Disusun Oleh:
912019025
SALATIGA
2020
BAB 1. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Persaingan global yang semakin intensif, teknologi yang berkembang pesat, pergeseran
demografi, keadaan perekonomian yang fluktuatif, dan perubahan-perubahan dinamis lainnya
telah mempengaruhi perubahan kondisi lingkungan di sekitar organisasi. Lingkungan yang
awalnya stabil, dapat diprediksi, berubah menjadi lingkungan yang penuh dengan
ketidakpastian, kompleks, dan cepat berubah. Organisasi berdiri, beroperasi, dan berinteraksi
di lingkungan sekitarnya. Oleh sebab itu organisasi harus selalu adaptif terhadap perubahan
lingkungan di sekitarnya.
Perusahaan yang sedang dalam tahap berkembang maupun yang telah berkembang
diharuskan untuk dapat menyesuaikan diri seiring tren dunia kerja yang semakin dinamis dan
terus berubah. Lingkungan eksternal yang semakin berat mengharuskan organisasi
melakukan proses transformasi agar tetap dapat bertahan.
Transformasi adalah suatu perubahan yang melalui proses bertahap sampai pada tahap
yang diharapkan. Perubahan yang dilakukan dengan cara memberikan respon terhadap
pengaruh lingkungan eksternal dan lingkungan internal yang dapat mengarahkan perubahan
sesuai dengan tujuan organisasi (Kreitner & Kinicki, 2014).
Kreitner dan Kinicki (2014) mengatakan bahwa transformasi dapat terjadi karena didasari
oleh dua hal, yaitu faktor dari lingkungan organisasi dan faktor dari lingkungan eksternal
organisasi. Faktor internal organisasi meliputi perubahan keputusan atau kebijakan
organisasi, tujuan organisasi, pengembangan wilayah, intensitas kegiatan organisasi yang
semakin luas, tingkat pengetahuan dan kemampuan karyawan, sikap dan perilaku karyawan,
dan peraturan baru. Sedangkan faktor eksternal organisasi meliputi teknologi, kondisi
ekonomi, kompetisi, kondisi sosial, dan kondisi politik. Usia organisasi tidak akan bertahan
lama jika tidak ada transformasi yang dilakukan. Hal ini disebabkan karena organisasi tidak
dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan internal dan eksternal yang mengakibatkan
organisasi tidak dapat berkembang atau kalah saing.
Uha (2014) mengatakan bahwa tidak mudah bagi suatu organisasi untuk dapat
mengupayakan transformasi. Transformasi akan terlaksana dengan baik jika seluruh bagian di
dalam organisasi ambil andil dalam upaya transformasi. Namun yang menjadi masalahnya
yaitu tidak semua individu maupun kelompok di dalam organisasi mau menerima adanya
transformasi dalam organisasi. Maka dari itu, transformasi tidak bisa dilakukan tanpa
perhitungan yang matang. Untuk menghadapi transformasi, organisasi perlu melakukan
manajemen, yaitu manajemen perubahan yang merupakan upaya untuk mengelola akibat-
akibat yang ditimbulkan karena terjadinya transformasi di suatu organisasi.
Berdasarkan fenomena ini, maka peneliti menilia bahwa transformasi BPJS Kesehatan
merupakan fenomena yang menarik untuk dikaji karena memunculkan sejumlah pertanyaan,
terutama berkaitan dengan pertimbangan yang melandasi pemerintah dalam melakukan
perubahan PT. Askes (Persero). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis alasan yang
melatarbelakangi transformasi PT. Akses (Persero) menjadi BPJS Kesehatan.
Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk menjadi sebuah pertimbangan bagi
pihak BPJS Kesehatan agar mampu memperbaiki kinerjanya dalam menyediakan layanan
jaminan kesehatan bagi masyarakat.
Rumusan Masalah
1. Apa saja yang menjadi faktor pendorong dilakukannya transformasi PT. ASKES menjadi
BPJS Kesehatan?
