Anda di halaman 1dari 33

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

2.1 Kajian Pustaka


2.1.1 Konsep Kebiasaan Belajar
2.1.1.1 Pengertian Kebiasaan Belajar
Surya mendefenisikan kebiasaan sebagai suatu cara individu untuk suatu
masa tertentu, tingkah laku yang menjadi kebiasaan tidak memerlukan fungsi
berpikir yang cukup tinggi karena sifatnya yang sudah relatif menetap
[CITATION Nur11 \p 12 \t \l 1033 ]. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,
kebiasaan didefenisikan sebagai cara atau adat kebiasaan; perbuatan (kelakuan)
yang sudah menjadi kebiasaan [ CITATION Dep95 \l 1033 ]. Kebiasaan belajar
merupakan cara bertindak yang diperoleh melalui belajar berulang-ulang yang
pada akhirnya menjadi menetap dan otomatis [CITATION Dja09 \p 128 \t \l 1033
].
Kebiasaan terbentuk melalui enam tahapan yang diungkapkan oleh Elfiky
[CITATION Elf08 \p 88 \n \t \l 1033 ] mengemukakan bahwa “kebiasaan
terbentuk melalui enam tahapan yaitu berfikir, perekaman, pengulangan,
penyimpanan, pengulangan, dan kebiasaan”. Lebih lanjut Elfiky menjelaskan,
dalam tahapan berfikir seseorang memikirkan sesuatu, memberi perhatian, dan
berkonsentrasi padanya. Selanjutnya, tahap perekaman adalah ketika seseorang
memikirkan sesuatu dan otaknya merekam. Dalam tahap pengulangan, seseorang
memutuskan untuk mengulang perilaku yang sama dengan perasaan yang sama.
Setelah mengulang, seseorang akan menyimpannya dalam file dan
menghadirkanya setiap kali menghadapi kondisi serupa. Terakhir tahap
pengulangan, dalam tahap ini, disadari atau tidak, seseorang mengulang kembali
perilaku yang tersimpan kuat di dalam akal bawah sadarnya.
Kebiasaan belajar merupakan prediktor dari perilaku saat ujian. Kemudian
lebih lanjut dijelaskan bahwa sebaiknya para praktisi pendidikan terutama
konselor harus menggunakan ukuran kebiasaan belajar siswa sebagai indikator
saat terjadi malpraktek pada ujian. Tindak lanjut dari kegiatan tersebut adalah

13
pelayanan bimbingan dan konseling yang proaktif pada mereka sebelum mereka
mengikuti ujian[CITATION Oss11 \p 23 \t \l 1033 ].

14
14

Pendapat yang sama disampaikan oleh Azikiwe dalam Deniz [CITATION


Den13 \p 288 \n \t \l 1033 ] “describes study habits as the way and manner a
student plans his or her private reading outside lecture hours in order to master a
particular subject or topic”.
Kebiasaan belajar adalah perilaku belajar seseorang yang telah tertanam
dalam waktu yang relatif lama sehingga memberikan ciri dalam aktivitas belajar
yang dilakukannya [CITATION Aun11 \p 185 \t \l 1033 ]. Senada dengan yang
dikemukakan oleh Rahayu [CITATION Rah15 \p 43 \n \t \l 1033 ] bahwa
kebiasaan belajar merupakan cara atau metode yang dilakukan seseorang secara
berulang-ulang dan relatif tetap dimana cara tersebut sebagai bentuk upaya untuk
mencapai tujuan yang dicita-citakan.
Siagian [CITATION Sia12 \p 126 \n \t \l 1033 ] menyatakan:
Kebiasaan adalah serangkaian perbuatan seseorang secara berulang-ulang
untuk hal yang sama dan berlangsung tanpa proses berfikir lagi.
Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat dipahami bahwa kebiasaan
belajar merupakan serangkaian tingkah laku yang dilakukan secara
konsisten/berulang oleh siswa dalam kegiatan belajarnya. Dengan kata lain
kebiasaan belajar merupakan prilaku siswa yang ditunjukkan secara
berulang tanpa proses berfikir lagi dalam kegiatan belajar yang
dilakukannya.
Senada dengan yang disampaikan oleh Kurjono [CITATION Kur10 \p 134
\n \t \l 1033 ] yang mengemukakan bahwa kebiasaan belajar adalah aktivitas
yang dilakukan oleh individu secara berulang-ulang, spontan dan otomatis untuk
mencapai hasil belajar. Hal yang sama juga disampaikan oleh Mishad
[CITATION Mis17 \p 123 \n \t \l 1033 ] bahwa kebiasaan adalah suatu hal yang
terdapat dari dalam diri peserta didik yang dilakukan secara tetap dan berulang-
ulang.
Dari berbagai pendapat ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
kebiasaan belajar adalah cara atau teknik yang menetap para diri siswa karena
dilakukan berulang-ulang dan terus menerus dalam kegiatan belajar sehingga bisa
menjadi ciri dari kegiatan belajar.

2.1.1.2 Manfaat Kebiasaan Belajar


Laird [CITATION Gie95 \p 194 \t \l 1033 ] mengemukakan beberapa
manfaat dari adanya kebiasaan belajar sebagai berikut:
15

1) Penghematan waktu (economy of time)


Kebiasaan dapat banyak menghemat waktu dalam mengerjakan sesuatu atau
memakai pikiran. Penghematan waktu berarti tersedianya waktu yang longgar
untuk belajar. Tidak itu saja, waktu yang seketika terus dipakai untuk belajar
(karena tidak berpikir atau ragu-ragu terlebih dahulu).
2) Meningkatkan efisiensi manusia (human efficiency)
Kebiasaan melakukan sesuatu secara otomatis akan membebaskan pikiran
sehingga dapat dipakai untuk tujuan lain pada saat yang sama.
3) Membuat seseorang menjadi lebih cermat
Suatu kegiatan yang telah begitu tertanam dalam pikiran seseorang dan
demikian terbiasa dikerjakannya akan terlaksana secara lebih cermat daripada
aktivitas yang masih belum terbiasa.
4) Membantu seseorang menjadi ajeg
Dengan kebiasaan belajar yang baik kondisi belajar akan terjaga. Emosi,
mental dan semangat belajar akan lebih terkendali karena situasi belajar yang
tertata.
Penjelasan di atas menggambarkan bahwa pada dasarnya sebuah kebiasaan
dalam kegiatan belajar akan mendatangkan manfaat yang dapat menguntungkan
bagi hasil yang akan didapatkan oleh siswa dalam belajar.

2.1.1.3 Peranan Kebiasaan Belajar


Menurut Gilmer kebiasaan belajar cenderung menguasai perilaku siswa
pada setiap kali mereka melakukan kegiatan belajar. Sebabnya ialah karena
kebiasaan mengandung motivasi yang kuat, “…habits dominate much of our
behavior because we are strongly motivated to behave now and in the future as
we have behave in the past” [CITATION Dja09 \p 128 \t \l 1033 ].
Pada umumnya setiap orang akan bertindak berdasarkan force of habit
sekalipun ia tahu bahwa ada cara lain yang lebih menguntungkan. Hal ini
disebabkan oleh kebiasaan sebagai cara yang mudah dan tidak memerlukan
konsentrasi, perhatian yang besar dan memberikan kesenangan. Sesuai dengan
law of effect dalam belajar, perbuatan yang menimbulkan kesenangan cenderung
untuk diulang. Oleh karenanya tindakan atas dasar kebiasaan bersifatkan
mengukuhkan (reinforcing).
16

Proses belajar dapat berhasil karena faktor siswa sudah terbiasa untuk
belajar. Siswa yang mempunyai kebiasaan belajar yang baik akan mampu
mengikuti proses belajar dengan baik pula [CITATION Dew \p 109 \t \l 1033 ].
Siswa yang selalu bangun pagi, lalu belajar sebelum berangkat ke sekolah dan
selalu mengerjakan tugas dengan tepat waktu akan berhasil dalam proses
belajarnya karena sudah menjadi kebiasaan yang baik dalam dirinya.
Selanjutnya Rosyida, Utaya & Budijanto [CITATION Ros161 \n \t \l
1033 ] mengemukakan:
Kebiasaan belajar baik akan membawa pengaruh positif bagi siswa, seperti
pembuatan jadwal belajar yang dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan
sendiri. Dengan terbiasa belajar setiap hari, siswa dapat mengulangi bahan
pelajaran yang telah diberikan oleh guru pada hari itu juga. Pengulangan
yang dilakukan siswa terus-menerus membuat mereka lebih memahami
pelajaran bahkan untuk materi sulit sekalipun. (pp. 90-91).
Dari uraian para ahli mengenai peranan kebiasaan belajar, maka dapat
diketahui bahwa kebiasaan siswa dalam belajar akan berdampak sangat besar
dalam kehidupan belajarnya dan pencapaian hasil belajar. Kebiasaan akan
berdampak menguatkan (reinforcing) dan cenderung akan dilakukan jika
disenangi, maka dari itu siswa harus dibiasakan untuk melakukan hal-hal yang
dapat meningkatkan pencapaian hasil belajar dengan cara-cara yang
menyenangkan sehingga bisa menjadi kebiasaan dalam belajar.

