Anda di halaman 1dari 65

MODUL

PRODUK KREATIF DAN KEWIRAUSAHAAN

SMK/MAK KELAS XI
SEMESTER 1

DI SUSUN OLEH :

Kartiwi Prihatiningsih
Untuk Digunakan Di Lingkungan

SMK BHAKTI ADI HUSODO GARUT


LEMBAR PENGESAHAN

Setelah membaca dan mencermati modul ajar mata pelajaran produk kreatif dan

kewirausahaan, yang telah dipublikasikan dan didokumentasikan di perpustakaan SMK

Bhakti Adi Husodo Garut, hasil karya dari:

1. Identitas Penulis :

Nama : Kartiwi Prihatiningsih, S.E

NUPTK : 1251760662230143

Unit Kerja : SMK Bhakti Adi Husodo Garut

2. Jenis Karya : Modul Ajar

3. Mata Pelajaran : Produk Kreatif Dan Kewirausahaan Kelas XI Semester 1

Garut, Agustus 2020

1/2
Menyetujui dan mengesahkan

Kepala Sekolah Guru Pengampu

Iwan Sulistyawan, S.Si, Apt Kartiwi Prihatiningsih, S.E


NUPTK 8409090384002 NUPTK 1251760662230143

ii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Atas rahmat dan rahim-Nya penulis dapat menyelesaikan modul ini dengan lancar. Sholawat dan
salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW. Uswatun hasanah umat islam
yang akan memberikan syafa’atnya di yaumil akhir.
Modul ini berisi materi pembelajaran yang membekali peserta didik dengan pengetahuan
dan keterampilan dalam dunia wirausaha teknik komputer dan informatika.
Sesuai dengan pendekatan yang digunakan dalam kurikulum nasional, siswa diminta untuk
mencari dari sumber belajar yang lainyang tersedian dan terbentang luas di sekitarnya.
Penulis menyadari modul ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, usaha
perbaikan dan penyempurnaan terus penulis lakukan sehingga kritik, saran, dan masukan
sangatlah penting bagi penulis. Harapannya, semoga modul ini dapat memberikan kontribusi
yang baik bagi kemajuan pendidikan, khususnya di SMK Bhakti Adi Husodo.
Garut

Penulis

iii
DAFTAR ISI

Halaman Sampul Luar .................................................................................................................................. i


Lembar Pengesahan ............................................................... ......................................................................ii
Kata Pengantar ..................................................................................... .......................................................iii
Daftar Isi .....................................................................................................................................................i v

BAB I Sikap Dan Perilaku Wirausahawan...................... .............................................................................1


BAB 2 Menganalisis Peluang Usaha...................... ...................... ...................... ........................................9
BAB 3 Hak Atas Kekayaan Intelektual...................... ...................... .........................................................12
BAB 4 Konsep Desain/ Prototype Dan Kemasan Produk Barang/Jasa..................... .................................24
BAB 5 Prototype Produk Barang/Jasa...................... ...................... ..................... .....................................31
BAB 6 Lembar Kerja/Gambar Kerja Untuk Pembuatan Prototype Produk Barang/Jasa............................36
BAB 7 Biaya Produksi Prototype Produk Barang/Jasa...................... ..................... ..................................46

PENUTUP ...................... ........................................... ...................... ...................... .................................56


DAFTAR PUSTAKA

iv
BAB 1
SIKAP DAN PERILAKU WIRAUSAHAWAN
 

KOMPETENSI DASAR :
3.1 Memahami sikap dan perilaku wirausahawan
4.1 Mempresentasikan sikap dan perilaku wirausahawan

1
WIRAUSAHA DAN KEWIRAUSAHAAN

Pada zaman keterpurukan ekonomi yang sedang dialami oleh bangsa Indonesia, kita harus bisa
menyerukan pentingnya pembangunan jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) sehingga
kebanyakan masyarakat tidak ragu lagi untuk mengambil langkah untuk menjadi calon
wirausaha. Sesungguhnya kita semua adalah calon-calon wirausaha yang baik, tinggal
bagaimana kita mengolah jiwa entrepreneurship yang berhasil. Jika hal ini terealisasi akan
memberikan nafas lega untuk pemerintah karena bisa mengurangi pengangguran dan
mengentaskan kemiskinan.
Perubahan dan perbaikan nasib kita harus didasarkan pada kehendak, keinginan, dan kerja keras.
Oleh karena itu, peranan wirausaha sangat penting untuk menentukan masa depan bangsa dan
negara.

A. Pengertian kewirausahaan
Entrepreneurship awal mulanya berasal dari bahasa perancis, yaitu Entreprende yang berarti
petualang, pencipta, dan pengelola usaha, sedangkan kewirausahaan dengan istilah
entrepreneurship. Kata entrepreneur secara tertulis pertama kali digunakan oleh Savary pada
tahun 1723 dalam bukunya “Kamus Dagang”.
Wirausaha (entrepreneurship) adalah kemampuan seseorang untuk hidup sendiri atau
berdikari di dalam menjalankan kegiatan usahanya atau bisnisnya yang bebas atau merdeka
secara lahir dan batin.
Entrepreneur adalah sosok orang yang tidak mudah diam, biasanya suka melakukan inovasi
terus menerus dan perbaikan dari hal yang sudah ada.
Sedangkan yang dimaksud dengan kewirausahaan (Entrepreneurship) adalah bentuk usaha
untuk menciptakan nilai lewat pengakuan terhadap peluang bisnis, manajemen pengambilan
risiko yang sesuai dengan peluang yang ada, dan lewat keterampilan komunikasi dan sumber
daya yang diperlukan untuk membawa sebuah proyek sampai berhasil.
(Peter Kilby Entrepreneurship and Economic Development, New York : The Free Press,
1971)
Dalam bentuk yang lain, kewirausahaan didefinisikan sebagai adventurisme (berpetualang),
risk taking (mengambil risiko) dan thrill-seeking (pencari kegentaran).
Dalam bentuk sederhana, kewirausahaan berkonotasi mengimplementasikan, yang berarti
mengerjakan (sesuatu), yaitu sesuatu yang harus dikerjakan seorang wirausaha. Perhatian dan
ketertarikan terhadap masalah kewirausahaan ini sangat tepat karena kita memerlukan apa
yang dapat dikerjakan dan diberikan oleh wirausaha (entrepreneurs) seperti :
1. Produk-produk baru dan jasa-jasa baru
2. Pekerjaan baru
3. Lingkungan kerja yang kreatif
4. Cara-cara baru melakukan kegiatan bisnis
5. Bentuk baru penciptaan bisnis (new business innovation)
 
Pengertian harfiah/bahasa
Kewirausahaan berasal dari kata dasar wirausaha diberi awalan ke dan akhiran an. Wirausaha
dari kata wira artinya perwira/berani dan usaha artinya daya upaya.

2
Pengertian kewirausahaan menurut pendapat :

ZIMMERER
Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreatifitas dan inovasi dalam memecahkan
persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan.

SAVARY
Kewirausahaan adalah orang yang membeli barang dengan harga pasti meskipun orang itu
belum mengetahui guna ekonomisnya akan dijual.

ROBIN
Kewirausahaan adalah suatu proses seseorang guna mengejar peluang/kesempatan untuk
memenuhi kebutuhan/keinginan melalui inovasi tanpa memperhatikan sumber daya yang
mereka kendalikan.

PEKERTI
Kewirausahaan adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mendirikan, mengelola,
mengembangkan perusahaan miliknya sendiri.

INPRES NO.4 TAHUN 1995 tentang GNMMK


(Gerakan Nasional Memasyarakatkan dan Membudayakan Kewirausahaan)

Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku, dan kemampuan seseorang dalam


menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari menciptakan,
menerapkan cara kerja dan teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam
rangka memberi pelayanan yang lebih baik dan keuntungan yang lebih besar.

AHLI EKONOMI/EKONOM
Wirausaha adalah seseorang atau sekelompok orang mengorganisasi faktor-faktor produksi
yaitu alam, tenaga kerja, modal dan keahlian.

PSIKOLOGI/AHLI KEJIWAAN
Wirausaha adalah seseorang yang memiliki dorongan kekuatan untuk memperoleh suatu
tujuan, suka mengadakan eksperimen untuk menampilkan kebebasan dirinya, di luar
kekuasaan orang lain.

BUSINESSMAN
Wirausaha adalah ancaman pesaing baru dapat seorang partner, pemasok, konsumen, atau
seseorang yang diajak kerjasama.

GEDE PARMA
Wirausaha adalah orang yang berani memaksakan diri untuk menjadi pelayan bagi orang lain.

3
J.A. SCHUMPETER
Wirausaha adalah seorang inovator sebagai individu yang mempunyai naluri untuk
melibatkan materi sedemikian rupa dan kemudian terbukti benar mempunyai
semangat/kemampuan dan pemikiran untuk menaklukan cara berpikir lamban dan malas.

B. Tujuan kewirausahaan
Menumbuhkembangkan jumlah wirausaha yang berkualitas
1. Meningkatkan kesadaran dan pemahaman kewirausahaan yang tangguh
2. Meningkatkan kesejahteraan dan kemajuan di masyarakat.

C. Sasaran kewirausahaan
Instansi pemerintah
1. Pelaku ekonomi
2. Generasi muda

D. Asas kewirausahaan
Kemampuan bekerja secara tekun,teliti dan produktif
1. Kemampuan berkarya dengan mandiri
2. Menciptakan etika bisnis yang sehat
3. Memecahkan masalah dan mengambil keputusan secara sistemmatis, termasuk
keberanian mengambil risiko

E. Manfaat kewirausahaan
Mengurangi pengangguran
1. Sebagai generator pembangunan
2. Sebagai suri tauladan di masyarakat
3. Mendidik masyarkat hidup yang hemat dan efisien.
4. Proses kewirausahaan

Faktor personal yang mendorong pemicu untuk terjun ke dunia wirausaha yaitu:
1. Komitmen atau minat yang tinggi dalam berwirausaha
2. Keberanian menanggung risiko
3. Ketidakpuasan dengan pekerjaan sendiri
4. Phk dan tidak ada pekerjaan lain
5. Faktor usia

Faktor personalia yang mendorong adalah:


1. Komitmen tinggi dalam berwirausaha
2. Adanya visi dan misi guna mencapai keberhasilan dalam berwirausaha
3. Adanya menejer pelaksana sebagai tangan kanan dan pembantu utama didalam berwirausaha

4
Faktor organisasi yang mendorong adalah:
1. Tim yang kompak dalam menjalankan usaha sehingga semua perencanaan dan pelaksanaan
operasional berjalan produktif
2. Struktur organisasi dan berbudaya mantap didalam berwirausaha
3. Strategi yang mantap sebagai produk dari tim yang kompak didalam berwirausaha
4. Adanya produk yang dibanggakan

SIKAP DAN PERILAKU WIRAUSAHAWAN


A. Sikap wirausahawan
1. Mampu berpikir dan bertindak kreatif dan innovatif
2. Mampu bekerja tekun,teliti dan produktif
3. Mampu berkarya berdasarkan etika bisnis yang sehat
4. Mampu berkarya dengan semangat kemandirian
5. Mampu memecahkan masalah dan mengambil keputusan yang sistematis dan berani
mengambil risiko.

B. Perilaku wirausahawan
Memiliki rasa percaya diri
1. Berorientasi pada tugas dan hasil
2. Pengambil risiko
3. Kepemimpinan
4. Keorisinilan
5. Berorientasi pada masa depan
 
C. Ketrampilan yang harus dipunyai wirausahawan
Ketrampilan dasar meliputi:
 Memiliki mental dan spiritual yang tinggi
 Memiliki kepribadian unggul
 Pandai berinisiatif
 Dapat mengkoordinasikan kegiatan usaha
Ketrampilan khusus meliputi :
 Ketrampilan konsep (conceptual skill) yaitu ketrampilan untuk melakukan kegiatan usaha
secara menyeluruh berdasar konsep yang dibuatnya.
 Ketrampilan tehnik (technical skill) yaitu ketrampilan melakukan tehnik tertentu dalam
mengelola usahanya.
 Human skill yaitu ketrampilan bekerjasama dengan orang lain, bawahannya dan sesama
wirausahawan

D. Karakteristik wirausahawan
Karakteristik wirausahawan adalah sifat atau tingkah laku yang khas dari wirausahawan
yang membedakannya dengan orang lain.

5
Karakteristik yang perlu dimiliki wirausahawan yaitu:
1. Kerja keras dan disiplin
2. Mandiri dan realistis
3. Komitmen tinggi
4. Kreatif dan Inovatif
5. Jujur
6. Memiliki jiwa kepemimpinan
7. Berpikir kedepan/prespektif

Karakteristik wirausahawan menurut pendapat:

By Grave
1. Dream yaitu mempunyai visi keinginan di masa depan dan mempunyai kemampuan
untuk mewujudkan impiannya.
2. Decisivenees yaitu orang yang bekerja cepat dan selalu memperhitungkan apa yang
akan dilakukan.
3. Doers yaitu seorang wirausahawan dalam membuat keputusan akan langsung
ditindaklanjuti.
4. Determination yaitu melakukan kegiatan dengan penuh perhatian.
5. Dedication yaitu mencurahkan perhatian pada bisnisnya.
6. Devotion yaitu mencintai pekerjaan bisnis dan hasil produksi.
7. Detail yaitu memperhatikan faktor yang terkecil secara rinci
8. Destiny yaitu bertanggung jawab terhadap nasib dan tujuan yang hendak dicapai.
9. Dollars yaitu tidak mengutamakan mencapai kekayaan, motivasinya bukan uang
karena uang dianggap sebagai ukuran kesuksesan.
10. Distribute yaitu bersedia mendistribusikan kepemilikan bisnisnya kepada orang –
orang kepercayaannya.

Fadel Muhammad
1. Kepemimpinan
2. Inovasi
3. Cara pengambilan keputusan
4. Sikap tanggung jawab terhadap perubahan
5. Bekerja ekonomis dan efisien
6. Visi masa depan
7. Sikap terhadap risiko

Drs Wasty Soemanto,M.pd


1. Memiliki moral yang tinggi
2. Sikap mental wiraswasta
3. Kepekaan terhadap arti lingkungan

6
4. Ketrampilan wiraswasta

Celland
1. Keinginan untuk berprestasi
2. Keinginan untuk bertanggung jawab
3. Preferensi kepada risiko – risiko menengah
4. Persepsi kepada kemungkinan hasil
5. Rangsangan oleh umpan balik
6. Aktifitas energik
7. Orientasi ke masa depan
8. Ketrampilan dalam pengorganisasian
9. Sikap tentang uang
 
KEBERHASILAN DAN KEGAGALAN WIRAUSAHA

Keberhasilan wirausaha
Dari sisi pengusaha meliputi :
1. Jujur : Jujur terhadap diri sendiri,orang lain dan tujuan yang akan dicapai
2. Disiplin dan berani : karena bakat , pengalaman dan pengetahuan dan karena keyakinan dan
fasilitas
3. Menguasi bidang usaha yang digeluti
4. Dapat melaksanakan prinsip management dengan baik

Dari sisi produk


1. Memiliki keunggulan yang berarti bagi konsumen, apakah dari segi harga,kualitas produk,
prestise, manfaat dsb.
2. Didukung oleh promosi yang efektif kepada publik
 
Kegagalan wirausaha :
1. Tidak ada perencanaan yang matang
2. Bakat yang tidak cocok
3. Kurang pengalaman
4. Tidak punya semangat berwirausaha
5. Kurang modal
6. Lemahnya pemasaran
7. Tidak punya etos kerja yang tinggi
8. Lokasi yang kurang strategis
 
PERILAKU WIRAUSAHAWAN
Menurut Imam Santoso Sukardi ada 9 perilaku wirausaha yaitu :

7
1. perilaku instrumental
2. perilaku prestatif
3. perilaku keluwesan bergaul
4. perilaku kerja keras
5. perilaku keyakinan diri
6. perilaku pengambilan risiko
7. perilaku swa kendali
8. perilaku inovatif
9. perilaku kemandirian

Karakter wirausaha yang harus dipakai dalam mempertahankan bisnisnya meliputi :


1. Jangan mudah berpuas diri
2. Hidup hemat,cermat dan bersahaja
3. Harus meningkatkan kerja keras ,tekun dan teliti
4. Selalu mengutamakan kepentingan pelanggan
5. Membuat pelanggan setia
6. Tawakal pada Tuhan
7. Selalu dinamis

Contoh wirausaha yang sukses karena keuletan, komitmen tinggi dan ketekunan yaitu :
1. Thomas A. Edison penemu bola lampu, matematika, fisika
2. Bill Gates pendiri Microsoft office
3. Charles F. Wilson presiden Perusahaan General Motor Corporation ( GMC )
4. Andrew Carnegie pendiri industri baja
5. Stave Jobs penemu Apple Computer
6. Donald wirausahawan hambuger dll.
 

