Anda di halaman 1dari 94

Moh.

Febri Thalani
ANAK MUDA INDONESIA DAN PERUBAHAN IKLIM
© 2021 Moh. Febri Thalani

Penulis: Moh. Febri Thalani


Editor: Arman Dhani
Layouter: Azka Maula

Diterbitkan oleh:
Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit
bekerjasama dengan Climate Institute dan Cothink Research

Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit


Jl. Kertanegara No. 51, Kebayoran Baru
DKI Jakarta 12110, Indonesia

Phone: +62(21) 725 6012/13


Email: jakarta@freiheit.org
Website: www.freiheit.org/id/indonesia
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 5

Kata Pengantar
Apakah Anda percaya bahwa Perubahan Iklim itu nyata? Bagi
banyak anak muda di seluruh dunia, perubahan iklim telah
menjadi masalah prioritas, dan masalah besar yang jika kita gagal
menanganinya akan menyebabkan keruntuhan keanekaragaman
hayati dan menjadi akhir dari umat manusia dan planet seperti
yang kita kenal. Kita telah mengetahui fakta bahwa sejak 2005-
2015 permukaan air laut naik rata-rata 3,6mm setiap tahun karena
pemanasan global. Polusi udara, kebakaran hutan, sampah plastik
laut, sebenarnya hanyalah puncak gunung es yang terlihat dari
dampak perubahan iklim pada kehidupan kita.

Greta Thunberg, seorang aktivis pemuda yang mewakili gerakan


iklim di KTT Aksi Iklim PBB tahun 2019 lalu mendapat tanggapan
beragam dari para pendengarnya. Dalam pidatonya yang
monumental, dia berkata:

“Ini semua salah. Aku seharusnya tidak berada di atas sini. Aku
harus kembali ke sekolah di seberang lautan. Namun kalian
semua datang kepada kami anak-anak muda untuk berharap?
Beraninya kau! Kau telah mencuri mimpiku dan impianku. masa
kanak-kanak dengan kata-kata kosongmu. Namun aku salah satu
yang beruntung”

Ironisnya, Greta memang salah satu yang beruntung. Sebagai


warga negara Swedia, negaranya merupakan negara yang paling
mendekati ideal dalam hal penurunan GRK menurut Indeks Kinerja
Perubahan Iklim 2020. Sementara itu, Indonesia berada di urutan
paling bawah dari daftar di urutan 41, dengan masih banyak
perbaikan yang harus dilakukan. Akan tetapi, jika seseorang dari
negara dengan kinerja terbaik masih melihat tantangan yang
menakutkan di depannya, tentunya kita bisa optimis bahwa
Indonesia akan lebih paham dengan kondisi saat ini, bukan? Tidak
juga. Pada tahun 2019, Proyek Globalisme YouGov-Cambridge
melakukan a
6 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

Penelitian yang menunjukkan Indonesia berada di posisi teratas


negara-negara yang menyangkal bahwa Perubahan Iklim terjadi
karena ulah manusia. Indonesia berada di atas sana untuk
penyangkal iklim sebesar 18%, di atas Arab Saudi (16%) dan
Amerika Serikat (13%).

Laporan Climate Institute: Anak Muda Indonesia dan Perubahan


Iklim bermaksud untuk menggali perspektif anak muda dalam
memahami dan terlibat dalam memerangi perubahan iklim.
Kami menyoroti bukan hanya peran penting kaum muda, namun
tanggapan dan pemahaman kaum muda di luar gelembung
aktivisme lingkungan yang jarang terpapar dengan gerakan
aktivisme ini.

Laporan ini menawarkan masukan tentang bagaimana kaum muda


dapat terintegrasi secara efektif, baik sebagai individu maupun
agen perubahan kolektif dalam adaptasi dan mitigasi perubahan
iklim. Sebagai sarana penting dalam kampanye perubahan iklim,
buku ini mengupas proses pembelajaran dan internalisasi isu
iklim oleh pemuda di luar gelembung, dan kami menjabarkan
kemampuan kaum muda untuk menarik korelasi bencana
lingkungan di kehidupan sehari-hari mereka seperti kabut asap dan
banjir kedalam isu iklim.

Anak Muda Indonesia dan Perubahan Iklim juga merupakan upaya


kolaboratif yang diwujudkan dengan masukan dan keterlibatan oleh
pemangku kepentingan lain di dalam gerakan melawan perubahan
iklim. Kami melibatkan berbagai mitra kerja FNF Indonesia dan
Climate Institute dalam menyusun korespondensi bersama dengan
pejabat pemerintah, pebisnis, lembaga akademis, dan masyarakat
sipil yang sangat berpengaruh terhadap keterlibatan pemuda.
Selain itu, kami melibatkan relawan narasumber dari tiga kota
terpilih yang kami anggap paling sesuai sebagai sampel data kami
untuk menjadi kontributor sumber data utama.

Melalui kontribusi yang diolah dengan cermat, kami percaya bahwa


laporan ini mencerminkan kondisi nyata dari perspektif pemuda di
luar gelembung dalam memahami dan menangani tantangan iklim.
Tulisan ini memberikan gambaran tentang bagaimana kaum muda
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 7

terpapar (ataupun kurangnya paparan) isu-isu perubahan iklim.


Walaupun demikian, dengan volume wawancara yang terbatas,
kami sadar kurangnya pendekatan statistikal dan kerangka kerja
yang dapat menaungi perspektif pemuda di indonesia secara
umum. Kami berharap, buku ini dapat menjadi pemantik gerakan
dan penelitian lebih lanjut oleh para pembaca untuk menelusuri
dan memetakan potensi-potensi keterlibatan pemuda dan cara
meningkatkan kesadaran mereka untuk membantu menciptakan
solusi berkelanjutan. Semoga laporan ini menjadi awal dari gerakan
pemuda untuk mengatasi perubahan iklim yang lebih inklusif,
menyeluruh, dan merangkul seluruh lapisan pemuda di Indonesia.
Terima kasih dan selamat membaca.

Jonathan Davy
Program Manager
Friedrich Naumann Foundation Indonesia
Daftar Isi

Kata Pengantar 5
Acknowledgements 11
Selayang Pandang Climate Institute Tahun 2020 12

1. Perjalanan Menuju Kesadaran Perubahan Iklim 22


2. Personal dan Political 54
3. Partisipasi dan Kepedulian 74

Penutup 91
Daftar Pustaka 93
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 11

Acknowledgements
Laporan ini dapat tersusun atas kerjasama antara Climate
Institute, CoThink Research, dan FNF Indonesia.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada anak muda yang


telah menjadi kolaborator dan mengikuti wawancara dari
kegiatan ini. Tidak lupa pula kami sangat berterima kasih
kepada rekan kolaborator yang terdiri dari akademisi, peneliti,
aktivis lingkungan hidup, dan para profesional dari sektor bisnis,
dan perwakilan dari lembaga pemerintah yang telah terlibat
sebagai peserta FGD dalam kegiatan ini, juga telah banyak
memberikan pandangannya mengenai anak muda terhadap
perubahan iklim.

Kami juga ingin mengucapkan terima kasih atas peran, bantuan,


fasilitasi dan umpan balik selama kegiatan ini berlangsung
kepada orang-orang dan organisasi berikut:

Arief Rahadian (Tim Peneliti)


Arman Dhani (Tim Peneliti)
Aurelia Deviane, M.A. (Tim Peneliti)
Jonathan Davy (Program Manager for Climate Change, FNF
Indonesia)
Manuela Renatasya (Tim Peneliti)
Moh. Febri Thalani (Tim Peneliti)
Putri Potabuga (Director Climate Institute)
Skolastika Mudita (Assistant Program Manager, FNF Indonesia)
Venny Asyita (Associate Director, CoThink Research)

Ucapan terima kasih kami kepada seluruh pihak yang terlibat


dalam rangkaian kegiatan dari Climate Institute, karena secara
aktif telah berpartisipasi memberikan bantuan peran, ide dan
informasi yang konstuktif.
12 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

Climate Institute
Tahun 2020
Selayang Pandang
Hai anak muda, salam kenal dari Climate Intitute. Kami adalah
lembaga yang masih sangat baru, awal nafas kami adalah
komunitas anak muda yang terkejut bahwa pemuda Indonesia
masih sedikit yang tahu tentang perubahan iklim. Saat itu adalah
penghujung 2015, sebelum kami mengumpulkan niat bahwa kami
ingin serius dan beroperasi sebagai Yayasan yang fokus pada
Pendidikan perubahan iklim pada Maret 2017.

Tahun 2018, Climate Institute mulai bermitra dengan Friedrich


Nauman Foundation Indonesia (FNF), sebuah NGO dengan fokus
pendidikan politik dan kewarganegaraan asal Jerman, yang
merupakan salah satu NGO asing tertua yang ada di Indonesia.
Kolaborasi ini berawal dari pemahaman kami yang senada
bahwa untuk mencapai kemajuan, warga negara perlu terdidik
akan hak dan kewajibannya. Bersama dengan FNF Indonesia,
Climate Intitute sudah melaksanakan berbagai lokakarya untuk
peningkatan kapasitas pemuda terhadap masalah perubahan iklim.

Perubahan Iklim pada dasarnya merupakan pengetahuan dasar


dari sederet problem serius bagi masa depan dunia, sampai
dengan saat ini masih banyak yang gagap menghadapi problem ini,
faktanya lebih banyak muncul masalah baru daripada terobosan
dan jalan keluar yang solutif, lebih banyak tercipta seremoni,
disatu sisi harmoni untuk kompak bersama menghadapi problem
ini belum terwujud, terasa ada yang kurang tepat dari berbagai
pendekatan yang selama ini dilakukan. Berdasar wawasan ini
Climate Institute dan FNF Indonesia terus melakukan edukasi, dan
mengidentifikasi masalah dengan berbagai implementasi program.
Agar saling mengisi dalam usaha pendidikan perubahan iklim,
kegiatan kami diupayakan dapat mengisi ruang-ruang yang belum
dijangkau oleh berbagai lembaga lain yang juga concern terhadap
isu yang sama, terutama yang menyasar anak muda.
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 13

Anak muda harus dipandang secara kritis, secara anak muda


ditampilkan sebagai sebuah komoditas politik perubahan iklim dimasa
depan. untuk itu, Climate Institute dan Juga FNF Indonesia telah
melaksanakan berbagai kegiatan untuk anak muda yang tersebar di
berbagai penjuru Indonesia untuk menjadi sumber daya yang unggul
dan sebagai modal jejaring yang kuat, pada giliranya jejaring ini dapat
menjadi role model laku hidup ramah lingkungan yang prospektif.

Kegiatan yang sempat menjadi serial tetap dari kolaborasi dengan


FNF Indonesia adalah lokakarya dengan tajuk Standar Mitigasi
Perubahan Iklim, Climate Vlogger, Seminar Kampus, Diskusi
Publik, dan Climate Youth Camp Tematik. Tentunya kami berusaha
secara proporsional dapat menyelenggarakan berbagai kegiatan
pendidikan terfokus pada masalah perubahan iklim ke berbagai
penjuru wilayah Indonesia.

Pada tahun 2020 ini bersama FNF Indonesia, Climate Institute


beradaptasi dengan situasi dan kondisi untuk usaha menyebar
kesadaran isu perubahan iklim terus dilakukan. Serupa dengan
yang dilakukan berbagai organisasi lain, kegiatan dialihkan
menjadi daring. Kondisi yang tidak tentu ini pada awalnya sedikit
memperlambat langkah, sehingga barulah dimulai kegiatan awal
kami dengan serial webinar berturut-turut dimulai dari tema; Pilihan
Cerdas: Perubahan Perilaku dan hak atas Lingkungan yang sehat di
tengah pandemi Covid-19 (Kamis 28 Mei 2020), Pentingnya Penerapan
gaya Hidup Rendah Carbon Dalam Memenuhi Hak Atas Lingkungan
Hidup Paska Pandemi (Selasa 30 Juni 2020), dan Hak Memperoleh
Lingkungan Hidup Yang Lestari (Selasa 7 Juli 2020), Perencanaan
Arsitektur Kota Berkelanjutan (Selasa 28 Juli 2020).

Selain webinar, kami melaksanakan kegiatan lokakarya daring. Hal


ini sangat menantang, namun dengan niatan untuk mengabarkan
kepada pemuda bahwa komunikasi soal perubahan iklim harus
segera di evaluasi, kita perlu menggunakan pendekatan baru,
pendekatan populer agar pewarta yang menulis tentang perubahan
iklim sesekali harus mudah dicerna kontennya. Untuk itu kami
melaksanakan kegiatan lokakarya daring dengan tajuk “Climate
Jurnalism: Menyuarakan Keadilan Iklim Melalui Tulisan Populer (Rabu
14 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

19 Agustus 2020), serta Pemuda Menulis Untuk Keadilan Iklim (23-25


September 2020). Hasil lokakarya ini adalah kumpulan tulisan dari
25 anak muda yang berkesempatan mengikuti pelatihan daring
yang kemudian akan kami publikasikan dengan tajuk “Bicara Iklim:
Pemuda Menulis Untuk Perubahan Iklim”.

Kelas daring kami lanjutkan, dengan berbagai inovasi yang


dikolaborasikan bersama tim FNF Indonesia, kami merancang
kegiatan dengan nama Climate Institute Academy, merupakan
lokakarya daring yang ambisius, kami mengajak anak muda untuk
tetap peduli terhadap perubahan iklim dimasa sulit ini. Pendekatan
yang digunakan agak berbeda, Apa yang beda? Bukannya semua
aktivitas adalah serupa dengan yang dilaksanakan lembaga yang
fokus pada isu yang sama? Mungkin ini ada dalam benak pembaca,
jadi kami coba jelaskan sedikit. Lokakarya ini kami rancang dengan
banyak aktivitas kelompok dan mandiri, sebagaimana fokus untuk
berusaha mengisi ruang-ruang yang belum terjangkau oleh kolega
seperjuangan kami.

Tidak hanya metode, konten kelas daring ini juga ditentukan dengan
hati-hati. Kami berusaha fokus pada pendidikan dan peningkatan
kapasitas anak muda mengenai perubahan iklim adalah berdasar
pada sains, dan ini tidak terbantahkan, namun kami juga mencoba
pendekatan yang romansa dan normatif, yaitu dengan mengajak
peserta lokakarya untuk paham dan terlibat secara sadar dan
mendasar soal alasan mengapa penting untuk mengawal isu ini
karena semenjak perubahan iklim adalah masalah hukum, masalah
ekonomi, masalah akal budi, dan adalah masalah kemanusiaan.

Kami menjahit kegiatan Climate Institute Academy ini dengan


berbagai layanan daring yang tersedia untuk menciptakan
suatu kegiatan lokakarya yang menarik dan dinamis. Hasilnya,
melihat dari umpan balik peserta melalui formulir evaluasi daring
menunjukkan penilaian dari peserta yang memberikan respon
positif terhadap metode dan hasil dari kegiatan. Para lulusan
kegiatan ini kami sematkan pin enamel Climate Collaborator,
dengan harapan bahwa setiap peserta dapat menjadi jejaring awal
di lingkungan terdekatnya untuk dapat melahirkan pendidikan dan
aksi iklim yang akan berdampak baik pada lingkungan.
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 15

Anak Muda Indonesia dan Perubahan Iklim


Kegiatan pada 2020 memang penuh tantangan, ditahun ini pula
Climate Institute dan FNF Indonesia bekerjasama dengan Cothink
Research melakukan wawancara terhadap anak muda di berbagai
kota-kota di Indonesia. Kegiatan ini diinisiasi karena keingintahuan
kami tentang sejauh mana sebaran pengetahuan tentang
perubahan iklim diberbagai daerah di Indonesia.

Pemilihan lokasi wawancara juga dilakukan dengan kajian dan


berbagai pertimbangan. Beberapa pertimbangan data yang diambil
adalah dengan melihat proyeksi populasi anak muda Indonesia
(2019), data 10 provinsi penghasil GRK teratas (2010), dan data
kota ramah remaja indonesia (2017-2019).

Indonesian Youth Population Projection (2019)


No. Provinsi Populasi Anak Muda

1 Jawa Barat 12.154.010

2 Jawa Timur 8.840.890

3 Jawa Tengah 7.794.030

4 Sumatera Selatan 3.556.920

5 Banten 3.242.160

6 DKI Jakarta 2.550.930

7 Sulawesi Selatan 2.204.640

8 Smumatra Selatan 2.058.060

9 Lampung 1.977.160

10 Riau 1.792.940

Sumber: Indonesia National Socio-Economic Household Survey 2019


16 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

Top 10 GHG Emitting Provinces (2010)


No. Region

1 Sumatra Utara

2 Riau

3 Jawa Timur

4 Kalimantan Tengah

5 Lampung

6 Papua

7 Kalimantan Barat

8 Sumatra Selatan

9 Jawa Barat

10 Bali

Sumber: Indonesia Climate Data Explorer (PINDAI)

Indonesian Youth-Friendly Cities (2017-2019)


No. City Region Year Awarded

1 Bandung West Java 2017

2 North Jakarta DKI Jakarta 2017

3 Makassar South Sulawesi 2017

4 Padang West Sumatera 2017

5 Tangerang Banten 2017

6 Ternate North Maluku 2017

7 Banda Aceh Aceh 2017

8 Pontianak West Kalimantan 2017


ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 17

9 South Tangerang Banten 2017

10 Denpasar Bali 2018

11 Bekasi West Java 2018

12 Balikpapan East Kalimantan 2019

13 Pekanbaru Riau 2019

Sumber: Kementerian Pemuda dan Olahraga dan olahan berbagai


sumber

Berdasarkan data yang disajikan, beberapa daerah yang disebut


lebih dari satu kali: Riau (3 kali), Jawa Barat (2 kali), Jawa Timur
(2 kali), Sumatera Utara (2 kali), Banten (2 kali), DKI Jakarta (2
kali), Sulawesi Selatan (2 kali), Sumatera Selatan (2 kali), Lampung
(2 kali), Kalimantan Barat (2 kali), dan Bali (2 kali). Dengan
mempertimbangkan basis sosial dan berbagai lokasi kegiatan
Climate Institute sebelumnya, melihat latar masalah iklim dan/atau
perselisihan politik yang terjadi di setiap wilayah provinsi, tim kami
memutuskan untuk memfokuskan kegiatan pada tiga provinsi yaitu
Bali, DKI Jakarta, dan Riau.

No Provinsi Alasan pemilihan lokasi

Destinasi wisata budaya dunia dengan sejarah kerusakan


lingkungan akibat ekspansi industri pariwisata, dengan sejar-
1 Bali ah reklamasi lahan, dan seperti pada provinsi Riau juga meiliki
ketegangan politik antara organisasi masyarakat sipil, pemilik
bisnis, dan pemerintah.

Ibu kota negara, pusat sebagian besar diskusi politik tentang


perubahan iklim dengan sejarah reklamasi, langganan banjir ta-
2 DKI Jakarta
hunan, dan juga salah satu lokasi dengan anak muda sebagai
pelopor industri kreatif digital.

Wilayah itu muncul di ketiga data pertimbangan di atas; Riau


juga sering mengalami kebakaran hutan dan lahan setiap ta-
3 Riau hun, bencana banjir dan asap, dan sering muncul ketegangan
politik antara organisasi masyarakat sipil, perusahaan kelapa
sawit, dan pemerintah.
18 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

Dari sini kami mengajak dua anak muda secara acak dari
masing-masing wilayah terpilih untuk menjadi kolaborator dalam
wawancara mendalam. Ada banyak tantangan dari kegiatan ini
adalah dengan berusaha menemukan anak muda diberbagai daerah
yang ternyata banyak dari mereka enggan untuk diwawancarai,
namun berkat kerjasama yang solid dan tim yang mau bekerja
keras, kami berhasil mendapatkan banyak sudut pandang anak
muda yang kami sajikan dalam tulisan laporan ini.

