Anda di halaman 1dari 664

Sains, Filsafat,

Agama, Pandemi
Sebuah Diskursus

Goenawan Mohamad, A.S. Laksana, Ulil Abshar


Abdalla, Nirwan Ahmad Arsuka, Hasanudin
Abdurakhman, Taufiqurrahman, Jamil Massa,
Dwi Pranoto, Lukas Luwarso, Silvester Ule, Azis
Anwar Fachrudin, Ardi Kresna Crenata, F. Budi
Hardiman, Fitzgerald Kennedy Sitorus, Farid
Gaban, Budi Munawar Rachman, Husain
Heriyanto, Sabrang Damar Panuluh, Bambang
Sugiharto, Hamid Basyaib

Dikompilasi dari berbagai sumber oleh


Alois Wisnuhardana

Edisi 30 Juni 2020


Hak cipta ada pada masing-masing penulis.
PDF dan ePub oleh Juan St. Sumampouw

Pengantar | Alois Wisnuhardana | 2


Pengantar | Alois Wisnuhardana | 3
Daftar Isi
Pengantar | Alois Wisnuhardana
Sains, Filsafat, Agama: Kacamata Tukang Catat
17 Mei 2020 | Goenawan Mohamad
Pasti
20 Mei 2020 | Goenawan Mohamad
Risalah Sains dan Beberapa Masalahnya
28 Mei 2020 | A. S. Laksana
Sains dan Hal-Hal Baiknya
31 Mei 2020 | Goenawan Mohamad
Sains dan Masalah-Masalahnya, Sulak dan Dua
Kesalahannya
1 Juni 2020 | Nirwan Ahmad Arsuka
Sains dan Sport
1 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla
Qutbiisme dan Kepongahan Saintifik: Mengapa Al-
Ghazali Masih Relevan Sekarang?
1 Juni 2020 | Hasanudin Abdurakhman
Ulil, Sains Itu Tidak Pongah, Cuma Tidak Berbagi
Kebenaran
2 Juni 2020 | Taufiqurrahman
Sains Memang Tidak Sempurna, tapi Ia Adalah Jenis
Pengetahuan Terbaik yang Mungkin Kita Punya
2 Juni 2020 | Hasanudin Abdurakhman
Kritik kepada Saintisme
2 Juni 2020 | Jamil Massa
Tentang Scientist

Pengantar | Alois Wisnuhardana | 4


2 Juni 2020 | Dwi Pranoto
Heidegger dan Pengabaian Goenawan Mohamad
3 Juni 2020 | Lukas Luwarso
Kepastian Sains dan Pencarian Kebenaran
2 Juni 2020 | Silvester Ule
Kasus Galileo Galilei
3 Juni 2020 | Azis Anwar Fachrudin
Saintisme Bukan Istilah Peyoratif
3 Juni 2020 | Goenawan Mohamad
Tanggapan Terhadap Nirwan
3 Juni 2020 | Ardi Kresna Crenata
Sains, Agama, dan Kesalahan Kita
3 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla
Antara Sains dan Soto
3 Juni 2020 | F. Budi Hardiman
Saintisme dan Momok-Momok Lain
4 Juni 2020 | Goenawan Mohamad
Maaf, Tanpa Judul
5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus
Tentang Garis Demarkasi antara Sains dan Filsafat
dan Kematian Metafisika
4 Juni 2020 | Farid Gaban
Sains dan Pemihakan
5 Juni 2020 | Nirwan Ahmad Arsuka
Sains di Tengah Wabah Corona
5 Juni 2020 | Budi Munawar Rachman
Perbedaan Sains dan Saintisme
6 Juni 2020 | Hamid Basyaib
Tentang Cicak Sains dan Ekor Filsafat
6 Juni 2020 | Husain Heriyanto
Nalar Realis Memahami Sains

Pengantar | Alois Wisnuhardana | 5


8 Juni 2020 | A. S. Laksana
Sains yang Meringkus, Manusia yang Tidak Aman
10 Juni 2020 | Sabrang Damar Panuluh
Mempertanyakan Kebenaran Real World Science
dan Pengkhianatan Matematika
9 Juni 2020 | Lukas Luwarso
Trilema Sains, Agama, dan Filsafat
9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto
Masih Perlukah Sains, Filsafat, dan Agama?
12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad
Sebuah Tempat yang Bersih dan Lampunya Terang
untuk Sains
19 Juni 2020 | Goenawan Mohamad
Aku Mengritikmu dengan Agenda yang Sederhana
19 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla
Tentang Korrelasionisme
15 Juni 2020 | Hamid Basyaib
Romantisisme dan Falasi Memedi Goenawan
Mohamad (1 dari 6)
16 Juni 2020 | Hamid Basyaib
Romantisisme dan Falasi Memedi Goenawan
Mohamad (2 dari 6)
17 Juni 2020 | Hamid Basyaib
Romantisisme dan Falasi Memedi Goenawan
Mohamad (3 dari 6)
19 Juni 2020 | Hamid Basyaib
Romantisisme dan Falasi Memedi Goenawan
Mohamad (4 dari 6)
20 Juni 2020 | Hamid Basyaib
Romantisisme dan Falasi Memedi Goenawan
Mohamad (5 dari 6)

Pengantar | Alois Wisnuhardana | 6


21 Juni 2020 | Hamid Basyaib
Romantisisme dan Falasi Memedi Goenawan
Mohamad (6 dari 6)
21 Juni 2020 | Lukas Luwarso
Sains, Filsafat dan Storytelling.
26 Juni 2020 | Lukas Luwarso
Empati untuk Para Penafsir dan Pencari Makna

Pengantar | Alois Wisnuhardana | 7


PENGANTAR | ALOIS WISNUHARDANA

Sains, Filsafat, Agama:


Kacamata Tukang Catat
Alois Wisnuhardana

Diskusi tentang sains, filsafat, agama, yang


ramai di Facebook dan media online non-
mainstream ini dipicu oleh sebuah diskusi
yang melibatkan dokter-dokter Indonesia
dan menghadirkan Goenawan Mohamad
(GM, Mas Goen) sebagai salah satu
narasumber.
Mengambil tema “Berkhidmat pada Sains”
diskusi dalam webinar yang kemudian
diunggah di Youtube Channel
Perhimpunan Dokter Umum Indonesia
(PDUI) kemudian menimbulkan polemik
pemikiran sangat serius, setelah A.S
Laksana mengulas apa yang disampaikan
oleh GM di forum tersebut. Sulak,
panggilannya, juga mengutip tulisan GM
beberapa hari sebelumnya.

Pengantar | Alois Wisnuhardana | 8


Jika video yang diunggah oleh PDUI itu
baru ditonton kurang dari dua ribu kali
sejak diunggah 20 Mei hingga 3 pekan
kemudian, tulisan Sulak telah memancing
banyak pemikir dan peminat topik
tersebut untuk masuk ke arena
gelanggang. Berbeda nasibnya dengan
video diskusi yang kalah jauh dengan
video “Keke Bukan Boneka” yang sudah
ditonton lebih dari 32 juta kali dalam dua
pekan sejak diunggah.
Tapi diskusi tersebut menimbulkan
kegairahan baru yang belum pernah
terjadi sebelumnya di ruang media non-
mainstream dan media sosial, yang
memang lebih suka mengunyah hal-hal
renyah dan remeh. Puluhan orang masuk
gelanggang dengan berbagai sudut
pandangnya, menyampaikan argumen dan
pandangan tentang sains, agama, dan
filsafat, dan saling beradu kekayaan
pemikiran yang mereka tabung dari buku
dan dokumen serta pengalaman hidup
masing-masing.
Sebagian memandang diskusi tersebut
setara dengan “Polemik Kebudayaan”

Pengantar | Alois Wisnuhardana | 9


pada tahun-tahun 1935, ketika Sutan
Takdir Alisjahbana memantik diskusi dan
berdebat dengan Sanusi Pane,
Purbatjaraka,
Tjindarbumi, Ki Hajar Dewantara,
Adinegoro, dan lain-lainnya tentang
sebuah tema yang sangat hangat ketika
itu: kebudayaan dan pendidikan.
Kongruen dengan diskusi hari ini, hanya
saja dengan topik yang berbeda.
Saya mengumpulkan pelbagai tanggapan
dari para pihak yang muncul tentang topik
itu di lini masa Facebook saya. Tentu saja
pasti ada yang tercecer, karena saya
menggarap pekerjaan sambilan ini di
tengah-tengah kesibukan mahadahsyat
belakangan ini lantaran harus terus-
terusan bekerja dari rumah, zoominar
tiada henti sampai pusing memilih dan
mengikuti yang mana, lantaran tidak bisa
bepergian ke mana-mana oleh sebab
pandemi.
Saya sempat dibujuk oleh salah seorang
intelektual yang saya hormati dan kawan
sejak masih mahasiswa semasa di Jogja,

Pengantar | Alois Wisnuhardana | 10


M. Najib Azca, untuk ikut masuk
gelanggang.
Tapi saya menyadari keterbatasan literatur
dan perhatian saya belakangan ini tentang
topik yang dibahas. Saya tahu tentang
Avogadro itu bukan dari kitab filsafat tapi
dari buku pelajaran SMA kelas 1 dulu. Tak
pernah baca induknya. Saya kenal nama
Niels Bohr, Mike Rutherford, atau
Werner Heisenberg, juga dari buku lusuh
terbitan Ganeca Exact Bandung lungsuran
kakak saya. Bukan dari buku Princeton
atau Harvard atau apapun yang keren-
keren itu. Saya tahu Cartesius atau Rene
Descartes, dari diktat mata kuliah
Matematika Dasar yang harus saya ulang
itu.
Nama-nama dan buku-buku yang dikutip
para penulis dalam uraian mereka
sebagian memang tidak asing, karena saya
berlatar belakang ilmu eksakta tetapi rak
buku saya lebih banyak berisi buku-buku
ilmu sosial dan filsafat. Tapi sebagian lagi
sangat gelap, bahkan melihat wujud
bukunya dalam rupa cetak atau PDF pun
belum pernah.

Pengantar | Alois Wisnuhardana | 11


Oleh karena itu saya memilih jalan lain,
dengan mencoba mengumpulkan serakan
pemikiran tersebut ke dalam satu
dokumen yang kronologis. Lantaran
pangkal mulanya adalah diskusi webinar di
20 Mei itu, saya transkripkan apa yang
dikatakan GM di forum tersebut sebagai
pelengkap bahan.
Dan karena otak saya sering terganggu
ketika melihat kata-kata yang tak ditulis
tepat secara harfiah oleh para penulis,
saya merapikan –sekali lagi merapikan
saja—supaya dokumen ini bisa dinikmati
oleh orang-orang yang lebih luas. Menulis
nama GM misalnya, bahkan tidak mudah
bagi sebagian orang. Gun atau Goen. Moh
atau Muh. M dobel atau M tunggal.
Hasanudin atau Hasanuddin? Abdur atau
Abdul? Rakhman atau Rachman atau
Rahman? Dan masih banyak lagi. Baru
urusan nama. Belum yang lain-lain, karena
para pemikir itu, mungkin tidak begitu
hirau atas hal remeh-temeh begini.
Belum lagi perbedaan penulisan untuk
pengertian yang sama. Ada yang menulis
filsuf, ada yang filosof, ada yang filsuf.

Pengantar | Alois Wisnuhardana | 12


Yang begini-begini terasa mengganggu
mata saya.
Ketika mulai memeriksa setiap kata, saya
kemudian menemukan beberapa
pernyataan besar yang dikutip berkali-kali.
Saya mengunyahnya dan membahasakan
dengan kata-kata saya sendiri: “Ilmu itu
mengungkapkan, tetapi sekaligus
menyembunyikan dan mereduksi.”
Pernyataan penting tersebut membawa
saya ke ingatan masa silam. Lagi-lagi
waktu SMA, ketika belajar ilmu kimia, yang
kemudian membawa saya mendalami satu
tingkat formal di universitas, pelajaran
pertama dari kimia yang masih nyantol di
kepala adalah unsur-unsur dan bagaimana
reaksi-reaksinya. Dari unsur, saya diajak
untuk membedah bentuk kembangan dari
unsur itu seperti ion, molekul, senyawa ke
kombinasi yang lebih luas, dan masuk ke
peneropongan mendalam dari unsur yang
terdiri atas atom-atom dan proton
elektron neutron.
Makanya, modal utama dalam ilmu kimia
adalah pengenalan lengkap atas tabel
sistem periodik unsur-unsur yang dulu
Pengantar | Alois Wisnuhardana | 13
dibagi ke dalam 8 golongan, dari yang
Alkali, Alkali Tanah, Lantanida, Aktinida,
sampai dengan Logam Mulia. Yang tersisa
dalam ingatan dari tabel itu hari ini cuma
unsur Golongan Alkali: H, Li, Na, K, Rb,Cs,
Fr. Itupun karena gurunya waktu itu
mengajarinya dengan membuat jembatan
keledai dengan memanjangkannya dalam
kalimat yang mudah diingat: (H)ari, (Li)bur
(Na)nti (K)ita (R)e(b)ut (C)inta (s)ejati
(Fr)ansisca. Saya tak tahu Fransisca
sekarang ada di mana atau menikahi
siapa.
Dan memang ketika mempelajari unsur
dan menelanjangi hingga elektron-proton,
atau menyatukannya dalam reaksi rumit
asam basa, penguraian atau
penggabungan atau menjadi senyawa,
selalu terjadi efek perubahan, reduksi,
ataupun penghilangan. Tentu saja
energinya tidak hilang, karena hukumnya
terumuskan James Prescott Joule dan
kemudian menjadi abadi hingga hari ini:
“Energi tak dapat diciptakan atau
dihilangkan, hanya berubah bentuk.”
Rumusan tersebut menjadi dasar pertama
hukum termodinamika.
Pengantar | Alois Wisnuhardana | 14
Penghilangan itu disadari dan dicatat
sebagai suatu metode eksak untuk
mengamati objek lebih dalam, yang dalam
bahasanya Mas Sabrang, merupakan
observable world. Reaksi dalam dunia Real
world, tentu jauh lebih kompleks daripada
yang diamati dalam observable world,
karena skala meraksasa dan variabelnya
makin rumit.
Karena keterbatasan ingatan yang sudah
membentang lebih dari 30 tahun tersebut,
makanya, saya memilih untuk
mengompilasi perdebatan para pemikir
tersebut dan merasa inferior untuk masuk
gelanggang diskusi dan pemikiran.
Pilihannya adalah mengunyah semuanya,
dan mencatat apa yang bernas dari
gagasan dan perdebatan mereka,
menyatukannya menjadi dokumen yang
tumbuh.
Di situlah saya merasa bisa menyumbang.
Sekaligus belajar dan mengunyah tentang
yang mereka percakapkan. Jadi, yang
begitu-begitu saja yang saya rapikan.
Upaya membuat dokumen tumbuh ini
juga didorong oleh niat untuk
Pengantar | Alois Wisnuhardana | 15
menemukan lebih banyak pemikiran. Siapa
tahu jika disatukan dalam dokumen yang
tunggal akan menggugah lebih banyak
orang untuk masuk dan turun gelanggang
meramaikan diskusi yang makin
dimudahkan berkat adanya teknologi hari
ini. Produk sains yang mereka bicarakan
itu.
Maka, jika ada tautan pemikiran lain yang
belum terekam dalam catatan saya, silakan
sampaikan utasnya di sini, sehingga
serpihan pemikiran dari banyak orang ini
makin lengkap dan utuh. Syaratnya cuma
satu: identitas penulisnya jelas, dan
pemikirannya inheren dengan topik yang
dibahas, sehingga orang-orang yang
berminat pada diskusinya makin
terangsang untuk menyampaikan
gagasannya.
Buku digital dari diskusi tersebut sudah
ada dalam format PDF. Catatan diskusi
tersebut sudah saya rapikan ejaan dan
strukturnya secara urutan waktu dan
sudah melampaui 160 halaman. Dengan
dipolakan dan diatur, siapapun yang

Pengantar | Alois Wisnuhardana | 16


tertarik bisa ikut menikmati dan lebih
mudah mengikuti.
Jika ada yang berminat, silakan japri dan
saya akan kirimkan kompilasinya. Saya
juga sangat berterima kasih jika ada yang
berkenan untuk mengirimkan tautan baru
dari siapapun penulis/pemikir yang ikut
masuk dalam gelanggang diskusi.
Buat apa? Supaya wacana media sosial kita
juga diwarnai oleh perdebatan dan diskusi
yang lain. Yang lebih bernas. Yang lebih
berisi. Bukan oleh video seorang ustadz
yang membahas lagu “Balonku” dan
meletus balon hijau atau “Naik-naik ke
Puncak Gunung” di mana di situ banyak
pohon cemara.
Salam hangat.

Pengantar | Alois Wisnuhardana | 17


17 MEI 2020 | GOENAWAN MOHAMAD

Pasti
Goenawan Mohamad

Tujuan ilmu adalah kebenaran, bukan


kepastian — Karl Popper

Dari abad ke abad, wabah adalah


ketidakpastian. Juga sekarang. Ilmu
pengetahuan selalu menjanjikan jawab
yang meyakinkan, tapi bersamaan dengan
itu juga hidup dari pertanyaan dan
perdebatan. Apa yang kemarin kita
ketahui tentang COVID-19, hari ini tak
sebulat sebelumnya. Virus, yang, menurut
seorang pakar “tak terdapat pada manusia
enam bulan yang lalu”, kini
membingungkan mereka yang bergulat
mengalahkannya. Bahkan sekarang
kembali diperdengarkan suara bahwa
bahaya COVID-19 sesungguhnya dilebih-
lebihkan.
Saya termasuk yang berharap begitu,
seraya kurang percaya — tapi apa yang
sebenarnya bisa saya percaya dengan
17 Mei 2020 | Goenawan Mohamad | 18
pasti? Pernah dikatakan sang virus tak
akan membunuh anak-anak. Tapi baru-
baru ini di kota New York bocah berumur
lima tahun mati dengan gejala tertular.
Pernah dikatakan, kita harus tinggal di
rumah, tapi kemarin ada berita, di rumah
pun tak ada jaminan selamat.
“Di sepanjang zaman, banyak hal berubah
dalam ilmu,” kata seorang dokter ahli di
Boston yang dikutip Washington Post
pekan lalu ketika membahas COVID-19.
“Teori dibikin dan dibuang. Hipotesis
ditarik dicabut.” Lalu ia menambahkan:
“Artinya kita sedang belajar.”
Tak ada yang baru dalam kata-kata itu,
sementara ada yang dilupakan, bahwa kita
tak hidup “di sepanjang zaman”. Kita —
apalagi orang awam— dikepung
ketidaktahuan, ditodong ancaman sakit
dan kematian, dan semua terjadi hari ini.
Kita tak sempat meninjau “sepanjang
zaman”. Kita esok harus memutuskan:
sampai kapan kota kita ditutup? Sampai
berapa lama kehidupan ekonomi
dihentikan, dengan korban yang tak
jarang tragis, seperti seorang anak

