Anda di halaman 1dari 5

Pertemuan: LEMBARAN KERJA 10 SKS : 3

12 Kode :
Hari/ Tanggal: MATA KULIAH PENGANTAR MANAJEMEN Waktu: 60’
Rabu/25 November
2020
Materi: Kelompok kerja dan komunikasi dalam organisasi
Indikator Capaian : Mampu mengkoordinasikan kelompok kerja melalui komunikasi yang efektif
dalam organisasi

Soal.
1. Menurut Anda bagaimana cara mewujudkan kelompok kerja yang efektif dan apa saja manfaat
yang didapat dari komunikasi dalam organisasi serta bagaimana pola komunikasi dalam
struktur organisasi?
Jawaban:
1. Menurut Saya, Cara Mewujudkan Kelompok Kerja Yang Efektif yaitu dengan cara:
 Membangun kepercayaan dan saling menghormati

 Mengatur ekspektasi bersama


 Pemimpin tim yang dapat memfasilitasi komunikasi diantara anggota tim
 Menanamkan sikap saling memiliki dalam kelompok (Sense of belonging)
 Melihat sisi positif dari perbedaan pendapat
 Pengkajian performa tim dan umpan balik

manfaat yang didapat dari komunikasi dalam organisasi:

 Clear Expectations
Komunikasi yang efektif membantu menerapkan harapan yang jelas untuk karyawan, dan
mungkin pelanggan juga. Bagi karyawan, harapan yang jelas akan menunjukkan bagaimana
kinerjanya akan berdampak pada perusahaan dan memberikan indikasi tentang apa yang harus
dilakukan untuk dapat mencapai feedback yang positif. Bagi pelanggan, komunikasi yang jelas
dapat membantu mengelola ekspektasi mereka tentang masalah layanan, produk atau bahkan
bagaimana cara terbaik untuk mereka berkomunikasi dengan organisasi.

 Increases Customer Satisfaction
Bila komunikasi efektif di sebuah organisasi sudah menjadi budaya, maka tidak heran
jika pelanggan memiliki pengalaman yang lebih memuaskan untuk berbisnis dengan
organisasi/perusahaan. Perlakuan yang profesional dihadapan pelanggan akan menjadi nilai lebih di
mata pelanggan, sehingga mereka akan membagikan pengalaman tersebut dengan orang lain, yang
tentu saja ini dapat menguntungkan bagi organisasi/perusahaan.

 Increases Productivity
Bila karyawan mendapatkan informasi yang mereka butuhkan untuk melakukan pekerjaan mereka,
maka pekerjaan tersebut dapat diselesaikan lebih cepat. Komunikasi yang efektif meminimalkan
kesalahpahaman yang dapat membuang-buang waktu pekerjaan.

 Managing Diversity
Saat ini organisasi pasti memiliki beragam tenaga kerja dari campuran ras, kebangsaan, jenis
kelamin atau kepercayaan yang berbeda satu sama lain. Sehingga sangat rentan
terjadi diskriminasi pada kaum minoritas, jika peraturan mengenai promosi dan
penilaian kinerja karyawan tidak jelas. Kebijakan yang jelas dapat menguraikan bagaimana
perusahaan menerapkan reward dan penalty pada karyawannya. Panduan yang jelas dalam
memberitahu pada karyawan mengenai bagaimana memperlakukan satu sama lain dapat membatu
menghindari konflik yang tidak diinginkan.

 Dealing With Problems


Komunikasi yang buruk dapat menimbulkan berbagai macam masalah. Keterampilan komunikasi
yang baik dapat mengatasi masalah, atau lebih baik mencegahnya di awal.

