Anda di halaman 1dari 12

KEGIATAN BELAJAR 3

PENDEKATAN DAN METODE PENAFSIRAN


ALQURAN

INDIKATOR KOMPETENSI

1. Menjelaskan konsep tafsir bi al-ma’tsur, tafsir bi al-ra’y, dan tafsir isyari.


2. Menganalisis klasifikasi dan penerapan tafsir bi al-ma’tsur, tafsir bi al-ra’y, dan
tafsir isyari.
3. Menjelaskan konsep metode tahlili, ijmali, muqaran, dan maudhu’i.
4. Menganalisis penerapan metode tahlili, ijmali, muqaran, dan maudhu’i.

A. URAIAN MATERI
Pada zaman Nabi Saw para sahabat tidak membutuhkan suatu pendekatan atau
metode khusus dalam memahami ayat-ayat Alquran, karena segala permasalahan
langsung disampaikan kepada Nabi Saw dan beliau sendiri yang memberikan penjelasan.
Demikian juga pada masa sahabat, mereka adalah orang-orang yang mengetahui
bagaimana Alquran diturunkan dan bagaimana Nabi Saw menjelaskan.
Ketika zaman sudah semakin jauh dengan Nabi Saw dan para sahabat, sementara
penjelasan terhadap petunjuk-petunjuk Alquran semakin dibutuhkan, maka para ulama di
bidang tafsir melakukan ijtihadnya masing-masing untuk melakukan penafsiran Alquran.
Adapun sumber informasi yang digunakan untuk menjelaskan ayat-ayat Alquran adalah
riwayat-riwayat yang dianggap dapat dipercaya baik dari hadis Nabi Saw maupun atsar.
Dalam melakukan ijtihadnya, sebagaian ulama menggunakan riwayat-riwayat tersebut
sebagai sumber utama penafsirannya dan sebagaian ulama mufassir yang lain
menggunakan riwayat-riwayat tersebut sebagai landasan berpikir yang kemudian
dilakukan ijtihad sesuai dengan pendapatnya masing-masing. Karena itu ditinjau dari
pendekatannya, penafsirannya dibagi menjadi tiga, yaitu tafsir bi al-ma’tsur , tafsir bi al-
ra’y dan tafsir bi al-isyarah atau kemudian disebut tafsir isyari.
1. Pendekatan Penafsiran Alquran
a. Tafsir bi al-Ma’tsur

1
Tafsir bi al-Ma’tsur adalah pendekatan yang digunakan dalam menafsirkan
Alquran yang didasarkan kepada penjelasan-penjelasan yang diperoleh melalui
riwayat-riwayat pada sunnah, hadis maupun atsar, termasuk ayat-ayat Alquran
yang lain. Oleh karena itu, tafsir bi al-ma’tsur disebut juga tafsir bi al-riwayah.
Selain hadis Nabi Saw, atsar sahabat dianggap mampu menjelaskan ayat Alquran
karena sahabat Nabi Saw dipandang sebagai orang yang banyak mengetahui
Alquran dan bergaul bersama Nabi Saw. Demikian juga para ulama di masa
tabi’in yang dianggap juga sebagai orang yang bertemu langsung dan berguru
kepada sahabat. Oleh karena itu, penafsiran bi al-riwayah ini dinilai sebagai penafsiran
terbaik terhadap Alquran sebab diasumsikan lebih terjaga dari kekeliruan dan
penyimpangan dalam menafsirkan Alquran.
Secara rinci, pendekatan tafsir bi al-ma’tsur memiliki beberapa cara dalam
menafsirkan ayat Alquran, yaitu;
a) Penafsiran ayat dengan ayat Alquran yang lain
Suatu ayat dapat ditafsirkan dengan ayat yang lain, baik ayat itu kelanjutan
dari ayat yang ditafsirkan ataupun ayat yang menafsirkan berada di surat yang
lain. Misalnya pada surat al-Ikhlas ayat pertama yang menjelaskan tentang
ketauhidan Allah Swt, ditafsirkan oleh ayat berikutnya, yaitu ayat kedua, ketiga
dan keempat. Namun ayat pertama surat al-Ikhlas tentang ketauhidan ini dapat
ditafsirkan lagi oleh ayat yang lain yang berada di surat yang lain. Misalnya surat
al Hasyr (QS 59;22-24) yang menjelaskan sifat-sifat Allah Swt:

َ‫َّللاُ الهذِي ََل إِ َٰلَه‬ ‫الرحْ َٰ َم ُن ه‬


‫) ُه َو ه‬22( ‫الر ِحي ُم‬ ‫ب َوال ه‬
‫ش َها َدةِ ۖ ُه َو ه‬ َ ۖ ‫َّللاُ الهذِي ََل إِ َٰلَهَ إِ هَل ُه َو‬
ِ ‫عا ِل ُم ْالغَ ْي‬ ‫ُه َو ه‬
َ‫ع هما يُ ْش ِر ُكون‬َ ِ‫َّللا‬ ُ ۚ ‫هار ْال ُمت َ َكبِ ُر‬
‫س ْب َحانَ ه‬ ُ ‫يز ْال َجب‬ ُ ‫س ََل ُم ْال ُمؤْ ِم ُن ْال ُم َهي ِْم ُن ْال َع ِز‬
‫ُّوس ال ه‬ُ ‫ِإ هَل ُه َو ْال َم ِلكُ ْالقُد‬
ۖ‫ض‬ِ ‫ت َو ْاْل َ ْر‬ ‫سبِ ُح َلهُ َما فِي ال ه‬
ِ ‫س َم َاوا‬ َ ُ‫ص ِو ُر ۖ َلهُ ْاْل َ ْس َما ُء ْال ُح ْسن َٰى ۚ ي‬
َ ‫ئ ْال ُم‬ ُ ‫ار‬ ِ َ‫َّللاُ ْالخَا ِل ُق ْالب‬
‫) ُه َو ه‬22(
)22( ‫يز ْال َح ِكي ُم‬
ُ ‫َو ُه َو ْالعَ ِز‬
Artinya:
“Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang
nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang(22) Dialah Allah Yang
tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang
Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang

2
Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang
mereka persekutukan(23)Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan,
Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya
apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

b) Penafsirat ayat Alquran dengan hadis Nabi Saw


Ayat-ayat Alquran lebih banyak yang bersifat global (mujmal) daripada yang
terperinci (tafshil). Untuk dapat memahami kandungannya tidak bisa hanya dari
ayat tersebut. Oleh karena itu, di sinilah hadis Nabi Saw berfungsi sebagai tafsir
terhadap ayat-ayat Alquran. Misalnya, ayat tentang perintah salat disampikan
dalam Alquran secara umum tanpa menyertakan penjelasan tatacaranya. Berikut
bunyinya:

‫ار َكعُوا َم َع ه‬
)٣٤( َ‫الرا ِكعِين‬ ْ ‫الز َكاة َ َو‬ ‫َوأَقِي ُموا ال ه‬
‫ص ََلة َ َوآتُوا ه‬
Artinya:
"Dan dirikanlah sholat, tunaikan zakat dan rukuklah bersama orang-orang yang
ruku”. (QS. Al-Baqarah: 43)
Ayat tersebut kemudian ditafsirkan oleh hadis Nabi Saw:

‫ َو ْل َيؤُ هم ُك ْم‬،‫صَلة ُ فَ ْلي َُؤذ ِْن لَ ُك ْم أ َ َح ُد ُك ْم‬


‫ت ال ه‬
ِ ‫ض َر‬ َ ُ ‫صلُّوا َك َما َرأ َ ْيت ُ ُمو ِني أ‬
َ ‫ فَإ ِ َذا َح‬،‫ص ِلي‬ َ
)‫ي‬ ِ ‫أ َ ْكبَ ُر ُك ْم ( َر َواهُ ْالبُخ‬
ُّ ‫َار‬
Artinya:
“Salatlah sebagaimana kalian melihat aku sholat, maka apabila telah tiba waktu
sholat hendaklah salah seorang di antara kalian mengumandangkan azan dan
orang yang lebih tua di antara kalian menjadi imam.” (HR. Bukhari)

c) Penafsirat ayat Alquran dengan keterangan sahabat Nabi saw. dan tabi’in.
Setelah mendapatkan penjelasan melalui riwayat hadis, kemudian bisa
diperkaya dengan penjelasan para sahabat dan tabi’in. Keterangan dari para
sahabat atau tabi’in penting karena mereka adalah orang-orang yang dekat

3
bersama Nabi Saw dan sangat memahami situasi dan kondisi bagaimana Alquran
itu diturunkan.
Contohnya seperti tafsir terhadap Surat al-Baqarah )QS 2: 3):

