Anda di halaman 1dari 67

SKRIPSI

PEMBENTUKAN KONSEP DIRI MELALUI KOMUNIKASI


ANTARPRIBADI USTADZ DAN SANTRI I DI PONDOK PESANTREN
AL FATTAH GESING BANJARSARI BUDURAN SIDOARJO

Oleh :
Wildan Rizki Ramadan
162022000123

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO


FAKULTAS BISNIS, HUKUM DAN ILMU SOSIAL
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
2020
ABSTRAK
Penelitian ini berjudul Pembetukan Konsep Diri melalui Komunikasi Antarpribadi
Istadz dan Santri di Pondok Pesantren Al-fattah Gesing Banjarsari Buduran
Sidoarjo. Penelitian ini berjuan untuk mengetahui bagaimana Pembetukan
Konsep Diri melalui Komunikasi Antarpribadi Istadz dan Santri di Pondok
Pesantren Al-fattah
Penelitian ini_menggunakan metods kualitatif_deskriptif karena dalam penelitian
ini berusaha untuk mempelajari fenomena social, \bahwa penelitian kualitatif
adalah sebuah tahap_yang mana menghasilkan suatu deskriptip_berupa kata
tertulis maupun bentuk lisan_dari orang-orang yang perilakunya yang dapat kita
amati. Teknik penentuan informan menggunakan teknik sampling purposif, Tujuan
digunakannya purposive sampling adalah untuk menentukan sampel sebuah penelitian
yang memang memerlukan kriteria-kriteria tertentu agar sampel yang diambil sesuai
dengan tujuan penelitian. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 6 orang
Hasil penelitian ini membuktukan bahwa Ustadz dapat membangun komunikasi
interpersonal yang efektif dengan santri dalam penanaman nilai-nilai akhlak di
Pondok Pesantren Al-Fattah karena memperhatikan aspek-aspek penting yang
ada dalam komunikasi interpersonal (yaitu: (1) keterbukaan; (2) empati; (3)
mendukung; (4) positif; dan (5) kesetaraan pada proses penanaman akhlak.
Penunjang yang dihadapi oleh Ustadz dapat membangun komunikasi
interpersonal dengan santri dalam penanaman nilai-nilai akhlak di Pondok
Pesantren Al-Fattah ialah sebagai berikut: (1) Komunikasi (berupa; nasehat,
arahan, dan sejenisnya) yang dilakukan Ustadz tidak terkesan memaksa santri,
sehingga santri tidak merasa terlalu tegang ketika mendapat bimbingan dan
Ustadzan; (2) Ustadz sudah mengetahui latar belakang, kepribadian, dan
kehidupan santri di pondok; (3) Adanya koordinasi yang baik antara Ustadz
dengan pengurus OSPSH (Organisasi Santri/Wati Pesantren Sultan Alfattah).

Kata Kunci: Pembetukan Konsep ,Komunikasi Antarpribadi


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Komunikasi_adalah_salah_satu_dari_banyak_cara_dan_alat berinteraksi antar

person atau sesama. Komunikasi_menyelimuti_semua_lini aktifitas manusia.

Dalam aktifitas sehari-hari manusia tidak akan_bisa_lepas_dari_yang__namanya

komunikasi. Penelitian ini mengatakan bahwa dalam komunikasi hampir tujuh

puluh persen manusia menggunakannya. Seseorang dapat meningkatkan interaksi

sosial dengan adanya berkomunikasi ke sesama manusia. Secara khususnya,

komunikasi antarpribadi atau komunikasi interpersonal sangat berpengaruh dalam

kehidupan manusia dan berhubungan dengan ilmu yang mempelajari perilaku

manusia, dan dalam penelitian komunikasi ini berpengaruh pada bidang bisnis,

psikologi, sosiologi, antropologi, dan konseling (T wood, 2003:2)

Proses penyampaian_dan_penerima pesan antar pengirim pesan

(sender)_dengan penerima (receiver)_baik itu langsung_maupun_tidak secara

langsung disebut juga dengan komunikasi antarpribadi (AW Suranto, 2011:5).

Salah satu faktor yang mempengaruhi komunikasi antar pribadi yakni konsep diri.

Karena dalam komunikasi antar pribadi sangat menentukan konsep diri dimana

setiap orang bertingkahlaku_seadanya sesuai konsep_dirinya masing-masing.

Maka telah dijelaskan suksesnya komunikasi antar pribadi tergantung pada


kwalitas konsep diri seseorang., yakni sifat positif dan negatif (rahmad

2005:105)._Seseorang yang memiliki_konsep diri_positif maka_komunikasi antar

pribadinya_sangat baik, sedangkan seseorang yang memiliki_konsep diri yang

negative_cenderung komunikasinya_kurang baik._

Dalam_membentuk sebuah konsep diri santri di pondok pesantren, santri

harus memahami keintiman dan simpati dari orang orang yang berada dalam

lingkungan pondok pesantren. Seseorang memiliki bentuk pengalaman yang

merupakan gambaran dari konsep diri yang dihasilkan oleh interaksi dengan

lingkungan sekitar (Agustina, 2006:138). Konsep diri berkembang melalui

pengalaman yang melekat sepanjang hidup. Oleh sebab itu masing-masing

mempunya pengalaman dan lingkungan hidup yang berbeda-beda. Dengan hal ini

mempengaruhi kualitas komunikasi antar pribadi dalam pondok pesantren

Pesantren merupakan sebuah asrama atau tempat tinggal yang mengajarkan

pendidikan islam tradisional yang mana para santri tinggal dan belajar bersama di

bawah arahan atau di bawah bimbingan seorang ustadz. Sebagai lembaga

pendidikan tertua di Indonesia, pesantren tetap akan menarik untuk di kaji

kembali. Menurut Dhofier_(1982:45-60) ada beberapa bagian penting (elemen) di

pesantren yang terdiri dari pondok_atau_asrama sebagai_tempat tinggal

santri,_masjid sebagai tempat ibadah dan_belajar,_santri sebagai murid, dan kyai

sebagai_pimpinan pesantren. Beberapa bagian penting tersebut saling bergantung

satu sama lain agar tetap bisa mempertahankan keberadaan pesantren

sebagaimana menjadi lembaga atau organisasi dalam pendidikan.


Komunikasi dalam pondok pesantren Al Fattah terjadi melalui proses interaksi

social antara ustadz dan santri, baik dalam_kegiatan_mengajar ataupun

dengan_santri yang melanggar_aturan pondok, baik dari segitu pengalaman

ibadahnya ataupun dalam menggunakan bahasa. Maka dari_itu ustadz dan santri

harus sering berkomunikasi_dalam kegiatan_ekstrakurikuler, seperti adanya

kegiatan_rutin seminggu sekali yakni kegiatan muhadhoroh. Interaksi ustadz dan

santri ini merupakan bentuk dari komunikasi antar pribadi atau interpersonal, oleh

sebab itu komunikasi yang sering dilakukan bersifat dialogis yang mana ustadz

dan santri melakukan pertukaran informasi dan feedback.

Komunikasi yang bersifat dialogis sangat penting dilakukan, karena itu sangat

efektif bila dibandingkan dengan metode yang lain, hal ini dimaksudkan untuk

menciptakan proses pembelajaran yang efektif. Hasil komunikasi antar pribadi

tersebut bisa dilihat bahwa pengalaman ibadah para santri yang disyariatkan oleh

agama, kesopanan seorang santri dengan akhlaknya yang baik, maupun

kedisiplinan santri dalam menjalankan perintah atau aturan yang berada dalam

lingkunga pondok.

Oleh sebab itu,_penulis sangat tertarik untuk meneliti sebuah pondok

pesantren Al Fattah gesing. Karena lokasi pondok pesantren ini sangat layak

untuk di teliti dalam menanamkan nilai nilai akhlak dan interaksi social terhadap

ustadz dan santri, karena itu_pondok_pesantren Al Fattah ini tidak hanya

mengajarkan tentang ilmu agaman saja._Tetapi juga ada sekolahan yang ada

dalam pondok pesantren ini yakni SMP, SMA, dan MADIN. Oleh sebab_itu

penulis sangat ingin meneliti bagaimana proses Ustadzan dan berinteraksi


social_pada_para santri melalui_komunikasi antarpribadi antara ustadz dan

santri_dalam membentuk konsep diri di lembaga Yayasan Pondok Pesantren Al

Fattah Gesing Banjarsari Buduran Sidoarjo.

1.2. Rumusan Masalah

Menurut latar belakang masalah yang sudah di uraikan di atas, maka focus

masalah pada penelitian ini adalah :

1) Bagaimana komunikasi antar pribadi antara ustadz dan santri dalam

membentuk konsep diri di Pondok Pesantren Al Fattah Gesing Banjarsari

Buduran Sidoarjo ?

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian sebagai berikut :

1) Untuk mengetahui komunikasi antar pribadi antara ustadz dengan santri

dalam membentuk konsep diri di Pondok Pesantren Al Fattah Gesing

Banjarsari Buduran Sidoarjo.

1.4. Manfaat Penelitian

a. Manfaat_Praktis

1) Untuk peneliti, dengan adanya penelitian ini bisa menambah

sebuah wawasan mengenai sebuah komunikasi antar pribadi atau

interpersonal.

2) Untuk pembaca, peneliti ini dapat memberikan beberapa informasi

secara tertulis_maupun sebagai refrensi_mengenai komunikasi

antar pribadi atau interpersonal antara ustadz dengan santri dalam


membentuk konsep diri khususnya lingkungan Pondok Pesantren

Al Fattah Gesing Banjarsari Buduran Sidoarjo.

b. Manfaat Teoritis

1) Untuk di kaji oleh mahasiswa ilmu Komunikasi, berharap

penelitian ini dapat memberikan bantuan dan sarana referensi

untuk para_peneliti yang akan meneliti tentang Ilmu Komunikasi

antar pribadi
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu_adalah bentuk peneliti untuk mencari_perbandingan

dan selanjutnya untuk menemukan inspirasi_baru untuk penelitian selanjutnya

di samping_itu kajian terdahulu membantu penelitian_dalam memposisikan

penelitian serta_menunjukkan keaslian_dari penelitian.

Pada bagian ini peneliti_mencantumkan berbagai_hasil penelitian

terdahulu yang terkait dengan penelitian_yang akan dilakukan,_kemudian

membuat ringkasannya,_baik penelitian yang sudah di publikasikan_maupun

belum terpublis (jurnal, skripsi)._Dengan melakukan langkah ini, maka akan

dapat dilihat sejauh mana keaslian_dan_posisi penelitian yang akan

dilakukan._Kajian yang mempunyai relasi atau_keterkaitan dengan kajian ini

diantaranya :

1. Wahyu Hidayat yang berjudul Komunikasi Interpersonal Antara Ustadz

dengan Santri Dalam Penanaman Nilai-Nilai Akhlak Di Madrasah Aliyah

(MA) Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin. Yang membahas efektivitas

komunikasi interpersonal yang di terapkan oleh Ustadz kepada santri di

Madrasah Aliyah (MA) pondok pesantren Sultan Hasanuddin dalam

penanaman nilai-nilai ahlak. bahwa efektivitas komunikasi interpersonal

dimulai dengan lima kualitas umum yang dipertimbangkan yaitu


keterbukaan (openness), empati (empathy), sikap mendukung

(supportiveness), sikap positif (positiveness), dan kesetaraan (equality).

2. Wildan Zulqarnaen yang berjudul Komunikasi Antarpribadi Ustadz

dengan Santri Dalam Pembentukan Karakter Santri (Studi Pada Pondok

Pesantren Qotrun Nada Cipayung Depok)yang membahas pendeketan,

strategi komunikasi antarpribadi ustadz dan santri dalam pembentukan

karakter di Pondok Pesantren Qodrun Nada.

3. Rico Simanungkalit yang berjudul Konsep Diri dalam Komunikasi

Antarpribadi (Studi Kasus pada Anggota Language and Cultural

Exchange Medan)yang membahas masalah bagaimana konsep diri dalam

komunikasi antarpribadi pada anggota LCE Medan. Agar mengetahui jenis

konsep diri, komunikasi antarpribadi dan mengetahui peran konsep diri

dalam komunikasi antarpribadi.

4. Dian Ambarwati yang berjudul Hubungan Konsep Diri Dengan Interaksi

Sosial Siswa Kelas Iv Sd Negeri Se-Kecamatan Mergangsan yang

membahas konsep diri dan interaksi sosial siswa kelas IV SD Negeri se

Kecamatan Mergangsan cukup baik karena adanya pengalaman dan

perkembangan jiwa yang hampir sama sehingga siswa memilik konsep diri

dan lingkungan sosial siswa yang semakin luas mengharuskan siswa

melakukan interaksi agar diterima dalam lingkungan

5. Risky Achmad Hidayatullah yang berjudul Pola Komunikasi Antarpribadi

Antara Guru Dan Murid Pada Proses Pembentukan Karakter Budaya

Sunda Sejak Remaja Awal Di Smp Yas Kota Bandung (Studi Deskriptif
Pola Komunikasi Antarpribadi antara Guru dan Murid Pada Proses

Pembentukan Karakter Budaya Sunda Sejak Remaja Awal di SMP

YAS)membahas proses dalam sunda berjalan dengan baik dan hambatan

komunikasi yang terjadi dalam penelitian ini cenderung pasif dalam

berkomunikasi terkesan malu untuk bertanya kepada guru ketika ada hal

yang mereka tidak mengerti.