2.1.1.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebiasaan Belajar


Kebiasaan belajar seorang individu dapat dipengaruhi oleh berbagai hal
yang mendorong kegiatan tersebut bisa menjadi suatu kebiasaan. Sularti (2008,
hlm. 33) membagi faktor yang mempengaruhi kebiasaan belajar menjadi dua
yaitu:
1) Faktor eksternal berupa faktor yang berasal dari luar diri individu, antara lain:
a) Sikap guru seperti guru yang kurang memahami dan kurang mengerti
kondisi siswa, guru yang tidak memperhatikan khususnya pada siswa yang
kurang cerdas dan guru yang sering marah ketika siswa tidak dapat
mengerjakan tugas;
b) Keadaan ekonomi orang tua, seperti siswa tidak sekolah atau alpa dapat
disebabkan siswa tidak memiliki uang transportasi ke sekolah karena
lokasi sekolah yang jauh dari rumah, siswa tidak mengerjakan tugas
17

karena tidak memiliki LKS dan kesulitan belajar karena tidak memiliki
buku paket dan kelengkapan belajar lainnnya;
c) Kasih sayang dan perhatian orang tua.
2) Faktor internal berupa faktor yang berasal dari dalam individu, antara lain:
a) Minat, motivasi dan cita-cita, dimana pada umumnya siswa yang memiliki
kebiasaan malas belajar atau sering tidak masuk sekolah karena tidak
memiliki cita-cita atau harapan;
b) Pengendalian diri dan emosi, dimana siswa yang malas dapat disebabkan
karena siswa tersebut tidak dapat menolak ajakan teman, perasaan takut,
kecewa atau tidak suka pada guru, emosi yang tidak stabil seperti mudah
tersinggung, mudah marah dan putus asa;
c) Kelemahan fisik, panca indera dan kecacatan lainnya;
d) Kelemahan mental, seperti kecerdasan/intelegensi dan bakat khusus.
Menurut Yusuf [CITATION Yus09 \p 16 \n \t \l 1033 ] kebiasaan belajar
dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal yang dapat dikembangkan melalui
latihan, pemahaman dan keyakinan tentang manfaat belajar. Latihan sangat
berpengaruh terhadap kebiasaan belajar karena dengan adanya latihan belajar
yang baik maka akan membantu proses pembelajaran agar dapat berjalan dengan
baik pula.
Dari paparan di atas, maka berbagai macam faktor yang telah disebutkan
dapat disimpulkan menjadi faktor internal dan faktor eksternal yang akan
menguatkan kebiasaan belajar pada siswa. Guru dalam pembelajaran harus dapat
mempertimbangkan dan memaksimalkan faktor tersebut guna penguatan
kebiasaan belajar pada siswanya.

2.1.1.5 Indikator Kebiasaan Belajar


Mengetahui seberapa besar tingkat kebiasaan yang dimiliki siswa dalam
belajar dapat diukur dengan menggunakan indikator-indikator yang tercakup
dalam aspek-aspek kebiasaan belajar. Djaali [CITATION Dja09 \p 128 \n \t \l
1033 ] membagi kebiasaan belajar dalam dua aspek/dimensi yang dapat
diturunkan untuk menghasilkan indikator, yaitu:
1) Delay Avoidance (penghindaran dari tertundanya tugas)
18

Menunjukkan kepada ketepatan waktu penyelesaian tugas-tugas akademis,


menghindari diri dari hal-hal yang memungkinkan tertundanya penyelesaian
tugas dan menghilangkan rangsangan yang akan mengganggu konsentrasi
belajar.
2) Work Method (penggunaan cara atau prosedur belajar efektif)
Menunjukkan kepada penggunaan cara (prosedur) belajar yang efektif dan
efisien dalam mengerjakan tugas akademik dan keterampilan belajar.
Menurut Nugroho [CITATION Nug17 \p 192-193 \n \t \l 1033 ]
kebiasaan belajar dapat diukur dengan indikator sebagai berikut:
1) Merencanakan belajar, kegiatan ini terdiri dari merencanakan jadwal obyek
belajar harian dan menyiapkan tempat belajar;
2) Melaksanakan belajar merupakan serangkaian pelaksanaan metode belajar
yang dimiliki siswa. Metode belajar yang sebaiknya dimiliki dan
dikembangkan oleh siswa, kedisiplinan dalam melaksanakannya, agar siswa
dapat berhasil dalam belajarnya;
3) Mengevaluasi belajar, kegiatan ini berupa tindakan mengerjakan tugas.
Dilihat dari tempatnya ada dua jenis tugas dalam pengerjaannya yaitu
mengerjakan tugas dirumah/luar sekolah dan mengerjakan tugas di sekolah;
4) Kedisiplinan belajar, hal ini dapat dilihat dari keteraturan siswa dalam belajar
yang pada akhirnya akan menimbulkan kebiasaan belajar.
Menurut Prayitno [CITATION Mag \p 106 \t \l 1033 ] kebiasaan belajar
mempunyai empat aspek indikator yaitu:
1) Cara siswa mengerjakan tugas di sekolah (Delay Avoidance);
2) Kebiasaan dalam melaksanakan kegiatan belajar (Works Methods);
3) Sikap terhadap guru (Teacher Approval);
4) Sikap dalam menerima pelajaran (Education Acceptance).
Dari pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa apabila seorang siswa
memiliki karakteristik sebagaimana tersebut, maka siswa tersebut akan memiliki
indikator-indikator kebiasaan belajar yang dapat meningkatkan hasil belajar yang
diperoleh.
19

2.1.2 Konsep Kesiapan Belajar


2.1.2.1 Pengertian Kesiapan Belajar
Menurut Mulyani [CITATION Mul13 \p 30 \n \t \l 1033 ] kesiapan atau
readiness adalah kondisi individu yang memungkinkan ia dapat belajar.
Fatchurrohman [CITATION Fat11 \p 168 \n \t \l 1033 ] berpendapat kesiapan
siswa dalam belajar merupakan kondisi diri siswa yang telah dipersiapkan
untuk melakukan suatu kegiatan belajar. Kesiapan diri siswa akan melahirkan
perjuangan untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Senada dengan pendapat di
atas, menurut Syabrus [CITATION 15Ju \p 25 \n \t \l 1033 ] kesiapan adalah
keadaan atau situasi manusia atau lingkungan dalam melakukan sesuatu ataupun
di perlakukan untuk mencapai tujuan tertentu.
Lori Rice-Spearman dalam [CITATION Wid13 \t \l 1033 ]
mengemukakan bahwa:
Kesiapan belajar yaitu keseluruhan kondisi seseorang yang membuatnya
siap untuk memberikan respon/jawaban di dalam proses belajar. Faktor
yang sebagian besar mempengaruhi kesiapan belajar antara lain kesiapan
psikis. Kesiapan psikis tersebut yaitu kesiapan psikis untuk belajar mandiri
yang meliputi senang belajar, belajar sepanjang hayat, konsep diri,
pemahaman diri, toleransi ambiguitas dalam pengalaman belajar, tanggung
jawab dalam belajar, inisiatif untuk mengatur kegiatan belajar dan
pendekatan kreatif dalam kegiatan belajar (p. 137).
Menurut Arikunto [CITATION Ari101 \p 56 \n \t \l 1033 ] “kesiapan
belajar merupakan perilaku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan
misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan dan meniru”.
Senada dengan yang disampaikan Connell dalam Pidarta [CITATION
Pid07 \p 229 \n \t \l 1033 ] yang menyatakan bahwa “kesiapan belajar
merupakan kemampuan seseorang untuk mendapatkan keuntungan dari
pengalaman yang ia temukan, kesiapan belajar bertalian dengan pengetahuan,
pikiran dan kualitas berfikir seseorang dalam menghadapi situasi belajar yang
baru”.
Djamarah [CITATION Dja081 \n \t \l 1033 ] juga mendefenisikan
kesiapan belajar sebagai berikut:
Readiness atau kesiapan belajar adalah suatu kondisi seseorang telah
dipersiapkan untuk melakukan suatu kegiatan. Maksud melakukan
kegiatan adalah kegiatan belajar, misalnya mempersiapkan buku pelajaran
20

sesuai jadwal, mempersiapkan kondisi badan agar siap ketika belajar di


kelas dan mempersiapkan perlengkapan belajar lainnya (p. 35).
Berdasarkan berbagai pendapat dari para ahli di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa kesiapan belajar merupakan kondisi secara sadar dipersiapkan
siswa untuk melakukan suatu kegiatan pembelajaran dimana siswa siap memberi
respon dengan caranya sendiri dalam menyikapi suatu situasi dalam pembelajaran
untuk memberikan hasil belajar yang baik pada siswa.

2.1.2.2 Prinsip-Prinsip Kesiapan Belajar


Prinsip-prinsip kesiapan belajar adalah hal mendasar yang harus
diperhatikan pada saat kegiatan belajar akan dilakukan. Dalyono [CITATION
Dal09 \p 167 \n \t \l 1033 ] mengemukakan prinsip-prinsip kesiapan belajar
sebagai berikut:
1) Semua aspek pertumbuhan berinteraksi dan bersama membentuk kesiapan;
2) Pengalaman seseorang ikut mempengaruhi pertumbuhan fisiologis individu;
3) Pengalaman mempunyai efek kumulatif dalam perkembangan fungsi-fungsi
kepribadian individu baik jasmani maupun rohani;
4) Apabila kesiapan untuk melaksanakan kegiatan tertentu terbentuk pada diri
seseorang, maka saat-saat tertentu dalam kehidupan seseorang merupakan
masa formatif bagi perkembangan dirinya.

