Anda di halaman 1dari 27

KEPEMIMPINAN GURU PENJAS SMP MUHAMMADIYAH 4

MEDAN

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kepemimpinan Semester 1


(satu) Tahun 2020

(Dosen Pengampu: (Drs. Surbakti Karo Karo,.M.Si.Ak,CA.)

DISUSUN OLEH :

ANY SYAHPUTRI

(7201220006)

AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas PROJECT mata kuliah
Kepemimpinan. Penulis juga berterima kasih kepada Bapak Dosen (Drs.
Surbakti Karo Karo,.M.Si.Ak,CA) selaku dosen pengampu mata kuliah
Kepemimpinan. Pembuatan PROJECT ini bertujuan untuk pemenuhan salah satu
tugas KKNI mata kuliah Kepemimpinan dan sebagai bahan perkuliahan.

Penulis juga menyadari bahwa tugas ini masih terdapat kekurangan, oleh
karena itu penulis minta maaf jika ada kesalahan dalam penulisan, serta penulis
juga mengharap kritik dan saran yang membangun guna kesempurnaan tugas ini.

Akhir kata penulis ucapkan terima kasih, semoga dapat bermanfaat dan
bisa menambah pengetahuan bagi pembaca.

Medan, September 2020

Penulis;

Any Syahputri

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………...i
DAFTAR ISI……………………………………………………………………..ii
BAB 1 PENDAHULUAN………………………………………………………..6
A.LATAR BELAKANG MASALAH…………………………………….…….6
B.RUMUSAN MASALAH………………………………………………………6
C.TUJUAN PENELITIAN………………………………………………………6
D.MANFAAT PENELITIAN……………………………………………………8
BAB II KAJIAN TEORITIS…………………………………………………...10
A.DEFINIS TENTANG TENAGA PENDIDIK/GURU……………………...10

B.PENGEMBANGAN TENAGA PENDIDIK………………………………..11

C.STRATEGI PENGEMBANGAN TENAGA PENDIDIK/GURU………...12


D.FUNGSI TENAGA PENDIDIK/GURU…………………………………….12
E.HAMBATAN DALAM PENGAJARAN……………………………………14
F. CIRI GURU PROFESIONAL………………...…………………………….14
BAB III PROSEDUR PELAKSANAAN PROJECK…………...……………16
A.LOKASI DAN WAKTU PROJECK……………………………………..…16
B.POPULASI DAN SAMPEL………………………………………………….16
C.DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL DAN INDIKATOR…...………18
D.INSTRUMEN PENELITIAN………………………………………………..19
E.ANALISIS DATA……………...……………………………………………..19
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN………………………20
A.HASIL PENELITIAN………………………………………………………..20
B.DESKRIPSI DATA…………………………………………………………..21
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN…………….…………………………..25
A.KESIMPULAN……………………………………………………………….25
B.SARAN………………………………………………………………………..25
DAFTAR PUSTAKA………….………………………………………………..30
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH


Tenaga pendidik dalam proses pendidikan memegang peranan
strategis terutama dalam upaya membentuk watak bangsa melalui
pengembangan kepribadian dan nilai-nilai yang diinginkan. Dipandang dari
dimensi pembelajaran, peranan pendidik (guru, dosen, pamong belajar,
instruktur, tutor, widyaiswara) dalam masyarakat Indonesia tetap dominan
sekalipun teknologi yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran
berkembang amat cepat. Hal ini disebabkan karena ada dimensi-dimensi
proses pendidikan, atau lebih khusus lagi proses pembelajaran, yang
diperankan oleh pendidik yang tidak dapat digantikan oleh teknologi. Fungsi
mereka tidak akan bisa seluruhnya dihilangkan sebagai pendidik dan pengajar
bagi peserta didiknya. Begitu pun dengan tenaga kependidikan (kepala
sekolah, pengawas, tenaga perpustakaan, tenaga administrasi) mereka
bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan,
pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada
satuan pendidikan.

Sehubungan dengan tuntutan kearah profesionalisme tenaga pendidik


dan kependidikan, maka semakin dirasakannya desakan untuk peningkatan
mutu pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan yang telah menjadi
komitmen pendidikan nasional. Isu klasik yang selalu muncul selama ini ialah
: usaha apa yang paling tepat untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui
peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan? Oleh karenanya
penting untuk memahami terlebih dahulu bagaimana mengelola pendidik dan
tenaga kependidikan tersebut.

6
Manajemen tenaga kependidikan atau manajemen personalia pendidikan
bertujuan untuk mendayagunakan tenaga kependidikan secara efektif dan
efisien untuk mencapai hasil yang optimal, namun tetap dalam kondisi yang
menyenangkan. Untuk mewujudkan keseragaman perlakuan dan kepastian
hukum bagi tenaga kependidikan tersebut dalam melaksanakan tugas dan
fungsi, wewenang dan tanggung jawabnya sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan yang berlaku, maka diperlukan seorang guru yang
berkompeten dalam suatu pembelajaran disekolah.