Tabel 1.1

Penulis,
No Judul Perbedaan Hasil Penelitian
Tahun
1 Komunikasi Wahyu Penelitian Sama-sama ingin mengetahui
Interpersonal Antara Hidayat, ini dengan komunikasi interpersonal antara
Ustadz Dengan 2016 penelitian Ustadz dengan santri.
Santri Dalam terdahulu
Penelitian terdahulu berfokus pada
Penanaman Nilai- memiliki
komunikasi interpersonal dalam
Nilai Akhlak Di perbedaan
penanaman nilai-nilai akhlak
Madrasah Aliyah tempat
sedangkan penelitian ini berfokus pada
(MA) Pondok penelitian
komunikasi antarpribadi dalam
Pesantren Sultan
membentuk konsep diri dan interaksi
Hasanuddin
sosial.
2 Komunikasi Wildan Penelitian Sama-sama ingin mengetahui
Antarpribadi Ustadz Zulqarna ini dengan komunikasi antarpribadi ustadz
dengan Santri Dalam en, 2016 penelitian dengan santri
Pembentukan terdahulu
Karakter Santri memiliki
(Studi Pada Pondok perbedaan Penelitian terdahulu berfokus pada
Pesantren Qotrun tempat komunikasi antar pribadi dalam
Nada Cipayung penelitian pembentukan karakter santri
Depok) sedangkan penelitian ini berfokus pada
komunikasi antarpribadi dalam
membentuk konsep diri dan interaksi
sosial.
3 Konsep Diri dalam Rico Penelitian Sama-sama ingin mengetahui konsep
Komunikasi Simanun ini dengan diri dalam komunikasi antarpribadi
Antarpribadi (Studi gkalit, penelitian
Kasus pada Anggota 2014 terdahulu
Language and memiliki
Cultural Exchange perbedaan Penelitian terdahulu berfokus pada
Medan) tempat anggota Language and Cultural
penelitian Exchange Medan sedangkan penelitian
ini berfokus pada komunikasi
antarpribadi dalam membentuk konsep
diri dan interaksi sosial.
4 Hubungan Konsep Dian Penelitian Sama sama ingin mengetahui konsep
Diri Dengan Ambarw ini dengan diri dan interaksi sosial
Interaksi Sosial
Siswa Kelas Iv Sd ati, 2016 penelitian
Negeri Se- terdahulu Penelitian terdahulu berfokus pada
Kecamatan hubungan konsep diri dengan interaksi
Mergangsan memiliki
sosial siswa kelas IV SD negeri se
perbedaan kecamatan mergangsan sedangkan
tempat penelitian ini berfokus pada
komunikasi antarpribadi dalam
penelitian membentuk konsep diri dan interaksi
sosial.
5 Pola Komunikasi Risky Penelitian Sama-sama ingin mengetahui
Antarpribadi Antara Achmad ini dengan komunikasi antarpribadi antara guru
Guru Dan Murid Hidayatu dan murid
Pada Proses llah, penelitian
Pembentukan 2018 terdahulu
Karakter Budaya Penelitian terdahulu berfokus pada
Sunda Sejak Remaja memiliki
Pola Komunikasi Antarpribadi Antara
Awal Di Smp Yas perbedaan
Guru Dan Murid Pada Proses
Kota Bandung (Studi
tempat Pembentukan Karakter Budaya Sunda
Deskriptif Pola
Komunikasi penelitian Sejak Remaja Awal Di Smp Yas Kota
Antarpribadi antara Bandung sedangkan penelitian ini
Guru dan Murid berfokus pada komunikasi antarpribadi
Pada Proses dalam membentuk konsep diri dan
Pembentukan interaksi sosial.
Karakter Budaya
Sunda Sejak Remaja
Awal di SMP YAS
Kota Bandung)
2.2 Kajian Teoritis

2.2.1 Komunikasi Antar Pribadi

Komunikasi antarpribadi adalah komunikasi yang

berlangsung antara dua orang atau lebih, baik secara terorganisir

maupun kerumunan orang._Cangara (2009:36) dan Soyomukti

(2016: 141) memberikan pengertian bahwa komunikasi

antarpribadi merupakan proses komunikasi yang berlangsung

antara dua orang atau lebih secara tatap muka. Bungin (2013: 32)

memperjelas bahwa komunikasi antarpribadi adalah komunikasi

antarperorangan yang bersifat pribadi baik yang terjadi secara

langsung (tanpa medium) maupun tidak langsung (melalui

medium).

Komunikasi antarpribadi mencakup semua aspek

komunikasi, seperti membujuk, mendengarkan, komunikasi verbal

atau nonverbal dan lain sebagainya._Konsep utamanya terlihat

pada tindakan komunikatif, saat seseorang terlibat dalam suatu

bidang komunikasi, seperti interaksi kelompok (Murtiadi,

Danarjati, & Ekawati, 2015:39). Pada umumnya komunikasi

antarpribadi berlangsung secara tatap muka (face to face)._Melalui

tatap muka akan terjadi hubungan pribadi atau kontak pribadi yang

selanjutnya akan mendapatkan umpan balik (feedback)._Oleh


karenanya, beberapa pendapat mengatakan bahwa komunikasi

antarpribadi merupakan sebuah komunikasi yang paling efektif

dalam upaya mengubah sikap, pendapat atau perilaku

seseorang._Alasannya, komunikasi antarpribadi berlangsung dalam

proses dialog yang arus baliknya bersifat langsung.+Dapat

disimpulkan bahwa komunikasi antarpribadi merupakan proses

penyampaian atau penerima pesan._ Saat komunikasi berlangsung

terjadi pergantian pesan secara bergantian yang memiliki tujuan

untuk merubah sikap atau perilaku seseorang baik langsung

ataupun tidak langsung.__

Tujuan komunikasi Antarpribadi yag dijelaskan oleh

Muhammad (2014: 165), yakni:

a. Menemukan Diri Sendiri

Menunjukkan perasaan, pikiran dan tingkah laku mengenai

diri individu bertujuan untuk mendapatkan respon balik dari

orang lain._

b. Menemukan Dunia Luar

Dengan melakukan hubungan komunikasi Antarpribadi,

individu mendapatkan banyak informasi ataupun objek-objek

dari orang lain._

c. Membentuk dan Menjaga Hubungan yang Penuh Arti


Komunikasi yang terjalin akan membentuk suatu hubungan

sosial. Hubungan yang bertujuan untuk mengurangi rasa

kesepian dan berbagi satu dengan yang lain.__

d. Berubah Sikap dan Tingkah Laku

Keterlibatan yang terjalin antar satu individu dengan

individu lainnya membuat individu terbujuk karena

komunikasi yang dilakukannya sehingga dapat merubah sikap

dan tingkah laku individu tertentu.__

2.2.2 Konsep Diri

1. Pengertian Konsep_Diri

Konsep diri_merupakan sekumpulan mengenai_keyakinan

dan persepsi diri tentang diri_sendiri yang_terorganisasi.

Berbicara tentang konsep diri,_peran diri merupakan aspek

penting dalam_individu melakukan konsep diri._Diri (self)

sebagai bagian dari anggota social yang_dibentuk dari proses

komunikasi._Pembentukan diri muncul_dari adanya adaptasi

serta_interaksi social dengan_antar individu. bahwa wawasan

paling mendasar mengenai diri_adalah diri bukan bawaan sejak

lahir,_tetap diri berkembang karena adanya proses_komunikasi

dengan individu lain serta keikutsertaan diri_berpartisipasi di

lingkungan social.

2. Pembentukan_Konsep_Diri
Pembentukan_konsep diri individu_berubah saat individu

tersebut_berada dilingkungan tertentu. Seperti dilingkungan

yang baru,_butuh adaptasi._Adaptasi dengan lingkungan_serta

membangun_interaksi social dengan individu_lain akan

menumbuhkan konsep_diri yang baru._Bahwa pembentukan

konsep diri dipengaruhi_oleh orang lain dalam_proses interaksi

social yang dilakukan_dengan individu (Sarito W. Sarwono

2009:53).

Dari_interaksi yang dilakukan,_akan memunculkan

pemahaman tentang_pesan yang disampaikan oleh_orang

lain._Proses pembentukan konsep_diri yaitu interaksi yang

pertama kali_dilakukan oleh individu sejak dia_lahir dengan

keluarga._Keluarga mempunyai peran penting dalam

membentuk konsep diri individu. Sikap atau respon dari orang

dewasa yang berada di sekitar dan sering berinteraksi dengan

individu untuk menilai siapa dirinya._Bergen dan_Braithwaite

2009 dalam Julia T wood (2013:46)_bahwa keluarga menjadi

acuan_oleh individu sebagaimana_pandangan tentang sesuatu

yang nantinya akan berpengaruh_dalam proses pentukan_diri

individu.

Julia T._Wood (2013:45)_mengatakan bahwa konsep_diri

dibentuk dan_berkembang melalui komunikasi._Individu proses


pesan yang diterima dengan_dua tipe perspektif yang

disampaikan_ pada individu yaitu :

a. Orang_terdekat

Orang yang pertama_kali mempengaruhi diri_individu serta

membentuk konsep_diri pada individu_yaitu melakukan

interaksi_dengan orang terdekat yang_memiliki kedekatan

secara_emosional pada individu. Menurut Lau_dan_Pun

1999 dalam Robert A._Baron (2012:164)_bahwa aktivitas

pada diri_manusia tidak lepas dari peran_pembentukan

identitas diri_atau konsep_diri yang dimulai dari_keluarga

kemudia meluas ke_interaksi dengan_individu lain

dilingkungan_luar selain_lingkungan keluarga saja.

b. Masyarakat_umum

Perspektif_mengenai mesyarakat umum atau_disebut

dengan (generilized others)_juga dapat mempengaruhi

pembentukan individu._Dimana konsep_diri dipengaruhi

oleh pandangan orang_lain secara umum_didalam

kelompok social._Kelompok social yang mendominasi

dilingkungan yang_ditinggali individu akan_mempengaruhi

pembentukan konsep_diri._Seperti yang dikatakan_oleh

Sorenitni_dan kawan-kawan_2005 dalam Julia T._Wood

mengatakan bahwa_setiap kelompok social memiliki

pandangan untuk_merefleksikan nilai, pandangan,


pengalaman dalam__kelompok tersebut.__Pandangan

pandangan umum__yang didapatkan dari individu

memandang atau satu_kelompok social, akan memunculkan

pandangan_individu tentang objek social memunculkan

pandangan_individu tentang objek social_secara umum

membentuk_konsep dirinya.

3. Dimensi_Konsep_Diri

Fitts (1971) membagi konsep_diri dalam dua dimensi, yaitu

diantaranya_internal_dan_eksternal :

a. Kategori_internal memiliki_3 unsur, yaitu :

1) Diri_identitas

Bagian diri ini merupakan aspek yang paling mendasar

pada konsep diri dan mengacu pada pertanyaan, siapakah

saya ?” dalam pertanyaan tersebut mencakup label dan

symbol symbol yang diberikan pada diri (self) oleh

individu individu yang bersangkutan untuk

menggambarkan dirinya dan membangun identitasnya.

2) Diri perilaku

Diri pelaku merupakan persepsi individu tentang tingkah

lakunya yang berisikan segala kesadaran mengenai “apa

yang dilakukan oleh diri”.

3) Diri penilai
Diri penilai berfungsi sebagai pengamat, penentu

standar, dan evaluator. Kedudukannya adalah sebagai

perantara (mediator) antara diri dan identitas pelaku.

b. Kategori eksternal memiliki 5 unsur, yaitu :

1. Diri fisik

Diri fisik mengenai persepsi seseorang terhadap keadan

dirinya secara fisik (cantik, jelek , menarik, tidak

menarik, gemuk, kurus, tinggi, pendek, dll)

2. Diri_etik – moral

Bagian_ini merupakan_persepsi seorang terhadap_

dirinya dilihat dari_pertimbangan nilai moral_dan etika.

Hal_ini merupakan_persepsi seseorang dengan_Tuhan,

kepuasan seseorang_akan kehidupan agamanya_dan nilai

nilai moral yang_dipegangnya,_yang meliputi_baik dan

buruk.

3. Diri_pribadi

Diri_pribadi merupakan perasaan_atau_persepsi dari

seorang_tentang keadaan pribadinya._Hal ini tidak

dipengaruhi oleh_kondisi fisik_atau hubungan_dengan

orang lain,_tetapi dipengaruhi_oleh sejauh mana dia

merasa dirinya_sebagai pribadi_yang tepat.

4. Diri_keluarga
Diri_keluarga menunjukkan perasaan_dan_harga diri

seorang dalam kedudukannya_sebagai anggota_keluarga.

Bagian_ini__menunjukkan__seberapa_jauh__seseorang_

_merasa__dekat__terhadap_dirinya__sebagai__anggota_

keluarga.

5. Diri_social

Bagian_ini merupakan_penelitian individu terhadap

interaksi dirinya dengan_orang lain maupun_lingkungan

sekitar._Seluruh bagian diri ini,_baik itu internal maupun

eksternal,_saling berinteraksi dan membentuk suatu

kesatuan yang utuh.

4. Faktor yang_Mempengaruhi Konsep_Diri

Factor - factor dari konsep_diri :

1) Identity Self

Faktor ini mengacu pada pertanyaan “siapa saya?” dalam

pertanyaan tersebut tercakup label-label atau simbol -

simbol yang diberikan pada_diri (self)_oleh individu

untuk_menggambarkan dirinya dan__membangun

identitasnya.

2) Behavioural_Self

Faktor ini_merupakan persepsi individu_mengenai tingkah

lakunya_dan_berisikan seluruh_kesadaran mengenai “apa

yang diri lakukan”.


3) Judging_Self

Diri penilai_berfungsi mengamati,_menentukan standart

dan mengevaluasi._Diri penilai ini pula yang_menentukan

kepuasan_seseorang akan dirinya_atau seberapa jauh

seseorang_menerima dirinya.

4) Physical_Self

Merupakan persepsi_individu terhadap keadaan_dirinya

secara fisik,_seperti kesehatan,_penampilan dan_keadaan

tubuh.

5) Moral_Ethical_Self

Merupakan_persepsi individu terhadap_keadaan dirinya

dilihat dari_standart pertimbangan_nilai moral_dan etika.

6) Personal_Self

Merupakan_persepsi individu terhadap keadaan

pribadinya,_yang berhubungan dengan sejauh_mana ia

merasa puas terhadap_pribadinya atau sejauh_mana ia

merasa_dirinya sebagai_pribadi yang tepat.

7) Family_Self

Menunjukkan_persepsi individu yang_berhubungan dengan

kedudukan sebagai anggota_keluarga.