2.1.2.3 Aspek-Aspek Kesiapan Belajar


Slameto [CITATION Sla13 \p 115-116 \n \t \l 1033 ] mengemukakan dua
aspek dalam kesiapan belajar sebagai berikut:
1) Kematangan (maturation)
Kematangan adalah proses yang menimbulkan perubahan tingkah laku
sebagai akibat dari pertumbuhan dan perkembangan. Latihan-latihan yang
diberikan sebelum anak matang tidak akan memberi hasil.
2) Kecerdasan, menurut J. Piaget perkembangan kecerdasan yaitu:
a) Sensori motor period (0-2 tahun)
Anak banyak bereaksi reflek, reflek tersebut belum terkoordinasikan.
Terjadi perkembangan sensori-motor dari yang sederhana ke yang relatif
lebih kompleks.
21

b) Preoperational period (2-7 tahun)


Anak mulai mempelajari nama-nama dari objek yang sama dengan apa
yang dipelajari orang dewasa dan ditandai dengan empat sifat yaitu:
1. Memperoleh pengetahuan/konsep-konsep;
2. Kecakapan yang didapat belum tepat;
3. Kurang cakapnya memikirkan tentang apa yang sedang dipikirkannya,
kurang cakap merencanakan sesuatu yang dilakukan, masih berdasarkan
pengalaman-pengalaman yang diamati dengan menggunakan tanda-
tanda atau perangsang sensori;
4. Bersifat egosentris dalam arti memandang dunia berdasarkan
pengalamannya sendiri dan berdasarkan pengamatannya pada masa itu
saja.
c) Concrete operation (7-11 tahun)
Pikiran anak sudah mulai stabil dalam arti aktivitas batiniah (internal
action), dan skema pengamatan mulai diorganisasikan menjadi sistem
pengerjaan yang logis (logical operational system).
d) Formal operation (lebih dari 11 tahun)
Kecakapan anak tidak lagi terbatas pada objek-objek yang konkret serta:
1. Ia dapat memandang kemungkinan-kemungkinan yang ada melalui
pemikirannya (dapat memikirkan kemungkinan-kemungkinan);
2. Dapat mengorganisasikan situasi/masalah;
3. Dapat berpikir dengan betul (dapat berpikir logis, mengerti hubungan
sebab akibat, memecahkan masalah/berpikir secara ilmiah.
Perkembangan tersebut adalah bagi anak normal saja. Bagi anak di bawah
atau di atas normal kecerdasannya akan berbeda seperti uraian di atas.

2.1.2.4 Jenis-Jenis Kesiapan Belajar


Kuswahyuni [CITATION Kus \p 27 \n \t \l 1033 ] mengemukakan jenis-
jenis kesiapan belajar sebagai berikut:
1) Kesiapan mental
Kesiapan mental adalah kondisi kepribadian seseorang secara keseluruhan
dan bukan hanya kondisi jiwanya. Kondisi kesiapan mental merupakan hasil
22

tumbuh kembang sepanjang hidup seseorang dan diperkuat oleh pengalaman


sehari-hari orang yang bersangkutan.
Arikunto [CITATION Ari101 \p 56 \n \t \l 1033 ] menjelaskan kesiapan
mental dipengaruhi oleh:
a) Besar kecilnya kecemasan mempengaruhi murni atau tidaknya hasil
belajar.
b) Siswa yang kurang pandai mempunyai kecemasan yang lebih
dibandingkan dengan siswa berkemampuan tinggi.
c) Kebiasaan terhadap tipe tes dan pengadministrasinya, mempengaruhi
timbulnya kecemasan dalam tes.
d) Dalam kecemasan tinggi siswa akan mencapai hasil baik.
2) Kesiapan diri
Kesiapan diri adalah terbangun kekuatan yang dipadu dengan keberanian fisik
dalam diri siswa yang berakal sehat sehingga dapat menghadapi segala
sesuatu dengan gagah berani.
3) Kesiapan belajar
Kesiapan belajar merupakan perilaku atau penampilan, dengan serangkaian
kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan dan meniru.
4) Kesiapan kecerdasan
Kesiapan kecerdasan adalah kesigapan bertindak dan kecakapan memahami
bias tumbuh dari berbagai fasilitas. Ketajaman intelegensi, otak dan pikiran
dapat membuat siswa lebih aktif daripada siswa yang tidak cerdas. Hal
tersebut membuat siswa jadi lebih bisa menyesuaikan diri dengan sekitarnya,
semakin cepat menyesuaikan diri dengan lingkungannya semakin cepat
mengendalikan situasi.

2.1.2.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesiapan Belajar


Menurut Dalyono [CITATION Dal09 \p 55 \n \t \l 1033 ] membagi faktor
kesiapan menjadi dua faktor, sebagai berikut:
1) Faktor internal, seperti kesehatan, intelegensi dan bakat, minat dan motivasi;
2) Faktor eksternal, seperti keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan
sekitar.
23

Pendapat lain datang dari Connell dalam Pidarta [CITATION Pid07 \p 229
\n \t \l 1033 ] mengemukakan bahwa kesiapan belajar tergantung pada faktor-
faktor diantaranya:
1) Tingkat kematangan intelektual, merupakan tingkatan perkembangan kondisi
Piaget yang mengemukakan periode-periode perkembangan manusia;
2) Latar belakang pengalaman yang dimiliki oleh siswa dari proses belajar
sebelumnya menunjang proses belajar selanjutnya, sehingga hasil belajar
yang diperoleh siswa akan semakin baik;
3) Cara-cara pengetahuan sebelumnya distruktur, kegiatan menstruktrur di sini
dapat diartikan sebagai kemampuan siswa untuk menstruktur kembali
pengetahuan yang telah didapatnya dan menyesuaikannya dengan materi-
materi baru yang diterima pada saat belajar berlangsung.

2.1.2.6 Cara Meningkatkan Kesiapan Belajar


Slameto [CITATION Sla13 \p 120 \n \t \l 1033 ] mengemukakan hal-hal
yang dapat dilakukan dalam upaya meningkatkan kesiapan belajar siswa sebagai
berikut:
1) Memberikan semangat belajar atau motivasi belajar;
Motivasi dalam kegiatan belajar merupakan kekuatan yang dapat menjadi
tenaga pendorong bagi siswa untuk mendayagunakan potensi-potensi yang
ada pada dirinya dan potensi di luar dirinya untuk mewujudkan tujuan belajar.
2) Memberikan pengertian bahwa kesiapan belajar merupakan hal yang penting
dan bahkan termasuk kebutuhan;
Kebutuhan ada yang sifatnya disadari dan ada yang tidak disadari. Kebutuhan
yang disadari akan mendorong adanya usaha, dengan kata lain kebutuhan
yang disadari akan menimbulkan usaha/membuat seseorang siap untuk
berbuat. Sedangkan kebutuhan yang tidak disadari akan mengakibatkan tidak
adanya dorongan untuk berusaha.

2.1.2.7 Indikator Kesiapan Belajar


Djamarah [CITATION Dja081 \p 39 \n \t \l 1033 ] menyatakan ada tiga
indikator yang mempengaruhi kesiapan belajar yaitu:
24

1) Kesiapan fisik; berkaitan erat dengan kesehatan yang akan berpengaruh pada
hasil belajar dan penyesuaian individu. Misalnya tubuh tidak sakit (jauh dari
gangguan lesu, mengantuk dan sebagainya).
2) Kesiapan Psikis; berkaitan dengan kecerdasan, daya ingat. Misalnya ada
hasrat untuk belajar, dapat berkonsentrasi dan ada motivasi instrinsik.
3) Kesiapan mental; individu dalam mempelajari materi pelajaran tertentu harus
mempunyai bahan yang dapat dipelajari. Misalnya, bahan yang dipelajari atau
dikerjakan (berupa buku bacaan, catatan, membuat resume dll.)
Menurut Dalyono [CITATION Dal09 \p 166 \n \t \l 1033 ] menyatakan
indikator kesiapan belajar sebagai berikut:
1) Perlengkapan dan pertumbuhan fisiologis, menyangkut pertumbuhan
terhadap kelengkapan pribadi seperti tubuh pada umumnya, alat indera,
kapasitas intelektual;
2) Motivasi, menyangkut kebutuhan, minat serta tujuan-tujuan individu untuk
mempertahankan serta menyeimbangkan diri.
Selanjutnya Slameto [CITATION Sla13 \p 133 \n \t \l 1033 ] menyatakan
kesiapan dipengaruhi oleh kondisi-kondisi tertentu ketika individu memberikan
respon/jawaban. Penyesuaian kondisi pada suatu saat akan berpengaruh pada atau
kecenderungan untuk memberi respon. Kondisi mencakup setidaknya tiga aspek,
yaitu:
1) Siap secara fisik, mental dan emosional;
Siap secara fisik adalah kesiapan kondisi tubuh jasmani seseorang untuk
mengikut kegiatan belajar. Misalnya dengan menjaga waktu istirahat, pola
makan yang baik dan kesehatan panca indera terutama mata sebagai indera
penglihatan dan telinga sebagai indera pendengaran serta kondisi jasmani.
Kondisi mental adalah keadaan siswa yang berhubungan dengan kecerdasan
siswa. Misalnya kecakapan seseorang dalam memberi pendapat, berbicara di
forum diskusi dan percaya diri terhadap kemampuan yang dimiliki. Kondisi
emosional adalah keadaan siswa dalam mengatur emosinya dalam
menghadapi masalah. Misalnya saat kenyataan yang terjadi tidak sesuai
dengan harapan, tegang ketika pembelajaran.
2) Kebutuhan-kebutuhan, motif dan tujuan;
25

Kebutuhan adalah rasa membutuhkan terhadap materi yang diajarkan.