8
BAB 2
MENGANALISIS PELUANG USAHA
 

KOMPETENSI DASAR :
3. 2 Menganalisis peluang usaha produk barang/jasa
4.2 Menentukan peluang usaha produk barang/jasa

9
Pengertian Wirausaha
Pengertian dari Kewirausahaan menurut Hisrich-Peters (1995) dalam buku Entreprenuership
adalah entrepreneurship is the process of creating something different with value by devoting the
necessary time and effort, assuming the accompanying financial, psychic, and social risks, and
receiving the resulting rewards of monetary and personal satisfaction and independence.
(artinya Kewirausahaan adalah proses menciptakan sesuatu yang baru (kreatif), yang lain dari
yang lainnya (inovatif) dengan menggunakan waktu dan kegiatan disertai modal dan resiko serta
menerima balas jasa dan kepuasan serta kebebasan pribadi).
Peluang Usaha
Peluang usaha dapat digali melalui berbagai usaha dan cara, diantaranya:
1. Membuka mata dan telinga untuk mengumpulkan berbagai informasi terbaru dari
lingkungan.
2. Pengembangan ide-ide dan gagasan baru berdasarkan kondisi yang ada.

Menciptakan peluang usaha baru berdasarkan informasi dari lingkungan


Sumber-sumber potensial peluang
 Menciptakan produk baru dan berbeda.
 Mengamati pintu peluang.
 Analisis produk dan proses produksi secara mendalam.
 Menaksir biaya awal
 Memperhitungkan resiko yang mungkin terjadi.
Menurut hasil survei yang dilakukan oleh Peggy Lambing ada dua pendekatan utama yang
digunakan oleh wirausaha untuk mencari peluang dengan mendirikan usaha baru, yaitu:
 Pendekatan “Inside-out “ atau disebut dengan “ Idea Generation “
 Pendekatan “ The Out-Side In “ atau disebut juga “ Opportunity recognition“

Pemanfaatan peluang usaha yang ada secara Kreatif dan Inovatif


Dalam hal ini, menurut Zimmerer dalam tulisan Suryana (2006: 25) ada tujuh langkah proses
Kreatif  yaitu:
 Persiapan (Preparation)
 Penyidikan (Investigation)
 Transformasi (Transformation)
 Penetasan (Incubation)
 Penerangan (Illumination)
 Pengujian (Verification)
 Implementasi (Implementation)

Faktor-faktor Pemicu Keberhasilan dan Kegagalan dalam Berwirausaha


Faktor-faktor Keberhasilan wirausaha.
Menurut Murphy and Peck dalam buku kewirausahaan karya Buchari Alma (2000: 83), ada
delapan ciri yang harus dimiliki seorang wirausaha yang juga merupakan kunci keberhasilan,
yaitu:

10
 Mau Bekerja Keras.
 Bekerjasama Dengan Orang Lain .
 Penampilan Yang Baik.
 Pandai Membuat Keputusan.
 Mau Menambah Ilmu Pengetahuan
 Berambisi Untuk Maju.
 Pandai Berkomunikasi.
Menurut Suryana (2006: 67), kunci keberhasilan dalam wirausaha adalah:
 Kemampuan dan Kemauan.
 Tekad yang kuat dan kerja keras.
 Mengenal peluang dan berusaha meraihnya.

Faktor-faktor penyebab kegagalan usaha


 Tidak kompeten dalam hal manajerial.
 Kurang berpengalaman.
 Kurang dapat mengendalikan keuangan.
 Gagal dalam perencanaan.
 Salah memilih lokasi.
 Kurangnya pengawasan peralatan.
 Sikap yang tidak sungguh-sungguh dalam berusaha.
 Ketidakmampuan dalam melakukan transisi kewirausahaan.

Selain beberapa hal tersebut di atas, ada beberapa hal yang sangat berpotensi bagi seorang
wirausaha mundur dalam menjalankan usahanya, yaitu:
 Pendapatan yang tidak menentu.
 Kerugian akibat hilangnya modal investasi.
 Perlu kerja keras dan waktu yang lama.
 Lambatnya perubahan kualitas kehidupan.

Resiko Usaha
Berbagai peluang usaha yang ada merupakan bentuk lain dari resiko, sehingga seorang
wirausaha harus memiliki kemauan dan kemampuan mengambil resiko tersebut dengan
perhitungan yang matang, karena pada dasarnya segala resiko dapat diatasi.
Berbagai resiko tersebut dapat dikurangi dengan menerapkan prosedur dalam menganalisis
resiko, yaitu menetapkan terlebih dahulu beberapa langkah berikut:
 Tujuan dan sasaran usaha.
 Meneliti alternatif resiko.
 Merencanakan dan melaksanakan sebuah alternatif.
 Taksiran resiko usaha.

11
BAB 3
HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL
 

KOMPETENSI DASAR
3.3 Memahami hak atas kekayaan intelektual
4.3 Mepresentasikan hak atas kekayaan intelektual

12
A. SEJARAH PERKEMBANGAN SISTEM PERLINDUNGAN HAK KEKAYAAN
INTELEKTUAL DI INDONESIA

1. Secara historis, peraturan perundang-undangan di bidang HKI di Indonesia telah ada


sejak tahun 1840. Pemerintah kolonial Belanda memperkenalkan undang-undang pertama
mengenai perlindungan HKI pada tahun 1844. Selanjutnya, Pemerintah Belanda
mengundangkan UU Merek tahun 1885, Undang-undang Paten tahun 1910, dan UU Hak
Cipta tahun 1912. Indonesia yang pada waktu itu masih bernama Netherlands East-Indies
telah menjadi angota Paris Convention for the Protection of Industrial Property sejak
tahun 1888, anggota Madrid Convention dari tahun 1893 sampai dengan 1936, dan
anggota Berne Convention for the Protection of Literaty and Artistic Works sejak tahun
1914. Pada zaman pendudukan Jepang yaitu tahun 1942 sampai dengan 1945, semua
peraturan perundang-undangan di bidang HKI tersebut tetap berlaku. Pada tanggal 17
Agustus 1945 bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Sebagaimana
ditetapkan dalam ketentuan peralihan UUD 1945, seluruh peraturan perundang-undangan
peninggalan Kolonial Belanda tetap berlaku selama tidak bertentangan dengan UUD
1945. UU Hak Cipta dan UU Merek tetap berlaku, namun tidak demikian halnya dengan
UU Paten yang dianggap bertentangan dengan pemerintah Indonesia. Sebagaimana
ditetapkan dalam UU Paten peninggalan Belanda, permohonan Paten dapat diajukan di
Kantor Paten yang berada di Batavia (sekarang Jakarta), namun pemeriksaan atas
permohonan Paten tersebut harus dilakukan di Octrooiraad yang berada di Belanda.
2. Pada tahun 1953 Menteri Kehakiman RI mengeluarkan pengumuman yang merupakan
perangkat peraturan nasional pertama yang mengatur tentang Paten, yaitu Pengumuman
Menteri Kehakiman no. J.S 5/41/4, yang mengatur tentang pengajuan sementara
permintaan Paten dalam negeri, dan Pengumuman Menteri Kehakiman No. J.G 1/2/17
yang mengatur tentang pengajuan sementara permintaan paten luar negeri.
3. Pada tanggal 11 Oktober 1961 Pemerintah RI mengundangkan UU No.21 tahun 1961
tentang Merek Perusahaan dan Merek Perniagaan untuk mengganti UU Merek Kolonial
Belanda. UU No 21 Tahun 1961 mulai berlaku tanggal 11 November 1961. Penetapan
UU Merek ini untuk melindungi masyarakat dari barang-barang tiruan/bajakan.
4. 10 Mei 1979 Indonesia meratifikasi Konvensi Paris Paris Convention for the Protection
of Industrial Property (Stockholm Revision 1967) berdasarkan keputusan Presiden No. 24
tahun 1979. Partisipasi Indonesia dalam Konvensi Paris saat itu belum penuh karena
Indonesia membuat pengecualian (reservasi) terhadap sejumlah ketentuan, yaitu Pasal 1
sampai dengan 12 dan Pasal 28 ayat 1.
5. Pada tanggal 12 April 1982 Pemerintah mengesahkan UU No.6 tahun 1982 tentang Hak
Cipta untuk menggantikan UU Hak Cipta peninggalan Belanda. Pengesahan UU Hak

13
Cipta tahun 1982 dimaksudkan untuk mendorong dan melindungi penciptaan,
penyebarluasan hasil kebudayaan di bidang karya ilmu, seni, dan sastra serta
mempercepat pertumbuhan kecerdasan kehidupan bangsa.
6. Tahun 1986 dapat disebut sebagai awal era moderen sistem HKI di tanah air. Pada
tanggal 23 Juli 1986 Presiden RI membentuk sebuah tim khusus di bidang HKI melalui
keputusan No.34/1986 (Tim ini dikenal dengan tim Keppres 34) Tugas utama Tim
Keppres adalah mencakup penyusunan kebijakan nasional di bidang HKI, perancangan
peraturan perundang-undangan di bidang HKI dan sosialisasi sistem HKI di kalangan
intansi pemerintah terkait, aparat penegak hukum dan masyarakat luas.
7. 19 September 1987 Pemerintah RI mengesahkan UU No.7 Tahun 1987 sebagai
perubahan atas UU No. 12 Tahun 1982 tentang Hak Cipta.
8. Tahun 1988 berdasarkan Keputusan Presiden RI No.32 ditetapkan pembentukan
Direktorat Jenderal Hak Cipta, Paten dan Merek (DJHCPM) untuk mengambil alih fungsi
dan tugas Direktorat paten dan Hak Cipta yang merupakan salah satu unit eselon II di
lingkungan Direktorat Jenderal Hukum dan Perundang-Undangan, Departemen
Kehakiman.
9. Pada tanggal 13 Oktober 1989 Dewan Perwakilan Rakyat menyetujui RUU tentang Paten
yang selanjutnya disahkan menjadi UU No. 6 Tahun 1989 oleh Presiden RI pada tanggal
1 November 1989. UU Paten 1989 mulai berlaku tanggal 1 Agustus 1991.
10. 28 Agustus 1992 Pemerintah RI mengesahkan UU No. 19 Tahun 1992 tentang Merek,
yang mulai berlaku 1 April 1993. UU ini menggantikan UU Merek tahun 1961.
11. Pada tanggal 15 April 1994 Pemerintah RI menandatangani Final Act Embodying the
Result of the Uruguay Round of Multilateral Trade Negotiations, yang mencakup
Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (Persetujuan
TRIPS).
12. Tahun 1997 Pemerintah RI merevisi perangkat peraturan perundang-undangan di bidang
HKI, yaitu UU Hak Cipta 1987 jo. UU No. 6 tahun 1982, UU Paten 1989 dan UU Merek
1992.
13. Akhir tahun 2000, disahkan tiga UU baru dibidang HKI yaitu : (1) UU No. 30 tahun 2000
tentang Rahasia Dagang, UU No. 31 tahun 2000 tentang Desain Industri, dan UU No. 32
tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu.
14. Untuk menyelaraskan dengan Persetujuan TRIPS (Agreement on Trade Related Aspects
of Intellectual Property Rights) pemerintah Indonesia mengesahkan UU No 14 Tahun
2001 tentang Paten, UU No 15 tahun 2001 tentang Merek, Kedua UU ini menggantikan
UU yang lama di bidang terkait. Pada pertengahan tahun 2002, disahkan UU No.19
Tahun 2002 tentang Hak Cipta yang menggantikan UU yang lama dan berlaku efektif
satu tahun sejak di undangkannya.

14
15. Pada tahun 2000 pula disahkan UU No 29 Tahun 2000 Tentang Perlindungan Varietas
Tanaman dan mulai berlaku efektif sejak tahun 2004.

B. PENGERTIAN HaKI
1. Istilah HaKI atau Hak atas Kekayaan Intelektual merupakan terjemahan dari Intellectual
Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994
tentang pengesahan WTO (Agreement Establishing The World Trade Organization).
Pengertian Intellectual Property Right sendiri adalah pemahaman mengenai hak atas
kekayaan yang timbul dari kemampuan intelektual manusia, yang mempunyai hubungan
dengan hak seseorang secara pribadi yaitu hak asasi manusia (human right).
2. HaKI atau Hak atas Kekayaan Intelektual adalah hak eksklusif yang diberikan suatu
hukum atau peraturan kepada seseorang atau sekelompok orang atas karya ciptanya. Pada
intinya HaKI adalah hak untuk menikmati secara ekonomis hasil dari suatu kreativitas
intelektual. Objek yang diatur dalam HaKI adalah karya-karya yang timbul atau lahir
karena kemampuan intelektual manusia.
3. Setiap hak yang digolongkan ke dalam HaKI harus mendapat kekuatan hukum atas karya
atau ciptannya. Untuk itu diperlukan tujuan penerapan HaKI. Tujuan dari penerapan
HaKI yang Pertama, antisipasi kemungkinan melanggar HaKI milik pihak lain, Kedua
meningkatkan daya kompetisi dan pangsa pasar dalam komersialisasi kekayaan
intelektual, Ketiga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam penentuan strategi
penelitian, usaha dan industri di Indonesia.
4. Lalu bagaimana apabila karya kita atau milik orang lain tidak dilindungi? Sudah pasti
dipastikan akan terkena pembajakan. Sebegai contoh untuk di dunia pendidikan saat ini
marak adanya pembajakan buku. Pembajakan buku ini makin marak terjadi di
masyarakat, banyak faktor yang menyebabkan terjadinya pembajakan buku, salah
satunya adalah kurangnya penegakan hukum, ketidaktahuan masyarakat terhadap
perlindungan hak cipta buku, dan kondisi ekonomi masyarakat.
5. Sudah banyak pelaku terjaring oleh aparat, dan masih banyak pula yang masih
berkeliaran dan tumbuh, seiring tingginya permintaan oleh masyarakat. Untuk itu butuh
kesadaran dari masyarakat untuk mengetahui HaKI agar karyanya tidak diambil oleh
orang lain. Berikut ini terdapat macam-macam HaKI.

MANFAAT HaKI ATAU HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL


1. Bagi dunia usaha, adanya perlindungan terhadap penyalahgunaan atau pemalsuan karya
intelektual yang dimilikinya oleh pihak lain di dalam negeri maupun di luar negeri.
Perusahaan yang telah dibangun mendapat citra yang positif dalam persaingan apabila
memiliki perlindungan hukum di bidang HKI.

15
2. Bagi inventor dapat menjamin kepastian hukum baik individu maupun kelompok serta
terhindar dari kerugian akibat pemalsuan dan perbuatan curang pihak lain.
3. Bagi pemerintah, adanya citra positif pemerintah yang menerapkan HKI di tingkat WTO.
Selain itu adanya penerimaan devisa yang diperoleh dari pendaftaran HKI.
4. Adanya kepastian hukum bagi pemegang hak dalam melakukan usahanya tanpa
gangguan dari pihak lain.
5. Pemegang hak dapat melakukan upaya hukum baik perdata maupun pidana bila terjadi
pelanggaran/peniruan.
6. Pemegang hak dapat memberikan izin atau lisensi kepada pihak lain.

C. MACAM-MACAM HaKI ATAU HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL


Hak Cipta
Hak Cipta adalah hak khusus bagi pencipta untuk mengumumkan atau memperbanyak
ciptaannya. Termasuk ciptaan yang dilindungi adalah ciptaan dalam bidang ilmu
pengetahuan, sastra dan seni.
Hak cipta diberikan terhadap ciptaan dalam ruang lingkup bidang ilmu pengetahuan,
kesenian, dan kesusasteraan. Hak cipta hanya diberikan secara eksklusif kepada pencipta,
yaitu “seorang atau beberapa orang secara bersama-sama yang atas inspirasinya lahir suatu
ciptaan berdasarkan pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan atau keahlian yang
dituangkan dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi.
Hak Kekayaan Industri, yang Meliputi:
1. Paten
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 Pasal 1 Ayat 1, Paten adalah hak
eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada Inventor atas hasil invensinya di bidang
teknologi, yang untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri invensinya tersebut
atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakannya.
Paten hanya diberikan negara kepada penemu yang telah menemukan suatu penemuan
(baru) di bidang teknologi. Yang dimaksud dengan penemuan adalah kegiatan pemecahan
masalah tertentu di bidang teknologi yang berupa : Proses, hasil produksi,
penyempurnaan dan pengembangan proses, penyempurnaan dan pengembangan hasil
produksi.
2. Merek
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 Pasal 1 Ayat 1 Merek adalah tanda
yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna, atau
kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam
kegiatan perdagangan barang atau jasa.

