Anda di halaman 1dari 62

PERJALANAN

AKSI IKLIM GLOBAL


Fenomena Sosial-Politik yang Mengubah
Dunia & Indonesia

Ardhi Arsala Rahmani


Perjalanan Aksi Iklim Global:
Fenomena Sosial-Politik yang Mengubah Dunia & Indonesia
(Global Climate Act That Changes the World and Indonesia)
 Ardhi Arsala Rahmani

ISBN 978-979-1157-53-7

Proofreader: Thilma Komaling


Foto Sampul: Andreas Strandman via Unsplash
Design & Layout: Studio Klandestein

Cetakan Pertama Februari, 2021

Diterbitkan oleh Friedrich Naumann Stiftung für die Freiheit


Jl. Kertanegara No.51, Kebayoran Baru,
DKI Jakarta 12110, Indonesia
Telp: (62-21) 7256012/13
Email: jakarta@freiheit.org
Website: www.freiheit.org/id/indonesia
PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL i

KATA PENGANTAR
Ardhi Arsala Rahmani atau Ardhi adalah seorang profesional
berpengalaman dengan pengalaman luas dalam menganalisa isu-
isu high politic terkait dengan krisis iklim. Kami bertemu melalui
seorang teman, dan melihat karyanya tentang dimensi politik
percakapan krisis iklim telah mencetuskan ide untuk kami ber-
kolaborasi dalam menciptakan buku ini. Dia pernah bekerja
untuk Global Green Growth Initiatives sebagai konsultan untuk
tim pengembangan pengetahuan dan kapasitas sebelum meng-
undurkan diri dan melanjutkan studinya di School of Government
and Public Policy. Latar belakangnya, publikasi sebelumnya, dan
kecerdasannya membuat saya percaya bahwa dia adalah orang
yang tepat untuk memperkenalkan kerangka kerja kebijakan iklim
dan aksi iklim global melalui tulisannya disini. Buku ini ditujukan
bagi masyarakat, khususnya pelajar, yang ingin mendalami sejarah
dan dasar kebijakan iklim; dari Stockholm ke Rio, Kyoto ke Bali,
Copenhagen ke Paris.

Suhu global yang terekam mencapai titik terpanasnya pada ta-


hun 2016. Rekor suhu global terpanas kedua kemudian dicetak
oleh tahun 2019. Kemudian, melelehnya kedua dataran es ter-
sebut berimplikasi pada kenaikan rata-rata permukaan laut global.
Padahal, peningkatan rata-rata permukaan air saat ini sudah
pada titik ekstrim dalam sejarah peradaban manusia, dengan
peningkatan dua kali lipat antara 2005 hingga 2018. Penemuan
terkait besarnya peran manusia dalam mempercepat proses
perubahan iklim dikemukakan pertama kali oleh Charles David
Keeling di Mauna Loa, Hawaii. Keeling menemukan bahwa kon-
sentrasi CO2 meningkat dan bertahan di atmosfer yang kemudi-
an menyebabkan pemanasan global dan menjadi fondasi bidang
keilmuan iklim. Namun, penemuan ini seringkali berhenti dalam
pembahasan di dalam komunitas sains.

Mengingat besaran dampak perubahan iklim di hidup manusia,


dibentuklah konferensi-konferensi yang dapat memfasilitasi dis-
kusi yang lebih menyeluruh untuk menghadapi isu perubahan
iklim. Sebagai salah satu wadah ini, IPCC dibentuk dengan tu-
juan untuk mengumpulkan asesmen-asesmen iklim di dunia dan
menghasilkan laporan-laporan ilmiah untuk dikaji dan dikonsum-
si berbagai pemangku kepentingan, bukan hanya ilmuwan saja.
Hal ini agar perubahan iklim tidak serta-merta menjadi perhatian
komunitas sains saja, namun menjadi kepentingan bagi publik
dan perumus kebijakan. Sebagai panel antar pemerintah, IPCC
ii PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL

memiliki struktur terbuka untuk semua negara anggota WMO


dan UNEP sehingga konsensus keilmuan dibangun oleh berbagai
ilmuwan dari seluruh dunia. Hingga hari ini, IPCC menjadi sumber
rujukan pusat untuk keabsahan ilmiah perubahan iklim karena
strukturnya tersebut. Bagaimana kelompok politik dan komuni-
tas sains akhirnya berkomunikasi juga tidak lepas dari Melalui
berbagai disrupsi dan desakan-desakan dari masyarakat dan ko-
munitas akar-rumput selama hampir 50 tahun terakhir.

Buku ini bertujuan untuk mendokumentasikan dan menjadi pen-


gantar terkait usaha-usaha global yang telah dilakukan untuk me-
mayungi usaha perlambatan perubahan iklim, dan pengaruhnya
terhadap kebijakan yang diambil oleh Indonesia. Selain itu, buku
ini juga akan menyorot peran Indonesia dalam aksi iklim global,
dan ingin memberikan pandangan dan sikap untuk berjuang ber-
sama-sama mewujudkan pembangunan rendah karbon pasca
pandemi COVID-19 di Indonesia. Bagi para penggerak iklim yang
sudah aktif maupun baru memulai, buku ini dapat memberikan
landasan pemikiran dan pergerakan yang membawa perspektif
internasional ke level nasional dan akar rumput. Semoga buku ini
dapat membantu kalian, seperti buku ini telah membantu saya
dalam mendorong aksi nyata melawan perubahan iklim.

Salam,

Jonathan Davy

Program Manager at FNF Indonesia


PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL iii

DAFTAR ISI

Kata Pengantar i
PRAKATA
Keilmuan dan Perkembangan Isu Iklim Kontemporer iv

BAB 1
Gerakan Sosial-Politik, Tata Kelola
dan Kebijakan Iklim Global 1
Tetesan Pertama: Kisah-kisah yang Membawa
Reaksi & Melahirkan Gelombang Aksi 1
Konferensi Lingkungan Dunia Pertama 4
Tahun-tahun Menuju Konvensi Kerangka Iklim Global 6
Kyoto Protokol 10
Rencana Aksi Bali & Kesepakatan Kopenhagen 13
Persetujuan Paris 15

BAB 2
Indonesia in the Spotlight – Peran dan Posisi
Indonesia dari DUNCHE hingga Perjanjian Paris
Indonesia di Stockholm, 1972 17
Indonesia di Stockholm, 1972 17
Institusionalisasi Politik
yang kemudian melahirkan gerakan 20
Indonesia dan UNFCCC hingga Protokol Kyoto 21
Indonesia Pasca-Kopenhagen: Komitmen Penurunan
Emisi & Pembangunan Rendah Karbon 22

BAB 3
Masa Depan Perubahan Iklim – Ekspektasi Jangka
Pendek dan Jangka Panjang 27
Kebersamaan ini...janganlah cepat berlalu 28
Mengapa kehidupan di dunia perlu merata? 29
Kesempatan kedua...hapuskan emisi dunia 32
Aksi Perubahan Iklim Sekarang & Nanti 34
iv PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL

DAFTAR PUSTAKA 40
Prakata 41
Bab 1 42
Bab 2 43
Bab 3

Profil Penulis 45
Tentang FNF 46
PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL v

PRAKATA

Keilmuan dan
Perkembangan Isu
Iklim Kontemporer

Suhu global yang terekam mencapai titik terpanasnya pada tahun


2016. Rekor suhu global terpanas kedua kemudian dicetak oleh
tahun 2019 [1]. Lapisan es Antartika dan Greenland yang mengan-
dung sekitar 99-persen dari air tawar dunia juga secara terus-
menerus meleleh sebesar 127 Gigaton per-tahun dan 286 Giga-
ton per-tahun [2]. Kemudian, melelehnya kedua dataran es ter-
sebut berimplikasi pada kenaikan rata-rata permukaan laut
global (global mean sea level rise). Padahal, peningkatan rata-rata
permukaan air saat ini sudah pada titik ekstrem dalam sejarah
peradaban manusia, dengan peningkatan dua kali lipat antara
2005 hingga 2018 [2]. Fenomena-fenomena tersebut kerap di-
hidangkan oleh media dan pemberitaan yang menjadi konsum-
si kita tiap harinya, namun diselingi oleh berbagai isu kompleks
sosial, politik, ekonomi dan budaya lainnya, berita-berita ter-
sebut hilang tertelan siklus media dan distraksi yang mengalih-
kan fokus kita. Padahal, fenomena-fenomena nyata tersebut
merupakan bagian dari proses global berkepanjangan yang ber-
nama perubahan iklim, dan kita adalah penyebabnya.
vi PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL

Gambar 1: Penurunan Massa Es Antartika & Greenland (2003 - 2017) dan Tingkat Penurunannya [2].
PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL vii

Gambar 2: Penganut teori konspirasi bahwa fenomena perubahan iklim me-


Kenaikan Rata-
rupakan hoaks yang di rekayasa oleh sekelompok elit global
rata Permukaan
Laut Global biasa menepis keberadaan perubahan iklim saat ini dengan
(1993 - 2017) argumen bahwa sepanjang sejarah planet bumi, iklim sering ber-
dan Tingkat ubah. Tentunya, mereka benar. Bumi telah mengalami banyak
Kenaikannya [2].
perubahan iklim drastis atau disebut sebagai abrupt climate
change di mana iklim bumi bertransisi seperti saat berakhirnya
stase Moscovian dan mulainya stase Kasimovian pada periode
geologis Karboniferus. Itu terjadi sekitar 305 juta tahun yang lalu
[3]. Menariknya, transisi tersebut juga disebut sebagai kepunah-
an massal—dan tentunya, perubahan iklim yang sedang terjadi
sekarang semakin menunjukkan dapat mengarah ke pada akhir
yang sama.

Namun, fenomena perubahan iklim yang kita kenal sekarang,


yang disebabkan oleh aktivitas manusia atau antroposentrisme
tidak mendapatkan julukannya hingga beratus-ratus tahun
setelah manusia pertama kali menciptakan api sebagai peng-
hasil emisi karbon-dioksida buatan. Buatan karena emisi karbon-
dioksida sendiri dihasilkan secara alamiah oleh lingkungan seki-
tar kita melalui proses sederhana seperti pembusukan. Bahkan,
kita pasti sering dengar bahwa gas dan kotoran yang kita keluar-
kan juga menghasilkan emisi. Dari emisi karbondioksida hingga
perubahan iklim terkesan sebagai lompatan besar, tetapi sejarah
viii PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL

justru menceritakan bagaimana manusia bisa memahami bahwa


aktivitasnya telah berdampak secara berkepanjangan terhadap
stabilitas iklim global dari eksperimen pengukuran karbon di-
oksida di udara.

Eksperimen tersebut dilakukan oleh Charles David Keeling di


Mauna Loa, Hawaii pada tahun 1958. Saat hendak mengukur
kebersihan udara di Laut Pasifik, Keeling menemukan bahwa
tingkat CO2 justru bervariasi antar musim, dan telah meningkat
secara bertahap. Melalui penemuan tersebut, Keeling dikenang
sebagai penemu bukti konkret bahwa konsentrasi CO2 meningkat
dan bertahan di atmosfer yang kemudian menyebabkan pe-
manasan global dan menjadi fondasi bidang keilmuan iklim. Se-
belum itu, kebanyakan ilmuwan mengasumsikan bahwa emisi
CO2 akan terserap oleh lingkungan sekitar, seperti pohon-pohon
dan lautan. Setelah adanya penemuan Keeling, sains yang secara
inheren bersifat swa-mengoreksi (self-correcting) dan terus-
menerus diperbaiki menunjukkan bahwa tidak semua emisi CO2
memang mampu terserap oleh alam [4].

Gambar 3: Pasca penemuan Keeling, Internasional Council of Science


Charles David
(ICSU) dan World Meteorological Organization (WMO) mem-
Keeling &
Variasi Kurva bentuk Global Atmospheric Research Programme (GARP) pada
Konsentrasi CO2 tahun 1967 untuk memelajari lebih lanjut pola atmosferis dan
yang kemudian variasi iklim. Program tersebut kemudian menghasilkan pe-
dikenal sebagai
‘Kurva Keeling’ [5].
modelan yang menunjukkan bahwa penambahan CO2 di atmos-
fer dapat meningkatkan temperatur rata-rata global sebesar
2°C. Meskipun demikian, pada saat itu, penambahan tempera-
tur tersebut masih belum diketahui dengan pasti apakah murni
karena peningkatan CO2 dari aktivitas manusia atau ada faktor
variasi alamiah saja. Bert Bolin, seorang meteorolog asal Swedia
PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL ix

menceritakan dalam bukunya bagaimana pada tahun 1979, kon-


ferensi iklim pertama diselenggarakan oleh WMO dan United
Nations Environment Programme (UNEP) untuk lebih me-
mahami karakteristik iklim dan pengaruh aktivitas manusia.
Baru pada tahun tersebut, dunia sepakat bahwa sumber daya
perlu dikerahkan lebih lanjut untuk menindaklanjuti penemuan-
penemuan ilmuwan sebelumnya [6]. Menurutnya, keberadaan
konferensi tersebut juga menjadi titik permulaan dialog antara
komunitas keilmuan iklim dengan aktor-aktor politik secara
sistemik, karena sebelumnya komunikasi tersebut masih ter-
batas dan model-model yang dihasilkan ilmuwan belum dapat
ditindaklanjuti secara politik.