Kebutuhan ada yang disadari dan tidak disadari. Kebutuhan yang tidak
disadari mengakibatkan tidak adanya dorongan untuk berusaha. Sedangkan
kebutuhan yang disadari mendorong adanya usaha, dengan kata lain
kebutuhan yang disadari akan menimbulkan motif, dimana motif tersebut
akan diarahkan untuk mencapai tujuan, tujuan yang ingin dicapai merupakan
tujuan jelas, spesifik dan terukur. Misalnya memiliki rasa membutuhkan akan
materi ajar mengikuti pelajaran dari awal hingga akhir.
3) Pengetahuan dan keterampilan memadai yang telah dipelajari;
Keterampilan dan pengetahuan adalah kemahiran, kemampuan dan
pemahaman yang dimiliki siswa terhadap materi yang hendak diajarkan
termasuk materi-materi yang berhubungan dengan materi yang akan
diajarkan. Misalnya kemampuan menyimpulkan materi, kemampuan
mengingat kembali materi yang telah dipelajari dan membaca buku referensi
lain yang relevan.
Berdasarkan paparan para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa
indikator-indikator yang dapat digunakan untuk mengukur kesiapan belajar siswa
dalam aktivitas belajarnya yaitu: kesiapan fisik, psikis dan mental, adanya
kebutuhan-kebutuhan dan pengetahuan, adanya perlengkapan dan pertumbuhan
fisiologis serta motivasi sehingga kesiapan belajar bisa diukur untuk mengetahui
dan dilakukan peningkatan terhadap kesiapan belajar siswa.

2.1.3 Konsep Hasil Belajar


2.1.3.1 Pengertian Belajar
Banyak ahli yang mengemukakan pendapatnya mengenai defenisi belajar.
Menurut Hamalik [CITATION Ham091 \p 27 \n \t \l 1033 ] “belajar adalah
modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman” (learning is defined
as the modification or strengthening of behavior through experiencing).
Menurut Djamarah [CITATION Dja081 \p 13 \n \t \l 1033 ] belajar
adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan
lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor. Kemudian
26

menurut Djamarah & Zain [CITATION Dja06 \p 10-11 \n \t \l 1033 ] belajar


adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Artinya, tujuan
kegiatan belajar adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut
pengetahuan, keterampilan maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek
organisme atau pribadi.
Slavin [CITATION Sla11 \n \t \l 1033 ] mengemukakan pengertian
belajar sebagai berikut:
“learning is usually defined as a charge in an individual caused by
experience. Change caused by development (such as growing taller) are
not instances oflearning. Neither are characteristics of individuals that
are present at birth (such as reflexes and respons to hunger or pain).
However, humans do so much learning from the day of their birth (and
some say earlier) that learning and development are inseparably linke”
(belajar secara umum diartikan sebagai perubahan pada individu yang
terjadi melalui pengalaman. Perubahan yang disebabkan oleh
perkembangan (seperti bertambah tinggi) tidak termasuk contoh dari
pembelajaran. Atau karakteristik seseorang sejak lahir (seperti reflek dan
respon dari sakit karena lapar). Bagaimanapun, manusia banyak belajar
sejak lahir dan bahkan ada yang mengatakan sebelum lahir. Bahwa antara
belajar dan perkembangan sangat erat kaitannya). (p. 143).
Pendapat lain datang dari Kimble dalam Heganhahn & Olson [CITATION
Heg09 \p 2 \n \t \l 1033 ] belajar adalah perubahan yang relatif permanen di
dalam potensi behavioral yang terjadi sebagi akibat dari reinforced practice
(praktik yang diperkuat).
Pendapat di atas juga didukung oleh Purwanto [CITATION Pur06 \p 84 \n
\t \l 1033 ] yang menyatakan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relatif
menetap dalam tingkah laku, yang terjadi sebagai hasil dari suatu latihan dan
pengalaman.
Terdapat beragam pendapat ahli di atas mengenai defenisi belajar dari
pandangannya masing-masing, namun pada intinya konsep belajar antara satu ahli
dengan ahli lainnya tidak jauh berbeda dan saling berkaitan. Dari pendapat ahli-
ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan
tingkah laku siswa secara sadar.
27

2.1.3.2 Teori-teori Belajar


Ada beberapa teori belajar yang dikemukakan para ahli, selalunya teori-
teori ini bertolak dari sudut pandang psikologi belajar tertentu. Berikut penulis
paparkan beberapa teori belajar sebagai berikut:
1) Teori belajar Konstruktivisme;
Secara filosofis, belajar menurut teori konstruktivisme dijelaskan oleh
Bruning & Geary dalam Schunk [CITATION Sch12 \p 324 \n \t \l 1033 ]
konstruktivisme adalah aktivitas-aktivitas pembelajaran konstruktif meliputi
hipotesis-hipotesis dan bekerja sama dengan orang lain. Siswa perlu
diarahkan untuk mengatur diri sendiri dan berperan aktif dalam pembelajaran
mereka dengan menentukan tujuan-tujuan, memantau dan mengevaluasi
kemajuan mereka dengan menelusuri hal-hal yang menjadi minat mereka.
Konstruktivisme melandasi pemikiran bahwa pengetahuan bukanlah sesuatu
yang given dari alam merupakan hasil konstruksi bentukan aktif manusia itu
sendiri. Ahli yang mengembangkan teori ini adalah Piaget dan Vygotsky.
2) Teori belajar Humanisme;
Aliran Humanisme yang diwakili oleh Carl R. Rogers dalam Schunk
[CITATION Sch12 \p 445 \n \t \l 1033 ] kurang menaruh perhatian kepada
mekanisme proses belajar. Belajar dipandang sebagai fungsi keseluruhan
pribadi. Mereka berpendapat bahwa belajar yang sesungguhnya tidak dapat
berlangsung apabila tidak ada keterlibatan intelektual maupun emosional
peserta didik yang harus bersumber pada diri peserta didik.
3) Teori belajar Kognitivisme;
Atkinson dalam Schunk [CITATION Sch12 \p 412 \n \t \l 1033 ]
menyatakan bahwa aliran ini kegiatan belajar bukanlah sekedar stimulus atau
respons yang bersifat mekanistik, kegiatan belajar juga melibatkan kegiatan
mental yang ada di dalam diri individu yang sedang belajar. Teori belajar
psikologi kognitif memfokuskan perhatiannya kepada bagaimana dapat
mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan
maksimal. Faktor kognitif bagi teori kognitif merupakan faktor pertama dan
utama yang perlu dikembangkan oleh para guru dalam pembelajaran bersama
28

peserta didik, karena kemampuan belajar peserta didik dapat berkembang


secara maksimal dan optimal melalui sentuhan proses pendidikan.
4) Teori belajar Behaviorisme;
Teori behaviorisme sangat menekankan kepada perilaku yang dapat diamati,
aliran ini memandang individu lebih kepada sisi fenomena jasmaniah, dan
mengabaikan aspek-aspek mental seperti kecerdasan, bakat, minat dan
perasaan individu dalam kegiatan belajar. Para ahli behaviorisme bependapat
bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus (S) dengan respon
(R). Menurut teori ini, dalam belajar yang penting adalah adanya input berupa
stimulus dan output yang berupa respon. Para ahli yang mengembangkan
teori ini antara lain E.L. Thorndike, Ivan Pavlov, B.F. Skinner, J.B. Watson,
Clark Hull dan Edwin Guthrie [CITATION Suy15 \p 56 \t \l 1033 ].
Penjelasan lain disampaikan oleh Heidbreder & Hunt dalam Schunk
[CITATION Sch12 \p 99 \n \t \l 1033 ] bahwa belajar terjadi apabila
perubahan dalam tingkah laku dapat diamati, bila kebiasaan berperilaku
terbentuk karena pengaruh sesuatu atau pengaruh peristiwa-peristiwa yang
terjadii di lingkungan sekitar. Teori behaviorisme berpandangan bahwa
belajar terjadi melalui operant conditioning. Dalam teori behaviorisme
tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran atau penghargaan
(reward) dan penguatan (reinforcement) dari lingkungan.
Dari pemaparan beberapa teori belajar di atas, maka pada dasarnya belajar
mencakup tiga komponen penting berupa kondisi internal individu, kondisi
eksternal individu yang tidak dapat dilepaskan berupa stimulus dari lingkungan,
serta yang ketiga berupa hasil/respon dari individu berupa perubahan sikap dan
perilaku. Berdasarkan teori-teori di atas, maka teori belajar konstruktivisme yang
akan penulis gunakan dalam penelitian ini karena Kebiasaan dan kesiapan
merupakan faktor internal dari individu yang harus dibentuk dan siswa berperan
aktif dalam pembelajaran untuk mencapai hasil belajar yang maksimal.
29

