Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PELAKSANAAN

OBSERVASI BUDAYA KAMPUNG ADAT CIPTAGELAR


TAHUN AKADEMIK 2015-2016

Disusun Oleh :

Kelompok : 01 (satu)

Program Studi :Ilmu Pemerintahan

SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

STISIP WIDYAPURI MANDIRI

2016
PENGARUH HUKKUM ADAT TERHADAP SISTEM MATA PENCAHARIAN
MASYARAKAT CIPTAGELAR

Disusun oleh :

Kelompok : 01 (Satu)

Program Studi : Ilmu Pemerintahan

1. Agung Nugraha Gumelar 6520114003


2. Ahmad Sopian Paisal 5620114004
3. Nuryanti 6520114044
4. Raffi Anugrah 5620114047
5. Ramdan Taufik Hidayat 5620114048
6. Rima Rostiana Gawa 5620114058
7. Nur Intan Sapitri 6520115029

Sukabumi,.....Januari 2016

Ketua program Studi Pembimbing Observasi Budaya

Ilmu Pemerintahan

(Dra. Katirina Rachayu, M.Si.) (Ade Fakhrudin, BA)


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Sejarah Ciptagelar

Sebagaimana yang dipaparkan oleh salah seorang kaki tangan Abah Anom

(bah Ugi) dalam hal ini adalah kang Yoyo, bahwa: Ciptagelar termasuk ke dalam

wilayah kasepuhan, secara sederhana, kata kasepuhan dapat mengacu pada kelompok

masyarakat atau komunitas yang masih hidup dan bertingkah-laku sesuai dengan

aturan adat istiadat lama, secara etimologi, kasepuhan dari kata “sepuh” yang

bermakna Tua (dihormati dan dituakan). Masyarakat Kampung Ciptagelar menyebut

diri sebagai kaum Kasepuhan Pancer Pangawinan, serta merasa kelompoknya sebagai

keturunan Prabu Siliwangi. Perihal nama Pancer Pangawinan, berasal dari kata pancer

yang bearti asal-usul atau sumber. Sementara kata pangawinan berasal dari kata

ngawin, yang artinya “membawa tombak saat upacara perkawinan”. Tetapi, kata

“pangawinan” dalam konteksini, mungkin bersangkut paut dengan “bareusan

pangawinan“, barisan tombak, pasukan khusus Kerajaan Sunda yang bersenjata

tombak. Kampung Adar Ciptagelar berada di Desa Sirnarasa, Kecamatan Cisolok,

Sukabumi, wilayah adat ini terletak di lereng bukit bagian selatan Taman Nasional

Gunung Halimun dan termasuk kedalam Kesatuan Adat Banten Kidul.

Dalam bahasa Sunda, kata kasepuhan mengacu pada golongan masyarakat yang

masih hidup dan bertingkah-laku sesuai dengan aturan adat istiadat lama. Masyarakat

Kampung Ciptagelar menyebut diri sebagai kaum Kasepuhan Pancer Pangawinan,

serta merasa kelompoknya sebagai keturunan Prabu Siliwangi. Perihal nama Pacer

Pangawinan, berasal dari kata pancer yang bearti asal-usul atausumber. Sementara

kata pangawinan berasal dari kata ngawin , yang artinya “membawa tombak saat
upacara perkawinan”. Tetapi, kata “ pangawinan ” dalam konteks ini, mungkin

bersangkut paut dengan“ bareusan pangawinan “, barisan tombak, pasukan khusus

Kerajaan Sunda yang bersenjata tombak. (Kusnaka Adimihardja, 1992).

Kasepuhan Banten Kidul adalah kelompok masyarakat adat sub-

etnis Sunda yang tinggal di sekitar Gunung Halimun, terutama di wilayah Kabupaten

Sukabumi sebelah barat hingga ke Kabupaten Lebak, dan ke utara hingga

ke Kabupaten Bogor. Kasepuhan (Sd. sepuh, tua) menunjuk pada adat istiadat lama

yang masih dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari.

Masyarakat Kasepuhan Banten Kidul melingkup beberapa desa tradisional dan

setengah tradisional, yang masih mengakui kepemimpinan adat setempat. Terdapat

beberapa Kasepuhan di antaranya adalah Kasepuhan Ciptagelar, Kasepuhan

Cisungsang, Kasepuhan Cisitu, Kasepuhan Cicarucub, Kasepuhan Citorek, serta

Kasepuhan Cibedug[1]. Kasepuhan Ciptagelar sendiri melingkup dua Kasepuhan yang

lain, yakni Kasepuhan Ciptamulya dan Kasepuhan Sirnaresmi[2].

Pemimpin adat di masing-masing Kasepuhan itu digelari Abah, yang dalam

aktivitas pemerintahan adat sehari-hari dibantu oleh para pejabat adat yang

disebut baris kolot (Sd. kolot, orang tua; kokolot, tetua). Kasepuhan Ciptagelar kini

dipimpin oleh Abah Ugi, yang mewarisinya dari ayahnya, Abah Anom, yang

meninggal dunia pada tahun 2007. Wilayah pengaruh kasepuhan ini di antaranya

meliputi desa-desa Sirnaresmi dan Sirnarasa di Sukabumi. Sementara Kasepuhan

Cisungsang berlokasi di Desa Cisungsang wilayah Lebak dipimpin oleh Abah Usep,

salah satu ritual adat tahunan Kasepuhan yang selalu menarik minat masyarakat

adalah upacara Seren Taun; yang sesungguhnya adalah pernyataan syukur warga

Kasepuhan atas keberhasilan panen padi.