17 Mei 2020 | Goenawan Mohamad | 19


perempuan India berumur 12 yang mati
ketika harus berjalan kaki kembali ke
kampungnya — 150 km dari kota yang
dilokdon dan merebut sumber hidupnya?
Para pakar epidemi umumnya menjawab,
(dengan segala niat baik, juga dengan
masygul): “Situasi ini masih akan lama…”
Jawaban itu memang tak dimaksudkan
menghibur. Ia menyiapkan kita agar tak
punya ilusi. Tapi lebih jauh mungkin akan
dipersoalkan: ketika ilmu pengetahuan
belum punya kesimpulan tentang sang
virus, waktu yang “lama” itu akan bisa
mengubah rasa ketakpastian jadi gugatan:
bagaimana para ilmuwan secara moral
mempertanggungjawabkan apa yang
mereka katakan dan sarankan, jika yang
mereka kemukakan belum sebuah
kesimpulan? Bahwa mereka sebenarnya
“sedang belajar”?
Tak mudah menjawab ini —tak mudah
bagi para ilmuwan. Sama tak mudahnya
bagi pengambil keputusan politik yang
menentukan sebuah kebijakan dengan
dibantu ilmu pengetahuan yang masih
bertanyatanya.
17 Mei 2020 | Goenawan Mohamad | 20
Apalagi dewasa ini mulai ada rasa cemas
bahwa perlombaan riset di pelbagai
lembaga keilmuan — yang diukur KPI, key
performance indicators — pelan-pelan
merusak semangat keilmuan. Para
ilmuwan didorong-dorong untuk
mencapai hasil yang mengesankan. Ilmu
ingin cepat menjawab dan mulai malas
bertanya. Para periset yang berangkat dari
rasa ingin tahu dipinggirkan, sementara
pimpinan lembaga yang harus mencari
dana dan nama membayangi tiap proyek
peneletian. Di masa pandemi yang cepat
menyebar ini, ada desakan lain, yang
bukan main-main: niat menyelamatkan
kehidupan.
Di masa lalu —yang belum benar-benar
lalu— ada jalan lain dari situasi bertanya-
tanya. Orang bisa menyodorkan sesuatu
yang di luar dirinya. Menanggungkan
cemas di pundak sendiri memang terlalu
berat. Maka di Eropa, selama pandemi
besar abad ke-13, beberapa ribu orang
Yahudi — ya, mereka orang lain — dibakar
hidup-hidup. Atau, orang merujuk nasib
dan bintang-bintang. Atau, lebih sering,
Tuhan.
17 Mei 2020 | Goenawan Mohamad | 21
Ketika mereka sendiri resah atau takut
menyalahkan Tuhan sebagai pencipta
malapetaka, para agamawan membangun
theodice — sebuah pembelaan buat
Tuhan: Tuhan yang baik dan adil tentu
selalu punya alasan yang mulia. Ia menguji
kita — juga menguji anak India yang mati
di jalan itu. Sebuah mala dalam bumi
ciptaan Tuhan selalu dimaksudkan baik,
meskipun yang menikmati kebaikan
umumnya mereka yang bukan sekelas si
gadis yang kelaparan itu.
Sebenarnya bisa juga manusia menolak
menghalalkan mala yang menimpanya —
menolak bahwa itu “desain niat baik
Tuhan”. Manusia bisa menanggungkan
mala tanpa pernah melihat rencana
penghiburan Ilahi.
Levinas, misalnya, filosof Yahudi-Prancis
itu, yang mengalami kekejaman Hitler
terhadap orang-orang Yahudi, lebih suka
berbicara tentang agama yang tanpa janji,
tanpa penghiburan: “iman tanpa theodice”.
Dengan kata lain, ia ingin menunjukkan ia
bisa beriman kepada Tuhan yang tidak
senantiasa adil. Tanpa Tuhan yang
17 Mei 2020 | Goenawan Mohamad | 22
demikian sekalipun, toh manusia tetap
bisa jadi saksi dan pelaku kebaikan —
tetap bisa mengalami keadilan sebagai
“ruh” yang tak pernah jera membayangi
dan menyeru, dalam sejarah yang fana.
Tapi ini tak ringan dijinjing. Di zaman
modern, penjelasanpenjelasan berubah,
bahkan sejak masa Shakespeare di abad
ke-16, ketika wabah datang berkali-kali.
Salah satu tokoh dalam lakon “All’s Well
That Ends Well” berkata: “Kini dikatakan,
mukjizat telah berlalu; kini kita punya
orang-orang yang berfilsafat, untuk
membuat hal-hal yang supranatural dan
tanpa sebab menjadi sesuatu yang
modern dan biasa saja.”
Ada yang didapat di masa modern itu, tapi
juga ada yang hilang. Kita tak menyerah
ke sebuah ketakutan yang tak kita pahami,
tapi dengan itu “kita meremehkan rasa
ngeri, berlindung dalam sesuatu yang
seakan-akan pengetahuan”, ensconcing
ourselves into seeming knowledge.
Kata “seakan-akan” di sana terasa ngilu,
atau lucu, atau jujur.***

17 Mei 2020 | Goenawan Mohamad | 23


Sumber:
https://www.facebook.com/gmgmofficial/posts/3486
780334669407

17 Mei 2020 | Goenawan Mohamad | 24


20 MEI 2020 | GOENAWAN MOHAMAD

Risalah Sains dan Beberapa


Masalahnya
(Transkrip pembicaraan pada webinar Hari
Kebangkitan Nasional dengan tema “Berkhidmat
pada Sains”)

Goenawan Mohamad

Saya bukan saintis dan tidak punya latar


belakang pendidikan sains. Saya akan
susah payah berbicara, dan lebih susah
payah lagi berkhidmat kepada sains. Bagi
saya sains seperti halnya kesenian, dunia
yang lebih saya kenal, bukanlah sebuah
bidang kerja atau keahlian, yang harus
disikapi dengan khidmat tetapi dengan
kritis.
Tadi disebut peran sains dalam pandemi
ini, dan memang menjadi sangat penting
di Indonesia dan juga di mana-mana.
Keputusan publik yang penting dalam
pandemi ini umumnya didasarkan pada
pendapat pada ilmuwan. Terutama para

20 Mei 2020 | Goenawan Mohamad | 25


epidemiologist dan virologist, meskipun
sains bukan segala-galanya.
Ada satu percakapan yang melibatkan
Einstein di Princeton tahun 1946. Para
saintis ditanya, “Anda bisa membuat bom
atom, bisa menelaah struktur atom, tapi
tidak bisa men-device secara politik, yang
membikin atom tidak merusak kita?”
Einstein menjawab: “Itu sederhana. Sebab
politik lebih susah daripada fisika.”
Einstein tidak mengglorifikasi sains. Dan
memang tidak sepatutnya diglorifikasi.
Dalam banyak hal sains itu pemilik
problem. Dan itu bukan soal baru. Sains
itu prestasinya luar biasa dan karena itu
memperoleh otoritasnya.
Dalam pemikiran mutakhir, mulai abad ke-
19 mulai ada kritik terhadap sains.
Heidegger mengatakan: “Science doesn’t
think.”
Pada mulanya adalah ketika Galileo
Galilei mengubah paradigma sains
berdasarkan matematika. Edmund
Husserl mengatakan Galileo dalam
menemukan paradigma matematika dan
20 Mei 2020 | Goenawan Mohamad | 26
pada saat yang sama objek-objek dalam
kehidupan menjadi angka-angka dan
terlepas dari akar-akar primordialnya
dalam kehidupannya. Lalu sains
disibukkan menjadi alat untuk mencapai
tujuan. Akhir-akhir ini malah terjadi
kompetisi, bukan dimulai oleh para
periset, tetapi oleh badan-badan atau
ketua badan yang mengusahakan funding
dan sebagainya, dan itu diarahkan untuk
memecahkan soal.
Ilmu atau sains punya dua peran, yaitu
menafsirkan dunia dan mengubah dunia.
Sekarang menafsirkan dunia sudah
disisihkan menjadi mengubah dunia.
Dengan prestasi yang hebat, sains
kemudian membuat jarak dengan
kehidupan. Ilmu bukan tidak berguna,
justru berguna, tetapi ada hal-hal lain
yang terlepas dari ilmu. Einstein bilang
sederhana dan agak lucu, bahwa politik
lebih sukar dari ilmu. Ada hal-hal yang
lebih rumit/complicated yang tidak dapat
dipecahkan oleh ilmu.
Jika ilmu mengklaim bisa menjadi agul-
agul untuk menyelesaikan semuanya,

20 Mei 2020 | Goenawan Mohamad | 27


termasuk mengatasi pandemi, saya kira
agak sombong. Popper bilang, ilmu
menuju kebenaran, bukan kepastian.
Ketika tindakan harus dilakukan, kepastian
diperlukan. Tetapi kepastian akan selalu
luput oleh ilmu. Problemnya adalah ilmu
tidak memberikan formula yang selesai
dan di situlah kekuatan ilmu.
Bukan keulungan pemikiran ilmu
melainkan penyelamatan manusia, dan
itulah yang dilakukan oleh dokter-dokter
STOVIA, yang dipersonifikasi oleh Dokter
Tjipto. Dokter Tjipto adalah pahlawan
yang melawan wabah. Lulusan STOVIA
belum dianggap dokter oleh orang-orang
Belanda. Dalam melawan wabah,
komitmennya adalah menyelamatkan
orang yang sengsara, bukan
mengunggulkan ilmu. Mencari jawab pada
COVID-19 juga repot. Yang paling baik
adalah yang dilakukan dokter dan perawat
di rumah sakit. Itu sumbangan terbesar,
bukan keilmuan tetapi pengabdian.***
Sumber: https://youtu.be/RuKM-40v8sE?t=1494

20 Mei 2020 | Goenawan Mohamad | 28


28 MEI 2020 | A. S. LAKSANA

Sains dan Hal-Hal Baiknya


Catatan untuk Goenawan Mohamad

A.S. Laksana

SEMUA yang hidup pasti mati; jika tidak


sekarang besok, jika tidak besok lusa,
pekan depan, bulan depan, tahun depan,
atau sekian tahun lagi, tetapi kematian
pasti tiba. Itu penemuan terbaik manusia
tentang dirinya, kata Steve Jobs dalam
ceramahnya di Stanford University, 12 Juni
2005.
Dan itu masih penemuan terbaik,
setidaknya sampai saat ini.
Cerita selanjutnya, berkenaan dengan apa
yang terjadi setelah kematian, tergantung
pada informasi yang Anda yakini, atau,
lebih tepat, yang diyakini oleh orang tua
Anda: Pada umumnya tiap-tiap orang
meyakini apa yang diyakini oleh orang tua
masing-masing.

28 Mei 2020 | A. S. Laksana | 29


Jika orang tua Anda meyakini informasi
bahwa orang yang mati akan pergi ke
surga atau neraka, Anda akan cenderung
meyakini pula kebenaran informasi itu.
Dalam keyakinan ini, kematian hanyalah
awal dari kehidupan yang sebenarnya di
mana seseorang akan mendapatkan
berkah sepanjang hidup atau siksa yang
kekal.
Kita tahu itu bukan satu-satunya informasi
tentang keadaan manusia setelah ajal.
Adherents, sebuah lembaga independen
dan non religius yang memantau jumlah
dan skala agama-agama, mencatat ada
sekitar 4.300 agama di muka bumi; dari
mereka kita bisa mendapatkan beragam
informasi tentang apa yang terjadi setelah
orang meninggal. Dari pemeluk
scientology kita mendapatkan informasi
bahwa setelah meninggal manusia akan
dijemput oleh piring terbang.
Apa pun informasi yang Anda yakini,
kemungkinan besar Anda tidak memilih
sendiri keyakinan itu. Setidaknya, itu yang
terjadi dalam tradisi para pemeluk agama-
agama besar, Kristen, Islam, Hindu, Budha,

28 Mei 2020 | A. S. Laksana | 30


dan Yahudi; anak-anak tidak memilih
sendiri agama mereka. Orang tua yang
memilihkan agama untuk mereka sejak
mereka kanak-kanak atau bahkan sejak
hari pertama kelahiran.
Ada kasus-kasus orang memilih sendiri
setelah dewasa, berpindah dari satu
agama ke agama lain, tetapi itu hanya
kasus individual dan jumlahnya tidak
banyak. Perpindahan massal hanya terjadi
karena penaklukan—sebuah tindakan suci
di masa lalu, tetapi terkutuk jika dilakukan
sekarang.
*
Sekalipun kita memiliki keyakinan bahwa
manusia pasti mati, kebanyakan dari kita
mencintai kehidupan. Kita memutuskan
berdiam di rumah saja di masa corona,
mengikuti informasi yang disampaikan
oleh para saintis, karena kita masih ingin
mempertahankan kehidupan.
Ada satu-dua perlawanan di masa-masa
awal; beberapa muncul dalam bentuk
celoteh serampangan ( misalnya "COVID-
19 tidak masuk ke Indonesia karena setiap

28 Mei 2020 | A. S. Laksana | 31


hari kita makan nasi kucing, jadi kebal”),
dan beberapa bersandar pada argumen
keagamaan bahwa kita tidak perlu takut
pada corona, kita hanya perlu takut pada
Tuhan, bahwa Tuhan lebih besar dari
corona, bahwa Tuhan punya kehendak
baik dengan menurunkan wabah.
Mereka percaya diri karena tidak memiliki
informasi tentang apa yang sedang
mereka hadapi. Mereka membuat kelakar
atau tindakan sembrono tanpa menyadari
risikonya.
Pada masa lalu, ketika agama-agama
menjadi penguasa semua informasi
tentang kehidupan dan kematian, dan
bersamaan dengan itu pemimpin agama
memiliki kekuasaan tak terbendung untuk
memerintah dan menghukum, seruan
sekusut apa pun dari pemuka agama akan
diterima sebagai kebenaran.
Goenawan Mohamad, dalam salah satu
catatan pinggirnya, menyampaikan bahwa
di masa lalu, ketika sampar mewabah,
salah satu ikhtiar religius untuk mengakhiri
penderitaan akibat wabah tersebut adalah

28 Mei 2020 | A. S. Laksana | 32


dengan membakar hidup-hidup orang
Yahudi.
Hari ini kita menganggap itu tindakan gila.
Kegilaan yang sama tidak mungkin
dilakukan lagi sekarang, di saat kita
menghadapi wabah corona. Meski ada
gejala-gejala serampangan yang
disebabkan oleh ketidaktahuan yang keras
kepala, tetapi jelas kita tidak mungkin
membakar manusia, dari ras mana pun,
dan meyakini dengan itu wabah akan
berakhir. Kita bahkan tidak akan sudi
melakukan pembakaran kalaupun unsur
manusia diganti dengan tujuh ekor anak
ayam.
Informasi-informasi saintifik membuat
pengetahuan kita membaik dan
momentum berjangkitnya wabah, disadari
atau tidak, telah menjadi pendorong yang
efektif bagi penerimaan kita terhadap
sains. Tidak ada informasi yang bisa
diandalkan kecuali yang datang dari
kalangan sains, dan yang terjadi kali ini
sungguh menakjubkan: Orang tidak
mengamuk ketika mereka diminta
menghentikan kegiatan-kegiatan
28 Mei 2020 | A. S. Laksana | 33
keagamaan yang bersifat kerumunan. Para
pendakwah yang keras menjadi lebih
pendiam. Mereka mematuhi keputusan-
keputusan yang dibuat berdasarkan
informasi saintifik.
Kepatuhan umum itu tampaknya
membangkitkan rasa percaya diri di
kalangan ilmuwan kita dan untuk kali
pertama kita menyaksikan munculnya niat
untuk memberi apresiasi tinggi dan
terang-terangan kepada sains: Ikatan
Dokter Indonesia memperingati hari
kebangkitan nasional, 20 Mei, dengan
diskusi bertema “Berkhidmat pada Sains”,
dengan pembicara Farid Anfasa Moeloek
(bekas Menteri Kesehatan), Sangkot
Marzuki (direktur lembaga Eijkman, 1992-
2014), dan Goenawan Mohamad (penulis
Catatan Pinggir).
Dibandingkan dua pembicara lainnya,
Goenawan cenderung tidak sepakat pada
tema diskusi sore itu. Dan kegundahannya
sudah tampak sehari sebelum diskusi.
Dalam poster pengumuman, ia mula-mula
tercantum akan membawakan materi
“Risalah Sains: Ikhtiar membangun

28 Mei 2020 | A. S. Laksana | 34


peradaban.” Kemudian ia meralat dan
mengganti materinya dengan judul “Sains
dan Beberapa Masalahnya.”
Diskusi berjalan datar, dengan sopan-
santun religius yang memakan waktu di
antara orang-orang yang diminta
berpendapat. Beberapa dari mereka,
termasuk moderator diskusi, berbicara
seolah dengan setelan otomatis: Mereka
memulai pembicaraan dengan puji syukur
ke hadirat Allah dan salawat dan salam
kepada nabi—seperti dalam pengajian.
Ajakan untuk berkhidmat pada sains itu
kemudian disanggah oleh Goenawan
Mohamad, yang lebih memilih berkhidmat
pada Hegel dan Heidegger dan para
filsuf romantik Jerman, dengan
menyampaikan anekdot tentang Einstein.
Politik lebih rumit dibandingkan fisika,
kata Einstein sebagaimana dituturkan oleh
Goenawan. Mungkin ia ingin
menyampaikan, dengan anekdot itu,
bahwa sains tidak perlu dilebih-lebihkan,
buktinya Einstein sendiri mengatakan
politik lebih rumit.

28 Mei 2020 | A. S. Laksana | 35


Sebetulnya tidak mengejutkan bahwa
Goenawan berpendapat seperti itu. Dalam
beberapa kolom catatan pinggir
sepanjang berkecamuknya wabah, ia telah
beberapa kali menyatakan sikap
skeptisnya, dan mungkin
ketidakpercayaannya, terhadap sains. Ia,
seperti biasa, rajin memberi kita rujukan ke
masa lampau, membandingkan wabah
berabad-abad lalu dengan wabah hari ini,
dan menyimpulkan bahwa situasinya
masih sama. “Kembali Entah yang
menyembul ke depan,” tulisnya dalam
kolom “Entah.”
Dalam kolom lainnya yang berjudul “Pasti”
ia membuat pernyataan sewenang-
wenang tentang ilmu pengetahuan: “Ilmu
pengetahuan selalu menjanjikan jawab
yang meyakinkan, tapi bersamaan dengan
itu juga hidup dari pertanyaan dan
perdebatan. Apa yang kemarin kita
ketahui tentang COVID-19 hari ini tak
sebulat sebelumnya.”
Ia melupakan karakteristik sains melalui
pernyataan itu. Sains tidak pernah
menjanjikan kepastian, tidak pula

28 Mei 2020 | A. S. Laksana | 36


mengklaim “akulah jawabnya”
sebagaimana yang ia tulis untuk menutup
kolom “Entah.” Kebenaran dalam sains
adalah kebenaran mutakhir, bukan
kebenaran akhir, sebab tidak ada
kebenaran final dalam sains. Dengan
karakteristik sains yang seperti itu,
pernyataan selalu ada entah tentu akan
benar dengan sendirinya. Itu hampir
sebuah truisme.
Dalam pandangannya yang muram dan
sengit terhadap sains, ia seperti sengaja
melupakan bahwa pengetahuan dan
kecakapan manusia saat ini sudah sangat
membaik, dalam banyak hal. Di masa lalu
keputusan-keputusan krusial sering
didasarkan pada informasi yang tidak
akurat.
Di masa sekarang, dengan sains yang
selalu ia cibir, manusia mampu mendeteksi
secara cepat apa penyebab wabah, seperti
apa bentuk virusnya, dan apa yang harus
dilakukan untuk mencegah penularannya
sementara solusi yang manjur diupayakan.
Dan solusi paling manjur hanya bisa

28 Mei 2020 | A. S. Laksana | 37


didapatkan ketika informasi yang dimiliki
sudah memadai.
Apa yang oleh Goenawan dikeluhkan
sebagai ketidakpastian informasi—“Apa
yang kemarin kita ketahui tentang COVID-
19 hari ini tak sebulat sebelumnya.”—
sesungguhnya adalah proses yang wajar di
kalangan saintis untuk mendapatkan
informasi seakurat mungkin.
Dan bukankah perbaikan informasi dalam
hitungan “kemarin” jauh lebih baik
ketimbang ralat yang dilakukan ketika
semuanya sudah terlambat? Kita bisa
membandingkan kecepatan ini dengan
kelambatan dalam kasus apa saja yang
terjadi berabad-abad lalu. Dengan kasus
Jeanne d’Arc di abad kelima belas,
misalnya. Gadis 19 tahun itu dinyatakan
bid’ah dan dibakar hidup-hidup di kayu
salib dan vonis terhadapnya baru diralat
oleh Paus dua puluh satu tahun kemudian
melalui pengadilan ulang. Lima abad
setelah kematiannya, di abad ke-20, ia
ditahbiskan sebagai orang suci agama
Katolik.