Sasaran dari kegiatan ini adalah anak muda yang berada di luar
“gelembung” gerakan perubahan iklim, artinya anak muda yang tidak
secara aktif terasosiasi dengan organisasi atau kolektif gerakan
perubahan iklim ataupun aktifitas gerakan peduli lingkungan pada
umumnya. Alasan kami memilih anak muda di luar “gelembung”
ini sebagai kolaborator adalah keinginan kami untuk mendapatkan
banyak masukan yang kami harapkan berbeda dari pandangan orang
yang sudah paham isu perubahan iklim. Dengan begitu kami berharap
dapat menyajikan informasi segar yang dapat memberikan suplemen
bagi penggiat isu lingkungan dan perubahan iklim untuk dapat
menetapkan rencana dan strategi yang baru dengan mengetahui
sudut pandang anak muda secara umum mengenai isu ini.

Setelah proses wawancara mendalam dengan anak muda selesai,


kami melanjutkan perbincangan dengan empat aktor yang dipilih
dalam FGD (Focus Group Discussion). Pemilihan peserta FGD
dianalisis dengan The Quadruple Helix Model; “a framework that
acknowledge four major actors in development and innovation agenda,
namely government, academia (or university), industry, and civil society”
(Schutz et.al., 2019).
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 19

Kerangka ini diselaraskan dengan misi Climate Institute untuk


membawa perubahan kepada anak muda Indonesia yang berperan
aktif dalam mengatasi perubahan iklim. Misi yang optismis dapat
dicapai dengan adanya kolaborasi antara keempat aktor ini.

Pada kegiatan FGD dengan ke empat aktor ini, kami menyajikan


hasil wawancara kami dengan enam anak muda di luar
“gelembung” ini, mulai dari kontak pertama para anak muda
dengan informasi perubahan iklim, bagaimana internalisasi nilai
informasi perubahan iklim kepada anak muda, persepsi yang
terbentuk pada anak muda saat ini, apa pendapat mereka soal
penyebab dan dampak perubahan iklim, perasaan, dampak
personal, hingga bagaimana anak muda melihat politik, pemerintah
tokoh agama dalam peran isu perubahan iklim. Berbagai macam
hal ini kemudian dibahas Bersama para aktor yang kami ajak
berdiskusi, mendengarkan pengalaman dan pengetahuan mereka
yang kemudian disarikan dalam laporan ini.

Ketika kita menyimak bahwa proses internalisasi terhadap


informasi perubahan iklim (yaitu melalui refleksi terhadap
pengalaman lalu dan membandingkan dengan masa sekarang),
artinya anak muda sudah merasakan dampak perubahan iklim
secara langsung dikehidupan sehari-hari. Namun ternyata
kesadaran tersebut tidak membuat anak muda terlibat secara
aktif di kegiatan climate change atau melakukan gaya hidup yang
ramah lingkungan. Menurut mereka perubahan iklim utamanya
harus menjadi concern pemerintah, sedangkan pemerintah sendiri
tidak pernah terdengar membahas isu tersebut secara terbuka/
inisatif tidak sampai ke publik. Sementara pemerintah merasa
telah melaksanakan berbagai upaya dalam bentuk program dan
menggalang inisiatif masyarakat untuk menangani perubahan
iklim. Dari hasil diskusi ini kita dapat melihat adanya “celah”
pengetahuan dan sudut pandangan yang cukup jauh antara para
aktor yang kami ajak berdiskusi soal bagaimana perubahan iklim
dengan sudut pandang anak muda ini.

Laporan ini penyusunan penulisan diceritakan dengan mengikuti


perjalanan kronologis dan konfirmasi pengetahuan dengan
pebabakan sebagai berikut:
20 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

1. Perjalanan Menuju Kesadaran Perubahan Iklim


Secara umum menyajikan perjumpaan pertama para anak
muda yang diwawancarai dengan isu dan pengetahuan soal
perubahan iklim; menggali informasi sejauh apa kekhawatiran
dan ancaman apa dirasakan anak muda soal dampak
perubahan iklim dalam hidupnya bahkan secara pribadi; lalu
membahas bersama bagaimana anak muda memandang
pemerintah menangani atau menghadapi masalah perubahan
iklim; menggali tanggapan anak muda soal pandangan dari
penyangkalan terhadap perubahan iklim; dan pada bagian akhir
bab ini kami membicangkan bagaimana sikap-sikap personal
anak muda terhadap perubahan iklim.
2. Personal dan Political
Melanjutkan pembahasan mengenai derajat kepercayaan anak
muda terhadap perubahan iklim; sikap anak muda terhadap
politik dan hubungannya dengan perubahan iklim;
3. Partisipasi dan Kepedulian
Membaca bagaimana kepedulian dalam harapan dan
partisipasi anak muda dalam aksi perubahan iklim.

Hasil pembahasan ini bukan ingin soalan kompetisi, atau sekedar


pointing finger to each other’s tentang mana dan siapa yang lebih
buruk ataupun lebih progresif dalam mengatasi perubahan
iklim. Harapan sederhana dari sajian laporan ini adalah untuk
memberikan informasi yang semoga masih segar dan baru, untuk
memberikan insights kepada semua pembaca, baik instansi hingga
individu agar mendapatkan informasi mengenai jarak pengetahuan
serta langkah dan strategi kampanye perubahan iklim yang lebih
efektif kedepannya.

Moh. Febri Thalani


Education & Outreach Coordinator
Climate Institute
Aksi Greenpeace di HI. ©Andrey Gromico/Tirto.id
01
Perjalanan Menuju
Kesadaran Perubahan
Iklim

G
reta Thunberg menangis dalam kelas usai melihat
beruang kutub kelaparan. Perempuan lima belas tahun
itu lantas memutuskan untuk melakukan protes di depan
gedung parlemen Swedia. Orangtua Greta merayunya untuk
menghentikan protes itu, kawan-kawan di kelasnya menolak
ambil bagian, tapi sikap keras kepala dan konsistensinya
membuahkan hasil. Tahun lalu anak muda dari dari 71 negara
di 700 titik di berbagai belahan dunia ambil bagian dalam
gerakan perubahan iklim. Anak muda itu memantik bara api yang
membakar semangat anak-anak muda di seluruh dunia.

Imaji tentang beruang kutub yang kelaparan ini mengganggu


banyak orang. Ia menghadirkan ancaman dan juga pertanyaan.
Apa yang membuat predator puncak ini jadi kurus? Apa yang
mengancam mereka jadi terdesak dan kelaparan? Pertanyaan-
pertanyaan ini kemudian berujung pada temuan yang lebih
mengerikan. Ekosistem di mana beruang kutub hidup terancam.
Es mencair, sumber makanan berkurang, dan perubahan ini tidak
hanya mengancam beruang itu, tapi juga manusia.

Salah seorang informan kami, N, mahasiswi kedokteran gigi


semester tiga di sebuah universitas di Bandung, juga memiliki
pengalaman kolektif serupa. Ia mengenang pengalaman menonton
sebuah acara di National Geographic yang menggambarkan glacier
sedang meleleh. Bersamaan dengan gambar itu informan kami
melihat beruang kutub yang kelaparan. “Kasian, sendirian, sangat
kurus, ngga punya tempat lagi untuk tinggal, itu sih yang kaya bikin;
wow,” katanya. Meski sama-sama punya pengalaman kolektif yang
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 23

traumatik tentang beruang kutub, Nadine tidak terdorong untuk


ambil bagian dalam gerakan perubahan iklim.

Di Indonesia isu perubahan iklim masih asing di kalangan anak


muda. Asing di sini bukan berarti tidak ada sama sekali inisiatif
anak muda untuk fokus pada isu perubahan iklim, tapi sejauh ini
masih sedikit gerakan sosial yang signifikan yang mendorong
anak muda tergerak untuk melakukan perubahan yang konsisten.
Sejauh ini gerakan terkait iklim kerap kali seremonial dan insidental,
misalnya saat hari lingkungan hidup atau ketika ada perayaan earth
hour. Setelah itu nyaris sunyi dan tak ada lagi.

Di Indonesia bukannya tidak ada sama sekali gerakan sosial yang


dirintis anak muda dan punya dampak. Melati dan Isabel Wijsen
yang menginisiasi Bye-bye Plastic Bags di Bali jadi inspirasi dan
mampu mendorong perubahan di tingkat lokal. Lalu bagaimana
dengan Indonesia secara umum? Sentimen yang meragukan
perubahan iklim ini juga ditemukan dalam wawancara kami.
Temuan Climate Institute yang mewawancarai enam anak muda di
Indonesia diketahui, sampai hari ini pendidikan tentang perubahan
iklim masih belum komprehensif.

Sejak 2011 wacana perubahan iklim untuk masuk dalam kurikulum


pendidikan masih belum terealisasi. Tahun ini wacana itu muncul
lagi. Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Ruandha Agung S
mengatakan telah berkoordinasi dengan kementerian terkait guna
membahas usulan ini. Termasuk Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan. “Tidak harus mata pelajaran baru, tapi dimasukkan
ke dalam ilmu pengetahuan alam, sosial, atau bahasa,” katanya
(katadata 22 September 2020).

Satu narasumber Climate Institute, R, yang berasal dari Siak, Riau,


mengaku baru pertama kali mendengar kata climate change atau
perubahan iklim. Ia juga tak pernah mendapatkan informasi atau
pengetahuan terkait perubahan iklim. Namun ketika disebutkan
dan diberikan penjelasan mengenai perubahan iklim, narasumber
ini bisa mengenali dampaknya. Menurutnya yang paling terasa dan
bisa dilihat adalah perubahan cuaca dan musim yang tak tentu.
24 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

“Kalau misalnya perubahan temperatur, iklimnya pasti semua


orang pasti ngerasain dampaknya. Apalagi kayak pedagang dari
panas ke hujan. Hujan ke panas, pasti berdampak gitu,” katanya.

Sejauh ini sumber pengetahuan anak muda Indonesia


terkait perubahan iklim berasal dari program televisi seperti
Discovery Channel atau National Geographic, mereka juga
mendapatkan informasi serupa dari akun media sosial NGO
seperti Greenpeace. Hanya dua dari enam narasumber
yang mengaku ingat materi pelajaran efek rumah kaca
dan dampaknya pada perubahan iklim dari sekolah. Satu
nara­
sumber mengaku mendapatkan informasi tentang
perubahan iklim dari situs hiburan dan meme seperti 9gag
atau situs forum percakapan seperti reddit.

Informan kami, M, mahasiswa teknologi informasi asal Pekanbaru


menjawab pada mulanya ia terpapar informasi tentang perubahan
iklim dari 9gag. “Starternya gitu. Di 9Gag dulu. Baru nanti kalau
kurang puas dengan jawabannya gitu baru (cari di situs lain),”
katanya. Pemahaman yang didapat juga sebatas apa itu perubahan
iklim dan penyebabnya. “Climate change itu ya seperti perubahan
iklim ekstrim yang tidak dirasakan oleh daerah itu dari lama Tiba-tiba
mendapatkan itu,” lanjutnya.

H yang berasal dari Jakarta Barat, menyebut bahwa perubahan


iklim sebatas pada perubahan cuaca yang tiba-tiba dan
berpengaruh pada bencana rutin di Indonesia. “Climate change
menurut saya kayak perubahan iklim secara ekstrim. Yang
beberapa tahun lalu ga kejadian tiba tiba kejadian kayak yang tiba
tiba langsung topan atau badai. Badainya juga tadinya seminggu
sekarang bisa 10 hari, banjir, dan juga pemanasan suhu. Tingkat
permukaan air laut meninggi nah di situ banyak pulau pulau
yang terancam tenggelam karena kutub utara semakin mencair,”
katanya.
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 25

Lahan bekas pemukiman muncul kembali karena kekeringan di kawasan waduk


Jatigede, Desa Cipaku, Sumedang, Jawa Barat. ©Andrey Gromico/Tirto.id
26 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

Hal serupa juga dipaparkan A seorang mahasiswa dari Bali. “Yang


aku tahu tentang perubahan iklim itu, iklim kan sama cuaca beda
ya… Dan yang aku tahu tentang perubahan iklim itu kayak suasana
sekarang jadi lebih panas dan cuaca lagi ga seperti tahun-tahun
sebelumnya… Mungkin bener salah aku ga tahu, cuma sebatas itu
sih untuk perubahan iklim yang aku tahu,” katanya.

Minimnya pendidikan dan akses informasi terkait perubahan iklim


punya dampak serius. Pada 2019 survei dari lembaga YouGov
menyajikan kesimpulan yang mengkhawatirkan: responden asal
Arab Saudi, Indonesia, dan Amerika Serikat jadi tiga besar paling
tidak percaya ada perubahan iklim akibat aktivitas manusia. AS juga
menjadi negara dengan responden paling banyak menolak gagasan
pemanasan global dibanding negara maju lainnya. Total ada 23 negara
yang kali ini disurvei oleh YouGov, melibatkan 25.325 responden.

Survei yang digelar oleh YouGov, perusahaan riset dan analitik data
di Inggris sebagai bagian dari Proyek Globalisme YouGov-Cambridge.
Proyek tersebut kolaborasi antara YouGov, para peneliti University
of Cambridge, serta The Guardian. Total 25 ribu orang yang disurvei
dari Eropa, Afrika, Asia dan Amerika. Khusus Indonesia, jumlah orang
yang terlibat jajak pendapat ini mencapai 1.001 orang. Para peneliti
menanyakan hal-hal berkaitan makanan, perjalanan, teknologi,
imigrasi, keyakinan budaya dan lingkungan untuk memahami sikap
responden global tentang populisme dan globalisasi.

Lalu bagaimana dengan anak mudanya? September 2020


lalu, Yayasan Indonesia Cerah dan change.org menggelar riset
yang menyertakan 8.374 responden, rata-rata berusia 20-30
tahun, baik laki-laki maupun perempuan, banyak di antaranya
mahasiswa dan pekerja swasta. Hasilnya sekitar 90% khawatir
atau sangat khawatir tentang dampak krisis iklim dan yang
paling menggembirakan tidak ada satupun dari responden yang
meragukan adanya krisis perubahan iklim.

Dalam riset itu juga ditemukan jika warga muda Indonesia


mengkonsumsi informasi tentang krisis iklim paling banyak melalui
media online (72%), diikuti dengan situs online (54%), baru media
sosial yakni Instagram (46%), Youtube (42%), Twitter (19%), dan
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 27

Facebook (18%). Sedangkan koran dan majalah hanya (17%)


dan (9%). Data ini memperkuat temuan Climate Institute bahwa
perubahan iklim masih belum menjadi materi pendidikan yang
komprehensif di Indonesia. Anak muda yang ada kebanyakan
mencari informasi secara mandiri di media sosial atau mengandalkan
informasi dari lembaga independen seperti media atau NGO.

Optimisme ini juga diharapkan bisa jadi gerakan yang serius.


Dalam FGD yang dilakukan Climate Institute, J, seorang pekerja di
SKK Migas berharap anak muda Indonesia akan terus meragukan
kondisi saat ini yang dianggap baik-baik saja. Menurutnya semakin
banyak anak muda yang tergugah masalah lingkungan akan
semakin bagus. Di masa depan bumi akan dihuni oleh anak-anak
muda, jika mereka diam dan abai perubahan iklim, orang tua yang
akan segera mati saat ini tak akan ambil pusing.

“Karena in the end of the day mereka yang akan tinggal di bumi ini
lebih lama daripada kita semua. Anak muda harus tahu dari awal
mereka makan, mereka hidup, nafas, mereka tinggal di Jakarta
yang kualitas udaranya jauh di (bawah) ambang batas, mereka tahu
ga kalo mereka dibunuh pelan pelan sama kotanya sendiri, sama
pemerintahnya sendiri itu mereka harus tahu,” katanya.

R yang menjadi konsultan UNDP dan KLHK menyebutkan bahwa


Sosial media sangat bisa menjadi mesin penggerak untuk anak
muda Indonesia agar lebih memahami perubahan iklim. “Karena
kita lihat, apalagi kalau kita lihat, generation Z sekarang ini sudah,
apa-apa semua di sosial media. Terus satu info bisa nyebarnya
cepat banget. Satu orang bikin konten kan ya, generation Z senang
banget bikin konten. Satu bikin konten, yang lain, caused-nya cocok
sama pemikiran dia, satu bikin, semua bikin,” katanya.

Ini punya potensi untuk jadi pendorong bagi komunitas dan individu
untuk meningkatkan kewaspadaan, kepedulian, dan memulai
simpul gerakan. Pemaham yang awalnya hanya sekedar istilah
berkembang menjadi lebih mendalam. “Jadi, pengetahuannya itu
nggak cuman di luarnya aja, di kulitnya tentang climate change itu
apa sih? Misalnya penyebabnya banjir, terus apa yang bisa kita
lakkuin? Nggak buang sampah sembarangan. Mungkin efeknya
28 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

ada yang yang lebih besar lagi, misalnya industri. Kadang kan, anak
muda mungkin belum punya akses informasi tentang hal-hal yang
lebih besar,” lanjut ia.

Problem minimnya materi pendidikan perubahan iklim


ini sangat penting untuk segera diselesaikan. Dari data
yang ada materi terkait perubahan iklim masih berkisar
pada pengetahuan umum, seperti efek rumah kaca dan
pemanasan global, tapi sejauh ini belum ada pendidikan
terkait dampak perubahan iklim terhadap manusia. Hal ini
berimbas pada minimnya kesadaran atas pentingnya isu
dan kepedulian terhadap masalah perubahan iklim.

Kekhawatiran dan Ancaman


Iwan Simatupang selesai menulis naskah novel berjudul Kering
pada 1961. Novel itu bercerita tentang sosok bernama tokoh
kita yang menjadi transmigran. Ia berusaha mengubah lanskap
tanah yang kering kerontang, karena kemarau berkepanjangan,
agar menjadi kota yang indah. Tokoh kita berhasil melakukan
perubahan besar hanya untuk dibikin kecewa karena kota yang ia
bangun hancur berantakan karena hujan badai yang terjadi akibat
perubahan cuaca yang ekstrim. Novel itu baru bisa diterbitkan pada
1972, dua tahun setelah Iwan Simatupang meninggal.

Kini 48 tahun setelah novel itu ditulis cuaca yang digambarkan


dalam novel itu masih tak juga berubah. Di Indonesia perubahan
iklim juga menyebabkan cuaca ekstrim dan sulit ditebak. Direktorat
Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Republik Indonesia
melaporkan dampak cuaca ektrim ini. Di satu wilayah, bisa saja
terjadi hujan terus-menerus yang disertai dengan angin kencang
dan menyebabkan banjir. Sementara di wilayah lain terjadi kemarau
berkepanjangan hingga mengeringkan sawah, ladang dan sumber-
sumber air masyarakat.
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 29

Tidak hanya pada lingkungan, dampak perubahan iklim juga punya


pengaruh terhadap tubuh manusia. DJPPI menyebut bahwa suhu
ekstrim yang disebabkan terik matahari dapat membakar kulit.
Cuaca ekstrim seperti hujan kencang yang terjadi terus-menerus
akan menyebabkan banjir. Kondisi banjir menyebabkan lingkungan
kotor dan menjadi lingkungan yang sangat baik bagi sarangga dan
nyamuk penyebar penyakit untuk hidup dan bereproduksi. Jika
ini dibiarkan wabah malaria dan demam berdarah dengue akan
terjadi.

Saat ini kekhawatiran DJPPI ini telah terjadi, dalam wawancara


yang dilakukan oleh Cothink Research dan Climate Institute
bersama enam informan dari kalangan anak muda Indonesia
ditemukan, nahwa dampak perubahan iklim sudah dirasakan
secara langsung. R, menuturkan bahwa perubahan cuaca yang
ekstrim berdampak pada bencana banjir di kotanya. “Di Pekanbaru
kalau misalnya dari panas ke hujan, kena banjirnya. Selalu sih kalau
hujan di Pekanbaru, di mana pun itu pasti banjir,” katanya. Banjir ini
tidak hanya menenggelamkan rumah, tapi juga menghanyutkan
warga dan pada beberapa kasus berujung kematian.

