Anda di halaman 1dari 17

PEMODELAN DAN PERATINGAN

CORPORATE GOVERNANCE DI INDONESIA


Oleh: Tim – Center for Good Corporate Governance (CGCG) FEB UGM

I. LATAR BELAKANG
Corporate governance (CG) telah menjadi salah satu frasa yang banyak digunakan dalam kosa kata
bisnis global saat ini. Kasus kehancuran Enron di tahun 2001 semakin menarik perhatian internasional
terhadap peran penting CG untuk mencegah kegagalan perusahaan. Banyak negara di dunia, termasuk di
Asia (Wallace and Zinkin 2005), telah mendorong program-program reformasi CG yang ditunjukkan
dengan berkembangnya peraturan serta kebijakan CG yang dihasilkan.
Arti penting CG diprediksi semakin meningkat di masa datang seiring dengan kompleksitas
perusahaan dan dinamika globalisasi. Di Indonesia, CG bukan lagi dilihat sebagai asesoris semata tetapi
diterapkan sebagai suatu sistem nilai dan best practices yang fundamental (Arafat dan Waluyo, 2008).
Pemerintah melalui Surat Keputusan Menteri Negara BUMN No. 117/2002 tentang penerapan CG di
badan usaha milik negara (BUMN) berupaya untuk mengimplementasikan good corporate governance
(GCG). Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) juga dibentuk untuk menyiapkan rerangka
dasar pelaksanaan GCG. Pada tahun 2006 KNKG menerbitkan Pedoman Umum Good Corporate
Governance Indonesia “untuk mendorong terciptanya iklim usaha yang sehat di Indonesia dan menjadi
bagian dari upaya penegakan good governance yang sedang dilaksanakan oleh Pemerintah.” (Boediono
selaku Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia dalam KNKG 2006, hal. i). Masih
banyak lembaga maupun asosiasi yang juga terlibat aktif dalam pengembangan CG di Indonesia (lihat
Institute on Directors 2005).
Berbagai model CG dikembangkan di banyak lembaga dan negara. Model-model CG yang
dikembangkan lazimnya disesuaikan dengan kondisi dimana perusahaan tersebut berdomisili. Demikian
pula, banyak lembaga mengembangkan model peratingan CG (Solomon 2007; Rezaee 2007). Oleh karena
itu banyak ahli berpendapat bahwa model CG bervariasi antar industri maupun negara (Luo 2007).
Namun demikian, usaha-usaha untuk mengembangkan model CG yang dapat mengkonvergensi banyak
kepentingan selalu diusahakan (O’Brien 2005; Rezaee 2007). Konvergensi model CG seharusnya selalu
didukung karena konvergensi dapat membantu penciptaan CG yang universal dan mudah
diimplementasikan oleh banyak perusahaan. Sebagai analogi, International Accounting Standard Boards
(IASB) dan Financial Accounting Standard Boards (FASB) sejak beberapa tahun ini bekerjasama melalui

1
pembentukan Joint Program dalam rangka mengkonvergensikan rerangka konseptual pelaporan
keuangan.
Meskipun banyak pihak terlibat dalam pengembangan CG, sebagian besar riset menunjukkan
bahwa kualitas CG perusahaan-perusahaan Indonesia relatif rendah (Institute of Directors 2005). Center
for Good Corporate Governance (CGCG) Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada yang
memperoleh Program Hibah Kompetitif (PHK B) dari Departemen Pendidikan Nasional merasa perlu
untuk berperan serta meningkatkan kualitas CG di perusahaan-perusahaan Indonesia. Salah satu tujuan
pembentukan CGCG ini adalah mengembangkan model CG sekaligus model peratingan CG yang setidak-
tidaknya dapat diaplikasikan untuk perusahaan-perusahaan di Indonesia.

II. RUMUSAN MASALAH


Sebagai bentuk kepedulian dan berbagi (care and share) dari dunia akademik terhadap
pengembangan CG, Center for Good Corporate Governance Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas
Gadjah Mada (selanjutnya dituliskan CGCG atau UGM) berupaya mengembangkan model CG yang
diharapkan bersifat universal dalam rangka mendukung konvergensi model CG secara internasional.
Selanjutnya, CGCG juga berupaya mengembangkan model peratingan CG yang dapat digunakan untuk
merating kualitas CG perusahaan-perusahaan, terutama perusahaan-perusahaan yang telah terdaftar di
pasar modal Indonesia, secara cost effective. Salah satu hasil model peratingan CG UGM ini diharapkan
merupakan model peratingan CG yang dapat dilakukan sendiri (self-assessment) oleh perusahaan.
Demikian pula, model peratingan CG UGM diharapkan bersifat komprehensif dan dinamis. Peratingan
dikatakan komprehensif jika model tersebut dapat memberikan gambaran yang utuh tentang kualitas CG
suatu perusahaan, dan dikatakan dinamis jika model tersebut dapat dikembangkan ke arah yang semakin
baik dari waktu ke waktu.

III. TELAAH LITERATUR


Pada era sekarang ini, konsep CG telah diperluas mencakup perhatian terhadap pemangku
kepentingan (stakeholders), selain terhadap pemegang saham (shareholders). Pada awalnya model CG
memfokuskan perhatian pada usaha perusahaan agar dapat bertanggung jawab kepada pemegang saham,
sedangkan di era sekarang ini model CG semakin menekankan pemenuhan kebutuhan para pemangku
kepentingan (stakeholders) secara luas (Lawrence and Weber 2008). Wacana tentang dewan direksi saat
ini sangat berbeda dengan wacana tentang dewan direksi pada 2 dekade yang lalu. Dewan direksi
sekarang ini mempunyai tanggung jawab yang luas terhadap berbagai kelompok pemangku kepentingan.
Dewan direksi mulai mencemaskan masalah polusi, isu-isu sosial, perjanjian dengan pemangku
kepentingan dan dampaknya terhadap operasi perusahaan.
2
Berikut ini dibahas sekilas beberapa topik yang penting dan terkait dengan pemodelan dan
peratingan CG yang dikembangkan oleh CGCG.