2.1.3.3 Pengertian Hasil Belajar


Menurut Hamalik [CITATION Ham091 \p 155 \n \t \l 1033 ] hasil belajar
adalah perubahan tingkah laku pada seseorang yang dapat diamati dan diukur
dalam bentuk pengetahuan, sikap dan keterampilan. Perubahan tersebut dapat
diartikan sebagai terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik dari
sebelumnya dan yang tidak tahu menjadi tahu.
Anni [CITATION Ann07 \p 19 \n \t \l 1033 ] menyatakan pendapatnya
mengenai hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang diperoleh pembelajar
setelah mengalami aktivitas belajar. Sedangkan menurut Sudjana [CITATION
Sud05 \p 22 \n \t \l 1033 ] “belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa
setelah menerima pengalaman belajar”.
Pendapat lain datang dari Sukmadinata [CITATION Suk09 \p 102 \n \t \l
1033 ] bahwa “hasil belajar (achievement) merupakan realisasi atau pemekaran
dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang”.
Bloom dalam Sudjana [CITATION Sud06 \p 22-23 \n \t \l 1033 ]
mengemukakan defenisi hasil belajar sebagai berikut:
Hasil belajar adalah suatu akibat dari proses belajar dengan menggunakan
alat pengukuran yaitu berupa tes yang disusun secara terencana baik tes
tulis Maupun tes perbuatan. Hasil belajar diartikan sebagai tingkat
keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang
dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes sejumlah materi
pelajaran tertentu.
Aulia & Sontani [CITATION Aul18 \p 9 \n \t \l 1033 ] menjelaskan Hasil
belajar merupakan output nilai yang berbentuk angka atau huruf yang didapat
siswa setelah menerima materi pembelajaran melalui sebuah tes atau ujian yang
dilakukan guru. Penjelasan senada disampaikan Latipah & Adman [CITATION
Lat18 \p 129 \n \t \l 1033 ] Hasil belajar adalah hasil akhir dari proses
pembelajaran yang dapat di ukur dan dinyatakan dalam bentuk angka maupun
huruf. Hasil belajar merupakan tujuan akhir dilaksanakannya kegiatan
pembelajaran di Sekolah [CITATION Ram16 \p 165 \t \l 1033 ].
Sardiman [CITATION Sar07 \p 19 \n \t \l 1033 ] menjelaskan bahwa
hasil belajar merupakan apa yang diperoleh dari kegiatan belajar mengajar baik
disadari atau tidak disadari yang pada umumnya disebut juga hasil pengajaran
atau tujuan pembelajaran. Alwiyah & Imaniyati [CITATION Alw18 \n \t \l
30

1033 ] menyatakan hasil belajar siswa dapat diukur melalui evaluasi dengan tes,
tugas dan observasi.
Senada dengan pendapat di atas, Sudjana [CITATION Sud06 \p 3 \n \t \l
1033 ] juga berpendapat bahwa hasil belajar mencerminkan hasil dari pencapaian
tujuan pembelajaran pada tingkat tertentu yang dinyatakan dalam bentuk angka
atau huruf. Hasil belajar merupakan hasil akhir dari proses pembelajaran yang
dinyatakan dalam bentuk angka atau huruf yang menggambarkan perubahan
tingkah laku peserta didik [CITATION Fri18 \p 39 \t \l 1033 ].
Berdasarkan paparan mengenai defenisi yang beragam mengenai hasil
belajar, maka secara sederhana mengenai defenisi dari hasil belajar adalah
realisasi atau cerminan perubahan tingkah laku yang merupakan akibat dari
kegiatan belajar yang dilambangkan dalam bentuk angka-angka atau huruf.

2.1.3.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar


Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya seperti
yang dikemukakan oleh Lorre [CITATION Mak07 \p 165 \t \l 1033 ] yaitu:
1) Raw input, meliputi siswa dengan segala karakteristiknya seperti IQ,
motivasi, motif, emosi, disiplin dll.
2) Instrumental input, yaitu masukan instrumental seperti guru, kurikulum,
sekolah, sarana prasarana, buku sumber dll.
3) Environmental input, yaitu masukan-masukan lingkungan seperti lingkungan
keluarga, sosial, masyarakat dll.
Lebih lanjut Sardiman [CITATION Sar07 \p 54 \n \t \l 1033 ]
menjelaskan dua faktor yang mempengaruhi hasil belajar sebagai berikut:
1) Faktor Internal, yaitu faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa yang
berasal dari dalam diri. Dibedakan menjadi tiga faktor, yaitu faktor
jasmaniah, psikologis dan faktor kelelahan sebagai berikut:
a) Faktor jasmaniah, terdiri dari dua faktor yaitu faktor kesehatan dan faktor
cacat tubuh;
b) Faktor Psikologis, sekurang-kurangnya ada tujuh faktor psikologis yang
mempengaruhi hasil belajar, terdiri dari: inteligensi, perhatian, minat,
bakat, motif, kematangan, kesiapan;
31

c) Faktor kelelahan, terdiri dari dua macam yaitu kelelahan rohani dan
kelelahan jasmani.
2) Faktor Eksternal, yaitu faktor yang berasal dari luar diri individu. Faktor ini
terdiri dari tiga faktor yaitu:
a) Faktor keluarga, seperti cara orang tua mendidik, suasana rumah;
b) Faktor sekolah, seperti metode mengajar, kurikulum, disiplin sekolah;
c) Faktor masyarakat, seperti kegiatan siswa dalam masyarakat, media massa,
teman bergaul dll.
Sardiman [CITATION Sar07 \p 40-44 \n \t \l 1033 ] menjelaskan lebih
mendalam mengenai jenis-jenis dari faktor psikologis dalam mempengaruhi hasil
belajar yaitu:
1) Motivasi, seseorang akan berhasil dalam belajar jika pada dirinya sendiri ada
keinginan untuk belajar. Keinginan/dorongan inilah yang disebut dengan
motivasi belajar;
2) Konsentrasi, yakni memusatkan segenap kekuatan perhatian pada suatu
situasi belajar. Unsur motivasi dalam hal ini sangat membantu tumbuhnya
proses pemusatan perhatian;
3) Reaksi, seseorang membutuhkan reaksi yang melibatkan ketangkasan mental,
kewaspadaan dll. Kecepatan jiwa seseorang dalam memberikan respon pada
suatu pelajaran merupakan faktor penting dalam belajar;
4) Organisasi, belajar dapat dikatakan sebagai kegiatan mengorganisasikan,
menata atau menempatkan bagian-bagian bahan pelajaran ke dalam suatu
kesatuan pengertian;
5) Pemahaman, yakni meletakkan bagian-bagian belajar pada proporsinya;
6) Ulangan, kegiatan mengulang sesuatu atau pekerjaan yang sudah dipelajari
membuat kemampuan siswa untuk mengingatnya semakin bertambah
sehingga hasil belajar akan meningkat.
Berdasarkan pemaparan para ahli di atas, maka dapat disimpulkan pada
dasarnya hasil belajar siswa bergantung pada aspek faktor-faktor internal terdiri
dari faktor jasmani, psikologis, kesehatan serta faktor eksternal berupa faktor
keluarga, sekolah dan masyarakat. Jika faktor-faktor tersebut dapat
dimaksimalkan tentunya akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
32

2.1.3.5 Indikator Hasil Belajar


Hasil belajar dapat diukur melalui indikator-indikator yang dapat mewakili
perubahan perilaku yang dihasilkan merupakan akibat dari proses belajar. Bloom
membagi penggolongan perilaku akibat hasil belajar menjadi ranah kognitif,
afektif dan psikomotor untuk mempermudah penilaian hasil belajar siswa. Syah
[CITATION Sya11 \p 30 \n \t \l 1033 ] menyatakan pengungkapan hasil belajar
meliputi segala ranah psikologi yang berubah sebagai akibat pengalaman dan
proses belajar siswa.Lebih lanjut diungkapkan indikator-indikator dalam
mengukur hasil belajar sebagai berikut:
1) Ranah kognitif;
Indikatornya antara lain: pengamatan, ingatan, pemahaman, penerapan,
analisis (pemeriksaan dan pemilihan secara teliti), sintesis (membuat panduan
baru dan utuh) dan evaluasi dengan cara pengukuran dilihat dari soal, tes,
observasi, tugas dan pertanyaan.
2) Ranah Afektif;
Indikatornya antara lain: penerimaan, sambutan, apresiasi (sikap
menghargai), internalisasi (pendalaman), karakteristik (penghayatan) dengan
cara pengukuran dilihat dari sikap, tes, pertanyaan, tugas dan observasi.
3) Ranah Psikomotor;
Indikatornya antara lain: keterampilan, bergerak dan bertindak, kecakapan
ekspresi verbal dan nonverbal. Cara pengukuran dilihat dari tugas observasi,
tes tindakan dan tes lisan.
Dari pemaparan di atas maka dapat diketahui indikator-indikator untuk
mengukur hasil belajar berupa tiga aspek perilaku siswa yang digolongkan ke
dalam ranah kognitif yang mengukur aspek pengetahuan konseptual siswa, ranah
afektif berupa aspek-aspek sikap dan perilaku siswa terhadap rasa dan ranah
psikomotor yang menjelaskan pengukuran aspek keterampilan dan kecakapan
siswa dalam bertindak. Ketiga ranah perilaku tersebut dapat diukur dengan alat
pengukuran masing-masing sehingga bisa diketahui tingkatan hasil belajar siswa.
33