Di tahun-tahun berikutnya, para ilmuwan iklim semakin mantap


dalam penemuan mengenai adanya penumpukan CO2 di atmos-
fer akibat aktivitas manusia yang kemudian berdampak pada
stabilitas iklim sehingga terjadi variasi-variasi cuaca ekstrem
yang kita kenal hari ini [7]. Pernyataan James E. Hansen kepada
Kongres Amerika Serikat pada pertengahan tahun 1988 menjadi
puncak afirmasi bahwa pemanasan global yang terjadi memang
di luar variasi normal dan disebabkan oleh manusia. James E.
Gambar 4:
James E. Hansen
Hansen pada saat itu memimpin Goddard Institute for Space
saat memberikan Studies (GISS) yang berisi pemodel-pemodel iklim terdepan di
testimoni kepada dunia, dan pernyataan beliau merepresentasikan konsensus ber-
Kongres Amerika sama komunitas sains mengenai perubahan iklim serta aspirasi
Serikat, Juni 1988.
mereka kepada pemangku kebijakan publik [8].
x PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL

Di akhir tahun yang sama, tepatnya pada November 1988, Inter-


governmental Panel on Climate Change (IPCC) dibentuk oleh
World Meteorological Organization (WMO) dan United Nations
Environment Programme (UNEP). IPCC dibentuk dengan tujuan
untuk mengumpulkan asesmen-asesmen iklim di dunia dan
menghasilkan laporan-laporan ilmiah untuk dikaji dan dikonsum-
si berbagai pemangku kepentingan, bukan hanya ilmuwan saja.
Hal ini agar perubahan iklim tidak serta-merta menjadi perhatian
komunitas sains saja, namun menjadi kepentingan bagi publik
dan perumus kebijakan. Sebagai panel antarpemerintah, IPCC
memiliki struktur terbuka untuk semua negara anggota WMO
dan UNEP sehingga konsensus keilmuan dibangun oleh berbagai
ilmuwan dari seluruh dunia. Hingga hari ini, IPCC menjadi sumber
rujukan pusat untuk keabsahan ilmiah perubahan iklim karena
strukturnya tersebut [6].

Tidak lama setelah dibentuk, IPCC menerbitkan First Assess-


ment Report (FAR) pada tahun 1989. Laporan asesmen tersebut
merupakan jenis dokumen yang akan dipopulerkan IPCC pada
dekade-dekade berikutnya karena merupakan pembaruan ter-
us-menerus mengenai perubahan iklim global dan pemodelan
yang memperkirakan dampak-dampaknya terhadap bumi dan
seisinya. Dalam ringkasan eksekutifnya FAR, IPCC mempre-
diksikan adanya peningkatan suhu global, melelehnya lapisan-
lapisan es dan meningkatnya rata-rata permukaan air [4].

Tiga dekade berikutnya, IPCC menerbitkan laporan-laporan ases-


men beserta kajian mengenai perubahan iklim lain yang me-
nunjukkan efek berantai akibat peningkatan suhu global seperti
cuaca ekstrem yang kemudian berdampak pada pasokan
makanan dan sumber daya. Kajian IPCC sempat memprediksikan
bahwa pemanasan sebesar 3°C di atas level pra-industri me-
rupakan batas minimum yang realistis. Menurut IPCC, jika pe-
manasan mencapai 4-derajat Celsius, maka Eropa kekeringan
dapat melanda Eropa, Tiongkok dan India. Sedangkan, negara
-negara pesisir akan ditelan oleh laut. Efek jangka panjangnya
kemudian adalah runtuhnya peradaban manusia itu sendiri, kare-
na dengan menipisnya pasokan makanan dan sumber daya, konflik
akan bermunculan. Bahkan, menurut Palang Merah, jumlah pe-
ngungsi dari krisis iklim sudah lebih banyak dari pengungsi konflik [9].
PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL xi

Namun, karena sains terus berkembang, kajian terdahulu IPCC


diperbarui lebih lanjut dan pada tahun 2018, mereka menerbit-
kan sebuah laporan khusus tentang pemanasan global sebesar
1.5°C. dalam pemodelan mereka, pemanasan sebesar 1.5°C di
atas level pra-industri menjadi titik minimum yang dapat meng-
hindari dampak signifikan terhadap ekosistem, serta kesehat-
an dan kesejahteraan manusia. Kajian tersebut juga melapor-
kan bahwa agar pemanasan dapat dibatasi pada angka 1.5°C
saja membutuhkan penurunan emisi karbon dioksida sebesar
45-persen pada tahun 2030 dari level emisi tahun 2010.

Dari sejarah keilmuan perubahan iklim di atas, terlihat bahwa


banyaknya penemuan-penemuan saintifik perihal iklim me-
mang datang dari negara-negara yang sudah maju pada saat
itu, mengingat kemampuan dan kapasitas institusi serta infra-
struktur keilmuan mereka. Secara spesifik, upaya memelajari
dampak perubahan iklim terhadap peradaban manusia justru
datang dari keingintahuan Amerika Serikat sebagaimana diakui
oleh Bert Bolin yang kemudian menjabat sebagai ketua IPCC
pertama. Bert Bolin, seorang warga Swedia bercerita mengenai
minim atau tidak adanya inisiatif-inisiatif serupa di bagian dunia
lain. Meskipun demikian, bahasa sains yang menjunjung objek-
tivitas bersifat universal, dan kepastian adanya pemanasan glo-
bal menggema ke ruang-ruang akademik di seluruh dunia hingga
hari ini [6]. Tentunya, perspektif akademik yang menggemakan
kepastian perubahan iklim tidak bergerak secara tunggal dalam
sebuah ruang dan waktu yang vakum. Berbarengan dengan ke-
majuan saintifik ilmu iklim global, mulai membara gejolak ke-
sadaran dan kepedulian kolektif yang menjelma dalam perkem-
bangan gerakan-gerakan sosial-politik yang bergerak pada isu
lingkungan-hidup di tingkat global [9] [10].

Tumbuhnya gerakan-gerakan tersebutlah yang kemudian men-


jadi penanggap pertama terhadap realita sains yang keluar dari
ruang-ruang keilmuan, jauh sebelum penindaklanjutan kebijakan
diformulasikan oleh politisi. Bagaimana kelompok politik dan
komunitas sains akhirnya berkomunikasi juga tidak lepas dari
Melalui berbagai disrupsi dan desakan-desakan dari masyarakat
dan komunitas akar-rumput selama hampir 50 tahun terakhir.
Gerakan masyarakat pun tidak lagi terbangun secara eksklusif,
terlebih di dalam dunia yang semakin terhubung, dan desakan
yang sama tumbuh di Indonesia meski pada lini waktu yang berbeda.
xii PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL

Dilatarbelakangi penerimaan bukti konkret mengenai fenomena


perubahan iklim dari sudut pandang sains, buku ini ditulis secara
khusus untuk menceritakan fenomena perubahan iklim sebagai
isu sosial-politik. Mulai dari gerakan-gerakan pro-lingkungan,
penerjemahan penemuan Keeling dan ilmuwan setelahnya untuk
masyarakat secara luas serta tanggapan dari komunitas inter-
nasional, khususnya kelompok sosial-politik berkepentingan.
PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL 1

1 Gerakan Sosial-Politik,
Tata Kelola dan
Kebijakan Iklim Global
Sebagai manusia, kita telah berkembang untuk atribusikan
fenomena dalam kerangka sebab-akibat. Hal ini tentunya kita
lakukan untuk lebih memahami dunia di sekitar kita, khusus
untuk fenomena alamiah, sains eksakta melahirkan rumus, for-
mulasi dan segala bentuk hukum yang bernarasi sebab akibat.
Namun, untuk fenomena sosial-politik, kerangka sebab-akibat
tidak dapat direduksi dalam bentuk hukum termodinamika.
Rangkaian-rangkaian kejadian sosial-politik selalu bersifat kom-
pleks, inter-dinamis, bercabang dan berseri. Kita dapat berce-
rita bagaimana Perang Dunia Ke-2 dimulai oleh Jepang pada
saat mereka menyerang Manchuria, atau dimulai Jerman saat
mereka mengokupasi Sudetenland. Yang jelas, satu aksi tidak
dapat secara tunggal menjadi penyebab terjadinya fenomena
sosial-politik, dibutuhkan rentetan-rentetan aksi, tindakan dan
gebrakan lainnya untuk mengkristalisasi sebuah gerakan dan ini
berlaku untuk gerakan iklim global. Jika satu tetesan pada se-
buah genangan air hanya akan menghasilkan reverberasi dan
gelombang sekilas, sedangkan rintik-rintik air akan meningkat-
kan frekuensi gelombang, maka guyuran deras akan membuat
genangan terombang-ambing.

Tetesan Pertama: Kisah-kisah yang Membawa


Reaksi & Melahirkan Gelombang Aksi
Naomi Klein, seorang aktivis dan penulis yang dikenal dengan
buku-buku best seller-nya menceritakan tentang tahun-tahun
1960an hingga 1970an sebagai masa emas perkembangan
pergerakan lingkungan hidup dan keberhasilan pergerakan da-
lam mencetak pencapaian regulasi. Menurutnya, penerbitan
buku Silent Spring karya Rachel Carson pada tahun 1962 menja-
di titik bangkitnya pergerakan lingkungan yang terkonsolidasi [1].
Memang, perhatian dan kepedulian terhadap lingkungan hidup
sebenarnya sudah ada jauh sebelum kumpulan kisah-kisah yang
2 PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL

tertuang dalam Silent Spring, bahkan kepedulian tentang iklim juga


sudah ada pada abad ke-19 sebagaimana ditulis oleh Medani P.
Bhandari dalam artikelnya tentang sejarah perubahan iklim.
Meskipun demikian, Bandhari pun melabeli terbitnya karya Rachel
Carson sebagai sebuah goncangan (shock) pertama dalam tata-
nan dunia modern yang meningkatkan perhatian publik terhadap
seriusnya dampak perilaku manusia terhadap kerusakan iklim [2].

Tentu yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah bagaimana se-


buah buku mendapatkan atribusinya sebagai pendorong gerakan-
gerakan lingkungan yang mencapai seluruh penjuru dunia. Untuk
menjawab retorika tersebut, buku Silent Spring perlu ditempatkan
dalam konteks pemahaman umum relasi manusia dengan alam
sekitarnya pada waktu itu. Sejalan dengan pemikiran ilmuwan se-
belum Keeling yang mengasumsikan bahwa CO2 yang dihasilkan
aktivitas manusia akan terserap oleh alam, pemahaman umum
pada saat itu adalah alam hidup untuk dikuasai, dimanfaatkan dan
dikendalikan sepenuhnya oleh manusia sebagai aktor perasa.

Berpegang pada pemikiran bahwa pemahaman umum tersebut


adalah salah, Rachel Carson membawa pesan mengenai efek
timbal-balik antar manusia dengan alam sekitarnya, di mana
manusia dapat merusak alam dan sebaliknya. Upaya Carson
untuk mengubah persepsi itu juga yang melandasi penulisan
bukunya dengan bahasa awam agar di- pahami banyak orang,
terutama ibu-ibu rumah tangga. Sebelumnya, isu-isu lingkung-
an hidup memang masih terkekang dalam menara-menara
gading yang tidak mudah dimengerti. [3]. Tentunya, kisah-kisah
yang terkandung dalam buku Carson memiliki fokus pada peng-
gunaan pestisida dan dampaknya pada ekosistem, namun
upayanya dalam memopulerkan isu tersebut mencerminkan juga
prakarsa demokratisasi pengetahuan untuk khalayak umum.
Implikasi dari inisiasi Carson ini kemudian melahirkan tren regulasi-
regulasi pro-lingkungan di negara-negara Barat pada waktu itu [1].

Karya Carson adalah tetesan pertama yang mendorong demo-


kratisasi keilmuan-keilmuan terkait lingkungan setelahnya.
Berkat Silent Spring, permasalahan lingkungan menjadi se-
buah dialog umum baru yang melibatkan semua pemangku
kepentingan, yakni manusia dan alamnya. Setelahnya bola
salju terus menggelinding, organisasi-organisasi yang ber-
kecimpung di bidang lingkungan hidup seperti Greenpeace,
Friends of the Earth dan Environmental Defense Fund dibentuk.
Hal ini kemudian terbantukan oleh banyaknya bencana-bencana

Gambar 1: Rachel Carson berlatar belakang ilmu biologi kelautan. Pada masa-masa pertarungannya untuk
meningkatkan kepedulian publik akan isu lingkungan, ia sedang bertarung juga dengan kanker payudara.
PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL 3
4 PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL

seperti tumpahan minyak, kekeringan, serta cuaca ekstrem


di berbagai belahan dunia, desakan akar rumput terus me-
nguat sampai isu iklim yang kemudian dikomunikasikan dengan
komunitas politik pada tahun 1970an.

