Anda di halaman 1dari 47

No. Daftar FPIPS: 4611/UN.40.2.

8/PL/2015

POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA


MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
(Studi Deskriptif terhadap Masyarakat Kampung Kuta Desa Karangpaningal
Kecamatan Tambaksari Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat)

SKRIPSI
diajukan untuk memenuhi sebagian syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Sosiologi

oleh
Dessy Lismiati
NIM 1100898

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI


FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2015
Dessy Lismiati, 2015
POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA
MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI

(Studi Deskriptif terhadap Masyarakat Kampung Kuta Desa Karangpaningal


Kecamatan Tambaksari Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat)

oleh

Dessy Lismiati
NIM 1100898

diajukan untuk memenuhi sebagian syarat memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan


pada Program Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Universitas Pendidikan Indonesia

©Dessy Lismiati 2015


Universitas Pendidikan Indonesia
2015

Hak cipta dilindungi undang-undang


Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhnya atau sebagian,
Dengan cetakan ulang, di fotokopi, atau cara lainnya tanpa seizin penulis

Dessy Lismiati, 2015


POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
DESSY LISMIATI

POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA


MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI

(Studi Deskriptif terhadap Masyarakat Kampung Kuta Desa Karangpaningal


Kecamatan Tambaksari Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat)

disetujui dan disahkan oleh pembimbing :

Pembimbing I

Dr. Yadi Ruyadi, M.Si.


NIP. 196205161989031002

Pembimbing II

Drs. H. Wahyu Eridiana, M.Si.


NIP. 195505051986011001

Mengetahui,

Ketua Program Studi Pendidikan Sosiologi

Dra. Hj. Siti Komariah, M.Si, Ph.D.


Dessy Lismiati, 2015
POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
NIP. 196804031991032002

Dessy Lismiati, 2015


POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Pola Pewarisan Nilai dan Norma Masyarakat Kampung Kuta
dalam Mempertahankan Tradisi
(Studi Deskriptif terhadap Masyarakat Kampung Kuta Desa Karangpaningal
Kecamatan Tambaksari Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat)

Dessy Lismiati
NIM 1100898
ABSTRAK
Tradisi merupakan kegiatan sekelompok masyarakat yang diturunkan dari generasi ke
generasi berupa kebiasaan yang kemudian menjadi pedoman bagi masyarakat itu sendiri.
Tradisi mengandung banyak nilai didalamnya, memberikan manfaat dan membantu
masyarakat dalam segala hal. Tradisi memberi pondasi bagi kehidupan sosial, tradisi
memberi kekuasaan ketika sulit memutuskan sesuatu akibat tidak adanya hukum tertulis
yang mengatur hal tersebut, selain itu tradisi pun dapat mempersatukan masyarakat yang
pada dasarnya memiliki perbedaan. Di beberapa daerah, konsep tradisi cenderung sudah
menghilang. Setiap masyarakat kini terlihat sama dan tidak seharmonis masyarakat
zaman dahulu yang memegang tradisi. Kehilangan tradisi membuat masyarakat
kehilangan jati diri, terutama setelah munculnya modernisasi dan globalisasi. Untuk
mempertahankan tradisi, masyarakat perlu melakukan pewarisan atas nilai dan norma
yang dianut masyarakat agar tradisi yang ada dapat dilestarikan. Cara suatu kelompok
dalam mewariskan apa yang mereka punya berbeda-beda. Kampung Kuta merupakan
salah satu kampung adat yang masih kokoh mempertahankan tradisi di tengah pesatnya
pembangunan dan perubahan yang terjadi saat ini. Bertahannya tradisi yang ada pada
masyarakat Kampung Kuta tak lepas dari cara masyarakat dalam mewariskan tradisi yang
ada pada generasi penerusnya. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini akan
menggambarkan tradisi masyarakat Kampung Kuta, nilai dan norma yang terkandung
dalam setiap tradisi, pola pewarisan nilai dan norma masyarakat Kampung Kuta dalam
mempertahankan tradisi, serta mendeskripsikan faktor-faktor yang menyebabkan masih
bertahannya tradisi masyarakat Kampung Kuta. Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu
untuk mengetahui gambaran mengenai pola pewarisan nilai dan norma masyarakat
Kampung Kuta dalam mempertahankan tradisi. Penelitian ini menggunakan pendekatan
penelitian kualitatif dan metode deskriptif. Data dikumpulkan dengan cara wawancara
mendalam, observasi, studi dokumentasi dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa; (1) tradisi yang ada di Kampung Kuta meliputi tradisi dalam sistem kepercayaan
berupa tabu-tabu, tradisi berdoa di hutan keramat, tradisi dalam bercocok tanam, tradisi
dalam sistem kemasyarakatan, tradisi nyuguh, tradisi babarit, tradisi sedekah bumi, tradisi
gembyung, tradisi ibing buhun, tradisi gondang buhun dan tradisi terebang; (2) Secara
umum, semua tradisi mengandung nilai dan norma yang diperlukan masyarakat Kampung
Kuta; (3) Pola pewarisan yang dilakukan agen-agen pewaris nilai dan norma dilakukan
dengan cara memberi contoh secara langsung atau dikenal dengan peniruan model,
wejangan-wejangan, keterlibatan secara langsung, upacara adat Nyuguh, upacara adat
Babarit, upacara adat Sedekah Bumi, pergaulan dengan teman sebaya dan cerita-cerita
sejarah dari masyarakat baik tokoh adat maupun pihak lainnya; (4) faktor eksternal dan
internal selama ini sedikitnya pasti memengaruhi masyarakat Kampung Kuta juga tradisi
yang ada, namun sejauh ini faktor-faktor tersebut tidak mengganggu eksistensi tradisi
masyarakat Kampung Kuta sehingga sampai saat ini tradisi-tradisi masyarakat Kampung
Kuta masih dijalankan oleh masyarakat.

Kata Kunci : Pola Pewarisan, Nilai, Norma, Tradisi


Dessy Lismiati, 2015
POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
v
Pattern of Inheritance of Value and Norm in Kampung Kuta in Attempting
Keeping Tradition Existed.
(Descriptive Study on People of Kampung Kuta Desa Karangpaningal Kecamatan
Tambaksari Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat )

Dessy Lismiati
NIM 1100898
ABSTRACT

Tradition is society’s folkways which is inherited by one generation to generation then it


is guideline for society itself. There are a lot of values within tradition, they give people
benefit and helping them in every aspects of social life. Tradition is a foundation for
social life, it has power when something can hardly be decided due to there is no law
which rules it, besides tradition can unite differences among society. In other villages,
tradition has existed no more, people are now homogen no different among them and are
no longer harmonious as they used to be holding tradition in their everyday life. Losing
tradition means losing identity due to modernization and globalization. In keeping
tradition existed, people have to inherite it so that tradition can still exist. The way of
people inheriting the tradition are not the same. Kampung Kuta is one of the village of
indigenous people which still hold tradition existing. The existence of tradition in
Kampung Kuta cannot be divided from their people in inheriting to the next generation.
Based on this problem, this study is to describe about tradition which is had by people in
Kampung Kuta, value and norm within tradition, pattern of inheritance value and norm in
keeping their tradition existed in Kampung Kuta and describe other factors causing
tradition keeping existed. This study is qualitative approach with descriptive method.
Data is collected through depth interview, observation, documentation study and
literature study. The result of this study shows that; (1) tradition in Kampung Kuta
includes religious system which are tabu-tabu, praying in forbidden forest, farming,
kinship, nyuguh, babarit, sedekah bumi, gembyung, ibing buhun, gondang buhun and
tradisi terebang; (2) all traditions in Kampung Kuta have values and norms which are
needed by people of Kampung Kuta; (3) pattern of inheritance is done by agents of
socialization through being role model, giving an act of example, involving directly in
upacara adat Nyuguh, upacara adat Babarit, upacara adat Sedekah Bumi, making friends
with peer groups dan old stories from public figure of indigenous people in Kampung
Kuta ; (4) extern and intern factors get at people of Kampung Kuta and also their tradition
but so far those factors are not threathen for the existence of tradition in Kampung Kuta
so that people still hold their tradition in their everyday life.

Keyword: pattern of inheritance, value, norm, tradition.

Dessy Lismiati, 2015


POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
vi
DAFTAR ISI

LEMBAR HAK CIPTA


LEMBAR PENGESAHAN
LEMBAR PENGUJI
LEMBAR PERNYATAAN
KATA PENGANTAR ...................................................................................... i
UCAPAN TERIMA KASIH ............................................................................ ii
ABSTRAK ......................................................................................................... v
ABSTRACT ...................................................................................................... vi
DAFTAR ISI ...................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL ............................................................................................. xi
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
1.1 Latar Belakang Penelitian ............................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah Penelitian ........................................................ 6
1.3 Tujuan Penelitian .......................................................................... 7
1.4 Manfaat/Signifikansi Penelitian .................................................... 7
1.5 Struktur Organisasi Skripsi ........................................................... 8
BAB II KAJIAN PUSTAKA ........................................................................... 9
2.1 Kebiasaan, Kebudayaan, Tradisi, Nilai, dan Norma ..................... 9
2.1.1 Kebiasaan ............................................................................. 9
2.1.2 Kebudayaan ......................................................................... 10
2.1.3 Konsep Tradisi ..................................................................... 12
2.1.4 Konsep Nilai ........................................................................ 17
2.1.5 Konsep Norma ..................................................................... 24
2.1.6 Hubungan Kebudayaan, Tradisi, Nilai, dan Norma ............. 30
2.2 Sosialisasi, Internalisasi, dan Enkulturasi ..................................... 32
2.2.1 Sosialisasi ............................................................................. 32
2.2.2 Internalisasi .......................................................................... 39
2.2.3 Enkulturasi ........................................................................... 41

Dessy Lismiati, 2015


POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
vii
2.2.4 Sosialisasi, Internalisasi, dan Enkulturasi dalam Pewarisan
Nilai dan Norma .................................................................. 44
2.3 Teori Struktural Fungsional .......................................................... 46
2.3.1 Struktural Fungsional secara Umum .................................... 46
2.3.2 Pewarisan Nilai dan Norma menurut Teori
Struktural Fungsional .......................................................... 51
2.4 Penelitian Terdahulu ..................................................................... 56
2.4.1 Adi M. Farabi ...................................................................... 56
2.4.2 Samsul ................................................................................. 57
2.4.3 Laela Nur Adima Shafa ...................................................... 58
2.4.4 Yovi Restiandari ................................................................. 58
2.4.5 Yani Achdiani ..................................................................... 59
2.4.6 Eka Putri Wardana .............................................................. 60
2.4.7 Kodiran ............................................................................... 61
2.4.8 Biyas Wihantari .................................................................. 62
2.4.9 Tata Abdullah ..................................................................... 63
2.4.10 Tina Kartika ....................................................................... 63
2.4.11 Ayu Wantiasih ................................................................... 64
BAB III METODE PENELITIAN ................................................................. 66
3.1 Desain Penelitian .......................................................................... 66
3.2 Partisipan dan Tempat Penelitian ................................................. 68
3.2.1 Partisipan Penelitian ............................................................ 68
3.2.2 Lokasi Penelitian .................................................................. 69
3.3 Teknik Pengumpulan Data ............................................................ 70
3.3.1 Observasi ............................................................................. 71
3.3.2 Wawancara Mendalam ........................................................ 72
3.3.3 Studi Dokumentasi ............................................................... 73
3.3.4 Studi Literatur ...................................................................... 74
3.4 Penyusunan Alat Pengumpulan Data ............................................ 74
3.4.1 Penyusunan Kisi-kisi Penelitian .......................................... 74
3.4.2 Penyusunan Alat Pengumpul Data ...................................... 75