28 Mei 2020 | A. S. Laksana | 38


Saya pikir kesanggupan manusia untuk
menangani urusan-urusan besar dan
kecepatan menemukan informasi-
informasi baru yang lebih akurat untuk
pemecahan masalah adalah sebuah bukti
kemajuan. Dalam urusan wabah, kita tidak
bisa menyamakan respons ilmu
pengetahuan hari ini dengan
keputusasaan manusia di abad ke-14
menghadapi sampar yang berlangsung
dua puluh tahun dan membunuh antara
75-200 juta orang, atau
membandingkannya dengan cara orang
menangani wabah cacar dan dua kali pes
di Meksiko sepanjang abad ke-16 yang
membunuh 22 juta orang di negeri itu.
Yang membedakan antara wabah-wabah
di masa lalu dan wabah hari ini adalah
kualitas informasi tentang cara
menghadapinya. Di masa lalu informasi
untuk menangani wabah datang dari
kalangan agama dan tindakan yang
dilakukan bisa di luar nalar. Waktu yang
panjang dan jumlah orang yang mati
menunjukkan bahwa mereka membuat
keputusan dengan informasi yang
meleset. Di masa sekarang informasi
28 Mei 2020 | A. S. Laksana | 39
datang dari ilmuwan sains dan,
berdasarkan itu, kita melakukan hal-hal
yang relevan untuk mencegah
penularannya.
Tentu masalah akan selalu ada; selama
manusia hidup dan melakukan aktivitas,
selalu akan terbuka kemungkinan
munculnya masalah, dan itu bahkan bisa
terjadi dalam situasi normal, tidak hanya
ketika wabah.
Namun, lepas dari ketidaksukaan pribadi
Goenawan Mohamad terhadap sains,
pesannya tetap bisa disepakati bahwa
sains harus dikritisi, terutama agar
penerapannya tidak merusak kehidupan
(bom atom, pemanasan global,
penggundulan hutan adalah sedikit
contoh dari efek buruk kemajuan
teknologi, dan kemajuan teknologi adalah
anak kandung sains).
Yang terasa mengganggu dalam diskusi
“Berkhidmat pada Sains” adalah cara ia
merendahkan derajat sains dengan
mengajukan anekdot tentang Albert
Einstein dan politik yang lebih rumit
dibandingkan fisika. Itu sebuah
28 Mei 2020 | A. S. Laksana | 40
simplifikasi, jika bukan falasi— dalam
penalaran kita mengenalnya sebagai
kekeliruan appeal to authority. Hanya
karena Einstein berkata seperti itu, bukan
berarti fisika, dan secara umum sains,
adalah hal yang remeh-temeh. Ada
banyak hal lain di luar politik yang bagi
Einstein niscaya lebih rumit ketimbang
fisika, misalnya merenda sweater musim
dingin, membuat kruistik, atau mengarang
novel.
Saya tidak tahu seserius apa ajakan untuk
berkhidmat pada sains. Mungkin itu efek
dari kepercayaan diri yang naik, atau
semacam euforia, di kalangan saintis
karena di masa pandemi ini orang betul-
betul menaruh kepercayaan dan harapan
kepada sains. Mungkin juga itu sekadar
percakapan menunggu waktu buka puasa.
Namun, serius atau tidak serius ajakan itu,
ketika seseorang yang dianggap pemikir
dihadirkan dalam diskusi, ia tentu
dihadirkan tidak untuk menyodorkan
falasi.
*

28 Mei 2020 | A. S. Laksana | 41


Sejarah manusia membuktikan bahwa
informasi adalah sumber kekuatan, juga
sumber kekuasaan. Di masa ketika seorang
pemimpin dipilih dengan prinsip primus
inter pares atau yang paling unggul di
antara sesamanya, penguasa informasi
selalu menempati posisi tinggi di dalam
masyarakat. Manusia menghargai dukun
dan shaman sebab mereka dianggap
menguasai informasi dari sumber yang tak
bisa dijangkau oleh kebanyakan orang.
Mereka menguasai informasi dari langit
atau dari makhluk-makhluk gaib.
Berkembangnya agama-agama besar
makin memperkuat posisi pemilik
informasi dari langit atau dari makhluk
gaib ini. Kekuasaan
mereka besar dan informasi yang mereka
sampaikan menjadi kebenaran mutlak. Kita
tahu bagaimana gereja di Eropa pernah
begitu berkuasa, tak bisa dibantah, dan
orang-orang yang menyampaikan
informasi yang tak sejalan dengan
informasi gereja adalah pendosa yang
harus diluruskan atau dibasmi.

28 Mei 2020 | A. S. Laksana | 42


Para filsuf dan pemikir dan saintis generasi
awal adalah orang-orang yang sering
menjadi korban, sebab berpikir adalah
tindakan yang membahayakan iman dan
bisa menyesatkan orang banyak dan
begitu pula temuan-temuan sains.
Galileo Galilei, seorang filsuf, astronom,
dan figur sentral dalam revolusi sains abad
ke-17, harus mengakui dosanya kepada
gereja karena menyatakan dukungan
terhadap teori Copernicus bahwa
matahari berada di pusat semesta dan
bumi mengelilingi matahari, sementara
gereja mengimani hal yang sebaliknya
bahwa matahari mengelilingi bumi. Pada
22 Juni 1633, setelah empat kali dipanggil
oleh lembaga inkuisisi, ia dipaksa berlutut
untuk mendengarkan kesalahannya
dibacakan. Selanjutnya ia harus
mengucapkan dan menandatangani
sumpah mengakui kesalahan, mengutuk
ajaran sesat, dan memohon
pengampunan:
“Saya telah diadili secara keras sebagai
tersangka bid'ah, yaitu telah mempercayai
bahwa matahari berada di pusat semesta

28 Mei 2020 | A. S. Laksana | 43


dan tidak bergerak, dan bahwa bumi tidak
berada di pusat dan ia bergerak. Namun,
saya berharap sudilah kiranya Yang Mulia
dan semua orang Kristen yang taat
menghilangkan semua kecurigaan
terhadap saya. Saya menyatakan dengan
hati dan iman yang tulus bahwa saya
mengutuk dan membenci kesalahan dan
ajaran sesat yang disebutkan, dan semua
kesalahan, bid'ah, dan sekte yang
bertentangan dengan Gereja Katolik Suci.”
Itu adegan yang mencabik-cabik emosi
untuk dibayangkan di masa sekarang.
Tetapi sains tak bisa dibendung, bahkan
oleh iman yang gemar menghukum. Para
saintis terus memproduksi informasi baru,
dan banyak informasi yang mereka
sampaikan telah menggugurkan
informasi-informasi agama dan juga
spekulasi filsafat. Apa boleh
buat, itu tak terhindarkan. Agama adalah
sistem tertutup yang informasi-
informasinya tidak bisa direvisi.
Filsafat, meski acapkali bertentangan
dengan agama, kurang lebih serupa juga

28 Mei 2020 | A. S. Laksana | 44


dalam pengertian bahwa tiap-tiap aliran
filsafat berusaha menegakkan dirinya
sendiri. Keduanya, baik agama maupun
filsafat, sama-sama berupaya membangun
monumen masing-masing. Bedanya,
agama menyampaikan informasi-informasi
yang sangat mudah dicerna dan
menyandarkan kebenarannya pada iman
para pemeluk, sementara filsafat
menyodorkan informasi yang rumit dan
membuktikan kebenaran falsafinya
dengan penalaran yang ketat.
Dari jenis-jenis informasi yang disodorkan,
filsafat jelas menawarkan formulasi yang
lebih canggih dibandingkan agama. Tetapi
dalam cara memproduksi informasi,
keduanya masih serupa: masing-masing
berdiri sendiri; masing-masing sempurna,
atau merasa sempurna, dengan keadaan
semula. Dalam perumpamaan yang paling
dekat dengan situasi hari ini, keduannya
ibarat komputer stand-alone.
Dibandingkan dengan mereka, sains
adalah komputer jaringan. Dan memang
kekuatan sains adalah kekuatan jaringan.
Dalam situasi pandemi saat ini, ilmuwan

28 Mei 2020 | A. S. Laksana | 45


satu dan ilmuwan lain saling terhubung
seperti komputer yang terhubung dalam
satu jaringan besar. Tetapi dalam situasi
apa pun, mereka bekerja seperti itu.
Temuan-temuan saat ini adalah
kelanjutan, dan penyempurnaan, dari
temuan-temuan sebelumnya.
Informasi-informasi saintifik bersifat
falsifiable—ia bisa didukung kebenarannya
maupun diuji kesalahannya melalui
penalaran, eksperimen, riset, maupun uji
laboratorium. Karakteristik falsifiability
itulah yang menyebabkan kebenaran
dalam sains tidak pernah final. Ia,
karenanya, tampak seperti sebuah proyek
raksasa yang melibatkan banyak orang
dari banyak tempat.
Yang mungkin mengecewakan bagi
banyak orang adalah sains tidak memberi
makna pada kematian dan tidak pula
mengurusi hakikat keberadaan manusia di
muka bumi. Ia tidak akan pernah
menawarkan informasi-informasi
spekulatif tentang kematian, sepuitik apa
pun kedengarannya. Dan ia juga tidak
menyediakan tempat bagi takhayul,

28 Mei 2020 | A. S. Laksana | 46


sebuah gejala yang oleh Goethe
dinyatakan sebagai “puisi bagi kehidupan
sehari-hari.”
Goethe benar dengan perumpamaan itu.
Pemujaan terhadap batu-batuan, misalnya,
atau ritual menyambut roh nenek moyang
yang datang tiap Rabu malam, atau arak-
arakan besar untuk mengantarkan jenazah
mengikuti tradisi kuno—anda bisa
menambahkan contoh lain sampai tak
terhingga—adalah perbuatan-perbuatan
yang puitik. Para penggemar fotografi
akan mendapatkan gambar-gambar indah
dari ritual-ritual semacam itu.
Para ilmuwan sains memandang kematian,
dan segala kelemahan ragawi manusia,
sebagai tantangan. Mereka menganggap
kematian adalah problem teknis, dan
untuk setiap problem teknis niscaya ada
solusi teknisnya—hal yang mudah
dianggap sebagai sikap takabur dalam
pandangan orang beriman. Cara pandang
para saintis pun mungkin terasa
merendahkan derajat kemanusiaan:
mereka melihat manusia, makhluk dhaif
yang mendefinisikan dirinya sebagai wakil

28 Mei 2020 | A. S. Laksana | 47


Tuhan di bumi, tidak lebih hanyalah mesin.
Namun justru cara pandang seperti itulah
yang memungkinkan sains
mengembangkan prosedur dan teknologi
pencangkokan hati, ginjal, jantung, dan
sebagainya; kurang lebih sama dengan
montir mengganti karburator, busi, atau
knalpot yang sudah jebol.
Mereka belum berhasil dalam proyek
ambisius untuk mewujudkan kehidupan
yang abadi, dan, kalaupun berhasil, kita
mungkin tidak akan mengalami masa itu.
Untuk saat ini, kita tetap harus menerima
kefanaan kita. Keberhasilan sains sejauh ini
baru pada tahap memperpanjang harapan
hidup manusia. Selama dua abad terakhir,
harapan hidup rata-rata telah melonjak
dari di bawah 40 menjadi 72 tahun di
seluruh dunia, dan lebih dari 80 di
beberapa negara maju. Tetapi ini pun
sudah merupakan capaian yang patut
disyukuri, termasuk oleh penggemar
filsafat: Sains membuat mereka memiliki
umur lebih panjang untuk menekuni
pemikiran dan membaca buku-buku
kesukaan.***

28 Mei 2020 | A. S. Laksana | 48


Sumber:
https://www.facebook.com/aslaksana/posts/301448
2315304391

28 Mei 2020 | A. S. Laksana | 49


31 MEI 2020 | GOENAWAN MOHAMAD

Sains dan Masalah-


Masalahnya, Sulak dan Dua
Kesalahannya
Jawaban untuk A.S. Laksana

Goenawan Mohamad

Saya senang membaca A.S. Laksana


menulis sebuah esei untuk saya: sebuah
kritik atas pandangan saya tentang sains.
Saya juga senang membaca dua
kesalahannya di situ —plus satu
kekurangan yang penting.
*
Kesalahan pertama: A.S. Laksana
(selanjutnya saya sebut lebih akrab:
“Sulak”) mengatakan bahwa “Goenawan
Mohamad lebih berkhidmat pada Hegel
dan Heidegger dan para romantik
Jerman”.
Saya yakin Sulak menggunakan kata
“berkhidmat” sebagai ucapan hiperbolis.

31 Mei 2020 | Goenawan Mohamad | 50


Itu boleh saja, meskipun harus segera saya
katakan bahwa Hegel dan Heidegger dua
orang filosof, yang dihormati dengan
sedikit berbeda dari bintang film: apresiasi
saya tak pernah berdasarkan orangnya,
melainkan karyanya — bahkan karyanya
yang tertentu saja. Jika saya misalnya
menyukai pemikiran Heidegger tentang
lukisan Paul Klee, Cezanne, atau puisi
Hölderlin, juga kritiknya atas sains, tak
berarti saya akan menyetujui, apalagi
berkhidmat, kepada seluruh
pandangannya yang sering tak mudah
saya pahami.
Yang pasti: saya tak cocok dengan
pemikiran Hegel. Entah dari Google mana
Sulak menemukan informasi bahwa saya
“[lebih] berkhidmat pada Hegel”. Sebab,
dalam pelbagai soal, saya seorang “anti-
Hegelian”, meskipun tidak galak.
Marxisme, terutama, melalui pemikiran
Theodor W Adorno, membuat saya
menolak sepenuhnya idealisme pemikir
abad ke-19 yang menulis
“Phänomenologie des Geistes” ini. Hegel,
misalnya, mengatakan bahwa semua yang

31 Mei 2020 | Goenawan Mohamad | 51


aktual, yang ada, “wirklich”, adalah
rasional. Saya sepakat dengan Adorno
bahwa ini sejenis sudut pandang totaliter
yang tak memungkinkan yang beda, yang
ganjil, yang tak disangka-sangka.
Lalu bagaimana saya disebut “berkhidmat
pada Hegel”, apalagi dalam pembicaraan
tentang sains? Saya tahu sedikit
pandangan Hegel tentang agama dan
seni, tapi sama sekali tak tahu bagaimana
ia memandang sains.
*
Kesalahan kedua: Sulak mengira saya
orang yang percaya bahwa sains
menjanjikan kepastian. Di sini, ia telah
sangat salah membaca.
Sebab inilah yang saya tulis dalam Catatan
Pinggir (yang juga dikutip Sulak): “Ilmu
pengetahuan selalu menjanjikan jawab
yang meyakinkan, tapi bersamaan dengan
itu juga hidup dari pertanyaan dan
perdebatan“.
Bagi Sulak, kalimat ini “pernyataan
sewenang-wenang tentang ilmu
pengetahuan”. Padahal yang saya
31 Mei 2020 | Goenawan Mohamad | 52
maksudkan adalah sebuah paradoks: di
satu pihak ilmu pengetahuan menjanjikan
jawab yang meyakinkan (catat: saya tak
memakai kata ‘kepastian’), di lain pihak ia
tidak akan hidup tanpa pertanyaan dan
perdebatan. Dengan kata lain, bagi saya,
pertanyaan dan perdebatan adalah
sesuatu yang esensial dalam kehidupan
sains.
Dalam hal ini, saya rada Popperian.
Meskipun prinsip falsifikasi Popper bisa
diperdebatkan cocoknya buat semua
cabang ilmu, tapi dengan itu tokoh
filsasfat ilmu ini menuntut sains
berkembang dengan “rigour” yang tanpa
kompromi: dengan “rasionalisme kritis”,
para ilmuwan harus siap membantah
theori mereka sendiri. Teori ilmiah bagi
Popper selalu berada dalam keadaan
“belum dibantah”. Penemuan ilmu selalu
bersifat “provisional”. Kepastian bukan
tujuannya. Tulisan saya di halaman
Facebook saya 17 Mei yang lalu bahkan
saya awali dengan kutipan dari Popper:
“Tujuan ilmu adalah kebenaran, bukan
kepastian”.

31 Mei 2020 | Goenawan Mohamad | 53


Jika Sulak sempat membaca buah pikiran
Popper barang sedikit, ia akan
menemukan kalimat-kalimat yang sejajar
penuh dengan pandangan saya:

“Despite my admiration for scientific


knowledge, I am not an adherent of
scientism. For scientism dogmatically
asserts the authority of scientific
knowledge; whereas I do not believe in
any authority and have always resisted
dogmatism; and I continue to resist it,
especially in science. I am opposed to the
thesis that the scientist must believe in his
theory…”

Pandangan Popper ini diperlukan kini,


sebagai “caveat” kepada sains. Ketika sains
menjadi panglima — ketika masyarakat
menonjolkan (“asserts”) otoritas
pengetahuan ilmiah untuk menjelaskan
pelbagai hal — sains akan terdorong
mengedepankan kepastian, bukan masuk
ke dalam proses pencarian kebenaran.
Otoritas tanpa kepastian sama dengan
hakim garis tanpa garis.
Seperti dalam usaha mengatasi epidemi
sekarang: otoritas, bahkan supremasi,

31 Mei 2020 | Goenawan Mohamad | 54


epidemologi akan membuat dia tidak
diharapkan memaklumkan, seraya
mengutip Popper, bahwa sainsnya
sebenarnya ”the art of systematic over-
simplification”. Dalam posisi sebagai
sumber utama, ilmu ini mau tak mau
didorong “mengistirahatkan” prosesnya
sendiri. Ia tak bisa berpanjang-panjang
melakukan riset — dan berbantah —
untuk misalnya menentukan sifat virus
yang jadi biang keladi epidemi.
Tapi tendensi mempromosikan kepastian
itu sebenarnya telah lama terjadi di dunia
sains, dengan atau tanpa COVID-19.
Dewasa ini, dengan beberapa
perkecualian, perkembangan ilmu makin
diterjemahkan sebagai perkembangan
riset dan inovasi, sebagaimana diukur GII
(Global Innovation Index).
Dalam persaingan modal dan kekuatan
politik yang terus-menerus, investasi
dalam bidang riset & pengembangan —
yang dijadikan landasan teknologi baru
dan pertumbuhan ekonomi — makin
mendorong sains bukan lagi sebuah
metode menafsirkan dunia, melainkan

31 Mei 2020 | Goenawan Mohamad | 55


sebagai pendukung teknologi. Kepastian,
kegunaan, hasil temuan untuk diterapkan
—itulah yang kini menggerakkan
lembaga-lembaga riset dan
pendanaannya. Bukan kebetulan jika kini
theori relativitas Einstein, misalnya — yang
pada awalnya dikagumi tapi tak jelas
“untuk apa” — makin diberi arti dalam
kaitannya dengan, misalnya, navigasi GPS.
Sebuah gejala yang perlu disimak: kata
“Wissenschaft,” yang pernah lazim dalam
theori ilmu pengetahuan di Jerman, yang
berakar pada kata “wissen” (mengetahui),
kini tergeser pengertian “sains”. Kata
“sains” yang masuk ke dalam bahasa
Indonesia, mungkin melalui Malaysia,
adalah salinan dari istilah yang dipakai
dalam risalah-risalah Anglo-Saxon,
“science”. Berasal dari kata Latin “scientia”,
(dengan kata dasar “sciens”), yang berarti
mempunyai pengetahuan, sains memang
berakar dari pengertian yang tak berbeda
dengan “Wissenschaft”. Tapi sains makin
lama makin hanya diwakili ilmu-ilmu alam,
atau ilmu dengan riset yang didukung
kuantifikasi.