1.2. Letak Geografis.

Jawa Barat terkenal dengan alam pegunungannya yang indah dan sejuk. Selain

itu Jawa Barat juga terkenal dengan banyaknya desa adat yang salah satunya dalah

desa adat Ciptagelar (Kampung Ciptagelar, Desa Sirna Rasa, Kecamatan Cisolok,

Sukabumi) yang terletak di lereng bukit selatan Gunung Halimun dan Taman

Nasional Gunung Halimun. Kampung Ciptagelar yang luasnya hanya sekitar empat

hektar dengan yang jaraknya sekitar 44 kilometer dari Palabuhan Ratu ke arah

Cisolok, atau sekitar 200km dari Jakarta, persis di berbatasan dengan tapal batas

kawasan Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH). Untuk mencapai kampung itu

para pendatang harus melalui jalan tanah berbatu kasar sepanjang sekitar 14

kilometer, dengan jalan menurun dan menanjak yang sangat tajam dari lereng satu ke

lereng yang lain di Gunung Halimun.

1.3. Bukti sejarah.

Sebagaimana yang dikutif dari https:// www.google.co.id/ ciptagelar+ banten+

kidul bahwa: “Sejauh ini bukti sejarah, memang masih banyak pihak yang meragukan

keberadaan warga desa Ciptagelar tersebut memiliki hubungan erat dengan Raja

Pajajaran Prabu Siliwangi. Tapi, jika melihat fakta situs yang diduga kuat peninggalan

Kerajaan Pajajaran yang berada di sekitar desa tersebut tepatnya di kampung

Pangguyangan rasanya itu bisa dipercaya. Apalagi, di sekitar situs tersebut tumbuh

pohon hanjuang (pajaja ran). Situs yang ditemukan di perkampungan tersebut,

katanya, dilihat dari ilmu arkeologi diyakini tempat pemujaan animis. Di sana,

terdapat situs megalitik, batu jolang (tempat pemandian), salak datar, tugu gede,

cungkuk, batu kursi dan batu dakon (alat perhitungan tanggal/ilmu bintang).
Perkampungan tersebut, menurut cerita legenda merupakan salah satu tempat

pelarian keturunan dan pengikuti Kerajaan Pajajaran. Sekitar tahun 1300, saat Prabu

Siliwangi dan pengikutnya dikejar-kejar Kerajaan Mataram dari Banten mencoba

melarikan diri ke Pulau Christmas (Australia) lewat Pantai Tegal Buleud, Kabupaten

Sukabumi. Tapi itu gagal dilakukan Prabu Siliwangi dan pengikutnya, karena ombak

Samudra Hindia saat itu sedang pasang. Tanpa memikir panjang, Prabu Siliwangi

meminta pada keturunan dan pengikutnya untuk mencari jalan masing-masing untuk

menyelamatkan diri dari kejaran Kerajaan Mataram.

Dari sekian banyak pengikut dan keturunan Prabu Siliwangi, mereka akhirnya

berpencar. Sebagian di antaranya, melarikan diri ke Urug ( Bogor ) dan sebagian lagi

lari ke Citorek (Banten), Sirna Rasa dan Ciganas (Sukabumi). Sedangkan, Prabu

Siliwangi sendiri lari ke arah utara pantai Tegal Buleud.

Berdirinya desa Cipta Gelar tidak terlepas dari yang sifatnya mitos dan tradisi

yang melekat pada penduduk tradisional sebagaimana mestinya. Penduduk desa

Cipata Gelar merupakan penduduk pindahan dari desa Ciptarasa. Perpindahan ini di

dahului oleh sebuah mimpi atau wangsit yang diterima oleh Abah Anom yang

meyuruh pindah, maka tepatnya bulan Juli 2001, Abah Anom bersama belasan baris

kolot (pembantu sesepuh girang) menjalankan wangsit tersebut. Beberapa rumah baris

kolot beserta seluruh isinya ikut dibawa pindah. Lokasi baru tempat tinggal Abah

Anom beserta baris kolot-nya bukan daerah yang baru dibuka. Abah Anom pindah ke

tempat yang telah ada penduduknya dan kampungnya bernama Sukamulya. Oleh

Abah Anom kemudian diganti menjadi Ciptagelar.

Abah Anom atau yang bernama asli Bapak Encup Sucipta sebagai puncak

pimpinan kampung adat memberi nama Ciptagelar sebagai tempat pindahnya yang

baru. Arti dari kata Ciptagelar sendiri artinya terbuka atau pasrah. Kepindahan
Kampung Ciptarasa ke kampung Ciptagelar lebih disebabkan karena “perintah

leluhur” yang disebut wangsit. Wangsit ini diperoleh atau diterima oleh Abah Anom

setelah melalui proses ritual beliau yang hasilnya tidak boleh tidak, mesti dilakukan.

Oleh karena itulah kepindahan kampung adat bagi warga Ciptagelar merupakan

bentuk kesetiaan dan kepatuhan kepada leluhurnya.