Dessy Lismiati, 2015


POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
viii
3.4.3 Penyusunan Pedoman Wawancara ...................................... 75
3.4.4 Penyusunan Pedoman Observasi ......................................... 76
3.5 Prosedur Pengumpulan Data ......................................................... 76
3.5.1 Tahap Persiapan ................................................................... 76
3.5.2 Tahap Pelaksanaan ............................................................... 77
3.6 Analisis Data ................................................................................. 77
3.6.1 Data Reduction (Reduksi Data) ........................................... 77
3.6.2 Data Display (Penyajian Data) ............................................. 78
3.6.3 Conclution Drawing Verivication ........................................ 78
3.7 Validitas Data dan Reliabilitas ..................................................... 79
3.7.1 Uji Kredibilitas .................................................................... 79
3.7.3 Dependabilitas dan Konfirmabilitas .................................... 82
BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN .................................................... 84
4.1 Gambaran Umum Kampung Kuta ................................................ 84
4.1.1 Lokasi dan Lingkungan Alam .............................................. 84
4.1.2 Kependudukan Masyarakat Kampung Kuta …… ................ 89
4.2 Sejarah Lahirnya Kampung Kuta ................................................. 91
4.2.1 Legenda Masa Kerajaan Galuh ………………… ................ 91
4.2.2 Legenda Masa Kerajaan Cirebon ………………………… . 96
4.3 Temuan Penelitian ........................................................................ 99
4.3.1 Gambaran Tradisi Masyarakat Kampung Kuta ................... 99
4.3.1.1 Tradisi dalam Sistem Kepercayaan ……. ............... 99
4.3.1.2 Tradisi Memanen Padi …………………................ 106
4.3.1.3 Tradisi dalam Sistem Kemasyarakatan ….. ............ 112
4.3.1.4 Tradisi dalam Membuat Rumah …………. ............ 118
4.3.1.5 Tradisi Nyuguh …………………………. .............. 121
4.3.1.6 Tradisi Sedekah Bumi ………………….. .............. 125
4.3.1.7 Tradisi Babarit ………………………….. .............. 126
4.3.1.8 Tradisi Gondang Buhun ………………… ............. 127
4.3.1.9 Tradisi Gembyung ……………………… .............. 129
4.3.1.10 Tradisi Ibing Buhun ……………………............... 131

Dessy Lismiati, 2015


POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
ix
4.3.1.11 Tradisi Terebang ………………………................ 132
4.3.2 Nilai dan Norma yang Terkandung dalam Tradisi Masyarakat
Kampung Kuta .................................................................... 133
4.3.2.1 Nilai yang Terkandung dalam Tradisi Masyarakat
Kampung Kuta ........................................................ 133
4.3.2.2 Norma yang Terkandung dalam Tradisi Masyarakat
Kampung Kuta ........................................................ 143
4.3.3 Pola Pewarisan Nilai dan Norma dalam Mempertahankan
Tradisi .................................................................................. 145
4.3.3.1 Sosialisasi dan Enkulturasi yang Dilakukan
Keluarga ................................................................... 145
4.3.3.2 Sosialisasi dan Enkulturasi yang Dilakukan
Masyarakat dan Tokoh Adat .................................... 149
4.3.4 Faktor yang Menyebabkan Bertahannya Tradisi Masyarakat
Kampung Kuta .................................................................... 153
4.4 Pembahasan .................................................................................. 157
4.4.1 Gambaran Tradisi Masyarakat Kampung Kuta ................... 157
4.4.2 Nilai dan Norma yang Terkandung dalam Tradisi
Masyarakat Kampung Kuta ................................................. 162
4.4.3 Pola Pewarisan Nilai dan Norma dalam Mempertahankan
Tradisi .................................................................................. 165
4.4.4 Faktor yang Menyebabkan Bertahannya Tradisi Masyarakat
Kampung Kuta .................................................................... 173
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI ....................... 176
5.1 Simpulan ....................................................................................... 176
5.2 Implikasi dan Rekomendasi .......................................................... 178
5.2.1 Bagi Masyarakat Kampung Kuta ........................................ 179
5.2.2 Bagi Pemerintah Daerah ...................................................... 180
5.2.3 Bagi Pembelajaran Sosiologi ............................................... 180
5.2.4 Bagi Peneliti Selanjutnya .................................................... 180

Dessy Lismiati, 2015


POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
x
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 182
LAMPIRAN-LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP

Dessy Lismiati, 2015


POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
xi
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian


Ciamis adalah sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Barat.
Kabupaten ini berada di Tenggara Jawa Barat yang berbatasan dengan Kabupaten
Majalengka, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Cilacap Jawa Tengah, Kota Banjar,
dan di Sebelah Barat berbatasan dengan Kota Tasikmalaya dan Kabupaten
Tasikmalaya. Kabupaten Ciamis merupakan wilayah yang ramai karena
kabupaten ini terletak tepat di jalan lintas jalur (Bandung-Yogyakarta-Surabaya).
Letak kabupaten yang ramai dan strategis membuat daerah ini menjadi daerah
yang ramai dengan fasilitas pariwisata seperti pusat berbelanja oleh-oleh, rumah
makan, hingga tempat-tempat wisata yang tersebar didalamnya.
Kabupaten ini terhitung tidak begitu luas yaitu 1.433,87 Km² menurut
data Bappeda 2013. Luas wilayah Kabupaten Ciamis ini berkurang setelah
Kecamatan Banjar diangkat statusnya menjadi kota administratif pada tanggal 11
Desember 2002 yang menetapkan kecamatan ini menjadi kota (otonom) sehingga
terpisah dari Kabupaten Ciamis, ditambah dengan adanya pemekaran daerah
Pangandaran pada tanggal 25 Oktober 2012 menjadi Kabupaten Pangandaran
yang memiliki 10 kecamatan. Pemekaran ini memberikan dampak yang signifikan
pada jumlah penduduk dan luas wilayah cakupan Kabupaten Ciamis. Hal ini dapat
terlihat dari data administratif dan demografi Bappeda yang menunjukkan luas
wilayah Kabupaten Ciamis tahun 2009 sebelum pemekaran Kabupaten
Pangandaran yaitu seluas 2.444,79 Km² dan sekarang menjadi 1.433,87 Km².
Kabupaten Ciamis dihuni oleh ± 1.500.000 jiwa yang tersebar dalam beberapa
kecamatan dan jumlah ini terus mengalami peningkatan mulai dari tahun 1961
hingga sekarang. Menurut Badan Pusat Statistik Kabupaten Ciamis tahun 2013,
“Kabupaten Ciamis terbagi menjadi 36 kecamatan, 351 desa, dan 7 kelurahan,
1.644 dusun, 3807 rukun warga, dan 12.241 rukun tetangga.” Saat ini, “secara
administratif pemerintahan, pada tahun 2013 Kabupaten Ciamis terdiri dari 26
kecamatan, 258 desa, dan 7 kelurahan” (Bappeda, 2013).

Dessy Lismiati, 2015


POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
1
2

Seiring berjalannya waktu sejak zaman kerajaan Galuh dikalahkan


Mataram hingga masa penjajahan dan sampai pada zaman sekarang, Kabupaten
Ciamis terus mengalami perubahan di segala bidang baik pendidikan, kesehatan,
pariwisata dan lain sebagainya. Baru-baru ini perubahan yang terjadi ialah
pemekaran wilayah pada tahun 2012 yang memberikan keputusan berubahnya
Pangandaran menjadi Kabupaten Pangandaran, hal ini ternyata memberi dampak
yang signifikan pada Kabupaten Ciamis. Terutama menghilangnya komoditas
utama icon Kabupaten Ciamis yang banyak memberikan pendapatan pada
Kabupaten Ciamis. Guna mempertahankan eksistensinya, Kabupaten Ciamis
mulai memunculkan icon-icon khas lain yang ada di wilayahnya.
Faktor sejarah Kabupaten Ciamis ternyata menciptakan daya tarik
tersendiri bagi wilayah ini untuk menggantikan icon khas yang telah hilang.
Munculah berbagai keistimewaan yang dimiliki, disukai dan mungkin masih ada
dan tersembunyi (belum terekspos) di Ciamis. Salah satu yang sangat digemari
pendatang adalah makanan khas Ciamis dan wisata budaya yang terdapat di
Ciamis seperti Panjalu dan Ciung Wanara. Namun tata letak dan perkembangan
yang terjadi di Ciamis membuat situs ini hanya menjadi situs peninggalan sejarah
saja, tak ada nilai-nilai khusus yang dianut dan diwariskan serta dipertahankan
oleh warga di sekitar situs bersejarah ini mungkin karena sudah terlalu banyak
nilai-nilai dari luar wilayah tersebut yang masuk sehingga mengikis nilai-nilai
yang dahulu ada di masyarakat dan tergantikan dengan nilai-nilai baru.
Perkembangan yang terjadi di Kabupaten Ciamis ternyata tidak mengikis habis
kebudayaan yang terdapat disana, hal ini berkenaan dengan masih terdapatnya
salah satu Kampung Adat yang bertahan di Kabupaten Ciamis ditengah-tengah
perkembangan dan perubahan sosial yang mulai merasuki Kabupaten Ciamis.
Kampung ini dikenal dengan nama Kampung Kuta, nama yang konon diambil
berdasarkan letak geografis kampung ini yang terjal dan berupa tebing-tebing
tinggi yang dalam bahasa sunda disebut Kuta.
Kampung Kuta merupakan kampung adat yang masih bertahan di
Kabupaten Ciamis. Secara administratif Kampung Kuta berada di bawah
pemerintahan Desa Karangpaningal Kecamatan Tambaksari Kabupaten Ciamis.
Dessy Lismiati, 2015
POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
3

Kampung Kuta terdiri atas 1 RW dan 4 RT dengan jumlah penduduk ±300 jiwa.
Kampung ini berbatasan dengan Dusun Cibodas di sebelah Utara, Dusun
Margamulya di sebelah Barat, dan di sebelah Selatan dan Timur dengan Sungai
Cijolang yang sekaligus merupakan perbatasan wilayah Jawa Barat dengan Jawa
Tengah. Kampung ini dikatagorikan sebagai kampung adat karena memiliki
karakteristik tersendiri yang tidak dimiliki kampung-kampung lain yaitu seperti
kesamaan dalam bentuk/model bangunan rumah warganya, adanya ketua adat, dan
adanya adat istiadat atau tradisi yang dipertahankan masyarakat. Pada dasarnya
tradisi hidup bersamaan dengan lahirnya suatu bangsa. Tradisi secara etimologi
diartikan sebagai kata yang mengacu pada adat atau kebiasaan yang diturunkan
secara turun temurun. Terdapat beberapa ahli yang mencoba memberikan
pandangannya mengenai tradisi, “tradisi adalah kebiasaan turun temurun
sekelompok masyarakat berdasarkan nilai budaya masyarakat yang bersangkutan”
(Esten, 1999, hlm. 21). Tradisi merupakan warisan yang membentuk perilaku
suatu masyarakat yang menganutnya. Bisa di katakan bahwa tradisi merupakan
warisan turun temurun dari generasi ke generasi berupa kebiasaan yang kemudian
menjadi pedoman bagi anggotanya.
Masyarakat Kampung Kuta merupakan masyarakat yang masih sangat
kukuh menjalankan tradisi dan masih cukup banyak tradisi yang dipertahankan
oleh masyarakat Kampung Kuta, mulai dari tradisi pada sistem kepercayaan,
sistem mata pencaharian, sistem kemasyarakatan, sistem budaya, dan seni serta
sistem pengetahuan. Tradisi yang sangat terkenal dari kampung adat ini ialah
tradisi masyarakat dalam menjaga hutan keramat. Sejak zaman dahulu,
masyarakat Kampung Kuta rutin melakukan penghormatan terhadap hutan kramat
yang dilakukan dengan melakukan beberapa ritual sebagai wujud rasa
terimakasih, ritual ini dilakukan setiap hari senin dan jumat juga pada saat ada
warga yang hendak pergi merantau. Sebelum merantau, warga selalu meminta
kelancaran di hutan keramat ini. Masyarakat setempat percaya bahwa hutan
keramat dapat dijadikan sebagai tempat berdoa, memohon permohonan yang
diinginkan selama keinginan itu bukan merupakan keinginan yang bersifat
duniawi.

