Anda di halaman 1dari 16

FRAKTUR

Fraktur adalah rusaknya dan terputusnya kontinuitas tulang. Fraktur merupakan salah satu masalah kegawatdaruratan yang harus
segera ditangani. Berbagai musibah bencana alam yang terjadi di Indonesia menuntut kita untuk belajar dan mencari tahu lebih dalam
tentang penanganan medis bagi para korban.

Salah satu masalah yang sering dialami para korban adalah kasus patah tulang, selain luka-luka tentunya. Namun keterbatasan
pengetahuan tentang bagaimana menolong korban patah tulang, membuat kita hanya bisa terdiam karena tidak tahu apa yang harus
dilakukan. Disaat seperti itu, menunggu datangnya pertolongan dokter bukanlah hal yang bijak karena ada banyak hal yang terjadi (yang
mungkin akan memperburuk kondisi si korban) karena tidak segera ditolong. Masalah-masalah fraktur yang banyak terjadi antara lain
adalah fraktur pada kaki dan tangan. Misalnya, pada bagian femur dan distal tangan.

A. Definisi

Terdapat beberapa pengertian mengenai fraktur, sebagaimana yang dikemukakan para ahli melalui berbagai literature.
Menurut FKUI (2000), fraktur adalah rusaknya dan terputusnya kontinuitas tulang, sedangkan menurut Boenges, ME., Moorhouse,
MF dan Geissler, AC (2000) fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang. Back dan Marassarin (1993) berpendapat bahwa fraktur
adalah terpisahnya kontinuitas tulang normal yang terjadi karena tekanan pada tulang yang berlebihan.

B. Etiologi

Lewis (2000) berpendapat bahwa tulang bersifat relatif rapuh namun mempunyai cukup kekuatan dan gaya pegas untuk menahan
tekanan. Fraktur dapat diakibatkan oleh beberapa hal yaitu:

1. Fraktur akibat peristiwa trauma. Sebagisan fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba berlebihan yang dapat berupa
pemukulan, penghancuran, perubahan pemuntiran atau penarikan. Bila tekanan kekuatan langsung tulang dapat patah pada
tempat yang terkena dan jaringan lunak juga pasti akan ikut rusak. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur lunak juga pasti
akan ikut rusak. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya. Penghancuran
kemungkinan akan menyebabkan fraktur komunitif disertai kerusakan jaringan lunak yang luas.
2. Fraktur akibat peristiwa kelelahan atau tekanan. Retak dapat terjadi pada tulang seperti halnya pada logam dan benda lain akibat
tekanan berulang-ulang. Keadaan ini paling sering dikemukakan pada tibia, fibula atau matatarsal terutama pada atlet, penari
atau calon tentara yang berjalan baris-berbaris dalam jarak jauh.
3. Fraktur patologik karena kelemahan pada tulang. Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang tersebut lunak
(misalnya oleh tumor) atau tulang-tulang tersebut sangat rapuh.

Etiologi berdasarkan jenis masing-masing fraktur:

1. Fraktur pada kaki

Hampir setiap tulang di kaki dapat mengalami patah tulang (fraktur). banyak diantara patah tulang ini yang tidak
membutuhkan pembedahan, sedangkan yang lainnya harus diperbaiki melalui pembedahan untuk mencegah kerusakan yang
menetap. Di daerah diatas tulang yang patah biasanya membengkak dan nyeri. Pembengkakan dan nyeri bisa menjalar ke luar
daerah patah tulang jika jaringan lunaknya mengalami memar. Patah tulang di dalam dan di sekitar pergelangan kaki paling
sering terjadi jika pergelangan kaki berputar ke dalam sehingga kaki terputar ke luar atau pergelangan kaki berputar ke luar.
Nyeri, pembengkakan dan perdarahan cenderung terjadi. Fraktur ini bisa berakibat serius jika tidak ditangani dengan baik. semua
fraktur pergelangan kaki harus digips. Untuk patah tulang pergelangan kaki yang berat, dimana tulang terpisah jauh atau salah
menempel, mungkin perlu dilakukan pembedahan.

Fraktur tulang metatarsal (tulang pertengahan kaki) sering terjadi. Penyebab yang paling sering adalah terlalu banyak
berjalan atau penggunaan berlebihan yang menyebabkan tekanan tidak langsung. penyebab lainnya adalah benturan hebat yang
terjadi secara mendadak. Untuk memungkinkan penyembuhan tulang, maka dilakukan imobilisasi dengan sepatu bertelapak
keras. Jika tulang terpisah sangat jauh, mungkin diperlukan pembedahan untuk meluruskan pecahan-pecahan tulang yang patah.

Tulang sesamoid (2 tulang bulat kecil yang terletak di ujung bawah tulang metatarsal ibu jari kaki) juga bisa mengalami
patah tulang. fraktur tulang sesamoid bisa disebabkan oleh berlari, berjalan jauh dan olah raga (misalnya basket dan tenis).
Menggunakan bantalan atau penyangga sepatu khusus bisa mengurangi nyeri. Jika nyeri berkelanjutan, mungkin tulang
sesamoid harus diangkat melalui pembedahan.

1
Cedera pada jari kaki (terutama jari-jari yang kecil) sering terjadi, apalagi jika berjalan tanpa alas kaki. Fraktur simplek
pada keempat jari kaki yang kecil akan sembuh tanpa perlu memasang gips. Dilakukan pembidaian jari kaki dengan pita atau
velcro selama 4-6 minggu. Menggunakan sepatu beralas keras atau yang berukuran agak besar bisa membantu mengurangi nyeri.
Biasanya fraktur pada ibu jari kaki (hallux) cenderung lebih berat, dan menyebabkan nyeri yang lebih hebat, pembengkakan dan
perdarahan dibawah kulit. Patah tulang hallux bisa terjadi karena kaki menendang sesuatu atau karena sebuah benda yang berat
jatuh diatasnya. Perlu dilakukan pembedahan untuk memperbaiki patah tulang hallux. Fraktur patella pextra merupakan suatu
gangguan integritas tulang yang ditandai dengan rusaknya atau terputusnya kontinuitas jaringan tulang dikarenakan tekanan
yang berlebihan yang terjadi pada tempurung lutut pada kaki kanan.

Batang femur dapat mengalami fraktur oleh trauma langsung, puntiran (twisting), atau pukulan pada bagian depan lutut
yang berada dalam posisi fleksi pada kecelakaan jalan raya. Femur merupakan tulang terbesar dalam tubuh dan batang femur
pada orang dewasa sangat kuat. Dengan demikian, trauma langsung yang keras, seperti yang dapat dialami pada kecelakaan
automobil, diperlukan untuk menimbulkan fraktur batang femur. Perdarahan interna yang masif dapat menimbulkan renjatan
berat. Penatalaksanaan fraktur ini mengalami banyak perubahan dalam waktu 10 tahun terakhir ini. Traksi dan spica casting atau
cast bracing, meskipun merupakan penatalaksanaan non-invasif pilihan untuk anak-anak, mempunyai kerugian dalam hal
memerlukan masa berbaring dan rehabilitasi yang lama. Oleh karena itu, penatalaksanaan ini tidak banyak digunakan pada orang
dewasa.

