Anda di halaman 1dari 5

EKSTRAKSI MINYAK NABATI

1. Kompetensi
Setelah mengikuti praktikum ini, mahasiswa mampu:
1. Mengetahui prinsip kerja dan dapat mengoperasikan alat screw press.
2. Membandingkan hasil minyak yang didapatkan dari bahan baku yang berbeda dan pada suhu
yang berbeda.

2. Dasar Teori
2.1 Ekstraksi
Ekstraksi adalah suatu cara untuk mendapatkan minyak atau lemak dari bahan yang diduga
mengandung minyak atau lemak. Adapun cara ekstraksi ini bermacam-macam, yaitu mechanical
expression, solvent extraction, rendering.

2.1.1 Pengepresan Mekanis (Mechanical Expression)


Pengepresan mekanis merupakan suatu cara ekstraksi minyak atau lemak, terutama untuk
bahan yang berasal dari biji-bijian. Cara ini dilakukan untuk memisahkan minyak dari bahan yang
berkadar minyak tinggi (30-70%). Pada pengepresan mekanis ini diperlukan perlakuan
pendahuluan sebelum minyak atau lemak diekstrak. Perlakuan pendahuluan tersebut mencakup
penyerpihan/perajangan/penggilingan/penghancuran (memperkecil ukuran bahan), dan kalau
diperlukan dilakukan perebusan/pemasakan. Pada industry/pabrik ada dua cara ekstrasi mekanik
yang umum digunakan, yaitu pengepresan hidrolik (Hydrolic Pressing) dan pengepresan berulir
(Expeller Pressing). Berikut tahap-tahap yang dilakukan dalam proses pemisahan minyak dengan
cara pengepresan mekanis.

1. Pengepresan Hidrolik (Hydrolic Pressing)


Pada cara hydrolic pressing, bahan dipres dengan tekanan sekitar 2000 pound/inch2 (140,6
kg/cm= 136 atm). Banyaknya minyak atau lemak yang dapat diekstraksi tergantung dari lamanya
pengepresan, tekanan yang dipergunakan, serta kandungan minyak dalam bahan asal. Sedangkan
banyaknya minyak yang tersisa pada bungkil bervariasi sekitar 4 sampai 6 persen, tergantung dari
lamanya bungkil ditekan di bawah tekanan hidrolik.

Lab Tek II – Modul Ekstraksi Minyak Nabati 1


Gambar 8.2 Alat Pres Hidrolik skala Laboratorium

2. Pengepresan Berulir (Screw Pressing)


Cara Screw pressing memerlukan perlakuan pendahuluan yang terdiri dari proses
perajangan/penyerpihan/penghalusan bahan, pemasakan atau tempering. Proses pemasakan
berlangsung pada temperatur 240oF (115,5oC) dengan tekanan sekitar 15-20 ton/inch2. Kadar
minyak atau lemak yang dihasilkan berkisar 2,5-3,5 persen, sedangkan bungkil yang dihasilkan
masih mengandung minyak sekitar 4-5 persen.

Gambar 8.3 Alat Screw Press Skala Labratorium

Alat ini bisa digunakan dengan pengerak motor listrik ataupun secara manual.

Lab Tek II – Modul Ekstraksi Minyak Nabati 2


2.1.2 Ekstraksi dengan Pelarut (Solvent Extraction)
Prinsip dari proses ini adalah melarutkan minyak dalam pelarut minyak dan lemak yang
sesuai. Pada cara ini dihasilkan bungkil dengan kadar minyak yang rendah yaitu sekitar 1 persen
atau lebih rendah, dan mutu minyak kasar yang dihasilkan cenderung menyerupai hasil dengan
cara expeller pressing, karena sebagian fraksi bukan minyak akan ikut terekstraksi. Pelarut minyak
atau lemak yang biasa dipergunakan dalam proses ekstraksi dengan pelarut mudah menguap,
seperti petroleum eter, gasoline karbon disulfide, karbon tetraklorida, benzene dan n-heksan. Perlu
diperhatikan bahwa jumlah pelarut menguap atau hilang tidak boleh lebih dari 5 persen. Bila lebih,
seluruh sistem solvent extraction perlu diteliti lagi.
Ekstraksi dengan pelarut bisa dikelompokan menjadi maserasi, perkolasi dan sokletasi.
Maserasi merupakan proses ekstraski dengan pelarut, dimana bahan yang diduga mengandung
minyak/lemak direndam dalam pelarut yang sesuai selama waktu tertentu, kemudian dipisahkan
antara filtrate yang mengandung minyak/lemak dari ampas dengan penyaringan. Terakhir pelarut
diuapkan, sehingga didapat minyak/lemak yang dimaksud. Perkolasi merupakan proses ekstraksi
pelarut, dimana pelarut dialirkan melalui bahan yang mengandung minyak/lemak, kemudian
pelarut diuapkan untuk mendapat minyak/lemak yang terkandung dalam bahan. Sokletasi
merupakan prses ekstraksi dengan pelarut menggunkan unit alat soklet. Pelarut dialirkan terus
menerus atau berulang ulang pada bahan yang mengandung minyak/lemak. Pengaliran pelarut
yang terus menerus disebabkan karena diberikan panas untuk menguapkan pelarut yang ada dalam
labu soklet, uap pelarut ini didinginkan oleh condenser, kondensasi uap pelarut jatuh lagi kebahan,
merendam bahan guna menarik minyak/lemak yang masih ada dalam bahan. Proses ini berjalan
terus menerus sampai semua kandungan minyak/lemak dalam bahan tersktrak semua.

