Anda di halaman 1dari 83

M E T O D E I S T I N B A T H U K U M I B N U H A Z M T E N T A N G W A J I B N Y A

W A S I A T K E P A D A K E R A B A T B U K A N I S L A M (N O N -M U S L I M )

S K R IP S I

N O R A Q IL A H B IN T IB O L K A N

S P M 14 0 0 3 7

P E M B IM B IN G :

Z U L Q A R N A IN . S . A G . M . H U M . P H . D

M A S B U R I Y A H , S . A G ., M .F I L .I

P R O G R A M S T I I) I P E R B A N D I N G A N M A Z H A B

F A K U L T A S S Y A R IA H

U N IV E R S IT A S A G A M A IS L A M N E G E R I

S U L T H A N T H A H A S A IF L D D IN

J A M B I

2 0 1 9
PERNYATAAN KEASLIAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi

salah satu persyaratan memperoleh gelar sarjana strata satu (S .l) di Fakultas

Syariah.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya camtuinkan

sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN STS Jambi.

3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau

merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima

sanksi yang berlaku di UIN STS Jambi.

Jambi, 18 oktober2019
Yang Menyatakan
Pembimbing I : Zulqamain, MH.,Ph.D
Pembimbing II : Masburiyah, S.Ag, M.Fil.I
Alamat : Fakultas Syariah UIN STS Iambi,
Jl.Iambi- Muara Bulian KM. 16 Simp. Sei Duren,
Kab. Muaro Iambi 31346

Kepada Yth..
Bapak Dekan Fakultas Syariah
UIN Sulthan Thaha Saifuddin
D i-
lambi

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Setelah membaca dan mengadakan pebaikan seperlunya, maka kami berpendapat


bahwa skripsi sauadari Nor Aqilah Binti Bolkan, NIM: SPM 140037 yang betjudul “Metode
Istinbat Hukum Ibnu Hazm Tentang Wajibnya Wasiat Kepada Kerabat Bukan Islam
(Non-Muslim)” dapat diajukan untuk di munaqashalikan guna melengkapi tugas tugas dan
memenuhi syarat syarat untuk mencapai gelar Saijana Strata Satu (SI) pada Fakultas Syariah
UIN Sulthan Thaha Saifuddin Iambi. Maka dengan ini kami ajukan skripsi tersebut agar
dapat diterima dengan baik.

Demikianlah, kami ucapkan terima kasih, semoga bennanfaat bagi kepentingan


agama, nusa dan bangsa.

Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Pembimbing II

Masburiyah, S.Ag, M.Fil,I


NIP: 19720162000032003

in
SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama Nor Aqilah Binti Bolkan


NIM Spm 140037
Fakultas Syariah
Jurusan Perbandingan Mazhab
Alamat Mess Pelajar Malaysia, Telanaipura, Jambi

Dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang


berjudul “Metode Istinbat Hukum Ibnu Hazm Tentang Wajibnya Wasiat
Kepada Kerabat Bukan Islam (Non-Muslim)” Yang dimunaqasyahkan pada
hari khamis tanggal 31 Oktober 2019.

Dengan penguji I : Drs. Ibnu Kasir, M.HI


II : Abdul Rozak, S.HI..M.IS

Telah diperbaiki sesuai dengan petunjuk Tim Penguji dan Pembimbing.


Demikianlah Surat Pernyataan ini saya buat dengan sebenamya.

Jambi, 7 november 2019


Yang menyatakan,

Nor Aqilah Binti Bolkan


NIM : SPM 140037

Telah diteliti kebenaranya, dan telah


Munaqasyah tanggal 31 Oktober 2019.

Penguji I

Drs. Ibnu Kasir, M.HI


NIP : 195612311991021001

Dra. Chmriyah
NIP : 196605081992032001

IV
KEMENTERIAN AGAMA
UIN SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI
FAKULTAS SYARIAH

PENGESAHAN TUGAS AKHIR


N om or: In.08/DS/PP.00.9/ /2019

Skripsi / Tugas Akhir dengan judul : “Metode Istinbat Hukum Ibnu Hazm Tentang Wajibnya Wasiat
Kepada Kerabat Bukan Islam (Non-Muslim)”

Yang dipersiapkan dan disusun oleh


Nama Nor Aqilah Binti Bolkan
NIM SPM 140037
Telah dimunaqasyahkan pada 31 Oktober 2019
Nilai Munaqasyah 75
Dan dinyatakan telah diterima oleh Fakultas Syariah UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

TIM MUNAQASYAH :

A1 Husni. M.HF
NIP: 197612252009011017

Penguji I

Drs. Ibnu Kasir. M.HI


NIP: 195612311991021001

Pembimbing I

N IP :197508162000031003

idang

NIP: 196605081992032001

Jambi, 7 november 2019


Fakultas Syariah
UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

v
MOTTO

ۡ ۡ ۡ‫كتِب علَ ۡي ُك ۡم إِذا حضر أَح َدكم ۡٱلمو‬


ِ‫ت إِن تَ َرَك َخ ۡي ًرا ٱل َو ِصيَّةُ لِل ََٰولِ َد ۡين‬
ُ َ ُ ُ َ ََ َ َ َ َ ُ
ِ ۡ ۡ
ِۖ ۡ ِ ِ ۡ ۡ
ِ
َ ‫ني بٱل َمعُروف َح ًّقا َعلَى ٱل ُمتَّق‬
‫ني‬ َ ‫َوٱۡلَق َرب‬
“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-
tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak
dan karib kerabatnya secara ma'ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang
yang bertakwa.”

(Q.S Al-Baqarah, 2:180)

ِ ِ ٓۚ ِ ِ ۡ ِ ۡ ‫فم ۢن ب َّدلهۥ ب‬
‫يع َعليم‬‫َس‬
ٌ َ َ‫ٱَّلل‬
َّ َّ
‫ن‬ ِ
‫إ‬ ‫ۥ‬‫ه‬ٓ ‫ن‬‫و‬‫ل‬
ُ ‫د‬ ‫ب‬
ُ َ ّ َُ َ ‫ي‬ ‫ين‬‫ذ‬َّ
‫ل‬ ‫ٱ‬ ‫ى‬َ‫ل‬‫ع‬ ‫ۥ‬‫ه‬ ‫ۡث‬ ِ
‫إ‬ ‫ا‬
ٓ َّ
‫َّن‬ ِ
‫إ‬ ‫ف‬ ‫ۥ‬‫ه‬ ‫ع‬‫َس‬
َ ُ َ َ ُ َ َ َ َ َ َُ َ ََ
ُ ‫ا‬ ‫م‬ ‫د‬ ‫ع‬
“Barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, Maka
Sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya.
Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”

(Q.S Al-Baqarah, 2:181)

vi
ABSTRAK

Nor Aqilah Binti Bolkan, SPM 140037, Metode Istinbat Hukum Ibnu Hazm
Tentang Wajibnya Wasiat Kepada Kerabat Bukan Islam (Non-Muslim).

Skripsi ini adalah untuk untuk mengetahui bagaimana pendapat Ibnu Hazm
tentang wajibnya wasiat wajibah dan untuk mengetahui mengapa kerabat non
muslim yang seharusnya tidak menerima warisan tetapi menurut Ibnu Hazm
dikatakan wajib di berikan warisan melalui wasiat wajibah dan akhir sekali untuk
mengetahui mana yang lebih benar dan adil bagi kerabat non muslim dalam
mendapatkan haknya dalam mewarisi melalui wasiat wajibah. Pendekatan
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan metode
diskriptif. Instrumen pengumpulan data adalah melalui dokumentasi. Jenis
penelitian yang digunakan dalam kajian ini yaitu library research (kajian pustaka)
supaya penulis dapat meneliti dan membahas kajian ini secara rinci dan
membahas permasalahan ini dengan lebih mendalam. Dengan menggunakan data
primer yaitu diperoleh dari data pustaka kitab Ibnu Hazm Al-Muhalla, Ihkam fi
Ushul Al-Ahkam. dan data sekunder yang merupakan data pelengkap atau
pendukung yang diperoleh melalui buku-buku, jurnal dan juga artikel-artikel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibnu Hazm adalah seorang ulama dari
golongan dhahiri. Nama lengkapnya adalah Ibnu Ahmad Ibnu Said Ibnu Hazm
Ibnu Ghalib Ibnu Shalih Ibnu Sufyan Ibnu Yazid. Ibnu Hazm lahir di Akhir
Ramadha di Andalusia (Sepanyol dan Protogal) pada tahun 384 H. Nama dia lebih
terkenal dengan sebutan Ibnu Hazm. Ibnu Hazm sangat terkenal dengan
pemikirannya yang tekstual dalam dalil Al-quran dan Hadits. Alasan atau dalil
wajib wasiat wajibah kepada kerabat bukan Islam (non-muslim) kerana Non
muslim yang dimaksudkan adalah Ahla Dzimmah iaitu dari golongan Yahudi dan
Nasrani. Dikatakan Ahla dzimmah kerana mereka mematuhi peraturan
perundang-undangan Islam, serta tidak memerangi orang Islam. Kerabat tersebut
merupakan kerabat yang tidak dapat mewarisi, kerana terhijab atau bukan ahli
waris. Pada prinsipnya metode istinbat yang dipakai Ibnu Hazm dalam
menentukan suatu hukum menggunakan tiga dasar dalil pokok : Al-Quran, As-
Sunnah, Ijma dan dalil.

Kata Kunci: Wasiat Wajibah, Ahli Waris, Non-muslim

vii
PERSEMBAHAN

Kupersembahkan skripsi ini


untuk orang-orang yang kucintai
Ayahanda Bolkan Bin Dambah dan Ibunda Kaunah Binti Kanau yang telah
mendidik dan mengasuh ananda dari kecil hingga dewasa dengan penuh kasih
sayang, agar kelak ananda menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua
dan berguna bagi Agama, Nusa dan Bangsa, dan dapat meraih cita-cita.
Ketiga adinda- adindaku yang dikasihi Mohammad Azmi, Nurul Yafisa
dan Nurul Ejatul terima kasih di atas segala perhatian dan dorongan yang
diberikan, semoga segala sesuatu yang terjadi di antara kita merupakan rahmat
dan anugerah dari-Nya, serta menjadi sesuatu yang indah buat selama-lamanya.
Tidak lupa kepada kedua-dua pembimbing saya yaitu bapak Zulqarnain,
S. Ag, M. Hum, Ph. D dan Masburiah, S. Ag., M.Fil.I kerana banyak ilmu yang
dicurahkan dan banyak memberi tunjuk ajar kepada saya arti daya dan upaya
untuk menghadapi cobaan hidup.
Dan sahabat sejatiku Zakiah, Diana, fatin Syahirah, Amra, Raihanah, Nabila,
Husna, Rafidah, Atikah, zainur saymimi, Qawiemah, Syarihah, Tengku Hisham,
Hafizi, Fatini serta teman-temanku lain yang tergabung dalam Persatuan
Kebangsaan Pelajar-pelajar Malaysia di Indonesia Cabang Jambi, serta teman-
teman dari Indonesia maupun teman-teman yang berada di Malaysia, yang setia
telah memberikan semangat dan dorongan di kala suka maupun duka, semoga
persahabatan kita tetap terjalin dengan baik dan semoga ini semua menjadi
kenangan yang terindah dalam hidupku.
Terima kasih atas segalanya. Semoga kejayaan milik kita bersama. In sha
Allah

viii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur yang sedalam-dalamnya penulis panjatkan kehadrat Allah

SWT. atas segala rahmat dan karunia-Nya. shalawat dan salam turut dilimpahkan

kepada junjungan besar Nabi Muhammad SAW. yang sangat dicintai.

Alhamdulillah dalam usaha menyelesaikan skripsi ini penulis senantiasa diberi

nikmat kesehatan dan kekuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini

yang diberi judul “Metode Istinbat Hukum Ibnu Hazm Tentang Wajibnya

Wasiat Kepada Kerabat Bukan Islam (Non-Muslim)

Skripsi ini disusun sebagai sumbangan pemikiran terhadap pengembangan

ilmu syariah dalam bagian hukum. Juga memenuhi sebagian persyaratan guna

memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S1) dalam Jurusan Perbandingan Mazhab

pada Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis akui tidak terlepas dari menerima

hambatan dan halangan baik dalam masa pengumpulan data maupun

penyusunannya. Situasi yang mencabar dari awal hingga ke akhir menambahkan

lagi daya usaha untuk menyelesaikan skipsi ini agar selari dengan penjadualan.

Dan berkat kesabaran dan sokongan dari berbagai pihak, maka skripsi ini dapat

juga diselesaikan dengan baik seperti yang diharapkan.

Oleh karena itu, hal yang pantas penulis ucapkan adalah jutaan terima kasih

kepada semua pihak yang turut membantu sama ada secara langsung maupun

secara tidak langsung menyelesaikan skripsi ini, terutama kepada:

ix
1. Bapak Prof. Dr. H.Suaidi Asy’ari MA., Ph.D Rektor UIN STS Jambi.

2. Bapak Dr. A. A. Miftah, M. Ag selaki Dekan Fakultas Syariah UIN STS

Jambi Indonesia.

3. Bapak Hermanto Harun, Lc MHI.Ph.D Wakil Dekan Bidang Akademik,

Rahmi Hidayati, S.Ag, M.HI, Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum,

Keuangan dan Perencanaan dan Dr. Yuliatin, M.HI, Wakil Dekan Bidang

Kemahasiswaan dan Kerjasama di Fakultas Syariah UIN STS Jambi

Indonesia.

4. Bapak Al Husni S.Ag., M.HI selaku kajur Jurusan Perbandingan Mazhab dan

sekretaris jurusan Bapak Yudi Armansyah, S.Th.I., M.Hum

5. Zulqarnain, S. Ag, M.Hum, Ph.D selaku Pembimbing I dan Ibu Masburiah,

S.Ag., M.Fil.I selaku pembimbing II skripsi ini yang telah banyak memberi

kemasukan, tunjuk ajar dan bimbingan kepada penulis dalam menyelesaikan

skripsi ini.

6. Bapak dan Ibu dosen yang telah mengajar sepanjang perkuliahan, asisten

dosen serta seluruh karyawan dan karyawati yang telah banyak membantu

dalam memudahkan proses menyusun skripsi di Fakultas Syariah UIN STS

Jambi, Indonesia

Di samping itu, disadari juga bahwa skripsi ini masih ada kekurangan dan

jauh dari kesempurnaan baik dari segi teknis penulisan, analisis data, penyusunan

maklumat maupun dalam mengungkapkan argumentasi pada bahan skripsi ini.

Oleh karenanya diharapkan kepada semua pihak dapat memberikan kontribusi

pemikiran, tanggapan dan masukan berupa saran, nasihat dan kritik demi kebaikan

x
skripsi ini. Semoga apa yang diberikan dicatatkan sebagai amal jariyah di sisi

Allah SWT. dan mendapatkan ganjaran yang selayaknya kelak.

Jambi, 18 Oktober 2019


Penulis

NOR AQILAH BINTI BOLKAN


SPM 140037

xi
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i


PERNYATAAN KEASLIAN ........................................................................ ii
PERSETUJUAN PEMBIMBIMBING ........................................................ iii
PENGESAHAN PANITIA UJIAN .............................................................. iv
SURAT PERNYATAAN .............................................................................. v
MOTTO ....... .................................................................................................. vi
ABSTRAK ... .................................................................................................. vii
PERSEMBAHAN ........................................................................................... viii
KATA PENGANTAR .................................................................................... ix
DAFTAR ISI .................................................................................................. xii
DAFTAR SINGKATAN ................................................................................ xiv
BAB I: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ................................................................ 1

B. Rumusan Masalah ......................................................................... 8

C. Batasan Masalah ........................................................................... 8

D. Tujuan Penelitian........................................................................... 8

E. Kegunaan Penelitian ..................................................................... 9

F. Kerangka Teori .............................................................................. 9

G. Tinjauan Pustaka ......................................................................... 16

BAB II: METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian .................................................................. 18

B. Jenis Penelitian .............................................................................. 18

C. Jenis dan Sumber Data ................................................................. 18

D. Instrument Pengumpulan Data ...................................................... 19

E. Teknik Analisis Data ..................................................................... 19

xii
F. Sistematika Penulisan.................................................................... 20

G. Jadwal Penelitian ........................................................................... 21

BAB III: BIOGRAFI IBNU HAZM

A. Biografi Ibnu Hazm ................................................................. 22

B. Pendapat Ibnu Hazm Tentang Wajibnya Wasiat Wajibah

Kepada Kerabat Bukan Islam (Non-Muslim)......................... 29

C. Faktor Penyebab Pendapat Imam Ibnu Hazm tentang

Wasiat Kepada Ahli Waris ...................................................... 48

BAB IV: PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN

A. Bagaimana Alasan atau Dalil Wajib Wasiat Wajibah Kepad

Kerabat Bukan Islam (Non-Muslim) ....................................... 51

B. Metode Istinbat Hukum Tentang Wasiat Wajibah Kepada

Kerabat Bukan Islam (Non-Muslim) ........................................ 53

BAB V: PENUTUP

A. Kesimpulan.................................................................................... 62

B. Saran-Saran ................................................................................... 63

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

CURICULUM VITAE

xiii
DAFTAR SINGKATAN

JAKIM : Jabatan Kemajuan Islam Malaysia

H : Hijriah

Hj. : Haji

UIN STS : Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin.

SWT. : Subhanahuwata ‘ala.

SAW. : Sallallahu ‘alaihiwasallam.

Ra. : Radiallahu ‘an.

No. : Nomor.

Q.S : Al-Quran Dan Sunnah.

Cet. : Cetakan.

Hlm : Halaman.

T.t : Tanpa Tahun

Syafie : Imam Syafie

Syafi’iyyah : Pengikut Imam Syafie

Malik : Imam Malik

Hanbali : Imam Hambali

Hanafi : Imam Hanafi

xiv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah

Islam merupakan agama yang universal, di mana ajaran Islam mempunyai

karakteristik yang bersifat pluralisme yaitu aturan Tuhan yang tidak akan

berubah, sehingga tidak mungkin dilawan atau diingkari. Islam juga merupakan

agama yang Kitab Sucinya dengan tegas mengakui hak agama-agama lain dengan

sendirinya merupakan dasar paham kemajmukan sosial budaya dan agama

sebagai ketetapan Tuhan yang tidak pernah berubah-ubah.

٦ ‫ِل ِدي ِن‬ِ‫لَ ُك ۡم ِدينُ ُك ۡم َو‬


َ
Artinya: “Untukmulah agamamu dan untukmulah agamaku”.1

ِّۚ ۡ ِ ۡ ِۖ ‫ََلٓ إِ ۡكراه ِِف ٱل ِدي‬


ٕ٥٦ ‫ٱلرش ُد م َن ٱلغَ ِّي‬ ‫َّي‬
َّ ‫َّب‬
ُّ َ َ َ ّ‫ت‬ ‫د‬ ‫ق‬ ِ
‫ن‬ ََ
Artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya
kebenaran itu telah nyata (bedanya) dari yang tidak benar.2

Tidak mengherankan bahwa Islam sebagai agama besar terakhir,

mengklaim sebagai agama yang sempurna dari agama-agama sebelumnya.

