Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

“LEGAL ETIK KEPERAWATAN JIWA”


Diajukan untuk memenuhi salah satu Tugas Mata Kuliah Keperawatan Kesehatan Jiwa I

Dosen Pengampu :
Abdal Rohim S.Kp.M.H (Kes)

Disusun Oleh :

Anisah Gemah (CKR0190084) Encep Maulana (CKR0190095)


Apip Ahmad Hidayat (CKR0190085) Fina Astuti Herfiana (CKR0190096)
Athala Pahda Mahardika (CKR0190087) Firda Asri Nurdianti (CKR0190097)
Athalia Rania Insyira (CKR0190088) Fitra Hihen (CKR0190098)
Cintia Rindyantika (CKR0190089) Gilang (CKR0190233)
Dinda Anggraeni (CKR0190090) Gita Sri Wahyuni (CKR0190099)
Dinda Syiffani Fauzia (CKR0190091) Indy Mutia Teguh P (CKR0190100)
Dini Supandi (CKR0190092) Ineu Jumiati (CKR0190101)
Elma Hemnidar N.P (CKR0190093) Inka Puspa Mawati (CKR0190102)
Emay Maesyaroh (CKR0190094) Karina Mithasela (CKR0190103)
KEPERAWATAN C
SEMESTER 4

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUNINGAN
TAHUN AJARAN 2020-2021
Jalan Lingkar Bayuning No.2, Kadugede, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, 45561
Telp. (0232) 875847 Fax. 0232-875123. Email : info@stikeskuningan.ac.id
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan
hidayah-Nya penulis dapat menyusun dan menyelesaikan TugasMakalah yang berjudul “LEGAL
ETIK KEPERAWATAN JIWA” Tugas Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu Tugas
Mata Kuliah Keperawatan Kesehatan Jiwa I.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada bapak Abdal Rohim S.Kp. M.H (Kes), selaku
dosen Mata Kuliah Keperawatan Kesehatan Jiwa I atas bimbingan yang telah diberikan sehingga
dapat menyelesaikan Tugas Makalah ini.
Dalam menyelesaikan Tugas Makalah ini penulis sangat menyadari bahwa Makalah ini
masih sangat terbatas dan masih banyak kekurangan dalam mengkaji teori tentang “Legal Etik
Keperawatan Jiwa”. Uuntuk ini penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun.
Semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membacanya, dan juga
dapat bermanfaat bagi siapapun yang membutuhkannya, terima kasih.

Kuningan, Juli 2021

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................................ i
DAFTAR ISI........................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan................................................................................................. 2
1.4 Metode Penulisan................................................................................................ 2
BAB IITINJAUAN TEORI
2.1 Perkembangan Keperawatan Jiwa di Dunia........................................................ 3
2.2 Perkembangan Keperawatan Jiwa di Indonesia.................................................. 5
2.3 Definisi Sehat Jiwa.............................................................................................. 6
2.4 Ciri-Ciri Sehat Jiwa............................................................................................. 7
2.5 Paradigma Keperawatan Jiwa............................................................................. 8
2.6 Falsafah Keperawatan Jiwa................................................................................. 10
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Definisi Legal Etik Keperawatan........................................................................ 11
3.2 Prinsip Etik Keperawatan Jiwa........................................................................... 11
3.3 Aspek Legal dan Etik Keperawatan Jiwa............................................................ 16
3.4 Nilai-Nilai yang Melandasi Etika Keperawatan................................................. 17
3.5 Hak dan Tanggung Jawab Perawat Jiwa............................................................. 18
3.6 Hak-Hak Pasien Jiwa.......................................................................................... 19
3.7 Peran Legal Perawat Keperawatan Jiwa............................................................. 21
3.8 Kode Etik Perawatan di Indonesia...................................................................... 22
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan......................................................................................................... 24
4.2 Saran.................................................................................................................... 25
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................. 26

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perawat merupakan salah satu profesi tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan
kesehatan langsung baik kepada individu, keluarga maupun masyarakat. Sebagai salah satu
tenaga professional, keperawatan menjalankan dan melaksanakan kegiatan praktek
keperawatan dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teori keperawatan yang dapat di
pertanggung jawabkan. Dimana ciri profesi adalah mempunyai body of knowledgeyang
dapat diuji kebenaran serta ilmunya dapat di implementasikan kepada masyarakat langsung
(Kozier, 2010).
Pelayanan kesehatan dan keperawatan yang dimaksud adalah bentuk implementasi
praktek keperawatan yang ditujukan kepada pasien atau klien baik kepada individu, keluarga
dan masyarakat dengan tujuan upaya peningkatan kesehatan dan kesejahteraan guna
mempertahankan dan memelihara kesehatan serta menyembuhkan dari sakit, dengan kata
lain upaya praktek keperawatan berupa promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitasi. Dalam
melakukan praktek keperawatan perawat secara langsung berhubungan dan berinteraksi
kepada penerima jasa pelayanan, dan pada saat interaksi inilah sering timbul beberapa hal
yang tidak diinginkan baik disengaja maupun tidak disengaja, kondisi demikian inilah sering
menimbulkan konflik baik pada diri pelaku penerima dan penerima praktek keperawatan
(Kozier, 2010).
Etika merupakan peraturan dan prinsip bagi perbuatan yang benar. Etika berhubugan
dengan hal yang baik serta hal yang tidak baik dan berhubungan dengan kewajiban moral.
Etika merupakan metode penyelidikan yang membantu orang memahami moralitas perilaku
manusia (yaitu ilmu yang mempelajari moralitas), praktik keyakinan kelompok tertentu
(misalnya kedonteran, keperawatan, dan lainnya), dan standar perilaku moral yang
diharapkan dari kelompok tertentu sesuai dalam kode etik profesi kelompok tersebut
(Kozier, B : 2010).

1
1.2 Rumusan Masalah
a) Apa definisi legal etik keperawatan?
b) Apa saja prinsip etik keperawatan jiwa?
c) Apa saja nilai-nilai yang melandasi etika keperawatan?
d) Bagaimana hak dan tanggung jawab perawat jiwa?
e) Apa saja hak-hak pasien jiwa?
f) Bagaimana peran legal perawat keperawatan jiwa?
g) Apa saja kode etik perawatan di Indonesia?
1.3 Tujuan Penulisan
a) Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami konsep legal dan etik keperawatan khususnya tentang
aspek legal dan etik keperawatan jiwa.
b) Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui definisi legal etik keperawatan
2. Untuk mengetahui apa saja prinsip etik keperawatan jiwa
3. Untuk mengetahui apa saja nilai-nilai yang melandasi etika keperawatan
4. Untuk mengetahui bagaimana hak dan tanggung jawab perawat jiwa
5. Untuk mengetahui apa saja hak-hak pasien jiwa
6. Untuk mengetahui peran legal perawat keperawatan jiwa
7. Apa saja kode etik perawatan di Indonesia
1.4 Metode Penulisan
Metode penulisan yang penulis gunakan dalam menyusun makalah ini adalah metode
penulisan pustaka. Metode penulisan pustaka yaitu metode yang dilakukan dengan
mempelajari dan mengumpulkan data dari buku, jurnal, dan e-book.

