Anda di halaman 1dari 16

SUMBER DAYA ALAM (EKOSISTEM PERAIRAN)

1. Sungai, danau, waduk, laut : Mangrove, padang lamun dan terumbu karang
Sumber daya alam adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri atas sumber
daya hayati dan nonhayati yang secara keseluruhan membentuk kesatuan Ekosistem
(UU 32/2009)
Ekosistem merupakan tingkat organisasi yang lebih tinggi dari komunitas atau
merupakan kesatuan dari suatu komunitas dengan lingkungannya dimana terjadi antar
hubungan.
Di dalam kolam, sungai, rawa dan danau berdasarkan daerah atau sub
habitatnya terdapat tiga zona yaitu, zona littoral, limnetik dan profundal.
a. Zona littoral merupakan daerah perairan yang dangkal dengan penetrasi
cahaya sampai dasar.
b. Zona limnetik adalah daerah air terbuka sampai kedalaman penetrasi cahaya
yang efektif, pada umumnya tingkat ini berada di mana kedalaman dimana
intensitas cahaya penuh.
c. Zona profundal merupakan bagian dasar dan daerah air yang dalam dan
tidak tercapai oleh penetrasi cahaya efektif.

Ekosistem dibagi menjadi dua jenis, yaitu: terestrial (daratan) dan akuatik
(perairan). Ekosistem terestrial memiliki keberadaan air yang rendah, sebaliknya
ekosistem akuatik adalah yang berbasis air. Ekosistem akuatik kemudian dibagi
menjadi dua jenis, yaitu air tawar (freshwater) dan air laut (marine). Ekosistem air
tawar memiliki karakter yang berbeda dengan ekosistem air laut, karena komposisi
kimia dan fisikanya berbeda, meskipun jenis organisme yang terkandung di dalamnya
sama.
Ekosistem air laut memiliki salinitas lebih tinggi. Salinitas menentukan tingkat
osmolaritas yang mempengaruhi osmoregulasi pada suatu organisme, yang membantu
organisme dalam menyeimbangkan zat terlarut dan air yang hilang dalam proses
ekskresi. Faktor biotik dan abiotik memiliki pengaruh terhadap distribusi organisme
dalam lingkungan berair tersebut (bentos). Lebih lanjut, komunitas bentos
dipengaruhi oleh kedalaman, kadar nutrien, arus air, oksigen terlarut, suhu, pH,
keberadaan bahan beracun, dan kesadahan air (Hawk, 1979; Fachrul, 2007).
Ekosistem perairan tawar mencakup air permukaan (sungai dan danau) dan air tanah.
Berdasarkan siklus hidrologi, air tanah terjadi sebagai hasil dari proses infiltrasi air
permukaan. Air permukaan bersumber dari air hujan atau mata air yang menggenang
di permukaan. Pada daerah karst, kondisi ini tidak terjadi karena air langsung meresap
ke dalam tanah. Oleh sebab itu, kajian ekosistem air permukaan di daerah karst
terbatas.

Ciri-Ciri Ekosistem Air

1. lingkungannya di dominasi oleh perairan


Ekosistem air adalah ekosistem yang habitatnya di dominasi oleh air, karena
itu dinamakan ekosistem air. Walaupun begitu, ada bagian dari ekosistem ini yang
bukan perairan, tapi biasanya jumlah presentasenya sangat kecil.
2. Dihuni oleh makhluk yang hidup di air atau amfibi
Ekosistem air dihuni oleh beragam makhluk yang hidupnya di air ataupun di
dua alam (air dan darat). Makhluk hidup ini bisa berupa binatang dan tumbuhan
3. cahaya matahari terbatas
Ekosistem darat mendapatkan terpaan cahaya matahari yang banyak.
Sedangkan di ekosistem air cahaya matahari terbatas atau lebih sedikit. Hal itu
karena cahaya matahari hanya bisa menembus beberapa meter saja di air, maka itu
ekosistem air mendapatkan sinar matahari yang lebih sedikit.
4. Perubahan suhu tidak terlalu ekstrim
Ekosistem air tidak memiliki perbedaan yang ekstrim saat siang dan malam.
Tentunya berbeda dengan ekositem di darat yang perubahan suhunya terasa.
Perubahan suhu ekstrim pada ekosistem darat di[engaruhi oleh banyak cahaya
matahari di siang hari dan diterpa banyak angin saat malam hari. Sedangkan
ekosistem air ini hanya mendapatkan sinar matahari yang terbatas dan tidak terlalu
banyak diterpa angin, sehingga perbedaan suhunya ditak terlalu ekstrim.
5. Ada konsumen dan ada produsen
Ekosistem air juga memiliki makhluk yang berperan sebagai konsumen dan
juga produsen. Pada ekosistem air yang bertindak sebagai produsen adalah
fitoplankton. Sedangkan yang bertindak sebagai konsumen adalah hewan dan juga
predator air.
Komponen Ekosistem Air

Berikut adalah komponen biotik dan komponen abiotik pada ekosistem air:

1. Komponen biotik adalah komponen yang terdiri dari makhluk- makhluk hidup


yang mempunyai ciri- ciri sebagai makhluk hidup.
Contoh komponen biotik di ekosistem air adalah ikan, hewan air lainya, hewan
amfibi, fitoplankton, zooplankton, dan tumbuhan yang hidup di dalam air. 
2. Komponen abiotik adalah kebalikan dari komponen biotik.
Komponen abiotik terdiri dari benda-benda yang tidak hidup, tapi keberadaanya
mempunyai pengaruh terhadap kehidupan makhluk hidup yang ada di lingkungan.
Komponen abiotik yang ada di ekosistem air, yaitu cahaya matahari, batu, udara
atau oksigen, dan suhu.

Macam-Macam Ekosistem Perairan (Akuatik)

1. Ekosistem Air Tawar

Ekosistem air tawar adalah suatu bentuk menyeluruh atau tatanan yang ada di
dalam air tawar dan sekitarnya yang terdiri dari makhluk hidup di dalam air tersebut
dan lingkungan air tawar itu sendiri.Ekosistem air tawar sering dikatakan juga sebagai
perairan darat.

 Ciri-ciri ekosistem air tawar

1. Salinitas (kadar garam) rendah, lebih rendah jika dibandingkan dengan


sitoplasma.
2. Adanya aliran air (arus), hal ini amat menentukan distribusi gas yang vital, garam
mineral dan organisme kecil.
3. Variasi suhu antara siang dan malam tidak terlalu besar.
4. Penetrasi (masuknya) cahaya matahari terbatas/kurang.
5. Ekosistem air tawar tetap dipengaruhi oleh iklim dan cuaca, meskipun pengaruh
tersebut relatif kecil apabila dibandingkan dengan ekosistem darat.
6. Perubahan ketinggian air terlihat nyata sekali , misalnya pada waktu musim hujan
air sungainya tinggi (berlimpah) dan musim kemarau terlihat sedikit (kekeringan).
7. Kadar oksigen terlarut pada ekosistem air tawar relatif lebih tinggi.
8. Intensitas cahaya yang diterima pada ekosistem air tawar cukup tinggi, walaupun
karena berbagai faktor penetrasi cahaya matahari ke dalam air agak berkurang.
9. Secara fisik dan biologis ekosistem ait tawar merupakan perantaraan ekosistem
darat dan laut , yang sering disebut sebagai air payau (lingkungan estuarin) ,
estuarin merupakan lingkungan lingkungan perairan setengah tertutup di pinggiran
daratan yang terpengaruh oleh pasang surut air laut.
10. Macam tumbuhan yang terbanyak adalah jenis ganggang , sedangkan lainnya
adalah tumbuhan biji.

 Penggolongan Ekosistem Air Tawar Berdasarkan Gerak Airnya

1. Ekosistem Lentik, adalah ekosistem yang airnya tenang atau diam, misalnya


danau, telaga dan rawa.
2. Ekosistem Lotik, adalah ekosistem yang airnya bergerak mengalir, misalnya
selokan, parit, atau sungai. Ciri-ciri ekosistem lotik adalah airnya mengalir,
merupakan ekosistem terbuka dari kadar oksigen terlarut relatif tinggi.

 Penggolongan Ekosistem Air Tawar Berdasarkan Bentuknya


1. Kolam

Kolam merupakan ekosistem buatan dan sebuah perairan yang cukup


dangkal sehingga cahaya dapat menembus sampai ke dasarnya. Tumbuhan
yang hidup di habitat kolam antara lain teratai dan enceng gondok. Organisme
lain yang  berada di dalam kolam adalah berbagai jenis plankton, crustacea
kecil, molusca, beberapa jenis ikan, serta insecta.

2. Danau

Danau adalah perairan darat yang ukurannya lebih besar daripada


kolam. Akan tetapi batas-batas ukuran danau tidak jelas. Para ahli
menyebutkan danau adalah perairan darat yang mempunyai kedalaman air
sedemikian rupa, sehingga dasar perairannya selalu gelap karena tidak dapat
tercapai oleh cahaya matahari.

3. Sungai
Sungai adalah suatu badan air yang mengalir ke satu arah.Air sungai
dingin dan jernih serta mengandung sedikit sedimen dan makanan.Aliran air
dan gelombang secara konstan memberikan oksigen pada air.Suhu air
bervariasi sesuai dengan ketinggian dan garis lintang.

4. Rawa

Ekosistem air tawar berupa rawa memiliki habitat dengan ciri-cirinya


adalah variasi temperatur atau suhu rendah, kadar garam rendah, penetrasi
cahaya yang kurang, dipengaruhi iklim dan cuaca di sekitar, dan memiliki
tumbuhan-tumbuhan tingkat tinggi (dikotil dan monokotil), tumbuhan tingkat
rendah (alga, jamur, gulma, ganggang hijau) yang berfungsi sebagai produsen,
serta memiliki ikan air tawar yang dapat dijadikan sebagai sumber pangan
protein hewani (Irwan 1997).
 Penggolongan Ekosistem Air Laut Berdasarkan Bentuknya

1. Lautan

Habitat laut (oseanik) ditandai oleh salinitas (kadar garam) yang tinggi
dengan ion CI- mencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena suhunya
tinggi dan penguapan besar. Di daerah tropik, suhu laut sekitar 25°C.
Perbedaan suhu bagian atas dan bawah tinggi.Batas antara lapisan air yang
panas di bagian atas dengan air yang dingin di bagian bawah disebut
daerah termoklin. Di daerah dingin, suhu air laut merata sehingga air dapat
bercampur, maka daerah permukaan laut tetap subur dan banyak plankton
serta ikan.Gerakan air dari pantai ke tengah menyebabkan air bagian atas turun
ke bawah dan sebaliknya, sehingga memungkinkan terbentuknya rantai
makanan yang berlangsung baik.

Di laut, hewan dan tumbuhan tingkat rendah memiliki tekanan osmosis


sel yang hampir sama dengan tekanan osmosis air laut. Hewan tingkat tinggi
beradaptasi dengan cara banyak minum air, pengeluaran urin sedikit, dan
pengeluaran air dengan cara osmosis melalui insang. Garam yang berlebihan
diekskresikan melalui insang secara aktif.
Ekosistem air laut dapat dibagi-bagi dalam kelompok menurut
berbagai cara, salah satu cara adalah dengan membedakan ekosistem air laut
menjadi 3 daerah lautan.

1. Lautan terbuka, mempunyai ciri khas sebagai berikut :


1. Produsen utama adalah Diatomae (alga mikroskopik
dan Dinoflagellatae).
2. Seluruh kehidupan ekosistem tergantung pada phytoplankton.
2. Kedalaman laut (laut dalam) , mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Tekanan airnya kuat.
2. Tekanan di dalam tubuh sama dengan tekanan di luar tubuh organisme.
3. Tidak terdapat produsen.
4. Umumnya , hewan berwarna hitam atau merah tua , dan mempunyai
indera penglihat yang sangat peka.
5. Hewan-hewan tersebut kadang mempunyai
kemampuan bioluminessens yang berguna untuk pemikat mangsa dan
menghindar dari serangan lawan , serta sebagai tanda pengenal.
6. Biota yang di temui binatang karang , ikan , udang dan cumi-cumi.

3. Lautan lepas pantai, dengan ciri sebagai berikut :


1. Relatif dangkal , sebagian dari daratan menjulur ke bawah air yang
menggenanginya.
2. Daerah yang tegenanh di sebut papan kontinen.
3. Lebar rata-rata papan kontinen ± 50 km.
4. Cahaya matahari dapat menembus sampai ke dasar.
5. Jarang bahkan tidak terdapat lumut dan paku- pakuan.
6. Banyak terdapat crustaceae , molusca dan cacing annelida.
2. Pantai
Pantai adalah wilayah yang menjadi batas antara daratan dan
lautan.Bentuk-bentuk pantai berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh perbedaan
proses yang ada di wilayah tersebut seperti pengikisan, pengangkutan dan
pengendapan yang disebabkan karena adanya gelombang, arus dan angin yang
berlangsung secara terus menerus sehingga membentuk daerah pantai.

Pesisir adalah wilayah antara batas pasang tertinggi hingga batas air
laut yang terendah pada saat surut. Pesisir dipengaruhi oleh gelombang air
laut. Pesisir juga merupakan zona yang menjadi tempat pengendapan hasil
pengikisan air laut dan merupakan bagian dari pantai.

Bagi kehidupan, terutama di daerah tropis pantai dapat dimanfaatkan sebagai :

1. Areal tambak garam.


2. Daerah pertanian pasang surut.
3. Wilayah perkebunan kelapa dan pisang.
4. Objek pariwisata.
5. Daerah pengembangan industri kerajinan rakyat bercorak khas daerah
pantai, dan lain-lain.
3. Estuari
Estuari (muara) merupakan tempat bersatunya sungai dengan laut.
Estuari sering dipagari oleh lempengan lumpur intertidal yang luas atau rawa
garam. Salinitas air berubah secara bertahap mulai dari daerah air tawar ke
laut. Salinitas ini juga dipengaruhi oleh siklus harian dengan pasang surut
aimya.Nutrien dari sungai memperkaya estuari.

Komunitas tumbuhan yang hidup di estuari antara lain rumput rawa


garam, ganggang, dan fitoplankton. Komunitas hewannya antara lain berbagai
cacing, kerang, kepiting, dan ikan. Bahkan ada beberapa invertebrata laut dan
ikan laut yang menjadikan estuari sebagai tempat kawin atau bermigrasi untuk
menuju habitat air tawar.Estuari juga merupakan tempat mencari makan bagi
vertebrata semi air, yaitu unggas air.

4. Terumbu Karang
Terumbu karang merupakan Ekosistem di dasar laut tropis yang
dibangun terutama oleh biota laut penghasil kapur (CaCO3) khususnya jenis--
jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di
dasar lainnya seperti jenis-jenis moluska, crustasea, echinodermata,
polikhaeta, porifera, dan tunikata serta biota-biota lain yang hidup bebas di
perairan sekitarnya, termasuk jenis-jenis plankton dan jenis-jenis nekton.

Pertumbuhan terumbu karang dibatasi oleh beberapa faktor seperti


suhu, salinitas, cahaya, kedalaman, gelombang dan arus.Fungsi dari terumbu
karang sendiri adalah untuk tempat asuhan, mencari makan, dan pemijahan
ikan.Ekosistem terumbu karang di pangandaran banyak ditemukan di pantai
sebelah barat dan timur.Pada ekosistem terumbu karang terjadi interaksi
makan-memakan hingga terbentuklah jaring makanan.

 Penggolongan Ekosistem Air Laut Berdasarkan Intensitas Cahaya Yang


Diterima
1. Daerah fotik
Daerah yang masih mendapatkan cahaya matahari.
2. Daerah twilight (disfotik)
Daerah dari kedalaman 200-2.000 m , cahaya bersifat remang-remang dan
tidak efektif , sehingga fotosintesis lebih kecil atau sama dengan respirasi.
3. Daerah Afotik
Daerah dengan kedalaman lebih dari 2.000 m, daerah ini tidak terkena cahaya
matahari dan fotosintesis tidak ada.

EKOSISTEM BINAAN MANUSIA

1. Waduk/bendungan

Suatu ekosistem buatan yang berupa bangunan penahan atau penimbun


air untuk berbagai keperluan, misalnya untuk irigasi, pembangkit listrik,
tempat rekreasi, dan sarana olahraga. Selain itu, waduk merupakan ekosistem
baru dengan substrat dasar biasanya berasal dari kebun atau sawah maupun
hutan dengan sifat geologi yang berbeda-beda. Waduk jatiluhur di Jawa Barat
contohnya. Di bawah ini adalah gambar bendungan untuk irigasi

EKOSISTEM HUTAN MANGROVE

Hutan mangrove merupakan ekosistem yang kompleks terdiri atas flora


dan fauna daerah pantai, hidup sekaligus di habitat daratan dan air laut, antara
batas air pasang dan surut. Berperan dalam melindungi garis pantai dari erosi,
gelombang laut dan angin topan. Tanaman mangrove berperan juga sebagai
buffer (perisai alam) dan menstabilkan tanah dengan menangkap dan
memerangkap endapan material dari darat yang terbawa air sungai dan yang
kemudian terbawa ke tengah laut oleh arus. Hutan mangrove tumbuh subur
dan luas di daerah delta dan aliran sungai yang besar dengan muara yang
lebar. Di pantai yang tidak ada sungainya, daerah mangrovenya sempit. Hutan
mangrove mempunyai toleransi besar terhadap kadar garam dan dapat
berkembang di daratan bersalinitas tinggi di mana tanaman biasa tidak dapat
tumbuh Pengamatan mangrove dilakukan menggunakan metoda Buckland et
al. 1993, yaitu dengan melakukan identifikasi jenis dan jumlah mangrove di
lapangan pegukuran kerapatan, tinggi vegetasi mangrove yang tergolong pada
kategori pohon (diameter batang setinggi dada > 10 cm, belta (2-5 cm) dan
anakan/semai atau seedling (< 2cm)

EKOSISTEM PADANG LAMUN

Lamun merupakan tumbuhan yang hidup diperairan yang relatif dangkal yaitu
antara 1 – 10 meter. Jenis tumbuhan ini juga tumbuh di daerah tropik dan sub-tropik.
Tumbuhan lamun biasanya tumbuh dengan membentuk suatu hamparan yang sering
disebut dengan padang lamun. Padang lamun menyerupai hamparan padang rumput
didaratan dengan berbagai organisme didalamnya. Secara ekologis, padang lamun
memiliki fungsi yang sangat potensial. Padang lamun merupakan tempat perlindungan
bagi invertebrata dan ikan kecil. Daun–daun lamun yang padat dan saling berdekatan
dapat meredam gerak arus, gelombang dan arus materi organik sehingga padang
lamun merupakan kawasan yang lebih tenang dengan produktifitas tinggi. Daun–daun
lamun juga berasosiasi dengan alga kecil yang dikenal dengan nama Epiphyte.
Epiphyte ini dapat tumbuh subur dan melekat pada tumbuhan lamun yang merupakan
makanan bagi udang–udang kecil dan beberapa jenis ikan. Di samping fungsi-fungsi
diatas, padang lamun juga merupakan tempat yang baik bagi hewan kecil untuk
berlindung dari predator. Aspek-aspek yang dilihat pada ekosistem padang lamun
masih terbatas pada penyebaran dan komposisi jenis lamun.

Permasalahan dalam ekosistem perairan

1. Dirusak oleh tangan manusia

Sebut saja, penggunaan bahan peledak dalam menangkap ikan, limbah hasil
industri, pengeboran minyak di lepas pantai, dan juga membuang sampah di sungai
yang berikibat sampah tersebut bermuara ke laut lepas.
Jelas hal tersebut selain mencemari juga merusak biota laut. Dampak dari
perusakan dan pencemaran ekosistem laut ini dapat berakibat fatal bagi kelestarian di
darat bahkan mengancam kelangsungan hidup manusia. Hal ini jelas bertentangan
Pasal 5 Ayat (1) UUPLH yang berbunyi: “Setiap orang mempunyai hak yang sama
atas lingkungan hidup yang baik dan sehat”.

2. Limbah Plastik

Bisa dikatakan Indonesia berada pada posisi yang sangat rentan terhadap
dampak dari kerusakan ekosistem laut. Pencemaran dan kerusakan ekosistem laut
perlu dikendalikan karena dengan adanya pencemaran air laut dapat mengurangi
pemanfaatan air tersebut. Jumlah limbah di Indonesia ini semakin lama kian
bertambah dan membesar. Salah satu contoh adalah sampah plastik. Di Indonesia
sampah plastik tidak hanya dijumpai di wilayah darat saja tetapi juga banyak sekali
sampah plastik yang menyebar luas ke wilayah lautan Indonesia bahkan luasnya
sudah mencapai dua pertiga dari total luas Indonesia.

Fakta yang sangat mengejutkan adalah bahwa Indonesia merupakan negara


nomor dua di dunia dengan konsumsi sampah plastik terbanyak di lautan. Ancaman
kerusakan ekosistem laut juga disebabkan oleh banyaknya pencemaran industri,
reklamasi pantai, dan pengasaman laut sebagai dampak perubahan iklim. Banyak
orang yang berpikir bahwa dengan melihat luasnya lautan kita Indonesia, maka semua
hasil buangan sampah dan sisa-sisa industri dapat di tampung oleh lautan tanpa
menimbulkan suatu akibat yang membahayakan.

Dengan makin cepatnya pertumbuhan penduduk di dunia dan makin


meningkatnya lingkungan industri mengakibatkan makin banyaknya bahan-bahan
yang bersifat racun yang di buang ke lautan dalam jumlah banyak yang menyebabkan
sulitnya mengontrol limbah-limbah yang di buang ke dalam laut tersebut. Air laut
merupakan komponen yang berinteraksi dengan lingkungan daratan, di mana buangan
limbah dari daratan akan bermuara ke laut lepas.

3. Polutan Atmosfir

Selain itu, air laut juga sebagai tempat penerimaan polutan (bahan cemar)
yang jatuh dari atmosfir. Limbah yang mengandung polutan tersebut kemudian masuk
ke dalam ekosistem perairan pantai dan laut Indonesia. Sebagian larut dalam air,
sebagian lagi tenggelam ke dasar laut dan terkonsentrasi ke sedimen. Sebagian lagi
masuk ke dalam jaringan tubuh organisme laut ( fitoplankton, ikan, cumi, udang,
cumi-cumi, kerang, rumput laut dll). Polutan tersebut mengikuti rantai makanan mulai
dari fitoplankton sampai ikan predator dan pada akhirnya sampai ke manusia.

Apabila polutan ini berada dalam jaringan tubuh organisme laut tersebut
dalam konsentrasi yang tinggi, kemudian dijadikan sebagai bahan makanan maka
akan berbahaya bagi kesehatan manusia. Karena kesehatan manusia sangat di
pengaruhi oleh makanan yang di makan, makanan yang berasal dari daerah yang
tercemar kemungkinan besar juga tercemar. Demikian juga dengan makanan laut
(seafood) yang berasal dari pantai dan laut yang tercemar juga mengandung bahan
polutan yang tinggi.

Oleh karena itu, kita sebagai warga negara yang baik beserta pemerintah
berkewajiban untuk melakukan perlindungan dan pengelolan lingkungan hidup kita
khususnya menjaga dan melindungi ekosistem laut.

Indonesia merupakan negara maritim terbesar di dunia yang memilki wilayah


perairan laut yang sangat luas dibandingkan negara-negara lain yang berada di dunia
ini.

Sumber utama pencemaran air sungai di Indonesia sebagian besar berasal dari
limbah domestik atau rumah tangga, umumnya dalam bentuk kotoran manusia,
limbah cucian piring ldan baju, kotoran hewan, dan pupuk dari perkebunan dan
peternakan.

Limbah feses dan urin berperan dalam meningkatkan kadar bakteri E. coli
dalam air. Di kota-kota besar seperti Jakarta dan Yogyakarta, kandungan E. coli di
luar batas normal tak hanya di sungai melainkan hingga ke air sumur di area tempat
tinggal penduduk.Dilansir dari Tempo, sisa hormon dari sampah bekas popok bayi
dan pembalut yang dibuang di hilir kali Karangpilang dan Gunungsari, Surabaya,
membuat sejumlah populasi likan mandul dan mengembangkan kelamin ganda
(interseks). Selain itu, akibat pencemaran sampah domestik lainnya membuat ikan-
ikan di sungai dan kali Surabaya menderita cacat fisik dan gizi buruk.

Ada banyak penyakit yang disebabkan oleh pencemaran air, dan semua orang
bisa terpengaruh. Namun bayi, anak-anak, lansia, dan wanita hamil, terutama mereka
yang memiliki sistem imun lemah, sangat rentan terhadap penyakit akibat pencemaran
air. Penyakit akibat pencemaran air, termasuk:

1. Kolera

2. Amebiasis

3. Disentri

4. Diare

5. Hepatitis A

6. Keracunan timbal

7. Malaria

8. Polio

9. Trachoma (infeksi mata)

Berikut adalah beberapa cara mengatasi pencemaran air yang dapat Anda
lakukan untuk membantu kelestarian sumber air kita dan mengambil langkah besar
untuk kelangsungan kehidupan di masa yang akan datang.

1. Tidak membuang sampah sembarangan dan selalu membuang sampah


pada tempat yang tepat.
2. Gunakan air dengan bijak.
3. Tidak membuang bahan kimia, minyak, cat dan obat-obatan ke wastafel
atau toilet untuk menghindari dampak pencemaran air.
4. Gunakan plastik yang lebih cepat terdekomposisi untuk membungkus.
Plastik semacam ini lebih ramah lingkungan dan tanah.
5. Tidak terlalu sering menggunakan pupuk dan pestisida untuk kegiatan
pertanian dan peternakan.
6. Jika kamu tinggal dekat dengan badan air, cobalah untuk menanam
banyak pohon dan bunga di sekitar rumah mu, sehingga ketika hujan,
bahan kimia dari rumah Anda tidak mudah mengalir ke dalam air.