2. Fraktur pada tangan

Kejadian fraktur Colles cukup tinggi, tetapi sampai sekarang masih banyak perbedaan mengenai klasifikasi, cara reposisi,
metoda fiksasi, faktor yang mempengaruhi hasil akhir serta prognosis (Kreder dkk, 1996). Hasil yang baik dapat dicapai dengan
diagnosa yang tepat, reposisi yang akurat, fiksasi yang adekuat serta rehabilitasi yang memadai. Reposisi tertutup biasanya tidak
sulit, tetapi sulit untuk mempertahankan hasil reposisi, terutama pada fraktur kominutif (Linden dkk,1981; Manjas, 1996).
Selama ini metoda fiksasi yang banyak dianut adalah dengan gips sirkuler 0, lengan bawah panjang sampai di atas siku dengan
posisi siku fleksi 90 pronasi, pergelangan tangan fleksi dan deviasi ulna seperti yang dianjurkan oleh Salter atau Walstrom yang
dikenal dengan “Cotton Loader“ (Salter, 1984).

Sejak jaman Hipocrates sampai awal abad 19, fraktur distal radius masih disalah artikan sebagai dislokasi dari
npergelangan tangan. Abraham Colles (1725 – 1843) pada tahun 1814 mempublikasikan sebuah artikel yang berjudul ‘On the
fracture of the carpal extremity of the radius’. Sejak saat itu fraktur jenis ini diberi nama sebagai fraktur Colles sesuai dengan
nama Abraham Colles (Appley,1995; Salter,1984).

Fraktur Colles’ adalah fraktur yang terjadi pada tulang radius bagian distal yang berjarak 1,5 inchi dari permukaan sendi
radiocarpal dengan deformitas ke posterior, yang biasanya terjadi pada umur di atas 45-50 tahun dengan tulangnya sudah
osteoporosis. Kalau ditemukan pada usia muda disebut fraktur tipe Colles’ (Appley, 1995; Jupiter, 1991; Salter, 1984).

Bagian antebrakhii distal sering disebut pergelangan tangan, batas atasnya kira-kira 1,5 – 2 inchi distal radius. Pada
tempat ini ditemui bagian tulang distal radius yang relatif lemah karena tempat persambungan antara tulang kortikal dan tulang
spongiosa dekat sendi. Dorsal radius bentuknya cembung dengan permukaan beralur-alur untuk tempat lewatnya tendon
ekstensor. Bagian volarnya cekung dan ditutupi oleh otot pronator quadratus. Sisi lateral radius distal memanjang ke bawah
membentuk prosesus styloideus radius dengan posisi yang lebih rendah dari prosesus styloideus ulna. Bagian ini merupakan
tempat insersi otot brakhioradialis (Appley, 1995; Brumfeeld et al, 1984; Salter, 1984). Pada antebrakhii distal ini ditemui 2
sendi yaitu sendi radioulna distal dan sendi radiocarpalia. Kapsul sendi radioulna dan radiocarpalia melekat pada batas
permukaan sendi. Kapsul ini tipis dan lemah tapi diperkuat oleh beberapa ligamen antara lain :

a. Ligamentum Carpeum volare (yang paling kuat).


b. Ligamentum Carpaeum dorsale.
c. Ligamentum Carpal dorsale dan volare.
d. Ligamentum Collateral.

C. Patofisiologi

Menurut Black dan Matassarin (1993) serta Patrick dan Woods (1989). Ketika patah tulang, akan terjadi kerusakan di
korteks, pembuluh darah, sumsum tulang dan jaringan lunak. Akibat dari hal tersebut adalah terjadi perdarahan, kerusakan tulang dan
jaringan sekitarnya. Keadaan ini menimbulkan hematom pada kanal medulla antara tepi tulang dibawah periostium dengan jaringan
tulang yang mengatasi fraktur. Terjadinya respon inflamasi akibat sirkulasi jaringan nekrotik adalah ditandai dengan vasodilatasi dari
plasma dan leukosit. Ketika terjadi kerusakan tulang, tubuh mulai melakukan proses penyembuhan untuk memperbaiki cidera, tahap
ini menunjukkan tahap awal penyembuhan tulang. Hematom yang terbentuk bisa menyebabkan peningkatan tekanan dalam sumsum

2
tulang yang kemudian merangsang pembebasan lemak dan gumpalan lemak tersebut masuk kedalam pembuluh darah yang mensuplai
organ-organ yang lain. Hematom menyebabkn dilatasi kapiler di otot, sehingga meningkatkan tekanan kapiler, kemudian
menstimulasi histamin pada otot yang iskhemik dan menyebabkan protein plasma hilang dan masuk ke interstitial. Hal ini
menyebabkan terjadinya edema. Edema yang terbentuk akan menekan ujung syaraf, yang bila berlangsung lama bisa menyebabkan
syndroma comportement.

D. Klasifikasi Fraktur

Berikut ini terdapat beberapa klasifikasi fraktur sebagaimana yang dikemukakan oleh para ahli:

1. Menurut Depkes RI (1995), berdasarkan luas dan garis traktur meliputi :

a. Fraktur komplit

Adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang yang luas sehingga tulang terbagi menjadi dua bagian dan garis patahnya
menyeberang dari satu sisi ke sisi lain serta mengenai seluruh kerteks.

b. Fraktur inkomplit

Adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang dengan garis patah tidak menyeberang, sehingga tidak mengenai korteks
(masih ada korteks yang utuh).

2. Menurut Black dan Matassarin (1993) yaitu fraktur berdasarkan hubungan dengan dunia luar, meliputi:

a. Fraktur tertutup yaitu fraktur tanpa adanya komplikasi, kulit masih utuh, tulang tidak menonjol malalui kulit.
b. Fraktur terbuka yaitu fraktur yang merusak jaringan kulit, karena adanya hubungan dengan lingkungan luar, maka fraktur
terbuka potensial terjadi infeksi.Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 grade yaitu:

• Grade I : Robekan kulit dengan kerusakan kulit otot


• Grade II : Seperti grade I dengan memar kulit dan otot
• Grade III : Luka sebesar 6-8 cm dengan kerusakan pembuluh darah, syaraf otot dan kulit.

3. Long (1996) membagi fraktur berdasarkan garis patah tulang, yaitu:

a. Green Stick yaitu pada sebelah sisi dari tulang, sering terjadi pada anak-anak dengan tulang lembek
b. Transverse yaitu patah melintang
c. Longitudinal yaitu patah memanjang
d. Oblique yaitu garis patah miring
e. Spiral yaitu patah melingkar

4. Black dan Matassarin (1993) mengklasifikasi lagi fraktur berdasarkan kedudukan fragmen yaitu:

a. Tidak ada dislokasi


b. Adanya dislokasi, yang dibedakan menjadi:

• Disklokasi at axim yaitu membentuk sudut


• Dislokasi at lotus yaitu fragmen tulang menjauh
• Dislokasi at longitudinal yaitu berjauhan memanjang
• Dislokasi at lotuscum controltinicum yaitu fragmen tulang berjauhan dan memendek.

