Anda di halaman 1dari 20

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Geologi Regional

Wilayah kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan termasuk ke

dalam wilayah Cekungan Sumatera Selatan yang secara umum tersusun oleh

batuan sedimen Tersier yang diendapkan di atas batuan Pra-Tersier berdasarkan

hasil penelitian yang dilakukan oleh Shell Mijnbouw (1978) dan Gafoer dkk.

(1993) pada Peta Geologi Lembar Baturaja.

Kerangka tektonik cekungan Sumatera Selatan terdiri dari Paparan

Sunda di sebelah timur dan jalur tektonik aktif Bukit Barisan di sebelah Barat.

Daerah cekungan ini dibatasi dari Cekungan Jawa Barat oleh daerah tinggian

Lampung. Di dalam daerah cekungan terdapat daerah tinggian batuan dasar Pra-

Tersier dan berbagai depresi. Perbedaan relief dalam batuan dasar ini diperkirakan

karena adanya pematahan dasar dalam bongkah-bongkah (graben-graben). Hal ini

sangat ditunjukkan oleh depresi Pematang di cekungan yang jelas dan dibatasi

oleh jalur patahan Pematang dari Pendopo Antiklinorium serta oleh patahan Lahat

di sebelah barat laut dari paparan Kikim. Gerakan diferensial dari blok patahan

(graben) ini mengendalikan sedimentasi, fasies serta pelipatan pada lapisan

Tersier di atasnya.

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Baturaja skala 1:250.000 (Gambar 2.1)

yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung


8

(1993), urutan stratigrafi regional Kabupaten OKU Selatan dari tua ke muda

adalah sebagai berikut :

Formasi Tarap (Pct)

Terdiri dari batuan sedimen malihan (metamorf) berderajat rendah yaitu filit,

sekis, batusabak, sedikit marmer, kuarsit, dan hornfelsik. Formasi Tarap

merupakan batuan tertua yang tersingkap di wilayah OKU Selatan yaitu di sekitar

Bukit Semburang Tanjung Kurung, Formasi ini diendapkan pada Karbon Awal di

lingkungan air hangat laut dangkal dan kemudian mengalami pemalihan berupa

fasies sekis hijau.

Anggota Situlanglang Formasi Garba (Kjgs)

Terdiri dari rijang berwarna kuning gading, merah hati, pejal, keras, dan lapuk

mengandung radiolaria. Batuan ini merupakan batuan Formasi Garba Atas.

Anggota Insu Formasi Garba (Kjgrv)

Terdiri dari basal, andesit, dan lensa-lensa atau berselingan dengan rijang. Batuan

ini merupakan lapisan batuan Formasi Garba bagian Bawah.

Formasi Garba (Kig)

Terdiri dari batuan laut bersusunan basal-andesit, rijang, kadang-kadang dengan

serpentinit. Formasi Garba diendapkan pada Jura Akhir-Kapur Awal ditafsirkan

bersentuhan tektonik dengan Formasi Tarap yang terletak di bawahnya dan


9

ditindih oleh batuan Melange serta diterobos oleh batuan granit Kapur Akhir.

Batuan Formasi Garba ini tersingkap di daerah bukit Garba.

Komplek Melange (Km)

Merupakan batuan bancuh campuran batuan yang berasal dari kerak samudra dan

kerak benua akibat kontak tektonik antara lempeng samudra dan benua. Batuan ini

terdiri dari bongkah-bongkah batugamping, rijang, batuan lava andesit-basal,

batulanau, batulempung, serpih, serpentin, dan sekis dalam masa dasar lempung

bersisik yang diendapkan pada Kapur Awal-Tengah.

Granit Garba (Kgr)

Batuan terobosan granit utamanya berupa monzogranit butiran kristal relatif kasar

dan setempat berupa monzodiorit kaya mineral mafik biotit dan K-felspar

kemerahan. Batuan intrusi ini terbentuk pada Kapur Akhir, masa terjadi

ketidakselarasan regional, menorobos Formasi Garba dan Bancuh. Batuan ini

tersingkap di Bukit Garba.

