Anda di halaman 1dari 50

Nilai

Tanggal Revisi

Tanggal Terima

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR

MODULUS YOUNG

Disusun Oleh:

Nama Praktikan : Muhammad Desar Eka Syaputra

NIM : 3334200010

Jurusan : Teknik Metalurgi

Grup : C3

Rekan : Afif Rizky Tri Nugroho

: Miftahul Jannah Ardani

: Rafi Nurdwi Raharjo

Tgl. Percobaan : 12 MARET 2021

Asisten : GINDA QURIATAMA

LABORATORIUM FISIKA TERAPAN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

CILEGON – BANTEN

2020

Jl. Jenderal Sudirman Km. 03 Cilegon 42435 Telp. (0254) 385502, 376712

Fax. (0254) 395540 Website: http://fisdas.untirta.ac.id Email: lab.fisikaterapan@untirta.ac.id


ABSTRAK

Modulus young merupakan besaran yang menyatakan sifat elastis suatu bahan
tertentu dan bahan menunjukkan langsung seberapa jauh sebuah batang atau kabel
atau pegas yang bersangkutan mengalami perubahan akibat pengaruh beban. Tujuan
dari dilakukannya praktikum modulus young adalah untuk menentukan nilai modulus
young pada berbagai jenis logam. Contoh dari penerapan modulus young adalah
menentukan jenis logam yang akan digunakan dalam pembangunan rumah, jembatan,
dan sebagainya dengan sifat elastisitasnya. Prosedur pada praktikum ini dilakukan
dengan cara menempatkan logam pada posisinya lalu diberikan beban sebanyak 5
keping yang masing-masing seberar 50 gram kemudian lepaskan beban satu per satu
dan catat perubahan tinggi logam yang tertera pada dial indicator. Ulangi prosedur
yang sama dengan jenis logam yang berbeda. Pada percobaan baja dihasilkan nilai
modulus young sebesar sebesar 230,04 GPa, 219,17 GPa 199 GPa, 193,53 GPa, dan
192,3 GPa. Sedangkan pada alumunium dihasilkan nilai modulus young sebesar
71,27 GPa, 70,69GPa, 69,7GPa, 70,9 GPa, dan 68,1 GPa.

Kata Kunci : Elastisitas, Tegangan, regangan, dan jenis Logam.


DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ....................................................................................................i
ABSTRAK ...................................................................................................................ii
DAFTAR ISI...............................................................................................................iii
DAFTAR TABEL........................................................................................................v
DAFTAR GAMBAR..................................................................................................vi
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................vii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang…………............................................................................ 1
1.2 Tujuan Percobaan....................................................................................... 1
1.3 Batasan Masalah ………….........................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Elastisitas ................................................................................................... 5
2.2 Tegangan..................................................................................................... 4
2.3 Regangan………………………………………………………………….5
2.4 Modulus Young…………………………………………………………...7
BAB III METODE PERCOBAAN
3.1 Diagram Alir Percobaan…………………………………………………10
3.2 Prosedur Percobaan ................................................................................. 12
3.3 Alat yang Digunakan…………................................................................ 12
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Percobaan ………………............................................................... 14
4.2 Pembahasan …………............................................................................ 23

iii
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ……………………………………………………………..26
5.2 Saran …………………………………………………………………….26
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
LAMPIRAN A. PERHITUNGAN .............................................................................25
LAMPIRAN B. JAWABAN PERTANYAAN DANTUGAS KHUSUS ..................36
LAMPIRAN C. GAMBAR ALAT YANG DIGUNAKAN.......................................40
LAMPIRAN D. BLANKO PERCOBAAN.................................................................42

iv
DAFTAR TABEL

Tabel
Halaman

Tabel 4.1 Data Hasil Pengukuran Logam……………………………………………15


Tabel 4.2 Pengukuran dan Perhitungan Modulus Young……………………………15
Tabel 4.3 Data Hasil Pengukuran Logam……………………………………………16
Tabel 4.5 Ralat Langsung Panjang Logam A………………………………………16
Tabel 4.4 Pengukuran dan Perhitungan Modulus Young……………………………17
Tabel 4.6 Ralat Langsung Lebar Logam A………………………………………….17
Tabel 4.7 Ralat Langsung Tinggi Logam A…………………………………………18
Tabel 4.8 Ralat Langsung Panjang Logam B………………………………………..19
Tabel 4.9 Ralat Langsung lebar Logam B…………………………………………..19
Tabel 4.10 Ralat Langsung Tinggi Logam B……………………………………….20

v
DAFTAR GAMBAR
Gambar
Halaman

Gambar 2.1 Percobaan Regangan Panjang……………………………………………6


Gambar 2.2 Percobaan Regangan Volume……………………………………………7
Gambar 2.3 Percobaan Regangan Sudut…………………………………………….7
Gambar 2.4 Kurva Modulus Young…………………………………………………8

Gambar 3.1Diagram Alir percobaan Modulus Young……………………………..10

vi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran
Halaman
Lampiran A. Perhitungan ……………………...........................................................28
Lampiran B. Jawaban Pertanyaan dan Tugas Khusus.................................................32
B.1 Jawaban Pertanyaan..................................................................................32
B.2 Tugas Khusus ...........................................................................................35
Lampiran C. Gambar Alat yang Digunakan................................................................36
Lampiran D. Blanko Percobaan ..................................................................................38

vii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Umumnya semua benda yang ada dialam semesta dapat mengalami perubahan
bentuk apabila kepadanya diberikan suatu gaya mungkin saja setelah gaya
dihilangkan, bentuk benda akan kembali ke bentuk semula namun ada ada juga yang
bersifat permanen, artinya tetap pada bentuk yang baru.Salah satu karakter penting
dari suatu material adalah elastisitas. Kelenturan suatu material adalah tergantung
pada sifat keelastisitasan material tersebut. Setiap material yang diberikan sebuah
gaya akan mengalami perubahan bentuk. Untuk tiap jenis perubahan bentuk benda
kita akan mengenal sebagai tegangan, yang menunjukkan kekuatan gaya yang
menyebabkan perubahan bentuk. Selain itu, besaran yang perlu kita ketahui adalah
regangan. Regangan merupakan besaran yang menunjukkan hasil perubahan bentuk
serta modulus young young merupakan besaran yang menyatakan sifat elastis suatu
bahan tertentu dan bahan menunjukkan langsung seberapa jauh sebuah batang atau
kabel atau pegas yang bersangkutan mengalami perubahan akibat pengaruh beban.
Pada praktikum yang dilaksanakan ini bertujuan untuk untuk menentukan nilai
modulus young pada berbagai jenis logam. Adapun penerapan modulus young dalam
kehidupan sehari-hari adalah menentukan jenis logam yang akan digunakan dalam
pembangunan rumah, jembatan, dan sebagainya dengan sifat elastisitasnya. Oleh
karena itu penting dilakukan percobaan modulus young untuk mengtahui nilai
modulus young untuk berbagai jenis logam.