Dessy Lismiati, 2015


POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
4

Tradisi lain yang terlihat dari masyarakat Kampung Kuta ialah tradisi
upacara adat yang selalu rutin dilaksanakan di waktu-waktu tertentu. Misalmya
upacara Adat Nyuguh, yaitu upacara adat sepertri tradisi sedekah bumi yang
dilakukan setiap tanggal 25 shafar. Tradisi Nyuguh dilaksanakan di pinggir sungai
Cijolang yang merupakan perbatasan langsung antara Kampung Kuta dengan
Kabupaten Cilacap. Sungai ini terletak ± 5 kilometer dari pemukiman warga.
Upacara nyuguh dilaksanakan dengan membawa makanan khusus untuk upacara
ke tepi sungai Cijolang, warga kemudian memanjatkan doa yang dipimpin oleh
kuncen dan setelah doa dipanjatkan seluruh warga kemudian menyantap makanan
yang telah disiapkan. Tradisi ini terus dipertahankan karena, konon apabila tradisi
ini tidak dilaksanakan akan mengundang bencana bagi masyarakat Kampung
Kuta.
Upacara lain yaitu upacara Sedekah bumi adalah ritual yang dilakukan
ketika akan turun ke sawah hingga saat memanen hasilnya. Ritual ini dilakukan
dengan menyembelih hewan yang biasanya adalah menyembelih ayam. Prosesi
awal panen hingga saat memanen hasil panen dilakukan dengan dipimpin oleh
Punduh.
Satu upacara lain yang dilakukan masyarakat Kampung Kuta yaitu
Babarit. Babarit merupakan ritual berupa sedekah yang dilakukan oleh seluruh
warga desa satu kampung untuk menjaga dari bencana atau bisa disebut dengan
ritual tolak bala. Masyarakat Kampung Kuta sangat percaya dengan pituah pada
zaman dahulu. Masyarakat memiliki pegangan dimana didalamnya diceritakan
bahwa pada waktu-waktu tertentu akan terjadi bencana-bencana terutama bencana
alam. Guna terlindung dari bencana-bencana tersebut, maka masyarakat harus
melakukan sedekah sebagai pelindung ketika terjadi bencana.
Selain upacara adat, bentuk tradisi lain yang masih ada di Kampung Kuta
yaitu kesenian Gondang, kesenian Gembyung dan Ibing Buhun. Gembyung ialah
alat musik sejenis gendang besar yang biasa digunakan di masjid. Alat ini biasa
dimainkan ketika selesai beribadah atau biasanya digunakan ketika di sela-sela
takbiran dimalam takbir. Gembyung merupakan salah satu pengikat agama islam
yang digunakan para wali sejak zaman dahulu sambil diiringi sutun atau kawih
sebagai pengikat. Sebagai sebuah kesenian tradisional, alat gembyung ini sering
Dessy Lismiati, 2015
POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
5

dimainkan oleh semua anak laki-lak dan anak perempuan yang ngawih. Seni ibing
buhun merupakan kesenian tradisional ronggeng zaman dahulu menggunakan
puji-pujian.
Selain upacara adat dan kesenian, bentuk tradisi lain yang masih bertahan
adalah tradisi untuk mempercayai hal-hal tabu. Misalnya tabu untuk seorang gadis
keluar rumah setelah lepas magrib, tabu menampilkan kesenian wayang dan
larangan untuk mengubur orang yang sudah meninggal di tanah Kuta karena
dipercaya akan mengotori tanah Kuta.
Bukan hal yang mudah bagi seseorang bahkan sekelompok orang untuk
mempertahankan tradisi. Sejalan dengan pemikiran Ranjabar (2006, hlm. 31) yang
menyatakan bahwa “…dalam mempelajari kebudayaan sebagai hasil
bermasyarakat tidak akan membatasi diri pada struktur kebudayaan saja, yaitu
unsur-unsurnya yang statis, tetapi perhatiannya juga dicurahkan pada gerak
kebudayaan tersebut”. Artinya adalah kebudayaan tidak selamanya statis,
kebudayaan juga dapat mengalami perubahan yang dinamis seiring dengan gerak
manusia yang mengadakan hubungan-hubungan dengan manusia lain sehingga
hubungan ini memungkinkan terjadinya penyerapan budaya asing yang mengikis
budaya atau tradisi yang dimiliki. Terutama kondisi saat ini yang tidak terlepas
dari modernisasi. Modernisasi gencar bahkan sudah masuk ke kawasan pedesaan-
pedesaan.
Pada saat ini bisa dikatakan Kampung Kuta sudah terjadi proses
modernisasi, dimana warga mulai menunjukkan suatu perubahan ke arah yang
lebih maju. Warga di Kampung Kuta saat ini sudah menggunakan telepon
genggam sebagai alat komunikasi. Di beberapa rumah warga di Kuta luar bahkan
terdapat tulisan yang menginformasikan bahwa di rumah tersebut menjual pulsa.
Selain itu, hampir di setiap rumah terdapat parabola yang menandakan bahwa di
rumah tersebut terdapat televisi sebagai media hiburan dan informasi. Walaupun
bentuk rumah adat di Kampung Kuta masih terjaga dengan baik yaitu berbentuk
panggung, namun ciri modernisasi lainnya yang sudah masuk ke kampung Adat
ini ialah isi dari rumah adat yaitu sofa, lemari dan perlengkapan lain yang biasa
ditemui di perkotaan. Masih terdapat alat lain yang mulai masuk ke Kampung

Dessy Lismiati, 2015


POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
6

Kuta, hal ini menunjukkan bahwa teknologi di Kampung Kuta sudah canggih dan
tidak kalah dengan masyarakat perkotaan pada umumnya.
Meminjam pemikiran Auguste Comte yang berpendapat bahwa
modernisasi berbahaya bagi budaya dan tertib sosial, karena spirit modernisasi
menciptakan manusia yang individualistik. Diantaranya dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat juga memberi dampak perubahan
kehidupan masyarakat yang mengalaminya. Namun hal ini sepertinya tidak
menggoyahkan mentalitas warga Kampung Kuta. Di tengah kondisi masyarakat
Ciamis yang berubah dan kondisi masyarakat Kampung Kuta sendiri yang sudah
menerima modernisasi, tradisi yang dimiliki warga Kampung Kuta masih tetap
dapat bertahan hingga saat ini. Kondisi Kampung Kuta yang dapat bertahan
dengan tradisi-tradisi yang ada di tengah-tengah perubahan sosial yang juga pesat
terjadi saat ini tidak mengikis tradisi yang ada, membuat penulis tertarik untuk
mengkaji fenomena ini. Berdasarkan latar belakang ini, penulis tertarik untuk
mengkaji “POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT
KAMPUNG KUTA DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI (Studi
Deskriptif terhadap Masyarakat Kampung Kuta Desa Karangpaningal Kecamatan
Tambaksari Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat)”.

1.2 Rumusan Masalah Penelitian


Berdasarkan latar belakang diatas, agar penelitian lebih terfokus dan
tidak keluar dari permasalahan yang akan diteliti maka penulis mengajukan
rumusan masalah umum penelitian yaitu, “Bagaimana pola pewarisan nilai dan
norma masyarakat Kampung Kuta dalam mempertahankan tradisi?”
Agar penelitian ini lebih terfokus dan terarah pada pokok permasalahan
yang akan dikaji, maka rumusan masalah umum tersebut penulis menjabarkannya
dalam beberapa sub-sub masalah, sebagai berikut:
1.2.1. Bagaimana gambaran tradisi masyarakat Kampung Kuta?
1.2.2. Bagaimana gambaran nilai dan norma yang terkandung dalam tradisi
masyarakat Kampung Kuta?
1.2.3. Bagaimana pola pewarisan nilai dan norma serta tradisi masyarakat
Kampung Kuta?
Dessy Lismiati, 2015
POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
7

1.2.4. Faktor apa saja yang menyebabkan masih bertahannya tradisi masyarakat
Kampung Kuta?
1.3 Tujuan Penelitian
Secara umum, tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah
mendapat gambaran mengenai pola pewarisan nilai dan norma masyarakat
Kampung Kuta dalam mempertahankan tradisi.
Adapun secara khusus, tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini
adalah:
1.3.1 Menggambarkan tradisi masyarakat Kampung Kuta
1.3.2 Menggambarkan nilai dan norma yang terkandung dalam tradisi
masyarakat Kampung Kuta.
1.3.3 Menggambarkan pola pewarisan nilai dan norma serta tradisi masyarakat
Kampung Kuta.
1.3.4 Mendeskripsikan faktor-faktor yang menyebabkan masih bertahannya
tradisi masyarakat Kampung Kuta

1.4 Manfaat/Signifikansi Penelitian


Secara teoretis manfaat dari penelitian ini adalah untuk dapat memberi
pengetahuan baik bagi penulis maupun pembaca, serta bermanfaat pula untuk
turut membantu memberi sumbangsih terhadap perkembangan ilmu pengetahuan
dalam bidang sosiologi pada umumnya dan khususnya mengenai pewarisan nilai
dan norma dalam suatu tatanan masyarakat tertentu.
Adapun secara praktis, manfaat dari penelitian ini ialah ebagai berikut:
1.4.1 Memberi kontribusi terhadap ilmu pengetahuan khususnya mengenai
pewarisan nilai dan norma dalam suatu tatanan masyarakat adat yang
masih kurang terdapat referensinya dari penelitian-penelitian
sebelumnya.
1.4.2 Memberi kontribusi dalam membantu mempertahankan suatu nilai dan
norma serta tradisi yang dimiliki di salah satu daerah di Indonesia.
1.4.3 Memberi gambaran dan alternatif sudut pandang atas proses sosialisasi
suatu nilai atau tradisi tertentu di masyarakat.

Dessy Lismiati, 2015


POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
8

1.5 Struktur Organisasi Skripsi


Agar skripsi ini dapat mudah dipahami oleh berbagai pihak yang
berkepentingan, skripsi ini disajikan ke dalam lima bab yang disusun berdasarkan
struktur penulisan sebagai berikut:
BAB I : Pendahuluan. Pada bab ini diuraikan mengenai latar belakang
penelitian, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian,
manfaat penelitian serta struktur organisasi skripsi.
BAB II : Kajian pustaka. Pada bab ini diuraikan dokumen-dokumen atau
data-data yang berkaitan dengan fokus penelitian serta teori-
teori yang mendukung penelitian yaitu mengenai pola pewarisan
nilai dan norma masyarakat Kampung Kuta dalam
mempertahankan tradisi.
BAB III : Metode penelitian. Pada bab ini penulis memberi gambaran pada
pembaca untuk mengetahui rancangan metode penelitian. Bab
ini berisi desain penelitian, partisipan dan tempat penelitian,
pengumpulan data, serta analisis data yang digunakan dalam
penelitian.
BAB IV : Temuan dan pembahasan. Bab ini dengan menggunakan
pendekatan kualitatif dan metode deskriptif, memaparkan dan
menganalisis data hasil temuan wawancara, observasi serta studi
dokumentasi mengenai gambaran tradisi masyarakat Kampung
Kuta, nilai dan norma yang terkandung dalam setiap tradisi, pola
pewarisan nilai dan norma yang dilakukan masyarakat Kampung
Kuta, dan faktor yang memengaruhi masih bertahannya tradisi
yang ada pada masyarakat Kampung Kuta.
BAB V : Simpulan, implikasi dan rekomendasi. Pada bab ini penulis
berusaha memberikan simpulan, implikasi dan rekomendasi
sebagai penutup dari hasil penelitian dan permasalahan yang
telah diidentifikasi serta dikaji dalam skripsi.