Anggota Cawang Formasi Kikim (Tpokc)

Terdiri dari konglomerat kuarsa dan batupasir kuarsa. Satuan ini diendapkan pada

Paleosen-Oligosen Awal dan merupakan endapan klasik darat. Konglomerat putih

kekuningan, padat didominasi oleh fragmen butiran kuarsa dan kuarsa susu putih

butir mencapai 2 cm dengan massa dasar oksida besi dan karbon. Mempunyai

struktur silangsiur. Satuan ini tersingkap di daerah barat laut Bukit Garba.
10

Formasi Kikim (Tpok)

Terdiri dari breksi gunungapi, tuf padu, tuf lava di bagian bawah dan breksi

gunung api dengan sisipan sedimen, batupasir, batulanau dan batulempung.

Diendapkan pada Paleosen-Oligosen di lingkungan daratan fluviatil, menindih

takselaras batuan alas Pra-Tersier dan ditafsirkan ditindih oleh Formasi

Hulusimpang.

Formasi Hulusimpang (Tomh)

Terdiri dari lava, breksi gunung api, dan tuf terubah, bersusunan andesit sampai

basal mengandung mineral sulfida dan urat kuarsa, diendapkan pada Oligosen

Akhir- Miosen Awal di lingkungan daratan sampai laut dangkal, ditafsirkan

merupakan bagian dari busur gunungapi benua yang berhubungan dengan

penujaman lempeng. Batuan Formasi ini menindih tak selaras batuan alas Pra-

Tersier, menjemari dengan Formasi Seblat di sepanjang tepi timur Cekungan

Bengkulu dan ditindih takselaras oleh Formasi Bal. Satuan batuan ini juga

diterobos oleh batuan granit Miosen Tengah.

Granodiorit, Diorit, dan Granit (Tmgd)

Terdiri dari batuan granodiorit, diorit, dan granit. Batuan ini menerobos batuan

gunungapi Formasi Hulusimpang dan ditindih tak selaras oleh Formasi Bal.

Batuan terobosan granodiorit, granit, dan granit ini terbentuk pada Miosen Tengah

dan terdapat di sepanjang sesar Mekakau daerah baratdaya OKU Selatan.


11

Formasi Seblat (Toms)

Terdiri dari batupasir, batulempung, batupasir konglomeratan, batugamping,

serpih, dan napal bersisipan batupasir. Formasi ini diendapkan pada Oligosen

Akhir-Miosen Tengah di lingkungan laut dangkal, neritik fluvial dan bercirikan

kondisi turbidit di Cekungan Bengkulu dan ditindih tak selaras oleh Formasi

Lemau.

Formasi Talang Akar (Tomt)

Terdiri dari pasir kuarsa, mengandung kayu terkersikan, batupasir konglomeratan,

gampingan, glaukonit, dan batulempung mengandung moluska serta sisipan

batubara. Formasi Talang Akar diendapkan pada Oligosen Akhir-Miosen Awal di

lingkungan laut dangkal sub-litoral laguna secara tak selaras di atas satuan batuan

berumur lebih tua, Formasi Kikim dan batuan alas Pra-Tersier.

Formasi Baturaja ( Tmb)

Kelompok batuan pada formasi ini terdari dari batugamping terumbu, kalkarenit,

napal, dan serpih gampangan. Batuan pada Formasi Baturaja ini diendapkan pada

Miosen Awal di lingkungan pengendapan laut dangkal.