8) Social_Self

Merupakan_persepsi individu_terhadap_interaksi dirinya


dengan_orang lain_atau lingkungan sekitar.

5. Bentuk Konsep_Diri

Pandangan_seseorang_terhadap dirinya neniliki dua

bentuk yaitu bentuk konsep_diri positif dan konsep_diri negatif.

Perbedaan ini_dikarenaka seseorang_mencitrakan dirinya_dan

menilai berbagai kemungkinan_yang menyangkut_keberhasilan

dan kebahagiaan_hidupnya.

Jalaludin Rakhmat menjelaskan ada_lima karakter orang

yang_memiliki konsep_diri positif, diantaranya :

a) Yakin_akan_kemampuannya dalam_mengatasi masalah_yang

didapatkan.

b) Merasa_setara dengan_orang lain

c) Menerima_pujian dari orang tanpa rasa malu

d) Menyadari,_bahwa setiap orang memiliki

perasaan,_keinginan dan_perilaku yang tidak seluruhnya

dapat disukai oleh masyarakat

e) Mampu_memperbaiki dirinya, karena__dia sanggup

mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak

disenangi_dan dia_berusaha untuk mengubahnya.

Pola konsep_diri yang kedua adalah konsep_diri negatif

yang menurut_Brooks_dan_Emmert, ada lima_hal yang menjadi

karakteristik orang yang_memiliki konsep_diri negatif,


diantaranya_:

1) Peka terhadap kritik. Orang ini sangat tidak tahan pada kritik

yang diterimanya dan mudah marah.

2) Responsif_sekali terhadap pujian._Walaupun dia mungking

berpura-pura menghindari__pujian,__dia tidak dapat

menyembunyikan_antusiasmenya_pada waktu menerima pujian.

3) Sikapnya_hiperkritis (suka mengkritik)_terhadap orang_lain.

4) Bersikap_pesimis terhadap kompetisi_seperti terungkap dalam

keanggotaannya_untuk bersaing dengan_orang lain dalam

membuat_prestasi.

2.2.3 Pondok Pesantren

Menurut Anin Nurhayati dalam bukunya Inovasi kurikulum

menyebutkan bahwa “Pondok pesantren merupakan pendidikan Islam

tertua yang berfungsi sebagai salah satu benteng pertahanan umat Islam,

pusat dakwah dan pengembangan masyarakat muslim di Indonesia”.

Istilah dari pondok/.pesantren terdiri dari/.dua kata, pondok/.dan

pesantren./.Kedua kata tersebut/.memiliki arti sendiri sendiri./.Ini berarti

pondok adalah/.tempat menginap bagi/.para santri.

Menurut/.M. Adib/. Abdurrahman. Istilah pesantren/.secara

etimologis asalnya/.pe-santri-an yang berarti tempat para santri./.Dalam

arti ini berarti dimana/.santri tinggal ataupun menetap./.Sementara itu

pesantren/.dapat juga didefinisikan/. lebih luas lagi./.Pesantren


didefinisikan sebagai suatu/.tempat pendidikan dan/.pengajaran yang

menekankan pelajaran agama islam/.dan didukung asrama sebagai/.tempat

tinggal santri yang/.bersifat permanen.

Sedangkan/.menurut Abd A’la. Pesantren merupakan lembaga

pendidikan Islam di Jawa. Munculnya pesantren di Jawa bersamaan

dengan kedatangan para Wali Sanga yang menyebarkan Islam di daerah

tersebut. Menurut catatansejarah, tokoh yang pertama kali mendirikan

pesantren adalah Syaikh Maulana Malik Ibrahim. Pola tersebut kemudian

dikembangkan dan dilanjutkan oleh para Wali yang lain.

Sebagaimana/.yang telah dikemukakan oleh/.Hasbullah sebagai

berikut:/.Di Indonesia,/.istilah kutab lebih dikenal/.dengan istilah “pondok

pesantren” yaitu suatu lembaga pendidikan Islam,/.yang di dalamnya

terdapat seorang Kyai/.(pendidik) yang mengajar dan mendidik para santri

(anak didik)./.Dengan sarana masjid yang di gunakan untuk

menyelenggarakan tersebut./.Serta didukung/.adanya pondok sebagai

tempat tinggal para santri./.Dengan demikian/.ciri-ciri pondok pesantren

adalah/.adanya kyai, ustadz,/.santri, masjid, dan pondok

Menurut Binti Maunah dalam lingkungan pondok pesantren pasti

akan dijumpai unsur-unsur vital yang ada didalamnya. Untuk itu ada lima

ciri khas/.pondok pesantren yang sekaligus menunjukkan/.unsur-unsur

pokoknya adalah:

a. Kyai atau ustadz, sebagai pemangku, pengajar dan pendidik


b. Santri, yang belajar kepada kyai

c. Masjid, tempat untuk menyelenggarakan pendidikan, shalat berjamaah

dan sebagainya.

d. Pondok, tempat untuk tinggal para santri

e. Pengajian kitab.

2.2.4 Ustadz

Istilah “pendidik” dalam konteks/.pendidikan islam sering

disebut “murobbi, mu’allim, mu’addib” yang ketiga nama/.tersebut

mempunyai arti/.penggunaan tersendiri menurut/.peristilahan yang

dipakai dalam “pendidikan dalam konteks islam”./.Muhaimin dan

Abdul Mujid dalam buku/.Pemikiran Pendidikan Islam (kajian Filosofi

dan Kerangka Dasar Operasionalnya)/.menjelaskan bahwa, istilah

pendidik kadang kala/.disebut melalui gelarnya, seperti istilah “Al

Ustadz dan Asy Syaikh” (1993:167).

Seorang pendidik/.tidak hanya mentransfer keilmuan

(knowledge),/.tetapi juga mentransformasikan nilai-nilai/.(value) pada

anak didik./.Untuk itu, guna merealisasikan tujuan pendidikan,/.manusia

sebagai khalifah yang punya/.tanggung jawab mengantarkan manusia

kearah tujuan tersebut,/.cara yang ditempuh yaitu menjadikan/.sifat –

sifat Allah sebagai/.bagian dari pribadinya.

Manusia/.selaku cendikiawan dan intelektual/.muslim dituntut

untuk mengembangkan/.serta menempuh dengan berbagai jalan untuk


melestarikan misi tersebut./.Kaitannya dalam pendidikan,/.misi tersebut

dapat dilakukan/.dalam proses belajar mengajar,/.yang satu pihak

menjadi pendidik/.dan pihak lainnya menjadi anak didik./.Para pendidik

memperoleh/.keutamaan karena Rosulullah SAW, adalah/.pimpinan

mereka dan orang/.pertama yang membawa dari zaman yang gelap

menuju zaman yang terang benerang.

Kesimpulan uraian diatas,/.dapat dijelaskan bahwa/.dalam

kegiatan belajar/.mengajar sosok pengajar ustadz/.sangat dibutuhkan,

sebab jika tidak ada ustadz/.kegiatan belajar mengajar tidak/.akan dapat

terlaksana dengan baik./.Istilah ustadz yang disandang/.seseorang

memberikan/.gambaran bahwa orang tersebut memiliku ilmu,/.ilmu

yang di harapkan dapat/.dimanfaatkan ataupun untuk dibagikan/.kepada

orang lain melalui kegiatan/.belajar mengajar.

E Mulyasa dalam buku/.Menjadi Guru Profesional Menciptakan

Pembelajaran yang Kreatif dan Menyenangkan,/.menjelaskan

pengertian/.tentang ustadz, yaitu:

Ustadz adalah/.pendidik yang menjadi tokoh/.panutan

dan identifikasi bagi/.para anak didik dan lingkungan.

Oleh karena itu,/.ustadz harus memiliki standart

kualitas pribadi tertentu yang/.mencangkup tanggung

jawab, wibawa,/.mandiri dan disiplin/.(2008:37).


Ustadz adalah/.orang tua anak didik ketika di sekolah./.Semua

prilaku ustadz yang baik maupun/.buruk akan dicontoh oleh anak

didiknya./.Anak didik lebih banyak menilai/.apa yang ustadz lakukan

dalam pergaulan/.di sekolah dan di masyarakat/.dari pada apa yang

ustadz katakan./.Akan tetapi baik perkataan/.ataupun yang dilakukan,

keduanya menjadi/.penilaian bagi anak didik./.Sehingga apa yang ustadz

katakan harus pula ustadz praktekkan/.dalam kehidupan sehari-

hari./.Hal itulah yang menjadikan ustadz memiliki/.peranan penting

dalam/.dunia pendidikan.isitlah_

2.2.5 Santri

Santri/.menurut HM./.Amin Haedari/.(2004:28-29) dalam bukunya

masa depan pesantren/.(dalam tantangan modernitas dan tantangan

implesitas global)/.adalah berasal dari kata cantrik/.(dalam agama Hindu),

yang berarti/.orang-orang yang ikut berlayar dan mengembara/.dengan

empu empu ternama./.Namun ketika diterapkan dalam agama Islam,/.kata

cantrik tersebut/.berubah menjadi santri yang berarti/.orang-orang yang

belajar kepada/.para guru agama./.Sedangkan menurut kamus besar bahasa

Indonesia,/.santri adalah orang yang mendalami agama Islam,/.orang yang

beribadah dengan sungguh sungguh,/.orang yang sholeh/.(1998:783).

Santri terbagi menjadi dua,/.yaitu santri mukim dan santri/.kalong.

Menurut/.HM./.Amin Haedari dalam buku Masa Depan Pesantren,/.dalam

tantangan modernitas/.dan tantangan komplesitas/.global, adalah:


Santri mukim/.adalah murid yang berasal/.dari daerah yang

jauh dan menetap di pesantren./.Sedangkan santri kalong

adalah/.murid yang tinggal tidak jauh dari lokasi/.berdirinya

pesantren tersebut./.Para santri kalong pergi ke/.pesantren

ketika ada tugas/.belajar dan aktivitas pesantren/.lainnya

(2004:35).

Santri adalah/.murid yang belajar di pesantren./.Seorang ulama bisa

disebut kyai/.atau ustadz dan/.santri yang tinggal untuk mendalami ilmu

agama/.berdasarkan kitab kuning./.Oleh karena itu,/.aksistensinya kyai

biasanya juga/.berkaitan adanya santri di pesantrennya./.Sehingga

dipahami bahwa santri adalah/.murid yang belajar di pesantren/.dan

didampingi oleh seorang/.ustadz atau kyai dengan tujuan/.untuk lebih

mendalami ilmu/.agama Islam.

KOMUNIKASI ANTARPRIBADI USTADZ DAN SANTRI DALAM


MEMBENTUK KONSEP DIRI DI PONDOK PESANTREN AL FATTAH
GESING BANJARSARI BUDURAN SIDOARJO
2.3 Kerangka Berfikir

Pondok Pesantren
Al Fattah

Komunikasi Antar Pribadi


Ustadz dan Santri

Kosep Diri

Internal Eksternal
1. Diri Identitas 1. Diri Fisik
2. Diri Perilaku 2. Diri Etik-Moral
3. Diri Penilai 3. Diri Pribadi
4. Diri Keluarga
5. Diri Sosial

Konsep Diri Santri Positif /


Negatif

dari rancangan penelitian yang di buat di atas, penelitian ini akan

dilakukan di Yayasan Pondok Pesantren Al Fattah Gesing Banjarsari

Buduran Sidoarjo, dimana di pondok pesantren terdapat para ustadz dan

santri, dalam hal itu maka penelitian ini akan meneliti bagaimana

komunikasi antarpribadi antara ustadz dengan santri dalam membentuk

konsep diri dan di yayasan pondok pesantren Al Fattah Gesing Banjarsari

Buduran Sidoarjo.
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan Penelitian

Dalam sebuah sampe

Menurut Bodgan dan Biklen dalam Sugiyono secara umum penelitian

kualitatif memiliki karakteristik sebagai berikut :

1. Dilakukan pada kondisi yang alamiah, langsung ke sumber data dan penulis

adalah instrumen kunci.

2. Penelitian kualitatif lebih bersifat deskriptif. Data yang terkumpul

berbentuk kata-kata atau gambar, sehingga tidak menekankan pada angka.

3. Penelitian kualitatif lebih menekankan pada proses daripada produk atau

outcome

4. Penelitian kualitatif melakukan analisis data secara induktif.

5. Penelitian kualitatif lebih menekankan makna (data di balik yang teramati).

3.2 Fokus_Penelitian

Penelitian ini menfokuskan pada terjalinnya komunikasi anatrpribadi

dalam memebentuk konsep diri di Pondok pesantren Al Fattah Gesing Banjarsari

Buduran_Sidoarjo.

3.3. Lokasi_Penelitian
Penelitian ini_dilakukan di lembaga pondok pesantren Al Fattah Gesing

Banjarsari Buduran Sidaorjo. Penulis mengambil lokasi tersebut karena ingin

mengetahui bagaimana pola komunikasi antar santri dan sisswa di pondok

pesantren Al Fattah Gesing Banjarsari Buduran Sidaorjo.

3.4 Teknik Penentuan Informan

Informan merupakan orang-orang yang benar benar mengetahui atau

pelaku yang terlibat langsung dengan penelitian. Informan ini juga harus banyak

pengalaman tentang penelitian, serta dapat memberikan pandangan tentang

konsep diri dan yang menjadi latar penelitian setempat. Teknik penentuan

informan menggunakan teknik sampling purposif, Tujuan digunakannya purposive

sampling adalah untuk menentukan sampel sebuah penelitian yang memang memerlukan

kriteria-kriteria tertentu agar sampel yang diambil sesuai dengan tujuan penelitian

Syarat informan :

1. Menjadi pengasuh selama 3 tahun

2. Menjadi santri SMA selama 2 tahun (kelas 2 dan 3)

Adapun informan yang dimaksud adalah :

1. Ustadz pondok pesantren sebanyak tiga orang yakni A,B,C

2. Santri pondok pesantren sebanyak enam orang yakni D,E,F

3.5_Teknik_Pengumpulan_Data
Teknik pengunpulan data yang biasa digunakan dalam penelitian ini yaitu

dengan menggunakan metode pengumpulan data berbentuk observasii,

wawancara, dan dokumentasi.