E. Gambaran Klinik

Lewis (2006) menyampaikan manifestasi kunik fraktur adalah sebagai berikut:

1. Nyeri

3
Nyeri dirasakan langsung setelah terjadi trauma. Hal ini dikarenakan adanya spasme otot, tekanan dari patahan tulang atau
kerusakan jaringan sekitarnya.

2. Bengkak/edama

Edema muncul lebih cepat dikarenakan cairan serosa yang terlokalisir pada daerah fraktur dan extravasi daerah di jaringan
sekitarnya.

3. Memar/ekimosis

Merupakan perubahan warna kulit sebagai akibat dari extravasi daerah di jaringan sekitarnya.

4. Spame otot

Merupakan kontraksi otot involunter yang terjadu disekitar fraktur.

5. Penurunan sensasi

Terjadi karena kerusakan syaraf, terkenanya syaraf karena edema.

6. Gangguan fungsi

Terjadi karena ketidakstabilan tulang yang frkatur, nyeri atau spasme otot. paralysis dapat terjadi karena kerusakan syaraf.

7. Mobilitas abnormal

Adalah pergerakan yang terjadi pada bagian-bagian yang pada kondisi normalnya tidak terjadi pergerakan. Ini terjadi pada
fraktur tulang panjang.

8. Krepitasi

Merupakan rasa gemeretak yang terjadi jika bagian-bagaian tulang digerakkan.

9. Deformitas

Abnormalnya posisi dari tulang sebagai hasil dari kecelakaan atau trauma dan pergerakan otot yang mendorong fragmen tulang
ke posisi abnormal, akan menyebabkan tulang kehilangan bentuk normalnya.

10. Shock hipovolemik

Shock terjadi sebagai kompensasi jika terjadi perdarahan hebat.

11. Gambaran X-ray menentukan fraktur

FRAKTUR COLLES
Fraktur radius distal adalah salah satu dari macam fraktur yang biasa terjadi pada pergelangan tangan. Umumnya terjadi karena
jatuh dalam keadaan tangan menumpu dan biasanya terjadi pada anak-anak dan lanjut usia. Bila seseorang jatuh dengan tangan yang
menjulur, tangan akan tiba-tiba menjadi kaku, dan kemudian menyebabkan tangan memutar dan menekan lengan bawah. Jenis luka yang
terjadi akibat keadaan ini tergantung usia penderita. Pada anak-anak dan lanjut usia, akan menyebabkan fraktur tulang radius.
Fraktur radius distal merupakan 15 % dari seluruh kejadian fraktur pada dewasa. Abraham Colles adalah orang yang pertama kali
mendeskripsikan fraktur radius distalis pada tahun 1814 dan sekarang dikenal dengan nama fraktur Colles. (Armis, 2000). Ini adalah
fraktur yang paling sering ditemukan pada manula, insidensinya yang tinggi berhubungan dengan permulaan osteoporosis pasca
menopause. Karena itu pasien biasanya wanita yang memiliki riwayat jatuh pada tangan yang terentang. (Apley & Solomon, 1995).
Biasanya penderita jatuh terpeleset sedang tangan berusaha menahan badan dalam posisi terbuka dan pronasi. Gaya akan
diteruskan ke daerah metafisis radius distal yang akan menyebabkan patah radius 1/3 distal di mana garis patah berjarak 2 cm dari
permukaan persendian pergelangan tangan. Fragmen bagian distal radius terjadi dislokasi ke arah dorsal, radial dan supinasi. Gerakan ke

4
arah radial sering menyebabkan fraktur avulsi dari prosesus styloideus ulna, sedangkan dislokasi bagian distal ke dorsal dan gerakan ke
arah radial menyebabkan subluksasi sendi radioulnar distal (Reksoprodjo, 1995)
Momok cedera tungkai atas adalah kekakuan, terutama bahu tetapi kadang-kadang siku atau tangan. Dua hal yang harus terus menerus
diingat :
(1) pada pasien manula, terbaik untuk tidak mempedulikan fraktur tetapi berkonsentrasi pada pengembalian gerakan;
(2) apapun jenis cedera itu, dan bagaimanapun cara terapinya, jari harus mendapatkan latihan sejak awal. (Apley & Solomon, 1995)
Melihat masih cukup tingginya angka kejadian fraktur Colles maka perlu diketahui insidensi fraktur Colles di RSUD Saras
Husada Purworejo, agar dapat dilakukan perawatan dan penanganan secara intensif pada tiap-tiap kasusnya.

DEFINISI
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh
rudapaksa. (Sjamsuhidayat & de Jong, 1998). Cedera yang digambarkan oleh Abraham Colles pada tahun 1814 adalah fraktur melintang
pada radius tepat di atas pergelangan tangan, dengan pergeseran dorsal fragmen distal. (Apley & Solomon, 1995)

EPIDEMIOLOGI
Fraktur distal radius terutama fraktur Colles’ lebih sering ditemukan pada wanita, dan jarang ditemui sebelum umur 50 tahun
(Clancey, 1984; Cooney, 1982). Secara umum insidennya kira-kira 8 – 15% dari seluruh fraktur dan diterapi di ruang gawat darurat. Dari
suatu survey epidemiologi yang dilakukan di Swedia, didapatkan angka 74,5% dari seluruh fraktur pada lengan bawah merupakan fraktur
distal radius (Cooney,1980). Umur di atas 50 tahun pria dan wanita 1 berbanding 5. Sebelum umur 50 tahun, insiden pada pria dan wanita
lebih kurang sama di mana fraktur Colles’ lebih kurang 60% dari seluruh fraktur radius (Cooney,1980). Sisi kanan lebih sering dari sisi
kiri. Angka kejadian rata-rata pertahun 0,98%. Usia terbanyak dikenai adalah antara umur 50 – 59 tahun (Dias dkk, 1980; Sarmiento dkk,
1980).

ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO


• usia lanjut
• postmenopause
• massa otot rendah
• osteoporosis
• kurang gizi
• olaraga seperti sepakbola dll
• aktivitas seperti skating, skateboarding atau bike riding
• kekerasan
• ACR (albumin-creatinin ratio) yang tinggi efek ini kemungkinan disebabkan oleh gangguan sekresi 1,25-dihidroksivitamin
D, yang menyebabkan malabsoprsi kalsium.