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Perkembangan Keperawatan Jiwa di Dunia


Perkembangan Keperawata Jiwa di Dunia menurut Nurhalimah (2016),
diantaranya sebagai berikut :
a) Masa Peradaban
Masa ini dimulai antara tahun 1770-1880, ditandai dengan dimulainya
pengobatan terhadap pasien gangguan mental. Pada masa ini, suku bangsa Yunani,
Romawi maupun Arab percaya bahwa gangguan mental (emosional) diakibatkan
karena tidak berfungsinya organ pada otak. Pengobatan yang digunakan pada masa
ini telah menggabungkan berbagai pendekatan pengobatan seperti memberikan
ketenangan, mencukupi asupan gizi yang baik, melaksanakan kebersiha badan yang
baik, mendengarkan musik dan melakukan aktivitas relaksasi.
Hipocrates bapak kedokteran abad 7 SM, menerangkan bahwa perubahan
perilaku atau watak dan gangguan mental disebabkan karena adanya perubahan 4
caira tubuh atau hormone, yang dapat menghasilkan panas, dingin, kering dan
kelembaban. Seorang dokter Yunani Galen, mengatakan ada hubungan antara
kerusakan pada otak dengan kejadian gangguan mental dan perubahan emosi. Pada
masa itu suku bangsa Yunani telah menggunakan sistem perawatan yang modern
dimana telah digunakannya kuil sebagai rumah sakit dengan lingkungan yang bersih,
udara yang segar, sinar matahari dan penggunaan air bersih. Untuk menyembuhkan
pasien dengan penyakit jiwa atau gangguan mental, pasien diajak untuk melakukan
berbagai aktivitas seperti bersepeda, jalan-jalan, dan mendengarkan suara air terjun,
music yang lembut.
b) Masa Pertengahan
Masa ini merupakan periode pengobatan modern pasien gangguan jiwa.
Bapak Psikiatric Prancis Pinel, menghabiskan sebagian hidupnya untuk
mendampingi pasien gangguan jiwa. Pinel mengajarkan pentingnya hubungan pasien
dengan dokter dalam “pengobatan moral”. Tindakan yang diperkenalkannya adalah

3
menerapkan komunikasi dengan pasien, melakukan observasi perilaku pasien dan
pengkajian riwayat perkembangan pasien.
c) Abad 18 dan 19
William Ellis seorang praktisi kesehatan mengusulkan perlunya pendampin
yang terlatih dalam merawat pasien dengan gangguan jiwa. Pada tahun 1836,
William Ellis mempublikasikan Treatise on Insanity yaitu pentingnya pendamping
terlatih bagi pasien gangguan jiwa karena pendamping terlatih terbukti efektif dalam
memberikan ketenangan dan harapan yang lebih baik bagi kesembuhan pasien.
Bejamin Rush bapak Psikiatric Amerika tahun 1783, menulis tentang pentingnya
kerjasama dengan RS Jiwa dalam memberikan bantuan kemanusiaan terhadap pasien
gangguan jiwa. Pada tahun 1834, Thomas Kirkbridge mengadakan pelatihan bagi
dokter di RS Pennsylvania mengenai cara merawat pasien gangguan jiwa. Tahun
1872, didirikannya pertama kali sekolah perawat di New England Hospital Women’s
Philadelphia, tetapi tidak untuk pelayanan psikiatrik.
Tahun 1882 didirikannya pendidikan keperawatan jiwa pertama di McLean
Hospital di Belmont, Massachusetts, dan tahun 1890 diterimanya lulusan sekolah
perawat bekerja sebagai staff keperawatan di RS Jiwa. Pada akhir abad 19 terjadi
perubahan peran perawat jiwa yang sangat besar, dimana peran tersebut antara lain
menjadi contoh dalam pengobatan psikiatrik seperti menjadi bagian dari tim
kesehatan, mengelola pemberian obat penenang dan memberikan hidroterapi (terapi
air).
d) Keperawatan Jiwa di Abad 20
Keperawatan jiwa pada abad ini ditandai dengan terintegrasinya materi
keperawatan psikiatrik dengan mata kuliah lain. Pembelajaran dilaksanakan melalui
pembelajaran teori, praktek di laboratorium, praktek klinik di RS dan masyarakat.
Tingkat pendidikan yang ada pada abad ini adalah D3, Sarjana, Pasca Sarjana dan
Doktoral.
Fokus pemberian asuhan keperawatan jiwa pada abad 21 yaitu
pengembangan asuhan keperawatan berbasis komunitas dengan menekankan upaya
preventif melalui pengembangan pusat kesehatan mental, praktek mandiri, pelayanan
di RS, pelayanan day care (perawatan harian) yaitu pasien hanya rawat jalan,

4
kunjungan rumah dan hospital care (ruang rawat khusus untuk pasien gangguan jiwa
yang memungkinkan pasien berlatih untuk meningkatkan kemampuan diri sebelum
kembali ke lingkungan masyarakat). Dilakukan indentifikasi dan pemberian asuhan
keperawatan pada kelompok berisio tinggi berupa penyuluhan mengenai perubahan
gaya hidup yang dapat mengaibatkan masalah gangguan kesehatan jiwa. Selain itu
dikembangkan pula manajemen pasien care dimana peran seorang manager adalah
mengkoordinasikan pelayanan keperawatan dengan menggunakan pendekatan
multidisipliner.
2.2 Perkembangan Keperawatan Jiwa di Indonesia
Sejarah dan perkembangan keperawatan jiwa di Indonesua sangat dipengaruhi
oleh faktor sosial ekonomi akibat penjajahan yang dilakukan oleh kolonial Belanda,
Inggris, dan Jepang. Perkembangan keperawatan jiwa di Indonesia menurut Nurhalimah
(2016), yaitu :
a) Masa Penjajahan Belanda
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, perawat merupakan penduduk
pribumi yang disebut Velpeger dengan dibantu Zieken Oppaser sebagai penjaga
orang sakit. Tahun 1799 pemerintah kolonial Belanda mendirikan RS Binen Hospital
di Jakarta, Dinas Kesehatan Tentara dan Rakyat yang bertujuan untuk memelihara
kesehatan staf dan tentara Belanda. Jendral Daendels juga mendirikan RS di Jakarta,
Surabaya, dan Semarang, tetapi tidak diikuti perkembangan profesi keperawatan,
karena tujuannya hanya untuk kepentingan tentara Belanda.
b) Masa Penjajahan Inggris (1812-1816)
Gubernur Jendral Inggris ketika itu dijabat oleh Raffles sangat
memperhatikan kesehatan rakyat. Berangkat dari semboyan yaitu kesehatan adalah
milik setiap manusia, ia melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki derajat
kesehatan penduduk pribumi antara lain melakukan perencanaan umum, cara
perawatan pasien dengan gangguan jiwa dan kesehatan para tahanan.
Setelah pemerintahan kolonial kembali ke tangan Belanda, kesehatan
penduduk Indonesia menjadi lebih baik. Pada tahun 1819 didirikan RS Stadverband
di Glodok Jakarta dan pada tahun 1919 dipindahkan ke Salemba yang sekarang
bernama RS. Cipto Mangunkusumo (RSCM), antara tahun 1816-1942 pemerintahan

