Anda di halaman 1dari 7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KINERJA

2.1.1 Pengertian Kinerja


Istilah kinerja berasal dari kata Job Performance atau Actual Performance
(prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang). Pengertian
kinerja (prestasi kerja) merupakan hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang
dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung
jawab yang diberikan kepadanya (Anwar Prabu Mangkunegara, 2005:67).
Secara definitif Bernardin dan Russel, menjelaskan kinerja merupakan catatan
out come yang dihasilkan dari fungsi karyawan tertentu atau kegiatan yangdilakukan
selama periode waktu tertentu (Ambar T. Sulistiyani dan Rosidah, 2003:223). Kinerja
pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan karyawan sehingga
mereka mempengaruhi seberapa banyak mereka memberi kontribusi kepada instansi
atau organisasi termasuk kualitas pelayanan yang disajikan.

2.1.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja


Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja adalah faktor kemampuan (ability)
dan faktor motivasi (motivation). hal ini sesuai dengan pendapat (Keith Davis dalam
Anwar Prabu Mangkunegara, 2005:67) yang merumuskan bahwa:
a. Human Performance = Ability + Motivation
b. Motivation = Attitude + Situation
c. Ability = Knowledge + Skill

2.1.3 Sasaran Kinerja


Sasaran kinerja yang menetapkan adalah individual secara spesifik, dalam bidang
proyek, proses, kegiatan rutin dan inti yang akan menjadi tanggung jawab karyawan.
Sedangkan menurut (Ruky, 2201:149), sasaran kinerja dapat ditetapkan sebagai
berikut, pimpinan unit yang bersangkutan dengan kesempatan bawahannya yaitu para
impian sub-unit, menyatakan bahwa sasaran yang harus mereka capai dalam kurun
waktu tahun ini misalnya adalah sasaran bersama dan menjadi sasaran-sasaran kecil
bagi tiap bagian dari unit tersebut. Sasaran kinerja adalah kinerja karyawan, sehingga
diperoleh informasi yang akurat tentang kinerja tersebut, apakah memuaskan atau
tidak. Unit-unit di tingkat bawah mungkin telah menjadi sasaran yang mereka
tetapkan, dan sebaliknya mereka yang ada di puncak mungkin belum memenuhi
sasaran.

2.2 STERILISASI

2.2.1 Pengertian
Sterilisasi adalah proses membunuh semua bentuk kehidupan terutama
mikroorganisme yaitu bakteri. Sterilisasi dilakukan dengan berbagai cara tergantung
macam dan sifat bahan. Secara mekanik misalnya dengan penyaringan, secara kimia
misalnya dengan desinfektan dan secara fisik misalnya dengan pemanasan,
penyinaran ultraviolet, sinar x dan lain-lain (Lalu Srigede, 2014)
Sterilisasi yaitu proses atau kegiatan membebaskan suatu bahan atau benda
dari semua bentuk kehidupan. Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3
cara yaitu secara mekanik, fisik dan kimiawi. Sterilisai secara mekanik (filtrasi)
menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0,22 mikron atau 0,45
mikrob) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Proses ini ditujukan untuk
sterilisasi bahan yang peka panas, misalnya larutan enzim dan antibiotik. Sterilisasi
secara fisik dilakukan dengan cara pemanasan atau penyinaran. Pemanasan dapat
dilakukan dengan cara pemijaran, pemanasan kering, menggunakan uap air panas, dan
menggunakan uap air panas bertekanan (Agalloco, 2008).
Salah satu teknik sterilisasi yang umum digunakan adalah metode sterilisasi
menggunakan uap air panas bertekanan atau menggunakan prinsip kerja autoclave.
Suhu dan tekanan tinggi yang diberikan kepada alat dan media yang disterilisasi
memberikan kekuatan yang lebih besar untuk membunuh sel dibanding dengan udara
o
panas. Biasanya untuk mesterilkan media digunakan suhu 121 C dan tekanan 15
o
lb/in2 (SI = 103,4 Kpa) selama 15 menit. Alasan digunakan suhu 121 C atau 249,8
o
F adalah karena air mendidih pada suhu tersebut jika digunakan tekanan 15 psi.
Untuk tekanan 0 psi pada ketinggian di permukaan laut (sea level) air mendidih pada
o
suhu 100 C, sedangkan untuk autoklaf yang diletakkan di ketinggian sama,
o
menggunakan tekanan 15 psi maka air akan memdididh pada suhu 121 C. Ingat
kejadian ini hanya berlaku untuk sea level, jika dilaboratorium terletak pada
ketinggian tertentu, maka pengaturan tekanan perlu disetting ulang. Misalnya autoklaf
diletakkan pada ketinggian 2700 kaki
o
dpl, maka tekanan dinaikkan menjadi 20 psi supaya tercapai suhu 121 C untuk
mendidihkan air. Semua bentuk kehidupan akan mati jika dididihkan pada suhu
o
121 C dan tekanan 15 psi selama 15 menit (Anneke, 2011).
Pemijaran langsung digunakan untuk mensterilkan spatula logam, batang
gelas, filter logam bekerfield dan filter bakteri lainnya. Mulut botol, vial, dan labu
ukur, gunting, jarum logam dan kawat, dan alat-alat lain yang tidak hancur dengan
pemijaran langsung. Dalam semua kasus bagian yang paling kuat 20 detik. Dalam
keadaan darurat ampul dapat disterilisasi dengan memposisikan bagian leher ampul
kearah bawah lubang kawat keranjang dan dipijarkan langsung dengan api dengan
hati-hati. Setelah pendinginan, ampul harus segera diisi dan disegel (Anneke, 2011).

