Anda di halaman 1dari 48

BAB I

PERCOBAAN LENSA TIPIS

1.1 Tujuan Percobaan

a. Menentukan jarak titik api lensa positif.


b. Menentukan jarak titik api lensa negatif.

1.2 Landasan Teori


Salah satu cara untuk menentukan jarak titik api lensa adalah mencari besaran-besaran
pada lensa kalua kita ketahui dengan indeks bias dari bahan lensa dan jari-jari
kelengkungan
dari lensa, maka kita dapat menghitung jarak focus tersebut dengan menggunakan rumus:

I 1
=(n−1)( )+ ¿)
f R1

Dimana:
n = indeks bias jarak lensa
R1+R2 = jari-jari kelengkungan
F = jarak fokus lensa

Tetapi metode ini sering tidak mudah dilaksanakan, untuk itu kita menggunakan cara lain
yaitu dengan menggunakan penggambaran oleh lensa yang pada dasarnya menggunakan
rumus:
I 1 1
= +
f B V
Dimana:

f = Jarak fokus lensa.

B = Jarak bayangan lensa ke lensa.

V = Jarak benda ke lensa

1
Kemudian untuk lensa negatif menggunakan rumus:
1 1 1
= +
f ( X−S 1) S 2
Keterangan:
X = Jarak kedua lensa
S1 = Jarak bayangan nyata (dari lensa positif dan lensa negatif )
S2 = Jarak bayagan nyata dengan lensa negatif.
Di dalam suatu praktikum atau sebuah percobaan yang berhubungan dengan pengukuran
di sengaja atau tidak sengaja, di sadari atau tidak di sadari, pengukuran dapat menyebabkan
gangguan pada objek benda. Oleh sebab itu, baik proses atau hasil pengukuran akan selalu
mengandung ketidakpastian pengukuran atau kesalahan, sebab yang di ukur adalah sesuatu
yang sedang terganggu. Dengan kata lain, sebuah hasill ukur sekaku mengandung kesalahan
atau ketidakpastian, maka hasil ukur tidak berupa nilai tunggal melainkan berupa rentang
nilai seperti dinyatakan oleh persamaan berikut ini:

X= (X o ± ∆ D) [X]

Dengan:
x = Besaran fisis yang di ukur
( X o ± ∆ D) = Hasil ukur dan kesalahan relatif
[x] = Satuan besaran fisis x

Menghitung hasil ukur dan kesalahan relatif dapat menggunakan langkah-langkah


berikut:

1. Mencari nilai rata-rata

i=N

X=
∑ xi
i=1
N

Keterangan:
N = Jumlah
data
xi = Data ke-i
2. Simpangan terhadap nilai rata-rata
di= xi-x
̅
Keterangan:
di = Simpangan terhadap nilai rata-
rata
xi = Nilai data ke-i
x = nilai rata-rata
̅
3. Simpangan rata-rata
i=N

∆D =
∑ di
i=1
N

Keterangan:
∆D = simpangan rata-rata
N = jumlah data
Di = simpangan terhadap nilai rata-rata

Maka bentuk hasil ukur dan kesalahan relatif dapat di nyatakan dalam bentuk x = (x
±
∆D
∆D) dengan Rn= ×100 % .Setelah mengetahui kesalahan relatifnya kita dapat
X
menggunakan aturan yang telah disepakati untuk mencari banyaknya angka yang
boleh disertakan dalam laporan hasil pengukuran berulang. Aturan angka yang dapat
dilaporkan dalam penkuruan berulang adalah sebagai berikut:

 Kesalahan relatif 10% berhak atas dua angka di belakang koma.


 Kesalahan relatif 1% berhak atas tiga angka di belakang koma.
 Kesalahan relatif 0,1% berhak atas empat angka di belakang koma.
1.3 Alat – Alat.
a. Dua buah lensa negatif (-) dan positif (+).

Gambar 1.1 Lensa negatif dan Lensa positif.

b. Gambar anak panah sebagai benda.

Gambar 1.2 Anak panah sebagai benda.

c. Lampu sebagai sumber cahaya.

Gambar 1.3 Senter


(sumber: https://id.pngtree.com/freepng/flashlight -icon-in-
cartoon-
style_5097083.html)

d. Layar lengkap dengan kertas millimeter.

Gambar 1.4 Layar kosong dengan kertas millimeter.

e. Bangku optic beserta statip.

Gambar 1.5 Bangku optic beserta statip.