5
Hindia Belanda banyak mendirikan RS di Indonesia. Di Jakarta didirikanlah RS. PGI
Cikini dan RS. ST Carollus, di Bandung didirikan RS. ST Boromeus dan RS.
Elizabeth di semarang. Bersamaan dengan itu didirikan sekolah perawat-perawat.
c) Masa Penjajahan Jepang
Pada masa ini, perkembangan keperawatan di Indonesia mengalami
kemunduran merupakan masa kegelapan. Pada masa itu, tugas keperawatan tidak
dilakukan oleh tenaga terdidik dan pemerintahan Jepang mengambil alih pimpinan
RS, hal ini mengakibatkan terjangkitnya wabah penyakit karena ketidaksediaan obat.
d) Masa Kemerdekaan
Empat tahun setelah kemerdekaan barulah dimulai pembangunan bidang
kesehatan yaitu pendirian RS dan balai pengobatan. Pendirian sekolah keperawatan
dimulai pertama kali tahun 1952 dengan didirikannya Sekolah Guru Perawat dan
sekolah perawat tingkat SMP, tahun 1962 dengan didirikannya Akademi
Keperawatan milik Departemen Kesehatan di Jakarta bertujuan untuk menghasilkan
Sarjana Muda Keperawatan, tahun 1985 merupakan momentum keperawatan di
Indonesia, karena Universitas Indonesia mendirikan PSIK (Program Studi Ilmu
Keperawatan) di Fakultas Kedokteran.
2.3 Definisi Sehat Jiwa
Menurut WHO, kesehatan jiwa adalah suatu kondisi sejahtera secara fisik, sosial
dan mental yang lengkap dan tidak hanya terbebas dari penyakit atau kecatatan. Individu
dikataka sehat jiwa apabila berada dalam kondisi fisik, mental dan sosial yang terbebas
dari gangguan (penyakit) atau tidak dalam kondisi tertekan sehingga dapat
mengendalikan stress yang timbul sehingga memungkinkan individu untuk hidup
produktif dan mampu melakukan hubungan sosial yang memuaskan.
Menurut UU Kesehatan Jiwa No.03 tahun 1966, kesehatan jiwa adalah suatu
kondisi mental yang sejahtera sehingga memungkinkan seseorang berkembang secara
optimal baik fisik, intelektual dan emosional dan perkembangan tersebut berjala secara
selaras dengan keadaan orang lain sehingga memungkinkan hidup harmonis dan
produktif.

6
2.4 Ciri-Ciri Sehat Jiwa
Berikut ini ciri sehat jiwa menurut beberapa ahli, diantaranya yaitu :
a) Menurut Yahoda
1) Memiliki sikap positif terhadap diri sendiri.
2) Tumbuh, berkembang dan beraktualisasi.
3) Menyadari adanya integrasi dan hubungan antara masa lalu dan sekarang,
memiliki otonomi dalam pengambilan keputusan dan tidak bergantung pada
siapapun.
4) Memiliki persepsi sesuai dengan kenyataan.
5) Mampu menguasai lingkungan dan beradaptasi.
b) Menurut WHO (World Health Organization)
1) Individu mampu menyesuaikan diri secara konstruktif pada kenyataan, meskipun
kenyataan itu buruk baginya.
2) Memperoleh kepuasan dari hasil jerih payah usahannya.
3) Merasa lebih puas memberi dari pada menerima.
4) Secara relative bebas dari rasa tegang (stress), cemas, dan depresi.
5) Mampu berhubungan dengan orang lain secara tolong menolong dan saling
memuaskan.
6) Mampu menerima rasa kasih sayang.
c) Menurut MASLOW
1) Persepsi realitas yang akurat.
2) Menerima diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
3) Spontan .
4) Sederhana dan wajar.
Berdasarkan ciri diatas, dapat disimpulkan bahwa seseorang dikatakan sehat jiwa
apabila :
a) Nyaman terhadap diri sendiri, meliputi mampu mengatasi berbagai perasaan, mampu
mengatasi Harga Diri yang wajar, menilai diri secara nyata, tidak merendahkan dan
tidak pula berlebihan, dan merasa puas dengan kehidupan sehari-hari.
b) Nyaman berhubungan dengan orang lain, meliputi mampu mencintai dan menerima
cinta orang lain, mempunyai hubungan pribadi yang tetap, mampu mempercayai orang

7
lain, dapat mengharagai pendapat orang yang berbeda, merasa menjadi bagian dari
kelompok, tidak mengakali orang lain, dan tidak memberikan dirinya diakali orang
lain.
c) Mampu memenuhi kebutuhan hidup, meliputi menetapkan tujuan yang nyata untuk
dirinya, mampu mengambil keputusan, menerima tanggung jawab, merancang masa
depa, menerima ide atau pengalaman hidup, dan merasa puas dengan pekerjaannya.
2.5 Paradigma Keperawatan Jiwa
Paradigma keperawatan akan membantu seseorang atau masyarakat luas
mengenal dan mengetahui keperawatan dan membantu memahami setiap fenomena. Para
ahli meyimpulkan tujuan paradigma keperawatan adalah mengatur hubungan antara
berbagai teori dan model konseptual keperawatan guna mengembangkan model
konseptual dan teori-teori sebagai kerangka kerja keperawatan (Nurhalimah, 2016).
Fenomena adalah perilaku klien dalam menghadapi ketidakpastian kondisi yang
dialami akibat ketidaknyamanan akibat dari sakit yang dialaminya. Falsafah keperawatan
adalah suatu bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari layanan
kesehatan didasarkan pada ilmu da kiat keperawatan (Nurhalimah, 2016).
Terdapat 4 komponen dalam komponen paradigma keperawatan jiwa, yaitu :
a) Manusia
Keperawatan jiea memandang manusia sebagai makhlu holistik yang terdiri
dari komponen bio, psiko, sosial dan spiritual merupakan satu kesatuan utuh dari
aspek jasmani dan rohani serta unik karena mempunyai berbagai macam kebutuhan
sesuai tingkat perkembangannya (Konsorsium Ilmu Kesehatan, 1992). Manusia
adalah suatu sistem terbuka yang selalu berinteraksi dengan lingkungan eksternal dan
internal agar menjadi keseimbangan atau homeostatis (Kozier, 2000).
Paradigma keperawatan memandang manusia sebagai makhluk holistik, yang
merupakan sistem terbuka, sistem adaptif, personal dan interpersonal. Sebagai sistem
terbuka, manusia mampu mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungannya, baik
lingkunagn fisik, biologis, psikologis maupun sosial dan spiritual. Sebagai sistem
adaptif manusia akan menunjukkan respon adaptif atau maladaptive terhadap
perubahan lingkungan, respon adaptif terjadi apabila kemampuan merespon
perubahan lingkungan rendah, maka manusia akan menunjukkan perilaku yang

8
maladaptif. Manusia atau klien dapat diartikan sebagai individu, keluargga ataupun
masyarakat yang menerima asuhan keperawatan.
b) Keperawatan
Keperawata adalah suatu bentuk pelayanan professional sebagai integral
pelayanan kesehatan yang dilakukan secara komprehensif berbentuk pelayanan
biologis, psikologis, sosial, spiritual dan kultural, ditujukan bagi individu, keluarga
dan masyarakat sehat maupun sakit mencakup siklus hidup manusia.
Pemberian asuhan keperawata dilakukan melalui pendekatan humanistic yaitu
menghargai dan menghormati martabat manusia dan menjunjung tinggi keadilan bagi
semua manusia. Keperawata bersifat universal yaitu dalam memberikan asuhan
keperawatan seorang perawat tidak pernah membedakan klien dari segi ras, usia,
warna kulit, etnik, agama, aliran politik dan status ekonomi sosial. Keperawatan
menganggap klien sebagai partner aktif, dalam arti perawat selalu bekerja sama
dengan klien dalam memberikan asuhan keperawatan. Asuhan keperawatan
merupakan metode ilmiah yang dalam pemberiannya menggunakan proses terapeutik
melibatkan hubungan kerjasama antara perawat dengan klien, dan masyarakat untuk
mencapai tingkat kesehatan yang optimal (Carpetino, 1989 dikutip oleh Keliat,
1991).
c) Kesehatan
Sehat adalah suatu keadaan dinamis, dimana individu harus mampu
menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi, baik perubahan pada lingkungan
internal maupun eksternal untuk mempertahankan status kesehatannya. Faktor
lingkungan internal adalah faktor yang berasal dari dalam individu yang
mempengaruhi kesehatan individu seperti variable psikologis, intelektual dan
spiritual serta proses penyakit. Sedangkan faktor lingkungan ekternal adalah faktor
yang berada diluar individu dapat mempengaruhi kesehatan antara lain variable
lingkungan fisik, hubungan sosial dan ekonomi.
Salah satu ukuran yang digunakan untuk menentukan status kesehatan adalah
rentang sehat sakit. Menurut modal ini, keadaan sehat selalu berubah secara konstan.
Kondisi kesehatan individu selalu berada dalam rentang sehat sakit, yaitu berada
diantara dua kutub yaitu sehat optimal dan kematian, apabila kesehatan bergerak