Informan lain dari Jakarta Barat juga mengungkapkan


kekhawatiran serupa. Di Indonesia menurutnya dampak perubahan
iklim berbeda, meski demikian bencana yang hadir semakin
tahun kian merata dan secara bertahap bertambah parah. “Cuma
kan untuk beberapa daerah yang sangat terpengaruh. Kayak
misalnya pesisir, atau jakarta juga terpengaruh karena perubahan
cuaca yang hujannya tadinya biasa tiba tiba jadi deras bakal
jadi banjir. Terus di indonesia ga ngalamin gelombang panas di
Australia, Eropa, itu kan banyak mengakibatkan orang orang yang
meninggal,” katanya.

Kekhawatiran yang terjadi saat ini juga dibenarkan oleh informan


kami, Indonesia akan semakin rentan terhadap perubahan cuaca
ekstrim. Ia mencontohkan perubahan yang terjadi di Benua Eropa
dan benua Amerika, di mana cuaca panas ekstrim dan cuaca
dingin ekstrim membunuh banyak tuna wisma di jalanan. “Untuk
di indonesia yang sangat terlihat banjir bandang itu di berbagai
daerah baik yang ga terekspos maupun yang terekspos media kan
30 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

banyak juga yang terjadi banjir bandang kayak di bandung waktu


itu, mobil bisa hanyut, saya juga ga bisa bayangin kalo tinggal di
daerah situ kayak gimana,” katanya

M, menyebutkan bahwa praktik pembakaran hutan untuk lahan


sawit merusak lingkungan. Dampaknya pada perubahan suhu dan
cuaca yang main tak bisa dikendalikan. “Memang kita kan di Riau
ini sudah panas sejak dulu. Cuma ada titik hari tu panas sekali, gitu.
Orang nggak berani keluar. Jadi tiba-tiba gitu. Orang nggak berani
keluar,” katanya. Kondisi ini akan makin parah jika sedang musim
pembukaan lahan sawit, bencana akibat asap pembakaran hutan
merusak paru-paru dan membuat mata jadi iritasi. Meski demikian
informan menganggap bahwa ketidaktegasan pemerintah dalam
bersikap yang membuat kondisi ini terus terjadi.

Di sisi lain R, menyebutkan bahwa kondisi ini banyak dianggap


sebagai sesuatu yang alamiah. Ia menyebut sejak lama merasakan
bahwa Pekanbaru sebagai kota yang panas, kota yang gersang,
dan panas terik matahari. Kondisi masyarakat yang menerima dan
menganggap bahwa keadaan panas sebagai sesuatu yang wajar
ini pelan-pelan mulai dilawan. Informasi mengenai perubahan iklim
dan pendidikan membuat anak muda mempertanyakan kondisi
lingkungannya. “Kalau misalnya perubahan temperatur, iklimnya pasti
semua orang pasti ngerasain dampaknya. Apalagi kayak pedagang
dari panas ke hujan. Hujan ke panas, pasti berdampak gitu,” katanya.

A, yang tinggal di Bali meyakini bahwa ketidaktentuan cuaca


yang ada di Bali ada kaitan dengan perubahan iklim. Ia bercerita
tentang perubahan pola musim yang tidak lagi sama dengan
pengalaman dari tahu ke tahun. Musim panas yang terus menerus
terjadi memicu kebakaran hutan di dataran tinggi, sementara jika
musim hujan terjadi banjir muncul di banyak titik di Bali. Ia juga
mengatakan kebakaran hutan akibat kemarau berkepanjangan
mengganggu kegiatan pariwisata. Tidak hanya itu sebagai warga
yang tinggal di dekat hutan, A merasa perubahan iklim berdampak
serius di desanya.

Kebakaran hutan di beberapa titik di Bali mengakibatkan hewan-


hewan lokal mengungsi di pemukiman warga. Hal ini diperparah
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 31

dengan penebangan hutan yang memicu konflik antara hewan


dan manusia. “Aku kan juga aslinya hidup di pedesaan ya dan
dekat dengan hutan yang isinya monet-monyet, bahkan pernah
ada di tebang beberapa untuk dibuatkan kalo di Bali ada istilahnya
pura,” katanya. Selama ini penebangan hutan untuk mendapatkan
kayu demi pembangunan pura tak pernah berujung masalah, tapi
karena kemarau berkepanjangan dan kebakaran hutan membuat
monyet-monyet menyerbu pemukiman manusia. “Itu (kayu) pun
ditebangnya ga seberapa, monyetnya juga bisa langsung nyari ke
rumah rumah penduduk. Jadi apalagi bisa sampe bikin kebakar
hutannya. Jadi penduduk juga resah sendiri bakalan. Karena cukup
serius kalo sampe hewan hewan ga ada tempatnya ngaruh ke diri
kita sendiri, menurut ku itu,” katanya.

2013 lalu menurut data Badan Perencanaan Pembangunan


Nasional (Bappenas), selama abad 20, Indonesia mengalami
peningkatan suhu rata-rata udara di permukaan tanah 0,5 derajat
celcius. Jika dibandingkan periode tahun 1961 hingga 1990,
rata-rata suhu di Indonesia diproyeksikan meningkat 0,8 sampai
1,0 derajat Celcius antara tahun 2020 hingga 2050. Selama
belum ada kebijakan yang menyeluruh dan pengendalian yang
terukur, kenaikan suhu ini akan terus terjadi. Pada Desember 2018
Indonesia, yang tergabung dalam UN Framework Convention on
Climate Change (UNFCCC), menyatakan komitmen berjangka untuk
membatasi kenaikan suhu global di bawah dua derajat celcius.

Menariknya pada 2019 lalu pemerintah Indonesia mengancam


untuk keluar dari Paris Agreement, sebuah persetujuan dalam
kerangka UNFCCC yang mengawal reduksi emisi karbon dioksida
efektif yang akan mulai berlaku pada tahun 2020. Ancaman ini
dikeluarkan karena Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut
Binsar Panjaitan menganggap Uni Eropa melakukan diskriminasi
sawit dalam RED II. Padahal berdasarkan riset dari Universitas
Göttingen pada 2017 menemukan industri sawit memicu kenaikan
suhu permukaan tanah. Berdasarkan pengamatan ilmuwan antara
2000 hingga 2015 di Jambi, alihfungsi hutan membuat suhu rata-
rata meningkat sebanyak 1.05 derajat Celcius, sementara suhu di
kawasan hutan hanya meningkat 0.45 derajat Celcius.
32 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

Perusakan alam yang berdampak pada perubahan iklim ini tidak


hanya jadi concern anak muda yang masih sekolah, tapi juga para
profesional di pemerintahan dan NGO. NF, konsultan UN misalnya
merasa sedih karena banyak hutan dan kawasan lindung di
Sumatera dan Kalimantan beralih fungsi jadi hutan sawit. Sebagai
orang yang pernah aktif di organisasi pecinta alam dan rutin naik
gunung, ia melihat ekspansi sawit akan punya dampak buruk. “Aku
sekarang gak kebayang kalo anakku umuran segitu bisa ga dia naik
turun gunung dan dapat keindahan si hutan yang dulu sempat aku
liat. Banyak deh yang ngenes setiap kali aku terbang ke sumatera,
kalimantan, kan melihat sejauh horizon memandang cuma kelapa
sawit doang yang keliatan itu buat aku dulu anak hutan kali ya.
beneran bisa nangis,” katanya.

NF percaya bahwa perubahan iklim adalah problem sistemik


yang tak bisa diatasi oleh satu pihak saja. Problem perusakan
lingkungan ini menyertakan perusahaan besar dan pemerintahan
lintas negara. Ia mencontohkan pengalamannya ketika menyelam
di Bali dan menemukan sampah plastik yang bukan berasal dari
limbah lokal. “Aku juga suka diving, aku liat sampahnya, kalo di Bali
atau di manapun… di antara lautan sampah dan itu bikin bener
bener ketampar sih. Dan sampah itu bisa jadi bukan dari Bali, bisa
jadi dari pasific ocean dibawa dari Australia atau darimana tapi
intinya is out there in the ocean,” katanya.

Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim Republik Indonesia


memperingatkan bahwa kondisi ekstrim lingkungan
mempengaruhi daya tubuh manusia sehingga mudah sekali
menjadi sakit. Sedangkan kemarau, akibat peningkatan suhu bumi
terus-menerus dapat menyebabkan kebakaran semak dan hutan.
Asap yang dihasilkan dari kebakaran sejam dan hutan mencemari
udara yang juga berdampak pada kesehatan pernapasan manusia.
Dalam kondisi tersebut akan sering ditemukan kasus-kasus seperti
Infeksi Pernapasan.

Temuan kami dari wawancara bersama Informan menyebutkan


bahwa dampak perubahan iklim juga mempengaruhi suhu laut. PR,
mengungkapkan bahwa ada suhu laut di tempat ia tinggal fluktuatif
dan tak bisa diprediksi. Ia membandingkan suhu perairan Nusa
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 33

Penida yang biasanya 15 derajat laut, meningkat menjadi 17 derajat.


Perubahan ini jelas dirasakan oleh penduduk pulau. “Karena sejak
aku tinggal di pulau kecil, climate, perubahan cuaca, siang malam
tuh lebih aware aja perbedaannya apa. Full moon, new moon aja
lebih aware bedanya apa. Karena di sini kan, ya gitulah setiap hari
ngeliatin yang alam-alam terus. Jadi nggak ada hal lain yang bisa
dilihat jadi lebih kelihatan perbedaannya,” katanya.

Anak muda yang kami temui masih memiliki keraguan


terhadap dampak perubahan iklim dan bencana yang terjadi.
Sejauh ini mereka masih melihat fenomena perubahan iklim
sebagai sesuatu yang wajar. Seperti naiknya suhu bumi,
mencairnya es, dan musim yang tak tentu. Beberapa malah
menganggap banjir sebagai sesuatu yang biasa dan bukan
dampak dari perubahan iklim. Gagap pemahaman dan jarak
pengetahuan ini bisa jadi problem serius di masa depan.

Tidak hanya soal suhu, tapi juga sampah fisik menjadi problem
serius. PR menyebutkan saat musim hujan, laut di Bali akan terlihat
sangat buruk. Ia menduga perilaku konsumsi orang Indonesia yang
masih mudah membuang sampah sembarangan atau tak punya
kepedulian terhadap limbah jadi problem. Di Indonesia setiap orang
berbelanja akan udah mendapatkan kemasan plastik sekali pakai,
limbah ini tak bisa diolah atau didaur ulang secara sederhana.
Akibatnya sampah menumpuk dan tak bisa dimanfaatkan. “Di Bali
itu, kalau lagi musim hujan semua sampah yang ada di darat itu
nyampe ke laut. Dan kalau lagi bulan bulan Desember, Januari,
Februari,  itu di laut banyak banget sampah plastik. Bahkan kalau
kita lagi diving,  sampah plastik ada dimana-mana. Nyangkut
di coral, nyangkut di ikan-ikan, kura-kura dan lain sebagainya,”
katanya.

Perubahan suhu ini sebenarnya merupakan bagian dari perubahan


iklim itu sendiri. MK, dosen lingkungan di sebuah Universitas di
34 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

Depok, menyebutkan saat ini ada dua mazhab terkait perubahan


iklim. Mazhab pertama menggunakan pendekatan cuaca, misalnya
apakah ada perbedaan antara cuaca periode 30 tahun lalu dengan
periode 30 tahun yang lain. Jika ada, maka itu sudah dianggap
telah terjadi perubahan iklim.

“Jadi katakanlah 30 tahun yang lalu itu suhu di kota Jakarta sudah
naik katakanlah atau di wilayah Indonesia sudah naik 0,6 atau 1
derajat celcius lebih tinggi dibanding 30 tahun periode sebelumnya,
itu sudah dianggap perubahan iklim. Karena suhu itu salah
satu indikator parameter cuaca dan iklim salah satu mengukur
dengan itu,” katanya. Lebih lanjut MK menjelaskan Indonesia telah
mengalami kenaikan suhu hingga 1,1 derajat pada 2019. Beberapa
kota di Indonesia telah terjadi kenaikan rata rata 0,6 derajat celsius.
Sementara itu mazhab yang kedua berasal dari United Nations
Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Target
lembaga ini adalah mendorong pemerintah dari negara-negara
di dunia untuk menekan laju peningkatan suhu di bawah 2
derajat. Lalu pada 2018 pemerintah Indonesia juga mengikuti The
Intergovernmental Panel on Climate Change, di dalam lembaga itu
disepakati bahwa sebuah negara dianggap mengalami perubahan
iklim jika telah ada pergantian suhu di atas 1,5 derajat. “Artinya kalo
suhu bumi di atas 1,5 derajat sistem iklim berubah, nah itu yang
ada 2 madzah itu sehingga sebenernya kita sekarang belum terjadi
perubahan iklim kalo menggunakan madzab yang ke-2 karena kan
kita kenaikannya masih 1,1 belum 1,5,” kata MK.

MK juga menjelaskan dalam sejarah, perubahan iklim ini dipicu


revolusi industri pada 1700an, karena pembangunan pabrik
meningkat, eksploitasi batu bara bertambah, suhu dunia
mengalami perubahan. “Intinya karena penambahan populasi
dan aktivias manusia yang menggunakan sumber daya yan
menghasilkan khususnya emisi gas rumah kaca yang didominasi
oleh CO2, jadi penyebab utamanya antropogenik manusia. Jadi
jelas sekali dari grafiknya itu mulai tahun 1700 itu melonjak tajam
CO2 khususnya,” katanya. MK meyakini bahwa aktivitas manusia
di bumi punya andil dalam perubahan iklim. Ia menduga bahwa
aktivitas ekonomi, pertambahan populasi, dan kegiatan konsumsi
mendorong perubahan iklim.
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 35

Temuan kami menunjukkan bahwa anak muda ini memiliki


kekhawatiran hanya ketika lingkungan di mana ia tinggal
terdampak. Selain itu pemahaman terhadap perubahan iklim
masih berkaitan dengan musim, cuaca, dan suhu yang ada
di sekitarnya. Beberapa narasumber memang bisa melihat
keterkaitan antara perubahan iklim dan dampak buruknya
terhadap bencana dan lingkungan, tetapi belum bisa melihat
perilaku keseharian manusia memiliki pengaruh langsung.

Kepercayan Terhadap Pemerintah


Sebelum pandemi tiba, RT, mesti menempuh satu jam perjalanan
dari Pekanbaru ke Kampar. Problem ini makin menjadi jika musim
panas tiba. Pekanbaru menurutnya kota yang panas dan gersang,
belakangan kondisi itu makin parah karena cuaca kerap tak bisa
diprediksi. “Soalnya nanti tiba-tiba bisa panas. Tiba-tiba bisa terbit
aja gitu mata harinya,” katanya. Hal serupa juga disampaikan lima
narasumber lain yang membenarkan perihal durasi musim yang
terjadi di Indonesia.
Beberapa dampak perubahan iklim memang bisa dilihat langsung.
Seperti musim kemarau yang lebih panas dan berkepanjangan,
termasuk gelombang panas, intensitas hujan yang terus
berkurang,musim kemarau dengan kekeringan yang parah, curah
hujan yang berlebih di musim penghujan dan naiknya permukaan
air laut.

Saat ini berdasarkan laporan yang dilakukan Climate Central, sebuah


organisasi nonpemerintah yang bermarkas di Amerika Serikat, sekitar
23 juta orang di pesisir Indonesia diperkirakan harus menghadapi
ancaman banjir laut tahunan pada tahun 2050 akibat peningkatan
ketinggian air laut yang disebabkan perubahan iklim abad ini. Jumlah
ini naik lima kali lipat ketimbang perkiraan sebelumnya.

Usaha untuk mengatasi perubahan iklim ini sebenarnya


sudah dimulai sejak lama. Setidaknya menurut penuturan J,
36 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

informan kami yang bekerja untuk BUMN, menyebutkan bahwa


perusahaannya sudah punya komitmen terhadap perubahan iklim.
Ia menyebutkan semua indistri di Indonesia yang punya tanggung
jawab sudah punya panduan untuk mengatasi problem iklim.
“Cuma kan isu lingkungan bukan sesuatu yang seksi ya jadi kayak
baru beberapa tahun terakhir ini jadi sesuatu yang di highlight
apalagi di industri yang memang rawan dengan effluent, rawan
dengan emisi itu sama sekali ga seksi,” katanya.

Saat ini pemerintah memiliki peraturan pengelolaan limbah PP


101/2014 Tentang Pengelolaan Limbah B3 dan setiap perusahaan
memiliki kewajiban pelaporan terbuka setiap bulan secara online.
hal ini dilakukan untuk menjaga reputasi perusahaan dan sekaligus
kontrol negara terhadap limbah yang ada. “Jadi kepatuhan
lingkungan itu jadi salah satu faktor kalo untuk perusahaan yang
listed itu sangat mempengaruhi harga saham untuk yang non
listed sangat mempengaruhi di landing,” katanya.

Persoalan limbah ini sangat penting hingga pemerintah melalui


Bappenas membuat roadmap penanganan secara terpadu.
Pemerintah, melalui Bappenas mengakui, limbah merupakan salah
satu sumber emisi gas rumah kaca yang penting. Limbah padat
dan cair merupakan sumber signifikan CH4 yang penambahannya
di atmosfer berkontribusi terhadap perubahan iklim. Di Indonesia,
sampah dapat dianalisis di lebih dari 400 Tempat Pemrosesan
Akhir (TPA) dan penanganannya di bawah kewenangan dan
tanggung jawab Departemen Pekerjaan Umum yaitu dalam bidang
teknis, dan Kementerian Negara Lingkungan Hidup yaitu dalam
aspek lingkungan hidup.

Limbah dan sampah memang menjadi salah satu tema yang


banyak dibahas ketika kami mewawancarai informan. A,
menyampaikan bahwa penanganan sampah bisa jadi prioritas
untuk masalah perubahan iklim. Ia berpendapat bahwa laju
perubahan iklim saat ini tak bisa sepenuhnya dihentikan, hanya
bisa diperlambat atau dikurangi. Menurutnya, jika seluruh orang di
dunia bisa menjalani hidup sehat dan bertanggung jawab, maka
kondisi bumi akan lebih baik. “Soalnya hal yang kecil dari kita buang
sampah dan matiin lampu di saat siang hari pun emang ga bisa
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 37

semua orang serentak lakuin. Itu aja sih, emang harus dikurangi aja
sih. Karena kalo distop (laju perubahan iklim) secara langsung itu
susah menuruku sih,” katanya.

Pendapat lain datang dari H, menurutnya menghentikan total laju


perubahan iklim mustahil dilakukan. Ia menganggap bahwa selama
ini gaya hidup manusia sudah sangat bergantung dengan plastik,
energi fosil, dan konsumsi daging yang sangat kotor. “Kalo mau
climate change berhenti ya manusia harus hidup ke hutan. Ga usah
ada lagi kenaraan kendaraan, ga usah ada lagi PLTU batu bara, itu
kan solusinya. Cuma kan ga mungkin, sekarang tuh bagaimana
manusia hidup bercampingan dengan alam, caranya dengan
meminimalisir energi energi yang mengakibatkan pemanasan
global,” katanya.

Saat ini, menurut H, perubahan sederhana yang bisa dilakukan


adalah mengubah gaya hidup personal. Seperti mengurangi
penggunaan AC, beralih dari bahan bakar fosil ke energi listrik,
menggunakan energi baru teterbarukan. Problem terbesar saat
ini menurutnya, orang Indonesia masih belum siap dengan
seluruh teknologi itu. Dari temuan kami beberapa narasumber
lebih memilih solusi yang bersumber pada masyarakat dan tidak
menyalahkan peran pemerintah dalam penyelesaian masalah
perubahan iklim.

RT, mahasiswi keperawatan asal Siak, Riau, menyebut solusi


penting perubahan iklim semestinya bersumber dari kesadaran
perusahaan yang beroperasi di sekitar kawasan hutan. Mereka
perlu patuh peraturan yang ada dan berhenti merusak alam. “Kalau
perusahaan kan sebenarnya ada peraturannya juga, untuk mau
membangun sebuah perusahaan atau pabrik gitu Kak. Malah
kemarin penebangan pohon itu, hampir, bahkan se-Sumatera
ada kabut asap. Karena dia dibakarnya. Makanya kembali lagi ke
manusianya,” katanya.