1.2 Tujuan percobaan


Adapun tujuan dilakukanna praktikum modulus young adalah untuk menentukan
nilai modulus young pada berbagai jenis logam.
2

1.3 Batas Masalah


Adapun batasan masalah pada praktikum modulus young terbagi menjadi dua
yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebasnya yaitu jenis logam yang
digunakan dan beban penggantung dengan ukuran yang berbeda-beda dan variabel
terikatnya yaitu nilai kelenturan yang didapat dari setiap penambahan serta
pengurangan beban.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Elastisitas
Elastisitas merupakan suatu sifat yang dimiliki suatu benda untuk kembali ke
bentuk awalnya setelah gaya luar dihilangkan. Perubahan tersebut dapat berupa
perubahan pertambahan panjang atau pengurangan panjang benda. benda dapat
dikatakan elastik sempurna artinya jika setelah gaya penyebab perubahan bentuk
dihilangkan maka benda akan kembali ke bentuk asalnya. Sifat dari elastik adalah
lentur, fleksibel, dapat mengikuti bentuk dan tidak getas. Banyak benda yang hampir
elastik sempurna, yaitu sampai depormasi yang terbatas disebut limit elastiknya, dan
apabila gaya-gaya dihilangkan, maka benda tersebut tidak kembali ke bentuk semula.
Beberapa bahan mendekati sifat tidak elastik sempurna dan menujukkan tidak ada
kecenderungan untuk kembali ke bentuk semula setelah gaya dihilangkan. Bahan ini
disebut bersifat pelastik yakni getar, keras namun relatif mudah hancur dibanding
benda pejal atau solid. Sebenarnya perbedaan antara sifat elastik dan pelastik
hanyalah terletak pada tingkatan dalam besar atau kecilnya deformasi yang terjadi.
Anggap saja benda-benda ini bersifat homogen dan isotropik. Homogen berarti pada
setiap bagian benda mempunyai kerapatan sama. Sedangkan isotropik artinya pada
setiap titik pada benda mempunyai sifat-sifat fisis sama kesegala arah [Ganijanti,

Aby Sarojo. 2002:318]. Dalam pembahasan sifat elastik pada benda perlu
diasumsikan bahwa benda-benda tersebut mempunyai sifat-sifat berikut:
1. Homogen artinya setiap bagian benda mempunyai kerapatan yang sama.
2. Isotropik artinya pada setiap titik pada benda mempunyai sifat−sifat fisis
yang sama ke segala arah.
3. Deformasi pada benda akan menyebabkan perubahan bentuk tetapi tidak ada
perubahan volume tetapi benda yang mengalami kompresi akan terjadi
perubahan volume tetapi tidak terjadi deformasi.
4

Ada 3 jenis perubahan bentuk yang dapat dialami benda bergantung pada arah dan
letak kedua gaya yang diberikan, antara lain:
1. Regangan, yaitu: perubahan bentuk yang dialami benda akibat dua buah gaya
yang sama besar bekerja berlawanan arah di masing−masing ujung benda
dangan arah menjauhi benda.
2. Mampatan, yaitu: perubahan bentuk yang dialami suatu benda akibat adanya
dua buah gaya yang sama besar bekerja dengan arah yang berlawanan pada
masing−masing ujung benda dengan arah gaya mendekati titik pusat benda
tersebut.
3. Geseran adalah perubahan bentuk yang terjadi akibat dua buah gaya yang sama
besar bekerja pada masing−masing bidang sisi benda dengan arah yang
berlawanan.

2.2 Tegangan
Tegangan merupakan gaya yang dikenai pada suatu benda per satuan luas
penampang. Tegangan dapat dinyatakan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah
tegangan permukaan yaitu gaya yang dikerahkan ke bidang permukaan per satuan
luas panjang. Tegangan permukaan dinyatakan sebagai gaya per satuan panjang yang
diperlukan untuk memperluas permukaan. Simbol yang digunakan untuk tegangan
permukaan adalah γ dan satuannya adalah dyne/cm. Tegangan permukaan atau
tegangan antar muka adalah suatu gaya nyata yang efeknya tampak pada tingkat
makroskopik seperti halnya pada tingkat molekuler. Hal ini dapat dilukiskan dengan
meletakkan sebuah kerangka kawat dengan batang yang dapat bergerak dalam larutan
energi per satuan luas jika kerja yangdiperlukan untuk memindahkan batang yang
bergerak dengan suatu jarak kecil. Kebanyakan antar yang tercakup dalam sistem
farmasetik berbentuk lengkung [Lachman, 1994]. Tegangan dapat diformulasikan
sebagai berikut
5

𝐹
𝜎 = 𝐴……………………………………………...2.1

Dengan :

( atau Pa)
F = gaya (N)
A = luas penampang (m2)

2.3 Regangan
Regangan merupakan perubahan bentuk akibat tegangan, diukur sebagai rasio
perubahan dari sejumlah dimensi benda terhadap dimensi awal dimana perubahan
terjadi [Kanginan, 2005]. Jika suatu benda ditarik atau ditekan, gaya P yang diterima
benda mengakibatkan adanya ketegangan antarpartikel dalam material yang besarnya
berbanding lurus. Perubahan tegangan partikel ini menyebabkan adanya pergeseran
struktur material regangan atau himpitan yang besarnya juga berbanding lurus.
Karena adanya pergeseran, maka terjadilah deformasi bentuk material misalnya
perubahan panjang menjadi L + ∆L (atau L - ∆L). Dimana L adalah panjang awal
benda dan ∆L adalah perubahan panjang yang terjadi. Rasio perbandingan antara ∆L
terhadap L inilah yang disebut strain (regangan) dan dilambangkan dengan “ε”
(epsilon). Dengan demikian didapatkan rumus
∆𝐿
e= 𝐿 …………………………………………..2.2
𝑜

Dengan :
: Regangan
: perubahan panjang (m)

: Panjang mula-mula (m)


Regangan tidak memiliki satuan karena merupakan rasio dari besaranbesaran yang
sama. Menurut Hooke regangan sebanding dengan tegangannya,
dimana yang dimaksud dengan regangan adalah persentase perubahan dimensi.
Terdapat 3 macam regangan, yakni regangan panjang, regangan volume,
6

dan regangan sudut :


2.3.1 Regangan Panjang
Dengan panjang semula sewaktu tiada regangan 1o dan penambahan
panjang Δ1 akibat tegangan, regangannya diberikan oleh Δ1/1o.Berdasarkan
hukum Hooke ditulis:
∆𝑙
Y = 𝑙 …………………………………..2.3
𝑜

Dengan tetapan pembanding lurus γ yang dinamakan modulue lastisitas young

Gambar 2.1 Percobaan Regangan Panjang


2.3.2 Regangan Volume
Sudah tentu regangan volume yang dimaksud bukan penambahan
volume melainkan pengerutan volum akibat penekanan. Untuk itu menurut
hukum Hook dapat ditulis:
−∆𝑉
B = 𝑉𝑜 …………………………………2.4

Dengan B ialah apa yang disebut modulus ketegaran (modulus of rigidity)


yang besarnya kurang lebih 1/3 modulus young.

Gambar 2.2 Percobaan Regangan Volume


7

2.3.3 Regangan Sudut


Yang dimaksud dengan regangan sudut atau regangan luncuran
sesudut фialah deformasi, yakni perubahan bentuk yang berkaitan dengan
sudut luncuran. Berbeda dengan tegangan ataupun tekanan yang arahnya
tegak lurus permukaan yang dikenainya, maka gaya luncuran F adalah pada
arah meluncur sepanjang permukaan yang mengakibatkan timbulnya sudut
luncuran. Sejalan dengan regangan-regangan lain, menurut hukum Hooke,
dapat ditulis :
𝐹
Mф = 𝐴………………………………….2.5

Dengan A ialah luas`permukaan yang dikenai gaya luncuran dan M adalah


apayang dinamakan modulus luncuran/Shear Modulus

Gambar 2.3 Percobaan Regangan Sudut

2.4 Modulus Young


Modulus young merupakan besaran yang menyatakan sifat elastis suatu bahan
tertentu dan bahan menunjukkan langsung seberapa jauh sebuah batang atau kabel
atau pegas yang bersangkutan mengalami perubahan akibat pengaruh beban.
Konstanta k atau perbandingan gaya terhadap perpanjangan disebut konstanta gaya
atau kekuatan
pegas. Bilangannya sama dengan gaya yang diperlukan untuk menghasilkan
perpanjangan satuan. [Sears, 1984].
8