16
Jadi merek merupakan tanda yang digunakan untuk membedakan produk (barang dan
atau jasa) tertentu dengan yang lainnya dalam rangka memperlancar perdagangan,
menjaga kualitas, dan melindungi produsen dan konsumen.
Terdapat beberapa istilah merek yang biasa digunakan, yang pertama merek dagang
adalah merek yang digunakan pada barang yang diperdagangkan oleh seseorang atau
beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan dengan
barang-barang sejenis lainnya.

Merek jasa yaitu merek yang digunakan pada jasa yang diperdagangkan oleh seseorang atau
beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan dengan jasa-jasa
sejenis lainnya.
Merek kolektif adalah merek yang digunakan pada barang atau jasa dengan karakteristik yang
sama yang diperdagangkan oleh beberapa orang atau badan hukum secara bersama-sama untuk
membedakan dengan barang atau jasa sejenis lainnya.
Hak atas merek adalah hak khusus yang diberikan negara kepada pemilik merek yang terdaftar
dalam Daftar Umum Merek untuk jangka waktu tertentu, menggunakan sendiri merek tersebut
atau memberi izin kepada seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan
hukum untuk menggunakannya.

3. Desain Industri
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 Pasal 1 Ayat 1 Tentang Desain Industri,
bahwa desain industri adalah suatu kreasi tentang bentuk, konfigurasi, atau komposisi garis atau
warna, atau garis dan warna, atau gabungan daripadanya yang berbentuk tiga dimensi atau dua
dimensi yang memberikan kesan estetis dan dapat diwujudkan dalam pola tiga dimensi atau dua
dimensi serta dapat dipakai untuk menghasilkan suatu produk, barang, komoditas industri, atau
kerajinan tangan.

4. Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu


Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2000 Pasal 1 Ayat 1 Tentang Desain Tata Letak
Sirkuit Terpadu bahwa, Sirkuit Terpadu adalah suatu produk dalam bentuk jadi atau setengah
jadi, yang di dalamnya terdapat berbagai elemen dan sekurang-kurangnya satu dari elemen
tersebut adalah elemen aktif, yang sebagian atau seluruhnya saling berkaitan serta dibentuk
secara terpadu di dalam sebuah bahan semikonduktor yang dimaksudkan untuk menghasilkan
fungsi elektronik.

5. Rahasia Dagang
Menurut Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang bahwa, Rahasia
Dagang adalah informasi yang tidak diketahui oleh umum di bidang teknologi dan/atau bisnis,

17
mempunyai nilai ekonomi karena berguna dalam kegiatan usaha, dan dijaga kerahasiaannya oleh
pemilik Rahasia Dagang.
6. Indikasi Geografis
Berdasarkan Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 Pasal 56 Ayat 1 Tentang Merek bahwa,
Indikasi-geografis dilindungi sebagai suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang
yang karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia, atau kombinasi
dari kedua faktor tersebut, memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan.

Folklore
Yang dimaksud dengan “Folklore” dan “Traditional Knowledge” adalah suatu karya intelektual
yang terdapat di dalam masyarakat tradisional secara turun temurun dan apabila tidak
dipertahankan dikhawatirkan akan punah dan apabila itu terjadi akan merupakan kerugian bagi
khasanah pengetahuan manusia pada umumnya, atau dikhawatirkan akan dimanfaatkan secara
tidak sah dan tidak adil oleh pihak-pihak di luar pemiliknya.
Folklor mencerminkan kebudayaan manusia yang diekspresikan melalui musik, tarian, drama
seni, kerajinan tangan, seni pahat, seni lukis, karya sastra dan sarana lain untuk mengekspresikan
kreativitas yang umumnya memerlukan sedikit ketergantungan pada teknologi tinggi.
Undang-undang Nomor 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta tidak secara penuh mengakomodasikan
dan melindungi folklor penduduk asli. Ketentuan mengenai perlindungan bagi folklor penduduk
asli dalam Undang-undang Hak Cipta memiliki kekurangan, karena undang-undang Hak Cipta
menentukan syarat-syarat mengenai kepemilikan dan penciptanya, bentuk utama, keaslian, durasi
dan hak-hak dalam karya derivatif (hak-hak pengalihwujudan). Oleh karenanya batasanbatasan
Hak Cipta sebagai bidang HKI masih belum menempatkan folklor asli untuk memenuhi syarat
elemen bagi perlindungan Hak Cipta.
Pasal 10 undang-undang Hak Cipta mementukan bahwa Negara memegang Hak Cipta atas karya
peninggalan prasejarah, sejarah dan benda budaya nasional lainnya; dan Negara memegang Hak
Cipta atas Folklor dan hasil kebudayaan rakyat yang menjadi miliki bersama, seperti cerita,
hikayat, dongeng, legenda, babad, lagu, kerajinan tangan, koreografi, tarian, kaligrafi dan karya
seni lainnya.
Untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaan tersebut, orang yang bukan Warga Negara
Indonesia harus lebih dahulu mendapat izin dari instansi terkait dalam masalah tersebut.
Ketentuan lebih lanjut mengenai Hak Cipta yang dipegang oleh Negara sebagaimana dimaksud
di atas, akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
PRINSIP-PRINSIP HaKI ATAU HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL
Prinsip-prinsip Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) adalah sebagai berikut :
Prinsip Ekonomi

18
Dalam prinsip ekonomi, hak intelektual berasal dari kegiatan kreatif dari daya pikir manusia
yang memiliki manfaat serta nilai ekonomi yang akan member keuntungan kepada pemilik hak
cipta.

Prinsip Keadilan
Prinsip keadilan merupakan suatu perlindungan hukum bagi pemilik suatu hasil dari 
kemampuan intelektual, sehingga memiliki kekuasaan dalam penggunaan hak atas kekayaan
intelektual terhadap karyanya.

Prinsip Kebudayaan
Prinsip kebudayaan merupakan pengembangan dari ilmu pengetahuan, sastra dan seni guna
meningkatkan taraf kehidupan serta akan memberikan keuntungan bagi masyarakat, bangsa dan
Negara.

Prinsip Sosial
Prinsip sosial mengatur kepentingan manusia sebagai warga Negara, sehingga hak yang telah
diberikan oleh hukum atas suatu karya merupakan satu kesatuan yang diberikan perlindungan
berdasarkan keseimbangan antara kepentingan individu dan masyarakat/ lingkungan.

DASAR HUKUM HaKI ATAU HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL DI


INDONESIA
Dalam penetapan HaKI tentu berdasarkan hukum-hukum yang sesuai dengan peraturan yang
berlaku. Dasar-dasar hukum tersebut antara lain adalah :
1. Undang-undang Nomor 7/1994 tentang Pengesahan Agreement Establishing the World
Trade Organization (WTO)
2. Undang-undang Nomor 10/1995 tentang Kepabeanan
3. Undang-undang Nomor 12/1997 tentang Hak Cipta
4. Undang-undang Nomor 14/1997 tentang Merek
5. Undang-undang Nomor 13/1997 tentang Hak Paten
6. Keputusan Presiden RI No. 15/1997 tentang Pengesahan Paris Convention for the Protection
of Industrial Property dan Convention Establishing the World Intellectual Property
Organization
7. Keputusan Presiden RI No. 17/1997 tentang Pengesahan Trademark Law Treaty
8. Keputusan Presiden RI No. 18/1997 tentang Pengesahan Berne Convention for the
Protection of Literary and Artistic Works
9. Keputusan Presiden RI No. 19/1997 tentang Pengesahan WIPO Copyrights Treaty

19
Berdasarkan peraturan-peraturan tersebut maka Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) dapat
dilaksanakan. Maka setiap individu/kelompok/organisasi yang memiliki hak atas pemikiran-
pemikiran kreatif mereka atas suatu karya atau produk dapat diperoleh dengan mendaftarkannya
ke pihak yang melaksanakan, dalam hal ini merupakan  tugas dari Direktorat Jenderal Hak-hak
Atas Kekayaan Intelektual, Departemen Hukum dan Perundang-undangan Republik Indonesia.

HAL-HAL YANG TIDAK DIANGGAP SEBAGAI PELANGGARAN HAK CIPTA


Yang tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta, dengan syarat sumbernya harus disebut
atau dicantumkan, adalah :
1. Penggunaan ciptaan pihak lain untuk keperluan pendidikan, penelitian, penulisan karya
ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik dan tinjauan suatu masalah dengan ketentuan
tidak merugikan kepentingan yang wajar bagi pencipta;
2. Pengambilan ciptaan pihak lain baik seluruhnya maupun sebagian guna keperluan
pembelaan didalam dan diluar pengadilan;
3. Pengambilan ciptaan pihak lain baik seluruhnya maupun sebagian guna keperluan
4. Ceramah yang semata-mata untuk tujuan pendidikan dan ilmu pengetahuan;
5. Pertunjukan atau pementasan yang tidak dipungut bayaran dengan ketentuan tidak
merugikan kepentingan yang wajar bagi pencipta;
6. Perbanyakan suatu ciptaan bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra dalam huruf braile guna
keperluan para tunanetra, kecuali jika perbanyakan itu bersifat komersial;
7. Perbanyakan suatu ciptaan selain program komputer, secara terbatas dengan cara atau alat
apapaun atau proses yang serupa dengan perpustakaan umum, lembaga ilmu pengetahuan
atau pendidikan dan pusat dokumentasi yang non komersial, semata-mata untuk keperluan
aktivitasnya;
8. Perubahan yang dilakukan atas karya arsitektur seperti ciptaan bangunan berdasarkan
pertimbangan pelaksanaan teknis;
9. Pembuatan salinan cadangan suatu program komputer oleh pemilik program komputer yang
dilkukan semata-mata untuk digunakan sendiri.

PENTINGNYA HaKI DALAM DUNIA USAHA


Kemajuan dunia usaha tentunya tidak dapat dilepaskan dari pembangunan di bidang ekonomi
yang pelaksanaannya dititikberatkan pada sektor industri. Dalam rangka menunjang
pertumbuhan dan perkembangan dunia usaha yang dititikberatkan pada sektor industri, faktor
perangkat hukum khususnya perangkat hukum kekayaan intelektual, sangat memegang peran
penting guna memberikan adanya kepastian hukum yang jelas dan tegas dalam melindungi
kepentingan para pelaku usaha dan masyarakat. Penegakkan hukum, khususnya hukum kekayaan
intelektual, diharapkan mampu mengantisipasi kemajuan di setiap sektor usaha, khususnya
sektor industri.

20
Arus globalisasi ekonomi telah membawa pengaruh yang cukup “significant” bagi pertumbuhan
dan perkembangan dunia usaha di Indonesia, khususya untuk sektor industri. Sebagai Negara
berkembang, Indonesia harus memandang sisi perdagangan internasional yang menimbulkan
adanya persaingan sebagai suatu hal yang mempunyai arti penting. Dalam era globalisasi
ekonomi terdapat lima isu yang berkembang, yaitu Hak Asasi Manusia (HAM), Demokratisasi,
Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam, Hak atas Kepemilikan Intelektual dan Standardisasi.
[3] Berangkat dari hal itulah, isu perlindungan hukum bagi produk industri, termasuk produk-
produk industri yang dihasilkan oleh kemampuan intelektual manusia, menjadi isu yang tidak
dapat dilepaskan dalam kerangka perdagangan bebas. Dalam era perdagangan bebas, usaha-
usaha industri kecil perlu ditingkatkan dan dikembangkan agar dapat menghasilkan produk yang
mampu bersaing dalam hal mutu, harga, dan sistem manajemen terpadu agar dapat menembus
pasar, baik pasar dalam negeri maupun internasional.
Begitu pentingnya HKI dalam dunia usaha, khususnya dalam meningkatkan kreatifitas, perlu
adanya suatu tindakan mensosialisasi, membudayakan dan memberdayaan HKI kepada seluruh
lapisan masyarakat, baik pelaku usaha, aparat penegak hukum maupun masyarakat selaku
konsumen. Ada lima langkah strategis dalam pembangunan sistem HKI di Indonesia, yaitu
sosialisasi HKI, pembangunan administrasi dan kelembagaan, penyempurnaan legislasi dan
penyertaan pada perjanjian internasional, serta kerjasama internasional dan koordimasi
penegakan hukum.
Ikut sertanya Indonesia sebagai anggota WTO dan turut serta menandatangani Perjanjian
Multilateral GATT (General Agreement on Tariffs and Trade) Puturan Uruguay tahun 1994,
serta meratifikasinya dengan Undang-undang (UU) No. 7 Tahun 1994, membawa akibat
Indonesia harus membentuk dan menyempurnakan hukum nasionalnya serta terikat dengan
ketentuan-ketentuan tentang Hak atas Kepemilikan Intelektual (HAKI) yang diatur dalam
GATT, yang salah satu lampirannya dari persetujuan GATT adalah TRIPs (Trade Related
Aspects of Intellectual Property Rights), yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai
Persetujuan tentang Aspek-aspek Dagang Hak atas Kepemilikan Intelektual.
Konsekuensi Indonesia dalam meratifikasi GATT dengan UU No. 7 Tahun 1994 adalah bahwa
Indonesia diwajibkan untuk memasukan perangkat hukum HKI dalam sistem hukum nasional
Indonesia. Indonesia juga telah menyempurnakan peraturan perundang-undangan dibidang HKI,
diantaranya UU Hak Cipta, Paten, Merek, dan juga Indonesia juga telah mengundangkan UU
HKI lainnya, seperti UU Rahasia Dagang, Desain Industri, Tata Letak Sirkuit Terpadu, Varitas
Tanaman.

PENTINGNYA PERLINDUNGAN HUKUM BAGI HKI DALAM PEMBANGUNAN


SEKTOR INDUSTRI
HKI memegang peranan penting dalam perkembangan sektor industri, karena melalui HKI dapat
dihasilkan penemuan baru, teknologi canggih, kualitas tinggi, maupun standar mutu. Semakin

21
tinggi tingkat kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tentunya akan makin
maju perkembangan HKI dan makin cepat perkembangan sektor industri. Disamping itu juga
HKI merupakan basis perdagangan karena HKI menjadi dasar perkembangan perdagangan yang
menggunakan merek terkenal sebagai goodwill, lambing kualitas dan standar mutu, sarana
menembus pasar, baik domestik maupun internasional.  Begitu pentingnya HKI dalam
pembangunan sektor industri, sudah seharusnya HKI perlu dilindungi oleh hukum. Dasar
pertimbangan HKI perlu dilindungi oleh hukum adalah karena:
1. Alasan yang bersifat non-ekonomis. Perlindungan hukum akan memacu mereka yang
menghasilkan karya-karya intelektual tersebut untuk terus melakukan kreatifitas intelektual.
Hal ini akan meningkatkan self actualization pada diri manusia. Bagi masyarakat hal ini
akan berguna untuk meningkatkan perkembangan hidup mereka.
2. Alasan yang bersifat ekonomis. Untuk melindungi mereka yang melahirkan karya
intelektual tersebut berarti yang melahirkan karya tersebut mendapat keuntungan materiil
dari karya-karyanya. Di pihak lain melindungi mereka dari adanya peniruan, pembajakan,
penjiplakan mampu perbuatan curang lainnya yang dilakukan oleh orang lain atas karya-
karya mereka yang berhak.
Sebagai konsekuensi Indonesia menjadi anggota WTO dengan meratifikasi Persetujuan
GATT dengan UU No. 7 Tahun 1994, komitmen terhadap APEC (Asia Pasific Economic
Cooperation) dan pemberlakuan AFTA (Asean Free Trade Area) 2003 membawa Indonesia
bersedia menerima liberalisme perdagangan. Dalam perdagangan bebas, persaingan adalah
hal yang wajar untuk memperoleh keuntungan maksimal dan menguasai pangsa pasar untuk
mengungguli pelaku usaha lain. Persaingan membawa pengaruh positif dan negatif dalam
dunia usaha. Pengaruh positif dari adanya persaingan adalah terciptanya harga yang
bersaing, kualitas produk yang baik, serta tersediannya berbagai pilihan terhadap suatu
produk. Sedangkan dampak negatifnya adalah terciptanya persaingan usaha tidak sehat di
antara para pelaku usaha. Persaingan usaha tidak sehat dapat diartikan sebagai persaingan
antar pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan produksi dan/atau pemasaran produk yang
dilakukan secara tidak jujur (melawan hukum). Persaingan tidak sehat dalam bidang HKI
adalah melakukan tindakan-tindakan peniruan, pemalsuan serta praktik-praktik tidak sehat
lainnya, yang tentunya ini sangat merugikan pemilik, Negara, dan juga masyarakat selaku
konsumen. Oleh karena itulah maka pentingnya HKI dilindungi oleh hukum sehingga
praktik-praktik persaingan tidak sehat dalam bidang HKI setidaknya dapat dicegah dan
adanya sanksi yang tegas guna memberikan efek jera bagi para pelaku usaha curang di
bidang HKI.