ِ ‫الهذِينَ يُؤْ ِمنُونَ ِب ْالغَ ْي‬


....‫ب‬
Artinya:
“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib…”
Menurut Ibn ‘Abbas sebagaimana diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalhah bahwa
tafsir dari kata yu’minuna (mereka mengimani) adalah yushaddiquuna (mereka
membenarkan). Sementara menurut Ma’mar sebagaimana diriwayatkan oleh al-
Zuhri, maksud dari yu’minuna adalah iman yang disertai mengamalkan. Sedangkan
menurut Abu Ja’far al-Razi dari Rabi’ Ibn Anas, yang dimaksud dengan yu’miuna adalah
yakhsyauna yang berarti mereka takut. (Katsir, 2006: 43)
Adapun mengenai kitab tafsir yang menggunakan pendekatan bi al-ma’tsur
dalam penafsirannya di antaranya adalah Tafsir Jami’ al-Bayan fi Tafsir Alquran karya
Ibnu Jarir at-Thabari dan Tafsir Alquran al-‘Azim karya Ibnu Katsir. Dua tafsir ini sangat
popular dan menjadi rujukan yang otoritatif dalam kategori tafsir bi al-ma’tsur.

b. Tafsir bi al-Ra’y atau tafsir bi al-Dirayah


Al-Ra’y berarti pikiran atau nalar, karena itu tafsir bi al-ra’y adalah penafsiran
seorang mufassir yang diperoleh melalui hasil penalarannya atau ijtihadnya, di mana
penalaran sebagai sumber utamanya. Seorang mufassir di sini tentu saja adalah orang
yang secara kompeten keilmuannya dan telah dianggap telah memenuhi persyaratan
sebagai mufassir.
Istilah tafsir bi al-ra’y pada dasarnya muncul untuk membedakan dengan
tafsir bi al-ma’tsur. Perbedaan tersebut dalam konteks bahwa bukan berarti secara
operasional dalam melakukan penafsiran Alquran para sahabat tidak menggunakan
nalar, melainkan karena keistimewaan mereka yang tidak dimiliki oleh generasi
sesudahnya (Shihab, 2013: 363). Sehingga sekalipun para sahabat sebagai generasi
awal penerima Alquran menafsirkan Alquran dengan nalar dan bimbingan nabi,
maka ulum al-qur’an tidak menyebutnya dengan tafsir bi al-ra’y.

4
Sebagaimana pendekatan tafsir yang lain, pendekatan tafsir bi al-ra’y juga
memiliki kelebihan dan kelemahan. Di antara kelebihan pendekatan ini adalah
mempunyai ruang lingkup yang luas, dapat mengapresiasi berbagai ide dan melihat
Alquran secara lebih lebar sehingga dapat memahaminya secara komprehensif.
Kendatipun demikian, bukan berarti pendekatan ini tidak mempunyai
kelemahan. Kelemahaman pendekatan tafsir bi al-ra’y bisa terjadi ketika terjebak
atau secara tidak sadar mufassir mengungkap petunjuk berdasarkan ayat yang
bersifat parsial, sehingga dapat memberikan kesan makna Alquran tidak utuh dan
pernyataannya tidak konsisten. Di samping itu, penafsiran dengan pendekatan ini
juga sangat rentan dengan subjektivitas yang dapat memberikan pembenaran
terhadap mazhab atau pemikiran tertentu sesuai dengan kecenderungan mufassir.
Hal lain yang juga bisa menjadi kelemahan dari pendekatan tafsir bi al-ra’y ini adalah
peluang masuknya cerita-cerita isra’iliyat karena kelemahan dalam membatasi
pemikiran yang berkembang (al-Shabuni, 1999).
Salah seorang mufassir yang menggunakan pendekatan bi al-ra’y dalam kitab
tafsirnya adalah Abd al-Qasim Mahmud al-Zamakhsari. Dalam melakukan
penafsirannya, ia mengemukakan pemikirannya namun tetap didukung dengan dalil-
dalil hadis atau ayat Alquran, baik riwayat yang berhubungan dengan sabab al-nuzul
atau makna ayat. Meskipun demikian, ia tidak terikat oleh riwayat dalam penafsirannya.
Dengan kata lain, jika ada riwayat yang mendukung penafsirannya ia akan merujuknya
dan jika tidak, ia akan tetap konsisten dengan hasil penalarannya (Alfiyah, 2018). Selain
al-Zamakhsari, mufassir yang juga menggunakan pendekatan ini adalah Fakhruddin al-
Razi dalam tafsirnya Mafatih al-Ghaib dan al-Baidhawi dalam Tafsir Anwar at-Tanzil wa
Asrar at-Ta’wil.
Contoh yang tampak dari tafsir dengan pendekatan bi al-ra’y adalah penafsiran
Sayyid Qutub dalam kitab tafsir Fi Zilal al-Qur’an pada saat menjelaskan Surat al Fatihah
(SQ 1: 4) sebagai berikut:

(٣) ِ‫مَلِﻚِ يَﻮْمِ الﱢﺪيﻦ‬


Artinya:
“Tuhan yang menguasai hari pembalasan.”
5
Ayat ini termasuk akidah pokok yang fundamental dalam keyakinan umat Islam
yakni mempercayai hari akhirat. Kata "yang menguasai atau penguasa" menunjukkan
derajat kuasa yang paling tinggi. "Hari Pembalasan" ialah hari penentuan balasan di
akhirat. Banyak orang yang mempercayai ketuhanan Allah dan percaya bahwa Ia
pencipta alam semesta, namun tidak sedikit dari mereka yang tidak percaya kepada hari
Pembalasan.
Kepercayaan terhadap hari pembalasan dapat meletakkan pandangan dan hati
manusia pada sebuah alam yang lain setelah tamatnya alam dunia. Pandangan ini
mampu menjadi kontrol cara berkehidupan di dunia agar tidak melupakan untuk
mempersiapkan diri di kehidupan setelah hari pembalasan.
Dari contoh penafsiran dengan pendekatan bi al ra’y di atas menjadi jelas bahwa
para mufassir tidak meninggalkan riwayat dan bukan semata-mata menafsirkan
Alquran dengan pendapatnya sendiri. Sama halnya dengan tafsir bi al-ma’tsur yang
tentu tidak berdasar riwayat an sich, melainkan tetap melibatkan penalaran. Maka dari
itu, faktor yang membedakan antara tafsir bi al-ra’y dan tafsir bi al-ma’tsur adalah aspek
dominannya.

c. Tafsir bi al-Isyarah atau Tafsir Isyari


Tafsir Menurut bahasa kata isyari berasal dari kata asyara-yusyiru-isyaratan
yang berarti memberi isyarat atau tanda dan berarti pula menunjukkan. Sedangkan
menurut istilah tafsir isyari adalah suatu upaya untuk menjelaskan kandungan Alquran
dengan menakwilkan ayat-ayat sesuai isyarat yang tersirat dengan tanpa mengingkari
yang tersurat atau zahir ayat (al-Zahabi, 1976: 352). Senada dengan definisi tersebut
menurut Shubhi al-Shalih tafsir isyari berarti menjelaskan kandungan Alquran melaui
takwil dengan cara menggabungkan yang tersurat dan tersirat.
Secara lebih spesifik M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa dalam tafsir isyari
terdapat upaya penarikan makna ayat yang didasarkan pada kesan yang ditimbulkan
oleh lafaz ayat, di mana dalam benak para mufassir telah memiliki pencerahan batin
atau hati dan pikiran. Hal itu dilakukan tanpa mengabaikan atau membatalkan makna
secara lafazh (Shihab, 2013: 373).

6
Sekalipun pendekatan ini berdasarkan isyarat dari hasil perenungan spiritual,
namun hanya isyarah shahihah saja yang dapat diterima. Abdul Wahid (Wahid, 2020)
menyebutkan syarat-syarat diterimanya sebuah tafsir isyari sebagai berikut:
1. Tidak bertentangan dengan makna lahir (pengertian tekstual) Alquran.
2. Penafsirannya didukung atau diperkuat oleh dalil-dalil syara’ lainnya.
3. Penafsirannya tidak bertentangan dengan dalil syara‘ atau rasio.
4. Penafsirannya tidak menganggap bahwa hanya itu saja tafsiran yang dikehendaki
Allah, bukan pengertian tekstual ayat terlebih dahulu.
5. Penafsirannya tidak terlalu jauh sehingga tidak ada hubungannya dengan lafadz.
Sebagai contoh untuk penafsiran dengan pendekatan isyari ini seperti
penafsiran al-Alusi terhadap surat Al-Baqarah (QS 2: 238) sebagai berikut:
َ ‫ص ََلةِ ْال ُو ْس‬
َ‫ط َٰى َوقُو ُموا ِ هَلِلِ قَانِتِين‬ ِ ‫صلَ َوا‬
‫ت َوال ه‬ ‫علَى ال ه‬ ُ ِ‫َحاف‬
َ ‫ظوا‬
Artinya:
“Peliharalah salat-salat dan salat wustha serta tegakkan untuk Allah karena
ketaatan.”