1.4. Kebudayaan desa Ciptagelar

Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa kebudayan merupakan hasil dari

manusia. Sedangkan menurut Konjaraningrat kebudayaan adalah “daya budi” yang

berupa cipta, karsa dan rasa. Kebudayan menurut J.J Honigmann dibedakan atas

gejala-gejalanya yang terdiri dari:

1. Wujud kebudayan yang terdiri dari ide, gagasan, norma-norma dan sebagainya.

2. Kebudayan sebagai aktivitas tindakan manusia yang terpola

3. Wujud kebudayaan yang merupakan hasil dari karyanya.

Secara umum kebudayaan memiliki kesamaan di dunia ini, maka untuk itu

Konjaraningrat membagi kebudayaan kedalam tujuh unsur.Yaitu bahasa, sistem

pengetahuan, Organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata

pencarian hidup, sistem religi dan kesenian. Dari ketujuah unsur kebudayan yang

dikemukakan oleh Koenjaraningrat ini kami mencoba melihat kebudayaan yang

muncul dalam sebuah masyarakat desa Cipta Gelar.

1.5. Bahasa

Bahasa merupakan alat komunikasi manusia baik secara lisan maupun tulisan,

untuk berkomunikasi satu sama lain. Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan

komunikasi satu sama-lain, ini merupakan salah satu bukti perbedaan manusia dengan
makluk lainya dan manusia dianggap merupakan makhluk yang diciptakan tuhan

dengan sempurna. Bahasa yang digunakan di dunia ini sangat bermacam-macam,

bahkan di Indonesia sendiri bahasa sangat banyak sekali yang merupakan hasil dari

daya kreasi manusia yang menggunakannya. Jawa Barat merupakan suatu wilayah

yang kebanyakannya mengunakan bahasa sunda tidak terkecuali di Desa Ciptagelar

sebagai salah satu desa yang terdapat di tatar Pasundan mereka dalam kehidupan

sehari-harinya banyak menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa resminya sebagai

alat komunikasi.

Dalam Masyarakat Perkampungan Ciptagelar Kabupaten Sukabumi, Sebagian

besar menggunakan Bahasa Sunda dalam kehidupan sehari–hari, Bahasa Sunda

merupakan bahasa yang diciptakan dan digunakan oleh orang Sunda dalam berbagai

keperluan komunikasi dalam kehidupan mereka. Tidak diketahui kapan bahasa ini

lahir, tetapi dari bukti tertulis yang merupakan keterangan tertua, berbentuk prasasti

berasal dari abad ke-14. Dapat dipastikan bahwa Bahasa Sunda telah digunakan

secara lisan oleh masyarakat Sunda jauh sebelum masa itu.

1.6. Sistem Pendidikan dan Pengetahuan

Masuknya peralatan modern ke desa Ciptagelar tidak menghilangkan tradisi

lama nenek moyang mereka terutama dalam bidang pengetahuan bertaninya, mereka

dalam menanam padi tetep memegang amanah tradisi leluhur tanpa obat-obatan

kimiawi dan selalu berhasil panen setiap tahun, dengan memberikan kesempatan

untuk bernapas sejenak kepada bumi yang menghidupkan padi-padian maka yang

terjadi adalah panen yang selalu berhasil dan leuit-leuit (tempat penyimpanan padi)

yang tidak pernah dihampiri hama.


Bagi orang Sunda yang hidup di pedesaan leuit memang bukan sesuatu yang

asing, meski sekarang fungsinya sudah tergerus zaman. Di masa lalu, leuit punya

peran vital, sebagai gudang penyimpanan gabah atau beras hasil panen. Pada saat

musim paceklik, simpanan gabah itu ditumbuk untuk kemudian dijadikan pemenuhan

makan sehari-hari.

Di zaman modern sekarang leuit nyaris punah. Apalagi di daerah perkotaan,

orang lebih menyukai sesuatu yang serba instan. Dikatakan “nyaris punah”, karena

memang masih ada sebagian warga yang tetap mempertahankan fungsi leuit. Salah

satunya adalah warga adat yang menempati kaki Gunung Halimun, sebuah kawasan

yang jadi simpul perbatasan tiga kabupaten, Sukabumi, Bogor, dan Lebak (Banten).

Bagi mereka yang memang jauh dari ingar-bingar dan gemerlap kota, keberadaan

leuit sangat vital sebagai bumper ketahanan pangan warga.

Saking pentingnya, ketika seorang bayi lahir, maka yang pertama dijadikan

“hadiah” adalah membangun leuit. Begitu juga saat seseorang menikah, yang pertama

harus diurus adalah leuit. “Orang kota, kalau anak lahir biasanya langsung dibelikan

boks bayi. Tapi bagi warga Kampung Adat Halimun, yang pertama diberikan kepada

bayi baru lahir adalah leuit” .

Leuit biasanya dibangun tidak jauh dari rumah pemiliknya. Ukurannya

bervariasi, bergantung status sosial pembuatnya. Bagi kebanyakan warga, ukurannya

biasanya 4 x 5meter, sedangkan bagi orang kaya bisa lebih luas lagi, 8 x 10 meter.

