Anda di halaman 1dari 5

Problematika Pembelajaran Daring

Pendahuluan

Yang sama-sama kita ketahui bahwasanya Wabah Covid-19 telah


melumpuhkan seluruh sektor kehidupan. Covid-19 ini menular begitu cepat dan
menyebar hampir ke seluruh negara termasuk Indonesia, sehingga Badan
Kesehatan Dunia (WHO) menjadikan wabah ini menjadi pandemi global pada
tanggal 11 maret 2020. Karena adanya virus ini, aktivitas masyarakat menjadi
terganggu sehingga membuat masyarakat di dunia harus tetap diam dirumah agar
virus corona tidak semakin menyebar. Virus corona juga sangat mempengaruhi
pendidikan di Indonesia. Pembelajaran yang awalnya tatap muka secara tiba-tiba
tidak dapat dilakukan. Virus corona menyebar dengan sangat cepat sehingga
untuk memutus rantai penyebaran virus corona maka di berlakukan kebijakan
physical distancing yang kemudian menjadi dasar pelaksanaan belajar dari rumah
(Learning from home) / pembelajaran daring (dalam jaringan).

Pembelajaran daring merupakan bagian dari pendidikan jarak jauh yang


secara khusus menggabungkan teknologi elektronika dan teknologi berbasis
internet. Learning from home atau Belajar dari Rumah dilaksanakan dengan
sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003
pasal 1 ayat 15, dijelaskan bahwa PJJ adalah pendidikan yang peserta didiknya
terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber
belajar melalui teknologi komunikasi, informasi dan media lain. Dalam
pelaksanaannya, PJJ dibagi menjadi dua pendekatan, yaitu pembelajaran jarak
jauh dalam jaringan (daring) dan pembelajaran jarak jauh luar jaringan (luring).
Dalam pelaksanaan PJJ, satuan pendidikan dapat memilih pendekatan (daring atau
luring atau kombinasi keduanya) sesuai dengan karakteristik dan ketersediaan,
kesiapan sarana dan prasarana.

Mencermati fakta di masyarakat saat ini yang terdampak Covid-19,


banyak yang kehilangan pekerjaan dan berusaha untuk membuka lapangan
pekerjaan sendiri, hal ini mempengaruhi kemampuan orang tua peserta didik
secara material untuk memenuhi kebutuhan anaknya dalam hal pengadaan
smartphone atau laptop dalam menunjang pembelajaran daring. Permasalahan
yang terjadi tidak hanya dalam pengadaan sarana dan prasarana ini, namun juga
pengadaan kuota (pulsa) yang membutuhkan biaya cukup tinggi terutama bagi
orang tua peserta didik dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Tidak
berhenti sampai di situ, meskipun jaringan internet dalam genggaman tangan,
peserta didik menghadapi kesulitan akses jaringan internet karena tempat
tinggalnya di daerah pedesaan, terpencil dan tertinggal. Kalaupun ada yang
menggunakan jaringan seluler terkadang jaringan tidak stabil, karena letak
geografis yang masih jauh dari jangkauan sinyal seluler. Hal ini juga menjadi
permasalahan yang banyak terjadi pada peserta didik yang mengikuti
pembelajaran daring, sehingga pelaksanaannya kurang efektif . (Kemdikbud,
2020). Selain itu permasalahan lain, juga dialami oleh guru seperti guru yang
gaptek atau gagap teknologi yang bisa menyebabkan menurunnya motivasi belajar
siswa karna pengadaan pembelajaran oleh guru yang tidak maksimal. Perubahan
sistem pembelajaran yang terjadi secara tiba-tiba (karena pandemi covid-19) dari
konvensional menjadi pembelajaran daring tentu membawa pengaruh terhadap
guru untuk mempersiapkan materi, model, dan metode pembelajaran yang
digunakan. Tidak jarang guru mengalami kesulitan dalam penguasaan IT sehingga
proses pembelajaran tidak berlangsung secara maksimal. Dari segi peserta didik,
cenderung hanya mengabsen saja dan tidak terlalu aktif terlibat dalam
pembelajaran, sehingga dapat mengakibatkan penurunan motivasi belajar,
konsentrasi belajar, dan berdampak pada prestasi belajar siswa.

Isi

Pembelajaran jarak jauh merupakan interaksi pendidik dan peserta didik


dilakukan secara langsung maupun tidak langsung, missal dengan melakukan
chatting lewat koneksi internet (langsung), tatap muka secara virtual melalui
aplikasi zoom atau pun google meet, maupun dengan berkirim email untuk
sekedar mengumpulkan tugas (tidak langsung). Pembelajaran secara daring
dianggap menjadi solusi kegiatan belajar mengajar tetap jalan di tengah pandemi
covid 19. Namun solusi tersebut tentu juga memiliki problematika atau
permasalahan. Permasalahan dalam pembelajaran daring sangat banyak mulai
dari siswa yang kurang termotivasi belajar karna kurangnnya pengawasan guru
maupun orang tua dari siswa itu sendiri yang membuat siswa malas belajar, selain
itu yang menjadi permasalahan lainnya yang harus diperhatikan adalah kondisi
sebagian guru yang gagap teknologi atau gaptek dalam menggunakan perangkat
komunikasi. Dalam masa pandemic ini, semua guru dituntut harus bisa mengajar
jarak jauh yang notabene harus menggunakan teknologi. Tidak semua guru
mampu mengoperasikan laptop, gadget, platform digital dan koneksi jaringan
internet dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran daring ini tentu guru harus
membuat sistem belajar, silabus dan metode pembelajaran dengan pola belajar
digital atau online, sedangkan masih ada sebagian guru khususnya guru-guru
senior atau guru-guru yang terbiasa mengajar secara konvensional ketika
dihadapkan dalam pembelajaran daring belum dapat dilaksanakan secara
maksimal. Kendala ini mempengaruhi kinerja guru dalam mengajar dan
memberikan materi kepada para siswa. Memang ada sebagian guru yang mampu
mengoperasiksan komputer, platform, aplikasi daring, dan lain-lain tetapi dalam
pengoperasian masih terbatas. Mereka tidak mampu mengakses lebih jauh yang
berkaitan dengan jaringan internet, menggunakan berbagai aplikasi pembelajaran
serta membuat media/video pembalajaran sendiri dan sebaginya.