Dessy Lismiati, 2015


POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian


Peneliti dalam penelitian ini hendak mengkaji mengenai cara-cara yang
dilakukan oleh masyarakat Kampung Kuta dalam mewariskan nilai dan norma
dalam mempertahankan tradisi yang masih bertahan dari nenek moyang hingga
generasi berikutnya. Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk mengetahui
gambaran mengenai pola pewarisan nilai dan norma masyarakat Kampung Kuta
dalam mempertahankan tradisi, karena itu pada penelitian ini penulis
menggunakan pendekatan penelitian kualitatif.
Pendekatan kualitatif dirasa pantas digunakan dalam penelitian ini
berkaitan dengan tujuan dan kajian yang hendak dicapai penulis. Inti penelitian ini
banyak mengkaji pola komunikasi antar individu maupun kelompok pada
masyarakat secara langsung kemudian dilakukan analisis berdasarkan teori-teori
yang berlaku, sehingga data yang hendak didapat peneliti tidak bisa didapat
dengan menggunakan pendekatan statistik. Seperti dikatakan Rudito & Famiola
(2013, hlm. 78-79) bidang kajian yang penulis analisis “...bukan variable-variabel
tetapi yang dianalisis dalam kaitan hubungan dengan prinsip-prinsip umum dari
satuan-satuan gejala lainnya dengan menggunakan budaya masyarakat yang
diteliti dan dari hasil analisis tersebut dianalisis lagi dengan menggunakan
seperangkat teori yang berlaku”. Hal ini pun sejalan dengan (Moleong, 2007, hlm.
6) yang mendeskripsikan bahwa:
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami
fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya
perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain secara holistik dan
dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu
konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode
alamiah.

Penelitian kualitatif dapat dikatakan sebagai prosedur penelitian yang


menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang
atau perilaku yang dapat diamati. Selanjutnya Creswell (2010, hlm. 4)
mengatakan bahwa:
Dessy Lismiati, 2015
POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
66
67

Proses penelitian kualitatif ini melibatkan upaya-upaya seperti mengajukan


pertanyaan-pertanyaan dan prosedur-prosedur, mengumpulkan data yang
spesifik dari para partisipan, menganalisis data secara induktif mulai dari
tema-tema yang khusus ke tema-tema umum dan menafsirkan makna data.
Laporan akhir untuk penelitian ini memiliki kerangka yang fleksibel.
Siapapun yang terlibat dalam bentuk penelitian ini harus menetapkan cara
pandang penelitian yang bergaya induktif, berfokus terhadap makna
individual dan menerjemahkan kompleksitas suatu persoalan.

Selanjutnya, Sugiyono memaparkan lebih lanjut mengenai metode


kualitatif bahwa metode penelitian kualitatif digunakan untuk meneliti kondisi
obyek secara alamiah. Sugiyono (2013, hlm. 15) menjelaskan
Metode penelitian kualitatif adalah metode yang berlandaskan pada filsafat
postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek alamiah,
(sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai
instrumen kunci, pengambilan sumber data dilakukan secara purpossive dan
snowball, teknik pengumpulan data dengan triangulasi (gabungan), analisis
data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih
menekankan makna daripada generalisasi

Dapat disimpulkan bahwa pendekatan kualitatif merupakan pendekatan


penelitian ilmiah yang menitikberatkan pada pengkajian objek secara alamiah dan
menghasilkan data deskriptif dari sumber yang dapat diamati, dengan simpulan ini
maka menurut penulis tepat sekali jika penelitian ini dilakukan dengan pendekatan
kualitatif.
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan jenis pertanyaan petelitian
yang menggunakan awalan (how) atau bagaimana. Raco (2010, hlm. 108)
“pertanyaan bagaimana akan membuka peluang partisipan untuk menggambarkan
keadaan, situasi sebenarnya yang dialami”. Penelitian diawali dengan mengetahui
bagaimana gambaran tradisi dalam masyarakat serta nilai dan norma apa saja yang
terkandung di dalamnya. Dilanjutkan dengan bagaimana pola pewarisan yang
dilakukan beserta faktor-faktor yang mendukung bertahannya tradisi pada
masyarakat.
Untuk mendapatkan data guna menjawab permasalahan seperti yang
dikemukakan di atas, peneliti menggunakan metode deskriptif. Kebanyakan
penelitian sosial bersifat deskriptif. Metode penelitian deskriptif bertujuan untuk
membuat deskripsi secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan
sifat-sifat populasi daerah tertentu. Metode ini merupakan metode yang
Dessy Lismiati, 2015
POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
68

menggunakan proses yang berkebalikan dengan metode induktif, yang dimulai


dengan kaidah-kaidah yang dianggap berlaku umum untuk kemudian dipelajari
dalam keadaan yang bersifat khusus. Suryana (2010, bahan ajar) mengatakan
bahwa, ”penelitian deskriptif yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui
perkembangan sarana fisik tertentu atau frekuensi terjadinya sesuatu aspek
fenomena sosial tertentu dan berfungsi untuk mendeskripsikan fenomena tertentu
secara terperinci”. Nasution (1992, hlm. 32) berpendapat bahwa “Penelitian
deskriptif, digunakan untuk memberi gambaran yang lebih jelas tentang situasi-
situasi sosial”.
Sedangkan menurut Martono (2011, hlm. 17) penelitian deskriptif ini
bertujuan untuk :
a. Menyediakan dan mengakurasi profil atau kelompok masyarakat (siswa)
yang menjadi objek penelitian;
b. Mendeskripsikan proses, mekanisme atau hubungan antarkelompok;
c. Membuat informasi atau merangsang penjelasan baru;
d. Membuat informasi untuk merangsang munculnya penjelasan baru;
e. Menunjukan dasar informasi mengenai latar belakang atau konteks suatu
gejala sosial;
f. Membuat seperangkat kategori atau klasifikasi jenis-jenis (gejala sosial);
g. Menjelaskan urutan,rangkaian tahap atau langkah;
h. Mendokumentasikan informasi yang saling bertentangan dengan
keyakinan sebelumnya mengenai objek tertentu.

Berdasarkan deskripsi di atas, maka metode deskriptif adalah suatu


metode penelitian yang mencoba menjabarkan suatu fenomena secara terperinci
dan sistematis berdasarkan fakta-fakta yang didapat secara faktual dan akurat dari
suatu fenomena tertentu.

3.2 Partisipan dan Tempat Penelitian


3.2.1 Partisipan Penelitian
Pertanyaan mendasar ketika mendengar istilah partisipan ialah siapa yang
dimaksud dengan partisipan. Raco (2010, hlm. 109) menyatakan:
Pertama, partisipan adalah mereka yang tentunya memiliki informasi yang
dibutuhkan. Kedua, mereka yang memiliki kemampuan untuk menceritakan
pengalamannya atau memberikan informasi yang dibutuhkan. Ketiga, yang
benar-benar terlibat dengan gejala, peristiwa, masalah itu, dalam arti mereka
mengalaminya secara langsung. Keempat, bersedia untuk ikut serta
diwawancarai. Kelima, mereka harus tidak berada dibawah tekanan, tetapi
Dessy Lismiati, 2015
POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
69

penuh kerelaan dan kesadaran akan keterlibatannya. Jadi, syarat utamanya


yaitu kredibel dan kaya akan informasi yang dibutuhkan”.

Berdasarkan pemaparan di atas dan menyesuaikan dengan tujuan


penelitian, peneliti tidak akan melibatkan seluruh populasi yang ada untuk
menjadi partisipan dalam penelitian dimana ”teknik pengambilan sampel yang
tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi
untuk dipilih menjadi sampel” (Sugiyono, 2014, hlm. 53). Atas dasar ini, peneliti
menggunakan teknik purposive sampling. Sugiyono (2014, hlm. 53-54)
menyatakan:
...purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data
dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini misalnya orang
tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan, atau
mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti
menjelajahi objek/situasi sosial yang diteliti.

Teknik ini akan membutuhkan kemampuan peneliti dalam menentukan


informan yang sesuai dengan tujuan penelitian agar diperoleh data yang relevan
atas rumusan masalah yang dibuat. Hingga saat ini belum dapat dipastikan berapa
banyak jumlah partisipan yang akan terlibat dalam penelitian, namun secara
singkat partisipan yang diperlukan dalam penelitian ini berkaitan dengan agen-
agen pewarisan nilai dan norma dalam tradisi seperti tokoh adat, keluarga,
masyarakat serta pihak yang dilakukan pewarisan tradisi (generasi-generassi
penerus tradisi).

3.2.2 Lokasi Penelitian


Penelitian ini berlangsung atau berlokasi di Kampung Kuta dusun adat di
Desa Karangpaningal Kecamatan Tambaksari Kabupaten Ciamis. Kampung Kuta
merupakan kampung adat yang masih bertahan di Kabupaten Ciamis. Secara
administratif Kampung Kuta berada di bawah pemerintahan Desa Karangpaningal
Kecamatan Tambaksari Kabupaten Ciamis. Kampung Kuta terdiri atas 1 RW dan
4 RT dengan jumlah penduduk ±300 jiwa. Kampung ini berbatasan dengan Dusun
Cibodas di sebelah Utara, Dusun Margamulya di sebelah Barat, di sebelah Selatan
dan Timur dengan Sungai Cijolang yang sekaligus merupakan perbatasan wilayah
Jawa Barat dengan Jawa Tengah. Kampung ini dikatagorikan sebagai kampung

Dessy Lismiati, 2015


POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
70

adat karena memiliki karakteristik tersendiri yang tidak dimiliki kampung-


kampung lain yaitu seperti kesamaan dalam bentuk/model bangunan rumah
warganya, adanya ketua adat, dan adanya adat istiadat atau tradisi yang
dipertahankan masyarakat. Alasan pemilihan lokasi ini karena Kampung Kuta
merupakan kampung yang masih sangat kukuh menjalankan tradisi dan masih
cukup banyak tradisi yang dipertahankan oleh masyarakat Kampung Kuta, mulai
dari tradisi pada sistem kepercayaan, sistem mata pencaharian, sistem
kemasyarakatan, sistem budaya dan seni serta sistem pengetahuan. Peneliti
bermaksud untuk melihat bagaimana cara masyarakat Kampung Kuta dalam
mewariskan nilai dan norma untuk mempertahankan tradisi yang ada sedangkan
satu sisi banyak kampung lain yang sudah tidak dapat mempertahankan tradisi
yang dulu dimiliki karena telah terkikisnya tradisi tersebut oleh budaya-budaya
asing yang masuk.

3.3 Teknik Pengumpulan Data


“Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis
dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data”
(Sugiyono, 2014, hlm. 62). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini tidak hanya satu tehnik, seperti dikatakan Creswell (2010, hlm. 267)
“peneliti dalam kebanyakan penelitian kualitatif mengumpulkan beragam jenis
data dan memanfaatkan waktu seefektif mungkin untuk mengumpulkan informasi
di lokasi penelitian. Prosedur-prosedur pengumpulan data dalam penelitian
kualitatif melibatkan empat jenis strategi”. Banyaknya teknik pengumpulan data
terutama teknik yang dipilih peneliti dalam penelitian ini berkaitan dengan jenis
data yang ingin diperoleh. Penelitian ini menginginkan adanya gambaran
mengenai jenis pewarisan dalam proses pewarisan tradisi suatu masyarakat,
sehingga data tidak dapat diperoleh hanya dari mengamati namun harus dilakukan
dengan cara lain agar data lebih menggali informasi yang diperlukan. Adapun
perolehan informasi pada penelitian ini diperoleh melalui observasi, wawancara
mendalam, studi dokumentasi, dan dalam Creswell teknik ke empat dilakukan
materi audio dan visual.