9
kearah kematian berarti individu berada dalam area sakit (illness area), tetapi jika
status kesehatan bergerak kearah sehat maka individu berada dalam area sehat
(wellness area).
d) Lingkungan
Yang dimaksud lingkungan dalam keperawatan adalah faktor eksternal yang
mempengaruhi perkembangan manusia, yaitu lingkungan fisik, psikologis, sosial,
budaya, status ekonomi, dan spiritual. Untuk mencapai keseimbangan, manusia harus
mengembangkan strategi koping yang efektif agar dapat beradaptasi, sehingga
hubungan interpersonal yang dikembangkan dapat menghasilkan perubahan diri
individu.
2.6 Falsafah Keperawatan Jiwa
Beberapa keyakinan mendasar yang digunakan dalam keperawatan jiwa antara
lain sebagai berikut (Depkes RI, 1998) :
a) Individu memiliki harkat dan martabat, sehingga setiap individu perlu dihargai
b) Tujuan individu meliputi tumbuh, sehat, otonomi, dan aktualisasi diri.
c) Setiap individu mempunyai potensi untuk berubah.
d) Manusia adalah mahluk holistik yang berinteraksi dan bereaksi dengan lingkungan
sebagai manusia utuh.
e) Setiap orang miliki kebutuhan dasar yang sama.
f) Semua perilaku individu adalah bermakna.
g) Perilaku individu meliputi persepsi, pikiran, perasaan, dan tindakan.
h) Individu memiliki kapasitas koping yang bervariasi, yang dipengaruhi oleh kondisi
genetik, lingkungan, kondisi stres, dan sumber yang tersedia.
i) Sakit dapat menumbuhkan dan mengembangkan psikologis bagi individu.
j) Setiap orang mempunyai hak mendapatkan pelayanan kesehatan yang sama.
k) Kesehatan mental adalah komponen kritis dan penting dari pelayanan kesehatan yang
komprehensif.
l) Individu mempunyai hak untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan untuk
kesehatan fisik dan mentalnya.
m) Tujuan keperawatan adalah meningkatkan kesejahteraan, memaksimalkan fungsi
(meminimalkan kecacatan atau ketidakmampuan), dan meningkatkan aktualisasi diri.

10
BAB III
PEMBAHASAN

c.1 Definisi Legal Etik Keperawatan


Legal adalah suatu yang dianggap sah oleh hukum dan undang-undang (Kamus
Besar Bahasa Indonesia) (Ermawati,2015). Etik adalah cabang filosofi yang berkaitan
dengan nilai-nilai berdasarkan suatu standar moral dari kelompok atau profesi (Shives,
2012). Menurut Aiken (2004) Etik adalah seluruh pernyataan tentang benar atau salah
dan apa yang seharusnya dilakukan. Menurut Mandle, Boyle, dan O’Donohoe (1994),
dikutip dari Kozier etik mengatur bagaimana seseorang harus bertindak dan bagaimana
mereka melakukan hubungan dengan orang lain. Dari definisi diatas dapat disimpulkan
bahwa etik berhubungan dengan bagaimana seseorang bertingkah laku dan bertindak
yang seharusnya dengan menghormati diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
Etika keperawatan adalah nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang diyakini oleh profesi
keperawatan dalam melaksanakan tugasnya yang berhubungan dengan pasien,
masyarakat, teman sejawat maupun dengan organisasi propesi, serta pengaturan praktik
dalam keperawatan itu sendiri (Barger & Wiliams, 1999). Etika keperawatan merupakan
suatu acuan dalam melaksanakan praktik keperawatan, tidak terkecuali keprawatan jiwa.
Keputusan dan tindakan perawat psikiarti kepada klien dibedakan oleh apa yang
dinamakan dengan ethical manner (cara yang sesuai dengan etik) (Ermawati, 2015).
c.2 Prinsip Etik Keperawatan Jiwa
Etika adalah kode perilaku yang memperlihatkan perbuatan yang baik bagi
kelompok tertentu. Etika juga merupakan peraturan dan prinsip perbuatan yang bisa
disebut benar. Etika berhubungan dengan peraturan atas perbuatan atau tindakan yang
mempunyai prinsip benar atau salah serta prinsip moralitas karena etika bertanggung
jawan secara moral.
Prinsip etika mempunyai peranan penting dalam menentukan perilaku yang
beretika dan dalam pengambilan keputusan etis. Prinsip etika berfungsi untuk membuat
secara spesifik apakah suatu tindakan dilarang, diperlukan atau diizinkan dalam suatu
keadaan. Menurut Beuchamp dan Childress (Fowler, 1989, Potter & Perry, 1992) prinsip

11
etika dapat digunakan untuk memperkirakan issu etika dan membuat keputusan etis yang
terdiri dari atas (Wulan, 2011) :
a) Otonomi
Otonomi adalah hak untuk membuat keputusan sendiri. Menghormati otonomi
menyangkut penghormatan terhadap otonomi individu untuk dengan bebas
menentukan sendiri apa yang akan dilakukan. Ini menunjukkan bahwa setiap individu
tidak hanya membuat pilihan untuk membuat keputusan sendiri, tetapi juga
bebasdalam menerima setiap konsekuensi dari keputusan yang dibuat. Otonomi
berarti individu mampu bertindak untuk diri mereka sendiri sesuai dengan
kemampuannya (Fowler, 1989, Potter and Perry, 1992). Menurut Potter dan Perry
(1992), konsep manusia sebagai individu yang bebas menuntut perawat untuk
menghargai nilai dan pilihan mereka. Otonomi adalah kebebasan individu dalam
bertindak dan menentukan diri sendiri. Menghargai otonomi berarti menghargai
individu sebagai seseorang yang mempunyai harga diri dan martabat yang mampu
menentukan sesuatu bagi dirinya. Prinsip otonomi sering menjadiisu yang
kontroversial. Setiap orang mempunyai hak dasar untuk membuat suatu keputusal‘
yang penting dalam program pengobatan. Pada situasi tertentw seseorang mungkin
tidak dapat membuat keputusan sendiri dalam menentukan program pengobatannya,
ketika menderita gangguan jiwa yang akut (Gardner dkk., 1999 dalam Wulan, 2011).
Perawat harus berhati-hati dalam mengkaji kemampuan pasien gangguan jiwa
terhadap setiap informasi yang diterima pasien, pemecahan masalah, dan membuat
keputusan sendiri. Pengkajian menjadi sesuatu yang kritikal ketika perawat
memberikan informed consent pada pasien. Contoh, ketika pasien memberikan
persetujuan terhadap program pengobatannya, apakah mereka diberi kebebasan untuk
menandatangani lembar persetujuan tersebut. Penerapan prinsip otonomi pada pasien
gangguan jiwa masih menjadi perdebatan Apa yang terjadi bila pasien menolak
minum obat dan menolak untuk dirawat dirumah sakit. Yang harus diingat
penggunaan kekerasan atau paksaan bertentangan dengan prinsip otonomi ini(Wulan,
2011). Prinsip otonomi sangat penting dalam praktik keperawatan. Perawat harus
menghargai harkat dan martabat manusia sebagai individu yang dapat memutuskan
hal terbaik bagi keputusan yang berhubungan dengan asuhan keperawatan klien