B. RUMUSAN MASALAH
Bedasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat dirumuskan
masalah penelitian sebagai berikut : “Bagaimana kinerja tenaga pendidik
yaitu guru penjas di SMP MUHAMMADIYAH 4 MEDAN melalui para
dewan guru, dan bantuan dari kepala sekolah?” yang meliputi:
1. Kegiatan belajar yang dilakukan guru tersebut
2. Sikap atau respons yang diberikan guru tersebut
3. Perencanaan yang dilakukan sebelum pembelajaran dilakukan oleh guru
tersebut
4. Tanggung jawab yang diemban oleh guru tersebut.

C. TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan dari penelitian ini melihat dari latar belakang dan rumusan
masalah diatas yaitu sebagai berikut adalah
1. Untuk mengetahui jawaban atas pertanyaan Bagaimana kinerja tenaga
pendidik yaitu guru penjas di SMP MUHAMMADIYAH 4 MEDAN
melalui para dewan guru, dan bantuan dari kepala sekolah?”
2. Untuk mengetahui kriteria kepemimpinan guru penjas di SMP
MUHAMMADIYAH 4 MEDAN.

6
D. MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1. Dewan guru di sekolah dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar
yang sesuai dan tepat juga dengan keefektifan di lingkungan sekolah
2. Dewan guru mengetahui keluh kesah yang dihadapi oleh santri-santri dan
juga mengubah hal yang belum sesuai dengan lingkungan sekolah
3. Memenuhi tugas (tanggung jawab) dan mendapatkan nilai terhadapat tugas
yang telah dibuat ini
4. Menambah wawasan dalam mengerjakan laporan ini

8
BAB II
KAJIAN TEORITIS

A.DEFINIS TENTANG TENAGA PENDIDIK/GURU

Undang-undang nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen. Guru adalah


pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan
anak usia dini melalui jalur formal pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
Pengertian guru diperluas menjadi pendidik yang dibutuhkan secara dikotomis
tentang pendidikan. Pada bab XI tentang pendidik dan tenaga kependidikan.
Dijelaskan pada ayat 2 yakni pendidik merupakan tenaga profesional yang
bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. Hasil motivasi
berprestasi, melakukan bimbingan dan pelatihan serta melakukan penelitian dan
pengabdian kepada masyarakat terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.

Husnul Chotimah (2008) Guru dalam pegertian sederhana adalah orang yang


memfasilitasi proses peralihan ilmu pengetahuan dari sumber belajar ke peserta
didik.

Dri Atmaka (2004: 17) pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab
memberikan pertolongan kepada anak didik dalam perkembangan baik jasmani
maupun rohaninya. Agar tercapai tingkat kedewasaan mampu berdiri sendiri
memenuhi tugasnya sebagai mahluk Tuhan, mahluk sosial dan mahluk individu
yang mandiri.

E. Mulyasa (2003: 53) pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan


kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki
kemampuan untuk mewujudkan tujuan Pendidikan Nasional.

Ahmadi (1977: 109) pendidik adalah sebagai peran pembimbing dalam


melaksanakan proses belajar mengajar.

10
Menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa merasa aman dan
berkeyakinan bahwa kecakapan dan prestasi yang dicapai mendapat penghargaan
dan perhatian sehingga dapat meningkatkan motivasi berprestasi siswa.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (1993: 288) guru adalah orang yang


pekerjaannya, mata pencahariannya, dan profesinya mengajar.

Drs. Moh. Uzer Usman (1996: 15) guru adalah setiap orang yang bertugas dan
berwenang dalam dunia pendidikan dan pengajaran pada lembaga pendidikan
formal. Guru sekolah dasar adalah guru yang mengajar dan mengelola
administrasi di sekolah itu. Untuk melaksanakan tugasnya prinsip-prinsip tentang
tingkah laku yang diinginkan dan diharapkan dari semua situasi pendidikan adalah
berjiwa Pancasila. Berilmu pengetahuan dan keterampilan dalam menyampaikan
serta dapat dipertanggungjawabkan secara didaktis dan metodis. Sebagai
profesi, guru memenuhi ciri atau karakteristik yang melekat pada guru, yaitu:

Memiliki fungsi dan signifikasi sosial bagi masyarakat, dirasakan manfaatnya


bagi masyarakat.

Menurut ketrampilan tertentu yang diperoleh melalui proses pendidikan yang


dapat dipertanggungjawabkan.

Memiliki kompetensi yang didukung oleh suatu disiplin ilmu tertentu (a sytenatic
body of knowledge).

Memiliki kode etik yang dijadikan sebagai satu pedoman perilaku anggota beserta
saksi yang jelas dan tegas terhadap pelanggaran kode eti tersebut.

Sebagai konsekwensi dari layanan dan prestasi yang diberikan kepada


masyarakat, maka anggota profesi secara perorangan atau kelompok berhak
memperoleh imbalan finansial atau material.