A. Definisi Corporate Governance


Tidak ada definisi tunggal atas CG (Anand 2008; Rezaee 2007). Terdapat definisi secara sempit
maupun definisi secara luas atas CG, tergantung sudut pandang pembuat kebijakan, praktisi, dan peneliti.
Definisi-definisi CG yang ada saat ini dapat diletakkan pada suatu spektrum, dengan sudut pandang
’sempit’ pada satu ujung spektrum dan sudut pandang ’luas’ pada ujung spektrum yang lain. Suatu
pendekatan atas CG yang mengadopsi pandangan sempit menyatakan bahwa CG dibatasi pada hubungan
antara suatu perusahaan dengan para pemegang sahamnya. Pandangan ini, menurut Solomon (2007),
merupakan pandangan paradigma finansial tradisional (traditional finance paradigm), yang dinyatakan
dalam teori keagenan (agency theory). Pendekatan yang didasarkan atas pandangan luas terhadap CG
memandang bahwa CG merupakan suatu jejaring hubungan, tidak hanya antara suatu perusahaan dengan
pemilik atau pemegang sahamnya, melainkan juga antara suatu perusahaan dengan sekelompok luas
pemangku kepentingan lainnya, yang mencakup: karyawan, pelanggan, pemasok, kreditur, dan pemangku
kepentingan lainnya. Pandangan ini dinyatakan dalam teori pemangku kepentingan (stakeholder theory).
Parkinson (1994) mendefinisikan CG berdasar perspektif finansial semata yang hanya melibatkan
pemegang saham dan manajemen perusahaan. Tricker (1984) menjabarkan definisi CG dari sudut
pandang luas yang mencakup akuntabilitas perusahaan terhadap sekelompok pemangku kepentingan dan
masyarakat luas. Selanjutnya, Rezaee (2007, p. 22) mendefinisikan CG sebagai berikut:
“… is a process effected by legal, regulatory, contractual, and market-based mechanisms and
best practices to create substantial shareholders value while protecting the interests of other
shareholders.”

Solomon (2007, p. 14) mendefinisikani CG sebagai berikut:


”... the system of checks and balances, both internal and external to companies, which ensures that
companies discharge their accountability to all their stakeholders and act in a socially responsible
way in all areas of their business activity.”

Definisi CG berbasis perspektif pemangku kepentingan ini didasarkan pada persepsi bahwa perusahaan
dapat memaksimalkan penciptaan nilai (value creation) dalam jangka panjang dengan cara menunaikan
tanggung jawab mereka terhadap seluruh kelompok pemangku kepentingan, dan dengan mengoptimalkan
sistem CG.
Menggunakan definisi-definisi di atas sebagai titik awal, CGCG mendefinisikan CG sebagai
sebuah sistem yang terdiri dari berbagai fungsi dan berbagai pihak yang terlibat untuk memaksimalkan
penciptaan nilai oleh perusahaan melalui prinsip-prinsip pengelolaan perusahaan yang berterima umum.

3
Beberapa fungsi penting yang terkait dengan CG adalah fungsi oversight, enforcement, supervisory &
advisory, assurance, dan monitoring. Fungsi-fungsi tersebut dijalankan oleh dewan direksi (board of
directors), pejabat eksekutif (executive officers), dewan komisaris/komite (board of
commissioners/committees), auditor, dan para pemangku kepentingan (stakeholders). Selanjutnya, pihak-
pihak tersebut menjalankan fungsi masing-masing untuk memenuhi prinsip-prinsip CG yang berterima
umum, yaitu transparency, accountability & responsibility, responsiveness, independency, dan fairness.
Berikut ini dibahas sekilas tentang partisipan CG dan fungsi-fungsi CG.

B. Pihak-Pihak Yang Terlibat di Corporate Governance


Pada awal maraknya kebutuhan CG, pihak yang dianggap paling bertanggungjawab atas
keberhasilan CG adalah dewan direksi (lihat Harvard Business Review on Corporate Governance 2000;
Leblanc and Gillies 2005), terutama di perusahaan-perusahaan yang terdaftar di pasar modal Amerika,
yang menjalankan fungsi oversight, enforcement, supervisory, sekaligus advisory. Seiring dengan
kompleksitas dan risiko yang meningkat maka fungsi-fungsi yang terkait dengan CG berkembang, dan
dilakukan oleh berbagai partisipan. Berikut ini 5 partisipan yang dapat dikaitkan dengan fungsi-fungsi
yang dilakukan dalam pengembangan CG.
1. Dewan direksi (board of directors); terutama menjalankan fungsi oversight.
2. Pejabat eksekutif (executive officers); terutama menjalankan fungsi enforcement.
3. Dewan komisaris/komisi (board of commissioners/committees); terutama menjalankan fungsi
supervisory & advisory.
4. Auditor, meliputi auditor internal dan auditor eksternal; terutama menjalankan fungsi assurances.
5. Pemangku kepentingan (stakeholders), meliputi antara lain pemegang saham, kreditor,
pemerintah, pelanggan, dan masyarakat dan lingkungan; terutama menjalankan fungsi
monitoring.

C. Prinsip-Prinsip Corporate Governance


Prinsip-prinsip CG di Indonesia telah dikembangkan oleh Bapepam sejak tahun 2000 yang
diwujudkan dengan peran aktif Bapepam dalam keanggotaan Ketua Bapepam dan Kepala Biro Standar
Akuntansi serta Keterbukaan dalam Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG). Di kancah
internasional Bapepam turut serta dalam Asian Roundtable Meeting on Corporate Governance – Fifth di
Kuala Lumpur serta Roundtable on Capital Market Reform in Asia – Fifth dan Official Presentation of
the White Paper on Corporate Governance in Asia di Tokyo bersama dengan negara-negara yang
tergabung dalam OECD (KNKG, 2006).