Konferensi Lingkungan Dunia Pertama


Keterlibatan komunitas politik secara global yang didesak oleh
berbagai gerakan-gerakan lingkungan mendorong tanggapan
serta upaya internasional yang kemudian terealisasi dalam bentuk
Konferensi PBB mengenai Lingkungan Manusia (United Nations
Conference on the Human Environment) pada tanggal 5 – 16 Juni
1972. Konferensi ini digagas oleh Swedia pada tahun 1968 melalui
proposal mereka ke Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan
Bangsa-Bangsa (UN ECOSOC). Hari ini, kepentingan lingkungan
hidup dan iklim kerap dibenturkan dengan upaya bisnis, ekonomi
dan pembangunan, padahal saat itu justru yang ditunjuk pertama kali
untuk mengetuai perencanaan dan persiapan konferensi adalah
seorang industrialis asal Kanada bernama Maurice Strong. Se-
tahun sebelum konferensi berlangsung, Strong bersama timnya
yang terdiri dari 152 konsultan dari 58 negara membentuk
Gambar 2: laporan yang bertajuk “Only One Earth: The Care and Main-
Maurice Strong
tenance of a Small Planet”. Laporan oleh Strong dan timnya
dalam Konferensi
PBB mengenai kemudian menjadi landasan pembahasan yang berlangsung
Lingkungan selama konferensi dan dokumen deklarasi di kemudian hari [4].
Manusia di Dalam konferensi yang dihadiri oleh 114 negara pada waktu itu,
Stockholm, 1972.
Majelis Umum PBB mengadopsi dokumen yang dihasilkan kon-
PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL 5

ferensi bernama Declaration of the United Nations Conference on


the Human Environment (DUNCHE). Meskipun bukan dokumen
spesifik perubahan iklim, DUNCHE merupakan dokumen mo-
numental yang kemudian menjadi acuan dalam pengembangan
perjanjian lingkungan internasional setelahnya. DUNCHE juga
tidak mengikat secara hukum, namun beberapa isi dari doku-
men tersebut telah dibawa dalam dokumen-dokumen lain yang
mengikat dan disepakati oleh pihak-pihak negara. Dengan kata
lain, prinsip dan persyaratan akan kesepakatan mengenai per-
janjian-perjanjian iklim yang kita ketahui hari ini dilahirkan berkat
adanya preseden yang ditetapkan oleh DUNCHE untuk perjanji-
an-perjanjian lingkungan secara menyeluruh. Bahkan, relevan-
si DUNCHE ini juga diperkuat dengan penyebutannya sebagai
acuan dalam dokumen United Nations Framework Convention
on Climate Change (UNFCCC) yang dilahirkan 20 tahun setelah-
nya. Keberadaan DUNCHE juga kemudian memperbanyak aksi
dan kerja sama internasional untuk isu-isu lingkungan secara
menyeluruh—tidak seperti perjanjian-perjanjian sebelumnya
yang secara khusus berfokus pada sistem atau tujuan spesifik
(seperti konservasi, perairan dan atau perikanan).

Gambar 3:
Konferensi
PBB mengenai
Lingkungan
Manusia di
Stockholm, 1972.
6 PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL

Tahun-tahun Menuju Konvensi Kerangka Iklim Global


Pasca keterlibatannya dalam perancangan konferensi di Stockholm,
Maurice Strong ditunjuk sebagai Direktur Eksekutif United Nations
Environment Programme (UNEP) yang juga menjadi keluaran dari
konferensi yang dirancangnya. Pembentukan UNEP sendiri menjadi
momentum signifikan bagi kerja sama internasional dalam pena-
nganan permasalahan lingkungan, karena lembaga tersebut di-
dirikan sebagai otoritas lingkungan global tertinggi yang menetap-
kan agenda lingkungan global. Tentunya, sebagaimana telah ditulis
sebelumnya, peran UNEP ini akan menjadi sangat signifikan dalam
pengembangan isu perubahan iklim. Setelah masuk radar komu-
nitas-komunitas politik di seluruh dunia, pendalaman terhadap isu
lingkungan hidup semakin diperhatikan oleh perumus kebijakan.

Pada tahun 1983, Sekretaris Jenderal PBB, Javier Perez de Cuellar


menggagas pembentukan sebuah badan independen yang ber-
nama World Commission on Environment and Development. Badan
ini dipimpin oleh mantan perdana menteri Norwegia, Gro Harlem
Brundtland dengan tujuan untuk mengembangkan “tanggapan yang
tepat atas kepedulian terhadap degradasi lingkungan dan masalah
pembangunan”. Hasil dari proyek WCED berakhir dengan penerbitan
laporan yang bertajuk Our Common Future yang secara khusus
mencantumkan konsep pembangunan berkelanjutan dan me-
ngonseptualisasikannya sebagai:

“development that meets the needs of the present


without compromising the ability of future
generations to meet their own needs”
[pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi saat ini,
tanpa mengurangi kemampuan generasi masa depan untuk
memenuhi kebutuhan mereka sendiri] [5]

Maurice Strong sebagai tokoh penting dalam aksi keberlanjutan


global juga terlibat dalam penyusunan Our Common Future dan
memrakarsai pembentukan International Chamber of Commerce
(ICC) dan Business Council on Sustainable Development (BCSD)
sebagai upaya merangkul dan menyebarkan pesan-pesan lingku-
ngan hidup ke komunitas bisnis. Keberadaan mereka tentunya
sangat penting dalam penanganan isu-isu lingkungan yang men-
jadi agenda dunia di tahun-tahun berikutnya. Berbarengan dengan
perkembangan keilmuan ilmiah mengenai perubahan iklim, ber-
PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL 7

bagai perkembangan-perkembangan ini kemudian mengakse-


lerasi isu iklim untuk berada dalam radar pembuatan kebijakan.

Selang beberapa tahun kemudian, Laporan Kajian IPCC yang


pertama (IPPC First Assessment Report/FAR) diterbitkan pada
tahun 1990 dan menunjukkan bahayanya dampak dari aktivitas
antropogenik terhadap sistem iklim. Sebagai tanggapan atas
laporan tersebut, United Nations Framework Convention on
Climate Change (UNFCCC) diadopsi di Rio Earth Summit pada 9
Mei, 1992. Pertemuan yang diadakan di Rio de Janeiro tersebut
lagi-lagi dipercayakan kepada Maurice Strong selaku Sekretaris
Jenderal perhelatan ini. Hingga tahun 2019, sudah ada 197 neg-
ara yang telah meratifikasi UNFCCC [6]. Dokumen ini memiliki
tujuan yang mengikat secara hukum (legally-binding objective)
dan tujuan tersebut tercantum dalam Artikel 2 yang menyatakan:

“The ultimate objective of this Convention and any


related legal instruments that the Conference of the
Parties may adopt is to achieve, in accordance with
the relevant provisions of the Convention, stabili-
zation of greenhouse gas concentrations in the
atmosphere at a level that would prevent dangerous
anthropogenic interference with the climate system.”
[Tujuan utama dari Konvensi ini dan instrumen legal terkait yang
dapat diadopsi oleh Konferensi Para Pihak adalah untuk mencapai,
sesuai dengan peraturan dari Konvensi yang relevan, stabilitasi
konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer pada tingkat yang dapat
menghindari interferensi antropogenik berbahaya terhadap
sistem iklim] [6]

Meskipun demikian, prosedur mengenai tata cara mencapai tujuan


stabilisasi tersebut, seperti melalui penurunan gas rumah kaca
(GRK) belum ditentukan dan disepakati secara terperinci hingga
perjanjian-perjanjian berikutnya. Dengan kata lain, konten yang
tertuang dalam dokumen UNFCCC hanya menyediakan kerangka
kerja mengenai pentingnya penstabilan GRK di sistem iklim, namun
kejelasan terperinci untuk mencapai sistem iklim yang stabil baru
akan dimasukkan dalam sebuah dokumen turunan yang akan
dinegosiasikan.
8 PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL

Gambar 4: Dokumen UNFCCC juga dikembangkan dengan pengetahuan bah-


Rio Earth Summit,
wa ada kondisi sosio-ekonomi yang berbeda-beda antara negara
1992.
dan pertanggungjawaban utama terhadap kerusakan sistem iklim
dibebankan kepada negara-negara maju sesuai dengan periode
industrialisasi mereka. Oleh karena itu, dokumen tersebut memuat
stipulasi yang menekankan delineasi yang jelas antara negara maju,
yang disebut dalam dokumen sebagai Annex I dan negara berkem-
bang atau non-Annex I. Delineasi ini pertama kali dibuat untuk secara
spesifik mengarahkan negara-negara yang termuat dalam Annex I
agar mengurangi tingkat emisi mereka kembali ke tingkat emisi tahun
1990 pada tahun 2012. Sebagai contoh, jika negara A menghasilkan
emisi sebesar 10 GtCO2 pada tahun 1990, dan pada saat penanda-
tanganan UNFCCC di tahun 1992 negara tersebut menghasilkan
emisi sebesar 17 GtCO2. Maka, pada tahun 2012, negara A harus
memastikan bahwa emisinya kembali menjadi 10 GtCO2. Di saat
yang bersamaan, konsep tanggung jawab bersama dengan tingkat-
an yang berbeda-beda (common but differentiated responsibility/
CBDR) diperkenalkan untuk pertama kalinya dalam dokumen ini.
PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL 9

Dari sudut pandang legal, UNFCCC menjadi preseden baru yang


menetapkan sebuah tujuan bagi semua negara pihak-pihak
untuk mencapai sebuah sistem iklim yang stabil dengan mence-
gah gangguan (interference) yang berbahaya. Selain itu, Rio Earth
Summit juga menjadi momen monumental baru bagi pergerakan
isu lingkungan hidup karena menghadirkan Severn Cullis-Suzuki
yang pidato lima menitnya dipopulerkan dengan tajuk “The Girl
Who Silenced the World for 5 Minutes”. Severn Cullis-Suzuki yang
pada saat itu berumur 12 tahun membawakan perspektif anak
muda akan isu lingkungan hidup.

Gambar 5:
Video Pidato
Severn Cullis-
Suzuki di Rio
sudah ditonton
oleh 32 juta orang
sejak diunggah
pada tahun 2008.
10 PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL

Kyoto Protokol
Menindaklanjuti disahkannya UNFCCC, dan dibuatnya Konferensi
Para Pihak (Conference of Parties/COP) sebagai badan pembuat
keputusan tertinggi, para pihak-pihak yang telah meratifikasi ber-
temu kembali dalam pertemuan-pertemuan COP untuk memutus-
kan tata-cara mencapai tujuan yang tertuang dalam Artikel 2 dari
UNFCCC. Pertemuan COP pertama diadakan di Berlin pada
tahun 1995—namun baru di Kyoto, saat COP-3 diadakan dari
1 – 10 Desember 1997, perjanjian yang mengatur tata-cara men-
capai tujuan UNFCCC secara mengikat dirumuskan dan dinego-
siasikan. Tata-cara yang diatur berbentuk target penurunan emi-
si yang mengikat secara hukum untuk negara-negara Annex I.
Hal ini mencerminkan penemuan dari Laporan Kajian IPCC yang
kedua (IPCC Second Assessment Report/SAR) yang secara
spesifik mengatribusikan penyebab perubahan iklim pada ak-
tivitas industri yang dilakukan oleh negara-negara maju. Setelah
negosiasi intens selama pertemuan yang memakan waktu satu
minggu lebih, perjanjian turunan yang secara lengkap berjudul
Kyoto Protocol to the United Nations Framework Convention on
Climate Change, disahkan pada akhir pertemuan COP-3 dan di-
puji sebagai pencapaian karena negara-negara Annex I menyetu-
jui penurunan emisi bertarget dengan periode waktu yang ditetap-
kan. Dalam dokumen UNFCCC yang asli, ada 41 negara-negara
pihak yang ditetapkan sebagai Annex I, dan dengan adanya Pro-
tokol Kyoto, negara-negara tersebut diwajibkan untuk mengurangi
emisi mereka sebesar 5-persen di bawah level emisi tahun 1990
mulai dari tahun 2008 hingga 2012. Ketentuan ini dinilai lebih pro-
gresif daripada anjuran yang tertuang dalam dokumen UNFCCC
yang hanya mengajak negara-negara Annex I untuk secara suka-
rela mengembalikan emisi mereka ke level emisi tahun 1990.
Dengan dokumen ini, jika negara A menghasilkan emisi sebesar
10 GtCO2 pada tahun 1990, dan pada saat penandatanganan
Protokol Kyoto di tahun 1997 negara tersebut menghasilkan emisi
sebesar 17 GtCO¬2. Maka, antara tahun 2008 hingga 2012, negara
A harus memastikan bahwa emisinya menurun menjadi 9,5 GtCO2
(yang didapatkan dari 10 GtCO2 dikurangi 5-persen).
PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL 11

Gambar 6:
Wakil Presiden
Amerika Serikat,
Al-Gore mem-
berikan Pidato
pada Pertemuan
Para Pihak (COP)
Ketiga di Kyoto,
1997.