Formasi Gumai (Tmg)

Formasi ini terdiri dari serpih, napal, batulempung berselingan dengan batupasir

dan batulanau. Batupasir umumnya terdapat dalam lapisan-lapisan tipis antara 20-

50 cm. Formasi Gumai diendapkan di lingkungan laut terbuka, neritik hingga


12

batial pada Miosen – Tengah saat berlangsungnya puncak genang laut di

Cekungan Sumatra Selatan. Batuan bagian bawah Formasi Gumai ini menjemari

dengan batuan Formasi Baturaja. Formasi ini tersebar di sekitar Bukit Garba.

Formasi Bal (Tmba)

Terdiri dari breksi gunung api dengan sisipan batupasir gunungapi, bersusunan

dasit yang dicirikan oleh perlapisan silang siur dan struktur karangan bunga

ukuran besar. Formasi Bal diendapkan di lingkungan daratan sampai fluvial pada

Miosen Tengah – Akhir dan menindih tak selaras Formasi Hulusimpang. Formasi

ini terdapat di daerah Pegunungan Barisan, yaitu di bagian selatan wilayah OKU

Selatan di sekitar Danau Ranau dengan sebaran yang terbatas.

Formasi Air Benakat (Tma)

Formasi Air Benakat yang diendapkan hampir bersamaan atau dapat dikorelasikan

dengan Formasi Lemau tersebut di atas terdiri dari perselingan antara

batulempung, batupasir tufaan, napal, dan serpih. Lapisan batuan pada umumnya

tipis-tipis antara 20-30 cm. Formasi Air Benakat diendapkan pada Miosen Tengah

– Akhir di lingkungan sublitoral sampai laut dangkal dan umumnya selaras di

antara Formasi Gumai tetapi ada setempat yang menunjukan tidak selaras

menandai adanya fase surut laut di Cekungan Sumatra Selatan.


13

Formasi Lemau (Tml)

Terdiri dari batupasir tufaan atau batupasir gamping dan batulempung. Batuan

sedimen ini diendapkan di lingkungan laut dangkal sampai peralihan pada bujur

Cekungan Bengkulu pada Miosen Tengah – Akhir. Formasi ini setara dengan

Formasi Air Benakat yang diendapkan di Cekungan Sumatra Selatan.

Formasi Lakitan (Tmpl)

Terdiri dari batuan gunung api dengan sisipan batupasir dan batulempung

bersusunan andesit-basal. Formasi Lakitan diendapkan pada Miosen Akhir-

Pliosen di lingkungan pengendapan peralihan daratan-fluviatil sampai lautan

sublitoral dan menindih tidak selaras Formasi Bal. Formasi ini terdapat di daerah

sekitar Ulu Danau wilayah OKU Selatan.

Formasi Muara Enim (Tmpm)

Formasi ini terdiri dari batulempung berlapis tipis, batulanau, batupasir kuarsa

dengan sisipan lapisan batubara. Ketebalan formasi ini sekitar 150m-750m,

diendapkan pada kala Miosen-Pliosen Awal di lingkungan peralihan laut dangkal

– fluviatil dan selaras di atas Formasi Air Benakat. Batuan Formasi Muara Enim

terdapat di sekitar daerah Muara Enim dua.

Formasi Ranau (Qtr)

Terdiri dari tuf riolitan, tuf batuapung, tuf padu dengan sisipan batulempung

berkarbon. Batuan Formasi Ranau ini berasal dari vulkanik sub-aerial (hasil
14

letusan gunung api) diendapkan di lingkungan daratan pada kala Plio-Plistosen

diendapkan tak selaras di atas satuan batuan yang berumur lebih tua. Batuan

Formasi Ranau tersebar cukup luas di wilayah ini, yaitu daerah bagian selatan dan

tengah serta timur laut wilayah OKU Selatan.

Satuan Batuan Gunung Api (Qv)

Terdiri dari lava, tuf, dan breksi gunung api bersusunan andesit-basal. Batuan

gunung api ini diendapkan pada Plistosen dan terdapat di daerah bagian baratdaya

sekitar pegunungan Barisan dan sebaran yang cukup luas berada di bagian barat-

baratlaut wilayah OKU Selatan.

