Anda di halaman 1dari 4

2.

1 Rumusan Permasalahan Penelitian

Sebuah Penelitian diawali dengan merumuskan masalah yang akan dijadikan objek kajian
penelitian. Artinya tidak akan ada yang namanya penelitian jika tidak ada masalah yang hendak
di teliti. Masalah secara sederhana dapat didefinisikan sebagai sesuatu hal yang tidak sesuai
dengan apa yang diharapkan, artinya ada ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan.
Masalah penelitian mengandung 3 pengertian yaitu :

1. Pertanyaan yang membutuhkan jawaban, artinya pertanyaan-pertanyaan yang


dimunculkan senantiasa dibuat untuk didapatkan jawabannya. Misal dalam konteks tugas
pengawasan pendidikan, dapat ditemukan masalah seperti : Mengapa ada sekolah yang
memiliki etos kerja yang tinggi namun banyak pula sekolah yang mempunyai etos kerja
yang rendah? Nah permasalahan ini dapat diselesaikan dengan cara meneliti dan akhirnya
dapat di temukan jawabannya.
2. Kesulitan yang perlu di pecahkan, artinya dalam bidang pendidikan permasalahan yang
berupa kesulitan ini dapat dihadapi oleh guru, siswa, kepala sekolah, lembaga dll. Contoh
masalah pendidikan dalam lingkup kecil yaitu terkait bagaimana cara mengajarkan
matematika khususnya bangun datar secara efektif di masa pandemi saat ini?
3. Kesenjangan antara Harapan dengan Kenyataan, artinya masalah sering terjadi
dikarenakan ada faktor-faktor yang menyebabkan munculnya masalah. Misal : Harapan
guru yaitu siswa mendapatkan nilai A pada mata pelajaran Bahasa Inggris namun
kenyataannya siswa banyak mendapat nilai C karena belum paham tentang grammar.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Masalah penelitian khususnya pada ilmu-ilmu terapan,
didasarkan atas fakta empirik yang ada atau yang terjadi dilapangan. Oleh sebab itu perlu
dikumpulkan data dan fakta yang ada dilapangan kemudian membandingkannya dengan harapan,
keinginan, kebutuhan dan berdasarkan rencana, program, konsep, prinsip, aturan dan sistem yang
berlaku.
2.1.1 Sumber Masalah Penelitian

Dari masalah-masalah yang ada ini, peneliti perlu mengidentifikasi, memilih dan
merumuskannya. Beberapa hal yang dapat dijadikan sumber masalah dalam penelitian adalah :

a. Bacaan, terutama bacaan yang bersumber dari jurnal-jurnal penelitian karena Suatu
penelitian sering kali tidak mampu memecahkan semua masalah yang ada, karena
keterbatasan penelitian, hal ini menuntut adanya penelitian lebih lanjut dengan
mengangkat masalah-masalah yang belum terjawab.
b. Pertemuan ilmiah, misalnya, seminar, diskusi, dan sebagainya. Dengan pertemuan ilmiah
dapat muncul berbagai permasalahan yang memerlukan jawaban melalui penelitian.
c. Pernyataan pemegang kekuasaan (otoritas) yaitu Sesuatu yang diungkapkan oleh
pemegang otoritas dapat dijadikan sumber masalah, misalnya pendapat Mendiknas
tentang rendahnya kualitas lulusan SMA, rendahnya angka lulusan sekolah kejuruan yang
tidak terserap oleh lapangan pekerjaan dan sebagainya.
d. Observasi (pengamatan) Misalnya: seorang pendidik menemukan masalah dengan
melihat (mengamati) sikap dan perilaku siswanya dalam PBM.
e. Wawancara dan penyebaran angket, Melalui wawancara kepada masyarakat mengenai
sesuatu kondisi aktual di lapangan dapat menemukan masalah apa yang sekarang
dihadapi masyarakat tersebut. Demikian juga menyebarkan angket kepada masyarakat
akan dapat menemukan apa sebenarnya masalah yang dirasakan masyarakat itu.
f. Pengalaman, artinya masalah bisa diambil dari pengalamaan individu, misalnya pada saat
Kuliah Kerja Nyata (KKN) di pedesaan. Kita menemukan beberapa masalah di daerah
miskin tersebut yang dapat kita angkat menjadi bahan kajian penelitian.
g. Instuisi yaitu Secara intuitif manusia dapat melahirkan suatu masalah. Masalah penelitian
tersebut muncul dalam pikiran manusia pada saat-saat yang tidak terencanakan misalkan
pada saat sholat, pada saat tidur dll.