Dalam sistem hukum Indonesia, secara umum terdapat tiga bagian besar untuk mengatasi
persaingan curang, yaitu:

22
1. Hukum Umum, dalam hal ini Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata),
Pasal 1365[7] dan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHPidana), Pasal 322 jo.
Pasal 323 jo. Pasal 382bis.[8]
2. Hukum Khusus, dalam hal ini adalah peraturan perundang-undangan dibidang HKI, yang
meliputi dua kelompok, yakni Hak Cipta dan Hak Milik Industri/Perindustrian, yang
terdiri dari Paten, Merek, Rahasia Dagang, Desain Industri, Desain Tata Letak Siskuit
Terpadu, dan Varitas Tanaman.
3. Hukum Khusus, yang diatur dalam UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Untuk masalah pelanggaran dibidang HKI
yang bertujuan untuk menciptakan persaingan secara tidak sehat dapat diajukan
berdasarkan ketentuan UU ini. Tentunya perlu diingat untuk perjanjian-perjanjian yang
berkaitan dengan HKI seperti lisensi paten, merek, hak cipta, desain produk industri,
rangkaian elektronik terpadu dan rahasia dagang serta perjanjian yang berkaitan dengan
waralaba tidak dapat diterapkan ketentuan UU ini karena hal tersebut dikecualikan dari
UU No. 5 Tahun 1999 sebagaimana ditetapkan dalam ketentuan Pasal 50.
 
SUMBER MATERI
https://www.duniadosen.com/hak-atas-kekayaan-intelektual-haki/
Hak Atas Kekayaan Intelektual (HaKI)
https://id.wikipedia.org/wiki/Kekayaan_intelektual#Sejarah_Perkembangan_Sistem_Perlindunga
n_Hak_Kekayaan_Intelektual_di_Indonesia

23
BAB 4
KONSEP DESAIN/ PROTOTYPE DAN KEMASAN PRODUK BARANG/JASA
 

KOMPETENSI DASAR
3.4 Menganalisis konsep desain/ prototype dan kemasan produk barang/jasa
4.4 Membuat desain/ prototype dan kemasan produk barang/jasa

24
PENGERTIAN PROTOTYPE PRODUK
Fenomena dewasa ini banyak manajer menjalankan Total Quality Management (TQM) sebagai
prioritas untuk peningkatan dan pengendalian kualitas produk. Karena kualitas suatu produk
berhubungan erat dengan kepuasan pelanggan (customer satisfaction) serta keuntungan industri.
Dengan kualitas yang lebih tinggi akan menghasilkan kepuasan pelanggan yang lebih tinggi,
sekaligus mendukung harga yang lebih tinggi dan sering juga biaya lebih rendah.
Perhatian terhadap kualitas yang terbaik adalah bukan pada produk akhir. Hal ini penting agar
produk akhir yang dihasilkan adalah produk yang bebas cacat dan tidak ada lagi pemborosan
karena produk tersebut dibuang atau dikerjakan ulang. Maka sebaiknya perhatian terhadap
kualitas harus dimulai pada saat awal pembangunan produk. Tahapan yang sangat penting dalam
perencanaan awal pembuatan produk adalah pembuatan prototipe produk.
Prototipe produk (purwa–rupa produk) adalah bentuk dasar dari sebuah produk merupakan
tahapan yang sangat penting dalam rencana pembuatan produk karena menyangkut keunggulan
produk yang akan menentukan kemajuan suatu usaha di masa mendatang. Dikatakan sebagai
tahapan yang sangat penting karena prototipe dibuat untuk diserahkan pada pelanggan (lead–
user) agar pelanggan dapat mencoba kinerja prototipe tersebut. Selanjutnya jika pelanggan
memiliki komplain ataupun masukan mengenai protipe tersebut maka industri
mendokumentasikannya untuk proses perbaikan prototipe tersebut. Sehingga menciptakan suatu
sistem inovasi produk yang dibangun bersama-sama antara industri dan pelanggan sebagai upaya
pemenuhan kepuasan pelanggan (customers).
Sebagai bentuk dasar produk, prototipe memiliki bagian yang ukuran dan bahan sama seperti
jenis produk yang akan dibuat tetapi tidak harus difabrikasi dengan proses sebenarnya ditujukan
untuk pengetesan untuk menentukan apakah produk bekerja sesuai desain yang diinginkan dan
apakah produk memuaskan kebutuhan pelanggan. Prototipe seperti ini disebut alpha prototype
ada juga yang disebut beta prototype yang dibuat dengan bagian yang disuplai oleh proses
produksi sebenarnya, tetapi tidak rakit dengan proses akhir ditujukan untuk menjawab
pertanyaan akan performance dan ketahanan uji untuk menemukan perubahan yang perlu pada
produk final.
TAHAPAN-TAHAPAN PROTOTYPE
Berikut tahapan prototype:
1. Pendefinisian produk: merupakan penerjemahan konsep teknikal yang berhubungan dengan
kebutuhan dan perilaku konsumen kedalam bentuk perancangan termasuk aspek hukum
produk dan aspek hukum yang melibatkan keamanan dan perlindungan terhadap konsumen.
2. Working model: dibuat tidak harus mempresentasikan fungsi produk secara keseluruhan dan
dibuat pada skala yang seperlunya saja untuk membuktikan konsep dari pembuatan produk
dan menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan konsep yang telah dibuat. Working model
juga dibangun untuk menguji parameter fungsional dan membantu perancangan prototipe
rekayasa.
3. Prototipe rekayasa (engineering prototype): dibuat seperti halnya working model namun
mengalami perubahan tingkat kompleksitas maupun superioritas dari working model,
dibangun mencapai tingkat kualitas teknis tertentu agar dapat diteruskan menjadi prototipe
produksi atau untuk dilanjutkan pada tahapan produksi.
4. Prototipe rekayasa ini dibuat untuk keperluan pengujian kinerja operasional dan kebutuhan
rancangan sistem produksi.

25
5. Prototipe produksi (production prototype): bentuk yang dirancang dengan seluruh fungsi
operasional untuk menentukan kebutuhan dan metode produksi dibangun pada skala
sesungguhnya dan dapat menghasilkan data kinerja dan daya tahan produk dan part-nya.
6. Qualified production item: dibuat dalam skala penuh berfungsi secara penuh dan diproduksi
pada tahap awal dalam jumlah kecil untuk memastikan produk memenuhi segala bentuk
standar maupun peraturan yang diberlakukan terhadap produk tersebut biasanya untuk diuji-
cobakan kepada umum.
7. Untuk mematangkan produk yang hendak diproduksi secara komersil, maka produk perlu
memasuki pasar untuk melihat ancaman-ancaman produk yang terjadi; misal: keamananan,
regulasi, tanggung jawab, ketahanan dan kerusakan (wear–and–tear), pelanggaran, siklus
break even dan polusi, dan konsekuensinya diperlukan peningkatan program pemasaran.
8. Model: merupakan alat peraga yang mirip produk yang akan dibangun (look–like–models).
Secara jelas menggambarkan bentuk dan penampilan produk baik dengan skala yang
diperbesar, 1:1, atau diperkecil untuk memastikan produk yang akan dibangun sesuai dengan
lingkungan produk maupun lingkungan user.
9. Prototipe adalah bentuk efektif dalam mengkomunikasikan konsep produk namun jangan
sampai menyerupai bentuk produk sebenarnya karena mengandung resiko responden akan
menyamakannya dengan produk akhir.

PENGERTIAN KEMASAN PRODUK


Kemasan adalah desain kreatif yang mengaitkan bentuk, struktur, material, warna, citra, tipografi
dan elemen-elemen desain dengan informasi produk agar produk dapat dipasarkan. Kemasan
digunakan untuk membungkus, melindungi, mengirim, mengeluarkan, menyimpan,
mengidentifikasi dan membedakan sebuah produk di pasar (Klimchuk dan Krasovec, 2006:33).
Menurut Kotler & Keller (2009:27), pengemasan adalah kegiatan merancang dan memproduksi
wadah atau bungkus sebagai sebuah produk. Pengemasan adalah aktivitas merancang dan
memproduksi kemasan atau pembungkus untuk produk. Biasanya fungsi utama dari kemasan
adalah untuk menjaga produk. Namun, sekarang kemasan menjadi faktor yang cukup penting
sebagai alat pemasaran (Rangkuti, 2010:132).
Kemasan yang dirancang dengan baik dapat membangun ekuitas merek dan mendorong
penjualan. Kemasan adalah bagian pertama produk yang dihadapi pembeli dan mampu menarik
atau menyingkirkan pembeli. Pengemasan suatu produk biasanya dilakukan oleh produsen untuk
dapat merebut minat konsumen terhadap pembelian barang. Produsen berusaha memberikan
kesan yang baik pada kemasan produknya dan menciptakan model kemasan baru yang berbeda
dengan produsen lain yang memproduksi produk-produk sejenis dalam pasar yang sama.

FUNGSI KEMASAN PRODUK


Banyak perusahaan yang sangat memperhatikan pembungkus suatu barang sebab mereka
menganggap bahwa fungsi kemasan tidak hanya sebagai pembungkus, tetapi jauh lebih luas dari
pada itu. Simamora (2007) mengemukakan pengemasan mempunyai dua fungsi yaitu:
1. Fungsi Protektif
Berkenaan dengan proteksi produk, perbedaan iklim, prasarana transportasi, dan saluran
distribusi yang semua berimbas pada pengemasan. Dengan pengemasan protektif, para
konsumen tidak perlu harus menanggung risiko pembelian produk rusak atau cacat.
2. Fungsi Promosional
Peran kemasan pada umumnya dibatasi pada perlindungan produk. Namun kemasan juga
digunakan sebagai sarana promosional. Menyangkut promosi, perusahaan
mempertimbangkan preferensi konsumen menyangkut warna, ukuran, dan penampilan.

26
Sedangkan menurut Kotler (1999:228), terdapat empat fungsi kemasan sebagai satu alat
pemasaran, yaitu :
1. Self service. Kemasan semakin berfungsi lebih banyak lagi dalam proses penjualan, dimana
kemasan harus menarik, menyebutkan ciri-ciri produk, meyakinkan konsumen dan memberi
kesan menyeluruh yang mendukung produk.
2. Consumer offluence. Konsumen bersedia membayar lebih mahal bagi kemudahan,
penampilan, ketergantungan dan prestise dari kemasan yang lebih baik.
3. Company and brand image. Perusahaan mengenal baik kekuatan yang dikandung dari
kemasan yang dirancang dengan cermat dalam mempercepat konsumen mengenali
perusahaan atau merek produk.
4. Inovational opportunity. Cara kemasan yang inovatif akan bermanfaat bagi konsumen dan
juga memberi keuntungan bagi produsen.

Selain berfungsi sebagai media pemasaran, kemasan juga memiliki beberapa fungsi lain, yaitu
sebagai berikut:
1. Kemasan melindungi produk dalam pergerakan. Salah satu fungsi dasar kemasan adalah
untuk mengurangi terjadinya kehancuran, busuk, atau kehilangan melalui pencurian atau
kesalahan penempatan.
2. Kemasan memberikan cara yang menarik untuk menarik perhatian kepada sebuah produk
dan memperkuat citra produk.
3. Kombinasi dari keduanya, marketing dan Logistik dimana kemasan menjual produk dengan
menarik perhatian dan mengkomunikasikannya.

TUJUAN KEMASAN PRODUK


Menurut Louw dan Kimber (2007), kemasan dan pelabelan kemasan mempunyai beberapa
tujuan, yaitu:
1. Physical Production. Melindungi objek dari suhu, getaran, guncangan, tekanan dan
sebagainya.
2. Barrier Protection. Melindungi dari hambatan oksigen uap air, debu, dan sebagainya.
3. Containment or Agglomeration. Benda-benda kecil biasanya dikelompokkan bersama dalam
satu paket untuk efisiensi transportasi dan penanganan.
4. Information Transmission. Informasi tentang cara menggunakan transportasi, daur ulang,
atau membuang paket produk yang sering terdapat pada kemasan atau label.
5. Reducing Theft. Kemasan yang tidak dapat ditutup kembali atau akan rusak secara fisik
(menunjukkan tanda-tanda pembukaan) sangat membantu dalam pencegahan pencurian.
Paket juga termasuk memberikan kesempatan sebagai perangkat anti-pencurian.
6. Fitur yang menambah kenyamanan dalam distribusi, penanganan, penjualan, tampilan,
pembukaan, kembali penutup, penggunaan dan digunakan kembali.
7. Kemasan dan label dapat digunakan oleh pemasar untuk mendorong calon pembeli untuk
membeli produk.

JENIS-JENIS KEMASAN
Berdasarkan struktur isi, kemasan dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Kemasan Primer, yaitu bahan kemas langsung mewadahi bahan pangan (kaleng susu, botol
minuman, dll).

27
2. Kemasan Sekunder, yaitu kemasan yang fungsi utamanya melindungi kelompok kemasan
lainnya, seperti misalnya kotak karton untuk wadah kaleng susu, kotak kayu untuk wadah
buah-buahan yang dibungkus dan sebagainya.
3. Kemasan Tersier dan Kuarter, yaitu kemasan yang diperlukan untuk menyimpan,
pengiriman atau identifikasi. Kemasan tersier umumnya digunakan sebagai pelindung
selama pengangkutan.

Berdasarkan frekuensi pemakaiannya, kemasan dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:


1. Kemasan sekali pakai (Disposable), yaitu kemasan yang langsung dibuang setelah satu kali
pakai. Contohnya bungkus plastik, bungkus permen, bungkus daun, karton dus, makanan
kaleng.
2. Kemasan yang dapat dipakai berulang kali (Multi Trip), kemasan jenis ini umumnya tidak
dibuang oleh konsumen, akan tetapi dikembalikan lagi pada agen penjual untuk kemudian
dimanfaatkan ulang oleh pabrik. Contohnya botol minuman dan botol kecap.
3. Kemasan yang tidak dibuang (Semi Disposable). Kemasan ini biasanya digunakan untuk
kepentingan lain di rumah konsumen setelah dipakai. Contohnya kaleng biskuit, kaleng susu
dan berbagai jenis botol.

Berdasarkan tingkat kesiapan pakai, kemasan dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
1. Kemasan siap pakai, yaitu bahan kemas yang siap untuk diisi dengan bentuk yang telah
sempurna sejak keluar dari pabrik. Contohnya adalah wadah botol, wadah kaleng, dan
sebagainya.
2. Kemasan siap dirakit, yaitu kemasan yang masih memerlukan tahap perakitan sebelum
pengisian, misalnya kaleng dalam bentuk lempengan dan silinder fleksibel, wadah yang
terbuat dari kertas, foil atau plastik.

PENGERTIAN SKETSA
1. Menurut Linda Murray dan Peter, Sketsa adalah rancangan kasar dari suatu komposisi atau
2. sebagian komposisi dibuat demi kepuasan pribadi. Pada tahap ini ada beberapa hal yang
menjadi acuan yaitu skala, perbandingan, komposisi, penyinaran dan lain sebagainya.
3. Sementara menurut H.W Flower, Sketsa adalah begitu saja tanpa persiapan. Merupakan
gambaran atau lukisan pendahuluan yang kasar, ringan dan semata-mata garis besar.
Kegiatan menggambar sketsa pada dasarnya memerlukan alat dan bahan yang sangat
sederhana untuk dapat membuat tanda goresan yang mewakili bentuk sesungguhnya.
4. Beberapa garis yang digoreskan pada bidang datar dapat memberikan suatu kesan simbol
tentang bentuk yang ada di sekitar kita atau gagasan tentang sesuatu yang terlihat dan
terlintas dalam benak seseorang.
5. Dengan demikian pikiran dan perasaan dapat diungkapkan dalam bentuk visual melalui
kegiatan menggambar, sehingga menggambar termasuk kegiatan mendasar dalam berkarya
seni rupa.
6. Kegiatan menggambar sketsa dapat dianalogikan dengan kegiatan menulis. Ketika kita
hendak menulis, sebelum dapat menulis kalimat yang baik kita cenderung menulis dan
merangkai beberapa kata terlebih dahulu hingga diperoleh kalimat yang sesuai.
7. Demikian pula halnya dengan kegiatan menggambar sketsa. Sebelum dapat membuat karya
seni rupa yang utuh, umumnya para seniman membuat sketsa terlebih dahulu.
8. Menurut Fajar Sidik (1981) garis atau penggarisan merupakan unsur yang paling menonjol
hakiki dalam seni lukis, akan tetapi pada dasarnya terdapat perbedaan antara sketsa dengan

28
lukisan. Ada ungkapan yang menarik yang disampaikan oleh Kusnadi, seorang seniman dan
kritikus seni rupa.