10
B.PENGEMBANGAN TENAGA PENDIDIK

Tenaga pendidik merupakan profesi yang sangat penting dalam kehidupan suatu
bangsa, hal ini tidak lain karena posisi pendidikan yang sangat penting dalam
konteks kehidupan bangsa. Pendidik merupakan unsur dominan dalam suatu
proses pendidikan, sehingga kualitas pendidikan banyak ditentukan oleh kualitas
pendidik dalam menjalankan peran dan tugasnya di masyarakat

Dengan mengingat hal tersebut, maka jelas bahwa upaya-upaya untuk terus
mengembangkan profesi pendidik (Guru) menjadi suatu syarat mutlak bagi
kemajuan suatu bangsa, meningkatnya kualitas pendidik akan mendorong pada
peningkatan kualitas pendidikan baik proses maupun hasilnya.

1. Pengembangan profesi Pendidik/Guru

Dalam konteks Indonesia dewasa ini, nampak kecenderungan makin menguatnya


upaya pemerintah untuk terus mengembangkan profesi pendidik sebagai profesi
yang kuat dan dihormati sejajar dengan profesi lainnya yang sudah lama
berkembang, hal ini terlihat dari lahirnya UU No 14 tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen. Undang-undang ini jelas menggambarkan bagaimana pemerintah mencoba
mengembangkan profesi pendidik melalui perlindungan hukum dengan standard
tertentu yang diharapkan dapat mendorong pengembangan profesi pendidik.

Perlindungan hukum memang diperlukan terutama secara sosial agar civil effect
dari profesi pendidik mendapat pengakuan yang memadai, namun hal itu tidak
serta-merta menjamin berkembangnya profesi pendidik secara individu, sebab
dalam konteks individu justru kemampuan untuk mengembangkan diri sendiri
menjadi hal yang paling utama yang dapat memperkuat profesi pendidik. Oleh
karena itu upaya untuk terus memberdayakannya merupakan suatu keharusan agar
kemampuan pengembangan diri para pendidik makin meningkat.

Dengan demikian, dapatlah dipahami bahwa meskipun perlindungan hukum itu


penting, namun pengembangan diri sendiri lebih penting dan strategis dalam
upaya pengembangan profesi, ini didasarkan beberapa alasan yaitu :

Perlindungan hukum penting dalam menciptakan kondisi dasar bagi penguatan


profesi pendidik, namun tidak dapat menjadikan substansi pengembangan profesi
pendidik otomatis terjadi

11
Perlindungan hukum dapat memberikan kekuasan legal (legal power) pada
pendidik, namun akan sulit menumbuhkan profesi pendidik dalam pelaksanaan
peran dan tugasnya di bidang pendidikan

Pengembangan diri sendiri dapat menjadikan profesi pendidik sadar dan terus
memberdayakan diri sendiri dalam meningkatkan kemampuan berkaitan dengan
peran dan tugasnya di bidang pendidikan

Pengembangan diri sendiri dapat memberikan kekuasaan keahlian (expert power)


pada pendidik, sehingga dapat menjadikan pendidik sebagai profesi yang kuat dan
penting dalam proses pendidikan bangsa.

Oleh karena itu, pendidik mesti terus berupaya untuk mengembangkan diri sendiri
agar dalam menjalankan peran dan tugasnya dapat memberikan kontribusi yang
signifikan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia bagi
kepentingan pembangunan bangsa yang maju dan bermoral sesuai dengan tujuan
pendidikan nasional.

11
C.STRATEGI PENGEMBANGAN TENAGA PENDIDIK/GURU

Mengembangan profesi tenaga pendidik bukan sesuatu yang mudah, hal ini
disebabkan banyak faktor yang dapat mempengaruhinya, untuk itu pencermatan
lingkungan dimana pengembangan itu dilakukan menjadi penting, terutama bila
faktor tersebut dapat menghalangi upaya pengembangan tenaga pendidik. Dalam
hubungan ini, faktor birokrasi, khususnya birokrasi pendidikan sering
kurang/tidak mendukung bagi terciptanya suasana yang kondusif untuk
pengembangan profesi tenaga pendidik.

Sebenarnya, jika mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berkaitan


dengan pendidikan, birokrasi harus memberikan ruang dan mendukung proses
pengembangan profesi tenaga pendidik, namun sistem birokrasi kita yang
cenderung minta dilayani telah cukup berakar, sehingga peran ideal sebagaimana
dituntun oleh peraturan perundang-undangan masih jauh dari terwujud.

Dengan mengingat hal tersebut, maka diperlukan strategi yang tepat dalam upaya
menciptakan iklim kondusif bagi pengembangan profesi tenaga pendidik, situasi
kondusif ini jelas amat diperlukan oleh tenaga pendidik untuk dapat
mengembangkan diri sendiri kearah profesionilisme pendidik. Dalam hal ini,
terdapat beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk menciptakan situasi yang
kondusif bagi pengembangan profesi pendidik, yaitu :

Strategi perubahan paradigma. Strategi ini dimulai dengan mengubah paradigma


birokasi agar menjadi mampu mengembangkan diri sendiri sebagai institusi yang
berorientasi pelayanan, bukan dilayani.