1.4 Jalannya Percobaan

1. Menggunakan jarak fokus lensa positif dengan menggunakan rumus:

I 1 1
= +
f B V

a. Letakkan benda dan lensa positif pada kedudukan tertentu catat kedudukan ini.
b. Layar digeser sehingga memperoleh bayangan yang paling jelas bayangan ini.
diperoleh dengan menggeser layar dari pihak kiri ke kanan.
c. Catat kedudukan dari benda.
d. Letakkan 1 sampai dengan 3 untuk kedudukan yang berbeda sesuai dengan petunjuk
asistensi.
2. Menentukan jarak fokus lensa negatif:
a. Dengan menggunakan lensa positif. Dibuat bayangan yang nyata dan jelas.
b. Kedudukan bayangan ini dicatat, diusahakan agar bayangan tidak terlalu
besar. c. Letakkan lensa negative diantara layar, dan kedudukan lensa negative
dicatat.
d. Layar digeser sehingga memperoleh bayangan yang nyata dan jelas kedudukan
layar dan jarak kedua lensa berbeda.
e. Lakukan poin 3 dan 4 untuk kedudukan lensa negative yang berbeda.
f. Dengan data tersebut, maka dapat dihitung dengan jarak titik api lensa negatif yaitu:

I I I
= +
f ( X−S 1) S 2

Dimana:

X = Jarak kedua lensa.

S1 = Jarak bayangan nyata. (dari lensa positif dan lensa negatif).

S2 = Jarak bayangan nyata dengan lensa negatif


1.5 Data Hasil Percobaan

A. Lensa Positif

N V (CM) B (CM)
O
1. 12,1 16
2. 7,3 14,8
3. 15 11,2
4. 12 19,5
5. 36,1 14,6
6. 12,5 12,5
7. 5 4,5
8. 13 6,7
9. 12,3 13,4
10. 9,4 25,9
Tabel 1.1 Data Lensa Positif

B. Lensa Negatif

NO X (CM) S1 (CM) S2 (CM)


1 11,2 19,8 8,6
2 12,5 19,9 7,4
3 11,3 20,3 9
4 9,4 11,8 2,4
5 15,4 24,2 8,8
6 11,7 23,9 12,2
7 10,5 19,5 9
8 13 26,5 13,5
9 12,6 19,6 7
10 4,5 11,4 6,9

Tabel 1.2 Data Lensa Negatif.


1.6 Perhitungan Data Lensa Positif

Mencari nilai v d a n ∆ v

NO V V V-V
(CM) (CM) (CM)
1. 12,1 134,7 `122,6
2. 7,3 134,7 127,4
3. 15 134,7 119,7
4. 12 134,7 122,7
5. 36,1 134,7 98,6
6. 12,5 134,7 122,2
7. 5 134,7 129,7
8. 13 134,7 121,7
9. 12,3 134,7 122,4
10 9,4 134,7 125,3
JUMLAH 134,7 134,7 1.212,3

∑ v 134,7
V= = =13,47 cm
n 10
∑ ( v−v ) 1.212,3
∆v= = =121,23 cm
n 10

Mencari nilai B dan V

NO B B B-B
CM) (CM) (CM)
1. 16 148,1 132,1
2. 14,8 148,1 133,3
3. 11,2 148,1 136,9
4. 19,5 148,1 128,6
5. 14,6 148,1 133,5
6. 12,5 148,1 135,6
7. 4,5 148,1 143,6
8. 6,7 148,1 141,4
9. 13,4 148,1 134,7
10 25,9 148,1 122,2
JUMLAH 148,1 148,1 1.341,9

Tabel 1.4 Hasil Perhitungan Jarak Bayangan Lensa Ke Lensa Positif.

∑ B 148,1
B= = =14,81 cm
n 10

∑ ( B−B ) 1.341,9
V= = =134,19 CM
n 10
Rumus untuk mencari titik focus
1 1 1 V +B
= + =
f f B V .B
V . B 134,7 ×14,81
f= = =13,34 cm
V + B 134,7+14,81
∆ f ∆Ṽ ∆ B ∆ Ṽ +∆ B
= + +
f Ṽ B Ṽ +B
1.212,3 134,19 1.212,3+134,9
= + +
134,7 14,81 134,7+14,81
= 9 + 9,06 + 9,01
= 27,07cm
∆f
∆ f =f .
f
=13,34×27,07
=361,11cm
Menentukan kesalahan relative (Rn)
Rn = 27,07 × 100% = 27,07%
F = (F ± ∆F) cm
= (13,34 ± 27,07) cm dengan Rn = 27,07%

1.7 perhitungan data lensa negative


mencari nilai X dan ∆X

X (cm) X (X –X ̅ )
No (cm)
(cm)
1 11,2 121,1 109,9
2 12,5 121,1 108,6
3 11,3 121,1 109,8
4 9,4 121,1 111,7
5 15,4 121,1 105,7
6 11,7 121,1 109,4
7 10,5 121,1 110,6
8 13 121,1 108,1
9 12,6 121,1 108,5
10 4,5 121,1 116,6
∑ 121,1 121,1 1.098,9

Tabel 1.5 Hasil Perhitungan Jarak Kedua Lensa.