“Sebenarnya ukurannya bukan dalam meter, tapi daya tampung. Satu leuit bisa

menampung 500 – 1.000 ikat paregede (jenis padi yang biasa ditanam warga

setempat),” katanya. Jika dikonversikan, satuikat pare gede setara dengan 5 kg. Jadi,

leuit yang dibangun warga bisa menampung 2,5 ton sampai 5 ton padi.
Bagi penduduk setempat, tidak ada jenis padi yang ditanam selain pare gede .

Untuk jenis ini, biasanya panen satu tahun sekali.Meski begitu, tiap kali panen jarang

gagal seperti yang biasa terjadi di daerah lain. Dalam satu kali musim panen, satu

hektar sawah bisa menghasilkan sekira 5ton lebih gabah. Pola tanam yang dianutnya

dengan sistem pola tanam serentak. Tujuannya agar bisa mengurangi serangan hama.

Meski satu tahun sekali, hasilnya cukup untuk dua tahun.

Dalam pandangan saya sistem ketahanan pangan leuit yang masih dianut oleh

warga adat Gunung Halimun, sangat bagus. Model tersebut bisa dijadikan contoh

masyarakat modern, sehingga saat terjadi kekosongan suplai beras di pasar,

masyarakat tidak kelabakan. “Saya kira, negara juga patut bercermin kepada kaum

adat tadi, bagaimana mengatur tata niaga beras jangan sampai terus mengandalkan

impor beras saja,”.Dalam hal ini masyarakat Ciptagelar pengetahuan tentang

bagaimana cara memenuhui kebutuhan hidupnya sangat patut untuk kita contoh

mereka tidak tergantung kepada orang lain atau pemerintah sendiri tetapi mereka

hidup mandiri.

Gambar: 1.1.
Leuit (Lumbung Padi)
1.7. Pemerintahan.

Abah anom sebagai kepala adat disana memliki peranan dan pengaruh sangat

penting dalam masyarakatnya. Di Desa Ciptagelar tidak nampak adanya organisasi

sosial yang modern seperti di daerah perkotaan, namun ketika ada kegiatan mereka

secara sukarela membatu.

Gaya kepemimpinan Abah Anom sebagai seorang ketua adat dapat tergambarkan

sebagai berikut, gaya kepemimpinan Abah Anom yang santun dan contoh laku hidup

yang diterapkannya membuat ia menjadi panutan warga dalam kehidupan sehari-hari.

Harmonisasi alam dan manusia adalah satu dari sekian banyak kearifan hidup yang

dijalaninya. Bijak dalam memperlakukan alam, tak terjebak nafsu untuk menguras apa

yang ada di depan mata, ia membawa warganya pada hidup yang relatif tak pernah

kekurangan.

Salah satu bentuk pertanggungjawa ban Abah Anom sebagai pemimpin

masyarakat, di wujudkan dengan adanya pelaporan pertanggungjawa ban setiap

selesai upacara “Seren Taun”. Sesudah prosesi upacara tersebut, Abah Anom

memberikan laporan pertanggungjawa ban dalam bahasa Sunda kepada para sesepuh

adat, disaksikan beberapa pejabat daerah serta ribuan warga.

Sistem organisasi kemasyarakatan di kampung ciptagelar telah berjalan

dengan baik hal ini didasari karena warga menyakini bahwa Abah telah memikirkan

kesejahteraan warganya. Abah dikenal memiliki banyak pembantu atau mentri yang

tersebar dari pusat hingga berbagai daerah. Secara struktural tertinggi, kasepuhan ini

dipimpin oleh kolot girang. Ia didampingi sesepuh induk yang dijabat oleh Marjuhi.

Marjuhi merupakan mediator untuk mempertemukan para kolot lembur dengan Abah

Anom. Jika ada persoalan adat atau persoalan warga, misalnya konflik tanah, maka
biasanya akan ditangani terlebih dulu oleh kolot lembur di daerah. Jika gagal, masalah

tersebut dapat dibawa ke sesepuh induk. Marjuhi sebagai sesepuh induk akan

berusaha menyelesaikan persoalan itu. Jika tidak bisa, maka Abah Anom yang akan

menjadi penentu. Tapi selama ini jarang ada konflik karena warga memegang teguh

aturan adat, menurut Marjuhi . Di tingkat pusat maupun daerah juga ada fungsi-fungsi

untuk menjalankan roda tata kelola adat.

Perangkat lain yang menopang berjalannya roda pemerintahan desa adat

Ciptagelar yang berjalan sesuai dengan fungsinya masing-masing adalah adanya

mabeurang (dukun bayi), bengkong (dukun sunat), paninggaran (memagari lahan

pertanian secara gaib dari serangan hama), juru do’a, juru pantun, dukun jiwa, dukun

tani, juru sawer untuk menjalankan fungsi keamanan atau ronda. Selain itu di

beberapa kampung ada juga pengawal atau ajudan yang berfungsi untuk membantu

membawakan barang bawaan kolot lebur jika bepergian dinas. Dan juga terdapat apa

yang disebut pujangga keraton, yaitu Ki Radi namanya berusia sekitar 50 tahun, ia

bertugas membunyikan kecapi buhun sambil berpantun, pada malam kedua perayaan

seren taun ketika para pengunjung sudah banyak yang pulang, isi pantunnya tersebut

menuturkan asal-usul perjalanan hidup.