Strategi debirokratisasi. Strategi ini dimaksudkan untuk mengurangi tingkatan


birokrasi yang dapat menghambat pada pengembangan diri pendidik

Strategi tersebut di atas memerlukan metode operasional agar dapat dilaksanakan,


strategi perubahan paradigma dapat dilakukan melalui pembinaan guna
menumbuhkan penyadaran akan peran dan fungsi birokrasi dalam kontek
pelayanan masyarakat, sementara strategi debirokratisasi dapa dilakukan dengan
cara mengurang dan menyederhanakan berbagai prosedur yang dapat menjadi
hambatan bagi pengembangan diri tenaga pendidik serta menyulitkan pelayanan
bagi masyarakat.

12
D.FUNGSI TENAGA PENDIDIK/GURU

 Guru adalah figur seorang pemimpin. Bila di pahami tugas  Guru tidak
hanya harus menguasai satu atau beberapa disiplin keilmuan yang harus dapat
diajarkannya, ia harus juga mendapat pendidikan kebudayaan yang mendasar
untuk aspek manusiawinya. Jadi di samping membiasakan mereka untuk mampu
menguasai pengetahuan yang dalam, juga membantu mereka untuk dapat
menguasai satu dasar kebudayaan yang kuat. Jadi bagi guru-guru juga perlu
diberikan dasar pendidikan umum.

menurut Roestiyah N.K.,tugas guru adalah sebagai berikut:

Ø  Menyerahkan kebudayaan kepada anak didik berupa kepandaian, kecakapan


dan pengalaman – pengalaman

Ø  Membentuk kepribadian anak yang harmonis, sesuai cita- cita dan dasar negara
kita pancasila

Ø  Menyiapkan anak menjadi warga negara yang baik sesuai Undang- undang
pendidikan yang merupakan keputusan MPR No.II Tahun 1983

Ø  Sebagai perantara dalam belajar. Didalam proses belajar guru hanya sebagai
perantara/ medium, anak harus berusaha sendiri mendapatkan/ insight timbul
perubahan dalam penegtahuan, tingkah laku dan sikap.

Ø  Guru adalah pembimbing, untuk membawa anak didik kearah kedewasaan,


pendidik tidak maha kuasa, tidak dapat membentuk anak didik menurut
kehendaknya.

Ø  Guru adalah pen dihubung antara sekolah dan masyarakat. Anak nantinya kan
hidup dan bekerja, serta mengabdikan diri dalam masyarakat, dengan demikian
anak harus dilatih dan dibiasakan di sekolah terlebih dahulu.

Ø  Guru sebagai administrator dan menejer Diamping mendidik, seorang guru


haru dapat mengerjakan urusan tata usaha membuat buku kas, daftar induk, rapor,
daftar gaji, dan sebagainya, serta dapat mengkoordinasi segala pekerjaan di
sekolah secara demokratis, sehingga suasana pekerjaan penuh dengan rasa
kekeluargaan.

12
Ø  Pekerjaan guru sebagai suatu profesi. Orang yang menjadi guru karena
terpaksa tidak dapat bekerja dengan baik, maka harus menyadari benar- benar
pekerjaannya sebagai suatu profesi.

Ø  Guru sebagai perencana kurikulum. Guru mengahdapi anak- anak setiap hari,
gurulah yang paling tahu kebutuhan anak- anak dan masyarakat sekitar, maka
dalam menyusun kurikulum, kebutuhan ini tidak boleh di tinggalkan.

Ø  Guru sebagai pemimpin. Guru mempunyai kesempatan dan tanggung jawab


dalam banyak situasi untuk membimbing anak kearah pemecahan soal,
membentuk keputusan, dan menghadapkan anak- anak kepada problem

Ø  Guru sebagai sponsor dalam kegiatan anak- anak. Guru harus turut aktif dalam
segala aktifitas anak,misalnya dalm ekstrakurikuler membentuk kelompok belajar
dan sebagainya.                    

Guru adalah sosok arsitektur yang dapat membentuk jiwa dan watak anak didik.
Guru mempunyai kekuasaan untuk membentuk dan membangun kepribadiaan
anak didik menjadi seorang yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa dan
negara. Guru harus bertanggung jawab atas segala sikap dan tingkah laku, dan
perbuatannya dalam rangka membina jiwa dan watak anak didik.