Sehingga kesempurnaan agama Islam tampak sekali pada berbagai aspek

kehidupan manusia sehari-hari. Karena sebagian hukum Islam mengatur

hubungan manusia dengan Tuhan begitu juga hubungan sesama manusia lain, di

dalam masyarakat biasanya di sebut dengan istilah Muamalah3. Sehingga Al-

1 Al-Khafirun (109): 6.
2
Al-Baqarah (2): 256.
3
Juhaya S. Praja, Hukum Islam Di Indonesia, Bandung : Remaja Rosda Karya, 1991,
hlm. 75.

1
Quran dan Hadits dijadikan sumber hukum Islam dalam menggali suatu

ketetapan hukum yang berjalan di masyarakat.

Al-Quran dan As-Sunnah sebagai sumber hukum Islam menjelaskan

berbagai bentuk ajaran Islam. Bahwa bentuk konkrit yang dapat kita lihat adalah

adanya perintah tolong menolong atau menyantuni sesama manusia misalnya

berupa pemberian zakat, shadaqah, hibah, serta wasiat kepada orang lain. Dan

terbukti ajaran-ajaran yang terdapat dalam Islam banyak bersentuhan dengan

realitas sosial di masyarakat. Sehingga dari berbagai bentuk kegiatan tersebut ada

pula yang bernilai Ibadah seperti adanya wasiat wajibah kepada non muslim.

Yaitu hak untuk dapat mewarisi. Adalah S memberikan hak kepada kerabat non

muslim berupa pemberian harta yang pada dasarnya kerabat non muslim tidak

mendapatkannya karena terhalang dalam hal perbedaan agama.

Meskipun sudah menjadi kesepakatan para ulama‟ (ijma) bahwa

perbedaan agama (muslim dan non muslim) merupakan salah satu faktor

pengahalang untuk dapat mewarisi. Seperti ungkapan sebagai berikut :

‫ واختالف الدين‬, ‫ والقتل‬, ‫واتفق الفقهاءعلى ثالثة موانع لإلرث ىى الرق‬


“Telah sepakat para ulama‟ (fuqaha) bahwa ada tiga hal yang dapat
menghalangi untuk mewarisi, yaitu perbudakan, pembunuhan dan perbedaan
agama”.4

Bekenaan dengan perbedaan agama, apa yang disepakati para ulama

hanya sebatas ahli waris non muslim, baik sejak awal tidak beragama Islam atau

keluar dari ajaran Islam (murtad), tidak dapat mewarisi pewaris muslim.

4
Wahbah Zuhaily, Al-Fiq Al- Islami Wa Adillatuh, Juz VIII, Beirut : Dar Al-Fikr, 1989,
hlm 255.

2
Kesepakatan ulama‟ didasarkan pada hadits Nabi Saw, yang diriwayatkan oleh

Imam Muslim dari Usamah Ibnu Zaid, yang ungkapannya sebagai berikut :

,‫ "َل يرث ادلسلم كافرا‬: ‫عن أسامة بن زيد أن النيب صل هللا عليو وسلم قال‬
)‫وَلالكافر مسلما " (متفق عليو‬
“Tidak mewarisi seorang muslim terhadap orang non muslim demikian juga
tidak mewarisi orang non muslim terhadap orang muslim”.5

Melihat pengertian hadits tersebut diatas di tegaskan bahwa tidak boleh

mewarisi antara orang muslim dengan orang non muslim karena merupakan

penghalang dari mewarisi. Akan tetapi sejalan dengan pemikiran Ibnu Hazm

yang mengatakan dalam Kitabnya Al-Muhalla bahwa setiap orang muslim yang

akan meninggal dunia diwajibkan untuk memberikan harta warisan kepada

kerabatnya khususnya non muslim melalui wasiat wajibah.

Wasiat wajibah adalah tindakan yang dilakukan penguasa atau hakim

sebagai aparat negara untuk memaksa, atau memberi putusan wajib wasiat bagi

orang yang telah meninggal, yang diberikan kepada orang tertentu dalam

keadaan tertentu.6

Dengan ketinggian nilai-nilai ajaran Islam, sehingga dapat membuktikan

kepada umatnya bahwa Islam merupakan agama penyempurna bagi agama-

agama sebelumnya. Ketinggian agama Islam ini sesuai dengan ungkapan : Islam

itu tinggi dan tidak dapat diungguli ketinggiannya.

5 Imam Abi Al-Husain Muslim, Shahih Muslim, Juz II, tt. Dar Al-Fikr, t.th, hlm. 56.
6
Ahmad Rofiq, Hukum Islam Di Indonesia, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2000,
hlm.462.

3
Bahwa agama Islam itu tinggi, ketinggian agama Islam membawa juga

ketinggian martabat umat Islam. Sebagai bukti ketinggian umat Islam ialah

mereka di benarkan mewarisi keluarganya yang tidak beragama Islam, tetapi

tidak sebaliknya orang-orang yang tidak beragama Islam dapat mewarisi

keluarganya yang beragama Islam.7

Menurut Ibnu Hazm yang berpendapat dalam uraiannya dalam kitabnya

Al-Muhalla mengatakan :

‫ واما‬,‫ مالرق‬,‫ وفرض على كل مسلم ان يوصى لقرابتو الذين َل يرثون‬: ‫مسلة‬
‫لكفرواما ألن ىنالك من حيجبهم عن ادلرياث او َلهنم َل يرثون فيوصى ذلم مبا‬
‫ فإن مل يفعل اعطوا او َلبد ماراه الورثة او‬, ‫ َلحد ىف ذلك‬,‫طابت بو نفسو‬
‫ أو مملوكا ففرض عليو ايضا ان‬,‫ او احدمها على الكفر‬,‫ فإن كان والداه‬,‫الوصي‬
‫ او اعطيا‬,‫ أو ألحدمها إن مل يكن اَلخر كذلك فإن مل يفعل أعطى‬,‫يوصى ذلما‬
‫من ادلال وَل بد مث يوصى فيما شاء بعد ذلك فإن اوصى لثالثة من أقاربو‬
‫ادلذكورين جزأه‬

“Diwajibkan atas setiap muslim untuk berwasiat bagi kerabatnya yang tidak
mewarisi disebabkan adanya perbudakan, adanya kekufuran (non muslim),
karena terhijab atau karena tidak mendapat warisan (karena bukan ahli waris),
maka hendaknya ia berwasiat untuk mereka serelanya, dalam hal ini tidak ada
batasan tertentu”.8
Apabila ia tidak berwasiat (bagi mereka), maka tidak boleh tidak ahli

waris atau wali yang mengurus wasiat untuk memberikan wasiat tersebut kepada

mereka (kerabat) menurut kepatutan. Andaikan kedua orang tua atau salah

satunya tidak beragama Islam (non muslim) atau menjadi budak, atau salah satu

7
Fatchur Rahman, Ilmu Waris, Bandung : PT Al-Ma‟arif , 1981, hlm. 99.
8
Ibnu Hazm, Al-Muhalla, Juz IX, Beirut : Dar Al-Fikr, hlm. 314.

4
dari keduanya. Apabila ia tidak berwasiat, maka harus diberikan harta (kepada

orang tua) tidak boleh tidak. Setelah itu ia boleh berwasiat sekehendaknya.

Apabila berwasiat bagi tiga orang kerabat di atas, hal itu telah memadai.

Dari uraian Ibnu Hazm diatas tampak jelas bahwa kedua orang tua dan

kerabat yang tidak mewarisi, salah satunya disebabkan tidak beragama Islam

(non muslim) wajib diberi wasiat. Yang dimaksud kerabat menurut Ibnu Hazm

adalah semua keturunan yang memiliki hubungan nasab dengan ayah dan ibu

sampai terus ke bawah.

Kewajiban berwasiat bagi setiap muslim, sebagaimana diungkapkan Ibnu

Hazm, didasarkan kepada dalil Al-Quran surat Al-Baqarah ayat : 180


ۡ ۡ ۡ‫كتِب علَ ۡي ُك ۡم إِذا حضر أَح َدكم ۡٱلمو‬
ِ‫ت إِن تََرَك َخ ۡي ًرا ٱل َو ِصيَّةُ لِل ََٰولِ َد ۡين‬
ُ َ ُ ُ َ ََ َ َ َ َ ُ
ۡ ۡ
ِ ‫و ۡٱأل َۡق ربَِّي بِٱلم ۡعر‬
ِۖ
ِ ‫وف ح ِّقا علَى ٱلمت‬
ٔ٨ٓ ‫َّي‬ ‫َّق‬
َ ُ َ َ َُ َ َ َ
Artinya: “Diwajibkan atas kamu, apabila seseorang diantarakamu kedatangan
(tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk
ibu, bapak, dan karib kerabat, secara ma‟ruf. Ini adalah kewajiban atas orang-
orang yang bertaqwa”.9

Adanya hak wasiat wajibah bagi kerabat non muslim dapat dikatakan

sebagai bentuk baru dari pembaharuan hukum kewarisan Islam di Indonesia,

mungkin juga di dunia Islam, karena negeri-negeri muslim sendiri wasiat

wajibah hanya di berikan kepada cucu yang orang tuanya meninggal terlebih

dahulu, bukan ahli waris non muslim.10

9
Depang Republik Indonesia, Al-Quran Dan Terjemahannya, : Semarang : Pt
Kumudasmoro Grafindo, 1994, Hlm. 1112
10
Dede Ibin, “ Wasiat Wajibah Bagi Ahli Waris Non Muslim ” , Dalam Suara Uldilag,
Vol : II No : 4 Tahun 2004, hlm. 75

5
Ibnu Hazm berpendapat bahwa apabila tidak diadakan wasiat untuk

kerabat yang tidak mendapat pusaka oleh muwarisnya, maka hakim harus

bertindak sebagai muwaris, yanng memberi sebahagian harta peninggalan

kepada kerabat-kerabat yang tidak mendapat pusaka dengan memberikan

sebagian suatu wasiat yang wajib untuk mereka.

Mengenai wasiat wajibah Ibnu Hazm sebagai Madzhab Zhahiri

beranggapan bahwa wasiat adalah hal yang wajib bagi orang yang meninggalkan

harta baik sedikit maupun banyak. Karena kewajiban wasiat tersebut berlaku

setiap orang yang meninggalkan harta, maka apabila seorang meninggal dunia

dan orang itu tidak berwasiat maka hartanya harus disedekahkan sebagian untuk

memenuhi wasiat.

Adanya perbedaan pendapat dikalangan para ulama‟ mengenai status

hukum berwasiat, antara wajib dan sunnah adalah merupakan kajian ijtihad

dalam memahami dalil Al-Quran dan Hadits yang banyak dipengaruhi oleh

kondisi nalar, kadar ilmu, latar belakang budaya, serta situasi dan kondisi

masyarakat yang melingkupinya.

Menurut Ibnu Umar, Ibnu Abbas dan Ibnu Zaid adalah :

‫ وبقيت الوصية ندب‬, ‫ األية كلها منسوخة‬: ‫وقل إبن عمروا بن عباس وابن زيد‬
“Semua ayat (yang berkaitan dengan hukum wajib) adalah telah dimansukhkan
sehingga tetaplah sunnah hukum wasiat”.11

Menurut Abu Muslim Al-Ashbahani ayat wasiat sama sekali tidak

mansukh, karena ada pertentangan antara ayat wasiat dan ayat kewarisan.12

11
Al-Qurtuby, Tafsir Jami‟li Ahkam Al-Qur‟an, Juz I, Beirut: Dar Kutubil Ilmiyah, 1993

6
Sependapat dengan Ibnu Umar, Ibnu Abbas dan Ibnu Zaid adalah ulama‟

jumhur yang berpendapat bahwa hukum wasiat itu Sunnah.13

Dalam pandangan Ibnu Hazm, ayat wasiat ini menentukan suatu

kewajiban hukum yang definitif bagi orang Islam untuk membuat wasiat yang

akan di distribusikan kepada kerabat dekat yang bukan menjadi ahli waris. Lebih

jauh lagi, Ibnu Hazm berpendapat, jika orang yang meninggal gagal untuk

memenuhi kewajiban ini ketika ia masih hidup, maka pengadilan harus

membuatkan wasiat atas namanya

Kewajiban wasiat sebagaimana disampaikan Ibnu Hazm, beliau

berpedoman kepada zhahir dari nash Al-Quran dan Hadits. Sebagaimana

ditegaskan :

‫ومن ترك ظاىر اللفظ وطلب معاىن يدل عليها ابللفظ الوحي فقد إفرتى‬
‫عزوجل‬
“Barang siapa yang meninggalkan zahir lafaz, dan menuntut makna (benda yang
bukan zahir) yang di tunjukkan oleh lafaz wahyu, maka dia telah mereka-reka
terhadap Allah taala”

Dari pemahaman di atas, penulis sangat tertarik akan pendapat Ibnu Hazm

yang mengatakan bahwa hukum wasiat adalah fardhu ain atau wajib. Selain itu

Ibnu Hazm juga memberikan hak kepada non muslim yang tidak mendapatkan

warisan melalui wasiat wajibah. Sehingga penulis tertarik untuk mengetahui

12
Hasby Ash-Shidieqhy, Fiqh Mawaris, Semarang : PT Pustaka Rizki Putra, 1997,
hlm.301
13
Ibid

7
mengenai ketetapan hukum dalam hal mendapatkan hak waris melalui wasiat

wajibah kepada kerabat non muslim.

B. Rumusan masalah

Setelah diuraikan latar belakang permasalahan yang dikaji peneliti,

maka dapat ditegaskan yang menjadi rumusan masalah yang akan dikaji

adalah seperti berikut:

1. Bagaimana alasan atau dalil wajib wasiat wajibah kepada kerabat bukan

Islam (non-muslim) menurut Ibnu Hazm?

2. Bagaimana metode istinbat hukum Ibnu Hazm tentang wajibnya wasiat

wajibah kepada kerabat bukan Islam (non-muslim)?

C. Batasan Masalah

Dalam pembahasan ini, penulis telah membatasi permasalahan yang akan

dibahaskan yaitu penulis hanya membahaskan tentang metode istinbat hukum

ibnu hazm yang di gunakan di dalam kitab Ibnu Hazm Al-Muhalla dan Ihkam Fi

Ushul Al-Ahkam.

D. Tujuan Penelitian

Bertitik tolak dari belakang masalah dan pokok permasalahan yang

menjadi pokok pembahasan, maka tujuan dan penelitian yang hendak dicapai

dalam penelitian karya ilmiah ini adalah :

1. Ingin mengetahui alasan atau dalil wajib wasiat wajibah kepada kerabat

bukan Islam (non-muslim) menurut Ibnu Hazm

2. Ingin mengkaji metode istinbat hukum Ibnu Hazm tentang wajibnya wasiat

wajibah kepada kerabat bukan Islam (non-muslim.

8
E. Kegunaan Penelitian

Dari rangkaian rumusan diatas, maka penulis berharap penyelidikan ini

dapat berguna diantaranya sebagai berikut:

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat kepada pelitian

sendiri dalam pengembangan wawasan ilmu pengetahuan peneliti.

2. Sebagai bahan bacaan dan rujukan bagi mahasiswa, para peneliti dan

masyarakat seluruhnya melalui pembuatan dan penyusunan karya ilmiah

secara baik.

3. Sebagai teoriti menambah pengetahuan penulis tentang bagaimanakah

wasiata wajibah menurut Ibnu Hazm

F. Kerangka Teori

1. Pengertian wasiat

Dari segi bahasa berasal dari kata (‫ )وصى‬yang berarti menghubungkan,

menyampaikan, memerintahkan, menyarankan, menjanjikan atau pemberian harta

setelah mati. Dari segi istilah pemberian atau sumbangan oleh seseorang kepada

orang atau pihak lain setelah dia meninggal sama ada kata wasiat itu diungkapkan

atau tidak.14

Menurut Mazhab Syafi'i, pemberian suatu hak yang berwenang setelah

terjadinya kematian orang yang membuat wasiat sama ada dengan menggunakan

kata atau sebaliknya.15 Selanjutnya, Mazhab Hanbali mendefinisikan pemberian

14
Mohd Zamro Muda, dkk, Pengantar Undang-Undang dan Pentadbiran Puasaka,
Wasiat dan Wakaf Orang Islam Di Malaysia, cet. pertama, (Jabatan Syariah, Fakultas Pengajian
Islam, UKM, 2008) hlm. 109.
15
Al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj ,(Beirut: Dar al-Fikr, t.t), hlm.52.

9
harta yang terjadi setelah terjadinya kematian baik dalam bentuk harta ('ain) atau

manfaat.16

Berdasarkan dokumentasi yang diberikan oleh Tuan Haji Razali sebagai

Pengarah Bagian Penyelidikan Jakim, dalam Mazhab Hanafi, wasiat berarti

kepemilikan yang terjadi setelah kematian dengan cara sumbangan. Mazhab

Maliki memberikan maksud wasiat adalah suatu akad yang mengatur kadar 1/3

saja untuk tujuan wasiat dan wasiat tersebut akan terlaksana setelah terjadinya

kematian pewasiat.17

Muhammad Abu Zahrah telah memberi ulasan tentang definisi wasiat yang

telah dikemukakan oleh para fuqaha di atas dan berpendapat bahwa definisi

tersebut tidak menyeluruh karena tidak mencakup aspek pelepasan hak seperti

berwasiat melunaskan semua utang, membuat pembagian harta warisan kepada

waris-waris terhadap sisa harta yang telah diwasiatkan dan sebagainya. Beliau

berpendapat bahwa definisi yang lebih tepat adalah sebagaimana yang tercantum

dalam Undang-undang Wasiat Mesir18 iaitu menguruskan sesuatu peninggalan

yang berwenang setelah berlaku kematian. Definisi tersebut mencakup semua

jenis wasiat sama ada wasiat wajib atau sunat dan juga mencakup semua bentuk

peninggalan si mati sama ada berbentuk harta atau selainnya karena lafaz

'menguruskan' itu mencakup semuanya.

16
Ibn Qudamah, al-Mughni Juz 6, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t), hlm.444.
17
Tuan Haji Razali bin Sahabudin, Hukum Perlaksanaan Wasiat Wajibah, Cod.539
Jld.18, JAKIM, hlm. 3.
18
Undang-undang mesir nomor 71 tahun 1946 menguruskan Sesuatu peninggalan yang
berwenang setelah berlaku kematian

10
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa wasiat adalah

pemberian harta, hak atau manfaat oleh seseorang kepada seseorang yang lain

selama hidupnya tanpa apa-apa balasan dan berwenang setelah kematiannya.

Harta yang akan diwasiatkan tidak boleh melebihi 1/3 dari keseluruhan harta si

mati.19

2. Pensyariatkannya wasiat

Pada dasarnya, pemberian wasiat wajibah itu adalah suatu tindakan

ikhtiyariyyah yaitu suatu tindakan yang dilakukan atas dorongan kemauan sendiri.