∑ X 121,1
X= = =¿12,11cm
n 10
∑ ( X− X ) 1.098,9
∆X = = =109,89 cm
n 10

̅
Mencari nilai S1 dan ∆S1
NO S1 S1 S1-S1
(CM) (CM) (CM)
1. 19,8 196,8 177
2. 19,9 196,8 176,9
3. 20,3 196,8 176,5
4. 11,8 196,8 185
5. 24,2 196,8 172,6
6. 23,9 196,8 172,9
7. 19,5 196,8 177,3
8. 26,5 196,8 170,3
9. 19,5 196,8 177,3
10. 11,4 196,8 185,4
∑ 196,8 196,8 1.771,2

Tabel 1.6 Hasil Perhitungan Jarak Bayangan Nyata dengan Lensa Positif.

∑ S 1 196,8
S1 = = = 19,68cm
n 10
∑( S 1−S 1) 1.771,2
∆X = = =177,12 cm
n 10

Mencari nilai S2 dan ∆S2


NO S2 S2 S2-S2
(CM) (CM) (CM)
1. 8,6 84,8 76,2
2. 7,4 84,8 77,4
3. 9 84,8 75,8
4. 2,4 84,8 82,4
5. 8,8 84,8 76
6. 12,2 84,8 72,6
7. 9 84,8 75,8
8. 13,5 84,8 71,3
9. 7 84,8 77,8
10. 6,9 84,8 77,9
∑ 84,8 84,8 763,2

Tabel 1.7 Hasil Perhitungan Jarak Bayangan Nyata dengan Lensa Negatif

∑ S 2 84,8
S2 = = =8,48 cm
n 10
∑ ( S 2−S 2 ) 763,2
∆X = = =76,32 cm
n 10
Rumus untuk mencari titik focus

1 1 1 ( X −S 1 )+ S 2
= + =
f ( X−S 1) S 2 ( X −S 1 ) . S 2
( X−S 1 ) . S 2 ( 121,1−19,68 ) .8,48 860,04
F= = = =7,82 cm
( X−S 1 ) + S 2 ( 121,1−19,68 )+ 8,48 109,9
∆ F ∆ ( X−S 1 ) ∆ ( S 2 ) ∆ ( S 2+ X −S 1 )
= + +
F ( X −S 1 ) S2 ( S 2+ X −S 1 )
121,23 76,32 9,09
= + +
101,42 8,48 9,1
=11,18cm
∆f
∆f = f .
f
= 7,82×11,18
= 84,42cm
∆f
Rn = ×100 %=11,18 × 100 %=11,18 %
f
F = (F ± ∆F) cm
F = (7,82 ± 11,18) cm dengan Rn = 11,18%

1.8 Kesimpulan
1. Dari percobaan lensa positif dihasilkan :
F = (13,34 ± 27,07) cm dengan Rn = 27,07% Rn = 27,07% menunjukan angka koreksi atau
angka ketidak pastian sebesar 4,8% (kesalahan yang terjadi sebesar 0,048). Jadi Rn 0,048
(memenuhi syarat). Dan didapatkan nilai 361,11cm.
2. Dari percobaan lensa negatif dihasilkan :
F = (7,82 ± 11,18) cm dengan Rn = 11,18%. Rn = 11,18% menunjukan angka koreksi atau
angka ketidak pastian sebesar 1,6% (kesalahan yang terjadi sebesar 11,18). Jadi Rn 11,18
(memenuhi syarat). Dan didapatkan nilai 84,42 cm.
15
5 64,20 64,64 0,44
Jumlah 322,7 322,7 4,34
Rata-Rata 64,64 64,64 0,868

V1
V1= = = 64,64 cm/s
n

V 1 V
1
V1 = = = 0,868 cm/s
n

 V1
Rn = 100% = = 1,34%
V1

V1 = V 1 V1 = 0,868 64,64| cm/s


15. Hasil Pengukuran Kecepatan Bola Kecil dalam Oli SAE 50
Tabel 4.15 Hasil Pengukuran Kecepatan Bola Kecil dalam Oli SAE 50

N0 V1 (cm/s) V1 (cm/s) |V1 - V1| (cm/s)


1 100,80 109,38 8,58
2 112,10 109,38 2,72
3 100,80 109,38 8,58
4 113,20 109,38 3,82
5 120,00 109,38 10,62
Jumlah 546,10 546,10 34,32
Rata-Rata 109,38 109,38 6,864