Menurut Wens Tanlain dan kawan- kawan sesungguhnya guru yang bertanggung


jawab memiliki beberapa sifat, yaitu :

Menerima dan mematuhi norma, nilai- nilai kemanusiaan;

Memikul tugas mendidik dengan bebas, berani, gembira ( tugas bukan menjadi
beban baginya );

Sadar akan nilai- nilaiyang berkaitan dengan perbuatan serta akibat- akibat yang
timbul;

Menghargai orang lain termasuk anak didik

Bijaksana dan hati- hati

Takwa terhadap tuhan yang maha esa

12
Tugas seorang guru jika di kelompokkan terbagi menjadi tiga jenis, yakni tugas
dalam bidang profesi, tugas kemanusiaan, dan tugas dalam bidang
kemasyarakatan. Guru merupakan profesi / jabatan yang memerlukan keahlian
khusus sebagai guru.  Jenis pekerjaan ini tidak dapat dilakukan oleh sembarang
orang di luar bidang kependidikan walaupun kenyataannya masih dilakukan orang
diluar pendidikan itulah sebabnya jenis profesi ini palin mudah terkena
pencemaran.tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar, dan melatih.
Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai- nilai hidup. Mengajar
berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi.sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan –
keterampilan pada siswa. 

Tugas guru sebagai suatu profesi menuntut kepada guru untuk mengembangkan
profesionalitas diri sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Mendidik, mengajar, dan melatih anak didik adalah tugas guru sebagai suatu
profesi. Guru hendaklah dapat membantu anaka didiknya meneruskan dan
mengembangkan nilai- nilai hidup, mengembangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi, dan mengembangkan serta menerapkannya dalam kehidupan demi
masa depan mereka.

Tugas guru dalam bidang kemanusian disekolah harus dapat menjadikan dirinya
sebagai orang tua kedua.ia harus mampu menarik simpati sehingga ia menjadi
idola para siswannya. Pelajaran apapun yang diberikan, hendaknya dapat menjadi
motivasi bagi siswanya dalam belajar.

Bila seorang guru dalam penampilannya sudah tidak menarik, maka kegagalan
pertama ia tidak akan dapat menanamkan benih pengajaranya itu kepada
siswanya. Para siswa akan enggan mengahadapi guru yang tidak menarik.
Pelajaran tidak dapat diserap sehinnga setiap lapisan masyarakat (homo ludens,
homopuber, dan homo sapiens) dapat di mengerti bila mengahadapi guru.

Menurut  WF Connell (1972) membedakan tujuh peran seorang guru yaitu

Pendidik (nurturer) Peran guru sebagai pendidik (nurturer) merupakan peran-


peran yang berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan
(supporter), tugas-tugas pengawasan dan pembinaan (supervisor) serta tugas-tugas
yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap
aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat

Model, Peran guru sebagai model atau contoh bagi anak. Setiap anak
mengharapkan guru mereka dapat menjadi contoh atau model baginya.

12
Oleh karena itu tingkah laku pendidik baik guru, orang tua atau tokoh-tokoh
masyarakat harus sesuai dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat,
bangsa dan negara. Karena nilai nilai dasar negara dan bangsa Indonesia adalah
Pancasila, maka tingkah laku pendidik harus selalu diresapi oleh nilai-nilai
Pancasila.

Peranan guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam pengalaman belajar. Setiap
guru harus memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman lain di luar
fungsi sekolah seperti persiapan perkawinan dan kehidupan keluarga, hasil belajar
yang berupa tingkah laku pribadi dan spiritual dan memilih pekerjaan di
masyarakat, hasil belajar yang berkaitan dengan tanggurfg jawab sosial tingkah
laku sosial anak.

Peran guru sebagai pelajar (leamer). Seorang guru dituntut untuk selalu
menambah pengetahuan dan keterampilan agar supaya pengetahuan dan
keterampilan yang dirnilikinya tidak ketinggalan jaman. Pengetahuan dan
keterampilan yang dikuasai tidak hanya terbatas pada pengetahuan yang berkaitan
dengan pengembangan tugas profesional, tetapi juga tugas kemasyarakatan
maupun tugas kemanusiaan.

Peran guru sebagai setiawan dalam lembaga pendidikan. Seorang guru diharapkan
dapat membantu kawannya yang memerlukan bantuan dalam mengembangkan
kemampuannya. Bantuan dapat secara langsung melalui pertemuan-pertemuan
resmi maupun pertemuan insidental.

Peranan guru sebagai komunikator pembangunan masyarakat. Seorang guru


diharapkan dapat berperan aktif dalam pembangunan di segala bidang yang
sedang dilakukan. Ia dapat mengembangkan kemampuannya pada bidang-bidang
dikuasainya.

Guru sebagai administrator. Seorang guru tidak hanya sebagai pendidik dan
pengajar, tetapi juga sebagai administrator pada bidang pendidikan dan
pengajaran. Oleh karena itu seorang guru dituntut bekerja secara administrasi
teratur. Segala pelaksanaan dalam kaitannya proses belajar mengajar perlu
diadministrasikan secara baik. Sebab administrasi yang dikerjakan seperti
membuat rencana mengajar, mencatat hasil belajar dan sebagainya merupakan
dokumen yang berharga bahwa ia telah melaksanakan tugasnya dengan baik