12
tersebut (Suhaemi, 2003). Menurut Beuchamp dan Childress (1994, dalam Brent,
2001) ada tiga kondisi tindakan otonomi, yaitu sungguh-sungguh, pengertian, dan
tidak adanya pengaruh control(Wulan, 2011).
b) Non-maleficience
Nonmaleficence (tidak merugikan orang lain atau jangan mencelakakan)
berarti tidak melukai atau tidak menimbulkan bahaya atau cedera bagi orang lain.
Prinsip nonmaleficence meliputi ungkapan moral yang terkenal ”Above all, do not
harm" (yang terpenting dari semuanya, jangan merugikan atau mencelakan). Prinsip
ini menambahkan kesembronoan, kedengkian, kurang hati-hatidan ketidaktahuan
yang seharusnya tidak diizinkan memengaruhi perawatan pasien (Bailey dan
Schwartzberg, 1995). Johnson (1989, dalam Suhaemi (2003) mengatakan bahwa
prinsip untuk tidak melukai orang lain berbeda dan lebih keras daripada prinsip untuk
melakukan kebaikan. Munson (1988, dalam Bailey 8: Schwartzberg (1995) membuat
susunan frase yang baru: ”Kita seharusnya bertindak dengan cara yang tidak
menimbulkan kerugian atau cedera bagi orang lain.” Dengan kata lain, kita
seharusnya bertindak dengan cara yang benar sehingga tidak menyebabkan
kecelakaan terhadap lainnya. Menurut hukum, hal ini adalah merupakan pokok-pokok
(standar) ”hak keperawatan”. Dengan tidak sesuainya standar ini, para perawat
kesehatan membuat diri mereka terlibat dalam moral maleficence yang sah
(Seedhouse, 1992). Contoh prinsip nonmaleficence dapat terjadi dalam pemberian
kemoterapi kepada pasien kanker, diketahui bahwa kemoterapi dapat meningkatkan
kualitas hidup pasien dan dapat juga mem'mbulkan ”kerugian” (efek samping) pada
pasien (Wulan, 2011).
c) Beneficence
Prinsip beneficence (memaksimalkan manfaat dan meminimalkan kerugian)
berasal dari tulisan-tulisan Hipocrates dan menekankan pada profesi medis yang
mempunyai tugas untuk menolong (Bailey, 1995). Prinsip ini sudah menjadi salah
satu prinsip yang mendasar dalam etika medis sejak zaman sumpah Hiprocates
(Wulan, 2011) prinsip ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan manusia dan untuk
tidak mencelakakannya. Perawat diwajibkan untuk melaksanakan tindakan yang
bermanfaat bagi klien, akan tetapi seiring dengan meningkatkan teknologi dalam

13
sistem asuhan keperawatan, terkadang tindakan tersebut mempunyai resiko yang
dapat membayakan pasien (Suhaemi, 2003). Beneficence merupakan prinsip untuk
melakukan yang baik dan tidak merugikan orang lain. Menurut Beauchamp &
Childress (2001), prinsip beneficence terdiri dari kewajiban untuk mencegah bahaya,
memindahkan bahaya, dan melakukan yang terbaik (Brent, 2001). Inti dari prinsip
beneficence adalah tanggung jawab untuk melakukan kebaikan yang menguntungkan
pasien dan menghindari perbuatan yang merugikan atau membahayakan pasien.
Contoh, seorang psien yang mengalami perdarahan hebat akibat pebertentangan
dengan keyakinannya. Sebelum kondisi pasien bertambah berat, pasien telah
memberikan pernyataan tertulis kepada dokter bahwa pasien tidak mau ditransfusi
darah, ketika kondisi pasien bertambah buruk dan terjadi perdarahan yang hebat
dokter seharusnya menginstruksikan untuk memberikan transfusi darah. Dalam hal
ini, akhimya transfusi darah tidak diberikan karena prinsip beneficence, walaupun
sebenamya pada saat bersamaan terjadi penyalahgunaan prinsip nonmaleficence.
Perawat diwajibkan untuk melaksanakan tindakan yang bermanfaat bagi pasien, akan
tetapi dengan meningkatnya teknologi dalam sistem asuhan keperawatan, juga
merupakan risiko dari suatu tindakan yang membahayakan (Suhaemi, 2003). Munson
(1988 dalam Bailey & Schwartzberg, 1995) menjelaskan bahwa ”setiap orang
seharusnya bertindak untuk mempromosikan kesejahteraan orang lain" (Wulan, 2011)
menyakit hati yang kronis mempunyai kepercayaan bahwa pemberian transfusi darah.
d) Justice
Justice (keadilan) merupakan prinsip moral berlaku adil untuk semua
individu, tindakan yang dilakukan untuk semua orang sama. Tindakan yang sama
tidak selalu identik, tetapi dalam hal seseorang. Justice adalah prinsip etik, yaitu
perawat secara langsung menghormati hak dan pengobatan yang adil (Greipp, 1992).
Menurut Hitler (1981) kebutuhan kesehatan harus menerima sumber pelayanan
kesehatan dalam jumlah yang sama. Prinsip keadilan menurut Beauchamp dan
Childress dalam Priharjo (1995) adalah mereka yang sederajat harus diperlakukan
sederajat, sedangkan yang tidak sederajat diperlakukan secara tidak sederajat, sesuai
kebutuhan mereka. Hal ini berarti bahwa kebutuhan kesehatan dari mereka yang
sederajat harus menerima sumber pelayanan kesehatan dalam jumlah sebanding

14
ketika seseorang mempunyai kebutuhan kesehatan yang besar, maka ia harus
mendapatkan sumber-sumber kesehatan yang besar pula (Priharjo, 1995 dalam
Wulan, 2011).
Justice menyangkut kewajiban untuk memperlakukan setiap orang sesuai apa
yang baik dan benar dan memberikan apa yang menjadi hak pada setiap orang. Dalam
hubungan perawat dengan pasien, perawat dapat berfungsi sebagai narasumber dalam
memberikan informasi relevan dengan masalah pasien, perawat juga berfungsi
sebagai konseling yaitu ketika pasien mengungkapkan perasaanya dalam hal yang
berkaitan dengan keadaan sakitnya. Memperlakukan orang lain secara adil dan
memberikan apa yang menjadi kebutuhan mereka (Beaucham & Childress, 2001
dalam Wulan, 2011)
e) Veracity
Prinsip veracity (kejujuran) menurut veatch dan Fry (1987) didefinikan untuk
menyatakan hal yang sebenarnya dan tidak berbohong. Kejujuran merupakan dasar
terbinanya hubungan saling percaya antara perawat-pasien. Perawat sering tidak
memberitahukan kejadian yang sebenarnya pada pasien yang sakit parah. Namun
penelitian pada pasien dalam keadaan terminal menjelaskanbahwa pasien ingin diberi
tahu tentang kondisinya secara jujur (Priharjo, 1995). Mengatakan yang sebenamya,
mengarahkan perawat untuk menghindari kebohongan pada pasien atau menipu
pasien (Wulan, 2011).
f) Confidentiality
Confidentiality (kerahasiaan) merupakan bagian dari privasi, seseorang
bersedia untuk menjaga kerahasiaan informasi. Confidentiality adalah sesuatu yang
profesional dan merupakan kewajiban yang etis dalam menggunakan penggalian
pengetahuan pasien untuk meningkatkan kualitas perawatan pasien dan bukan untuk
tujuan lain, seperti gosip, kepentingan orang lain, dan memberikan informasi pasien
pada orang lain. Perawat harus mempertahankan kerahasiaan tentang data pasien baik
secara verbal maupun informasi tertulis. Menjaga kerahasiaan data pasien adalah
sesuatu yang khusus dan penting dalam perawatan pasien gangguan jiwa. Meskipun
pada kenyataannya, masyarakat memberikan label atau stigma kepada setiap orang
yang didiagnosis menderita gangguan jiwa. Setiap pelanggaran terhadap prinsip