Jadi, tidak ada di dalam syariat Islam istilah wasiat wajibah menurut pendapat

jumhur fuqaha'. Namun, sebagian fuqaha tabi'in, imam-imam fiqh dan hadis

seperti Said bin Al-Musayyab, Al-Hasan Al-Basri, Imam Ahmad bin Hanbal,

Daud bin Ali al-Zahiri, Ishaq bin Rahawayh, Ibn Jarir, Ibn Hazm dan lain-lain

berpendapat bahwa wasiat untuk kaum kerabat terdekat yang tidak mendapat

bagian warisan adalah wajib.20 Mereka berdasarkan firman Allah SWT.:

ۡ ۡ ۡ ِ ِۡ ِ ۡ ۡ ِ ۡ ۡ ۡ ۡ ِ‫ُكت‬
‫َّي‬ِ ِ
َ ‫ت إن تََرَك َخي ًرا ٱل َوصيَّةُ لل ََٰول َدين َوٱألَق َرب‬
ُ ‫َح َد ُك ُم ٱل َمو‬ َ ‫ب َعلَي ُكم إِذَا َح‬
َ ‫ضَۡر أ‬ َ ۡ
ِ ‫وف ح ِّقا علَى ٱلمت‬ ِۖ
ِ ‫بِٱلم ۡعر‬
ٔ٨ٓ ‫َّي‬ ‫َّق‬
َ ُ َ َ َُ
Artinya : kamu diwajibkan, apabila seseorang dari kamu hampir mati, jika ia ada
meninggalkan harta, (hendaklah ia) membuat wasiat untuk ibu bapa dan kaum
kerabat dengan cara yang baik (menurut peraturan agama), sebagai suatu
kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa.21

19
Mustafa al-Khin, Al-Fiqh Al-Manhaji Jilid 5, cet. ke-2, (Negeri Sembilan: Jabatan
Mufti Kerajaan Negeri, 2007) hlm.58.
20
Mohd Zamro Muda, dkk, Pengantar Undang-Undang dan Pentadbiran Puasaka,
Wasiat dan Wakaf Orang Islam Di Malaysia, cet. pertama, (Jabatan Syariah, Fakultas Pengajian
Islam, UKM, 2008) hlm. 149.
21
Al-Baqarah(2):180.

11
Namun kebanyakan para sahabat antaranya Saidina Abu Bakar, Ali, Ibnu

Umar dan Mazhab Sunni yang empat termasuk Imam Syafi‟i berpendapat bahwa

hukum wajib ini telah dihapuskan dengan turunnya ayat-ayat mawarith22 yaitu

ayat yang secara khusus menyentuh ketentuan bagian-bagian yang telah

ditetapkan atas waris-waris dalam pembagian harta pusaka.23

َ َ‫صلَّى هللاُ َعلَْي ِو َو َسلَّ َم ق‬


:‫ال‬ ِ َّ ‫َع ْن َعْب ِد هللاِ بْ ِن عُ َمَر َر ِضي هللاُ َعْن ُه َما أ‬
َ ‫َن َر ُس ْوَل هللا‬ َ
.ُ‫َّي إَِلِّ َوَو ِصيَّتُوُ َم ْكتُوبَةٌ ِعْن َده‬ ِِ ِ ِ
ُ ِ‫َما َح ُّق ْام ِر ٍئ ُم ْسل ٍم لَوُ َش ْيءٌ يُوصي فيو يَب‬
ِ ْ َ‫يت لَْي لَت‬
.‫صلَّى هللاُ َعلَْي ِو َو َسلَّ َم‬
َ ‫َّيب‬ِّ ِ‫ََتبَ َعوُ ُزلَ َّم ُد بْ ُن ُم ْسلٍِم َع ْن َع ْم ٍرو َع ِن ابْ ِن عُ َمَر َع ِن الن‬
Dari Abdullah bin Umar ra. Bahwa Rasulullah saw Bersabda, “Bukanlah perkara
yang haq (benar) bagi seorang muslim yang memiliki suatu kekayaan yang akan
diwasiatkan, maka setelah berlalu dua malam, melainkan wasiatnya tertulis di
sisinya.”24

Sedangkan ijma' para fuqaha semenjak zaman sahabat lagi telah bersepakat

bahwa hukum wasiat adalah harus dan tidak ada seorang pun dari mereka yang

meriwayatkan tentang larangannya.25

3. Hukum berwasiat

Menurut pendapat mazhab sunni yang empat bahwa sesungguhnya wasiat

itu difardukan ke atas setiap orang yang memiliki harta dan tidak juga difardukan

untuk kedua orang tua dan kaum kerabat yang tidak menjadi ahli waris, akan

22
An-Nisa‟(4) : 11, 12, 176
23
Mohd Zamro Muda, dkk, Pengantar Undang-Undang dan Pentadbiran Puasaka,
Wasiat dan Wakaf Orang Islam Di Malaysia, cet. pertama, (Jabatan Syariah, Fakultas Pengajian
Islam, UKM, 2008) hlm. 110.
24
Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Baari, Hadis No. 238, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008),
hlm.376.
25
Mustafa al-Khin, Al-Fiqh al-Manhaji, Juz 5,cet. ke-2 (Negeri Sembilan: Jabatan Mufti
Kerajaan Negeri, 2007), hlm.63.

12
tetapi hukumnya adalah tergantung pada kondisi. Ia bisa berubah menjadi wajib,

sunat, haram, makhruh dan harus.26

Para fuqaha' bersepakat bahwa wajib berwasiat untuk mengembalikan

barang titipan dan utang yang tidak diketahui dan tanpa surat, atau wasiat akan

kewajiban-kewajiban yang menjadi tanggungan seperti zakat, haji, kafarat, fidyah

puasa, fidyah solat, dan sejenisnya.

Golongan Syafi‟iyyah mengatakan, adalah disunnahkan membuat wasiat

untuk membayar hak-hak yang berupa utang, mengembalikan barang titipan,

pinjaman, dan sejenisnya seperti pelaksanaan wasiat-wasiat lain apabila ada,

memerhatikan urusan anak-anak dan sejenisnya seperti orang-orang gila dan

orang yang baligh namun dalam keadaan tidak waras. Dan wasiat yang berkenaan

dengan hak Adami adalah wajib, seperti barang titipan dan barang yang di

ghashab27 jika orang tersebut tidak mengetahuinya.

Selanjutnya, hukumnya sunat jika wasiat kepada keluarga yang tidak

mewarisi pusaka dan untuk tujuan kebajikan khususnya kepada golongan yang

membutuhkan. Juga disunatkan bagi orang berada untuk mewasiatkan 1/5

hartanya kepada saudara terdekat yang fakir dan miskin, yang 'alim dan yang

berutang.

Jika hukumnya harus berarti wasiat kepada orang kaya sama ada di

kalangan kaum keluarga yang tidak mewarisi atau orang asing. Ulama‟

26
Mohd Zamro Muda, dkk, Pengantar Undang-Undang dan Pentadbiran Puasaka,
Wasiat dan Wakaf Orang Islam Di Malaysia, cet. pertama, (Jabatan Syariah, Fakultas Pengajian
Islam, UKM, 2008) hlm. 112.
27
Merampas barang orang lain dengan paksaan, jika perampasan itu dialakukan dengan
sembunyi bisa disebut pencurian/pencopetan. Contoh lain adalah korupsi, mencurangi berat
timbangan, membuat sumur/gali

13
bersepakat bahwa makhruh berwasiat kepada orang-orang fasik dan melakukan

maksiat. Sementara menurut Mazhab Hanafi haram berwasiat kepada golongan

ini.

Mayoritas ulama' bersepakat bahwa haram dan tidak sah berwasiat untuk

tujuan maksiat seperti untuk tujuan pembangunan gereja, penulisan Taurat dan

Injil dan apa-apa hal yang bertentangan dengan hukum syarak. Begitu juga haram

berwasiat melebihi kadar 1/3. Mazhab Hambali pula berpendapat adalah makhruh

berwasiat lebih dari kadar 1/3 sedangkan berwasiat kepada ahli waris yang berhak

mendapat warisan pula adalah haram.28

4. Rukun wasiat

Rukun-rukun wasiat mengikut jumhur ulama :

a. Orang yang berwasiat(musi)

b. Penerima wasiat (musa lahu)

c. Barang yang diwasiatkan (musa bihi)

d. Ijab dan qabul (sighah)

5. Syarat-syarat wasiat wajibah

Kebanyakan hukum menempatkan beberapa syarat untuk melaksanakan

wasiat wajibah ke atas cucu lelaki dan perempuan. Syarat-syarat tersebut adalah

seperti berikut:

a. Mereka tidak mendapat apa-apa bagian warisan kakek atau nenek mereka

karena didinding oleh paman atau bibi mereka. Jika mereka berhak atas harta

28
Wahbah al-Zuhaili, Fiqh al-Islami wa Adilatuhu, Jilid 10, cet. Ke-10, (Damaskus:
Darulfikir, 2007), hlm.159 .

14
warisan meskipun bagiannya lebih sedikit dari wasiat wajibah, maka wasiat

wajibah tidak dapat terjadi.

b. Kakek atau nenek yang sudah meninggal tidak memberikan hartanya kepada

mereka sama ada melalui cara hibah atau wasiat. Jika kakek atau nenek yang

sudah meninggal itu memberikan kepada mereka hartanya yang menyamai

kadar wasiat wajibah, maka mereka tidak berhak lagi atas harta warisan.

Namun, jika pemberian itu kurang dari hak yang seharusnya mereka dapat

melalui wasiat wajibah, maka wajib diserahkan kepada mereka sebagian dari

harta pusaka itu supaya lengkap atau sempurna bagian wasiat wajibah

tersebut.29

6. Kadar wasiat wajibah

Bagi fuqaha' yang berpendapat bahwa wasiat adalah wajib atas kaum

keluarga terdekat yang tidak mendapatkan warisan yang tidak menentukan kadar

atau bagian yang seharusnya mereka terima. Namun, kebanyakan hukum wasiat

di negera-negara Islam menetapkan bahwa mereka akan mendapat bagian

sepertimana bagian yang seharusnya diterima oleh ayah atau ibu mereka jika

mereka masih hidup, tetapi kadar tersebut tidak dapat melebihi 1/3 dari

keseluruhan harta pusaka. Berikut adalah contoh-contoh kadar wasiat wajibah

yang diperolehi :

a. Seorang lelaki meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak laki-laki,

dua orang anak perempuan dan tiga orang anak lelaki kepada anak lelaki

(cucu lelaki) yang kematian ayah sebelum kakek mereka meninggal dunia.

29
Ibid

15
Maka dalam masalah ini, cucu-cucu lelaki akan mengmbil bagian yang

seharusnya diterima oleh ayah mereka jika dia masih hidup yaitu 1/3 bagian

dari harta warisan tersebut.

b. Seorang lelaki meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak laki-laki,

seorang anak perempuan dan dua anak kepada anak perempuan (cucu lelaki)

yang kematian ibu sebelum kakek mereka meninggal dunia. Maka masalah

ini, cucu-cucu lelaki akan mengambil bagian yang seharusnya diterima oleh

ibu mereka jika dia masih hidup yaitu 1/4 bagian dari harta warisan tersebut.

c. Seorang lelaki meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak laki-laki,

seorang anak perempuan dan dua orang anak lelaki kepada anak lelaki (cucu

lelaki) yang kematian ayah sebelum kakek mereka meninggal dunia. Dalam

masalah ini jika sekiranya ayah mereka masih hidup, maka dia akan

mendapat 2/5 bagian dari warisan. Oleh karena bagian tersebut (2/5) lebih

besar dari 1/3, maka mereka (cucu-cucu lelaki) tidak dapat menerima bagian

tersebut (2/5) dan hanya layak mendapat 1/3 bagian saja sebagai wasiat

wajibah.30

G. Tinjauan Pustaka

Dalam melakukan suatu penelitian, proses melakukan tinjauan pustaka

amat penting. Bahkan, sebelum memulakan penelitian, tinjauan pustaka harus

dilakukan bagi mencari rumusan masalah. Maka di sini, peneliti menyediakan 3

contoh untuk tinjauan pustaka.

30
Ibid

16
1. Skripsi yang berjudul “Pengaturan Wasiat Wajibah Terhadap Anak Angkat

Menurut Hukum Islam”, hasil penulisan Ria Ramdhani yang menerangkan

tentang hukum Islam memperbolehkan mengangkat anak. Penelitian ini

menyimpulkan bahwa Pengadilan Agama berdasarkan Kompilasi Hukum Islam

bahwa anak angkat berhak memperoleh “wasiat wajibah” dengan syarat tidak

boleh lebih dari 1/3 harta.31

2. Skripsi yang berjudul “Pengaturan dan Implementasi Wasiat Wajibah Di

Indonesia”, hasil penulisan Destri Budi Nugraheni, Haniah Ilhami, dan

Yulkarnain Harahab yang menbahaskan tentang sifat pengaturan wasiat wajibah

dalam Kompilasi Hukum Islam dan implementasinya dalam Pengadilan Agama.32

3. Skripsi yang berjudul “Wasiat Wajibah Untuk Anak Tiri (Analisis

Terhadap Ketentuan Dalam KHI)”, hasil penulisan Marsiani yang membahaskan

dalam kompilasi hukum islam belum mengatur aturan tentang anak tiri jika

ditinggal mati oleh orang tua tirinya. Penelitian ini mengqiyaskan kepada aturan

hukum wasiat wajibah kepada anak angkat maka anak tiri bias mendapatkan harta

warisan dengan jalur wasiat wajibah.33

31
Ria Ramdhani, “Pengaturan Wasiat Wajibah Terhadap Anak Angkat Menurut Hukum
Islam”, Lex et Societatis, Vol. III, No.1,(Jan-Mar 2015), hlm. 62.
32
Destri Budi Nugraheni, Haniah Ilhami dan Yulkarnain Harahab, “Pengaturan dan
Implementasi Wasiat Wajibah Di Indonesia”, Mimbar Hukum, Vol. 22, No. 2, (Juni 2010), hlm.
311-329.
33
Marsiani, “Wasiat Wajibah Untuk Anak Tiri (Analisis Terhadap Ketentuan Dalam
KHI)”, skripsi universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, (2016), hlm. 75.

17
BAB II

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif menggunakan pendekatan usul

fiqh dan menggunakan metode deskriptif.34

B. Jenis penelitan

Penelitian pustaka (library search) Kaedah penelitan ini penting dalam

mengumpul data dan informasi bagi penelitian ini terhadap semua bab serta,

menjadi kepada pendoman penulis untuk mengetahui dengan lebih rinci tentang

apa yang bakal dikaji dalam peneltian ini.35

C. Jenis data dan sumber data

1. Jenis data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini dapat diklasifikasikan menjadi

dua bagian yaitu :

a. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber pertama.

Menurut Peter Mahmud Marzuki, ia merupakan bahan hukum yang bersifat

autoritatif artinya mempunyai otoritas.36 Dalam hal ini ialah data pustaka karya

tulis Ibnu Hazm yang berhubungan langsung dengan masalah yang ingin di teliti

34
Sayuti Una(ed), Pedoman Penulisan Skripsi, Edisi Revisi, cet. ke-2, (Jambi: Syariah
Press,2014), hlm.30.
35
Ibid
36
H. Ishaq, Metode Penelitian Hukum dan Penulisan Skripsi, Tesis, Serta Disertasi,
Cetakan ke-4, Kerinci: Stain Kerinci Press, 2015.

18
penulis. Sumber data itu antara lain ; Ibnu Hazm; Al-Muhalla, Ihkam fi Ushul Al-

Ahkam.

b. Data sekunder

Data sekunder adalah bahan yang bersifat untuk melengkapi data primer. Ia

merupakan data yang diperoleh dari bahan perpustakaan atau literatur yang

mempunyai hubungannya dengan objek penelitian. Bersangkutan dengan

penelitian ini, data sekunder yang diperolehi adalah melalui bahan-bahan bacaan

dan laman web. Bahan bacaan seperti buku-buku yang membahas tentang kasus

Pedofilia serta artikel dan jurnal yang terkait.

D. Instrument Pengumpulan Data

Untuk mempermudahkan dalam menghimpun data-data dan fakta di

lapangan, maka penulis menggunakan beberapa teknis antara lain.

1. Studi dokumentasi

Dalam pengumpulan data, untuk membahas permasalahan yang terkait

dengan judul, penulis menggunakan metode dokumentasi. Yaitu suatu cara

mengumpul data melalui arsip-arsip, buku-buku ilmiah dan apa sahaja yang

menjadi sumber sahih yang berkaitan.

E. Teknis Analisis Data

Berdasarkan data yang diperoleh untuk menyusun dan menganalisa data-

data yang terkumpul dipakai metode-metode sebagai berikut :

1. Induktif

Metode ini digunakan dalam menganalisis data yang ditemukan untuk

membuat kesimpulan umum berdasarkan data-data yang bersifat khusus melalui

19
kitab Ibnu Hazm, diuraikan dahulu. Setelah itu, baru ia dirumuskan sehingga

menjadi satu kesimpulan. Metode ini digunakan bagi tujuan memperjelaskan

masalah yag terkait dengan wasiat wajibah pada pandangan Ibnu Hazm.37

2. Deduktif

Deduktif adalah pengetahuan menganalisis data yang bersifat umum

kemudian dibahas permasalahan yang bersifat khusus untuk mendapatkan

informasi yang lebih jelas. Jadi metode penelitian ini dipergunakan pada

penelitian ketika penelitian yang dilakukan berangkat dari sebuah teori yang

selanjutnya dibuktikan dengan melakukan fakta-fakta yang ada.38

F. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam perbahasan skripsi ini menguraikan bab-bab

yang saling terkait dan melengkapkan keseluruhan perbahasan ini. Adapun bab-

bab ini yaitu :

Pada bab pertama, menguraikan tentang penulisan yang terdiri dari

Pendahuluan yang menguraikan tentang Latar Belakang Masalah, Rumusan

Masalah, Batasan Masalah, Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian, Kerangka

Teori dan Tinjauan Pustaka.

Kemudian pada bab kedua, membahas tentang Pendekatan Penelitian,

Jenis Data dan Sumber Data, Teknis Pengumpulan Data, dan Teknik Analisis

Data.

Manakalah bab ketiga, membahas Pendapat Ibnu Hazm Tentang Wajibnya

Wasiat Wajibah Kepada Kerabat Non Muslim.

37
Ibid
38
Ibid

20
Seterusnya bab keempat, membahas kajian metode istinbat hukum Ibnu

Hazm tentang wajibnya wasiat wajibah kepada kerabat bukan Islam (non-

muslim), alasan atau dalil wajib wasiat wajibah kepada kerabat bukan Islam (non-

muslim) menurut Ibnu Hazm.

Yang terakhir sekali yaitu berkaitan tentang kesimpulan yang merupakan

gambaran rangkuman keseluruhan penelitian dan saran-saran sebagai manfaat

bagi semua pihak yang terkait dengan penelitian. Kesimpulan bertujuan agar

pembaca dapat melihat gambaran seutuhnya dari pembahasan dan penelitian yang

telah dilakukan.