Gambar 2.4. Kurva Modulus Young

Perbandingan tegangan terhadap regangan, atau tegangan per satuan


regangan, disebut modulus young bahan yang bersangkutan. Semakin besar modulus
young, semakin besar pula tegangan yang diperilakukan untuk regangan tertentu.
Menentukan Modulus Young dari suatu bahan tidak terlepas dari sifat elastisitas
suatu benda dan batas elastisnya. Modulus Young atau Modulus elastisitas di
definisikan sebagai:

𝜎
Y = 𝑒 …………………………..………………………………..2.6

𝐹 ∆𝐿 𝜎
Jika nilai 𝜎 = 𝐴 dan nilai e= 𝐿 kita masukan ke persamaan Y = 𝑒 maka,
𝑜

𝐹𝐿
Y = 𝐴∆𝐿………………………………….2.7

Dengan :

𝜎
Y = Modulus Young (pascal) Y = 𝑒
9

1 Pa = 1 N/m2

Nilai modulus Young hanya bergantung pada jenis benda (komposisi benda),
tidak bergantung pada ukuran benda atau bentuk benda. Untuk percobaan
elastisitas pada kawat, ketika kawat ditarik (direnggangkan) akan mengalami
pemanjangan. Untuk itu diberikan rumus:

𝑑 ∆𝑥
e= …………………………………..2.8
2𝐿

Dengan :

L = jarak vertical cermin terhadap angka pengukuran

∆X= defleksi (pembelokan) pengukuran dalam skala

d = jarak dari cermin ke kawat.


Bila batas proporsional tidak dilampaui, perbandingan antara tegangan dengan
regangan adalah konstan, dan hukum Hooke sama dengan pernyataan bahwa dalam
batas proporsional, modulus elastik suatu bahan adalah tetap, tegantung hanya pada
bahannya. Bila suatu bahan bertambah panjang karena tegangan tarik dalam arah
tegak lurus pada arah tekanan bahan bertambah pendek sebanding dengan perubahan
panjangnya. Bila w0 adalah lebar semula dan adalah perubahan lebarnya, maka
didapatkan bahwa:

∆𝑤 𝜎∆𝑙
=- ………………………………….2.9
𝑤0 𝑙0

merupakan tetapan tanpa satuan yang merupakan karakteristik dari bahan,


disebut perbandingan Poisson. mempunyai harga antara 0,1 dan 0,3. Begitu pula
dengan bahan yang mendapat tekanan dorong pada sisi-sisinya akan “membesar”, dan
perubahan lebarnya diberikan lagi oleh persamaan diatas.
BAB III

METODE PERCOBAAN

3.1 Diagram Alir Percobaan

Adapun diagram alir pada praktikum modulus young ini sebagai berikut

Mulai

Mempersiapkan semua alat dan bahan

Merangkai alat dan bahan

Mengukur panjang, lebar dan tebal logam

Meletakkan balok pada penahan dan mengatur


posisi

Meletakkan beban penggantung pada pemegang beban kemudian


tambahkan bebannya hingga meccapai massa maksimum

Mengatur dial Indicator agar menyentuh permukaan logam namun


jarum tetap berada di angka nol

x
11

Melepaskan beban satu per satu, mencatat berat beban dan


hasil pengukurannya

Memastikan bahwa meja yang digunakan tidak bergerak dan


melepaskan beban secara perlahan

Melepaskan satu beban, baca nilai yang terukur dan mencatat


hasilnya

Menilai berat beban dan tinggi lekukan balok harus berbanding


lurus

Mengulangi langkah menggunakan balok berbeda dan


melakukan pengukuran untuk 6 jenis balok

Data pengamatan

Litelatur

Pembahasan

Kesimpulan

Selesai
12

Gambar 3.1 Diagram Alir percobaan Modulus Young

3.2 Prosedur Percobaan

Adapun prosedur percobaan dalam praktikum modulus young sbagai berikut

1. Alat percobaan dirangkai.


2. Diukur panjang, lebar, dan tebal logam
3. Logam yang akan diukur diletakkan pada dudukan atau penumpu logam dan
atur posisinya.
4. Beban penggantung dan oemegang beban diletakkan kemudian
ditambhankan bebannya hingga mencapai massa maksimum 250 gram.
5. Dial indicator diatur agar menyentuh permukaan logam namun jarum jam
tetap berada diangka nol
6. Beban satu per satu dilepaskan, berat beban dicabut dan hasil
pengukurannya.
7. Pastikan meja yang digunakan tidak bergerak dan beban dilepaskan secara
perlahan
8. Satu beban dilepaskan, diperhatikan bahwa lekukan penggantung beban akan
naik dan dial indicator ditekan. Nilai yang terukur dibaca dan dicatat
hasilnya.
9. Nilai berat beban dan tinggi lekukan balok harus berbanding lurus.
10. Langkah yang sama diulangi menggunakan logam yang berbeda.

3.3 Alat-Alat yang Digunakan

Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum modulus young sebagai


berikut :

1. Rel aluminium, panjang 600 mm 1 set.


2. Statif penyangga balok, besi, panjang 300 mm 1 set.
3. Batang rel aluminium 1 buah.
13

4. Indikator dengan dudukan (dapat digerakkan dan dapat dipasang)1 buah.


5. Beban bercelah 5 × beban 50 g 10 × beban 10 g 1 buah.
6. Penggantung beban dengan bukaan bentuk V 1 buah.
7. Logam yang diukur
a. Baja 1 set.
b. Aluminium 1 set.
c. Kuningan 1 set.
1 set.
8. Jangka sorong 1 buah.
9. Dial indicator 1 buah.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan

Adapun hasil percobaan dari praktikum modulus young yang telah dilakukan
didapatkan hasil sebagai berikut :

Percobaan A (Baja)

Tabel 4.1 Data Hasil Pengukuran Logam

1 2 3
Panjang, 0,4 0,4 0,4
(m)
Lebar, (m) 2,04 x 10-2 2,02 x 10-2 2,02 x 10-2
Tinggi, (m) 1,42 x 10-3 1,58 x 10-3 1,57 x 10-3

Tabel 4.2 Pengukuran dan Perhitungan Modulus Young

Massa Berat, Pertambaha Modulus Modulus Eror (%)


Beban, W (N) n Tinggi, H young, Y (Pa) young, Y
m (kg) (m) (G
pa)
0,05 0,5 4,85 x 10-4 2,30467 x 1011 2,30467 x 9,746 %
102
0,10 1 10,2 x 10-4 2,1917 x 1011 2,1917 x 4,36 %
102
15

0,15 1,5 16,8 x 10-4 1,99601 x 1011 1,99601 x 4,9 %


102
0,20 2 23,1 x 10-4 1,93553 x 1011 1,93553 x 7,8 %
102
0,25 2,5 29,05 x 10-4 1,92387 x 1011 1,92387 x 8,3 %
102
Rata-rata 2,07036 x 1011 207.0356 7.02 %

Percobaan B (Alumunium)

Tabel 4.3 Data Hasil Pengukuran Logam

1 2 3
Panjang, 0,3 0,3 0,3
(m)
Lebar, (m) 1,02 x 10-2 1 x 10-2 1 x 10-2
Tinggi, (m) 0,199 x 10-2 0,199 x 10-2 0,198 x 10-2

Tabel 4.4 Pengukuran dan Perhitungan Modulus Young

Massa Ber Pertambahan Modulus Modulus Eror (%)