4
Salah satu organisasi internasional yang ikut mengembangkan CG adalah OECD (Organization
for Economic Co-operation Development). Penetapan CG dalam OECD dipengaruhi oleh hubungan
antara partisipan dan sistem tatakelola. Pemegang saham pengendali yang dapat berupa individu,
keluarga, aliansi, atau perusahaan lain yang beraktivitas melalui perusahaan atau antar perusahaan dapat
mempengaruhi secara signifikan perilaku korporat. Sebagai pemegang ekuitas maka terdapat keinginan
untuk meningkatkan kekuatannya di pasar melalui CG. Berikut ini prinsip CG menurut OECD (2004):
1. Perlindungan terhadap hak-hak pemegang saham; yaitu menjamin keamanan metoda pendaftaran
kepemilikan, mengalihkan atau memindahkan saham yang dimiliki, memperoleh informasi yang
relevan tentang perusahaan secara berkala dan teratur, ikut berperan dan memberikan suara dalam
RUPS, memilih anggota dewan komisaris dan direksi, serta memperoleh pembagian keuntungan
perusahaan.
2. Persamaan perlakuan terhadap seluruh pemegang saham; yaitu berlaku fair termasuk pemegang
saham asing dan minoritas.
3. Peranan pemangku kepentingan yang terkait dengan perusahaan; yaitu mendorong kerjasama
antara perusahaan dengan pemangku kepentingan agar tercipta kesejahteraan, lapangan kerja, dan
kesinambungan usaha.
4. Keterbukaan dan transparansi; yaitu menyajikan informasi keuangan, kinerja perusahaan,
kepemilikan, dan pengelolaan perusahaan. Informasi yang diungkapkan harus disusun, diaudit,
dan disajikan sesuai dengan standar yang berkualitas tinggi.
5. Akuntabilitas dewan komisaris; yaitu menjamin adanya pedoman strategi perusahaan,
pemantauan yang efektif terhadap manajemen yang dilakukan oleh dewan komisaris dan
akuntabilitas dewan komisaris terhadap perusahaan dan pemegang saham.
Mengadopsi prinsip-prinsip CG yang ditetapkan OECD, International Corporate Governance Network
(ICGN) juga menambahkan prinsip-prinsip Honesty, Resilience, Responsiveness, dan transparency
sebagai best practices untuk meningkat CG lembaga tersebut.
Di Indonesia, Komite Nasional Kebijakan Good Corporate Governance (KNKGCG) yang
dibentuk tahun 1999 berdasarkan SK Menko Ekuin Nomor: KEP/31/M.EKUIN/08/1999 telah
mengeluarkan pedoman good corporate governance (GCG). Pedoman tersebut telah beberapa kali
disempurnakan, terbaru pada tahun 2006 oleh Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) sebagai
pengganti KNKGCG. KNKG mengeluarkan Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia.
Lima prinsip dasar GCG menurut KNKG (2006) adalah sebagai berikut:
1. Transparansi; yaitu perusahaan harus menyediakan informasi yang material dan relevan dengan
cara yang mudah diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan. Perusahaan harus
mengambil inisiatif untuk mengungkapkan tidak hanya masalah yang disyaratkan oleh peraturan
5
perundang-undangan, tetapi juga hal penting untuk pengambilan keputusan oleh pemegang
saham, kreditur, dan pemangku kepentingan lainnya.
2. Akuntabilitas; yaitu perusahaan harus dapat mempertanggungjelaskan kinerjanya secara
transparan dan wajar. Untuk itu perusahaan harus dikelola secara benar, terukur dan sesuai
dengan kepentingan perusahaan dengan tetap memperhitungkan kepentingan pemegang saham
dan pemangku kepentingan lain.
3. Responsibilitas; yaitu perusahaan harus mematuhi peraturan perundang-undangan serta
melaksanakan tanggungjawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpelihara
kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan mendapatkan pengakuan sebagai good
corporate citizen.
4. Independensi; yaitu perusahaan harus dikelola secara independen sehingga masing-masing organ
perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain.
5. Kewajaran dan Kesetaraan; yaitu perusahaan harus senantiasa memperhatikan kepentingan
pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan.
Selain Pedoman Pokok Pelaksanaan, KNKG juga mengeluarkan pedoman perilaku yang dapat
menjadi acuan bagi organ perusahaan (terdiri dari RUPS serta dewan komisaris dan direksi) dan semua
karyawan dalam menerapkan nilai-nilai dan etika bisnis sehingga menjadi bagian dari budaya perusahaan.
Pedoman perilaku sejalan dengan tujuan ditetapkannya GCG, dan untuk mencapai keberhasilan dalam
jangka panjang maka diperlukan pelaksanaan GCG dengan dilandasi integritas yang tinggi. Pedoman
etika mencakup nilai-nilai perusahaan yang merupakan landasan moral dalam mencapai visi dan misi
perusahaan yang menggambarkan karakter perusahaan, serta etika bisnis yang merupakan acuan bagi
perusahaan dalam melaksanakan kegiatan usaha termasuk dalam berinteraksi dengan pemangku
kepentingan.
Mempertimbangkan prinsip-prinsip yang telah disebutkan di muka, CGCG mendasarkan diri pada
5 prinsip yang seharusnya dipenuhi CG, yaitu:
1. Transparency (transparansi); dalam menjalankan fungsinya, semua partisipan harus
menyampaikan informasi yang material sesuai dengan substansi yang sesungguhnya, dan
menjadikan informasi tersebut dapat diakses dan dipahami secara mudah oleh pihak-pihak lain
yang berkepentingan.
2. Accountability & responsibility (pertanggungjelasan & pertanggungjawaban); dalam menjalankan
fungsinya, setiap partisipan CG harus mempertanggung-jelaskan amanah yang diterima sesuai
dengan hukum, peraturan, standar moral/etika maupun best practices berterima umum, dan
menyiapkan pertanggungjawaban jika pertanggungjelasan yang diajukan ditolak.

