Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH PENGANTAR MANAJEMEN

Pengawasan Dan Pengendalian Dalam Manajemen Perusahaan

Disusun Memenuhi Tugas Manajemen

Dosen Pengampu : Dr.Dina Sarah Syahreza,SE.,M.Si

Disusun Oleh :

Kelompok 1

1. Any Syahputri 7201220006


2. Diya Ayu Mirza 7201220010
3. Hamidah Hasibuan 7201220002
4. Indah anggraini 7201220005

AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2020
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Ilmu pengetahuan pada dasarnya dibagi atas dua golongan, yaitu ilmu
pengetahuan alam / eksakta dan ilmu pengetahuan sosial.
Manajemen termasuk kedalam kelompok ilmu pengetahuan sosial. Manajemen adalah
bidang yang sangat penting untuk dipelajari dan dikembangkan karena tidak ada
perusahaan yang dapat berhasil baik tanpa menerapkan manajemen secara baik.
Manajemen digunakan untuk menetapkan tujuan, usaha untuk mencapai tujuan serta
memanfaatkan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan
efisien. Manajemen juga merupakan suatu pedoman pikiran dan tindakan.
Jadi, jika ilmu manajemen dipahami, dihayati, dikembangkan serta diterapkan,
maka pembinaan bangsa, politik, ekonomi, kemakmuran dan sebagainya akan mudah
ditingkatkan. Manajemen juga didasarkan pada kerjasama yang serasi, harmonis, serta
pembagian kerja, tanggung jawab diantara semua anggota masyarakat, maka pentinglah
ilmu pengetahuan ini dipelajari.
Pengendalian (pengawasan) atau controlling adalah bagian terakhir dari fungsi
manajemen. Fungsi ini sangat penting dan sangat menentukan pelaksanaan proses
manajemen, karena itu harus dilaksanakan sebaik-baiknya. Fungsi manajemen yang
dikendalikan adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian itu
sendiri. Kasus-kasus yang banyak terjadi dalam organisasi adalah akibat masih lemahnya
pengendalian sehingga terjadilah berbagai penyimpangan antara yang direncanakan
dengan yang dilaksanakan.

B. RUMUSAN MASALAH

1.      Apa pengertian pengawasan dan pengendalian?


2.      Apa tujuan pengawasan dan pengendalian?
3.      Apa prinsip pengawasan dan pengendalian?
4.      Apa saja asas-asas pengawasan dan pengendalian?
5.      Apa saja jenis-jenis pengawasan dan pengendalian?
6.      Bagaimana proses pengawasan dan pengendalian?
C. TUJUAN

1.      Pembaca dapat memahami pengertian pengawasan dan pengendalian.


2.      Pembaca dapat memahami tujuan pengawasan dan pengendalian.
3.      Pembaca dapat memahami prinsip pengawasan dan pengendalian.
4.      Pembaca dapat memahami asas-asas pengawasan dan pengendalian.
5.      Pembaca dapat mengerti jenis-jenis pengawasan dan pengendalian.
6.      Pembaca dapat memahami proses pengawasan dan pengendalian.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pengawasan dan Pengendalian


Fungsi kelima dari seorang pemimpin adalah pengawasan serta pengendalian.
Fungsi ini merupakan fungsi setiap manajer yang terakhir. Fungsi ini merupakan fungsi
pimpinan yang berhubungan dengan usaha menyelamatkan jalannya perusahaan ke arah
pulau cita-cita yakni kepada tujuan yang telah direncanakan.
Melakukan suatu tugas, hanya mungkin dengan baik bila seseorang yang
melaksanakan tugas itu mengerti arti dan tujuan dari tugas yang dilaksanakan.
Demikianpun seorang pemimpin yang melakukan tugas pengawasan, haruslah sungguh-
sungguh mengerti arti dan tujuan daripada pelaksanaan tugas pengawasan.
Pengawasan atau pengendalian merupakan follow up dari perintah-perintah yang
sudah dikeluarkan. Apa yang sudah diperintahkan haruslah diawasi, agar apa yang
diperintahkan itu benar-benar dilaksanakan.
Pengawasan dapat diartikan sebagai suatu proses untuk penentuan apa pekerjaan
selanjutnya untuk apa yang telah dilaksanakan, menilainya dan mengkoreksi bila perlu
dengan maksud agar pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana semula.
B. Tujuan Pengawasan dan Pengendalian

Jelas kiranya, dari pengertian pengawasan diatas, bahwa tujuan utama dari
pengawasan ialah :
1.      Mengusahakan agar apa yang direncanakan menjadi kenyataan.
2.      Supaya proses pelaksanaan dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan rencana.
3.      Melakukan tindakan perbaikan (corrective) jika terdapat penyimpangan-
penyimpangan (deviasi)
4.      Agar tujuan yang dihasilkan sesuai dengan yang direncanakan.