Dessy Lismiati, 2015


POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
71

3.3.1 Observasi
Terkadang, partisipan enggan untuk memberikan informasi scara
langsung kepada peneliti, sehingga diperlukan cara untuk dapat menggali
informasi yang tidak dapat disampaikan secara langsung oleh partisipan.
Observasi merupakan teknik perolehan informasi yang melibatkan peneliti
langsung untuk menangkap informasi dari fenomena yang ada dalam lokus
penelitian. Menurut Nazir (1988, hlm. 65) metode survei (observasi) adalah
“penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala
yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual, baik tentang institusi
sosial, ekonomi, atau politik dari suatu kelompok ataupun suatu daerah”. Selain
itu, Creswell (2010, hlm. 267) mengatakan:
Observasi kualitatif merupakan observasi yang di dalamnya peneliti
langsung turun ke lapangan untuk mengamati perilaku dan aktivitas
individu-individu di lokasi penelitian. Dalam pengamatan ini, peneliti
merekam/mencatat baik dengan cara terstruktur maupun semistruktur
(misalnya dengan mengajukan sejumlah pertanyaan yang memang ingin
diketahui oleh peneliti). Para peneliti kualitatif juga data terlibat dalam
peran-peran yang beragam, mulai dari sebagai non partisipan hingga
partisipan utuh.

Berdasarkan pengertian dan penjabaran di atas, peneliti pada teknik


pengambilan data ini memungkinkan untuk terlibat dalam peran-peran mungkin
sebagai partisipan. Pada teknik observasi, peneliti akan lebih banyak
menggunakannya dalam mengkaji pola pewarisan nilai dan norma pada tradisi-
tradisi yang memungkinkan peneliti untuk ikut berpartisipasi misalnya dalam
upacara adat dan pelaksanaan tabu-tabu di masyarakat. Observasi dalam
penelitian ini akan dilakukan sebagai partisipasi moderat. “Dalam observasi ini
terdapat keseimbangan antara peneliti menjadi orang dalam dengan orang luar.
Peneliti dalam mengumpulkan data ikut observasi partisipatif dalam beberapa
kegiatan, tapi tidak semuanya” (Sugiyono, 2014, hlm. 66).
Penggunaan teknik observasi memberikan manfaat bagi peneliti, seperti
dikatakan Patton (dalam Sugiyono, 2014, hlm. 67):
a. Dengan observasi di lapangan peneliti akan lebih mampu memahami
konteks data dalam keseluruhan situasi sosial, jadi akan dapat diperoleh
pandangan yang holistik atau menyeluruh.
Dessy Lismiati, 2015
POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
72

b. Dengan observasi maka akan diperoleh pengalaman langsung, sehingga


memungkinkan peneliti menggunakan pendekatan induktif, jadi tidak
dipengaruhi oleh konsep atau pandangan sebelumnya. Pendekatan
induktif membuka kemungkinan melakukan penemuan atau discovery.
c. Dengan observasi, peneliti dapat menemukan hal-hal yang kurang atau
tidak diamati orang lain, khususnya orang yang berada dalam
lingkungan itu, karena telah dianggap “biasa” dan karena itu tidak akan
terungkapkan dalam wawancara.
d. Dengan observasi, peneliti dapat menemukan hal-hal yang sedianya
tidak akan terungkapkan oleh responden dalam wawancara karena
bersifat sensitif atau ingin ditutupi karena dapat merugikan nama
lembaga.
e. Dengan observasi, peneliti dapat menemukan hal-hal yang diluar
persepsi responden, sehingga peneliti memperoleh gambaran yang lebih
komprehensif.
f. Melalui pengamatan di lapangan, peneliti tidak hanya mengumpulkan
data yang kaya, tetapi juga memperoleh kesan-kesan pribadi, dan
merasakan situasi sosial yang diteliti.

Pada penelitian ini, proses observasi akan dimulai dengan


mengidentifikasi lokus, sehingga peneliti dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungan di tempat penelitian seperti tidak melanggar tabu-tabu yang ada dalam
masyarakat Kampung Kuta.

3.3.2 Wawancara Mendalam


Wawancara dilakukan seorang peneliti untuk melengkapi data yang
mungkin tidak diperoleh saat observasi, mengingat kemampuan peneliti sendiri
dalam menafsirkan informasi ketika melakukan observasi. “Wawancara adalah
percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh kedua belah pihak yaitu
pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai
(interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu”. (Moleong,
2002:135)

Dessy Lismiati, 2015


POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
73

Teknik ini dipilih karena dengan wawancara, penulis dapat


mengembangkan pertanyaan yang hendak ditanyakan sesuai kondisi informan dan
jawaban dari informan itu sendiri sehingga data yang didapat tidak melenceng dari
tujuan serta tema atau fenomena yang akan dibahas.
Pada teknik pengumpulan data ini, wawancara tidak hanya dilakukan
satu kali melainkan dilakukan berkali-kali guna memeroleh keabsahan data.
Proses wawancara pertama kali dilakukan dengan pedoman panduan wawancara
(interview guide) yang telah dibuat berkaitan dengan apa yang akan dikaji dalam
penelitian yang dilakukan. Selanjutnya peneliti tetap menggunakan pedoman
panduan wawancara namun pertanyaan-pertanyaan yang diajukan mungkin tidak
seperti yang tercantum dalam pertanyaan penelitian yang telah dibuat. Pertanyaan
yang diajukan mungkin berbeda dengan yang ada di pedoman namun masih dalam
ranah yang sama, hal ini dilakukan untuk memperdalam data penelitian.

3.3.3 Studi Dokumentasi


Studi dokumentasi merupakan kegiatan meneliti atau mengumpulkan
benda-benda tertulis atau dokumen yang berfungsi sebagai bahan pelengkap data
yang diperlukan dalam penelitian. Penggunaan studi dokumentasi ini adalah
sebagai upaya menunjang data-data yang telah didapatkan melalui observasi dan
wawancara, data-data dokumentasi ini dapat berupa tabel, diagram, foto, ataupun
data-data lain seperti data statistik. “Studi dokumentasi adalah mengumpulkan
sejumlah dokumen yang diperlukan sebagai bahan data informasi sesuai dengan
masalah penelitian, seperti peta, data statistik, jumlah dan nama pegawai, data
siswa, data penduduk; grafik, gambar, surat-surat, foto, akte, dsb” (Danial, 2009,
hlm. 79). Salah satu data studi dokumentasi yang sudah dapat dipastikan akan
dipakai oleh peneliti adalah profil masyarakat Kampung Kuta. Sebagai kampung
adat yang memiliki struktur organisasinya tersendiri, sudah seharusnya kampung
tersebut memiliki pengarsipan data profil Kampung Kuta guna keperluan-
keperluan adat sendiri. Salah satu contoh studi literatur yang digunakan adalah
profil masyarakat Kampung Kuta.

Dessy Lismiati, 2015


POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
74

3.3.4 Studi Literatur


Studi literatur merupakan teknik pengumpulan data dengan mencari
informasi-informasi terkait dengan penelitian atau mengambil dokumentasi yang
berasal dari buku-buku, artikel, majalah, penelitian terdahulu atau sumber lain dari
sumber-sumber pustaka yang lebih relevan dengan penelitian yang dilakukan.
Teknik ini pun dipilih guna membantu melengkapi data-data yang mungkin belum
terpenuhi dari hasil wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Kartono (1996,
hlm. 33) mengemukakan bahwa :
Studi literatur adalah teknik penelitian yang dapat berupa informasi-
informasi data-data yang berhubungan dengan masalah yang diteliti yang di
dapat dari buku-buku, majalah, naskah-naskah, kisah sejarah, dokumentasi-
dokumentasi, dan lain-lain.

3.4 Penyusunan Alat Pengumpulan Data


Penyusunan alat pengumpulan data dilakukan sebelum penelitian
dilakukan, penyusunan alat pengumpulan data dilakukan untuk mempermudah
peneliti ketika memulai penelitian. Penyusunan alat pengumpulan data ini seperti
pedoman bagi peneliti mengenai apa saja yang harus dilakukan peneliti ketika
melakukan penelitian tentunya hal ini dimaksudkan untuk memeroleh data yang
valid sesuai dengan tujuan penelitian. Adapun penyusunan alat pengumpulan data
pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

3.4.1 Penyusunan Kisi-kisi Penelitian


Kisi-kisi penelitian dijabarkan dengan memberi pedoman berdasarkan
rumusan masalah dan indikator penelitian yang kemudian dijabarkan lebih lanjut
menjadi pertanyaan-pertanyaan penelitian, partisipan yang akan menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut, teknik pengumpulan data yang digunakan dan
alat pengumpul data. Kisi-kisi penelitian ini penulis buat dalam bentuk tabel. Kisi-
kisi penelitian akan mempermudah peneliti untuk mengetahui apa yang akan
dilakukan, siapa yang akan di tuju dan alat mana yang akan digunakan untuk
mengumpulkan data. Fungsi kisi-kisi ini dijabarkan demikian mengingat lokus
penelitian berupa desa adat dan informan yang banyak serta belum dikenal
sebelumnya yang memungkinkan peneliti akan kesulitan mencari informan yang

Dessy Lismiati, 2015


POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
75

dimaksud. Kisi-kisi ini pun nantinya akan membantu dalam menjabarkan hasil
penelitian karena semua bentuk dan informan data sudah tersusun dengan rapi
dalam kisi-kisi penelitian.

3.4.2 Penyusunan Alat Pengumpul Data


Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
observasi, wawancara, studi dokumentasi dan studi literatur. Penyusunan alat
pengumpul data yang dilakukan tepatnya hanya pada wawancara dan observasi
saja sebagai alat pengumpul data yang langsung dilakukan pada masyarakat
kampung Kuta. Observasi dilakukan untuk melihat kondisi masyarakat kampung
Kuta secara langsung dan wawancara dilakukan kepada agen-agen pewarisan
tradisi dan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Untuk studi dokumentasi
peneliti hanya menyiapkan catatan untuk mengingatkan dokumen apa saja yang
dibutuhkan oleh penulis dan alat-alat sederhana seperti kamera dan catatan untuk
berjaga-jaga ketika dokumen yang diperlukan tidak dapat dibawa oleh penulis.

3.4.3 Penyusunan Pedoman Wawancara


Sebelum melakukan wawancara, perlu disusun pedoman wawancara
yang bertujuan untuk mempermudah penulis melakukan wawancara dengan
adanya patokan pertanyaan yang masih bisa bertambah sewaktu-waktu sehingga
wawancara yang dilakukan terarah. Adapun pedoman wawancara merupakan
pertanyaan yang akan ditanyakan kepada responden mengenai penelitian yang
dilakukan. Penelitian ini merupakan penelitian yang melibatkan peneliti langsung
ke lapangan, pedoman wawancara digunakan sebagai pengingat dari inti
pertanyaan dan data yang hendak di dapatkan selanjutnya pertanyaan wawancara
akan dikembangkan oleh peneliti sendiri. Meskipun pertanyaan wawancara akan
dikembangkan oleh peneliti sendiri ketika wawancara berlangsung, namun
penyusunan pedoman wawancara tetap dilakukan serinci mungkin oleh peneliti
guna menghindari masalah yang berkenaan dengan peneliti misalnya lupa atau
grogi saat wawancara.

Dessy Lismiati, 2015


POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
76

3.4.4 Penyusunan Pedoman Observasi


Pedoman observasi perlu disusun sebelum peneliti terjun ke lapangan
untuk melakukan penelitian. Seperti halnya pedoman wawancara, pedoman
observasi dibuat untuk memandu peneliti dan mengingatkan mengenai penelitian
yang hendak dilakukan. Hal ini perlu dilakukan agar kedatangan peneliti di
lapangan yaitu Kampung Kuta untuk penelitian dapat sesuai dengan tujuan
penelitian yang telah ditetapkan sebelumnya. Pedoman ini pun membantu peneliti
agar tidak melupakan inti dari penelitian yang dilakukan.
Adapun hal-hal yang peneliti observasi pada penelitian ini yaitu kondisi
objektif masyarakat Kampung Kuta yang meliputi kondisi lingkungan alam dan
sosial, program pemerintah dan kemajuan teknologi yang telah masuk di kampung
Kuta. Selanjutnya adalah kondisi pelaksanaan tradisi di Kampung Kuta, misalnya
kegiatan sehari-hari masyarakat Kampung Kuta dalam menjalankan tabu yang
ada, kegiatan bertani dan lain sebagainya. Selanjutnya yang hendak peneliti
observasi adalah proses pewarisan nilai dan norma yang dilakukan keluarga,
tokoh adat dan masyarakat.