2.1.4 Pengaruh Kebiasaan Belajar Terhadap Hasil Belajar Siswa


Kebiasaan belajar memiliki peranan penting dalam proses belajar.
Kebiasaan belajar adalah salah satu faktor psikologis yang berperan dalam
kesuksesan belajar peserta didik. Dengan siswa yang memiliki kebiasaan untuk
belajar, maka siswa akan berusaha untuk mendapatkan hasil terbaik dalam
belajarnya. Kebiasaan belajar adalah salah satu daya pendukung yang penting
dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Apabila tingkat kebiasaan belajar siswa
tinggi maka proses belajar mengajar berlangsung secara antusias sehingga hasil
belajar akan sesuai dengan yang diharapkan, “Study habits seem to be an
important determinant of academic performance” (Kebiasaan belajar tampaknya
menjadi penentu penting kinerja akademis) [CITATION Cer15 \p 52 \t \l 1033 ].
Menurut Dewi, dkk. [CITATION Dew \p 109 \n \t \l 1033 ] menyatakan
kebiasaan belajar merupakan perilaku yang akan membentuk ciri dalam aktivitas
belajarnya. Siswa yang selalu bangun pagi, lalu belajar sebelum berangkat ke
sekolah dan selalu mengerjakan tugas dengan tepat waktu akan berhasil dalam
proses belajarnya karena sudah menjadi kebiasaan yang baik dalam dirinya.
Hal ini sejalan dengan pemaparan Rahayu [CITATION Rah15 \n \t \l
1033 ] bahwa:
Kebiasaan yang efektif diperlukan oleh setiap individu dalam kegiatan
belajarnya, karena sangat berpengaruh terhadap pemahaman dan hasil
belajar yang akan mereka raih. Pembentukan kebiasaan belajar perlu
dikembangkan karena dengan terbentuknya kebiasaan belajar dapat
diperoleh hasil belajar yang ingin dicapai. Setiap siswa memiliki kebiasaan
belajar yang berbeda-beda, dimana kebiasaan itu terbentuk di sekolah
maupun di rumah. Kebiasaan belajar yang baik akan menjadi suatu cara
yang melekat pada diri siswa, sehingga siswa akan melakukannya dengan
senang dan tidak ada paksaan (p. 40).
Kebiasaan belajar mempengaruhi kualitas hasil belajar. Hal ini sesuai
dengan pernyataan “keberhasilan siswa atau mahasiswa dalam mengikuti
pelajaran atau kuliah banyak tergantung pada kebiasaan belajar yang dilakukan
teratur dan berkesinambungan” [CITATION Sud05 \p 165 \t \l 1033 ].
Gudaganavar & Halayannavar [CITATION Gud14 \n \t \l 1033 ]
menyatakan:
Study habits play a very important role in the life of students. Success or
failure of each student depends upon his own study habits. (Kebiasaan
belajar memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan seorang
34

siswa. Keberhasilan atau kegagalan setiap siswa tergantung pada


kebiasaan belajarnya sendiri). (p. 277).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Siagian [CITATION
Sia12 \p 130 \n \t \l 1033 ] di SMK PGRI 16 Cipayung mendapatkan hasil bahwa
kebiasaan belajar matematika memberikan kontribusi 20,33% terhadap hasil
belajar. Ini membuktikan secara tidak langsung kebiasaan belajar mempengaruhi
hasil belajar siswa. Dengan kata lain bahwa siswa yang memiliki prestasi belajar
matematika baik akan memiliki kebiasaan belajar yang baik pula.
Hasil di atas membuktikan pendapat Aunurrahman [CITATION Aun11 \p
185 \n \t \l 1033 ] kebiasaan belajar adalah perilaku seseorang yang telah
tertanam dalam waktu yang relatif lama sehingga memberikan ciri dalam aktivitas
belajar yang dilakukannya. Kebiasaan belajar yang tertanam pada diri siswa dapat
terlihat pada aktivitas belajar siswa dan dapat dilakukan secara kontinyu
sepanjang waktu yang diinginkan. Kebiasaan belajar mempengaruhi hasil belajar,
karena hasil belajar yang diperoleh siswa banyak faktor yang mempengaruhinya
slah satunya adalah kebiasaan belajar siswa.
Pendapat di atas didukung oleh temuan penelitian Kartika [CITATION
Kar13 \p 13 \n \t \l 1033 ] “ada pengaruh positif antara kebiasaan belajar
terhadap hasil belajar”. Hasil yang sama juga disimpulkan oleh Priyanto
[CITATION Pri15 \p 170 \n \t \l 1033 ] pada penelitiannya di SMK Giripuro
Sumpiuh yang menunjukkan bahwa kebiasaan belajar berpengaruh positif
terhadap hasil belajar.

2.1.5 Pengaruh Kesiapan Belajar Terhadap Hasil Belajar Siswa


Kesiapan belajar (readiness) memiliki peranan yang penting dalam proses
belajar. Dengan adanya kesiapan belajar dari siswa, maka inti dari tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai dalam suatu proses belajar mengajar akan dapat
dilaksanakan dengan baik dan hasil belajar siswa akan sesuai dengan tujuan
pembelajaran. Apabila kesiapan belajar siswa tinggi maka proses belajar mengajar
akan berjalan dengan efektif dan efisien untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Kesiapan belajar adalah salah satu faktor psikologis yang memiliki
pengaruh penting dalam proses belajar mengajar, karena kesiapan merupakan
kondisi dimana seseorang memungkinkan untuk dapat belajar. Sebagai
35

dikemukakan oleh Spearman [CITATION Spe10 \p 11 \n \t \l 1033 ] bahwa


pelajar yang memiliki kesiapan belajar yang tinggi akan mampu mengikuti
pembelajaran dengan baik dan dapat mengembangkan kecakapan yang
dimilikinya.
Penelitian serupa juga dilakukan oleh Widyaningtyas, Sukarmin& Radiono
[CITATION Wid13 \p 110 \n \t \l 1033 ] yang menghasilkan kesimpulan sebagai
berikut:
Peran lingkungan belajar dan kesiapan belajar terhadap hasil belajar Fisika
siswa SMA Negeri 1 Pati Kelas X merupakan peran yang linier positif,
artinya lingkungan belajar kondusif dan kesiapan belajar yang tinggi
diikuti dengan tingginya hasil belajar siswa tersebut. Maka, siswa dengan
lingkungan belajar kondusif dan memiliki kesiapan belajar yang tinggi
akan memiliki hasil belajar yang tinggi.
Selanjutnya menurut Umam & Fakhruddin [CITATION Uma16 \p 166
\n \t \l 1033 ] kesiapan belajar peserta didik akan berpengaruh terhadap hasil
belajar peserta didik, maka jika seorang peserta didik memiliki kesiapan belajar
yang baik maka peserta didik tersebut juga akan memiliki hasil belajar yang baik
pula.
“Tanpa kesiapan dari diri siswa untuk belajar, siswa tersebut akan
kesulitan dalam mengikuti pelajaran yang selanjutnya dan bahkan tidak dapat
merespon dengan baik pelajaran yang sudah didapatnya. Kesiapan belajar yang
buruk ini, berdampak pada hasil belajar yang kurang maksimal dan pemahaman
terhadap materi yang kurang maksimal pula” [CITATION Dew \p 110 \t \l
1033 ].
Pendapat di atas ditegaskan kembali oleh Hamalik [CITATION
Ham091 \p 33 \n \t \l 1033 ] “murid yang telah siap belajar akan dapat
melakukan kegiatan belajar lebih mudah dan lebih berhasil. Faktor kesiapan ini
erat hubungannya dengan masalah kematangan, minat, kebutuhan dan tugas
perkembangan”.
Menurut Yilmaz [CITATION Yil \p 253 \n \t \l 1033 ] mengemukakan
bahwa:
Diyakini bahwa jika siswa memiliki kesiapan belajar yang tinggi, mereka
akan lebih puas dengan kelas FC. Kesiapan belajar siswa akan
berpengaruh positif terhadap kepuasan mereka. Dalam penelitian ini,
kondisi kesiapan peserta didik untuk belajar, tingkat motivasi dan
36

kepuasan mungkin dipengaruhi oleh kualitas, kegunaan sumber belajar


yang digunakan dalam pelajaran FC dan kesesuaian sumbersumber ini
kepada siswa).
Hasil penelitian yang dilakukan Demak & Pasambo [CITATION
Dem16 \p 38 \n \t \l 1033 ] mengemukakan:
Terdapat hubungan yang bermakna antara Self Directed Learning
Readiness (kesiapan belajar yang diarahkan sendiri) dengan prestasi
belajar mahasiswa tahun pertama PSPD FKIK UNTAD. Sebagian besar
dari mahasiswa tahun pertama ini telah mempunyai SDLR yang tinggi.
Oleh karena itu diharapkan agar institusi terus mempertahankan pola
pembelajaran SDLR tersebut untuk menunjang hasil mahasiswa, dan bagi
mahasiswa diharapkan untuk semakin meningkatkan SDLR-nya untuk
mencapai prestasi yang lebih memuaskan.
Dengan adanya kesiapan belajar (readiness) siswa dalam proses
pembelajaran sangat diperlukan. Kesiapan belajar akan memacu siswa untuk
mengerahkan perhatiannya pada aktivitas belajar yang sedang ia jalani. Kesiapan
belajar akan membuat seseorang menjadi lebih semangat, aktif dan bersungguh-
sungguh dalam belajar. Belajar yang disertai dengan kesiapan yang baik akan
mendapatkan hasil belajar yang baik begitu pula sebaliknya.