2.1.1 Rendering
Rendering merupakan suatu cara ekstraksi minyak atau lemak dari bahan yang diduga
mengandung minyak atau lemak dengan kadar air yang tinggi. Pada semua cara rendering,
penggunaan panas adalah suatu hal yang spesifik, yang bertujuan untuk menggumpalkan protein
pada dinding sel bahan atau untuk memecahkan dinding sel tersebut sehingga mudah ditembus
oleh minyak atau lemak yang terkandung di dalamnya. Menurut pekerjaannya, rendering dibagi
dalam dua cara yaitu: wet rendering dan dry rendering.

Lab Tek II – Modul Ekstraksi Minyak Nabati 3


1. Wet Rendering
Wet rendering adalah proses rendering dengan penambahan sejumlah air selama
berlangsungnya proses tersebut. Cara ini dikerjakan pada ketel yang terbuka atau tertutup dengan
menggunakan temperatur yang tinggi serta tekanan 40 sampai 60 pound tekanan uap (40-60 psi).
Penggunaan temperatur rendah dalam proses wet rendering dilakukan jika diinginkan flavor netral
dari minyak atau lemak tidak hilang. Bahan yang akan diekstraksi ditempatkan pada ketel yang
dilengkapi dengan alat pengaduk, kemudian air ditambahkan dan campuran tersebut dipanaskan
perlahan-lahan sampai suhu 50oC sambil diaduk. Minyak yang terekstraksi akan naik ke atas dan
kemudian dipisahkan. Proses wet rendering dengan menggunakan temperatur rendah kurang
begitu popular, sedangkan proses wet rendering dengan mempergunakan temperatur yang tinggi
disertai tekanan uap air, dipergunakan untuk menghasilkan minyak atau lemak dalam jumlah yang
besar. Peralatan yang dipergunakan adalah autoclave atau digester. Air dan bahan yang akan
diekstraksi dimasukkan ke dalam digester dengan tekanan uap air sekitar 40 sampai 60 pound
selama 4-6 jam.

2. Dry Rendering
Dry rendering adalah cara rendering tanpa penambahan air selama proses berlangsung. Dry
rendering dilakukan dalam ketel yang terbuka dan dilengkapi dengan steam jacket serta alat
pengaduk (agitator). Bahan yang diperkirakan mengandung minyak atau lemak dimasukkan ke
dalam ketel tanpa penambahan air. Bahan tadi dipanaskan sambil diaduk. Pemanasan dilakukan
pada suhu 220oF sampai 230oF (105oC-110oC). Ampas bahan yang telah diambil minyaknya akan
diendapakan pada dasar ketel. Minyak atau lemak yang dihasilkan dipisahkan dari ampas yang
telah mengendap dan pengambilan minyak dilakukan dari bagian atas ketel.

3. Metodologi Praktikum
3.1 Alat yang Digunakan
1. 1 Unit Alat Screw Press
2. Timbangan Analitik
3. Pemanas
4. Gelas piala
5. Gelas ukur

Lab Tek II – Modul Ekstraksi Minyak Nabati 4


3.2 Bahan yang Digunakan
1. Kacang Tanah
2. Biji Karet
3. Buah Sawit
4. Buah jarak pagar

3.3 Prosedur Praktikum


1. Bersihkan tempat kerja dan alat screw press (bahagian bahagiannya).
2. Rangkai atau pasangkan bahagian bahagian alat sehingga siap menjadi satu unit
yang lengkap.
3. Bahan yang akan diekstrak dirajang/diserpih/dihaluskan
4. Timbang bahan yang akan diekstrak
5. Masukkan bahan kedalam tempat pengumpanan.
6. Putar handle screw press searah jarum jam, bila bahan tidak lancar jatuhnya dari
tempat umpan ke bahagian screw, bisa didorong dengan batang pangaduk.
7. Kecepatan putar (bila manual) diatur sedemikian rupa, sehingga tidak terjadi
penyumbatan. Diusahakan proses berjalan lancar, minyak/lemak keluar lancar di
outlet dan masuk kedalam botol penampung, ampas keluar dibahagian outlet
ampas.
8. Untuk mendapatkan hasil yang banyak bisa diatur jarak antara outlet dengan ujung
screw.
9. Minyak/lemak yang diperoleh ditimbang, kemudian disaring, dan hasil saringan
juga ditimbang kembali.
10. Pekerjaan ini dilakukan duplo atau triplo, dilakukan juga pada kodisi tidak
dipanaskan dan pada kondisi dipanaskan.
11. Hitung yield.

Lab Tek II – Modul Ekstraksi Minyak Nabati 5