Anda di halaman 1dari 5

1

KHUTBAH IDUL FITRI


DI MASJID AL-ACHWAN MAGHFURULLAH
BTN GRIYA PAGUTAN INDAH MATARAM

“HIKMAH IDUL FITRI DALAM RANGKA PENINGKATAN


INTEGRITAS MORAL DAN KEPEKAAN SOSIAL”

‫ ومن‬,‫قيام ا‬ ِ
‫اليل‬ ‫من‬ ‫الشهر‬ ‫عل‬ ‫ج‬ ‫الذى‬ , ِ
‫ر‬ ‫ا‬ ‫اجلب‬ ِ ,‫احد القه ا ِر‬
‫امللك‬ ِ ‫احلمد هلل الو‬
ً َ َ َ ّ ّ
‫ اش هد ان ال ال ه اال اهلل واح ده ال ش ريك ل ه‬.‫ وُك َّل س اعتِ ِه مبارًك ا‬,‫ياما‬ ً ‫النها ِر ص‬
‫ اللهم ص لى على حمم د وعلى ال ه واص حابه‬.‫واش هد ان حمم دا عب ده ورس وله‬
‫ين‬ ِ َّ‫ ياأَيُّه ا ال‬:‫ ق ال اهلل تع اىل ىف الق ران الك رمي‬.‫امجعني ومن تبع ه اىل ي وم القيام ة‬
‫ذ‬
َ َ َ
.‫ت لِغَ ٍد َو َّات ُق وا اهللَ إِ َّن اهللَ َخبِ ريُُ مِب َا َت ْع َملُ و َن‬ْ ‫َّم‬ ُُ ‫ءَ َامنُ وا َّات ُق وا اهللَ َولْتَنظُ ْر َن ْف‬
َ ‫س َّماقَ د‬
.‫ َولِتُ ْك ِملُوا الْعِ َّد َة َولِتُ َكِّبُروا اهلل َعلَى َما َه َدى ُك ْم َولَ َعلَّ ُك ْم تَ ْش ُكُرو َن‬:‫قال ايضا‬

‫اهلل اكرب اهلل اكرب الاله اال اهلل هو اهلل اكرب اهلل اكرب وهلل احلمد‬
Ma’asyiral muslimin, jama’ah Idul Fitri rahimakumullah.
Alhamdulillah wasy-sykru Lillah. Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Ilahi
Rabbi atas limpahan rahmat dan inayah-Nya sehingga pada saat yang berbahagia ini kita
dapat berkumpul bersama melaksanakan shalat Ied sebagai puncak hari raya idul Fitri dan
sekaligus merupakan hari kemanangan.
Tadi malam, tatkala matahari mulai terbenam di ufuk barat, di kala burung kembali
ke sarangnya, terdengar gemuruhnya suara takbir, alunan tahmid, dan gegap gempitanya
tahlil, mengumandangkan ke Agungan Asma Allah. Rasa gembira dan terharu menimpa
hati nurani yang suci. Gembira, karena telah keluar dari medan laga berperang melawan
hawa nafsu angkara murka, yaitu dengan berpuasa sebulan lamanya. Terharu, karena
berpisah dengan bulan Ramadhan, bulan yang mulia, penuh keberkahan dan ampunan
Allah swt. Sungguh pada hari ini kita dianjurkan oleh Allah untuk memperbanyak takbir,
mengagungkan asma Allah sebagai tanda syukur kepada-Nya. Firman Allah (Al-Baqarah
185):

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaknya kamu


mengagungkan Allah atas petunjuk yang diberikan-Nya kepadamu supaya kamu
bersyukur”.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa Lillahilhamd


2

Maka pada hari yang mulia ini sebagai tindak lanjut dari puasa, marilah kita jaga
keberkahannya supaya tetap memberkahi hidup kita di hari-hari mendatang. Sungguh kita
sangat tergantung kepada keberkahan Allah. Sejak manusia lahir ke dunia, ia telah
membawa rahmat Allah. Ia dikarunia mata, telinga, akal pikiran, dan anggota badan
lainnya. Kemudian ia bisa berkembang menjadi dewasa dengan diberi kemauan, hak pilih
dan kebebasan, kecerdasan, sampai pada harta dan kedudukan. Semua ini harus kita sadari
merupakan rahmat Allah yang hanya bisa mendatangkan kebahagiaan dan keselamatan
hidup manakala mendapat barokah dari Allah swt. Sebab bila barokah tersebut dicabut oleh
Allah maka rahmat apapun ujudnya bisa menjadi fitnah dan azab.

Sebagai contoh ; Harta dan kekayaan adalah rahmat Allah yang dapat mensejahterakan
hidup manusia, namun bila barokah Allah dicabut maka yang terjadi adalah kesengsaraan
hidup. Hujan sangat bermanfaat untuk menyuburkan tanaman, tetapi bila barokahnya
dihilangkan oleh Allah ia bisa menjadi banjir yang merusakkan manusia dan
lingkungannya. Panen bisa membahagiakan petani, gaji bisa membahagiaan pegawai, upah
bisa menyenangkan pekerja. Tetapi bila hilang barokahnya maka semua itu selalu dirasa
kurang oleh yang bersangkutan hingga melupakannya untuk mensyukuri nikmat Allah, dan
hasil yang ada malah cepat habis tanpa meningggalkan sesuatu yang berarti untuk
kehidupan dunia dan akhiratnya.

Hadirin, kaum muslimin, sidang Id rahimakumullah.


Sebagaimana kita ketahui, Id berasal dari bahasa arab yang artinya “kembali”, sedangkan
fitr bermakna “asal kejadian atau kesucian atau agama yang benar”. Kehadiran idul fitri
ingin mengembalikan kita seperti dalam keadaan masih bayi, tanpa dosa dan noda. Sabda
Rasulullah saw:

“Bulan Ramadhan itulah bulan yang Allah menfardukan kepadamu berpuasa di


dalamnya, dan telah mensunatkan untukmu ibadah pada malam harinya. Maka
barangsiapa berpuasa karena iman dan mengharapkan keridoan Allah,
keluarlah ia dari dosa-dosanya bagaikan seorang bayi yang baru lahir dari
ibunya”.

Manusia fitrah adalah manusia baru, menjadi muslim yang baru: jiwanya baru,
jasmaninya baru, rohaninya baru, dan tindakannyapun baru, dalam arti baik dan positif.
Manusia fitrah, manusia yang sehat lahir dan batinnya, tabah dan sabar, berjiwa besar dan
lapang dada, rendah hati dan kasih saying, pemurah dan pemaaf, tidak punya rasa benci
dan dendam, tidak serakah tetapi qana’ah, jujur dan disiplin, cinta kebaikan dan kebenaran,
benci kepada kejahatan dan kemaksiatan.
Agar supaya jiwa kita bersih, maka kita harus bias memperbaiki hubungan sosial di
antara sesama, saling memaafkan kesalahan baik yang sangaja maupun yang tidak, itulah
halal bi halal. Halal bi halal antara A dan B maksudnya, diantara keduanya sudah tidak ada
keburukan, kejahatan, kemungkaran, ketidakbenaran atau ketidakadilan, yang belum
dibereskan. Misalnya A mencuri hak B, sementara B bersih dari kesalahan terhadap A, itu
namanya halal bi haram. Yang harus dilakukan adalah A meminta maaf kepada B sampai
diterima dan dimaafkan. Halal bi halal bias diidentikkan denganm posisi radliyyah
3

mardliyyah, rela terhadap dan direlakan oleh. Kalaulah kita punya kesalahan pada sesama,
maka seyogyanya kita segera minta maaf agar Allah bias mengampuni dosa-dosa kita.
Dalam hubungan sosial dewasa ini kesalahan dan dosa manusia sungguh ruwet alias
kompleks, karena ada ratusan bahkan ribuan pola hubungan silang menyilang dengan
tingkat kompleksitas yang tinggi yang mengubungkan relasi antar manusia sesuai struktur
dan system kehidupan moderen sekarang ini. Kebenaran dan kesalahan setiap manusia
berkait secara sistemik dan struktural, langsung maupun tak langsung. Orang berbuat jahat
sering tidak berdiri sendiri, demikian pula orang korupsi, wanita nakal, atau anak-anak yang
terjerat narkoba, dan lain sebagainya. Semua itu antara lain juga karena akibat sistem sosial
kita yang rapuh, sistem pendidikan kita yang belum memberdayakan dan cara beragama
kita yang cenderung formalistik.

Ma’asyiral muslimin, jama’ah Idul Fitri rahimakumullah.


Akan tetapi yang memiliki kesanggupan menilai, menakar dan menentukan
kepastian peta saham dosa dalam kompelksitas system tsb hanyalah Allah yang Maha Latif,
Maha Lembut. Setinggi-tinggi dan secanggih ilmu sosial dan ilmu fiqih manusia tidak akan
pernah mampu melakukannya. Karena itu untuk mengurangi beban dosa sosial, kita diminta
untuk saling memaafkan: secara lisan dan tatap muka, kirim kartu lebaran, via telvon,
forum halal bi halal, dlsb. Tetapi pasti semua itu tidak cukup, kita memerlukan waktu
sangat lama untuk bisa melaksanakan pemerdekaan kita dari semua kesalahan, semua dosa
individu dan kolektif, dosa personal dan sosial.
Karena itu ada cara lain yang lebih tinggi kualitasnya disbanding mekanisme
penghalalan, yakni mekanisme pemuliaan. Anda berhak tidak memaafkan seseorang yang
tidak meminta maaf kepada anda, entah karena ia memang tidak mau atau tidak sadar diri.
Akan tetapi, anda bisa memaafkan atau melebur dosa sisapapun yang bersalah kepada anda
meskipun ia tidak meminta maaf kepada anda, dan itulah derajat yang lebih tinggi, meniru
sifat maghfirah Allah. Dalam surat al-Syura/42:43 disebutkan ;

“Barangsiapa yang sabar dan mengampuni, itulah kebajikan yang paling utama”.
Ayat itu bertalian dengan penegasan pada ayat sebelumnya bahwa kejahatan
memang perlu dibalas dengan hukuman yang setimpal. Namun memaafkan itu dinilai lebih
terpuji. Mengapa Islam menekanakan demikian ? Sebab bila kejahatan dibalas dengan
kejahatan juga, maka yang terjadi adalah kekacauan. Atau bila kejahatan disidang di
pengadilan, balas dendam sangat mungkin muncul. Hanya saja ada ajaran Islam yang lebih
asasi, yaitu bila bisa diselesaikan dengan kekeluargaan maka lebih baik, itulah ajaran ihsan,
memaafkan dalam tingkatan paling tinggi.

Hadirin, kaum muslimin, sidang Id rahimakumullah.


Setelah proses pembebasan dosa individu dan kolektif kita lakukan sepanjang

perayaan Id nanti, tugas selanjutnya adalah bagaimana kita secara bersama-sama, dengan

semangat Ramadhan yang baru saja kita lalui, membangun kembali rajutan cinta kasih,

semangat kekeluargaan, dan kepedulian sosial. Sebab tugas kita sebagai khalifatullah tidak
4

berhenti hanya sebatas mengurus diri dan keluarga kita, tetapi juga harus menggotong

tugas sosial yang cukup berat. Sabda Rasulullah saw:

‫خري الناس أنفعهم للناس‬

“Sebaik-baik mausia ialah yang paling bermanfaat bagi sesamanya”.


Teladan mengenai bentuk kepedulian sosial itu pernah dicontohkan oleh baginda
Rasulullah saw. Pada suatu hari, tepatnya dari raya Idul Fitri, Rasulullah melihat seorang
anak kecil yang berdiri sendirian di pojok dengan muka sedih, menahan air mata yang
berlinang. Dari jauh ia melihat teman-teman sebayanya sedang berhari raya, bergembira
ria, berpakaian baru pemberian orang tuanya, sedang ia sudah lama menjadi anak yatim,
menumpang di rumah orang. Ia menyendiri tanpa sanak saudara. Ia teringat akan nasibnya,
dimana bapak tempat meminta, dimana ibu tempat mengadu, di mana rumah tempat
berteduh. Tidak ada yang menjawab semua membisu. Rasulullah mengahmpiri anak itu
lalu bertanya: ”mengapa engkau sendirian dan menangis wahai fulan? Siapa orang tuamu
dan dimana rumahmu?”. “Semuanya tidak ada bagiku wahai Tuan”, jawabnya. “Aku hanya
seorang anak yatim-piatu, hidup sebatang kara”. Demikian jawab si anak dengan suara
tersendat-sendat sedang tangan kanannya menyapu air matanya yang bercucuran.
Rasulullah saw lalu meletakkan tangan kanannya di atas kepala anak tersebut. Dengan
nada lirih dan suara yang penuh cinta kasih, beliau bertanya: “Maukah engkau wahai nak,
bila Aisyah menjadi ibumu, Muhammad menjadi bapakmu, dan tempat tinggal Rasulullah
menjadi rumahmu?”.

Para jama’ah rahimakullah,


Alangkah senangnya si anak yatim itu, mendengar ucapan Rasulullah yang spontan
dan penuh mesra itu. Dia merasa seakan-akan ayah dan ibunya yang sudah tiada itu hidup
kembali. Rasullah sangat gembira tatkala melihat si anak yatim segera mengahpus air
matanya, tersenyum dan mengucapkan syukur dengan wajah berseri-seri. Itulah salah satu
bentuk manifestasi kasih saying yang harus dimiliki oleh manusia fitrah sebagai buah
ibadah puasa.

Rasulullah saw bersabda:


‫ارمحوا من ىف االرض يرمحوا من ىف السماء‬
“Sayangilah penghuni di bumi, niscaya penghuni langit akan menyayangimu”

Demikianlah Idul Fitri, tidak saja mempunyai arti yang individual tetapi
mempunyai nilai tambah dalam dimensi sosial-kemasyarakatan. Kesenjangan sosial yang
sangat rawan pada saat-saat ini baik yang terjadi dalam kelompok kecil, suku, ras, bangsa
dan agama, seperti yang tampak di sejumlah daerah perlu segera disikapi dengan arif dan
bijaksana. Selain itu karena kecemburuan sosial sering terjadi bukan karena perbedaan
yang mencolok di bidang materi saja tetapi juga disebabkan oleh hal-hal yang bersifat non-
5

material, seperti sifat sombong, angkuh, iri hati, buruksangka, ketidakadilan,


ketidakjujuran, dan sifat amoral lainnya. Bila kepekaan kita terasa hidup, insya Allah kita
tidak menemui kesulitas dalam meretas jalan panjang perjuangan hidup ini. Sebaliknya,
bila rasa kepekaan kita tumpul, kita bersikap cuwek, tidak peduli terhadap lingkungan
sosial, maka itu akan menjadi problem bagi peningkatan integritas moral dan kepekaan
sosial kita.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walillahil Hamd.


Akhirnya, hendaknya hari raya ini bisa menjadi jembatan untuk memperbaiki
segala komitmen kita sebagai muslim, agar mampu mengubah cara berpikir lama yang
dibelenggu oleh sikap-sikap normative terhadap etika pergaulan sehari-hari. Disinilah
perlunya memaknai Idul Fitri sebagai jalinan komunikasi antar manusia lintas apapun yang
dibauri dengan nilai-nilai keislaman dengan sikap lembut dan dipenuhi rasa tolerasi tinggi.
Smoga Idul Fitri ini membuka ruang-ruang batin kita untuk menemukan kembali jalan
panjang menuju kehadirat Ilahi. Dengan menghayati semangat id, mari kita jelang masa
depan baru yang lebih prospektif. Tetapi semua itu dengan catatan kita senantiasa
melandasinya dengan semangat religiusitas yang tinggi, supaya kita tetap tidak kehilangan
berkah dalam hidup ini, seperti yang disinggung dalam awal khutbah. Amin amin ya
rabbal alamin.
‫ اعوذ باهلل‬.‫جعلنا اهلل واياكم من الفائزين اآلمنني وادخلنا واياكم ىف زمرة املوحدين‬
‫ وقل رب اغفر‬. .‫ بسم اهلل الر محن الرحيم‬.‫من الشيطان الرجيم‬
.‫وارحم وانت خري الرامحني‬