6
3. Responsiveness (ketanggapan); dalam menjalankan fungsinya, setiap partisipan CG harus
menanggapi, meliputi juga kegiatan antisipatif, terhadap permintaan (requests) maupun umpan-
balik (feedback) pihak-pihak yang berkepentingan dan terhadap perubahan-perubahan dunia
usaha yang berpengaruh signifikan terhadap perusahaan.
4. Independence (independensi); dalam menjalankan fungsinya, setiap partisipan harus
membebaskan diri dari kepentingan pihak-pihak lain yang berpotensi memunculkan konflik
kepentingan, dan menjalankan fungsinya sesuai kompetensi yang memadai.
5. Fairness (kewajaran); dalam menjalankan fungsinya, setiap partisipan memperlakukan pihak lain
secara wajar berdasar ketentuan-ketentuan berterima umum.

IV. KETENTUAN DASAR PEMODELAN DAN PERATINGAN CG UGM


Universitas Gadjah Mada (UGM) merupakan sebuah universitas berbasis riset yang sedang menuju
ke aras internasional (world class research university). Disamping itu, UGM juga merupakan salah satu
universitas yang menjadi inisiator dalam program yang disebut “education for sustainability
development”. Berdasar dua hal tersebut maka pemodelan dan peratingan CG yang dikembangkan CGCG
adalah berbasis riset, dan memfokuskan pada stakeholders approach yang mana komponen masyarakat
dan lingkungan (society and environment) merupakan salah satu pemangku kepentingan perusahaan.
Berikut ini adalah uraian singkat tentang beberapa ketentuan penting yang terkait dengan
pemodelan dan peratingan CG yang dikembangkan CGCG UGM.

A. Peratingan Berbasis Riset


Riset merupakan salah satu cara yang digunakan baik di dunia akademik, tentu juga di dunia
praktik, untuk mengidentifikasi permasalahan dan menyelesaikan permasalahan tersebut secara
komprehensif. Riset memerlukan proses yang sistematis dan hati-hati berdasar metodologi yang telah
teruji untuk mengambil kesimpulan dari investigasi yang dilakukan. Oleh karena itu, adalah tepat jika
model peratingan CG UGM mendasarkan diri pada riset.
Riset yang digunakan dalam peratingan CG UGM adalah berupa riset empiris (empirical research).
Model riset empiris membuat kesimpulan berdasar fakta yang terdapat di lapangan, disamping didukung
oleh argumen-argumen yang berdasar logika. Selanjutnya, CGCG menggunakan kedua jenis riset empiris,
yaitu riset kuantitatif dan riset kualitatif. Kedua jenis riset empiris ini penting dan saling melengkapi.
Peratingan CG UGM sejauh ini terutama mendasarkan diri pada riset kuantitatif. Dalam jangka panjang,
kedua jenis riset ini harus dilakukan secara seimbang karena riset kualitatif dapat menginvestigasi secara
detail obyek yang diteliti.

7
B. Partisipan Corporate Governance
Perspektif pertama yang digunakan dalam perancangan model CG UGM adalah terkait dengan
pihak-pihak yang seharusnya berpartisipasi dalam penerapan CG. Terdapat 5 kelompok partisipan beserta
fungsinya masing-masing, yaitu:
1. Dewan direksi (oversight)
2. Pejabat eksekutif (enforcement)
3. Dewan komisaris/komisi (supervisory and advisory)
4. Auditor (assurance)
5. Pemangku kepentingan (monitoring)

C. Prinsip-prinsip GCG
Perspektif kedua yang digunakan adalah prinsip-prinsip CG. Model CG UGM mendasarkan diri
pada 5 prinsip CG, yaitu:
1. Transparency (transparansi)
2. Accountability & responsibility (pertanggungjelasan & pertanggungjawaban)
3. Responsiveness (ketanggapan)
4. Independence (independensi)
5. Fairness (kewajaran)

V. RERANGKA DASAR MODEL CORPORATE GOVERNANCE UGM


Berdasar ketentuan-ketentuan dasar yang telah disebutkan di muka maka dapat disarikan bahwa
pemodelan dan peratingan CG UGM mendasarkan diri pada kegiatan riset empiris baik yang bersifat
kuantitatif maupun kualitatif. Selanjutnya, model CG UGM mengukur dari dua perspektif, yaitu
perspektif partisipan CG dan prinsip dasar CG. Secara gambar, model CG UGM dapat digambarkan
sebagai berikut:

Model Corporate Governance UGM

8
Deskripsi singkat:
Songkok mencerminkan prinsip-prinsip CG, sedangkan tombak mencerminkan para partisipan CG.
Warna yang melekat di songkok dan tombak mencerminkan karakteristik dominan yang seharusnya
dipenuhi oleh masing-masing prinsip/pihak. Pemaknaan warna sesuai dengan yang digunakan Edward de
Bono (1985) dalam buku terkenalnya yang berjudul Six Thinking Hats.

VI. MODEL PERATINGAN CG UGM


Rancangan model peratingan CG UGM meliputi penetapan beberapa topik penting berikut ini.