12
Selain memiliki tugas, guru juga memiliki fungsi yang tidak kalah pentingnya
dalam dunia pendidikan. Peran dan kompetensi guru dalam proses belajar
mengajar meliputi banyak hal sebagaimana yang dikemukakan
oleh Adam dan Decey dalam Basic Principles Of Student Teaching,  diantaranya
adalah : 

Guru sebagai demostrator

Melalui perannya sebagai demonstrator, guru hendaknya senantiasa menguasai


bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkan serta senantiasa
mengembangkannya dalam arti meningkatkan kemampuan dalam hal ilmu yang
dimilikinya karena hal ini akan sangat menentukan hasil belajar yang dicapai oleh
siswa

Guru sebagai penegelola kelas

Dalam perannya sebagai pengelola kelas, guru hendaknya mampu mengelola


kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek dari lingkungan sekolah
yang perlu diorganisasikan

Guru sebagai mediator atau fasilitator

Sebagai mediator, guru hendaknya memiliki penegtahuan dan pemahaman yang


cukup tentang media pendidikan karena pendidikan merupakan alat komunikasi
untuk lebih mengefektifkan proses belajar mengajar.

Guru sebagai evaluator

Guru hendaknya mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan tercapai atau
belum, dan apakah materi yang telah diajarkan sudah cukup tepat dan dapat di
pahami oleh siswannya.

Disamping fungsi- fungsi yang telah diutarakan diatas, ada beberapa lagi fungsi
guru sebagai pendidik atau siapa saja yang telah menerjunkan diri menjadi guru,
yaitu :

a.  Korektor

Sebagai korektor, guru harus bisa membedakan mana nilai yang baik dan mana
nilai yang buruk. Nilai yang berbeda ini harus betul- betul dipahami dalam
kehidupan masyarakat.

12
b.  Informator

Sebagai informotory, guru harus dapat memberikan informasi perkembangan ilmu


penegtahuan dan teknologi, selain sejumlah bahan pelajaran untuk setiap mata
pelajaranyang telah diprogramkan dalam kurikilum.

c.  Motivator

Sebagai motivator, guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar bergairah
dan aktif belajar.

d.  Inisiator

Dalam fungsinya sebagai inisiator, guru harus dapat menjadi pencetus ide- ide
kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran.

e.  Pembimbing

Peran guru yang tidak kalah penting dari semua peran yang telah disebutkan
diatas, adalah sebagai pembimbing. Peranan ini harus lebih dipentingkan, karena
kehadiran guru disekolah adalah untuk membimbing anak didik menjadi manusia
dewasa susila yang cakap

f.  Supervisor

Sebagai supervior, guru hendaknya dapat membantu, memperbaiki, dan menilai


secara kritis terhadap proses pengajaran.

Sebagai manager guru mempunyai beberapa fungsi umum yang harus


dilakukan guru agar mampu melaksanakan peran sebagai pengelola pembelajaran
dengan baik. Sanjaya (2008: 24) menyebutkan fungsi-fungsi guru secara umum,
antara lain yaitu:

Merencanakan tujuan belajar

Mengorganisasikan berbagai sumber belajar untuk mewujudkan tujuan belajar

Memimpin, yang meliputi memberikan motivasi, mendorong, dan memberikan


stimulus pada siswa

Mengawasi segala sesuatu, apakah sudah berfungsi sebagaimana mestinya atau


belum dalam rangka pencapaian tujuan

12
E.HAMBATAN DALAM PENGAJARAN

Fakor internal

Kurangnya motivasi, minat, perhatian, kepercayaan diri serta kebiasaan belajar


dari siswa itu sendiri, sehingga guru sulit untuk memahai satu persatu latar
belakang siswa yang berbeda dan juga cara belajar yang sesuai.

Fakor eksternal

Tidak adanya dukungan dari orang terdekat, tidak adanya dukungan dari bawahan,
terlalu banyak tekanan. Faktor tersebut mempengaruhi siswa sehingga guru
kesulitan dalam proses belajar mengajar.

F.CIRI GURU PROFESIONAL

Guru harus selalu mempunyai tenaga untuk siswanya. Guru yang baik akan
memberi perhatian pada siswa di setiap obrolan atau diskusi yang dilakukan dan
punya kemampuan mendengar dengan seksama.

Seorang guru harus mempunyai tujuan yang jelas. Ciri guru profesional adalah
menetapkan tujuan setiap pelajaran secara jelas dan bekerja guna memenuhi
tujuan dalam setiap kelas.

Mempunyai keterampilan untuk mendidik agar murid disiplin. Guru harus


mempunyai keterampilan disiplin yang efektif. Hal ini agar bisa memberi promosi
atas perubahan perilaku positif di dalam kelas.

Mempunyai keterampilan manajemen di dalam kelas yang baik. Guru harus


mempunyai keterampilan manajemen di dalam kelas yang baik serta bisa
memastikan agar perilaku siswa menjadi baik saat siswa belajar dan bekerja sama.

Guru harus bisa berkomunikasi secara baik dengan orang tua murid. Seorang guru
harus menjaga komunikasi yang baik dengan orang tua dan bisa membuat mereka
selalu mengerti tentang informasi yang sedang terjadi.