Al-Alusi menafsiri al-salat al-wustha pada ayat di atas dengan penjelasan lima
macam shalat sebagai berikut:

‫ وصَلة الﻨﻔﺲ بﺨﻤﻮدها عﻦ دواعى‬،‫إن الﺼلﻮات خﻤﺲ صَلة الﺴﺮ بﺸهﻮد مقام الغﯿﺐ‬
‫ وصَلة‬،‫ وصَلة الﺮوح بﻤﺸاهﺪة الﻮصﻞ‬،‫ و صَلة القلﺐ بﻤﺮاقﺒﺘه أنﻮار الﻜﺸﻒ‬،‫الﺮيﺐ‬
‫الﺒﺪن بﺤﻔﻆ الﺤﻮاس وإقامﺔ الﺤﺪود‬
Artinya :
“Sesungguhnya shalat itu ada lima, yaitu 1) Shalat sirr dengan menyaksikan maqam
ghaib, 2) shalat nafs, yaitu dengan cara memadamkan hal-hal yang dapat mengundang
keragu-raguan, 3) Shalat qalb, dengan senantiasa berada dalam penantian akan
munculnya cahaya kasyf (penyingkapan), 4) shalat ruh dengan menyaksikan wasl
(pengabungan/peyatuan dengan Allah); 5) Shalat badan dengan cara memelihara
panca indera dan menegakkan ketentuanketentuan hukum Allah.”

7
Bila dilihat dari terminologi yang digunakan, maka sebenarnya al-Alusi memahami salat
al-wustha dengan lima jenis salat di atas cenderung dengan pendekatan isyari/sufistik.

2. Metode Penafsiran Alquran


a. Metode Tahlili (Analitis)
Metode tahlili adalah suatu metode dalam menjelaskan ayat Alquran dengan cara
menguraikan ayat demi ayat, surat demi surat, sesuai tata urutan dengan penjelasan
yang cukup terperinci sesuai dengan kecenderungan masing-masing mufassir terhadap
aspek-aspek yang ingin disampaikan. Misalnya, menjelaskan ayat disertai aspek qira’at,
asbab al-nuzul, munasabah, balaghah, hukum dan lain sebagainya.
Contoh kitab tafsir yang disusun dengan metode ini adalah kitab Tafsir Jami li
Ahkam Alquran karya al-Qurtubi, kitab Tafsir Jami’ al-Bayan fi Tafsir Alquran karya Ibnu
Jarir at-Thabari, Tafsir Alquran al-Adzim karya Ibnu Katsir dan kitab Tafsir Alquran al-
Karim karya at-Tusturi.
Berikut adalah contoh penafsiran dalam kitab tafsir Ibnu Katsir terhadap Surat al
Ahzab ayat 30:

‫علَى‬
َ ‫ض ْعفَي ِْن َو َكانَ ذَ ِل َك‬ ُ َ‫ف لَ َها ْالعَذ‬
ِ ‫اب‬ ْ ‫ع‬
َ ‫ضا‬
َ ُ‫ش ٍة ُمبَ ِينَ ٍة ي‬
َ ‫اح‬ ِ ْ ‫سا َء النهبِي ِ َم ْن يَأ‬
ِ َ‫ت ِم ْن ُك هن بِف‬ َ ِ‫يَا ن‬
‫ِيرا‬ ‫ه‬
ً ‫َّللاِ َيس‬
Artinya:
“Hai istri-istri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang
nyata, niscaya akan dilipatgandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah
yang demikian itu mudah bagi Allah.”

