Anda di halaman 1dari 18

MATA KULIAH

“Asuhan Kebidanan Kelompok rentan”


MAKALAH
“Kebutuhan Khusus Pada Permasalahan Psikologis”

OLEH
KELOMPOK 2
ANGGOTA :

NOVI MARISSA SILVIA


NOVIASARI PUTRI SUSRIKAWATI
NOVY MARDAYANTI AR SURYANI
RAYHANY UCI SETRI
REFI JUNITA VANI AFRIANTI
RIA ROSALIANA WENITA YUSLINA
RIKAWATI WISBERTI
SAFNI FITRI YANTI

UNIVERSITAS SUMATERA BARAT


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
SI KEBIDANAN
TAHUN 2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah tim panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat
hidayah dan inayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah Asuhan
kebidanan Kelompok Rentan “kebutuhan khusus permasalahan psikologis”
Tim berharap tulisan ini bisa memberikan wawasan luas untuk memahami
kebutuhan khusus permasalahan kelompok rentan. Tim berharap supaya makalah ini
dapat bermanfaat bagi para pembaca dan dapat memahami serta mendapat
pengetahuan yang lebih baik, sebagaimana isi yang ada dalam makalah ini, sehingga
dapat diaplikasikan untuk mengembangkan kompetensi dalam bidang kebidanan.
Tim menyadari bahwa dalam penyusunan tugas makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang
bersifat sangat membangun, tim mengharapkan demi kesempurnaan makalah ini dan
semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.
Akhir kata, penyusun ucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah
membantu penyusunan tulisan ini. Semoga Allah SWT memberkati kita semua.

Tim

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI.............................................................................................................ii
BAB I. PENDAHULUAN
1.1.......................................................................................................................Lat
ar Belakang..................................................................................................1
1.2.......................................................................................................................Ru
musan Masalah.............................................................................................2
1.3.......................................................................................................................Tu
juan...............................................................................................................2

BAB II TINJAUAN TEORI


2.1.......................................................................................................................Ke
hamilan akibat pemerkosaan........................................................................3
2.2.......................................................................................................................K
DRT................................................................................................................4
2.3.......................................................................................................................Tr
auma persalinan sebelumnya....................................................................... .7
2.4.......................................................................................................................Ke
lainan mental/jiwa .........................................................................................9
2.5.......................................................................................................................Ri
wayat kehilangan dan kematian ...................................................................10
2.6....................................................................................................................Keh
amilan yang tidak diinginkan.......................................................................11

BAB III PENUTUP


3.1.......................................................................................................................Ke
simpulan.......................................................................................................12
3.2.......................................................................................................................Sar
an .................................................................................................................12

Daftar Pustaka

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Manusia dalam menjalani kehidupannya senantiasa selalu mendambakan
kebahagiaan. Kebahagian di dalam hidup seseorang akan berpengaruh pada
kesejahteraan psikologis orang tersebut sehingga mempengaruhi kualitas
hidupnya. Individu yang merasakan kesejahteraan pasti akan merasakan
kebahagiaan dan ketenangan lahir bathin. Tidak lepas dari itu, di dalam dunia
pendidikan diajarkannya bagaimana individu untuk mencapai kesejahteraan.
Banyaknya permasalahan yang terjadi dikehidupan terkadang membuat manusia
seringkali mengalami keputusasaan dan kegelisahan di karenakan tidak merasakan
adanya ketenangan ataupun kebahagiaan di dalam hidupnya.
Permasalahan yang dihadapi individu akan berpengaruh pada kesehatan
mentalnya. Jika individu tidak kuat dalam mengahadapi permasalahan yang ada,
akan mengakibatkan stress bahkan sampai pada depresi. Menurut Edward, 2005
(dalam Ismail & Desmukh, 2012) kesejahteraan psikologis mengacu pada
kesehatan mental yang positif. Sehingga perlunya bagi individu untuk
memperhatikan gaya hidupnya dan kesejahteraan bagi dirinya maupun orang lain.
Menurut Corsini, 2002 (dalam Iriani & Ninawati, 2005), well-being adalah
keadaan subjektif individu yang baik, termasuk di dalamnya kebahagiaan, self
esteem, dan kepuasan dalam hidup. Sedangkan menurut Ryff (dalam Iriani &
Ninawati, 2005) kesejahteraan psikologis adalah suatu kondisi seseorang yang
bebas 2 dari tekanan dan masalah mental serta kondisi yang mempunyai
kemampuan menerima diri sendiri, pertumbuhan pribadi, memiliki tujuan hidup,
dapat mengatur kehidupan dan lingkungannya secara efektif, dan kemampuan
menentukan tindakan sendiri.
Kesejahteraan psikologis memiliki beberapa dimensi penting yang perlu
kita ketahui dan pahami karena itu menjadi faktor penting dalam menciptakan

3
kesehatan mental dan kebahagiaan pada diri seseorang. Dimensi dalam
kesejahteraan psikologis hanya dapat dipahami secara menyeluruh karena semua
dimensi tersebut sama-sama memberikan sumbangan penting terhadap
kesejahteraan psikologis. Ryff & Keyes (dalam Iriani & Ninawati, 2005) dimensi
penerimaan diri adalah sikap positif terhadap diri sendiri sehingga individu senang
menjadi diri sendiri dan tidak perlu menjadi orang lain untuk dapat terlihat
sempurna. Dimensi pengembangan atau pertumbuhan diri dapat dioperasionalkan
dalam tinggi rendahnya kemampuan seseorang untuk mengembangkan potensi
diri. Dimensi keyakinan adalah keyakinan individu bahwa hidupnya bermakna,
sehingga individu selalu mempunyai tujuan dan berusaha mencapai tujuan
hidupnya. Dimensi memiliki kualitas hubungan positif dengan orang lain, ini
dilihat dari tinggi rendahnya seseorang dalam membina hubungan dekat dengan
orang lain. Dimensi kapasitas untuk mengatur kehidupannya yang mana seseorang
dapat mengubah ataupun menyesuaikan diri dan lingkungannya sesuai kebutuhan
hidupnya. Semua dimensi itu berperan penting dan memiliki pengaruh besar dalam
kesejahteraan psikologis seseorang.
Kesejahteraan tidak muncul begitu saja dari dalam individu, sehingga
individu harus belajar dan membiasakan diri untuk mencapai kesejahteraan itu 3
sendiri. Kebanyakan permasalahan individu dipacu dengan perasaan yang kurang
nyaman dan tidak dapat mengendalikan emosinya yang mana mengakibatkan pada
gangguan emosi serta perilaku negatif yang dimunculkan yang mana
mempengaruhi gaya hidup seseorang.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis
seseorang, salah satunya adalah faktor internal individu. Dalam diri masing-
masing individu memiliki kekuatan, kemampuan dan cara untuk mengatasi
permasalahan kesejahteraan psikologis pada diri sendiri. Salahsatunya bagi orang
muslim adalah dengan shalat, karena shalat memiliki manfaat dan kedudukan yang
tinggi.

1.2. Rumusan Masalah


Apa saja kebutuhan khusus pada permasalahan psikologis pada :
1.2.1. Kehamilan akibat pemerkosaan
1.2.2. KDRT
1.2.3. Trauma persalinan sebelumnya
1.2.4. Kelainan mental/jiwa
1.2.5. Riwayat kehilangan dan kematian
1.2.6. Kehamilan yang tidak dinginkan

1.3. Tujuan
Mengetahui kebutuhan khusus pada permasalah psikologis pada :

4
1.3.1. Kehamilan akibat pemerkosaan
1.3.2. KDRT
1.3.3. Trauma persalinan sebelumnya
1.3.4. Kelainan mental/jiwa
1.3.5. Riwayat kehilangan dan kematian
1.3.6. Kehamilan yang tidak dinginkan

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1. Kehamilan Akibat Pemerkosaan


Perkosaan sebagai suatu tindakan kekerasan merupakan suatu tindak
kejahatan yang dinilai sangat merugikan dan mengganggu ketentraman dan
ketertiban hidup, terutama bagi korbannya. Adanya reaksi umum yang berlebihan
terkadang juga semakin memojokkan korban. Akan tetapi tidak jarang
masyarakat justru membicarakan peristiwa tersebut dari segi negatifnya yang
dapat membuat korban merasa malu, takut, dan bersalah dengan kejadian yang
menimpa dirinya. Perasaan tersebut membuat korban semakin enggan untuk
bercerita kepada orang lain ataupun melaporkan kejadian yang dialaminya
(Republika, 1995; Taslim,1995).
Korban perkosaan memiliki kemungkinan mengalami stres paska
perkosaan yang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1. Stres yang langsung terjadi merupakan reaksi paska perkosaan seperti kesakitan
secara fisik, rasa bersalah, takut, cemas, malu, marah, dan tidak berdaya.
2. Stres jangka panjang merupakan gejala psikologis tertentu yang dirasakan
korban sebagai suatu trauma yang menyebabkan korban memiliki rasa kurang
percaya diri, konsep diri yang negatif, menutup diri dari pergaulan, dan juga
reaksi somatik seperti jantung berdebar dan keringat berlebihan.
Apabila setelah terjadinya peristiwa perkosaan tersebut tidak ada
dukungan yang diberikan kepada korban, maka korban dapat mengalami post
traumatic stress disorder (PTSD), yaitu gangguan secara emosi yang berupa
mimpi buruk, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, depresi, ketakutan dan stress
akibat peristiwa yang dialami korban dan telah terjadi selama lebih dari 30 hari.
Dukungan dari semua pihak sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya
PTSD.

5
Menurut Agaid (2002) keluarga sebagai pihak terdekat dapat
memberikan dukungan bagi korban dengan cara:
1. Mempercayai cerita yang disampaikan oleh korban.
2. Bersikap tenang. Hal ini dapat membantu korban merasa aman.
3. Meyakinkan korban. Keluarga dapat menunjukkan empatinya terhadap
peristiwa yang dialami oleh korban.
4. Mempersiapkan korban terhadap kemungkinan yang akan terjadi
selanjutnya. Korban mungkin memerlukan bantuan dari orang lain misalnya
dokter dan polisi jika ia melaporkan kasusnya
5. Memberi dukungan dan melaporkan perkosaan yang dialami korban ke
pihak yang berwajib.

Berbagai alternatif yang dapat dilalui oleh korban dalam proses mengatasi
masalah yang muncul akibat perkosaan yang dialaminya, yaitu :
1. Korban perkosaan mengalami trauma jangka panjang yang mengakibatkan
korban mengalami PTSD. Tanpa adanya intervensi atau dukungan dari pihak
lain maka korban menghadapi proses penyelesaian masalahnya sendiri
sehingga pada akhirnya korban dapat mengatasi masalah tersebut seiring
dengan waktu yang berlalu.
2. Korban perkosaan mendapatkan dukungan dari keluarga sejak korban
mengalami trauma akibat perkosaan. Dukungan dari pihak keluarga dapat
diperkuat dengan adanya dukungan dari pihak lain seperti lembaga atau
organisasi yang memiliki kepedulian terhadap korban. Meskipun demikian
ada kemungkinan bahwa korban tetap mengalami PTSD sebelum akhirnya ia
bisa coping dengan masalah yang dihadapinya.
3. Korban perkosaan mendapatkan dukungan dari pihak keluarga dan pihak lain
seperti lembaga atau organisasi yang memiliki kepedulian terhadap korban,
akan tetapi dukungan tersebut diterima oleh korban setelah ia mengalami
PTSD.
4. Alternatif ke empat adalah adanya dukungan dari pihak keluarga dan juga
pihak lain sebelum korban mengalami PTSD. Dukungan ini membuat korban
mampu mengatasi dampak perkosaan yang muncul pada dirinya tanpa harus
mengalami PTSD.
5. Selain keempat alternatif yang memungkinkan korban perkosaan untuk
mengatasi masalahnya dan mencapai proses recovery, terdapat alternatif lain
dimana korban tidak berhasil mengatasi masalahnya dan mengalami gangguan
patologis.

2.2. KDRT
2.2.1. Pengertian

6
Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah kekerasan yang
dilakukan dalam rumah tangga baik oleh suami ataupun oleh istri. Menurut
pasal 1 UU nomor 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekeran dalam rumah
tangga, KDRT adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama
perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara
fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaraan rumah tangga termasuk
ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasaan
kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.
Sebahagian korban KDRT adalah kaum perempuan (istri) dan pelakunya
adalah suami, walaupun ada juga korban justru sebaliknya, atau orang-orang-
orang yang tersubornasi didalam rumah tangga itu. Pelaku atau korban KDRT
adalah orang yang mempunyai hubungan darah, perkawinan, persusuan,
pengasuhan, perwalian dengan suami, dan anak bahkan pembantu rumah
tangga.

2.2.2. bentuk-bentuk KDRT


 Kekerasan fisik
 Kekerasan fisik berat, berupa penganiayaan berat seperti menendang,
memukul, menyundut, melakukan percobaan pembunuhan atau
pembunuhan dan semua perbuatan lain
 Kekerasan fisik ringan, berupa menampar, menjambak, mendorong,
dan perbuatan lainnya
 Kekerasan psiskis
 Kekerasan psiskis berat, berupa tindalan mengendalikan, manipulasi
eksploitasi, kesewenangan, penghinaan, pemaksaan dan isolasi sosial,
tindakan dan atau ucapan yang merendahkan atau menghina,
penguntitan
 Kekerasan psikis ringan, berupa tindakan pengendalian,
 Kekerasan seksual
 pelecehan seksual dengan kontak fisik seperti meraba, menyentuh
organ seksual, mencium secara paksa, merangkul serta perbuatan lain
rasa muak/jijik , terteror, terhina dan merasa dikendalikan
 pemaksaan hubungan seksual tanpa persetujuan korban atau pada saat
korban tidak menghendaki
 pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak disukai, merendahkan
dan menyakitkan
 pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan
pelacuran dan atau tujuan tertentu
 terjadinya hubungan seksual dimana pelaku memanfaatkan posisi
ketergantungan korban yang seharusnya dilindungi

7
 kekerasan seksual dengan kekeran fisik dengan atau tanpa bantuan alat
yang menimbulkan sakit, luka atau cedera
 kekerasan ekonomi
 kekerasan ekonomi berat, yaitu tindakan eksploitasi, manipulasi dan
pengendalian lewat sarana ekonomi berupa :
 memaksa korban bekerja dengan cara ekspoitatif termasuk pelacuran
 melarang korban bekerja tapi menelantarkannya
 mengambil tanpa sepengetahuan dan tanpa persetujuan korban,
merampas atau memanipulasi harta benda korban
 kekerasan ekonomi ringan, berupa melakukan upaya-upaya sengaja yang
menjadikan korban tergantung atau tidak berdaya secara ekonomi atau
tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya.

2.2.3. Penyebab KDRT


1) Laki-laki dan perempuan tidak dalam posisi setara
2) Masyarakat menganggap laki-laki dengan menanamkan anggapan bahwa
laki-laki harus kuat, berani serta tanpa ampun
3) KDRT dianggap bukan sebagai pemersalahan sosial, tetapi persoalan
pribadi terhadap relasi suami istri
4) Pemahaman keliru terhadap ajaran agama, sehingga timbul anggapan
bahwa laki-laki boleh menguasai perempuan
5) Tidak adanya pengetahuan antara 2 belah pihakbagaimana cara
mengimbangi dan mengatasi sifat-sifat yang tidak cocok diantara keduanya
6) Tidak adanya rasa cinta pada diri seorang suami kepada istrinya, karena
mungkin perkawinan mereka terjadi adanya perjodohan antara mereka
tanpa didasari dengan rasa cinta terlebih dahulu

2.2.4. Akibat KDRT


1) Cedera berat
2) Tidak mampu menjalankan tugas sehari-hari
3) Pingsan
4) Luka berat pada tubuh korban dan atau luka yang sulit disembuhkan atau
yang menimbulkan bahaya meninggal
5) Kehilangan salah satu panca indera
6) Cacat
7) Menderita sakit lumpuh
8) Keguguran
9) Kematian korban
10) Gangguan makan, tidur atau ketergantungan obat
11) Trauma

8
12) Depresi berat
13) Gangguan jiwa
14) Bunuh diri
15) Ketakutan dan merasa diteror
16) Fobia, dan lain sebagaiaanya

2.2.5. Solusi
1) Menjaga komunikasi yang baik antara suami dan istri agar tercipta rumah
tangga yang rukun dan harmonis
2) Menerapkan rasa saling percaya, pengertian, saling menghargai
3) Kedua belah pihak harus sama-sama menjaga agar tidak terjadi konflik
yang bisa menimbulkan kekerasan
4) Membaca buku-buku yang berisi tentang bagaimana cara menerapkan
sebuah keluarga yang baik.

2.3. Trauma Persalinan Yang Lalu


Melahirkan bisa menjadi hal yang memunculkan trauma bagi para ibu.
Proses kelahiran yang traumatis akan berdampak pada kesehatan mental setelah
melahirkan bagi perempuan. Tidak hanya itu, kelahiran yang traumatis dapat
pula berdampak pada hubungan keluarga.
Trauma kelahiran adalah kesusahan yang dialami ibu selama atau setelah
melahirkan. Meskipun trauma dapat menyerang pada fisik, trauma kelahiran
sering kali berlaku secara emosional dan psikologis. Diperkirakan 1 dari 3 wanita
mengalami trauma setelah melahirkan.
Trauma selama melahirkan tidak melulu disebabkan oleh proses yang
terjadi selama melahirkan. Trauma dapat pula muncul pada proses setelah
melahirkan. Penelitian menyebutkan faktor yang menyebabkannya adalah
kehilangan kontrol diri, ketakutan akan kesehatan atau keadaan bayi mereka,
nyeri fisik, dan kurangnya komunikasi yang menjelaskan keadaan-keadaan
tersebut kepada ibu hamil. Selama beberapa tahun terakhir, tingkat trauma
kelahiran terus menurun. Penelitian yang dipublikasikan National Centre for
Biotechnology Information memaparkan tingkat trauma kelahiran turun dari 2,6
per 1000 kelahiran hidup pada 2004 menjadi 1,9 per 1000 kelahiran hidup pada
tahun 2012. Penurunan tersebut disebabkan adanya penyempurnaan teknik
obstetri dan meningkatnya penggunaan persalinan sesar dalam kasus persalinan
yang sulit.

9
Faktor Penyebab Trauma Kelahiran Ada berbagai hal yang dapat memicu
trauma pada proses kelahiran yang akan dilangsungkan. Beberapa diantaranya
dilansir dari Pregnancy Birth Baby adalah sebagai berikut :
o Proses persalinan yang tidak sesuai dengan harapan
o Persalinan yang sulit dan menyakitkan
o Komplikasi dalam persalinan
o Operasi sesar darurat
o Bayi atau ibu yang menderita cedera saat lahir
o Bayi yang membutuhkan perawatan medis setelah melahirkan
o Kematian bayi yang baru lahir
o Tidak mendapatkan dukungan atau perawatan yang dibutuhkan selama atau
setelah proses kelahiran
o Trauma pada kelahiran sebelumnya
o Cemas
Namun ada pula alasan lain yang dapat memicu trauma saat atau setelah
proses kelahiran.Beberapanya adalah kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan
seksual pada masa anak-anak, atau pemerkosaan.

Cara Mengatasi Trauma Pasca-Kelahiran


Gejala psikologis termasuk baby blues menjadi hal yang umum pasca
kelahiran. Namun, apabila ibu masih merasa tertekan selama lebih dari 2
minggu kemungkinan besar ibu mengalami depresi atau kecemasan dan
trauma setelah melahirkan. Penelitian di Australia menyebutkan bahwa 1 dari
20 ibu dapat menunjukkan tanda trauma setelah melahirkan pada 12 minggu
setelah proses mleahirkan.
Berikut adalah cara untuk mengatasinya :
o Berbicara dengan tenaga kesehatan segera setelah melahirkan tentang
pengalaman yang dialami.
o Minta dukungan secara praktis dan emosional dari teman atau keluarga.
o Alihkan stres pada hal positif seperti berolahraga dan lain-lain.
o Minum obat dan lakukan terapi jika diperlukan.
o Konsultasi terus dengan dokter atau tenaga kesehatan yang profesional.

2.4. Kelainan Mental/Jiwa


2.4.1. Pengertian
Gangguan jiwa/mental illiness adalah kesulitan yang harus dihadapi
oleh seseorang karena hubungannya dengan orang lain, kesulitan karena
persepsinya tentang kehidupan dan sikapnya terhadap dirinya sendiri-sendiri

10
(djamaludin, 2001). Gangguan jiwa adalah gangguan dalam cara berfikir
(cognitive), kemauan (volition), emosi (affective) Tindakan (psychomotor).

2.4.2. Penyebab
2.4.2.1.penyebab psikologik
Bermacam pengalaman frustasi, kegagalan dan keberhasilan yang di
alami akan mewarnai sikap, kebiasaan dan sifatnya dikemudian hari. Hidup
seorang manusa dapat dibagi atas 7 masa dan pada keadaaan tertentu dapat
mendukung terjadinya gangguan jiwa
1) Masa bayi
2) Masa anak prasekolah
3) Masa anak sekolah
4) Masa remaja
5) Masa dewasa awal
6) Masa dewasa akhir
7) Masa tua

2.4.2.2.macam-macam gangguan mental


1) Gangguan mental organik dan simtomatik
2) Gangguam mental dan perilaku akibat zat psikoaktif
3) Gangguan skizofrenia dan gangguan waham
4) Gangguan suasana perasaan
5) Gangguan neurotik, somatofrom dan gangguan stress
6) Sindrom perilaku yang berhubungan dengan gangguan fisiologis dan faktor
fisik
7) Gangguan kepribadian dan perilaku masa dewasa
8) Retardasi mental
9) Gangguan perkembangam psikologis
10) Gangguan perilaku dan emosional dengan onset masa kanak-kanak

2.4.2.3.pencegahan
prinsip-prinsip :
1) Gambaran dan sikap baik terhadap diri-sendiri
2) Keterpaduan atau integritas diri
3) Perwujudan diri
4) Kemampuan menerma orang lain
5) Agama dan falsafah hidup
6) Pengawasan diri

2.4.2.4.Mengurangi Risiko Gangguan Kejiwaan

11
a. Meningkatkan pengetahuan, informasi dan pendidikan
b. Meningkatkan akses terhadap informasi, layanan pencegahan, dan layanan
kesehatan jiwa lanjutan
c. Mengondisikan lingkungan

2.5. Riwayat Kehilangan Dan Kematian (Grief And Breavement)


Rice (dalam Cahayasari, 2008) mengemukakan bahwa kehilangan orang
yang dicintai diidentifikasi sebagai suatu kehilangan yang sangat mendalam.
Rasa kehilangan bersifat individual, karena setiap individu tidak akan merasakan
hal yang sama tentang kehilangan. Sebagian individu akan merasa kehilangan hal
yang biasa dalam hidupnya dan dapat menerimanya dengan sabar. Individu yang
tidak mampu menerima kehilangan orang yang disayang dalam hidupnya akan
merasa sendiri dan berada dalam keterpurukan.
Jenis-jenis kehilangan
a. Kehilangan objek eksternal, misalnya kehilangan karena kecurian atau
kehancuran akibat bencana alam.
b. Kehilangan lingkungan yang dikenal, misalnya kehilangan karena berpindah
rumah, dirawat di rumah sakit, atau berpindah pekerjaan.
c. Kehilangan sesuatu atau individu yang berarti, misalnya kehilangan pekerjaan,
kepergian anggota keluarga atau teman dekat, kehilangan orang yang dipercaya,
atau kehilangan binatang peliharaan.
d. Kehilangan suatu aspek diri, misalnya kehilangan anggota tubuh dan fungsi
psikologis atau fisik.
e. Kehilangan hidup, misalnya kehilangan karena kematian anggota keluarga,
teman dekat, atau diri sendiri.

Secara umum, kematian didefinisikan sebagai kehilangan permanen dari


fungsi integrative manusia secara keseluruhan. Secara sederhana dapat
dinyatakan bahwa dalam perspektif ilmu kedokteran, kematian terjadi bilamana
fungsi spontan pernapasan (paru-paru) dan jantung telah berhenti secara pasti
(ireversibel) atau otak, termasuk di dalamnya batang otak, telah berhenti secara
total. Dengan demikian, kematian berarti berhentinya bekerja secara total paru-
paru dan jantung atau otak pada suatu makhluk . Kematian bisa menimpa siapa
saja, hal ini akan menimbulkan kesedihan yang mendalam bagi orang yang
ditinggalkan apalagi jika kematian tersebut menimpa pada orang-orang yang
dicintai seperti orangtua
.
2.6. Kehamilan Tidak Dinginkan (Unwanted Pregnancy, gagal KB)
2.6.1. Gangguan Psikologis Pada Kehamilan Diluar Nikah

12
2.6.1.1. Pengertian
Remaja bisa saja mengatakan sex bebas itu aman, namun jika dikaji
lebih dalam maka akan lebih banyak kerugiannya. Salah satu kerugiannya
adalaha kehamilan diluar nikah. Sungguh merupakan suatu permasalhan
yang kompleks yang dapat menghancurkan masa depan remaja. Selain itu
kehamilan yang tak diingikan bisa mengarah pada aborsi kriminalitas.

2.6.1.2. Tanda Dan Gejala


 Timbulnya perasaan takut dan bingung yang luar biasa terhadap
respon dari luar terutama orangtua dan biasanya akan ditutupi dari
orangtua dan orangtua mengetahui disaat perut anak mulai membesar.
 Rasa ketakutan jika pacarnya tidak mau bertanggungjawab dan
berlepas tangan terhadap situasi siwanita
 Cemas atas respon luar, takut dikucilkan ataupun diberhentikan dr
sekola atau tempat kerjanya
 Rasa takut krna ketidaksiapan untuk menjadi seorang ibu
 Timbulnya keinginan untuk mengkahiri kehamilan, seperti aborsi,
yang juga aka berdampak pada kesehatan siwanita
2.6.1.3. Pengelolaannya
Penatalaksanaan yang bisa dilakukan bisa berupa konseling
humanistik dimana manusianya sendiri yang menentukan keputusan dan
berpandangan selalu bahwa manusia itu adalah baik (Roger 1971).
Sebagai konselor yang ingin memberikan konseling perlu memiliki
3 karakter yaitu
 Empati, kepedulian merasakan bersama klien
 Positive Regand (acceptance), rasa menghargai klien
 Congruance (geniunenes), kondisi transparan dalam hubungan
terapeutik

2.6.2. Gangguan Psikologis Pada Kehamilan Yang Tidak Dinginkan


2.6.2.1. Pengertian
Selain dari pergaulan bebas yang menyebabkan kehamilan diluar
nikah, Kehamilan yang tidak diinginkan juga sering terjadi pada mereka
yang sudah menikah. Kehamilan yang tidak diinginkan ini bisa akibat dari

13
kegagalan alat kontrasepsi dan penolakan pada jenis kelamin bayi yang
dikandung
2.6.2.2. Tanda Dan Gejala
Pada kehamilan yang tidak dikehendaki ini ada memiliki tanda dan
gejala sebagai berikut :
1. Merasa bahwa janin yang dikandungnyabukanlah bagian dari dirinya,
dan brusaha mengularkan dengan cara yang tidak bermoral seperti
aborsi tadi
2. Beberapa wanita bersifat aktif agresif, mereka sangat marah dan
dendam pada pacar ataupun suaminya serta merasa sanggup
menanggung konsekuensi dari tindakannya. Selain itu calon bayi
dianggap sebagai beban dan malapetaka bagi dirinya.

2.6.2.3. Pengelolaannya
Penanganan dalam permasalahan ini tidak jauh berbed dengan
penanganan pada masa kehamilan diluar nikah. Perbedaannya hanya pada
tekhnik konselignya, karena masalah ini terjadi pada pasangan yang sudah
menikah. Yaitu dengan konseling pasangan

14
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Kelompok rentan dihadapkan pada ketidakmampuan memenuhi
kebutuhan praktis dan kebutuhan strategis sebagai dasar hidup layak dalam
pemberdayaan perempuan dan anak untuk menciptakan keadilan dan kesetaraan
gender. Model pemberdayaan yang efektif dengan menggunakan kerjasama
secara sinergis antar komponen masyarakat dan pemerintah, organisasi negara
untuk memberdayakan mereka. Maka model pemberdayaan yang efektif dan
efisien adalah dengan menggunakan pengembangan pendidikan pemberdayaan
perempuan dengan life skill yang berbasis pada need assesment.
Kendala yang dihadapi dalam melakukan pemberdayaan kelompok rentan
anak dan perempuan adalah kendala kemiskinan yang disebabkan oleh
kemiskinan struktural dan kemiskinan kultural, serta ketidak mandirian
perempuan karena tidak berpendidikan serta masyarakat yang belum secara
sinergis melakukan pemberdayan terhadap mereka. Terutama kendala
ketidakmampuan mempunyai life skill (ketrampilan hidup yang memadahi untuk
menyelesaikan masalah dasar).

3.2. Saran
konstruktif antara lain Pemenuhan kebutuhan praktis dan strategis tidak
boleh ditunda untuk kelompok rentan. Oleh karena itu pemda melalui dinas
terkait antara lain dinas pendidikan, dinas sosial, dinas ketenagakerjaan, dinas
pertanian, dll segera membuat action plan pemenuhan kebutuhan dasar tersebut
yang secara eksplisit ada dalam DIP APBD II dan dikonkrtitkan dalam

15
pelaksanaan kegiatan pembangunan daerah dalam otonomi daerah. Pemerintah
Daerah dan masyarakat (LSM, Relawan pendamping, pendamping masyarakat)
segera membuat Tim Kelompok Kerja untuk mengkokritkan model
pengembangan pendidikan pemberdayaan perempuan pada kelompok rentan.
Sinergiskan dengan kegiatan pembangunan

16
DAFTRA PUSTAKA

https://www.scribd.com/presentation/483947912/kebutuhan-kusus-psikologis

Rodiyah,2012. Model Pemberdayaan Kelompok Rentan KDRT Berbasis Need


Asssesment dalam Perspektif Hukum, Pandecta. Volume 7. Nomor 2. Juli 2012

Nirwana, Ade Benih. 2011. Psikologi Kesehatan Wanita. Nuha Medika. Yogyakarta

Anda mungkin juga menyukai