15
confidentiality seperti memberitahukan data pasien, diagnosis pasien, gejala yang
ditunjukkan pasien, perilaku, dan hasil pengobatan tanpa mendapat persetujuan dari
pasien akan memengaruhi kualitas hidup pasien. Tenaga kesehatan khususnya
perawat seringkali kesulitan untuk mempertahankan keseimbangan ini (Mohr, 2003).
Menurut Winslade (1995) praktik confidentiality terdiri dari tiga aspek berupa
subjek individu atau perawatan kesehatan berhubungan dengan informasi pasien,
hubungan profesional antara perawat dan pasien serta menjelaskan prosedur
pertukaran informasi pasien yang secara logis dapat menerima, mengizinkan dan
mengakses informasi yang bertujuan untuk memfasilitasi komunikasi sensitif dan
mengeluarkan larangan individu (Registered Nursing Association British Columbia,
2000 dalam Wulan, 2011).
g) Fidelity
Menurut Veatch dan Fry (Priharjo, 1995) prinsip fidelity (kesetiaan/ketaatan)
didefinisikan sebagai tanggung jawab dalam koteks hubungan perawatan pasien yang
meliputi tanggung jawab menjaga janji, mempertahankan kerasahasiaan dan
memberikan perhatian/kepedulian. Mempertahankan kerasahasiaan secara moral
dapat diterima. Kadang-kadang dengan alasan moral yang tepat, janji dapat
dibatalkan untuk memberikan keuntungan bagi yang lain (Pujiastuti, 2004).
c.3 Aspek Legal dan Etik Keperawatan Jiwa
Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan disabilitas lainnya berisiko tinggi
terhadap terjadinya pelanggaran hak-hak asasinya. Contoh pelanggaran tersebut seperti
pemasungan pada ODGJ, pemerkodsaan pada ODGJ, pengeroyokan pada ODGJ karena
perilaku kekerasan yang dilakukan dan lainnya. Oleh karena itu, penting bagi tenaga
kesehatan untuk memahami HAM termasuk ODGJ, hak-hak pasien, kompetensi yng
dimiliki.
Perawat sebagai salah satu profesi ksehatan yang memiliki standar pelayanan dan
kode etik yang harus dipatuhi. Aspek legal dan etik dalam perawtan pasien sangat penting
dalam melindungi hak-hak pasien serta kualitas perawatan yang diterima oleh pasien.
Perawat juga diharapkan bewawasan terhadap kebijakan perundang-undangan yang
berlaku dalam mengatur praktik pelayanan yang diberikannya. Pemahaman terhadap
kebijakan dan standar praktik ini bertujuan untuk melindungi perawat dan pasien dari

16
adanya pelanggaran HAM, pelanggaran etik, maupun pelanggaran hukum lainnya terkait
dengan penyelenggaraan pelayann kesehatan.
Berikut beberapa kebijakan yang terkait dengan praktik pelayanan
kesehatan/keperawatan jiwa :
a) UU No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
b) UU No. 19 Tahun 2011 (Konverensi Mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas)
c) UU No. 18 Tahun 2014 : Kesehatan Jiwa
d) UU No. 38 Tahun 2014 : Keperawatan
e) UU No. 36 Tahun 2014 : Tenaga Kesehatan
f) UU No. 23 Tahun 2014 : Pemerintah Daerah
g) PMK No. 5 Tahun 2014 : Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter
h) PMK No. 75 Tahun 2014 : Tentang Standar Pelayanan Minimal Untuk Gangguan Jiwa
di Puskesmas
i) PMK No. 54 Tahun 2017 Tentang Penanggulangan Pemasungan di Indonesia.
c.4 Nilai-Nilai Yang Melandasi Etika Keperawatan
Nilai-nilai yang melandasi etika keperawatan yang mengacu pada Canadian
Nurses Association 1997 yang dapat digunakan untuk melandasi terapi keluarga yang
diberikan secara universal (Yani dkk, 2002) :
a) Health and well being
Perawat mengahargai nilai sehat, sejahtera dan memberikan bantuan terhadap
keluarga dalam rangka mencapai derajat sehat yang optimal dalam kondisi sehat,
sakit atau proses kematian secara wajar.
b) Choise
Perawat menghormati dan mendorong agar keluarga memiliki otonomi serta
membantu mereka untuk mengekrspresikan kebutuhan kesehatannya maupun nilai-
nilai sehat serta memperoleh informasi dari pelayanan kesehatan.
c) Dignity
Perawat menghargai dan melakukan advokasi terhadap kemuliaan atau martabat
keluarga.
d) Confidentiality

17
Perawat melindungi kepercayaan klien mengenai informasi yang diperolehnya dalam
hubungan profesional untuk tidak dibahas diluar tim kesehatan, kecuali jika seizin
keluarga.
e) Fairness
Perawat menerapkan prinsip keadilan dan keterbukaan dalam rangka membantu klien
menerima pengobatan dan pelayanan kesehatan secara objektif dan proposional
sesuai kebutuhan dasar klien.
f) Accountability
Perawat bertindak sedemikan rupa konsisten dengan bertanggung jawab profesinya
serta standar praktek keperawatan.
g) Practive environments conducive to safe, competent and ethical care.
Perawat melakukan advokasi terhadap lingkungan prakteknya yang dapat
menciptakan suatu sistem yang terorganisasi dengan baik dan memberi dukungan
secara manusiawi serta menetapkan alokasi sumber dana dan daya yang diperlukan
dalam rangka pemberian pelayanan keperawatan yang aman, kompeten dan etis.
c.5 Hak dan Tanggung Jawab Perawat Jiwa
Perawat psikiatri mempunyai hak dan tanggung jawab membantu tiga peran legal
yaitu perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan, perawat sebagai pegawai dan
perawat sebagai warga negara. Perawat mungkin akan mengalami konflik antara ketiga
hak dan tanggung jawabnya. Penilaian keperawatan profesional memerlukan
pemeriksaan yang teliti dalam konteks asuhan keperawatan, konsekuensi yang mungkin
terjadi akibat tindakan seseorang, dan alternatif tindakan yang mungkin dilakukannya
(Stuart & Sundeen, 1995). Keterampilan utama yang harus dimiliki oleh perawat psikiatri
dalam praktiknya menurut Robert (2002) dalam Stuart & Laraia (2005), yaitu :
a) Mampu untuk mengenali pertimbangan etik dalam praktik psikiatri, meliputi bekerja
dengan pengetahuan mengenai konsep etik sebagai dasar aplikasi dalam memberikan
pelayanan pada penyakit mental.
b) Mampu menyadari mengenai nilai-nilai diri sendiri, kekuatan dan penyimpangan-
penyimpangan sebagaimana aplikasi dalam merawat pasien, meliputi kemampuan
untuk mengenal rasa ketidaknyamanan dirinya sendiri sebagai satu indikator dari
potensial masalah etik.