Sketsa ibarat gesekan biola tunggal, sedangkan lukisan merupakan sebuah orkes yang lengkap.
Ungkapan ini menyatakan dua hal, pertama, sketsa sebagai ungkapan estetis dihadirkan secara
sangat sederhana karena menggunakan garis secara hemat dan selektif.
Umumnya sketsa dikerjakan dengan cepat dan secara spontan. Jika sketsa dibangun oleh unsur-
unsur garis sebagai medium utamanya, lukisan merupakan ungkapan lengkap, dalam arti
penyajiannya dibangun dengan menggunakan unsur-unsur lain, seperti tekstur, kedalaman/ruang,
gelap-terang, dan warna di samping unsur garis.
Bahkan, dalam lukisan unsur warna menjadi penting sebagai unsur tambahannya
(Schinneller,1966). Sebagaimana halnya dengan karya lukisan, sketsa juga memiliki keragaman
tema, gaya dan teknik pengungkapannya. Perbedaan yang mencolok hanyalah pada medium
pengucapannya.

JENIS-JENIS SKETSA
1. Gambar garis besar yaitu sketsa yang membuat garis-garis bentuk sederhana tanpa rincian
dan tidak selesai.
2. Sketsa cepat yaitu sketsa yang menggunakan beberapa garis saja untuk menampilkan citra
suatu sketsa yang sudah selesai.
3. Studi citra yaitu sketsa yang berupa coretan dengan cepat dan kurang terperinci hanya
menunjukan bentuk global.

KOMPOSISI UNSUR SKETSA


Komposisi memiliki peranan penting dalam terciptanya sebuah sketsa yang bagus. Komposisi
atau susunan unsur-unsur dalam seni rupa harus berada pada perbandingan yang tepat agar
dihasilkan karya yang pas. Adapun unsur-unsur dalam sketsa antara lain :
1. Garis – Garis adalah unsur yang memiliki peran utama di dalam membentuk komposisi.
Jenis garis yang dapat membentuk komposisi : komposisi garis lurus; komposisi garis
lengkung.
2. Warna – Meskipun umumnya sketsa terdiri dari satu jenis warna, akan tetapi pengaturan
komposisi warna pada objek sktesa sangat diperlukan agar memberikan kesan harmonis.
Komposisi warna pada sketsa umumnya diatur berdasarkan gelap terang pencahayaan.
3. Bidang dan bentuk – Bidang dan bentuk adalah unsur yang dibentuk melalui garis-garis
yang disusun atau digores sedemikian rupa. Keharmonisan dari komposisi bentuk ditentukan
dari berbagai faktor unsur-unsurnya yaitu simetris, asimetris, sentral, dan diagonal.
4. Efek pencahayaan – Unsur gelap terang merupakan pelengkap dalam pengkomposisian
warna. Meskipun sketsa cenderung berupa gambar kasar yang tidak selesai, akan tetapi
goresan-goresan yang dihasilkan kerap kali menghasilkan efek gelap terang sehingga sebuah
objek dapat diamati dengan cukup jelas.

ATURAN DALAM MEMBUAT SKETSA


1. Membuat kerangka gambar yang terdiri dari garis-garis vertical, horizontal, maupun
lengkung secara tipis.

29
2. Menggambar garis sekundernya, misalnya melukis kerangka kubus atau kotak dalam
keadaan tipis
3. Menebalkan garis sketsa yang sudah benar. Ketebalan sesuai dengan karakter jenis garis
yang diinginkan.

FUNGSI ATAU MANFAAT SKETSA


Senada dengan defenisinya, sktesa memiliki beberapa fungsi yaitu :
1. Untuk lebih memfokuskan gambaran atau gagasan tema
2. Meminimalisir kesalahan
3. Mempertajam pengamatan
4. Meningkatkan kemampuan koordinasi hasil pengamatan dan keterampilan tangan.
SUMBER
Prototipe Produk http://www.kajianpustaka.com/2016/10/pengertian-fungsi-tujuan-dan-jenis-
kemasan.html
http://www.edutafsi.com/2015/01/pengertian-jenis-jenis-sketsa.html

30
BAB 5
PROTOTYPE PRODUK BARANG/JASA
 

 
Proses Kerja Pembuatan Prototype Produk Barang/Jasa

KOMPETENSI DASAR
3.5 Menganalisis proses kerja pembuatan prototype produk barang/jasa
4.5 Membuat alur dan proses kerja pembuatan prototype produk barang/jasa

31
TAHAPAN – TAHAPAN KEGIATAN DESAIN PRODUK
Seorang product designer harus melalui tahapan – tahapan dalam merencanakan suatu produk,
tahapan tersebut yaitu :
Memformulasikan hasil marketing research
Adapun yang menjadi titik tolak dalam tahapan kegiatan Desain Produk adalah riset pemasaran.
Untuk mengetahui produk yang diinginkan pelanggan, product designer dapat memperoleh data
dari riset pemasaran yang langsung berhubungan dengan pelanggan. Riset ini dilakukan baik
untuk produk yang betul – betul baru maupun untuk produk yang sudah ada.
Pengembangan suatu riset dalam perusahaan akan menghasilkan sebuah gagasan atau ide untuk
membuat suatu produk, dimana ide tersebut diperoleh dari data yang didapatkan saat riset itu
sendiri dilakukan. Dalam riset pembuatan produk baru atau pengembangan produk yang sudah
ada, perusahaan harus mempertimbangkan hal – hal sebagai berikut :
 Keinginan pelanggan dalam hal kegunaan, kualitas, modal dan warna dari produknya
denga tidak mengabaikan penentuan harga
 Biaya dari pembuatan produk baru atau pengembangan dari produk yang sudah ada
apakah perusahaan mampu untuk membayarnya.
Untuk hal – hal tersebut diatas, maka riset ini perlu ditunjang dengan faktor – faktor yang berupa
waktu untuk menjalankan penelitian, mencari informasi atau keterangan berdasarkan
pengalaman.
Mempertimbangkan kemampuan fasilitas perusahaan
Untuk melaksanakan kegiatan pembuatan suatu produk, maka desainer harus
mempertimbangkan kemampuan dari perusahaan itu sendiri, diantaranya : tenaga kerja, mesin –
mesin, peralatan penunjang dan perkakas lainnya. Dalam membuat produk, desainer harus
mempertimbangkan biaya yang seekonomis mungkin.
Membuat sketsa
Dalam membuat sketsa, bentuk dari produk yang akan dibuat akan terlihat jelas satu dengan
yang lainnya. Sketsa tersebut dibuat untuk mempermudah dalam pembuatan gambar kerja ( blue
Print ), sketsa dari masing – masing produk walaupun sketsa ini tidak menunjukan ukuran –
ukuran yang sebenarnya, tapi dapat terlihat dal skala perbandingan.
Membuat gambar kerja
Pembuatan gambar kerja ini adalah merupakan tahap akhir dalam kegiatan Desain Produk,
dimana dalam gambar kerja ini dapat digambarkan bentuk dan ukuran yang sebenarnya dengan
skala yang diperkecil. Selain itu, dalam gambar kerja juga diperlihatkan bahan – bahan yang
akan dipergunakan dalam pembuatan produk tersebut. Setelah gambar kerja tersebut selesai
dirancang, kemudian diserahkan kepada pelaksana kegiatan untuk segera dipelajari dan
dikerjakan lebih lanjut cara proses produksinya.
 
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DESAIN PRODUK
Faktor-faktor yang mempengaruhi desain produk adalah sebagai berikut:
Fungsi Produk

32
Setiap produk yang akan dihasilkan mempunyai fungsi atau kegunaan yang berbeda, hal ini
tergantung untuk keperluan apa produk itu dibuat. Dengan demikian bahwa desain produk itu
berhubungan bentuk dan fungsi dari suatu produk. Keduanya memegang peranan penting dalam
menentukan suatu desain produk yang pada dasarnya untuk memberikan kepuasan yang
maksimal bagi konsumen atau pelanggan baik segi kualitan maupun segi kuantitas.
Standar dan Spesifikasi Desain
Dalam hal spesifikasi dan standar desain suatu produk akan terlihat dari :
 Sambungan – sambungan | Dalam hal ini perusahaan harus merencanakan bagaimana
menyambung bagian-bagian supaya tidak terlihat ada bagian yang kosong.
 Bagian | Bagian ini berfungsi untuk menyesuaikan ukuran keserasian desain  disambung
dengan bagian lainnya, sehingga apabila disatukan menjadi satu kesatuan yang kuat
 Bentuk | Pada waktu mendesain bentuk perlu diperhatikan mengenai keindahan dengan
penyesuaian menurut fungsi dan kegunaannya.
 Ukuran | Yaitu merencanakan ukuran yang seimbang dari bagian – bagian produk  secara
keseluruhan.
 Mutu | Mutu suatu produk harus disesuaikan menurut fungsi produk tersebut, apabila
akan digunakan dalam jangka waktu lama, maka mutu produk tersebut harus tinggi bila
dibandingkan dengan produk yang akan digunakan dalam jangka waktu yang pendek.
 Bahan | Apabila produk yang akan digunakan ingin mempunyai mutu yang baik, maka
bahan yang dipergunakan pun harus dapat menunjang agar semua yang diharapkan dapat
terwujud dan pelanggan merasakan kepuasan tersendiri.
 Warna | Warna mempunyai arti tersendiri bagi konsumen, karena tiap orang mempunyai
ciri dan kesukaan yang khas terhadap warna tertentu. Dan hal inilah yang harus dicermati oleh
perusahaan agar dapat bersaing dengan perusahaan lain yang sejenis.
Tanggungjawab Produk
Ini adalah merupakan salah satu tanggung jawab dari produsen sebagai pembuat produk kepada
konsumen akan keselamatan dan kenyamanan pemakai produk tersebut. Oleh karena itu faktor
ini menjadi sangat penting untuk dipertimbangkan oleh perusahaan pada waktu mendesain
produk tersebut.
Harga dan Volume
Harga dihubungkan dengan jumlah produk yang akan dibuat, untuk produk yang akan dibuat 
berdasarkan pesanan biasanya harga jualnya akan berbeda dengan produk yang dibuat untuk
dipasakan kepada konsumen luas yang harganya relatif lebih murah sehingga desain produknya
akan berbeda pula.
Prototype
Prototype merupakan model produk yang pertama yang akan dibuat, prototype ini
memperlihatkan bentuk serta fungsi yang sebenarnya, sehingga sebelum perusahaan
memproduksi maka prototype diusahakan untuk dibuat terlebih dahulu.
Dari pengujian prototype tersebut, apabila lulus uji coba mungkin memberikan gambaran
mengenai perubahan-perubahan yang perlu dilakukan serta sebagai informasi dalam penyusunan
terakhir desain produk.
 
ALUR DAN PROSES KERJA PEMBUATAN PROTOTYPE PRODUK BARANG/JASA
Diagram Alur Proses Produksi (Production Flow Chart Diagram)
Diagram alur proses produksi ini harus dibuat secara jelas terlebih dahulu sebelum suatu proses
produksi dijalankan. Berdasarkan diagram alur proses produksi tersebutlah pengetesan dan
monitoring atas barang dalam proses produksi (work in process) harus dilakukan agar produk
akhir bermutu sesuai dengan rencana. Seandainya timbul variasi mutu pun, tingkat toleransinya

33
dari penyimpan masih dalam batas-batas yang dapat diterima. Artinya, melalui tes-tes pada
berbagai tahapan proses produksi harus dilakukan agar bila terjadi komponen atau barang yang
cacat (defect) dapat segera diketahui untuk segera ditindak lanjuti. Masing-masing jenis industri
manufaktur mempunyai diagram alur proses produksi yang berbeda satu sama lain karena produk
yang harus dihasilkan berbeda. Bahkan untuk produk yang sejenis pun, diagram alur proses
produksinya belum tentu persis sama karena masing-masing mempunyai ciri khas atau
spesifikasi sendiri-sendiri.
Diagram alur proses produksi yang berbeda produk, misalnya diagram alur proses produksi
tekstil sama sekali berbeda dengan diagram alur proses produksi pembuatan obat-obatan
(farmasi). Akan tetapi, walaupun sama-sama industri manufaktur farmasi (obat-obatan), diagram
alur proses produksinya dapat berbeda, misalnya yang satu berbentuk tablet, sedangkan yang lain
berbentuk cair.
Prosedur pengawasan mutu produk
Pengawasan atas mutu suatu barang hasil produksi, seyogyanya meliputi pengetahuan
hal-hal berikut:
1. Kerusakan dan Mutu Produk
Seperti telah dijelaskan bahwa suatu barang (jasa) dibuat melalui suatu proses. Proses pembuatan
tersebut disesuaikan dengan bentuk dan mutu barang yang ingin dihasilkan.
2. Mencegah atau Menghindarkan Terjadinya Kerusakan Barang (produk)
Kiat utama dari pencegahan kerusakan suatu produk sebenarnya sangat sederhana saja, yakni
kerusakan harus dicegah sebelum terjadi.
3. Kendali Mutu Terpadu
Uraian di atas menunjukkan bahwa mencegah terjadinya kerusakan produk selama proses
produksi, berarti mengadakan suatu rangkaian kegiatan terpadu dalam pengendalian mutu. Bila
ada pengendalian atau controlling atas mutu tentunya harus dimulai sejak perencanaan
(planning) mutu produk bersangkutan. Antara tahap perencanaan dan tahap seperti
pengorganisasian (organizing) dan pelaksanaan (actuating) harus disertai pengawasan mutu. Hal
ini memberi gambaran bahwa manajemen mutu (quality management) meliputi berbagai apsek
keikutsertaan (participation) dari berbagai pihak di dalam perusahaan yang menghasilkan suatu
produk yang mutunya harus dikendalikan.
Jenis-jenis pengawasan mutu produk
1. Pemantauan Mutu Bahan-Bahan
Apakah bahan baku yang digunakan sesuai dengan mutu yang direncanakan? Hal ini perlu
diamati sejak rencana pembelian bahan, penerimaan bahan di gudang, penyimpanan di gudang,
sampai dengan saat bahan baku tersebut akan digunakan.
2. Pemantauan Proses Produksi
Bahan baku yang telah diterima di gudang, selanjutnya akan diproses dalam mesin-mesin
produksi untuk diolah menjadi barang jadi. Dalam hal ini, selain cara kerja peralatan produksi
yang mengolah bahan baku dipantau, juga hasil kera mesin-mesin tersebut dipantau agar
menghasilkan barang sesuai yang direncanakan.
3. Pemantauan Produk Jadi
Pemeriksaan atas hasil produksi jadi untuk mengetahui apakah produk sesuai dengan rencana
ukuran dan mutu atau tidak. Sekaligus untuk mengetes mesin yang mengolah selama proses
produksi. Bila produk atau produk setengah jadi sesuai dengan bentuk, ukuran, dan mutu yang
direncanakan maka produk-produk tersebut dapat digudangkan.
Selanjutnya dipasarkan (didistribusikan). Namun bila terdapat barang yang cacat maka barang
tersebut harus dibuang atau remade dan mesin perlu disetel kembali agar beroperasi secara
akurat.
4. Pemantauan Pengepakan

34
Bungkus dapat merupakan alat untuk melindungi barang agar tetap dalam kondisi sesuai dengan
mutu.
Pemecahan masalah mutu dengan statistik
Metode statistik diketahui telah digunakan sejak lama dalam rangka membantu perusahaan
dalam masalah tertentu yang kompleks. Walaupun demikian, metode statistik sebenarnya
mempunyai ketentuan tertentu dalam pelaksanaannya. Suatu hal yang perlu diketahui adalah
bahwa dalam industri ternyata statistik merupakan salah satu alat untuk pengendalian mutu,
termasuk dalam pencegahan kerusakan barang (defect prevention).
Alasan digunakan metode statistik dalam pengawasan mutu adalah sebagai berikut:
 Menghitung jumlah kerusakan barang dalam proses produksi.
 Kerusakan atau cacatnya barang, sebenamya merupakan akibat terjadinya penyimpangan
(variasi atau deviasi) dalam proses produksi. Metode statistik dapat memberi gambaran tentang
penyimpangan-penyimpangan tersebut.
Misalnya, produk yang dihasilkan dari suatu proses yang tidak mengalami penyimpangan
(deviasi), tentu saja produk tersebut tidak mengalami kerusakan. Akan tetapi, mengingat proses
produksi merupakan kombinasi mesin-mesin dan orang-orang maka bisa terjadi kekeliruan
sehingga produk yang dihasilkan mengalami penyimpangan (deviasi). Dalam hal yang terakhir
inilah peranan statistik untuk mengurangi terjadinya penyimpangan, yang berarti pula
mengurangi kerusakan produk akhir.
Secara umum dari metode statistik dapat diperoleh suatu gambaran tentang data sampel yang
dianalisis. Gambar tersebut dapat memberikan visualisasi dengan jelas tentang data tersebut
sehingga dapat diketahui apakah terjadi penyimpangan (kerusakan) atau tidak.
Dari hal pengendalian mutu, peranan seorang supervisor mutu sangat berperan terutama dalam
hal mengumpulkan data statistik, menganalisis, dan menyimpulkannya. Seorang supervisor mutu
dapat memberikan informasi yang cepat dan tepat kepada pihak manajemen tentang hasil
produk, apakah di bawah atau sesuai dengan standar mutu yang direncanakan.
Alat kendali mutu
Dengan Statistic Quality Control diperoleh alat bantu kendali mutu berupa diagram dan
histogram.
1. Diagram Pengendati Mutu (Quality Control Chart)
Dari tiap jenjang dalam DAP, Anda, dapat membuat suatu rencana kerja pemantauan agar
produk yang dihasilkan sesuai dengan mutu yang direncanakan. Pada tahap ini Anda, membuat
suatu control chart (diagram pengendali) yang dapat digunakan untuk memperoleh gambar atau
diagram sebab akibat (DSA) atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Cause and Effect
Diagram (CED).
2. Histogram
Dari diagram kontrol (diagram kendali) yang dik:umpulkan secara statistik pada berbagai tahap
atau jenjang kegiatan, Anda, kemudian dapat membuat suatu histogram mutu. Bila terdapat
penyimpangan, Anda akan mengetahui berapa besar penyimpangannya dan faktor apa yang
menyebabkannya. Selanjutnya, mungkin perlu dibuat suatu tindakan koreksi atau. perbaikan.
3. Peranan Komputer
Secara umum dapat dikemukakan di sini bahwa berbagai kegiatan pengendalian, terutama pada
perusahaan besar, seyogianya menggunakan program komputer sesuai dengan kebutuhan. Tetapi,
patut Anda ketahui bahwa komputer hanyalah merupakan alat bantu analisis. Adapun faktor
yang penting dalam pengendalian mutu, adalah manusia.
 
