Anda di halaman 1dari 5

Hari/ Tanggal : 22 Agustus 2020

Nama Pemateri : Dhafii Armanda

Materi : Kontruksi Bangunan Listrik Pengendalian Kebakaran


Nama : Mukhlis Dwi Tanto

Hasil Resume :

KONTRUKSI
K3 adalah Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan pengertian pemberian
perlindungan kepada setiap orang yang berada di tempat kerja, yang berhubungan dengan
pemindahan bahan baku, penggunaan peralatan kerja konstruksi, proses produksi dan
lingkungan sekitar tempat kerja. Kegiatan Konstruksi merupakan unsur penting dalam
pembangunan yang dalampelaksanaan kegiatan konstruksi tersebut menimbulkan berbagai
dampak yang tidak dinginkanantara lain yang menyangkut aspek keselamatan dan kesehatan
kerja.
Di Indonesia ada beberapa pedomana penerapan SMK3 Konstruksi salah satunya adalah
PP No 50 tahun 2012. Peraturan tersebut berisi tentang peraturan SMK3 Sistem Manajemen K3
di perusahaan konstruksi, khususnya Kontraktor Jasa Konstruksi adalah masalah Keselamatan
dan Kesehatan Kerja (K3) secara umum di Indonesia masih sering terabaikan.
Hazard, disebut juga potensi bahaya, ialah suatu keadaan yang memungkinkan atau
dapat menimbulkan terjadinya kecelakaan atau kerugian berupa cedera, penyakit, atau
kerusakan benda dan lingkungan sekitar.
Danger, disebut juga tingkat bahaya, merupakan ungkapan adanya potensi bahaya
secara relatif. kondisi berbahaya mungkin saja ada, akan tetapi dapat menjadi tidak begitu
berbahaya karena telah dilakukan beberapa tindakan pencegahan atau antisipasi.
Accident adalah kejadian yang merupakan hasil dari serangkaian kejadian yang tidak
direncanakan/ tidak diinginkan/ tak terkendalikan/ tak terduga yang dapat menimbulkan segala
bentuk kerugian baik materi maupun non materi baik yang menimpa diri manusia, benda benda
fisik berupa kekayaan atau aset, lingkungan hidup, masyarakat luas.
Accident dibedakan dengan „incident‟. Perbedaan antara keduanya adalah ada atau
tidaknya loss (kerugian). Accident selalu disertai dengan timbulnya kerugian, sedangkan
incident tidak disertai dengan kerugian.
Incident adalah mirip dengan accident, namun bedanya adalah incident tidak disertai
dengan kerugian. Yang termasuk kedalam kategori incident adalah: nearmiss, dan kejadian-
kejadian berbahaya.
Sumber bahaya dengan potensi tinggi akan meningkatkan bahaya baik dari sifat cara
dan proses produksi serta lingkungan kerja dengan risiko kecelakaan yang lebih besar kalau
tidak diadakan upaya pengendaliannya.Pelaksanaan prosedur K3 dalam pekerjaan konstruksi
bangunan telah diatur dengan berbagai aturan yang secara jelas memberikan batasan-batasan
dalam pekerjaan kosntruksi agar pekerjaan konstruksi berjalan dengan baik tanpa menimbulkan
bahaya. Prosedur K3 juga telah memberikan langkah-langkah dalam mencegah dan menangani
bahaya dan kecelakaan dalam proyek kosntruksi.
KEBAKARAN
Kebakaran – adalah api yang tidak dikehendaki. Boleh jadi api itu kecil, tetapi apabila
keberadaannya tidak dikehendaki adalah termasuk kebakaran. Hampir terbakarpun artinya
adalah kebakaran.
Penanggulangan Kebakaran – adalah segala upaya untuk mencegah timbulnya
kabakaran dengan berbagai upaya pengendalan setiap perwujudan energi, pengadaan sarana
proteksi kebakaran dan sarana penyelamatan serta pembentukan organisasi tanggap darurat