Adapun beberapa metode pengumpulan data yang akan digunakan dalam

penelitian ini adalah :

a. Wawancara

Menurut Sutrisno Hadi, wawancara adalah “ sebuah proses

pengumpulan data yang menggunakan Tanya jawab lisan yang dilakukan

dua orang atau lebih dengan berhadapan langsung, baik terpendam

maupun manifest

Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah

wawancara baku terbuka. Menurut Lexy J. Moleong, wawancara baku

terbuka adalah “wawancara yang menggunakan pertanyaan, kata-kata dan

cara penyajiannya pun sama untuk setiap responden.” Dalam wawancara

tersebut , semua pertanyaan sama untuk semua responden, agar wawancara

tidak keluar dari jalur penelitian, tapi cara bagaimana pertanyaan itu

diajukan tergantung pada kebijakan pewancara.

Dalam wawancara ini, penulis mewawancarai informan dalam

mengumpulkan data, penulis menggunakan teknik sampling bola salju

(snowball sampling). Teknik sampling bola salju yaitu dimulai darisatu

informan ke informan yang lainnya kemudian menjadi semakin banyak.


Pada proses wawancara, penulis mewawancarai informan dari

ustadz dan santri. Penulis memberikan pertanyaan yang sama sesuai

perannya sebagai ustadz dan santri dalam membentuk konsep diri dan di

pondok pesantren Al Fattah.

b. Observasi

Dalam penelitiian ini, pada metods pengamatan yang akan dilakukan

peneliti yaitu mnggunakan metods observasi secara langsung dilapangan

dengan cara melkukan pengamatan pada kegiatan yang berlangsung. Yang

mana sang peneliti bisa merasakan apa yang dirasakan, dihayati dan di

lihat oleh subjek.

c. Dokumentasi

Cara pengumupulan data yang bertujuan untuk menyempurnakan hasil-

hasil data yang akan didapat dari wawancaraa dan observasi untuk

mendukung dokumen dokumen yang akan di nyatakan benar-benar valid.

Beberapa bentuk dokumen yang bisa untuk dijadikan sumberantara nya

yaitu laporan penelitian, buku-buku baik itu tertulis maupun tidak tertulis

yang sesuai dengan peneliti, dan foto foto dilapangan, dll

3.6_Teknik_Analisis_Data

Analisi data merupakan sebuah tahapan mencari maupun menyusun secera

sistematis yakni data yang peroleh dari wawancara, dengan cara mengelompokkan

data dalam kategori-kategori terntentu, menguraikan kedalam poin-poin,

menyusun pola, lalu menyaring, dan memila bagian yang pentingg dan akan di
pelajari serta mendapatkan suatu kesimpulan yang mudah untuk dipahami diri

sndiri dan orang laiin.

Dalam penelitian ini akan menggunakan teknik analisis data interaktif.

Dan model ini mempunyai 3 komponen untuk di analisa yaitu reduksi data,

penyajian data, lalu penarikan kesimpulan . Meleong(2004:280-281)

a. Reduksi_Data

Reduktisdata bertujuan untuk proses tahap-tahap yakni melakukan

pemilihan, penfokusan, penyederhanaan, abstraksi, lalu dilakukan

penggabungna data mentah yang diperoleh dari catatan dilapangan yang

tertulis.

b. Penyajian_Data

Penyajian data merupakan sekumpulan dokumen-dokumen informasi data

yang disusun. Bentuk dari penyajian data kulalitatif:

1. Teks Naratif : yang berbntuk sebuah jenis yakni grafik,matrik,bagan-

bagan,dan jaringan-jaringan kerja. Semua disusun untuk mngaitkan

informasi yang tersusun dlam bentuk yang simple dan praktis.

c. Penarikan_Kesimpulan

Langkah selanjutnya dalam analisa yaitu penarikan kesimpulan untuk

meverifikasi data-data yang sudah di dapatkan dan di oleh secara valid lalu

diputuskan kesimpulan yang sudah didapatkan.


BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Sejarah Singkat Pondok Pesantren Al-Fattah

Pondok Pesantren Al Fattah didirikan oleh KH. Ahmad Subroto pada tahun
1977. KH. Ahmad Subroto merupakan seorang ulama asal Kediri. Pada saat itu,
beliau ditugaskan oleh salah satu lembaga untuk berdakwah di Kota Delta. Salah
satu tempat beliau berdakwah ialah di Dusun Gesing, pada tahun 1958 beliau
menetap di sini. Kemudian pada tahun 1966 KH. Ahmad Subroto menikah dengan
salah satu gadis di Dusun Gesing yaitu Ibu Nyai Hj. Rahayu yang merupakan
putri dari mbah Abdul Salam, biasa dikenal masyarakat dengan sebutan mbah
guru abdul salam (guru pada zaman Belanda).

Cikal bakal Pondok Pesantren berawal dari adanya langgar yang disebut
dengan nama langgar tengah, dinamakan langgar tengah karena letaknya di
tengah-tengah, disebelah timur terdapat masjid kemudian disebelah barat terdapat
langgar. Pada tahun 1976 Langgar tengah digunakan sebagai aktivitas pondok,
yang datang untuk mengaji yakni masyarakat sekitar, pada saat itu yang mengajar
yakni KH. Ahmad Subroto.

Pada tahun 1977 KH. Ahmad Subroto memproklamirkan tentang akan


berdirinya Pondok Pesantren pada acara pengajian khitanan ustad Ainun Rofik
yang merupakan anak pertama dari KH. Ahmad Subroto dengan Ibu Nyai Hj.
Rahayu. Sepulangnya KH. Ahmad Subroto dari Haji beliau mulai membangun
Pondok Pesantren. Dalam pendirian Pondok Pesantren KH. Ahmad Subroto tidak
sendirian, beliau dibantu oleh H. Umar Rois yang merupakan keponakan dari
Mbah Guru Abdussalam, beliau mewakafkan tanah untuk dibangun Pondok
Pesantren Al Fattah. H. Abdurrahman juga. berperan besar dalam pendirian
Pondok Pesantren Al Fattah, beliau merupakan Paman dari Ustad Ainun Rofik.
Pada awal berdirinya Pondok Pesantren, para santri yang belajar di Pondok
Pesantren Al Fattah adalah para jamaah KH. Ahmad Subroto. Saat itu santri yang
mondok berjumlah 8 orang dan hanya ada 3 kamar.

Latar belakang pemberian nama Al Fattah berdasarkan pada peristiwa yang


terjadi pada G30S PKI. Dahulu pada zaman G30S PKI Langgar Tengah atau yang
sekarang menjadi Yayasan Pondok Pesantren Al Fattah ditutup oleh anggota PKI
karena mereka melarang untuk menggunakannya. KH. Ahmad Subroto
Mempunyai anggota jamaah yang cukup banyak dan kebetulan ada yang menjadi
anggota TNI. Akhirnya, KH. Ahmad Subroto mendatangkan angkatan TNI dari
Kodam V Brawijaya dan menemui Kepala Desa untuk meluruskan apa yang
sebenarnya terjadi bahkan juga mengancam “Apabila ada satupun anggota
keluarga langgar tengah yang tersakiti ataupun terbunuh maka akan saya
hancurkan semua”, akhirnya mereka menyadari dan kembali membuka langgar
Tengah. Langgar tengah kemudian diberi nama “Al Fattah” yang mempunyai arti
kemenangan. Al Fattah dapat diartikan pembukaan atau kemenangan.

Menginjak pada tahun 1986, KH. Ahmad Subroto mendirikan yayasan untuk
menaungi Lembaga pendidikan formal. Berdasarkan legalitas Akta pendirian
Yayasan Pondok pesantren Al Fattah, Nomor 32 Tanggal 17 Juni 1986. Di
Notariskan Ny. Lilia Devi Inderawati S.H. Jln. Jendral S. Parman No. 16 Waru-
Sidoarjo. Yayasan tersebut didirikan oleh KH. Ahmad Subroto dengan dasar
untuk menampung aspirasi para jamaah dan masyarakat. Banyak jamaah yang
ingin anaknya mondok di pesantren, akan tetapi mereka juga ingin anaknya
memperoleh pelajaran formal.

Awal mula berdirinya yayasan adalah berupa SMP (Sekolah Menengah


Pertama) yang didirikan oleh KH. Ahmad Subroto pada tahun 1987 yang terletak
disebelah rumahnya. Awal mula berdiri SMP terdapat satu ruang kelas dengan
sekitar 20 jumlah siswa.

Seiring dengan berjalannya waktu Sekolah Menengah Pertama (SMP)


mendapat respon yang sangat positif dari para jamaah dan masyarakat. Hal ini
terbukti dari antusias masyarakat untuk menitipkan putera-puteri mereka di
Yayasan Pondok Pesantren Al Fattah. Yayasan tersebut makin lama semakin
berkembang, mengalami kemajuan yang sangat pesat, dan menjadi yayasan yang
menaungi beberapa lembaga pendidikan. Kemudian ada sebuah dorongan untuk
membangun Sekolah Menengah Atas (SMA), karena mondok 3 tahun saja sampai
lulus SMP itu dirasa kurang.

Pada tahun 1993 SMA didirikan, pada saat itu hanya terdapat satu ruang
kelas dengan jumlah siswa sekitar 20 orang, kebanyakan para siswa- siswinya
berasal dari lulusan SMP Al Fattah.

Yayasan Pondok Pesantren Al Fattah juga menaungi Lembaga pendidikan


madrasah diniyah. Sejak berdirinya Pondok Pesantren Al Fattah MADIN
(Madarasah Diniyah) sudah ada, akan tetapi belum disahkan menjadi lembaga
pendidikan. Baru kemudian pada tahun 2008 MADIN (Madrasah diniyah)
disahkan oleh Kementerian Agama. Pada masa kepemimpinan KH. Ahmad
Subroto Yayasan Pondok Pesantren Al Fattah sudah memiliki ratusan santri, dan
sekarang ini Yayasan Pondok Pesantren Al Fattah yang dipimpin oleh dewan
pengasuh salah satunya yakni Ustad Ainun Rofik yang juga merupakan anak
kandung pertama dari KH. Ahmad Subroto berusaha untuk menjaga pondok
pesantren sehingga dapat bermanfaat di tengah-tengah masyarakat yang ada,
pertama di lingkungan Kabupaten Sidoarjo, kemudian di lingkungan setingkat
Provinsi dan merambah di luar provinsi.

Keberadaan Yayasan Pondok Pesantren Al Fattah tidak hanya dirasakan oleh


masyarakat sekitar Sidoarjo, akan tetapi sudah ke luar wilayah Sidoarjo, bahkan
juga sudah merambah di luar Provinsi seperti: Kalimantan, Sumatera, dan Papua.
Para alumni yang berasal dari Ponpes Al Fattah ada beberapa yang sudah merintis
Lembaga baik itu lembaga pesantren, maupun lembaga pendidikan formal.

B. Hasil Penelitian dan Pembahasan

1. Ustadz Membangun Komunikasi Interpersonal yang Efektif dengan


Santri.

Ustadz A adalah seseorang yang mengajarkan ilmu-ilmu agama di


pesantren. Selain sebagai pengajar, peran Ustadz di pesantren adalah sebagai
pembimbing santri yang melanggar peraturan pondok, baik itu dalam hal
kedisiplinan beribadahnya, aplikasi nilai-nilai keagamaannya maupun dalam
penggunaan bahasanya. Jadi, semua Ustadz diharapkan mampu menanamkan
nilai-nilai keagamaan bagi semua santri, yakni dengan memberikan teladan yang
baik kepada seluruh santri baik dalam hal peguasaan bahasa asing dan penanaman
nilai akhlaqul karimah. Karena dengan adanya teladan dari Ustadz itulah
penanaman nilai-nilai keagamaan dapat cepat meresep di hati para santri. Adapun
santri adalah orang yang alim dan banyak melakukan ibadah serta banyak ilmunya
atau orang yang pergi belajar dan mendalami agama pada suatu lembaga
pendidikan khusus (pesantren).
Di Pondok Pesantren Al-Fattah terdapat banyak Ustadz. Akan tetapi yang
aktif sekarang (sewaktu penulis melakukan penelitian) adalah 6 Ustadz dan 3
Ustadzah. Adapun jumlah santri di Pondok Pesantren Al-Fattah sekitar 657 orang.
Walaupun jumlah Ustadz lebih sedikit dibandingkan santri, namun proses
penanaman nilai-nilai akhlak kepada santri tetap berjalan dengan baik.

Pada penelitian ini, penulis meneliti secara komprehensif tentang


komunikasi interpersonal Ustadz dan santri dalam menanamkan akhlak. Sesuai
arahan teori yang menjadi acuan pada penelitian ini bahwa aspek penting dalam
komunikasi interpersonal menurut Josep A. Devinto. Disini penulis juga
mewawancarai bagaimana harapan para ustadz terhadap santri kedepanya

1.1 Keterbukaan (Openness).

Pada aspek keterbukaan ini yang menjadi fokus pertanyaan penulis kepada
narasumber baik Ustadz maupun santri ialah sikap dapat menerima masukan dari
orang lain, serta berkenaan menyampaikan informasi penting kepada orang lain.
Aspek keterbukaan ini lebih menekankan upaya apa yang diberikan Ustadz
kepada santri dalam menanamkan akhlak dan menjadi contoh kepada santri yang
ada, begitu pula sebaliknya upaya santri untuk terbuka dalam segala kendala yang
dihadapi ataupun motivasi yang ia miliki dalam menjalankan proses pendidikan di
pesantren Al-Fattah .