Allah Swt. berfirman menasihati istri-istri Nabi Saw. yang telah memilih Allah dan
Rasul-Nya serta pahala di negeri akhirat, agar selanjutnya mereka tetap menjadi istri
Rasulullah Saw. Maka sangatlah sesuai bila diceritakan kepada mereka ketentuan
hukumnya dan keistimewaan mereka yang melebihi wanita-wanita lainnya. Disebutkan
bahwa barangsiapa di antara mereka yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata -
menurut Ibnu Abbas, pengertian perbuatan keji ini ditakwilkan dengan makna
membangkang dan berakhlak buruk- niscaya akan mendapatkan hukuman dua kali lipat
dari wanita-wanita lainnya. Atas dasar hipotesis apapun, maka ungkapan ayat ini

8
hanyalah semata-mata pengandaian. Sementara pengandaian itu tidak berarti pasti
terjadi. Pengertiannya sama dengan firman Allah Swt. Dalam ayat yang lain, yaitu:

…‫ط هن َع َملُ َك‬ َ ‫ي ِإلَي َْك َو ِإلَى الهذِينَ ِم ْن قَ ْب ِل َك َلئِ ْن أ َ ْش َر ْك‬


َ ‫ت لَيَ ْح َب‬ ِ ُ ‫َولَقَ ْد أ‬
َ ‫وح‬
Artinya:
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang
sebelummu, "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah
amalanmu...” (QS. Az-Zumar: 65)

Seperti disebutkan juga dalam ayat lain:


َ‫ع ْن ُه ْم َما َكانُوا َي ْع َملُون‬ َ ‫َولَ ْو أ َ ْش َر ُكوا لَ َح ِب‬
َ ‫ط‬
Artinya:
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka
amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An'am: 88)

Mengingat kedudukan istri-istri Nabi Saw. tinggi, maka sesuailah jika ada salah
seorang dari mereka melakukan suatu dosa, siksaannya akan diperberat demi menjaga
kehormatan mereka dan kedudukan mereka yang tinggi. Berdasarkan riwayat Malik
dari Zaid ibnu Aslam dan Ibn Abi Najih dari Mujahid bahwa maksud dari siksaan itu
berlaku di dunia dan akhirat. Hal yang demikian sangatlah mudah bagi Allah.

b. Metode Ijmali (Global)


Metode ijmali adalah sebuah metode dalam menjelaskan ayat Alquran dengan cara
mengemukakan makna yang bersifat global dengan bahasa yang ringkas supaya mudah
dipahami. Di sini mufassir menjelaskan pesan-pesan pokok dari ayat secara singkat
tanpa menguraikan panjang lebar. Metode ini seperti yang lazim dilakukan oleh Jalal al-
Din al-Suyuthi dan Jalal al-Din al-Mahalli dalam kitabnya Tafsir Jalalain dan Muhammad
Farid Wajdi dalam Tafsir Alquran al-Azhim.
Berikut adalah contoh penafsiran surat al-Fatihah ayat 3-7 dalam kitab Tafsir
Jalalain :

9
‫(الرحمن الرحيم) أي ذي الرحمﺔ وهي إرادة الخير ألهله ( َم ِل ِك يوم الدين) أي الجزاء‬
‫ص بالذكر ألنه َل ملك ظاهرا ً فيه ألحد إَل هلل تعالى بدليل {لمن‬
‫ و ُخ ه‬، ‫وهو يوم القيامﺔ‬
‫الملك اليوم هلل} ومن قرأ {مالك} فمعناه مالك األمر كله في يوم القيامﺔ أو هو موصوف‬
‫بذلك دائما ً {كغافر الذنب} فصح وقوعه صﻔﺔ لمعرفﺔ (إياك نعبد وإياك نستعين) أي‬
‫نخصك بالعبادة من توحيد وغيره ونطلب المعونﺔ على العبادة وغيرها (اهدنا الصراط‬
‫ (صراط الذين أنعمت عليهم) بالهدايﺔ ويبدل من‬: ‫ ويبدل منه‬. ‫المستقيم) أي أرشدنا إليه‬
‫الذين بصلته (غير المغضوب عليهم) وهم اليهود (وَل) غير (الضالين) وهم النصارى‬
‫ ونكتﺔ البدل إفادة أن المهتدين ليسوا يهودا ً وَل نصارى وهللا أعلم بالصواب وإليه‬،
ً ‫ وصلى هللا على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما ً كثيرا‬، ‫المرجع والمآب‬
. ‫ وَل حول وَل قوة إَل باهلل العلي العظيم‬، ‫ وحسبنا هللا ونعم الوكيل‬، ً ‫دائما ً أبدا‬
Dalam penafsiran di atas tampak sekali disampaikan secara singkat dan global,
misalnya kata al-rahman dan al-rahim dengan makna yang memiliki rahmat.
Maksudnya yaitu yang berkehendak memberikan kebaikan kepada yang berhak
mendapatkannya. Setelah itu, kemudian berganti kepada ayat berikutnya dan begitu
seterusnya. Inilah tafsir dengan metode ijmali.