V1
V1= = = 109,38 cm/s
n

V 1 V
1
V1 = = = 6,864 cm/s
n

 V1
Rn = 100% = = 6,27%
V1

V1 = V 1 V1 = 6,684 109,38| cm/s


4.11 Analisa Perhitungan
Perhitungan Untuk Percobaan Bola Besardan Kecil pada Oli SAE 40

1. Perhitungan Untuk Percobaan Bola Besar pada Oli SAE 40


Diketahui:
r (jari – jari bola besar) = 1,11 cm
t (waktu bola besar pada oli SAE 50) = 1,45 s
m (massa bola besar) = 45 gr
3
o (rapat masa di SAE 40) = 40 gr/cm
3
 (rapat masa bola besar) = 7,859 gr/cm
S (jarak) = 120 cm
2
g (gravitasi) = 9.8 m/s
R (jari-jari tabung) = 1,125 cm
Volume
4 3 4
V=  r = (3,14) (1,11)3 = 5,72 cm3
3 3

  3
V = 3 V=3 = 0 cm
r
r

V 1
Rn = 100% = = 0%
V1

3
V =  V V = 5,72 0 cm
Rapat Bola Besar
m
= = = 7.86 gr/cm
3
V

3
 = ( )=( ) = 0 gr/cm

3
 =    = 7,86  0 gr/cm

Viscositas zat cair oli SAE 40


2
2 r gt
( -  ) 1  2,4r 
o
 =
9s2  R 
( )( ) ( )( ) [( )(
= ) ] ( )( ) ( )(
= -370,828

2r  t
+  r  R 
| |
 = + +| |
2.4
r t  r R 

=2 ( )( )

= 0.106 poise

  1
Rn = 100% = = -0,0285%

=   = -370,828  0,106| poise


2. Perhitungan Untuk Percobaan Bola Kecil pada Oli SAE 40
Diketahui:

r (jari – jari bola kecil) = 0,79 cm


t (waktu bola kecil pada oli SAE 50) = 0,92 s
m (massa bola kecil) = 8 gr
3
o (rapat masa di SAE 40) = 40 gr/cm
3
 (rapat masa bola Kecil) = 3,875 gr/cm
S (jarak) = 120 cm
2
g (gravitasi) = 9.8 m/s
R (jari-jari tabung) = 1.125 cm
Volume
4 3 4
V=  r = (3.14) (0,79)3 = 3,307 cm3
3 3

  3
V = 3 V=3 = 0 cm
r
r

V 1
Rn = 100% = = 0%
V1

3
V =  V V = 3,307  0 cm
Rapat Bola Kecil
m
= = = 2,419 gr/cm
3
V

3
 = ( )=( ) = 0 gr/cm

3
 =    = 2,419  0 gr/cm

Viscositas zat cair oli SAE 40


2
2 r gt
( -  ) 1  2,4r 
o
 =
9s2  R 
( )( ) ( )( ) [( )(
= ) ] ( )( ) ( )(
= -106,359

2r  t
+ 2.4  r  R 
|
 = + +
|
| |
r t  r R 

( )( )
= ( )( )

= 0.167 poise

  1
Rn = 100% = = -0,157%

=   = -106,359  0,167| poise


Perhitungan Untuk Percobaan Bola Besardan Kecil pada Oli SAE 50

1. Perhitungan Untuk Percobaan Bola Besar pada Oli SAE 50


Diketahui:
r (jari – jari bola besar) = 1,11 cm
t (waktu bola besar pada oli SAE 40) = 1,86 s
m (massa bola besar) = 45 gr
3
o (rapat masa di SAE 50) = 50 gr/cm
3
 (rapat masa bola besar) = 7,859 gr/cm
S (jarak) = 120 cm
2
g (gravitasi) = 9.8 m/s
R (jari-jari tabung) = 1,125 cm
Volume
4 3 4 3 3
V=  r = (3.14) (1,11) = 5,72 cm
3 3

  3
V = 3
r V=3 = 0 cm
r

V 1
Rn = 100% = = 0%
V1

3
V =  V V = 5,72 0 cm
Rapat Bola Besar
m
= = = 7,86 gr/cm
3
V

3
 = ( )=( ) = 0 gr/cm

 =    = 7,86  0 gr/cm3

Viscositas zat cair oli SAE 50


2
2 r gt
( -  ) 1  2,4r 
o
 =
9s2  R 
( )( ) ( )( ) [( )(
= )] ( )( ) ( )(
= -475,672 poise

2r  t
+ 2.4  r  R 
|
 = + +
|
| |
r t  r R 

( )( )
= ( )( )