Dari hasil wawancara penulis kepada narasumber mengenai aspek


keterbukaan dalam hal harapan Ustadz kepada santri dan pemberian motivasi dan
harapan Ustadz A kepada santri A yang kurang disiplin, salah satu informan
mengatakan bahwa;
“Tentunya harapan kami Ustadz terhadap santri harus jadi santri
berakhlak: bisa mengaplikasikan pelajaran-pelajaran yang mereka
dapatkan di sekolah dalam kehidupan sehari-hari untuk memotivasi santri
yang kurang disiplin saya kira ada dua macam cara yaitu: pertama :
memahamkan santri tentang pentingnya disiplin dan apa bahaya ketika
tidak disiplin. Kedua: harus ada sanksi buat santri agar tidak mau
mengulangi pelanggaran yang mereka lakukan”1

Selain itu, Ustadzah B lainnya mengatakan sebagai berikut:

“Saya Ustadzah tapi saya fikir semua Ustadz punya harapan yang sama,
harapan saya adalah agar kelak para santriwati mampu menjadi seorang
pemimpin minimal dalam keluarga, masyarakat sekitar ataupun menjadi
pemimpin bagi bangsa yang selalu menegakkan Ukhuwah Islamiyah dan
menjadi surih tauladan yang baik. Nah untuk memotivasi santriwati yang
kurang disiplin, setidaknya saya selaku Ustadz harus menjadi contoh bagi
anak-anak saya apa lagi akhlak yang ingin dibentuk karena santriwati itu
cenderung melihat perilaku Ustadznnya untuk penanaman akhlak”2

1 Ahmad Suhar, Ustadz, Wawancara, Pondok Pesantren Al-Fattah (13 Oktober 2020)
2 Ilmy Khariyah Syam, Ustadz Santriwati, Wawancara, Pondok Pesantren Al-
Fattah (13 Oktober 2020)
Hal yang sama juga penulis dapatkan saat mewancarai Ustadz yang
lain, Ketika dinya mengenai pilihanya mengenai kebebasan pilihan anaknya
beliau mengatakan bahwa:
“Saya juga pernah jadi santri dan sekarang jadi Ustadz, harapan saya
tentunya semoga orangtua yang masukkan anaknya kepondok ini menjadi
pilihan yang tepat untuk membentuk akhlak anak, karena sekarang yang
paling penting adalah akhlak apa lagi dengan zaman yang serba modern
ini, kalau menyikapi santri yang kurang disipilin, tentu saya sebagai
Ustadz harus menjadi uswah kepada santri, bagaimana pun itu saya adalah
bapak dari santri jika iya berada dalam pesantren”3

Mencermati hasil wawancara di atas menjelaskan bahwa diperlukan


keterbukaan sikap kepada para Ustadz yang menjadi sosok ayah dan ibu kepada
para santri jika berada dalam pesantren olehnya itu, setiap Ustadz menjadi contoh
kepada para santri agar harapan Ustadz untuk melahirkan generasi penerus bangsa
yang berbudi luhur itu terlahir dari anak-anak pesantren yang memiliki akhlak
yang baik.

Pentingnya sikap keterbukaan dalam penanaman akhlak, memberikan


dorongan penulis untuk melihat efek keterbukaan yang diberikan santri kepada
Ustadz agar muncul feedback (umpan balik) yang baik bagi santri dan Ustadz,
hasil wawancara penulis kepada santri untuk aspek keterbukaan, salah satu
informan mengatakan bahwa:
“Kalau saya, yang menjadi motivasi saya untuk masuk ke pesantren adalah
orang tua, orang tua selalu ingatkan kalau mau membentuk akhlak
masuklah di pesantren, apa lagi sejauh ini Ustadz sudah memberikan
bimbingan dan nasehat yang banyak untuk kami sabagai santri untuk
membentuk akhlak”4

3 Ivan Hudi, Ustadz, Wawancara, Pondok Pesantren Al-Fattah (13 Oktober 2020)
4 Reynaldi Wahab, Santri kelas XII SMA Pondok Pesantren Al-Fattah ,
Wawancara, Depan Asrama (13 Oktober 2020)
Selain itu, Informan lainnya mengatakan sebagai berikut:

“Yang bagusnya juga kak kalau di sini Ustadz selalu menjadi contoh
untuk kita para santri jadi kita selalu menemukan hal yang baik dari
Ustadz mulai dari cara pakaian, perilaku bahkan prestasi-prestasi Ustadz
itu kita ikuti kak biar bisa juga seperti mereka (para Ustadz)”5

Sementara itu informan yang lain juga menuturkan bahwa:

“Motivasi yang paling dasar dari saya kak, pastilah mauka berbakti kepada
orang tua, saya tamatan SMP dari luar dan saya sudah rasakan bagaimana
akhlak-akhlak teman saya yang di luar apalagi masalah pergaulan
makanya saya masuk di sini dengan motivasi semoga saya bisa berguna
bagi agama dan bangsa”6

Selain itu, Informan lainnya mengatakan sebagai berikut:

“Saya rasakan banyak Ustadzan yang dilakukan kepada kami dari Ustadz,
Ustadz mencontohkan kepada kami bagaiaman cara menghormati orang
lain, cara bertutur kata dan kadang kala Ustadz jadi tempat aduan terakhir
kalau ada masalah kak, apa lagi disini Ustadznya semua sudah alumni
pesantren jadi kondisi pesantren pasti dia sudah hafal baik”7

Sesuai hasil wawancara tersebut, kami bisa melihat bahwa adanya


keterbukaan para santri untuk menjadikan Ustadz sebagai sosok penting dalam
hidupnya dalam membentuk karakter, tidak hanya itu bagi santri Ustadz juga
sebagai contoh dalam berprilaku, berbicara dan bertindak. Melihat dari umpan
balik yang diberikan santri, saya selaku penulis melihat aspek keterbukaan ini
berperan penting dalam melihat kualitas komunikasi interpersonal Ustadz dan
5 Andi Fajrin Ali, Santri kelas XI SMA Pondok Pesantren Al-Fattah ,
Wawancara, Depan Asrama Ustadz (13 Oktober 2020)
6 Nur Isna, Santriwati kelas XI SMA Pondok Pesantren Al-Fattah , Wawancara,
Lapangan Pondok Pesantren Al-Fattah (13 Oktober 2020)
7 Widya Awalia Wahid, Santriwati kelas X SMA Pondok Pesantren Sultan
Hasanuddin, Wawancara, Lapangan Pondok Pesantren Al-Fattah (13 Oktober 2020)
santri dalam penanaman akhlak, tanpa adanya keterbukaan maka upaya Ustadz
dalam penanaman akhlak akan menjadi kendala. Keberhasilan Ustadz untuk
menanamkan ahklak kepada santri bisa kami lihat dari upaya yang baik Ustadz
untuk sadar bahwa Ustadz menjadi contoh dari terbentuknya akhlak para santri.

1.2 Empati (empathy)

Aspek kedua untuk melihat komunikasi interpersonal menurut Josep A.


Devinto adalah aspek empati, secara umum kita ketahui bahwa empati merupakan
kemampuan seseorang untuk merasakan kalau seandainya menjadi orang lain,
dapat memahami sesuatu yang sedang dialami orang lain, dapat merasakan apa
yang dirasakan orang lain, dan dapat memahami sesuatu persoalan dari sudut
pandang orang lain, melalui kaca mata orang lain. Orang yang empatik mampu
memahami motivasi dan pengalaman orang lain, perasaan dan sikap mereka, serta
harapan dan keinginan mereka untuk masa mendatang.
Kita dapat mengkomunikasikan empati baik secara verbal maupun nonverbal.
Secara nonverbal, kita dapat mengkomunikasikan empati dengan memperlihatkan
(1) keterlibatan aktif melalui ekspresi wajah dan gerak-gerik yang sesuai; (2)
konsentrasi terpusat meliputi kontak mata, postur tubuh yang penuh perhatian, dan
kedekatan fisik; serta (3) sentuhan atau belaian yang sepantasnya.
Melihat arahan tersebut, pada penelitian ini penulis menitipberatkan
kemampuan Ustadz menyikapi komunikasi nonverbal santri yang dianggap tidak
terlalu kooperatif kepada Ustadz dalam penanaman akhlak, selain itu pula untuk
melihat feedback (umpan balik) dari santri penulis memberikan pertanyaan yang
dianggap dapat menjadi feedback.
Sesuai hasil wawancara penulis kepada narasumber mengenai aspek
empati dalam hal harapan Ustadz kepada santri untuk dapat mengetahui dan
mengaplikasikan, salah satu informan mengatakan bahwa;
“Iya tentu, terkadang santri itu apa yang mereka katakan berbeda dengan
apa yang dipikiran dan hati mereka dan terkadang apa yang ada dipikiran
dan hati mereka itu dituangkan dengan lewat komunikasi nonverbal atau
bentuk gerakan dan itu harus diperhatikan karena dari situ kita bisa tahu
apa masalah yang dihadapi santri atau apa pelanggaran yang dilakukan
santri, dan jika ada santri dari komunikasi nonverbal bermasalah atau
melakukan pelanggaran itu harus kita tindak lanjuti dan kita berikan
motivasi, arahan, agar kesalahannya tidak terulang lagi dan harus ada
perbaikan dari kesalahan mereka perbuat.”8

Selain itu, Informan lainnya mengatakan sebagai berikut:

“Kami selalu memperhatikan komunikasi nonverbal santri, apalagi ketika


mereka sedang kumpul dari situlah kita melihat apakah santri ini
menunjukkan gerak-gerik yang baik dan yang kurang baik. Jikalau santri
memperlihatkan yang kurang baik maka kita akan memanggilnya dan
memperlihatkan kepada santri yang lain bahwa perilaku ini yang kurang
baik dicontoh untuk santri.”9

Hal yang sama juga penulis dapatkan saat mewancarai Ustadz yang lain,
beliau mengatakan bahwa:
“Iya, tentunya kami memperhatikannya karena salah satu untuk melihat
akhlak santriwati itu dengan perilaku atau perbuatannya, dan ketika kami
melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan perilaku santriwati maka kami
akan memanggilnya untuk dinasehati dan diberi arahan”.10

Mencermati hasil wawancara di atas menjelaskan bahwa diperlukan sikap


empati yang ditunjukkan oleh para Ustadz yang menjadi sosok ayah dan ibu
kepada para santri jika berada dalam pesantren olehnya itu, setiap Ustadz menjadi
contoh kepada para santri agar harapan Ustadz untuk melahirkan generasi penerus
bangsa yang berbudi luhur itu terlahir dari anak-anak pesantren yang memiliki
akhlak yang baik. Rasa empati dalam komunikasi interpersonal dibutuhkan agar

8 Ahmad Suhar, Ustadz, Wawancara, Pondok Pesantren Al-Fattah (13 Oktober 2020)
9 Ivan Hudi, Ustadz, Wawancara, Pondok Pesantren Al-Fattah (13 Oktober 2020)
10 Ilmy Khariyah Syam, Ustadzwati, Wawancara, Pondok Pesantren Al-Fattah (13
Oktober 2020)
Ustadz mampu melihat kondisi para santri baik dalam mendidik maupun membina
satri pondok pesantren Al-Fattah .

Pentingnya sikap empati dalam penanaman akhlak, memberikan dorongan


penulis untuk melihat efek yang dialami apa yang sedang dialami orang lain yang
diberikan Ustadz kepada santri, hasil wawancara penulis kepada santri untuk
aspek empati, salah satu informan mengatakan bahwa:

“ Kalau rasa pedulinya Ustadz ke kami kak pasti tinggi terbukti dia
arahkan kami untuk masuk berorganisasi membentuk akhlak dan
mengembangkan ilmu, salah satunya yaitu kedisiplinan, tanggungjawab
dan karakter ini saya dapatkan dari kepramukaan itu sendiri dimana saya
dilatih bertanggungjawab dalam segala bidang dan kedisiplinan waktu
juga itulah salah satu karakter yang saya dapatkan di ekstrakurikuler di
pesantren Al-Fattah .”.11

Selain itu, Informan lainnya mengatakan sebagai berikut:

“Pembentukan karakter dalam mengikuti ekstrakurikuler contohnya di


bidang kepramukaan yang saya dapatkan dengan mengikuti kepramukaan
adalah harapan menjadi calon pemimpin yang bijaksana, jujur dan dapat

dipercaya.”12

Selain itu, Informan lainnya mengatakan sebagai berikut:

“Iya jikalau mengenai pembentukan karakter melalui ekstrakurikuler di


pondok ini sangat membantu. Contoh dalam kepramukaan setelah saya
sering mengikuti ekstrakurikuler pramuka. Alhamdulillah saya bisa
menjadi lebih mandiri, disiplin dan mengetahui jati diri saya yang
sebenarnya.”.13
11 Reynaldi Wahab, Santri kelas XII SMA Pondok Pesantren Al-Fattah , Wawancara,
Depan Asrama (13 Oktober 2020)
12 Andi Fajrin Ali, Santri kelas XI SMA Pondok Pesantren Al-Fattah ,
Wawancara, Depan Asrama Ustadz (13 Oktober 2020)
13 Muhammad Nur Rasuli Muslimin, kelas X SMA Pondok Pesantren Sultan
Sementara itu informan yang lain juga menuturkan bahwa:

“Saya banyak mendapatkan pembentukan karakter contohnya saja di


ekstrakurikuler pramuka. Di pramuka kita dibentuk menjadi seseorang
yang disiplin, bertangggungjawab, lincah”.14

Selain itu, Informan lainnya mengatakan sebagai berikut:

“Saya rasa setelah mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sini, saya merasa


memiliki karakter lebih tegar, sabar, dan lebih disiplin setelah mengikuti
beberapa ekstrakurikuler yang ada di pesantren ini”( Nur Isna, Santriwati
kelas XI SMA Pondok Pesantren Al-Fattah).