G. Jadwal Penelitian

Penulisan membuat jadwal agar penelitian dan penulisan skripsi terancana

dengan waktu yang efektif sehingga dapat selesai tepat pada waktunya maka

penulisan membagi langkah-langkah penelitian yang dilakukan dalam bentuk

jadwal untuk pedoman. Jadwal penelitian itu tentu saja tidak sekadar pelengkap

yang menghiasi sebuah rancangan proposal skripsi penulis, tapi jauh lebih penting

adalah konsisten berdasarkan jadwal yang sudah dibuat.

21
BAB III

BIOGRAFI IBNU HAZM

A. Biografi Ibnu Hazm

1. Kelahiran

Nama lengkapnya adalah Abu Muhammad Ali Ibn Ahmad Ibn Sa‟id Ibnu

Hazm Ibn Ghalib Ibn Shalih Ibnu Khalaf Ibn Ma‟dan Ibn Sufyan Ibnu Yazid,

mawla Amir Yazid bin Abi Sufyan bin Sakhr bin Harb bin Umayyah bin Abd

Syams al Umawi. Keluarganya berasal dari Persia. Kakeknya Khalaf, merupakan

orang pertama yang memasuki Andalusia menyertai Raja Andalusia, Abdul

arrahman bin Mu‟awiyah bin Hisyam yang dikenal dengan ad-Dakhil.39

Beliau berasal dari keluarga bangsawan Arab yang berkedudukan sebagai

menteri kerajaan Arab Islam, kelanjutan dari kedaulatan Bani Umayyah yang

berpusat di Damaskus, setelah daulat itu runtuh dalam menghadapi perlawanan

orang-orang Bani Abbas dan kaum Al-Awiyyin. Nama Ibnu Hazm merupakan

nama yang tertulis di berbagai karangannya sehingga dengan nama inilah Ibnu

Hazm lebih dikenal. Imam Ibnu Hazm dan ayahnya tinggal di Kordoba. Ayahnya

merupakan seorang menteri dari Khalifah Al-Manshur yakni Muhammad bin Abi

Amir dan juga masih menjadi menteri di pemerintahan anaknya, Al-Muzhaffar.

Ayahnya lah orang yang mengatur jalannya pemerintahan keduanya. Imam Ibnu

Hazm sendiri kemudian juga menjadi menteri pada kekhalifahan Abdur Rahman

bin Hisyam bin Abdul Jabbar bin Al-Nashir yang dijuluki Al-Mustazir Billah.

39
Muhammad bin Ahmad al-Zahabi, Tazkirah al-Hafiz, Juz 3, Beirut: Dar al-Kutub al-
Ilmiyyah, 1998, h. 227.

22
Kemudian beliau meninggalkan status menterinya secara sukarela untuk

menekuni ilmu-ilmu.40

Ibnu Hazm lahir di Kordoba, di sebelah timur, di komplek Maniyyah Al-

Mughirah, di istana ayahnya yang dekat dari kota Al-Manshur bin Abu Amir yang

dikhususkan baginya dan para pembantunya dalam pemerintahan, serta dijadikan

sebagai markas pemerintahan, yang menghimpun antara kekuatan bersenjata

dengan simbol kebesaran dan kedudukan. Beliau lahir pada hari Rabu sebelum

terbit matahari bulan Ramadan, tahun 384 H yang bertepatan dengan tanggal 07

November 994 M.

Pada masa kelahiran Imam Ibnu Hazm, negeri Andalus bukan lagi Andalus

yang kuat dan bersatu seperti selama kurun waktu tiga abad sebelumnya.

Kekhalifahan di Andalus ketika itu berada di tangan Hisyam Al-Muayyad, salah

seorang khalifah terakhir di negeri itu. Pada masa itu, Negara Andalus sudah

terkoyak-koyak menjadi kepingan negara-negara atau kesultanan-kesultanan kecil

yang saling jegal-menjegal berebut kekuasaan atas negara kecil tetangganya.

Bahkan untuk itu, ada yang meminta bantuan pasukan asing agar dapat

menghancurkan negara-negara kecil yang berdekatan. Negeri Andalus tidak hanya

dilanda dekadensi (kemerosotan) politik, tetapi juga dekadensi sosial, moral, dan

bahkan juga di bidang penghayatan agama. Jauh sekali dari keadaaan yang

semestinya sebagai masyarakat Islam.41

40
Abdul Wahid bin Ali al-Tamimi, al-Mu‟jab fi Talkhish Akhbar alMaghrib min Ladun
Fath al-Andalus ila Akhir Ashr al-Muwahidin, Juz I, Beirut: al-Maktabah al-Ishriyyah, t.t, h. 43.
41
Abdurrahman al-Syarqawi, A‟immah al-Fiqh al-Tis‟ah, terj. H.M.H. al-Hamid al-
Husaini, Bandung: Pustaka Hidayah, 2000, h. 569.

23
2. Pendidikan

Imam Ibnu Hazm mula-mula belajar sesuatu yang memang telah biasa

diajarkan kepada anak-anak para pembesar negara seperti menghafal syair,

menghafal Al-Qur‟an dan menulis. Masa pengajaran seperti ini berlangsung di

bawah bimbingan pengasuh wanita. Ayahnya tidak begitu saja merasa puas

terhadap perkembangan intelektual Imam Ibnu Hazm. Ayahnya kemudian

mencarikan Imam Ibnu Hazm seorang guru yang bernama Abu Al-Hasan bin Ali

Al-Farisi. Pada saat itu Imam Ibnu Hazm bertemu juga dengan Ahmad bin al-

Jasur.42

Imam Ibnu Hazm mula-mula belajar sesuatu yang memang telah biasa

diajarkan kepada anak-anak para pembesar negara seperti menghafal syair,

menghafal Al-Quran dan menulis. Masa pengajaran seperti ini berlangsung di

bawah bimbingan pengasuh wanita. Ayahnya tidak begitu saja merasa puas

terhadap perkembangan intelektual Imam Ibnu Hazm. Ayahnya kemudian

mencarikan Imam Ibnu Hazm seorang guru yang bernama Abu Al-Hasan bin Ali

Al-Farisi. Pada saat itu Imam Ibnu Hazm bertemu juga dengan Ahmad bin Al-

Jasur. Hazm yang seperti itu akhirnya menimbulkan kedengkian di hati orang-

orang sezamannya.

Salah satu hal yang menakjubkan dari Imam Ibnu Hazm adalah meskipun ia

termasuk mazhab Ẓaḥiri yang tidak menggunakan qiyas, namun dalam masalah

furu‟ Imam Ibnu Hazm bisa menjelaskan panjang lebar argumennya. Hal ini

dikarenakan Imam Ibnu Hazm termasuk orang yang pertama kali menggunakan

42
Abu Zahrah, Ibnu Hazm Hayatuhu wa Asruhu, Kairo: Dar al-Fikr al-Arabi, t.t, h. 25.

24
ilmu mantiq yang dipelajarinya dari Muhammad bin Al-Hasan Al-Mazhijji Al-

Kinani, Al-Qurthubi.

Imam Ibnu Hazm mendengar hadis dari Abi Umar Ahmad Al-Hasur,

Yahya bin Masud bin Wajh al-Jannah, Yusuf bin Abdullah bin Yusuf bin Nami,

Abu Abdillah Al-Humaidi, Abu Hasan Syarih bin Muhammad.

Selain guru-guru yang telah disebutkan di atas, Imam Ibnu Hazm masih

mempunyai beberapa guru lagi yaitu :

a. Abu Al-Qasim Abd Al-Rahman bin Abi Yazid Al-Azdi. Beliau merupakan

guru Ibnu Hazm dalam bidang hadis, nahu, cara menyusun kamus, logika dan

ilmu kalam.

b. Abu Al-Khiyar Al-Lughawi adalah gurunya dalam ilmu fiqih dan peradilan.

c. Abu Sa‟id Al-Fata Al-Ja‟fari adalah gurunya mengenai komentar atau ulasan

sya‟ir.

d. Ahmad bin Muhammad Ibnu Al-Jasur adalah gurunya dalam bidang hadiş.

e. Abi Abd Rahman Baqiy Ibnu Mukhalid, adalah gurunya dalam bidang tafsir.

f. Abu Abdullah Muhammad Ibnu Al-Haruan Al-Madhiji, adalah gurunya

dalam bidang filsafat dan ilmu kepurbakalaan.43

3. Murid dan karya Imam Ibnu Hazm

Sikap Imam Ibnu Hazm adalah keras, sehingga hanya sedikit orang yang

mau belajar padanya. Mereka adalah para mahasiswa yang berani menghadapi

serangan para ulama, seperti sejarawan Muhammad bin Futuh bin Humaid dan

Abu Abdillah Al-Humaidi Al-Andalusi, seorang yang mengkhususkan diri pada

43
Departemen Agama RI., Ensiklopedi Islam di Indonesia, Juz 2, Jakarta: Ditjen Bimbaga
Islam, 1992, h. 391.

25
kajian Imam Ibnu Hazm dan yang mempublikasikan pikiran-pikirannya.44 Beliau

juga penghimpun dua kitab hadis Sahih Bukhari Muslim. Meskipun demikian,

masih ada orang yang setia belajar dengan beliau. Mereka adalah putranya Abu

Rafi‟ Al-Fadhl, Abu Usamah Ya‟qub dan Abu Sulaiman Al-Mus‟ab. Mereka

inilah yang menyebarkan dan mengembangkan ilmu orangtuanya ke berbagai

penjuru.45

Adapun karya Imam Imam Hazm terdapat di berbagai bidang, yaitu bidang

fiqh, hadis, ushul, Al-Milal Wa An-Nihal (agama-agama dan aliran-alran),

sejarah, nasab, kitab-kitab adab, dan bantahan terhadap para penentang mencapai

400 jilid, yang berisikan hampir 80.000 lembar kertas.

Adapun karyanya yang paling popular antara lain Masail Usul Al-Fiqh, Al

Ihkam Fi Usul Al Ahkam, dan Al Muhalla Bi Al-Asar Fi Syarh, Al-Mujalla Bi Al-

Intizar. Ketiga karangan tersebut adalah bidang ushul fiqh dan fiqh. Dalam tafsir

ia menulis Al-Naskh Wa Al Mansukh. Dalam bidang mantiq adalah kitab Al-

Taqrib Fi Hudud Al-Mantiq. Dalam bidang akhlaq adalah kitab Mudawat Al-

Nufus Fi Tahzib Al-Akhlaq dan Al-Zuhd Fi Al-Raza‟il. Dalam bidang akidah

adalah Al-Fasl Fi Al-Milal Wa Al-Nihal Dan Izhar Tabdil Al-Yahud Wa Al-

Nasara Li Al.

4. Kegiatan Di Bidang Politik

Ibnu Hazm datang dari keluarga terhormat, ayahnya adalah Ahmad bin

Said bin Hazm Al-Andalusi. Seorang menteri pada masa pemerintahan Khalifah

44
Aris Munandar Riswanto, Buku Pintar Islam, Bandung: Mizan Pustaka, 2010, h. 460.
45
Syaikh Ahmad Farid, Min A‟lam as-Salaf, terj Ahmad Syaikhu dengan judul ‚ Biografi
60 Ulama Ahlussunnah yang Paling Berpengaruh & Fenomenal dalam Sejarah Islam‛, Jakarta:
Darul Haq, 2013, Cet. II, h. 750.

26
Bani Umayyah. Hisyam II (401 H / 1010 M - 404 H / 1013) dan Sulaiman II (404

H / 1013 M - 407 H / 1016 M) pada masa kanak-kanak dan remajanya, Ibnu Hazm

mendapat pendidikan di lingkungan istana, akan tetapi kehidupan di istana tidak

berlangsung lama. Hanya sampai pada usia 14 tahun, Ibnu Hazm dapat menikmati

kehidupan di istana. Karena pergolakan politik yang mengakibatkan ayahnya

jatuh dari kekuasaannya.46 Setelah di Spanyol terjadi peristiwa-peristiwa politik

yang membuat kehidupan keluarganya berganti suasana.

Sebagai anak seorang menteri dan hidup dilingkungan istana, Ibnu Hazm

mulai berkenalan dengan politik ketika ia berusia lima tahun. Pada waktu itu

terjadi kerusuhan politik dalam masa pemerintahan Khalifah Hisyam III al-

Muaiyyad (1010 M – 1013 M) yang mengakibatkan Hisyam beserta ayah Ibnu

Hazm di usir dari lingkungan istana. Keterlibatan Ibnu Hazm di bidang politik

secara langsung terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Abdurrahman V Al-

Mustahdir (1023 M) dan Khalifah Hisyam III Al-Mu‟tamid (1027 M – 1031 M).

Pada masa kedua khalifah ini Ibnu Hazm menduduki jabatan menteri. Di dunia

politik, berbagai percaturan politik tidak asing lagi baginya, dalam gerakan

politiknya Ibnu Hazm memihak dan mendukung dinasti Bani Umayyah

Kekuasaan Abdurrahman ini tidak berlangsung lama karena dia dapat di

bunuh secara gelap, lalu penolong-penolongnya dan penyokong-penyokongnya

di tindak dan di usir. Ibnu Hazm tertawan dan mendekam dalam tawanan

beberapa lama. Setelah dibebaskan pada tahun 409 H. Sesudah 6 tahun

meninggalkan kota itu, dia kembali ke Cordova untuk menyaksikan kehancuran

46
Ibid., hlm. 608.

27
kota itu. Meskipun Ibnu Hazm telah meninggalkan dunia politik, namun ia tetap

mendukung kepada Bani Umayyah dan ingin melihat kebesaran mereka.47

5. Karakter Pribadi

Ibnu Hazm memiliki karakter dan prilaku luhur sebagai manusia mulia dan

berilmu di mana banyak dikaji dan didiskusikan karya-karyanya. Beberapa hal

yang mendukung kearah sana adalah Ibnu Hazm menguasai beberapa karya tokoh

masyarakat beserta dalil dan argumentasinya. Ia juga hafal took-tokoh masa lalu

dan menghubungkan ilmu-ilmunya dalam sebuah diskursus pemikiran di antara

para ulama dan ahli hukum (fuqaha) sezamannya.

Ibnu Hazm dikenal dengan keluhuran dan keindahan pribadinya. Sebagian

sifat Ibnu Hazm yang menonjol adalah ikhlas terhadap agama, para kerabat, dan

guru- gurunya, bahkan ikhlas untuk (menyerahkan) benda-benda ketika memberi

pada pengungsi ke kota Cordova padahal ia sendiri membutuhkan, ia juga dikenal

memiliki kepribadian yang ramah.

Kemampuan menahan nafsu dan kesucian jiwanya. Hal ini dalam menolak

para lawannya, kemungkinan adanya kemuakan mendalam yang menyebabkannya

bosan, kurang sabar, dan gregetan, terutama kekerasan dari kebanyakan orang

yang dijumpainya pada masa itu dan penipuan yang sampai membakar beberapa

kitabnya.

6. Waktu Wafat

Ibnu Khalikan menyebutkan bahwa Ibnu Hazm wafat pada hari Ahad, dua

hari terakhir bulan Sya‟ban 456 H di padang Labiah. Ada juga yang menyebut

47
Ibid., hlm. 547.

28
bahwa ia wafat di Muntu Laisyim, desa kelahiran Ibnu Hazm. Umurnya ketika

wafat adalah 71 tahun 10 bulan 29 hari.

B. Pendapat Ibnu Hazm Tentang Wajibnya Wasiat Wajibah Kepada

Kerabat Non Muslim

Dalam permasalahan wasiat kepada ahli waris, Imam Ibnu Hazm berpendapat

dalam kitabnya Al-Muhalla Bi Al-Asar bahwa wasiat kepada ahli waris tidak

diperbolehkan.

‫ وَلحتل الوصية لوارث أصال فإن أوصى لغري وارث فصار واراث عند‬: ‫مسالة‬
‫ بطلت الوصية لو فإن أوصى لوارث مث صار غري وارث مل جتز لو‬:‫موت ادلوصي‬
‫الوصية ألهنا إذ عقد ىاكانت ابطال وسواء جوز الورثة ذلك أومل جيوزوا ألن‬
"‫ أن رسول هللا ملسو هيلع هللا ىلص قال "َلوصية لوارث‬: ‫الكواف نقلت‬
“Masalah : Tidak boleh berwasiat kepada ahli waris sama sekali. Apabila
seseorang berwasiat kepada selain ahli waris kemudian ia menjadi ahli waris
saat orang yang berwasiat meninggal, maka batallah wasiat tersebut. Apabila
seseorang berwasiat untuk ahli waris, kemudian ia tidak menjadi ahli waris,
maka tidak boleh berwasiat kepadanya karena pada saat akad wasiat sudah
batal, baik ahli waris mengizinkannya atau tidak karena ulama Kuffah menuqil:
bahwa Rasulullah saw bersabda “tidak sah wasiat kepada ahli waris.”48

Hal tersebut dijelaskan bahwa wasiat kepada ahli waris tidak

diperbolehkan sama sekali. Jika dia berwasiat kepada bukan ahli waris, namun

dalam meninggalnya orang yang berwasiat ia menjadi ahli waris maka hal tersebut

dinamakan warisan dan batallah wasiat tersebut. Hal ini dicontohkan seandainya

seseorang berwasiat kepada orang lain dalam keadaan ada ahli waris yang

menghalangi penerima wasiat, kemudian ahli waris yang menghalangi itu

48
Abu Muhammad „Ali ibn Ahmad ibn Sa‟id ibn Hazm alAndalusi, al Muhalla…, hlm.
356.

29
meninggal dunia sebelum pemberi wasiat sehingga penerima wasiat menjadi ahli

waris atau berwasiat kepada seorang perempuan kemudian dia menikahinya lalu

dia mati dalam keadaan perempuan itu menjadi istrinya, maka wasiat untuk

keduanya batal secara bersama-sama karena wasiat tersebut menjadi wasiat untuk

ahli waris.

Jika dia berwasiat kepada ahli waris, namun ketika meninggalnya pewasiat

ia tidak menjadi ahli waris, maka tidak boleh berwasiat kepadanya karena pada

saat akad wasiat tersebut sudah batal. Contohnya seperti ketika dia berwasiat pada

waktu sehat untuk istrinya kemudian dia menalaknya tiga kali kemudian dia

meninggal dunia pada saat itu juga sehingga istrinya itu tidak mewarisinya, maka

wasiat tersebut tidak sah, karena dalam akad tersebut sudah batal.