SUMBER
https://www.scribd.com/document/361699617/Makalah-Desain-Produk

35
http://pengertiandanartikel.blogspot.co.id/2017/03/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-
desain.html

BAB 6
LEMBAR KERJA/GAMBAR KERJA UNTUK PEMBUATAN PROTOTYPE PRODUK
BARANG/JASA
 

Lembar Kerja/Gambar Kerja Untuk


Pembuatan Prototype Produk Barang/Jasa

KOMPETENSI DASAR

3.6 Menganalisis lembar kerja /gambar kerja untuk pembuatan prototype produk barang/jasa
4.6 Membuat lembar kerja /gambar kerja untuk pembuatan prototype produk barang/jasa

36
PENGERTIAN GAMBAR KERJA
1. Menurut Suratman pada buku menggambar teknik mesin dengan standar iso di halaman 15,
diterbitkan oleh CV. Pustaka Setia di Bandung tahun 2011. Gambar kerja adalah suatu
teknik penggambaran yang digunakan untuk menjelaskan secara gamblang persyaratan item
yang di rekayasa, aktifitas menggambar mesin menghasilkan dokumen gambar yang
berfungsi sebagai bahasa atau media untuk menyampaikan ide, gagasan, atau informasi dari
para insinyur yang mendesian suatu produk kepada para pekerja yang akan membuatnya.
2. Menurut Sujiyanto pada buku menggambar teknik mesin di halaman 7, diterbitkan oleh
Kanisus diYogyakarta tahun 2012. Gambar kerja adalah komunikasi utama antara si
pembuat gambar atau ide dengan si pelaksana di lapangan, dan gambar harus dipahami oleh
kedua belah pihak.
3. Menurut Ir. Ohan Juhana pada buku menggambar teknik mesin dengan standar iso di
halaman 14, diterbitkan oleh CV. Pustaka Setia di Bandung tahun 2011. Gambar teknik
adalah gambar yang menitik beratkan pada penyampaian maksud dari pembuat gambar
secara obyektif, gambar jenis ini menggunakan simbol-simbol yang dapat diterima secara
internasional. Simbol tersebut sudah di rangkumkan dalam sebuah standar yang dapat di
terima di seluruh dunia, yaitu standar ISO. Selain itu ada juga standar lain yang di keluarkan
oleh suatu Negara.
4. Berdasarkan teori-toeri diatas dapat disimpulkan gambar Kerja adalah suatu bahasa yang
digunakan oleh designer kepada si pelaksana dilapangan, dengan menggunakan standar-
standar internasional dan harus dipahami oleh kedua belah pihak.
 
FUNGSI GAMBAR KERJA
1. Gambar kerja sebagai bahasa teknik dan pola penyampaian informasi, Fungsi-fungsi gambar
dapat digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu :
2. Penyampaian Informasi
3. Gambar berfunsi untuk meneruskan maksud dari perancangan dengan tepat kepada orang –
orang yang bersangkutan kepada perancanaan proses, pembuatan, pemeriksaan dan
sebagainya. Orang-orang yang bersangkutan bukan hanya orang-orang pabrik atau orang di
bengkel sendiri, tetapi juga orang orang dalam pabrik atau bengkel sub kontrak atau orang
asing dengan bahasa lain
 
Pengawet, penyimpanan dan penggunaan keterangan
Gambar merupakan data teknik yang sangat ampuh, dimana teknologi dari suatu perushaan di
padatkan di kumpulkan. Oleh karena itu gambar bukan saja diawetkan untuk mensuplai bagian
bagian produk untuk diperbaiki ( reparasi ) atau untuk di perbaiki, tetapi gambar diperlukan juga
sebagai bahan informasi untuk rencana-rencana baru di kemudian hari. Sehingga diperlukan
penyimpanan, kondifikasi nomor urut gambar dan sebagainya.
 
Cara-cara pemikiran dalam penyiapan informasi
Dalam perencanaan, konsep abstrak yang terlintas dalam pikiran diwujudkan dalam bentuk
gambar melalui proses masalahnya pertama-tama di analisa dan disintesa dengan gambarnya di

37
teliti dan dievaluasi. Proses ini di ulang-ulang, sehingga dapat di hasilkan gambar-gambar yang
sempurna.
 
Tujuan-tujuan gambar kerja
Adapun tujuan –tujuan gambar yaitu :
Internasional gambar
Peraturan-peraturan gambar dimulai dengan persetujuan bersama antara orang yang
bersangkutan dan kemudian menjadi standar perusahaan. Agar tujuan dapat di capai, penunjukan
simbol-simbol gambar harus sama secara intenasional.

Mempopulerkan gambar
Dalam lingkup teknologi, mempopulerkan gambar menjadi suatu keharusan, karena dalam
teknologi tinggi dibutuhkan data-data yang pasti dan akurat dan tidak berdasarkan kebiasaan atau
feeling.

Perumusan gambar
Berdasarkan sifat-sifat kerja masing-masing maka dari tiap-tiap bagian, mesin, listrik harus
memiliki keterangan yang sama agar dapat dimengerti oleh semua orang.

Sistematika gambar
Mengingat gambar menyajikan banyak perbedaan tidak hanya dalam bentuk dan ukuran, tetapi
tanda-tanda tolenrasi, lambang-lambang dst, maka harus ada sistematika dalam lingkungan
perusahaan sendiri.

Penyederhanaan Gambar
Tujuannya agar dapat menghemat waktu, menghindari kesalahan pengerjaan, mempermudah
pengerjaan dan mempercepat perencanaan.
 
ANALISIS KEBUTUHAN SISTEM
Pembangunan sistem informasi memerlukan penyelidikan dan analisis mengenai alasan
timbulnya ide atau gagasan untuk membangun dan mengembangkan sistem informasi. Analisis
dilakukan untuk melihat berbagai komponen yang dipakai sistem yang sedang berjalan meliputi
hardware, software, jaringan dan sumber daya manusia.
Analisis juga mendokumentasikan aktivitas sistem informasi meliputi input, pemrosesan, output,
penyimpanan dan pengendalian (O’Brien, 2005).
Selanjutnya melakukan studi kelayakan (feasibility study) untuk merumuskan informasi yang
dibutuhkan pemakai akhir, kebutuhan sumber daya, biaya, manfaat dan kelayakan proyek yang
diusulkan (Mulyanto, 2009).
Analisis kebutuhan sistem sebagai bagian dari studi awal bertujuan mengidentifikasi masalah
dan kebutuhan spesifik sistem. Kebutuhan spesifik sistem adalah spesifikasi mengenai hal-hal
yang akan dilakukan sistem ketika diimplementasikan (Mulyanto, 2009).
 
Analisis kebutuhan sistem harus mendefinisikan kebutuhan sistem yang spesifik antara lain :
1)     Masukan yang diperlukan sistem (input)
2)     Keluaran yang dihasilkan (output)

38
3)     Operasi-operasi yang dilakukan (proses)
4)     Sumber data yang ditangani
5)     Pengendalian (kontrol)
 

Spesifikasi Kebutuhan Sistem


Tahap analisis kebutuhan sistem memerlukan evaluasi untuk mengetahui kemampuan sistem
dengan mendefinisikan apa yang seharusnya dapat dilakukan oleh sistem tersebut kemudian
menentukan kriteria yang harus dipenuhi sistem.
Beberapa kriteria yang harus dipenuhi adalah pencapaian tujuan, kecepatan, biaya, kualitas
informasi yang dihasilkan, efisiensi dan produktivitas, ketelitian dan validitas dan kehandalan
atau reliabilitas (Mulyanto, 2009).
 
DESAIN SISTEM
Analisis sistem (system analysis) mendeskripsikan apa yang harus dilakukan sistem untuk
memenuhi kebutuhan informasi pemakai.
Desain sistem  (system design) menentukan bagaimana sistem akan memenuhi tujuan tersebut.
Desain sistem terdiri dari aktivitas desain yang menghasilkan spesifikasi fungsional.
Desain sistem dapat dipandang sebagai desain interface, data dan proses dengan tujuan
menghasilkan spesifikasi yang sesuai dengan produk dan metode interface pemakai, struktur
database serta pemrosesan dan prosedur pengendalian (Ioanna et al., 2007).
Desain sistem akan menghasilkan paket software prototipe, produk yang baik sebaiknya
mencakup tujuh bagian :
 Fitur menu yang cepat dan mudah.
 Tampilan input dan output.
 Laporan yang mudah dicetak.
 Data dictionary yang menyimpan informasi pada setiap field termasuk panjang field,
pengeditan dalam setiap laporan dan format field yang digunakan.
 Database dengan format dan kunci record yang optimal.
 Menampilkan query online secara tepat ke data yang tersimpan pada database.
 Struktur yang sederhana dengan bahasa pemrograman yang mengizinkan pemakai
melakukan pemrosesan khusus, waktu kejadian, prosedur otomatis dan lain-lain.
 
PENGUJIAN SISTEM
Paket software prototipe diuji, diimplementasikan, dievaluasi dan dimodifikasi berulang-ulang
hingga dapat diterima pemakainya (O’Brien, 2005). Pengujian sistem bertujuan menemukan
kesalahan-kesalahan yang terjadi pada sistem dan melakukan revisi sistem.
Tahap ini penting untuk memastikan bahwa sistem bebas dari kesalahan (Mulyanto, 2009).
Menurut Sommerville (2001) pengujian sistem terdiri dari :
 Pengujian unit untuk menguji komponen individual secara independen tanpa komponen
sistem yang lain untuk menjamin sistem operasi yang benar.
 Pengujian modul yang terdiri dari komponen yang saling berhubungan.
 Pengujian sub sistem yang terdiri dari beberapa modul yang telah diintegrasikan.

39
 Pengujian sistem untuk menemukan kesalahan yang diakibatkan dari interaksi antara
subsistem dengan interfacenya serta memvalidasi persyaratan fungsional dan non
fungsional.
 Pengujian penerimaan dengan data yang dientry oleh pemakai dan bukan uji data simulasi.
 Dokumentasi berupa pencatatan terhadap setiap langkah pekerjaan dari awal sampai akhir
pembuatan program.

Pengujian sistem informasi berbasis web dapat menggunakan teknik dan metode pengujian
perangkat lunak tradisional. Pengujian aplikasi web meliputi pengujian tautan, pengujian
browser, pengujian usabilitas, pengujian muatan, tegangan dan pengujian malar  (Simarmata,
2009).
Penerimaan pengguna (user) terhadap sistem dapat dievaluasi dengan mengukur kepuasan user
terhadap sistem yang diujikan. Pengukuran kepuasan meliputi tampilan sistem, kesesuaian
dengan kebutuhan user, kecepatan dan ketepatan sistem untuk menghasilkan informasi yang
diinginkan user. Ada beberapa model pengukuran kepuasan user terhadap sistem, diantaranya
adalah Technology Acceptance Model (TAM), End User Computing (EUC) Satisfaction, Task
Technology Fit (TTF) Analysis dan  Human Organizational Technology (HOT) Fit Model.
Salah satu model pengukuran yang telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa berbeda dan
tidak menunjukkan perbedaan hasil pengukuran yang signifikan adalah End User Computing
(EUC) Satisfaction. Model ini menekankan kepuasan user terhadap aspek teknologi meliputi
aspek isi, keakuratan, format, waktu dan kemudahan penggunaan sistem (Chin & Mathew,
2000).
 
IMPLEMENTASI
Setelah prototipe diterima maka pada tahap ini merupakan implementasi sistem yang siap
dioperasikan dan selanjutnya terjadi proses pembelajaran terhadap sistem baru dan
membandingkannya dengan sistem lama, evaluasi secara teknis dan operasional serta  interaksi
pengguna, sistem dan teknologi informasi.
 
ALAT PERANCANGAN SISTEM
Perancangan sistem membutuhkan peralatan berupa alat alat perancangan proses dan  alat
perancangan data. Alat perancangan proses terdiri dari diagram aliran data dan diagram arus
sistem. Sedangkan alat perancangan data terdiri dari diagram relasi entitas (entity relationship)
dan kamus data (data dictionary).
 

Diagram Aliran Data


Diagram aliran data (data flow diagram/DFD) adalah sebuah alat dokumentasi grafik yang
menggunakan simbol-simbol untuk menjelaskan sebuah proses. Diagram ini menunjukkan aliran
proses seluruh sistem kepada pemakai dan dapat diatur detailnya sesuai dengan kemampuan
pemahaman pemakai.
DFD terdiri dari tiga elemen yaitu lingkungan, pemrosesan, aliran data dan penyimpanan data.
Salah satu keuntungan menggunakan DFD adalah memudahkan pemakai yang kurang menguasai
bidang komputer untuk mengerti sistem yang sedang akan dikerjakan (Ladjamudin, 2005).

Diagram Arus Sistem

40
Diagram arus sistem (Sistem Flow chart) adalah peralatan yang digunakan untuk
menggambarkan proses sistem secara rinci untuk menggambarkan aliran sistem informasi dan
diagram arus sistem untuk menggambarkan aliran program (Ladjamudin, 2005).

Diagram Relasi Entitas


Diagram relasi entitas menunjukkan antar entitas satu dengan yang lain dan bentuk hubungannya
sehingga data tergabung dalam satu kesatuan yang terintegrasi (Ladjamudin, 2005).

Kamus Data
Kamus data adalah penjelasan tertulis lengkap dari data yang diisikan ke dalam database
(Ladjamudin, 2005).
 
PEMBUATAN LEMBAR KERJA/ GAMBAR KERJA
Gambar kerja berisi semua informasi yang dibutuhkan untuk memproduksi suatu produk.
Informasi yang ada dalam gambar kerja meliputi gambar rakitan, gambar detail, dimensi
keterangan gambar dan semua standar informasi yang dibutuhkan dalam membuat suatu produk.
Tiga komponen dari satu set gambar kerja adalah:
1. Detail dari setiap bagian
2. Daftar komponen, atau bahan untuk merakit produk akhir
3. Gambar rakitan
Gambar kerja adalah set lengkap standar gambar yang menentukan pembuatan dan perakitan
produk berdasarkan desainnya. Kerumitan desain akan menentukan jumlah dan jenis gambar.
Gambar kerja bisa lebih dari satu lembar dan mungkin berisi instruksi tertulis yang disebut
dengan spesifikasi. Gambar kerja merupakan cetak biru yang digunakan untuk pembuatan
produk.

Gambar Rakitan dan Sub-rakitan


Gambar rakitan adalah gambar dari keseluruhan produk atau mesin atau sistem dengan semua
komponennya berada dan diidentifikasi. Gambar sub-rakitan adalah dua atau lebih bagian yang
membentuk bagian dari suatu gambar rakitan.

Fungsi gambar rakitan


Gambar rakitan berfungsi untuk menunjukkan kumpulan dari komponen-komponen yang
digabungkan menjadi produk jadi.

Fungsi gambar sub-rakitan


Gambar sub-rakitan digunakan jika pada gambar rakitan tidak dengan jelas menyajikan bagian
komponen, maka gambar sub-rakitan harus disertakan untuk menunjukkan bagaimana bagian
dari komponen itu dirakit.