31 Mei 2020 | Goenawan Mohamad | 56


*
Kini izinkan saya menunjukkan kekurangan
Sulak dalam tulisannya, “Sains dan Hal-Hal
Baiknya”.
Pertama-tama, ia keliru jika mengaitkan
pandangan saya dengan “ketidaksukaan
pribadi” terhadap sains. Dasar pandangan
saya kepada sains akan saya jelaskan
dalam beberapa paragraf mendatang, dan
pasti bukan karena sains pernah menolak
cinta saya hingga saya tak tergila-gila
kepadanya.
Sekarang kritik saya kepada kritik Sulak:
dalam mengedepankan “hal-hal baik”
sains, Sulak membandingkannya— bahkan
mengonfrontasikannya — dengan
keyakinan agama. Bagi saya, ini mirip
menggebuki memedi (orang-orangan)
sawah; kita merasa jadi kuat karena bisa
mengalahkan sesuatu yang hanya seram
dalam khayalan orang.
Celakanya, Sulak hanya mengulang apa
yang sudah sering dipakai sebagai
penggebuk. Kita yang pernah dengan
asyik membaca novel Umberto Eco, “Il

31 Mei 2020 | Goenawan Mohamad | 57


nome de la rosa” (“The Name of the
Rose”), sudah tahu bagaimana cerita fiktif
yang seru dengan latar Eropa abad ke-12
ini berakhir. Jorge, rahib tua yang
mengharamkan humor dan mencurigai
pemikiran terbuka, kalah. Kita bertepuk.
Kita lebih senang lagi William of
Baskerville menang. Tokoh ini personifikasi
dari semangat keilmuan, orang yang
bekerja dengan pembuktian empiris; ia
datang dari Inggris, dari mana empirisme
berkumandang lima abad kemudian.
Nama “Baskerville” mengingatkan kita
akan salah satu cerita Sherlock Holmes,
detektif yang memecahkan misteri
kejahatan dengan cara seorang virolog
menemukan penyebab pilek jenis baru.
Dengan kata lain, thema “sains versus
dogma” atau “sains versus agama” sudah
lama dimamah biak, dan kita umumnya
setuju siapa yang harus diberi aplaus.
Sebab itu ketika saya mengemukakan
pandangan kritis atas sains, saya
sesungguhnya (dan ini yang tak dipahami
Sulak) ingin meletakkan perdebatan di
dalam kancah pemikiran yang jauh dari

31 Mei 2020 | Goenawan Mohamad | 58


“Jorge-isme”. Kesempatan kali ini akan
saya pakai dengan mengundang Husserl.
Edmund Husserl (1859-1938), kita tahu,
pelopor fenomenologi dengan pengaruh
yang luas dan panjang. Saya ikut mencicipi
pengaruhnya sedikit ketika saya sebentar
kuliah di Fakultas Psikologi UI, di mana,
waktu itu, fenomenologi membantu
menjelaskan banyak masalah psikologi
sebagai ilmu.
Dalam karya besarnya terakhir, “Die Krisis
der europaischen Wissenschaften und die
transzendentale Phänomenologie”, Husserl
membahas krisis ilmu pengetahuan Eropa
dan peran fenomenologi transendental. Ia
menunjukkan krisis itu menyangkut
fondasi ilmu-ilmu itu sendiri. Ia menyebut
Galileo, yang oleh Einstein disebut sebagai
“bapak sains modern” sebagai seorang
penemu besar dengan dua efek. Galielo,
kata Husserl, adalah “ein entdeckender und
verdeckender Genius”, (“jenius yang
menemukan dan sekaligus
menyembunyikan”).
Terobosan Galileo terbesar bukan dalam
dunia astronomi, tapi, kata Husserl, dalam
31 Mei 2020 | Goenawan Mohamad | 59
merumuskan ide ilmu-ilmu alam sebagai
sesuatu yang matematis, suatu
pendekatan yang di abad ke-7 sama sekali
baru. Orang Italia yang dicurigai Gereja ini
memang terkenal dengan kesimpulannya
bahwa alam semesta, “ditulis dalam
bahasa matematika, dan hurufnya adalah
segitiga, lingkaran, dan bentuk-bentuk
geometris lain”.
Dengan pandangan itu, menurut Husserl,
ilmu-ilmu alam memproduksi
“Geschlossenheit”, kerangka abstraksi yang
tertutup bagi — dan menjauh dari — apa
yang konkret dan unik dalam pengalaman.
Dengan sains modern yang dasarnya
diletakkan Galileo, dunia yang tercerap
indera diselimuti “jubah idea”, “Ideenkleid”,
dan diberi makna baru. Keberhasilan
perspektif ilmiah modern ini dahsyat, dan
telah mengubah bukan saja pengetahuan
manusia tentang dunia, tapi juga manusia
sebagai subjek yang mengetahui. Bahkan
mengubah arti rasionalitas itu sendiri.
Husserl memang tak membahas pemikiran
Galileo seutuhnya, tapi kritiknya kepada
sains adalah alasan dasar yang kuat bagi

31 Mei 2020 | Goenawan Mohamad | 60


fenomenologi sebagai pendekatan
alternatif. Dengan kritik Husserl kita bisa
melihat bagaimana dunia yang diletakkan
dalam kerangka matematis
merepresentasikan “Lebenswelt”, dunia
kehidupan, dengan mereduksinya — atau
untuk memakai istilah Husserl,
“menyembunyikan”-nya.
Memang dengan demikian sains bisa
berkembang pesat, tapi ia lebih berperan
sebagai si pengubah dunia, bukan si
penafsir — untuk meminjam dikotomi
Marx tentang tugas filsafat. Sains, dengan
kecanggihan eksperimennya, dengan
kapasitas mengkalkulasi dan
mengukurnya, makin berkembang
menjadi “techne”, atau cara yang efektif
dan efisien mencapai hasil yang
ditargetkan. Bersama itu, rasionalitas
hanya berarti “Zweckrationalität”,
pengertian termashur yang diperkenalkan
Weber; “akal instrumental” ini
mendominasi dunia modern dengan
segala dampak negatifnya.
Dalam hubungan itulah Heidegger
mengatakan bahwa “sains tidak berfikir”.

31 Mei 2020 | Goenawan Mohamad | 61


Ucapan kontroversial ini tak berarti ingin
mengatakan bahwa sains adalah dunia
kebodohan. Bagi Heidegger — ia
mengembangkan serta meradikalisir kritik
Husserl — berfikir berarti bukan (semata-
mata) berfikir kalkulatif.
Dalam risalahnya, “Die Frage nach dem
Ding”, Heidegger menguraikan lebih
lanjut keterbatasan sains dengan sifatnya
yang matematis. Ia menjelaskannya
dengan merujuk makna yang tersirat
dalam kata “ta mathemata”. Arti kata
Yunani itu, menurut Heidegger, “apa yang
kita ketahui tentang hal ihwal lebih dulu”.
Sains bersifat matematis karena ia tidak
menangkap realitas sebagai sesuatu yang
langsung, tanpa mediasi, tapi sudah
terlebih dahulu diposisikan dalam
kerangka. Jika Husserl menyebut
“Geschlossenheit”, Heidegger
memperkenalkan istilahnya yang lebih
beredar, “Gestell”. Sains “membaca”
realitas dalam bentuk sudah dalam pigura,
dan dengan itulah ia menangkap dan
mengendalikan realitas. Menangkap dan
mengendalikan itu penting: dalam tatapan

31 Mei 2020 | Goenawan Mohamad | 62


sains, dunia hadir sebagai reservoir, bahan
yang dicadangkan untuk sewaktu-waktu
dipergunakan — yang menunjukkan,
seperti disinggung Heidegger, hubungan
asali antara sains dan teknologi.
Dunia, tentu saja, tidak sekedar yang ada
dalam ukuran itu. Sayangnya, para
ilmuwan sering tak sadar akan itu. Gaston
Bachelard, yang bertentangan dengan
Heidegger dalam pandangannya tentang
sains, mengakui: “Para saintis lebih
meyakini realisme pengukurannya
ketimbang kenyataan objeknya.”
Sebab itu para penganjur yang meyakini
sains sebagai pemandu kehidupan di
dunia yang konkret dan sebab itu rumit —
para penganut “scientism” yang disebut
Popper— hanya memperlihatkan
pandangan yang sempit, tapi pongah.
Setidaknya mereka tak mengenal kritik
atas sains yang berkembang dalam dunia
pemikiran modern — bukan dalam dunia
ustad Felix Siauw.
Saya bisa mengerti jika Sulak punya
harapan besar (jangan-jangan
berlebihan?) ketika ia terpesona mengikuti
31 Mei 2020 | Goenawan Mohamad | 63
prestasi sains selama beberapa masa
terakhir. Daya ilmu-ilmu modern yang
sejak Galileo didukung keampuhan
matematis memang menyilaukan.
Tapi saya ingin mengingatkan, seorang
matematikawan besar pernah menyebut
hubungan matematika dengan
kekecewaan: ilmu ini sungguh muskil, dan
kita gegabah untuk begitu saja
menggunakannya menerjemahkan
semesta.
“We are told that by its aid the stars are
weighed and the billions of molecules in a
drop of water are counted. Yet, like the
ghost of Hamlet's father, this great science
eludes the efforts of our mental weapons to
grasp it.” — Alfred North Whitehead,
dalam “An Introduction to Mathematics”.
*
Demikianlah, Bung, jawaban dan
penjelasan saya. Jika saya banyak
menyebut nama-nama yang keren, itu
buat menunjukkan saya bukan sendirian
— bukan pula punya alasan pribadi —

31 Mei 2020 | Goenawan Mohamad | 64


untuk tak memandang sains dengan mata
berbinar-binar.
Sumber:
https://www.facebook.com/goenawan.mohamad.3/p
osts/2952967594823217

31 Mei 2020 | Goenawan Mohamad | 65


1 JUNI 2020 | NIRWAN AHMAD ARSUKA

Sains dan Sport


Untuk GM, Ulil, Sulak dan Hamid
Nirwan Ahmad Arsuka

Benarkah sains itu tidak berpikir, pongah,


dan mengagulkan diri?
Metode ilmiah, atau lebih luas lagi
"metasains" yang dilembagakan oleh para
saintis, adalah pengakuan akan
keterbatasan sains, yang dengan tandas
membantah semua tuduhan di atas.
Metasains itu yang mencegah para saintis
tulen mengafirkan dan menyuruh bakar
pihak lain yang berbeda pendapat
dengannya.
Tapi untuk menghormati kawan debat,
baiklah kita terima dulu saja tuduhan
terhadap sains, tuduhan tua yang tak
mampu memperbarui diri, dan yang yakin
bahwa sains tak sanggup berproses
mengoreksi dan melampaui diri. Sesekali
mengalah bolehlah. Katakanlah sains

1 Juni 2020 | Nirwan Ahmad Arsuka | 66


memang pongah dan gemar
mengagulkan diri. Terus kenapa? Dosa?
Kembali kita bisa belajar dari sport,
khususnya dari tokoh yang diberi gelar
"Sportsman of the Century" (Sports
Illustrated) dan "Sports Personality of the
Century" (BBC poll): Muhammad Ali.
Ali yang besar mulut itu memang
menyebut dirinya "petinju yang paling
ilmiah" di arena laga. Prestasinya yang tak
tertandingi oleh petinju lain, bahkan oleh
atlet manapun di abad ke-20 itu tentu saja
dahsyat, tapi akan tampak jomplang jika
dibandingkan dengan prestasi sains. Tidak
sekelaslah. Tapi karena itu, kalimat-kalimat
pongah dan mengagulkan diri yang
dilontarkan Ali, akan cukup pantas jika
dipinjam sebentar oleh sains, untuk main-
main saja. Misalnya:

“Braggin' is when a person says something


and can’t do it. I do what I say.”

“It's hard to be humble when you're as


great as I am."

1 Juni 2020 | Nirwan Ahmad Arsuka | 67


“If you even dream of beating me you'd
better wake up and apologize.”

"I am the greatest, I said that even before I


knew I was."

"I shook up the world. Me! Whee!"

"I’m not the greatest. I’m the double


greatest. Not only do I knock ‘em out, I
pick the round. I’m the boldest, the
prettiest, the most superior, most scientific,
most skillfullest fighter in the ring today.”

Kalimat-kalimat Ali ini jelas luar biasa


pongah, namun bisa terasa menghibur,
karena mengandung kejujuran yang brutal
tanpa tedeng aling-aling. Ali memang
pongah, tapi ia bukan pembual. Selain
baris-baris yang bisa dituduh gemar
mengagulkan diri, Ali juga dicatat
meninggalkan kalimat ini:

"Only a man who knows what it is like to


be defeated can reach down to the
bottom of his soul and come up with the
extra ounce of power it takes to win when
the match is even."
(https://www.usatoday.com/story/sports/b

1 Juni 2020 | Nirwan Ahmad Arsuka | 68


oxing/2016/06/03/muhammad-ali-best-
quotes-boxing/85370850/)

Seperti Ali, sains juga bisa mencicipi rasa


"kalah". Pandemi Sars-COV-2 atau COVID-
19 itu membuat kedudukan sains kalah
sementara. Tapi, seperti Ali yang tak
gentar mempertahankan pendiriannya,
para saintis pun akan terus berusaha
"merogoh dasar jiwanya". Dan seperti
halnya perjuangan Ali serta para atlet
tulen lain, perjuangan sains juga bisa
menunjukkan "the beauty and the
universal celebration of human spirit." ***
Sumber:
https://www.facebook.com/arsuka01/posts/6729733
09926585

1 Juni 2020 | Nirwan Ahmad Arsuka | 69


1 JUNI 2020 | ULIL ABSHAR ABDALLA

Qutbiisme dan Kepongahan


Saintifik: Mengapa Al-
Ghazali Masih Relevan
Sekarang?
Ulil Abshar Abdalla

Qutbiisme di sini merujuk kepada sosok


Sayyid Qutb, seorang ideolog Ikhwanul
Muslimin yang mati digantung oleh
presiden Mesir Gamal Abdul Nasser pada
1966 karena pandangan-pandangannya
yang menghasut umat Islam untuk
melawan pemerintah yang dianggapnya
kafir dan "thaghut".
Istilah "Qutbiisme" di sini saya pakai untuk
menamai sebuah cara pandang terhadap
segala sesuatu yang ditandai dengan
banyak hal, tetapi dua di antaranya paling
menonjol.

1 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla | 70


Pertama, kepongahan yang terbit karena
seseorang "merasa" telah memegang
kebenaran mutlak.
Kedua, "self-righteousness", yaitu
perasaan paling "saleh" sendiri, sementara
orang lain berada di "lorong kesesatan"
dan karena itu perlu diselamatkan.
Qutbiisme tidak semata-mata merupakan
gejala keagamaan, tetapi bisa juga
mengambil bentuk yang sekular,
sebagaimana akan tampak dalam bagian
terakhir catatan ini.
Saya pernah mengidap "penyakit"
Qutbiisme ini dalam dua tahap hidup saya.
Pertama, waktu saya masih belia dan
terpukau oleh gagasan-gagasan Sayyid
Qutb, terutama dalam bukunya "Ma'alim
fi al-Thariq", sebuah manifesto yang
ditulis oleh Qutb dengan bahasa Arab
yang indah dan elegan.
Buku ini telah menyihir saya pada saat
saya baru berumur sekitar 19 tahun.
Manifesto ini telah mengilhami ribuan
belia Muslim di seluruh dunia, mendorong
mereka menjadi fundamentalis-radikal dan

1 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla | 71


terperosok dalam gejala takfir (mudah
mengafirkan orang lain).
Setelah membaca buku ini, selama
beberapa saat saya sempat tenggelam
dalam semacam "pengalaman mabuk".
Dalam periode "mabuk" inilah saya pernah
berpikir dengan amat pongah bahwa
semua orang di sekitar saya adalah
"jahiliyyah", berada dalam kegelapan
akidah. Sayalah satu-satunya orang yang
"ngekepi" (memeluk) akidah paling benar.
Untungnya, saya hanya "merasa" saja, dan
tidak pernah mengutarakannya secara
lisan.
Saya sembuh dari "mabuk" ini karena
gagasan-gagasan pembaharuan Islamnya
Cak Nur (Nurcholish Madjid) dan Gus Dur
(Abdurrahman Wahid). Saya sebetulnya
sudah membaca gagasan-gagasan dua
santri-pemikir dari Jombang itu jauh
sebelum berkenalan dengan pikiran Sayyid
Qutb. Saat tersihir oleh ide-ide Qutb, saya
sebetulnya sedang "lupa". Tak lama
berselang, saya mulai merasakan hal yang
aneh pada gagasan Qutb. Saya merasa,
jika diterus-teruskan, pandangan Qutbian

1 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla | 72


ini bisa membawa saya kepada sikap
hidup yang "totaliter", mutlak-mutlakan.
Setelah sembuh dari penyakit ini, saya
kemudian menjalani "petualangan
pemikiran" yang asyik. Inilah masa-masa
dalam hidup saya yang paling indah. Dan
saya bersyukur kepada Tuhan karena
diberikan kesempatan untuk menikmati
petualangan ini. Tetapi ada jebakan juga
di sana. Di ujung petualangan ini, saya
pernah nyaris "terpeleset" dalam jebakan
Qutbiisme yang lain. Yaitu jebakan yang
ingin saya sebut "saintisme".
Saintisme di sini saya maksudkan sebagai
pandangan yang melihat sains modern --
terutama sains dalam pengertian ilmu-
ilmu kealaman-- sebagai model
paradigmatik bagi pengetahuan manusia
yang paling sempurna, karena
memberikan dasar-dasar pengetahuan
yang pasti dengan berbasis data-data
empiris.
Saya bukanlah seseorang yang belajar
sains kealaman. Pendidikan saya adalah
Jurumiyah dan Taqrib -- dua kitab
elementer dalam tata bahasa Arab dan
1 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla | 73
ilmu fikih yang diajarkan di pesantren
tradisional. Tetapi, dalam petualangan
pemikiran itu, dan dalam interaksi saya
dengan sejumlah kawan, saya akhirnya
berjumpa dengan banyak literatur populer
di bidang sains. Saya mulai berkenalan
dengan buku-bukunya Richard Dawkins,
Lawrence Krauss, Stephen Hawking, Carl
Sagan, Richard Feynman, Steven
Weinberg, E. O. Wilson, Steven Pinker,
Peter Atkins, Victor Stenger, dan masih
banyak yang lain lagi.
Saya amat menikmati literatur tentang
sains ini. Minimal, melalui bacaan-bacaan
itu saya mengenal bagaimana sains
modern memahami pertanyaan-
pertanyaan penting dalam hidup manusia:
bagaimana asal mula alam raya ini,
bagaimana asal mula kehidupan di muka
bumi, bagaimana masyarakat binatang
dan manusia bekerja, bagaimana
fenomena kesadaran manusia mesti
dijelaskan, dan sebagainya.
Saya sempat "mabuk" sebentar dalam
periode saintisme ini. Pada masa ini, saya
sempat tergoda sejenak untuk

1 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla | 74


berpandangan bahwa sains modern lah
yang bisa dianggap paling sukses
menjelaskan "kehidupan". Ilmu-ilmu lain
bersifat inferior.
Ya, saya hanya mabuk sebentar saja. Saya
disadarkan kembali setelah mulai
merasakan keanehan di kalangan para
pendukung sains ini. Mereka memiliki
watak-watak yang agak mirip dengan para
penganut Qutbiisme-religius -- pongah,
dan merasa dirinya secara moral berada di
ketinggian, mengatasi orang-orang lain;
self-righteousness.
Pada titik inilah kemudian saya berkenalan
dengan gagasan-gagasan seorang
matematikawan dan filsuf Amerika, David
Berlinski (dia meraih gelar Ph.D dalam
bidang filsafat dari Princeton University).
Dia menulis buku dengan judul yang agak
"provokatif": Devil's Delusion: Atheism and
Its Scientific Pretension (2008). Buku ini
jelas merupakan sanggahan yang blak-
blakan atas buku Richard Dawkins yang
terkenal: "God's Delusion" (2006) dan
buku-buku para "new atheists" yang lain
seperti Sam Harris dan Daniel Dennett.

1 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla | 75


Salah satu paragraf yang "nyambung"
dengan pengalaman saya dalam bukunya
Berlinski ini berkenaan dengan
"kepongahan" sebagian saintis dan para
pendukung sains modern. Dalam bagian
pengantar, Berlinski, antara lain, menulis:

"Occupied by their own concerns, a great


many men and women have a dull, hurt,
angry sense of being oppressed by the
sciences. They are frustrated by endless
SCIENTIFIC BOASTING (huruf besar dari
saya, UAA). They suspect that as an
istitution, the scientific community holds
them in contempt. They feel no little
distaste for those speaking in its name.
They are right to feel this way. I have
written this book for them."

Secara ringkas, Berlinski mengatakan


bahwa banyak orang yang merasa jengkel
karena kepongahan saintifik (scientific
boasting) yang diperagakan oleh
komunitas sains. Mereka seperti
dipojokkan oleh para pendukung sains,
karena hanya diberikan dua pilihan: sains
atau agama; kalau sains benar, maka
dengan sendirinya agama salah.