Jika wasiat batal atau ahli waris belum membuat wasiat dalam hidupnya,

maka ahli waris atau keluarga wajib memberi sadaqah dikarenakan hukum dasar

wasiat adalah wajib.49

Larangan berwasiat kepada ahli waris tidak menjadi gugur dengan adanya

persetujuan ahli waris lainnya. Larangan itu termasuk hak Allah yang tidak bisa

gugur dengan kerelaan manusia. Ahli waris tidak berhak membenarkan sesuatu

yang dilarang oleh Allah. Oleh karena itu, meskipun ahli waris merelakannya,

berwasiat kepada ahli waris tetap tidak diperbolehkan. Pendapat tersebut

berdasarkan hadis Nabi yaitu :

49
Abu Muhammad „Ali ibn Ahmad ibn Sa‟id ibn Hazm alAndalusi, al Muhallah, hlm.
351.

30
‫حدثنا علي بن حجر وىناد قاَل حدثنا إمسعيل بن عياش حدثنا شرحبيل بن‬
‫مسلم اخلوَلين عن أيب أمامة الباىلي قال مسعت رسول هللا ملسو هيلع هللا ىلص يقول ِف حطبتو‬
‫عام حجة الوداع إن هللا قد أعطى لكل ذي حق حقو فال وصية لوارث (رواه‬
)‫الرتمذى‬
“Ali ibn Hujr dan Hannad menceritakan kepada kami keduanya berkata: “Ismail
ibn „Ayyasy menceritakan kepada kami Syurahbil ibn Muslim alKhaulani, dari
Abu Umamah berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda pada khutbah
haji wada‟: “sesungguhnya Allah telah memberi kepada yang mempunyai hak
akan hak-haknya, karena itu tidak sah wasiat kepada ahli waris (yang menerima
warisan).” (HR. Tirmidzi).”50

Beliau sependapat dengan Imam Ibnu Hazm dalam larangan berwasiat

kepada ahli waris. Kitab rujukan Imamnya yakni Imam Malik dalam kitab Al-

Muwatta‟, hadis tentang larangan berwasiat kepada ahli waris itu tidak ada

pertentangan di dalamnya.

Larangan berwasiat ini, dapat dipahami bahwa para ahli waris dihalangi

untuk memperoleh wasiat agar mereka tidak mengambil harta mayit dari dua

jalan. Karena harta yang ditinggalkan orang yang mati itu diambil dengan jalan

warisan atau wasiat. Oleh karena hukum keduanya itu berbeda, maka seseorang

tidak boleh menggabungkan dua hukum yang berbeda dalam satu hukum dan

dalam satu keadaan, sebagaimana tidak boleh dia diberi sesuatu dan lawan dari

sesuatu itu.

1. Wasiat Wajibah Menurut Ibnu Hazm

Dalam memandang hukum wasiat, Ibnu Hazm berpendapat bahwa wasiat

itu wajib atas setiap orang yang meninggalkan harta. Karena kewajiban wasiat

50
Muhammad ibn Isa ibn Saurah ibn Musa ibn al-Dluhak alTirmidzi Abu Isa, Sunan al-
Tirmidzi, jilid 7, hlm. 491.

31
tersebut berlaku bagi setiap orang yang meninggalkan harta, maka apabila

seseorang meninggal dunia dan orang itu tidak berwasiat, hartanya haruslah

disedekahkan sebagian untuk memenuhi kewajiban wasiat tersebut.

Sementara itu karena yang berhak menetapkan urusan-urusan kaum

muslimin adalah penguasa (Waliyul Amri), dan urusan wasiat ini termasuk salah

satu urusan pada diri setiap muslim, maka dalam hal ini penguasa haruslah

bertindak untuk memberikan sebagian harta peninggalan sebagaimana tersebut

diatas guna memenuhi kewajiban hukum wasiat.51

Dengan demikian pengertian wasiat wajibah menurut Ibnu Hazm

didefinisikan dengan wasiat yang ditetapkan oleh penguasa (dilaksanakan hakim)

untuk orang-orang tertentu yang tidak diberi wasiat oleh orang yang meninggal

dunia, sementara si mayit meninggalkan harta yang baginya berlaku kewajiban

wasiat.

Adapun dasar hukum adanya wasiat, menurut Ibnu Hazm adalah

berdasarkan kepada Al-Quran dan Hadits. Ayat-ayat yang menjadi rujukan Ibnu

Hazm antara lain adalah surat al-Baqarah (2) : 180

ِ ۡ ۡ ۡ ِ ِۡ ِ ۡ ۡ ِ ۡ ۡ
ِ ۡ ‫كتِب علَ ۡي ُك‬
‫َّي‬ ‫ب‬
‫ر‬
َ َ َ ‫َق‬
‫أل‬‫ٱ‬‫و‬ ِ
‫ن‬ ‫ي‬ ‫د‬
َ ‫ل‬‫و‬َٰ
َ ‫ل‬‫ل‬ ‫ة‬
ُ ‫ي‬
َّ ‫ص‬‫و‬ ‫ل‬ ‫ٱ‬ ‫ا‬
‫ر‬
َ ًَ َ ‫ي‬ ‫خ‬ ‫ك‬
َ ‫ر‬ ‫ت‬
َ ‫ن‬ ‫إ‬ ‫ت‬‫و‬ ‫م‬ ‫ل‬ ‫ٱ‬
ُ َ ُ َ َ َ‫م‬ ‫ك‬
ُ ‫د‬
َ ‫َح‬‫أ‬ ‫ر‬ ‫ض‬
َ ‫ح‬ ‫ا‬ ‫ذ‬
َ ‫إ‬ ‫م‬ َ َ ُ
ِ ۡ ِِۖ ۡ ۡ ِ
ٔ٨ٓ ‫َّي‬ َ ‫بٱل َمعُروف َح ِّقا َعلَى ٱل ُمتَّق‬
Artinya: “Diwajibkan atas kamu, apabila seseorang diantarakamu kedatangan
(tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk
ibu, bapak, dan karib kerabat, secara ma‟ruf. Ini adalah kewajiban atas orang-
orang yang bertaqwa”.

51
Hasby Ash-Shiddieqi, Fiqh Mawaris, Jakarta : Pustaka Rizki Putra, 1997, hlm. 301.

32
Dan surat An-Nisa‟ (4) : 12.

ِّۚ ۡ ِۡ ۡ
‫ف َما تََرَك أَزََٰو ُج ُك ۡم إِن َّۡمل يَ ُكن َّذلُ َّن َولَد فَِإن َكا َن َذلُ َّن َولَد فَلَ ُك ُم ٱ ُّلربُ ُع‬ ُ ‫َولَ ُكم نص‬
ۡ ِ ‫ِممَّا تَ ۡرك ِّۚن ِم ۢن ب ۡع ِد و ِصيَّة ي‬
‫َّي ِِبَآ أ َۡو َد ۡي ِّۚن َوَذلُ َّن ٱ ُّلربُ ُع ِممَّا تََركتُ ۡم إِن َّۡمل يَ ُكن لَّ ُك ۡم‬ ‫وص‬
َ ُ َ َ َ َ
ۡ ۡ
‫وصو َن ِِبَآ أ َۡو َد ۡي ۗن‬ ِ ِ ۢ ِ ِّۚ ِ ۡ
ُ ُ‫َولَد فَِإن َكا َن لَ ُكم َولَد فَلَ ُه َّن ٱلث ُُّم ُن ممَّا تََركتُم ّمن بَعد َوصيَّة ت‬
ِّۚ ِۡ ِ ِ ِ ۡ ۡ ۡ ‫وإِن كان رجل يورث ك َٰللة أَ ِو ٱ‬
‫س‬ُ ‫د‬ُ ‫لس‬
ُّ ‫ٱ‬ ‫ا‬ ‫م‬ ‫ه‬ ‫ن‬ ‫م‬
َُ ّ َ ّ‫د‬ ‫ح‬ ‫و‬ َٰ ‫ل‬ ‫ك‬
ُ ‫ل‬َ‫ف‬ ‫ت‬ ‫ُخ‬ ‫أ‬ ‫َو‬ ‫أ‬ ‫َخ‬ٌ ‫أ‬ ‫ۥ‬ ‫و‬
ٓ‫ل‬
َ‫و‬
َُ َ ‫َة‬ ‫أ‬
‫ر‬ ‫م‬ ً ََ َ ُ َ ُ ُ َ َ َ َ
‫وص َٰى ِِبَآ أ َۡو َد ۡي ٍن‬ ‫ي‬ ‫ة‬ ‫ي‬
َّ ِ ‫ث ِم ۢن ب ۡع ِد و‬
‫ص‬ ِِّۚ ُ‫ك فَه ۡم ُشرَكآء ِِف ٱلثُّل‬ ِ‫فَِإن َكانُواْ أَ ۡكث ر ِمن َٰذَل‬
َ ُ َ َ ُ َ ُ َ ََ ٓ
ِّۚ ۡ
ٕٔ ‫ضآّر َو ِصيَّة ِّم َن ٱ َّ ۗللِ َوٱ َّللُ َعلِ ٌيم َحلِيم‬ َ ‫َغي َر ُم‬
Artinya : “Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan
oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu
mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang
ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah
dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu
tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka
para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah
dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu.
Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan
ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki
(seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-
masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-
saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang
sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar
hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah
menetapkan yang demikian itu sebagai) syari´at yang benar-benar dari Allah,
dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.”

Kemudian Hadits yang diriwayatkan dari jalan Tariq bin Malik dari

Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah dijadikan dasar wajib disedekahkan

sebagian harta peninggalan orang yang tidak berwasiat.

Adanya pendapat Ibnu Hazm tentang wajibnya wasiat, dapat terjadi karena

beliau mengambil arti zahir atau harfiahnya nash Al-Quran dan Al-Hadits yang

telah disebutkan di atas. Menurut beliau, nash (baik Al-Quran dan al-Hadits),

33
haruslah di pahami secara langsung dari arti zahirnya sebagaimana telah

ditegaskan :

‫ومن ترك ىرالفظ وطلب معاىن َل يدل عليها اب اللفظ الوحي فقد إفرتى على‬
.‫هللا عزوجل‬
“Barang siapa yang meninggalkan zahir lafaz, dan menuntut makna (benda yang
bukan zahir) yang di tunjukkan oleh lafaz wahyu, maka dia telah mereka-reka
terhadap Allah taala”

Dalam pendapatnya yang demikian ini, beliau beralasan dengan firman

Allah dala surat al-Baqarah (2) : 181.

ِ ِ ِّۚ ِ ِ ۡ َِ ‫فَم ۢن ب َّدلَوۥ ب ۡع َد ما‬


‫يع َعليم‬
ٌ َ‫مس‬
َ ‫لل‬
َّ ‫ٱ‬ َّ
‫ن‬ ِ
‫إ‬ ‫ۥ‬ ‫و‬
ٓ ‫ن‬
َ
ُ َُ َ‫و‬ُ‫ل‬ ‫د‬
ّ ‫ب‬ ‫ي‬ ‫ين‬ ‫ذ‬َّ
‫ل‬ ‫ٱ‬ ‫ى‬‫ل‬
َ ‫ع‬ ‫ۥ‬
َ ُ ‫و‬‫ۡث‬
ُ ِ
‫إ‬ ‫ا‬
َٓ َّ
‫َّن‬ ِ
‫إ‬‫ف‬
َ ‫ۥ‬ ‫و‬‫ع‬‫مس‬
َُ َ َ ُ َ َ
Artinya : “Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia
mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang
mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Berdasarkan firman Allah tersebut, maka lafadz Tabdil itu tidak ada arti

lainnya kecuali mengalihkan pembicaraan dari kedudukan serta runtutnya kepada

arti lain tanpa ada dalil nash maupun ijma‟. Dengan demikian, maka menurut

beliau mengikuti Dzahir Nash itu adalah dilarang. Hal ini berdasarkan firman

Allah dalam surat Al-Baqarah (2) : 190

ِ ۡ ۡ ِ ِّۚ ۡ ۡ ‫ٱللِ ٱلَّ ِذين ي َٰقتِلُون ُك‬


ٔ٩ٓ ‫ين‬
َ ُ‫د‬ ‫ت‬
َ ‫ع‬ ‫م‬ ‫ٱل‬ ‫ب‬
ُّ ‫حي‬
ُ ‫َل‬
َ ‫ٱلل‬
َ َّ َّ
‫ن‬ ِ
‫إ‬ ‫ا‬
ْ ‫و‬
ٓ ‫د‬
ُ ‫ت‬
َ ‫ع‬ ‫ت‬
َ ‫َل‬
‫و‬
َ ‫م‬
َ َ َُ َ َّ ‫َوَٰقَتِلُواْ ِِف َسبِ ِيل‬
Artinya : “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu,
(tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang melampai batas.”52

52
Ibid

34
Adapun orang yang berhak menerimanya, Ibnu Hazm berpendapat bahwa

yang berhak menerima wasiat adalah kerabat yang tidak menerima warisan.

Menurut ketegasan ayat di atas, dapat diketahui bahwa hukum wasiat adalah

wajib, kemudian kewajiban berwasiat kepada orang tua dan para kerabat yang

tidak dapat menerima warisan dikeluarkan dengan adanya Hadits dari Abu

Umamah dari Rasulullah Saw. bersabda sebagai berikut :

ٍ ‫حقو فَالَ و ِصيَّةَ لِوا ِر‬


‫ث‬ َّ ‫حق‬ ‫ي‬‫ذ‬ِ ‫إن هللا قَ ْد أَعطَى ُك َّل‬
َّ
َ َ ُ ً ْ
“Sesungguhnya Allah memberikan hak kepada setiap orang yang punya hak
atasnya, maka tidak ada wasiat untuk ahli waris.

Oleh karena itu kewajiban pemberian wasiat tersebut tinggal para kerabat

yang tidak dapat menerima warisan, baik dikarenakan ia menjadi budak atau

berbeda agama atau adanya kerabat lain yang menghalangi atau mungkin memang

karena ia tidak berhak mendapatkan warisan.

Selanjutnya Ibnu Hazm menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan para

kerabat adalah orang-orang yang apabila dinasabkan akan diketahui bahwa

mereka berada pada garis keturunan yang sama dengan orang yang meninggal

dunia, dalam garis ibu atau ayah atau bahkan dalam garis ayah dan ibu secara

bersamaan. Dan orang-orang tersebutlah yang dimaksud dengan para kerabat.

Oleh karena itu, mengartikan para kerabat dengan selain orang-orang tersebut di

atas adalah tidak mempunyai dasar yang kuat.53

53
Eko Budiono, “ Wasiat Wajibah Menurut Berbagai Referensi Hukum Islam Dan
Aplikasinya Di Indonesia ”, Dalam Mimbar Hukum Nomor : 63 Tahun 2004, Jakarta : Al-Hikmah,
hlm.105.

35
Jadi dapat disimpulkan bahwa yang berhak menerima wasiat wajibah

menurut Ibnu Hazm adalah orang-orang yang jika ditelusuri lewat garis

keturunannya, berada dalam garis yang sama dengan si pewasiat baik lewat garis

bapak atau ibu atau bahkan keduanya.

2. Rukun dan Syarat Ibnu Hazm

Ibnu Hazm tidak menerangkan secara jelas tentang rukun dan syarat dalam

wasiat wajibah namun bila ditinjau dari pengertian wasiat wajibah yang

dimaksudkan Ibnu Hazm, bahwa wasiat wajibah adalah pemberian suatu benda

dari pewasiat kepada penerima wasiat yang tidak termasuk ahli waris. Jadi dari

pengertian tersebut berarti rukun wasiat yang dimaksudkan Ibnu Hazm adalah

pewasiat (mushi), penerima wasiat (mushalahu), benda atau harta yang diberikan

(mushabihi).

Sedangkan syarat-syarat yang dicantumkan Ibnu Hazm kepada pewasiat,

penerima wasiat dan harta yang diwasiatkan yang dimaksudkan adalah.

a. Pewasiat

Pewasiat yang dimaksudkan oleh Ibnu Hazm adalah orang yang sudah

meninggal dunia dan meninggalkan harta baik harta tersebut tergolong banyak

maupun sedikit, dan meninggalkan ahli waris serta keluarga atau kerabatnya.

b. Penerima Wasiat (mushalahu)

Penerima wasiat yang dimaksudkan oleh Ibnu Hazm adalah mereka yang

masih memiliki ikatan darah dengan pewasiat seperti orang tua dan kerabatnya.

36
c. Benda Atau Harta Yang Diberikan (Mushabihi)

Dalam hal harta atau benda Ibnu Hazm tidak menjelaskan secara jelas

tentang jenis harta atau benda yang akan diwasiatkan namun bila ditiinjau dari

pengertian harta maka harta atau benda yang dimaksudkan itu adalah suatu yang

memiliki nilai manfaat dan dapat digunakan oleh ahli waris dan penerima wasiat

yang ditinggalkan.

d. Bentuk Wasiat

Untuk masalah bentuk wasiat, Ibnu Hazm tidak menjelaskan secara jelas

apakah wasiat tersebut harus dengan lisan atau tulisan, namun bila merujuk pada

hadis yang menjadi dasar pemikirannya memberlakukan wasiat wajibah tersebut

“Adalah dosa seorang muslim yang mempunyai sesuatu guna diwasiatkan lantas

tidur dua malam berturt-turut, kevuali wasiatnya itu sudah tertulis.” Maka

bentuk wasiat wajibah menurut Ibnu Hazm dapat berupa lisan maupun tulisan.

e. Batalnya Wasiat

Dalam hal batalnya wasiat Ibnu Hazm tidak menjelaskannya secara jelas namun

untuk masalah siapa berhak melaksanakan atau mengubah sebuah wasiat hal itu di

serahkan kepada ahli waris atau pemegang wasiat.

3. Kadar Pemberian Wasian

Menurut Ibnu Hazm tidak ada ketentuan tentang jumlah atau perbandingan

harta yang diwasiatkan. Hal ini diserahkan kepada pertimbangan dan ketulusan

masing-masing, asal masih dalam batas sepertiga warisan (harta). Namun beliau

memberi batas minimal tentang jumlah orang yang akan menerimanya. Kalau

37
kerabat yang tidak mewarisi tersebut banyak, maka dia harus berwasiat sekurang-

kurangnya kepada tiga orang.

Sekiranya dia berwasiat kepada orang yang bukan kerabat, maka dua

pertiga (2/3) dari wasiatnya tersebut harus dialihkan kepada kerabat dan hanya

sepertiga (1/3) yang diserahkan sesuai dengan wasiat asli. Dan yang berkewajiban

melaksanakan (mengubah) wasiat tersebut adalah ahli waris atau pemegang

wasiat.

Kerabat adalah orang-orang sepertalian darah di mulai dari orang tua.

Dengan kata lain, seorang wajib berwasiat kepada ayah dan ibu serta keturunan

ayah dan ibu, baik melalui dia sendiri maupun yang melalui saudara-saudaranya

sekiranya ada yang tidak mewarisi.

4. Wasiat Wajibah Kepada Kerabat Non Muslim Menurut Ibnu Hazm.

Sudah menjadi kesepakatan para ulama (ijma) bahwa perbedaan agama

(muslim dan non muslim) merupakan salah satu faktor penghalang untuk dapat

mewarisi. Hal tersebut dapat dilihat dalam salah satu kitab fiqih :

‫ واختالف الدين‬, ‫ والقتل‬, ‫اتفق الفقهاء ثالثة موانع لإلرث ىى الرق‬


“Telah sepakat para ulama‟ (fuqaha) bahwa ada tiga hal yang dapat
menghalangi untuk mewarisi, yaitu perbudakan, pembunuhan dan perbedaan
agama.”54

Berkenaan dengan perbedaan agama, yang disepakati para ulama tersebut

hanya sebatas ahli waris non muslim, baik sejak awal tidak beragama Islam (kafir)

54
Wahbah Zuhaily, Al-Fiqh al- Islamy wa Adillatuh, Juz VIII, beirut : Dar al-Fiqr, 1989,
hlm. 255.

38
atau keluar dari agama Islam (murtad), tidak dapat mewarisi pewaris muslim.55

kesepakatan para ulama tesebut didasarkan pada Hadits Nabi Saw. Yang

diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Usamah Ibnu Zaid yang ungkapannya

sebagai berikut :

"‫ وَلالكافر مسلم‬, ‫ "َليرث ادلسلم كافر‬: ‫عن أسامة بن زيد أن النيب ملسو هيلع هللا ىلص قال‬
)‫(متفق عليو‬

“Tidak mewarisi seorang muslim terhadap orang non muslim demikian juga tidak
mewarisi orang non muslim terhadap orang muslim.”56

Selain itu, mereka menguatkan pendapatnya dengan kenyataan bahwa

Islam telah menghalalkan wanita-wanita non muslim untuk dinikahi orang

muslim, sedangkan wanita-wanita muslim tidak halal bagi non muslim.57

Perbedaan agama sebagai penghalang untuk dapat mewarisi sebagaimana

dikemukakan para ulama di atas tampaknya masih tetap mewarnai hukum

kewarisan Islam dewasa ini.