2.2.2 Jenis Sterilisasi


Menurut (Lay,1982), sterilisasi ada 2 jenis yaitu :
1. Sterilisasi dengan cara fisik
a. Pemanasan
Air dan uap adalah media panas yang baik. Dalam waktu relatif singkat, alat
yang akan disterilkan akan mencapai suhu yang diinginkan. Udara adalah
penyalur panas yang kurang baik. Oleh karena itu, untuk mecapai suhu yang
diinginkan akan membutuhkan waktu yang cukup lama.
1. Panas Kering
Cara ini untuk membunuh mikroba hanya memakai udara panas kering
yang tinggi. Sterilisasi panas kering dibedakan atas:
a. Panas membara
Dengan jalan menaruh benda yang akan di sterilkan dalam nyala api
bunsen sampai merah membara. Alat yang disterilkan yaitu sengkelit,
jarum, ujung pinset dan ujung gunting.
b. Melidah – apikan
Dengan melewatkan benda dalam api bunsen, namun tidak sampai
menyala terbakar. Alat yang disterilkan yaitu scalpel, kaca benda, mulut
tabung dan mulut botol.
c. Udara kering
Oven merupakan ciri umum yang dimaksud. Alat ini terbuat dari kotak
logam, udara yang terdapat di dalamnya mendapat udara panas melalui
panas dari nyala listrik. Alat yang disterilkan yaitu tabung reaksi, cawan
petri, pipet, scalpel dari logam, gunting dan botol. Pemanasan satu jam
dengann temperatur 160 oC dianggap cukup.
2. Panas Basah
Yang dimaksud panas basah adalah pemansan menggunakan air atau uap
air. Uap air adalah media penyalur panas yang terbaik dan terkuat daya
penetrasinya. Panas basah mematikan mikroba. Oleh karena koagulasi dan
denaturasi enzim dan protein protoplasma mikroba. Untuk mematikan spora
diperlukan panas basah selama 15 menit pada suhu 121 oC. Sterilisasi panas
basah dapat dibedakan atas tiga golongan yaitu :
a. Panas basah <100 oC (Pasteurisasi)
Pasteurisasi yaitu pemanasan pada suhu 60 oC selama 30 menit.
Pasteurisasi tidak dapat membunuh spora atau dipanaskan pada suhu
71,6 – 80 oC selama 15 – 30 detik kemudian cepat – cepat didinginkan.
b. Panas basah pada suhu 100 oC
Di sini menggunakan air mendidih (suhu 100 oC) selama 10 menit.
Untuk mematikan bentuk spora dilakukan pemansan 3 hari berturut –
turut selama 15 – 45 menit sehingga spora yang tidak mati pada
pemanasan pertama akan beruah menjadi bentuk vegetatif pada hari
kedua seteleh inkubasi pada shu 37 oC begitu pula spora yang tidak
mati pada hari kedua, akan berubah menjadi bentuk vegetatif pada hari
ketiga.
c. Panas basah >100 oC
Sterilisasi dengan cara ini hasilnya mutlak steril, sehingga biasa
dipergunakan di rumah sakit dan laboratorium besar. Cara ini
menggunakan tangki yang diisi dengan uap air yang disebut autoclave.
Alat yang disterilkan adalah alat dari kaca, kain kasa, media
pembenihan, cairan injeksi, dan bahan makanan.
b. Filtrasi / Penyaringan
Penyaringan dilakukan dengan mengalirka larutan melalui suatu alat
penyaringan yang memiliki pori–pori cukup kecil. Untuk menahan
mikroorganisme dengan ukuran tertentu. Saringan yang umum digunakan tidak
dapat menyaring virus. Penyaringan dilakukan dengan untuk mensterilkan
cairan
yang tidak tahan terhadap pemanasan dengan suhu tinggi seperti : serum,
larutan yang mengandung enzim, toksin kuman, ekstrak sel, antibiotik dan
asam amino.
c. Radiasi / Penyinaran
Mikroorganisme dapat dibunuh dengan penyinaran yang memakai sinar
ultrraviolet yang panjang gelombangnya antara 220 – 290 nm. Radiasi paling
efektif adalah 253,7 nm. Sinar matahari langsung mengandung sinar ultraviolet
290 nm, sehingga sinar matahari adalah sinar yang bersifat bakterida yang baik.
2. Sterilisasi Dengan Cara Kimia
Menurut (Lay,1982), Zat kimia yang dapat digunakan untuk sterilisasi dapat
berwujud:
a. Gas : Ozon, formaldehyde, ethylene oxide gas
b. Larutan : deterjen, yodium, alcohol, peroksida fenol, formalin, AgNO3 dan
merkuroklorid
Sterilisasi dengan cara kimia antara lain dengan disinfektan. Daya kerja
antimikroba disinfektan ditentukan oleh konsentrasi, waktu dan suhu. Beberapa
contoh desinfektan yang digunakan antara lain: Desinfektan lingkungan misalnya:
1. Untuk permukaan meja : lisol 5%, formalin 4% dan alcohol.
2. Untuk di udara : natrium hipoklorit 1%, lisol 5% atau senyawa fenol lain
3. Desinfektan kulit atau luka : dicuci denngan air sabun, providon yodium dan etil
alkohol 70%.

Autoklaf adalah alat untuk mensterilkan berbagai macam alat dan bahan yang
digunakan dalam mikrobiologi menggunakan uap air panas bertekanan. Tekanan yang
digunakan pada umumnya 15 Psi atau sekitar 2 atm dan dengan suhu 121 oC (250oF).
Jadi tekanan yang bekerja ke seluruh permukaan benda adalah 15 pon tiap inchi2 (15
Psi = 15 pounds per square inch). Lama sterilisasi yang dilakukan biasanya 15 menit
untuk 121oC. Autoclave yaitu alat serupa tangki minyak yang terdapat diisi dengan
uap. Medium yang disterilkan ditempatkan didalam autoclave ini selama 15 sampai 20
menit, hal ini tergantung pada banyak sedikitnya yang diperlukan untuk sterilisasi.
Medium yang akan disterilkan itu lebih baik ditempatkan dalam beberapa botol agak
kecil dari pada dikumpul dalam satu botol yang besar (Black Sweet Ranger, 2008).
Pada saat melakukan sterilisasi, kita sebenarnya memaparkan uap jenuh pada
tekanan tertentu selama waktu dan suhu tertentu pada suatu objek, sehingga terjadi
pelepasan energi laten uap yang mengakibatkan pembunuhan mikroorganisme secara
inversibel akibat denaturasi atau koagulasi protein sel (Hadioetomo, 1993).
Menurut (Lucas, 2006), Sterilisasi demikian merupakan metode yang paling
efektif dan ideal karena:
- Uap merupakan pembawa (carrier) energi termal paling efektif dan semua lapisan
pelindung luar mikroorganisme dapat dilunakkan, sehinggamemungkinkan terjadi
koagulasi.
- Bersifat nontoksik, mudah diperoleh, dan relatif mudah dikontrol.
Menurut (Indra, 2008), faktor-faktor yang mempengaruhi sterilisasi uap yaitu :
a. Waktu
Apabila mikroorganisme dalam jumlah besar dipaparkan terhadap uap jenuh pada
suhu yang konstan, maka semua mikroorganisme tidak akan terbunuh pada saat
bersamaan.
b. Suhu
Peningkatan suhu akan menurunkan waktu proses sterilisasi secara dramatis.
c. Kelembapan
Efek penambahan daya bunuh pada sterilisasi uap disebabkan kelembapan akan
menurunkan suhu yang diperlukan agar terjadi denaturasi dan koagulasi pritein.
Menurut (Anneke, 211), adapun fungsi dari dilakukannya steriliasi tersebut ialah:
- Agar terjamin kebersihan alat
- Menyiapkan peralatan dalam keadaan siap pakai
- Mencegah peralatan cepat rusak
- Mencegah terjadinya infeksi silang
- Sebagai penetapan akhir alat tersebut telah siap pakai