Pandangan
Gambar rakitan dan sub-rakitan harus menunjukkan bagian-bagian komponen dan posisi

41
relative antara komponen yang satu dengan yang lain. Pandangan menjadi penting untuk
menunjukan bagian-bagian dari komponen itu berada dan yang digabungkan menjadi satu.
Pandangan yang digunakan bisa dari salah satu gambar pandangan sebagai berikut.
1. Pandangan Paralel
2. Pandangan Isometrik
3. Pandangan Kombinasi paralel dan isometrik
4. Garis Tersembunyi

Gambar rakitan dan sub-rakitan umumnya tidak boleh menyertakan garis tersembunyi yang tidak
menjelaskan bagaimana produk tersebut dirakit. Jadi tidak adanya garis tersembunyi tidak
menandakan bahwa tidak ada bagian yang tersembunyi di lokasi itu.

Dimensi
Pada umumnya dimensi yang ditunjukkan pada gambar rakitan dan sub-rakitan adalah dimensi
yang dibutuhkan untuk merakit komponen, komponen standar, dan sub-rakitan. Dengan
demikian dimensi yang diperlukan untuk membuat gambar bagian tidak boleh ditampilkan pada
gambar rakitan dan sub-rakitan.

Nomor Bagian
Setiap bagian komponen atau sub-rakitan yang dibuat harus diidentifikasi dengan nomor bagian
yang ditunjukkan dapa gambar rakitan atau sub-rakitan. Nomor bagian atau nomor komponen
ditunjukkan dengan dengan balon melingkar yang ditarik di luar gambar rakitan.
Balon harus diberi nonor secara berurutan searah jarum jam dengan angka 1 di lokasi tengah atas
gambar seperti pada jam angka yang menunjukkan posisi jam 12 siang. Setiap balon harus
dihubungkan ke item atau titik pada permukaan bagian gambar. Garis balon tidak boleh saling
menyilang.
 
Gambar Detail
Gambar detail adalah gambar yang memiliki dimensi dan keterangan secara lengkap dari satu
bagian komponen yang dibuat berdasarkan gambar kerja sehingga informasi yang didapat sudah
bisa digunakan untuk membuat produk.
Fungsi
Fungsi gambar detail adalah gambar bagian yang menyediakan semua informasi yang diperlukan
untuk membuat bagian. Ini termasuk bagian bentuk, dimensi, material, dan persyaratan khusus
apa pun.
Pandangan
Gambar detail setidaknya terdapat tiga pandangan ortografi (depan, atas, dan kanan) dan bisa
juga ditampilkan gambar isometriknya. Pandangan ortografi ditunjukkan dalam proyeksi sudut
ketiga atau pertama.

Daftar Komponen
Isi
Daftar isi komponen ditunjukkan dalam daftar tabel komponen yang ditunjukkan pada gambar
baik untuk gambar rakitan maupun sub-rakitan. Daftar komponen ini paling tidak harus
mencakup beberapa keterangan seperti:
1. Nomor komponen
42
2. Deskripsi komponen
3. Nomor bagian yang digunakan untuk gambar detail, gambar sub-rakitan dan nomor bagian
vendor.
4. Informasi vendor digunakan jika komponen yang akan dibeli tidak umum tersedia dipasaran
sehingga perlu informasi khusus.
5. Jumlah komponen yang dibutuhkan dalam perakitan.

Penulisan nomor urut dituliskan berdasarkan nomor item dengan angka terendah dibagian bawah
dan di urutkan ke atas.

Lokasi
Penempatan lokasi untuk daftar komponen dapat dipilih dari salah satu lokasi yang diinginkan
dari beberapa posisi turan sebagai berikut:
1. Sudut kiri atas lembar gambar menyentuh batas atas kiri
2. Sudut kiri bawah lembar gambar menyentuh garis batas kiri bawah
3. Diatas blok judul menyentuh garis batas kanan dan blok judul
4. Disebelah kiri blok judul menyentuh garis batas bawah dan blok judul
Lokasi yang dipilih harus memaksimalkan ruang yang dapat digunakan untuk menggambar
rakitan atau sub-rakitan.
Format Standar
Pemilihan format standar kadang sudah disediakan oleh beberapa aplikasi yang dipakai seperti
pada Inventor atau Solidworks. Standar huruf yang dipakai biasanya menggunakan huruf Arial.
Gambar dan model yang dirancang bisa menggunakan salah satu standar yang dipilih seperti
menggunakan standar ANSI atau standar ISO atau yang lainnya.

Penomoran Gambar
Standar penomoran gambar juga beragam, paling tidak nomor gambar harus unik dan bisa
membedakan dengan gambar yang lain.

Kertas Gambar
Standar ukuran kertas secara internasional terutama untuk standar ISO (A4, B5, C4, dst.) dan
standar Amerika (letter, legal, dst.) ukuran-ukuran ini akan mempengaruhi penggunannya.

Etiket
Blok judul harus disertakan pada semua lembar di sudut kanan bawah. Minimal blok judul harus
menyertakan sub-blok untuk:
1. Menuliskan judul
2. Nomor gambar
3. Bagian Revisi
4. Nama Departemen atau sekolah
5. Nama orang yang meliputi bisa meliputi
6. Tanggal yang terkait dengan semua nama (dalam format DDMMYY di mana YY adalah
dua digit terakhir tahun, MM adalah dua digit angka bulan, dan DD adalahdua digit angka
hari dalam bulan, misalnya, 210418 untuk 21 April 2018)

43
7. Skala gambar yang dominan (misalnya, 1: 2), untuk skala yang khusus bisa di bawah
8. Penunjukan huruf ukuran gambar
9. Unit yang digunakan untuk dimensi dan catatan toleransi umum
10. Simbol proyeksi
11. Nomor lembar dan jumlah total lembaran (misalnya, 1 dari 2)

Etiket Revisi
Lokasi dan Isi
Blok revisi harus ditempatkan di sudut kanan atas gambar. Blok harus menyertakan kolom
untuk:
1. Tempat gambar di mana revisi telah dibuat
2. Huruf revisi bisa menggunakan huruf Arial
3. Deskripsi perubahan dengan huruf besar
4. Nama pemberi perubahan (nama depan dan belakang)
5. Tanggal persetujuan perubahan (dalam format DDMMYY)

Ruang harus disediakan untuk memperpanjang blok revisi ke bawah sesuai kebutuhan.
Penamaan revisi pertama ke gambar aslinya menggunakan keterangan mulai huruf abjad sebagai
contoh revisi A.
Format Standar
Format standar yang bisa digunakan jika menggunakan program Inventor atau Solidwork sudah
ada template yang disediakan.

Dimensi
Gambar komponen maupun gambar rakitan, selain memberikan deskripsi bentuk yang lengkap,
juga harus memberikan informasi mengenai deskripsi ukuran. Dimensi dibuat melalui jarak
antara permukaan, lokasi lubang, sifat finising permukaan, jenis material, dll. Ekspresi fitur ini
pada gambar, menggunakan garis, simbol, angka dan catatan disebut dengan dimensi.

Prinsip Umum
Dimensi adalah nilai numerik yang dinyatakan dalam unit pengukuran yang tepat dan
ditunjukkan pada gambar, menggunakan garis, simbol, catatan, dll. Sehingga semua fitur benar-
benar dapat diketahui ukurannya. Cara membuat ukuran atau dimensi harus memenuhi kaidah
pengukuran sebagai berikut.
1. Sejauh mungkin dimensi harus ditempatkan di luar gambar benda.
2. Dimensi harus diambil dari garis terluar yang terlihat
3. Dimensi ke garis tengah harus dihindari kecuali ketika garis tengah melewati pusat
4. Setiap benda dimensinya hanya sekali pada gambar.
5. Dimensi harus ditempatkan pada tampilan atau bagian yang paling jelas berhubungandengan
fitur terkait.
6. Setiap gambar harus menggunakan unit yang sama untuk semua dimensi, tetapi
tanpamenunjukkan simbol unit.
7. Dimensi yang diperlukan untuk menentukan gambar komponen harus ditampilkan pada

44
8. Tidak boleh ada bagian yang digambar lebih dari satu dimensi dalam satu arah.
9. Cara membuat dimensi

Elemen dimensi meliputi garis proyeksi, garis dimensi, garis panah, pemutusan garis dimensi,
indikasi asal dan dimensi itu sendiri.
Cara membuat dimensi sebagai berikut:
1. Garis proyeksi dan dimensi harus digambarkan sebagai garis kontinu tipis.
2. Garis proyeksi harus melebar sedikit di luar garis dimensi masing-masing.
3. Garis proyeksi harus ditarik tegak lurus dengan fitur dimensinya. Jika perlu, garis
dapatditarik secara miring, tetapi sejajar satu sama lain. Namun, dimensi harusberhubungan
dengan fitur tersebut.
4. Garis proyeksi dan garis dimensi tidak boleh saling silang, kecuali jika tidak dapat dihindari.
5. Garis dimensi harus ditunjukkan tidak terputus, bahkan jika fitur yang
ditunjukkannyagambar yang dipotong.
6. Garis tengah atau garis besar bagian tidak boleh digunakan sebagai garis dimensi,
tetapidapat digunakan sebagai pengganti garis proyeksi.
7. Tanda panah, garis miring atau tanda bulat

Dimensi yang dibuat pada ujung garis dapat diberi tanda panah, garis miring, atau tanda bulat.
Metode penunjukkan dimensi
Dimensi harus ditampilkan pada gambar dalam karakter dengan ukuran yang cukup,
untuk memastikan keterbacaan lengkap. Dimensi harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga
dimensi tidak disilangkan atau dipisahkan oleh garis lain pada gambar.

Catatan
Catatan harus selalu ditulis secara horizontal dengan huruf besar dan mulai di atas garis ukur dan
juga dapat berakhir di bawah garis. Catatan harus singkat dan jelas dan kata-katanya harus dalam
bentuk standar.
 
SUMBER
https://id.wikihow.com/Membuat-Lembar-Kerja
http://abhique.blogspot.co.id/2012/11/metode-prototyping-dalam-pengembangan.html
https://www.academia.edu/11662500/Analisis_Kerja_and_Struktur
http://ppg.spada.ristekdikti.go.id/pluginfile.php/10495/mod_resource/content/5/KB3-MODUL
%20PDF.pdf

45
BAB 7
BIAYA PRODUKSI PROTOTYPE PRODUK BARANG/JASA
 

KOMPETENSI DASAR
3.7       Menganalisis biaya produksi prototype produk barang/jasa
4.7       Menghitung biaya produksi prototype produk barang/jasa

46
A. PENGERTIAN BIAYA

Untuk memahami arti biaya, seseorang harus memahami proses yang digunakan dalam
menentukan biaya. Memperbaiki penentuan biaya akan merupakan faktor kunci dalam
pengembangan dalam bidang manajemen biaya.

1. Biaya

Biaya adalah kas atau nilai yang setara kas yang dikorbankan untuk produk yang
diharapkan dapat membawa keuntungan masa kini dan masa yang akan datang bagi
organisasi. Disebut “setara dengan kas” karena asset non-kas dapat ditukar dengan
produk yang diinginkan. Biaya dikeluarkan untuk menghasilkan manfaat dalam bentuk
pendapatan di masa kini maupun di masa datang.  Dengan demikian biaya digunakan
untuk menghasilkan manfaat pendapatan disebut beban. Oleh karenanya Setiap
periode, beban tersebut dikurangkan dari pendapatan pada laporan Laba Rugi.
Kerugian adalah biaya yang kedaluarsa tanpa menghasilkan manfaat pendapatan pada
satu periode. Misalnya Persediaan yang rusak akibat kebakaran dan tidak
diasuransikan dapat diklasifikasikan sebagai kerugian dalam Laporan Laba Rugi.
Sementara Biaya yang tidak kedaluarsa dalam suatu periode tertentu dikelompokkan
sebagai aktiva dan muncul pada Neraca.  Misalnya Mesin dan komputer adalah contoh
aktiva yang berumur lebih dari satu periode. Prinsip utama dalam pembedaan antara
biaya sebagai beban atau sebagai aktiva adalah soal penentuan waktu, yakni apakah
biaya tersebut digunakan dalam satu periode atau lebih dari satu periode.

2. Obyek Biaya

Obyek biaya adalah segala hal seperti produk, pelanggan, departemen, proyek,
kegiatan dan yang lain dimana biaya-biaya diukur dan dibebankan.

Misalnya, bila ingin menentukan berapa biaya untuk membuat pisang goreng, maka
obyek biaya adalah pisang goreng. Bila ingin menentukan biaya operasi sebuah
program studi dalam sebuah Universitas maka obyek biaya adalah program studi. Bila
tujuannya adalah menentukan biaya proyek pengembangan produk maka obyek biaya
adalah proyek pengembangan produk baru.

Kegiatan

47
Kegiatan adalah suatu unit dasar dari kerja yang dilakukan dalam suatu organisasi.
Definisi lain dari kegiatan adalah keseluruhan tindakan dalam organisasi yang berguna
bagi manajer untuk maksud perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan.
Pada masa sekarang, kegiatan telah menjadi isu utama sebagai obyek biaya yang
penting.. Kegiatan memainkan peran penting dalam proses pembebanan biaya pada
obyek biaya yang lain. Contoh kegiatan yang semacam itu antara lain memelihara
peralatan, merancang produk, menagih pelanggan dll. Kegiatan dijelaskan oleh kata
kerja tindakan dan obyek yang menerima tindakan. Misal kegiatan merancang produk
maka kata kerja tindakannya adalah ”merancang” dan obyek yang menerima adalah
”produk”.

B. BIAYA PRODUK BERWUJUD DAN JASA

Keluaran organisasi setidaknya ada satu dari dua jenis yang mewakili obyek biaya, yakni
produk berwujud dan jasa. Produk berwujud adalah barang yang diproduksi dengan
mengubah bahan baku melalui penggunaan bahan, tenaga kerja dan masukan lain.
Organisasi yang memproduksi produk berwujud disebut organisasi pemanufakturan. Jasa
adalah tugas atau kegiatan yang dilakukan untuk pelanggan atau kegiatan yang dilakukan
pelanggan dengan menggunakan produk atau fasilitas organisasi. Jasa juga diproduksi
dengan menggunakan bahan baku, tenaga kerja dan masukan lain. Organisasi yang
memproduksi barang tak berwujud disebut organisasi jasa.

Ada tiga dimensi perbedaan antara produk berwujud dan jasa, yakni:

1. Tidak berwujud artinya bahwa pembeli jasa tidak dapat melihat, merasakan,
mendengar, atau mencicipi jasa sebelum dibeli. Hal sebaliknya adalah produk
berwujud.

2. Tidak tahan lama. Tidak tahan lama berarti bahwa jasa tidak dapat disimpan.

3. Tidak terpisahkan. Artinya, produsen jasa dan pembeli jasa biasanya harus berada
dalam hubungan langsung agar terjadi pertukaran. Akibatnya jasa sering kali tidak
dapat dipisahkan dari produsennya.

Berikut aspek Barang dan Jasa dalam kaitannya dengan manajemen biaya.

Dampak Pada Akuntansi


Aspek Sifat Tujuan
Manajemen

48
 Jasa tidak dapat disimpan
 Tidak ada perlindungan hak
1. Tidak ada persediaan
paten
Ketidakberwujud 2. Tuntutan terhadap
 Tidak dapat menampilkan
an pembebanan biaya yang akurat
atau mengkomunikasikan3. Kode etik yang ketat
jasa
 Harga sulit ditetapkan
 Manfaat jasa cepat
kedaluarsa  Memerlukan standard dan
Perishability
 Jasa sering kali berulang konsistensi mutu yang tinggi
untuk satu pelanggan
1. Biaya ditentukan sesuai
 Pelanggan terlibat langsung
dengan jenis pelanggan
pada produksi jasa
Inseparibility 2. Menuntut pengukuran dan
 Produksi massal jasa yang
pengendalian mutu untuk
tersentralisasi sulit dilakukan mempertahankan konsistensi

1. Pengukuran produktivitas dan


mutu serta pengendalian harus
 Dimungkinkan variasi yang
Heterogenitas dilakukan terus menerus
luas pada produk jasa
2. Manajemen mutu total adalah
penting

Baik organisasi yang memproduksi produk berwujud maupun yang tidak berwujud
berkepentingan untuk mengetahui berapa biaya produk per unit untuk sejumlah
kepentingan misalnya penetapan harga, desain produk dll.

BIAYA PRODUK

Biaya produk adalah pembebanan biaya yang memenuhi tujuan manajerial yang telah
ditetapkan. Dengan demikian biaya produk bergantung pada tujuan manajerial yang
hendak dicapai. Artinya biaya yang berbeda untuk tujuan yang berbeda. Misalnya metode
pembebanan biaya alokasi untuk tujuan pelaporan keuangan, sedang metode penelusuran
langsung dan penelusuran pendorong/ penggerak ditujukan untuk menyediakan
pembebanan biaya produk individu yang akurat yang diperlukan untuk perencanaan
manajerial dan pengambilan keputusan. Yang perlu diingat adalah bahwa penggunaan
perhitungan harga pokok yang lebih banyak dari yang diperlukan akan dapat menimbulkan
kebingungan terutama bagi manajer non-keuangan dan dapat mengurangi kredibilitas
sistem informasi manajemen biaya.