Sekalipun ahli waris non muslim tidak dapat mewarisi pewaris muslim

sebagaimana telah menjadi kesepakatan para ulama (ijma‟), namun ada sebagian

ulama yang salah satunya Ibnu Hazm, yang berpendapat bahwa ahli waris non

muslim akan mendapat harta warisan pewaris muslim melalui wasiat wajibah.

Ibnu Hazm berpendapat dalam kitabnya Al-Muhalla :

55
Ibid
56
Imam Abi Al-Husain Muslim, Shahih Muslim, Juz II, tt. Dar Al-Fikr, t.th, hlm. 56.
57
As-Syafi‟i, Al-Um, Juz IV, Beirut : Dar Ma‟rifah, t.th. hlm. 73

39
‫ واما‬,‫ مالرق‬,‫ وفرض على كل مسلم ان يوصى لقرابتو الذين َل يرثون‬: ‫مسلة‬
‫لكفرواما ألن ىنالك من حيجبهم عن ادلرياث او َلهنم َل يرثون فيوصى ذلم مبا‬
‫ فإن مل يفعل اعطوا او َلبد ماراه الورثة او‬, ‫ َلحد ىف ذلك‬,‫طابت بو نفسو‬
‫ أو مملوكا ففرض عليو ايضا ان‬,‫ او احدمها على الكفر‬,‫ فإن كان والداه‬,‫الوصي‬
‫ او اعطيا‬,‫ أو ألحدمها إن مل يكن اَلخر كذلك فإن مل يفعل أعطى‬,‫يوصى ذلما‬
‫من ادلال وَل بد مث يوصى فيما شاء بعد ذلك فإن اوصى لثالثة من أقاربو‬
‫ادلذكورين جزأه‬
“Diwajibkan atas setiap muslim untuk berwasiat bagi kerabatnya yang tidak
mewarisi disebabkan adanya perbudakan , adanya kekufuran (non muslim),
karena terhijab atau karena tidak mendapat warisan (karena bukan ahli waris),
maka hendaknya ia berwasiat untuk mereka serelanya, dalam hal ini tidak ada
batasan tertentu. Apabila ia tidak berwasiat (bagi mereka), maka tidak boleh
tidak ahli waris atau wali yang mengurus wasiat untuk memberikan wasiat
tersebut kepada mereka (kerabat) menurut kepatutan. Andaikan kedua orang tua
atau salah satunya tidak beragama Islam (non muslim) atau menjadi budak, atau
salah satu dari keduanya. Apabila ia tidak berwasiat, maka harus diberikan harta
(kepada orang tua) tidak boleh tidak. Setelah itu ia boleh berwasiat
sekehendaknya. Apabila berwasiat bagi tiga orang kerabat di atas, hal itu telah
memadai.”58

Dari uraian diatas, Ibnu Hazm di atas tampak jelas bahwa kedua orang tua

dan kerabat yang tidak mewarisi, salah satunya disebabkan tidak beragama Islam

(non muslim), wajib diberi wasiat. Apabila seorang muslim sewaktu hidupnya

tidak bewasiat, maka ahli waris atau wali yang mengurus wasiat harus

melaksanakan wasiat tersebut. Dengan demikian kewajiban berwasiat tidak hanya

58
Ibnu Hazm, Almuhalla, Juz IX, Beirut : Dar Al-Fikr, hlm. 314.

40
bersifat diyani tetapi juga dapat dipaksakan apabila ia lalai melaksanakannya

karena sudah menyangkut kepentingan orang lain (masyarakat).59 .

Sedangkan menurut Ibnu Hazm ayat kewajiban berwasiat tetap berlaku

(muhkam) yang dikhususkan bagi orang tua dan kerabat yang tidak mewarisi

karena berbagai hal, diantaranya adanya perbedaan agama (non muslim). Untuk

menguatkan pendapatnya Ibnu Hazm telah mengemukakan beberapa buah Hadits

diantaranya Hadits yang diriwayatkan dari imam Malik :

‫ ماحق امرئ‬: ‫روينا من طريق ماللك ان فع عن ابن عمر قال سول هللا ملسو هيلع هللا ىلص‬
‫ إبن‬: ‫ وقال‬,‫مسلم لو شيئ يوصفيو يبيت ليلتَّي إَلووصية عنده مكتو بة‬
.‫عمرمامرت علي مسعت سول هللا صلعم قال ذللك إَل وعندى وصيىت‬
“Aku menerima dari jalur malik dari nafi‟ dari Umar berkata : Rosulullah SAW
bersabda : Hak seorang muslim yang mempunyai sesuatu yang hendak
diwasiatkan , sesudah bermalam selama dua malam tiada lain wasiatnya itu
ditulis pada awal kebijakannya. Ibnu Umar berkata tidak berlalu bagiku satu
malampun sejak aku mendengarkan Hadits itu kecuali wasiat selalu berada
disisku.”60

Sekalipun antara jumhur ulama dan Ibnu Hazm ada perbedaan pendapat

dalam menetapkan hukum berwasiat, tetapi ulama dari kalangan Syafi‟iyah,

Hanafiyah, Hanabilah telah membolehkan berwasiat untuk mereka yang tidak

beragama Islam (non muslim) dengan syarat yang diberi wasiat tidak memerangi

umat Islam, jika tidak demikian maka wasiatnya batal, tidak sah.

59
Dede Ibin, “ Wasiat Wajibah Bagi Ahli Waris Non Muslim ”, Dalam Suara Uldilag Vol
II, No: 4 tahun 2004, Jakarta : Al-Hikmah, hlm. 72.
60
Malik bin Anas, Al-Muwattha, Beirut : Dar Al-Fikr, t.th, hlm. 500

41
Adapun dalil membolehkan berwasiat untuk mereka yang tidak beragama

Islam (non muslim) adalah dikiaskan kepada hibah dan shadaqah. Seperti dalam

Al-Qur‟an Surah Al-Mumtahana ayat 8 :

‫وى ۡم‬‫ر‬ ‫ب‬ ‫ت‬ ‫َن‬


‫أ‬ ۡ ‫ََّل ي ۡن ه َٰى ُكم ٱ َّلل ع ِن ٱلَّ ِذين َۡمل ي َٰقتِلُوك ۡم ِِف ٱل ِدي ِن و َۡمل ۡخي ِرجوكم ِمن ِديَٰ ِرك‬
‫م‬
ُّ
ُ َ َ َُ ّ ُ ُ ُ َ ّ ُ َُ َ َُ ُ ََ
ۡ
ِ ‫ب ٱلمق ِس‬ ۡ ِ ِّۚۡ ِ ۡ ِ ِ ۡ
‫َّي‬‫ط‬ ‫حي‬ ‫لل‬َّ ‫ٱ‬ َّ
‫ن‬ ِ
‫إ‬ ‫م‬ ‫َوتُقسطُٓواْ إلَيه‬
َ ُ ُّ ُ َ
Artinya : “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil
terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula)
mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
berlaku adil.”

Demikian juga Hadits Nabi Saw Yang diriwayatkan oleh Bukhari, bahwa

Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah Saw, telah memberikan izin kepada Umar r.a

untuk memberikan sebuah baju kepada saudaranya yang musyrik.61

Apabila berdasarkan sistem hukum yang berlaku bagi warga negara non

muslim, bukanlah sikap adil dan manusiawi apabila ahli waris non muslim diberi

hak wasiat wajibah dari pewarisnya yang muslim (apabila ia tidak berwasiat) agar

tidak terjadi kegoncangan social diantara mereka yang berbeda agama, karena

prinsip keadilan bahkan asas kemanusiaan yang universal bahwa manusia

seluruhnya sama dipandang dari sisi kemanusiaannya, dan kemaslahatannya yang

menjadi tujuan hukum merupakan unsur-unsur konstitusi hukum Islam.62

61
Ibid., hlm. 39
62
Madja El-Muhtaj, “ Social Engineering Dan Maslahat ”, Dalam Mimbar Hukum
Nomor ; 52 tahun 2001, Jakarta : al-Hikmah, hlm. 79.

42
5. Wasiat Wajibah Menurut Pendapat Para Ulama

Dalam menentukan hukum wasiat, kebanyakan ulama berpendapat bahwa

hukum wasiat adalah tidak wajib karena kewajiban wasiat tercantum dalam

AlQuran telah dihapus (mansukh) oleh ayat kewarisan.

Kebanyakan dari mereka mengatakan bahwa sejak munculnya ayat tentang

wasiat, berwasiat untuk kedua orang tua dan para kerabat terdekat adalah

kewajiban. Akan tetapi setelah turun ayat tentang kewarisan dengan sistem

pembagian yang pasti, maka kewajiban berwasiat tersebut menjadi mansukh yang

dan akhirnya hukum wasiat menjadi tidak wajib.

Untuk lebih jelasnya, di bawah ini dipaparkan kembali tentang dasar

pokok disyari‟atkannya wasiat. Yaitu ayat Al-Quran yang tercantum dalam surat

Al-Baqarah (2) : 180.

ۡ ۡ ۡ ِ ِۡ ِ ۡ ۡ ِ ۡ ۡ ۡ ۡ ِ‫ُكت‬
‫َّي‬ِ ِ
َ ‫ت إن تََرَك َخي ًرا ٱل َوصيَّةُ لل ََٰول َدين َوٱألَق َرب‬
ُ ‫َح َد ُك ُم ٱل َمو‬
َ ‫ضَر أ‬ َ ‫ب َعلَي ُكم إِذَا َح‬
َ
ۡ
ِ ‫وف ح ِّقا علَى ٱلمت‬ ِ ‫بِ ۡٱلم ۡعر‬
ِۖ
ٔ٨ٓ ‫َّي‬ ‫َّق‬
َ ُ َ َ َُ
Artinya : “Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan
(tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk
ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma´ruf, (ini adalah) kewajiban atas
orang-orang yang bertakwa”

Sebagaimana telah di uraikan di atas, bahwa dasar kewajiban wasiat

tersebut, menurut kebanyakan ulama telah dihapus oleh ayat-ayat kewarisan yang

dimaksud salah satunya tersebut dalam surat An-Nisa‟ ayat 7 :

43
ِ‫صيب ِّممَّا تَرَك ۡٱل َٰولِ َدان‬
ِ َ‫صيب ِّممَّا تَرَك ۡٱل َٰولِ َد ِان و ۡٱأل َۡق ربو َن ولِلنِّسآِء ن‬ ِ َ‫لِّ ِلرج ِال ن‬
َ َ َ َ َ َ ُ َ َ َّ
ۡ ِ ِّۚ ۡ ۡ ِ ۡ ۡ
٧ ‫صيبا َّمفُروضا‬ ‫َوٱألَق َربُو َن ِممَّا قَ َّل منوُ أَو َكثَُر َن‬
Artinya : “Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa
dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta
peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut
bahagian yang telah ditetapkan”

Dalam menafsirkan ayat yang dijadikan dasar pokok disyari‟atkannya

wasiat sebagaimana tersebut di atas, kebanyakan ahli tafsir menyatakan bahwa

yang dimaksud dengan firman Allah yang berbunyi )‫ (كتب عليكم‬adalah )‫(فرض عليكم‬

yang artinya adalah diserahkan kepada kamu.63 Sedangkan firman Allah yang

berbunyi )‫ (على المتقين‬menunjukkan bahwa wasiat tersebut adalah tidak wajib. Hal

ini beralasan seandainya hukum wasiat itu wajib, maka perintah wasiat tersebut

tentu ditujukan dengan kata-kata untuk semua muslim, dan bukan dengan kata-

kata untuk semua orang yang bertaqwa. Oleh karena itu dalam ayat tersebut Allah

hanya menyebutkan dengan kata-kata untuk semua orang yang bertaqwa saja,

maka hal yang demikian ini menunjukkan bahwa hukum wasiat tersebut tidak

wajib.64

Sementara itu Imam Ibnu Kastir dalam kitab tafsirnya mengatakan bahwa

ayat 180 surat Al-Baqarah tersebut mengandung maksud adanya perintah

membuat wasiat kepada orang tua dan para kerabat. Hal ini hukumnya wajib

sebelum turun ayat tentang kewarisan (pembagian harta peninggalan), maka

hukum wasiat tersebut dihapus oleh ayat-ayat tentang kewarisan, dan sistem
63
Muhammad Ali As-Sayyis, Tafsir Ayat Al-Ahkam, Beirut : t.th, hlm. 55.
64
Ibnu Al-Arabi, Ahkam Al-Quran, Cet. I, Beirut : Dar Kutub Al-Ilmiyah, 1988, hlm.
104.

44
kewarisan dengan pembagiannya yang pasti, menjadi ketentuan yang harus

diambil dan dipegangi oleh orang-orang yang berhak.65

Imam mazhab empat berpendapat bahwa hukum wasiat tidaklah wajib

bagi setiap orang yang meninggalkan harta, sekalipun terhadap kedua orang tua

para kerabat yang tidak menerima warisan.

Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa menurut kebanyakan ulama, hukum

wasiat adalah tidak wajib, karena kewajiban berwasiat telah di hapus oleh sistem

kewarisan. Jika hadist yang diriwayatkan oleh Malik dari Nafi‟ tersebut dikaitkan

dengan kitab disyari‟atkannya wasiat sebagaimana tersebut dalam surat Al-

Baqarah ayat 180 juga tentang ayat-ayat kewarisan yang salah satunya telah

disebutkan diatas, maka tidak wajib, khususnya untuk kerabat dekat. Akan tetapi

jika dikaitkan dengan sifat hukum, maka hukum wasiat bisa bermacam-macam.

Adakalanya hukum wasiat menjadi wajib apabila wasiat itu ditujukan untuk

membayar hutang atau mengembalikan barang titipan.66

Hukum wasiat menjadi sunnah apabila wasiat tersebut ditujukan kepada

kerabat yang tidak menerima warisan atau untuk membuat kebijakan secara

umum. Hukum wasiat menjadi mubah apabila wasiat tersebut di tujukan untuk

saudara dan para kerabat yang kaya. Dan adakalanya hukum wasiat menjadi

haram apabila wasiat ditujukan untuk kejelekan dan kemaksiatan.67

Pada akhirnya sebagai tindak lanjut pendapat-pendapat tersebut di atas,

para fuqaha tidak membatasi tentang siapa-siapa yang memperoleh wasiat itu,

65
Ismail Ibnu Kastir, Tafsir Al-Quran Al-Azim, Beirut : Al-Maktab Al-Ilmiyah, 1994,
hlm. 195-196.
66
Ibid,
67
Wahbah Zuhaily, Al-fiqh Islami Wa Adiillatuh.,Beirut : Dar Al-Fikr, 1989, hlm., 12-13

45
asalkan dengan syarat orang yang menerima wasiat tersebut mempunyai

kecakapan dalam memegang harta di samping dia bukan termasuk ahli waris.

6. Wasiat Wajibah Menurut Kompilasi Hukum Islam

Pada Kompilasi Hukum Islam di Indonesia dijelaskan dalam pasal 209,

bahwa wasiat yang ditetapkan oleh perundang-undangan yang diberikan kepada

orang tua angkat dan anak angkat yang tidak menerima warisan dari anak atau

orang tua angkatnya yang telah meninggal dunia dengan batasan maksimal

sepertiga harta dari pewasiat. Kompilasi Hukum Islam dalam menetapkan adanya

wasiat wajibah ini adalah dengan jalan mengkompromikan antara hukum Islam

dengan hukum adat.

Dari uraian yang telah dikemukakan diatas tampaknya ada kesamaan

pandangan dalam mendefinisikan konsep wasiat wajibah antara yang

dikemukakan oleh Ibnu Hazm, Undang-Undang Mesir dan Kompilasi Hukum

Islam yaitu ;

a. Adanya wasiat yang ditetapkan oleh undang-undang yang memberikan

kekuatan memaksa terhadap kekayaan seseorang yang meninggal dunia,

sedangkan ia tidak dapat berwasiat untuk diberikan kepada orang tertentu.

b. Dalam menentukan siapa yang berhak menerima wasiat wajibah terdapat

perbedaan antara yang dikemukakan oleh Ibnu Hazm, UndangUndang Mesir

dan Kompilasi Hukum Islam. Menurut Ibnu Hazm bahwa yang berhak

menerima wasiat wajibah adalah kerabat yang tidak menerima warisan, baik

dikarenakan ia menjadi budak, atau berbeda agama atau juga adanya kerabat

lain yang menghalanginya atau memang tidak berhak mendapat warisan.

46
Sedangkan menurut UndangUndang Mesir bahwa yang berhak menerima

wasiat wajibah adalah cucu, dan menurut Kompilasi Hukum Islam bahwa

yang berhak menerima wasiat wajibah adalah anak angkat dan orang tua

angkat.

c. Jika ditinjau dari segi pengambilan hukumnya, konsep dan ketentuan yang

dikemukakan oleh Ibnu Hazm dan undang-undang wasiat mesir tampak lebih

sederhana keberadaannya dibandingkan dengan 72 Kompilasi Hukum Islam.

Akan tetapi, jika dilihat dari segi kenyataan yang hidup di tengah masyarakat

Indonesia, maka konsep dan ketetapan yang dikemukakannya lebih mungkin

diterapkan di Indonesia, walaupun ada sekelompok ulama yang menolak

dengan alasan, ketentuan tersebut tidak mempunyai dalil syar‟i.68

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa di Indonesia wasiat wajibah

tidak hanya diterapkan kepada anak angkat dan orang tua angkat saja.

Sebagaimana yang telah diatur dalam Kompilasi Hukum Islam, tetapi juga

diterapkan sebagiamana konsep Ibnu Hazm, di mana yang berhak menerima

wasiat wajibah adalah para kerabat yang tidak menerima warisan yang disebabkan

antara lain karena berbeda agama. Meskipun demikian perlu di ingat bahwa

wasiat wajibah dapat diberikan kepada kerabat yang non muslim, apabila mereka

kondisinya yang sangat miskin dalam bidang ekonomi dibanding dengan kerabat

lainnya. Jika ternyata kerabat yang non muslim hidupnya berkecukupan dibanding

kerabat yang muslim,maka dia tidak mendapatkan wasiat wajibah. Karena

68
Ibid., hlm. 108.

47
bagaimanapun hukum Islam tetap memposisikan perbedaan agama sebagai

penghalang untuk mewarisi.