1 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla | 76


Saya merasa diwakili oleh Berlinski melalui
kalimatnya yang blak-blakan ini. Berlinski
bukanlah seorang penganut agama. Dia
menggambarkan dirinya sebagai Yahudi
sekular yang tak pernah pergi ke sinagog.
Tetapi dia ikut dibuat jengkel dan senewen
oleh gejala "scientific boasting" itu.
Saya adalah orang yang tak suka pada
kepongahan -- baik kepongahan religius
atau sekular. Gagasan-gagasan Islam
liberal yang pernah saya kemukakan pada
awal tahun 2000an dulu adalah persis
untuk mengkritik "kepongahan religius"
yang diperagakan oleh sebagian kaum
muslim fundamentalis-radikal dengan
berbagai spektrumnya.
Pada sisi lain, saya juga memiliki
kejengkelan yang tak kalah mendalam
terhadap kepongahan sekuler yang saya
lihat pada fenomena "saintisme" -- sebuah
cara pandang yang melihat sains sebagai
satu-satunya penjelas yang tepat terhadap
Kehidupan dengan "k" besar. Sementara
yang lain, terutama agama, adalah
takhayul dan khurafat yang merupakan
sisa-sisa dari masa kanak-kanak manusia.

1 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla | 77


Saya tumbuh dalam lingkungan Islam
tradisional (baca: NU) dan menghirup
oksigen kultural bernama ajaran tawadlu',
"ethics of humility", tidak suka menghakimi
pihak lain yang berbeda. Kepongahan
adalah hal yang paling ditabukan dalam
kultur di mana saya tumbuh; kecuali jika
"diprovokasi" secara tidak proporsional
oleh pihak lain: apa boleh buat.
Setiap bentuk kepongahan, baik religius
ataupun sekular, langsung menimbulkan
refleks penolakan pada diri saya. Saya
sekarang bisa memahami dengan simpatik
"kejengkelan" al-Ghazali terhadap para
filsuf (baca: saintis) pada zamannya seperti
ia utarakan dalam otobiografinya yang
saya "balah" (dikaji dengan metode
bandongan ala pesantren) selama bulan
puasa kemaren, berjudul "al-Munqidh
min al-Dalāl".
Apa yang ditulis al-Ghazali hampir seribu
tahun lalu menggaungkan pandangan
serupa yang ditulis oleh Berlinski pada
abad ini. Baik al-Ghazali maupun Berlinski
hendak membedakan antara "sains" dan
"saintisme".

1 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla | 78


Sains adalah suatu stetemen mengenai
fakta-fakta kealaman yang didukung oleh
"evidence" yang kokoh, atau "burhan"
dalam bahasa al-Ghazali. Sementara
saintisme adalah ideologi yang dipeluk
oleh para praktisi sains dengan mengatas-
namakan sains. Saintisme adalah
"pretense" (dalam bahasa Berlinski) atas
nama sains, tetapi bukan sains itu sendiri.
Sebagaimana setiap "pretense", dia bisa
kebablasan dan melahirkan sikap-sikap
yang menjengkelkan seperti "scientific
boasting", kepongahan saintifik itu. Ini
tergambar, misalnya, dalam pernyataan
Peter Atkins, seorang ahli kimia dari
Inggris yang mengajar di Universitas
Oxford:

"... there is can be no denying the


proposition that science is the best
procedure yet discovered for exposing the
fundamental truths about the world. By its
combination of careful experimentation
guided by theory, and its elaboration and
improvement of theory based on
experiments it inspired, it has shown itself
to be of enormous power for the
elucidation and control of nature... No

1 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla | 79


other mode of discovery has proved to be
so effective or to contribute so much
towards the achievement of the
aspirations of humanity." (Peter Atkins,
"Science as Truth").

"Pretense" seperti inilah yang dikritik oleh


para sarjana seperti al-Ghazali, Berlinski,
atau John Lennox (seorang
matematikawan dari Universitas Oxford
yang menulis buku berjudul "God's
Undertaker: Has Science Buried God?").
Yang dikritik oleh orang-orang seperti al-
Ghazali bukanlah filsafat atau sains per se,
melainkan "asumsi-asumsi ideologis" yang
bersembunyi di balik otoritas sains.
Saya tetap mengagumi sains. Di mata
saya, sains adalah salah satu (bukan satu-
satunya!) bentuk pengetahuan manusia
yang dianugerahkan oleh Tuhan untuk
kemaslahatan mereka. Yang tidak saya
kagumi adalah saintisme dan
"kepongahan saintifik", atau kepongahan-
kepongahan lainnya. Sekian.
Sumber:
https://www.facebook.com/ulil67/posts/1016381724
2125533

1 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla | 80


1 JUNI 2020 | HASANUDIN ABDURAKHMAN

Ulil, Sains Itu Tidak


Pongah, Cuma Tidak
Berbagi Kebenaran
Hasanudin Abdurakhman

Ulil Abshar Abdalla menulis soal


kepongahan sains.
Apa sih? Yang dia tuding adalah
pandangan "saintisme" yang menganggap
sains adalah satu-satunya penjelas soal
Kehidupan, huruf "k" ditulis dengan huruf
besar.
Saya tak sepenuhnya paham dengan apa
yang dimaksud kepongahan oleh Ulil. Juga
apa yang dia maksud dengan Kehidupan,
karena tak ada penjelasan soal itu. Tapi
setahu saya sains memang tak mau
berbagi soal kebenaran.
Sains, misalnya, menjelaskan asal muasal
kehidupan dengan teori evolusi.
Kehidupan sekarang, dengan begitu

1 Juni 2020 | Hasanudin Abdurakhman | 81


banyak ragam spesies makhluk hidup,
menurut sains, berasal dari proses evolusi.
Sains belum bisa menjawab bagaimana
makhluk hidup paling awal muncul dari
senyawa-senyawa organik. Tapi sains
hanya menerima atau menganut
penjelasan itu. Bahwa kehidupan berasal
dari evolusi organisme sederhana,
kemudian berevolusi menjadi makhluk
yang lebih kompleks, lalu terus berevolusi
menjadi berbagai spesies, termasuk
spesies homo sapiens, yaitu kita ini.
Sains tidak pongah, karena mengaku pada
hal-hal yang dia belum tahu, seperti soal
bagaimana senyawa organik menjadi
organisme tadi. Tapi sains tidak berbagi
kebenaran, khususnya dengan agama.
Agama punya teorinya sendiri soal
bagaimana munculnya makhluk-makhluk
itu. Yaitu diciptakan oleh Tuhan.
Manusia, menurut teori agama, diciptakan
secara khusus oleh Tuhan, dengan tanah
sebagai bahan bakunya. Sains tidak peduli
soal itu. Tidak menggubrisnya. Juga tidak
mempertimbangkannya sebagai suatu
kemungkian yang bisa diadopsi dalam
1 Juni 2020 | Hasanudin Abdurakhman | 82
sains. Dalam ungkapan kasar, bagi sains
teori itu nonsense. Nah, anggapan
nonsense ini yang dianggap Ulil sebagai
kepongahan.
Kaum agamawan bersikap beragam
terhadap sains. Ada yang menganggap
sains itu sesat. Ada yang menganggap
sains dan agama itu paralel. Paralel
maksudnya adalah narasi-narasi agama
soal alam masih bisa cocok dengan narasi
sains. Bagi saya, maaaf saja, yang terjadi
adalah pencocokan. Sesuatu yang jelas-
jelas tidak cocok, ditekuk-tekuk, supaya
nampak cocok. Cukup menghibur, tapi
tidak benar.
Ada pula kelompok yang tidak mau
membenturkan keduanya. Quraish
Shihab, saya kira, masuk dalam kelompok
ini. Sains dan agama harus berjalan
sendiri-sendiri. Sains tidak bisa
menyalahkan agama, juga tidak perlu jadi
pembenarnya.
Sains tidak merambah ke wilayah agama.
Benturan terjadi karena keduanya sesekali
membicarakan subjek yang sama, yaitu
alam. Sains menjelaskan alam dari hasil
1 Juni 2020 | Hasanudin Abdurakhman | 83
obervasi dan olah pikir matematis. Sains
membuat model alam semesta dari secuil
informasi yang ia miliki. Agama
menjelaskan alam semesta dengan Tuhan
sebagai pencipta dan pengaturnya. Tapi
penjelasan agama itu sama sekali tidak
direken oleh sains. Sains sama sekali tidak
merujuk ke penjelasan itu.
Yang repot merujuk ke sains adalah kaum
agamawan. Tadinya mereka percaya
bahwa alam semesta diciptakan secara
instan oleh Tuhan. Lalu mereka beralih ke
pandangan bahwa ada proses dalam
penciptaan itu, karena sains menunjukkan
adanya proses. Konyolnya, ada yang
menerima dan memakai teori sains
sebagian, tapi menolak sebagian yang lain,
yaitu teori evolusi tadi.
Reaksi sains? Tidak me-reken
(memedulikan). Tidak ada rumusan sains
yang diubah karena keberatan agama.
Tidak pula sains menjadikan penjelasan
agama itu sebagai sesuatu yang patut
dipertimbangkan. Sekali lagi, dalam narasi
tertentu bisa dikatakan bahwa sains
menganggapnya nonsense. Apakah ini

1 Juni 2020 | Hasanudin Abdurakhman | 84


pongah? Kalau mau dianggap pongah, ya
monggo. Tapi itu tidak mengubah apapun.
Apakah sains menjelaskan semua hal?
Tidak.
Sains tidak berminat menjelaskan hal-hal
lain di luar subjek yang ia tekuni. Narasi
agama soal alam gaib dan Tuhan tidak
digubris oleh sains. Kalau agama
menjelaskan soal-soal itu, sains tidak
peduli. Ilmuwan, misalnya, tidak berusaha
mencari tahu bagaimana proses seorang
perempuan bisa hamil tanpa suami, atau
orang bisa naik ke langit. Kalau wilayah itu
mau dimonopoli oleh agama, ya monggo.
Tidak peduli itu bisa dimaknai sebagai
sains menganggap bahwa hal-hal itu
bukan subjeknya, bisa juga karena
menganggapnya nonsense. Inikah yang
disebut pongah oleh Ulil? Kalau iya pun,
sekali lagi itu tak mengubah apapun soal
sains maupun perilaku ilmuwan terhadap
sains.
Bagi sains, sejauh yang saya tahu, hanya
ada kehidupan, tidak ada Kehidupan. Saya
mencoba menafsir Kehidupan itu adalah
berbagai dimensi non-jasadi, atau dunia
1 Juni 2020 | Hasanudin Abdurakhman | 85
pasca dunia fisik, yang dijelaskan oleh
agama. Orang beragama boleh yakin soal
itu, sains tidak keberatan. Tapi sekali lagi,
sains tidak peduli.
Kalau bagi Ulil ada ruang kompromi di
mana sains dan agama bisa cocok dan
rukun, saya ingin tahu dalam hal apa yang
dia maksud. Kalau ada ruang di mana
sains mau berbagi kebenaran dengan
agama, saya ingin tahu. ***
Sumber:
https://www.facebook.com/hasanudin.abdurakhman
/posts/10221918831980718

1 Juni 2020 | Hasanudin Abdurakhman | 86


2 JUNI 2020 | TAUFIQURRAHMAN

Sains Memang Tidak


Sempurna, tapi Ia Adalah
Jenis Pengetahuan Terbaik
yang Mungkin Kita Punya
Catatan untuk GM dan Ulil

Taufiqurrahman

Goenawan Mohamad (GM), sang


budayawan adiluhung itu, memang
seorang peragu—walau mungkin ia jenis
peragu yang syahdu. Kali ini ia ragu pada
ilmu (science). Ia mengutip Popper,
Husserl, dan Heidegger untuk
mempertahankan keraguannya. Namun,
sejauh mana keraguan GM pada sains itu
dapat dipertahankan?
Ulil, yang juga dikenal sebagai tokoh
liberal sebagaimana GM, mengungkapkan
ketidaksukaannya pada saintisme—yang ia
bedakan dari sains. Ia kagum pada sains,
tapi jengkel dengan saintisme. Sebab,
menurutnya, saintisme adalah sebuah
2 Juni 2020 | Taufiqurrahman | 87
“kepongahan saintifik” dan sains per se
tidak meniscayakan saintisme. Namun,
mungkinkah sains tanpa saintisme? Juga
seberapa relevan kritiknya terhadap apa
yang ia sebut “saintisme” itu?
*
Dalam tanggapannya untuk kritik A.S.
Laksana, GM merasa perlu untuk
mengutip Popper, karena pandangan
Popper dianggap sebagai “caveat”, protes,
terhadap sains.
Benarkah? Tidak!
Ini justru kembali membuktikan kebiasaan
buruk GM dalam menulis esai: “cherry-
picking” kutipan. Ia sengaja memilah-milih
pernyataan pemikir-pemikir besar untuk
mengonfirmasi pandangannya sendiri
sembari menyembunyikan pernyataan lain
dari pemikir yang sama. Itulah yang
disebut sebagai “confirmation bias”.
Mari kita lihat bagaimana GM melakukan
“confirmation bias”.
GM mencomot separuh paragraf dari
kuliah Popper yang berjudul “Knowledge

2 Juni 2020 | Taufiqurrahman | 88


and the Shaping of Reality: The Search for
a Better World”:

“Despite my admiration for scientific


knowledge, I am not an adherent of
scientism. For scientism dogmatically
asserts the authority of scientific
knowledge; whereas I do not believe in
any authority and have always resisted
dogmatism; and I continue to resist it,
especially in science. I am opposed to the
thesis that the scientist must believe in his
theory…”

Potongan separuh paragraf itu sebenarnya


punya konteks khusus, tetapi oleh GM
digunakan untuk mengonfirmasi
pandangannya sendiri yang berusaha
memberi protes pada sains. Popper bukan
jenis pemikir yang meragukan sains—
sebagaimana GM. Paragraf yang dikutip
GM itu sebenarnya bukan pandangan
Popper tentang sains, melainkan hanya
klarifikasi terhadap pernyataan
sebelumnya yang, kata Popper, ”will
doubtless lead to my being associated with
‘positivism’ or with ‘scientism’ once again”.

2 Juni 2020 | Taufiqurrahman | 89


Apa pernyataan Popper sebelum paragraf
tersebut? Ia menulis:

“We live in a time in which irrationalism


has once more become fashionable.
Consequently, I want to begin by declaring
that I regard scientific knowledge as the
best and most important kind of
knowledge we have—though I am far from
regarding it as the only one”.

Meskipun bukan satu-satunya, kata


Popper, pengetahuan ilmiah merupakan
jenis pengetahuan terbaik dan terpenting
yang kita punya. Ini membuktikan bahwa
potongan paragraf Popper yang dikutip
GM itu—bahkan keseluruhan pemikiran
Popper sendiri—tidak tepat dijadikan
sebagai alat protes pada sains. Bahkan
kriteria keterbantahan (falsifiabilty) dalam
falsifikasionisme Popper sebenarnya
merupakan lanjutan dari tradisi
positivisme logis yang membuat
demarkasi antara sains dan nonsains atau
pseudosains. Artinya, baik Popper maupun
kaum positivis logis sama-sama mengakui
perlunya ada pembedaan tegas antara
sains dan nonsains. Hanya saja kedua

2 Juni 2020 | Taufiqurrahman | 90


pihak itu mengajukan kriteria pembedaan
yang berbeda: positivisme logis
mengajukan kriteria keterbuktikan
(verifiability); sementara Popper
mengajukan kriteria keterbantahan
(falsifiabilty). Jadi, alih-alih memprotes
sains, falsifikasionisme Popper hanya
mengkritik cara positivisme membedakan
sains dan nonsains.
Itu kekeliruan pertama GM. Hal kedua
yang membuat esai GM itu kurang
berdasar adalah saat ia membuat
proposisi implikatif:

“Ketika sains menjadi panglima — ketika


masyarakat menonjolkan (“asserts”)
otoritas pengetahuan ilmiah untuk
menjelaskan pelbagai hal — sains akan
terdorong mengedepankan kepastian,
bukan masuk ke dalam proses pencarian
kebenaran”

“Dalam posisi sebagai sumber utama, ilmu


ini mau tak mau didorong
“mengistirahatkan” prosesnya sendiri. Ia
tak bisa berpanjang-panjang melakukan
riset”.

2 Juni 2020 | Taufiqurrahman | 91


Dua premis tersebut jelas merupakan
klaim besar yang menuntut pembuktian:
Benarkah ketika sains menjadi panglima,
sains akan terdorong mengedepankan
kepastian? Benarkah ketika ilmu dijadikan
sebagai sumber utama, ilmu pasti berhenti
berproses mencari kebenaran? Itu semua
mungkin hanya benar dalam pikiran GM
sendiri. Sebab apa yang membuat sains
spesial, yang membuatnya layak dijadikan
sumber utama memahami dunia alamiah,
adalah adanya prinsip umum dalam
komunitas ilmiah yang—oleh Lee
McIntyre—disebut “scientific attitude”:
bahwa ilmuwan mesti punya kesiapan
untuk mengubah teorinya jika ada bukti
empiris yang menyangkalnya.
Dengan prinsip itu, alih-alih menjadi
produk pengetahuan yang beku, sains tak
lain adalah sebuah proses yang akan
melahirkan “scientific progress”. Artinya,
kita memercayai sains untuk menjadi
panglima dalam memahami dunia alamiah
bukan karena ia menjanjikan kepastian,
melainkan karena ia bisa mengoreksi
dirinya sendiri (self-correcting) di hadapan
data-data baru yang terus bermunculan.
2 Juni 2020 | Taufiqurrahman | 92
Begitu sains tak lagi bisa mengoreksi
dirinya sendiri, maka ia bukan lagi sains,
tetapi sudah berubah menjadi dogma.
Dengan demikian, secara epistemologis,
tidak ada korelasi niscaya antara sains
sebagai panglima dengan sains yang
mencari kepastian.
Sebab, semakin ia tidak pasti—dalam arti:
terus memperbaiki diri— maka sains
semakin layak kita percayai.
Satu-satunya kritik GM terhadap sains
yang cukup berdasar adalah saat ia
memanggil Husserl dan Heidegger.
Namun, bagi saya, kritik Husserl terhadap
sains itu juga sedikit problematik. Apa
yang Husserl maksud sebagai “Krisis”
dalam The Crisis of European Sciences and
Transcendental Phenomenology adalah
hilangnya kebermaknaan sains bagi dunia-
kehidupan (Lebenswelt) yang secara
langsung dialami oleh manusia.
Karenanya, bagian pertama buku ini
adalah “The Crisis of the Sciences as an
Expression of the Radical Life-Crisis of
European Humanity”.

