Anda di halaman 1dari 5

LBH

Perisai Kebenaran
Jl. Mascilik No.34 Kranji Purwokerto-Jawa Tengah Telp. 089665951172

Hal : Pembelaan

NOTA PEMBELAAN

Dalam Perkara Tindak Pidana Khusus


Nomor Register : 77/Pid.Sus/2020/PN Pwt

Majelis Hakim Yang Mulia


Jaksa Penuntut Umum Yang Kami Hormati, dan
Sidang Yang Kami Muliakan,
Di
Pengadilan Negeri Purwokerto

Perkenankan kami, Gillang Mentari Bumi, S.H. dan Dian Utari, S.H., M.H., adalah
Advokat pada Kantor hukum Lembaga Bantuan Hukum Perisai Kebenaran yang
beralamat di Jalan Mascilik No. 34 Kranji Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, bersama ini
mengajukan Pembelaan terhadap Terdakwa:

Nama lengkap : ALAM ERLANGGA alias ELANG bin KRISTIYANTO


Tempat lahir : Purwokerto
Umur/tanggal lahir : 18 Tahun / 17 Juni 2001
Jenis kelamin : Laki-laki
Kebangsaan : Indonesia
Tempat tinggal : Jl. Komisaris Bambang Suprapto Gg II RT.02 RW.02 Kelurahan
Purwokerto Lor Kec. Purwokerto Timur Kab. Banyumas.
Agama : Islam
Pekerjan : Buruh
Dengan Hormat,

PENDAHULUAN
Pertama-tama, kami ucapkan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
limpahan rahmat-Nya, kami, Penasihat Hukum, dapat menyampaikan pembelaan dalam
sidang ini. Perlu kami kemukakan, bahwa persidangan ini yang nantinya akan diakhiri
dengan putusan yang Mengatas-Namakan Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa,
tentu merupakan putusan yang sangat diharapkan bukan saja oleh Terdakwa ALAM
ERLANGGA dan Penasihat Hukumnya, tetapi juga tentunya diharapkan oleh rekan JPU
sekalipun. Sebelum menyampaikan pembelaan, tidak lupa kami ucapkan rasa terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada Majelis Hakim Yang Mulia karena telah memimpin
persidangan ini dengan penuh kemandirian, keseimbangan dan jiwa kepemimpinan. Kami
juga memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada rekan Jaksa Penuntut Umum,
karena telah sangat berupaya menjalankan kewajibannya dengan sangat amat baik untuk
menemukan kebenaran formil dan materil ke arah tercapainya prinsip dan tujuan hukum
demi tegaknya keadilan.

Setelah mendengar pembacaan tuntutan pidana yang diajukan oleh Penuntut Umum yang
pada pokoknya sebagai berikut:

1. Menyatakan Terdakwa ALAM ERLANGGA alias ELANG bin KRISTIYANTO tidak


terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dalan
dakwaan Primair ;
2. Membebaskan Terdakwa ALAM ERLANGGA alias ELANG bin KRISTIYANTO dari
dakwaan primair ;
3. Menyatakan Terdakwa ALAM ERLANGGA alias ELANG bin KRISTIYANTO telah
terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Melawan hukum
memiliki, menyimpan, menguasai Narkotika Golongan I bukan tanaman” sebagaimana
dalam dakwaan subsidair ;
4. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa ALAM ERLANGGA alias ELANG bin
KRISTIYANTO, dengan pidana penjara selama 4 (empat) tahun 6 (enam) bulan dikurangi
selama terdakwa berada dalam tahanan dengan perintah terdakwa tetap ditahan dan denda
sebesar Rp. 800.000.000,- (delapan ratus juta rupiah) subsider 1 (satu) bulan penjara ;
5. Menetapkan barang bukti berupa :
 1 (satu) buah bungkus rokok gudang garam signature warna hitam yang berisi 1 (satu)
bungkus plastik transparan berisi irisan daun diduga tembakau sintetis berat bruto 1,53
gram;

 1 (satu) buah Handphone warna hitam merk OPPO V 5 dengan nomer WA :


0895360920734
 1 (satu) buah ATM BNI dengan Nomor Kartu : 19469002280601812.
Dirampas untuk dimusnahkan .

1 (satu) unit sepeda motor Yamaha Vega warna biru, No Pol : R-5268- QA, berikut kuncinya.
Dikembalikan kepada saksi Dedi Kuswanto
6. Menetapkan agar terdakwa membayar biaya perkara sebesar Rp. 2.000,- (Dua ribu rupiah).

Setelah kami mendengarkan dan mempelajari tuntutan Jaksa Penuntut Umum atas nama
terdakwa tersebut, maka perkenankanlah kami untuk menyampaikan Nota Pembelaan
sebagai berikut.
Bahwa sebagai Penasehat Hukum tugas utama kami adalah selain memberikan nasehat
hukum kepada terdakwa agar memahami dan mengerti tentang perkara yang sedang
dijalaninya di dalam proses persidangan, sehingga dapat menerima putusan apapun yang
dijatuhkan terhadap dirinya dengan penuh kesadaran dan menjalaninya sebagai suatu proses
untuk memperbaiki dirinya, sehingga apabila Kembali kepada masyarakat dapat menjadi
baik dan menjadi panutan di dalam masyarakat, juga harus membantu Yang Mulia Majelis
Hakim agar mendapatkan suatu keyakinan tentang putusan yang baik dan adil seadil-adilnya
bagi terdakwa, korban dan masyarakat.
I. ANALISIS TEORITIS YURIDIS PROF.DR.SATJIPTO RAHARDJO,SH DALAM
BUKUNYA “SISI-SISI LAIN DARI HUKUM DI INDONESIA” HALAMAN 5
MENYATAKAN “BAHWA APAPUN YANG DILAKUKAN DALAM HUKUM
TAK BOLEH SEKALIKALI MENGABAIKAN ASPEK MANUSIA SEBAGAI
BAGIAN YANG SENTRAL DALAM HUKUM ITU, KARENA HUKUM ITU
DIBUAT UNTUK MANUSIA BUKAN SEBALIKNYA”.
Bahwa berdasarkan pada pendapat tersebut di atas maka sebelum menentukan lamanya
pidana yang pantas untuk dijalani oleh terdakwa perlu dikaji aspek kemanusiaan apa yang
menyebabkan terdakwa melakukan Tindak Pidana sebagaimana dakwaan dalam perkara ini.
1. Dalam logika itulah revitalisasi hukum dilakukan setiap kali. Bagi hukum progresif, proses
perubahan tidak lagi berpusat pada peraturan, tetapi pada kreativitas pelaku hukum
mengaktualisasikan hukum dalam ruang dan waktu yang tepat. Para pelaku hukum progresif
dapat melakukan perubahan dengan melakukan pemaknaan yang kreatif terhadap peraturan
yang ada, tanpa harus menunggu perubahan peraturan (changing the law). Peraturan buruk
tidak harus menjadi penghalang bagi para pelaku hukum progresif untuk menghadikarkan
keadilan untuk rakyat dan pencari keadilan, karena mereka dapat melakukan interprestasi
secara baru setiap kali terhadap suatu peraturan. Untuk itu agar hukum dirasakan manfaatnya,
maka dibutuhkan jasa pelaku hukum yang kreatif menterjemahkan hukum itu dalam
kepentingan-kepentingan sosial yang memang harus dilayaninya.
2. Bahwa Berdasarkan teori ini keadilan tidak bisa secara langsung ditemukan lewat proses
logis formal. Keadilan justru diperoleh lewat institusi, karenanya, argument-argumen logis
formal “dicari” sesudah keadilan ditemukan untuk membingkai secara yuridis-formal
keputusan yang diyakini adil tersebut. Oleh karena itu konsep hukum progresif, hukum tidak
mengabdi bagi dirinya sendiri, melainkan untuk tujuan yang berada di luar dirinya.
3. Bahwa mengacu kepada teori-teori di atas kami meminta kepada yang mulia majelis
hakim untuk memutus dalam perkara ini tidak melihat pakai patokan tuntutan saudara jaksa
penuntut umum akan tetapi dengan melihat teori keadilan dan tujuan hukum itu sendiri
sehingga tercapainya suatu keadilan bagi Terdakwa.
II. HAL-HAL YANG MERINGANKAN
Sebelum Majelis hakim memutus perkara ini dan sebelum menentukan lamanya pidana
yang pantas untuk dijalani oleh terdakwa, perlu kiranya dipertimbangkan pula hal-hal yang
meringankan yang ada pada diri terdakwa yaitu antara lain :
-Bahwa Terdakwa mengakui perbuatannya sehingga memperlancar proses di persidangan;
-Bahwa Terdakwa menyesali perbuatannya;
-Bahwa Terdakwa bersikap sopan selama dalam persidangan;
-Bahwa terdakwa berjanji tidak akan mengulangi lagi;
-Bahwa terdakwa masih muda usianya sehingga masih bisa diharapkan untuk memperbaiki
perbuatannya.

PENUTUP Bahwa Dr.Bernard L Tanya dalam bukunya “Teori Hukum Strategi tertib
Manusia Lintas Ruang dan Generasi” halaman 49 menyatakan “ tugas hukum adalah
membimbing Para Warga lewat Undang-Undang pada suatu hidup yang shaleh dan
sempurna. Orang yang melanggar UU harus dihukum tapi hukuman itu bukan balas dendam
karena tujuan hukuman adalah untuk memperbaiki moral dari terdakwa”
Atas dasar hal-hal tersebut di atas, kami sebagai penasehat hukum Terdakwa ALAM
ERLANGGA alias ELANG bin KRISTIYANTO, mohon kepada Majelis Hakim yang
terhormat kiranya berkenan memutus sebagai berikut :
- Membebaskan Terdakwa dari segala dakwaan dan tuntutan Jaksa Penuntut Umum;
- Menghukum Terdakwa dengan pidana penjara, dengan memerintahkan Terdakwa untuk
menjalani pengobatan dan/atau perawatan/ rehabilitasi di panti terapi dan rehabilitasi
rumah sakit jiwa;
- Memerintahkan agar Terdakwa ALAM ERLANGGA alias ELANG bin KRISTIYANTO
dibebaskan dari Tahanan;
- Menyatakan membebankan biaya perkara ini kepada negara; atau

Apabila Majelis Hakim berpendapat lain, mohon agar menghukum Terdakwa dengan
seadil-adilnya (ex aequo et bono).
Untuk menutup Pembelaan ini, izinkanlah kami mengutip kata-kata Nabi Muhammad SAW
“Menghukum dalam keraguan adalah dosa” dan di dunia hukum juga dikenal dalam keadaan
“IN DUBIO PRO REO” adalah “jika terjadi keragu-raguan apakah Terdakwa salah atau
tidak maka sebaiknya diberikan hal yang menguntungkan bagi Terdakwa”.
Demikianlah Nota Pembelaan atau Pledoi ini kami bacakan pada persidangan hari ini,
atas perhatian dan pertimbangan Majelis Hakim Yang Muliakami ucapkan terima kasih.

Purwokerto, 15 Mei 2020


Tim Penasihat Hukum Terdakwa
(Gillang Mentari Bumi, S.H.) (Dian Utari, S.H. M.H.)