Untuk dapat mencapai tujuan-tujuan tersebut, maka pengawasan pada taraf pertama
bertujuan agar pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan instruksi yang telah dikeluarkan, dan
untuk mengetahui kelemahan-kelemahan serta kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam
pelaksanaan rencana berdasarkan penemuan-penemuan tersebut dapat diambil tindakan
untuk memperbaikinya baik pada waktu itu ataupun waktu-waktu yang akan datang.

C. Fungsi Pengawasan

Ralph Currier Davis dan Alan C. Filley membagi fungsi pengawasan menjadi delapan
sub-fungsi yang terdiri dari tahap-tahap kegiatan sebagai berikut:
1.      Perencanaan rutin (routine planning)
2.      Penjadwalan (scheduling)
3.      Persiapan (preparation)
4.      Pengabaran (dispatching)
5.      Pengarahan (direction)
6.      Pemeriksaan (supervision)
7.      Pembandingan (comparison)
8.      Pembetulan (corrective action)

D. Prinsip-prinsip Pengawasan dan Pengendalian


Untuk mendapatkan sistem pengawasan yang efektif, maka perlu dipenuhi beberapa
prinsip pengawasan. Dua prinsip pokok yang merupakan suatu kondisi bagi sistem
pengawasan yang efektif ialah adanya rencana tertentu dan adanya pemberian instruksi-
instruksi, serta wewenang-wewenang kepada bawahan.
Selain kedua prinsip pokok diatas, maka suatu sitem pengawasan haruslah
mengandung prinsip-prinsip berikut:
1.      Dapat mereflektir sifat-sifat dan kebutuhan-kebutuhan dari kegiatan-kegiatan yang harus
diawasi.
2.      Dapat dengan segera melaporkan penyimpangan-penyimpangan.
3.      Fleksibel.
4.      Dapat mereflektir pola organisasi.
5.      Ekonomis.
6.      Dapat dimengerti.
7.      Dapat menjamin diadakannya tindakan korektif.

Sistem pengawasan adalah efektif, bilamana sistem pengawasan itu memenuhi prinsip
fleksibilitas. Ini berarti bahwa sistem pengawasan itu tetap dapat dipergunakan meskipun
terjadi perubahan-perubahan terhadap rencana diluar dugaan.

E. Asas-asas Pengawasan dan Pengendalian

Harold Koontz dan Cyril O Donnel menetapkan asas pengendalian sebagai berikut:

1. Asas tercapainya tujuan (Principle of assurance of objective), artinya pengendalian harus


ditujukan ke arah tercapainya tujuan yaitu dengan mengadakan perbaikan untuk menghindari
penyimpangan-penyimpangan dari rencana.
1. Asas efisiensi pengendalian (Principle of efficiency of control), artinya pengendalian itu
efisien, dapat menghindari penyimpangan dari rencana, sehingga tidak menimbulkan
hal-hal lain yang diluar dugaan.
2. Asas tanggung jawab pengendalian (Principle of control responsibility), artinya
pengendalian hanya dapat dilaksanakan jika manajer bertanggung jawab terhadap
pelaksanaan rencana.
4.      Asas pengendalian terhadap masa depan (principle of future control), artinya
pengendalian yang efektif harus ditujukan kearah pencegahan penyimpangan-
penyimpangan yang akan terjadi, baik waktu sekarang maupun masa yang akan datang.
3. Asas pengendalian langsung (Principle of direct control), artinya teknik kontrol yang
paling efektif ialah mengusahakan adanya manajer bawahan yang berkualitas baik.
4. Asas refleksi perencanaan (principle of reflection of plans), artinya pengendalian harus
disusun dengan baik, sehingga dapat mencerminkan karakter dan susunan rencana.
5. Asas penyesuaian dengan organisasi (Principle of organizational suitability), artinya
pengendalian harus dilakukan sesuai dengan struktur organisasi.
6. Asas pengendalian individual (Principle of individuality of control), artinya
pengendalian dan teknik pengendalian harus sesuai dengan kebutuhan manajer.
7. Asas standar (principle of standard), artinya pengendalian yang efektif dan efisien
memerlukan standar yang tepat yang akan dipergunakan sebagai tolok ukur pelaksanaan
dan tujuan yang akan dicapai.
8. Asas pengawasan terhadap strategis (Principle of strategic point control), artinya
pengendalian yang efektif dan efisien memerlukan adanya perhatian yang ditujukan
terhadap faktor-faktor yang strategis dalam perusahaan.
9. Asas kekecualian (the exception principle), artinya efisiensi dalam pengendalian
membutuhkan adanya perhatian yang ditujukan terhadap faktor kekecualian.
10. Asas pengendalian fleksibel (principle of flexibility of control), artinya pengendalian
harus luwes untuk menghindari kegagalan pelaksanaan rencana.
11. Asas peninjauan kembali (principle of review), artinya sistem pengendalian harus
ditinjau berkali-kali, agar sistem yang digunakan berguna untuk mencapai tujuan.
12. Asas tindakan (principle of action), artinya pengendalian dapat dilakukan apabila ada
ukuran-ukuran untuk mengoreksi penyimpangan-penyimpangan rencana, organisasi,
staffing, dan directing.

F. Jenis-jenis Pengendalian

Ada berbagai macam pendapat tentang jenis-jenis pengawasan. Hal itu terjadi karena
perbedaan sudut pandangan atau dasar perbedaan jenis-jenis pengawasan itu. Ada empat
macam dasar penggolongan jenis-jenis pengawasan, yakni
1.      Berdasarkan sifat dan waktu pengawasan
Sifat dan waktu pengawasan dapat dibedakan atas :
a.       Preventive control , yaitu pengendalian yang dilakukan sebelum kegiatan dikerjakan
dengan maksud supaya tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan.
b. Repressive control , yaitu pengendalian yang dilakukan setelah terjadi
penyimpangan/kesalahan dalam pelaksanaan kegiatan, dengan maksud agar tidak
terjadi pengulangan kesalahan, sehingga sasaran yang direncanakan dapat tercapai.
c.       Pengendalian yang dilakukan ditengah proses penyimpangan terjadi
d.      Pengendalian berkala, yaitu pengendalian yang dilakukan secara berkala sebulan
sekali atau satu kuartal sekali atau satu tahun sekali.
e.       Pengendalian mendadak, yaitu pengendalian yang dilakukan secara mendadak.

2.      Berdasarkan obyek pengawasan


Obyek atau sasaran pengawasan ialah :

a. Pengendalian produksi (production control). Pengendalian ini ditujukan untuk


mengetahui kualitas dan kuantitas produksi yang dihasilkan, apakah sesuai dengan
standar atau rencananya.
b. Pengendalian keuangan (financial control). Pengendalian ini ditujukan kepada hal-hal
yang menyangkut keuangan, tentang pemasukan dan pengeluaran, biaya-biaya
perusahaan termasuk pengendalian anggarannya.
c. Pengendalian pegawai (personal control). Pengendalian ini ditujukan kepada hal-hal
yang ada hubungannya dengan kegiatan karyawan. Misalnya apakah karyawan bekerja
sesuai dengan rencana, perintah, tata kerja, disiplin, absensi, dan sebagainya.
d. Pengendalian waktu (time control). Pengendalian ini ditujukan kepada penggunaan
waktu, artinya apakah waktu untuk mengerjakan suatu pekerjaan sesuai atau tidak
dengan rencana.
e. Pengendalian kebijaksanaan (policy control). Pengendalian ini ditujukan untuk
mengetahui dan menilai, apakah kebijaksanaan-kebijaksanaan organisasi telah
dilaksanakan sesuai dengan yang telah digariskan.
f. Pengendalian teknis (technical control). Pengendalian ini ditujukan kepada hal-hal yang
bersifat fisik, yang berhubungan dengan tindakan dan teknis pelaksanaan.
g. Pengendalian penjualan (sales control). Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui
apakah produksi atau jasa yang dihasilkan terjual sesuai dengan target yang telah
ditetapkan.
h. Pengendalian inventaris (Inventary control). Pengendalian ini ditujukan untuk
mengetahui apakah inventaris perusahaan masih ada semua atau ada yang hilang, apakah
masih layak pakai, atau harus diganti.
i. Pengendalian pemeliharaan (Maintenance control). Pengendalian ini ditujukan untuk
mengetahui apakah semua inventaris perusahaan dan kantor dipelihara dengan baik atau
tidak, dan jika ada yang rusak apa kerusakannya, apa masih dapat diperbaiki atau tidak.
2. Berdasarkan Subyek pengawasan