Satuan Batuan Breksi (Qhv)

Satuan batuan ini terdiri dari breksi gunung api, lava dan tuf bersusunan andesit-

basal. Satuan batuan ini diendapkan pada kala Plistosen-Holosen dan tersebar di

wilayah bagian tenggara, yaitu sekitar Pematang Kukusan, Gunung Raya,

Pematang Sigukguk, Bukit Punggur dan sedikit di bagian barat laut Wilayah

Kabupaten OKU Selatan.

Aluvium (Qa)

Merupakan batuan termuda yang diendapkan kala Holosen dari hasil pelapukan

dan erosi batuan yang berumur lebih tua. Batuan ini terdiri dari bongkah, kerikil,

pasir, langau, lempung dan lumpur, batuan alluvial dataran rendah dan banjir

(Flood plain).
Gambar 2.1 Sebagian Peta Geologi Regional Lembar Baturaja oleh Shell Mijnbouw (1978) dan Gafoer dkk. (1993)

15
16

2.2 Genesa Marmer

Marmer (marble) merupakan batugamping yang telah mengalami proses

metamorfosa, dan proses ini terjadi karena adanya tekanan dan temperatur yang

sangat tinggi, sehingga tekstur batuan asal seperti tekstur sedimen dan biologi

yang terdapat pada batugamping akan menghilang dan membentuk tekstur batuan

baru (re-kristalisasi). Metamorfisme terjadi jika suhu dan tekanan diatas 200°C

dan 300 Mpa. Proses metamorfisme terjadi akibat adanya mineral yang stabil

hanya disuhu dan tekanan tertentu. Saat suhu dan tekanan berubah, reaksi kimia

terjadi yang menyebabkan mineral dalam batuan berubah pada asosiasi mineral

yang lebih stabil pada kondisi suhu dan tekanan yang baru. Suhu dikontrol oleh

Gradien Geothermal dan dikontrol oleh adanya intrusi batuan beku, sedangkan

tekanan meningkat seiring meningkatnya kedalaman dari pembebanan batuan

diatasnya (burial).

Marmer merupakan batuan metamorf dengan derajat rendah (low grade

metamorphism). Metamorfisme ini terjadi dikisaran suhu antara 200°C dan

320°C, dan tekanan yang relatif rendah. Batuan metamorf berderajat rendah

mempunyai karakteristik dengan adanya kehadiran mineral hidrous (mineral yang

mengandung air, H2O, pada struktur kristalnya) seperti serpentin, klorit, dsb.

Sedangkan metamorfisme berderajat tinggi terjadi pada suhu lebih dari 320°C dan

tekanan yang relatif besar. Seiring meningkatnya derajat metamorfisme, mineral

hidrous menjadi anhidrous, dengan melepas H2O dan memunculkan mineral-


17

mineral lain seperti biotit dan piroksen. Grafik derajat metamorfisme dapat dilihat

pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Grafik Metamorfisme (Nelson, 2015)

Marmer dapat terbentuk baik secara metamorfisme kontak maupun

regional. Metamorfisme kontak terjadi jika adanya intrusi dan menghasilkan suhu

yang tinggi. Area kecil batuan sekitar intrusi akan terpanaskan oleh magma dan

terjadi proses metamorfisme yang biasa disebut metamorphic aureole, di bagian

luar kontak aureole, batuan tidak termetamorfkan. Metamorfisme kontak biasanya

menghasilkan batuan metamorf berderajat tinggi dan terjadi pada temperatur yang

tinggi dan tekanan yang rendah. Batuan yang terbentuk biasanya berbutir dan

tidak memperlihatkan foliasi. Metamorfisme regional terjadi pada area yang luas

dimana terjadi deformasi yang kuat yang menyebabkan batuan metamorf yang

berfoliasi seperti slaty, filit, sekis, dan gneiss. Metamorfisme regional terjadi pada

suhu yang rendah dan tekanan yang tinggi dan sangat erat hubungannya dengan

proses teknonik lempeng. Ilustrasi metamorfisme kontak dapat dilihat pada

gambar 2.3.
18

Gambar 2.3 Metamorfisme Kontak (Nelson, 2015) dan Metamorfisme Regional (Stoffer,
2015)