Selain penurunan emisi, ada dua konsesi utama yang diatur


dalam Protokol Kyoto untuk negara-negara Annex I. Yang per-
tama adalah penyertaan penyerap karbon (carbon sinks) seperti
hutan untuk ikut diperhitungkan dalam mengurangi emisi suatu
negara. Hal ini berarti, jika negara A hanya diperbolehkan meng-
hasilkan emisi sebesar 10 GtCO2, dan negara A memiliki jum-
lah lahan hutan yang dapat menyerap karbon sebesar 5 GtCO2,
maka negara A pada akhirnya dapat menghasilkan emisi kotor
sebesar 15 GtCO2. Tetapi, dengan dikurangi jumlah yang diserap
oleh hutan, maka emisi neto negara A tetap memenuhi obligasi-
nya. Konsesi yang kedua adalah berupa instrumen-instrumen
ekonomi yang dinamakan mekanisme fleksibilitas (flexibility
mechanism). Ada tiga jenis mekanisme fleksibilitas yang diran-
cang dengan tujuan untuk mempermudah negara-negara Annex
I agar dapat memenuhi komitmen penurunan emisinya. Ketiga
mekanisme fleksibilitas tersebut adalah sebagai berikut:

1. Mekanisme emissions trading (ET) diatur dalam Artikel 17


yang mengatur agar negara-negara Annex I dapat membeli
atau menjual emisi agar mereka bisa menghasilkan emisi
yang melebihi dari target awal yang sudah ditentukan—se-
cara sederhana, jika negara A memiliki alokasi emisi sebesar
15 GtCO2 dan negara B memiliki alokasi emisi sebesar 20
GtCO2 per tahun, namun di akhir suatu tahun negara B ha-
nya menghasilkan emisi sebesar 18 GtCO2, maka negara A
dapat membeli “kredit” emisi sebesar 2 GtCO2 dari negara B.
Kemudian negara A dapat menghasilkan emisi sebesar 17
GtCO2 pada tahun berikutnya.
12 PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL

2. Kemudian ada mekanisme joint implementation (JI) yang


diatur dalam Artikel 6. Melalui mekanisme ini negara Annex I
dapat berinvestasi untuk proyek-proyek penurunan emi-
si di negara Annex I lainnya. Sebagai contoh, jika negara A
hanya diperbolehkan menghasilkan emisi sebesar 10 GtCO2
dalam suatu tahun tertentu, namun perencanaan energi
negara A memprediksi bahwa total emisi yang akan dihasil-
kannya sebesar 15 GtCO2, maka pilihan untuk negara A pada
awalnya adalah untuk merevisi perencanaan energi mereka
agar memperbanyak sumber yang terbarukan. Namun, den-
gan JI, jika proyek energi terbarukan dinilai terlalu mahal
untuk dilakukan di negara A maka mereka dapat melaku-
kannya di negara B yang mungkin lebih murah. Sehingga,
negara A secara teknis tetap bisa menghasilkan emisi bruto
yang melampaui 10GtCO2.

3. Mekanisme fleksibilitas terakhir adalah Clean Development


Mechanism (CDM), yang tertuang dalam Artikel 12 pada doku-
men Protokol Kyoto. Cara kerja CDM serupa dengan JI, namun
investasi untuk proyek-proyek penurunan emisi dilakukan antara
negara Annex I de-ngan negara non-Annex I. Sehingga, tujuan
dari mekanisme ini tidak hanya untuk mempermudah pemenuh-
an komitmen negara-negara Annex I, tapi juga untuk mem-
promosikan pembangunan berkelanjutan (sustainable develop-
ment) di negara-negara berkembang [7].

Dengan stipulasi-stipulasi yang signifikan di atas, perlu ditekan-


kan juga bahwa jarak waktu yang lama antara pengesahan
dokumen Protokol Kyoto pada tahun 1997 hingga dimulainya
periode komitmen penurunan emisi dari tahun 2008 disebabkan
oleh masih minimnya perincian mengenai mekanisme peng-
hitungan dan pelaporan untuk penurunan emisi. Meskipun Pro-
tokol Kyoto merupakan jawaban mengenai cara untuk memenuhi
tujuan yang dicantumkan dalam UNFCCC, cara-cara yang diatur
dalam Protokol Kyoto (yakni penurunan emisi) masih perlu diper-
jelas secara lebih lanjut dengan perjanjian turunan berikutnya.
Hal ini sesuai dengan tulisan Peake Stephen tentang peliknya
perumusan dokumen iklim internasional yang ia nyatakan de-
ngan “mempersuasi delegasi-delegasi dari 175 negara lebih
untuk menyetujui satu paragraf teks saja menghabiskan waktu
setengah hari”—oleh karenanya, walau Protokol Kyoto merupa-
kan pencapaian yang signifikan, penjelasan lanjutan membutuh-
kan waktu lebih banyak dan perjanjian-perjanjian penerusnya [8].
PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL 13

Rencana Aksi Bali & Kesepakatan Kopenhagen


Setelah dimulainya periode komitmen penurunan emisi pada
tahun 2008 yang tertuang dalam Protokol Kyoto, kemudian
diperjelas dalam Kesepakatan Marrakesh (tahun 2001), pihak-
pihak yang terikat pada kedua perjanjian tersebut mulai mendi-
skusikan pembentukan komitmen penurunan emisi berikutnya
setelah periode komitmen yang dibentuk Protokol Kyoto berakhir.
Upaya pembentukan komitmen penurunan emisi baru ini di-
mulai pada perhelatan COP-13 yang diadakan di Bali pada tahun
2007. Di akhir pertemuan tersebut, negara-negara menyepakati
Rencana Aksi Bali (Bali Action Plan) yang berisi empat elemen
yakni mitigasi, adaptasi, teknologi, dan pendanaan untuk per-
ubahan iklim. Empat elemen tersebut disetujui para pihak untuk
dicapai secara bersama, dan ini menandai peningkatan keterli-
batan negara-negara berkembang dalam berkontribusi terhadap
penanganan perubahan iklim. Dalam menanggapi peningkatan
keterlibatan ini, di Indonesia sebuah Dewan Nasional Perubahan
Iklim (DNPI) dibentuk melalui Peraturan Presiden No. 46 tahun
2008. Tugas-tugas DNPI tertuang di Pasal 3 yakni:
a. merumuskan kebijakan nasional, strategi, program dan
kegiatan pengendalian perubahan iklim;
b. mengkoordinasikan kegiatan dalam pelaksanaan tugas
pengendalian perubahan iklim yang meliputi kegiatan
adaptasi, mitigasi, alih teknologi dan pendanaan;
c. merumuskan kebijakan pengaturan mekanisme dan tata
cara perdagangan karbon;
d. melaksanakan pemantauan dan evaluasi implementasi
kebijakan tentang pengendalian perubahan iklim;
e. memperkuat posisi Indonesia untuk mendorong negara-
negara maju untuk lebih bertanggung jawab dalam
pengendalian perubahan iklim [9].
Kembali ke konteks internasional, peningkatan keterlibatan dan
upaya penanganan perubahan iklim yang tertuang dalam Rencana
Aksi Bali kemudian secara formal dinegosiasikan pada COP-15 dari
7 hingga 19 Desember 2009 yang kemudian menghasilkan Ke-
sepakatan Kopenhagen. Dalam dokumen Kesepakatan Kopenhagen
(Copenhagen Accord), negara-negara menyampaikan bahwa target
penurunan emisi ditentukan secara sukarela. Hal ini berbeda dengan
jenis komitmen-komitmen yang sudah diputuskan dan mengikat
dalam perjanjian sebelumnya.
14 PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL

Gambar 7: Dalam Kesepakatan Kopenhagen, setiap negara menentukan target


Konferensi Para
penurunan mereka dengan mengisi lampiran pada kesepakatan de-
Pihak ke-15
(COP-15) ngan tiga halaman tersebut. Pada lampiran 1 (Appendix I) negara-
di Kopenhagen, negara industri diberi ruang mengisi target penurunan emisi terkuan-
Denmark pada tifikasi secara ekonomi untuk tahun 2020 (quantified economy-wide
tahun 2009.
emissions target for 2020) sedangkan negara-negara berkembang
mengisi lampiran 2 (Appendix II) yang merupakan aksi mitigasi
nasional yang ditentukan (nationally appropriate mitigation actions [10].

Keberadaan kedua jenis target ini memungkinkan keterlibatan


negara maju dan juga negara berkembang untuk berkontribusi
dalam penurunan emisi. Sebagai contoh, Indonesia melalui Rach-
mat Witoelar selaku Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan
Iklim (DNPI) saat itu menyurati UNFCCC dengan format lampiran 2
tersebut dan menyatakan komitmen penurunan emisi sebesar 26%
dibandingkan skenario business-as-usual (BaU) pada tahun 2020.
Artinya, jika pada skenario BaU Indonesia akan menghasilkan emisi
sebesar 10 GtCO2 pada tahun 2020, maka dengan pengajuan target
penurunan 26%, Indonesia berjanji untuk berupaya menghasilkan
emisi hanya sebesar 7,4 GtCO2 pada tahun tersebut [11].

Meskipun dokumen Kesepakatan Kopenhagen menjadi capaian


penting untuk melanjutkan penanganan perubahan iklim pasca
berakhirnya periode pertama Protokol Kyoto pada tahun 2012, ke-
PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL 15

sepakatan yang lahir di COP-15 tersebut belum dianggap mengikat


[12]. Kendati demikian, keputusan yang tertuang di dalamnya men-
jadi acuan penting untuk perumusan periode komitmen penurunan
emisi yang baru. Dengan kata lain, hasil dari dokumen Kesepakatan
Kopenhagen membentuk kerangka kesepakatan awal untuk kemu-
dian didiskusikan dan target penurunan emisi yang sukarela baru
akan kita lihat dikukuhkan secara hukum pada perjanjian iklim inter-
nasional selanjutnya.

Persetujuan Paris
Setelah berakhirnya periode komitmen penurunan emisi bertarget
yang diatur dalam Protokol Kyoto pada tahun 2012, negara-negara
yang terikat oleh Protokol Kyoto menyetujui pengesahan Aman-
demen Doha (Doha Amendment) yang membuat komitmen peri-
ode kedua berlangsung dari tahun 2013 hingga 2020. Komitmen
periode kedua tersebut diatur serupa dengan stipulasi dalam Pro-
tokol Kyoto yang diperjelas dalam Kesepakatan Marrakesh seperti
pada periode pertama, dengan target penurunan emisi yang baru.
Meskipun demikian, perencanaan dan formulasi jenis komitmen
penurunan emisi baru, sebagaimana telah tertuang dalam do-
kumen Kesepakatan Kopenhagen dan Perjanjian Cancun, tetap
dikembangkan secara lebih jauh untuk membuat perjanjian baru
yang dapat menggantikan Protokol Kyoto seusai periode komit-
men kedua. Perjanjian penerus Protokol Kyoto yang dimaksud
tersebut baru dibentuk pada pertemuan COP-21 yang diadakan
di Paris pada tanggal 30 November hingga 12 Desember 2015.
Hingga Mei 2019, Perjanjian Paris telah ditandatangani oleh 195
negara dan diratifikasi oleh 185 negara.

Di Paris, sistem komitmen penurunan emisi bertarget yang diren-


canakan dalam Kesepakatan Kopenhagen kemudian dikukuhkan
melalui Perjanjian Cancun disepakati dan diresmikan dalam
dokumen Perjanjian Paris. Sistem komitmen baru yang bersifat
sukarela ini dinamakan Kontribusi yang Ditetapkan secara Nasi-
onal (Nationally Determined Contribution/NDC)—dan penamaan
tersebut bukan tanpa alasan, karena pada hakikatnya target
penurunan emisi diajukan sebagai kontribusi oleh setiap negara
untuk kemudian mereka penuhi pada tahun 2030 dalam upaya
memitigasi perubahan iklim saat periode NDC pertama berakhir.
Selain itu, penamaan tersebut merupakan kompromi antara aksi
mitigasi nasional yang ditentukan oleh nationally appropriate
mitigation actions (NAMA) dan target penurunan emisi terkuan-
16 PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL

tifikasi secara ekonomi (quantified economy-wide emissions


target) sehingga mengesahkan keterlibatan oleh negara maju
maupun negara berkembang untuk memitigasi perubahan iklim,
sebagaimana pertama kali diwacanakan dalam Rencana Aksi Bali
dan Kesepakatan Kopenhagen.

Gambar 8: Dengan sistem NDC ini, setiap negara dapat mengajukan ambisi
Perayaan penurunan emisi mereka secara tanpa syarat (unconditional) atau
Keberhasilan
Disepakatinya
bersyarat (conditional). Jumlah emisi yang diajukan berbentuk
Persetujuan persentase dari prospek emisi dalam skenario tanpa adanya NDC
Paris. (business-as-usual/BaU). Skenario BaU ini ditentukan dari pola
dan tren historis emisi suatu negara yang dibandingkan dengan
perencanaan jangka panjang suatu negara tersebut yang berkai-
tan dengan sektor beremisi (misalnya rencana kehutanan dan
rencana energi). Pada penandatangan Perjanjian Paris, Indonesia
juga mengajukan target penurunan emisinya untuk tahun 2030.
Target penurunan emisi gas rumah kaca yang diajukan pun lebih
ambisius daripada target nationally appropriate mitigation actions
(NAMA) yang disampaikan pada tahun 2010 untuk Kesepakatan
Kopenhagen. Dalam NDC Indonesia, target penurunan emisi se-
besar 29% tanpa syarat dibandingkan skenario BaU. Selain itu,
Indonesia juga menambahkan target penurunan sebesar 41%
dibandingkan skenario BaU jika mendapatkan bantuan inter-
nasional sebagaimana ditetapkan pada stipulasi-stipulasi yang
ada dalam Perjanjian Paris—yakni dalam bentuk pendanaan,
pengembangan kapasitas atau transfer teknologi.
PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL 17

2 Indonesia in the
Spotlight – Peran
dan Posisi Indonesia
dari DUNCHE hingga
Perjanjian Paris
Di saat banyak negara-negara industri Barat mengalami arus
perkembangan gerakan lingkungan hidup yang dijuluki abad
emas oleh Naomi Klein, kemewahan berekspresi yang dimiliki
negara-negara demokrasi liberal tersebut tidak ada di Indonesia.
Sehingga kondisi struktur sosio-politik selama dekade 1960 ke
1970 tidak memungkinkan lahirnya gerakan-gerakan lingkungan
hidup akar rumput di Indonesia. Namun, sebagaimana disampai-
kan di bab sebelumnya, sains memiliki bahasa yang universal,
dan Indonesia pun terpapar arus keilmuan yang menempatkan
perhatian terhadap lingkungan.