BIAYA PRODUKSI DAN BIAYA NON PRODUKSI

Salah satu tujuan utama sistem manajemen biaya adalah perhitungan harga pokok produk
untuk kepentingan pelaporan keuangan eksternal. Oleh karenanya, kesepakatan eksternal

49
mengharuskan biaya diklasifikasikan berdasarkan funsionalnya yakni biaya produksi dan
biaya non produksi. Biaya produksi adalah biaya yang berhubungan dengan produksi
barang atau penyediaan jasa. Biaya non produksi adalah biaya yang berhubungan dengan
fungsi penjualan dan administrasi. Untuk produksi barang berwujud, biaya produksi dan
biaya non produksi sering mengacu pada istilah biaya manufaktur dan biaya non
manufaktur.

 BIAYA PRODUKSI

Biaya produksi selanjutnya diklasifikasikan menjadi tiga elemen yakni biaya bahan baku
langsung, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead. Tiga elemen biaya tersebut lah
yang dapat dibebankan pada produk untuk kepentingan laporan keuangan eksternal.

Biaya Bahan Baku Langsung

Biaya Bahan Baku Langsung adalah biaya bahan baku yang dapat ditelusuri pada barang
dan jasa yang dihasilkan. Biaya dari bahan-bahan kategori ini dapat secara langsung
dikenakan pada produk karena pengamatan secara fisik dapat digunakan untuk mengukur
jumlah yang dikonsumsi oleh tiap produk.. Contoh Bahan baku langsung antara lain.
Tepung terigu pada roti, pisang pada pisang goreng. Kain kafan untuk jasa penguburan,
kawat untuk koreksi gigi, dll.

Biaya Tenaga Kerja Langsung

Biaya  tenaga kerja langsung adalah biaya tenaga kerja yang dapat ditelusuri pada barang
atau penyediaan jasa yang dihasilkan. Pengamatan fisik dapat digunakan untuk mengukur
jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk memproduksi barang berwujud atau penyediaan
jasa.. Contoh dari tenaga kerja langsung ini misalnya, juru masak pada rumah makan, juru
parkir pada pelayanan parkir, teller pada bank, sopir pada transjogja dll.

 Biaya Overhead

Biaya Overhead adalah semua biaya produksi selain bahan baku langsung dan tenaga kerja
langsung. Banyak masukan yang diperlukan untuk memproduksi barang atau penyediaan
jasa selain bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung. Perlu diingat dari komponen
biaya tenaga kerja langsung, hanya biaya lembur yang dikategorikan dalam biaya
overhead.

50
BIAYA NON PRODUKSI

Biaya Penjualan dan Administrasi

Biaya Penjualan adalah biaya-biaya yang diperlukan untuk memasarkan dan


mendistribusikan barang atau ajasa. Biaya tersebut sering mengacu pada biaya
mendapatkan pesanan/ pelanggan dan memenuhi pesanan/ pelanggan. Misalnya gaji tenaga
penjual, iklan, pergudangan, pelayanan, pengiriman dll. Biaya Administrasi adalah semua
biaya yang berhubungan dengan administrasi umum organisasi yang tidak dapat diestimasi
secara tepat baik untuk pemasaran ataupun produksi.  Contoh biaya administrasi adalah
gaji manajemen puncak, biaya administrasi, pencetakan laporan tahunan, akuntansi umum,
penelitian dan pengembangan dll. Biaya Penjualan/ pemasaran dan Administrasi adalah
biaya yang tidak dapat disimpan atau disebut biaya periode. Biaya periode yang tidak dapat
disimpan dibebankan pada periode dimana biaya tersebut terjadi. Oleh karena itu tidak
satupun dari biaya ini tampak sebagai persediaan yang dilaporkan pada nareca.

BIAYA UTAMA DAN KONVERSI

Biaya utama adalah penjumlahan biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja
langsung. Sedang biaya konversi adalah penjumlahan biaya tenaga kerja langsung dan
biaya overhead. Untuk perusahaan manufaktur biaya konversi diartikan sebagai biaya
mengubah bahan baku menjadi produk akhir. (Hendra Poerwanto G)

ANALISA BIAYA PRODUKSI

Sebagai seorang Enterpleneur haruslah tau cara menghitung biaya produksi untuk
mengetahui laba/ rugi suatu perusahaan (usaha yang dilakukan), roda produksi perusahaan
setiap harinya memproduksi barang dan jasa yang dinikmati konsumen. Semua perusahaan
mulai dari perusahaan raksasa multinasional hingga kepedagang kaki lima mengeluarkan
biaya agar bisa menyediakan barang dan jasa yang dapat dimanfaatkan konsumen. Biaya
peluang (opportunity cost) adalah pengorbanan yang dilakukan seseorang karena
mengambil sebuah pilihan.

Biaya tetap (FC)

Biaya yang jumlahnya tidak berubah ketika kuantitas output berubah. Biaya ini akan tetap
ada walaupun perusahaan tidak melakukan produksi. Yang termasuk biaya ini Sewa
ruangan took, gaji pegawai, dan penyusutan mesin-mesin.

51
Biaya Variable (VC)

Merupakan biaya yang jumlahnya berubah ketika jumlah barang yang diproduksi berubah.
Yang tergolong biaya variable adalah biaya pembelian bahan mentah atau bahan dasar
yang digunakan untuk prosuksi.

Biaya Total (TC)

Merupakan seluruh biaya atau pengeluaran yang dibayar perusahaan untuk membeli
berbagai input (barang atau jasa) untuk keperluan produksi.

RUMUS :

BIAYA TOTAL = BIAYA TETAP + BIAYA VARIABLE

TC  = FC + VC

NB :

Biaya tetap :

Berapapun jumlah barang yang diproduksi, jumlah biaya tetap sama.

Biaya Variable :

Jumlah biaya berubah-ubah besarnya tergantung pada kualitas produksi.

Contoh Kasus Menghitung Harga Pokok Produksi:

CV GM memproduksi 2 (dua) macam barang yakni barang A dan B. Dari Budget


Produksi, diperoleh data tentang rencana produksi sebagai berikut:

Terdapat 2 (dua) bagian produksi, yakni bagian produksi I, dan II, serta I (satu) bagian
jasa /pembantu, yakni bagian Reparasi. Bagian Produksi I hanya dilalui oleh barang A,
sedangkan bagian Produksi II dilalui oleh kedua macam barang (A dan B). Satuan kegiatan
masing-masing bagian adalah sebagai berikut:

52
Angka standar pada bagian Reparasi:

Biaya overhead yang akan timbul pada masing-masing bagian diperkirakan sebagai
berikut:

Dari anggaran bahan mentah diperoleh data tentang rencana biaya bahan mentah untuk
masing-masing jenis barang sebagai berikut:

Sedangkan dari Anggaran biaya tenaga kerja diperoleh data tertentu rencana biaya tenaga
kerja langsung untuk masing-masing jenis barang sebagai berikut:

Dengan data-data yang tersedia di atas hitunglah harga pokok produksi (cost of goods
manufactured) masing-masing barang!

JAWAB!

Langkah 1. Menghitung Tingkat Kegiatan

Terlebih dahulu dihitung tingkat kegiatan masing-masing bagian (baik bagian produksi
maupun bagian jasa/pembantu) sebagai berikut:

tingkat kegiatan masing-masing bagian adalah:

Bagian Produksi I    = 7.000 unit barang A

Bagian Produksi II    = 40.000 DMH

53
Bagian Reparasi    = 4.200 DRH

Dengan demikian dapat ditabulasikan sbb:

Langkah 2: Menghitung Tarif BOP

Setelah itu kemudian diadakan perhitungan tarif biaya overhead (overhead rate) bagi
masing-masing bagian produksi sebagai berikut:

54
Keterangan:

1)      Rp 28.000,00 / 7.000 unit = Rp 4,00 per unit

2)      Rp20.000,00 / 40.000 DMH = Rp 0,50 per DMH

Tingkat kegiatan dalam suatu perusahaan harus dinyatakan dalam satuan kegiatan (activity
base), misalnya :

 Jam mesin langsung (Direct machine hour/ DMH)

 Jam Kerja Langsung (Direct labor hour/ DLH)

 Jam Reparasi Langsung (Direct Repair Hour/ DRH)

55
 Kilo Watt per Jam (Kilo Watt per hour)

PENUTUP
A. Rangkuman
Biaya produksi adalah akumulasi dari semua biaya-biaya yang dibutuhkan dalam proses
produksi dengan tujuan untuk menghasilkan suatu produk atau barang. Biaya produksi ini
meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya operasional barang, dan lain sebagainya.
Unsur-unsur biaya produksi meliputi biaya bahan baku, baiay tenaga kerja langsung, biaya
overhead, biaya eksplisit, dan biaya implisit.
Jenis biaya produksi jka dilihat dari volume kegiatannya meliputi biaya tetap, biaya variabel
dan biaya semi-variabel

B. Tes formatif
Berilah tanda silang pada huruf a, b, c, d, atau e di depan jawaban yang paling tepat!
1. Berikut ini yang bukan termasuk ke dalam biaya produksi wirausaha produk teknik
komputer, multimedia, dan informatika adalah...

56
a. Bahan baku
b. Bahan-bahan pembantu dan penolong
c. Upah tenaga kerja
d. Penyusutan peralatan produksi
e. Keuntungan yang diperoleh
2. Berikut ini yang digolongkan sebagai biaya tetap adalah...
a. Sewa tempat usaha
b. Biaya penggunaan listrik
c. Biaya penggunaan air
d. Biaya penggunaan minyak untuk kendaraan bermotor
e. Biaya tanah
3. Berikut ini yang tidak termasuk ke dalam jenis biaya produksi adalah...
a. Biaya administrasi
b. Biaya pemasaran
c. Biaya bepergian
d. Biaya kerugian
e. Biaya keuangan
4. Biaya marginal akan mulai meningkat ketika...
a. Produksi total mulai menurun
b. Biaya produksi total mencapai maksimum
c. Biaya produksi rata-rata mencapai minimum
d. Produksi marginal mulai merosot
e. Produksi berkurang
5. Rumus menghitung total biaya tetap adalah...
a. TC – TVC
b. TC – TFC
c. TC : TFC
d. TVC : TC
e. TVC x TC
6. Biaya untuk memproduksi sejumlah barang tertentu dibagi dengan jumlah produksi tertentu
dinamakan...
a. Biaya total rata-rata
b. Biaya total
c. Biaya tetap
d. Biaya variabel
e. Biaya semi-variabel
7. Menurut jangka waktunya, biaya produksi dibedakan menjadi...
a. Dua
b. Tiga
c. Empat
d. Lima
e. Enam
8. Gaji karyawan wirausaha produk IT, multimedia dan informatika masuk ke dalam biaya...
a. Tepat
b. Tetap
c. Variabel
d. Campuran
e. Berubah
9. Pernyataan di bawah ini yang paling tepat adalah...
a. Kurva biaya marginal memotong AC pada nilai AC yang paling maksimum
57
b. Kurva biaya marginal memotong AC dan AVC pada titik-titiknya yang paling
minimum.
c. Kurva biaya marginal naik dari kiri bawah ke kanan atas.
d. Kurva biaya marginal selalu memotong AC dan AVC di sebelah kiri AC dan AVC
e. Kurva TFC berbanding lurus dengan kurva TVC pada produksi optimal
10. Faktor yang mempengaruhi skala ekonomis adalah...
a. Tingkat produksi yang ingin dicapai
b. Spesialisasi faktor produksi
c. Sifat dari pilihan kapasitas pabrik yang tersedia
d. Harga input yang digunakan dalam proses produksi
e. Harga tetap

Kunci jawaban tes formatif


1. E 6. A
2. A 7. A
3. C 8. B
4. C 9. B
5. A 10. B

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK

a. Petunjuk
1. Sebelum memulai pekerjaan ucapkanlah bismillahirrohmaanirrohiim
2. Baca dan pahamilah LKPD ini terlebih dahulu
3. Jawablah soal-soalnya dengan baik dan benar

b. Materi
Biaya produksi adalah akumulasi dari semua biaya-biaya yang dibutuhkan dalam proses
produksi dengan tujuan untuk menghasilkan suatu produk atau barang. Biaya produksi ini
meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya operasional barang, dan lain
sebagainya.
Unsur-unsur biaya produksi meliputi biaya bahan baku, baiay tenaga kerja langsung, biaya
overhead, biaya eksplisit, dan biaya implisit.
Jenis biaya produksi jka dilihat dari volume kegiatannya meliputi biaya tetap, biaya
variabel dan biaya semi-variabel.

c. Latihan Soal
Soal isian
1. Tuliskan jenis-jenis biaya produksi dilihat dari volume kegiatannya!
............................................................................................................................................
............................................................................................................................................
..............
2. Tuliskan unsur-unsur dalam biaya produksi!

58
............................................................................................................................................
............................................................................................................................................
..............
3. Apa saja faktor penting yang menimbulkan skala ekonomis?:
............................................................................................................................................
............................................................................................................................................
..............
4. Tuliskan penyebab skala tidak ekonomis!
............................................................................................................................................
............................................................................................................................................
..............
5. Apa yang dimaksud dengan harga jual?
............................................................................................................................................
............................................................................................................................................
..............

Soal Melengkapi Kolom


Lengkapilah contoh spesifik dari biaya-biaya berikut ini!

No Jenis Biaya Contoh


1 Biaya tetap 


2 Biaya Variabel 


3 Biaya semi- 
variabel 

LEMBAR PENILAIAN

a. Penilaian Sikap
PENILAIAN SIKAP
L/ Rasa
No NISN NAMA SISWA Kerja Komunikati
P ingin Santun
sama f
tahu
1              
2              
3              
4              

Kolom aspek perilaku diisi dengan angka yang sesuai dengan kriteria berikut:
4 = Sangat baik
3 = Baik
2 = Cukup
1 = Kurang

b. Penilaian Pengetahuan
PENILAIAN
PENGETAHUAN
L/
No NISN NAMA SISWA Tes
P Tes Penugasa
Tertuli
Lisan n
s
1            
2            
3            

59
4            

Skor Perolehan
Nilai= x 100 %
Skor Maksimal

Pedoman penskoran
 Skor 4 jika jawaban siswa benar secara sempurna
 Skor 3 jika jawaban siswa benar tapi belum sempurna
 Skor 2 jika jawaban siswa belum tapi masih jauh dari sempurna
 Skor 1 jika jawaban siswa belum benar

c. Penilaian Keterampilan
Lembar Pengamatan
Penilaian Keterampilan - Unjuk Kerja/Kinerja/Praktik
Topik : Membuat contoh dokumen penghitungan biaya produksi suatu perusahaan
KD : Menganalisis Biaya Produksi Prototype Produk Barang/Jasa

N Nam Persiapan Pelaksanaan Kegiatan Akhir Jumlah


o a Praktek Praktek Praktek Skor
1
2
3
4

N Sko
Keterampilan yang dinilai Rubrik
o r
Persiapan Praktek - Alat-alat tertata rapih sesuai dengan
(Menyiapkan alat Bahan) keperluannya
- Bahan-bahan yang digunakan tersusun
30
dengan benar dan tepat
1
- Kerapihan dan pengunaan Bahan-bahan
tersedia di tempat yang sudah ditentukan.
20 Ada 2 aspek yang tersedia
10 Ada 1 aspek yang tersedia
Pelaksanaan Percobaan - Menggunakan alat dengan tepat
- Membuat barang yang diperlukan dengan
tepat
2 30
- Menuangkan / menambahkan bahan yang
tepat
- Mengamati hasil praktek dengan tepat
20 Ada 3 aspek yang tersedia
10 Ada 2 aspek yang tersedia
Kegiatan akhir praktikum - Membuang barang tak terpakai atau sampah
ketempatnya
- Membersihkan alat dengan baik
30
- Membersihkan meja
3
- Mengembalikan barang kelas ke tempat
semula
20 Ada 3 aspek yang tersedia
10 Ada 2 aspek yang tersedia

60
DAFTAR PUSTAKA

Asmoro, Siwi Widi, 2019. Produk Kreatif dan Kewirausahaan. Yogyakarta: Penerbit ANDI

http://rezamardiansyah07.blogspot.com/2012/04/biaya-produksi.html
https://sites.google.com/site/pekembia/konsep-dan-pengertian-biaya
http://sabrintechno.blogspot.co.id/2016/11/rumus-menghitung-biaya-produksi.html

61