tidak terdengar oleh siswa secara jelas dari jarak yang agak jauh, ini mengakibatkan
suasana akan gaduh. Keadaan seperti itu, juga membosankan sehingga pelajaran
cenderung tidak perhatikan.  Suara yang relatif rendah tetapi cukup jelas dengan
volume suara yang penuh dan kedengarannya rileks akan mendorong siswa
memperhatikan pelajaran. Mereka akan lebih berani mengajukan pertanyaan,
melakukan percobaan sendiri, dan sebagainya.
d. Pembinaan hubungan baik
Pembinaan hubungan baik (report) antara guru dan siswa adalah hal yang sangat
penting. Dengan terciptanya hubungan baik guru-siswa, diharapkan siswa senantiasa
gembira, penuh gairah dan semangat, bersikap optimistik, realistik dalam kegiatan
belajar yang sedang dilakukannya serta terbuka terhadap hal-hal yang ada pada
dirinya.
E.

16
Daftar Pustaka

Mudasir.2011.Manajemen Kelas.Pekan Baru:Zanafa Publishing

Murtiasih,Diah.2019.Pengaruh Lingkungan fisik kelas terhadap motivasi belajar


siswa.Diambil dari https://media.neliti.com/media/publications/117309-ID-
pengaruh-lingkungan-fisik-kelas-dan-duku.pdf (diakses tanggal 13 Maret 2021
jam 06.58 WIB )

Didno.2019.Model-model denah tempat duduk siswa.Diambil dari


https://www.didno76.com/2019/08/model-model-denah-tempat-duduk-
siswa.html (diakses tanggal 13 Maret 2021 jam 07.30 WIB)

TeoriPendidikan.com.2014.Kondisi dan situasi belajar.Diambil dari


http://www.teoripendidikan.com/2014/05/makalah-kondisi-dan-situasi-
belajar.html (diakses tanggal 13 Maret 2021 jam 07.53 WIB)

Putri,Meisa.2019.Pengaturan Kondisi Fisik dan Penciptaan Iklim Belajar yang


Menunjang.Diambil dari https://id.scribd.com/document/438016293/Pengaturan-
Kondisi-Fisik-Dan-Penciptaan-Iklim-Belajar-Yang-Menunjang ( diakses tanggal
13 Maret 2021 jam 09.25 WIB)

17