Abah Anom juga memiliki perangkat untuk rakyat, mereka bekerja lintas

administrasi desa. Dalam satu wilayah kampung adatbisa menaungi dan mengayomi

beberapa desa. Di di kampong Ciptagelar ini tidak ada konflik antara otoritas

pemerintah desa dengan pemerintahan adat. Dari sektor kependudukan, Abah Anom

juga memiliki biro statistika yang bisa mengecek jumlah penduduk serta angka

mortalitas dan natalitas. Penghitungan jumlah penduduk dibarengkan dengan

pengumpulan dana untuk keperluan adat yang disebut pongokan. Tidak hanya jumlah

penduduk, jumlah pongokan juga dihitung secara beraturan yang dipungut


berdasarkan perhitungan jumlah hewan piaraan dan kendaraan yang dimiliki warga.

Kepemilikan hewan dan kendaraan mempengaruhi jumlah dana yang ditarik dari

masing-masing keluarga. Sebab,dana seren taun ini juga berasal dari pajak ingon

(hewan peliharaan) dan pajak kendaraan.

Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi.

Dalam pembangunan jalan, jembatan, dan fasilitas umum lainnya, warga

Kasepuhan Ciptagelar juga melakukannya dengan tenaga mereka sendiri. Dalam

laporan kepada warganya itu, Abah Anom menyampaikan selesainya beberapa proyek

pembangunan jalan dan jembatan yang menelan biaya hingga ratusan juta rupiah.

Hebatnya, seluruh biaya pembangunan itu sepenuhnya swadaya masyarakat adat

Kasepuhan tersebut. Kegiatan-kegiat an yang ada itu tidak terlalu banyak

membutuhkan uang, tetapi tenaga. Untuk pembangunan jalan, misalnya, bantuan

warga bukan berbentuk uang, tetapi tenaga.

Alat penerangan yang ada disana ternyata sudah menggunakan listrik yang dibuat

oleh sekelompok orang yang merasa prihatin terhadap daerah-daerah terpencil seperti

desa Ciptagelar. Listrik yang ada disana bukan listrik dari PLN namun listrik yang

dibuat secara swadaya masyarakat dan bantuan donatur. Dengan adanya listerik maka

tidak menuntut kemungkinan masuknya berbagai alat komunikasi seperti televisi

radio komunitas. Peralatan pertanian yang digunakan disana masih sangat sederhana

sekali mereka masih menggunakan kerbau sebagai alat untuk membajak tanah.

1.8. Sistem Religi

Sistem religi di Desa Ciptagelar sebenarnya beragama Islam, namun unsur

animisme dan dinasmisme masih sangat kental, terutama sangat terlihat pada saat
adanya upacara-upacara adat. Contohnya masyarakat disana masih percaya kepada

hal-hal yang sifatnya magis, tahayul dan lain-lain.

Sebagai perangkat nilai yang dimiliki masyarakat adalam memandang dan

memanfaatkan lingkungan banyak dipengaruhi oleh adat istiadat dan lingkungan

dimana mereka tinggal, contoh pemahaman masyarakat akan system pertanian yang

menyelaraskan dengan alam dan tidak mau menanam padi jenis unggul versi

pemerintah, karena;

a) upacara adat mengharuskan menggunakan padilocal.

b) padi jenis unggul [pemerintah] tidak dapat tumbuh dengan baik di daerah

lembab dan terlalu dingin.

c) padi jenis lokal berbatang panjang sehingga memudahkan di etem, mudah

pengeringan dan penyimpannya, tahan sampai waktu lebih dari 5 tahun dan

tidak rontok.

d) melestarikan adat leluhur,ada sekitar 43 jenis pare rurukan (padi pokok) dan 100

jenis padi hasil silang dari pare rurukan.

e) dengan menanam padi setahun sekali, juga menghentikan siklus hama wereng

yang biasanya jatuh apada bulan dan musim yang sudah diperhitungkan.

f) untuk menentukan masa tanam didasarkan pada perhitungan dengan

menggunakan perhitungan bintang [seperti yang diungkapkan olek Kusnaka

Adimiharja.1992 ] yaitu;

· Tanggal Kerti Kana Beusi, tanggal Kidang turun Kijang , untuk

menyiapkan alat-lat pertanian,

· Kidang Ngarangsang Ti Wetan, Kerti ngagoredag ka kulon untuk lahan

mulai digarap.
g). Pengetahuan tentang hutan di masyarakat adat Kasepuhan di bagi 3 golongan,

yaitu;

- Hutan Tua ( Leuweung Kolot ), Hutan asli dengan kerimbunan dan

kerapatan tinggi dan banyak satwa, tidak boleh dieksploitasi.

- Hutan Titipan / Kramat ( leuweung Titipan ), Hutan Kramat yang harus

dijaga oleh setiap orang dan tidak boleh digunakan tanpa seijin sesepuh

girang, memungkinkan digunakan hasil hutannya bila ada wangsit dari

leluhur.

- Hutan Sempalan / bukaan ( leuweung Sampalan ), Hutan bukaan yang boleh

dieksploitasi untuk ladang, menggembalakan ternak, mencari kayu bakar

dan ditanami berbagai tanaman kayu dan buah-buahan yang hasilnya bisa

dimanfaatkan oleh masyarakat.

h). Aturan-aturan adat dan upacara adat yang berkaitan dengan padi selalu disertai

dengan upacara ritual;

A. Ritual: Ngaseuk

Upacara prosesi menanam padi, memohon keselamatan dan keamanan

dalam menanam padi, prosesi selamatan dengan kegiatan hiburan seperti

wayang golek, Jipeng, Topeng, dan Pantun Buhun. Diawali oleh sesepuh

girang berziarah ke pemakaman leluhur yang tersebar di wilayah Lebak,

Bogor dan Sukabumi.