C. Faktor Penyebab Pendapat Imam Ibnu Hazm tentang Wasiat Kepada

Ahli Waris

Pendapat Imam Ibnu Hazm tentang wasiat kepada ahli waris tidak

diperbolehkan. Adapun faktor penyebab pendapat tersebut adalah :

1. Cara Penyelesaian Ta‟arud

Dalam permasalahan wasiat kepada ahli waris, Imam Ibnu Hazm

menggunakan dasar hukum al-Qur‟an dan hadis sebagai metode istinbat

hukumnya. Dalam alQur‟an terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 180.

ۡ ۡ ۡ ِ ِۡ ِ ۡ ۡ ِ ۡ ۡ ۡ ۡ ِ‫ُكت‬
‫َّي‬ِ ِ
َ ‫ت إن تََرَك َخي ًرا ٱل َوصيَّةُ لل ََٰول َدين َوٱألَق َرب‬
ُ ‫َح َد ُك ُم ٱل َمو‬ َ ‫ب َعلَي ُكم إِ َذا َح‬
َ ‫ضَۡر أ‬ َ ۡ
ِ ‫وف ح ِّقا علَى ٱلمت‬ ِۖ
ِ ‫بِٱلم ۡعر‬
ٔ٨ٓ ‫َّي‬ ‫َّق‬
َ ُ َ َ َُ
Artinya : “Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan
(tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk
ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma´ruf, (ini adalah) kewajiban atas
orang-orang yang bertakwa.”

Surat di atas menjelaskan bahwa berwasiat kepada orang tua dan kerabat

adalah wajib, hal ini karena kalimat tersebut menunjukkan lafaz amar. Namun

setelah datangnya surat Al-Nisa ayat 11 tentang ayat warisan kepada ahli waris

zawil furud terdapat kontradiksi.

Menurut Imam Ibnu Hazm kedua ayat tersebut tidak termasuk ta‟arud

dikarenakan kriteria ta‟arud tidak boleh bertentangan kedua nash. Apabila terjadi

48
ta‟arud al-adillah Imam Ibnu Hazm hanya memakai jalan al-jam‟u sebagai jalan

penyelesaiannya.69

Kedua ayat tersebut dihukumi nasakh karena diketahui ayat yang turun

dahulu dengan ayat yang turun kemudian. Ayat wasiat sebagai mansukh dan ayat

warisan sebagai nasikh. Selain itu ayat tersebut juga dinasakh dengan hadis

tentang larangan berwasiat kepada ahli waris.70

2. Penetapan Hukum dengan Nasakh

‫بيان انتهاء زمان األمر األول فيما َليتكرر‬


“Penjelasan berakhirnya masa perintah yang pertama dalam hal-hal yang tidak
berulang.”

Penambahan kata terakhir, yaitu "‫“( "اليتكرر‬yang tidak berulang)

menjelaskan bahwa suatu perintah yang dikaitkan dengan waktu, bila waktu itu

telah berlangsung atau perintah telah dilaksanakan, maka perintah tersebut gugur.

Dengan demikian, dalam menetapkan nasakh Imam Ibnu Hazm hanya

mengakhiri masa berlakunya perintah yang pertama bukan mencabut hukum yang

berlaku. Sehingga hukum dasar wasiat tetaplah wajib meskipun sudah dinasakh.

3. Nasakh Al-Quran Dengan Hadis

Imam Ibnu Hazm membolehkan hadis menasakh Al-Quran dan Al-Quran

menasakh hadis. Karena hadis termasuk qath‟i Al-Tsubut (dipastikan

kebenarannya).71

69
Ibnu Hazm, al-Ihkam fi Ushu al-Ahkam, juz.2…, h. 21
70
Abdul Majid Khon, Takhrij dan Metode Memahami Hadis, Jakarta: Amzah, 2014,
Cet.I, h. 223.
71
Abdul Majid Khon, Takhrij dan Metode Memahami Hadis…, h. 223

49
4. Penggunaan Hadis Mursal

Imam Ibnu Hazm tidak memakai hadis mursal dikarenakan hadis mursal

adalah hadis dhaif. Hadis tentang bolehnya wasiat kepada ahli waris termasuk

hadis dhaif sehingga beliau tidak memakai hadis tersebut.72

72
Ali ibn Ahmad ibn Hazm al-Andalusi, al-Nubadz fi Ushul alFiqh al-Zahiri, Beirut: Dar
Ibn Hazm, 1993, h. 48.

50
BAB IV

PEMBAHASAN DAN PENELITIAN

A. Alasan atau Dalil Wajib Wasiat Wajibah Kepada Kerabat Bukan Islam

(Non-Muslim)

Allah menurunkun syariat Islam pada dasarnya untuk menjadi rahmat bagi

seluruh alam berserta isinya. Kerana kedudukannya sebagai rahmat seluruh alam,

maka ditetapkanlah peraturan-peraturan hukum yang bertujuan untuk

mewujudkan kemaslahatan masyarakat, menolak mudharat dan kerosakan serta

mewujudkan sebuah keadilan.

Ibnu hazm mengatakan bahawa hukum dalam wasiat tidaklah dihapuskan

melainkan dikhususkan hanya untuk yang berhubungan dengan orang-orang yang

tidak dapt mewarisi, iaitu bagi kerabat yang terhijab atau tidak menjadi ahli waris,

kewajiban wasiat masih tetap ada dengan jumlah yang tidak ditentukan selama

dalam batas 1/3 harta peninggalan.

Dalam Al-Quran Surat Al- Baqarah ayat 180 :

ِ ۡ ۡ ۡ ِ ِۡ ِ ۡ ۡ ِ ۡ ۡ
ِ ۡ ‫كتِب علَ ۡي ُك‬
‫َّي‬ ‫ب‬
‫ر‬
َ َ َ ‫ق‬‫أل‬
َ ‫ٱ‬‫و‬ ِ
‫ن‬ ‫ي‬ ‫د‬
َ ‫ل‬‫و‬َٰ
َ ‫ل‬‫ل‬ ‫ة‬
ُ ‫ي‬
َّ ‫ص‬‫و‬ ‫ل‬ ‫ٱ‬ ‫ا‬
‫ر‬
َ ًَ َ ‫ي‬ ‫خ‬ ‫ك‬
َ ‫ر‬ ‫ت‬
َ ‫ن‬ ‫إ‬ ‫ت‬‫و‬ ‫م‬ ‫ل‬ ‫ٱ‬
ُ َ ُ َ َ َ‫م‬ ‫ك‬
ُ ‫د‬
َ ‫َح‬‫أ‬ ‫ر‬ ‫ض‬
َ ‫ح‬ ‫ا‬ ‫ذ‬
َ ‫إ‬ ‫م‬ َ َ ُ
ِ ۡ ِِۖ ۡ ۡ ِ
ٔ٨ٓ ‫َّي‬ َ ‫بٱل َمعُروف َح ِّقا َعلَى ٱل ُمتَّق‬
Artinya: “Diwajibkan atas kamu, apabila seseorang diantarakamu kedatangan
(tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk
ibu, bapak, dan karib kerabat, secara ma‟ruf.73 Ini adalah kewajiban atas orang-
orang yang bertaqwa”.

73
Ma'ruf ialah adil dan baik. wasiat itu tidak melebihi sepertiga dari seluruh harta orang
yang akan meninggal itu. ayat Ini dinasakhkan dengan ayat mewaris, Q.S. Al-Baqarah, (02):180.

51
Maksud dari ayat di atas, yang dimaksud dengan kedatangan tanda-tanda

kematian adalah kemunculan tanda-tandanya seperti sakit, usia tua, dan

sebagainya, bukan ketika melihat malaikat pencabut nyawa. Sebab ketika melihat

malaikat pencabut nyawa, seseorang tidak sempat lagi untuk berwasiat.74

Menurut Ibnu Hazm yang mengatakan hukum asal dari wasiat adalah

wajib dilakukan oleh orang yang mempunyai harta baik banyak maupun sedikit.75

Pendapat ini berasal dari pendapat Abdullah bin Umar thalkhah Zabair, Abdullah

bin Aufa, Thowus, As-Sya‟bi Dan Az-Zuhri. Mereka beralasan dengan arti dzahir

ayat 180 surah al-Baqarah pada kata ‫ كتب‬yang berarti ‫ فرض‬yang diartikan dengan

kewajiban oleh karena itu maka hukum wasiat adalah wajib.

Dalam kitabnya Al-Muhallah Ibnu Hazm berpendapat bahwa wajib

berwasiat kepada kaum kerabat yang tidak mendapatkan bahagian harta pusaka.

Karena penurunan ayat pusaka yang menerangkan hak faraid bagi waris-waris

tidak menassakhkan kewajiban berwasiat bahkan peruntukan ayat wasiat tersebut

dikhususkan bagi ahli-ahli waris yang tidak mendapat pusaka disebabkan oleh

halangan-halangan tertentu. Dengan kata lain, berwasiat kepada ahli keluarga

yang tidak mendapat pusaka merupakan kewajiban yang perlu dilaksanakan.

Dalam hal ini Ibnu Hazm menegaskan bahwa kewajiban itu tidak gugur meskipun

selepas kematian seseorang muslim dan menjadi kewajiban kepada waris atau

pentadbir harta untuk menyempurnakan tanggung jawab tersebut menurut kadar

74
Ja‟far Subhani, “yang hangat dan kontroversial dalam fiqih”, jakarta: pt lentera
basritama, 2002.
75
Ibid., hlm. 417

52
yang berpatutan tampa menimbulkan kesusahan kepada waris-waris yang

dtinggalkan.

Ibnu Hazm juga menguatkan kesimpulannya dengan beberapa hadist

lain:76

‫ماحق امرئ لو شيئ يوصى فيو يبيت ليلتَّي اإلووصيتو عنده مكتوبة‬
“Adalah dosa seorang muslim yang mempunyai sesuatu guna diwasiatkan lantas
tidur dua malam berturut-turut, kecuali wasiatnya itu sudah tertulis.”

Jumhur menolak hadis ini dengan alasan ada perubahan matan. Seharusnya

berbunyi :

‫لو شيئ يريد أن يوصى فيو‬


Adalah dosa seorang muslim yang ingin mewasiatkan lantas tidur.

Setelah itu jumhur menguatkan adanya perubahan matan tersebut dengan

kenyataan, bahwa rawi-rawi Hadis tidak ada yang melakukan wasiat. Ibn Hazm

membantah kritikan ini karena ada beberapa sanad yang memenuhi syarat, yang

tidak disinggung oleh jumhur.77

B. Metode Istinbath Hukum Ibnu Hazm tentang wajibnya wasiat wajibah

kepada kerabat bukan Islam (non-muslim).

. Ibnu Hazm terkenal sebagai salah satu tokoh mazhab Az-zahiri dan paling

banyak mempelajari mazhab-mazhab lain sehingga terkenal dengan tokoh radikal

yang kontroversial.

76
Ibid., hlm. 313
77
Ibid., hlm. 312

53
Ibnu Hazm sebagai ulama yang kebetulan minhaj yang ditempuhnya sama

dengan minhaj yang di tempuh oleh Daud Az-Zahiri yang di dalam meletakkan

hukum banyak berbeda dengan ulama‟ pada umumnya. Hal ini disebabkan karena

Ibnu Hazm mempunyai metode tersendiri di dalam memahami nash Al-Quran

maupun Hadits, yaitu minhaj Az-Zahiri yang jauh berbeda dengan minhaj yang

ditempuh oleh kebanyakan ahli Ushuliyyin.

Ibnu Hazm adalah seorang tokoh fiqh yang menghidupkan Fiqh zahiri atau

menghidupkan ilmu Al-Quran. Kecakapan dapat menampung hukum dengan

segala kejadiannya. Beliau beralasan dengan mengungkapkan firman Allah Swt

dalam Surat Al-Maidah ayat : 3

ِ َٰ ۡ ۡ ِ ۡ ِ ۡ ۡ ۡ ۡ ۡ ِ ۡ ۡ ۡ ۡ ۡ
ِ
‫يت لَ ُك ُم ٱإلسلَ َم دين‬ ِ
ُ ‫ت َعلَي ُكم نع َمِت َوَرض‬
ُ ‫ت لَ ُكم دينَ ُكم َوأَۡتَم‬
ُ ‫ٱليَ وَم أَك َمل‬
Artinya : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah
Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama
bagimu.”

Imam Ibnu Hazm merupakan salah satu ulama yang paling banyak

mempelajari mazhab-mazhab lain, terakhir kalinya yang beliau pelajari adalah

mazhab Ẓahiri dan beliau dianggap sebagai pendiri mazhab Ẓahiri kedua setelah

Daud Al-Ẓahiri. Dalam mengistinbaṭkan suatu hukum Imam Ibnu Hazm

menggunakan empat dasar pokok seperti yang telah dijelaskan dalam kitabnya al-

Ihkam fi Al-Ushul Al-Ahkam, yaitu78 :

78
Ibnu Hazm, al-Ihkam fi al-Ushul al-Ahkam, juz I, Beirut Libanon: Dar al-Kutub al-
Ilmiah, t.t, hlm., 71

54
‫نص‬
ُّ ‫أقسام األصول الِت َليعرف شيءٌ من الشرائع إَل منها وأهنا أربعةٌ وىي‬
‫وسلم الذي إَّنا ىو عن هللا تعاىل مما صح عنو‬
ّ ‫القران ونص كالم رسول هللا عليو‬
‫عليو السالم نقل الثقات أو التواتر وإمجاع مجيع علماء األمة أو دليل منها َل‬
‫حيتمل إَل وجها واحدا‬
Beberapa pembagian dasar-dasar yang tidak diketahui sesuatu dari syara
melainkan daripada dasar-dasar itu sendiri ada empat, yaitu: nas Al-Quran, nas
kalam Rasulullah yang sebenarnya datangnya dari Allah juga yang sahih kita
terima dari padanya dan dinukilnya oleh orang-orang kepercayaan atau yang
mutawatir dan ijma (kesepakatan) semua ulama umat dan dalil dari padanya
yang tidak mungkin menerima selain daripada satu cara saja.

Dari keterangan di atas dapatlah dipahami bahwa sumber hukum Islam

menurut Imam Ibnu Hazm adalah al-Quran, sunnah, ijma‟ dan dalil yang tidak

keluar dari ketentuan nas itu sendiri.

Dalam permasalahan wasiat kepada ahli waris, Imam Ibnu Hazm

menggunakan dasar hukum Al-Quran dan Hadis sebagai metode istinbat

hukumnya. Dalam Al-Quran terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 180.

ِ ۡ ۡ ۡ ِ ِۡ ِ ۡ ۡ ِ ۡ ۡ
ِ‫ُكتِب َعلَ ۡي ُك ۡم إ‬
‫َّي‬ ‫َق‬
‫أل‬‫ٱ‬‫و‬ ِ
َ َ َ َ َ ُ َّ َ ً َ َ ََ ُ َ ‫َح َد ُك ُم ٱ‬
‫ب‬
‫ر‬ ‫ن‬ ‫ي‬ ‫د‬‫ل‬‫و‬َٰ ‫ل‬‫ل‬ ‫ة‬‫ي‬ ‫ص‬‫و‬ ‫ل‬ ‫ٱ‬ ‫ا‬
‫ر‬ ‫ي‬ ‫خ‬ ‫ك‬‫ر‬ ‫ت‬ ‫ن‬‫إ‬ ‫ت‬‫و‬ ‫م‬‫ل‬ ‫أ‬
َ َۡ َ‫ر‬‫ض‬َ ‫ح‬ ‫ا‬‫ذ‬
َ َ ۡ
ِ ‫وف ح ِّقا علَى ٱلمت‬ ِۖ
ِ ‫بِٱلم ۡعر‬
ٔ٨ٓ ‫َّي‬ ‫َّق‬
َ ُ َ َ َُ
Artinya : “Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan
(tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk
ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma´ruf, (ini adalah) kewajiban atas
orang-orang yang bertakwa.”

Maksud dari ayat di atas, yang dimaksud dengan kedatangan tanda-tanda

kematian adalah kemunculan tanda-tandanya seperti sakit, usia tua, dan

55
sebagainya, bukan ketika melihat malaikat pencabut nyawa. Sebab ketika melihat

malaikat pencabut nyawa, seseorang tidak sempat lagi untuk berwasiat.

Menurut Ibnu Hazm yang mengatakan hukum asal dari wasiat adalah

wajib dilakukan oleh orang yang mempunyai harta baik banyak maupun sedikit.

Pendapat ini berasal dari pendapat Abdullah bin Umar thalkhah Zabair, Abdullah

bin Aufa, Thowus, As-Syabi dan Az-Zuhri. Mereka beralasan dengan arti dzahir

ayat 180 surah al-Baqarah pada kat ‫ كتب‬yang berarti ‫ فرض‬yang diartikan dengan

kewajiban oleh karena itu maka hukum wasiat adalah wajib.

Lafaz ‫ كتب‬merupakan bentuk amar dari jumlah khabariyah kalimat berita

yang mengandung arti insyaiyyah, perintah, atau permintaan.79 Beliau menetapkan

bahwa lafaz amar yang terdapat dalam Al-Quran harus diambil zahirnya, yaitu

menunjuk kepada wajib.80 Imam Ibnu Hazm menafsirkan lafaz dengan dalalah

lugawiyyah. Dengan tegas Imam Ibnu Hazm mengatakan bahwa suatu lafaz tidak

dipindah dari makna lugawi, kecuali ada nas atau ijma.

Berdasarkan surat Al-Baqarah ayat 180 bahwa wasiat hukumnya fardu „ain

kepada orang tua dan kerabat. Namun kedudukan ayat tersebut kontradiksi dengan

adanya ayat warisan. Sehingga terjadilah ta‟arud antara ayat wasiat dengan ayat

warisan. Adapun terjadinya ta‟arud Al-Quran dengan Al-Quran adalah81 :

79
Jazuli & I. Nurol Aen, Ushul Fiqh (Metodologi Hukum Islam), Jakarta: RajaGrafindo
Persada, 2000, Cet. I, h. 379.
80
Hasbi ash-Shiddieqy, Pokok-pokok Pegangan Imam Mazhab…, h. 342.
81
Ahmad Ghazali, al-Wushul Ila „Ilm al-Ushul fi Ta‟arud…, h. 8.

56
‫ويالحظ على احلخصوص ان التعارض بَّي الكتاب والكتاب فال حقيقة لو ِف‬
‫نفس اَلمر واَّنا قد يظن التعارض فيو مث َلبد من دفعو حبمل عام على خاص‬
‫او مطلق على مقيد او رلمل على مبَّي وغري ذلك من التصرفات‬
“Dan diperhatikan secara khusus bahwa pertentangan antara Al-Quran dengan
Al-Quran tidak ada pada hakikatnya, akan tetapi terkadang hanya persangkaan
adanya ta‟arud di dalamnya. Kemudian cara penyelesaiannya harus mengandung
khass dimenangkan dari pada amm-nya, lafaz muqayyad yang dimenangkan atas
lafaz mutlaq, lafaz mubayyan dimenangkan atas lafaz mujmal, dan sebagainya.”