3.5 Prosedur Pengumpulan Data


Kegiatan penelitian diperlukan adanya suatu alat pengumpul data dengan
maksud untuk memperoleh data/informasi yang valid dengan alat yang tepat dan
akurat. Penelitian ini menggunakan teknik observasi/pengamatan dan wawancara
sebagai alat pengumpul data yang utama selain studi dokumentasi dan studi
kepustakaan. Untuk pengumpulan data sendiri diperlukan langkah-langkah
sebagai berikut:

3.5.1 Tahap Persiapan


Tahap persiapan mencakup: studi pendahuluan, pembuatan proposal dan
lain-lain yang diperlukan dalam penelitian. Dalam tahap persiapan, penulis
mempersiapkan pedoma-pedoman yang akan digunakan, juga hal lain yang
sekiranya diperlukan, misal: alat tulis, perekam suara, kamera, dan lain-lain yang
akan digunakan untuk mempermudah penelitian.
Dessy Lismiati, 2015
POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
77

Peneliti sebelum melakukan penelitian terlebih dahulu pernah melakukan


studi pendahuluan yang dilakukan dua kali, yaitu pada akhir tahun 2013 dan
pertengahan tahun 2014. Studi pendahuluan ini pada awalnya bukan sengaja
dilakukan untuk melakukan penelitian skripsi ini, melainkan atas keingin tahuan
peneliti ketika mendengar nama kampung adat Kuta dan untuk memenuhi tugas
mata kuliah metode penelitian. Namun akhirnya data yang telah diperoleh saat itu
berguna untuk melengkapi pengetahuan awal peneliti sebelum penelitian
sesungguhnya dilaksanakan.

3.5.2 Tahap Pelaksanaan


Tahap pelaksanaan merupakan tahap yang harus dilakukan peneliti untuk
mendapatkan informasi seputar pertanyaan penelitian yang terdapat dalam
pedoman wawancara yang telah dirancang sebelumnya dan sesuai dengan tujuan
penelitian. Pada tahap ini peneliti mulai terjun kelapangan dan melaksanakan apa-
apa yang telah dirancang pada tahap persiapan. Tahap pelaksanaan merupakan
tahap inti dari penelitian. Pada tahap ini, data yang hendak diperoleh dan
diinformasikan pada pihak lain didapatkan. Tahap pelaksanaan dilaksanakan
ketika semua tahap persiapan terpenuhi atau siap. Setelah semua data diperoleh,
dari proses pelaksanaan penelitian, kemudian dilanjutan dengan analisis data.

3.6 Analisis Data


Analisis data menurut Patton (dalam Basrowi dan Suswandi, 2008, hlm.
91) adalah ‘proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu
pola, kategori dan satuan uraian dasar’. Miles dan Huberman (dalam Sugiyono,
2013, hlm. 246), mengemukakan bahwa ‘Aktivitas dalam analisis data kualitatif
dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas’.
Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data display dan conclusion
drawing atau verification.

3.6.1 Data Reduction (Reduksi Data)


Reduksi data merupakan aktifitas atau kegiatan memilih dan
mentransformasikan data kasar yang sudah diperoleh dari pengumpulan data di
Dessy Lismiati, 2015
POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
78

lapangan dengan maksud agar data-data yang diperoleh dapat sesuai atau sejalan
dengan masalah yang akan disajikan peneliti. Proses ini termasuk dalam proses
analisis data dan memungkinkan terjadinya pengurangan data yang tidak sesuai
dengan masalah yang diteliti. Data inilah yang nantinya akan menjadi fokus
penelitian. Sugiyono (2014, hlm. 92) menyebutkan:
Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu maka
perlu dicatat secara teliti dan rinci. Seperti telah dikemukakan, semakin
lama peneliti ke lapangan, maka jumlah data akan semakin banyak,
kompleks dan rumit. Untuk itu perlu segera dilakukan analisis data melalui
reduksi data. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang
pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya.
Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran
yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan
data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan.

Setelah data terkumpul, data-data yang peneliti dapat dilapangan


mengenai hal-hal yang berkaitan dengan obyek penelitian yaitu pola pewarisan
nilai dan norma dalam mempertahankan tradisi, peneliti melakukan reduksi
dengan merangkum, menajamkan, menggolongkan, mengarahkan memilih hal
pokok, fokus pada hal penting dan dicari tema polanya.

3.6.2 Data Display (Penyajian Data)


Penyajian data merupakan kegiatan yang dirancang untuk menunjukkan
keterkaitan data sehingga menjadi sekumpulan informasi menyeluruh yang dapat
menggambarkan penelitian yang dilakukan. Penyajian data meliputi berbagai
bentuk jaringan kerja yang dapat membantu menggambarkan aspek-aspek yang
diteliti. Sesuai pendekatan yang digunakan, penyajian data selanjutnya disajikan
dalam bentuk uraian atau laporan sesuai dengan data hasil penelitian yang
diperoleh.

3.6.3 Conclution Drawing Verification


Conclusion drawing verification merupakan proses terakhir yang
dilakukan dengan cara menarik inti dari apa yang terjadi selama pengumpulan
data dari awal sampai akhir terjadi. Tahap ini menjadi tahap inti dimana seluruh
data danalisis dan akhirnya disusun dalam bentuk pernyataan singkat yang mampu

Dessy Lismiati, 2015


POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
79

merangkum inti hasil penelitian dengan mengacu pada tujuan penelitian, atau
dengan kata lain tahap ini merupakan upaya untuk mencari arti, makna, penjelasan
yang dilakukan terhadap data-data yang telah dianalisis dengan mencari hal-hal
penting. Kesimpulan ini disusun dalam bentuk pernyataan singkat dan mudah
dengan mengacu kepada tujuan penelitian.
Demikian prosedur yang dilakukan peneliti dalam pelaksanaan penelitian
ini. Dengan melakukan tahapan-tahapan ini diharapkan penelitian yang dilakukan
ini dapat memperoleh data yang memenuhi kriteria suatu penelitian yaitu derajat
kepercayaan, maksudnya data yang diperoleh dapat dipercaya dan
dipertanggungjawabkan kebenarannya. Hal ini untuk memperoleh data yang valid
dari informan.

3.7 Validitas Data dan Reliabilitas Data


Menurut Usman dan Akbar (2009, hlm. 98), laporan penelitian kualitatif
dikatakan ilmiah jika persyaratan kredibilitas, transferabilitas, dan defendabilitas
atau konfirmabilitasnya sudah terpenuhi.

3.7.1 Uji Kredibilitas


Uji kredibilitas diartikan sebagai uji kepercayaan atas data yang didapat
sebagai hasil penelitian. Hal ini dilakukan untuk menguji valid tidaknya data yang
diperoleh. Uji kredibilitas dilakukan dengan beberapa cara, sebagai berikut:

3.7.1.1 Perpanjangan Pengamatan


Setiap individu pada hakikatnya cenderung memiliki sikap pertahanan
diri, hal ini dilakukan berdasarkan ketakutan akan ancaman dari pihak luar
terhadap apa yang ia yakini, dalam kegiatan penelitian hal semacam ini pun tidak
dapat dihindari. Pada dasarnya setiap individu atau partisipan dalam penelitian ini
tidak akan terbuka sepenuhnya pada peneliti, hal ini dikarenakan peneliti dan
partisipan belum memiliki hubungan yang akrab sehingga partisipan cenderung
akan lebih tertutup terhadap peneliti. Ketika kegiatan penelitian berlangsung,
informasi yang diberikan terhadap peneliti cenderung tidak diberikan semuanya
atau masih terdapat informasi yang disembunyikan. Atas dasar inilah peneliti
Dessy Lismiati, 2015
POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
80

diharapkan melakukan perpanjangan pengamatan, dengan tujuan untuk membuat


hubungan antara peneliti dengan partisipan lebih akrab sehingga partisipan lebih
turbuka pada peneliti dan informasi yang diberikan diharapkan akan lebih banyak
lagi.
Pada penelitian ini, penulis akan melakukan perpanjangan pengamatan
dengan cara kembali ke lapangan yaitu Kampung Kuta dan menemui kembali
informan baik yang sudah menjadi partisipan sebelumnya maupun yang belum
kemudian melakukan wawancara kembali. Proses ini akan dilakukan dengan
memfokuskan pada pengujian data yang sudah di dapat. Lama perpanjangan
pengamatan akan bergantung pada kedalaman, keluasan, dan kepastian data.

3.7.1.2 Meningkatkan Ketekunan


Meningkatkan ketekunan berarti melakukan pengamatan dengan cermat
dan berkesinambungan. Dengan meningkatkan ketekunan, seorang peneliti akan
dapat mengecek kembali data yang didapat apakah sudah benar, sudah cukup atau
sebaliknya. Proses meningkatkan ketekunan dapat dilakukan pertama-tama
dengan cara banyak membaca referensi yang relevan dengan penelitian yang
dilakukan.

3.7.1.3 Triangulasi
“Triangulasi diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber
dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi
sumber, triangulasi teknik,” (Sugiyono, 2014, hlm. 125).

Agen-Agen
Pemangku Adat Pewaris Tradisi
Menggunakan Bahan Referensi

Triangulasi dengan Tiga Teknik Pengumpulan data


Masyarakat
Sumber : Sugiyono (2009, hlm 126)
(sebagai pewaris)

Sumber : Sugiyono (2014, hlm. 126)

Gambar 3.1 Triangulasi Sumber Data


Dessy Lismiati, 2015
POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
81

Wawancara Observasi

Sumber : Sugiyono (2009, hlm. 126)

Studi Dokumentasi

Sumber : Sugiyono (2014, hlm. 126)

Gambar 3.2 Triangulasi Teknik Pengumpulan Data

Penelitian pertama Penelitian Kedua

Penelitian
selanjutnya

Sumber : Sugiyono (2014, hlm. 126)

Gambar 3.3Triangulasi Waktu Pengumpulan Data

Gambar 3.1 menunjukkan tahap triangulasi sumber data, dimana proses


triangulasi sumber data ini ialah melakukan pengecekan atas data-data yang telah
diberikan partisipan. Adapun pihak yang akan dilakukan triangulasi sumber data
adalah keluarga (orang tua yang memiliki anak belum menikah), tokoh adat
(pemangku adat), masyarakat termasuk didalamnya generasi penerus tradisi di
Kampung Kuta. Triangulasi teknik dan waktu pengumpulan data dilakukan
peneliti sesuai dengan teknik dan waktu yang digunakan. Maksudnya adalah,
peneliti pada penelitian ini menggunakan teknik wawancara, observasi dan studi
dokumentasi, karena itu peneliti akan melakukan pengecekan data dari teknik-
teknik tersebut dengan melakukan wawancara, observasi dan studi dokumentasi
Dessy Lismiati, 2015
POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
82

ulang untuk melengkapi dan memverifikasi data yang sudah ada pada waktu yang
berbeda. Selanjutnya mungkin peneliti akan melakukan triangulasi sumber dan
teknik pengumpulan data. Misalnya peneliti akan menerapkan teknik lain pada
sumber lain.