B. Ritual: Sapang Jadian Pare

Satu minggu setelah tumbuhnya penanaman padi. Memohon ijin kepada

sang ibu untuk ditananmi padi, dan restu leluhur dan Sang pencipta agar

padi tumbuh dengan baik.


C. Ritual: Salametan Pare nyiram, mapag pare beukah
Selamatan padi keluar bunga, memohon padi tumbuh dengan baik dan
terhindar dari hama:

a. Ritual: Sawenan

Upacara setelah padi keluar, memberikan pengobatan padi dengan

tujuan agar padi selamat dan terisi dengan baik dan terhindar dari hama.

b. Ritual: Mipit Pare.

Diadakan saat akan memotong padi baik dihuma maupun dipesawahan,

dengan memohon kepada sang Pencipta agar diberikan hasil panen yang

banyak dan meminta ijin untuk pemotongan padi kepada leluhur.

c. Ritual: Nganyaran / Ngabukti

Upacara ritual saat padi ditumbuk dan dimasak pertama kali, sementara

itu warga menunggu sampai emak selesai dengan ritualnya.

d. Ritual Ponggokan

Seminggu sebelum Seren Taun, baris kolot berkumpul untuk membahas

jumlah jiwa dihitung berdasarkan pajak /jiwa Rp.150,-dan rumah

Rp.250,- (data th 1997)

Kemudian menyerahkan biaya Seren Taun yang telah disepakati

sebelumnya dan membahas biaya Seren Taun yang akan datang.

e. Ritual: Seren Taun

Adalah puncak acara dari segala kegiatan masyarakat Kasepuhan yang

dilakukan hanya di kampung gede setiap tahunnya. Upacara besar dalam

menghormati leluhur dan Dewi Sri, dengan segala bentuk seni dan

kesenian dari yang sangat buhun (lama) sampaiseni yang modern


sekalipun di tampilkan untuk masyarakat, dan padi di bawa dan diarak

dan diiringi oleh semua orang, untuk kemudian dan disimpan di lumbung

komunal Leuit Si Jimat .

D. Selain upacara yang terkait dengan padi, ada upacara lain yang
dilakukan yaitu;

- selamatan 14 bulan purnama, upacara Nyawen – bulan safar

(pemasangan jimat kampong)selamat Rosulan (permohonan) selamatan

(Beberes menghindarkan masalah karena pelanggaran) sedekah Maulud

dan Rewah (saling mengirim makanan ).

E. Kesenian

Seren tahun merupakan salah satu tradisi warga desa adat Ciptagelar,

yang bertujuan soal prilaku, ulah, dan langkah warga kasepuhan selalu

dalam kaidah adat yang santun. Ini penting, katanya, agar setiap keinginan

yang dicita-citakan bisa tercapai. Pertanian subur, panen melimpah,dan

hidup tenteram. Dalam acara seren tahun ini mereka biasanya menggelar

berbagi kesenian seperti jaipongan, wayang golek, debus, semua ini

merupakan bentuk syukuran rakyat kepada sang pencipta atas rizki yang

telah diberikan kepada mereka selain itu mereka juga meminta agar

kedepannya panen mereka lebih baik lagi. Selain pentas kesenian pada

malam itu juga tidak sedikit orang datang ke Abah Anom yang mana para

warga ingin menyampaikan keluh kesahnya sambil meminta wejangan.

Selesai atraksi ini dimulailah upacara seren taun, diawali pembacaan

do’a dan renungan oleh pemuka masyarakat di depan leuit (lumbung)

keramat. Usai sesi yang penuh ritual ini, abah dan istri serta anggota

inti,menaiki tangga lumbung dan masuk ke dalamnya. Sepanjang acara ini


asap menyan menebarkan kesan magis. Sesudah keluarga inti kasepuhan

kembali ke panggung, padi yang digotong tadi mulai dimasukkan dengan

cara dilempar. Acara selanjutnya adalah pidato pertanggung jawaban yang

intinya nyoreang alam katukang, nyawanan bakal katukang. Yang kira-kira

artinya, kecukupan di tahun yang sudah-sudah bagaimana, lalu di tahun

mendatang apa yang harus dilakukan.


BAB2

PEMBAHASAN

SISTEM MATA PENCARIAN HIDUP

Bagaimana warga di desa Ciptagelar berusaha hidup mandiri, sebanyak

mungkin melepas ketergantungan kepada pihak lain, namun di sisi lain menjunjung

tinggi kegotongroyonga n di dalam “keluarga” sendiri adalah hal yang sudah semakin

hilang di sekeliling kita. Meskipun mereka hidup dari hasil bersawah dan atau

berladang yang panen hanya sekali setahun, di keluarga Kesatuan Adat Banten Kidul

itu tak terdengar ada kabar tentang kekurangan pangan, apalagi kelaparan. Bahkan,

lumbung-lumbung gabah tidak pernah kosong sepanjang tahun.