2. Bagaimanakah proses atau tahapan Transformasi PT. ASKES menjadi BPJS Kesehatan?
3. Perubahan-perubahan apa sajakah yang timbul sebagai akibat transformasi PT. ASKES
menjadi BPJS Kesehatan?
BAB 2. ISI
Tinjauan Pustaka
a. Organisasi Publik
Organisasi adalah suatu kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan suatu
batasan yang jelas, yang berfungsi secara teratur dalam rangka mencapai suatu atau
serangkaian tujuan (Robbins, 1994). Istilah “terkoordinasi secara sadar” menggambarkan
adanya manajemen, sedangkan kesatuan sosial menggambarkan kumpulan orang yang
berinteraksi satu sama lain. Kemudian “batasan yang jelas” menunjukkan bahwa ada kontrak
antara organisasi dengan anggotanya sehingga orang dapat membedakan mana yang anggota
dan mana yang bukan anggota. Lalu “berfungsi secara teratur” diartikan bahwa anggota
organisasi dituntut bekerja secara teratur.
Keban (2008) mengatakan bahwa organisasi publik merupakan organisasi yang tidak
berorientasi pada keuntungan atau memaksimalkan laba, melainkan berorientasi pada
pemberian layanan publik, misalnya seperti pendidikan, kesehatan masyarakat, keamanan,
penegakan hokum, transportasi publik, dan penyediaan barang kebutuhan publik. Walaupun
tujuan utamanya adalah pemberian pelayanan publik, namun organisasi publik juga memiliki
tujuan finansial. Hanya saja hal ini berbeda secara filosofis, konseptual, dan operasionalnya
dengan tujuan profitabilitas pada sector swasta.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, organisasi publik adalah organisasi yang
dibuat pemerintah dengan tujuan memberikan sebuah produk berupa barang dan jasa, serta
memberikan pelayanan kepada masyarakat tanpa mengejar profit atau keuntungan sebagai
tujuan utamanya.
b. Transformasi Organisasi
Beberapa pakar berpendapat bahwa hanya perubahan yang tetap ada di dunia ini. Oleh
sebab itu, perubahan dapat terjadi setiap saat dan kapan saja situasi memerlukannya. Wibowo
(2011) mengatakan bahwa selain dorongan eksternal, perubahan dapat terjadi karena
kebutuhan internal organisasi untuk melakukan perubahan.
Dalam sebuah organisasi, Siagian (2012) berpendapat bahwa terdapat faktor yang
mempengaruhi terjadinya suatu perubahan. Organisasi yang berbentuk organisasi publik
bertugas memberikan pelayanan kepad masyarajat, maka masyarakat yang menerima layanan
akan menjadi pihak yang dapat mendorong terjadinya suatu transformasi. Hal ini dikarenakan
masyarakat selalu menuntut untuk mendapatkan layanan yang mereka inginkan. Tekanan dari
tuntutan inilah yang membuat organisais publik harus melakukan suatu upaya yaitu dengan
melakukan perubahan organisasi.
Namun terdapat juga faktor lain yang menyebabkan organisasi publik melakukan
perubahan, yaitu campur tangan dari pemerintah pusat dan dukungan atau intervensi dari
pihak asing yakni Asian Development Bank (ADB). Oleh sebab itu selain tuntutan dari
masyarakat, terdapat input lain yang dibutuhkan untuk memunculkan sebuah output. Input
tersebut yaitu berasal dari pemerintah yang memberikan dukungan atas tuntutan yang
disampaikan oleh masyarakat pengguna layanan dan intervensi dari pihak luar. Kemudian
setelah adanya tuntutan dan dukungan tersebut, maka pemerintah kemudian menghasilkan
suatu output yang berbentuk keputusan yaitu transformasi organisasi.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa faktor yang menjadi penyebab terjadinya
transformasi PT. Askes (Persero) menjadi BPJS Kesehatan yaitu adanya tuntutan dari
masyarakat pengguna layanan dan dukungan daru Pemerintah mengenai tuntutan tersebut.