untuk memberantas kebakaran
Sistem proteksi kebakaran aktif adalah :
Sistem proteksi kebakaran yang secara lengkap terdiri atas sistem pendeteksian
kebakaran baik manual ataupun otomatis, sistem pemadam kebakaran berbasis air seperti
springkler, pipa tegak dan slang kebakaran, serta sistem pemadam kebakaran berbasis bahan
kimia, seperti APAR dan pemadam khusus.
Sistem proteksi kebakaran pasif adalah :
Sistem proteksi kebakaran yang terbentuk atau terbangun melalui pengaturan
penggunaan bahan dan komponen struktur bangunan, kompartemenisasi atau pemisahan
bangunan berdasarkan tingkat ketahanan terhadap api, serta perlindungan terhadap bukaan.
Peraturan Dan Standar Teknis K3 Penanggulangan Kebakaran
Pengendalian Energi; Permenaker 12/2015, K3 Listrik, Permenaker 02/89, Proteksi Petir, Kep.
Menaker Kep. 187/1999, Bahan Kimia Berbahaya, Sarana Proteksi Kebakaran, Permenaker
04/80, Apar. Permenaker 02/83, Alarm Kebakaran, Instruksi Menaker 11/1997 Pengawasan
Khusus K3.
Penanggulangan Kebakaran : Pedoman Fire Rating, Pedoman Springkler, Standar Bangunan
Indonesia.
Manajemen K3 Permenaker 04/87, P2k3 Peraturan Pemerintah No. 50/2012, Smk3 Kep.
Menaker Kep. 186/Men/1999 Unit Penanggulangan Kebakaran Di Tempat Kerja Listrik.
Ruang Lingkup K3 Listrik, Undang undang No 1 tahun 1970 Keselamatan Kerja Pasal 2 ayat
(2) huruf q yaitu Setiap tempat dimana listrik dibangkitkan, ditransmisikan, dibagi-bagikan,
disalurkan dan digunakan.
Tujuan K3 Listrik
1. Menjamin kehandalan instalasi listrik sesuai tujuan penggunaannya.
2. Mencegah timbulnya bahaya akibat listrik; bahaya sentuhan langsung, bahaya sentuhan
tidak langsung, bahaya kebakaran
Kebakaran listrik terjadi karena Pembebanan lebih, Sambungan tidak sempurna, Perlengkapan
tidak standar,Pembatas arus tidak sesuai, Kebocoran isolasi, Listrik statik, Sambaran petir
Jenis-jenis kecelakaan listrik:
 Cidera atau kematian akibat sentuhan arus kejut / Electrical shock
 Kebakaran / Terbakar
 Jatuh dari ketinggian
Yang harus dilakukan ketika terjadi kebakaran listrik adalah
• Jika terlihat asap di peralatan listrik, segera tekan switch off / matikan arus listrik
peralatan tersebut.
• Matikan aliran listrik ke ruangan dimana terjadi kebakaran listrik.
• Jangan membuka “electrical cabinet” yang terbakar apabila belum disiapkan alat
pemadam yang sesuai.
• Orang yang tidak berkepentingan harus segera meninggal-kan ruangan.
• Singkirkan barang-barang lain yang memungkinkan terja-dinya penyebaran kebakaran.
• Gunakan pemadam yang sesuai.
Proteksi Sambaran Petir
Perlindungan Sambaran Langsung
• Dengan memasang instalasi penyalur petir pada
• bangunan
• Jenis instalasi :
- Sistem Franklin
- Sistem Sangkar Faraday
- Sistem Elektro static
Perlindungan Sambaran Tidak Langsung
• Dengan melengkapi peralatan penyama tegangan pada jaringan instalasi
listrik (Arrester)
1. Instalasi petir: Pemeriksaan dan pengujian instalasi penyalur petir dilakukan oleh
pegawai, pengawas, ahli keselamatan kerja dan atau jaksa inpeksi. Pengurus atau pemilik
instalasi petir berkewajiban membantu pelaksanaan dan pengujian yang dilakukan oleh
pengawas, ahli keselamatan kerja atau jasa inpeksi yang ditunjuk untuk penyediaan alat
bantu.