3.7.1.4 Analisis Kasus Negatif


Tahap ini merupakan proses analisis atas data-data yang dianggap tidak
sesuai dengan temuan. Maksudnya, peneliti mulai mencari data yang
bersebrangan dengan temuan yang di dapat dari tempat penelitian. Semakin
sedikit data yang berbeda atau bertentangan dengan temuan, maka semakin
kredibel data temuan peneliti.

3.7.1.5 Menggunakan Bahan Referensi


Referensi digunakan dalam uji kredibilitas dengan cara mencari
pendukung atas data temuan peneliti. Misalnya dengan adanya bukti rekaman
wawancara, foto, dan lain sebagainya.

3.7.1.6 Mengadakan Member Check


Member check adalah proses pengecekan data yang diperoleh peneliti
kepada pemberi data. Tujuan member check adalah untuk mengetahui seberapa
jauh data yang diperoleh sesuai dengan apa yang diberikan oleh pemberi data.

3.7.2 Dependabilitas dan Konfirmabilitas


Dependabilitas berkaitan erat dengan keabsahan data dari hasil
penelitian. Di mana uji dependabilitas ini merupakan uji jejak aktivitas lapangan.
Seorang peneliti dikatakan memiliki data yang valid dan dikatakan telah
melakukan penelitian apabila peneliti telah benar-benar terjun ke lapangan untuk
melakukan penelitian. Bukan tidak mungkin jika terjadi kasus dimana seseorang
memiliki data tanpa ada penelitian yang dilakukan peneliti, maka hal ini lah yang
disebut tidak reliable atau dependable. Cara membuktikan bahwa penelitian ini
tidak dependable yaitu dengan cara audit aktivitas peneliti yang dapat dilakukan
oleh pembimbing.
Dessy Lismiati, 2015
POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
83

Untuk membuat penelitian kualitatif memenuhi dependabilitas, maka


perlu disatukan dengan konfirmabilitas. Konfirmabilitas ialah uji objektivitas
penelitian. Penelitian dikatakan objektif bila hasil penelitian disepakati banyak
orang.

Dessy Lismiati, 2015


POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
BAB V
SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI

5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data hasil penelitian yang telah
dipaparkan dalam skripsi yang berjudul “Pola Pewarisan Nilai dan Norma
Masyarakat Kampung Kuta dalam Mempertahankan Tradisi (Studi Deskriptif
terhadap Masyarakat Kampung Kuta Desa Karangpaningal Kecamatan
Tambaksari Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat)”, dapat disimpulkan sebagai
berikut:
1. Masyarakat Kampung Kuta memiliki banyak tradisi yang masih
dipertahankan hingga saat ini. Tradisi ini lahir berdasarkan kepercayaan
masyarakat terhadap adanya roh-roh halus yang masyarakat sebut dengan
ambu dan rama. Kepercayaan masyarakat Kampung Kuta pada roh dipercaya
melahirkan banyaknya tradisi berdasarkan sistem kepercayaan, sistem mata
pencaharian, sistem kemasyarakatan, upacara adat, dan kesenian. Kehidupan
sehari-hari masyarakat Kampung Kuta dipenuhi dengan tradisi berupa tabu-
tabu yang jika dilanggar dipercaya akan mendatangkan musibah bagi warga
kampung. Tradisi lainnya dalam sistem kepercayaan masyarakat Kampung
Kuta adalah menjaga dan berdoa di hutan keramat. Selanjutnya adalah tradisi
dalam memanen padi (bercocok tanam), tradisi dalam memilih tokoh adat
terutama kuncen, tradisi dalam membangun rumah, tradisi Nyuguh, tradisi
Sedekah Bumi, tradisi Babarit, tradisi Gondang Buhun, tradisi Gembyung,
tradisi Ibing Buhun, dan tradisi Terebang.
2. Setiap tradisi yang ada di Kampung Kuta memiliki makna atau nilai masing-
masing yang terkandung didalamnya. Makna atau nilai-nilai tradisi ini
sebagian besar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, bahkan sudah dapat
dirasakan oleh anak-anak yang masih kecil. Nilai ini tak terlepas dari nilai
sosial dan budaya. Secara umum, tradisi yang dijalankan masyarakat
Kampung Kuta mengandung nilai moral dimana setiap tradisi terutama dalam
sistem kepercayaan masyarakat memberikan pelajaran mengenai cara hidup

Dessy Lismiati, 2015


POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
176
177

dalam bermasyarakat. Nilai ini membuat kehidupan masyarakat Kampung


Kuta menjadi teratur. Selain itu, tradisi yang ada menunjukkan adanya nilai
berupa kepatuhan masyarakat terhadap yang dilakukan leluhurnya. Atas dasar
ini, dapat ditelaah mengenai nilai yang berkaitan dengan hubungan antar
sesama manusia, manusia dengan Tuhan, dan manusia dengan alam. Namun,
selain peraturan yang diatur dalam setiap tradisi, secara umum masyarakat
Kampung Kuta memiliki peraturan tidak tertulis yang membuat masyarakat
Kampung Kuta masih kokoh mempertahankan tradisi yang ada. Norma tidak
tertulis ini dikenal dengan istilah Pamali. Norma tidak tertulis ini tidak
memiliki sanksi khusus secara tertulis yang dibuat bagi pelanggarnya, norma
ini menyerahkan sanksi bagi pelanggarnya kepada kekuatan yang menjaga
Kampung Kuta sehingga sanksi ini bisa disebut dengan sanksi hukum karma.
3. Tradisi yang ada di Kampung Kuta hingga saat ini masih bertahan atau
dipertahankan oleh masyarakat tidak terlepas dari nilai dan norma yang
terkandung di dalamnya. Masih bertahannya tradisi-tradisi ini dapat dilihat
dari pola pewarisan nilai dan norma yang dilakukan masyarakat Kampung
Kuta. Pola pewarisan nilai dan norma pada masyarakat Kampung Kuta
dilakukan secara struktural dimana pewarisan nilai dan norma ini dilakukan
bukan hanya oleh satu pihak saja melainkan oleh banyak pihak diantaranya
orang tua, tokoh adat, masyarakat dan teman sebaya. Secara umum, pola
pewarisan yang dilakukan agen-agen pewaris nilai dan norma dilakukan
dengan cara memberi contoh secara langsung atau dikenal dengan peniruan
model, wejangan-wejangan, keterlibatan secara langsung, pergaulan dengan
teman sebaya dan cerita-cerita sejarah dari masyarakat baik tokoh adat
maupun pihak lainnya.
4. Masyarakat Kampung Kuta merupakan masyarakat yang terbuka dengan
dunia luar, masyarakat ini pun sangat ramah dengan pendatang. Kondisi ini
membuat program pemerintah dan perkembangan teknologi mudah di terima
di Kampung Kuta. Listrik, keluarga berencana, bahan bakar gas, bibit pohon
dan sanitasi merupakan program pemerintah yang sudah masuk ke Kampung
Kuta. Beragam alat elektronik, serta fasilitas internet pun sudah masuk ke
Kampung Kuta. Atribut-atribut yang dianggap sebagai atribut modernisasi ini
Dessy Lismiati, 2015
POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
178

keberadaannya di Kampung Kuta tidak mengganggu eksistensi tradisi yang


ada di Kampung Kuta. Tradisi yang dimiliki masyarakat Kampung Kuta
masih dapat bertahan di kampung ini, hanya saja keberadaan atribut
modernisasi ini menggeser sedikit tradisi yang ada. Maksudnya menggeser
sedikit tradisi yang ada adalah, keberadaan atribut-atribut modernisasi
membuat kebiasaan dalam menjalankan tradisi sedikit berubah. Contohnya
adalah pada tradisi hajatan yang dilakukan masyarakat, dahulu ketika hajatan
pasti akan dibuat tenda yang dibuat dari kirai dan batang pohon aren, namun
sekarang tenda sudah diganti dengan tenda sewaan. Selain faktor eksternal,
faktor internal seperti lingkungan alam, lingkungan masyarakat, kondisi
keluarga dan keberfungsian tradisi pun memengaruhi pola pewarisan dan
eksistensi tradisi yang ada di Kampung Kuta. Kondisi lingkungan alam
Kampung Kuta yang jauh dan akses jalan yang masih kurang diperhatikan
membuat masyarakat dari luar Kampung Kuta jarang memasuki Kampung
Kuta, hanya pada acara-acara atau kepentingan tertentu saja baru memasuki
Kampung Kuta. Kondisi ini dirasa menguntungkan bagi pewarisan nilai dan
eksistensi tradisi adat yang ada di Kampung Kuta, karena kondisi ini
membuat masyarakat Kampung Kuta terhindar dari budaya luar yang di bawa
masyarakat luar saat memasuki Kampung Kuta. Selain itu, kondisi
lingkungan masyarakat Kampung Kuta yang dikelilingi Keramat membuat
masyarakat takut pada roh-roh yang menghuni keramat sehingga tradisi yang
ada tetap masyarakat pertahankan karena takut dengan penghuni kramat
tersebut. Rasa solidaritas antar warga kampung di Kampung Kuta ini sangat
tinggi, masyarakat sangat dekat satu sama lain. Hal ini membuat proses
pewarisan nilai dan norma dalam mempertahankan tradisi lebih mudah dan
gencar dilakukan oleh masyarakat. Selain itu, masyarakat merasakan manfaat
dari tradisi yang telah dijalankan selama ini. Keberfungsian tradisi bagi
masyarakat membuat tradisi yang ada di Kampung Kuta masih di
pertahankan oleh masyarakat.

5.2 Implikasi dan Rekomendasi

Dessy Lismiati, 2015


POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
179

Hasil penelitian mengenai pola pewarisan nilai dan norma masyarakat


Kampung Kuta dalam mempertahankan tradisi ini, dapat memberi implikasi pada
dunia pendidikan dan masyarakat umum. Implikasi pada dunia pendidikan dapat
dilakukan pada pembelajaran di persekolahan, nilai-nilai dan norma yang dimiliki
masyarakat Kampung Kuta dapat diajarkan pula pada dunia pendidikan.
Pemaparan mengenai tradisi yang dimiliki masyarakat dan penjabaran mengenai
nilai-nilai yang terkandung dalam setiap tradisi dapat dijadikan contoh dalam
pembelajaran, bukan hanya dengan menggunakan tradisi masyarakat Kampung
Kuta melainkan mengangkat tradisi yang ada di lingkungan masing-masing untuk
kemudian dikombinasikan dengan pembelajaran di sekolah, sehingga
pembelajaran di sekolah tidak hanya toh terpaku pada buku pegangan.
Menggunakan buku pegangan sebagai pembelajaran di sekolah selama ini
cenderung membuat siswa bosan dengan pembelajaran yang berlangsung.
Tradisi yang ada di Kampung Kuta merupakan tradisi yang unik, tradisi-
tradisi ini dapat memberi implikasi pada pembelajaran sosiologi terutama dalam
perspektif interaksionis dan fungsionalis. Pola pewarisan nilai dan norma
masyarakat Kampung Kuta pun dapat di tiru di dunia persekolahan dan di
masyarakat lain pada umumnya. Masyarakat luas pada umunya sudah mengetahui
bahwa seorang pendidik merupakan sosok yang perilakunya akan di tiru oleh
peserta didik, penelitian ini membuktikan hal tersebut. Salah satu pola pewarisan
nilai yang dilakukan masyarakat adalah dengan pola peniruan model, untuk itu
apa yang hendak pendidik sampaikan pada peserta didik atau keluarga pada
anaknya lebih baik tidak hanya terucap di mulut saja melainkan harus
dicerminkan pula dengan perilaku sehingga anak akan yakin dengan yang
disampaikan dan mau serta dapat meniru apa yang pendidik coba untuk
ditanamkan padanya. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis hasil penelitian
“Pola Pewarisan Nilai dan Norma Masyarakat Kampung Kuta dalam
Mempertahankan Tradisi”, peneliti memberikan beberapa rekomendasi sebagai
berikut:

5.2.1 Bagi Masyarakat Kampung Kuta

Dessy Lismiati, 2015


POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
180

Kampung Kuta merupakan salah satu kampung adat yang masih bertahan
di kabupaten Ciamis, Kampung Kuta memiliki tradisi yang mengajarkan banyak
hal atas makna yang terkandung dalam setiap tradisi. Untuk itu, sudah seharusnya
masyarakat setempat bekerjasama untuk melestarikan tradisi yang ada. Alangkah
lebih baik jika warga Kampung Kuta yang saat ini peneliti lihat mulai tidak
menjalankan tradisi yang sejak dahulu dipertahankan, mau untuk kembali
menjalankan tradisi yang ada. Jika warga pemilik tradisi ini sudah tidak peduli
dengan tradisi yang ada, bagaimana dengan masyarakat luar. Tradisi yang ada
memiliki makna yang dalam, jika masyarakat tidak peduli mungkin tradisi yang
kaya akan makna ini lambat laun akan hilang.