Menurut Stoffer (2015) batugamping (limestone) adalah batuan hasil

akumulasi dari kalsit (CaCO3), yang mungkin terbentuk dari calcareous skeletal

(cangkang, alga, dsb.) atau dari hasil presipitasi sedimen. Bagaimanapun asal

terbentuknya, sebuah batugamping jika terpanaskan dan berada pada tekanan

tertentu akan mengalami re-kristalisasi (kristal-kristal kalsit akan membersar

menjadi butiran yang lebih terlihat) dan membentuk batuan kristalin dengan

butiran yang lebih kasar yang disebut batu marmer. (Gambar 2.4)

Gambar 2.4 Marmer terbentuk dari batugamping yang terubah oleh re-kristalisasi. Fosil
akan hancur dan membentuk tekstur granoblastik (Stoffer, 2015)
19

Istilah marmer khususnya dikalangan awam dan dunia industri dapat juga

berarti batuan yang dapat dipoles sehingga mengkilap dan dipergunakan untuk

lantai atau dinding. Secara dominan komposisi utama marmer adalah mineral

karbonat seperti kalsit, dolomit, kalsit dan dolomit, atau serpentin (SII. 0379-80),

sedangkan mineral tambahannya adalah pirit, kuarsa, talk, klorit, amfibol,

piroksin, hematit, dan grafit yang semuanya akan memberikan pola-pola warna

dan corak ornamen pada marmer. Sebagai contoh, marmer kalsit murni berwarna

putih, tetapi karena adanya mineral grafit dan pirit, maka akan memberikan warna

marmer menjadi abu-abu sedangkan hadirnya mineral hematit akan memberikan

warna merah muda. Hijau karena adanya mineral klorit dan serpentinit.

Pengamatan warna pada marmer penting dalam industri marmer (Sukandarrumidi,

2004)

Menurut Arifin dan Suhala (1997), berdasarkan komposisi utamanya dan

cara terbentuknya, marmer dibagi menjadi dua jenis, yaitu Marmer “Onyx”

(marmer yang berwarna putih bersih yang berasal dari batugamping yang

terbentuk dari larutan air dingin) dan Marmer “Verde – Antik” (marmer yang

ornamennya terdiri dari serpentin masif yang dipotong oleh urat kuarsa)

2.3 Metode Pengujian Marmer

2.3.1 XRF (X-Ray Flouroscence)

2.3.1.1 Pengertian XRF

XRF (X-Ray Flouroscence) merupakan metode yang digunakan dengan

alat untuk menganalisis komposisi kimia beserta konsentrasi unsur-unsur yang


20

terkandung dalam suatu sampel dengan menggunakan metode spektrometri. XRF

umumnya digunakan untuk menganalisa unsur dalam mineral atau batuan.

Analisis unsur dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif. Analisis kualitatif

dilakukan untuk menganalisi jenis unsur yang terkandung dalam bahan dan

analisis kuantitatif dilakukan untuk menentukan konsentrasi unsur dalam bahan.

2.3.1.2 Jenis XRF

XRF ada dua 2 jenis yaitu : WDXRF ( Wave Length Dispersive XRF )

dan EDXRF (Energy Dispersive XRF ). Secara umum perbedaan kedua alat ini

dapat dilihat pada Gambar 2.5

Gambar 2.5 Perbedaan WDXRF dan EDXRF

2.3.1.3 Prinsip kerja XRF

Analisis menggunakan XRF dilakukan berdasarkan identifikasi dan

pencacahan karakteristik sinar-X yang terjadi akibat efek fotolistrik. Efek

fotolistrik terjadi karena elektron dalam atom target pada sampel terkena sinar

berenergi tinggi (radiasi gamma, sinar-X). Ilustrasi alur kerja XRF dapat dilihat

pada gambar 2.6.