Tuntutan tersebut berupa tuntutan untuk mendapatkan layanan yang lebih baik serta tidak
membeda-bedakan dari pasien yang lain. Dukungan dari Pemerintah merupakan sebuah
keputusan transformasi yang didorong oleh pihak asing sehingga melahirkan transformasi
berupa Undang-Undang BPJS.
Berdasarkan hasil pengamatan, maka tahapan transformasi yang dilakukan oleh PT.
Askes (Persero) untuk menjadi BPJS Kesehatan yaitu menggunakan kombinasi dari dua teori.
Tahapan transformasi ditampilkan ke dalam tiga bentuk tahapan menurut Kurt Lewin, yaitu
unfreezing, movement, dan refreezing. Lalu untuk memperdalam maka peneliti memasukan
delapan tahapan menurut John P Kotter yaitu (menetapkan alasan dasar, membentuk koalisi
yang kuat membuat visi, menyampaikan visi, memerintahkan orang lain untuk
menyampaikan visi, membuat program unggulan jangka pendek, memperkuat perubahan, dan
memproduksi banyak perubahan, serta mengistitualisasi pendekatan baru) ke dalam tiga
tahapan menurut Kurt Lewin. Namun terdapat beberapa tahapan yang tidak tercantum yaitu
penyusunan paying hokum dan pengalihan aset. Sehingga transformasi ini terjadi melalui
sepuluh langkah perubahan yang berada di bawah tiga tahapan utama.
Berdasarkan perpaduan teori yang ada, maka dapat diambil kesimpulan bahwa suatu
organisasi harus melewati beberapa tahapan-tahapan yang terstruktur untuk mencapai
keberhasilan dalam transformasi. Tanpa adanya tahapan tersebut maka transformasi tersebut
tidak memberikan dampak yang positif. Jika dilihat lebih dalam pada setiap proses, maka
tahapan yang dianggap paling berperan dalam keberhasilan berlangsungnya transformasi
yaitu tahapan pembentukan koalisi yang kuat dan pembentukan paying hokum yang mengikat
dimana keduanya saling berkaitan satu sama lain.
Perubahan yang pertama yaitu perubahan tujuan. Perubahan tujuan tersebut berupa
perubahan status organisasi dari Perusahaan BUMN yang bertujuan mencari keuntungan
komersial menjadi badan publik yang berorientasi pada sistem nirlaba. Maka tujuan BPJS
Kesehatan yaitu mengelola dana peserta sebaik-baiknya lalu akan dikembalikan lagi kepada
peserta berupa layanan kesehatan. Dengan berubahnya status dan sistem tersebut, maka akan
ada perubahan visi dan misi yang dianut BPJS Kesehatan.
Perubahan selanjutnya adalah perubahan budaya. Perubahan yang terjadi berupa tatanan
nilai organisasi yang berlaku setelah dilaksanakan transformasi. Walaupun tidak secara
keseluruhan tatanan nilai yang dirubah, namun perubahan tetap terjadi karena terdapat dua
nilai yang dirubah. Perubahan tatanan nilai tersebut diikuti dengan dengan dilaksanakannya
sepuluh perilaku uatam yang harus dilakukan oleh setiap pegawai BPJS Kesehatan.
Kemudian transformasi organisasi ini juga memberikan dampak bagi peningkatan volume
kegiatan organisasi. Hal ini terjadi karena bertambahnya jumlah penerima layanan yang harus
dilayani oleh BPJS Kesehatan. Pengalihan program dari PT. Askes (Persero) menjadi BPJS
Kesehatan inilah yang menjadi penyebab bertambahnya volume kegiatan organisasi.
Sebelumnya PT. Askes (Persero) hanya melayani peserta Askes saja, namu setelah ada
transformasi peserta yang harus dilayani menjadi bertambah dua kali lipat sebab ditambah
dengan jumlah peserta Jamkesmas. Beban kerja yang semakin berat ini memberikan dampak
buruk bagi pelayanan yang diberikan kepada peserta. Dilihat dari keluhan yang ada, maka
banyak sekali peserta yang justru tidak puas dengan layanan yang diberika pihak rumah sakit
yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Hal ini terjadi karena adanya perubahan
pelayanan yang justru merugikan peserta.