Permasalahan guru yang gaptek ini lebih diperparah lagi pada


pembelajaran yang materi pembelajarannya ada kegiatan pratikumnya seperti
pembelajaran IPA atau biologi, karena materi pembelajaran yang ditempuh itu
cukup kompleks, tidak cukup dengan penjelasan belajar dengan teks tapi juga
membutuhkan beberapa praktik di laboratorium. Praktikum merupakan bagian
dari pengajaran yang bertujuan agar siswa mendapatkan kesempatan untuk
menguji dan melaksanakan dalam keadaan nyata apa yang diperoleh dalam teori.
Praktikum memiliki tujuan agar siswa mendapatkan kesempatan mengaplikasikan
teori atau penyelidikan dan pembuktian ilmiah. Sehingga pratikum juga sangat
penting bagi siswa untuk memahami pembelajaran, namun jika pratikum tetap
dilakukan secara daring tentu alat dan bahan nya tentu harus di sediakan terlebih
dahulu sehingga lebih ribet dan mengeluarkan cukup biaya jika dilakukan secara
mandiri oleh siswa. Hal ini menjadi problematika mengingat penguasaan IT
sebagian guru yang masih kurang sehingga guru perlu mencari metode
pembelajaran yang efektif agar pembelajaran IPA terutama kegiataan pratikum ini
dapat tetap dijalankan secara daring.

Proses pembelajaran daring ini sebenarnya bisa dilaksanakan dengan baik


asalkan sarana dan prasaranan terpenuhi dan merata. Dengan banyaknya kendala
yang dihadapi, menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Mengingat Guru sangat
berpengaruh sekali dalam proses pembelajaran daring. Bagaimana guru menyikapi
pembelajaran daring ini dan mengatasi berbagai kendala yang dihadapi. Guru bisa
mengatasi berbagai kendala yang dihadapi dalam pembelajaran daring ini
terutama bagi guru yang gaptek yaitu melakukan pelatihan pembelajaran daring
dengan cara pelatihan langsung tentunya dengan menerapkan protocol kesehatan,
dalam pelatihan tersebut maka guru yang gaptek akan diajarkan bagaimana
menggunakan aplikasi zoom, google meet atau google classroom, dan tentunya
memperkenalkan tentang pembelajaran daring. Selain itu cara lain yang dapat
dilakukan guru yang gaptek untuk meningkatkan kompetensi IT-nya adalah
dengan mengikuti workshop terkait, serta bertanya kepada guru-guru lain yang
mempunyai kemampuan lebih di bidang IT (Puspitasari dalam Kemdikbud, 2020)
sehingga guru dapat membuat rancangan pembelajaran yang mudah diakses oleh
siswa supaya siswa mudah dalam belajar dan memahami materi yang diberikan
guru seperti membuat video pembelajaran yang menarik sehingga materi tersebut
dirasakan lebih “hidup” oleh peserta didik sehingga membuat peserta didik lebih
fokus dan tertarik untuk belajar. Dalam hal penguasaan IT, guru juga dapat
menggunakan aplikasi yang sederhana misalnya whatshapp untuk mengirim
materi pembelajaran baik disajikan dalam bentuk power point, audio dan video.
Guru juga dapat memperkaya materi dan kemampuan mengajarnya dari youtobe
yang menyajikan aplikasi pembelajaran dan langkah-langkah penggunaannya,
serta bagaimana memproduksi video pembelajaran, atau membuat video pratikum
untuk pembelajran IPA yang mudah dipahami oleh siswa, sehingga dalam
menyampaikan materi tidak monoton dan siswapun lebih tertarik untuk mengikuti
pembelajaran.

Penutup

Pelaksanaan pembelajaran daring yang merupakan pembelajaran jarak


jauh di masa pandemi covid-19 memiliki beragam problematika yang dialami
guru, peserta didik, dan orangtua. Permasalahan dari guru berupa lemahnya
penguasaan IT yang mengakibatkan kurang efektifnya pembelajaran terutama
pada pembelajaran IPA yang materi pembelajaran yang ditempuh cukup
kompleks, tidak cukup hanya dengan penjelasan belajar dengan teks tapi juga
membutuhkan beberapa praktik di laboratorium. Sehingga perlu adanya solusi
yang harus dilakukan oleh guru,terutama guru yang gaptek. Permasalahan tersebut
dapat diatasi dengan meningkatkan kompetensi penguasaan IT bagi guru yang
gaptek melalui berbagai cara seperti melakukan pelatihan penggunaan aplikasi,
workshop terkait, bertanya kepada guru- guru yang paham dan mengerti tentang
IT, serta guru bisa belajar mandiri dengan menggunakan apl youtube untuk
mencari informasi yang diinginkaan mengenai pembelajaran. Guru juga bisa
berlatih membuat video pratikum yang menarik bagi pembelajaran IPA, kalau
tidak guru juga bisa mencari dan mendownload video pratikum pembelajaran
IPA.