Pekerjaan masyarakat Kasepuhan rata-rata adalah bertani dan bercocok tanam

padi, pekerjaan lainnya adalah beternak, berkebun, berdagang, dana ada sebagian

yang bekerja sebagai penambang emas.

1. Bercocok Tanam / Bertani

Bertani adalah mata pencaharian utama masyarakat ciptagelar, dalam bercocok

tanam di sini ada dua metode, yang pertama bercocok tanam di sawah dan yang

keduan bercocok tanam di kebun atau tegalan.


Bercocok tanam di sawah umumnya mereka menanam padi, padi adalah hasil

pertanian pling utama bagi masyarakat Ciptaagelar.

bila sawah dalam masa Boyor / berair cukup akan dipakai untuk memelihara

ikan, dan apabila kurang air akan ditanami tanaman yang berjangka pendek. Tanamah

yang berumur pendek misalnya sepereti sayuran. Dan adapula masyarakat ciptagelar

yang menanam pagi di kebun atau tegalan yang oleh masyarakat setempat disebut

“ngahuma”.

Dalam proses penanaman padi, ada ritual-ritual yang harus dilalui. Ritual-

ritual ini mesti dilakukan oleh penduduk adat Ciptagelar, karena ini menyangkut
dengan hukum adat yang telah baku dan sudah lumrah di sana.ritual-ritual yang

berkaitan dengan pertanian ini sebelumnya telah dicantumkan dalam pendahuluaan,

ritual-ritual itu di antaranya :

a. Ritual: Ngaseuk

Upacara prosesi menanam padi, memohon keselamatan dan keamanan dalam

menanam padi, prosesi selamatan dengan kegiatan hiburan seperti wayang golek,

Jipeng, Topeng, dan Pantun Buhun. Diawali oleh sesepuh girang berziarah ke

pemakaman leluhur yang tersebar di wilayah Lebak, Bogor dan Sukabumi.

b. Ritual: Sapang Jadian Pare

Satu minggu setelah tumbuhnya penanaman padi. Memohon ijin kepada sang ibu

untuk ditananmi padi, dan restu leluhur dan Sang pencipta agar padi tumbuh dengan

baik.

c. Ritual: Sawenan

Upacara setelah padi keluar, memberikan pengobatan padi dengan tujuan agar padi

selamat dan terisi dengan baik dan terhindar dari hama.

d. Ritual: Mipit Pare.

Diadakan saat akan memotong padi baik dihuma maupun dipesawahan, dengan

memohon kepada sang Pencipta agar diberikan hasil panen yang banyak dan meminta

ijin untuk pemotongan padi kepada leluhur.

e. Ritual: Nganyaran / Ngabukti

Upacara ritual saat padi ditumbuk dan dimasak pertama kali, sementara itu warga

menunggu sampai emak selesai dengan ritualnya.

f. Ritual Ponggokan
Seminggu sebelum Seren Taun, baris kolot berkumpul untuk membahas jumlah jiwa

dihitung berdasarkan pajak /jiwa Rp.150,-dan rumah Rp.250,- (data th 1997)

Kemudian menyerahkan biaya Seren Taun yang telah disepakati sebelumnya dan

membahas biaya Seren Taun yang akan datang.

g. Ritual: Seren Taun

Adalah puncak acara dari segala kegiatan masyarakat Kasepuhan yang dilakukan

hanya di kampung gede setiap tahunnya. Upacara besar dalam menghormati leluhur

dan Dewi Sri, dengan segala bentuk seni dan kesenian dari yang sangat buhun

(lama) sampaiseni yang modern sekalipun di tampilkan untuk masyarakat, dan padi

di bawa dan diarak dan diiringi oleh semua orang, untuk kemudian dan disimpan di

lumbung komunal Leuit Si Jimat .

Hasil panen dari sawah mereka menyimpannya dalam lumbung padi atau di

sana disebut “leuit”. Leuit ini adalah suatu bangunanyang diperuntukkan untuk

menyimpan hasil panen, khususnya hasil panen padi.

Di Kasepuhan Ciptagelar ada satu Lumbung komunal yang beri nama leuit Si

Jimat , lumbung ini dipergunakan untuk upacara adat di acara Seren Taun setiap

tahunnya sebagai tempat penyimpanan indung pare.


.

Dalam hal pertanian, di sana ada istilah maro, yaitu suatu sistem bagi dua

untuk pemilik dan penggarap, baik pertanian ataupun peternakan, dan istilah bawon

hanya berlaku saat panen padi, mendapat satu pocong, begitu juga berlaku ketika

menumbuk padi.

Selesai panen, setiap keluarga menyisihkan dua pocong untuk diserahkan ke

sesepuh girang sebagai tatali setiap habis panen,padi tersebut biasanya disimpan di

lumbung kesatuan, dan padi itujuga berfungsi sebagai cadangan bila datang musim

paceklik , dan bisa dipinjam oleh siapapun, dan dikembalikan dengan jumlah yang

sama, di sini diberlakukan hukum riba sebagaimana kita kenal dalam syariat Islam.