Sementara itu informan yang lain juga menuturkan bahwa:

“Sangat banyak, misalnya di sini ada namanya muhadhorah (latihan ceramah)


melatih kepercayaan kita supaya suatu saat kelak ketika kita harus berhadapan
dengan orang banyak maka kita tidak lagi grogi dan begitu juga dengan
ekstrakurikuler pramuka melatih kita supaya lebih disiplin, kompak, dan
menghargai waktu”.( Widya Awalia Wahid, Santriwati kelas X SMA Pondok
Pesantren Al-fattah)

Dari hasil wawancara tersebut, kami bisa melihat bahwa adanya feedback
dari sikap empati menjadikan Ustadz sebagai sosok penting dalam hidupnya
dalam membentuk karakter, tidak hanya itu bagi santri Ustadz juga sebagai contoh
dalam berprilaku, berbicara dan bertindak. Melihat dari umpan balik yang
diberikan santri, saya selaku penulis melihat aspek empati ini berperan penting
dalam melihat kualitas komunikasi interpersonal nonverbal Ustadz dan santri
dalam penanaman akhlak, tanpa adanya sikap empati maka upaya Ustadz dalam
penanaman akhlak akan menjadi kendala. Sebagai contoh, para santri sudah
memahami wujud empati para Ustadz mereka lihat dari cara Ustadz melakukan

Hasanuddin, Wawancara, Lapangan Pondok Pentren Al-Fattah (13 Oktober 2020)


14 Meirisfa, Santriwati kelas XII SMA Pondok Pesantren Al-Fattah ,
Wawancara, Lapangan Pondok Pesantren Al-Fattah (13 Oktober 2020)
pendekatan kepada santri, cara Ustadz mengayomi dan menampilkan prilaku yang
mendidik para santri. Keberhasilan Ustadz untuk menanamkan ahklak kepada
santri bisa kita lihat dari upaya yang baik Ustadz dan santri untuk saling
memahami satu sama lain dari terbentuknya akhlak para santri.

1.3 Sikap Mendukung (supportiveness)

Pada aspek sikap mendukung ini yang menjadi fokus pertanyaan penulis
kepada narasumber baik Ustadz maupun santri ialah sikap saling membangun
untuk dapat berubah ke arah yang lebih baik, juga upaya santri untuk saling
mendukung satu sama lain dalam segala hal kendala yang dihadapi ataupun
motivasi yang ia miliki dalam menjalankan proses pendidikan di pesantren Al-
Fattah .
Hubungan interpersonal yang efektif menurut Josep A. Devinto adalah
hubungan di mana terdapat sikap mendukung (supportiveness) artinya masing-
masing pihak yang berkomunikasi memiliki komitmen untuk mendukung
terselenggaranya interaksi secara terbuka.

Dari hasil wawancara penulis kepada narasumber mengenai aspek sikap


mendukung dalam hal harapan Ustadz kepada santri dan pemberian motivasi
kepada santri, selaku penulis saya menitiberatkan bagaimana upaya Ustadz dan
orang tua santri mendukung Ustadzan karakter santri, salah satu informan
mengatakan bahwa;
“Bentuk dukungan kami kepada santri itu harus tetap menjaga komunikasi
kepada orang tua santri agar terjalin Ustadzan karakter berkelanjutan,
komunikasi yang kami bangun yaitu ada yang langsung dan tidak
langsung yaitu. Pertama;Yang langsung misalnya tatap muka maupun
lewat telpon untuk emberikan informasi perihal kepada anaknya. Kedua;
Yang tidak langsung kami maksud adalah memberikan informasi berupa
kertas atau surat pemberitahuan tentang keadaan anaknya sehingga orang
tua mampu membina dan mampu bekerja sama membangun
akhlak”.15Informan yang berbeda mengatakan :

“Di pesantren telah dibentuk organisasi yang dinamakan fokus (forum


komunikasi orang tua santri/wati). Fokus ini bertujuan agar para Ustadz
dan orang tua bisa saling berkomunikasi tentang perkembangan santri/wati
selama di pondok”.16

Hal yang sama juga penulis dapatkan saat mewancarai Ustadz yang lain,
beliau mengatakan bahwa:
“Membangun komunikasi dengan orang tua santri dalam membentuk
karakter itu di setiap bulannya itu seluruh santri/wati memiliki jadwal
perpulangan. Jadi, untuk membangun karakter akhlak seorang santri ketika
mereka pulang kami memberikan surat izin, di dalam surat izin itu terdapat
kesan dan pesan sehingga ketika mereka datang atau kembali ke pondok
pesantren setiap orang tua wajib mengisi kesan dan pesan yang ada pada
surat izinnya. Di situlah komunikasi yang kami jalin sehingga apapun yang
terjadi di pesantren Al-Fattah ini niat kami untuk membangun karakter
akhlak santri”.17

Mencermati hasil wawancara di atas menjelaskan bahwa diperlukan sikap


saling mendukung antara Ustadz dengan orang tua santri sebagai wujud dukungan
nonmateri dalam Ustadzan karakter santri dalam penanaman nilai-nilai akhlak.
Pentingnya sikap saling mendukung dalam penanaman akhlak, memberikan
dorongan penulis untuk melihat efeknya dalam terbentuknya akhlak, yang ditinjau
dari aspek dukungan, hasil wawancara penulis kepada santri untuk aspek
mendukung, salah satu informan mengatakan bahwa:

15 Ahmad Suhar, Ustadz, Wawancara, Pondok Pesantren Al-Fattah


(13 Oktober 2020)
16 Ilmy Khariyah Syam, Ustadzwati, Wawancara, Pondok Pesantren Sultan
Hasanuddin (13 Oktober 2020)
17 Ivan Hudi, Ustadz, Wawancara, Pondok Pesantren Al-Fattah (13 Oktober 2020)
“Salah satu wujud dukungan yang diberikan oleh Ustadz kepada saya jika
saya berprestasi, Ustadz senantiasa mendorong saya lebih baik lagi dan
jangan patah semangat apabila kita berprestasi maka bersyukurlah dan
apabila kita runtuh atau gagal maka jangan patah semangat”.18

Selain itu, Informan lainnya mengatakan sebagai berikut:

“Memberikan penghargaan bagi kami adalah salah satu wujud dukungan


jikalau kita berprestasi”.19

Sementara itu informan yang lain juga menuturkan bahwa:

“Mereka selalu memberikan selamat pada saya dan juga selalu mengatakan
pertahankan-pertahankan nak dan jangan bersikap sombong jika kamu
meraih sesuatu yang berprestasi”.20

Selain itu, Informan lainnya mengatakan sebagai berikut:

“Semacam penghargaan, di sini juga apabila kita menghafal 1 jus maka kita
dibebaskan pembayaran uang spp selama satu bulan maka dari situ kita
termotivasi untuk lebih banyak menghafal”.21

Dalam kasus yang berbeda, informan mengatakan:

18 Reynaldi Wahab, Santri kelas XII SMA Pondok Pesantren Al-Fattah ,


Wawancara, Depan Asrama (13 Oktober 2020)
19 Muhammad Nur Rasuli Muslimin, kelas X SMA Pondok Pesantren Sultan
Hasanuddin, Wawancara, Lapangan Pondok Pentren Al-Fattah (13 Oktober 2020)
20 Nur Isna, Santriwati kelas XI SMA Pondok Pesantren Al-Fattah ,
Wawancara, Lapangan Pondok Pesantren Al-Fattah (13 Oktober 2020)
21 Widya Awalia Wahid, Santriwati kelas X SMA Pondok Pesantren Sultan
Hasanuddin, Wawancara, Lapangan Pondok Pesantren Al-Fattah (13 Oktober 2020)
49

“Di sini kalau orang berprestasi kak diberi reward tapi kalau ada yang tidak
patuh aturan, yah diberi hukuman tapi hukuman yang mendidik kak, bahkan
pelanggaran bahasa saja kita diberi tulisan yang di pakai di leher biar menjadi
bentuk hukuman sosial menjadi pelajaran biar tidak pake bahasa Indonesia lagi,
belum lagi kalau ada yang terlambat masuk pondok diberi jilbab warna warni
biar berusaha tidak terlambat dan menjadi pelajaran buat semua”.22

Susuai wawancara tersebut, kami bisa melihat bahwa dalam membangun


hubungan interpersonal dalam penanaman akhlak, selain komunikasi dengan orang
tua juga upaya Ustadz memberikan reward kepada santri yang berprestasi sebagai
upaya untuk memberikan kepercayaan santri atas kebaikan akhlaknya bahkan dari sisi
lain apabila santri ada yang tidak mematuhi aturan, Ustadz memberikan
pendampingan akhlak untuk memperbaiki perilaku santri. Melihat dari umpan balik
yang diberikan santri, saya selaku penulis melihat aspek sikap saling mendukung ini
berjalan maksimal dan penting dalam membangun komunikasi Ustadz dan santri
dalam penanaman akhlak, tanpa adanya sikap saling mendukung antara Ustadz
dengan santri maka upaya Ustadz dalam penanaman akhlak akan menjadi kendala.

1.4 Sikap Positif (positiviness)

Pada aspek sikap positif (positivisme) ini yang menjadi fokus pertanyaan
penulis kepada narasumber baik Ustadz maupun santri ialah sikap positif untuk dapat
berubah ke arah yang lebih baik, upaya Ustadz dengan santri untuk berfikiran positif
terhadap orang lain agar dalam kesehariannya berjalan dengan baik.
Sikap positif dapat ditunjukkan dengan berbagai macam perilaku dan sikap,
antara lain:

1) Menghargai orang lain

22 Meirisfa, Santriwati kelas XII SMA Pondok Pesantren Al-Fattah ,


Lapangan Pondok Pesantren Al-Fattah (13 Oktober 2020)
50

2) Berfikiran positif terhadap orang lain

3) Tidak menaruh curiga secara berlebihan

4) Meyakini pentingnya orang lain

5) Memberikan pujian dan penghargaan

6) Komitmen menjalin kerjasama

Dari hasil wawancara penulis kepada narasumber mengenai aspek sikap


positif (positivisme) dalam hal harapan Ustadz kepada santri untuk selalu
menanamkan dalam dirinya sikap positif atau berfikiran baik kepada sesama , salah
satu informan mengatakan bahwa;
“Tentunya harapan kami Ustadz terhadap santri harus jadi santri berakhlak:
bisa mengaplikasikan pelajaran-pelajaran yang mereka dapatkan di sekolah
dalam kehidupan sehari-hari”.23

Sementara itu informan yang lain juga menuturkan bahwa:

“Harapan saya adalah agar kelak para santriwati mampu menjadi seorang
pendidik bagi anak-anaknya kelak dalam keluarga, masyarakat sekitar ataupun
menjadi pemimpin bagi bangsa yang selalu menegakkan ukhuwah islamiyah
dan menjadi surih tauladan yang baik”.24

Harapan yang sama juga penulis dapatkan saat mewancarai Ustadz yang lain,
beliau mengatakan bahwa:

23 Ahmad Suhar, Ustadz, Wawancara, Pondok Pesantren Al-Fattah


(13 Oktober 2020)
24 Ilmy Khariyah Syam, Ustadzwati, Wawancara, Pondok Pesantren Sultan
Hasanuddin (13 Oktober 2020)
51

“Harapan saya mereka bisa menjadi anak yang sholeh-sholeha, bermanfaat


kepada orang lain, berbakti kepada kedua orang tua dan bermanfaat bagi nusa
dan bangsa kita termasuk agama kita”.25

Mencermati hasil wawancara di atas menjelaskan bahwa diperlukan sikap


positif (positivisme) antara Ustadz dengan santri dalam penanaman nilai-nilai akhlak.
Pentingnya sikap positif dapat diwujudkan dengan cara memposisikan santri sebagai
objek penting dalam hal Ustadzan karakter. Sejauh penemuan penulis, penulis melihat
aspek sikap positif terhadap santri ditunjukkan tidak hanya menjalin kerjasama
dengan santri sikap menghargai kepada santri, sikap mendukung pengembangan
kualitas santri dan menjadi budaya memberikan penghargaan kepada santri sebagai
wujud dukungan Ustadz/pesantren kepada santri, hal ini memberikan feedback yang
baik sebagaimana yang dikatakan oleh informan bahwa:
“Saya merasa senang sekali mendapat Ustadzan dari Ustadz karena mengapa
Ustadzan dari Ustadzlah yang terbaik bagi saya”.26

Selain itu, Informan lainnya mengatakan sebagai berikut:

“Iya tentu saya merasa senang karena berkat Ustadzan dari Ustadz saya bisa
berubah sikap dan sifat saya jadi lebih baik lagi”.27

Sementara itu informan yang lain juga menuturkan bahwa:

“Saya merasa senang mendapatkan Ustadzan dari Ustadz karena lewat itu kita
dapat mengetahui apa kesalahan kita dan kita juga dibimbing untuk
memperbaiki kesalahan tersebut”.28

25 Ivan Hudi, Ustadz, Wawancara, Pondok Pesantren Al-Fattah (13 Oktober 2020)
26 Reynaldi Wahab, Santri kelas XII SMA Pondok Pesantren Al-Fattah ,
Wawancara, Depan Asrama (13 Oktober 2020)
27 Andi Fajrin Ali, Santri kelas XI SMA Pondok Pesantren Al-Fattah ,
Wawancara, Depan Asrama Ustadz (13 Oktober 2020)
28 Meirisfa, Santriwati kelas XII SMA Pondok Pesantren Al-Fattah ,
Lapangan Pondok Pesantren Al-Fattah (13 Oktober 2020)
52

Sesuai wawancara tersebut, kami bisa melihat bahwa adanya sikap positif
(positivisme) antara Ustadz dengan santri untuk mendekatkan seseorang pada
keberhasilan, mewujudkan keinginan-keinginan mereka. Memiliki sikap positif
sebagai bagian dari usaha meraih sukses, bahwa pikiran positif dapat membantu
seseorang meraih kesuksesan dan lebih percaya dalam diri santri dalam penanaman
nilai-nilai akhlak, tanpa adanya positif (positivisme) antara Ustadz dengan santri
maka upaya Ustadz dalam penanaman akhlak akan menjadi kendala.