Ia menghimbau masyarakat perlu melakukan perubahan


dalam perspektif memandang lingkungan. Menurutnya jika
masyarakat menolak melakukan pembakaran hutan, membuang
sampah pada tempatnya, atau melakukan pola hidup yang
38 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

hemat energi, problem perubahan iklim akan bisa dikendalikan.


“Kalau kebanyakan masyarakat, setiap ada kejadian banjir
apapun menyalahkan pemerintah. Tetapi kan sebaliknya, kalau
masyarakatnya sadar, kalau akar penyebabnya dari membuang
sampah. Tidak harus menyalahkan pemerintah, dari diri kita
sendiri dulu, gitu,” katanya.

Gejala enggan menyalahkan pihak lain dan menganggap


diri sendiri perlu bertanggung jawab terhadap lingkungan
menunjukkan bahwa anak muda masih menganggap
perubahan iklim adalah soal problem gaya hidup, bukan
persoalan sistemik. Sejauh ini solusi yang mereka sampaikan
masih berupa mengganti pola konsumsi yang ada.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh M. Tanggung jawab


perubahan iklim semestinya dikelola seluruh pihak yang terlibat.
Pemerintah, perusahaan, dan masyarakat yang hidup di bumi.
Meski demikian, pemerintah sebagai pemangku kebijakan dirasa
punya kekuatan untuk membuat kebijakan dan menindak mereka
yang melanggar.

“Tanggung jawab bareng-bareng. Bukan sekedar institut


pemerintahan kehutanan. Yang merasa panas kan semuanya.
Yang merasa rugi, semuanya. Kalau banjir kan yang kena bukan
hanya pemerintahan saja. Cuma yang mempunyai tangan lebih
tinggi dalam memperluas poinnya tentu pemerintah,” katanya.

Menariknya skeptisme bahwa masyarakat dan individu adalah


pihak yang paling bertanggung jawab ini terhadap perubahan iklim
yang kami temukan dalam wawancara, sedikit berbeda dari harsil
survei yang dilakukan Yayasan Indonesia Cerah dan change.org.
Dalam survei yang mereka lakukan bersama 8.374 anak muda
di Indonesia diketahui bahwa mereka memiliki solusi terhadap
perubahan iklim. Solusi itu adalah menghentikan penebangan dan
pembakaran hutan dan lahan, mengakhiri ketergantungan energi
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 39

fosil dan mulai dengan Energi Baru Terbarukan (EBT), dan memulai
perilaku hidup ramah lingkungan.

PR, mengungkapkan bahwa sejauh ini kepedulian masyarakat


di sekitar tempatnya tinggal terhadap dampak perubahan
iklim mulai muncul. Meski menyayangkan bahwa kesadaran
itu lahir karena pihak eksternal yang berkampanye, tapi
setidaknya informasi mengenai perubahan iklim sudah banyak
mempengaruhi perilaku masyarakat setempat. PR menyebut
media di Indonesia jarang sekali fokus pada perubahan iklim
dan informasi terkait isu ini sering datang dari organisasi asing
yang fokus pada masalah lingkungan. “Divers connection
mereka mereka fokus ke sampah plastik juga atau nggak
kebanyakan adalah kayak, pokoknya organisasi-organisasi yang
justru dibentuk oleh orang luar ketimbang orang Indonesia
sendiri. Mereka yang lebih aware dengan permasalahan di sini,”
katanya.

Menurut PR, problem terbesar dalam perubahan iklim adalah


mengubah gaya hidup manusia. Ia menganggap bahwa sangat
sulit melarang perusahaan untuk menebang pohon atau memberi
sanksi pada mereka, tapi memberikan pemahaman pada individu
untuk mengurangi sampah plastik masih memungkinkan. “Kita
akan mengurangi penggunaan kantong plastiknya itu, biar nggak
terlalu banyak sampah gitu. Ini secara individu yang paling bisa
dilakuin, pertama sebagai cewek kurangi tampon dan lain-lain.
Terus mau cewek mau cook, kurangin plastik dan lain-lainnya.
Bahan-bahan plastik. Apalagi yang cuma sekali pakai kayak
Tupperware oke lah dia dipakainya setahun 2 tahun. Misalnya gitu.
Tapi kalau misalnya kayak kantong kresek, plastik kemasan itu kan
sekali pakai buang,” katanya.

A, juga merasa skeptis jika problem perubahan iklim bisa


dihentikan secara total. Ia merasa bahwa kondisi saat ini membuat
manusia tergantung pada teknologi yang ada, seperti listrik yang
berasal dari energi batubara. Ketergantungan ini yang membuat
orang Indonesia susah beralih pada solusi-solusi bersih. “Soalnya
hal yang kecil dari kita buang sampah dan matiin lampu di saat
siang hari pun emang ga bisa semua orang serentak lakuin. Itu
40 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

aja sih, emang harus dikurangi aja sih. Karena kalo distop secara
langsung itu susah menuruku sih,” katanya.

Jika seluruh manusia melakukan perubahan perilaku, menurut A


akan ada perbaikan dalam hidup yang berdampak pada perubahan
iklim. Hal sederhana dari perbaikan kualitas udara hingga problem
pengelolaan sampah yang lebih baik. Dalam konteks Bali, sampah
membuat daerah wisata menjadi kotor, dengan memberlakukan
perubahan gaya hidup personal baik pantai atau sungai-sungai di
Bali akan jadi lebih indah.
“Aku ga mungkiri di sekitarku sungai sungai di Bali sendiri istilahnya
tukad itupun banyak sampah sih, dan itu yang arahnya ke pantai
dan kalo pun itu ga ngarah ke pantai dia pasti numpuk di suatu
tempat dan itu bakal bisa bikin banjir sih. Dan itu justru merugikan,
kalo kita bilang manfaatnya ya kita ga bakal kena banjir. Aku lebih
banyak ke sampah sih,” katanya.

AR, seorang climate comunication dari yayasan yang fokus pada


perubahan iklim di Indonesia mengaku senang pada kepedulian
anak muda di Indonesia terkait isu perubahan iklim. Ia menduga
banyak sekali yang peduli dan khawatir terhadap perubahan iklim,
hanya secara langsung tidak mengalami dampaknya. “Sebenernya
perubahan iklim ini melindungi diri kita sendiri, diri saya dan diri
keluarga. Jadi kita memperjuangkan mengurangi perubahan iklim
itu melindungi orang yang kita sayang dan itu yang kalo di beberapa
obrolan “oh iya ya ternyata penting buat kita sendiri dan buat
lingkungan.” Misalnya itu kayak obrolan yang ringan aja sama anak
anak. Jadi personal itu ya pasti,” katanya.

Sementara itu dampak sosial ekonomi dari perubahan iklim


sebenarnya bisa dilihat langsung. Mulai dari musim kemarau
panjang atau kebakaran hutan hanya saja mungkin banyak yang
tidak menyadari jika itu berasal dari perubahan iklim. Ini mengapa
perlu ada pendekatan yang tepat guna di masing-masing daerah.
“Jadi emang harus berbeda cara, berbeda budaya bagaimana kita
berkomunikasi. Kalo dengan masyarakat adat yang ada di hutan
mereka akan tau itu akan terasa banget,” katanya.
ANAK MUDA INI MASIH MENGANGGAP

PEMERINTAH PUNYA PERAN DAN

BUKAN PIHAK YANG PUNYA ANDIL

DALAM PERUBAHAN IKLIM. TIDAK

HANYA ITU MEREKA JUGA BERSEPAKAT

BAHWA TANGGUNG JAWAB UTAMA

ADALAH PADA INDIVIDU, BUKAN

PADA KORPORASI YANG MEMBAKAR

HUTAN UNTUK LADANG SAWIT ATAU

PEMERINTAH YANG MEMBERIKAN

IJIN PERUBAHAN FUNGSI LAHAN.

SEJAUH INI SOLUSI MEREKA LEBIH

KE PERUBAHAN GAYA HIDUP BUKAN

KEBIJAKAN RADIKAL TERKAIT

MENGHUKUM PERUSAHAAN PERUSAK

EKOSISTEM.
42 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

Penyangkalan Terhadap Perubahan Iklim


Profesor Mike Rogerson, dosen senior Earth System Science dari
University of Hull membuat panduan lugas dan singkat bagaimana
cara menjelaskan perubahan iklim bagi para penyangkal. Klaim
seperti perubahan iklim adalah siklus natural yang tak perlu
dikhawatirkan jelas sangat berbahaya. Banyak orang yang
menganggap bahwa apa yang terjadi di bumi saat ini adalah hal
yang wajar, sesuatu yang tak perlu dibikin besar. Memang benar
ada siklus alami dari cuaca, tapi kondisi perubahan iklim yang
terjadi saat ini bukan dari siklus alami tersebut. Menurut Profesor
Mike, banyak penyangkal perubahan iklim menggunakan lukisan
abad ke-17 dari Belanda yang menggambarkan zaman es, untuk
membuktikan bahwa suhu zaman terus berubah dan tak ada
hubungannya dengan gaya hidup manusia.

Profesor Mike Rogerson membantah ini, perubahan yang terjadi di


bumi 40 tahun terakhir terlalu besar dan terlalu cepat. Siklus cuaca
yang terjadi saat ini berkembang terlalu cepat dan tak terprediksi.
Jika dulu musim bisa ditebak dan diprediksi secara berkala, seperti
di Indonesia panjang musim kemarau dan musim penghujan, kini
tak bisa diperkirakan. Kita bisa mengalami delapan bulan musim
panas dan empat bulan musim penghujan atau volume hujan yang
luar biasa. “Musim salju yang dingin di amerika tak mengubah
perubahan iklim. Apakah kalian melihat bagaimana perubahan
cuaca yanga da di Asia pada saat yang sama? Kita Harus melihat
siklus cuaca dan musim dalam skala global dan waktu yang lebih
panjang daripada sekedar dua tahun terakhir,” katanya.

Menurut Profesor Mike Rogerson perubahan cuaca dan suhu di


bumi mengalami kenaikan yang signifikan. Sejak 1910 hingga 2010
temperatur permukaan bumi di seluruh dunia terus menerus naik.
Lalu bagaimana pendapat anak muda di Indonesia terhadap para
penyangkal perubahan iklim? N, menyebut bahwa para penyangkal
perubahan iklim ini bebal dan abai pada lingkungan sekitar.
“Gimana ya kaya suka kesel kalo ada yang suka ngomong tentang
kaya gitu sama halnya kaya kalo ada yang ngomong kaya ‘bumi itu
datar’ itu kaya udah kesel banget, kaya “shut your mouth, have some
milk” gitu “have some milk”.” katanya.
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 43

Amarah ini datang karena para penyangkal perubahan iklim mungkin


tak merasakan langsung bagaimana dampak perubahan iklim.
Seperti naiknya permukaan air laut yang mengancam tempat tinggal,
suhu yang makin panas dan merusak hasil hasil bumi, cuaca yang
tak terprediksi membuat panen berantakan, atau mencairnya es di
kutub yang membuat ekosistem hewan lokal menjadi terganggu.
“Kaya kesel soalnya kok kalian kaya ngga ngerasain sendiri gitu kah?
Aku aja mungkin ngga secara langsung ngeliat polar bear tersebut.
Kaya kesepian di tengah-tengah glacier es gitu. Ya aku juga ngga
pernah lihat (langsung). Cuma emang kalian ngga merasakan gitu
semakin hari semakin panas udaranya,” kata N.

N menduga bahwa ada realitas yang berjarak antara penyangkal


perubahan iklim dan lingkungan ia tinggal. Ia mencontohkan banyak
dari orang-orang yang tinggal di kota harus pergi ke desa atau
pegunungan untuk mencari udara segar. Ia juga mencontohkan
bagaimana lingkungan tempat tinggalnya yang dulunya asri kini
menjadi terik dan sangat panas. Salah satu problem mengapa
banyak penyangkal perubahan iklim diduga karena pengetahuan
ini tidak masuk dalam kurikulim pendidikan. Meski demikan
pemerintah Indonesia sudah berusaha untuk memperkenalkan isu
perubahan iklim setidaknya sejak 10 tahun terakhir.

Pada Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia 22 Mei lalu, Menteri


Pendidikan Indonesia membahas tentang pentingnya percaya
terhadap ilmuan dalam krisis. Ia membahas bagaimana Wabah
corona saat ini harus jadi momentum untuk mengembalikan
otoritas keilmuan pada ahlinya.”Salah satu kesadaran kita adalah
kita melalui suatu krisis yang sudah diprediksi, tapi kita tidak
mendengarkan sebagai dunia, kita tidak mendengarkan saintis.
Marilah kita gunakan, kita belajar dari Covid,” katanya seperti dikutip
dari akun resmi Instagram Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga
Kependidikan (Ditjen GTK).

Masalah manusia ke depan, menurut Menteri Nadiem, banyak


hal yang bisa dipelajari dari wabah ini. Tidak hanya kita sangat
rentan dan rapuh dihadapan wabah, tapi juga dampak perubahan
iklim. “Jadi harapan saya, ya udah kita kapok dengan Covid-19,
sehingga kita sadar bahwa perubahan iklim harus kita tekel
44 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

sebagai spesies manusia secara serentak sekarang, enggak bisa


ditunda lagi,” ungkap Mendikbud. Upaya untuk membendung
penyangkalan ini tentu butuh kerja keras dari seluruh pihak terkait.
Seperti pemerintah melalui kementrian pendidikan atau kementrian
lingkungan hidup, media dan jurnalis, juga lembaga non pemerintah
yang fokus pada isu perubahan iklim.

AR, menyebut bahwa saat ini materi perubahan iklim telah ada
dalam mata pelajaran meski tak banyak. “Di pelajaran sekarang
dan aku lagi banyak ngebaca soal anak SD, ada beberapa materi
yang udah dimasukan tidak seperti 10 tahun yang lalu atau waktu
jaman saya SD, berapa puluh tahun lalu,” katanya.

Meski demikian kurikulum yang ada masih fokus pada perubahan


cuaca dan belum membahas perubahan iklim sebagai dampak
perilaku hidup manusia. Sejauh ini contoh penyebab perubahan
iklim dalam kurikulum hanya sebatas es di kutub mencair atau gas
rumah kaca. Sementara jika ditanya mengenai keterkaitan antara
kebakaran hutan dan perubahan iklim kebanyakan anak SD dan
SMP di Indonesia masih belum bisa menjelaskan. Ini mengapa
perdebatan tentang apakah perubahan iklim benar-benar terjadi
atau tidak di media sosial bisa sangat keras.

H, yang tinggal di Jakarta sangat meyakini proses perubahan iklim


sedang terjadi dan makin memburuk. “Lah yakin banget. Kayak
mulai daerah kekeringan udah banyak. Terus juga yang paling
terasa kayaknya daerah Asia Selatan, Nepal, Bangladesh yang
berhubungan sama Everet langsung. Dan di daerah sana yang
sering di film-in, film film dokumenter, Indonesia malah jarang
kayaknya,” katanya.

Lebih lanjut H meyakini bahwa perubahan iklim tidak dilebih-


lebihkan. Meski demikian ia mencatat ada hal-hal non saintifik yang
mempengaruhi keyakinan seseorang. Seperti ajaran agama tentang
hari kiamat. Ia sendiri terlihat tidak ajeg dan meragukan pendapat
sendiri terkait perubahan iklim.

“Dilebih-lebihkan sih nggak sih ya, mungkin ada beberapa yang


kayak misalnya kiamat sebentar lagi. Saya bilang nakut nakutin
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 45

ke climate change sih. Cuma kan ga tau nih biasanya kan para
ahli udah meramalkan kiamat beberapa tahun kemudian kan,”
katanya.

L, praktisi komunikasi perubahan iklim, menyebut saat tugas para


praktisi komunikasi dan pendidik untuk mengajarkan anak muda
Indonesia terkait perubahan iklim. Tidak hanya menjelaskan hal
teknis seperti apa itu gas rumah kaca atau pencairan es kutub,
tapi juga sumber-sumber penyokong perubahan iklim yang
berasal dari manusia. Menurutnya sejauh ini media hanya bekerja
sebagai penyampai berita tanpa mau Lebih lanjut menjelaskan apa
penyebab banjir atau kemarau berkepanjangan. Ia berharap ada
pihak yang bisa menjelaskan keterkaitan antara pembakaran hutan
dengan naiknya suhu di sekitar lingkungan mereka tinggal, jadi
orang bisa lebih peduli dan paham terhadap sekitarnya.

“Plastik masih bisa diliat gampang, sedangkan gas rumah kaca


dipegang ga bisa, warnanya ga ada, baunya juga ga berbau
kecuali metana dan lain lain, ya. Cuma ya itu agak susah
untuk mempersepsikan resikonya ketika mereka tidak bisa
menghubungkan antata kejadian yang ada dengan perubahan
iklim dan ini sebenernya sudah cukup oke meskipun masih tentang
panas dan hujan belum sampe yang ke sosio-economic sepertinya
kan,” katanya.

Sejauh ini anak muda di Indonesia masih menganggap bahwa


lembaga non pemerintah yang fokus pada isu lingkungan sebagai
pihak paling otoritatif dalam isu perubahan iklim. N, misalnya
merasa bahwa pemerintah perlu bekerja keras untuk meraih
kepercayaan publik. “Selama dikasih bukti kaya science evidence
based percaya sih, walaupun kaya emang semua informasi yang
kita dapat harus di-double check atau cross check. Being a little bit
skeptical about it is actually a good thing, biar ngga dibodoh-bodohin.
Apalagi kalo urusannya sama pemerintah. Jangan tiba-tiba keluar
kebijakan begitu aja gitu,” katanya.

Sikap skeptis ini terjadi menurut N, karena selama ini pemerintah


punya rekam jejak buruk terhadap pengelolaan hutan, penindakan
perusahaan yang merusak alam, dan kerap kali tak tegas dalam
46 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

menindak. “Itu pasti kita harus skeptis lah setidaknya karena mau
ngga mau pasti kaya apalagi gitu ya apalagi melibatkan uang.
Pasti disalahgunakan sama pihak pemerintah segala macem,”
katanya.

NF, mantan konsultan UN yang kini berkecimpung di Start Up


energi, menyebutkan kurangnya pendidikan dan akses informasi
membuat muda di Indonesia tak mampu menarik keterkaitan
antara perubahan iklim dan lingkungan sekitarnya. “Anak anak
muda bahkan semua orang kita take it for granted ya lampunya
nyala sepanjang malam tapi ga pernah tau lampunya dapat
darimana. Orang bali mungkin ga tau kalo mereka 99% energinya
datang dari jawa, dari PLTU kalo kita liat sebenernya efisiensinya
energinya dibawa dari jawa, PLTU nya di utara dipakenya
kebanyakan di selatan itu abis sepanjang jalan,” katanya.

A, menyebut ia sangat skeptis dengan komitmen pemerintah


terhadap perubahan iklim. Menurutnya dalam konteks Bali,
pemerintah hanya berusaha melakukan rehabilitasi kosmetik
bukan melakukan edukasi yang layak. “Kalo bener bener langsung
mengarah ke sana (perubahan iklim) ga ada sih, hal hal yang kayak
taman hijau di daerah perkotaan itu sih ada beberapa. Tapi ujung
ujung untuk mempercantik daerah kota untuk menarik wisatawan,
ya tau kan Bali sendiri,” katanya.

Menurut A, pemerintah pusat dan daerah tak punya keinginan dan


tendensi menyelamatkan lingkungan di Bali. aku ga langsung bilang
kayak gitu sih yang menurutku kayak gitu. Ia mencontohkan polemik
Teluk Benoa, di mana masyarakat adat Bali menolak pembangunan
resort karena merusak ekosistem lingkungan yang ada. A merasa
perbincangan mengenai lingkungan dan perubahan iklim bisa
sangat sensitif. “Soalnya hal hal kayak yang heboh di Teluk Benoa
yang reklamasi itu. Hal hal kayak gitu kan sebenernya dua sisi ya,
dari lingkungan dan pariwisata itu juga jadi polemik di Bali sih. Jadi
sempat bener bener riskan kalo kita bahas hal hal itu,” katanya.