= 0,0827 poise

  1
Rn = 100% = = -0.0173%

=   =  -475,672  0,0827 | poise


2. Perhitungan Untuk Percobaan Bola Kecil pada Oli SAE 50
Diketahui:
r (jari – jari bola kecil) = 0,79 cm
t (waktu bola kecil pada oli SAE 40) = 1,102 s
m (massa bola kecil) = 8 gr
3
o (rapat masa di SAE 50) = 50 gr/cm
3
 (rapat masa bola Kecil) = 3,875 gr/cm
S (jarak) = 120 cm
2
g (gravitasi) = 9.8 m/s
R (jari-jari tabung) = 1,125 cm

Volume
4 3 4
V=  r = (3,14) (0,79)3 = 3,307 cm3
3 3
3
V = 3  V = 3 = 0 cm

r
r
V 1
Rn = 100% = = 0%
V1
3
V =  V V = 3,307  0 cm

Rapat Bola Kecil


m
= = = 2,419 gr/cm
3
V
3
 = ( )=( ) = 0 gr/cm
3
 =    = 2,419  0 gr/cm

Viscositas zat cair oli SAE 50


2 r2 gt
( -  ) 1  2,4r 
o
 =
9s2  R 
( )( ) ( )( ) [( )(
= ) ] ( )( ) ( )(
= -127,399 poise

2r  t
+ 2.4  r  R 
|
 = + +
|
| |
r t  r R 

( )( )
= ( )( )

= 0.139 poise

  1
Rn = 100% = = -0,109%

=   = -127,399  0.139| poise


4.12 Kesimpulan
Dari percobaan menentukan koefisien viscositas zat cair seperti diatas, dapat
diketahui bahwa:

1. Semakin kental suatu fluida maka semakin besar pula pengaruh terhadap penurunan
kecepatan bola yang jauh didalamnya.
2. Semakin besar massa bola yang dijatuhkan kedalam fluida maka semakin besar pula
kecepatan bola tersebut.
3. Semakin kecil diameter bola yang dijatuhkan kedalam fluida, maka semakin besar
pula kecepatan bola tersebut.

Dari hasil analisa perhitungan, maka kesimpulan data yang didapat adalah :

1. Viscositas Zat Cair Bola Besar padaOli SAE 40


=   = -370,828  0,106| poise
2. Viscositas Zat Cair Bola Kecil pada Oli SAE 40
=   = -106,359  0,167| poise
3. Viscositas Zat Cair Bola Besar pada Oli SAE 50
=   =  -475,672  0,0827 | poise
4. Viscositas Zat Cair Bola Kecil pada Oli SAE 50
=   = -127,399  0.139| poise
BAB V
HUKUM KIRCHOFF
5.1 Tujuan Percobaan
1. Memahami teori kirchoff
2. Menggunakan teori tersebut

5.2 Dasar Teori


1. Hukum arus kirchoff (HAK) jumlah aljabar semua arus yang mengatur masuk kesuatu
cabang = 0.
2. Hukum kirchioff (HTK) jumlah aljabar GGL dalam suatu untaian tertutup = jumlah
aljabar hasil kali arus dengan tahanan.

5.3 Alat – Alat


1. Power Supply

Gambar 5.1 Power Supply


2. Sumber arus

Gambar 5.2 Sumber arus listrik (stop kontak)


3. Multimeter

Gambar 5.3 Multimeter

4. Rangkaian Arus

Gambar 5.4 Rangkaian listrik


5.4 Pelaksanan Percobaan
1. Buatlah untaian listrik seperti gambar 1,dan saklar dalam posisi terbuka.
2. Setelah diperiksa asisten saklat ditutup.atutran “E” pada tegangan 10; 12; 14; 16; 18.
3. Jangan lupa mengukur tegangan pada ujung-ujung millimeter.
4. Kesemua dilakukan pada tegangan yang berbeda misalnya “E” = 4,39; 5,33; 6,27; 7,20;
8,06.
5. Ulangi percobaan tersebut sesuai dengan petunjuk.
6. Bandingkan hasil-hasil yang diamati dengan teori

5.5 Data Percobaan Hukum Kirchoff


Vsumber berdasarkan pengukuran (VIN):
VIN (1) = 10 V VIN (3) = 14 V VIN (5) = 18 V
VIN (2) = 12 V VIN (4) = 16 V

Beda potensial (V₁) berdasarkan pengukuran:

V1 (1) = 4,39 V V₁ (3) = 6,27 V V₁ (5) = 8,06 V


V1 (2) = 5,33 V V1 (4) = 7,20 V

Beda potensial (V2) berdasarkan pengukuran:

V2 (1) = 5,39 V V₁ (3) = 7,59 V V2 (5) = 9,76 V


V2 (2) = 6,54 V V2 (4) = 7,38 V

R(paralel) =

= 0.001+0.0045+0.0030

= 117,65 Ώ
5.6 Data Hasil Percobaan
No. VIN
1 10 4,39 5,39 46,1 5,42 24,64 16,44

2 12 5,33 6,54 55,1 6,59 29,83 19,88

3 14 6,27 7,59 64,5 7,70 34,98 23,35

4 16 7,20 8,66 73,8 8,79 40,1 26,73

5 18 8,06 9,76 83,1 9,96 45,3 30,09

Analisa Arus Tegangan


Vsumber 1 = 10 V
VR1 = IA1 × R1 = 0,0461 × 100 Ω = 4,61 V

VR2 = I1 × R 2 = 0,00542 × 1000 Ω = 5,42 V


VR3 = I2 × R 3 = 0,02464 × 220 Ω = 5,4208 V

VR4 = I3 × R 4 = 0,01644× 330 Ω = 5,4252 V

Vsumber 2 = 12 V
VR1 = IA1 × R1 = 0,0551 × 100 Ω = 5,51 V
VR2 = I1 × R 2 = 0,00659× 1000 Ω = 6,59 V
VR3 = I2 × R 3 = 0,02983 × 220 Ω = 6,5626 V

VR4 = I3 × R 4 = 0,01988 × 330 Ω = 6,5604 V

Vsumber 3 = 14 V
VR1 = IA1 × R1 = 0,0645× 100 Ω = 6,45 V
VR2 = I1 × R 2 = 0,0077 × 1000 Ω = 7,7 V
VR3 = I2 × R 3 = 0,03498 × 220 Ω = 7,6956 V

VR4 = I3 × R 4 = 0,02335 × 330 Ω = 7,7055 V


Vsumber 4 = 16 V
VR1 = IA1 × R1 = 0,0738 × 100 Ω = 7,38 V

VR2 = I1 × R 2 = 0,00879 × 1000 Ω = 8,79 V


VR3 = I2 × R 3 = 0,0401× 220 Ω = 8,822 V
VR4 = I3 × R 4 = 0,02673× 330 Ω = 8,8209 V

Vsumber 5 = 18 V
VR1 = IA1 × R1 = 0,0831 × 100 Ω = 8,31 V

VR2 = I1 × R 2 = 0,00996 × 1000 Ω = 9,96 V


VR3 = I2 × R 3 = 0,0453 × 220Ω = 9,966 V
VR4 = I3 × R 4 = 0,03009× 330 Ω = 9,9297 V

Tabel Hasil Perhitungan


No. VIN
1 10 4,39 5,39 46,1 5,42 24,64 16,44 4,39 5,39 5,39 5,39

2 12 5,33 6,54 55,1 6,59 29,83 19,88 5,33 6,54 6,54 6,54

3 14 6,27 7,59 64,5 7,70 34,98 23,35 6,27 7,59 7,59 7,59

4 16 7,20 8,66 73,8 8,79 40,1 26,73 7,20 8,66 8,66 8,66

5 18 8,06 9,76 83,1 9,96 45,3 30,09 8,06 9,76 9,76 9,76
Data Hasil Perhitungan

 Tahapan (R) Berdasarkan Pengukuran


R₁ = 100 Ω; R₂ = 1000 Ω; R₃ = 220 Ω; R₄ = 330 Ω
 =( ( ))
 ( ( ))

Tabel Data Perhitungan
Hasil Percobaan
No.
V₁ V₂ Vtot

1 10 4,39 5,39 9,78

2 12 5,33 6,54 11,87

3 14 6,27 7,59 13,86

4 16 7,20 8,66 15,86

5 18 8,06 9,76 17,82

 =( ( ))
= (100 : ( 100 + 117,65 )) x 10 = 4,59 V

= (100 : ( 100 + 117,65 )) x 12 = 5,51 V

= (100 : ( 100 + 117,65 )) x 14 = 6,43 V

= (100 : ( 100 + 117,65 )) x 16 = 7,35 V

= (100 : ( 100 + 117,65)) x 18 = 8,27 V

 =( ( ))
= (117,65 : ( 100 + 117,65 )) x 10 = 5,41 V

= (117,65 : ( 100 + 117,65 )) x 12 = 6,49 V

= (117,65 : ( 100 + 117,65 )) x 14 = 7,57 V

= (117,65 : ( 100 + 117,65 )) x 16 = 8,65 V

= (117,65 : ( 100 + 117,65 )) x 18 = 9,73 V



= 4,59 + 5,41 = 10 V
= 5,51 + 6,49 = 12 V
= 6,43 + 7,57 = 14 V
= 7,35 + 8,65 = 16 V
= 8,27 + 9,73 = 18 V

Tabel Hasil Perhitungan


Hasil Percobaan Hasil Perhitungan
No.
V₁ V₂ Vtot

1 10 4,39 5,39 9,78 4,59 5,41

2 12 5,33 6,54 11,87 5,51 6,49

3 14 6,27 7,59 13,86 6,43 7,57

4 16 7,20 8,66 15,86 7,35 8,65

5 18 8,06 9,76 17,82 8,27 9,73

 Standar Deviasi
1. Nilai Rata-rata

Keterangan:

A = Nilai hasil percobaan


B = Nilai hasil perbandingan

2. Deviasi Rata-rata
( ) ( )

( ) ( )

( ) ( )

( ) ( )
3. Standart Deviasi (SD)
SD = ( )

Untuk :
Nilai rata-rata

Deviasi rata-rata :

( ) ( )


( ) ( )


( ) ( )


( ) ( )


( ) ( )
Standar Deviasi

( ) ( )

( ) ( )

( ) ( )

( ) ( )

( ) ( )

Untuk :

Nilai rata-rata


Deviasi rata-rata :

( ) ( )


( ) ( )


( ) ( )


( ) ( )


( ) ( )

Standar Deviasi

( ) ( )

( ) ( )

( ) ( )

( ) ( )

( ) ( )
Untuk :

Nilai rata-rata

Deviasi rata-rata :

( ) ( )


( ) ( )


( ) ( )


( ) ( )


( ) ( )
Standar Deviasi

( ) ( )

( ) ( )

( ) ( )

( ) ( )

( ) ( )

No. ( ) ( ) ( )

1 10 4,39 0 5,4 0 9,78 0 (4,39± 0) (5,4± 0) (9,89± 0)

2 12 5,42 0 6,52 0,005 11,87 0,005 (5,42± 0) (6,52± 0,005) (11,94± 0,005)

3 14 6,35 0 7,58 0 13,86 0 (6,35± 0) (7,58± 0) (13,93± 0)

4 16 7,28 0,005 8,66 0,005 15,86 0 (7,28±0,005) (8,66± 0,005) (15,93± 0)

5 18 8,17 0,005 9,75 0,005 17,82 0 (8,17±0,005) (9,75±0,005) (17,91± 0)


5.7 Kesimpulan
1. Dari analisa data percobaan diatas ada perbedaan antara hasil uji coba alat dengan
hasil analisa perhitungan, hal tersebut dikarenakan adanya kendala baik itu dari
alat yang digunakan saat percobaan yang ketika panas Vin bisa berubah dan juga
disebabkan dari faktor lingkungan maupun dari manusia itu sendiri.
2. Berdasarkan pecobaan yang telah di lakukan jumlah I total sama dengan jumlah arus
yang mengalir pada rangkaian parallel R2, R3, R4. Itotal (IA1) = I1 + I2 + I3.
3. Pada rangkaian tegangan total (Vs) sama dengan jumlah tenaga (V2) yang sama Vtotal
= V1 + V2 dari hasil percobaan terbukti bahwa Vs = V1 + V2.
4. Pada table standart deviasi menunjukkan bahwa besarnya hasil perhitungan dan hasil
percobaan  Vmin= 0 V dan  Vmax= 0,005 V.
BAB VI
HUKUM OHM
6.1 Tujuan Percobaan
1. Mengukur hambatan listrik.
2. Menetukan besar hambatan listrik suatu resistor dari rangkaian listrik dengan banuan
hukum ohm.
3. Menghitung panas disipasi pada suatu resistor dari rangkaian listrik dengan bantuan
hokum ohm.
6.2 Alat dan Bahan
1. Sumber daya AC/DC.

Gambar 6.1 Sumber daya AC/DC

2. KIT Pratikum

Gambar 6.2 KIT praktikum


3. Lampu

Gambar 6.3 Lampu


4. Kabel Jumrer

Gambar 6.4 Kabel jumrer


6.3 Dasar Teori
Bila suatu penghantar diberikan potensial yang berbeda diantara kedua ujungnya,
maka dalam penghantar itu akan timbul arus listrik. Besarnya kuat arus yang melewati
penghantar ini tergantung pada besarnya kuat medan listrik (E) sedangkan sifat hantaran
bahan dinyatakan dengan hambatan jenis (P). hambatan jenis ini didefinisikan
sebagai
perbandingan kuat medan (E) de€n rapat arus (J) :

Jika panjang penghantar I dengan beda potensial diantara kedua ujungnya adalah
V ab, dan besar kuat medannya E maka :

Maka diperoleh :