Berdasarkan serangkaian perubah yang telah terjadi beserta dampak yang ditimbulkan
dari perubah tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa transformasi ini memiliki kelebihan
dan kekurangan. Hal ini dapat dilihat dari setiap sudut padang perubahan yang telah terjadi.
Dampak negatif yang ditimbulkan merupakan efek dari ketidakpastian secara sempurna dan
tidak melihat dari ketersediaan serta kemampuan organisasi untuk menjalankannya. Hal ini
tidak akan terjadi apabila para pemangku kepentingan atau stakeholder terkait sudah
mempersiapkan secara matang dan mengambil tindakan berdasarkan masukan dari segala
pihak.
BAB III. PENUTUP
Kesimpulan
Terdapat tiga tahapan dan beberapa langkah untuk berhasil bertransformasi menjadi BPJS
Kesehatan. Tahapan pertama yang harus dilakukan adalah unfreezing atau pencairan yang di
dalamnya terdapat dua langkah perubahan yakni, menetapkan alasan dasar dan membentuk
koalisi yang kuat. Tahapan selanjutnya adalah movement atau pergerakan yang di dalamnya
terdapat beberapa langkah perubahan, yakni: penyusunan payung hukum, penyusunan visi,
pengalihan aset, penyampaian visi, implementasi perubahan dan menyebarluaskan visi,
membuat program unggulan jangka pendek, serta memperkuat perubahan dan memproduksi
banyak perubahan. Tahapan yang terkahir adalah refreezing atau pembekuan kembali yakni
dengan melakukan langkah institusionalisasi pendekatan baru ke dalam budaya kerja.
Transformasi yang dialami oleh PT. Askes (Persero) ini menimbulkan beberapa
perubahan yang kemudian perubahan tersebut dimiliki oleh BPJS Kesehatan. Perubahan
tersebut, yaitu: perubahan tujuan organisasi, perubahan kultur organisasi, perbaikan
teknologi, perbaikan struktur organisasi, serta peningkatan volume kegiatan yang disebabkan
oleh meningkatnya jumlah peserta yang harus dilayani.
Perubahan yang terjadi akibat dari transformasi tidak selalu mengarah kepada hal yang
positif karena terdapat dampak negatif yang muncul dan dikeluhkan oleh pengguna. Dampak
negatif tersebut ditimbulkan dari peningkatan volume kegiatan yang berasal dari
ketidaksiapan BPJS Kesehatan. Dampak negatif tersebut, yaitu: menurunya pelayanan yang
berkaitan dengan pemberian jumlah obat kepada peserta, serta sistem administrasi pelayanan
yang dinilai masih berbelit-belit.
Saran
Akan lebih baik bila Pemerintah tidak bertindak secara sepihak dalam setiap pengambilan
keputusan, sehingga perubahan yang dilakukan tidak bersifat memaksa karena belum adanya
kesiapan yang matang dari badan publik untuk melakukan transformasi.
Perlu adanya pengkajian ulang mengenai transformasi ini dengan harapan menemukan
solusi mengenai kesiapan BPJS Kesehatan yang dinilai masih kurang layak untuk
menyelenggarakan SJSN dan Program JKN.
BPJS Kesehatan harus memperbaiki regulasi layanan jaminan kesehatan yang dinilai
berbelit-belit dan menunda peserta, yaitu dengan cara mempersingkat dan mempermudah
tahapan administrasi.
Kreitner, R., & Kinicki, A. (2014). Perilaku Organisasi (Bahasa Ind). Jakarta: Salemba
Empat.
Robbins, Stephen P. 1994. Teori Organisasi Struktur, Desain dan Aplikasi. Jakarta: Arcan.