Di sisi lain A juga meragukan peran aktivis dan lembaga non


pemerintah yang dianggapnya pragmatis. Ia menganggap
lembaga-lembaga perlu jujur terhadap tujuan mereka. Ia lebih
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 47

percaya pada kemampuan individu dalam pengelolaan problem


lingkungan. A justru merasa pemerintah perlu bertindak lebih
tegas dalam problem penanganan lingkungan. Sejauh ini sebagai
warga negara, ia lebih berharap pemerintah punya sikap yang jelas
terhadap perubahan iklim dan tidak mengandalkan aktivis atau
lembaga non pemerintah.

“Karena seumpama ada kan tuh bedanya taman nasional, cagar


alam, dan bedanya kawasan konservasi kayak gitu. Kan dari hal
diubahnya taman nasional dan cagar alam menjadi tempat yang
bisa dikunjungi itu kan dari cagar alam ke apa namanya yang bener
bener ga boleh dimasuki itu lupa aku namanya, dari hal hal kayak
gitu kan pemerintah yang punya aturan,” katanya.

M sangat meyakini bahwa saat ini sudah banyak bukti bahwa


perubahan iklim sedang terjadi “(terbukti dari) fenomena, bukan
fenomena, perubahan iklim di tempat-tempat yang sudah terjadilah,”
katanya. Tetapi meski perubahan iklim terjadi, masyarakat tak perlu
melebih-lebihkan keadaan atau ketakutan tanpa alasan. “Contohnya
kalau tidak diperbaiki menjelang ini, kita akan mati kena panas
matahari. Kena ultraviolet-nya matahari. Jadi, langsung keluar pintu
langsung mati di tempat itu,” katanya.

Dualisme sikap terhadap perubahan iklim di kalangan anak


muda ini bisa jadi lampu kuning. Mereka meyakini perubahan
iklim sedang terjadi, tapi tak menganggap keadaan yang
terjadi saat ini dalam kondisi yang darurat atau mengancam.
Hal ini bisa jadi karena mereka berjarak dengan informasi
yang ada atau kurang menganggap isu perubahan iklim
sebagai hal yang prioritas.

Sikap-Sikap Personal Terhadap Perubahan Iklim


Waterworld merupakan gambaran muram tentang masa depan.
Saat seluruh es di kedua kutub mencair, permukaan air naik dan
seluruh dunia tenggelam dalam laut. Film ini dianggap salah satu
48 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

gambaran paling menakutkan dari dampak perubahan iklim. Ia


dikritik karena menyebarkan ketakutan, bahwa manusia kelak
akan menerima konsekuensi atas kebebalan mereka sendiri. Kini
bertahun-tahun setelah filim itu rilis, dunia masih ada, tapi apakah
ancaman tenggelamnya daratan akan terjadi?

Pada 2018 BBC menurunkan laporan tentang Jakarta sebagai


kota yang paling cepat tenggelam. Pernyataan ini berdasarkan
riset yang dilakukan oleh peneliti geodesi dan geomatika dari
Institut Teknologi Bandung (ITB) Heri Andreas, ia mengungkapkan
berdasarkan model yang ia pelajari, 95% Jakarta Utara akan
tenggelam pada 2050. Data ini juga diperkuat oleh data satelit yang
dikumpulkan selama 20 tahun oleh ITB, penurunan permukaan air
laut di perairan Indonesia diperkiraan sekitar 3 - 8 mm per tahun.

Sementara, estimasi penurunan permukaan tanah diperkirakan lebih


drastis, berkisar antara 1-10 cm per tahun. Bahkan, di beberapa
tempat, penurunannya mencapai 15-20 cm per tahun. “Ketika
lautnya lagi surut, mungkin ini lebih tinggi dari lautnya, tapi nanti
suatu saat karena ini turun terus. Pada akhirnya ketika laut normal
juga akan banjir dan bahkan akan permanen, akan tergenang terus,”
jelas Heri. Data-data yang ada saat ini memang menunjukkan bahwa
bumi yang kita tempati ini perlahan kehilangan daya dukungnya.
Dengan segala ketakutan dan muramnya data terkait perubahan
iklim, apa yang dirasakan oleh anak muda Indonesia terkait isu ini?
Dalam survei yang dilakukan oleh Yayasan Indonesia Cerah dan
Change.org Indonesia dan melibatkan 8.374 orang yang tersebar
di total 34 Provinsi di Indonesia, tentang perubahan iklim, diketahui
bahwa sebesar 89% merasa sangat khawatir atau khawatir
dengan dampak-dampak krisis iklim. Mayoritas dari mereka (59%)
merasa sangat khawatir dan menganggap krisis iklim sebagai
salah satu tantangan terbesar generasi ini. 30% lainnya merasa
khawatir dan melihat krisis iklim sebagai sebuah masalah yang
serius.

Survei itu menjelaskan bahwa yang paling dikhawatirkan dari isu


perubahan iklim ini adalah krisis air bersih (15%), krisis pangan
(13%), dan penyebaran penyakit atau wabah (10%). 19 dari 20
orang responden percaya bahwa manusia memiliki andil dalam
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 49

menyebabkan krisis iklim. Ketiga dampak ini sangat nyata dan


telah terjadi di Indonesia. Sementara itu dampak jangka panjang
dari perubahan iklim adalah krisis ekonomi global karena hasil
panen yang sedikit, kekeringan dan kebakaran hutan yang
berujung pada buruknya mutu udara, konflik antar manusia dan
perang untuk berebut sumber daya, dan gelombang panas yang
mematikan masing-masing sebesar 7%. Adapun yang khawatir
akan kepunahan manusia sebesar 4%.

Menariknya anak muda di Indonesia merasa tidak takut terhadap


badai, angin topan, atau banjir bandang. Rendahnya ketakutan atau
kekhawatiran publik dapat mengindikasikan kurangnya pemahaman
publik dengan korelasi antara banjir, badai, dan angin topan dan
krisis iklim. Meski demikian berdasar survei Yayasan Indonesia
Cerah dan Change.org Indonesia lebih dari separuh peserta survei
percaya manusia penyebab utama perubahan iklim.

Bukit Duri, Jakarta, 2020. ©Bhagavad Sambadha/Tirto.id


50 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

Hal serupa juga selaras dengan data di tingkat global. Berdasarkan hasil
survei yang dirilis pada Mei tahun lalu, YouGov-Cambridge Globalism
Project menemukan, sepertiga dari 25.325 responden, meyakini
manusia adalah penyebab dominan berbagai kerusakan lingkungan
parah di muka bumi, sehingga harus ada kebijakan perubahan pola
konsumsi dan produksi kita agar situasi planet kita membaik.
H, mengaku sangat sedih melihat dampak perubahan iklim. Ia
merasa bahwa saat ini banyak asyarakat pesisir yang tinggal di
tepi pantai harus mengungsi karena rumahnya terendam. Ia juga
menyoriti permukaan tanah yang semakin turun. Rasa sedih itu
belakangan berganti menjadi ketakutan. Ketakutan ini lebih kepada
bencana seperti tanah longsor atau banjir bandang. “Apalagi
hujan sampe 3-4 hari ga berhenti pasti tamat kali ya riwayat
manusia. Apalagi kalo denger cerita Krakatau dulu meledak tiba
tiba berdampak ke eropa sampe mengakibatkan kelaparan, musim
dingin yang tambah panjang kan juga ngeri juga,” katanya.

Meski demikian ketakutan itu menurut H seolah menjadi hal yang


biasa. Ia sendiri kini beradaptasi dengan banjir yang kerap terjadi,
selama tidak sampai menghanyutkan atau merusak rumah, H
mengaku tak cemas. Ia pernah mengalami banjir selama seminggu
lantas mengungsi dan tetap menerimanya sebagai kejadian yang
wajar. Ia sendiri lebih khawatir pada perubahan suhu secara
ekstrim yang banyak terjadi di Eropa dan Australia.

“Mungkin kawatir ada ya cuma belum sampe tahap super


kawatir sih, mungkin karena Jakarta masih belum terkena
banget ya. Beda sama masyarakat Australia yang terkena
gelombang panas tiap tahun mungkin mereka khawatir ya.
Mungkin kalo di Jakarta kayaknya gak begitu dan kayaknya
masyarakat Jakarta udah berdamai dengan banjir jadi biasa
aja,” katanya.
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 51

PR, mengaku cukup takut dengan dampak dari perubahan iklim.


Ia merasa perlu ada tindakan segera terkait perlindungan alam.
PR menganggap Bahwa pandemi Covid awalnya dianggap bisa
membantu alam, karena aktivitas produksi berkurang, pabrik
ditutup, kendaraan terbatas, tapi dampak lainnya adalah sampah
domestik dari makanan yang dipesan. “Gofood makin banyak
plastik-plastik makin banyak, mungkin kayak tempat-tempat hutan
atau alam-alam, outdoor karena jarang dikunjungi sama orang-
orang, mereka akan regenerasi lah gitu. Tapi kayak perkotaan kan
malah tambah ancur karena sampah akan banyak,”

PR menganggap bahwa saat ini banyak orang yang fokus pada


wabah dan agaknya melupakan bahwa perubahan iklim tetap terjadi.
Ia masih menganggap bahwa orang hanya sekedar beraktivitas di
rumah, tapi tidak mengubah perilaku dan konsumsinya. “Limbah
rumah tangga makin banyak. Gitu sih yang bikin makin takut masalah
si climate change ini. Kita nggak tahu dampaknya kalau misalnya
program work from home ini akan diabadikan, akan seperti apa gitu.
Karena kan, akan ada perubahan yang sangat besar,” katanya.

N, merasa bahwa perubahan iklim membuat masa depan terasa


muram. Ia merasa bahwa isu ini membuat dia merasa cemas.
“Kaya ngga ada tuh “wow climate change is happening, let’s celebrate.
Let’s open up champagne.” Ngga kan gitu. Semua pasti mengarah
ke negatif. Kaya (lebih ke) we’re all gonna die, nanti suhunya makin
tinggi ntar kita bakal tenggelam,” katanya.

Bagi N membahas perubahan iklim berpengaruh kepada kesehatan


mentalnya. Kekhawatiran yang terhadap perubahan iklim membuat ia
cemas, bagaimana jika nanti dampaknya akan semakin parah dan terjadi
dalam waktu dekat. N masih ingin menjalani hidup dan melakukan
banyak hal di dunia. “Kalo takut ngga juga sih. Kaya it will eventually
happen. Kaya kiamat aja, itu bakal terjadi suatu hari. Cuma yang bikin
khawatir kalo terjadinya dalam waktu dekat itu gimana,” katanya.

M, menyebut bahwa bumi adalah satu-satunya tempat tinggal


manusia. Tak ada lagi planet yang bisa dihuni dalam waktu dekat,
maka perlu ada perubahan segera untuk mencegah dampak buruk
perubahan iklim. M merasa ketakutan akan perubahan iklim adalah
52 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

hal yang normal, ini akan memicu manusia


untuk mencari solusi dan melakukan perbaikan.
“Normalnya memang harus ada rasa takut kalau
tempat tinggalnya bakal nggak ada lagi. Ya,
mungkin, dia percaya, Ah aku kan bisa pindah ke
tempat mana biar nggak global warming. Padahal
global warming tetap ada,” katanya.

L, seorang praktisi komunikasi yang fokus pada


isu perubahan iklim, merasa bahwa ia nyaris
putus asa dalam usaha mengembangkan
kesadaran perubahan iklim. Mendorong manusia
untuk mencegah keadaan jadi lebih buruk sangat
susah, apalagi menghentikan laju perubahan iklim
yang ada. “What we can yang itu ya diperlambat.
And one of my friend stopping about that, dia my
good friend dari ]Surabaya. You’re fighting losing
battle, you’ll just burned. You know?”

Perasaan ini bukan cuma ada di kalangan aktivis,


tapi juga orang-orang biasa yang terpapar isu
perubahan iklim. Melihat data, melihat regulasi,
melihat pola konsumsi manusia, memang sangat
mungkin membuat kita patah arang dan ingin
menyerah. Itu mengapa perlu ada perubahan
pola pikir dan pola komunikasi agar isu ini lebih
berkembang. “It’s communication emergency is a
political problem,” katanya.

Sikap sebagian Anak muda yang meng­ anggap bencana


seperti banjir atau asap akibat kebarakan hutan adalah ru­
tinitas punya konsekuensi serius. Me­reka akan toleran dan
menerima bah­ wa keadaan memang buruk dan tak perlu
diubah.
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 53

Aksi Greenpeace. ©Andrey Gromico/Tirto.id

Hal ini makin diperparah de­ngan sikap apolitis di mana


mereka tak percaya partai politik, menganggap tu­ gas
menjaga lingkungan hanya pada pe­ me­
rintah tanpa ada
edukasi memadai ter­hadap penyebab perubahan iklim.
02
Personal
dan Political

Derajat Kepercayaan Terhadap Perubahan Iklim


Penyangkalan merupakan salah satu problem penting dari
perubahan iklim yang mesti diatasi. Dalam laporan yang disusun
oleh David Hall, Senior Researcher in Politics, Auckland University
of Technology, disebutkan bahwa penyangkalan ini terjadi karena
mengakui adanya perubahan iklim berarti kita perlu mengakui
bahwa manusia adalah sumber masalah. Penyangkalan terhadap
perubahan iklim membuat manusia mendorong manusia untuk
mengakui bahwa gaya hidup yang ada saat ini tidak ramah
lingkungan. Sementara untuk menyelamatkannya perlu mengubah
perilaku manusia dan ini mengancam kenyamanan hidup yang
telah ada (The Conversaion-2019).

Di Bali, PR, seorang guide dive menyebut bahwa penyangkalan


problem perubahan iklim terjadi akibat banyak orang yang berjarak
dengan realita yang terjadi. Orang-orang ini, menurut PR, belum
merasakan langsung meningkatnya suhu cuaca, perubahan
musim yang ekstrim, hingga bencana alam. Menurutnya saat
ini perubahan iklim benar-benar terjadi dan sangat mengancam.
“Ini emang udah cukup parah gitu. Cuman karena kebanyakan
orang mereka kurang main di luar. Kebanyakan mainnya di dalam
ruangan Jadi mereka nggak merasakan banget,” katanya.

Realitas perubahan iklim sangat terasa bagi mereka yang bekerja


di daerah-daerah terpencil dan langsung berinteraksi dengan alam.
PR sebagai penyelam merasakan langsung perubahan suhu laut
di tempat ia tinggal. ”Tapi buat kita para diver yang tinggal di pulau
kecil, yang setiap hari kita jarang pakai sendal, cuman nyeker aja,
yang setiap pagi kita bangun pagi, matahari belum terbit kita udah
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 55

angkat tengki ke kapal, dari kapal, bisa dibilang pekerjaannya 90%


ya di luar ruangan di laut, jadi tuh berasa banget. Kayak perubahan
suhu di dalam air 1/2 derajat pun berasa banget,” katanya.

PR juga menyebut mereka yang tak percaya pada perubahan


iklim semestinya perlu mencari tahu lebih banyak. Bukan hanya
diam, ia merasa ada jarak antara realitas yang ada dengan
orang kebanyakan di kota besar. “Dan untuk orang-orang yang
menganggap kalau si climate change itu bukan hal yang penting itu
ya kayak mereka jarak aja main ke alam. Dan kalaupun mereka main
ke alam, travel paling berapa hari sih? Sehari dua hari gitu melihat
pantai pas lagi bagus-bagusnya kan. Tapi mereka nggak ngerasain
erubahannya kayak gimana. Kayak gitu tapi buat yang tinggal di
pulau ngerasain tiap hari berasa banget perubahannya,” katanya.

H, anak muda yang bekerja sebagai aparatur sipil negara


asal Jakarta, mengaku dari skala 1-10, menganggap saat ini
problem perubahan iklim sangat mendesak. “10 lah yakin banget
(perubahan iklim terjadi). Kayak mulai daerah kekeringan udah
banyak. Terus juga yang paling terasa kayaknya daerah Asia
Selatan, Nepal, Banglades yang berhubungan sama Everest
langsung. Dan di daerah sana yang sering di film-in, film film
dokumenter, indonesia malah jarang kayaknya,” katanya.

Selain itu ia juga percaya problem perubahan iklim ini tidak dilebih-
lebihkan. Hanya saja persepsi A perubahan iklim adalah persoalan
saintifik dan bukan takdir atau peristiwa keagamaan. “Dilebih
lebihkan sih nggak sih ya, mungkin ada beberapa yang kayak
misalnya kiamat sebentar lagi. Saya bilang nakut nakutin ke climate
change sih. Cuma kan ga tau nih biasanya kan para ahli udah
meramalkan kiamat beberapa tahun kemudian kan,” katanya.

Meski demikian ia juga punya kekawatiran terhadap kondisi iklim


saat ini yang menurutnya terus memburuk. Ia tak ingin mewariskan
problem ke generasi berikutya. “Dengan ramalan ramalannya takut
juga sih jadinya. Kayak bumi bertahan 300 atau 500 tahun lagi ya
udah meninggal, masalah generasi sana dong. Jahatnya kan gitu,”
kata A.
56 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

Melihat respon ini, bisa dilihat mereka menganggap bahwa


dampak perubahan iklim sebagai sesuatu yang jauh, bukan
hal yang dekat. Mereka mencontohkan negara-negara
di asia tengah atau kutub utara, hanya satu orang yang
menyadari bahwa banjir yang ada di sekitarnya merupakan
contoh nyata perubahan iklim.

L, seorang praktisi komunikasi dalam isu perubahan iklim


menyebut, ada problem komunikasi dalam isu perubahan iklim.
Menurutnya di kalangan anak muda masih terjebak dalam upaya
memilah mana yang hoax dan mana yang tidak. Selain itu isu
perubahan iklim kerap dianggap sebagai tema berat yang rumit.
“Climate change is important issue but it’s not interesting. Nah kadang
orang orang itu suka sesuatu yang interesting walaupun itu ga
important. Nah gimana caranya kita buat sesuatu yang important
ini interesting itu yang masih kesulitan kan kita,” katanya.

Ini mengapa perlu ada pemanfaatan media sosial yang tepat. L


merasa ada orang-orang yang tak kompeten bicara dan akhirnya
melahirkan keraguan. Keraguan ini menyebar dan bisa sangat
berbahaya. Media sosial memberikan ruang bagi siapa saja untuk
bicara, kita bisa saja menemukan banyak tulisan atau video yang
mengatakan perubahan iklim itu hoax, tapi tanpa sumber kredibel
dan tidak melakukan verifikasi. “Which is kalo social media kan tanpa
batas ya akhirnya yang dari US mereka akhirnya dapat semuanya
and then that’s way they think climate change is, it’s controversy. so that
worried it’s me actually. Karena pengetahuan belum dalam tapi udah
dikasih gitu “climate change itu hoax,” katanya.

RT, asal Siak, percaya bahwa perubahan iklim telah terjadi dan
merasa fenomena-fenomenanya bisa dirasakan secara langsung.
Meski demikian ia merasa ada pernyataan terkait perubahan
iklim yang dibesar-besarkan dan berujung menjadi ancaman dan
mempromosikan rasa takut. ”Contohnya kalau tidak diperbaiki
menjelang ini, kita akan mati kena panas matahari. Kena ultraviolet-
nya matahari. Jadi, langsung keluar pintu langsung mati di tempat
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 57

itu,” katanya. Tapi ia memahami kenapa ada pemikiran semacam


itu. “Lebay. Cuma mereka nggak salah, gitu. Kalau ozon menipis
terus, ada waktunya akan begitu,” katanya.

I, yang bekerja di lembaga pemerintah yang fokus pada lingkungan,


menyebut bahwa pemerintah telah berusaha untuk mendidik
masyarakat terkait perubahan iklim. Komitmen ini ditunjukkan
dengan adanya lembaga Ditjen PPI Pencegahan Perubahan Iklim.
Usaha ini dilakukan di berbagai kalangan mulai dari anak-anak
sampai orang dewasa.