A. Dimensi Cakupan Alat Ukur


Alat ukur dituangkan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang memfokuskan pada 5 dimensi
berikut ini.
1. Pihak yang memperoleh manfaat GCG (dari stockholders ke stakeholders)
2. Tingkat kedisiplinan (dari compliance ke conformance, termasuk compliance)
3. Intensitas penggunaan TI (dari low intensity ke high intensity)
4. Jenis informasi (dari non-financial ke financial, termasuk non-financial)
5. Fleksibilitas implementasi (dari rules-based approach menuju principles-based approach,
termasuk rules-based approach)

B. Matriks Perancangan Alat Ukur


Berdasar 2 perspektif, yaitu prinsip dan partisipan, maka dapat dibentuk matriks (5 x 5) untuk
mengembangkan alat-alat ukur yang tepat dalam rangka pengukuran kualitas CG perusahaan. Setiap
partisipan seharusnya memenuhi semua lima prinsip CG yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, adalah
sebuah keharusan untuk merancang berbagai alat ukur yang dapat menilai tingkat pemenuhan masing-
masing prinsip CG oleh masing-masing partisipan.

C. Fokus Perancangan Alat Ukur


9
Alat-alat ukur dirancang untuk mengidentifikasi tingkat pemenuhan masing-masing prinsip CG
oleh masing-masing partisipan. Terdapat matriks 5 x 5 yang berarti terdiri dari 25 sel. Setiap sel
seharusnya dirancang pertanyaan-pertanyaan spesifik untuk mengukur tingkat pemenuhan prinsip tertentu
oleh partisipan tertentu. Setiap sel minimal terdapat 1 alat ukur tetapi jumlah alat ukur yang digunakan
dapat bervariasi antar sel karena menyesuaikan fungsi utama partisipan dalam implementasi CG. Sebagai
contoh, walaupun beberapa anggota dewan direksi tidak berasal dari pejabat eksekutif tetapi adalah tidak
mudah untuk meyakini tingkat independensi dewan direksi sepanjang sebagian anggota dewan direksi
tersebut sekaligus merupakan pejabat eksekutif. Sementara itu, dewan komisaris/komite (board of
commissioners/committees) dapat diharapkan independensinya karena dimungkinkan perusahaan
mengangkat dewan komite yang sepenuhnya dari pihak eksternal. Oleh karena itu, alat-alat ukur yang
digunakan untuk menilai tingkat independensi dewan direksi seharusnya lebih sedikit dibanding alat-alat
ukur yang digunakan untuk menilai tingkat independensi dewan komisaris/komisi. Alat-alat ukur yang
lebih tepat untuk mengukur CG oleh dewan direksi terutama dikaitkan dengan 2 prinsip CG, yaitu
transparency dan accountability & responsibility.
Secara ringkas, model CG UGM menekankan perancangan alat-alat ukur untuk masing-masing
partisipan CG adalah sebagai berikut ini.
1. Dewan direksi (DD): alat-alat ukur difokuskan pada penilaian tingkat pemenuhan atas prinsip
Transparency dan Accountability & Responsibility.
2. Pejabat eksekutif (PE); alat-alat ukur difokuskan pada penilaian tingkat pemenuhan atas prinsip
Accountability & Responsibility dan Responsiveness
3. Dewan komisaris/komite (DK); alat-alat ukur difokuskan pada penilaian tingkat pemenuhan atas
prinsip Responsiveness dan Independence.
4. Auditor (AU); alat-alat ukur difokuskan pada penilaian tingkat pemenuhan atas prinsip
Independence dan Fairness.
5. Pemangku kepentingan (PK); alat-alat ukur difokuskan pada penilaian tingkat pemenuhan atas
prinsip Fairness dan Transparency.

D. Jenis-jenis Alat Ukur


Terdapat beberapa jenis pertanyaan sebagai berikut:
1. Pertanyaan yang jawabannya berupa Ya/Tidak (pertanyaan dikotomi)
2. Pertanyaan yang jawabannya berupa pemeringkatan/ranking (pertanyaan diskrit)

10
3. Pertanyaan yang jawabannya diperoleh melalui wawancara, diskusi, observasi lapangan melalui
analisis konten, dan metoda-metoda lain yang relevan untuk pengumpulan data (pertanyaan
kontinyu)
Selanjutnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut diklasifikasi berdasar arti penting pertanyaan tersebut
bagi pencapaian CG. Terdapat 2 kelompok, yaitu:
1. Pertanyaan yang seharusnya terpenuhi (necessary questions)
2. Pertanyaan yang sebaiknya terpenuhi (sufficient questions)