ANATOMI DAN KINESIOLOGI


Tulang radius ke arah distal membentuk permukaan yang lebar sampai persendian dengan tulang carpalia. Dan peralihan antara
dense cortex dan cancellous bone pada bagian distal merupakan bagian yang sangat lemah dan mudah terjadi fraktur. Penting sekali
diketahuii kedudukan anatomis yang normal dari pergelangan tangan, terutama posisi dari ujung distal radius.
Perlu diperhatikan 3 ukuran yang utama :
1. Radial height :
Yaitu jarak proccesus styloideus radii terhadap ulna. Diukur dari jarak antara garis horizontal yang ditarik melalui ujung procesus
styloideus radii dan melalui ujung distal ulna. Ukuran normalnya kira-kira 1 cm.
2. Derajat “ulna tilt” atau “ulna deviation” dari permukaan sendi ujung distal radius pada posisi anterior posterior.
Normal, permukaan sendi ini letaknya miring menghadap ke ulnar. Derajat miringnya diukur dari besarnya sudut antara garis
horizontall yang tegak lurus pada sumbu radius dan garis yang sesuai dengan permukaan sendi. Normal : 15 – 30 derajat, rata-rata 23
derajat.

3. Derajat “volar tilt” (volar deviation) dari permukaan sendi radius pada posisi lateral.
Normal : permukaan sendi ini miring menghadap kebawah dan kedepan. Besarnya diukur dengan sudut antara garis horizontal tegak
lurus sumbu radius dan garis yang sesuai dengan permukaan sendi. Normal : 1 – 23 derajat, rata-rata 11 derajat.

Alat-alat gerak yang meliputi ini ialah :


1. Posterior :
Berbentuk cembung dan terdapat sekumpulan tendon/otot extensor yang mempunyai fungsi ekstensi.
2. Anterior :
Berbentuk cekung dan terdapat sekumpulan tendon/otot fleksor yang mempunyai fungsi fleksi lengan bawah dan tangan. Dan pada
bagian dalam ada: m. pronator quadratus yang berjalan menyilang dan berfungsi terutama untuk pronasi.
3. Lateral :

5
Tampak m. supinator longus yang mempunyai insersi pada procesus. styloideus radii yang mempunyai fungsi utama sebagai supinasi.

Radius bagian distal bersendi dengan tulang karpus yaitu tulang lunatum dan navikulare ke arah distal, dan dengan tulang ulna
bagian distal ke arah medial. Bagian distal sendi radiokarpal diperkuat dengan simpai di sebelah volar dan dorsal, dan ligament radiokarpal
kolateral ulnar dan radial. Antara radius dan ulna selain terdapat ligament dan simpai yang memperkuat hubungan tersebut, terdapat pula
diskus artikularis, yang melekat dengan semacam meniskus yang berbentuk segitiga, yang melekat pada ligamen kolateral ulna. Ligamen
kolateral ulna bersama dengan meniskus homolognya dan diskus artikularis bersama ligament radioulnar dorsal dan volar, yang
kesemuanya menghubungkan radius dan ulna, disebut kompleks rawan fibroid triangularis (TFCC = triangular fibro cartilage complex)
(Sjamsuhidayat & de Jong, 1998).
Gerakan sendi radiokarpal adalah fleksi dan ekstensi pergelangan tangan serta gerakan deviasi radius dan ulna. Gerakan fleksi dan
ekstensi dapat mencapai 90 derajat oleh karena adanya dua sendi yang bergerak yaitu sendi radiolunatum dan sendi lunatum-kapitatum dan
sendi lain di korpus. Gerakan pada sendi radioulnar distal adalah gerak rotasi. (Sjamsuhidayat & de Jong, 1998)

Gambar 1a. Sudut normal sendi radiokarpal di bagian ventral Gambar 1b. Sudut normal yang dibentuk oleh ulna terhadap
(tampak lateral). sendi radiokarpal

Sendi radiokarpal normalnya memiliki sudut 1 - 23 derajat pada bagian palmar (ventral) seperti diperlihatkan pada gambar 1a. Fraktur yang
melibatkan angulasi ventral umumnya berhasil baik dalam fungsi, tidak seperti fraktur yang melibatkan angulasi dorsal sendi radiokarpal
yang pemulihan fungsinya tidak begitu baik bila reduksinya tidak sempurna. Gambar 1b memperlihatkan sudut normal yang dibentuk
tulang ulna terhadap sendi radiokarpal, yaitu 15 - 30 derajat. Evaluasi terhadap angulasi penting dalam perawatan fraktur lengan bawah
bagian distal, karena kegagalan atau reduksi inkomplit yang tidak memperhitungkan angulasi akan menyebabkan hambatan pada gerakan
tangan oleh ulna. (Simon & Koenigsknecht, 1987)

Anatomi dan Biomekanik Antebrakhii Distal


Bagian antebrakhii distal sering disebut pergelangan tangan, batas atasnya kira-kira 1,5 – 2 inchi distal radius. Pada tempat ini
ditemui bagian tulang distal radius yang relatif lemah karena tempat persambungan antara tulang kortikal dan tulang spongiosa dekat sendi.
Dorsal radius bentuknya cembung dengan permukaan beralur-alur untuk tempat lewatnya tendon ekstensor.
Bagian volarnya cekung dan ditutupi oleh otot pronator quadratus. Sisi lateral radius distal memanjang ke bawah membentuk
prosesus styloideus radius dengan posisi yang lebih rendah dari prosesus styloideus ulna. Bagian ini merupakan tempat insersi otot
brakhioradialis (Appley, 1995; Brumfeeld et al, 1984; Salter, 1984).
Pada antebrakhii distal ini ditemui 2 sendi yaitu sendi radioulna distal dan sendi radiocarpalia. Kapsul sendi radioulna dan
radiocarpalia melekat pada batas permukaan sendi. Kapsul ini tipis dan lemah tapi diperkuat oleh beberapa ligamen antara lain :
1. Ligamentum Carpeum volare (yang paling kuat).
2. Ligamentum Carpaeum dorsale.
3. Ligamentum Carpal dorsale dan volare.
4. Ligamentum Collateral.
Anatomi Pergelangan Tangan
Anatomi
WRIST = REGIO CARPALIS
Anterior
a. Struktur ini berjalan superficial terhadap retinaculum musculorum flexorum dari medial ke lateral
1) Tendo musculus flexor carpi ulnaris
2) N. Ulnaris
3) A. Ulnaris
4) Ramus cutaneus palmaris nervi ulnaris
5) Tendo musculus palmaris longus

6
6) Ramus cutaneus nervi medianus
b. Struktur ini berjalan di bawah retinaculum musculorum flexorum dari medial ke lateral
1) Tendo musculus flexor digitorum superficialis
2) N. Medianus
3) Tendo musculus flexor policis longus
4) Tendo musculus flexor carpi radialis

Posterior
a. Struktur ini berjalan superficial terhadap retinaculum musculorum extensorum dari medial ke lateral
1) Ramus cutaneus dorsalis(posterior)nervi ulnaris
2) Vena basilica
3) Vena cepalica
4) Ramus superficialis nervi radialis
b. Struktur ini berjalan di bawah retinaculum musculorum extensorum dari medial ke lateral
1) Tendo musculus extensorum carpi ulnaris
2) Tendo musculus extensor digiti minimi
3) Tendo musculus extensor digitorum et indicis
4) Tendo musculus extensor policis longus