Indonesia di Stockholm, 1972


Terpaparnya Indonesia terhadap isu lingkungan hidup bisa di-
katakan secara persis terjadi pada tahun 1972 pada konferensi
lingkungan dunia pertama (UNCHE) di Stockholm yang saat itu
dihadiri banyak negara, termasuk Indonesia. Pada konferensi
tersebut, Indonesia diwakili oleh Emil Salim yang saat itu men-
jabat sebagai Menteri Negara Bidang Penyempurnaan dan Pem-
bersihan Aparatur Negara sekaligus Wakil Ketua Badan Perenca-
naan Pembangunan Nasional. Dalam sebuah wawancara untuk
buku ‘Debating’ nature conservation: policy, law and practice
in Indonesia : a discourse analysis of history and present,
Emil Salim sendiri menyatakan bahwa konferensi di Stockholm
merupakan pertama kalinya Ia dan juga Pemerintah Indonesia
terpapar oleh isu lingkungan hidup. Sebelumnya, Ia memiliki
kecurigaan terhadap munculnya agenda terkait sebagai upaya
negara-negara maju untuk melindungi diri mereka sendiri. Emil
Salim juga menyampaikan bahwa pada saat itu, Indonesia dan
18 PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL

Brazil sebagai dua negara pemilik hutan-hutan terbesar di dunia


seolah-olah ditekan oleh negara-negara maju [1].

Dalam pembicaraannya dengan Gita Wirjawan pada tahun 2020,


Emil Salim menyampaikan bahwa pada saat itu Ia melawan
balik tekanan-tekanan tersebut secara keras dan menghiraukan
perhatian terhadap lingkungan hidup. Saat itu, Emil Salim ber-
pendapat bahwa penuntasan kemiskinan secara tunggal me-
rupakan kepentingan utama Indonesia. Namun, ia bercerita
bahwa pendapatnya berubah seketika setelah pertemuan de-
ngan Indira Gandhi pada suatu pagi di konferensi Stockholm.
Indira Gandhi saat itu menyampaikan kepada Emil Salim bahwa
jika kerusakan lingkungan menyebabkan bencana, yang akan
lebih sengsara adalah negara-negara mereka (yakni negara-
negara berkembang). Setelah terkejut dengan pesan Perdana
Menteri India tersebut, Emil Salim berpikir ulang mengenai posisi-
nya dan kemudian membawa pulang dimensi lain dari pem-
bangunan ke tanah air [2].

Setibanya di tanah air, Emil Salim pun melaporkan persepsi baru-


nya tersebut dan mengupayakan perhatian terhadap lingkungan
menjadi pertimbangan para koleganya di kabinet. Ia pun ber-
cerita bahwa upaya tersebut dihadapi dengan penuh rintangan
mengingat pertimbangan konvensional yang dipegang menteri-
menteri lain saat itu. Mereka tidak mendapatkan pencerahan
yang ia dapatkan dari Indira Gandhi. Meskipun demikian, upaya-
nya tidak tanpa hasil, karena tidak lama setelah kepulangan-
nya dari Stockholm, ada dua capaian langsung yang didapatkan.

Capaian yang pertama, adalah pengarusutamaan pertimbangan


lingkungan hidup dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara
(GBHN) tahun 1973 yang berisi kutipan seperti penggunaan
sumber daya alam “dengan kebijaksanaan yang menyeluruh”
dan juga “memperhitungkan kebutuhan generasi yang akan
datang”. Capaian yang kedua adalah institusionalisasi isu
lingkungan hidup melalui pembentukan Kementerian Negara
Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (PPLH)
pada tahun 1978 [1]. Dengan adanya kementerian tersebut,
pertimbangan mengenai lingkungan hidup secara resmi masuk
berada pada radar kebijakan politik. Selain itu, Indonesia juga
menempatkan dirinya dalam arus perkembangan global yang
semakin peduli dengan lingkungan hidup dan mengikuti jejak
negara-negara maju yang telah menginstitusionalisasikan isu
tersebut secara politik dengan pendirian Kementerian/Lembaga

Gambar 1: Emil salim memberikan pidatonya pada UNChE, 1972 di Stockholm


PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL 19
20 PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL

pemerintah khusus lingkungan hidup pada tahun-tahun tersebut.


Kementerian Lingkungan Hidup pertama dibentuk di Inggris pada
tahun 1970 [3]. Orang yang ditunjuk untuk mengetuai instansi
baru di Indonesia adalah Emil Salim, dan ia menempati posisi
tersebut dari Kabinet Pembangunan III hingga V (1978 – 1993).

Institusionalisasi Politik yang kemudian


melahirkan gerakan
Jika membandingkan cerita panjang asal-muasal arus kepedulian
lingkungan hidup yang terjadi di negara-negara Barat, alurnya ter-
balik untuk Indonesia. Di negara-negara Barat, sistem perpolitikan
yang diharuskan menyusul gerakan sosial dan realita sains, na-
mun di Indonesia gerakan lingkungan hidup di akar rumput justru
diinisiasi secara atas-bawah (top-down). Ini tercerminkan oleh
inisiasi pembentukan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) sebagai
organisasi lingkungan tertua di Indonesia. Salah satu aktor pen-
ting pembentukan organisasi tersebut, siapa lagi kalau bukan Emil
Salim. Menurut catatan sejarah resmi Walhi yang ada pada situs
webnya, organisasi tersebut bermula sebagai Kelompok Sepuluh
Pengembangan Lingkungan Hidup. Kelompok tersebut “merupa-
kan wadah untuk tukar informasi, tukar pikiran, dan penyusun-
an program bersama mengenai masalah lingkungan hidup di
Indonesia maupun lingkungan hidup di dunia, demi terpelihara-
nya kelestarian lingkungan makhluk hidup umumnya dan manu-
sia khususnya.” [4].

Keberadaan Walhi pun menjadi pendukung penting dalam in-


stitusionalisasi isu-isu lingkungan hidup secara politik lebih
lanjut karena perannya dalam memberikan masukan dan pe-
ngawalan kebijakan pemerintah sejak pembentukan pada ta-
hun 1980. Saat itu, Walhi mendapatkan legitimasinya sebagai
representasi LSM lingkungan seluruh Indonesia dan diundang
DPR untuk didengar keterangannya dalam pembahasan UU
Lingkungan Hidup. Kemudian pada tahun 1982, Walhi bersama
lembaga swadaya masyarakat lainnya terlibat dalam penyusun-
an Undang-undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup/
Undang-undang No.4 Tahun 1982. UU tersebut tentunya me-
rupakan catatan penting dalam sejarah Indonesia karena men-
jadi produk hukum pertama yang mengatur pengelolaan ling-
kungan hidup sejalan dengan perkembangan diskursus global
saat itu [4] [5]. Berjalan paralel dengan perkembangan domes-
PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL 21

tik, pada bab sebelumnya kita mengetahui bahwa pada tahun-


tahun tersebut ada kemunculan konsep pembangunan ber-
kelanjutan yang dipopulerkan dalam laporan Our Common
Future oleh komisi Brundtland. Menariknya, Emil Salim menjadi
bagian dari komisi tersebut, dan posisinya menunjukkan peran
Indonesia dalam pengembangan model pembangunan alternatif
yang mempertimbangkan kebutuhan generasi masa depan [2].

Indonesia dan UNFCCC hingga Protokol Kyoto


Sejalan dengan perkembangan dunia internasional yang sema-
kin sadar akan pentingnya perubahan iklim bagi kelangsungan
peradaban manusia, Indonesia pun terlibat dalam perumusan
UNFCCC hingga Protokol Kyoto. Meskipun demikian, peran
Indonesia pada kedua perjanjian tersebut masih tergolong minim
mengingat statusnya sebagai negara berkembang. Pada saat kedua
perjanjian tersebut disepakati, perhatian dipusatkan ke negara-
negara industri atau Annex I yang dianggap paling berdosa
atas konsentrasi emisi gas rumah kaca yang ada di atmosfer.

Untuk UNFCCC, Indonesia mengesahkannya melalui Undang-


Undang No. 6 tahun 1994. Dalam dokumen penjelasan atas UU
tersebut, Indonesia ikut ‘menyadari bahwa kegiatan manusia te-
lah meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer dan
peningkatan ini akan memperbesar efek gas rumah kaca yang
pada gilirannya berakibat naiknya rata-rata pemanasan permu-
kaan bumi dan atmosfer yang dapat mengganggu ekosistem’.
Kemudian untuk Protokol Kyoto, Indonesia baru melakukan
pengesahan pada tahun 2004 dengan Undang-Undang No. 17
tahun 2004. Disahkan 7 tahun setelah dirumuskan di Kyoto,
Indonesia menegaskan kembali pentingnya keterlibatannya da-
lam penanganan perubahan iklim global dan menyambut baik
adanya peluang dari Mekanisme Pembangunan Bersih/Clean
Development Mechanism (CDM) yang menjadi insentif penting
bagi keterlibatan Indonesia. Berkenaan dengan CDM, per tahun
2013, sudah ada 128 proyek klaim penurunan emisi dari negara-
negara industri [6].
22 PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL

Indonesia Pasca-Kopenhagen: Komitmen


Penurunan Emisi & Pembangunan Rendah Karbon
Pada bab sebelumnya kita sudah menelusuri cerita mengenai
upaya internasional dalam membangun komitmen penurunan
emisi pasca-Kyoto dan di Bali pada COP-13 tentang sebuah
gagasan mengenai jenis komitmen baru lahir. Dari cerita ter-
sebut kita sudah mengetahui betapa pentingnya Indonesia
berupaya memposisikan diri dalam penanganan perubahan iklim
di kancah perpolitikan internasional. Di luar forum berbasis
UNFCCC, Indonesia juga terlibat dalam gerakan internasional
lain yang berkaitan dengan isu lingkungan hidup serta inisiasi-
inisiasi lain dalam negeri. Sebagai contoh, Indonesia terlibat
dalam pembentukan lembaga antar pemerintah yang bernama
Global Green Growth Institute (GGGI). Sesuai namanya, lem-
baga tersebut mengusung konsep pertumbuhan hijau (Green
Growth) yang lahir pada tahun 2005 di Seoul Korea saat 52 per-
wakilan pemerintah negara-negara Asia Pasifik bertemu dalam
Fifth Ministerial Conference on Environment and Development
(MCED-5). Di Indonesia, program kolaborasi dengan GGGI sudah
berlangsung sejak tahun 2013 yang tujuan kerja samanya adalah
untuk mendukung dan mempromosikan pertumbuhan ekonomi
yang kuat, inklusif dan berkelanjutan di negara berkembang.
Pemerintah Indonesia sendiri bekerja mengupayakan tujuan
bersama GGGI melalui Ke-
menterian Perencanaan Pem-
bangunan Nasional/Bappenas.

Gambar 2:
Usai menjabat sebagai Presiden,
Susilo Bambang Yudhoyono ditunjuk
menjadi Presiden Majelis GGGI.
PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL 23

Inisiasi berikutnya yang lahir dari Indonesia adalah inisiatif


Pembangunan Rendah Karbon Indonesia/Low Carbon Develop-
ment Indonesia (LCDI) yang merupakan tanggapan atas
desakan dunia internasional untuk peran penurunan emisi
lebih aktif dari negara-negara dengan potensi tinggi seperti
Indonesia. Kita sudah mengetahui cerita pembentukan Per-
janjian Paris dan bagaimana Indonesia juga menyampaikan
target- targetnya sebagaimana tertuang dalam NDC Indonesia.
LCDI ini merupakan pelengkap atas NDC tersebut, dan inisiatif
dari Indonesia ini dilahirkan pada COP-23 di Bonn, Jerman
pada tahun 2017. Selama setahun kemudian, Pemerintah
Indonesia melalui Bappenas menyusun laporan LCDI dengan
dukungan para mitra pembangunan internasional yang berisi
berbagai aktivitas pembangunan berpotensi yang rendah
karbon. Dengan aktivitas-aktivitas tersebut, Indonesia dapat
menjalankan kegiatan pembangunannya tanpa harus meng-
Gambar 3: hasilkan emisi gas rumah kaca secara signifikan yang me-
Acara Paralel rusak [7]. Pada akhir tahun 2018, Pemerintah Indonesia resmi
dalam IMF-WB
Annual Meetings
meluncurkan laporan LCDI tersebut pada IMF-World Bank
2018 yang Annual Meetings di Bali. Dalam acara tersebut, Pemerintah
menjadi ajang Indonesia juga bertekad untuk mengarusutamakan penemu-
peluncuran an laporan LCDI ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Me-
laporan LCDI.
nengah Nasional (RPJMN) untuk periode 2020-2024.
24 PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL

Sebelumnya, NDC Indonesia secara sendirinya merupakan target-


target penurunan emisi Indonesia sesuai kerangka Perjanjian
Paris. Dalam NDC Indonesia, upaya Indonesia untuk menangani
perubahan iklim terdiri atas dua elemen, yakni mitigasi dan adap-
tasi perubahan iklim. Pada aksi mitigasi perubahan iklim, Indonesia
bertekad untuk menurunkan emisi di lima sektor kunci yakni energi,
limbah, proses industri dan penggunaan produk, pertanian, dan
kehutanan. Dari kelima sektor tersebut, sektor kehutanan dan
energi diekspektasikan untuk menyumbang penurunan emisi ter-
banyak melalui berbagai aktivitas turunan seperti pengurangan
deforestasi, pengalihan energi dan lainnya. Selain itu, ada juga
elemen adaptasi, yaitu upaya dan aksi Indonesia untuk me-
ngurangi kerentanan terhadap dampak-dampak perubahan
iklim. Dilatarbelakangi fakta bahwa Indonesia merupakan
negara kepulauan dan banyak masyarakatnya yang tinggal
di wilayah pesisir, kerentanan terhadap dampak perubahan
iklim seperti kenaikan permukaan laut dan cuaca ekstrem
merupakan sebuah keniscayaan. Oleh karena itu, aktivitas-
aktivitas turunan adaptasi ditetapkan untuk membangun ke-
tahanan sumber daya pangan, air dan energi serta menurunkan
risiko pada semua sektor pembangunan.