E. Kualitas Alat Ukur


Pertanyaan-pertanyaan yang digunakan untuk mengukur GCG diklasifikasi kualitasnya berdasar
karakteristik primer di standar akutansi, yaitu relevansi (relevance) dan keandalan (reliability). Terdapat 4
jenis kualitas pertanyaan:
1. Pertanyaan yang tingkat keandalannya tinggi dan tingkat relevansinya juga tinggi (Pertanyaan
Prioritas 1/P1)
2. Pertanyaan yang tingkat keandalannya tinggi tetapi tingkat relevansinya rendah (Pertanyaan
Prioritas 2/P2)
3. Pertanyaan yang tingkat keandalannya rendah tetapi tingkat relevansinya tinggi (Pertanyaan
Prioritas 3/P3)
4. Pertanyaan yang tingkat keandalannya rendah dan tingkat relevansinya juga rendah Pertanyaan
Prioritas 3/P4)
Pertanyaan Prioritas 1 merupakan pertanyaan yang sangat penting untuk tolok ukur peratingan CG, dan
jawabannya dapat diperoleh dari sumber yang dapat dipercaya. Pertanyaan Prioritas 1 menghasilkan skor
yang lebih tinggi dibanding pertanyaan Prioritas 2. Demikian pula, pertanyaan Prioritas 2 menghasilkan
skor yang lebih tinggi dibanding pertanyaan Prioritas 3, dst.
Disamping kedua karakteristik primer di atas, pertanyaan-pertanyaan tertentu, yang digunakan
untuk mengukur GCG juga diklasifikasi kualitasnya berdasar karakteristik sekunder yang disebut daya
banding, termasuk konsistensi (comparability, including consistency). Pertanyaan-pertanyaan yang
memungkinkan dilakukan pembandingan antar perioda memperoleh skor penilaian yang lebih tinggi
dibanding pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya tidak atau kurang relevan untuk dibandingkan.
F. Penetapan Skor Alat Ukur
Alat-alat ukur yang digunakan harus ditetapkan besaran skor untuk peratingan. Dengan asumsi
menggunakan peratingan Third-party assessment (lihat sesi berikutnya: Aplikasi Peratingan) , total skor
maksimal dalam peratingan CG adalah 1000 (seribu) poin. Penetapan skor berdasar pada beberapa
ketentuan berikut ini.
11
1. Keberadaan alat ukur dalam matriks pengukuran; sel-sel yang menjadi fokus penilaian (sel
utama) untuk mengukur pemenuhan CG oleh partisipan memperoleh skor yang lebih tinggi
dibanding sel-sel yang tidak menjadi fokus penilaian (sel penunjang). Berdasar matriks 5x5 yang
dibangun maka terdapat 10 sel utama dan 15 sel penunjang. Masing-masing sel utama
menghasilkan skor maksimal 70 poin sehingga skor maksimal untuk keseluruhan sel utama
adalah 700 poin. Sementara itu, masing-masing sel penunjang menghasilkan skor maksimal 20
poin sehingga skor maksimal untuk keseluruhan sel penunjang adalah 300 poin.
2. Jenis alat ukur; penetapan skor untuk masing-masing jenis pertanyaan dengan ketentuan dasar
sebagai berikut:
a. Pertanyaan dikotomi (Ya/Tidak); skor yang digunakan adalah 0 dan 1
b. Pertanyaan diskrit (Sangat buruk sampai dengan Sangat baik); skor yang digunakan adalah
0; 0,2; 0,4; 0,6; 0,8; dan 1.
c. Pertanyaan kontinyu; skor yang digunakan adalah mulai dari 0 hingga nilai maksimal
tertentu yang dapat berbeda-beda untuk masing-masing sel.
3. Tingkat kualitas alat ukur; pembobotan berdasar kualitas pertanyaan adalah sebagai berikut:
a. Pertanyaan Prioritas 1: 2 (dua)
b. Pertanyaan Prioritas 2: 1,5 (satu setengah)
c. Pertanyaan Prioritas 3: 1,25 (satu seperempat)
d. Pertanyaan Prioritas 4: 0,75 (tiga perempat)
Selanjutnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut, terutama untuk pertanyaan dikotomi dan pertanyaan
diskrit, dihubungkan dengan arti penting pertanyaan tersebut pagi pencapaian CG (necessary
questions atau sufficient questions). Necessary questions memiliki bobot 2 kali lebih tinggi
daripada sufficient questions. Berdasar kriteria tingkat kualitas dan arti penting pertanyaan maka
penetapan skor adalah sebagai berikut:

Kualitas Pertanyaan Arti Penting Pertanyaan Skor


A Prioritas 1 Necessary 2x2=4
b Prioritas 1 Sufficient 2x1=2
c Prioritas 2 Necessary 1,5 x 2 = 3
d Prioritas 2 Sufficient 1,5 x 1 = 1,5
e Prioritas 3 Necessary 1,25 x 2 = 2,5
f Prioritas 3 Sufficient 1,25 x 1 = 1,25
g Prioritas 4 Necessary 0,75 x 2 = 1,5
12
h Prioritas 4 Sufficient 0,75 x 1 = 0,75

Selanjutnya, untuk pertanyaan-pertanyaan memenuhi kriteria, hasil pengukuran juga


dibobotkan dengan karakteristik sekunder, yaitu apakah pertanyaan tersebut memiliki daya
banding, termasuk konsistensi. Pertanyaan yang berdaya banding diberi skor 1,5 kali lebih
tinggi daripada pertanyaan yang tidak berdaya-banding.
4. Pengukuran per sel; jumlah, jenis, maupun kualitas pertanyaan dapat berbeda-beda untuk
masing-masing sel. Namun demikian, skor akhir setiap sel harus dikonversi menjadi skor 20
untuk sel-sel penunjang, dan menjadi skor 70 untuk sel-sel utama. Skor maksimal yang
mungkin dihasilkan dalam suatu sel dikonversi menjadi skor 20 (sel penunjang) atau skor 70
(sel utama).

G. Kategori Peratingan
Berdasar akumulasi skor dari semua sel yang terdapat di matriks pengukuran maka hasil
pengukuran CG dapat dikelompokkan menjadi 5 status. Dengan asumsi menggunakan peratingan Third-
party assessment, ketentuan tentang penetapan status peratingan adalah sebagai berikut:
1. Great (Sangat Baik); jika total skor minimal 950 dari total maksimal 1000.
2. Good (Baik); jika total skor adalah antara 850 sampai dengan 949 dari total maksimal 1000.
3. Fair (Cukup); jika total skor adalah antara 750 sampai dengan 849 dari total maksimal 1000.
4. Bad (Buruk); jika total skor adalah antara 650 sampai dengan 749 dari total maksimal 1000.
5. Ugly (Sangat buruk); jika total skor kurang dari 650 dari total maksimal 1000.

H. Aplikasi Peratingan
Model peratingan CG UGM dirancang agar dapat diaplikasikan secara mudah oleh entitas. Untuk
mencapai tujuan tersebut maka aplikasi peratingan CG UGM dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:
1. Peratingan sendiri (self-assessment); aplikasi ini pada dasarnya mengukur kualitas CG entitas
yang dilakukan oleh entitas itu sendiri tanpa harus menggunakan bantuan pihak lain untuk
melakukan peratingan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada dasarnya adalah yang bersifat
obyektif, dan mudah diverifikasi keberadaannya. Hasil peratingan ini dimaksudkan untuk self-
evaluation bagi entitas yang ingin mengetahui sejauh mana kualitas CG entitas tersebut pada
waktu tertentu.
2. Peratingan pihak ketiga (third-party assessment); aplikasi ini pada dasarnya mengukur kualitas
CG entitas yang dilakukan oleh pihak ketiga, yaitu pihak eksternal yang kompeten dan
independen. Di samping menggunakan alat-alat ukur yang digunakan dalam aplikasi peratingan

13
sendiri, peratingan pihak ketiga ini juga menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya
diperoleh melalui riset yang detail oleh lembaga yang kompeten dan independen. Pihak ketiga
mengumpulkan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan Kontinyu yang membutuhkan
jawaban melalui riset, dan mengecek kesesuaian antara jawaban dari pertanyaan-pertanyaan
dikotomi dan diskrit dengan kondisi praktik yang sesungguhnya.
Oleh karena aplikasi peratingan self-assessment (sendiri) merupakan sebagian dari peratingan pihak
ketiga maka penetapan skor untuk aplikasi peratingan sendiri lebih kecil dibanding skor untuk peratingan
pihak ketiga. Juga, status peratingan antara aplikasi peratingan sendiri dan aplikasi pihak ketiga berbeda.
Total skor maksimal dari pengukuran kualitas GCG untuk aplikasi peratingan sendiri adalah 600
poin yang merupakan 60% dari total skor maksimal dari aplikasi peratingan pihak ketiga (1000 poin).
Dengan demikian, penetapan skor maksimal untuk masing-masing sel juga disesuaikan, yaitu 10 sel
utama yang masing-masing sel terdiri dari total skor maksimal sebesar 42 (60% dari 70), dan 15 sel
penunjang yang masing-masing sel terdiri dari total skor maksimal sebesar 12 (60% dari 20).
Status final untuk aplikasi peratingan sendiri dapat diklasifikasi sebagai berikut:
a. Look great (nampak bagus sekali); jika total skor yang dicapai minimal 570 poin.
b. Look good (nampak bagus); jika total skor yang dicapai 510 sampai dengan 569 poin.
c. Look fair (nampak cukup); jika total skor yang dicapai 450 sampai dengan 509 poin.
d. Look bad (nampak buruk); jika total skor yang dicapai 390 sampai dengan 449 poin.
e. Look ugly (nampak buruk sekali); jika total skor yang dicapai kurang dari 390 poin.

I. Jenis Model Pengukuran


Model peratingan kualitas CG UGM juga diharapkan dapat memberikan kontribusi yang tepat-guna
bagi entitas yang ada. Oleh karena itu, model pengukuran CG UGM harus dirancang agar perusahaan-
perusahaan Indonesia dapat secara cost-effective memenuhi status tertinggi dalam pengukuran GCG, yaitu
Great (Sangat Baik) ataupun Look Great (Nampak Sangat Baik). Oleh karena itu, UGM merancang 2
jenis model pengukuran sebagai berikut:
1. Model Taktis; model ini dirancang untuk mengukur kualitas CG perusahaan-perusahaan yang
sekarang ini beroperasi. Model ini diharapkan dapat mengukur kualitas CG perusahaan secara
realistis, dan mendorong entitas untuk dapat secara cost-effective meningkatkan kualitas CG.
2. Model Strategis; model ini dirancang untuk mengukur kualitas CG perusahaan-perusahaan di
masa datang. Model ini diharapkan dapat diberlakukan di masa datang seiring dengan semakin
tingginya tingkat kesadaran entitas terhadap arti penting CG. Disamping berisi alat-alat ukur yang
digunakan di model Taktis, model Strategis menambahkan alat-alat ukur yang merepresentasikan
tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh CG.
14
Perbedaan antara model Taktis dan model Strategis terutama bermuara dari cakupan 5 dimensi yang
menjadi fokus pengukuran di model CG UGM.
Dalam jangka panjang, untuk kepentingan strategis, model pengukuran kualitas CG UGM
seharusnya mencerminkan pencapaian tertinggi yang diharapkan oleh masing-masing dimensi, yaitu:
1. Pihak yang memperoleh manfaat CG seharusnya adalah stakeholders, tidak hanya stockholders.
2. Tingkat kedisiplinan seharusnya sudah mencapai tingkat comformance, tidak hanya compliance.
3. Intensitas penggunaan TI seharusnya mencapai tingkat intensitas yang tinggi.
4. Jenis informasi yang diukur seharusnya juga bersifat keuangan, tidak hanya non-keuangan.
5. Implementasi CG seharusnya ketentuan-ketentuan yang berlandas pada prinsip-prinsip berterima
umum (principles-based approach), tidak sebatas berbasis ketentuan (rules-based approach).

Pengembangan model Taktis juga mendasarkan kelima dimensi cakupan alat ukur CG di atas.
Namun demikian, pencapaian yang ingin dicapai harus disesuaikan dengan tingkat kesadaran entitas atas
CG di masa sekarang ini. Oleh karena itu, fokus model Taktis pengukuran CG perusahaan-erusahaan di
Indonesia ditetapkan sebagai berikut:
1. Pihak yang memperoleh manfaat adalah stakeholders, terutama adalah pemegang saham, pihak
internal, dan pengguna langsung jasa/produk perusahaan.
2. Tingkat kedisiplinan yang diukur adalah masih pada tingkat compliance terhadap ketentuan,
hukum, maupun best practices yang berlaku sekarang dan yang memberi kontribusi jangka
panjang.
3. Intensitas pemanfaatan TI ditetapkan pada tingkatan Sedang Menuju Tinggi.
4. Jenis informasi yang diukur bersifat non-keuangan ditambah sebagian kecil informasi keuangan.
5. Fleksibilitas implementasi ketentuan GCG masih menggunakan rules-based approach, kecuali
untuk beberapa ketentuan yang penting dan krusial menggunakan principles-based approach.

VII. KESIMPULAN DAN KETERBATASAN MODEL


CGCG Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada saat ini sedang mengembangkan
model CG dan model peratingan CG. Kedua model CG yang dikembangkan UGM dirancang agar dapat
bersifat universal, dan dapat diaplikasikan untuk peratingan di masa sekarang yang sekaligus dapat
dikembangkan untuk peratingan CG di masa datang. Model peratingan CG UGM ini dilakukan melalui
riset empiris, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, untuk dapat mengukur CG organisasi secara
komprehensif.
Terdapat 2 perspektif utama dalam pengukuran CG UGM, yaitu perspektif partisipan, dan
perspektif prinsip. Partisipan yang terlibat dalam pencapaian CG meliputi dewan direksi (board of
15
directors), pejabat eksekutif, dewan komisaris/komisaris (board of commissioners/committees), auditor,
dan para pemangku kepentingan (stakeholders). Kelima partisipan tersebut memberi kontribusi dalam
pencapaian CG berdasar fungsi masing-masing. Selanjutnya, prinsip-prinsip CG yang digunakan oleh
model CG UGM meliputi Transparency, Accountability & Responsibility, Responsiveness, Independence,
dan Fairness. Berdasar 2 perspektif tersebut maka selanjutnya dapat disusun alat-alat ukur yang valid dan
andal dalam rangka penilaian CG organisasi.
Model peratingan CG UGM diharapkan dapat dilakukan secara mudah oleh perusahaan. Oleh
karena itu, terdapat 2 jenis aplikasi peratingan CG UGM, yaitu self-assessment yang dapat dilakukan
sendiri oleh perusahaan yang diukur, dan third-party assessment yang dilakukan oleh pihak kompeten dan
independen. Selanjutnya, model pengukuran CG UGM dirancang untuk memenuhi kebutuhan terhadap
pengukuran CG di masa sekarang, sekaligus dirancang untuk dapat dikembangkan secara dinamis untuk
memenuhi kebutuhan terhadap pengukuran CG di masa datang.

B. Keterbatasan Model
CGCG menawarkan model peratingan CG yang universal yang diharapkan dapat berlaku di
berbagai entitas yang berbeda-beda. Karena pertimbangan skala prioritas, model pengukuran CG UGM
yang dibahas di sini lebih memfokuskan pada pengukuran CG untuk perusahaan-perusahaan yang
terdaftar di pasar modal (perusahaan publik) di Indonesia. Sebagai konsekuensinya, model pengukuran
CG UGM ini menuntut dilakukannya pengembangan dan penyesuaian, tanpa harus mengubah rerangka
dasar, jika organisasi selain perusahaan publik berharap untuk dapat mengukur CG menggunakan model
peratingan CG UGM ini.
Kami berpendapat bahwa sebagai sebuah sistem, pengembangan CG seharusnya mendasarkan pada
3 pilar utama, yaitu pilar pengetahuan yang mapan (bisa jadi salah satunya adalah matematika), pilar
kedua yang disebut prinsip-prinsip dasar, dan pilar ketiga yang disebut rancang-bangun. Namun
demikian, model pengukuran CG UGM masih lebih memfokuskan pada pilar prinsip-prinsip dasar dan
dalam beberapa hal pada pilar rancang-bangun. Sejauh ini CGCG berusaha untuk menemukan pilar
pertama. Oleh karena itu, model peratingan CG UGM harus dikembangkan secara lebih optimal untuk
dapat mengukur CG perusahaan secara komprehensif yang sesungguhnya. Namun demikian, penggunaan
riset empiris yang komprehensif diharapkan dapat mengkompensasi kekurangan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Anand, S. 2008. Essentials of Corporate Governance. First Edition. John Wiley & Sons, Inc.

16
Arafat, W. dan E. Waluyo. ”Filbert-Deo” Governance Indexing & Rating System: Model Integratif
Pengukuran Indeks dan Peringkat Tata Kelola Perusahaan. Arsip CGCG.

Harvard Business Review. 2000. Harvard Business Review on Corporate Governance. Fifth Edition.
Harvard Business School Press.

Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG). 2006. Pedoman Umum Good Corporate Governance
Indonesia.

Lawrence, A.T., dan Weber, J. 2008. Business and Society: Stakeholders, Ethics, Public Policy. Twelfth
Edition. New York: McGraw-Hill Irwin.

Leblanc, R. and J. Gillies. 2005. Inside the Boardroom: How Boards Really Work and the Coming
Revolution in Corporate Governance. First Edition. John Wiley & Sons Canada, Ltd.

Luo, Y. 2007. Global Dimensions of Corporate Governance. First Edition. Blackwell Publishing Ltd.

O’Brien, J. 2005. Governing the Corporation: Regulation and Corporate Governance in an Age of
Scandal and Global Markets. First Edition. John Wiley & Sons, Ltd.

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). 2004. “OECD principles of
corporate governance.” Journal of Economic Literature. Dec 2004; 42, 4; Academic Research
Library pg. 1199.

Parkinson, J.E. 1994. Corporate Power and Responsibility. Oxford: Oxford University Press.

Rezaee, Z. 2007. Corporate Governance Post – Sarbanes Oxley. First Edition. John Wiley & Sons, Inc.

Solomon, J. 2007. Corporate Governance and Accountability. Second Edition. John Wiley & Sons.

Tricker, R.I. 1984. Corporate Governance: Practices, Procedures and Powers in British Companies and
Their Boards of Directors. Aldershot, UK: Gower Press.

Wallace, P. and J. Zinkin. 2005. Mastering Business in Asia: Corporate Governance. First Edition. John
Wiley & Sons (Asia) Pte Ltd.

17