Bilamana pengawasan itu dibedakan atas dasar penggolongan siapa yang


mengadakannya, maka pengawasan itu dapat dibedakan atas:
a. Internal control, yaitu pengendalian yang dilakukan seorang atasan terhadap
bawahannya. Cakupan dari pengendalian intern ini meliputi hal-hal yang cukup luas,
baik pelaksanaan tugas, prosedur, sistem, hasil, kehadiran dan lain-lain.
b. External control, yaitu pengendalian yang dilakukan oleh pihak luar. Pengendalian extern
dapat dilakukan secara formal atau informal.
c. Audit control, yaitu pengendalian atau penilaian atas masalah-masalah yang berkaitan
dengan pembukuan perusahaan.
d. Formal control, yaitu pengendalian yang dilakukan oleh instansi atau pejabat yang
berwenang dan dapat dilakukan secara intern, maupun extern.
e. Informil control, yaitu pengendalian yang dilakukan oleh masyarakat atau konsumen,
baik langsung maupun tidak langsung.

3. Berdasarkan proses dan cara-cara pengendalian

Proses pengendalian dilakukan secara bertahap melalui langkah-langkah berikut:


a. Menentukan standar-standar yang akan digunakan sebagai dasar pengendalian.
b. Mengukur pelaksanaan atau hasil yang telah dicapai.
c. Membandingkan pelaksanaan atau hasil dengan standar dan menentukan penyimpangan
jika ada.
d. Melakukan tidakan perbaikan, jika terdapat penyimpangan agar pelaksanaan dan tujuan
sesuai dengan rencana. Rencana juga perlu dinilai ulang dan dianalisi kembali, apakah
sudah benr-benar realistis atau tidak. Jika belum benar atau realistis maka rencana itu
harus diperbaiki.

Agar pengawasan yang dilakukan seorang atasan berjalan secara efektif, maka haruslah
terkumpul fakta-fakta ditangan pemimpin yang bersangkutan. Dapat dilakukan dengan:
a.   Personal observation (peninjauan pribadi), yaitu mengawasi dengan jalan meninjau secara
pribadi sehingga dapat dilihat sendiri pelaksanaan pekerjaannya. Cara pengawasan ini
mengandung suatu kelemahan, bila timbul syak wasangka dari bawahan. Cara seperti ini
memberi kesan kepada bawahan, bahwa mereka diamati secara kerass dan kuat sekali. Di
pihak lain ada yang berpendapat bahwa cara inilah yang terbaik. Sebagai alasan karena
dengan cara ini kontak langsung antara atasan dan bawahan dapat dipererat.
b.      Interview (laporan lisan), yaitu pengawasan yang dilakukan dengan mengumpulkan fakta-
fakta melalui laporan lisan yang diberikan bawahan. Wawancara yang diberikan ditujukan
kepada orang-orang atau segolongan orang tertentu yang dapat memberikan gambaran dari
hal-hal yang ingin diketahui terutama tentang hasil sesungguhnya (actual results) yang
dicapai oleh bahawannya.
c.       Written report (laporan tertulis), yaitu suatu pertanggung jawaban kepada atasannya
mengenai pekerjaan yang dilaksanakannya, sesuai dengan instruksi dan tugas-tugas yang
diberikan atasan kepadanya.
d.      Control by exception (pengawasan berdasarkan kekecualian), adalah suatu sistem
pengawasan, dimana pengawasan itu ditujukan kepada soal-soal kekecualian. Jadi
pengawasan hanya dilakukan bila diterima laporan yang menunjukkan adanya peristiwa-
peristiwa yang istimewa. Pengendalian ini dikhususkan untuk kesalahan-kesalahan yang luar
biasa dari hasil atau standar yang diharapkan.

G. Alat-alat Pengendalian

Alat-alat pengendalian yang dapat dipergunakan suatu perusahaan atau organisasi,


yaitu:
1.      Budget (anggaran)
Budget adalah suatu ikhtisar hasil yang akan diharapkan dari pengeluaran-
pengeluaran yang disediakan untuk mencapai hasil tersebut. Pengendalian budget
(budgetary control) bertujuan untuk mengetahui apakah hasil yang diharapkan dari
penerimaan atau pengeluaran itu sesuai dengan yang diinginkan atau tidak. Hal ini dapat
diketahui dengan cara membandingkanny dengan budget, karena dalam budget telah
ditetapkan jumlah penerimaan, jumlah pengeluaran dan hasil yang akan diperoleh untuk
masa yang akan datang. Apabila tidak sesuai dengan budget, baik penerimaan atau
pengeluaran, maupun hasil yang diperoleh, maka perusahaan itu tidak efektif karena
terdapat penyimpangan (deviasi) dan manajer perusahaan harus segera mengadakan
perbaikan (correction).
Pada dasarnya, tipe-tipe budget dibedakan atas :
a. Sales budget (anggaran penjualan)
b. Production budget (anggaran produksi)
c. Cost production budget (anggaran biaya produksi)
d. Step budget (menunjukkan bermacam-macam tingkat produksi)
e. Purchasing budget (anggaran pembelian)
f. Labor budget/budget personnel (berhubungan dengan jumlah buruh)
g. Cash and financial budget (anggaran keuangan)
h. Master budget (budget keseluruhan)

2.      Non Budget


Alat pengendalian nonbudget yaitu sebagai berikut:
a. Personal observation, yaitu pengawasan langsung secara pribadi oleh pimpinan
perusahaan terhadap para bawahan yang sedang bekerja. Jika terjadi kesalahan, maka
pimpinan dapat segera melakukan koreksi dengan cara menegur atau memberikan
petunjuk, sehingga pada saat itu juga kegiatan itu dapat segera diperbaiki.
b. Report (laporan). Laporan yang dibuat oleh para manajer bawahan, misalnya manajer
produksi, manajer pemasaran membuat laporan-laporan pemasaran atau marketing
report. Manajer personal membuat laporan karyawan atau personnel report. Manajer
keuangan membuat laporan keuangan atau financial report. Berdasarkan laporan-
laporan ini diketahui dan diawasi perkembangan dan kegiatan-kegiatan yang sudah
lampau. Tetapi jika terjadi penyimpangan tidak dapat segera diketahui, sehingga
perbaikan akan terlambat. Hal ini merupaka suatu kelemahan alat pengendalian report
ini.
c. Financial statement, adalah daftar laporan keuangan yang biasanya terdiri dari
Balance sheet dan Income statement. Dari kedua daftar ini dapat diketahui dan
diawasi melalui analisis laporan keuangan, mengenai keadaan permodalan
perusahaan.
d. Statistic, merupakan pengumpulan data, informasi, dan kejadian yang telah berlalu.
Menganalisa data tersebut, dan menyajikannya dalam bentuk-bentuk tertentu,
misalnya grafik, curva, sehingga dapat memudahkan pimpinan mengetahui kejadian
yang telah berlalu dan dapat dengan mudah pula dijadikan informasi sebagai bahan
dalam mengambil keputusan.
e. Break even point (titik pulang pokok). Yaitu suatu titik atau keadaan ketika jumlah
penjualan tertentu tidak mendapat laba ataupun rugi. Jadi jumlah biaya sama dengan
jumlah penjualan.
f. Internal audit. Yaitu pengendalian yang dilakukan oleh atasan terhadap bawahan yang
meliputi bidang-bidang kegiatan secara menyeluruh yang menyangkut masalah
keuangan, apakah sesuai dengan prosedur dan praktek yang telah ditetapkan. Auditing
ini juga menyangkut pengendalian persediaan yang baik, pembayaran barang yang
dibeli, dan pemeriksaan yang cukup, apakah barang yang telah dibayar benar-benar
telah diterima.
Personal audit adalah suatu analisa dari semua faktor yang menyangkut administrasi
personalia. Berdasarkan analisa tersebut dan berbagai rekomendasi, diperbaiki setiap
penyimpangan dari standar yang diinginkan.

Audit by A.I.M
Pemerisaan dengan A.I.M. (American Institute of Management) terhadap perusahaan ialah
dengan menggunakan 10 kategori dasar yang seluruhnya mempunyai 10.000 point nilai.
Kategori dasar itu ialah:
1)      Fungsi ekonomi (economic function)
2)      Struktur perusahaan (cooperate structure)
3)      Kesehatan pertumbuhan pendapatan (health of earning growth)
4)      Kejujuran terhadap pemegang saham (fairness to stock olders)
5)      Penelitian dan pengembangan (research and development)
6)      Analisis kepemimpinan (directorate analysis)
7)      Efisiensi produksi (production efficiency)
8)      Penilaian pelaksanaan (executive evaluation)
9)      Analisis permodalan (financial analysis)
10)  Analisis hasil (income analysis)

H. Cara-cara membuat laporan guna pengawasan

Menurut James Williamson, ada tujuh landasan pokok dalam penulisan laporan.
Ketujuh landasan tersebut adalah
1.      Jelas
2.      Lengkap
3.      Ringkas
4.      Sopan
5.      Tulus
6.      Mengandung kepribadian
7.      Teliti
Selanjutnya John C. Johnson, mengemukakan lima buah pedoman pokok dalam
meyusun suatu laporan, yaitu
1.      Periksalah semua fakta-fakta yang dibutuhkan sebelum membuat laporan.
2.      Aturlah keterangan-keterangan itu sebaik mungkin.
3.      Laporan harus singkat tetapi lengkap.
4.      Pergunakanlah bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti.
5.      Cantumkanlah badan-badan yang dapat membantu atasan untuk mendapatkan
gambaran yang lebih jelas.

Untuk menjawab pertanyaan, bila laporan disusun, maka John C. Johnson menjawab
dalam empat hal, yaitu:
1.    Bilamana pelapor mengambil putusan penting yang secara langsung berpengaruh
terhadap atasannya, walaupun pengambilan putusan itu adalah wewenang dan tanggung
jawab pelapor sendiri.
2.      Bilamana pelapor memerlukan bantuan dalam rangka pengambilan suatu putusan
penting atau dalam pemecahan suatu masalah yang sulit.
3.      Jika pelapor meramalkan akan timbul kesulitan-kesulitan
4.      Jika terjadi peristiwa yang istimewa atau luar biasa yang perlu diketahui atasan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan laporan adalah unsur-unsur laporan.
Laporan sebaiknya di standariser. Unsur-unsur laporan itu terdiri dari :
1.      Judul
2.      Daftar isi dan intisari
3.      Ringkasan
4.      Tubuh laporan
5.      Appendix
Susunan dari unsur-unsur diatas tidak selalu demikian. Seringkali unsur ketiga
didahului oleh unsur keempat. Hal ini sesungguhnya bukan merupakan persoalan yang
prinsipel.
BAB III
KESIMPULAN

Dari penjelasan-penjelasan yang telah disampaikan pada makalah ini, dapat kita
simpulkan bahwa fungsi pengawasan dan pengendalian didalam suatu manajemen
sangatlah penting adanya. Karena jika pengawasan dan pengendalian tidak
dilaksanakan secara baik, maka akan sangat berpengaruh didalam pemanajemenan
untuk mencapai tujuan pada suatu organisasi.
DAFTAR PUSTAKA

Hasibuan, Drs. Malayu S.P. 1986. Manajemen dasar, Pengertian dan


Masalah.Jakarta: PT. Gunung Agung
Juran, J.M. 1988. Terobosan Manajemen, Jakarta: Erlangga
Manullang, Drs.M .1981. Dasar-dasar Manajemen,
Jakarta: Ghalia Indonesia
Sutabri, Tata .2005. Sistem Informasi Manajemen,
Yogyakarta: Andi Yogyakarta
Uchjana Effendy.M.A, Onong .1996. Sistem Informasi Manajemen,
Bandung: Mandar Maju