c. Metode Muqaran (Komparatif)


Metode muqaran adalah metode menjelaskan ayat-ayat Alquran dengan
membandingkan dengan ayat lain yang memiliki kedekatan atau kemiripan tema
namun redaksinya berbeda; atau memiliki kemiripan redaksi tetapi maknanya berbeda;
atau membandingkannya dengan penjelasan teks hadis Nabi Saw, perkataan sahabat
maupun tabi’in.
Di samping itu, metode ini juga mengkaji pendapat para ulama tafsir kemudian
membandingkannya. Bisa juga berupa membandingkan antara satu kitab tafsir dengan
kitab tafsir lainnya agar diketahui identitas corak kitab tafsir tersebut. Tafsir Muqaran
dapat juga berbentuk perbandingan teks lintas kitab samawi, seperti Alquran dengan
Injil/Bibel, Taurat atau Zabur (Ar-Rumi, 1419 H: 60).

10
d. Metode Maudhu’i (Tematik)
Metode terakhir yang lazim digunakan dalam menafsirkan Alquran adalah metode
maudhu’I atau metode tematik. Metode ini berupaya menjelaskan ayat-ayat Alquran
dengan mengambil suatu tema tertentu. Kelebihan metode ini mampu menjawab
kebutuhan zaman yang ditujukan untuk menyelesaikan suatu permasalahan, praktis dan
sistematis serta dapat menghemat waktu, dinamis sesuai dengan kebutuhannya, serta
memberikan pemahaman Alquran tentang satu tema menjadi utuh. Namun
kekurangannya bisa jadi dalam proses inventarisasi ayat-ayat setema tidak tercakup
seluruhnya, atau keliru dalam mengategorikan yang akhirnya membatasi pemahaman
ayat.
Al-Farmawi (al-Farmawi: tth, 62) telah merinci langkah-langkah yang harus
ditempuh oleh seorang mufassir ketika melakukan proses penafsiran menggunakan
metode tematik, sebagai berikut:
a. Menetapkan masalah yang akan dibahas.
Permasalahan yang dibahas diprioritaskan pada persoalan yang menyentuh kehidupan
masyarakat yang berarti bahwa seorang mufassir harus memiliki pengetahuan yang
memadai tentang masyarakat.
b. Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut.
c. Menyusun runtutan ayat sesuai dengan masa turunnya, disertai pengetahuan tentang
asbab nuzulnya dan ilmu-ilmu lain yang mendukungnya.
d. Memahami korelasi ayat-ayat tersebut dalam suratnya masing-masing. Hal ini terkait
erat dengan ilmu munasabat.
e. Menyusun pembahasan dalam kerangka yang sempurna (membuat out line).
f. Melengkapi pembahasan dengan hadis-hadis yang relevan dengan pokok bahasan.
g. Mempelajari ayat-ayat tersebut secara keseluruhan dengan jalan menghimpun ayat-
ayatnya yang mempunyai pengertian yang sama atau mengkompromikan antara yang
‘amm (umum) dengan yang khash (khusus), mutlak dan muqayyad (terikat), atau yang
tampak pada lahirnya bertentangan sehingga seluruhnya dapat bertemu dalam satu
muara tanpa perbedaan dan pemaksaan makna.

11
Adapun di antara karya-karya tafsir yang telah menggunakan metode ini adalah
karya Abbas Mahmud al-Aqqad yang berjudul al-Insan fi al-Qur’an dan al-Mar’ah fi al-
Qur’an; dan karya Abu al-A’la Al-Maududi berjudul al-Riba fi al-Qur’an; karya al-Jashshash,
berjudul Tafsir Ahkam al-Qur`an dan karya yang cukup populer dari Abu Abdullah
Muhammad bin Ahmad al-Anshary al-Qurtuby yang berjudul al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an.
Demikian, jelaslah pendekatan dan metode penafsiran Alquran. Metode penafsiran
Alquran dengan masing-masing kelebihan dan kelemahannya tetap merupakan upaya
ilmiah besar dan mulia dalam menyuguhkan pemahaman Alquran.

12