1.5 Kesetaraan (equity)

Pada aspek yang terakhir ini sikap kesetaraan (equity) ini sesuai arahan Josep
A. Devinto dalam bukunya ialah sikap dapat menerima masukan dari orang lain, serta
berkenaan menyampaikan informasi penting kepada orang lain. Dalam setiap situasi,
barangkali terjadi ketidaksetaraan. Salah seorang mungkin lebih pandai, lebih kaya,
lebih cantik atau lebih tampan daripada yang lain. Tidak pernah ada dua orang yang
benar-benar setara. Terlepas dari ketidaksetaraan ini, komunikasi interpersonal akan
lebih efektif bila suasananya setara artinya, pengakuan bahwa kedua belah pihak
memiliki kepentingan, kedua belah pihak sama-sama bernilai dan berharga, dan
saling memerlukan. Kesetaraan tidak mengharuskan kita menerima dan menyetujui
begitu saja semua perilaku verbal dan nonverbal pihak lain. Kesetaraan berarti kita
menerima pihak lain.

Dari hasil wawancara penulis kepada narasumber mengenai aspek sikap


kesetaraan (equity) dalam hal harapan Ustadz kepada santri dan pemberian motivasi
kepada santri yang kurang disiplin, salah satu informan mengatakan bahwa;
“Dalam pemberian motivasi dan Ustadzan kepada santri tentu tidak sama tiap
orang akan tetapi kami selaku Ustadz menjunjung tinggi nilai keadilan, karena
di pondok ini ada kurang lebih 600 santri berarti kurang lebih juga 600 watak
dan berbeda-beda juga caranya bertindak, berpikir, berperilaku, sehingga untuk
53

menghadai mereka harus dengan cara yang berbeda juga. Kalau ada santri yang
butuh motivasi baru mau bergerak kita akan berikan motivasi dan nanti ada
santri diberi sanksi baru mau baik kita akan berikan sanksi dan harus
berpariatiflah sesuai dengan keadaan santri itu”.29

Sementara itu informan yang lain juga menuturkan bahwa:

“Tentunya kami di sini berbeda pikiran, berbeda karakter tetapi visi dan misi
kami sama”.30

Mencermati hasil wawancara di atas menjelaskan bahwa diperlukan sikap


kesetaraan (equity) dari Ustadz kepada santri dengan santri yang lain dalam
penanaman nilai-nilai akhlak. Pentingnya sikap kesetaraan (equity) atau kesedarajatan
merupakan suatu sikap untuk mengakui adanya persamaan derajat, hak dan kewajiban
sebagai sesama santri. Dapat diwujudkan dengan cara adanya persamaan dalam diri
santri untuk mondok di pesantren Al-Fattah dalam penanaman akhlak, memberikan
dorongan penulis untuk melihat efeknya dalam terbentuknya akhlak, hasil wawancara
penulis kepada santri untuk aspek sikap kesetaraan (equity), salah satu informan
mengatakan bahwa:

“Kalau ditanya soal keadilan Ustadz semua disini kak rataji caranya
membina, tidak ada yang istimewa kalau salah dihukum dan hukumannya itu
hukuman mendidik, paling disuruh hafal mufradat (kuasa kata) atau disuruh
membersihkan tapi kalau berprestasi orang, pesantren itu kirimki sampai ke
tingkat nasional misalnya lomba pencak silat, kaligrafi dan lainnya”.31

29 Ahmad Suhar, Ustadz, Wawancara, Pondok Pesantren Al-Fattah (13 Oktober 2020)
30 Ivan Hudi, Ustadz, Wawancara, Pondok Pesantren Al-Fattah (13
Oktober 2020)
31 Reynaldi Wahab, Santri kelas XII SMA Pondok Pesantren Al-Fattah , Depan Asrama
(13 Oktober 2020)
54

Sesuai wawancara tersebut, kami bisa melihat bahwa adanya kesetaraan


(equity) dalam penanaman akhlak, Ustadz kepada santri, dengan kesetaraan
menunjukkan adanya tingkatan yang sama, kedudukan yang sama, tidak lebih tinggi
atau lebih rendah antara satu sama lain. Ini tergambar dari umpan balik yang
diberikan santri, saya selaku penulis melihat aspek kesetaraan (equity) ini telah
ditunjukkan oleh Ustadz dalam membina di pondok pesantren Al-Fattah . Kesetaraan
ini dipraktekkan oleh Ustadz dalam membangun komunikasi interpersonal, bahwa
nilai kesetaraan tetap diutamakan akan tetapi tentulah Ustadz dalam memberikan
Ustadzan kepada santri tidak sama kepada setiap idividu diakibatkan oleh adanya
perbedaan karakter tiap santri.

Kesetaraan ini juga menjadi nilai yang dipegang oleh Ustadz untuk tidak
menganggap ada yang istimewa dari santri, baik itu yang mampu atau tidak mampu
dan aspek lainnya karena, bagi Ustadz nilai kesetaraan adalah nilai yang utama dalam
memberikan penanaman akhlak kepada santri. Jika Ustadz tidak adil maka akan
menjadi cela/contoh yang buruk bagi santri kepada terhadap Ustadznnya.

2. Penunjang dan Kendala Komunikasi Interpersonal antara Ustadz dengan


Santri dalam Penanaman Nilai-nilai Akhlak di Madrasah Aliyah Pondok
Pesantren Al-Fattah

1.1 Penunjang Komunikasi Interpersonal antara Ustadz dengan Santri

Ada beberapa faktor pendukung/penunjang terwujudnya komunikasi


interpersonal antara Ustadz dengan santri dalam penanaman nilai-nilai akhlak di
Pondok Pesantren Al-Fattah . Faktor pendukung/penunjang yang dimaksud di sini ada
3, yaitu:

Pertama, komunikasi (berupa; nasehat, arahan, dan sejenisnya) yang


dilakukan Ustadz tidak terkesan memaksa santri, sehingga santri tidak merasa terlalu
tegang ketika mendapat bimbingan dan Ustadzan. Dalam hal ini, Ustadz perlu
memposisikan diri sebagai teman atau sahabat supaya santri bisa lebih terbuka
55

mengutarakan masalahnya. Selain itu, Ustadz perlu menyelipkan humor/candaan


dalam melakukan bimbingan dan Ustadzan agar santri merasa nyaman ketika
mendapatkan bimbingan dan Ustadzan tersebut. Hal ini dinyatakan oleh ustad Helmi
Riyadusshalihin selaku pimpinan kampus santri. Ustadz dalam memberikan
bimbingan/Ustadzan kepada santri terkadang menyelipkan humor agar santri yang ia
bimbing mau mengutarakan masalah yang ia hadapi secara terbuka.

“Pertama saya memposisikan sebagai teman atau sahabat sehingga dia mau
terbuka lagi. Terkadang ada santri yang mau terbuka ketika diselipi dengan
humor, tapi banyak juga santri yang terbuka ketika formal”.32

Kedua, Ustadz sudah mengetahui latar belakang, kepribadian, dan kehidupan


santri di pondok. Hal ini dikarenakan, merekalah yang mendampingi kehidupan santri
di pondok selama 24 jam. Dengan demikian, mereka sudah tidak asing lagi dengan
kebiasaan santri. Jadi, ketika memberikan bimbingan kepada santri, mereka
mempertimbangkan hal tersebut agar santri dapat menerima bimbingan tersebut tanpa
merasa terpaksa.
“Jadi hampir semua kehidupan santriwati kita tahu mulai dari kehidupan di
rumahnya karena kita selalu berkomunikasi dengan orang tua santriwati dan
di sini juga kita tinggal 24 jam sama-sama.

Di samping kita sama-sama tinggal 24 jam di pondok, kita juga sering


komunikasi dengan Ustadz lain dan laporan dari pengurus”.33

Selain itu, para Ustadz di Pondok Pesantren Al-Fattah itu mayoritas nya
adalah alumni dari pesantren sendiri. Sehingga sudah ada gambaran dalam diri
mereka mengenai kehidupan santri di pondok. Hal ini sangat membantu mereka

32 Ahmad Suhar, Ustadz, Wawancara, Pondok Pesantren Al-Fattah (23 September 2020)
33 Suhaeni, Ustadzwati, Wawancara, Koperasi Pondok Pesantren Al-Fattah (25 September
2020)
56

dalam menentukan tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh
santri. Seperti yang diungkapkan oleh ustad Helmi Riyadusshalihin:
“Saya pernah mengalami dan merasakan apa yang mereka alami dan rasakan
selama di pondok, sehingga saya hanya mengulang, bercerita, berbagi
pengalaman tentang apa yang saya pernah rasakan di pondok”.34

Ketiga, adanya koordinasi yang baik antara Ustadz dengan pengurus OSPSH
(Organisasi Santri/Wati Pesantren Al-Fattah ). Dengan adanya koordinasi ini,
perilaku santri/wati bisa terpantau oleh Ustadz, baik secara langsung (melalui
pengamatan Ustadz sendiri), ataupun tidak langsung (melalui pengamatan pengurus
OSPSH). Hal ini diakui oleh Ustadz Helmi Riyadusshalihin dalam pernyataannya:
“Harus, karena dengan hubungan tercipta hal yang baik, karena interaksi lewat
hubungan terjalin pendidikan, terjalin pesan dan banyak hal yang terjadi”.35

Hal yang sama juga diutarakan oleh Muhammad Nur Rasuli Muslimin selaku
salah satu pengurus OSPSH (Organisasi Santri/Wati Pesantren Al-Fattah ). Ia
mengatakan bahwa:
“Jika sebuah masalah menyangkut dengan pondok, saya akan menceritakannya,
sedangkan kalau masalah yang bersifat pribadi saya tertutup”.36

Dari wawancara tersebut kami melihat bahwa pentingnya koordinasi antara


berbagai pihak dalam pondok pesantren baik itu dari unsur santri, Ustadz bahkan
pengurus pondok pesantren Al-Fattah sangat vital untuk dilakukan karena tanpa
adanya kordinasi yang baik maka tidak terwujud keselarasan antara berbagai pihak.

34 Ahmad Suhar, Ustadz, Wawancara, Pondok Pesantren Al-Fattah (23 September 2020)
35 Ahmad Suhar, Ustadz, Wawancara, Pondok Pesantren Al-Fattah
(23 September 2020)
36 Muhammad Nur Rasuli Muslimin, kelas X SMA Pondok Pesantren Al-Fattah ,
Wawancara, Lapangan Pondok Pesantren Al-Fattah (24 September 2020)
57

Sementara jika koordinasi itu berjalan maksimal maka yang terjadi adalah
adanya kesatu pahaman, sinergitas yang bermuara kepada penanaman akhlak yang
baik terhadap santri Pondok Pesantren Al-Fattah .

1.1 Kendala Komunikasi Interpersonal antara Ustadz dengan Santri

Komunikasi interpersonal antara Ustadz dengan santri dalam penanaman


nilai-nilai akhlak di Pondok Pesantren Al-Fattah memiliki beberapa kendala dalam
pelaksanaanya. Kendala-kendala yang dijumpai adalah sebagai berikut.

a. Oknum santri yang tidak bisa bertahan hidup di pondok

b. Oknum santri yang tidak memperdulikan aturan-aturan pesantren

Kedua kendala di atas merupakan kendala klasik yang sering dijumpai di


lembaga pendidikan berbasis pondok. Oknum santri yang tidak bisa bertahan di
pondok dan yang tidak memperdulikan aturan-aturan pesantren cenderung untuk
tidak mengindahkan nasehat, arahan, dan bimbingan yang diberikan oleh Ustadz.
Seperti yang dikutip oleh pernyataan ustad Helmi Riyadusshalihin:
“Paling berat itu akibat dari santri itu, terkadang keinginannya untuk
meninggalkan pondok membuat dia tidak bisa lagi menerima saran. Mungkin
tidak kerasan lagi tinggal disini sehingga tidak mau lagi menerima saran.
hambatannya itu ada pada diri saya pribadi karena saya sebagai manusia
belum sempurna dalam arti banyak kekurangan, belum mampu menjadi
contoh buat santri sehingga dalam memberikan nasehat, memberikan saran
kepada santri terkadang terhalang oleh perilaku saya pribadi kemudian yang
kedua banyaknya santri belum sepenuhnya berkeinginan jadi santri yang baik
sehingga ketika kita berikan nasehat, arahan, terkadang itu tertolak karena
hatinya memang ada rada paksaan jadi santri”.37

37 Ahmad Suhar, Ustadz, Wawancara, Pondok Pesantren Al-Fattah


(23 September 2020)
58

Untuk mengatasi oknum santri yang tidak bisa bertahan hidup di pondok,
Ustadz biasanya mengarahkan santri tersebut ke Ustadz lain yang dianggap dapat
memberikan nasehat oleh si oknum santri tadi. Hal ini diutarakan oleh ustadz Helmi
Riyadusshalihin dan ustadzah Suhaeni. Keduanya sepakat untuk mengarahkan santri
tersebut ke Ustadz lain yang dianggap mau didengar oleh si oknum santri tadi.
“Kebanyakan santri yang tidak senang dengan saya, saya lebih pilih
merekomendasikan ke Ustadz lain karena di pondok banyak Ustadz (sesuai
dengan karakter santri)”38

Sama halnya yang dikemukakan salah satu informan Ustadz:

“Untuk santri yang kami anggap sudah tidak betah di pesantren kami serahkan
kepada Ustadz lain untuk mendapatkan bimbingan, kemungkinan terakhirnya
itu kita arahkan ke direktur pesantren”.39

Melihat dari hasil wawancara terhadap narasumber ada beberapa kendala


dalam penanaman karakter santri, utamanya kepada santri yang tidak bisa bertahan
hidup di pesantren.

38 Ahmad Suhar, Ustadz, Wawancara, Pondok Pesantren Al-Fattah (23 September 2020)
39 Suhaeni, Ustadzwati, Wawancara, Koperasi Pondok Pesantren Al-Fattah (25 September
2020)
59

PEMBAHASAN

Pentingnya sikap keterbukaan dalam penanaman akhlak, memberikan


dorongan penulis untuk melihat efek keterbukaan yang diberikan santri kepada
Ustadz agar muncul feedback (umpan balik) yang baik bagi santri dan Ustadz,
kami bisa melihat bahwa adanya keterbukaan para santri untuk menjadikan
Ustadz sebagai sosok penting dalam hidupnya dalam membentuk karakter, tidak
hanya itu bagi santri Ustadz juga sebagai contoh dalam berprilaku, berbicara dan
bertindak. Melihat dari umpan balik yang diberikan santri, saya selaku penulis
melihat aspek keterbukaan ini berperan penting dalam melihat kualitas
komunikasi interpersonal Ustadz dan santri dalam penanaman akhlak, tanpa
adanya keterbukaan maka upaya Ustadz dalam penanaman akhlak akan menjadi
kendala. Keberhasilan Ustadz untuk menanamkan ahklak kepada santri bisa kami
lihat dari upaya yang baik Ustadz untuk sadar bahwa Ustadz menjadi contoh dari
terbentuknya akhlak para santri.