2.1.6 Pengaruh Kebiasaan dan Kesiapan Belajar Terhadap Hasil Belajar


Tinggi rendahnya hasil belajar siswa tentunya didukung oleh beberapa
faktor baik internal maupun eksternal. Beberapa faktor internal yang merupakan
faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yaitu kebiasaan belajar dan
kesiapan belajar. Kebiasaan belajar siswa merupakan faktor penting penentu hasil
belajar yang akan didapatkan dalam pembelajaran, selain itu kesiapan belajar juga
menjadi faktor yang tak kalah penting dalam menentukan tingkat hasil belajar
siswa. Oleh karena itu, kebiasaan belajar dan kesiapan belajar siswa diduga
bersama-sama mempunyai pengaruh dalam peningkatan hasil belajar siswa.
Kebiasaan belajar akan mempengaruhi belajar itu sendiri, yang bertujuan
untuk mendapatkan pengetahuan, sikap, kecakapan dan keterampilan, diantaranya,
pembuatan jadwal dan pelaksanaannya, membaca dan membuat catatan,
mengulangi bahan pelajaran, konsentrasi dan mengerjakan tugas [CITATION
Sia12 \p 124 \t \l 1033 ].
Kesiapan siswa dalam belajar juga menjadi faktor yang berpengaruh pada
hasil belajar seperti dijelaskan Umam & Fakhruddin [CITATION Uma16 \p
37

166 \n \t \l 1033 ] bahwa kesiapan belajar peserta didik akan berpengaruh


terhadap hasil belajar peserta didik, maka jika seorang peserta didik memiliki
kesiapan belajar yang baik maka peserta didik tersebut juga akan memiliki hasil
belajar yang baik pula.
Berdasarkan paparan di atas maka dapat diketahui bahwa untuk
meningkatkan hasil belajar siswa dapat dilakukan dengan memaksimalkan faktor
psikologi yang mempengaruhi hasil belajar antara lain dengan memaksimalkan
faktor kebiasaan belajar dan kesiapan belajar siswa dalam proses pembelajaran
sehingga tujuan pembelajaran untuk mendapat hasil belajar yang baik dapat
dicapai.

2.2 Penelitian Terdahulu


Selain bersumber dari buku dan artikel, landasan dalam penelitian ini
ditunjang pula oleh hasil penelitian terdahulu mengenai kebiasaan belajar,
kesiapan belajar dan hasil belajar. Muhidin & Sontani [CITATION Muh111 \p
53 \n \t \l 1033 ] menyatakan bahwa “penelitian sebelumnya bertujuan untuk
menentukan originalitas penelitian yang hendak dibuat”. Kajian ini dapat
mendukung penelitian sebelumnya yang memiliki kaitan dengan variabel yang
dibahas dalam penelitian ini. Di bawah ini penulis paparkan penelitian terdahulu
yang relevan dijadikan sebagai bahan rujukan sebagai berikut:
Tabel 2. 1
Penelitian Terdahulu
No Nama Judul Penelitian Hasil Penelitian
1. Fatiya Rosyida, Pengaruh Kebiasaan Kebiasaan belajar secara
Sugeng Utaya, Belajar dan Self Efficacy signifikan berpengaruh
Budijanto Terhadap Hasil Belajar terhadap hasil belajar siswa
(Jurnal Pendidikan Geografi di SMA dengan sumbangan efektif
Geografi, 21(2) sebesar 65,60%, kebiasaan
UM) belajar dan self-efficacy
secara signifikan berpengaruh
terhadap hasil belajar siswa
dengan sumbangan efektif
sebesar 65,20.
38

2. Roida Eva Flora Pengaruh Minat dan Dari perhitungan didapat


Siagian Kebiasaan Belajar Siswa rhitung= 0,45084. Pengujian
(Jurnal Formatif Terhadap Prestasi singnifikansi korelasinya
2(2), Pend. Belajar Matematika dalam penelitian ini diuji
Matematika, melalui uji hipotesis (uji t).
Universitas Dari hasil perhitungan, maka
Indraprasta PGRI) didapat t hitung = 2,99435
sedangkan t tabel = 2,048
pada taraf nyata 95%.
Sehingga dapat disimpulkan
bahwa terdapat pengaruh
antara kebiasaan belajar
terhadap prestasi belajar
siswa.
3. Vovi Sinta B. Pengaruh Kesiapan Ada pengaruh yang signifikan
(Jurnal Ilmiah Belajar Terhadap Hasil antara kesiapan siswa
Pendidikan Belajar Mata Pelajaran terhadap hasil belajar siswa
Ekonomi Ekonomi Kelas X Di dengan rincian kesiapan
[CITATION SMA Bina Jaya belajar siswa Kelas X di SMA
Sin17 \n \t \l Palembang. Bina Jaya Palembang
1033 ], 1(1), tergolong baik dengan
STKIP Nurul Huda kesiapan belajar siswa
Sukaraja Sumsel) diperoleh ;analisis data hasil
belajar (2%) kategori sangat
baik, (65%) kategori baik,dan
(53%) kategori cukup. Dan
rata-rata hasil belajar siswa
diperoleh sebesar 74,25 yang
mempunyai kategori baik dan
hasil analisis angket dan hasil
belajar.
4. Khalif Ashhabul Pengaruh Kesiapan Ada pengaruh kesiapan
Umam & Belajar Terhadap Hasil belajar terhadap hasil belajar.
Fakhruddin Belajar Peserta Didik Pada tabel R square diperoleh
(Journal of Program Paket C skor 0,410 yang artinya
Nonformal besaran pengaruh kesiapan
Education, 2(2) belajar peserta didik terhadap
Universitas Negeri hasil belajar adalah sebesar
Semarang) 41% dengan Pada analisis
regresi sederhana diperoleh
hasil yaitu skor F hitung=
45,247 lebih besar dari F tabel
= 3,99 pada taraf signifikansi
0,05.
5. Lucia Fransisca & Pengaruh Sikap Belajar Kebiasaan Belajar (X2)
Endang Sri dan Kebiasaan Belajar mempunyai probabilitas lebih
39

Sarwiyatin (Jurnal terhadap Hasil Belajar kecil yaitu 0.000<0,05, maka


Ilmiah. FKIP, Geografi Peserta Didik H0 ditolak atau koefisien
[CITATION SMA Negeri 1 Ponggok regresi signifikan yang berarti
Placeholder1 Kecamatan Ponggok kebiasaan belajar mempunyai
\n \t \l 1033 ]. Kabupaten Blitar hubungan atau korelasi secara
19(1) signifikan dengan hasil belajar
siswa.

2.3 Kerangka Berpikir


Sesuai dengan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, fokus
kajian penelitian ini mengenai pengaruh kebiasaan belajar dan kesiapan belajar
terhadap hasil belajar siswa. Adapun teori utama (grand theory) yang dijadikan
dasar dalam penelitian ini adalah teori belajar Konstruktivisme Vygotsky.
Menurut Vygotsky dalam Schunk [CITATION Sch12 \p 339 \n \t \l 1033
] yaitu “dalam pembelajaran terjadi proses interaksi antara faktor-faktor
interpersonal (sosial), faktor-faktor kultural-historis dan faktor-faktor individual
yang merupakan kunci dari perkembangan manusia sebagai pembelajar. Faktor
individual siswa membedakan perkembangan dan pengalaman belajar antara
siswa satu dengan siswa lainnya”. Hasil yang dicapai dalam konstruktivisme
adalah pemahaman mengenai suatu masalah. Lebih lanjut juga mengenai teori
konstruktivisme dijelaskan oleh Suyono & Hariyanto [CITATION Suy15 \p
107 \n \t \l 1033 ] yang menyatakan bahwa:
Hasil belajar sebagai tujuan dianggap penting, tetapi proses yang
melibatkan cara dan strategi dalam belajar juga dinilai penting. Dalam
proses belajar, hasil belajar, cara dan strategi belajar akan mempengaruhi
perkembangan tata piker dan skema berpikir seseorang dengan bentukan
(konstruksi) orang itu sendiri.
Asumsi dasar dalam penelitian ini adalah bahwa kebiasaan belajar dan
kesiapan belajar diduga memiliki pengaruh dalam peningkatan hasil belajar siswa.
Hasil belajar tentunya dipengaruhi oleh banyak faktor baik oleh siswa (internal)
maupun lingkungannya (eksternal), maka proses belajar yang efektif tentu akan
mendapatkan hasil belajar yang tinggi dan proses belajar yang efektif akan sangat
berkaitan erat dengan bagaimana kebiasaan dan kesiapan siswa dalam belajar.
Salah satu alasan teori konstruktivisme dijadikan grand theory dalam penelitian
ini karena objek penelitian yang penulis teliti berada di SMK Negeri 1 Bandung
yang menggunakan kurikulum 2013 dimana kurikulum tersebut bersifat
40