2.1.2 Kriteria Perumusan Masalah Penelitian

Setelah masalah diidentifikasi, selanjutnya perlu dipilih dan ditentukan masalah yang akan
diangkat dalam suatu penelitian. Masalah yang dipilih haruslah researchable dalam arti masalah
tersebut dapat diselidiki. Ada beberapa kriteria dalam merumuskan problematika penelitian yang
baik yaitu Menurut Fraenkel dan Wallen (2010) masalah penelitian biasanya ditunjukkan sebagai
pertanyaan. Karakteristik pertanyaan penelitian yang baik menurutnya adalah:

1. Pertanyaan itu harus feasible, artinya pertanyaan atau masalah penelitian itu dapat
memungkinkan untuk diteliti, dipandang dari segi waktu, energi, atau biaya.
2. Pertanyaan itu harus jelas, artinya pertanyaan tersebut harus dirumuskan dengan kalimat
yang sederhana yang dapat disepakati maknanya oleh sebagian besar masyarakat.
3. Pertanyaan itu harus signifikan, maksudnya bahwa masalah penelitian itu akan
memberikan sumbangan pengetahuan yang penting bagi manusia.
4. Pertanyaan itu harus etis, artinya pertanyaan atau permasalahan tersebut apabila diteliti
tidak akan merusak atau membahayakan manusia atau lingkungan alam dan lingkungan
manusia.

Dalam merumuskan masalah penelitian ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain
ialah:

1. Rumusan masalah hendaknya singkat dan bermakna, Masalah perlu dirumuskan dengan
singkat dan padat tidak berbelit-belit yang dapat membingungkan pembaca. Masalah
dirumuskan dengan kalimat yang pendek tapi bermakna.
2. Rumusan masalah hendaknya dalam bentuk kalimat tanya. Masalah akan lebih tepat
apabila dirumuskan dalam bentuk kalimat pertanyaan, bukan kalimat pernyataan.
3. Rumusan masalah hendaknya jelas dan kongkrit. Rumusan masalah yang jelas dan
kongkrit akan memungkinkan peneliti secara eksplisit dapat menjawab pertanyaan-
pertanyaan: apa yang akan diselidiki, siapa yang akan diselidiki, mengapa diselidiki,
bagaimana pelaksanaannya, bagaimana melakukannya dan apa tujuan yang diharapkan.
4. Masalah hendaknya dirumuskan secara operasional. Sifat operasional dari rumusan
masalah, akan dapat memungkinkan peneliti memahami variabel-variabel dan sub-sub
variabel-variabel yang ada dalam penelitian dan bagaimana mengukurnya.
5. Rumusan masalah hendaknya mampu memberi petunjuk tentang memungkinkannya
pengumpulan data di lapangan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkandung
dalam masalah penelitian tersebut.
6. Perumusan masalah haruslah dibatasi lingkupnya, sehingga memungkinkan penarikan
simpulan yang tegas. Kalau toh disertai rumusan masalah yang bersifat umum,
hendaknya disertai penjabaran-penjabaran yang spesifik dan operasional, sebagaimana
dijelaskan pada poin empat di atas.

Ada tiga kriteria untuk menentukan permasalahan yang baik dan pernyataan masalah yang
baik menurut Kerlinger : 2006, yaitu:
1. Masalah harus mengungkapkan suatu hubungan antara dua variabel atau lebih. Dengan
demikian, masalah-masalah itu mengajukan pernyataan-pernyataan seperti: Apakah
motivasi belajar mempengaruhi hasil belajar?
2. Masalah harus dinyatakan secara jelas dan tidak ambigu dalam bentuk pertanyaan.
3. Masalah & pernyataan masalah harus dirumuskan dengan cara tertentu yang menyiratkan
adanya pengujian yang empiris.

Beberapa contoh rumusan masalah yaitu: Apakah ada perbedaan prestasi belajar siswa antara
yang diajar dengan metode inquiri dan metode problem solving pada mata pelajaran IPA siswa
SD kelas VI?. Apakah ada hubungan positif antara tingkat pendidikan orang tua dengan prestasi
belajar siswa SMA X di Mataram? Apakah faktor-faktor penghambat pelaksanaan CBSA di
Sekolah Dasar di Wilayah Kabupaten Dompu? Apakah kesulitan-kesulitan dalam implementasi
program wajib belajar pendidikan dasar di daerah pedesaan?

2.2 Hipotesis Penelitian

Lanjut ya we wkwk

Daftar Pustaka

Hardani, d. (2020). Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka Ilmu.

Dr. Sandu Siyoto, SKM., M.Kes. (2015). Dasar Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Literasi
Media Publishing.

Anda mungkin juga menyukai