2 Juni 2020 | Taufiqurrahman | 93


Dengan kata lain, apa yang disebut
sebagai “krisis sains” di situ bukanlah krisis
epistemologis yang terjadi pada sains itu
sendiri, melainkan krisis kemanusiaan
yang—kata Husserl—disebabkan oleh
sains yang bekerja dengan fondasi
matematika. Sains menjadi jauh dari dunia
yang konkret, dunia yang kita hidupi
bersama. Di situ sains menjadi sesuatu
yang nirmanusia.
Maka, untuk mengatasi krisis kemanusiaan
yang disebabkannya, sains mesti
mengubah fondasinya: dari matematika ke
fenomenologi transendental. Sains
seharusnya tidak berangkat dari kalkulasi
matematis, tetapi dari pengalaman
langsung manusia dalam dunia
kehidupannya.
Tawaran itu, jika diterapkan pada bidang
ilmu seperti antropologi dan etnografi,
mungkin cukup besar signifikansinya.
Namun, begitu diterapkan pada ilmu alam,
ia justru akan menyulitkan ilmuwan untuk
bekerja. Bagaimana cara ilmuwan untuk
punya pengalaman langsung tentang
virus, misalnya? Apakah ia perlu diinfeksi

2 Juni 2020 | Taufiqurrahman | 94


virus terlebih dahulu agar
pengetahuannya tentang virus menjadi
pengetahuan yang valid? Jika memang
harus demikian, tidak akan ada lagi orang
yang mau menjadi ahli virologi, kecuali
mungkin tuan GM sendiri.
Kritik Heidegger terhadap sains—juga
terhadap teknologi—bisa saya terima:
bahwa dunia yang tampil melalui sains
(juga melalui teknologi) adalah dunia yang
telah mengalami pembingkaian
(enframing). Pembingkaian inilah, kata
Heidegger, yang menjadi esensi dari
teknologi. Namun, pertanyaannya:
memangnya ada jenis pengetahuan lain
yang tidak membingkai atau—dalam
istilah GM— “mereduksi” objeknya?
Menghadapi pertanyaan ini, Heidegger di
fase akhir pemikirannya kemudian melirik
puisi. Di situlah kritik Heidegger terhadap
sains pada akhirnya tidak menghasilkan
apa-apa, selain hanya kata-kata penuh
metafora.
*
Tulisan panjang Ulil, yang banyak
menyebut nama ilmuwan dan filsuf (alias:
2 Juni 2020 | Taufiqurrahman | 95
name-dropping), sebenarnya hanya punya
satu poin bahwa ia tidak suka dengan
saintisme yang ia definisikan sebagai
“pandangan yang melihat sains modern—
terutama sains dalam pengertian ilmu-
ilmu kealaman—sebagai model
paradigmatik bagi pengetahuan manusia
yang paling sempurna, karena
memberikan dasar-dasar pengetahuan
yang pasti dengan berbasis data-data
empiris”. Selebihnya adalah otobiografi
intelektual Ulil sendiri.
Saya tidak akan mengomentari perjalanan
intelektual Ulil sebab ia memang tidak
penting untuk polemik ini. Saya hanya
akan menunjukkan satu kekeliruan dan
satu kelemahan Ulil dalam
mengungkapkan ketidaksukaannya pada
saintisme.
Ulil keliru mendefinisikan saintisme. Dalam
arti yang diberikan oleh kamus, “scientism”
setidaknya punya dua pengertian: 1)
methods and attitudes typical of or
attributed to the natural scientist; dan 2) an
exaggerated trust in the efficacy of the
methods of natural science applied to all

2 Juni 2020 | Taufiqurrahman | 96


areas of investigation (as in philosophy, the
social sciences, and the humanities).
Pengertian pertama merupakan
pengertian asali dari saintisme. Dalam
lingkup pengertian itu, Mario Bunge
kemudian mendefinisikan saintisme
sebagai “the thesis that all cognitive
problems concerning the world are best
tackled adopting the scientific approach,
also called ‘the spirit of science’ and ‘the
scientific attitude’.”
Semua persoalan pengetahuan tentang
dunia sebaiknya diselesaikan dengan
menggunakan pendekatan ilmiah atau
“sikap ilmiah”. Itulah poin utama tesis
saintisme yang muncul di tengah gerakan
Pencerahan Prancis abad ke-18. Di dalam
tesis ini, sama sekali tidak ada kepongahan
seperti yang dituduhkan oleh Ulil;
saintisme justru merupakan antitesis dari
sikap keras kepala. Ilmuwan harus selalu
tunduk pada bukti-bukti empiris yang
ditemuinya, bukan pada keyakinan
personal atau bahkan teori yang telah
dirumuskannya.

2 Juni 2020 | Taufiqurrahman | 97


Dalam pengertian inilah, kata Bunge, “para
ilmuwan mempraktikkan saintisme bahkan
meskipun mereka tidak pernah mengenal
kata itu”. Apakah salah jika ilmuwan alam
menuntut orang yang menekuni bidang-
bidang keilmuan lain seperti ilmu sosial
untuk memiliki sikap ilmiah yang sama?
Saya pikir, baik secara etis maupun
epistemologis, tidak ada yang salah dalam
tesis semacam itu.
Namun, belakangan istilah 'saintisme'
digunakan dalam pengertian peyoratif
seperti pada arti kedua yang diberikan
oleh kamus. Ia menjadi semacam kartu
joker (wild-card) yang bisa digunakan
untuk mencemooh ilmuwan mana saja
tanpa kriteria yang jelas. Begitu ada
ilmuwan yang membeberkan temuan
ilmiah yang bertentangan dengan
keyakinan personal seseorang, maka kartu
joker ini bisa dikeluarkan dengan
menuduh ilmuwan tersebut mengidap
penyakit saintisme.
Dalam pengertian peyoratif itulah, Ulil
menyusun definisinya tentang saintisme.
Namun, dalam pengertian peyoratifnya

2 Juni 2020 | Taufiqurrahman | 98


sekalipun, saintisme sebenarnya tak
seremeh yang digambarkan Ulil sebagai
“kepongahan saintifik”. Ia adalah sebentuk
reduksionisme yang termanifestasi dalam
naturalisme. Naturalisme, dalam dua
varian utamanya, dibangun di atas dasar
ontologis dan epistemologis yang rigid;
sementara kritik Ulil terhadapnya hanyalah
kritik etis yang tampak begitu lemah—jika
bukan malah tidak punya dasar sama
sekali, selain hanya dasar ketidaksukaan
pribadi.
Kritik berdasarkan ketidaksukaan tidak
pernah membuktikan apa pun tentang hal
yang dikritiknya. Kita bisa tidak suka
terhadap apa saja, tanpa membuktikan
bahwa ia salah. Hukum gravitasi akan
tetap sahih dan terus bekerja, betapa pun
kita membencinya. Jika Ulil memang
hendak mengkritik naturalisme,
semestinya ia membangun kritik
metodologis atau ontologis. Tanpa kritik
semacam itu, kritiknya terhadap
naturalisme hanya akan menjadi kritik
yang tidak relevan dan juga takberdasar.
*

2 Juni 2020 | Taufiqurrahman | 99


Catatan ini bukan untuk mengagung-
agungkan sains. Sains tetap bukan sesuatu
yang sempurna. Namun, ia adalah satu-
satunya pengetahuan terbaik tentang
dunia alamiah yang mungkin kita punya.
Dan filsafat adalah cara paling tepat untuk
melakukan evaluasi kritis terhadapnya. ***
Sumber:
https://www.facebook.com/philtaufiq/posts/313615
9993108255

2 Juni 2020 | Taufiqurrahman | 100


2 JUNI 2020 | HASANUDIN ABDURAKHMAN

Kritik kepada Saintisme


Hasanudin Abdurakhman

Apa sih saintisme itu? Definisinya ada


seabreg. Salah satunya adalah pandangan
yang menganggap sains sebagai jalan
absolut dan satu-satunya untuk
mengetahui kebenaran. Ada juga yang
bilang bahwa saintisme itu adalah
kepercayaan bahwa metode ilmu alam
atau hal-hal yang dikenal dalam ilmu alam
membentuk satu-satunya unsur yang
patut untuk mencari tahu. Yang agak
"nelangsa" definisinya adalah pandangan
yang mengeliminasi dimensi psikologis
atau spiritual pada pengalaman.
Apakah ada orang-orang yang menyebut
diri mereka menjalankan saintisme? Sejauh
yang saya bisa ketahui, tidak ada.
Saintisme sepertinya julukan, atau lebih
tepatnya, ejekan terhadap orang-orang
yang terlalu percaya diri dengan metode
sains, lalu merambah ke hal-hal yang
2 Juni 2020 | Hasanudin Abdurakhman | 101
menurut para pengkritik mereka sudah di
luar wilayah sains.
Contohnya adalah Stephen Hawking.
Salah satu ucapannya yang
menjengkelkan banyak orang adalah
bahwa peran filsuf tidak ada lagi dalam
sains. Yang tersisa bagi mereka, tulis
Hawking, adalah analisa bahasa. Itu ditulis
Hawking dalam buku A Brief History of
Time.
Hawking sebenarnya sedang menjelaskan
bagaimana sains berkembang. Dulu sains
dimulai oleh para filsuf. Mereka adalah
orang-orang yang berbeda dari orang
kebanyakan. Mereka mengamati, berpikir,
dan membuat kesimpulan. Sayangnya,
mereka tidak melakukan pengukuran.
Akibatnya, banyak kesimpulan mereka
yang salah.
Para pemikir di masa selanjutnya
mengambil jalan yang berbeda. Mereka
melakukan pengamatan kuantitatif, lalu
menyusun rumusan hukum-hukum alam.
Lahirlah sains. Lalu sains berkembang. Lha,
memang kenyataan bahwa tidak ada lagi
porsi kerja filsuf. Kalau mau dipandang
2 Juni 2020 | Hasanudin Abdurakhman | 102
dari sudut sains, filsuf cuma ngoceh-
ngoceh memberi makna pada temuan-
temuan sains, tidak berkontribusi pada
proses perumusannya, dan seringkali
makna yang mereka tempelkan pada
rumusan sains itu tak tepat pula. Masuk
dalam kelompok ini adalah para pemikir
agama.
Ungkapan Hawking itu terdengar
menyakitkan bagi para filsuf yang merasa
mewarisi hak untuk mengklaim diri
sebagai inisiator sains. Ibaratnya, mereka
mau bilang, tanpa kami para filsuf mana
ada sains. Mirip dengan klaim sebagian
orang Islam, bahwa tanpa didahului orang
Islam sains Barat tidak akan pernah ada.
Betul bahwa sains diinisiasi oleh filsuf.
Betul pula bahwa sains modern berpijak di
atas pencapaian yang dibuat oleh para
ilmuwan muslim. Tapi semua itu sudah
berlalu. Itu tinggal sejarah saja.
Apakah filsuf tidak boleh berkontribusi? Ya
monggo saja. Apakah agamawan boleh
berkontribusi? Silakan. Tapi sanggupkah
mereka mengikuti protokol sains? Itu
mungkin masalahnya.
2 Juni 2020 | Hasanudin Abdurakhman | 103
Tulisan Hawking yang lain, yang juga
memicu kemarahan, adalah ketika dia
mengatakan bahwa Tuhan tidak terlibat
dalam penciptaan alam semesta. Ketika
Hawking bicara Tuhan dengan metode
sains, ia bisa dituduh telah melampaui
sains, karena Tuhan bukan lagi wilayah
kajian sains.
Namun saya memahami ungkapan
Hawking itu. Sederhana saja. Bawalah
narasi-narasi agama yang membahas
tentang bagaimana Tuhan versi agama itu
menciptakan dan mengatur alam semesta,
niscaya yang akan kita dapatkan adalah
narasi-narasi yang tak cocok dengan sains
modern. Karena itu Hawking
berkesimpulan, Tuhan yang dipercayai
melalui agama-agama itu bukan Tuhan
yang menciptakan dan mengatur alam
semesta ini.
Orang lain yang juga disorot adalah Sam
Harris. Harris melakukan sejumlah
eksperimen yang menunjukkan bahwa
gagasan soal agama dan Tuhan, ritual-
ritual, adalah hasil kerja otak belaka.
Artinya, gagasan tentang Tuhan adalah

2 Juni 2020 | Hasanudin Abdurakhman | 104


produk pikiran manusia belaka. Temuan-
temuan Harris ini sudah banyak dibantah.
Tapi sejauh yang saya tahu bantahan itu
tidak spesifik mengatakan bahwa gagasan
tentang Tuhan tidak berasal dari otak.
Yang dibantah adalah klaim bahwa di otak
ada spot khusus yang berperan mengolah
gagasan tentang Tuhan. Riset mutakhir
menunjukkan bahwa gagasan tentang
Tuhan bisa diproses di bagian yang sama
dalam otak dengan gagasan tentang sains.
Orang tak suka dengan kesimpulan bahwa
gagasan tetang Tuhan itu diproduksi otak.
Mereka percaya bahwa gagasan tentang
Tuhan dibisikkan atau disampaikan oleh
Tuhan sendiri kepada manusia, khususnya
melalui orang-orang suci. Ya monggo sih.
Silakan buktikan bahwa pengetahuan itu
berasal dari Tuhan. Gimana cara
membuktikannya? Apakah saya pongah
dengan pertanyaan itu?***
Sumber:
https://www.facebook.com/hasanudin.abdurakhman
/posts/10221924967014090

2 Juni 2020 | Hasanudin Abdurakhman | 105


2 JUNI 2020 | JAMIL MASSA

Tentang Scientist
Jamil Massa

Seorang teman mengatakan kalau scientist


adalah orang yang menjadikan sains
sebagai agama. Sejujurnya, tanpa
mengurangi rasa hormat, definisi tersebut
adalah definisi paling rusak dan paling sok
tahu yang pernah saya baca.
Di Wikipedia definisi scientist adalah
“someone who conducts scientific research
to advance knowledge in an area of
interest.” Di Kamus Oxford definisinya
menjadi semakin sempit lagi menjadi “a
person who studies one or more of the
natural sciences (for example, physics,
chemistry, and biology)”. Kamus
Cambridge pun setali tiga uang. Kamus
Besar Bahasa Indonesia Edisi V cukup
menerjemahkannya menjadi saintis, yakni
“ahli ilmu pengetahuan, khususnya ilmu
pengetahuan alam.” Ada lagi istilah
saintisme, yaitu “penggunaan metode
2 Juni 2020 | Jamil Massa | 106
ilmiah untuk memperoleh pengetahuan,
baik dalam sains dasar maupun di bidang
penelitian lainnya.”
Pendeknya, tidak ada itu pengertian
scientist atau saintis sebagai orang yang
menjadikan sains sebagai agama.
Perkaranya sederhana, konsepsi agama
adalah soal keimanan dan keyakinan yang
dilanjutkan dengan penyembahan total.
Sains sebaliknya, memulai segalanya dari
skeptisisme; kecurigaan, yang dilanjutkan
dengan penyelidikan.
Kecelakaan besar bagi siapa pun yang
memaksakan konsepsi satu dicocok-
cocokan dengan konsepsi yang lain.
Adapun soal Richard Dawkins yang
katanya pongah itu, aha, saya belum
berani berpendapat panjang lebar sebab
saya belum baca bukunya The God
Delusion. Saya baru punya The Greatest
Show on Earth (Pertunjukan Paling Agung
di Bumi) dan enak banget membaca
gagasannya di buku itu.
Tapi, membaca komentar beberapa
teman, saya pikir wajar Dawkins bersikap

2 Juni 2020 | Jamil Massa | 107


anti-agama sebagai reaksinya atas apa
yang kerap menimpa para saintis sejak
Hypatia, Giordano Bruno, Gallileo Galilei,
Charles Darwin, sampai sekarang.
Bagaimana kaum pencinta ilmu
pengetahuan kerap dirongrong tuduhan
heresy dan penistaan agama.
Itu cuma terjadi di dunia Barat? Tidak juga.
Ilmuwan-ilmuwan muslim abad
pertengahan pun tak lolos dari perlakuan
yang kurang lebih sama. Coba cek
biografinya Ibnu Sina, Al-Kindi dan Al-
Khawarizmy. Mereka adalah para ilmuwan
yang dikagumi Barat tapi dicap sesat oleh
kaum mereka sendiri di zaman itu.
Kemudian mereka dirayakan penuh
romantisme di zaman ini. Iya, dirayakan
doang.
Di satu titik, teman saya benar, di dunia
yang fana ini ada orang-orang yang entah
dengan alasan apa menjadikan sains
sebagai agama. Tapi namanya bukan
scientist, melainkan scientolog. Agamanya
disebut scientology.

2 Juni 2020 | Jamil Massa | 108


Nah, scientology inilah mungkin
pengejawantahan dari tabrak-tabrakan
konsepsi yang saya maksud di atas. Di
kalangan saintis, scientology ini tidak
dianggap sama sekali. Cuma kultus
eksentrik yang bawa-bawa nama sains.
Ndak tahu apakah kaum agamawan akan
menganggap mereka sebuah agama atau
bukan. ***
Sumber:
https://www.facebook.com/jamil.massa/posts/10157
464582964423

2 Juni 2020 | Jamil Massa | 109


2 JUNI 2020 | DWI PRANOTO

Heidegger dan Pengabaian


Goenawan Mohamad
Dwi Pranoto

Tulisan A.S. Laksana “Sains dan Hal-Hal


Baiknya” dan sanggahan Goenawan
Mohamad “Sains dan Masalah-
Masalahnya, Sulak dan Dua Kesalahannya”,
sebenarnya sama-sama menyokong sains.
Namun keduanya dipisahkan oleh sains
sebagai praksis dan “sains sebagai ide”.
Oleh karenanya, A.S. Laksana dalam “Sains
dan Hal-Hal Baiknya” lebih menyodorkan
bukti-bukti mengenai manfaat sains untuk
memecahkan masalah aktual dan
memudahkan kerja manusia. Pada sisi lain,
Goenawan berupaya membawa sains lebih
pada semacam situasi-situasi kritisnya
yang ditandai oleh kejumudan.
Sebelum kita melangkah lebih jauh, harus
dijelaskan di sini bahwa apa yang disebut
“sains sebagai ide” adalah seperti

2 Juni 2020 | Dwi Pranoto | 110


meletakan sains di atas meja operasi:
menginterogasi, mengamati,
mendeskripsikan, mendefinisikan, dan
menilai. Tentu saja, GM tidak secara ketat
melakukan langkah-langkah itu dalam
tulisannya. Namun, yang pasti, GM
meletakan sains sebagai objek; persis
seperti ia menggunakan Karl Popper
untuk membela sikap skeptisnya terhadap
sains.
Hal ini membuat GM berada di "luar" sains
dan membedakannya dengan posisi A.S.
Laksana yang relatif di "dalam" sains.
Namun, apa yang mesti diingat,
percakapan antara A.S. Laksana dan GM
berada di dalam pandemi COVID-19.
Problem paling kentara dari sanggahan
Goenawan dalam “Sains dan Masalah-
Masalahnya” adalah ia tidak mengacu
pada masalah aktual, pandemi COVID-19,
sebagai tantangan yang harus dijawab
sains saat ini.
Sanggahan Goenawan juga melepaskan
diri dari kecenderungan anti-sains dalam
masyarakat Indonesia hari ini. Padahal,
“Sains dan Hal-Hal Baiknya”,
2 Juni 2020 | Dwi Pranoto | 111
bagaimanapun, meletakan dirinya dalam
dua hal itu.
Akibatnya, sanggahan Goenawan
Mohamad hanya mempersoalkan
“berkhidmat kepada Hegel dan Heideger”
dan itupun dilepaskan dari sifat relatifnya
terhadap “berkhidmat pada sains”. Saya
tidak ingin berbantah mengenai apakah
GM “anti-Hegel” atau tidak. Tapi penilaian
GM terhadap A.S. Laksana, perihal
“berkhidmat kepada Hegel dan
Heidegger”, tidak ditarik dari kasusnya
secara utuh. Alih-alih, GM justru
merefleksikan clausa “berkhidmat kepada
Hegel dan Heidegger” melalui sejarah
dirinya sendiri.
Problem pengabaian pandemi dan
kecenderungan penanggapan sosial
terhadapnya membawa GM ke kekeliruan
selanjutnya. Bukan soal “kepastian sains”
yang disanggahnya, yang bagaimanapun
adalah kesalahan pembacaan A.S. Laksana
atas pernyataan GM.
Mungkin serangan A.S. Laksana yang
memparalelkan “kritik-kritik” GM terhadap
sains dengan “serangan gereja atas
2 Juni 2020 | Dwi Pranoto | 112
Galileo” meleset dari posisionalitas GM.
Namun, serangan A.S. Laksana tersebut
juga mesti sekaligus dibaca sebagai
respon terhadap kecenderungan
semangat anti-sains yang dihembuskan
dalam dalih-dalih keagamaan di musim
pandemi ini. Dari pada menanggapi
serangan A.S. Laksana dalam kerangka
kasus aktual, GM malah menyebut
pernyataan-pernyataan A.S. Laksana
sebagai usang sembari menegakan
posisionalitasnya sendiri.
Problem pengabaian pandemi ini berlanjut
saat GM berpidato tentang fenomenologi
Heidegger. Maksudnya, GM tidak
membawa pandemi COVID-19
“melampaui” tatapan sains dalam terang
fenomenologi Heidegger.
Hal ini tampaknya berakar pada
pemahaman GM yang keliru atas pikiran-
pikiran Heidegger. Bila GM benar
membaca “What is Thing?” (saya tidak bisa
bahasa Jerman, jadi tak membaca “Die
Frage nach dem Ding”) ia pasti tahu bahwa
Heidegger meletakkan pikiran-pikiran
filsafatnya dalam lapangan yang total