konstruktif, seperti dinyatakan oleh Majid & Rochman [CITATION Maj15 \p 3 \n


\t \l 1033 ] “prinsip pembelajaran kurikulum 2013 menekankan perubahan
paradigma peserta didik diberi tahu menjadi peserta didik mencari tahu dll”.
Dijelaskan oleh Sudjana [CITATION Sud06 \p 39 \n \t \l 1033 ] bahwa
ada dua faktor utama dalam menentukan tingkat hasil belajar siswa yaitu faktor
internal dan faktor eksternal. Faktor internal terdiri pada beberapa faktor yaitu: (1)
kemampuan; (2) motivasi; (3) konsep diri; (4) kebiasaan belajar; (5) ketekunan;
(6) minat dan perhatian; (7) fisik dan psikis. Faktor motivasi dapat diwujudkan
dengan adanya faktor kesiapan belajar pada siswa, sebagaimana disampaikan
Fatchurrohman (2011, hlm.173) bahwa motivasi akan memberikan dampak positif
terhadap kemajuan belajar siswa, yang diwujudkan melalui kesungguhan
membangun kesiapan dalam kegiatan pembelajaran.
Berbagai faktor tersebut saling berhubungan satu sama lain, namun faktor
yang paling mendasar yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah diri siswa itu
sendiri, faktor ini biasa disebut sebagai faktor internal atau psikologis siswa. Hal
ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh suwardi bahwa faktor terbesar yang
mempengaruhi hasil belajar adalah faktor psikologisnya sebesar 27,54% dimana
peran yang mengendalikan siswa dalam belajar adalah dirinya sendiri
[CITATION Ros161 \p 93 \t \l 1033 ].
Berdasarkan asumsi yang telah penulis kemukakan di atas, maka penulis
akan menyoroti faktor internal yang mempengaruhi hasil belajar yaitu faktor
psikologis berupa kebiasaan belajar dan kesiapan belajar. Kebiasaan belajar
mempengaruhi hasil belajar, hal ini didukung oleh Sudjana [CITATION Sud05 \p
165 \n \t \l 1033 ] yang menyatakan “keberhasilan siswa dalam mengikuti
pelajaran banyak tergantung pada kebiasaan belajar yang dilakukan teratur dan
berkesinambungan”. Pendapat tersebut diperkuat lagi oleh Ozsoy, Memis &
Temur [CITATION Ozs \p 134 \n \t \l 1033 ] yang mengemukakan bahwa
“Students who have proper study habits and attitudes are also successful
academically are evident according to many studies. (siswa yang memiliki
kebiasaan belajar dan sikap yang tepat mengalami kesuksesan akademis dari
siswa yang lain”.
41

Kebiasaan belajar dapat diukur dengan dimensi indikator yang


dikemukakan oleh Djaali [CITATION Dja09 \p 128 \n \t \l 1033 ] sebagai
berikut:
1) Work Methods (penggunaan cara atau prosedur belajar yang efektif)
Menunjukkan kepada: (1) penggunaan cara (prosedur) belajar yang efektif
seperti mencatat hal-hal penting saat belajar, memperhatikan guru dengan
sungguh-sungguh dan membuat diskusi kelompok; (2) efisiensi dalam
mengerjakan tugas akademik, dimana konsep efisiensi yang tercakup pada
penggunaan sumber belajar, biaya dan waktu yang dimaksimalkan; (3)
efisiensi dalam keterampilan belajar, dimana keterampilan belajar merujuk
pada keterampilan mencatat, membaca, bertanya yang digunakan secara
maksimal untuk mencapai tujuan belajar.
2) Delay Avoidance (penghindaran keterlambatan penyelesaian tugas)
Memiliki indikator mengenai: (1) ketepatan waktu penyelesaian tugas
akademis seperti adanya jadwal belajar siswa di rumah dan komitmen untuk
mematuhi jadwal tersebut; (2) adanya kemampuan untuk menghindari diri
dari hal-hal yang memungkinkan tertundanya penyelesaian tugas dan
menghilangkan rangsangan yang akan mengganggu konsentrasi belajar,
seperti adanya sikap suka menunda-nunda belajar, waktu bermain dan televisi
yang menjadi beberapa faktor terbesar penghambat belajar.
Selain kebiasaan belajar, faktor lain yang diduga mempengaruhi hasil
belajar yang diteliti dalam penelitian ini adalah faktor kesiapan belajar. Hamalik
[CITATION Ham091 \p 33 \n \t \l 1033 ] menyatakan murid telah siap belajar
akan dapat melakukan kegiatan belajar lebih mudah dan lebih berhasil.
Slameto [CITATION Sla13 \p 113 \n \t \l 1033 ] menjelaskan indikator
kesiapan belajar yaitu:
1) Siap secara fisik, mental dan emosional
Kondisi fisik mencakup pada tidak mengantuk saat belajar, kondisi kelelahan
dan penggunaan alat indera dalam mengikuti kegiatan belajar. Kondisi mental
adalah keadaan siswa yang berhubungan dengan kecerdasan, keyakinan dan
kepercayaan diri. Sedangkan kondisi emosional adalah kemampuan siswa
untuk mengatur emosinya dalam menghadapi masalah.
42

2) Kebutuhan, motif dan tujuan


Indikator ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana sikap siswa terhadap
belajar seperti siswa yang merasa membutuhkan materi ajar dengan belajar
tanpa rasa terpaksa, memiliki motif dan tujuan yang jelas dalam
melaksanakan proses belajar.
3) Pengetahuan dan keterampilan memadai yang telah dipelajari
Keterampilan dan pengetahuan adalah kemampuan dan pemahaman yang
telah dimiliki siswa terhadap materi yang akan diajarkan. Misalnya
kemampuan memahami materi yang disampaikan, kemampuan
menyimpulkan materi, kemampuan mengingat kembali materi yang telah
dipelajari, membaca buku referensi yang relevan.
Dari seluruh uraian yang penulis kemukakan di atas, maka kerangka
pemikiran dalam penelitian pengaruh kebiasaan belajar dan kesiapan belajar
terhadap hasil belajar dapat digambarkan sebagai berikut:
43

Teori Belajar Konstruktivisme Vygotsky


Dalam pembelajaran terjadi proses interaksi antara faktor-faktor interpersonal
(sosial), faktor-faktor kultural-historis dan faktor-faktor individual yang merupakan
kunci dari perkembangan manusia sebagai pembelajar. Faktor individual siswa
membedakan perkembangan dan pengalaman belajar antara siswa satu dengan
siswa lainnya.
Schunk (2012, p. 339)

Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar


Sudjana (2009, p. 39)

Faktor Internal Faktor Eksternal


Kemampuan Lingkungan
Motivasi Kualitas Pengajaran
Konsep Diri
Kebiasaan Belajar
Ketekunan Faktor Eksternal
Minat dan Perhatian Lingkungan
Fisik dan Psikis “motivasiKualitas
akan memberikan
Pengajaran dampak positif
terhadap kemajuan belajar39)
Sudjana (2009,hlm. siswa, yang
diwujudkan melalui kesungguhan
Faktor Internal membangun Kesiapan dalam kegiatan
Kemampuan pembelajaran”.
IndikatorMotivasi
Kebiasaan Belajar Fatchurrohman (2011, hlm.. 173)
Konsep Diri yang efektif
Menggunakan cara belajar
Kebiasaan Belajar “motivasi akan memberikan dampak positif
Efisiensi dalam mengerjakan tugas terhadap kemajuan belajar siswa, yang
Ketekunan
akademik Minat dan Perhatian diwujudkan melalui kesungguhan
Efisiensi menggunakan keterampilan Indikator
membangun Kesiapan
Kesiapan Belajar
dalam kegiatan
Fisik dan Psikis
dalam belajar Sudjana (2009, hlm. 39) Kondisi fisik,pembelajaran”.
mental dan emosional
Kemampuan mengatur waktu belajar Kebutuhan, motif dan
Fatchurrohman tujuan
(2011, hlm.173)
Mengatur faktor penghambat belajar Keterampilan dan pengetahuan yang
Djaali (2009, hlm. 128) telah dipelajari.
Slameto (2013, hlm. 113)

Hasil Belajar Indikator Kesiapan Belajar


Nilai Hasil Belajar (UTS, UASfisik, mental dan emosional
Kondisi
dan nilai tugas) Siswa Kelas X motif dan tujuan
Kebutuhan,
Mata PelajaranKeterampilan dan pengetahuan yang
Korespondensi telah dipelajari.
Gambar 2. 1 Slameto (2013, hlm. 113)
Kerangka Berpikir
Hasil Belajar
Nilai Akhir Hasil Belajar (UTS,
UAS dan nilai tugas) Siswa
Kelas X Mata Pelajaran
Korespondensi
44

Berdasarkan bagan kerangka pemikiran dapat dibuat model kausalitas


antar-variabel penelitian sebagaimana diilustrasikan pada gambar berikut:

X1

Y
X1
X2 Y

X2 G
a
Gambar 2.2
m
Hubungan Kausalitas Variabel
b
Keterangan: ar
2.
X1 : Kebiasaan Belajar 2
X2 : Kesiapan Belajar H
u
Y : Hasil Belajar
b
: Panah arah hubungan kausalitas u
ε : Faktor-faktor lain yang mempengaruhi Y (tidak diteliti) n
g
a
2.4 Hipotesis Penelitian n
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan K masalah atau
a
sub-masalah yang diajukan oleh peneliti, yang dijabarkan dari landasan
us teori atau
kajian teori dan masih harus diuji kebenarannya [CITATION Rid12 al \p 9 \t \l 1033
it
]. Berdasarkan uraian di atas dapat dijelaskan bahwa hipotesis merupakan jawaban
as
sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga. V
ar
Bertolak dari fokus masalah yang diteliti, adapun hipotesis dalam
ia
penelitian ini adalah: b
el
1) Terdapat pengaruh kebiasaan belajar terhadap hasil belajar siswa.
2) Terdapat pengaruh kesiapan belajar terhadap hasil belajar siswa.
3) Terdapat pengaruh kebiasaan belajar dan kesiapan belajar terhadap hasil
belajar siswa.