18
c) Mampu untuk mengindentifikasi keterbatasan keterampilan dan kompetensi klinik
yang dimilikinya.
d) Mampu untuk mengantisipasi secara spesifik adanya dilema etik dalam perawatan.
e) Mampu untuk mengkaji sumber-sumber etik di klinik, untuk memperoleh konsultasi
etik, dan untuk mengkaji supervisi berkelanjutan untuk kasus sulit.
f) Mampu untuk mengenal perlindungan tambahan dalam perawatan klinik pasien dan
memonitor keefektifannya.
c.6 Hak-Hak Pasien Jiwa
Hak pasien sangat bergantung pada peraturan perundangan. Menurut Undang-
Undang Kesehatan Pasal 144 mengatakan, “Menjamin setiap orang dapat menikmati
kehidupan kejiwaan yang sehat, bebas dari ketakutan, tekanan, dan gangguan lain yang
dapat mengganggu kesehatan jiwa”. Menurut Yusuf (2015), beberapa hak pasien yang
telah diadopsi oleh banyak Negara Bagian di Amerika antara lain sebagai berikut :
a) Hak untuk berkomunikasi dengan orang di luar rumah sakit.
Pasien bebas untuk mengunjungi dan berbicara melalui telepon secara leluasa dan
megirimkan surat tertutup kepada siapapun yang dipilihnya.
b) Hak terhadap barang pribadi
Pasien berhak untuk mebawa sejumlah terbatas barang pribadi bersamanya. Namun,
bukan menjadi tanggung jawab rumah sakit untuk keamanan dan tidak membebaskan
staf rumah sakit tentang jaminan keamanan pasien.
c) Hak menjalankan keinginan
Kemampuan seseorang untuk menyatakan keinginannya yang dikenal sebagai “surat
wasiat”. Pasien dapat membuat wasiat yang apsah jika ia :
1) Mengetahui bahwa ia membuat surat wasiat
2) Mengetahui sifat dan besar miliknya.
3) Mengetahui siapa temen dan keluarga serta hubungannya dengan mereka. Tiap
kriteria ini harus dipenuhi dan didokumentasikan agar surat wasiat tersebut dapat
dianggap apsah.
d) Hak terhadap “Habeas Corpus”

19
Semua pasien mempunyai hak, yang memperkenankan pengadilan hukum, untuk
mensyaratkan pelepasan secepatnya bagi tiap individu yang dapat menunjukkan
bahwa ia sedang kehilangan kebebasannya dan ditahan secara tidak legal.
e) Hak pasien pemeriksaan psikiatri yang mandiri
Pasien boleh menuntut suatu pemeriksaan psikiatri oleh dokter yang dipilihnya
sendiri. Jika dokter tersebut menentukan bahwa pasien tidak menderita gangguan
jiwa, maka pasien harus dilepaskan.
f) Hak terhadap keleluasaan pribadi
Individu boleh merahasiakan beberapa informasi tentang dirinya dari orang lain.
“Kerahasiaan” membolehkan pemberian informasi tertentu kepada orang lain, tetapi
sangat terbatas pada orang yang diberi kewenangan saja. “Komunikasi dengan hak
istimewa” merupakan suatu pernyataan legal yang hanya dapat digunakan dalam
proses yang berkaitan dengan pengadilan. Ini berarti bahwa pendengar tidak dapat
memberikan informasi yang diperoleh dari seseorang kecuali pembicara memberikan
izin. Komunikasi dengan hak istimewa tidak termasuk menggunakan catatan rumah
sakit, serta sebagian besar negara tidak memberikan hak istimewa komunikasi antara
perawat dan pasien. Selain itu, terapis bertanggung jawab terhadap pelanggaran
kerahasiaan hubungan untuk memperingatkan individu yang potensial menjadi
korban tindak kekerasan yang disebabkan oleh pasien .
g) Hak persetujuan tindakan (informend consent)
Dokter harus menjelaskan tentang pengobatan kepada pasien, termasuk potensial
komplikasi, efek samping, dan risiko. Dokter harus mendapatkan persetujuan pasien,
yang harus kompeten, dipahami, dan tanpa paksaan.
h) Hak pengobatan
Kriteria untuk pengobatan yang adekuat didefinisikan dalam tiga area, yaitu :
1) Lingkungan fisik dan psikologis manusia
2) Staf yang berkualitas dan jumlah anggota yang mencukupi untuk memberikan
pengobatan.
3) Rencana pengobatan yang bersifat individual.
i) Hak untuk menolak pengobatan

20
Pasien dapat menolak pengobatan kecuali jika ia secara legal telah ditetapkan sebagai
tidak berkemampuan. “ketidakmampuan” menunjukkan bahwa orang yang
mengalami gangguan jiwa dapat menyebabkan ketidakmampuannya untuk
memutuskan dan gangguan ini membuat ia tidak mampu untuk mengatasi sendiri
masalahnya. Ketidakmampuan hanya dapat dipulihkan melalui sidang pengadilan.
c.7 Peran Legal Perawat Keperawatan Jiwa
Keperawatan jiwa mulai menjadi profesi pada awal abad ke-19 dan pada masa
tersebut berkembang menjadi spesialis dengan peran dan fungsi-fungsi yang unik.
Keperawatan jiwa adalah suatu proses interpersonal dengan tujuan untuk meningkatkan
dan memelihara prilaku-prilaku yang mendukung terwujudnya suatu kesatuan yang
harmonis (integrated). Kliennya dapat berupa individu, keluarga, kelompok, organisasi,
masyarakat. Tiga wilayah praktik keperawatan jiwa meliputi perawatan langsung,
komunikasi, dan manajemen. Ada empat faktor yang dapat menentukkan tingkat
penampilan perawat jiwa, yaitu aspek hukum, kualifikasi perawat, lahan praktik, dan
inisiatif dari perawat sendiri (Farida, 2012).
Perawat jika memiliki hak dan tanggung jawab dalam tiga peran legal yaitu
perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan, perawat sebagai pekerja, dan perawat
sebagai warga negara. Perawat mungkin mengalami konflik kepentingan antara hak dan
tanggung jawab ini. Penilaian keperawatan profesional memerlukan pemeriksaan yang
diteliti dalam konteks asuhan keperawatan, kemungkinan konsekuensi tindakan
keperawatan, dan alternatif yang mungkin dilakukan perawat (Farida, 2012)
Malpraktik mencakup kegagalan seorang profesional untuk memberikan jenis asuhan
yang dilakukan oleh anggota profesi di masyarakat, yang membahayakan pasien.
Kebanyakan tuntutan malpraktik diarsipan dalam hukum tentang kesalahan karena
kesalahan. Kesalahan merupakan suatu kesalahan sipil yang didalam pihak yang
dirugikan memiliki hak untuk mendapatkan kompensasi. Di bawah hukum tentang
kesalahan karena kelalaian, penggungat harus membuktikan (Farida, 2012) :
a) Ada kewajiban legal untuk melakukan asuhan
b) Perawat melakukan tugasnya dengan kelalaian
c) Gangguan yang dialami pasien sebagai akibatnya
d) Gangguan bersifat substansial