“KLHK membina Satuan Karya kayak Pramuka. Digelar


perkemahan Satuan Karya Wanabakti yang anggotanya orang
muda. Mereka diedukasi tentang perlindungan SDA, penegakan
hukum, penggunaan drone untuk mengawasi SDA, dan bagaimana
KLHK bermitra dengan masyarakat,” katanya.

D, dari SKK Migas, menyebut bahwa mereka yang tak percaya pada
perubahan iklim karena tak secara langsung mengalaminya. “Kita
akan tahu, kita akan percaya, kalau sudah merasakannya secara
langsung. Misalnya orang-orang yang terdampak banjir,” katanya.

Meski demikian mereka yang mengalami juga tak akan


secara langsung bisa mengaitkan perubahan iklim dengan
bencana yang dialami. Ia menganggap bahwa komunikasi
publik merupakan satu tantangan tersendiri bagi pemerintah.

“Mungkin banyak yang sudah dilakukan pemerintah, tapi karena


mereka tidak punya budget yang besar untuk mensosialisasikannya,
atau bingung bagaimana caranya mengkomunikasikannya
dengan masyarakat, sehingga terobosan-terobosan itu tadi tidak
terkomunikasikan dengan masyarakat. Jadi efeknya kepada sikap
skeptis (terhadap perubahan iklim) tadi,” katanya.
DI SINI KITA BISA MELIHAT BAHWA

AKTIVIS DAN PELAKU INDUSTRI

SEBENARNYA PUNYA CONCERN YANG

SAMA TERKAIT KEYAKINAN TERHADAP

PERUBAHAN IKLIM. SEMENTARA

PEMERINTAH MASIH BERKUTAT PADA

ISU PENEGAHAN DAN MENGAWASAN

TANPA MELAKUKAN PENINDAKAN

SERIUS PADA PERUSAHAAN YANG

AMBIL BAGIAN DALAM PERCEPATAN

PERUBAHAN IKLIM.
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 59

Sikap Anak Muda terhadap Politik


dan Perubahan Iklim

Apa hubungan antara politik dan perubahan iklim? Dalam sebuah


pidatonya, Presiden Barack Obama menyebut bahwa mengatasi
persoalan krisis iklim adalah tanggung jawab Amerika. Hal ini
karena negara itu merupakan negara dengan aktifitas ekonomi
terbesar di dunia dan penyumbang karbon kedua tertinggi di
dunia. Menurut Obama, tanpa ada kepedulian politik terhadap isu
iklim, akan berujung pada kerusakan alam. Ini melahirkan disrupsi
politik akibat hilangnya sumber daya, memicu konflik untuk
memenuhi kebutuhan, dan hancurnya peradaban karena perang.
(WEForum-2015)

Lalu bagaimana dengan anak muda di Indonesia? Apakah mereka


memiliki pemahaman bahwa kebijakan atau partisipasi politik
punya dampak terhadap perubahan iklim? Dalam wawancara yang
dilakukan Climate Institute dan Cothink Research, enam anak
muda di Indonesia menyampaikan pendapat mereka terkait isu ini.
PR, menyebutkan pemerintah punya peran besar dalam kebijakan
politik terkait perubahan iklim. Ia menganggap saat ini masih
sedikit peraturan yang bisa melindungi lingkungan, terutama laut,
dari kerusakan alam karena perilaku manusia.

PR berpendapat, jika ada regulasi, pemerintah akan terdorong


untuk melakukan penyuluhan dan edukasi terhadap masyarakat.

Isometric Global Warming © naulicrea/Envato


60 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

“Jadi kalau dari pemerintah itu penting banget sih. Apalagi


kalau udah ada regulasi (perubahan iklim). Karena kalau
sebelum-sebelumnya nggak ada regulasi, orang juga orang
nggak akan kepikiran ke situ. Kayak, buat apaan sih dibikin
regulasi (terkait perubahan iklin) kayak gini? Akhirnya orang
kan jadi cari tahu. Oh ternyata kayak gini. Untungnya begini
(menghentikan laju perubahan iklim), jadi penting sih peran
pemerintah penting banget,” katanya.

Meski demikian PR merasa bahwa problem perubahan iklim


semestinya jadi prioritas bersama dan berjalan dua arah. Baik
pemerintah maupun masyarakat punya tanggung jawab masing-
masing. PR merasa bahwa bumi yang ada saat ini adalah satu-
satunya planet yang bisa dihuni oleh manusia, tidak ada planet
cadangan. Jika rusak dan tak diselamatkan maka manusia bisa
menderita. Ia mencontohkan pentingnya kebijakan politik yang
jelas terkait perubahan iklim. “Mungkin orang Indonesia udah
merasa ini rumah mereka. Apa adanya seperti ini, tapi adanya
orang luar tuh melihatnya ini tuh tempat wisata. Sayang kalau
tempat sebagus ini tiba-tiba dikotori sama sampah-sampah plastik
kayak gitu kan,” katanya.

PR mencontohkan regulasi di Bali yang ketat dan disertai


hukuman yang jelas. Regulasi ini membuat warga patuh dan
mengurangi timbunan sampah yang ada. “Sanksi harus sih,
penting banget. Dan di Bali itu aku senangnya, karena di sini
polisinya ada dua. Polisi adat sama polisi negara. Dan polisi adat
di sini jauh lebih ditakuti gitu,” katanya. Meski demikian ia belum
melihat adanya partai politik yang menjadikan isu lingkungan atau
perubahan iklim sebagai kampanye utama mereka. Menurutnya
kesadaran politik di Indonesia hanya terbatas pada pemilu dan
tak memikirkan kebijakan jangka panjang. “Kalau partai-partai
politik sih kayaknya nggak ada deh. Kayaknya pemilihan baru mau
kapan,” katanya.
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 61

Sementara itu N, mengatakan kesadaran politik masyarakat di


Indonesia terkait perubahan iklim masih terbatas. Isu lingkungan
dan perubahan iklim akan penting jika seluruh masyarakat sadar
akan dampak perubahan iklim terhadap kehidupan mereka secara
langsung. “Kalo seharusnya mah pastinya masyarakat dulu
pertama, kaya harus sadar dulu gitu,” katanya.

Tidak hanya minimnya kepedulian politik, saat ini isu perubahan


iklim di Indonesia masih sangat elitis dan terbatas pada kalangan
tertentu. Ini mengapa menurut N, perubahan iklim sebagai isu
politik perlu dibahas secara luas oleh figur publik.

“Menurut aku dengan adanya orang-orang ternama gitu


yang peduli tentang suatu isu, masalah, itu pasti bakal
menginspirasi khalayak banyak ngga sih. Jadi kaya
harus dari masyarakat – kesadaran, pemerintah – yang
memfasilitasi, dan orang-orang yang emang punya nama
besar – mencontohkan yang baik.”

Ia juga percaya bahwa peran pemerintah bisa lebih ditingkatkan,


tidak hanya dalam membentuk regulasi, tapi juga menerapkan
sanksi tegas bagi mereka yang melanggar. Usaha ini penting untuk
menekan laju perubahan iklim dan membuat orang sadar bahwa
setiap perilaku punya konsekuensi. ”Kalo misalnya dari kesadaran
(diri) sendiri (akan) lebih baik, tapi kalau ngga bisa mungkin dari
pemerintah dapat melakukan sesuatu cuma sanksinya itu jangan
direct gitu. Kaya yang tadi aku jelasin aja,” kata N.

M, berharap pemerintah punya sikap politik yang jelas dalam


persoalan perubahan iklim. Sejauh ini M masih percaya komitmen
pemerintah dan berharap ada penegakan hukum yang lebih tegas.
M berharap ada sinergi atau kerja sama antar lembaga, tidak hanya
itu pemerintah diminta tidak tebang pilih baik ke sesama instansti
pemerintah atau industri. ”Kalau aku percaya dengan pemerintah
sih, Bang. Dengan hukumannya. Ya memang seharusnya
62 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

ditegakkan gitu. Cuma sesama pemerintah pun ngggak boleh


lembek. Kalau teman yang di sebelahnya berbuat begitu juga ya,
lakukan hal yang sama,” katanya.

Bagi M, perubahan iklim yang terjadi saat ini merupakan masalah


bersama. Hanya saja pemerintah sebagai pemangku kebijakan
yang memiliki alat penegakan hukum, seperti polisi dan jaksa, punya
peran lebih besar dalam menjaga lingkungan. “Semuanya memang.
Cuman, yang memiliki upper hand atau tangan yang berkuasa,
kan tetap yang berkuasa,” katanya. Saat ini Persoalannya adalah
apakah pemerintah yanga da saat ini punya sikap politik yang
berorientasi untuk mencegah dampak buruk perubahan iklim. M
sendiri merasa ragu dan skeptis terhadap partai atau tokoh politik
yang ada, ini menjadi alasan ia tak terlibat dalam kegiatan politik
manapun.”Nggak ikut (kegiatan politik). Mungkin ada, tetapi nggak
tahu. Yang jelas mereka ingin menduduki kursi-kursi,” katanya.

H, berpendapat pemerintah perlu memeriksa ulang kebijakan


terkait perlindungan alam seperti hutan dan mulai serius untuk
menghambat percepatan perubahan iklim. Selama ini pembukaan
hutan dan menggantinya dengan perkebunan turut menyumbang
percepatan perubahan iklim. “Mungkin sih kalo pemerintah kayaknya
bagaimana kebijakannya itu diambil berdasarkan dari kelestarian
lingkungan, selama ini kan pemerintah biasanya pemberian izin
buka lahanlah membabatin hutan untuk dijadiin tempat industri atau
tanaman tanaman sawit itu sih yang berbahaya, kebakaran hutan
yang seringnya korporasi didukung pemerintah untuk membakar
hutan ya itu sih yang berbahaya,” katanya.

Ia berharap dengan adanya kesadaran dan komitmen terhadap isu


perubahan iklim, pemerintah akan mendorong perbaikan kurikulim
pendidikan perubahan iklim. “Aktor yang berperan penting kayaknya
lebih ke sekolah, normatif banget bahasanya. SD, SMP, SMA kan udah
minim banget pelajaran mengenai climate change atau gaya perilaku
hidup yang mencerminkan tentang kehidupan yang baik untuk bumi,
kayak recycle gitu gitu kan hampir sangat minim,” katanya.

Sementara itu responden lain A, berpendapat pemerintah


semestinya melakukan komunikasi intesif dari pusat ke daerah.
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 63

Ia menilai selama ini ada perbedaan kebijakan antara pemerintah


pusat dan daerah dan ini berdampak pada masyarakat. “Itu
pemerintah itu ga ujuk-ujuk langsung ke gubernur, (dan) ga
(komunikasi) langsung ke (lembaga terkait), ga. Lebih ke kayak
dinas, kayak di indonesia dinas pertanian ya, dinas kehutanan,
dinas industri, perindustrian kayak gitu gitu, Jadi yang bener bener
megang bidangnya sih. Itu yang aku tau,” katanya.

Menurutnya selama ini pihak yang punya sikap politik yang


jelas terkait perubahan iklim dan isu lingkungan adalah
kalangan aktivis. “Sebenernya yang berperan itu yang
udah aku liat aktivis lingkungan,” katanya. A sejauh ini
belum melihat komitmen politik baik pusat maupun daerah
terhadap isu politik.

Lantas bagaimana sikap pemerintah sendiri? R, konsultan untuk


UNDP dan KLHK, mengatakan secara pribadi ia menganggap
climate change ini bukan hanya kewajiban pemerintah, tapi semua
orang. Karena ke dampak perubahan iklim dirasakan setiap orang
tanpa pilih-pilih. “Beneran semua orang tuh berperan untuk bekerja
sama. Di mana peran untuk adaptasi dan mitigasi, dan peran
pemerintah adalah mengkampanyekan dan menyebarluaskan,”
katanya.

R merasa perlu ada payung hukum yang jelas, sanksi yang tegas,
dan pengawasan yang konsisten. Sehingga kelak idiologi politik tak
lagi relevan, karena sekali lagi dampak perubahan iklim dirasakan
semua orang terlepas idiologi politik mereka. “Kayak tadi membuat
payung-payung hukum kira-kira ada yang melanggarnya atau tidak.
Sehingga menurut saya political ideology ini kurang relevan untuk
awareness climate change,” katanya.

J, pekerja dari perusahaan tambang dan mineral negara, menyebut


perubahan iklim adalah persoalan politis dan semestinya dibuat
dengan regulasi yang tepat. Sayangnya saat ini kata politik/
64 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

Senayan, Jakarta, 2019. ©Bhagavad Sambadha/Tirto.id


ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 65

politis itu sendiri dianggap buruk dan dijauhi. Sejauh ini J menilai
belum ada satupun partai politik yang secara sadar memasukkan
kebijakan perubahan iklim sebagai isu yang diperjuangkan.

“Kita masih (membahas), agama, ideologi, harusnya idealnya


lingkungan juga ideologi, dan itu how personal saya ga makan kalo
ga ngurus lingkungan…. (dan) kalo buat saya pribadi lanjutannya
tadi saya ga makan kalo ngurusin lingkungan terus. Does it only
cause displacement ini ya jadi kalo menurut saya memang kita
harus lebih kritis dan lebih mempertanyakan lagi isu-isu yang
terkait lingkungan dan terutama di Indonesia ini di negara kita
top risks nya mungkin hasil dari energi, agriculture, kemudian
transportasi, perubahan environment,” katanya

J merasa Anak muda perlu lebih peduli dan lebih politis


membahas perubahan iklim sebagai sikap politik personal. Ia
sendiri menunggu ada partai di Indonesia yang mengangkat isu
lingkungan dan perubahan iklim sebagai satu isu penting dalam
kebijakan partainya. Sejauh ini J percaya banyak orang yang
percaya bahwa lingkungan adalah hal penting dan mempraktikkan
gaya hidup yang ramah lingkungan, hanya saja hal ini belum jadi
kebijakan politik nasional.

“Saya rasa banyak orang orang kayak kita (peduli lingkungan),


cuma ga ada aja kendaraannya secara nation, secara society untuk
bergerak ke arah situ. Walaupun emang ada NGO, atau ormas,
alhamdulillah semakin banyak dan semakin bagus indonesia. Dan
reparted itu harus diwujudkan antara pemerintah, industri, dan
akademika dalam hal ini bisa juga NGO itu harus terus dibangun,
katanya.
L praktisi komunikasi yang fokus pada perubahan iklim
membenarkan jika di Indonesia saat ini belum ada partai politik
yang fokus dan berkomitmen pada isu perubahan iklim.
“YA KALO DILIAT DARI YANG ADA

SEKARANG KAN EMANG MASIH BELUM

MENJADIKAN ISU LINGKUNGAN,

JANGANKAN PERUBAHAN IKLIM

LINGKUNGAN AJA BELUM TERLALU

SEBAGAI ISU UTAMA BAGI PARTAI

POLITIK. ADA BEBERAPA EMANG UDAH

DECLARE, TAPI SEKALI LAGI KARENA

KONSTITUENNYA JUGA MASIH BELUM

BANYAK YANG BELUM MINTA INI. JADI

AKHIRNYA JADI ISU BUNCIT GITU,”

KATANYA.
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 67

Akhirnya isu perubahan iklim yang ada hanya sekedar tempelan


dan tidak digarap serius. Ia berharap akan ada pemimpin politik
atau partai yang berkomitmen serius memperjuangkan isu
lingkungan untuk mencegah laju perubahan iklim. “So that would
be great, jika ada political leader yang emang paham tentang
perubahan iklim, dan paham pentingnya untuk membuat
perubahan yang secara masif secara sistematik di indonesia dan
punya kemampuan untuk berkomunikasi pada pemuda sehingga
dia banyak pendukungnya, karena ada juga politisi yang emang oke
saya tau beberapa mereka ngerti dan segala macam,” katanya.

Green Energy Vector Concept Illustration © alexacrib/Envato


DARI PERNYATAAN ANAK MUDA DAN

MEREKA YANG TELAH BERGELUT DI ISU

PERUBAHAN IKLIM TERLIHAT SEKALI

GAP PEMAHAMAN YANG SERIUS. ANAK

MUDA INI MASIH MENGANGGAP BAHWA

PEMERINTAH PUNYA PERAN SEBAGAI

PENEGAK HUKUM YANG MEMBERIKAN

SANKSI PADA PERUSAK ALAM,

SEMENTARA AKTIVIS DAN PELAKU

INDUSTRI, MENILAI PEMERINTAH

DAN PARTAI POLITIK SEMESTINYA

PUNYA KEBIJAKAN SERIUS TERKAIT

PENCEGAHAN LAJU PERUBAHAN IKLIM.


ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 69

Agama dan Perubahan Iklim


Pada Juni 2015, Paus Fransiskus menyerukan umat katolik untuk
peduli pada planet bumi dan memperhatikan perubahan iklim.
Dalam seruannya itu ia berkata jika “Climate change is a global
problem with grave implications,” dan mendorong umat katolik untuk
menarik segala bentuk investasi dari energi kotor. Paus Fransiskus
berharap dengan mengajak umat katolik peduli terhadap isu
lingkungan, planet bumi akan bisa diselamatkan dan menekan laju
perubahan iklim. Tapi apakah agama punya peran penting dalam
isu global terkait perubahan iklim? (Inside Climate News-2020)

Pew Research Center lewat survei bertajuk “The Global God


Divide” (2020) menemukan bahwa tingkat kereligiusan seseorang
dipengaruhi oleh ekonomi, tingkat pendidikan, dan usia. Dalam
survei tersebut diketahui Indonesia berada di peringkat teratas
atau merupakan negara paling religius. Sebanyak 96% responden
Indonesia menganggap seseorang mesti beriman kepada Tuhan
untuk dapat bermoral, dan 98% menganggap agama penting di
hidup mereka. (Asumsi 2020)

Ini mengapa gerakan seperti Interfaith Rainforests Initiative (IRI)


Indonesia jadi penting. Tahun lalu lebih dari 250 pemuka agama
dan pemuka adat Jakarta berkomitmen untuk melindungi alam.
Sebelumnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Mei 2015
telah mengeluarkan fatwa haram pertambangan destruktif.
Artinya, pertambangan yang merusak ekosistem darat dan
laut, menyebabkan polusi udara dan air, merusak kesehatan,
menghancurkan keragaman hayati, dan semua hal yang
mengakibatkan kemiskinan masyarakat sekitar dilarang dan
dianggap haram dalam ajaran Islam. (Republika-2020)

Lalu bagaimana anak muda di Indonesia menavigasi antara


keyakinan mereka dengan isu perubahan iklim? A, menyebut bahwa
telah ada usaha di Bali untuk mengatasi masalah lingkungan. Salah
satunya adalah upaya pemuka agama untuk mengkampanyekan
hidup bersih dan sadar akan pentingnya melestarikan lingkungan.
70 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

“Di Bali sendiri itu kan kental akan spiritual dan agamanya,
dan budayanya jadi beberapa dari pemuka agama sendiri sih
ga menyarankan untuk adanya reklamasi,” katanya.

Di Bali, menurut A, pemuka agama harusnya punya komitmen


jelas terhadap isu lingkungan. Agama semestinya getol
mengkampanyekan Ibu bumi, ibu pertiwi, sebagai simbol
kekeluargaan dan pentingnya alam sebagai bagian dari hidup
manusia. “Karena itu istilahnya berbuat dosa ke ibu pertiwi. Itu dari
segi aku sendiri, kalo dari segi lengkap dan detailnya aku ga tau jadi
aku takut juga kalo salah nyebut,” katanya.