Aspek kedua untuk melihat komunikasi interpersonal menurut Josep A.


Devinto adalah aspek empati, secara umum kita ketahui bahwa empati merupakan
kemampuan seseorang untuk merasakan kalau seandainya menjadi orang lain,
dapat memahami sesuatu yang sedang dialami orang lain, dapat merasakan apa
yang dirasakan orang lain, dan dapat memahami sesuatu persoalan dari sudut
pandang orang lain, melalui kaca mata orang lain. Orang yang empatik mampu
memahami motivasi dan pengalaman orang lain, perasaan dan sikap mereka, serta
harapan dan keinginan mereka untuk masa mendatang.
Kita dapat mengkomunikasikan empati baik secara verbal maupun nonverbal.
Secara nonverbal, kita dapat mengkomunikasikan empati dengan memperlihatkan
(1) keterlibatan aktif melalui ekspresi wajah dan gerak-gerik yang sesuai; (2)
konsentrasi terpusat meliputi kontak mata, postur tubuh yang penuh perhatian, dan
kedekatan fisik; serta (3) sentuhan atau belaian yang sepantasnya.
60

Melihat arahan tersebut, pada penelitian ini penulis menitipberatkan


kemampuan Ustadz menyikapi komunikasi nonverbal santri yang dianggap tidak
terlalu kooperatif kepada Ustadz dalam penanaman akhlak, selain itu pula untuk
melihat feedback (umpan balik) dari santri penulis memberikan pertanyaan yang
dianggap dapat menjadi feedback.
Diperlukan sikap empati yang ditunjukkan oleh para Ustadz yang menjadi
sosok ayah dan ibu kepada para santri jika berada dalam pesantren olehnya itu,
setiap Ustadz menjadi contoh kepada para santri agar harapan Ustadz untuk
melahirkan generasi penerus bangsa yang berbudi luhur itu terlahir dari anak-anak
pesantren yang memiliki akhlak yang baik. Rasa empati dalam komunikasi
interpersonal dibutuhkan agar Ustadz mampu melihat kondisi para santri baik
dalam mendidik maupun membina satri pondok pesantren Al-Fattah .

Pentingnya sikap empati dalam penanaman akhlak, memberikan dorongan


penulis untuk melihat efek yang dialami apa yang sedang dialami orang lain yang
diberikan Ustadz kepada santri.

Dalam membentuk karakter, tidak hanya itu bagi santri Ustadz juga
sebagai contoh dalam berprilaku, berbicara dan bertindak. Melihat dari umpan
balik yang diberikan santri, saya selaku penulis melihat aspek empati ini berperan
penting dalam melihat kualitas komunikasi interpersonal nonverbal Ustadz dan
santri dalam penanaman akhlak, tanpa adanya sikap empati maka upaya Ustadz
dalam penanaman akhlak akan menjadi kendala. Sebagai contoh, para santri sudah
memahami wujud empati para Ustadz mereka lihat dari cara Ustadz melakukan
pendekatan kepada santri, cara Ustadz mengayomi dan menampilkan prilaku yang
mendidik para santri. Keberhasilan Ustadz untuk menanamkan ahklak kepada
santri bisa kita lihat dari upaya yang baik Ustadz dan santri untuk saling
memahami satu sama lain dari terbentuknya akhlak para santri.

Sikap saling mendukung antara Ustadz dengan orang tua santri sebagai
wujud dukungan nonmateri dalam Ustadzan karakter santri dalam penanaman
nilai-nilai akhlak. Pentingnya sikap saling mendukung dalam penanaman akhlak,
61

memberikan dorongan penulis untuk melihat efeknya dalam terbentuknya akhlak,


yang ditinjau dari aspek dukungan
Dalam membangun hubungan interpersonal dalam penanaman akhlak,
selain komunikasi dengan orang tua juga upaya Ustadz memberikan reward
kepada santri yang berprestasi sebagai upaya untuk memberikan kepercayaan
santri atas kebaikan akhlaknya bahkan dari sisi lain apabila santri ada yang tidak
mematuhi aturan, Ustadz memberikan pendampingan akhlak untuk memperbaiki
perilaku santri. Melihat dari umpan balik yang diberikan santri, saya selaku
penulis melihat aspek sikap saling mendukung ini berjalan maksimal dan penting
dalam membangun komunikasi Ustadz dan santri dalam penanaman akhlak, tanpa
adanya sikap saling mendukung antara Ustadz dengan santri maka upaya Ustadz
dalam penanaman akhlak akan menjadi kendala.

Selain itu sikap positif (positivisme) dalam hal harapan Ustadz kepada
santri untuk selalu menanamkan dalam dirinya sikap positif atau berfikiran baik
kepada sesama ,
sikap positif (positivisme) antara Ustadz dengan santri dalam penanaman nilai-
nilai akhlak. Pentingnya sikap positif dapat diwujudkan dengan cara
memposisikan santri sebagai objek penting dalam hal Ustadzan karakter. Sejauh
penemuan penulis, penulis melihat aspek sikap positif terhadap santri ditunjukkan
tidak hanya menjalin kerjasama dengan santri sikap menghargai kepada santri,
sikap mendukung pengembangan kualitas santri dan menjadi budaya memberikan
penghargaan kepada santri sebagai wujud dukungan Ustadz/pesantren kepada
santri, hal ini memberikan feedback yang baik.
Adanya sikap positif (positivisme) antara Ustadz dengan santri untuk
mendekatkan seseorang pada keberhasilan, mewujudkan keinginan-keinginan
mereka. Memiliki sikap positif sebagai bagian dari usaha meraih sukses, bahwa
pikiran positif dapat membantu seseorang meraih kesuksesan dan lebih percaya
dalam diri santri dalam penanaman nilai-nilai akhlak, tanpa adanya positif
(positivisme) antara Ustadz dengan santri maka upaya Ustadz dalam penanaman
akhlak akan menjadi kendala.
62

Pada aspek yang terakhir ini sikap kesetaraan (equity) ini sesuai arahan
Josep A. Devinto dalam bukunya ialah sikap dapat menerima masukan dari orang
lain, serta berkenaan menyampaikan informasi penting kepada orang lain. Dalam
setiap situasi, barangkali terjadi ketidaksetaraan. Salah seorang mungkin lebih
pandai, lebih kaya, lebih cantik atau lebih tampan daripada yang lain. Tidak
pernah ada dua orang yang benar-benar setara. Terlepas dari ketidaksetaraan ini,
komunikasi interpersonal akan lebih efektif bila suasananya setara artinya,
pengakuan bahwa kedua belah pihak memiliki kepentingan, kedua belah pihak
sama-sama bernilai dan berharga, dan saling memerlukan. Kesetaraan tidak
mengharuskan kita menerima dan menyetujui begitu saja semua perilaku verbal
dan nonverbal pihak lain. Kesetaraan berarti kita menerima pihak lain.

Diperlukan sikap kesetaraan (equity) dari Ustadz kepada santri dengan


santri yang lain dalam penanaman nilai-nilai akhlak. Pentingnya sikap kesetaraan
(equity) atau kesedarajatan merupakan suatu sikap untuk mengakui adanya
persamaan derajat, hak dan kewajiban sebagai sesama santri. Dapat diwujudkan
dengan cara adanya persamaan dalam diri santri untuk mondok di pesantren Al-
Fattah dalam penanaman akhlak, memberikan dorongan penulis untuk melihat
efeknya dalam terbentuknya akhlak, hasil wawancara penulis kepada santri untuk
aspek sikap kesetaraan (equity).

Adanya kesetaraan (equity) dalam penanaman akhlak, Ustadz kepada


santri, dengan kesetaraan menunjukkan adanya tingkatan yang sama, kedudukan
yang sama, tidak lebih tinggi atau lebih rendah antara satu sama lain. Ini
tergambar dari umpan balik yang diberikan santri, saya selaku penulis melihat
aspek kesetaraan (equity) ini telah ditunjukkan oleh Ustadz dalam membina di
pondok pesantren Al-Fattah . Kesetaraan ini dipraktekkan oleh Ustadz dalam
membangun komunikasi interpersonal, bahwa nilai kesetaraan tetap diutamakan
akan tetapi tentulah Ustadz dalam memberikan Ustadzan kepada santri tidak sama
kepada setiap idividu diakibatkan oleh adanya perbedaan karakter tiap santri.
63

Kesetaraan ini juga menjadi nilai yang dipegang oleh Ustadz untuk tidak
menganggap ada yang istimewa dari santri, baik itu yang mampu atau tidak
mampu dan aspek lainnya karena, bagi Ustadz nilai kesetaraan adalah nilai yang
utama dalam memberikan penanaman akhlak kepada santri. Jika Ustadz tidak adil
maka akan menjadi cela/contoh yang buruk bagi santri kepada terhadap
Ustadznnya.
64

BAB V
PENUTUP

A. Simpulan

Dengan melihat hasil observasi penulis, maka ditarik kesimpulan sebagai

berikut:

1. Ustadz dapat membangun komunikasi interpersonal yang efektif dengan

santri dalam penanaman nilai-nilai akhlak di Pondok Pesantren Al-Fattah

karena memperhatikan aspek-aspek penting yang ada dalam komunikasi

interpersonal (yaitu: (1) keterbukaan; (2) empati; (3) mendukung; (4)

positif; dan (5) kesetaraan pada proses penanaman akhlak.

2. Penunjang yang dihadapi oleh Ustadz dapat membangun komunikasi

interpersonal dengan santri dalam penanaman nilai-nilai akhlak di

Pondok Pesantren Al-Fattah ialah sebagai berikut: (1) Komunikasi

(berupa; nasehat, arahan, dan sejenisnya) yang dilakukan Ustadz tidak


terkesan memaksa santri, sehingga santri tidak merasa terlalu tegang

ketika mendapat bimbingan dan Ustadzan; (2) Ustadz sudah mengetahui

latar belakang, kepribadian, dan kehidupan santri di pondok; (3) Adanya

koordinasi yang baik antara Ustadz dengan pengurus OSPSH (Organisasi

Santri/Wati Pesantren Sultan Alfattah).

3. Hambatan yang dihadapi oleh Ustadz dalam membangun komunikasi

interpersonal dengan santri untuk penanaman nilai nilai akhlak di Pondok

Pesantren Al-Fattah ialah sebagai berikut:

a. Adanya oknum santri yang sudah tidak bisa bertahan hidup di

pondok;
65

b. Oknum santri yang yang tidak memperdulikan aturan-aturan

pesantren.

B. Implikasi

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis merumuskan implikasi

hasil penulisan, Komunikasi Interpersonal antara Ustadz dengan santri dalam

Penanaman Nilai-nilai Akhlak di Madrasah Aliyah (MA) Pondok Pesantren Al-

Fattah sebagai berikut:

1. Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang diharapkan dapat


menciptakan generasi penerus yang bukan hanya memiliki prestasi yang
gemilang, tetapi di samping itu memiliki akhlak yang mulia. Memang
sulit untuk menciptakan generasi seperti itu, mengingat latar belakang
santri yang berbeda. Untuk menciptakan generasi seperti itu maka para
Ustadz sangat dibutuhkan dalam membentuk karakter santri yang
berwawasan luas dan berakhlak mulia.

2. Peran Ustadz sangat besar dalam menciptakan santri yang mampu di


segala bidang dan berakhlak mulia, mulai dari mengajarkan mereka
dalam segala pelajaran sampai memberikan teladan yang baik. Sehingga
penulis mengharapkan agar Ustadz lebih meningkatkan dan bersemangat
dalam mengajari santri, sehingga tidak terjadi kemunduran di kemudian
hari. Peran Ustadz dengan menggunakan komunikasi interpersonal pada
santri dinilai berjalan dengan baik, sehingga melalui penelitian ini besar
harapan penulis untuk keberlanjutan proses Ustadzan menggunakan
komunikasi interpersonal ini.

3. Dalam pelaksanaan bimbingan atau nasehat di pesantren, penulis


mengharapkan kepada Ustadz agar tetap mempertahankan dan
66

meningkatkan dirinya sebagai pembimbing dan teladan bagi semua


santri. Selain itu juga harus memperhatikan kehidupan sehari-hari santri
agar mengetahui kepribadian dan kebiasaan santri, sehingga dapat
memberikan memberikan arahan dan nasehat yang tepat bagi mereka.
Dengan perilaku Ustadz yang seperti itu maka santri diharapkan patuh
terhadap apa yang diperintahkannya.

4. Secara akademik, penelitian ini dapat memberikan khasanah atau


referensi baru bagi peneliti selanjutnya mengenai objek yang sama atau
dapat menjadi pengembangan penelitian selanjutnya. Selain itu berbagai
kendala dalam penelitia ini juga dapat digunakan sebagai bahan
pertimbagan dalam pengembangan penelitian selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
67

Buku :

Aw, Suranto. 2011. Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Bungin, Burhan. 2010. Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan

Publik dan Ilmu Sosial lainnya. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Devito, Joseph. A. 2001. The Interpersonal Communication Book, Ninth Edition.

NYC: Longman.

Hurlock, Elizabeth, B. 2006. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga

Moleong, Lexy J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja

Rosdakarya Offset.

Rakhmat, Jalaluddin. (2012). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja

Rosdakarya Offset.

Skripsi/Jurnal :

Fitri Kaniyah. 2015. Memahami Komunikasi Antar pribadi Guru dan Santriwati

terhadap Santriwati yang Melakukan Pelanggaran Peraturan di Pondok Pesantren

Al Multazam – Kuningan – Jawa Barat.