Beban, at, Tinggi, H (m) young, Y (Pa) young, Y (G
m (kg) W pa)
(N)
0,05 0,5 6,1 x 10-4 7,127 x 1010 71,27 1,81%
0,10 1 12.3 x 10-4 7,069 x 1010 70,69 0,98 %
0,15 1,5 18,7 x 10-4 6,97 x 1010 69,7 0,4 %
0,20 2 24,5 x 10-4 7,09 x 1010 70,9 1,2 %
16

0,25 2,5 31,9 x 10-4 6,81 x 1010 68,1 2,7 %


Rata-rata 7,01 x 1010 70,132 1,418%

4.1.1 Ralat langsung

Adapun ralat langsung dari praktikum Modulus Young sebagai berikut:

Percobaan A

Tabel 4.5 Ralat Langsung Panjang Logam A

n Pn Pa |ðP| |ðP|2  SP SR Pa ± SP

1 0,4 0 0
2 0,4 0 0 0 0 0 0 0
3 0,4 0 0
 0,4 0 0 0

Tabel 4.6 Ralat Langsung Lebar Logam A

N Pn Pa |ðP| |ðP|2  SP SR Pa ± SP

1 2,04 x 10-2 0,04 0,0016


2 2,02 x 10-2 0,02 0.02 0,0004 0,026 0,034 170 0,02 ±
3 2,02 x 10-2 0.02 0,0004 % 0,034

 6,08 x 10-2 0 0,08 0,0024


17

Tabel 4.7 Ralat Langsung Tinggi Logam A

n Pn Pa |ðP| |ðP|2  SP SR Pa ± SP

1 1,42 x 10-3 0,00042 1,764 x


0,001 10-7 0,00 0,00 64 0,001±
2 1,58 x 10-3 0,00058 3,364 x 052 064 % 0,000
10-7 64
-3
3 1,57 x 10 0,00057 3,249 x
10-7
 6,08 x 10-2 0 0,00157 8,377 x
10-7

Percobaan B

Tabel 4.8 Ralat Langsung Panjang Logam B

n Pn Pa |ðP| |ðP|2  SP SR Pa ± SP

1 0,3 0 0
2 0,3 0 0 0 0 0 0 0
3 0,3 0 0
 0,12 0 0 0

Tabel 4.9 Ralat Langsung lebar Logam B

n Pn Pa |ðP| |ðP|2  SP SR Pa ±
SP
-2 -8
1 1,02 x 10 0,0002 4 x 10
2 1 x 10-2 0,001 0 0 6,67 x 0,0 6,4 0,001
3 1 x 10-2 0 0 10-5 006 % ±
18

4 0,00
064
 3,02 x 10-2 0 0,0002 4 x 10-8

Tabel 4.10 Ralat Langsung Tinggi Logam B

n Pn Pa |ðP| |ðP|2  SP SR Pa ±
SP
-2
1 0,199 x 10 0,0007 6,241 x
0,0012 9 10-7 0,0007 9,28 0, 0,001
2 0,199 x 10-2 0,0007 6,241 x 8 3x 07 2±
9 10-7 ,283
10-7 7
-2
3 0,198 x 10 0,0007 6,084 x x 10-
%
8 10-7 7

 0,596x 10-2 0 2,36 x 1,8566 x


10-3 10-6

4.1.1 Ralat Tidak Langsung

Adapun ralat tidak langsung dari percobaan modulus young sebagai berikut

- Percobaan A
𝑊𝐿3
Y=4𝐻𝑏𝑡 3
Y 3W𝐿2 3(0,5)),0,42
1) = 4Hb𝑡3 = 4(4,85) 𝑥 10−4 (0,02026)(0.001523)3 = 1,7285 x 1012 Pa
L

Y W𝐿3 0,5(0,4)3
= 4H𝑡3 = 4(4,85) 𝑥 10−4(0.001523)3 = 4,6 x 109
b

Y W𝐿3 0,5(0,4)3
= 12Hb𝑡2 = 12(4,85) 𝑥 10−4(0,02026)0.0015232 = 1,1 x 108 Pa
t
19

Y 2 𝑌 2 Y 2
SY = √( 𝐿 𝑥 𝑆𝑃) + (𝑏 𝑥 SI) + ( 𝑡 𝑥 𝑆𝑃)

√( 1,7285 𝑥 1012 𝑥 0)2 + (4,6 x 109 𝑥 0,034)2 + (1,1 x 108 𝑥 0,00064)2


= 1,564 x 108
Y  SY=
= 2,30467 x 1011 1,564 x 108
Y 3W𝐿2 3(1)),0,42
2) = = = 1,64 x 1012 Pa
L 4Hb𝑡3 4(10,2 𝑥 10−4 )(0,02026)(0.001523)3

Y W𝐿3 1(0,4)3
= 4H𝑡3 = 4((10,2 𝑥 10−4)(0.001523)3 = 4,4 x 109 GPa
b

Y W𝐿3 (1)0,43
= 12Hb𝑡2 = 12(10,2 𝑥 10−4 )(0,02026)0.0015232 = 1.01 x 108 Pa
t

SY =

√(1,64 𝑥 1012 𝑥 0)2 + (4,4 x 109 𝑥 0,034)2 + (1.01 x 108 𝑥 0,00064)2


= 1,496 x 108
Y  SY= 2,1917 x 1011 + 1,496 x 108
Y 3W𝐿2 3(1,5),0,42
3) = 4Hb𝑡3 = 4(16,8 𝑥 10−4 )(0,02026)(0.001523)3 = 1,45 x 1012 Pa
L

Y W𝐿3 1,5(0,4)3
= 4H𝑡3 = 4((16,8 𝑥 10−4) (0.001523)3 = 4,04 x 109 GPa
b

Y W𝐿3 (1,5)0,43
= = = 1,01 x 108 Pa
t 12Hb𝑡2 12(16,8 𝑥 10−4 )(0,02026)0.001523)2

√(1,45 𝑥 1012 𝑥 0)2 + (4,04 x 109 𝑥 0,034)2 + (1,01 x 108 𝑥 0,00064)2


= 1,3736 x 108

Y  SY = 1,99601 x 1011  1,3736 x 108

Y 3W𝐿2 3(2),0,42
4) = 4Hb𝑡3 = 4(23,1 𝑥 10−4 )(0,02026)(0.001523)3 = 1,45 x 1012 Pa
L

Y W𝐿3 2(0,4)3
= = 4((23,1 𝑥 10−4 )(0.001523)3 = 3,9 x 109
b 4H𝑡3
20

Y W𝐿3 (2)0,43
= 12Hb𝑡2 = 12(23,1 𝑥 10−4 )(0,02026)0.001523)2 = 9,8 x 107 Pa
t

SY =

√(1,45 𝑥 1012 𝑥 0)2 + (3,9 x 109 𝑥 0,034)2 + (9,8 x 107 𝑥 0,00064)2


= 1,326 x 108

Y  SY = 1,93553 x 1011 1,326 x 108

Y 3W𝐿2 3(2,5),0,42
5) = 3 = = 1,44 x 1012 Pa
L 4Hb𝑡 4(29,05 𝑥 10−4)(0,02026)(0.001523)3