21
Peran dan fungsi jiwa saat ini telah berkembang secara kompleks dari elemen
historis aslinya (Stuart, 2002). Peran perawat jika sekarang mencankup parameter
kompetensi klinik, advokasi pasien, tanggung jawan fiskal (keuangan), kolaborasi
profesional, akuntabilitas (tanggung gugat) sosial, serta kewajiban etik dan legal. Dengan
demikian, dalam memberikan asuhan keperawatan jiwa perawat dintuntut melakukan
aktivitas pada tigas area utama yaitu ( Farida, 2012) :
a) Aktivitas asuhan langsung
b) Aktivitas komunikasi
c) Aktivitas pengelolaan atau penatalaksanaan manajemen keperawatan.
c.8 Kode Etik Perawatan Di Indonesia
Berdasarkan fungsi kode etik yang sangat penting tersebut Persatuan Perawat
Nasional Indonesia (PPNI) menyusun kode etik keperawatan di Indonesia. Kode etik
keperawatan di Indonesia terdiri atas 5 (lima) pokok etik, yaitu :
a) Perawat dan klien
1) Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan menghargai harkat dan
martabat manusia, keunikan klien, dan tidak terpengaruh oleh pertimbangan
kebangsaan, kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik dan agama
yang dianut serta kedudukan sosial.
2) Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan senantiasa memelihara
suasana lingkungan yang menghormati nilai-nilai budaya, adat istiadat dan
kelangsungan hidup beragama dari klien
3) Tanggung jawab utama perawat adalah kepada mereka yang membutuhkan
asuhan keperawatan
4) Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui sehubungan dengan
tugas yang dipercayakan kepanya kecuali jika diperlukan oleh yang berweang
sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
b) Perawat dan praktek
1) Perawat memelihara dan meningkatkan kompetensi dibidang keperawatan melalui
belajar terus menerus.

22
2) Perawat senantias memelihara mutu pelayanan keperawatan yang tinggi disertai
kejujuran profesional yang menerapkan pengetahuan serta keterampilan
keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien.
3) Perawat dalam membuat keputusan didasarkan pada informasi yang akurat dan
mempertimbangkan kemampuan serta kualifikasi seseorang bila melakukan
konsultasi, menerima delegasi dan memberikan delegasi kepada orang lain.
4) Perawat senantiasa menjunjung tinggi nama baik profesi keperawatan dengan
selalu menunjukkan perilaku profesional.
c) Perawat dan masyarakat
Perawata mengemban tanggung jawab bersama masyarakat untuk memprakarsai dan
mendukung berbagai kegiatan dalam memenuhi kebutuhan dan kesehatan
masyarakat.
d) Perawat dan teman sejawat
1) Perawat senantiasa memelihara hubungan baik dengan sesama perawat maupun
dengan tenaga kesehatan lainnya, dan dalam memelihara keserasaian suasana
lingkungan kerja maupun dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara
menyeluruh.
2) Perawat bertindak melindungi klien dari tenaga kesehatan yang memberikan
pelayanan kesehatan secara tidak kompeten, tidak etis dan illegal
e) Perawat dan profesi
1) Perawat mempunyai peran utama dalam menentukan standar pendidikan dan
pelayanan keperawatan serta menerapkannya dalam kegiatan pelayanan dan
pendidikan keperawatan.
2) Perawat berperan aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan profesi
keperawatan.
3) Perawat berpartisipasi aktif dalam upaya profesi untuk membangun dan
memelihara kondisi kerja yang kondusif demi terwujudnya asuhan keperawatan
yang bermutu tinggi.

23
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Menurut WHO, kesehatan jiwa adalah suatu kondisi sejahtera secara fisik,
sosial dan mental yang lengkap dan tidak hanya terbebas dari penyakit atau kecatatan.
Individu dikataka sehat jiwa apabila berada dalam kondisi fisik, mental dan sosial yang
terbebas dari gangguan (penyakit) atau tidak dalam kondisi tertekan sehingga dapat
mengendalikan stress yang timbul sehingga memungkinkan individu untuk hidup
produktif dan mampu melakukan hubungan sosial yang memuaskan.
Menurut UU Kesehatan Jiwa No.03 tahun 1966, kesehatan jiwa adalah suatu
kondisi mental yang sejahtera sehingga memungkinkan seseorang berkembang secara
optimal baik fisik, intelektual dan emosional dan perkembangan tersebut berjala secara
selaras dengan keadaan orang lain sehingga memungkinkan hidup harmonis dan
produktif.
Komponen paragdigma keperawatan jiwa, yaitu; manusia, keperawatan,
kesehatan, lingkungan. Menurut Beuchamp dan Childress (Fowler 1989, Potter &
Perry 1992) prinsip etika dapat digunakan untuk memperkirakan issu etika dan
membuat keputusan etis yang terdiri dari ; otonomi, non-maleficience, beneficence,
justice, veracity, confidentiality, fidelity.
Nilai-nilai ; health and well being, choise, dignity, confidentiality, fairness,
accountability, practive environments conducive to safe competent and care. Peran dan
fungsi jiwa saat ini telah berkembang secara kompleks dari elemen historis aslinya
(Stuart, 2002). Peran perawat jika sekarang mencankup parameter kompetensi klinik,
advokasi pasien, tanggung jawan fiskal (keuangan), kolaborasi profesional,
akuntabilitas (tanggung gugat) sosial, serta kewajiban etik dan legal.
Berdasarkan fungsi kode etik yang sangat penting tersebut Persatuan Perawat
Nasional Indonesia (PPNI) menyusun kode etik keperawatan di Indonesia. Kode etik
keperawatan di Indonesia terdiri atas 5 (lima) pokok etik, yaitu :
a. Perawat dan klien
b. Perawat dan praktek

24
c. Perawat dan masyarakat
d. Perawat dan teman sejawat
e. Perawat dan profesi
Hak-Hak Pasien Jiwa :
1) Hak untuk berkomunikasi dengan orang di luar rumah sakit
2) Hak terhadap barang pribadi
3) Hak menjalankan keinginan
4) Hak terhadap “Habeas Corpus”
5) Hak pasien pemeriksaan psikiatri yang mandiri
6) Hak terhadap keleluasaan pribadi
7) Hak persetujuan tindakan (informend consent)
8) Hak pengobatan
9) Hak untuk menolak pengobatan
4.2 Saran
Disarankan bagi praktisi keperawatan agar dapat menjadikan hasil makalah ini
sebagai bahan evaluasi dan informasi bahwa tingkat pengetahuan perawat pelaksana
dalam kode etik di ruang rawat dan makalah ini sebagai referensi untuk makalah
lanjutan atau riset dalam membuat makalah ini menjadi pengetahuan perawat
pelaksana dalam kode etik keperawatan Indonesia.

25
DAFTAR PUSTAKA

Wuryaningsih, E. W., Windarwati, H. D., Deviantony, F., & Hadi, E. (2018). BUKU AJAR
KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA 1 (N. W.D, R. Fahriza, & F. Rokhim (eds.)). UPT
Percetakan & Penerbitan Universitas Jember.

Yusuf, A., PK, R. F., & Nihayati, H. E. (2015). BUKU AJAR KEPERAWATAN KESEHATAN
JIWA (F. Ganiajri (ed.); I). Salemba Medika.

Rahayu, F. A. (n.d.). ASPEK LEGAL DAN ETIK DALAM KEPERAWATAN JIWA. November.

Ahillah, A., Yuliantika, A., Alviyansyah, D. I., Maufiroh, G. R., Hilalia, H., & Nafisah, M.
(2019). Aspek Legal Etik dalam Keperawatan Jiwa dan Lintas Budaya dalam Asuhan
Keperawatan Jiwa. 43.

Nurhalimah. (2016). KEPERAWATAN JIWA (A. A. Perdana (ed.); I).

Wiwik Widiyawati. Keperawatan Jiwa. Literasi Nusantara, 2020.

26