Persarafan
1. Lateral cord d. Ulnar nerve
a. Lateral pectoral nerve e. Medial root of median nerve
b. Musculocutaneous nerve 3. Posterior cord
c. Lateral root of median nerve a. Upper and lower subscapular nerves
2. Medial cord b. Thoracodorsal nerve
a. Medial pectoral nerve c. Axillary nerve
b. Medial cutaneous nerve of arm d. Radial nerve
c. and medial cutaneous nerve of forearm

Jenis Pergerakan pada Pergelangan Tangan/Articulatio radiocarpalis(sendi pergelangan tangan)


a. Articulatio : antara ujung distal radius dan discus 2) Supinatio, dilakukan oleh M. biceps brachii damn M.
articulaticularis di sebelah atas dengan os lunatum, os Supinator
triquetrum, dan os scapoideum
Tipe : sendi episoidea sinovial Wrist Joint Motions (Adapted from Luttgens & Hamilton,
Persarafan : N. Interossea anterior dan ramus profundus 1997)
nervi radialis
1) Flexio, dilakukan oleh M. Flexor carpi radialis, M.
Flexor carpu ulnaris, M. Palmaris longus, dan dibantu
otot lain
2) Extentio, dilakuakn oleh M. Carpi radialis longus, M.
Extensor capi radialis brevis, M. Extensor carpi
ulnaris
3) Abductio, M. Flexor carpi radialis

b. Articulatio radioulnaris distalis


Aryticulatio : antara caput ulan dan incisura ulanris radii
Tipe : sendi pivot sinovila
Persarafan : nervus interosseus anterior dan ranmus
profundus nervi radialis
1) Pronatio, dilakukan oleh M. Pronator teres dan M.
Pronator quadratus

TABLE. 1 Average ROMs (Adapted from Luttgens & Hamilton, 1997)


Joint/Segment Movement Source 1* Source 2* Source 3* Source 4*
Wrist Extension (Dorsiflexion) 60 70 70 50
Flexion (Palmar flexion) 60 90 - 60

7
Radial Deviation 20 20 20 20
Ulnar Deviation 30 30 35 30

Dilihat dari anatomi pergelangan tangan dan posisi tangan saat jatuh, maka bagian mana saja yang mungkin mengalami kerusakan ?
Berdasarkan dari penjelasan anatomi sebelumnya dan berhubungan dengan posisi tangan pada saat jatuh, bagian yang mungkin
mengalami kerusakan adalah radius distal, ulna distal, ossa carpal serta jaringan yang ada disekitar tulang yang mengalami fraktur.
Pada saat jatuh terpeleset, posisi tangan berusaha untuk menahan badan dalam posisi terbuka dan pronasi. . Lalu dengan terjadinya
benturan yang kuat, gaya akan diteruskan ke daerah metafisis radius distal dan mungkin akan menyebabkan patah radius 1/3 distal di mana
garis patah berjarak 2 cm dari permukaan persendian pergelangan tangan.

Sehingga tulang yang kemungkinan mengalami fratur pada posisi tersebut adalah radius distal dan os scaphoideum.

Colles fracture Scaphoid fracture

Dengan posisi tangan pada saat jatuh seperti


gambar di atas, maka gaya yang kuat akan
berlawanan arah ke daerah pergelangan tangan. Dan
seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa
yang mungkin mengalami fraktur adalah distal
radius sebab dilihat dari struktur jaringannya saja
tulang daerah tersebut memang rawan patah.

Gerakan Pada Pergelangan Tangan


Sendi radioulnar distal adalah sendi antara ‘cavum sigmoid radius’ (yang terletak
pada bahagian dalam radius) dengan ulna. Pada permukaan sendi ini terdapat
‘fibrocartilago triangular’ dengan basis melekat pada permukaaan inferior radius dan
puncaknya pada prosesus styloideus ulna. Sendi ini membantu gerakan pronasi dan
supinasi lengan bawah, di mana dalam keadaan normal gerakan ini membutuhkan
kedudukan sumbu sendi radioulnar proksimal dan distal dalam keadaan ‘coaxial’.
Adapun nilai maksimal rata-rata lingkup sendi dari pronasi dan supinasi sebagai berikut :
1. pronasi = 80 - 900
2. supinasi = 80 – 900
Menurut American Academy of Orthopaedic Surgeon untuk pengukuran lingkup sendi ini, siku harus dalam posisi fleksi 90 0 sehingga
mencegah gerakan rotasi pada humerus (Kaner, 1980; Kapanji, 1983). Sendi Radio Carpalia merupakan suatu persendian yang kompleks,
dibentuk oleh radius distal dan tulang carpalia ( os navikulare dan lunatum ) yang terdiri dari ‘inner dan outer facet’. Dengan adanya sendi
ini tangan dapat digerakkan ke arah volar, dorsal, radial dan ulnar secara sirkumdiksi. Sedangkan gerakan rotasi tidak mungkin karena
bentuk permukaan sendi ellips. Rata-rata gerakan maksimal pada pergelangan tangan adalah sebagai berikut :
1. fleksi dorsal = 50 – 800.
2. fleksi volar/palmar= 60 – 850
3. deviasi radial = 15 - 290
4. deviasi ulnar = 30 – 460
Menurut American Acadeny of Orthopaedic Surgeon untuk pengukuran lingkup sendi ini dilakukan dengan memakai goniometer,
dalam posisi pronasi secara normal sendi radio carpalia ini mempunyai sudut 1 – 230 ke arah palmar polar, jadi fraktur yang mengarah pada
volar akan mempunyai prognosa baik (Appley, 1995; Brumfield & Champoux, 1984; Kaner, 1980).

Fungsi Tangan
Kelainan pada pergelangan tangan sebagai akibat fraktur distal radius akan mempengaruhi fungsi tangan karena pergelangan
tangan merupakan kunci untuk mendapatkan fungsi tangan yang baik (Auliffe dkk, 1995;Brumfield dkk, 1984).