2 Juni 2020 | Dwi Pranoto | 113


berbeda dengan sains dan tidak dapat
dibandingkan. “However, with our question
we stand outside the sciences, and the
knowledge for which our question is neither
better nor worse but totally different”.
Jadi pikiran-pikiran Heidegger tidak dapat
digunakan untuk menggebuki sains. Selain
itu, pengoperasian istilah Gestell dalam
tulisan GM benar-benar jauh dari
Heideger. “Gestell” yang dalam bahasa
Inggris sering diterjemahkan “Enframing”
bukan berarti “’membaca’ realitas dalam
bentuk sudah dalam pigura”.
Gestell (dalam “What is Thing?” saya tidak
menemukan Gestell, saya menemukannya
dalam “The Questioning Concerning
Technology”) adalah semacam titik
berangkat atau posisionalitas dari
himpunan sains/teknologi, manusia, dan
alam yang di dalamnya bersamayam
potensionalitas suatu kelahiran atau
penyingkapan kebenaran, semacam suatu
ruang yang menyimpan bakal bringing-
forth, bakal poiesis. Heidegger tidak bicara
sains/teknologi sebagai suatu prosedur

2 Juni 2020 | Dwi Pranoto | 114


ilmiah dan/atau hal apapun yang ilmiah,
tapi esensi sains/teknologi.
Ia menghilangkan kategori-kategori sains
seperti sosiologi, epidemologi, fisika,
biologi. Artinya ia tidak membedakan
pembangkit listrik tenaga nuklir dengan
bom atom, tidak membedakan mesin
panen dengan instalasi gas beracun untuk
“memanen” orang-orang Yahudi di kamp
konsentrasi. Bergeser sedikit dari posisi
yang diambil Heidegger dalam
memandang esensi, kita akan menemukan
pengabaian keputusan etik dan pilihan-
pilihan politis yang memerosokan kita ke
dalam kekejian. Saya khawatir, pengabaian
GM terhadap pandemi terjadi karena
pengambilan posisi yang demikian. ***
Sumber:
https://www.facebook.com/dwitpranoto/posts/1021
9832224269565

2 Juni 2020 | Dwi Pranoto | 115


3 JUNI 2020 | LUKAS LUWARSO

Kepastian Sains dan


Pencarian Kebenaran
Lukas Luwarso

Menarik membaca esai Goenawan


Mohamad (GM) tentang “Sains dan
Masalah-Masalahnya”, menanggapi tulisan
A.S. Laksana, “Sains dan Hal-Hal Baiknya.”
Uraian GM membawa saya, peminat sains
dan filsafat, ke perdebatan nostalgic
wacana intelektual paruh pertama era
1900-an. GM memanggil nama-nama
filsuf besar, seperti Edmund Husserl,
Martin Heidegger, dan Karl Popper untuk
menegaskan posisi sentimennya pada
sains.
Filsuf besar dengan pemikiran besar
memang memikat untuk diundang dalam
perdebatan tema yang esoterik, seperti
ihwal kepastian atau kebenaran. Dan
faktual, memang perang gagasan di masa
lalu, yang kemudian kerap memunculkan

3 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 116


“isme-isme” mazhab pemikiran atau
ideologi, selalu menarik sebagai kajian.
Sangat inspiratif untuk menggugah dan
mengasah intelektualitas, sebagai refleksi
atas perubahan, perkembangan,
kemajuan, termasuk kemandekan.
Dialektika pemikiran besar dalam upaya
menafsirkan dunia telah melahirkan
sejumlah “mazhab” berpikir. Dari
rasionalisme, empirisme, idealisme,
positivisme, post-modernisme, dan entah
apa lagi. Para pemikir besar berdialektika
dan berkontradiksi sejak awal mula
munculnya fajar pemikiran. Tesis
Heraklitus dengan panta rhei (realitas
selalu berubah) mendapat antitesis
Permenides (realitas abadi, tak pernah
berubah), dan Plato men-sintesis: yang
berubah cuma realitas fisik, realitas ide
tidak berubah.
Dialektika pemikiran berlanjut
menyangkut epistemologi, “bagaimana
kita tahu apa yang kita ketahui tentang
realitas”. Antara pemikir yang
berparadigma rasionalisme (Rene
Descartes), empirisme (David Hume),

3 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 117


kritisisme (Immanuel Kant), idealisme
(Hegel), Intuisionisme (Henri Bergson),
Positivisme (AugusteComte),
fenomenologi (Edmund Husserl),
hermeneutika (Martin Heidegger),
rasionalisme-kritis (Karl Popper), post-
strukturalisme (Derrida, Lyotard). Masing-
masing menawarkan perspektif untuk
menafsirkan dunia, untuk mendapatkan
kepastian dan kebenaran.
Diskusi soal tema besar bIsa didekati
dengan dua cara, dengan merujuk dan
menelaah gagasan-gagasan sebagai
rangkaian compendium pemikiran yang
saling menegasi, melengkapi, dan
memperkuat. Atau memilih paradigma
spesifik yang selaras dengan cara berpikir
kita dalam membidik persoalan.
Mengangkat tesis atau persoalan baru,
sebagai metode dialektis untuk
memancing pemikiran, meskipun
menggunakan paradigma lama.
Sains sebagai metode berpikir untuk
memahami atau menafsirkan dunia
muncul dari proses dialektika pemikiran
manusia yang panjang. Namun metode

3 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 118


sains sebagai cara mendeskripsikan dunia
berbasis bukti yang bisa diuji, baru muncul
sekitar 300 tahun terakhir. Mengupas sains
bisa dilakukan dengan membongkar basis
paradigmatiknya (seperti yang coba
dilakukan GM), atau mengurai pencapaian
dan temuan-temuannya, khususnya
temuan baru, yang berkorelasi dalam
perubahan paradigma pemikiran.
GM mengritik sains dengan pendekatan
“fenomenologi” Husserl, “hermeneutik”
Heidegger, dan “rasionalisme-kritis” Karl
Popper. Beberapa poin kritiknya adalah:
(1) Sains bukan lagi metode menafsirkan
dunia, melainkan hanya pendukung
teknologi, sebagai si pengubah dunia. (2)
Sains menjadi panglima otoritas
pengetahuan ilmiah, mengedepankan
kepastian, bukan pencarian kebenaran; (3)
Penganut “scientiesm” berpandangan
sempit, tapi pongah. Tak mengenal kritik
atas sains yang berkembang dalam dunia
pemikiran modern; (4) Sains hanya diwakili
ilmu alam, atau ilmu riset kuantifikasi.
Sejumlah poin gugatan pada dunia sains
yang cukup menohok. Narasi GM

3 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 119


mengajak kita untuk kembali menyoal
basis paradigma sains, yang pernah
dipertanyakan para pemikir besar pada
zamannya. Namun di tahun 2020, sains
terbukti terus berkembang pesat dan
membuat berbagai penemuan baru dan
membuka pemahaman baru. Wacana yang
dipaparkan GM menyoal sains terasa
bernuansa nostalgik, kalau bukan
anakronistik.
Sebagai pemaparan historiografi
perdebatan pemikiran, kritik GM terhadap
sains mungkin valid. Namun
mempersoalkan sains, antara lain, karena
kecewa epidemiologi sebagai “otoritas”
tidak segera bisa memberi “kepastian”
tentang wabah COVID-19 adalah
hiperbolik. GM mengajak sains agar “mau
tak mau perlu mengistirahatkan prosesnya
sendiri”.
Sembari mengutip “the art of systematic
over-simplification” Karl Popper, GM
menggugat sains: “tak bisa berpanjang-
panjang melakukan riset — dan berbantah
— untuk misalnya menentukan sifat virus
yang jadi biang keladi epidemi.”

3 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 120


Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk
merespons poin-poin tudingan GM pada
sains, melainkan sekadar sebagai
pendamping. Melengkapi beberapa hal
yang terlewat dari tulisan GM, terkait
paradigma sains.

KEPASTIAN SAINS
Dalam artikel “Paradigms lost” (Aeon,
2015), David Barash, ahli biologi
evolusioner, menyebut sains bukan
sekadar tubuh pengetahuan, namun
proses dinamis rekonfigurasi pengetahuan
yang terus berproses dan berubah.
Berdiam diri (istirahat) adalah satu hal
yang sains tidak akan lakukan. Terlebih
dalam situasi krisis kemanusiaan.
Memahami realitas melalui sains adalah
kerja yang terus berlangsung (work in
progress).
Progres yang tak bisa dihentikan untuk
memahami bagaimana dunia bekerja,
dengan terus meningkatkan akurasi dan
validitasnya. Siapapun yang memiliki
aspirasi untuk selalu well-informed perlu
mengetahui bukan hanya temuan-temuan

3 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 121


sains yang penting, namun juga pada
esensi paradigma sains.
Berbeda dari ideologi, sains adalah proses
berpikir yang fleksibel untuk menerima
perubahan sejalan dengan perkembangan
pemahaman tentang dunia. Thomas Kuhn
dalam “The Structure of Scientific
Revolution” menegaskan, pengetahuan
berkembang melalui revolusi sains—
perubahan paradigma—secara radikal.
Paradigma baru menggantikan yang lama,
setiap perubahan paradigma membentuk
pemahaman baru. Revolusi sains mirip
revolusi sosial, namun tanpa genangan
darah.
Artikel Lori Chandler “Science Doesn't
Find Truth, It Understands Change,”
(Bigthink, 2015), mendeteksi gejala
merebaknya sentimen negatif pada sains,
termasuk di kalangan terpelajar. Meskipun
orang umumnya menyukai manfaat sains,
namun sikap bingung kerap terjadi dalam
memahami apa itu sains.
Ketidakpercayaan (distrust) pada sains
merebak karena adanya perubahan atau
ketidakpastian (pengetahuan kesehatan
3 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 122
sering tidak pasti, soal bahaya kolesterol,
misalnya). Sementara manusia ingin segala
sesuatu serba pasti, jika hari ini terjadi
pandemi, maunya lusa sudah tersedia obat
atau vaksinnya.
Terkait sifat virus penyebab pandemi
COVID-19, misalnya, ketidakjelasan
menyangkut asal virus dan ketidakpastian
pengobatannya, menyebabkan sebagian
orang lebih menyukai teori konspirasi
ketimbang penjelasan saintifik. Bahwa
meneliti mutasi virus dan sifatnya—
termasuk pembuatan vaksin serta
obatnya— tidak mudah dan perlu waktu,
sepertinya sulit diterima. Tidak heran jika
orang kemudian memilih penjelasan teori
konspirasi yang serba pasti.
Manusia baru mengetahui keberadaan
virus pada 1892. Penemunya ahli tanaman
dari Rusia, Dmitri Ivanovsky, botanis
yang kemudian dikenal sebagai bapak
virologi. Ivanovsky tidak sengaja
menemukan virus saat meneliti penyakit
yang menyerang perkebunan tembakau.
Sejak penemuan itu, sedikit demi sedikit
“dunia virus” mulai terungkap. Dunia

3 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 123


mikroba baru, yang sebelumnya sama
sekali tidak diketahui.
Setelah “berkenalan” dengan virus lebih
dari 100 tahun, hingga saat ini saintis
belum sepenuhnya mampu memahami
dengan pasti organisme ini. Bukan cuma
karena ukurannya sangat kecil, namun
juga karena keanekaragamannya. Virus
dengan cepat mampu bermutasi menjadi
jenis baru. Yang sejauh ini diketahui,
penyebabnya COVID-19 adalah virus baru
dari keluarga virus Corona. Keluarga virus
ini memicu wabah SARS (Severe acute
respiratory syndrome) di 29 negara, pada
2002-2003. Virus ini dinamai SARS-CoV-1,
sementara COVID-19 diamai virus SARS-
CoV-2. Sumber asal virus diperkirakan
sama, dari kelelawar. Virus biang keladi
COVID-19 sudah diidentifikasi, namun
masih perlu waktu untuk bisa
mengatasinya.
Sains mengakumulasi pengetahuan,
melakukan validasi dan invalidasi,
seringkali memerlukan waktu yang
panjang. Ketika alat untuk mengobservasi
dan meneliti alam semakin canggih (dari

3 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 124


mikroskop elektron hingga teleskop
Hubble), dunia mikro sub-partikel atom
dan dunia makro galaksi semakin
tervalidasi.
Informasi dan pengetahuan terus
terakumulasi, berbagai penemuan baru
terus terungkap. Dunia terus menerus
membuka misterinya pada sains.
Pengetahuan dan informasi baru
mengubah perspektif manusia. Dulu bumi
dikira datar, matahari dan bintang
mengelilingi bumi, kini kita tahu itu salah.
Saat ini sejumlah fakta saintifik dinegasi
dan dipersoalkan—dari bumi datar,
pendaratan manusia di bulan, perubahan
iklim, bahaya vaksinasi, hingga COVID-19
senjata biologis buatan manusia. Tentu,
mempertanyakan fakta sains sah-sah saja,
sejauh berbasis pada metode sains.
Persoalannya, orang lebih menyukai teori
konspirasi atau asumsi yang membuat
nyaman, ketimbang fakta sains yang
merisaukan. Atau berpaling pada pseudo-
sains, sejauh memberikan penjelasan yang
menyenangkan.

3 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 125


Karl Popper dalam risalahnya “Conjectures
and Refutations” mengulas problem yang
membedakan sains dan pseudo-sains.
Memilah astronomi dengan astrologi;
membedakan teori evolusi dengan
kreasionisme (intelligent design); atau ilmu
alam dengan ilmu sosial (humaniora).
Melalui penerapan prinsip falsifikasi,
Popper membuat garis demarkasi yang
jelas antara yang sains dengan yang
bukan.
Popper mengajukan “Thesis of refutability”
sebagai metode menguji teori sains, yaitu
dapat disalahkan. Pernyataan atau
hipotesis bersifat saintifik jika
dimungkinkan untuk disangkal. Popper
membuat analogi “angsa putih” yang
terkenal. Tugas sains bukan memverifikasi
bahwa semua angsa putih, karena asumsi
angsa pasti putih. Tugas sains justru
berupaya mencari angsa hitam sebagai
falsifikasi atas cara berpikir induktif bahwa
angsa pasti putih.
Popper membandingkan Teori Relativitas
Einstein dengan Teori Dialektika Sejarah
Karl Marx dan Teori Psikoanalisis Sigmund

3 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 126


Freud. Dengan menggunakan metode
falsifikasi, bagi Popper, Teori Einstein lebih
saintifik dari teori Marx dan Freud.
Menyangkal Teori Relativitas cukup
mudah, dengan membuktikan cahaya
tidak berbelok di seputar matahari, seperti
yang Einstein prediksi.
Jika cahaya lurus-lurus saja maka teorinya
salah. Menyalahkan teori Marx atau Freud
jauh lebih sulit, terlalu banyak variabel
yang inkonsisten dan sulit diprediksi,
sehingga sulit difalsifikasi. Teori Marx dan
teori Freud tidak bisa sepenuhnya
dianggap sains.
Popper mengamini kritik David Hume
pada logika induktif yang secara logis sulit
dijustifikasi. Kebenaran induktif bersifat
psikologis (contoh, karena terbit setiap
malam, maka bulan pasti muncul nanti
malam; mangga muda hijau masam, maka
semua mangga hijau pasti masam).
Popper bukan cuma sepakat dengan
Hume dalam soal kritik atas logika
induktif, namun menjabarkan dalam
metode falsifikasi untuk menolak
“kepastian” semu.
3 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 127
Dalam “The Logic of Scientific Discovery,”
Popper menyebut, alih-alih memberi
kepastian definitif (mutlak), kebenaran
sains bersifat tentatif dan aproksimatif.
Satu teori sains diamini karena
pemaparannya lebih baik dan lebih akurat.
Teori gravitasi Newton yang selama 200
tahun dianggap "kebenaran", kemudian
terbukti tidak cukup akurat dalam
memprediksi revolusi planet Merkuri
mengelilingi matahari.
Teori Relativitas Einstein bisa lebih akurat
dari Teori Newton— namun bukan berarti
Teori Gravitasi salah atau tidak berlaku
lagi. Boleh jadi Teori Einstein juga akan
direvisi suatu saat nanti. Sains tidak
menawarkan kepastian absolut, selalu
terbuka untuk dikoreksi dan diperbaiki. Ini
adalah ciri kerendahan hati etos saintifik;
bahwa sains sebagai produk ingenuitas
manusia bisa keliru atau kurang akurat.
Popper menyebut diri penganut pemikiran
critical rasionalism, kombinasi dari
ontologi empiris dengan epistemologi
rasionalis. Ia bersikap rasional kritis untuk
mengeliminasi “dogmatisme” dalam sains,

3 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 128


khususnya sebagai kritik atas paradigma
Positivisme yang diusung AugusteComte.
“Karena pengetahuan kita terbatas,
sedangkan ketidaktahuan kita tak
terbatas.” Ia memastikan, tugas sains
bukan mencari (memverifikasi) kebenaran,
melainkan mengeliminasi (mengurangi)
kesalahan, agar kebenaran bisa semakin
didekati. Bagi Popper: Truth is beyond
human authority.