Lebih jauh bagi pemeluk agama hindu di Bali memahami 3 konsep


hubungan. Yaitu parahyangan, palemahan, dan pawongan. “Kalo
parahyangan itu hubungan manusia dengan Tuhan relasinya,
kalo pawongan hubungan manusia dengan sesama manusia,
sorry ya kalo aku panjang kalo pelamahan itu manusia dengan
lingkungannya sendiri, itu namanya tri hita karana,” katanya.
Narasumber lain H, mengatakan pendidikan agama terkait lingkungan
sangat terbatas. Belum ada pendidikan komprehensif yang
menjelaskan perilaku antara merusak alam dengan laju perubahan
iklim. Menurutnya pemuka agama dapat menjelaskan azab bukan
hanya sekedar hukuman, tapi juga karena kelalaian manusia dalam
mengelola alam. “Paling informasinya bumi udah akhir zaman. Itu
aja, hujan ga menentu. Bencana alam itu karena azab Allah, karena
manusia berbuat maksiat ya kayak gitu aja,” katanya.

Untuk itu, menururt H, pemuka agama harus lebih aktif dalam


berdakwah terkait lingkungan. Saat ini pemuka agama lebih fokus
pada isu-isu akhirat dan kurang membahas dunia juga perlu dijaga.
Padahal menurutnya saat ini sebagai umat beragama, manusia
hidup di dunia yang terus rusak dan laju perubahan iklim makin
berbahaya.

“Lebih ke biar ga kiamat jangan maksiat, biar ga banjir


jangan maksiat, biar ga tsunami jangan maksiat, biar ga
longsor jangan maksiat gitu aja terus,” katanya.
PR, punya sikap berbeda memandang agama dan spiiritualitas.
Ia mengakui kurang beragama tapi menganggap bahwa alam di
mana kita tinggal sebagai perwujudan alam. Untuk itu ia sangat
menjaga lingkungan di sekitarnya. Sejauh ini ia tak mendengarkan
himbauan atau petunjuk pemuka agama terkait perubahan iklim.
“Nggak ada. Aku orangnya kurang beragama. Maksudnya kurang
dengerin ngomong gitu loh. Seingat aku sih yang dulu pernah
dengar-dengar kayaknya nggak ada deh, nggak tahu sih pokoknya
gitu deh,” katanya.

Minimnya edukasi atau informasi terkait sikap pemuka agama


terhadap perubahan iklim terlihat dari narasumber lain.

N, mengaku tak banyak tahu apakah pemuka agama di Indonesia


punya sikap jelas terkait perubahan iklim.”Cuma yang aku sering
denger dari pemuka agama yaa paling ngga jauh-jauh tentang yang
berkaitan dengan dosa pribadi, kalo buat isu sosial kaya gini kayanya
aku belum pernah denger deh, kalo misalnya ada maaf ya,” katanya.

M, mengaku belum pernah mendengar ulama atau tokoh agama


yang secara khusus membahas tentang perubahan iklim. “Sampai
sekarang setahuku nggak ada sih, Bang,” katanya. Sejauh ini
perspektif agama dan perubahan iklim mendapat titik temu
pada anjuran pelestarian alam. Beluma da upaya serius untuk
mendorong umat beragama menjaga alam, melakukan gaya
hidup ramah lingkungan, atau kritis terhadap industri ekstraktif.
“Jatuhnya kan, itu titipan Tuhan. Masa dirusak, gitu,” katanya.

Di sisi lain I, analis kebijakan KLHK, menyebut sejak tahun 2018,


KLHK telah bekerja sama dengan MUI, Muhammadiyah, PGI, KWI,
Walubi, dan Parisada Hindu Dharma terkait isu lingkungan. Saat
itu menteri lingkungan hidup mendatangi pimpinan organisasi
keagaman untuk membantu kader organisasi keagaman terkait
isu lingkungan. “ Mungkin bahasanya acara seremonial, tapi
implementasi programnya tidak menyebutkan bahwa ini adalah
kerjasama KLHK dengan NU loh, tapi lebih kepada program
lingkungannya apa aja nih? Setahu saya sejak 2018 sudah dilakukan
kerjasama dengan pemuka agama,” katanya.
72 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

R, konsultan untuk UNDP dan KLHK menyebut bahwa agama


tidak mungkin mengajarkan umatnya untuk melakukan hal-hal
yang merusak alam, karena manusia bagian dari alam itu sendiri.
Beberapa agama mengajarkan bahwa bahwa kebersihan adalah
sebagian dari iman ini membuktikan agama sebenarnya sangat
peduli terhadap lingkungan. “Mengenai agama kepercayaan, lebih
spesifik aturannya terkait alam seperti tidak boleh panen lebih dari
apa yang dia butuhkan, karena alasan-alasan keagamaan misalnya
dewa akan marah. Kalau kita lihat dari sisi saintifiknya, kalau panen
berlebihan maka tidak baik untuk stok misalnya menjadi busuk lain
sebagainya.” katanya.

Sejalan dengan itu D, dari SKK Migas, menyebutkan pemuka


agama bisa mengambil peran pendidik terkait isu perubahan iklim.
Sebagai negara relijius, pemuka agama punya suara yang didengar
oleh umat. Selain itu pemerintah sebagai pemangku kebijakan bisa
melibatkan institusi keagamaan untuk menyebarkan kepedulian.
“Menurut saya itu bisa menjadi langkah strategis, dari sisi regulator
bisa bekerjasama denga pemuka agama. Kemudian dari sisi
kongkrit keseharian, kita bisa melakukan pendekatan dari segi apa
yang diajarkan agama,” katanya.

L, praktisi komunikasi yang fokus pada isu perubahan iklim,


menyebut pemuka agama bisa mengambil ruang yang tak bisa
dimasuki oleh ilmuan. Tak bisa dipungkiri saat ini banyak orang
yang masih lebih percaya pemuka agama daripada peneliti atau
tokoh politik.

“Sekarang sudah bukan waktunya lagi kita hanya bicara


scientific think untuk perubahan iklim ini. harus dimasukan
isu tentang moral, isu spiritual because like talking about
science only sudah terbukti ga cukup untuk membuat
perubahan yang masif. So we need other strategy which is
we know religion is one of the most can be effective ways to
discuss about this menyentuh hatinya,” katanya.
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 73

Indonesia menjadi negara yang bisa memanfaatkan posisi pemuka


agama untuk mendorong umat melakukan perubahan gaya hidup
untuk menekan laju perubahan iklim. “Karena pengikutnya sudah
banyak, jadi kita harus engage pol religious leader untuk lebih
meyampaikan isu isu ini kepada umatnya, dan di indonesia sangat
relevan sekali karena indonesia adalah negara yang religius ya
dan masyarakatnya kadang masih lebih percaya sama religious
leadernya daripada pemerintahnya,” katanya.

MK, dosen ilmu lingkungan di Depok, berharap agama adalah


harapan terakhir dari upaya menghambat laju perubahan iklim.
Menurutnya saat ini justru konflik agama jadi masalah yang lebih
berat dari perubahan iklim. Seperti isu intoleransi dan kompetensi
ulama yang dianggap belum bisa membawa perdamaian. “Pilar
itu sekarang runtuh bagi saya jadi oleh karena itu saya sampaikan
sekali lagi degradasi sosial itu lebih berbahaya daripada degradasi
lingkungan yang sekarang terjadi degradasi sosialnya lebih buruk
daripada degradasi lingkungannya kalo di indonesia,” katanya.

Di sini kita melihat lagi bagaimana ada jarak pemahaman


yang berbeda antara anak muda dengan para praktisi
perubahan iklim, baik di level pemerintahan, aktivis, maupun
industri. Anak muda melihat peran agama tidak terlalu
penting bahkan hanya bersifat himbauan, sementara pada
level pemerintah dan aktivis melihat sebagai negara dengan
jumlah umat beragama yang banyak, agamawan punya
peran penting dalam pendidikan perubahan iklim.
74 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

03
Partisipasi dan
Kepedulian

Partisipasi Dalam Aksi perubahan Iklim


“Aku pikir kita tak punya pilihan untuk meratap,” kata Vandana
Shiva, aktivis keragaman hayati merespon perubahan iklim.
Menurutnya kita punya pilihan untuk bersikap dan sikap inilah yang
akan menjadi penentu nasib kita di masa depan. “Harapan adalah
sesuatu yang bisa kita rayakan dalam kegiatan yang kita ambil
secara sadar setiap hari,” lanjutnya. Lalu apa yang bisa kita lakukan
untuk mencegah laju perubahan iklim?

N, menyebut kesadaran terkait perubahan iklim mendorongnya


untuk mengubah perilaku konsumsi sehari-hari. “Paling yang
sampe sekarang aku terapin banget sih ini hmmm kemana-mana
bawa kantong belanja,” kayanya. Ia mengaku pada mulanya usaha
ini dirasa membosankan dan merepotkan, tapi lama-kelamaan
ia merasa sudah menjadi bagian dari gaya hidup. N juga coba
mengurangi ketergantungan terhadap fast fashion, salah satu
industri yang menyumbang limbah dan jejak karbon tinggi, dengan
melakukan thrifting.

“Aku suka sih. Thrifting aku tuh di Bogor ada yang biasanya
namanya PGB. Aku biasanya nge-thrift disitu. Dan emang harus
pinter-pinter nyarinya. Terus aku kan di Unpad, di Jatinangor. Terus
di Jatos, “mall”,” katanya.

Perubahan ini diakui tidak terjadi sekaligus, tapi bertahap dan


dimulai dari hal-hal yang dianggapnya menyenangkan. Saat ini N
berusaha melakukan apa yang ia percaya bisa mengurangi laju
perubahan iklim. Dengan melakukan thrifting ia setidaknya ambil
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 75

bagian dari gerakan hemat, minimalis, dan tak konsumtif. Meski


demikian ia masih membatasi kegiatannya secaa online.

“Iya, ya kalo di Jatos kan suka ada tau ngga sih yang jualan baju-
baju bekas. Disitusin. Tapi aku belum pernah kaya kan ada orang-
orang yang bener-bener sampe ke pasar Senen, ke pasar gedebage
gitu aku belum pernah, soalnya aku masih takut. Jadi paling aku
thrifting-nya kaya di IG kan banyak tuh yang jual lagi barang-barang
thrift. Disitu sih. And my experience with thrifting so far so good. Ngga
ada hal yang iyuh-iyuh,” katanya.

Sementara itu R, pernah terdampak secara langsung dari


perubahan iklim seperti kekeringan dan banjir. Ia mengaku pernah
ambil bagian dalam respon kebakaran hutan di Riau saat musim
kemarau tiba.

“Hal yang sekecil kemaren waktu kabut asap, itu membagikan


masker. Setiap titik di Pekan Baru, di lampu merah, mau
organisasi apapun, mau mahasiswa, lebih banyak sih
mahasiswa ya. Misalnya Universitas Riau, UIN, pembagian
masker setiap hari,” katanya.

R sendiri sangat tertarik dengan gerakan perubahan iklim. Meski


sebelumnya mengaku asing dengan istilah ini, ketika dijelaskan,
R menunjukkan ketertarikan dan mampu memahami kaitan
antara laju perubahan iklim dengan pembakaran hutan secara liar
dan industri ekstraktif. Tetapi saat ini, sebagai mahasiswa dan
perempuan, ia perlu ijin dari keluarga terutama dari orang tua untuk
bisa turut ambil bagian dalam gerakan perubahan iklim.

“Tapi kan tergantung ijin orangtua juga,” katanya.

Di kota lain, PR, telah ikut dan aktif menjaga lingkungan sejak 2019.
Menteng Pulo, Jakarta, 2020. ©Bhagavad Sambadha/Tirto.id
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 77

Saat itu ia ikut aktif membersihkan sampah di laut. “Aku sempat


volunteer di drivers connection yang melakukan under water cleaning,
diving sambil mungutin sampah di bawah laut. Beberapa teman
menawarkan jadi dan profesional diver, dari situ aku terjun menjadi
professional driver, gitu,” katanya. Kegiatan ini lantas menjadi
kebiasaan di mana ia akan selalu mengambil dan membersihkan
sampah meski tanpa ada acara khusus.

PR menyebut belum pernah mengikuti kampanye yang fokus pada


isu perubahan iklim. Ia hanya fokus pada isu lingkungan, terutama
berkaitan dengan laut. “Aku cuman ikut kampanye no straw
movement sama Divers Connection gitu di BSD. Satu mingguanlah
ngasih edukasi ke orang-orang, kaya dampak kalau kita pakai
sedotan, terus nanti sedotannya semakin banyak, bikin limbah.
Terus akhirnya bikin sampah dan ngalir ke laut segala macam. Tapi
tidak nyentuh climate change-nya langsung,” katanya.

Sementara itu H, mengaku ikut kampanye terkait perubahan


iklim terbatas pada acara tertentu. “Earth hour ya dulu kayaknya
pernah matiin semua lampu ya ikut untuk menghemat energi, kan
kalo energi semakin hemat kan pembakaran baru bara semakin
berkurang tuh jadi menghemat batu bara yang asapnya bikin Co2
pemanasan global itu sih, lebih ke situ menghemat energi,” katanya.
Selebihnya ia belum mengikuti gerakan yang secara konsisten
punya dampak pada perubahan iklim.

Seperti H, M, juga mengikuti kampanye perubahan iklim sebatas


pada acara tertentu seperti jalan santai.”Jalan santai dengan
tema Save The Earth atau Green Day,” katanya. Secara terbuka
M mengaku bahwa ia tak konsisten dalam menjalani gaya hidup
ramah lingkungan. Kepedulian terhadap lingkungan seringkali
bersifat seremonial, seperti mematikan lampu saat earth hour atau
ikut aksi ketika ada hari bumi.
“CUMA PRIBADI GINI. YA, KAYAK

MUSIMAN GITU,” KATANYA.


ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 79

A, mengaku belum pernah ikut aksi yang secara khusus membahas


perubahan iklim. Sejauh ini gerakan tentang lingkungan yang ia
ikuti berkaitan dengan sampah dan masyarakat Bali. “Kalo tentang
climate change ga pernah sih, kalo tentang pemanasan global
kayak efek rumah kaca ga, tapi kalo tentang sampah iya berminat
sih, dan mudah mudahan temen yang lain juga, ya” katanya.
Ia merasa aksi khusus yang terkait perubahan iklim dibutuhkan. Ia
sendiri tertarik untuk bergabung dan ikut tapi sejauh ini ia tak paham
dan belum tahu, gerakan apa yang dimaksud. “Kalo berminat sih
iya tapi kalo untuk kegiatannya yang bener bener ngena ke climate
change aku belum tau sih,” katanya.

P, seorang pekerja industri energi, menyebut generasi muda punya


peran penting dalam perubahan iklim, sehingga aksi mereka punya
dampak pada peradaban di masa depan. “Menurut saya generasi
muda itu adalah sangat pentiing ya mereka agent of change, status
mereka adalah sebagai penerima manfaat sekaligus sebagai
korban dari apa yang kita lakukan hari ini. jika kita tidak berubah
untuk menanggulangi climate change mereka akan menerima
manfaatnya atau juga sebagai korban juga,” katanya.

P juga berharap, gerakan perubahan iklim tidak sekedar foto-


foto belaka, tapi juga punya komitmen serius. Hal ini dilakukan
agar anak muda yang ikut acara seperti hari bumi atau earth
hour tidak sekedar peduli pada alam sebagai aksi seremonial
belaka.

“Ekspektasi saya ketika melibatkan generasi muda mereka


ada kesadaran tidak hanya nanam pohon aja tapi kembali
ke lokasi tersebut untuk merawat, melakukan pemupukan,”
katanya
R, dari UNDP dan KLHK, menyebut saat ini anak muda justru jadi
pionir dalam gerakan hidup ramah lingkungan. Hal sederhana
seperti membawa kantong belanja untuk menekan sampah plastik
atau membawa air minum sendiri. “Kayak sekarang di Jakarta dan
Bandung udah nggak ada kantong plastik belanja. Jadi mereka
80 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

otomastis harus bawa kantong sendiri atau bawa kardus di mobil,


terus, misalnya, sekarang ada lagi sedotan plastik. Itu kan benar-
benar merubah kebiasaan,” katanya.

Anak muda saat ini mengubah gaya hidup selain karena ingin
menjaga lingkungan juga karena tekanan dari teman sejawat.
“Ya dulu kita tinggal ambil sedotan, ya udah minum, biasa. Tidak
merasa berdosa. Itu kan tidak merubah kebiasaan. Sedangkan
sekarang kayak, you know pakai sedotan, kayak ada pressure dari
teman-teman yang lain. Padahal hanya bercanda doang. Gaya
hidup sehari-hari itulah,“ katanya.

I, perwakilan dari KLHK, menganjurkan ada sosok yang bisa


menjadi duta mengembangkan kesadaran perubahan iklim. “Putri
lingkungan itu yang kayak brand ambasadornya kita. Kemudian
kalau yang acara anak mudanya, secara lasngsung sih nggak
banyak sih kalau di kementerian lingkungan hidup. Lebih banyak
ke buat anak usia selolah. Banyak deh banyak belajar mengenai
lingkungan di situ,” katanya.

KLHK sendiri mengembangkan acara yang fokus pada isu


perubahan iklim, bernama Pojok Iklim. Acara ini melibatkan Anak
muda dan secara berkala melakukan diskusi dan pendidikan terkait
isu-isu lingkungan hidup, terutama yang berdampak pada perubahan
iklim. “Terus Pojok Iklim adalah salah satu yang insightful, bagus
banget memang. Tapi sayang nggak terlalu terpublikasikan menurut
saya sih. Padahal itu pemikirannya sangat-sangat bagus, dulu itu
belajar gambut memang dari ahlinya,” katanya.

Sejauh ini anak muda Indonesia masih terkendala pilihan gerakan


dan konsistensi dalam mengawal isu perubahan iklim. Bagi mereka
yang hidup dengan orang tua, partisipasi mereka dibatasi oleh ijin,
sementara yang lain berupa acara-acara seremonial.
BELUM ADA GERAKAN YANG SECARA

SERIUS PUNYA DAMPAK MENGHAMBAT

LAJU PERUBAHAN IKLIM DAN BISA

DILAKUKAN TERUS MENERUS.

SEMENTARA DARI PEMERINTAH MASIH

TERJEBAK PADA PROGRAM-PROGRAM

ARKAIK YANG KETINGGALAN JAMAN

SEPERTI DUTA LINGKUNGAN HIDUP

ATAU TALKSHOW YANG DIANGGAP

MEMBOSANKAN OLEH ANAK MUDA TADI.


82 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

Apakah Kampanye Perubahan Iklim Efektif?


Ketika ditanya darimana anak muda Indonesia mendapatkan
informasi terkait perubahan iklim, salah satu narasumber kami
menyebutkan 9gag. Jawaban ini jadi menarik karena 9gag bukan
situs jurnalistik atau pendidikan, tapi kanal hiburan yang berisi
meme atau lelucon yang memang disukai anak muda. Sebagai
situs hiburan, informasi yang ada di dalamnya tentu sangat
bisa diragukan integritas dan akurasinya. Meski demikian, dari
wawancara yang dilakukan, narasumber kami bisa menjelaskan
konsep perubahan iklim dari meme yang ia peroleh di 9gag.

Meme tentang perubahan iklim bisa jadi efektif menarik perhatian


anak muda untuk peduli dan mulai mencari tahu tentang isu ini.
Tapi bagaimana dengan yang lain? N, berpendapat perlu ada
analisis yang tepat untuk membuat kampanye perubahan iklim jadi
efektif.

Menurutku sih kalo targetnya mahasiswa yang seumuran aku gitu,


seminar is not. Bukan sesuatu appeal di mata mereka. Mungkin
kalo boothcamp seru sih. Kaya menurut aku orang-orang gen z yah
menurutku seneng kalo kaya melakukan aktivitas. Tapi maksudnya
bukan beraktivitas yang cape banget sih. Tapi seengg-ngganya
yang diem duduk dengerin orang seminar. Tapi ngga melakukan
yang physically exhausting banget,” katanya.