8
Di bawah ini dikemukakan beberapa fungsi tangan (Appley, 1995; Palmer dkk, 1984; Kaner, 1980) :
1. Gerakan membuka tangan merupakan gerakan ekstensi jari dan abduksi ibu jari.
2. Gerakan menutup tangan merupakan gerakan fleksi dan adduksi jari-jari serta gerakan fleksi, adduksi dan oposisi dari ibu jari.
3. Gerakan menggenggam :
a. Power grip : saat menggenggam tabung
b. Ball grip : saat menggenggam bola
c. Pinch grip : saat mengambil barang yang tipis
d. Three point grip : saat memegang pensil
e. Key grip : saat membuka pintu dengan kunci

Anatomi Radiologi
Terdapat tiga pengukuran radiologi yang sering dipakai untuk melakukan evaluasi radiologis dari distal radius. Pengukuran
dilakukan dengan mengacu kepada axis longitudinal dari radius. Pada foto AP dan lateral, garis ini ditentukan sebagai garis yang
menghubungkan dua titik pada jarak 3 cm dan 6 cm proksimal dari permukaan sendi yang terletak di garis tengah. Ketiga pengukuran
tersebut terdiri dari ( Bunger, 1974; Charnley, 1984) :
1. Volar Angle / Dorsal Angle
Diukur dari foto lateral, merupakan sudut yang dibentuk oleh garis yang menghubungkan tepi dorsal dan tepi volar radius dengan
garis yang tegak lurus pada axis longitudinal (Gartland & Werley, 1951;Sarmiento,1981) :
• Nilai rata-rata : 11 – 120
• Range : 1 – 210
• Standar deviasi : 4,3
2. Radial Angle / Radial Inklinasi
Diukur dari foto antero posterior (AP), merupakan sudut yang dibentuk antara garis yang menghubungkan ujung radial styloid dengan
sudut ulnar dari distal radius dengan garis yang tegak lurus pada axis longitudinal (Gartland & Werley, 1951; Sarmiento, 1981) :
• Nilai rata-rata : 230
• Range : 13 – 300
• Standar deviasi : 2,2
3. Radial Length
Diukur dari foto AP, merupakan jarak antara dua garis yang tegak lurus pada axis longitudinal, garis pertama melalui tepi ujung dari
radial styloid, garis kedua merupakan garis yang melalui permukaan sendi ulna (Gartland & Werley, 1951; Sarmiento, 1981) :
• Nilai rata-rata : 12 mm
• Range : 8 – 18 mm
• Standar deviasi : 2,3

Skema Volar Angle, Radial Angle dan Radial Length


Ada satu pengukuran lagi yang penting pada fraktur Colles’ yaitu
‘Radial Width’. Diukur dari foto AP, merupakan antara garis axis
longitudinal dan garis yang melalui tepi paling lateral dari radial
styloid.
Pemeriksaan foto rontgen diperlukan untuk konfirmasi
diagnosa, menilai tipe fraktur, kestabilan dan penilaian derajat
peranjakan. Penilaian terutama pada :
1. Apakah prosesus styloid / kolumn ulna ikut patah.
2. Apakah fraktur mengenai DRUJ (distal radioulnar joint).
3. Apakah fraktur mengenai radiocarpalia.

KLASIFIKASI
Ada banyak sistem klasifikasi yang digunakan pada
fraktur ekstensi dari radius distal. Namun yang paling sering
digunakan adalah sistem klasifikasi oleh Frykman. Berdasarkan
sistem ini maka fraktur Colles dibedakan menjadi 4 tipe berikut : (Simon & Koenigsknecht, 1987)
Tipe IA : Fraktur radius ekstra artikuler Tipe IIIB : Fraktur radius distal dan ulna yang mengenai
Tipe IB : Fraktur radius dan ulna ekstra artikuler sendi radioulnar
Tipe IIA : Fraktur radius distal yang mengenai sendi Tipe IVA : Fraktur radius distal yang mengenai sendi
radiokarpal radiokarpal dan sendi radioulnar
Tipe IIB : Fraktur radius distal dan ulna yang mengenai sendi Tipe IVB : Fraktur radius distal dan ulna yang mengenai
radiokarpal sendi radiokarpal dan sendi
Tipe IIIA : Fraktur radius distal yang mengenai sendi radioulnar
radioulnar

9
Trauma/Kelainan yang Berhubungan
Fraktur ekstensi radius distal sering terjadi berbarengan dengan trauma atau luka yang berhubungan, antara lain : (Simon & Koenigsknecht,
1987)
1. Fraktur prosesus styloideus (60 %)
2. Fraktur collum ulna
3. Fraktur carpal
4. Subluksasi radioulnar distal
5. Ruptur tendon fleksor
6. Ruptur nervus medianus dan ulnaris

PATOGENESIS
Umumnya fraktur distal radius terutama fraktur Colles’ dapat timbul setelah penderita terjatuh dengan tangan posisi terkedang dan
meyangga badan (Appley, 1995 ; Salter, 1981).
Pada saat terjatuh sebahagian energi yang timbul diserap oleh jaringan lunak dan persendian tangan, kemudian baru diteruskan ke
distal radius, hingga dapat menimbulkan patah tulang pada daerah yang lemah yaitu antara batas tulang kortikal dan tulang spongiosa.
Khusus pada fraktur Colles’ biasanya fragmen distal bergeser ke dorsal, tertarik ke proksimal dengan angulasi ke arah radial serta
supinasi. Adanya fraktur prosesus styloid ulna mungkin akibat adanya tarikan triangular fibrokartilago atau ligamen ulnar collateral
( Salter, 1984).
Berdasarkan percobaan cadaver didapatkan bahwa fraktur distal radius dapat terjadi, jika pergelangan tangan berada dalam posisi
dorsofleksi 40 – 900 dengan beban gaya tarikan sebesar 195 kg pada wanita dan 282 kg pada pria ( Rychack, 1977).
Pada bagian dorsal radius frakturnya sering komunited, dengan periosteum masih utuh, sehingga jarang disertai trauma tendon
ekstensor. Sebaliknya pada bahagian volar umumnya fraktur tidak komunited, disertai oleh robekan periosteum, dan dapat disertai dengan
trauma tendon fleksor dan jaringan lunak lainnya seperti n. medianus dan n. ulnaris. Fraktur pada radius distal ini dapat disertai dengan
kerusakan sendi radio carpalia dan radio ulna distal berupa luksasi atau subluksasi. Pada sendi radio ulna distal umumnya disertai dengan
robekan dari triangular fibrokartilago.

PATOFISIOLOGI
Trauma yang menyebabkan fraktur di daerah pergelangan tangan biasanya merupakan trauma langsung, yaitu jatuh pada
permukaan tangan sebelah volar atau dorsal. Jatuh pada permukaan tangan sebelah volar menyebabkan dislokasi fragmen fraktur sebelah
distal ke arah dorsal. Dislokasi ini menyebabkan bentuk lengan bawah dan tangan bila dilihat dari samping menyerupai garpu.
(Sjamsuhidayat & de Jong, 1998).
Benturan mengena di sepanjang lengan bawah dengan posisi pergelangan tangan berekstensi. Tulang mengalami fraktur pada sambungan
kortikokanselosa dan fragmen distal remuk ke dalam ekstensi dan pergeseran dorsal. (Apley & Solomon, 1995) Garis fraktur berada kira-
kira 3 cm proksimal prosesus styloideus radii. Posisi fragmen distal miring ke dorsal, overlapping dan bergeser ke radial, sehingga secara
klasik digambarkan seperti garpu terbalik (dinner fork deformity). (Armis, 2000)

Fisiologi dan mekanisme terjadinya fraktur :


• Biasanya disebabkan karena trauma langsung, atau sebagai akibat jatuh dimana sisi dorsal lengan bawah menyangga berat badan.
• Secara ilmu gaya dapat diterangkan sebagai berikut :Trauma langsung dimana lengan bawah dalam posisi supinasi penuh yang
terkunci dan berat badan waktu jatuh memutar pronasi pada bagian proximal dengan tangan relatif terfixir pada tanah. Putaran
tersebut merupakan kombinasi tekanan yang kuat dan berat, akan memberikan mekanisme yang ideal dari penyebab fraktur Smith.