 Strong Relationship
Komunikasi yang efektif dapat membangun hubungan yang kuat. Kepercayaan dan kesetiaan
adalah faktor kunci di dalam hubungan dan keduanya di dorong oleh komunikasi yang berfokus
pada pemenuhan kebutuhan individu, menyampaikan informasi yang penting dan
memberikan feedback positif

 Ideas and Innovation
Komunikasi yang diadakan secara terbuka dapat menghasilkan ide dan inovasi baru pada sejumlah
bidang. Karyawan yang kreatif dan mengetahui seberapa pentingnya perusahaan, mereka dapat
berfokus untuk melakukan perbaikan dan melihat peluang untuk terus melakukan inovasi yang
dapat ikut berkontribusi dalam kesuksesan perusahan/organisasinya.

 Strong Teamwork
Komunikasi organisasi yang efektif akan menghasilkan kerja sama tim yang kuat dan kemampuan
karyawan di seluruh divisi/tingkat organisasi untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan
organisasi.

pola komunikasi dalam struktur organisasi, antara lain:


Dalam dunia usaha dewasa ini gaya di mana penyampaian informasi dapat dipahami dan dapat
mengalir lebih cepat. Suatu kemacetan yang sangat singkat sekalipun dalam komunikasi organisasi
yang bergerak cepat menyebabkan kerugian besar karena hilangnya output. Yang sebenarnya
diperlukan bukanlah informasi lebih banyak, tetapi informasi yang relevan. Dengan demikian,
informasi dalam komunikasi organisasi perlu pertimbangan bersama agar pengambilan keputusan
lebih efektif.
Jaringan komunikasi mempunyai karakteristik lain, yang bisanya disebut dengan pola atau bentuk.
Pola atau bentuk jaringan ini mempengaruhi kinerja organisasi. Sentralitas menunjukkan pada
tingkat di mana suatu kelompok berpurat di sekitar satu orang. Posisi yang paling sentral adalah
seseorang yang berinteraksi dengan semua atau sebagian besar anggota organisasi. Pola atau struktur
komunikasi sentralisasi akan efisien untuk tugas bersifat komplek.
Seorang individu pada satu saat tertentu hanya dapat menangani sejumlah informasi tertentu, dan
dalam tugas komplek seseorang akan kelebihan informasi, yang disebut dengan kejenuhan informasi.
Secara umum terdapat beberapa pola atau struktur komunikasi dalam organisasi, yaitu: bentuk roda,
Y, lingkaran, rantai, dan informasi untuk semua arah (Barker, 1981: 220) dikutip dari buku (Haryani,
Sri, 2001: 45). Secara rinci akan dibahas sebagai berikut:

1) Roda
Pola roda merupakan komunikasi dengan dua saluran, di mana setiap karyawan akan mengirim dan
menerima pesan ke pusat komunikasi, dan pusat komunikasi akan menerima serta mendistribusikan
informasi yang diterimanya. Pada contoh bentuk roda ini, atasan biasanya merupakan sumber
komunikasi, ia dapat mengirimkan informasi ke semua bawahannya. Masing-masing bawahan dapat
mengirim pesan jaringan yang menggambarkan situasi di mana kedua anggota pada bagian ujung
rantai hanya dapat berkomunikasi dengan orang di antara mereka dan orang yang berada di pusat.
Dengan demikian, kedua orang yang berada di tengah-tengah menyampaikan informasi ke atas.
Jaringan ini dapt dipandang sebagai sentralisasi informasi, tetapi dengan kadar sentralisasi lebih
rendah dibandingkan dengan jaringan roda.
Pola komunikasi tersebut jelas mempunyai dampak terhadap organisasi. Jaringan komunikasi yang
desentralisasi seperti yang diilustrasikan dengan bentuk roda dan rantai boleh jadi cocok untuk
menghimpun informasi guna menanggulangi masalah-masalah rutin. Untuk menghindarkan
komunikasi yang tidak diperlukan, figur sentral juga memiliki kesempatan besar untuk mempengaruhi
yang lain dan untuk mempraktikkan keorganisasian.
Jaringan komunikasi mempunyai karakteristik lain, yang biasanya disebut dengan pola atau bentuk.
Pola atau bentuk jaringan ini mempengaruhi kinerja organisasi. Sentralisasi menunjukkan pada
tingkat di mana suatu kelompok berpurat di sekitar satu orang. Posisi yang paling sentral adalah
seseorang yang berinteraksi dengan semua atau sebagian besar anggota organisasi. Pola atau struktur
komunikasi sentralisasi akan efisien untuk tugas bersifat komplek.
Seorang individu pada saat-saat tertentu hanya dapat menangani sejumlah informasi tertentu, dan
dalam tugas-tugas yang komplek seseorang akan kelebihan informasi, yang disebut dengan kejenuhan
informasi. Ke atas tersebut, namun tidak dapat mengirim dan menerima pesan langsung dari
karyawan.
2) Y
Pada pola Y ini pusat komunikasi tidak dapat berkomunikasi langsung dengan seluruh individu, tetapi
ada individu yang komunikasinya harus melalui individu lain.
3) Rantai (Chain)
Pola rantai hampir sama dengan pola lingkaran, hanya saja di sini ada dua individu yang berada di
akhir jaringan, sehingga hanya dapat mengirim dan menerima pesan dari satu posisi.
4) Lingkaran
Pola komunikasi lingkaran memungkinkan masing-masing individu untuk mengirim pesan ke sebelah
kiri atau ke sebelah kanannya. Namun demikian individu tidak dapat mengirim dan menerima pesan
secara langsung ke seluruh karyawan.
5) Formasi Semua Arah
Pada jaringan semua arah, semua individu pada semua posisi dimungkinkan untuk mengirim dan
menerima informasi ke segala arah. Jaringan, struktur, pola ini digunakan untuk menentukan tipe
interaksi antara individu dalam perusahaan.
Perkembangan komunikasi sejalan dengan kemajuan suatu masyarakat. Pada masyarakat yang telah
maju seperti Amerika, maka bidang ilmu komunikasi ini mendapat perhatian yang relatif besar. Hal ini
ditunjukkan dengan banyaknya universitas yang membuka jurusan komunikasi, banyak penelitian-
penelitian mengenai komunikasi, serta berkembangnya produk teknologi yang mendukung
komunikasi seperti: televisi, telepon, internet, dan satelit.
Di Indonesia, pada awalnya pemahaman tentang komunikasi ini belum mendapatkan perhatian dari
masyarakat. Namun dengan berkembangnya perekonomian dan masyarakat pada umumnya, maka
perhatian terhadap komunikasi menjadi sangat besar pula. Lebih dari itu, dalam era globalisasi, di
mana batasan-batasan dunia menjadi kabur, maka perkembangan komunikasi tidak dapat dibendung
lagi. Orang-orang di benua yang berbeda dapat berkomunikasi dengan cepat. Selain itu tersedia
banyak pilihan komunikasi.
Ilmu komunikasi berkembang dari retorika, yang berasal dari Yunani. Retorika kemudian secara
sistematis dan metodologis dipelajari, diteliti, dan dipraktikkan oleh Socrates, Plato, Aristoteles,
kemudian dilanjutkan oleh Demosthenes, dan Cicero (Effendy, 2002:9). Publisistik itu sendiri berasal
dari kata publizistek, yang berarti ilmu persuratkabaran. Publisistik ini pada awalnya berkembang di
Eropa.
Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata latin communicatio,
dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama di sini maksudnya adalah sama makna.
Menurut Carl I. Hovlan menyebutkan secara jelas bahwa ilmu komunikasi merupakan suatu upaya
sistematis untuk merumuskan secara tegas prinsip-prinsip, dan atas dasar tersebut disampaikan
informasi serta terbentuk pendapat dan sikap. (Hovland dalam Effendy, 2002:6).
Selain menurut (Webster’s New World Dictionary, 1996:282) dikutip dari buku (Haryani, Sri, 2001:5)
komunikasi adalah sebagai seni untuk mengekspresikan ide-ide khususnya melalui kata-kata atau
tulisan, merupakan ilmu pengiriman atau penyampaian informasi melalui simbol-simbol.
Menurut Harold D. Laswel yang terkenal dalam bidang komunikasi menerangkan bahwa komunikasi
adalah (Effendy, 2002:13) dikutip dari buku (Haryani, Sri, 2001:6):