Y W𝐿3 3(0,4)3
= 4H𝑡3 = 4((29,05 𝑥 10−4 )(0.001523)3 = 4,67 x 109 GPa
b

Y W𝐿3 (3)0,43
= 12Hb𝑡2 = 12(29,05 𝑥 10−4)(0,02026)0.001523)2 = 1,17 x 108 Pa
t

SY =

√(1,44 𝑥 1012 𝑥 0)2 + (4,67 x 109 𝑥 0,034)2 + (1,17 x 108 𝑥 0,00064)2


= 1,58 x 108

Y  SY = 1,92387 x 1011  1,58 x 108

- Percobaan B

Y 3W𝐿2 3(0,5),0,32
1) = = = 7,1 x 1011 Pa
L 4Hb𝑡3 4(6,1 𝑥 10−4)(0,010)(0,00198)3

Y Y W𝐿3 0,5(0,3)3
= b = 4H𝑡3 = 4((6,1 𝑥 10−4)(0,00198)3 = 7,12 x 108 Pa
b

Y Y W𝐿3 (0,5)0,33
= t = 12Hb𝑡2 = 12(6,1 𝑥 10−4 )(0,010)(0,00198)2 = 4,7 x 107 Pa
t

𝑌 2 Y 2
SY = √(0 𝑥 𝑆𝑃)2 + (𝑏 𝑥 0,00064) + ( 𝑡 𝑥 9,283 𝑥 10−7 )
21

−7 2
= √(7,1 𝑥 1011 𝑥 0)2 + (7,12 x 108 𝑥 0,00064)2 + (4,7 x 107 𝑥 9,283 x 10 )

= 455680.001

Y  SY = 7,127 x 1010

Y 3W𝐿2 3(1),0,32
2) = 4Hb𝑡3 = 4(12,3 𝑥 10−4 )(0,010)(0,00198)3 = 7,07 x 1011 Pa
L

Y Y W𝐿3 1(0,3)3
= b = 4H𝑡3 = 4((12,3 𝑥 10−4 )(0,00198)3 = 7,06 x 1011 Pa
b

Y Y W𝐿3 (1)0,33
= = 12Hb𝑡2 = 12(12,3 𝑥 10−4 )(0,010)(0,00198)2 = 4,6 x 107 Pa
t t

SY=
2
√(7,07 𝑥 1011 𝑥 0)2 + (7,06 x 1011 𝑥 0,00064)2 + (4,6 x 107 𝑥 9,283 x 10−7 )

= 4,5 x 108

Y  SY = 7,069 x 1010  4,5 x 108

Y 3W𝐿2 3(1,5),0,32
3) = 4Hb𝑡3 = 4(18,7 𝑥 10−4 )(0,010)(0,00198)3 = 6,9 x 1011 Pa
L

Y W𝐿3 1,5(0,3)3
== = = 6,9 x 108 Pa
b 4H𝑡3 4(18,7 𝑥 10−4)(0,00198)3

Y W𝐿3 (1,5)0,33
= 12Hb𝑡2 = 12(18,7 𝑥 10−4 )(0,010)(0,00198)2 = 4,6 x 107 Pa
t

2
√(6,9 𝑥 1011 𝑥 0)2 + (6,9 x 108 𝑥 0,00064)2 + (4,6 x 107 𝑥 9,283 x 10−7 )

= 441600,002

Y  SY = 6,97 x 1010  441600,002


22

Y 3W𝐿2 3(2),0,32
4) = 4Hb𝑡3 = 4(24,5 𝑥 10−4 )(0,010)(0,00198)3 = 7,01 x 1011 Pa
L

Y W𝐿3 2(0,3)3
= = 4H𝑡3 = 4((24,5 = 7,09 x 108 Pa
b 𝑥 10−4 )(0,00198)3

Y W𝐿3 (2)0,33
= = = 4,68 x 107 Pa
t 12Hb𝑡2 12(24,5 𝑥 10−4 )(0,010)(0,00198)2

=
2
√(7,01 𝑥 1011 𝑥 0)2 + (7,09 x 108 𝑥 0,00064)2 + (4,68 x 107 𝑥9,283 x 10−7 )

= 453760,002

Y  SY = 7,09 x 1010  453760,002

Y 3W𝐿2 3(2,5),0,32
5) = 4Hb𝑡3 = 4(31,9 𝑥 10−4 )(0,010)(0,00198)3 = 6,81 x 1011 Pa
L

Y W𝐿3 2,5(0,3)3
= = 4H𝑡3 = 4(31,9 𝑥 10−4)(0,00198)3 = 6,8 x 108 Pa
b

Y W𝐿3 2,5(0,3)3
= 12Hb𝑡2 = 12(31,9 𝑥 10−4 )(0,010)(0,00198)2 = 4,49 x 107 Pa
t

=SY
2
√(6,81 𝑥 1011 𝑥 0)2 + (6,8 x 108 𝑥 0,00064)2 + (4,49 x 107 𝑥 9,283 x 10−7 )

= 435200,002

Y  SY = 6,81 x 1010  435200,002


23

4.2 Pembahasan

Pada percobaan modulus young yang pertama yaitu pada baja didapatkan data
panjang rata-rata sebesar 0,7 m , lebar rata-rata sebesar 0.02026 m, dan tinggi rata-
rata 0.001523 m. Untuk massa 0,05 kg didapatkan berat beban 0,5 N serta dihasilkan
Y sebeesar 230,04 GPa, massa 0,10 kg didapatkan berat beban 1 N serta dihasilkan
Y sebesar 219,17 GPa, massa, massa 0,15 kg didapatkan berat beban 1,5 N serta
dihasilkan Y sebeesar 199 GPa, massa 0,20 kg didapatkan berat beban 2 N serta
dihasilkan Y sebeesar 193,53 GPa, dan yang terakhir massa 0,25 kg didapatkan berat
beban 2,5 N serta dihasilkan Y sebeesar 192,3 GPa sedangkan nilai modulus young
dari baja pada litelatur sebesar 210 GPa.

Pada percobaan modulus young yang kedua yaitu pada alumunium


didapatkan data panjang rata-rata sebesar 0,3 m, lebar rata-rata sebesar 0,010, dan
tinggi rata-rata sebesar 0,00198. Untuk massa 0,05 kg didapatkan berat beban 0,5 N
serta dihasilkan Y sebeesar 71,27 GPa, Untuk massa 0,10 kg didapatkan berat beban
1 N serta dihasilkan Y sebeesar 70,69GPa, Untuk massa 0,15 kg didapatkan berat
beban 1,5 N serta dihasilkan Y sebeesar 69,7Gpa, Untuk massa 0,20 kg didapatkan
berat beban 2 N serta dihasilkan Y sebeesar 70,9 Gpa, dan Untuk massa 0,25 kg
didapatkan berat beban 2,5 N serta dihasilkan Y sebeesar 68,1 Gpa sedangkan nilai
modulus young darui alumunium pada litelatur sebesar 70 GPa.

Perbedaan antara nilai modulus young yang didapatkan dari praktikum


dengan nilai modulus young terdapat pada litelatur dihitung kembali untuk
menentukan persentase dari data tersebut. Data yang didapatkan pada baja untuk nilai
Y sebesar 230,04 GPa % erornya adalah 9,746 %, untuk nilai Y sebesar 219,17 GPa
% erornya adalah 4,36%, untuk nilai Y sebesar 199 GPa % erornya adalah 4,9%,
untuk nilai Y sebesar 193,53 GPa % erornya adalah 7,8 %, untuk nilai Y sebesar
192,387 GPa % erornya adalah 8,3 %,.
24

Data yang didapatkan pada alumunium untuk nilai Y sebesar 71,27 GPa, %
erornya adalah 1,81 %, alumunium untuk nilai Y sebesar70,69GPa, % erornya
adalah 0,98 %, untuk nilai Y sebesar 69,7, % erornya adalah 0,4 %, untuk nilai Y
sebesar 70,9 GPa, % erornya adalah 1,2 %, untuk nilai Y sebesar 68,1 GPa, %
erornya adalah 2,7 %.

Perbandingan nilai modulus young yang didapatkan pada percobaan dengan


nilai modulus young yang didapatkan pada litelatur selalu berbeda, hal tersebut
terjadi pada kedua percobaan yaitu pada baja dan alumunium . berdasarkan % eror
yang didapat pada baja % eror terbesar terjadi pada saat massa 0,05 kg yaitu 9,746 %
dan pada alumunium % eror terbsar terjadi pada saat massanya 0,25 kg dengan %
eror sebesar 2,7 %. Namun semua nilai yang dihasilkan hampir mendekati nilai pada
litelatur.

Banyak faktor yang meyebabkan perbedaaan nilai modulus young pada


praktikum ini dengan yang ada pada litelatur, antara lain kurang rata dan bergesernya
permukaan saat melakukan praktikum, kesalahan membaca hasil percobaan, kurang
telitinya saat melakukan perhitungan modulus young saat menggunakan kalkulator
dan tergesa-gesanya praktikan dan mungkin praktikan sedang bercanda saat
melakukan percobaan. Kesalahan pada persen eror dapat disebabkan karena suhu
pada ruangan yang menyakibatkan bahan semakin kaku dan lentur. Jika dilihat dari
formula modulus young, bisa dipengaruhi oleh berat beban yang ditambah ke balok,
jarak antara dua ujung balok, tinggi lekukan balok yang bengkok, lebar balok, dan
yang terakhir tebal balok.

Pada pratikum ini digunakan metode bending atau lenturan. bending adalah
proses deformasi secara plastik dari logam terhadap sumbu linier dengan hanya
sedikit atau hampir tidak mengalami perubahan luas permukaan dengan bantuan
tekanan piston pembentuk dan cetakan (die). Sepotong besi dapat menjadi bengkok
akibat tekanan mesin sederhana dengan menggunakan pres yang disebut
25

bending.namun tekanan yang dipakai pada praktikum ini menggunakan pemberat


dengan masing-masing dengan massa 50 gram

Pada praktikum ini terjadi fenomena pelenturan logam baja dan alumunium
saat diletakkan pada titik tumpu lalu diberikan pemberat yang berbeda-beda. Terjadi
tegangan yakni gaya yang bekerja pada permukaan seluas satu satuan berupa
pemberat yang diberikan pada logam tersebut lalu terjadilah regangan, pada
percobaan ini terjadi regangan yaitu pertambahan tinggi pada lgam baja dan
alumunium.

Hubungan yang terjadi pada tegangan dan regangan adalah tegangan tidak
mengubah nilai modulus young, tetapi regangan yang mengubah nilai modulus young
karena tegangan mengalami pertambahan panjang. Jika pertambahan panjangnya
besar maka nilai modulus young nya kecil.

Baja terdiri dari sebagian besar campuran antara besi dan carbon Penambahan
kandungan karbon pada baja dapat meningkatkan kekerasan (hardness) dan kekuatan
tariknya (tensile strength),namun di sisi lain membuatnya menjadi getas (brittle) serta
menurunkan keuletannya (ductility). walaupun telah mencapai tegangan yang cukup
tinggi. Modulus elastisitasnya sama untuk tarik dan tekan.

Dalam keadaan murni aluminium terlalu lunak, terutama kekuatannya sangat


rendah untuk dapat dipergunakan pada berbagai keperluan teknik. Kekuatan tarik
pada aluminium murni pada berbagai perlakuan umumnya sangat rendah dan
Kekerasan bahan aluminium murni sangatlah kecil sehingga modulus elastisitannya
rendah.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini adalah sebagai
berikut :

1. Data yang didapatkan pada baja untuk nilai Y sebesar 230,04 GPa % erornya
adalah 9,746 %, untuk nilai Y sebesar 219,17 GPa % erornya adalah 4,36%,
untuk nilai Y sebesar 199 GPa % erornya adalah 4,9%, untuk nilai Y sebesar
193,53 GPa % erornya adalah 7,8 %, untuk nilai Y sebesar 192,387 GPa %
erornya adalah 8,3 %,.dengan nilai modulus Young yang ada pada litelatur
adalah 210 GPa.
2. Data yang didapatkan pada alumunium untuk nilai Y sebesar 71,27 GPa, %
erornya adalah 1,81 %, alumunium untuk nilai Y sebesar70,69GPa, %
erornya adalah 0,98 %, untuk nilai Y sebesar 69,7, % erornya adalah 0,4 %,
untuk nilai Y sebesar 70,9 GPa, % erornya adalah 1,2 %, untuk nilai Y
sebesar 68,1 GPa, % erornya adalah 2,7 %.dengan nilai modulus young
pada litelatur adalah 70 GPa.

5.2 Saran

Adapun saran untuk praktikum selanjutnya adalah sebagai berikut :

1. Teliti saat melakukan perhitungan dan jangan tergesa-gesa usahakan


memasukan angka dengan lengkap termasuk angka dibelakang koma.
27

2. Pastikan permukaan meja datar saar praktikum supaya tidak terjadi kesalahan
saat membaca pengukuran.
3. Catat hasil pengamatan dengan benar dan jangan sampai salah.
4. Teliti saat membaca dial indicator.
5. Posisikan dial indicator dengan benar supaya gampang ketika membacakan
skalanya.
DAFTAR PUSTAKA

[1]Tippler, A. Paul. Fisika Untuk Sains dan Teknik . Jakarta : Erlangga. 1998

[2]Zemansky, Zears.Fisika Terapan Jilid I . Jakarta : Erlangga. 2005

[3]Ya, ga. Laporan Modulus Young. Academi.edu. Diakses pada Tanggal 14 Maret
2021 pukul 19.59 WIB
https://www.academia.edu/17565009/laporan_modulus_young

[4]Puteri, Fransiska. Laporan Fisika Modulus young. 2013. .slideshare.net. Diakses


pada 14 maret 2021 pukul 20.00 WIB
https://www.slideshare.net/fransiskaputeri/itp-uns-semester-1-laporan-
fisika-modulus-young

[5]Rizal, Hatmu. Laporan Praktikum Fisika Dasar I Acara II Modulus Young.


academia.edu/18148199/Laporan_Praktikum_Fisika_Dasar_I_Acara_II_Modulu
s_Young. Diakses pada tanggal !4 Maret 2021 pukul 20.01 WIB
https://www.academia.edu/18148199/Laporan_Praktikum_Fisika_Dasar_I_
Acara_II_Modulus_Young
29

Lampiran A

PERHITUNGAN A

𝟎,𝟒+𝟎,𝟒+𝟎,𝟒
Rata-rata Panjang = = 0,4 m
𝟑

𝟐,𝟎𝟒 𝒙 𝟏𝟎−𝟐 +𝟐,𝟎𝟐 𝒙 𝟏𝟎−𝟐+𝟐,𝟎𝟐 𝒙 𝟏𝟎−𝟐


Rata-rata Lebar = = 0,02026 m
𝟑

𝟏,𝟒𝟐 𝒙 𝟏𝟎−𝟑+𝟏,𝟓𝟖 𝒙 𝟏𝟎−𝟑 +𝟏,𝟓𝟕 𝒙 𝟏𝟎−𝟑


Rata-rata Tebal = = 0,00152 m
𝟑

Perhitungan Percobaan A

- m = 0,05 kg

𝑊𝐿3 0,5(0,4)3
Y= 3 = = 2,30467 x 1011 Pa = 2,30467 x 102 GPa
4𝐻𝑏𝑡 4(4,85 𝑥 10−4)(0,02026)(0,001523)3

- m = 0,10 kg

𝑊𝐿3 1(0,4)3
Y=4𝐻𝑏𝑡 3 = 4(10,2 𝑥 10−4)(0,02026)(0,001523)3 = 2,1917 x 1011 Pa = 2,1917 x 102 GPa

- m = 0,15 kg

𝑊𝐿3 1,5(0,4)3
Y=4𝐻𝑏𝑡 3 = 4(16,8 𝑥 10−4)(0,02026)(0,001523)3 = 1,99601 x 1011 Pa = 1,99601 x 102 GPa

- m = 0,20 kg

𝑊𝐿3 2(0,4)3
Y=4𝐻𝑏𝑡 3 = 4(23.1 = 1,93553 x 1011 Pa = 1,93553 x 102 GPa
𝑥 10−4 )(0,02026)(0,001523)3

- m = 0,25 kg

𝑊𝐿3 2,5(0,4)3
Y=4𝐻𝑏𝑡 3 = 4(29,05 𝑥 10−4 )(0,02026)(0,001523)3 = 1,92387 x 1011 Pa = 1,92387 x 102 GPa
30

Rata- rata modulus young (Pa) pada logam percobaan A

𝑥̅ = 2,30467 x 1011 + 2,1917 x 1011+1,99601 x 1011 + 1,92387 x 1011 + 1,93553 x 1011

= 2,07036 x 1011 Pa

Rata-rata Modulus Young (Gpa) pada logam percobaan A

𝑥̅ = 2,30467 x 102 +2,1917 x 102 +1,99601 x 102 +1,93553 x 102 + 1,92387 x 102

= 207,0356 GPa

Perhitungan Eror (%)

Y literatur = 210 GPa

- Y Percobaan : 1,44042 x 103

210−2,30467 𝑥 102
Eror (%) = | |x 100% = 9,746 %
210

- Y Percobaan : 1,36981 x 103 Gpa

210−2,1917 𝑥 102
Eror (%) = | |x 100% = 4,36 %
210

- Y Percobaan : 1,24751 x 103 Gpa

210−1,99601 𝑥 102
Eror (%) = | |x 100% = 4,9 %
210

- Y Percobaan : 1,2097 x 103 Gpa

210−1,93553 𝑥 102
Eror (%) = | |x 100% = 7,8 %
210

- Y Percobaan: 1,20242 x 103 Gpa


31

210−1,92387 𝑥 102
Eror (%) = | |x 100% = 8,3 %
210

Perhitungan Percobaan B

- m= 0,05

𝑊𝐿3 0,5(0,3)3
Y=4𝐻𝑏𝑡 3 = 4(6,1 = 7,127 x 1010 = 71,27
𝑥 10−4 )(0,010)(0,00198)3

- m =0,10

𝑊𝐿3 1(0,3)3
Y=4𝐻𝑏𝑡 3 = 4(12,3 = 7,069 x 1010 =70,69
𝑥 10−4 )(0,010)(0,00198)3

- m = 0,15

𝑊𝐿3 1,5(0,3)3
Y= 3 = = 6,97 x 1010 = 69,7
4𝐻𝑏𝑡 4(18,7 𝑥 10−4)(0,010)(0,00198)3

- m = 0,20

𝑊𝐿3 2(0,3)3
Y=4𝐻𝑏𝑡 3 = 4(24,5 𝑥 10−4)(0,010)(0,00198)3 = 7,09 x 1010 = 70,9

- m =0,25

𝑊𝐿3 2,5(0,3)3
Y=4𝐻𝑏𝑡 3 = 4(31,9 𝑥 10−4)(0,010)(0,00198)3 = 6,81 x 1010 = 68,1

Rata-rata Modulus Young (pa) pada logam percobaan B

𝑥̅ = 7,127 x 1010 +7,069 x 1010 +6,97 x 1010 + 7,09 x 1010 + 6,81 x 1010

= 7,01 x 1010 Pa

Rata-rata Modulus Young (GPa) pada logam percobaan B


32

71,27+70,69+69,7+70,9+68,1
𝑥= 5

= 70,132 GPa

- Perhitungan Eror (%)


- Y Litelatur = 70 Gpa

- Y Percobaan = 71,27

70−71,27
Eror (%) = | |x 100% = 1,81 %
70

- Y Percobaan= 70,69

70−70,69
- Eror (%) = | |x 100% = 0,98 %
70

- Y Percobaan= 69,7

70−69,7
- Eror (%) = | |x 100% = 0,4 %
70

- Y Percobaan= 70,9

70−70,9
- Eror (%) = | |x 100% = 1,2 %
70

- Y Percobaan= 68,1

70−68,1
Eror (%) = | |x 100% = 2,7 %
70

Ralat Langsung Lebar Logam A

2,04 𝑥 10−2 + 2,02 𝑥 10−2+2,02 𝑥 10−2


Pn = = 0,02
3

P1 = 2,04 x 10-2 - 0,02 = 0,04


33

P2 = 2,02 x 10-2 - 0,02 =0.02

P3 = 2,02 x 10-2 - 0,02 = 0,02

 𝑃 0,08
= 𝑛
=
3
= 0,026

0,0024
SP = √ = 0,034
2

𝑆𝑃 0,034
SR = x 100% = x 100%= 170 %
𝑃𝑛 0,02

Ralat Langsung Tinggi Logam A

1,42 𝑥 10−3 + 1,58 𝑥 10−3+1,57 𝑥 10−3


Pn = = 0,001
3

P1 = 1,42 x 10-3 x 10-2 - 0,001 = 0,00042

P2 = 1,58 x 10-3x 10-2 - 0,001= 0,00058

P3 = 1,57 x 10-33- 0,001= 0,00057

 𝑃 0,00157
= 𝑛
=
3
= 0,00052

8,377 x 10−7
SP = √ = 0,00064
2

𝑆𝑃 0,00064
SR = x 100% = 𝑥 100% = 64 %
𝑃𝑛 0,001

1,02 𝑥 10−2 + 1 𝑥 10−2 +1 𝑥 10−2


Pn = = 0,01
3

P1 = 1,02 x 10-2 - 0,01= 0,0002

P2 = 1 x 10-2 - 0,01= 0


34

P3 = 1 x 10-2 - 0,01= 0

 𝑃 0,0002
= 𝑛
=
3
= 6,67 x 10-5

84 x 10−8
SP = √ = 0,00064
2

𝑆𝑃 0,00064
SR = x 100% = 𝑥 100% = 6,4 %
𝑃𝑛 0,01

Ralat Langsung Tinggi Logam B

0,199 𝑥 10−2+ 0,199 𝑥 10−2+0,198 𝑥 10−2


Pn = = 0,0012
3

P1 = 0,199 x 10-2- 0,0012= 0,00079

P2 = 0,199 x 10-2- 0,0012= 0,00079

P3 = 0,198 x 10-2- 0,0012= 0,00078

 𝑃 2,36 x 10−3
= 𝑛
=
3
= 0,00078

1,8566 x 10−6
SP = √ = 9,283 x 10-7
2

𝑆𝑃 9,283 x 10−7
SR = x 100% = 𝑥 100% = 0,077 %
𝑃𝑛 0,0012
35

LAMPIRAN B

JAWABAN PERTANYAN DAN TUGAS KHUSUS

B.1 Jawaban Pertanyaan

1. Jelaskan fungsi grafik tegangan-regangan serta pristiwa necking baik

secara mikroskopis maupun secara makroskopis yang terdapat pada

grafik teganagn-regangan tersebut !

Fungsi grafik tegangan-regangan adalah mengetahui dimana deformasi elastis


dan plastis terjadi. Bila masih dalam daerah elastis, maka modulus elastisitas masih
berlaku. Namun, bila sudah mengalami deformasi plastis, maka modulus elastisitas
tidak berlaku lagi. Necking adalah deformasi tarik dimana sejumlah besar regangan
melokalisasi secara tidak proporsional di wilayah yang kecil Atau pengecilan
setempat yang terjadi pada logamakibat adanya uji tarik.

2. Seutas kawat baja memiliki panjang 8 m dan luas penampang 6 × 10 −6m2 .


Modulus elastis baja 2 × 1011 N/m2 . Sebuah gaya dikerjakan untuk menarik kawat
itu sehingga bertambah panjang 0,4 m. Hitung gaya tarik itu!

L= 8 m

A= 6 x 10-6 m2

Y= 2 x 1011 N/m2

∆L = 0,4 m
36

𝐹 𝐿
Y= 𝐴 𝑥 ∆𝐿

𝐹 8
2 x 1011=6 x 10−6 𝑥 0,4

F= 6 x 10 4 J

3. Bagaimana perbedaan grafik tegangan–regangan antara bahan logam, polimer,


dan keramik ?

Grafik Tegangan- Regangan Logam

Grafik Tegangan- Regangan polimer

Grafik Tegangan- Regangan Keramik


37

4. Untuk keamanan dalam mendaki, seorang pendaki gunung menggunakan


sebuah tali nilon yang panjangnya 80 m dan tebalnya 4,0 cm. Ketika menopang
pendaki yang bermassa 100 kg, tali bertambah panjang 1,8 m. Tentukan modulus
elastisitas nilon tersebut! (Gunakan 𝜋 = 3,14 dan g = 9,8 m/s2)

L= 80 m

m= 100 kg

∆L= 1,8 m

d= 1/2 x 4 x 10-2 = 2 x 10-2 m

A = πr2= 3,14 (2 x 10-2)2

= 1256 x 10-6 m2

𝐹 𝐿
Y= 𝐴 𝑥 ∆𝐿

100 𝑥 9,8 80
= 1256 𝑥 10−6 𝑥 1,8

= 0,7 x 108 Pa

5.Buktikan penurunan rumus pada persamaan (5.4) !


Rumus tersebut, yaitu menentukan pelenturan Y(x) ditengah Logam
𝑑2 (𝑥) 𝑀 𝐹𝑥
= 𝐸𝐼 = dimana nilai I = 1/12 b𝐻3
𝑥 𝐸𝐼
38

Momen Lentur (M) = F. X


Integralkan dua kali persamaan diatas
𝑑 𝑌(𝑥) 𝐹 𝐹𝑥 2 𝑑𝑌(𝑥) 𝐹𝑥 2
= 𝐸𝐼 ∫ 𝑥 𝑑𝑥 = 2𝐸𝐼 + x =0 =
𝑥 𝑑𝑥 2𝐸𝐼

Dengan menganggap batang tidak miring pada titik tumpu( lurus di titik
tumpu) maka turunan y (x) di x = 0, Di titik tumpu batang tidak terlentur,
artinya Y(x)= yYL) =0
𝐹 𝐹 𝑥3 𝐹𝑥 3
Y(x)= 2𝐸𝐼 ∫ 𝑥 2 𝑑𝑥 = 2𝐸𝐼 + ( 3 ) = 6𝐸𝐼

Batas integral adalah dari titik tumpu pertama (x=0) sampai titik gantung beban
(x=1/3L) maka :

𝐹 1/2 𝐹𝑥 3 1/2𝐿 𝐹𝐿3


DY(x’)= 2𝐸𝐼 ∫0 𝑥 2 𝑑𝑥= 0 = 48𝐸𝐼
6𝐸𝐼

Dengan memasukan nilai I maka :

𝐹𝐿3 𝐹𝐿3
Y(x) = 48𝐸𝐼 = 48𝐸𝑏𝐻 3

Sesuaikan dengan persamaan awal

𝐹𝐿3
Y(x) = 48𝐸𝑏𝐻 3

B.2 Tugas Khusus


39

LAMPIRAN C

GAMBAR ALAT DAN BAHAN

Gambar C.1 Balok Logam Gambar C.2 Batang Real Alumunium

Gambar C.3 Beban Bercelah Gambar C.4 Dial Indicator

Gambar C.5 Jangka Sorong Gambar C.6 Mikrometer Sekrup


40

Gambar C.7 Penggantung Beban Gambar C.8 Rel Alumunium

Gambar C.9 Statif Penyangga Balok


41

LAMPIRAN D
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

LABORATORIUM FISIKA TERAPAN

Jalan Jenderal Sudirman Km. 3 Cilegon 42435 Telp. (0254) 395502

Website: http://fisdas.ft-untirta.ac.id Email: lab.fisikaterapan@untirta.ac.id

BLANKO PERCOBAAN

DATA PRAKTIKAN
NAMA MUHAMMAD DESAR EKA SYAPUTRA
NIM / GRUP 3334200010/C3
JURUSAN TEKNIK METALURGI
REKAN Afif Rizky Tri Nugroho; 3334200033
Miftahul Jannah Ardani; 3334200064
Rafi Nurdwi Raharjo; 3334200081
TGL. 12 MARET 2021
PERCOBAAN

PERCOBAAN A Baja

Tabel A Data Hasil Pengukuran Logam

1 2 3
Panjang, 0,4 0,4 0,4
(m)
Lebar, (m) 2,04 x 10-2 2,02 x 10-2 2,02 x 10-2
Tinggi, (m) 1,42 x 10-3 1,58 x 10-3 1,57 x 10-3
42

Tabel B Pengukuran dan Perhitungan Modulus Young

Massa Berat, Pertambaha Modulus Modulus Eror (%)


Beban, W (N) n Tinggi, H young, Y (Pa) young, Y
m (kg) (m) (G
pa)
0,05 0,5 4,85 x 10-4 2,30467 x 1011 2,30467 x 9,746 %
102
0,10 1 10,2 x 10-4 2,1917 x 1011 2,1917 x 4,36 %
102
0,15 1,5 16,8 x 10-4 1,99601 x 1011 1,99601 x 4,9 %
102
0,20 2 23,1 x 10-4 1,93553 x 1011 1,93553 x 7,8 %
102
0,25 2,5 29,05 x 10-4 1,92387 x 1011 1,92387 x 8,3 %
102
Rata-rata 2,07036 x 1011 207.0356 7.02 %

Percobaan B Alumunium

Tabel C Pengukuran Logam

1 2 3
Panjang, 0,3 0,3 0,3
(m)
43

Lebar, (m) 1,02 x 10-2 1 x 10-2 1 x 10-2


Tinggi, (m) 0,199 x 10-2 0,199 x 10-2 0,198 x 10-2

Tabel D Pengukuran dan Perhitungan Modulus Young

Massa Ber Pertambahan Modulus Modulus Eror (%)


Beban, at, Tinggi, H (m) young, Y (Pa) young, Y (G
m (kg) W pa)
(N)
0,05 0,5 6,1 x 10-4 7,127 x 1010 71,27 1,81%
0,10 1 12.3 x 10-4 7,069 x 1010 70,69 0,98 %
0,15 1,5 18,7 x 10-4 6,97 x 1010 69,7 0,4 %
0,20 2 24,5 x 10-4 7,09 x 1010 70,9 1,2 %
0,25 2,5 31,9 x 10-4 6,81 x 1010 68,1 2,7 %
Rata-rata 7,01 x 1010 70,132 1,418%

Suhu ruang awal = 23℃

Suhu ruang akhir = 21,5℃

Sikap barometer awal = 256 mmHg

Sikap barometer akhir = 756 mmHg

Anda mungkin juga menyukai