Listrik: Pemeriksaan merupakan kegiatan penilaian dan pengukuran terhadap instalasi


perlengkapan, dan peralatan listrik untuk memastikan terpenuhinya standar peraturan
perundang-undangan. Pengujian merupakan kegiatan penilaian, perhitungan, pengetesan,
dan pengukuran terhadap instalasi, perlengkapan listrik untuk memenuhi standar
kelistrikan dan peraturan perundang-undangan. Pemeriksaan dan pengujian dimulai dari
tahap perencanaan, pemasangan, penggunaan, perubahan, pemeliharaan untuk kegiatan
pembangkitan, transmisi distribusi, dan pemanfaatan listrik. Pemeriksaan dan pengujian
mengacu pada bidang kelistyrikan dan peraturan perundang-undangan.

Elevator: Pemeriksaan merupakan kegiatan mengamati, menganalisis, membandingkan,


menghitung, dan mengukur elevator atau elevator untuk memastikan terpenuhinya
ketentuan. Pengujian merupakan kegiatan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dan
semua tindakan pengetasan kemampuan operasi, bahan dan konstruksi elevator dan
eskalatotor untuk memenuhi standar dan undang-undang.

2. Permenaker RI nomor 6 tahun 2017 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Elevator
Dan Eskalator. Bab V Pemeriksaan dan Pengujian, Pasal 69

- Pasal 69 ayat 1 Pemeriksaan untuk elevator dan eskalator

Pemeriksaan merupakan kegiatan mengamati, menganalisis, membandingkan,


menghitung, dan mengukur Elevator atau Eskalator untuk memastikan terpenuhinya
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3).

- Pasal 69 ayat 2 Pengujian untuk elevator dan eskalator

Pengujian merupakan kegiatan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
semua tindakan pengetesan kemampuan operasi, bahan, dan konstruksi Elevator atau
Eskalatoruntuk memastikan terpenuhinya ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
2 ayat (3).
B. Permenakertrans nomer 12 tahun 2015 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Listrik
di Tempat Kerja. Bab IV Pemeriksaan dan Pengujian, Pasal 9

- Pasal 9 ayat 1

Pemeriksaan merupakan kegiatan penilaian dan pengukuran terhadap instalasi,


perlengkapan dan peralatan listrik untuk memastikan terpenuhinya standar bidang
kelistrikan dan ketentuan peraturan perundangundangan

- Pasal 9 ayat 2

Pengujian merupakan kegiatan penilaian, perhitungan, pengetesan dan pengukuran


terhadap instalasi, perlengkapan dan peralatan listrik untuk memastikan terpenuhinya
standar bidang kelistrikan dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

3. Petugas yang berwenang untuk melakukan pemeriksaan dan pengujian


Permenaker RI nomor 6 tahun 2017 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Elevator
Dan Eskalator. Bab V Pemeriksaan dan Pengujian, Pasal 77
Pemeriksaan dan/atau pengujian dilakukan oleh:
a. Pengawas Ketenagakerjaan Spesialis
b. Ahli K3 bidang Elevator dan Eskalator.
Permenakertrans nomer 12 tahun 2015 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Listrik di Tempat Kerja. Bab IV Pemeriksaan dan Pengujian, Pasal 10
Pemeriksaan dan pengujian dilakukan oleh:
a. Pengawas Ketenagakerjaan Spesialis K3 Listrik;
b. Ahli K3 bidang Listrik pada Perusahaan;
c. Ahli K3 bidang Listrik pada PJK3.

Petir (Permenaker 02/89 Pasal 51 ttg Pengawasan Instalasi Penyalur Petir) Pegawai
pengawas atau ahli keselamatan kerja atau jasa inspeksi yg ditunjuk