Perlu ada paduan antara aktivitas yang menggabungkan


teori dan praktik. Misalya mengajak anak muda untuk
bergerak ke daerah hutan yang rusak sembari menjelaskan
dampaknya jika terus dibiarkan. Dengan metode ini selain
mereka mendapatkan informasi tentang apa-apa saja yang
mendorong laju perubahan iklim, mereka juga bisa melihat
langsung realitas yang mungkin jauh dengan gelembung
kehidupan sehari-harinya.
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 83

N juga mendambahkan bahwa saat ini fokus utama adalah


menyebarkan informasi yang kredibel. Ia tak menolak adanya
lembaga, baik pemerintah, korporasi atau LSM. Itu tergantung kaya
si lembaganya itu apakah lembaganya kredibel, apakah Lembaga
tersebut bener genuinely melakukan hal ini untuk hal yang baik
gitu. Soalnya kan ada aja pasti Lembaga yang menyalahgunakan.
Jadi mungkin untuk kaya ngecek atau gimana caranya biar aku
tuh convince untuk ikut itu dari Lembaga yang ngga terkenal atau
apalah itu. Mungkin kaya seperti yang tadi, suka double check,
nanya-nanya,” katanya.

Ia mengatakan bahwa salah satu cara mengetahui kredibilitas


adalah dari rekam jejak. N mencari tahu rekam jejak lembaga dari
media sosialnya. Misal apakah ia pernah bekerja sama dengan
lembaga lain terkait isu yang sama atau sudah lama konsisten
mengawal topik perubahan iklim. Ia juga menganjurkan untuk
penyebaran isu perubahan iklim, perlu memanfaakan media sosial
yang populer di kalangan anak muda.

“Yah serius deh ini mah aku sebagai Tiktok ambassador banget
ya. Tapi serius ya buat aku tuh Tiktok sekarang bisa jadi salah satu
platform media social yang lagi at the peak, at the highest,” katanya.
Menurut N saat ini trend yang ada di media sosial akan diikuti dan
dijadikan gaya hidup karena membuat anak muda merasa keren.
Promosi produk atau kampanye akan mendapatkan persepsi
positif jika dikemas secara populer dan unik.

Digital Marketing
Vector Illustration
Concept © naulicrea/Envato
MENARIKNYA DARI STATEMEN

NARASUMBER, DIKETAHUI BAHWA

PROMOSI YANG ADA DI MEDIA SOSIAL

TERKAIT PERUBAHAN IKLIM, DIBUAT

UNTUK MEMBUAT SESEORANG MERASA

KEREN ATAU IKUT TREND. BUKAN

KARENA ISU TERSEBUT PENTING DAN

PERLU DIPAHAMI.
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 85

“Dan apalagi kalo misalnya kakak mau ngepromosiin tentang


gerakan untuk sadar climate change, dikemasnya dengan menarik
apalagi kalo targetnya kaya ke gen z gitu ya, itu pasti banyak orang
yang seneng apalagi gen z gitu gen yang aging ngga jelas. Yang
kaya mereka tuh orangnya I care about the environment because I’m
cool and such gitu,” katanya.

Sementara itu di kota lain, R, juga menyarankan agar kampanye


perubahan iklim tak hanya sekedar seminar, di mana satu orang
bicara yang lain mendengarkan. ”Kalau misalnya nggak pandemi,
enaknya memang bootcamp gitu ya, Kak. Kita tunjukin promosin
kegiatannya,” katanya. Selain itu media sosial juga bisa digunakan
untuk menyebarkan materi edukasi tentang perubahan iklim.
Seperti instagram, yang menurut R, merupakan media sosial
populer yang banyak diakses anak muda sepertinya.

Sebagai orang yang belum pernah terpapar dengan edukasi terkait


perubahan iklim, R berharap kampanye ini dimulai dari hal yang
paling mendasar.”Kalau misalnya mahasiswa yang baru-baru,
seperti R, yang belum terlalu paham atau belum tau, sebaiknya
sih dari kampus dulu dikenalin. Baru dari pemerintah setempat,
lebih banyak wawasannya sih,” katanya. Sementara untuk medium
edukasi, R berpendapat video adalah yang paling tepat ketimbang
teks.

PR di Bali juga sepakat pemanfaatan medium audio visual


seperti video adalah pilihan yang paling tepat untuk kampanye
perubahan iklim. Film dengan konsep yang tepat akan memberikan
pemahaman yang jitu. “Climate Change yang menarik anak-anak
muda, mungkin lebih ke film kali ya. Dibikin film yang bukan
dokumenter, tapi film yang pakai alur cerita tapi yang menjelaskan
perubahan iklim. Karena kan kalau orang memvisualisasi
perubahan iklim itu sulit,” katanya. Ia juga menjelaskan bahwa
proses perubahan iklim telah terjadi selama bertahun-tahun,
sehingga apa yang diterima saat ini sebagai bencana, bisa jadi
dampak perubahan iklim dan anak muda tadi menerimanya
sebagai keseharian.
86 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

“Karena kan perubahan iklim bertahun-tahun, puluhan


tahun, ratusan tahun. Udah beda generasi gitu loh. Ini orang
nggak bisa ngelihat, ngerasain iklim zaman dulu kayak
gimana, iklim zaman sekarang kayak gimana. Tapi mungkin
pakai film, karena zaman sekarang orang stay at home, jadi
kebanyakan nonton netflix dan yang lain,” katanya.

PR juga tidak menganjurkan pendidikan via seminar atau


ceramah yang dianggapnya membosankan dan bikin ngantuk. Ia
menyarankan perlu ada strategi yang menggabungkan keduanya.
Perlu ada gerakan yang mengajak anak muda untuk bergerak,
ambil bagian, dan membiasakan mereka terhadap gerakan
hidup ramah lingkungan. Baik pemerintah, industri, atau LSM
perlu memperbaiki pola kampanye mereka yanga d asaat ini.
“Aku pribadi sih, aku tergantung topik, tema, dan materinya apa.
Mau organisasi besar atau nggak kadang aku nggak terlalu lihat.
Kadang organisasi besar kalau materinya itu doang, boring juga.
Kayak WWF-kah, atau banyaklah green green green something,
yang aku lupa namanya. Materi itu cuma yang itu-itu lagi,”
katanya.

Di kota lain M, berharap edukasi terkait perubahan iklim bisa padat


dan informatif. Seperti menghadirkan gambar-gambar daerah
terdampak perubahan iklim dan apa yang harus dilakukan untuk
mencegahnya. Selain itu perlu ada upaya kolektif yang berkelanjutan,
tidak hanya anak muda saja, tapi juga orang tua, lingkungan tempat
tinggal, dan pejabat di sekitar mereka tinggal. ”Kayak ngumpulin
orang. Dikasi tahu. Dunia kita lagi kritis, gitu,” katanya.

M juga berharap kegiatan edukasi yang dilakukan bisa


menyenangkan dan dilakukan secara beramai-ramai. Ia berharap
ada kegiatan yang tak sekedar cuma berdasar aktivitas fisik seperti
olah raga atau long march, tapi juga ada edukasi langsung pada
peserta. M juga mengharapkan adanya kolaborasi dari LSM atau
korporasi dengan pemerintah dalam proses edukasi tadi.
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 87

“Ide mungkin dari komunitas bisa. Dengan memperkuat dengan ijin


dari pemerintah, dengan pengadaan tempat. Jadi bisa lebih kondusif
atau infonya bisa lebih menyebar luas. Cuma, nggak bisa masing-
masing. Pemerintah sendiri buat bisa. Dari buku pelajaran kan. Tapi
kalau dari komunitas idenya lebih kompleks, karena brain storming-
nya orang-orang yang benar-benar peduli. Orang-orang yang ikut
komunitas kan karena mau bukan karena ditunjuk,” katanya.

Walau edukasi jadi poin penting dalam kampanye perubahan


iklim, ada narasumber yang mengatakan strategi kampanye
juga harus menyertakan kemampuan bersiasat. Kondisi yang
ada saat ini sudah tak lagi memungkinkan orang bersiap
menghadapi, tapi beradaptasi dari dampak perubahan iklim
yang makin parah.

Di Jakarta H berharap ada pelatihan serius yang bisa membantu


masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim. “Di rumah dibuat
rak gitu lantai tiganya taman atau apa buat mengurangi panas, efek
panas. Kayaknya itu udah mulai menarik ,” katanya. Selain itu perlu
ada perubahan perilaku hidup ramah lingkungan dari publik dan ini
harus segera dilakukan. Seperti memberikan pelatihan furoshiki,
penggunaan kain yang dibuat sebagai wadah pengganti plastik.
“Juga cara yang kita bisa lakuin sesimple mungkin kayak misalnya
menanam tanaman di rumah, bagaimana dekorasi yang bagus
untuk pencahayaan rumah itu kan belum ada,” katanya.

H juga melihat pihak yang peduli pada isu perubahan iklim perlu
mencari ide segar untuk kampanye. Sebagai anak muda yang
menghabiskan banyak waktu di media sosial, pemanfaatan kanal
seperti youtube perlu dilakukan. H juga menekankan kampanye
yang ada harus bisa membawa dampak perubahan perilaku
pada individu dan bukan sekedar seremonial, apalagi cuma untuk
menghabiskan anggaran.
88 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

“Mungkin lebih ke tentang sosialisasi gaya hidup yang merujuk


pada isu isu sih kayak misalnya penggunaan plastik dikurangi,
biasanya lewat konser doang. Konser ujungnya apa ga ada kan.
Poster yuk kita earth hour ini itu, tiba tiba besoknya boros lagi. lebih
ke gaya hidup sih bagaimana gaya hidup yang baik,” katanya.

Di Bali A, mengaku mendapatkan paparan edukasi tentang


perubahan iklim dari organisasi kemahasiswaan seperti mahasiswa
pecinta alam. Komunitas ini yang kemudian berkembang menjadi
ekosistem yang membangun kesadaran, karena dari situ ia ikut
serta dalam gerakan membersihkan pantai, gunung, manggrove,
dan sungai. “Yang penting itu gimana kita bener bener ngena ke
isunya sih biar ga Cuma sekedar kegiatan untuk have fun aja sih,”
katanya.

Meski percaya media sosial jadi kanal penting untuk persebaran


informasi dan edukasi, A berharap persuasi langsung individu bisa
membantu kampanye perubahan iklim tadi. Misalnya mendekati
teman, orang di luar organisasi atau dosen untuk ambil Bagian dalam
kampanye membersihkan lingkungan. A ternyata masih berharap
pemerintah punya peran yang lebih besar dalam menggalakkan
kampanye perubahan iklim tadi. “Ga harus dari organisasi besar
sih tapi kalo organisasi besar menjangkau tempat tempat tertentu
bagus, tapi kalo ga harus organisasi besar sih,” katanya.

Lalu bagaimana dari kaca mata industri? NF, yang aktif di industri start
up, berpendapat bahwa perlu ada edukasi menyeluruh agar anak muda
tak hanya melakukan demonstrasi, tapi juga membuat karya yang bisa
diadopsi mencegah laju perubahan iklim. Anak muda ini juga perlu
diberikan pemahaman bahwa laju perubahan iklim tidak selesai hanya
dengan menanam pohon atau manggrove, tapi perubahan gaya hidup.
“Zero waste yang sebenernya besar banget isunya dikerucutkan dengan
ngomongin sedotan plastik. Akhirnya mereka jadi kayak kaca mata
kuda gara-gara sosial medianya juga,” katanya.

Ini mengapa ia pribadi percaya perubahan gaya hidup bisa dibentuk.


Melalui trend, memanfaatkan influencer, hingga edukasi yang
konsisten. “I think masuknya untuk edukasi how to intrigue them
into this problem kan. Kalo di (pemanfaatan) sollar panel misalnya,
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 89

Aksi Greenpeace. ©Andrey Gromico/Tirto.id

kita bikin konser. Kalo di Bali scene musinya sangat lokal jadi kayak
Nosstress, Robi Navicula jadi kita kerja sama mereka,” katanya.

J, juga berpendapat keikutsertaan anak muda harus dari inisiatif


sendiri. Bukan cuma sekedar dirayu atau diajak dengan iming-iming
tertentu. Sebagai wakil dari industri ia berharap perusahaan akan
melihat ini sebagai kesempatan untuk bermitra. “Terus what private
company could offer to the young generation to help tackle this issue?
Make them leaders. We need society dengan anak anak muda sebagai
leader, diberi kepercayaan, segala macam. ada contohnya sekarang
ketika anak mudanya punya keputusan strategis kita sekarang bisa
pasang sollar panel, kita bisa. Ternyata bisa, kenapa ga bisa? Wong beli
rumah lewat perusahaan aja bisa apalagi pasang solar panel,” katanya.
90 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

EMPAT DARI ENAM NARASUMBER

BERPENDAPAT BAHWA PIHAK

YANG PUNYA PERAN BESAR DAN

BERTANGGUNG JAWAB UNTUK

MELAKUKAN EDUKASI DAN KAMPANYE

TERHADAP PERUBAHAN IKLIM ADALAH

PEMERINTAH. MEREKA BERPENDAPAT

PEMERINTAH HARUS MEMBERIKAN

IJIN ACARA, MENYELENGGARAKAN

ACARA, ATAU BERKOLABORASI DENGAN

ORGANISASI LAIN UNTUK MELAKUKAN

KAMPANYE TERKAIT PERUBAHAN IKLIM.


ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 91

Penutup

Perbincangan bersama enam anak muda Indonesia dari enam kota


berbeda tentang perubahan iklim memberikan perspektif yang getir.
Beberapa mengafirmasi asumsi bahwa ada gap atau jeda antara
pemahaman mereka terhadap perubahan iklim dan kondisi real
yang terjadi saat ini. Temuan-temuan kami ini tentu diharapkan
bisa menjadi masukan bagi para pegiat isu perubahan iklim dalam
mengkampanyekan perbaikan sistem dan pola hidup kita saat ini.

Sejauh ini ada lima temuan utama yang bisa kami simpulkan.
Pertama setelah proses internalisasi terhadap perubahan
iklim (yaitu melalui refleksi terhadap pengalaman lalu dan
membandingkan dengan masa sekarang), anak muda ini
sebenarnya sudah merasakan dampak perubahan iklim secara
langsung di kehidupan sehari-hari. Namun ternyata kesadaran
tersebut tidak membuat anak muda terlibat secara aktif di kegiatan
terkait atau melakukan gaya hidup yang ramah lingkungan. 

Hal ini bisa dilihat dari narasumber yang menganggap bahwa


memungut sampah di laut atau menggunakan pakaian bekas
punya kontribusi besar bagi perubahan iklim. Sementara ketika
bicara tentang peran perusahaan besar, mereka belum bisa melihat
bahwa pola produksi dari industri ekstraktif dan perkebunan sawit
punya daya rusak lebih tinggi ketimbang perilaku personal.

Kedua menurut mereka isu perubahan iklim utamanya harus


menjadi perhatian pemerintah, sedangkan pemerintah sendiri
tidak pernah terdengar membahas isu tersebut secara terbuka
atau inisiatif yang dimiliki tidak sampai ke publik. Beberapa usulan
terkait perubahan iklim yang dimiliki juga ketinggalan jaman seperti
menggunakan duta lingkungan dengan standar kontes kecantikan,
atau informasi melalui radio sementara tak memanfaatkan
teknologi digital seperti podcast.
92 ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

Ketiga ada indikasi bahwa “mengatasi perubahan iklim harus


dimulai dari diri sendiri” jadi mantra mujarab. Sementara gerakan
ini tidak menggema di anak muda yang berada di luar gelembung.
Mereka cenderung membebankan kampanye/gerakan climate
change terhadap pihak lain yang memiliki power/influence. Ini
menunjukan perasaan tidak berdaya di anak muda untuk menunda
climate change secara berkelanjutan di level individu.

Keempat pihak yang dianggap mampu atau punya pengaruh


terhadap gerakan perubahan iklim adalah mereka yang dianggap
memiliki power, seperti pemerintah, influencer, tokoh publik dan
media. Menariknya anak muda ini juga belum menemukan peran
tokoh agama dalam perubahan iklim. Sebagai negara dengan 90
persen penduduk menganggap agama sebagai hal yang sangat
penting dalam kehidupan sehari-hari, posisi agamawan bahkan tak
punya ruang dalam isu perubahan iklim.

Kelima anak muda berharap untuk terlibat secara aktif di kegiatan


pencegahan perubahan iklim yang interaktif dan bermakna, serta
menjadi bagian dari kegiatan kolektif. Ini menunjukkan bahwa
problem yang ada hari ini terkait pemahaman perubahan iklim atau
partisipasi bukan masalah niat atau keinginan, tapi informasi yang
terbatas, belum ada pendidikan yang komprehensif, dan ruang
gerak isu yang terkesan sangat elitis.

Isu perubahan iklim seperti jadi gelembung di kalangan anak muda


terdidik di perkotaan. Padahal anak muda di Pekanbaru, Siak, dan
pulau-pulau terluar Bali merasakan secara langsung dampaknya.
Sementara itu narasumber yang tinggal di Jakarta malah
menganggap banjir, bencana yang terjadi karena perubahan iklim,
sebagai hal wajar yang terjadi setiap tahun. Kegagapan memahami
dan meletakan prioritas isu harus segera diatasi.
ANAK MUDA DAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA 93

Daftar Pustaka

z “Climate explained: why some people still think climate change isn’t
real“. theconversation.com. Diakses pada 20 November 2020. https://
theconversation.com/climate-explained-why-some-people-still-think-
climate-change-isnt-real-124763
z ““. Diakses pada 20 November 2020. https://www.weforum.org/
agenda/2015/12/18-quotes-from-world-leaders-on-climate-change/
z ““. Diakses pada 20 November 2020. https://www.republika.id/
posts/5363/pemuka-agama-perubahan-iklim-dan-tantangan-
lingkungan
z “18 quotes from world leaders on climate change“. asumsi.co. Diakses
pada 20 November 2020. https://asumsi.co/post/hasil-riset-pew-
indonesia-negara-paling-religius-di-dunia-mengalahkan-negara-timur-
tengah)
z “Five Years After Speaking Out on Climate Change, Pope Francis
Sounds an Urgent Alarm“. insideclimatenews.org. Diakses pada 20
November 2020. https://insideclimatenews.org/news/07082020/
climate-change-pope-francis/
z “Eco-activist Vandana Shiva finds reasons for hope in the climate
crisis“. www.cbc.ca. Diakses pada 20 November 2020. https://www.
cbc.ca/radio/tapestry/finding-hope-in-the-climate-crisis-1.4950656/
eco-activist-vandana-shiva-finds-reasons-for-hope-in-the-climate-
crisis-1.4950685#:~:text=Climate%20change%20may%20be%20
wreaking,something%20we%20can’t%20change.&text=%22I%20
don’t%20think%20we,for%20despair%2C%22%20said%20Shiva.
z The YouGov-Cambridge Globalism Project, 2019.
z Laporan Survei Krisis Iklim di Mata Anak Muda Disusun Yayasan
Indonesia Cerah Dan Change.org Indonesia
z Penyelidikan Climate Center, ditulis oleh Scott A. Kulp dan Benjamin H.
Strauss yang dirilis di jurnal Nature Communications,
FRIEDRICH-NAUMANN-STIFTUNG Untuk Kebebasan (FNF) adalah sebuah
Yayasan Politik Jerman. Di Jerman dan di 60 negara di seluruh dunia, FNF
bersama dengan mitra-mitra kerjanya mempromosikan hak asasi manusia,
pluralisme, toleransi, ekonomi pasar dan negara hukum.

FNF memiliki hubungan dekat dengan partai politik Jerman Partai Demokrat
Bebas (FDP). Kami didirikan pada 1958 oleh Presiden pertama Jerman,
Theodor Heuss, dan telah bekerja di Asia sejak 1979, dan di Indonesia sejak
1969. FNF beroperasi dengan dana publik dan berkantor pusat di Potsdam,
Jerman.

FNF memberikan konsultasi kepada para pembuat keputusan di Berlin dan


menerbitkan berbagai laporan. Kami memfasilitasi dialog, menyelenggarakan
konferensi dan mengundang orang- orang muda dari Asia dan berbagai wilayah
lain untuk mengikuti seminar di Jerman.
Dalam kerjasama dengan mitra-mitra lokal, FNF fokus pada nilai-nilai berikut:
• Demokrasi
• Rule of Law & Hak Asasi Manusia
• Kebebasan Ekonomi
• Perubahan Iklim

ISBN 978-979-1157-55-1