Gambar 4:
Presiden Jokowi
menyampaikan
pidato pada Kon-
ferensi Para Pihak
ke-21 (COP-21)
di Paris, 2015.
PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL 25

Dengan adanya LCDI, pembangunan Indonesia bisa tetap selaras


dengan target-target yang tertuang dalam NDC Indonesia. Dalam
laporan LCDI, terkandung empat skenario pembangunan rendah
karbon yang dapat diambil Indonesia. Pada skenario moderat
pembangunan rendah karbon sudah menunjukkan potensi
Indonesia untuk mencukupi pencapaian target penurunan emisi
29% dibandingkan skenario BaU. Akan tetapi, salah satu ske-
nario pembangunan rendah karbon justru menunjukkan bahwa
Indonesia bisa saja melakukan penurunan emisi hingga 43%
pada tahun 2030 jika menggunakan sumber dayanya secara
berkelanjutan dan mengurangi intensitas karbonnya. Keberadaan
LCDI menunjukkan potensi pembangunan Indonesia yang
rendah emisi melampaui target-target Perjanjian Paris, dan
menunjukkan upaya Pemerintah Indonesia untuk mengedepan-
kan kepedulian lingkungan untuk masa depan selain untuk
sekadar pemenuhan perjanjian internasional saja.

Gambar 5:
Berdasarkan berbagai skenario dalam laporan LCDI, Indonesia sebenarnya hanya perlu menerapkan
kebijakan-kebijakan yang sudah direcanakan untuk NDC jika sekadar ingin memenuhi Perjanjian Paris,
tetapi setelah 2030, emisi akan terus meningkat [7].
26 PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL

Cerita berikutnya masih berlangsung selama penulisan buku ini,


dan berkaitan dengan upaya Indonesia merealisasikan skenario-
skenario yang terkandung dalam laporan LCDI. Sesuai komitmen
yang disampaikan saat laporan LCDI pertama kali diluncurkan,
Pemerintah Indonesia terus mengupayakan temuan dalam
laporan LCDI untuk diintegrasikan dalam dokumen peren-
canaan. Tentunya, saat RPJMN 2020-2024 disusun, elemen-
elemen pembangunan rendah karbon pun dimasukkan. Dalam
rancangan teknokratik RPJMN 2020-2024, pembangunan rendah
karbon dicapai melalui ‘penurunan laju deforestasi dan pe-
ningkatan reforestasi hutan, peningkatan penggunaan energi
terbarukan sebagai pengganti energi fosil, efisiensi energi,
peningkatan produktivitas pertanian melalui intensifikasi per-
tanian, serta efisiensi pemanfaatan sumber daya alam dan pe-
ningkatan kualitas lingkungan’[8].

Adapun upaya-upaya Indonesia dalam dunia pasca-Kyoto tidak


sekadar narasi dan dokumen-dokumen perjanjian saja; komitmen
Indonesia dalam penanganan perubahan iklim sudah terbukti se-
cara internasional melalui capaian-capaian yang dihasilkan dalam
penurunan emisi. Sebagai contoh, Green Climate Fund (GCF) yang
merupakan lembaga pengelola dana hijau untuk proyek mitigasi
dan adaptasi iklim global menyetujui pendanaan sebesar 103,8
juta dolar AS untuk penurunan emisi dari deforestasi yang dilaku-
kan Indonesia selama periode 2014-2016.
PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL 27

3 Masa Depan Perubahan


Iklim – Ekspektasi
Jangka Pendek dan
Jangka Panjang

Buku ini ditulis di tengah berlangsungnya pandemi COVID-19 yang


melanda dunia sejak Desember 2019. Pelajaran yang dapat di-
petik dari badai COVID-19 bagi tema ini adalah efek sistemik dan
destruktif dari sebuah bencana global terhadap struktur dunia
yang kita kenal. Pandemi COVID-19 sejatinya adalah dampak
perubahan iklim yang dipadatkan dan berkembang menjadi ben-
cana besar dalam waktu yang singkat. Perubahan iklim pun telah
membawa bencana-bencana kecil yang sama dan akan menjadi
malapetaka serupa dengan pandemi di masa yang akan datang
[1], [2].

Kita hanya tidak menyadarinya kemarin, sekarang dan mungkin


esok hari, karena bias diskonto (discounting) yang sudah ter-
tanam di benak kita berkat warisan kognitif secara evolusioner.
Yang dimaksud bias diskonto adalah persepsi kognitif kita se-
bagai manusia untuk menilai kejadian jangka pendek dan waktu
dekat lebih tinggi dibandingkan masa depan [3], [4]. Hal ini kemu-
dian juga membuat kita merasa kejadian-kejadian kecil yang
tersebar dalam jangka waktu panjang tidak terasa. Maka, ibarat
sebuah katak dalam air yang memanas, si katak baru akan sadar
kalau ia sedang dimasak saat air sudah mencapai titik didih. Se-
lama air perlahan memanas menuju titik didih, si katak sebagai
amfibi ektotermik hanya menyesuaikan diri dengan perubahan
suhu air, hingga akhirnya terlambat untuk kabur.

Adapun selain sebagai paralelisasi, pandemi COVID-19 juga


membawa pelajaran dan peluang penting lainnya bagi perjuang-
an kolektif menghadapi perubahan iklim. Setidaknya ada tiga
pelajaran dan peluang yang dapat kita ambil dari adanya
COVID-19 untuk meneruskan upaya penanganan perubahan iklim.
28 PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL

Kebersamaan ini...janganlah cepat berlalu


Di hadapan pandemi, sistem infrastruktur global yang terinte-
grasi seketika mandek. Tatanan sosial dunia yang terglobalisasi
kemudian terpengaruh, dan tentunya kepentingan perekonomian
tempat tatanan tersebut bergantung menjadi terganggu. Dengan
terganggunya kepentingan kolektif tersebut, dunia dengan cepat
bersatu dan berupaya menghadapi masalah COVID-19 secara
bersamaan. Tentu, individualisme negara yang tercermin akan
perilaku-perilaku seperti nasionalisme vaksin menjadi masalah
yang diperhatikan juga [5]. Namun, selain permasalahan minor
tersebut, kerja sama logistik dan infrastruktur penanganan
COVID-19 sekaligus adaptasi terhadap tatanan baru pandemi
juga tidak kalah mengharukan [6], [7].

Mengingat tidak adanya negara yang dapat mengisolasi diri dari


dampak COVID-19, kerja sama komprehensif menjadi realita
yang diperlukan oleh masyarakat di seluruh belahan dunia. Hal
serupa tentunya juga menjadi pelajaran bagi perjuangan terha-
dap perubahan iklim, mengingat dampaknya yang menjalar dari
dan ke sudut bumi. Oleh karenanya, berbagai kerja sama yang
dibangun dalam menghadapi COVID-19 diharapkan bertahan
dan dapat ditingkatkan melampaui pasca-pandemi. Khususnya,
untuk menghadapi perubahan iklim beserta dampak-dampaknya.

Tentunya, kerja sama internasional secara konseptual sendiri sa-


ngat abstrak dan dalam tatanan dunia pasca-perang sudah men-
jadi norma sendiri. Namun, COVID-19 secara khusus menunjuk-
kan bagaimana kerja sama tidak semerta-merta harus bersifat
quid-pro-quo. Mereka yang bisa membantu akan mengupaya-
kan segala cara untuk membantu. Ini dilakukan Republik Rakyat
Tiongkok dengan berbagai bantuan internasionalnya meski
belum selesai bertarung dengan COVID-19 di negara mereka
sendiri [8]. Serupa dengan RRT, Indonesia pun melakukan hal
yang sama [9], [10]. Tidak perlu menjadi lebih baik dari yang lain
dulu baru mengulurkan tangan, cukup dengan keinginan politis
dan hasrat membantu, kondisi seburuk apa pun adalah peluang
untuk berbagi manfaat.

Sama halnya dengan perjuangan penanganan perubahan iklim,


upaya-upaya penyelesaian isu yang dilakukan dengan pendekat-
an individualistik per negara hanya berujung pada debat-debat
kusir di panggung internasional dan hanya berujung pada ben-
cana kolektif. Skeptisisme yang dimiliki oleh Emil Salim sebelum
PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL 29

dijamu oleh Indira Gandhi pada suatu pagi tahun 1972 di Stockholm
sayangnya masih dipegang banyak orang hari ini. Memang, tun-
tutan keadilan dan kesetaraan penting untuk dijadikan perhatian,
terlebih lagi saat alokasi pembangunan karbon telah dinikmati
berbagai negara lebih dahulu, sehingga menyebabkan ketimpang-
an sosio-ekonomi dunia. Kendati demikian, materialisasi per-
debatan, saling menyalahkan dan saling menunjuk jari akan per-
tanggungjawaban hanya akan berakhir pada sebuah kepastian
yang saling menghancurkan (mutually assured destruction).
Penggentaran individualistik dapat berhasil pada pertarungan
yang melibatkan hanya satu atau dua pihak, namun di saat per-
tarungan berdampak pada dunia secara keseluruhan maka per-
lombaan bukan untuk saling mengambil atau menyaingi tapi
saling membantu [11].

Satu negara tidak dapat berdiri sendiri dengan imunitas terhadap


COVID-19 kecuali benar-benar menutup diri, yang mustahil
dengan integrasi infrastruktur global. Untuk perubahan iklim, opsi
penutupan diri sama sekali tidak tersedia karena jika suhu se-
makin naik, seluruh dunia akan dihadapkan pada cuaca ekstrem.

Mengapa kehidupan di dunia perlu merata?


Dalam poin pelajaran sebelumnya, realita ketimpangan antar
negara merupakan sesuatu yang harus diperjuangkan namun
tidak sepantasnya dijadikan rintangan terhadap penanganan
perubahan iklim. Adapun, yang diperlihatkan COVID-19 adalah
ketimpangan sosio-ekonomi yang sangat berpengaruh terha-
dap peluang keberhasilan menghadapi dampak virus, dan di saat
yang bersamaan juga memperparah ketimpangan itu sendiri.
Bagaikan sebuah siklus, kurangnya kemampuan masyarakat pra
sejahtera untuk mendapatkan perlengkapan sanitasi dasar serta
pangan yang dapat mempertebal tembok imunitas menjadikan
mereka lebih rentan untuk terkena virus SARS-CoV-2. Setelah
terkena virus, penyakit COVID-19 yang dihadapi pun tidak dapat
terobati dengan mudah mengingat keterbatasan akses mereka
terhadap layanan kesehatan. Dihadapkan oleh penyakit, kemam-
puan menyambung hidup akhirnya terhambat, dan keluarga yang
bergantung kemudian diharuskan mengurungkan aspirasi lain
mereka. Akhirnya, jurang ketimpangan semakin melebar [12].
30 PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL

Melihat realita tersebut, adalah hal wajar untuk kemudian kita terus
mengupayakan kehidupan yang merata dan berkecukupan bagi
semua golongan. Hal ini tentunya bukan hanya untuk meng-
hadapi COVID-19, tapi permasalahan lingkungan global dan
potensi pandemi-pandemi berikutnya. Sebagaimana pesan
Indira Gandhi ke Emil Salim hampir setengah abad yang lalu,
masyarakat miskin akan lebih rentan terhadap dampak kerusakan
lingkungan. Kita pun sudah melihat ini dengan nyata melalui ben-
cana alam seperti banjir tahunan yang melanda berbagai sudut
Indonesia, di mana mereka yang tidak mempunyai pilihan lokasi
tempat tinggal atau mampu meninggikan rumah-rumah mere-
ka harus rela kehilangan harta hingga nyawa karena banjir. Oleh
karenanya, perjuangan melawan COVID-19 dan perjuangan me-
lawan perubahan iklim di kemudian hari seyogyanya merupakan
perjuangan melawan ketimpangan juga [13].