21

Gambar 2.6 Alur Kerja XRF (AMETEK, 2016)

1. Elektron di kulit K terpental keluar dari atom akibat dari radiasi sinar X yang

datang. Akibatnya, terjadi kekosongan/valensi elektron pada orbital (gambar 1).

2. Elektron dari kulit L atau M “turun” untuk mengisi valensi tersebut disertai

oleh emisi sinar X yang khas dan meninggalkan valensi lain di kulit L atau M

(gambar 2).

3. Saat valensi terbentuk di kulit L, elektron dari kulit M or N “turun” untuk

mengisi valensi tersebut sambil melepaskan Sinar X yang khas (gambar 3).

4. Spektrometri XRF memanfaatkan sinar-X yang dipancarkan oleh bahan yang

selanjutnya ditangkap detektor untuk dianalisis kandungan unsur dalam bahan

(gambar 4).

2.3.1.4 Karakteristik Sampel Pada XRF

Beberapa sampel yang dapat dianalisis dengan menggunakan XRF yaitu :

a. Sampel serbuk ± 100 mesh

b. Sampel cair yang homogen

- Tipe sampel yang diperoleh dari lingkungan seperti minyak dan air
22

- Tidak membutuhkan preparasi yang rumit

c. Sampel padatan dengan batas maximum tinggi 2.5 cm dan diameter 2.5 cm

- Logam, plastik dan kaca atau keramik

- Pelapisan permukaan akan mempengaruhi komposisi kimia yang terbaca

- Ukuran partikel tidak menjadi persoalan

- Permukaan harus homogen

d. Presed Powder

- Tipe sampel yang dapat dibentuk press powder seperti batuan, semen,

lumpur, alumina, fly ash dan lain-lain

- Agen pengikat seperti lilin atau selulosa dapat digunakan untuk

memperkuat sampel

e. Serbuk

Serbuk di tekan membentuk tablet padat menggunakan hydraulic press

Fused Beads, Tipe sampel yang termasuk di preparasi seperti fused bead adalah

batuan, semen, bijih besi dan lain-lain. Sampel dicampur dengan flux. Spectromelt

dapat digunakan untuk proses ini. Sampel dan flux dipanaskan pada suhu ≈

1000°C. Permukaan harus homogen.

2.3.1.5 Kelebihan dan kelemahan XRF

Keunggulan dari metode XRF adalah Mudah digunakan dan Sampel dapat

berupa padat, bubuk (butiran) dan cairan. Tidak merusak sampel (Non Destructive

Test), sampel utuh dan analisa dapat dilakukan berulang-ulang, Banyak unsur

dapat dianalisa sekaligus (Na- U), Konsentrasi dari ppm hingga 100%, Hasil
23

keluar dalam beberapa detik (hingga beberapa menit, tergantung aplikasi) dan

Menjadi metoda analisa unsur standar dengan banyaknya metoda analisa ISO dan

ASTM yang mengacu pada analisa XRF

Kelemahan dari metode XRF adalah tidak dapat mengetahui senyawa apa

yang dibentuk oleh unsur-unsur yang terkandung dalam material yang akan kita

teliti.

2.3.2 Uji Kuat Tekan

Kekuatan tekan adalah kemampuan suatu benda untuk menerima gaya

tekan persatuan luas. Kuat tekan mengidentifikasikan mutu dari sebuah struktur.

Semakin tinggi kekuatan struktur dikehendaki, semakin tinggi pula mutu yang

dihasilkan (Mulyono, 2004).