Imam Ibnu Hazm tidak ada pertentangan sedikitpun antara nas-nas yang

mengharuskan kita meninggalkan sebagiannya. Tidak ada pula antara nas-nas Al-

Quran sesamanya, dan tidak ada nas-nas hadis sesamanya. Semua nas-nas itu

saling membantu dalam menerangkan hukum syariat. Ketika terjadi ta‟arud dapat

dipahami bahwasanya dalam menyikapi dua dalil yang berlawanan, Imam Ibnu

Hazm mewajibkan untuk mengamalkan keduanya. Karena dalil yang satu tidak

lebih utama dari dalil yang lain. Semua dalil adalah sama datangnya dari Allah.

Sehingga ketika terjadi ta‟arud cara penyelesaiannya adalah al-jamu

(mengkompromikan kedua nas.

Ibnu Hazm juga menggunakan Istishab sebagai salah satu metode istinbath

hukum. Ibnu Hazm menta‟rifkan Istishab sebagai berikut : “Hukum asal yang

selain ada dengan nash kekal hingga ada dalil yang mengubahnya.”

Ibnu Hazm mempergunakan dasar Istishab dalam segala bidang, bukan

sebagai golongan Hanafiyah atau Malikiyah yang memakai Istishab dalam bidang

menolak tuduhan, bukan dalam bidang menetapkan hak. Mereka mengatakan

bahwa Istishab digunakan untuk menetapkan hak-hak yang telah ada, selama

57
belum ada dalil yang menghilangkan hak, tetapi tidak menetapkan hak-hak baru

atas dasar istishab. Syafi‟iyah dan Hanbaliyah berpendapat bahwa Istishab dapat

digunakan untuk menetapkan hak baru dan untuk menetapkan hak yang lama.82

Inilah beberapa dalil yang dipegang Ibnu Hazm bersama-sama golongan

zahiriyah dalam beristinbath, dan inilah natijah-natijah yang dicapai Ibnu Hazm

dengan mempergunakan dalil-dalil itu. Pokok dalildalilnya ialah nash dan ijma‟.

Dari keduanya dikeluarkan satu dasar yang dinamakan dalil. Dalil ini tidak dapat

dinamakan qiyas, walaupun qiyas juga merupakan Dalalatul Aula, yang oleh

ulama ushul dinamakan Dalaalatun Nash, atau Mafhum Muwafaqoh, atau Fatwa

Al-Khitab.

Demikianlah sumber-sumber hukum yang dipakai oleh Ibnu Hazm dalam

beristinbath yaitu dengan mengambil zahir nas, jika tidak menemukan dalil dari

sumber-sumber tasyri‟. Sehingga Ibnu Hazm mengunakan apa yang dinamakan

Dalil sehinga beliau menolak Qiyas.

Ibnu Hazm memberi pengertian bahwa yang berpegang kepada Qiyas

hanyalah ulama‟ mutaakhirin. Dasar pokok Ibnu Hazm menolak Qiyas adalah

bahwa nash-nash syara‟ yang menerangkan segala apa yang kita perlukan.

Perintah-perintah dan larangan syara‟ ditetapkan dengan nash dan ijma‟ tidak

dapat seorang menambahnya, segala yang lain dari yang disuruh dan dicegah,

adalah mubah, dan kemubahannya itu bukan karena hukum asal bagi sesuatu

82
Hasbi Ash-Shiddieqy, Pokok-Pokok Pegangan Imam Mazhab, Semarang : Pustaka
Rizki Putra, 1997, hlm. 358

58
adalah mubah tetapi karena nash-nash itu memubahkan segala yang tidak

dilarang.83

Imam Ibnu Hazm memberi kriteria tersendiri dalam menetapkan nas-nas

yang mengandung ta‟arud al-adillah. Kriteria ta‟arud al-adillah adalah sebagai

berikut, kecuali :

a. Salah satu nas diwajibkan dan nas yang lain dilarang

b. Salah satu nas memerintah mengerjakan dengan digantungkan dengan cara

atau zaman atau kewajiban pada seseorang, atau dalam tempat, dan nas yang

lain melarang melakukan sesuatu dengan waktu, tempat, dan bilangan

c. Salah satu nas dilarang dan dalam nas yang lain diperbolehkan artinya yang

satu diwajibkan yang lain gugur.

Kita tidak boleh melakukan dan meninggalkan perintah tersebut kecuali

ada dalil yang menunjukkan hal tersebut dalam hadis yang sesuai. Dengan

demikian, ayat wasiat dengan ayat warisan bukan mengandung ta‟arud aladillah,

dikarenakan kedua ayat tersebut masuk dalam kriteria yang ketiga yang tidak

mengandung ta‟arud, dimana hal tersebut salah satu nas memerintah mengerjakan

dengan digantungkan dengan cara atau zaman atau kewajiban pada seseorang,

atau dalam tempat, dan nash yang lain melarang melakukan sesuatu dengan

waktu, tempat, dan bilangan.

Nasakh menurut mazhab Zahiriyah berbeda dengan mazhab lainnya.

Ulama Zahiriyah menyatakan bahwa nasakh bukan mencabut hukum yang

berlaku, tetapi menyatakan berakhirnya masa berlakunya perintah yang pertama.

83
Ibid., hlm. 358

59
Sehingga hukum wasiat tetap wajib. Oleh karenanya setiap muslim yang

menghembuskan nafasnya yang terakhir dan belum berwasiat mengenai harta

yang dimilikinya, maka ahli warisnya harus mengeluarkan shadaqah yang

diambilkan dari harta si mayit sebagai ganti dari wasiat dan tidak melebihi

sepertiga harta pusaka.84

Imam Ibnu Hazm menyatakan tidak boleh berwasiat kepada ahli waris.

Hal ini terdapat dalam kitabnya al-Muhalla bi al-Asar

‫ وَلحتل الوصية لوارث أصال فإن أوصى لغري وارث فصار واراث عند‬: ‫مسالة‬
‫ بطلت الوصية لو فإن أوصى لوارث مث صار غري وارث مل جتز لو‬:‫موت ادلوصي‬
‫الوصية ألهنا إذ عقد ىاكانت ابطال وسواء جوز الورثة ذلك أومل جيوزوا ألن‬
‫ أن رسول هللا ملسو هيلع هللا ىلص قال "َلوصية لوارث‬: ‫الكواف نقلت‬
“Masalah: Tidak boleh berwasiat kepada ahli waris sama sekali. Apabila
seseorang berwasiat kepada selain ahli waris kemudian ia menjadi ahli waris
saat orang yang berwasiat meninggal, maka batallah wasiat tersebut. Apabila
seseorang berwasiat untuk ahli waris, kemudian ia tidak menjadi ahli waris,
maka tidak boleh berwasiat kepadanya karena pada saat akad wasiat sudah
batal, baik ahli waris mengizinkannya atau tidak karena ulama Kuffah menuqil:
bahwa Rasulullah saw bersabda “tidak sah wasiat kepada ahli waris.”

Oleh karena itu, menurut pendapat Imam Ibnu Hazm harus memperhatikan

status penerima wasiat saat kematian orang yang berwasiat. Seandainya seseorang

mewasiatkan sebagian hartanya kepada saudaranya yang berhak menerima bagian

harta warisan darinya, dan pemberi wasiat tidak memiliki anak yang dapat

menghalangi saudaranya itu, tetapi sebelum meninggal dunia, orang yang

berwasiat itu mendapatkan anak yang dapat menghalangi saudaranya untuk

84
Abu Muhammad Ali ibn Ahmad ibn Sa‟id ibn Hazm al-Andalusi, al Muhalla…, h.
351.

60
mendapatkan bagian warisan, maka dalam kondisi demikian wasiat tersebut tidak

dapat dilaksanakan karena pada saat akad wasiat tersebut sudah batal. Namun, jika

yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu seseorang mewasiatkan kepada saudaranya

yang saat itu tidak mendapat bagian warisan karena orang yang berwasiat

memiliki anak, tetapi sebelum dia meninggal dunia si anak telah meninggal dunia

terlebih dahulu, maka wasiat tersebut tidak dapat dilaksanakan, karena termasuk

wasiat kepada ahli waris.85

85
Imam al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari Syarh Sahih al-Bukhari, Jilid 15,
terj. Amiruddin dengan judul “Fathul Bari: Penjelasan Kitab Shahih al-Bukhari”, Jakarta: Pustaka
Azzam, 2005, h. 431.

61
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pembahasan yang singkat mengenai konsep wasiat wajibah kepada

kerabat bukan islam, menurut Ibnu Hazm dapat disimpulkan bahwa:

1. Alasan atau dalil wajib wasiat wajibah kepada kerabat bukan Islam (non-

muslim) kerana Non muslim yang dimaksudkan adalah Ahla Dzimmah iaitu

dari golongan Yahudi dan Nasrani. Dikatakan Ahla dzimmah kerana mereka

mematuhi peraturan perundang-undangan Islam, serta tidak memerangi

orang Islam. Kerabat tersebut merupakan kerabat yang tidak dapat mewarisi,

kerana terhijab atau bukan ahli waris. Semua keturunan yang memiliki

hubungan nasab dengan ayah dan ibu sampai terus kebawah. Mereka berada

pada garis keturunan yang sama dengan orang yang meninggal dunia, dalam

garis ibu atau ayah atau bahkan dalam garis ayah dan ibu secara bersamaan.

Begitu juga dengan batasan harta yang diwasiatkan tidak boleh lebih dari

sepertiga harta.

2. Metode istinbat hukum tentang wasiat wajiabah kepada kerabat bukan islam

(non-muslim) Menurut Ibnu Hazm hukum wasiat wajibah adalah fardhu „ain.

Sebagaimana ulama-ulama lain Ibnu Hazm dalam beristinbat selalu

mendasarkan pada dua sumber Al-Quran dan Al-hadits. Dalam mengistinbat

(mengambil atau menetapkan) suatu hukum, Ibnu Hazm menjelaskan bahwa

dalam ia mengistinbat menggunakan empat dasar pokok yaitu Al-Quran, Al-

Sunnah, Ijma dan Dalil

62
B. Saran-saran

Setelah penulis selesai menulis skripsi ini dengan segala usaha, kemampuan

dan pengetahuan sehingga selesai. Maka berikut adalah beberapa saran yang

penulis rasa perlu diperhatikan oleh pihak-pihak yang terkait antaranya:

1. Disarankan kepada Hakim di pengadilan Agama supaya terus mengali

hukum-hukum yang hidup ditengah-tengah masyarakat dan berani

memutuskan perkara warisan dengan memberikan hak wasiat wajibah kepada

ahli waris yang tidak mendapatkan hak waris, melalui jalan ijtihad tetapi tidak

bertentangan dengan tujuan syariat islam itu sendiri.

2. Disarankan kepada Ulama Fikih (ahli Hukum Islam), supaya terus berijtihad

dalam hal-hal yang berkaitan dengan kewarisan agar lahir Fikih baru yang

didasarkan kepada keadilan dan kemaslahatan.

3. Kepada teman-teman mahasiswa agar dapat melanjutkan karya ilmiah ini

kerana penulis menyadari bahwa karya ilmiah yang penulis hasilkan ini masih

perlu dikaji jauh lagi.

63
DAFTAR PUSTAKA

A. Literarut

Ahmad Rofiq, Hukum Islam Di Indonesia, Jakarta : PT Raja Grafindo


Persada, 2000.

Al-Qurtuby, Tafsir Jami’li Ahkam Al-Qur’an, Juz I, Beirut: Dar Kutubil


Ilmiyah, 1993.

Al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj , (Beirut: Dar al-Fikr, t.t).

Abdul Wahid Bin Ali Al-Tamimi, Al-Mu’jab Fi Talkhish Akhbar Almaghrib


Min Ladun Fath Al-Andalus Ila Akhir Ashr Al-Muwahidin, Juz I,
Beirut: Al-Maktabah Al-Ishriyyah, t.t

Abdurrahman al-Syarqawi, A’immah al-Fiqh al-Tis’ah, terj. H.M.H. al-Hamid


al-Husaini, Bandung: Pustaka Hidayah, 2000.

Abu Zahrah, Ibnu Hazm Hayatuhu wa Asruhu, Kairo: Dar al-Fikr al-Arabi, t.t

Aris Munandar Riswanto, Buku Pintar Islam, Bandung: Mizan Pustaka, 2010.

Abdul Majid Khon, Takhrij dan Metode Memahami Hadis, Jakarta: Amzah,
2014
Ali ibn Ahmad ibn Hazm al-Andalusi, al-Nubadz fi Ushul alFiqh al-Zahiri,
Beirut: Dar Ibn Hazm, 1993.

Dede Ibin, “ Wasiat Wajibah Bagi Ahli Waris Non Muslim ” , Dalam Suara
Uldilag, Vol : II No : 4 Tahun 2004.

Depag Republik Indonesia, Al-Qur’an Dan Terjemahnya, Semarang : PT


Kumudasmoro, 1994.

Fatchur Rahman, Ilmu Waris, Bandung : PT Al-Ma’arif , 1981.

Hasby Ash-Shidieqhy, Fiqh Mawaris, Semarang : PT Pustaka Rizki Putra,


1997.
Imam Abi Al-Husain Muslim, Shahih Muslim, Juz II, tt. Dar Al-Fikr, t.th.

Ibn Qudamah, al-Mughni, Juz 6, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t).

Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Baari, Hadis No. 238, Jakarta: Pustaka
Azzam, 2008..

Imam Abi Al-Husain Muslim, Shahih Muslim, Juz II, tt. Dar Al-Fikr, t.th.

Ibnu Hazm, Ihkam Fi Ushul Al- Ahkam, Beirut : Dar Kutubil Ilmiyah, tp.tt.

Ibnu Hazm Al-Andalusi, Al-Muhalla Bi Al- Atsar, Juz I, beierut : Dar


Kutub Al-Ilmiyah, t.th.

Juhaya S. Praja, Hukum Islam Di Indonesia, Bandung : Remaja Rosda


Karya, 1991.

Ja‟far Subhani, “Yang Hangat dan Kontroversial dalam Fiqih, Jakarta: PT


Lentera Basritama, 2002.

Mohd Zamro Muda, dkk, Pengantar Undang-Undang dan Pentadbiran


Puasaka, Wasiat dan Wakaf Orang Islam Di Malaysia,
UKM: Jabatan Syariah, Fakultas Pengajian Islam, UKM, 2008.

Mustafa al-Khin, Al-Fiqh Al-Manhaji, Negeri Sembilan: Jabatan Mufti


Kerajaan Negeri, 2007.

Muhammad Abu Zahrah, Tarikh Al-Mazhahib Al-Islamiyah, Juz I, Beirut


Dar Kutubil Ilmiyah, 1989.

Malik bin Anas, Al-Muwattha, Beirut : Dar Al-Fikr, t.th.


Marsiani, “Wasiat Wajibah Untuk Anak Tiri (Analisis Terhadap Ketentuan
Dalam KHI)”, skripsi universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Yogyakarta, (2016).

Muhammad ibn Isa ibn Saurah ibn Musa ibn al-Dluhak alTirmidzi Abu Isa,
Sunan al-Tirmidzi, jilid 7.

Rasyid Ridha, Tafsir Al-Manar, Juz II, Beirut: Dar Ma’rifah, t.th.

Sayuti Una(ed), Pedoman Penulisan Skripsi, Jambi: Syariah Press,2014.


Wahbah Zuhaily, Al-Fiq Al- Islami Wa Adillatuh, Juz VIII, Beirut : Dar
Al-Fikr, 1989.

Yusuf Qardhawi, Fatwa-Fatwa Kontemporer, Jakarta : Al-Kautsar, 2002.

B. Peraturan Perundang-Undangan

Undang-undang wasiat mesir, no. 71 1946 dalam perkara 1 iaitu menguruskan


Sesuatu peninggalan yag berwenang setelah berlaku kematian

C. Lain-Lain

Destri Budi Nugraheni, Haniah Ilhami dan Yulkarnain Harahab,


“Pengaturan dan Implementasi Wasiat Wajibah Di
Indonesia”, Mimbar Hukum, Vol. 22, No. 2, (Juni 2010).

Eko Budiono, “ Wasiat Wajibah Menurut Berbagai Referensi Hukum Islam


Dan Aplikasinya Di Indonesia ”, Dalam Mimbar Hukum
Nomor : 63 Tahun 2004, Jakarta : Al-Hikmah.
.
Madja El-Muhtaj, “ Social Engineering Dan Maslahat ”, Dalam Mimbar
Hukum Nomor ; 52 tahun 2001, Jakarta : al-Hikmah.

Ria Ramdhani, “Pengaturan Wasiat Wajibah Terhadap Anak Angkat Menurut


Hukum Islam”, Lex et Societatis, Vol. III, No.1,(Jan-Mar 2015).

Tuan Haji Razali bin Sahabudin, Hukum Perlaksanaan Wasiat Wajibah,


Cod.539 Jld.18,.
LAMPIRAN
CURRICULUM VITAE

Nama : Nor Aqilah Binti Bolkan


NIM : SPM 140037
Tempat / Tanggal Lahir : Johor/ 29 Disember 1995
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat Asal : No 3 Lorong Bulud, Kampung Likas,
Kota Kinabalu Sabah
Alamat Sekarang : Mess Pelajar Malaysia,
No. 02, Jalan Pakis 03, RT 27, RW 08, Kelurahan
Simpang IV Sipin, Telanaipura Jambi, 36124
Sumatera Indonesia.
Pekerjaan : Mahasiswa
Pendidikan :-

No. Jenis Pendidikan Tempat Tahun Tamat


1.
Tadika Kemas Inanam Negeri sabah, 2001
malysia
2.
Sekolah Kebangsaan Likas Negeri sabah, 2007
malaysia
3.
Sekolah Menengah Toh Puan Hajjah Negeri sabah. 2012
Rahmah malaysia

4.
Universitas Islam Negeri Sulthan Jambi, Indonesia 2014
Thaha Saifuddin

Jambi, 18 Oktober 2019


Penulis,

NOR AQILAH BINTI BOLKAN


SPM 140037
CURRICULUM VITAE

Nama : Nor Aqilah Binti Bolkan


NIM : SPM 140037
Tempat / Tanggal Lahir : Johor/ 29 Disember 1995
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat Asal : No 3 Lorong Bulud, Kampung Likas,
Kota Kinabalu Sabah
Alamat Sekarang : Mess Pelajar Malaysia,
No. 02, Jalan Pakis 03, RT 27, RW 08, Kelurahan
Simpang IV Sipin, Telanaipura Jambi, 36124
Sumatera Indonesia.
Pekerjaan : Mahasiswa
Pendidikan :-

No. Jenis Pendidikan Tempat Tahun Tamat


1 .

Tadika Kemas Inanam Negeri sabah, 2001


malysia
2.
Sekolah Kebangsaan Likas Negeri sabah, 2007
malaysia
3.
Sekolah Menengah Toh Puan Hajjah Negeri sabah. 2012
Rahmah malaysia

4.
Universitas Islam Negeri Sulthan Jambi, Indonesia 2014
Thaha Saifuddin

Jambi, 18 Oktober 2019


Penulis,

NOR AQILAH BINTI BOLKAN


SPM 140037