Ada dua perlintasan pada jurang ketimpangan, baik antar negara


maupun antar kelompok masyarakat. Kita bisa mengarah ke
pelebaran jurang ketimpangan atau sebaliknya. Yang jelas, ada-
nya pandemi COVID-19 menekankan pentingnya menanggapi isu
ketimpangan dan pemerataan. Karena selain demi menjunjung
nilai-nilai moral kolektif, dari sudut kepentingan pun, pemerataan
akses dan layanan mengamankan mereka yang miskin dan kaya.
Sebagaimana COVID-19 telah mengajarkan kita, si kaya tidak se-
lamanya mendapatkan ketentraman saat si miskin masih sakit.
Dengan perubahan iklim, bencana yang akan membawa mala-
petaka bagi kelompok rentan diprediksi dapat membawa ke-
tidakstabilan sosial-politik yang tentunya berujung pada disrupsi
tatanan kehidupan seluruh lapisan masyarakat [14], [15].

Gambar 1:
Ketimpangan akses sumber daya
akibat perubahan iklim akan me-
mantik konflik di berbagai belahan
dunia. Instabilitas akan berdampak
pada semua lapisan masyarakat.
PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL 31
32 PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL

Kesempatan kedua...hapuskan emisi dunia


Saat dunia dihentikan oleh pandemi COVID-19, penerbangan-
penerbangan berkurang, aktivitas ekonomi sehari-hari melambat
dan mesin-mesin yang menghasilkan polusi pun dinonaktifkan
sementara. Akibatnya, langit di banyak kota membiru, flora dan
fauna yang tadinya tersingkirkan oleh keramaian manusia mu-
lai berdatangan kembali, dan udara terasa lebih segar di banyak
belahan dunia.

Gambar 2: Judul subbab ini memang terkesan berlebihan. Kita belajar dari
Perbandingan
langit Beijing
pendahuluan buku ini bahwa emisi merupakan kejadian alamiah
sebelum dan yang bisa dikeluarkan melalui pembangkaian dan pembuangan
saat ada pandemi. angin manusia itu sendiri, sehingga penghapusan emisi secara
total adalah tidak mungkin. Namun, menguranginya secara sig-
nifikan hingga titik di mana ibu pertiwi dapat bernapas kembali
dan memulihkan diri bukan hal mustahil. COVID-19 memberi-
kan peluang bagi kita untuk mengulangi kesuksesan perjuangan
memulihkan lapisan ozon yang dimulai pada tahun 1985 melalui
PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL 33

Konvensi Vienna saat disetujuinya Perlindungan Lapisan Ozon.


Setelahnya seluruh dunia menyepakati penghentian penggunaan
zat-zat yang dapat merusak ozon. 35 tahun kemudian, lapisan
ozon pun telah menunjukkan proses pemulihannya, dan kerja sama
tersebut menjadi preseden penting untuk dijadikan acuan [16].

Gambar 3: Dengan adanya COVID-19, kita diberikan kesempatan kedua un-


Perbandingan tuk memulai kembali upaya kolektif menangani isu yang melanda
langit Los Angeles
sebelum dan saat setiap belahan dunia. Isu yang penanganannya tidak mengindah-
ada pandemi. kan bias kognitif kita, tapi telah kita lampaui sebelumnya. Saat
upaya pemulihan lapisan ozon diberlakukan, para pembuat kebi-
jakan kala itu menyadari bahwa apa yang mereka setujui bukan
hanya berdampak pada mereka sendiri, namun pada anak-cucu
mereka kelak. Pertimbangan mereka adalah kehendak untuk me-
wariskan dunia yang lebih layak. Ini pun sepatutnya menjadi ba-
sis pertimbangan kita dalam menghadapi perubahan iklim.
34 PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL

Sebagaimana ditulis oleh Bill Gates yang memprediksi pandemi


COVID-19, pengurangan emisi yang dihasilkan oleh melambat-
nya kegiatan ekonomi hanya bersifat sementara. Dibutuhkan
upaya komprehensif lebih lanjut untuk menyelamatkan dunia dari
perubahan iklim yang menurutnya juga akan lebih parah dampak-
nya [1]. Gates menambahkan juga bahwa upaya ini bergantung
pada inovasi dan sains, karena kita tidak sedang mendorong
berhentinya kegiatan manusia dan kebutuhan energi peradaban
modern. Kita justru menginginkan penggunaan energi dan ke-
giatan manusia yang semakin berkelanjutan dengan berbagai
alat-alat baru yang ditenagai inovasi [17].

Bagaimana inovasi berperan pun menjadi penting dalam ke-


sempatan kedua ini. Yang pertama, inovasi perlu dilakukan se-
karang, bukan esok atau nanti-nanti. Setiap waktu yang dilalui
merupakan momen penting dalam penanganan perubahan iklim
global. Pengurangan emisi di hari ini akan berdampak pada po-
tensi kehidupan anak-cucu kita beberapa puluh tahun kemudian.
Yang kedua, inovasi tersebut dapat dikebut dengan menempel-
kannya pada desakan realita bencana yang tertanam pada benak
seluruh lapisan masyarakat. Kita mengenali bahwa kebutuhan
mendorong inovasi (necessity is the mother of all invention) dan
dalam hal ini perubahan iklim beserta dampaknya akan menjadi
landasan penting untuk mendorong inovasi teknologi berkelanjut-
an. Kebutuhan untuk adaptasi dan mitigasi dampak perubahan
iklim akan semakin menjadi nyata bagi seluruh elemen mas-
yarakat, baik dari komunitas sains, politik, dan akar rumput.

Aksi Perubahan Iklim Sekarang & Nanti


Dalam bidang keilmuan perubahan iklim, dikenal sebuah konsep
bernama representative concentration pathway (RCP) yang se-
derhananya merupakan perlintasan konsentrasi emisi gas rumah
kaca. Perlintasan tersebut dikembangkan oleh IPCC dan ber-
isikan beberapa skenario hingga tahun 2100. Skenario-skenario
yang terkandung menggambarkan konsentrasi emisi ekuivalen
CO2 yang ada di atmosfer, di mana variasi tingkatan konsen-
trasi berimplikasi pada kondisi suhu global. Kendati demikian,
RCP bukanlah suatu model prediksi, melainkan kemungkinan-
kemungkinan yang dapat terjadi jika aksi diambil atau tidak
diambil oleh manusia dalam menghadapi perubahan iklim.
PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL 35

Kondisi iklim terbaru saat buku ini dikembangkan merujuk pada


laporan United in Science 2020 yang dikembangkan oleh ber-
bagai lembaga internasional seperti World Meteorological
Organization (WMO), Global Carbon Project (GCP), UNESCO
Intergovernmental Oceanographic Commission (UNESCO-IOC),
Gambar 4: Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)UN Environ-
Pesan-pesan ment Programme (UNEP). Dalam laporan itu, jelas sekali kon-
kunci dalam sentrasi emisi gas rumah kaca secara agregat masih meningkat
laporan United sejak 2019, es kutub bumi masih terus meleleh dan permukaan
in Science 2020.
air laut kian meningkat.
36 PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL

Perjanjian Paris yang disetujui dunia memiliki target untuk mem-


batasi kenaikan suhu rata-rata permukaan bumi sebesar 2°C
dibandingkan era pra-industri pada tahun 2030. Sedangkan
per-tahun 2020, suhu rata-rata permukaan bumi sudah men-
capai 1.1°C dibandingkan era pra-industri. Dari fakta tersebut,
kita dapat menyederhanakan trayektori masa depan melalui dua
skenario yang dikembangkan dalam buku The Future We Chose:
Surviving the Climate Crisis. Dalam karya Christiana Figueres
dan Tom Rivett-Carnac tersebut, ada dua skenario sederhana
perubahan iklim. Pertama adalah dunia yang memanas melam-
paui 3°C di atas level pra-industri. Kedua adalah dunia yang
berhasil menghentikan pemanasan di bawah 1,5°C di atas level
pra-industri.

Pada skenario yang pertama, Figueres dan Rivett-Carnac men-


gajak kita untuk membayangkan tahun 2050 sebagai tahun di
mana udara sangat panas dan polusi memaksakan kita me-
ngenakan masker ke mana-mana. Serupa dengan depiksi masa
depan distopia yang sering kita tonton di berbagai film, banyak
wilayah dunia tidak layak lagi untuk kehidupan manusia. Tentu-
nya, efek cuaca ekstrem berdampak pada kesediaan pangan
global, dan kelangkaan kebutuhan primer tersebut berefek pada
stabilitas sosial-politik yang terlebih dahulu muncul di negara-
negara berkembang. Lambat-laun, negara-negara maju pun
merasakan dampaknya. Pada skenario yang kedua, kita diminta
membayangkan dunia yang kembali dipenuhi pepohonan rin-
dang, perkotaan yang tertata ulang dengan pertimbangan aspek
ekologis, dan kenikmatan udara segar di kota-kota. Di dunia pada
skenario ini, transportasi publik yang ekstensif menjadi moda
perjalanan manusia yang digandrungi, dan teknologi energi ter-
barukan sudah mencapai efisiensi tinggi sehingga digunakan
banyak negara [15].
PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL 37

“If not us, then who? If not now, then when?”


[Jika bukan kita, lalu siapa? Jika bukan sekarang, lalu kapan?]

Ke mana kita mengarah masih bisa kita tentukan hari ini. Penentu-
an arah tersebut bergantung pada tindakan yang kita ambil se-
bagai individu dan manusia secara kolektif.

Kata-kata di atas sering kita jumpai sebagai kutipan motivasi


untuk bergerak, dan sangat relevan dalam isu perubahan iklim
ini, karena memang membutuhkan tindakan yang dimulai dari
diri sendiri terlebih dahulu dan tidak tertunda-tunda. Sepanjang
penulisan buku ini, khususnya di bab-bab sebelumnya, memang
ada kesan menyoroti aktor-aktor intelektual yang berinovasi,
mendorong gerakan, mau pun mengangkat isu. Namun, buku
ini sebenarnya bukan tentang aktor, tapi tentang aksi. Aksi-ak-
si yang dilakukan oleh Charles David Keeling, Rachel Carson,
James Hansen, Maurice Strong, Emil Salim, Indira Gandhi, Severn
Cullis-Suzuki adalah aksi yang kita semua dapat lakukan juga se-
bagai individu. Mereka memang terekam oleh sejarah, dan jasa
mereka patut diapresiasi. Hanya saja, keberadaan mereka dalam
ukiran sejarah merupakan refleksi keterbatasan ruang memori,
karena setiap individu yang hidup terlibat dalam memahat seja-
rah itu sendiri. Charles David Keeling tidak dapat melakukan pe-
nelitian mengenai konsentrasi emisi jika tidak ada penelitian-pe-
nelitian pendahulunya. Penemuan beliau pun juga mungkin tidak
akan mendorong perubahan jika tidak ditindaki oleh gerakan akar
rumput yang membacanya. Emil Salim pun tidak datang sendiri
di Stockholm, dan berjuang seorang saat membawa isu lingkung-
an kembali ke tanah air. Indira Gandhi yang berhasil mengubah
pikiran Emil Salim pun kemungkinan besar dibentuk pemikiran-
nya oleh rekan-rekannya di India yang tidak tersebut dalam teks-
teks sejarah.

Bagaikan tetesan di permukaan air yang tenang, setiap aksi


yang kita ambil menjadi bagian penting dalam menggoyangkan
ketenangan air tersebut. Dalam hal perubahan iklim, kita bisa
melakukan apa yang Keeling lakukan dengan berkontribusi terus
terhadap keilmuan iklim, atau Carson dengan menulis buku, atau
Hansen dengan mengangkat isu, atau Strong dengan meng-
gandeng kolega untuk ikut berubah, atau Indira Gandhi dengan
menginspirasi mereka yang masih skeptis.
38 PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL
PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL 39
40 PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL

PRAKATA

1. WMO, “WMO confirms 2019 as second hottest year on record,”


World Meteorological Organization, Jan. 15, 2020. https://public.
wmo.int/en/media/press-release/wmo-confirms-2019-second-
hottest-year-record (accessed Oct. 10, 2020).
2. NASA, “Global Climate Change: Vital Signs of the Planet,” The
National Aeronautics and Space Administration, 2020. https://
climate.nasa.gov/.
3. V. I. Davydov, D. Korn, M. D. Schmitz, F. M. Gradstein, and O.
Hammer, “The Carboniferous Period,” in The Geologic Time Scale,
Elsevier, 2012, pp. 603–651.
4. Herve Le Treut et al., “Historical Overview of Climate Change
Science,” in Climate Change 2007: The Physical Science Basis.
Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report
of the Intergovernmental Panel on Climate Change, S. Solomon, D.
Qin, M. Manning, Z. Chen, M. Marquis, K. B. Averyt, M. Tignor, and
H. L. Miller, Eds. Cambridge, United Kingdom and New York, USA:
Cambridge University Press, 2007.
5. Scripps Institution of Oceanography, “Keeling Curve History,” The
Keeling Curve. https://sioweb.ucsd.edu/programs/keelingcurve/
category/keeling-curve-history/ (accessed Oct. 10, 2020).
6. B. Bolin, A History of the Science and Politics of Climate Change
the Role of the Intergovernmental Panel on Climate Change.
Cambridge: Cambridge University Press, 2007.
7. HISTORY, “Climate Change History - HISTORY,” History.com, Oct.
06, 2017. https://www.history.com/topics/natural-disasters-and-
environment/history-of-climate-change (accessed Oct. 10, 2020).
8. D. Carlin, “A History of Climate Change Science and Denialism |
History News Network,” History News Network, Jan. 05, 2020.
https://historynewsnetwork.org/article/173971 (accessed Oct. 10,
2020).
9. N. Rich, Losing Earth: A Recent History. New York: Farrar, Straus
and Giroux, 2019.
10. M. P. Bhandari, Ed., “Climate change science: a historical outline,”
Adv. Agric. Environ. Sci. Open Access AAEOA, vol. 1, no. 1, pp.
5–12, Feb. 2018, doi: 10.30881/aaeoa.00002.
PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL 41

BAB 1

1. N. Klein, This changes everything: capitalism vs. the climate. 2015


2. M. P. Bhandari, Ed., “Climate change science: a historical outline,”
Adv. Agric. Environ. Sci. Open Access AAEOA, vol. 1, no. 1, pp.
5–12, Feb. 2018, doi: 10.30881/aaeoa.00002.
3. Eliza Griswold, “How ‘Silent Spring’ Ignited the Environmental
Movement,” The New York Times, Sep. 21, 2012. https://www.
nytimes.com/2012/09/23/magazine/how-silent-spring-ignited-the-
environmental-movement.html.
4. B. Ward, R. J. Dubos, and United Nations Conference on the Human
Environment, Only one earth: the care and maintenance of a small
planet. New York: Norton, 1983.
5. World Commission on Environment and Development, Ed., Our
common future. Oxford ; New York: Oxford University Press, 1987.
6. UN, “What is the United Nations Framework Convention on Climate
Change? | UNFCCC,” 2020. https://unfccc.int/process-and-
meetings/the-convention/what-is-the-united-nations-framework-
convention-on-climate-change (accessed Oct. 11, 2020).
7. UN, “What is the Kyoto Protocol? | UNFCCC,” 1997. https://unfccc.
int/kyoto_protocol (accessed Oct. 12, 2020).
8. S. Peake, “The Marrakesh Accords,” Refocus, vol. 3, no. 1, pp.
20–23, Jan. 2002, doi: 10.1016/S1471-0846(02)80006-3.
9. Presiden Republik Indonesia, “Peraturan Presiden No. 46 tahun
2008 tentang Dewan Nasional Perubahan Iklim.” Presiden Republik
Indonesia, 2008, [Online]. Available: https://peraturan.bpk.go.id/
Home/Details/42223/perpres-no-46-tahun-2008.
10. UNFCCC, “Information provided by Parties to the Convention
relating to the Copenhagen Accord | UNFCCC,” 2009. https://
unfccc.int/process/conferences/pastconferences/copenhagen-
climate-change-conference-december-2009/statements-and-
resources/information-provided-by-parties-to-the-convention-
relating-to-the-copenhagen-accord (accessed Oct. 18, 2020).
11. Rachmat Witoelar, “Indonesia Voluntary Mitigation Actions.” Ketua
Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim, Jan. 30, 2010, [Online].
Available: https://unfccc.int/files/meetings/cop_15/copenhagen_
accord/application/pdf/indonesiacphaccord_app2.pdf.
12. Litfiyah Hanim, “Copenhagen Accord?,” IESR, 2009. https://iesr.or.id/
pustaka/copenhagen-accord (accessed Oct. 18, 2020).
42 PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL

BAB 2

1. J. Arnscheidt, “Debating” nature conservation: policy, law and


practice in Indonesia: a discourse analysis of history and present.
Leiden: Leiden University Press, 2008.
2. Gita Wirjawan, Ibarat Pelari Cepat Berlomba Marathon |
#Endgame #RI75 Special with Prof. Emil Salim (Part 2). 2020.
3. UK Parliament, “Secretary of State for Environment (Hansard),”
Hansard 1803-2005. http://hansard.millbanksystems.com/offices/
secretary-of-state-for-environment (accessed Oct. 18, 2020).
4. WALHI, “Sejarah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia,” Wahana
Lingkungan Hidup Indonesia, Sep. 28, 2019. http://www.walhi.
or.id/sejarah (accessed Oct. 18, 2020).
5. Rangga Doli P. Manurung and Ayi Budi Santosa, “Akar yang
Menjalar: Peran Emil Salim dalam Kementerian Pengawasan
Pembangunan dan Lingkungan Hidup di Indonesia 1972-1983,”
Factum J. Sej. Dan Pendidik. Sej., vol. 8, no. 2, 2019.
6. PMR, “Indonesia | Partnership for Market Readiness,” Partnership
for Market Readiness, 2019. https://www.thepmr.org/country/
indonesia-0 (accessed Oct. 19, 2020).
7. Kementerian PPN, “Low Carbon Development: A Paradigm
Shift Towards Green Economy in Indonesia.” Kementerian
Perencanaan Pembangunan Nasional, 2019, [Online].
Available: https://drive.bappenas.go.id/owncloud/index.php/s/
ZgL7fHeVguMi8rG#pdfviewer.
8. Kementerian PPN, “Rancangan Teknokratik: Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024.”
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, 2019.
PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL 43

BAB 3

1. Bill Gates, “COVID-19 is awful. Climate change could be worse.,”


gatesnotes.com. https://www.gatesnotes.com/Energy/Climate-
and-COVID-19 (accessed Oct. 26, 2020).
2. D. Klenert, F. Funke, L. Mattauch, and B. O’Callaghan, “Five Lessons
from COVID-19 for Advancing Climate Change Mitigation,” Environ.
Resour. Econ., vol. 76, no. 4, pp. 751–778, Aug. 2020, doi: 10.1007/
s10640-020-00453-w.
3. E. R. Frederiks, K. Stenner, and E. V. Hobman, “Household energy
use: Applying behavioural economics to understand consumer
decision-making and behaviour,” Renew. Sustain. Energy Rev., vol.
41, pp. 1385–1394, Jan. 2015, doi: 10.1016/j.rser.2014.09.026.
4. Dominic Johnson and Simon Levin, “The tragedy of cognition:
psychological biases and environmental inaction,” Curr. Sci., vol. 97,
no. 11, pp. 1593–1603, Dec. 2009.
5. [R. Weintraub, A. Bitton, and M. L. Rosenberg, “The Danger of
Vaccine Nationalism,” Harvard Business Review, May 22, 2020.
6. Mohamed ElBaradei, “What COVID-19 could mean for international
cooperation, according to a Nobel Peace Prize Laureate,” World
Economic Forum. https://www.weforum.org/agenda/2020/06/
coronavirus-covid19-international-cooperation-peace/ (accessed
Oct. 26, 2020).
7. G. Brown and D. Susskind, “International cooperation during
the COVID-19 pandemic,” Oxf. Rev. Econ. Policy, vol. 36, no.
Supplement_1, pp. S64–S76, Sep. 2020, doi: 10.1093/oxrep/
graa025.
8. T. F. Arbar, “Lawan Corona! Bantuan Peralatan Medis China
Tiba di Indonesia,” news. https://www.cnbcindonesia.com/
news/20200328205317-4-148214/lawan-corona-bantuan-
peralatan-medis-china-tiba-di-indonesia (accessed Oct. 26, 2020).
9. Wardhany Tsa Tsia, “Ada Negara yang Minta Bantuan Indonesia
Dalam Penanganan COVID-19,” Voice of Indonesia. https://voi.id/
berita/6197/ada-negara-yang-minta-bantuan-indonesia-dalam-
penanganan-covid-19 (accessed Oct. 26, 2020).
10. Nancy Junita, “PMI Segera Kirim 10 Ribu Masker ke Hong Kong |
Kabar24,” Bisnis.com, Feb. 01, 2020. https://kabar24.bisnis.com/
read/20200201/15/1196241/pmi-segera-kirim-10-ribu-masker-
ke-hong-kong- (accessed Oct. 26, 2020).
11. D. Messner and N. Nuttall, “Dunia Tidak Boleh Lupa tentang
Perubahan Iklim,” Project Syndicate, Mar. 30, 2020. https://
www.project-syndicate.org/commentary/covid19-world-
must-not-forget-climate-change-by-dirk-messner-and-nick-
nuttall-2020-03/indonesian (accessed Oct. 26, 2020).
12. Asep Suryahadi, Ridho Al Izzati, and Daniel Suryadarma, “The
Impact of COVID-19 Outbreak on Poverty: An Estimation for
44 PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL

Indonesia,” SMERU Research Institute, Apr. 2020. [Online].


Available: https://smeru.or.id/sites/default/files/publication/wp_
covid19impact_draft.pdf.
13. David Waskow, “How the COVID-19 recovery can prioritize climate
change and inequality,” World Economic Forum. https://www.
weforum.org/agenda/2020/09/4-priorities-for-climate-action-and-
social-equity-in-the-covid-19-recovery/ (accessed Oct. 26, 2020).
14. E. Kolbert, “Three Scenarios for the Future of Climate Change,”
The New Yorker. https://www.newyorker.com/news/annals-of-a-
warming-planet/three-scenarios-for-the-future-of-climate-change
(accessed Oct. 25, 2020).
15. C. Figueres and T. Rivett-Carnac, The future we choose: surviving
the climate crisis, First edition. New York: Alfred A. Knopf, 2020.
16. WMO, “WMO confirms 2019 as second hottest year on record,”
World Meteorological Organization, Jan. 15, 2020. https://public.
wmo.int/en/media/press-release/wmo-confirms-2019-second-
hottest-year-record (accessed Oct. 10, 2020).
17. C. Klöck, “COVID-19 and Climate Change: What the Current
Pandemic Means for Climate,” SciencesPo Centre de Recherches
Internationales, Apr. 08, 2020. http://sciencespo.fr/ceri/fr/
node/37344 (accessed Oct. 26, 2020).
PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL 45

PROFIL PENULIS

Ardhi Arsala Rahmani adalah


seorang warga negara biasa
yang gemar belajar dan me-
neliti, khususnya dalam isu-
isu sosial-politik internasional
yang berkaitan dengan ling-
kungan hidup. Ardhi memiliki
latar belakang pendidikan Hubungan Internasional yang ia
dapatkan di Metropolitan University Prague (MUP) Republik Ceko
dan Universitas Indonesia, serta Ilmu Pemerintah dan Kebijakan
Publik yang ia dapatkan dari School of Government and Public
Policy (SGPP) Indonesia. Selain meneliti dan menulis tentang
perubahan iklim secara akademis, Ardhi pernah bekerja pada
bidang komunikasi publik di beberapa instansi. Salah satunya
adalah Global Green Growth Institute (GGGI) yang bergerak di isu
pertumbuhan hijau. Melalui karir profesionalnya tersebut Ardhi
kemudian memantapkan peminatannya dalam menyebarkan
pesan tentang fenomena global yang mengancam peradaban
manusia saat ini, serta upaya-upaya yang dapat dilakukan un-
tuk mencegah dampak fenomena tersebut.

Ardhi dapat dihubungi melalui surel:


ardhi@arsalarahmani.page
46 PERJALANAN AKSI IKLIM GLOBAL

TENTANG FNF

FRIEDRICH-NAUMANN-STIFTUNG Untuk Kebebasan (FNF) ada-


lah sebuah Yayasan Politik Jerman. Di Jerman dan di 60 negara
di seluruh dunia, FNF bersama dengan mitra-mitra kerjanya
mempromosikan kebebasan, liberalisme, demokrasi, hak asasi
manusia, pluralisme, toleransi,ekonomi pasar dan negara hukum.

FNF memiliki hubungan dekat dengan partai politik Jerman Free


Democratic Party (FDP). Kami didirikan pada 1958 oleh Presiden
pertama Jerman, Theodor Heuss, dan telah bekerja di Asia sejak
1979, dan di Indonesia sejak 1969. FNF beroperasi dengan dana
publik dan berkantor pusat di Potsdam, Jerman.

FNF memberikan konsultasi kepada para pembuat keputusan


di Berlin dan menerbitkan berbagai laporan. Kami memfasilitasi
dialog, menyelenggarakan konferensi dan mengundang orang-
orang muda dari Asia dan berbagai wilayah lain untuk mengikuti
seminar di Jerman.

Dalam kerjasama dengan mitra-mitra lokal, FNF fokus pada nilai-


nilai berikut:

• Demokrasi
• Supremasi Hukum
• Hak Asasi Manusia
• Kebebasan Ekonomi
• Perubahan Iklim
Buku ini bertujuan untuk mendokumentasikan dan menjadi
pengantar terkait usaha-usaha global yang telah dilakukan untuk
memayungi usaha perlambatan perubahan iklim, dan pengaruh-
nya terhadap kebijakan yang diambil oleh Indonesia.

Selain itu, buku ini juga akan menyorot peran Indonesia dalam
aksi iklim global, dan ingin memberikan pandangan dan sikap
untuk berjuang bersama-sama mewujudkan pembangunan
rendah karbon pasca pandemi COVID-19 di Indonesia.

Bagi para penggerak iklim yang sudah aktif maupun baru me-
mulai, buku ini dapat memberikan landasan pemikiran dan
pergerakan yang membawa perspektif internasional ke level
nasional dan akar rumput. Semoga buku ini dapat membantu
kalian, seperti buku ini telah membantu saya dalam mendorong
aksi nyata melawan perubahan iklim.

Friedrich Naumann Foundation Indonesia


Jl. Kertanegara 51, Jakarta Selatan 12110
Telp: (62-21) 7256012/ 13
Email: jakarta@freiheit.org
Website: www.freiheit.org/id/indonesia

Anda mungkin juga menyukai