Nilai kuat tekan didapat dari pengujian standar dengan benda uji yang

lazim digunakan berbentuk silinder. Dimensi benda uji standar adalah tinggi 300

mm dan diameter 150 mm. Tata cara pengujian yang umumnya dipakai adalah

standar SNI 03-2825-1992.

2.3.3 Uji Berat Jenis dan Penyerapan Air

Berat jenis adalah nilai perbandingan antara massa dan volume dari bahan

yang kita uji. Sedangkan penyerapan berarti tingkat atau kemampuan suatu bahan

untuk menyerap air. Semakin besar kemampuan sebuah bahan menyerap air dapat

dikatan kualitas bahan tersebut semakin rendah. Jumlah rongga atau pori yang

didapat pada agregat disebut porositas.


24

Macam-macam berat jenis menurut SNI 1968:2008 yaitu:

1. Berat jenis curah (Bulk specific gravity)

Adalah berat jenis yang diperhitungkan terhadap seluruh volume yang ada

(Volume pori yang dapat diresapi aspal atau dapat dikatakan seluruh volume pori

yang dapat dilewati air dan volume partikel)

2. Berat jenis kering permukaan jenis (SSD specific gravity)

Adalah berat jenis yang memperhitungkan volume pori yang hanya dapat diresapi

aspal ditambah dengan volume partikel.

3. Berat jenis semu (apparent specific gravity)

Adalah berat jenis yang memperhitungkan volume partikel saja tanpa

memperhitungkan volume pori yang dapat dilewati air.Atau merupakan bagian

relative density dari bahan padat yang terbentuk dari campuran partikel kecuali

pori atau pori udara yang dapat menyerap air.

4. Berat jenis efektif

Merupakan nilai tengah dari berat jenis curah dan semu,terbentuk dari campuran

partikel kecuali pori-pori atau rongga udara yang dapat menyerap air.

Menurut SNI 03-6889 -2002 jenis agregat dapat dibedakan berdasarkan

berat jenis:

1. Agregat normal

Berat jenisnya antara 2,5 – 2,7. Biasanya berasal dari granit, basalt dan kuarsa

2. Agregat berat
25

Barat jenis lebih besar dari 2,8. Misalnya magnetic ( Fe3C4 ), barites ( BaSO4 )

atau serbuk besi.

3. Agregat ringan

Berat jenisnya kurang dari 2,5

2.4 Spesifikasi Produksi Dan Kegunaan Marmer

Untuk dapat digunakan sebagai batu alam, bahan bangunan, atau batu hias,

maka batu marmer tersebut harus memiliki syarat atau spesifikasi sifat fisik

tertentu seperti dalam SII. 0378-80 dan SII. 0379-80 yang dikeluarkan oleh

Departemen Perindustrian Republik Indonesia. SII. 0378-80 menjelaskan tentang

Mutu dan Cara Uji Batu Alam untuk Bahan Bangunan. SII. 0379-80, berisi

tentang Mutu dan Cara Uji Marmer yang mana untuk dapat digunakan sebagai

batu hias.

Adapun beberapa tujuan dari uji mutu batu dimensi (batu marmer) antara

lain : menentukan kemampuan batuan untuk menahan takanan baik yang berasal

dari beban struktur maupun proses pelapukan, mengetahui sejauh mana batuan

dapat menahan tiupan angin dan beban tanpa mengalami retakan, dan mengetahui

sifat penyerapan air maupun zat cair lainnya yang dapat menyebabkan perubahan

dan pengotoran warna. Tabel syarat-syarat fisis marmer dan batu alam

berdasarkan SII. 0378-80 dan SII. 0379-80 dapat dilihat pada tabel 2.1 dan tabel

2.2.
26

Tabel 2.1 Syarat-syarat Fisis Marmer menurut SII. 0378-80

Tabel 2.2. Syarat Mutu Batu Alam untuk Bahan Bangunan menurut SII. 0379-80