10
• Trauma lain diduga disebabkan karena tekanan yang mendadak pada dorsum manus, dimana posisi tangan sedang mengepal. Ini
biasanya didapatkan pada penderita yang mengendarai sepeda yang mengalamii trauma langsung pada dorsum manus.

MANIFESTASI KLINIS
Kita dapat mengenali fraktur ini (seperti halnya Colles jauh sebelum radiografi diciptakan) dengan sebutan deformitas garpu
makan malam, dengan penonjolan punggung pergelangan tangan dan depresi di depan. Pada pasien dengan sedikit deformitas mungkin
hanya terdapat nyeri tekan lokal dan nyeri bila pergelangan tangan digerakkan. (Apley & Solomon, 1995) Selain itu juga didapatkan
kekakuan, gerakan yang bebas terbatas, dan pembengkakan di daerah yang terkena.

Gambar 3. Dinner fork deformity

Mekanisme Nyeri Tekan :


Pada saat terjadi fraktur, terjadi kerusakan korteks, pembuluh darah, sumsum tulang dan jaringan lunak. Akibat dari hal tersebut yaitu
terjadi perdarahan, kerusakan tulang dan jaringan sekitar. Keadaan ini menimbulkan hematom pada kanal medulla antara tepi tulang
dibawah periostium dengan jaringan tulang yang mengatasi fraktur. Lalu terjadilah respon inflammasi akibat sirkulasi jaringan nekrotik
dengan ditandai vasodilatasi dari plasma dan leukosit. Tentunya hal tersebut merupakan salah satu upaya tubuh untuk melakukan proses
penyembuhan dalam memperbaiki cidera, dimana tahap tersebut menunjukkan tahap awal penyembuhan tulang. Hematom menyebabkn
dilatasi kapiler di otot, sehingga meningkatkan tekanan kapiler, lalu menstimulasi histamin pada otot yang iskhemik dan menyebabkan
protein plasma hilang dan masuk ke interstitial. Hal tersebut menyebabkan terjadinya edema. Edema yang terbentuk akan menekan ujung
syaraf nyeri, sehingga terjadilah nyeri tekan.
Dinner Fork Deformity

Terjatuh dengan posisi dorsfleksi

Gaya dorong fragmen distal ke posterior dan superior, dan fascies articularis miring ke posterior

Pergeseran fragmen ke posterior

Terbentuk benjolan ke posterior

Dinner fork deformity

Atau

jatuh pada permukaan tangan sebelah dorsal


sepanjang lengan bawah (posisi pergelangan tangan berekstensi)

Gaya akan diteruskan ke daerah metafisis distal

patah radius 1/3 distal di mana garis patah berjarak 2 cm dari permukaan persendian
pergelangan tangan

11
Fragmen bagian distal radius terjadi dislokasi ke arah dorsal, radial dan supinasi.

Tenderness Dislokasi ini menyebabkan bentuk lengan bawah dan tangan


bila Fraktur
dilihat dari
padasamping menyerupai
daerah ujung radial garpu

Penekanan n.medianus dan proses peradangan setempat

Sensitivitas dan nyeri tekan


Atau

Trauma langsung trauma tidak langsung Kondisi patologis

FRAKTUR

pergeseran frakmen tulang (stimulus noxiuos)

stimulasi nosiseptor (perubahan stimulus noxiuos) menjadi potensial aksi proses transduksi
atau aktivasi reseptor

potensial aksi ditaransmisikan menuju neuron susun SSP yang berhubungan dengan nyeri

transmisi, (konduksi impuls dari neurn afferen primer ke kornu dorsalis medula spinalis, pada
kornu drsalis neuron afferent primer bersinap dengan SSP

neuron tsb akan naik ke atas di medula spinalis menuju batang otak dan talamus

terjadi hubungan timbal balik antara talamus dan pusat-pusat yang lebih tinggi di otak yang
mengurusi respon persepsi dan afektif yang berhubungan dengan nyeri

proses modulasi, sinyal yang mampu mempengaruhi proses nyeri tsb, tempat modulasi sinyal
adalah kornu dorsalis pada medula spinalis

persepsi, pesan nyeri direlai menuju ke otak dan menghasilakn pengalaman


yang tidak menyenagkan nyeri

Painfull ROM
Terjatuh pada posisi dorsofleksi

Fraktur pada pergelangan tangan

Terjadinya gangguan pergerakan


12
Terasa sakit pada batasan ruang lingkup gerakan sendi

Painfull ROM

DIAGNOSIS
Diagnosis fraktur dengan fragmen terdislokasi tidak menimbulkan kesulitan. Secara klinis dengan mudah dapat dibuat diagnosis
patah tulang Colles. Bila fraktur terjadi tanpa dislokasi fragmen patahannya, diagnosis klinis dibuat berdasarkan tanda klinis patah tulang.
(Sjamsuhidayat & de Jong, 1998)

Pemeriksaan radiologik juga diperlukan untuk mengetahui derajat remuknya fraktur kominutif dan mengetahui letak persis
patahannya (Sjamsuhidayat & de Jong, 1998). Pada gambaran radiologis dapat diklasifikasikan stabil dan instabil.
• Stabil bila hanya terjadi satu garis patahan.
• Instabil bila patahnya kominutif dan “crushing” dari tulang cancellous.
Pada keadaan tipe tersebut periosteum bagian dorsal dari radius 1/3 distal tetap utuh. (Reksoprodjo, 1995). Terdapat fraktur radius
melintang pada sambungan kortikokanselosa, dan prosesus stiloideus ulnar sering putus. Fragmen radius (1) bergeser dan miring ke
belakang, (2) bergeser dan miring ke radial, dan (3) terimpaksi. Kadang-kadang fragmen distal mengalami peremukan dan kominutif yang
hebat (Apley & Solomon, 1995)
Gambar 4. (a) deformitas garpu makan malam, (b) fraktur tidak
masuk dalam sendi pergelangan tangan, (c)
Pergeseran ke belakang dan ke radial

Contoh Hasil Foto Rontgen AP/L dan Parameter Pengukuran RA, RL dan RT
Proyeksi AP dan lateral biasanya sudah cukup untuk
memperlihatkan fragmen fraktur. Dalam evaluasi fraktur,
beberapa pertanyaan berikut perlu dijawab:
1. Adakah fraktur ini juga menyebabkan fraktur pada prosesus
styloideus ulna atau pada collum ulna ?
2. Apakah melibatkan sendi radioulnar ?
3. Apakah melibatkan sendi radiokarpal ?
Proyeksi lateral perlu dievaluasi untuk konfirmasi
adanya subluksasi radioulnar distal. Selain itu, evaluasi sudut
radiokarpal dan sudut radioulnar juga diperlukan untuk
memastikan perbaikan fungsi telah lengkap. (Simon &
Koenigsknecht, 1987)

Gambaran radiologi fraktur dan abnormalitas distal lengan bawah

13
Pada x-ray menunjukkan fraktur angulasi dorsal dari metaphysis
distal radius (2-3 cm proksimal ke pergelangan tangan).
Fraktur yang mencapai ke persendian, disebut fraktur intra-
artikular sedangkan fraktur yang tidak mencapai persendian
disebut fraktur eksta-artikular.