a. Siapa yang mengatakan

b. Dengan/melalui saluran apa

c. Kepada siapa

d. Dengan efek/pengaruh apa


Akan tetapi, pengertian komunikasi yang dipaparkan di atas sifatnya dasariah, dalam arti bahwa
komunikasi itu minimal harus mengandung kesamaan makna antara dua belah pihak yang terlibat.
Dikatakan minimal karena kegiatan komunikasi tidak hanya informati, yaitu agar orang lain mengerti
dan tahu, tetapi juga persuasif, yaitu agar orang lain bersedia menerima suatu paham atau keyakinan,
melakukan suatu perbuatan atau kegiatan, dan lain-lain.
Di antara para ahli sosiologi, ahli psikologi, dan ahli politik di Amerika Serikat, yang menaruh minat
pada perkembangan komunikasi adalah Carl I. Hovland. Menurut Carl I. Hovland, ilmu komunikasi
adalah “Upaya yang sistematis untuk merumuskan secara tegar asa-asas penyampaian informasi serta
pembentukan pendapat dan sikap.
Untuk memahami pengertian komunikasi sehingga dapat dilancarkan secara efektif, para peminat
sering mengutip paradigma yang dikemukakan oleh Harold Lasswell dalam karyanya, The Structure
and Function of Communication in Society.
Paradigma Lasswell di atas menunjukkan bahwa asas komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban
dari pertanyaan yang diajukan itu, yakni, (Lasswell, 1990:10) dikutip dari buku (Effendy, 2002:10):

1. Komunikator (communicator, source, sender)

2. Pesan (message)

3. Media (Channel, media)

4. Komunikan (receiver, communication)

5. Efek (effect, impact)


Jadi, berdasarkan paradigma Lasswell tersebut, komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh
komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu.
Lasswell menghendaki agar komunikasi dijadikan objek studi ilmiah, bahkan setiap unsur diteliti
secara khusus. Studi mengenai komunikator dinamakan control analysis; penelitian mengenai pers,
radio, televisi, film, dan media lainnya. Sedangkan effect analysis merupakan penelitian mengenai efek
atau dampak yang timbul oleh komunikasi. Demikian kelengkapan unsur komunikasi menurut  Harold
Lasswell yang mutlak harus ada dalam prosesnya.
Sedangkan menurut, Wexley dan Yukl antara lain mengatakan: “Communication can be defined as the
transmission of information between two or more persons.” Artinya: “Komunikasi dapat diberikan
definisi sebagai pengiriman informasi antara dua orang atau lebih.” (Wexley and Yukl, 1981:24)
dikutip dari buku (Effendy, 2002:4).
Sedangkan menurut, Mc. Farland memberikan definisi sebagai berikut: “Communication may be
defined as the process of meaningful interacition amon human being.” Komunikasi dapat
didefinisikan sebagai interaksi atau proses hubungan saling pengertian antar manusia. (Carl
I. Hovland, 1996: 114) dikutip dari buku (Effendy, 2002: 9)
Elliot Jaques memberikan definisi sebagai berikut, “Communication is the sumtotal of directly and
indirectly conscously and unconscously transmitted feeling, attitudes, and wishes.” Artinya kurang
lebih sebagai berikut, “Komunikasi adalah penyampaian berbagai macam perasaan, sikap, dan
kehendak, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik secara sadar maupun tidak sadar.
(Effendy, 1996:1) dikutip dari buku (Haryani, Sri, 2001:5).
Dari beberapa definisi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa komunikasi adalah suatu proses
penyampaian informasi dari satu pihak kepada pihak lain untuk mendapat saling pengertian.
 
Nama : Any Syahputri Nilai :
NIM : 7201220006
Prodi : Akuntansi Paraf Dosen:
Kelas : A

Anda mungkin juga menyukai