Peraturan adat melarang untuk menjual beras sebagai makanan pokok, juga

hasil olahan dari beras juga dilarang untuk di jual, masyarakat di sana lebih cebderung

memberikan beras dari pada menjualnya. Karena padi adalah sebagai penunjang

kehidupan dan dianggap tidak etis apabila padi diperjual belikan,itu adalah menurut

pandanggan hukum adat. Beda jauh dengankebudayaan masyarakat kota, yang


cendrung lebih materialistis, masyarakat kota tidak mengenal larangan terkaita

menjualberas/padi. tetapi masyarakat diijinkan menjual padi apabila ada kelebihan

cadangan, hal ini biasanya dilakukan untuk pembangunan sarana dan prasarana warga

Kasepuhan dan bukan untuk kepentingan pribadi, seperti pembangunan jalan,

jembatan, saluran air dsb.

2. Peternakan

Dalam hal beternak hewan, masyarakat Ciptagelar tidak begitu

memprioritaskannya, karena beternak adalah suatu mata penvaharian sampingan atau

pendamping, karena dari haris ssawah tidak boleh dijual maka mereka beternak untuk

mendapatkan uang. Dalam peternakan mereka memelihara hewan yang dapat

mendukun kepada pertania khususnya dalam pengelolaan penggarapan sawah.

Masyarakat Ciptagelar umumnya beternak binatang yang dapat menggarap sawah,

dan salah satunya adalah beternak kerbau, karena kerbau dapat diambil tenaganya

untuk membajak sawah. Dan mereka pun beternak kambing, bebek, ayam dan lain-

lain.

Dalam peternakan ini mereka tidak melakukannya dengan jumlah yang besar,

mereka beternak hanya alakadarnya saja, karena beternak yang telah saya sebutkan di

atas hanya sebagai bekerjaan pendamping. Dan dalam beternak ini, tidak dikenal

adanya ritual-ritual khusus seperti pada pertanian, mungkin beternak tidak diatur oleh

hukum adat. Masyarakat Ciptagelar membuat kandang hewannya jauh dari

pemukiman, sesuai yang kami temukan di lapangan, mereka menempatkan kandang

ternak jauh di luar pemukiman, mereka menempatkannya di pinggir kebun dan di

sekitar areal pesawahan.

Gambar . Kerbau termasuk salah satu hewan yang dipelihara masyarakat Ciptagelar
3. Pekerjaan Lainnya

selain bertani di sawah dan beternak, masyarakat Ciptagelar juga ada


yang bekerja sebagai buruh, tukang, kuli bangunan dan pedagang, bagi warga yang
tinggal di kampung mereka akan bekerja di kebun, membuat kerajinan anyaman,
menanam pisang, membuat geula dan lain-lain.

Untuk anak muda di Cuptagelar, kebanyakan mereka merantau keluar


kesepuhan Ciptagelar, pada umumnya merek merantau ke daerah Banten. Mereka di
perantauan mekerja senagaipenambang emas.

Simpulan

Kebudayaan merupakan hasil daricipta dan karsa manusia dalam

bermasyarakat yang dilakukan secara sadar baik oleh kelompok maupun

individu. Suatu kelompok masyarakat akan membentuk sebuah kebudayaan

yang didalamnya memiliki karakteristik tertentu sebagai ciri atau identitas


masyarakat tersebut, sistem budaya masyarakat tersebut terangkum dalam

tujuh unsur kebudayaan yang biasanya akan nyata terlihat dalam

masyarakat yang masih berada diwilayah pedesaan. Masyarakat desa

Ciptagelar memiliki ciri khas keunikan tersendiri sebagai masyarakat

pedesaan, terutama dalam menahan derasnya kemajuan jaman dan

moderenisasi.

Dalam sistem kehidupan sosialnya masyarakat desa Ciptagelar masih

mempertahankan tradisi lamanya yaitu masih menjunjung tinggi nilai-nilai

kehidupan sosial dalam bermasyarakat. Masyarakat Ciptagelar walaupun

sudah mengenal yang teknologi modern seperti Televisi, Radio dll, namun

mereka tetap memprtahankan tradisi lamanya, seperti dalam hal

menyimpan padi.Mereka menyimpan padi di tempat yang dinamakan leuit

atau lumbung padi. Penggunaan leuit ini untuk menyimpan padi setelah

panen agar ketika musim tidak panen mereka tidak kekurangan makanan.

Keunikan lain yang ada di desa Ciptagelar adalah acara seren tahun

dimana acara ini diadakan setahun sekali setelah panen. Acara Seren Taun

ini merupakan pesta rakyat yang dilakukan untuk penyimpanan padi ke

tempatnya (leuit). Dalam acara ini biasanya di lakukan berbagai hiburan

rakyat seperti jaipongan wayang golek dll. Dalam upacara Seren Taun ini

dapat dilihat berberapa wujud nyata yang merepresentasik an tujuh unsur

kebudayaan yang ada dalam suatu masyarakat, yaitu sistem religi adanya

unsur-unsur magis dalam upacara, sistem kesenian adanya acara hiburan

rakyat atau kesenian tradisional, dan juga unsur sistem organisasi atau

sistem pemerintahan dengan adanya acara laporan pertanggung jawaban

dari kepala adat. Dalam unsur kebudayaan lainnya, masyarakat Ciptagelar


masih merupakan salah satu desa adat yang masih teguh memegang

tardisinya seperti, bentuk rumah, sistem kepemimpinan, cara bertani,

kesenian, cara penyimpanan padi,dan lain-lain.