Bentuk keabnormalan di bagan distal lengan bawah dan pergelangan tangan

Dinner fork deformity merupakan temuan klinis klasik dan radiologi pada fraktur colles. Dislokasi dan angulasi dorsal dari fragmen distal
radius mengakibatkan suatu bentuk garis pada proyeksi lateral yang menyerupai kurva garpu makan malam.

Perbandingan radiologi

Interpretasi radiologi
Berdasarkan gambaran radiologi dapat diinterpretasikan bahwa pada telah terjadi fraktur pada distal radius dan terdapat deformitas dinner
fork yang mengindikasikan bahwa mengalami fraktur colles.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur : menentukan lokasi, luasnya
b. Pemeriksaan jumlah darah lengkap
c. Arteriografi : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai
d. Kreatinin : trauma otot meningkatkanbeban kreatinin untuk klirens ginjal
e. Pemerikasaan rontgen, menentukan luasnya fraktur, trauma.

14
f. Scan tulang, tomogram, memperlihatkan fraktur juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi jaringan lunak
g. Ht mungkin meningkat (Hemokonsentrasi) atau menurun (pendarahan bermakna pada sisi fraktur / organ jauh pada trauma multiple).
Kreatmin, trauma otot meningkat beban creatrain untuk klirens ginjal. ( Doenges, 2000 : 762 )

Pemeriksaan Tambahan

Pada pemeriksaan foto polos daerah fraktur, dapat dilihat karakteristik gambaran patahan fraktur ini, yaitu :

• Garis patahan yang transversal, 2 cm distal dari radius


• Prosesus styloid ulnaris biasanya avulsi
• Biasanya hanya terdapat dua fragmen patahan tulang, tapi pada keadaan tertentu dapat terjadi banyak patahan yang dinamakan
kominutif

Dapat dilihat ada dua tipe fraktur ini, yaitu :

• Stabil, yang ditandai dengan hanya terdapat 1 garis patahan transversal


• Tidak stabil, terdapat banyak garis patahan (kominutif) dan “crushing” dari tulang cancellous

DIAGNOSIS BANDING
DD Definisi Manifestasi Klinis Penatalaksanaan
Deformitas pada fraktur ini • Fraktur metafisis distal Pada fraktur Colles tanpa dislokasi hanya
berbentuk seperti sendok radius dengan jarak _+ diperlukan imobilisasi dengan pemasangan
makan (dinner fork 2,5 cm dari permukaan gips sirkular di bawah siku selama 4
deformity). Pasien terjatuh sendi distal radius minggu. Bila disertai dislokasi diperlukan
dalam keadaan tangan
• Dislokasi fragmen tindakan reposisi tertutup. Dilakukan
terbuka dan pronasi, tubuh
Fraktur Colles distalnya ke arah dorsofleksi fragmen distal, traksi kemudian
beserta lengan berputar ke
posterior/dorsal posisi tangan volar fleksi, deviasi ulna
ke dalam (endorotasi).
Tangan terbuka yang • Subluksasi sendi (untuk mengoreksi deviasi radial) dan
radioulnar distal diputar ke arah pronasio (untuk
terfiksasi di tanah berputar
• Avulsi prosesus mengoreksi supinasi). Imobilisasi
keluar (eksorotasi/supinasi).
stiloideus ulna. dilakukan selama 4 - 6 minggu.
Fraktur Smith merupakan Penonjolan dorsal fragmen Dilakukan reposisi dengan posisi tangan
fraktur dislokasi ke arah proksimal, fragmen distal di diletakkan dalam posisi dorsofleksi ringan,
anterior (volar), karena itu sisi volar pergelangan, dan deviasi ulnar, dan supinasi maksimal
sering disebut reverse Colles deviasi ke radial (garden (kebalikan posisi Colles). Lalu
fracture. Fraktur ini biasa spade deformity). diimobilisasi dengan gips di atas siku
terjadi pada orang muda. selama 4 - 6 minggu.
Pasien jatuh dengan tangan
Fraktur Smith menahan badan sedang
posisi tangan dalam keadaan
volar fleksi pada
pergelangan tangan dan
pronasi. Garis patahan
biasanya transversal,
kadang-kadang
intraartikular.
Fraktur Galeazzi Fraktur Galeazzi merupakan Tampak tangan bagian distal Dilakukan reposisi dan imobilisasi dengan

15
fraktur radius distal disertai dalam posisi angulasi ke gips di atas siku, posisi netral untuk
dislokasi sendi radius ulna dorsal. Pada pergelangan dislokasi radius ulna distal, deviasi ulnar,
distal. Saat pasien jatuh tangan dapat diraba tonjolan dan fleksi.
dengan tangan terbuka yang ujung distal ulna.
menahan badan, terjadi pula
rotasi lengan bawah dalam
posisi pronasi waktu
menahan berat badan yang
memberi gaya supinasi.
Fraktur Montegia Terdapat 2 tipe yaitu tipe Dilakukan reposisi tertutup. Asisten
merupakan fraktur sepertiga ekstensi (lebih sering) dan memegang lengan atas, penolong
proksimal ulna disertai tipe fleksi. Pada tipe ekstensi melakukan tarikan lengan bawah ke distal,
dislokasi sendi radius ulna gaya yang terjadi mendorong kemudian diputar ke arah supinasi penuh.
proksimal. Terjadi karena ulna ke arah hiperekstensi Setelah itu, dengan jari kepala radius
trauma langsung. dan pronasi. Sedangkan pada dicoba ditekan ke tempat semula.
Fraktur Montegia
tipe fleksi, gaya mendorong Imobilisasi gips sirkuler dilakukan di atas
dari depan ke arah fleksi siku dengan posisi siku fleksi 90° dan
yang menyebabkan fragmen posisi lengan bawah supinasi penuh. Bila
ulna mengadakan angulasi gagal, dilakukan reposisi terbuka dengan
ke posterior. pemasangan fiksasi interna (plate-screw).

DAFTAR PUSTAKA

Carpenitto, Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Alih bahasa : Monica Ester, Edisi 8. EGC : Jakarta.
Dorland, W.A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. ed : Hartanto, Huriawati, dkk.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
http://medlinux.blogspot.com/2008/07/fraktur-coles.html
Mansjoer, A, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Jilid II. Media Aesculapius:Jakarta
Rasjad, chairuddin, prof.2003. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Malang : Yarsif Watampone

16