5.2.2 Bagi Pemerintah Daerah


Tradisi yang dimiliki masyarakat Kampung Kuta merupakan ciri khas
tersendiri yang dimiliki oleh masyarakat Kampung Kuta pada khususnya dan
umumnya masyarakat Kabupaten Ciamis. Beberapa tradisi yang dimiliki
masyarakat Kampung Kuta sempat membawa nama baik Kabupaten Ciamis
ketika di undang dalam beberapa event dengan memenangkan beberapa
perlombaan. Sudah selayaknya institusi-institusi terkait untuk memberikan
perhatian lebih guna membantu mempertahankan tradisi yang ada, selain itu agar
semua penghargaan yang telah didapatkan dari tradisi yang ditampilkan saat event
tertentu tidak sia-sia dan semakin diakui keberadaannya.

5.2.3 Bagi Pembelajaran Sosiologi


Berdasarkan pemaparan hasil penelitian, secara teoretis hasil penelitian
ini diharapkan dapat memperluas wawasan dan perkembangan ilmu pengetahuan
dalam bidang sosiologi, khususnya sosiologi pendidikan dan perspektif sosiologi
interaksionis dan fungsionalis juga pada sosiologi pedesaan yang berkaitan
dengan kebudayaan yang lahir dan berkembang dalam masyarakat serta
bagaimana bentuk pola-pola pewarisan yang dilakukan masyarakat pedesaan.

5.2.4 Bagi Peneliti Selanjutnya

Dessy Lismiati, 2015


POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
181

Cukup banyak hal yang dapat diangkat dari tradisi yang ada di
masyarakat Kampung Kuta. Berdasarkan pengamatan peneliti selama melakukan
penelitian di Kampung Kuta, bagi peneliti selanjutnya mungkin dapat
mengadakan penelitian lanjutan berkaitan dengan dunia pendidikan formal.
Bagaimana tradisi yang ada di Kampung Kuta dapat diterapkan pada dunia
pendidikan formal khususnya pendidikan sosiologi agar pembelajaran yang
dilakukan di sekolah tidak melulu berkutit pada teori-teori.
Berkaitan dengan penelitian “Pola Pewarisan Nilai dan Norma
Masyarakat Kampung Kuta dalam Mempertahankan Tradisi”, nampaknya
penelitian selanjutnya mungkin dapat mengkaji lebih dalam mengenai faktor
eksternal dan internal yang ada di Kampung Kuta terhadap eksistensi tradisi
masyarakat. Seperti temuan peneliti akan adanya unsur tradisi yang berubah pada
tenda yang digunakan ketika hajatan, dimana dahulu tenda kerap kali dibuat dari
kirai dan batang pohon aren dan sekarang mulai menggunakan tenda sewaan.
Mungkin masih banyak perubahan seperti ini yang kurang atau bahkan tidak
tergali oleh peneliti.

Dessy Lismiati, 2015


POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Y., & Adang. (2013). Sosiologi untuk Universitas. Bandung: Refika
Aditama.

Basrowi dan Suswandi. (2008). Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka


Cipta.

Craib, I. (1994). Teori-teori Sosial Modern: dari Parsons sampai Habermas.


Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Creswell, J. W. (2010). Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan


Mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Danial, Endang. (2009). Metode Penulisan Karya Ilmiah. Bandung :


Laboratorium Pendidikan Kewarganegaraan.

Eriyanto. (2002). Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi dan Politik Media.


Yogyakarta: YKiS.

Esten, M. (1999). Kajian Transformasi Budaya. Bandung: Angkasa Bandung.

Gea, A. A., & Wulandari, A. P. Y. (2006). Relasi dengan Dunia. Jakarta: Elex
Media Komputindo.

Haryanto, S. (2012). Spektrum Teori Sosial: dari Klasik Hingga Postmodern.


Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Haviland, W. A. (1988). Antropologi. Jakarta: Erlangga.

Henslin. J. M. (2006). Sosiologi dengan Pendekatan Membumi. Jakarta: Erlangga.

Ihromi, T. O. (Penyunting). (2004). Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. Jakarta:


Yayasan Obor Indonesia.

Kartono. (1996). Metodologi Riset Sosial. Bandung: Mandar Maju.

Khairuddin. (2008). Sosiologi Keluarga. Yogyakarta: Liberty.

Koentjaraningrat. (1990). Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Jakarta:


Gramedia.

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Littlejohn, S. W., & Foss, K. A. (2009). Teori Komunikasi. Jakarta: Salemba


Humanika.
Dessy Lismiati, 2015
POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
182
183

Martokusumo, S. (2003). Mengenal Hukum Suatu Penganta. Yogyakarta: Liberty.


Martono, Nanang. 2011. Metode penelitian kuantitatif. Jakarta : PT. Raja
Grafindo Persada.

Maryati, K & Suryawati,J. (2007). Sosiologi untuk SMA dan MA kelas X. Jakarta:
Esis.

Moleong, Lexy J (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja


Rosdakarya.

Moleong, Lexy J (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja


Rosdakarya.

Moleong, L. J. (2011). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja


Rosdakarya.

Mulyana. D., & Jalaluddin, R. (2010). Komunikasi antar Budaya. Bandung:


Remaja Rosda Karya.

Narwoko, J.D. dan Suyanto, Bagong.(2004). Sosiologi Teks Pengantar dan


Terapan. Jakarta: Kencana.

Nasution, S. (1992). Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito.

Nasution. (2011). Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Nazir, Muhammad. (1988). Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia

Papalia, D. E. (2010). Human Development. Edisi Kesembilan. Jakarta: Kencana.

Pasaribu. (2013). Teori Budaya dan Budaya. Yogyakarta: Bentang.

Raco, J. R. (2010). Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Grasindo.

Raho, B. (2007). Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pusakarya.

Ranjabar, J. (2006). Sistem Sosial Budaya (Suatu Pengantar). Bogor: Ghalia


Indonesia.

Ritzer, G. (2012). Teori Sosiologi: dari Sosiologi Klasik sampai Perkembangan


Terakhir Postmodern. Edisi Kedelapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ritzer, G., & Goodman, D. J. (2004). Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana.

Ritzer, G., & Goodman, D. J. (2010). Teori Sosiologi Modern. Edisi Keenam.
Jakarta: Kencana.

Dessy Lismiati, 2015


POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
184

Rudito, B & Famiola, F. (2013). Social Mapping:Metode Pemetaan Sosial.


Bandung: Rekayasa Sains.

Saifuddin, A. f. (2006). Antropologi Kontemporer: Suatu Pengantar Kritis


Mengenai Paradima. Jakarta: Kencana.

Scott, J. (2012). Teori Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Setiadi, E.M. & Kolip, U. (2011). Pengantar Sosiologi. Edisi Pertama. Jakarta:
Kencana.

Soekanto, S. (2007). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sugiyono. (2014). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,


kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sztompka, P. (2011). Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Prenada.

Usman, Husaini dan Akbar, Purnomo Setiady. (2009). Metodologi Penelitian


Sosial. Jakarta : PT. Bumi Aksara.

Waridah, Siti dkk. (2000). Antropologi. Jakarta: Bumi Aksara.

Widagdho, D. (2010). Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.

West, R., & Turner, L. H. (2008). Pengantar Teori Komunikasi. Edisi Ketiga.
Jakarta: Salemba Humanika.

Zeitlin, I. M. (1995). Memahami Kembali Sosiologi. Yogyakarta: Gadjah Mada


university Press.

Sumber Penelitian

Abdullah, T. (2007). Model Proses Pewarisan Nilai-nilai Tradisional Melalui


Pendidikan dalam Keluarga: Studi Kasus Kehidupan Sosial Budaya
Masyarakat Kampung Naga di Desa Neglasari Kecamatan Salawu
Kabupaten Tasikmalaya. Disertasi, Program Studi Pendidikan Umum.

Achdiani, Y. (2012). Sosialisasi dan Enkulturasi Tradisi Penganut Madraisme


dalam Keluarga di Kampung Cireundeu Kota Cimahi. Indonesian Journal of
Dialectics, 2 (3).

Farabi, A.M. (2014). Komunikasi Budaya Masyarakat Kampung Mahmud (Studi


Kasus tentang Pewarisan Nilai Budaya dari Tokoh Adat ke Generasi Muda
di Kampung Mahmud Kabupaten Bandung). Tesis, Program Pendidikan
Magister Program Studi Ilmu Komunikasi. Universitas Padjadjaran.
Dessy Lismiati, 2015
POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
185

Kartika, T. (2012). Pola Komunikasi Etnis Besemah (Studi Etnografi Komunikasi


pada Kelompok Etnik di Dusun Jangkar Mas Kecamatan Denpo Utara
Kotamadya Pagaralam Provinsi Sumatera Selatan). Disertasi Universitas
Padjajaran.

Kodiran. (2004). Pewarisan Budaya dan Kepribadian. Artikel Humaniora, 16 (1),


hlm. 10-16. [Online]. Tersedia:
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=3079&val=29. Diakses
6 April 2015.

Restiandari, Y. (2014). Enkulturasi Budaya Masyarakat Bali di Daerah Transmisi.


Skripsi, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Pendidikan
Sosiologi. Universitas Pendidikan Indonesia.

Samsul. (2012). Tradisi Lisan Kabhanti Modero pada Masyarakat Muna di


Sulawesi Tenggara. Tesis, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Peminatan
Budaya Pertunjukan. Universitas Indonesia.

Shafa, L.N.A. (2014). Pola Pewarisan Nilai-nilai Sosial dan Budaya dalam
Upacara Adat Seren Taun. Skripsi Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan
Sosial, Pendidikan Sosiologi Universitas Pendidikan Indonesia.

Wantiasih, A. (2013). Pewarisan Nilai-nilai Kepahlawanan melalui Pementasan


Baris Jangkang di Desa Pakraman Pelilit Nusa Penida Kelungkung Bali.
Artikel Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja. [online]. Tersedia:
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=1027-1925-1-SM.pdf.
Diakses 3 Maret 2015.

Wardana, E.P. (2013). Pewarisan Kesenian Saluang Pauah di Kecamatan Pauah


Kota Padang. E-Jurnal Sendratasik FBS Universitas Negeri Padang, 2 (1).
[Online]. Tersedia:
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=101225&val=1538.
Diakses 5 April 2015.

Wihantari, B. (2013). Studi Etnografi Nilai Agama Hindu pada Anak oleh
Anggota Banjar Surabaya. Jurnal Antropologi FISIP Unair, 2 (1), hlm. 238-
254. [online]. Tersedia:
http://journal.unair.ac.id/filerPDF/Biyas%20Wihantari(15).pdf. Diakses 5
April 2015.

Yasmud. (2011). Tradisi Lisan Mowindahako Suku Tolaki di Sulawesi Tenggara.


Tesis, Fxxakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Dessy Lismiati, 2015


POLA PEWARISAN NILAI DAN NORMA MASYARAKAT KAMPUNG KUTA
DALAM MEMPERTAHANKAN TRADISI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu