Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPARAWATAN PADA TN. S DENGAN DIAGNOSA MEDIS


CIDERA KEPALA RINGAN (CKR) DI RUANG KENANGA
RSUD Hj. ANNA LASMANAH BANJARNEGARA

DISUSUN OLEH :
NENI PIKIYANI
19.035

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

POLITEKNIK YAKPERMAS BANYUMAS

TAHUN 2021
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPARAWATAN PADA TN. S DENGAN
DIAGNOSA MEDIS CIDERA KEPALA RINGAN (CKR) DI RUANG KENANGA
RSUD Hj. ANNA LASMANAH BANJARNEGARA

A. KONSEP DASAR MEDIS


1. Pengertian

Cedera Kepala Adalah Suatu Gangguan Traumatik Dari Fungsi Otak Yang
Disertai Atau Tanpa Pendarahan Intestinal Dalam Substansi Otak Tanpa Diikuti
Terputusnya Kontinuitas Otak. Cedera Kepala Merupakan Adanya Pukulan Atau
Benturan Mendadak Pada Kepala Dengan Atau Tanpa Kehilangan Kesadaran (Febriyanti,
Dkk, 2017)

Cedera Kepala Adalah Suatu Trauma Mekanik Terhadap Kepala, Baik Secara
Langsung Ataupun Tidak Langsung Yang Menyebabkan Gangguan Fungsi Neurologis
Yaitu Gangguan Fisik, Kognitif, Fungsi Psikososial Baik Temporer Maupun Permanen
(Sari 2017)

Cedera Kepala Adalah Salah Satu Penyebab Kematian Dan Kecacatan Utama
Pada Kelompok Usia Produktif Dan Sebagian Besar Terjadi Akibat Kecelakaan Lalu
Lintas (Sari 2017)

2. Etiologi
Menurut (Sari 2017) Ada Beberapa Penyebab CKR, Yaitu:
a) Kecelakaan Kerja
b) Kecelakaan Lalu Lintas Dengan Kendaraan Bermotor
c) Jatuh Atau Tertimpa Benda Berat (Benda Tumpul)
d) Serangan Atau Kejahatan (Benda Tajam)
e) Pukulan (Kekerasan, Akibat Luka Tembak)
f) Kecelakaan Olah Raga

3. Patofisiologi
Otak dapat berfungsi dengan baik apabila oksigen dan glukosa terpenuhi. Energi
yang dihasilkan didalam sel-sel saraf hampir seluruhnya melalui proses okidasi. Otak
tidak mempunyai cadangan oksigen, jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun
sebentar akan menyebabkan gangguan perfusi. Demikian pula dengan kebutuhan oksigen
sebagai bahan bakar metabolisme otak tidak boleh kurang dari 20 mg%, karena akan
menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25% dari seluruh kebutuhan glukosa
tubuh, sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 75% akan terjadi gejala-gejala
permulaan disfungsi serebral.
Pada saat otak mengalami hipoksia, tubuh berusahamemenuhi kebutuhan oksigen
melalui proses metabolik an aerob yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah.
Pada kontusio berat hipoksia atau kerusakan otak dapat terjadi penimbunan asam laktat
akibat metabolisme an aerob.
Dalam keadaan normal Cerebral Blood Flow (CBF) adalah 50-60 ml/menit/100gr.
Jaringan otak, yang merupakan 15% dari cardiac output. Trauma kepala menyebabkan
perubahan fungsi jantung sekuncup aktivitas atypical-myocordial, perubahan tekanan
vaskuler dan uedem paru. Perubahan otonom pada fungsi ventrikel adalah perubahan
gelombang t dan p dan distritmia, fibrilasi atrium dan ventrikel, takikardia. Akibat adanya
perubahan otak akan mempengaruhi tekananvaskuler, dimana penurunan tekanan
vaskuler menyebabkan pembuluh darah arteriol akan berkontraksi. Pengaruh persyarafan
simpatik dan parasimpatik pada pembuluh darah arteri dan arteriol otak tidak begitu besar
(Tarwoto, 2012).

4. Manifestasi Klinis
Menurut (EDANG PAJONG 2019) yaitu :
a) Gangguan kesadaran
b) Konfusi
c) Abnormalitas pupil
d) Awitan tiba-tiba defisit neurologi
e) Perubahan tanda vital
f) Gangguan penglihatan dan pendengaran
g) Disfungsi sensori
h) Kejang otot
i) Sakit kepala
j) Vertigo
k) Gangguan pergerakan
l) Kejang
5. Pemeriksaaan Penunjang & Pemeriksaan Diagnostik
Menurut (Muhammad et al. 2020), Yaitu :
a) CT Scan Dan Rontgen Mengidentifikasi Adanya Hemoragik, Menentukan Ukuran
Ventrikuler, Pergeseran Jaringan Otak
b) Angiografi Serebral Menunjukan Kelainan Sirkulasi Serebral, Seperti Pergeseran
Jaringan Otak Akibat Edema, Perdarahan, Trauma
c) X-Ray Mendeteksi Perubahan Struktur Tulang (Fraktur), Perubahan Struktur
Garis (Perdarahan/Edema), Fragmen Tulang
d) Analisa Gas Darah Mendeteksi Ventilasi Atau Masalah Pernapasan (Oksigenasi)
Jika Peningkatan Tekanan Intracranial.
e) Elektrolit Untuk Mengoreksi Keseimbangan Elektrolit Sebagai Akibat
Peningkatan Tekanan Intracranial

6. Penatalaksanaan Medik/Pengobatan
a) Medis
1) Airway, dengan jalan nafas dibebaskan dari lidah yang turun ke belekangan
dengan posisi kepala ekstensi kalau perlu dipasang oropharyngeal tube atau
nasopharyngeal tube
2) Breathing, dengan memberikan O2 dengan menggunakan alat bantu
pernafasan misalnya nasal kanul, simple mask/ rebreathing mask, mask
nonreabreathing
3) Circulation pada cedera kepala berat terjadi hipermetabolisme sebanyak 2-2,5
kali normal dan akan mengakibatkan katabolisme protein
b) Pengobatan
1) Diuretik osmotic (manitol20%), dosisnya 0,5-1/kg BB diberikan dalam
30menit pemberian diulang setelah 6 jam dengan dosis 0,25%- 0,5/kg BB
dalam 30menit untuk mencegah terjadinya rebound
2) Loop deuretik (Furosemid), diberikan dengan dosis 40mg/ hari dengan cara di
injeksi intravena, pemberiannya bersamaan dengan manitol, karena
mempunyai efek sinergis dan memperpanjang efek osmotic serum manitol
3) Diazepam, dosisnya 10mg secara intravena dan bisa diulang sampai 3 kali bila
masih terjadi kejang
4) Analgesic (Asetaminofen), dosisnya 325 atau 500mg setiap 3 atau 4 jam, 650
mg setiap 4-6 jam
5) Antikonvulsan (fenitoin), dosisnya 200 hingga 500 mg perhari, untuk
mencegah serangan epilepsy
6) Profilaksis antibiotic, biasanya digunakan setelah 24 jam pertama lalu 2 jam
pertama, dan 4 jam berikutnya, tindakan yang sangat penting sebagai usaha
untuk mencegah terjadinya infeksi pasca oprasi
DAFTAR PUSTAKA

Febriyanti, Dkk.2017. Pengaruh Terapi Oksigenasi Nasal Prong Terhadap Perubahan Saturasi
Oksigen Pasien Cedera Kepala Di Instalasi Gawat Darurat Rsup Prof. Dr. R. D. Kandou
Manado. E-Jurnal Keperawatan (E- Kp) Vol 5 No 1

EDANG PAJONG, YUSTINUS. 2019. “Asuhan Keperawatan Pada Tn. J.M. Dengan Diagnosa
Medik Kanker Usus Di Ruang Asoka Rsud Prof.Dr.W.Z.Johanes Kupang.” Sustainability
(Switzerland) 11 (1): 1–14.
http://scioteca.caf.com/bitstream/handle/123456789/1091/RED2017-Eng-8ene.pdf?
sequence=12&isAllowed=y
%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.regsciurbeco.2008.06.005%0Ahttps://www.researchgate.net
/publication/305320484_SISTEM_PEMBETUNGAN_TERPUSAT_STRATEGI_MELEST
ARIKAN_.

Muhammad, I, M Diana, M D Lestari, and K W R Putra. 2020. Asuhan Keperawatan Pada


Anak" a" Dengan Diagnosa Medis Cedera Otak Ringan (Cor) Di Ruang Melati Rsud
Bangil Pasuruan. http://eprints.kertacendekia.ac.id/id/eprint/195/1/KTI INDRA M .pdf.

Sari, Intan. 2017. “ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. S Dan Tn. H YANG
MENGALAMI CEDERA KEPALA RINGAN DENGAN GANGGUAN PERFUSI
JARINGAN SEREBRAL Di IGD RSUD SALATIGA.”

Sartono Dan Sudiharto, 2010. Buku Panduan Basic Trauma Cardiac Life Suport. CV. Agung
Seto, Jakarta

Tarwoto. 2012. Pengaruh Latihan Slow Deep Breathing Terhadap Intensitas Nyeri Kepala Akut
Pada Pasien Cedera Kepala Ringan. Jurnal Universitas Indonesia. Jakarta ISBN 978-602-
97846-3-3. Diakses Tanggal 21 Februari 2015