Selanjutnya (P I / A) inilah yang disebut sebagai hambatan (resistansi / R) dari suatu


penghantar, sehingga persamaan menjadi :

Untuk mengukur besar hambatan ini bias menggunakan voltmeter dan amperemeter.
Akibat aliran arus listrik dalam penghantar tersebut menimbulkan panas disipasi yang
besarnya sebandingdengan daya listrik yang diberikan setiap detiknya.
2
W = P.t = I .R.T
Dimana P adalah energy kalor yang diubah dari energy listrik R hambatan kawat dan I
lamanya arus listrik melewati penghantar.
6.4 Cara Percobaan
1. Susunlah rangkaian listrik.
2. Lakukan kalibrasi amperemeter dan voltmeter terhadap sumber arus / tegangan.
3. Dengan mengukur besar sumber arus, berturut turut naikkan tegangan-tegangan
minimum sampai dengan tegangan maksimum.
4. Catat besar arus dan tegangan setiap terjadi perubahan sumber arus, setelah mencapai
tegangan maksimum catat pula waktu yang diperlukan.
5. Tentukan hambatan pengganti dari masing-masing rangkaian pada setiap ercobaan.
6. Analisa perbedaan antara rangkaian.
7. Simpulkan hasil percobaan yang anda peroleh dengan teori.
6.5 Data Percobaan
Tabel 6.1 Hasil Percobaan
No. P (Watt) V (Volt) I (mA)

1 3 220 63

2 5 220 56

3 5 230 80

4 25 230 94

5 25 220 102

Penyelesaian :
1. Diketahui : Vin = 240V
I = 63mA = 0,063A
Ditanyakan : R = ?
Dijawab :

= 3.809 Ω

2. Diketahui : Vin = 240V


I = 56mA = 0,056 A
Ditanyakan : R = ?
Dijawab :

= 4.285,7 Ω
3. Diketahui : Vin = 240V
I = 80mA = 0,080 A
Ditanyakan : R = ?
Dijawab :

= 3.000 Ω

4. Diketahui : Vin = 240V


I = 94mA = 0,094 A
Ditanyakan : R = ?
Dijawab :

= 2.553,2 Ω

5. Diketahui : Vin = 240 V


I = 102 mA = 0,102 A
Ditanyakan : R = ?

Dijawab :

= 2.352,9 Ω
Tabel 6.2 Hasil Perhitungan

No. P (Watt) V (Volt) I (mA) R (Ω)


3 240 63 3.809
1
5 240 56 4.285,7
2
5 240 80 3.000
3
25 240 94 2.553,2
4
25 240 102 2.352,9
5

6.6 Analisa Perhitungan


V P
No P(Watt) (Volt) I (mA) R (Ω) (Baru)

1 3 240 63 3.809 15.11

2 5 240 56 4285.7 13.44

3 5 240 80 3000 19.2

4 25 240 94 2553.2 22.56

5 25 240 102 2352.9 26.35

Penyelesaian :
2
1. P baru = I x R
2
= 0,063 x 3.809
= 15.11

2
2. P baru = I x R
2
= 0,056 x 4.285,7

= 13,44

2
3. P baru = I x R
2
= 0,080 x 3.000
= 19,2
2
4. P baru = I x R
2
= 0,094 x 2.553,2

= 22.56

2
5. P baru = I x R
= 0,102 x 2.352,9
= 26,35
6.7 Kesimpulan
1. Hukum ohm mengatakan bahwa tegangan pada terminal penghantar berbanding lurus
terhadap arus yang mengalir melalui material dan berbanding terbalik dengan nilai
tahanannya.
2. Nilai tegangan dan arus yang menghasilkan dari percobaan selalu mendekati nilai
tegangan dan arus yang di hasilkan dari teori.
3. Dari hasil percobaan data yang di peroleh tidak sama dengan data teori, ini
dikarenakan banyak faktor, antara lain tegangan pada lampu yang sudah lama menjadi
bekurang, ketidak akuratan saat membaca nilai pada voltmeter , ampermeter,dan lampu
yang sudah lama.

Tabel data percobaan :

No. P (Watt) V (Volt) I (mA) R (Ω)


3 240 63 3.809
1
5 240 56 4.285,7
2
5 240 80 3.000
3
25 240 94 2.553,2
4
25 240 102 2.352,9
5

Tabel data teori :

V P
No P(Watt) (Volt) I (mA) R (Ω) (Baru)

1 3 240 63 3.809 15.11

2 5 240 56 4285.7 13.44

3 5 240 80 3000 19.2

4 25 240 94 2553.2 22.56

5 25 240 102 2352.9 26.35

Anda mungkin juga menyukai