Guru mempunyai ekspektasi yang tinggi pada muridnya. Guru profesional


memiliki ekspektasi besar pada siswa serta memacu semua siswa untuk terus
bekerja dan mengerahkan potensi terbaik yang mereka miliki.

14
BAB III
PROSEDUR PELAKSANAAN PROJECK

A.LOKASI DAN WAKTU PROJECK

Projeck penelitian ini dilakukan di SMP MUHAMMADIYAH 4 MEDAN, Jl.


Kapten Muslim, Gang Jawa Lorong Muhammadiyah, Medan Helvetia, Sumatera
Utara. Pada tanggal 7 April 2017. Observasi kesekolah memakan waktu selama 1
hari. Lalu minggu berikutnya kami lakukan untuk menuyusun laporan kami.

B.POPULASI DAN SAMPEL

Dalam penelitian ini, saya mengambil data dari satu orang guru penjas di sekolah .
Dari beliau lah penulis mendapat penjelasan mengenai tenaga pendidik yang layak
dilakukan di lingkungan sekolah. Penulis menggunakan metode wawancara dan
angket agar lancarnya observasi yang dilaksanakan.

16
C.DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL DAN INDIKATOR

Definisi tenaga pendidik Ahmad Tafsir mengemukakan pendapat bahwa


guru ialah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak
didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik, baik
potensi afektif, kognitif maupun psikomotorik.·

Sedangkan menurut Hadari Nawawi bahwa pengertian guru dapat dilihat dari dua
sisal. Pertama secara sempit, guru adalah ia yang berkewajiban mewujudkan
program kelas, yakni orang yang kerjanya mengajar dan memberikan pelajaran di
kelas. Sedangkan secara luas diartikan guru adalah orang yang bekerja dalam
bidang pendidikan dan pengajaran yang ikut bertanggung jawab dalam membantu
anak-anak dalam mencapai kedewasaan masing-masing. Pengertian-pengertian
diatas menurut Muhibbin Syah masih bersifat umum, dan oleh karenanya dapat
mengundang bermacam-macam interpretasi dan bahkan juga konotasi (arti lain).
Pertama adalah kata “seorang (A Person) bisa mengacu pada siapa saja asal
pekerjaan sehari-harinya (profesinya) mengajar. Dalam hal ini berarti bukan
hanya dia yang sehari-harinya mengajar disekolah yang dapat disebut guru,
melainkan juga dia-dia yang lainnya yang berprofesi (berposisi) sebsagai Kyai di
pesantren, pendeta di gereja, instruktur di balai pendidikan dan pelatihan, kedua
adalah kata “mengajar” dapat pula ditafsirkan bermacam-macam misalnya:

Menularkan (menyampaikan) pengetahuan dan kebudayaan kepada orang lain


(bersifat kognitif)

Melaih keterampilan jasmani kepada orang lain (psikomotorik)

Menanamkan nilai dan keyakinan kepada orang lain (afektif)

Akan tetapi terlepas dari bermacam interpretasi tadi guru yang dimaksud dalam
pembahasan ini ialah tenaga pendidik yang pekerjaannya mengajar seperti yang
tersebut dalam UUSPN tahun 1989 Bab VII pasal 27 ayat 3. ·

Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil sebuah konklusi bahwa yang
dimaksud guru adalah seorang atau mereka yang pekerjaannya khusus
menyampaikan (mengajarkan) materi pelajaran kepada siswa disekolah.

18
D.INSTRUMEN PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode lapangan melalui wawancara dan pengamatan


dan melihat terjadinya konflik serta pemecahan yang dilakuka ole guru BK itu
sendiri. Adapun instrumen yang digunakan adalah :

1.      Angket

2.      Pertanyaan wawancara

3.      Lembar-lembar observasi

E.ANALISIS DATA

Pengumpulan data yang penulis tuliskan dalam laporan bersumber dari guru
penjas yang berada di sekolah tersebut. Di mana memperoleh data mengenai
kegiatan belajar yang dilakukan, perencaan dan tanggung jawab tenaga pendidik
untuk melaksanakan tugasnya dengan baik yang harus dipenuhi sebagai tenaga
pendidik.

19
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui kinerja tenaga pendidik khusunya


guru penjas di dalam sekolah serta mengetahui apakah cara mengajar, sikap, serta
perencanaan sesuai dengan peraturan dan apakah yang dilakukan itu efektif
dilaksanakan di sekolah.

Dalam hal ini penulis memberikan hasil dari observasi.

Perencanaan

Langkah-langkah pada tingkat perencanaan ini adalah sebagai berikut :

Membuat rencana pelaksanaan penelitian dengan menguunakan wawancara.

Membuat angket yang berhubungan dengan indikator penulis mengenai cara


tenaga pendidik.

Memberikan angket kepada guru-guru disekolah.

Mewawancarai sebagian guru tentang bagaimana tenaga pendidik di sekolah


tersebut.

20
B.DESKRIPSI DATA

Isi Pentanyaan Wawancara dan Angket

Apakah setiap mengajar guru mempersiapkan diri dalam penguasaan materi?

Apakah guru mengoptimalkan dan mengelola proses pembelajaran di kelas untuk


menghasilkan output yang bermanfaat?

Apakah guru membantu siswa yang kesulitan dalam belajar?

Apakah guru mengoptimalkan penggunaan alat/sarana pembelajaran dalam


kegiatan belajar mengajar?

Hasil wawancara

Guru sering mempersiapkan diri dalam penguasaan materi pelajaran sebelum


pembelajaran dimulai agar siwa-siswa mampu aktif dalam proses belajar mengajar
dan dapat mengembangkan potensialnya.

Guru kadang-kadang mengelola proses pembelajaran, dikarenakan banyaknya


kelas untuk mata pelajaran yang berada di sekolah tersebut. Mereka melakukan itu
hanya sesekali, sesuai dengan KTSP 2006 (masih menggunakan KTSP 2006).

Guru sering membantu siswa yang kesulitan dalam belajar, dengan melakukan
pendekatan dengan individu tersebut dan memberikan bimbingan sesuai dengan
latar belakang siswa.

Guru kadang-kadang menggunakan sarana prasana yang berada di sekolah


tersebut, dikarenakan padatnya aktivitas yang dilakukan oleh siswa-siswi di sana.
Sehingga lebih kurang, mereka melakukan hal-hal yang sesuai dengan peraturan.

21
Hasil Angket

Hasil dari angket juga menyangkut tentang kegiatan belajar yang dilakukan oleh
dewan guru di sekolah tersebut. Angket tersebut diisi oleh guru agar penulis
mengetahui mengenai tenaga pendidik di sekolah tersebut.

OBSERVASI KEPEMIMPINAN DENGAN METODE QUETIONER SMP


MUHAMMADIYAH 4 MEDAN

No Pertanyaan Tidak Kadang Sering Selalu


Pernah -

Kadang

1 Setiap mau mengajar saya   X


mempersiapkan diri dalam
penguasaan materi pelajaran

2 Saya menjabarkan tujuan ü   


pembelajaran khusus sendiri
sesuai dengan karakter siswa

3 Saya membuat perencanaan X


pembelajaran setiap mau mengajar

4 Saya berusaha optimal dalam X 


mengelola proses pembelajaran di
kelas untuk menghasilkan output
yang bermanfaat

5 Saya memaksimalkan penggunaan X 


alat/sarana pembelajaran di dalam
kegiatan belajar mengajar

6 Saya mendorong siswa untuk X 


menggunakan sarana belajar
seoptimal mungkin

mengembangkan suasana
bersahabat?

7 Saya melakukan pretest sebelum X   


memulai pengajaran

8 Saya berusaha mengembangkan X   


rasa tanggung jawab siswa dalam
belajar

9 Saya membuat grafik X   


perkembangan kemajuan
pendidikan siswa tiap kelas untuk
memudahkan melihat maju
mundurnya prestasi siswa

10 Saya membantu siswa yang


mengalami kesulitan dalam belajar X   

11 Dalam membuat soal test/ujian X


saya memperhatikan tingkat
kesukaran soal

12 Saya melakukan post tes sesudah X   


melakukan aktivitas pengajaran

13 Saya menilai kegiatan siswa X   


ketika sedang menjawab soal
ulangan

21
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A.    KESIMPULAN

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian yang dilaksanakan di atas, maka
dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

Kinerja tenaga pendidik di SMP MUHAMMADIYAH 4 MEDAN di atas rata-rata


dan sangat memperhatikan santri-santrinya. Menuai prinsip yang sangat berarti
untuk mendidik santri-santri di sana.

Tenaga pendidik di sekolah tersebut sangat membantu santri dalam


pendidikannya.

Tenaga pendidik melakukan cara-cara umum yang dilakukan untuk tenaga


pendidik pada umumnya.

B.     SARAN

Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh di atas maka dapat diberikan beberapa


saran sebagai berikut :

Disarankan kepada dewan guru untuk mengoptimalkan sarana dan prasarana di


sekolah untuk meningkatkan pendidikan yang berkualitas.

Disarankan kepala dewan guru agar lebih membuat grafik agar mengetahui siswa
yang sedang stabil atau tidak.

25
DAFTAR PUSTAKA

Nurdin, Muhammmad. 2010. Kiat Menjadi Guru Profesional. Yogyakarta: AR.


Ruzz Media Group

Soetjipto & Raflis Kosasi.2009.Profesi Keguruan.Jakarta:Rineka Cipta

Drs Moh Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Remaja Rosdakarya, Bandung,
2002.
Soejipto dan Raflis Kosasih, Profesi Keguruan, Rineka Cipta, Bandung, 1999

http://gurukreatif.wordpress.com/

http://penilaian-kinerja-guru.blogspot.com/2012/01/ciri-ciri-guru 
profesional.html

30