PENCARIAN KEBENARAN
Upaya “mencari kebenaran”, terinspirasi
pemikiran Popper, perlu dimulai dengan
membuat garis pemisah yang jelas antara
sikap subjektif dan objektif. Dengan
metode demarkasi sains vs pseudo-sains
dan falsifikasi. Dimulai dengan memilah
antara yang epistemik (bagaimana kita
tahu) dengan yang ontologis (realitas yang
ada).
Upaya mencari kebenaran bersifat
subjektif. Tidak ada pengetahuan
epistemik yang objektif. Termasuk sains
dengan metode ilmiahnya. Pengetahuan
epistemik adalah konstruksi manusia. Kita
menamai susunan atom, struktur kimia,
3 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 129
organisme, spesies, hingga sistem planet
dan galaksi secara arbriter berbasis
konsensus (dalam hal ini konsensus
subjektif saintis dan ilmuwan).
Menafsirkan realitas ontologis adalah
upaya mencari makna hidup. Pencarian
makna lazimnya adalah wilayah agama,
spiritualitas, atau filsafat. Sains tidak
menyentuh pemaknaan, karena abstrak.
Pertanyaan saintifik yang valid bukanlah
“apa makna kehidupan”, melainkan
“bagaimana membuat hidup lebih
bermakna”. Makna hidup pada akhirnya
harus dihadapkan atau didamaikan
dengan “hal-hal yang tidak
menyenangkan” dengan dunia. Misalnya
soal penderitaan, ketidak-adilan,
kejahatan, termasuk pandemi.
Manusia tidak perlu mencari kebenaran,
melainkan cukup bagaimana menjalani
hidup dengan benar. Kebenaran mungkin
tidak akan ditemukan, karena tidak jelas
lokus-nya. Namun manusia bisa
merumuskan hal-hal benar. Kebenaran
pada akhirnya adalah soal konsensus
manusia, seperti kebenaran moralitas,

3 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 130


misalnya, adalah sebuah probabilitas. Alih-
alih terobsesi kebenaran, lebih relevan
memastikan untuk terus-menerus
berupaya mengurangi kesalahan. Richard
Rorty dalam “The Contingency of
Language” menyatakan “truth is made
rather than found.” Kebenaran merupakan
konstruksi manusia, bisa dikonstruksi dan
didekonstruksi.
Bukan tugas sains untuk mencari dan
menemukan kebenaran. Sains hanya
membantu menjelaskan realitas dunia.
Secara umum, temuan sains telah
membuka kesadaran manusia untuk
meninggalkan paradigma antroposentris
yang mengistimewakan manusia sebagai
pusat dunia. Manusia tidak istimewa, cuma
satu dari sekian banyak mahluk hidup, dan
bukan ciptaan entitas supranatural.
Stephen Hawking menyebut: “manusia
adalah buih kimia di permukaan tipikal
planet, yang mengorbit mengelilingi
tipikal matahari, di tepian tipikal galaksi.”
Manusia muncul dari proses evolusi
kehidupan yang panjang, berbagi genetik
dengan semua mahluk hidup, dari bakteri,
3 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 131
buah mangga, sampai gorila. Secara
genetik perbedaan manusia dan simpanse
kurang dari dua persen. Namun
perbedaan kecil ini memungkinkan
manusia membangun metropolitan,
membuat roket, mendarat di bulan dan
mungkin menjelajahi planet; sementara
simpanse tetap simpanse. Apa yang
membedakan? Manusia memiliki sains,
simpanse tidak. Ini kebenaran faktual yang
patut dirayakan.
Sains perlu disiarkan sebagai pegangan
hidup, karena tidak seperti ideologi,
politik, atau keyakinan, yang sering
memecah-belah, sains menyatukan
manusia. Untuk pertama kali dalam
sejarah peradaban, manusia bisa bersatu
dalam satu metode, satu pemikiran
bersama, mengabaikan latar belakang
kultural dan identitas.
Khususnya saat ini, di era pasca-kebenaran
(post-truth), fakta-alternatif, politik
identitas dan semangat tribalisme semakin
menggejala. Ketika perdebatan atau tafsir
tentang realitas mulai mengarah ke
pemikiran anti-sains. Ketika pikiran tanpa-

3 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 132


nalar memiliki platform yang sama dengan
yang nalar. Maraknya obscurantisme, teori
konspirasi, matinya ekspertise, terpilihnya
politikus busuk (Donald Trump dan
sejenisnya).
Paradigma sains mendesak untuk
dikampanyekan, oleh kita yang memiliki
nalar, sebagaimana politik
dikampanyekan. Bukan untuk tujuan
kekuasaan, tapi untuk membangun
budaya nalar, menyemai scientific temper
(perangai ilmiah) sebagai gaya hidup.
Sains penting, karena, mengutip fisikawan
Richard Feynman: “metode bagi manusia
agar tidak mudah dibodohi; karena
sejatinya manusia adalah mahluk yg
paling gampang dibodohi." ***
Sumber:
https://www.facebook.com/lukas.luwarso/posts/101
57427833700794

3 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 133


2 JUNI 2020 | SILVESTER ULE

Kasus Galileo Galilei


Silvester Ule

Kasus Galileo Gelilei dianggap sebagai


contoh kelam dalam sejarah, di mana
Gereja dianggap sebagai musuh sains.
Kasus ini sering dijadikan bukti bahwa
agama (Katolik) menentang dengan sains.
Sebelum ke kasus Galileo Galilei, kiranya
perlu dilihat lagi relasi agama dan sains.
Agama adalah aspek yang berbeda
dengan sains, dan dua-duanya tidak
bertentangan, karena berbeda dimensinya.
Banyak orang beriman yang juga adalah
ilmuwan empiris, dan banyak orang
beriman yang bukan ilmuwan empiris juga
sangat berhasrat pada pengetahuan
saintifik, tanpa merasa ada gangguan
apapun pada imannya. Lalu di mana letak
pertentangannya?
Jika ada pertentangan, maka
pertentangannya bukan antara agama dan
sains, namun antara posisi teoretis yang
2 Juni 2020 | Silvester Ule | 134
menganggap bahwa sains adalah segala-
galanya, atau lawannya yang menganggap
bahwa agama adalah segala-galanya.
Andaikan Einstein katakan bahwa agama
tidak perlu ada, karena sains adalah
jawaban dari segenap problem manusia,
maka ia tentu salah. Sebaliknya, jika
agama katakan bahwa sains tidak perlu,
karena doa adalah jawaban dari segenap
problem manusia, maka agama tentu
salah.
Dalam pandemi COVID-19, misalnya, jika
ada ilmuwan yang menganggap bahwa
Tuhan tidak ada karena tidak bisa
menghentikan pandemi, maka ilmuwan itu
tentu keliru, karena ia mengklaim sesuatu
di luar objek penelitian sains. Sebaliknya,
jika ada agama yang mengklaim bahwa
sains tidak perlu karena semuanya akan
diatasi dengan doa, maka agama tersebut
juga tidak lebih sebagai kesadaran palsu.
Atau, dalam aspek sedikit berbeda,
pertentangannya bukan antara agama dan
sains, namun antara pemeluk agama yang
dengan sadar mendukung sains, atau
pemeluk agama yang menentang sains.
2 Juni 2020 | Silvester Ule | 135
Di sisi lain, bisa saja ada pertentangan
antara ilmuwan yang bertekun dengan
metode penelitian empiris sambil tetap
beriman, dengan ilmuwan yang bertekun
dengan penelitian empiris, sambil
mengatakan bahwa segala hal yang
bertentangan dengan metode empiris
termasuk filsafat atau teologi hanya
sekedar ideologi. Kalau umat beragama,
misalnya, katakan bahwa dalam pandemi
COVID-19 orang tidak perlu taat terhadap
dokter atau penelitian ilmiah karena Allah
akan menolong, maka pernyataan ini
bersifat ideologis dan berbahaya.
Namun, sebaliknya kalau para dokter
katakan bahwa COVID-19 adalah bukti
bahwa Allah tidak ada, dan semua soal
nilai, makna religius tidak relevan, maka
mereka melewati batas metode ilmunya,
dan tentu ini juga pernyataan ideologis.
Jadi, pertentangannya bukan antara sains
dan agama, namun antara klaim pemeluk
agama yang rasional, dengan klaim
pemeluk agama yang buta terhadap
rasionalitas dan penemuan sains. Atau di
kutub lain, pertentangannya ialah antara

2 Juni 2020 | Silvester Ule | 136


klaim ilmuwan yang beriman, melawan
klaim ilmuwan yang tidak pentingkan soal
iman.
Dalam tradisi Katolik, salah satu teori
utama hukum kodrat ialah bahwa manusia
dari kodratnya berakal budi, dan
karenanya mesti dituntun oleh akal
budinya. Dengan ini, selain pelbagai
metode rasional yang berhubungan
dengan filsafat dan teologi, metode ilmu
empiris juga sebenarnya mulai
dikembangkan di Eropa dalam universitas
sejak St. Albert Magnus.
Banyak ilmuwan beriman dalam Gereja
Katolik sejak abad pertengahan, yang
tidak temukan pertentangan antara iman
dan penyelidikan empiris, sebelum narasi
empirisme sejak David Hume, atau narasi
terhadap satu kasus yang diulang-ulang;
kasus Galileo Galilei.
Empirisme Hume sudah sering diubahas,
namun narasi tentang kasus Galileo Galilei
menimbulkan keengganan umum untuk
membicarakannya, bahkan di antara
anggota Gereja sendiri. Kasus ini dianggap
menjadi bukti bahwa Gereja musuh sains.
2 Juni 2020 | Silvester Ule | 137
Bagaimana klaim Gereja yang katanya
menghargai sains, kemudian menghukum
Galileo Galilei yang justru benar dengan
teori “heliosentrisme”nya?
Secara amat sederhana, Gereja tentu keliru
berkaitan dengan teori heliosentrisme.
Namun, klaim bahwa Gereja anti sains
juga propaganda yang keliru. Bahwa
Gereja salah menghukum Galileo, kiranya
tidak diragukan. Namun, mengatakan
bahwa Galileo sepenuhnya benar, dan
Gereja anti sains, kiranya klaim hitam putih
gampangan di tengah kompleksitas
sejarah.
Mengapa?
Pada prinsipnya, hasil penelitian ilmiah
Galileo bukan hal baru di masa itu, karena
ia hanya menegaskan teori Kopernikus.
Nikolaus Kopernikus (1473-1543)
sebelumnya menerbitkan hasil
penelitiannya dalam “De revolutionibus
orbium coelestium” (Tentang Revolusi
Peredaran Benda Langit) yang berisi teori
“heliosentrisme”: bahwa bumi berputar
mengelilingi matahari.

2 Juni 2020 | Silvester Ule | 138


Kopernikus, seorang imam Katolik,
mengalamatkan tulisannya sebagai hadiah
kepada Paus Paulus III (1468-1549), yang
juga menerimanya dengan hangat.
Namun, sebelum menerbitkannya,
Kopernikus sendiri menyembunyikan
tulisannya selama beberapa saat, bukan
karena takut terhadap Gereja, melainkan
takut pada tertawaan massa di zamannya
yang menganggap teori geosentrisme
yang dipengaruhi ahli matematika Yunani
Ptolomeus dan sains Aristoteles lebih
benar.
Kopernikus bahkan diteguhkan oleh
Kardinal Nicolaus Schoenberg dari Kapua,
yang pada tahun 1536 mendorong
Kopernikus untuk “mengomunikasikan
penemuanmu pada dunia terpelajar
[masyarakat ilmiah]”.
Sesudah itu, Yohanes Kepler membuat
teori yang berbeda dengan Kopernikus, di
mana Kepler mendukung kembali teori
geosentrisme, yang dipengaruhi
matematika Ptolomeus dan sains
Aristoteles. Di sini, baik penyelidikan
Kepler dan Kopernikus dibiarkan saja

2 Juni 2020 | Silvester Ule | 139


dalam debat sains, dan semuanya ditulis
dalam bahasa Latin, bahasa debat para
ilmuwan.
Para bapak Gereja sendiri sebenarnya
hanya mendukung ilmuwan bekerja, dan
mereka sendiri menerima saja prasangka
otoritas sains di masanya yang didominasi
sains Aristoteles, dan mereka sepertinya
tidak begitu tertarik dengan astronomi
murni.
Pengaruh St. Agustinus tampaknya masih
kuat saat itu: “Orang tidak membaca
bahwa dalam Kitab Suci terkandung
perkataan Tuhan: ’Aku akan mengirimkan
engkau Penolong yang mengajarkan
gerakan matahari dan bulan”. Atau St.
Ambrosius, misalnya, menulis:
“Mendiskusikan kodrat dan posisi bumi
tidak menolong kita akan harapan pada
hidup abadi”.
Dengan ini tampaknya Gereja
mempercayakan soal sains pada
otoritasnya, sambil mendukung para imam
atau para ilmuwan bekerja, namun secara
resmi perhatian Gereja adalah soal iman
dan moral. Sebagaimana ungkapan
2 Juni 2020 | Silvester Ule | 140
Kardinal Baronio: ”Maksud Roh Kudus
ialah terutama menunjukkan bagaimana
ke surga, bukan menunjukkan bagaimana
langit [planet, bintang-bintang dan
galaksi] bekerja”.
Dalam konteks sejarah seperti ini, Gereja
sendiri mendukung penyelidikan Galileo,
di mana sahabatnya Paus Urbanus VIII
(1631-1685), manakala masih sebagai
Kardinal Maffeo Barberini, secara
antusias mendukung Galileo dengan
teleskopnya. Ia juga bertemu secara
pribadi dengan Paus Paulus V yang
menghormatinya dan mendukung
penelitiannya.
Pada tahun 1611, para Jesuit Roma
membuat upacara khusus sehari untuk
menghormati Galileo. Manakala seorang
rahib Dominikan pada tahun 1614
mengkritik Galileo dari mimbar kotbah,
pimpinan Ordo Dominikan menegur keras
secara resmi dan memaksanya meminta
maaf terhadap Galileo di hadapan hampir
setengah anggota Ordo. Padahal, ada juga
hal kemudian terbukti bahwa Galileo salah,
seperti soal jarak komet dalam debatnya

2 Juni 2020 | Silvester Ule | 141


selama kurang lebih 5 tahun dengan imam
dan astronom Jesuit Orazio Grassi (1583-
1654).
Selanjutnya, mengapa Kopernikus diterima
dengan hangat, dan Galileo menimbulkan
persoalan, padahal teorinya hampir sama?
Mengapa pada mulanya Galileo jadi anak
emas Gereja, dan setelahnya timbul
persoalan antara Gereja dan Galileo?
Pertama, Galileo menerbitkan bukunya
dalam bahasa Italia, bahasa masyarakat
kebanyakan pada masanya. Hal ini
disengaja Galileo, yang tentu
mendatangkan kegemparan, karena
dengan demikian Galileo seakan ingin
melawan masyarakat ilmiah pada
masanya. Apalagi ia mengadakan
kampanye dengan serentetan pamflet
yang tersebar di Eropa.
Keresahan pun timbul. Karena Gereja juga
memegang kekuasaan sipil, maka hal
tersebut seakan genderang perlawanan
terhadap Gereja, padahal, pada masanya
Gereja membutuhkan kestabilan, karena
mengalami masa-masa sulit (oleh

2 Juni 2020 | Silvester Ule | 142


sengatan Reformasi Martin Luther dan
Perang Salib).
Selanjutnya, yang melaporkan Galileo di
masanya bukan terutama Gereja,
melainkan kelompok ilmuwan yang
merasa terganggu dengan sikap sekaligus
klaim-klaim Galileo. Siapa yang mesti
bertindak sebagai penyelidik dan hakim?
Pada masa itu, penyelidik sipil dan religius
adalah lembaga ”inkuisisi”. Inkuisisi di satu
sisi terpisah dari Gereja, karena mereka
bertindak independen dan menyelidiki
juga soal sipil dan sains, sekaligus menjadi
bagian dari Gereja, karena menyelidiki
juga soal iman.
Kedua, saat Galileo bertemu dengan Paus
Urbanus VIII pada tahun 1623, Paus yang
adalah sahabat lamanya menerimanya dan
mengizinkannya terus menulis tentang
teori heliosentrisme, namun bukan untuk
membelanya mati-matian atau
mempertahankannya sebagai kebenaran
(karena seperti kita lihat, teori ini tidak bisa
dibuktikan Galileo atau siapapun saat itu
dengan alat yang masih terbatas), namun
sebagai sebentuk sumbangan bagi
2 Juni 2020 | Silvester Ule | 143
masyarakat ilmiah, dengan argumentasi
positif atau negatif.
Dua hal ini sebenarnya berbeda, karena
sebagaimana Kopernikus, mereka hanya
memberikan argumentasi dan pembuktian
ilmiah, dan teori itu tetap jadi bahan
pertimbangan dan studi berkelanjutan
masyarakat ilmiah. Dengan demikian, Paus
sebenarnya ingin melindunginya secara
halus, sekaligus membiarkan dia
menyelesaikan penelitiannya.
Namun, balasan Galileo terhadap sahabat
lama dan pendukungnya di masa lalu ini
terasa unik. Dalam bukunya berbahasa
Italia: “Dialogo sopra i due massimi sistemi
del mondo”, Galileo justru mengolok Paus
melalui tokoh yang dipanggil “Simplicio”,
yang berarti agak tolol atau orang yang
susah bernalar. Dalam situasi yang kacau,
apalagi dalam bahasa Italia, maka tidak
ada yang tampak lucu dengan sikap
(sebagian menafsirkan keangkuhan)
seperti ini.
Namun, ketiga, dan ini kiranya jadi soal
utama: bahwa Galileo menganggap dirinya
adalah seorang religius, di mana
2 Juni 2020 | Silvester Ule | 144
penemuan teleskopnya mesti mengubah
penafsiran Kitab Suci.
Tentu kita mudah temukan kutipan-
kutipan religius yang baik dari Galileo,
namun saat memasuki tafsiran Kitab Suci,
maka timbul persoalan. Ini soal klasik,
bukan soal pertentangan agamanya dan
metode ilmu empirisnya, namun klaim
otoritasnya yang menganggap bahwa
sebagai ahli astronomi, ia juga punya
otoritas terhadap soal iman. Dengan
pamflet-pamfletnya, ia menantang
diadakan debat teologis.
Jadi, daripada membatasi diri pada sains
seperti dilakukan Kopernikus, Galileo
sekarang masuk pada ranah teologi, dan
memaksakan penafsiran Kitab Suci
berdasarkan teorinya.
Jika Galileo berhenti pada teorinya sebagai
sains murni sebagaimana dilakukan
Kopernikus, maka mungkin tidak ada
persoalan. Namun, dengan teori yang ada,
Galileo berusaha menarik perhatian publik
dan menganggap bahwa Kitab Suci
dianggap juga mesti direvisi, karena cerita
tentang penciptaan dianggapnya
2 Juni 2020 | Silvester Ule | 145
bertentangan dengan penemuannya.
Gereja yang pada masa itu hidup dalam
masa yang sulit dan belum berkembang
secara hermeunetis pun panik dengan
sikap Galileo.
Dengan pelbagai situasi ini, buku-buku
Galileo dilarang, dan Galileo pun ditahan.
Namun, apakah Galileo disiksa secara
kejam, sebagaimana narasi umum yang
terus-menerus diulang? Dengan segenap
kegemparan yang dibuatnya, Galileo justru
hanya jadi tahanan rumah di Villa Medici
di Roma, semacam rumah istana dengan
taman yang luas, yang sama sekali jauh
dari narasi penyiksaan yang kejam dan
penjara. Ia didampingi pelayan, dikunjungi
sahabat-sahabat dan anaknya yang adalah
biarawati, dan ia juga dibiarkan
menyelesaikan penelitiannya.
Tentu saja tindakan pelarangan dan
pengucilan itu salah dan menyengsarakan
Galileo, dan banyak tulisannya
menunjukkan penderitaannya ini, karena
setiap penulis dan ilmuwan ingin bahwa
karyanya dibaca dan didiskusikan. Namun,
tetap penahanan tersebut jauh dari narasi

2 Juni 2020 | Silvester Ule | 146


kekejaman dan penyiksaan yang selalu
dipropagandakan.
Jadi, yang tampak di sini sebenarnya
bukan bahwa Gereja anti ilmu
pengetahuan, namun pertama, justru
karena Gereja sangat menghargai sains
dan ingin mempertahankan sains otoritatif
pada masanya, yaitu sains Aristoteles dan
Ptolomeus, maka Gereja merasa perlu
menolak teori baru yang dirasa
meragukan pada saat itu. Pada dasarnya,
sebagaimana ungkapan Kardinal Baronio:
“Maksud Roh Kudus ialah terutama
menunjukkan bagaimana ke surga, bukan
menunjukkan bagaimana langit [bintang-
bintang dan galaksi] bekerja”.
Namun, karena ingin mempertahankan
sains yang otoritatif, maka Gereja lebih
menerima sains Aristoteles yang diterima
lebih luas saat itu. Dengan ini, intensi
dasarnya bukan untuk menentang sains,
namun justru menyelamatkan sains,
walaupun isi dari teori itu kemudian
dianggap keliru.
Kasus Galileo bisa dibuat ilustrasi
sekenanya. Kita andaikan saja ada
2 Juni 2020 | Silvester Ule | 147
sebagian besar ilmuwan dan dokter
mengklaim bahwa ada obat tertentu bisa
menyembuhkan COVID-19. Gereja akan
ikuti saja otoritas ilmiah yang dominan
tersebut. Lalu datanglah seorang yang
mengatakan bahwa semua dokter itu
salah. Lalu, bagaimana teori orang itu
dapat diterima? Kalau dia bisa buktikan.
Namun kita bayangkan bahwa ia tidak
terlalu meyakinkan dalam pembuktian,
dan Gereja tetap mendukung masyarakat
ilmiah yang dominan. Namun, sesudahnya,
setelah semuanya lama berlalu, terbukti
bahwa orang tersebut yang benar dan
masyarakat ilmiah pada masanya salah.
Tentu posisi Gereja yang mendukung
pendapat umum ilmuwan dan dokter saat
ini, pasti kemudian dianggap keliru.
Namun, tetap tidak bisa dikatakan Gereja
anti sains, atau agama bertentangan
dengan sains, karena Gereja tahu diri
bukan ahli obat-obatan, namun ia
mengikuti otoritas masyarakat ilmiah yang
dalam banyak kasus sebelumnya telah
terbukti benar.

2 Juni 2020 | Silvester Ule | 148


Dalam kasus Galileo, inkuisisi bertugas
meminta pertanggungjawaban dan bukti,
namun dalam pertanggungjawaban
teorinya, banyak juga detailnya yang
meragukan. Sebagai contoh, tampaknya
ada bagian di mana ia katakan bahwa
bukti bumi bergerak mengelilingi matahari
adalah kenyataan bahwa air laut
berombak dan angin bertiup.
Detail pertanggungjawaban yang
meragukan juga menimbulkan banyak
tanda tanya pada masa itu. Kita hidup
pada abad ini, manakala masyarakat ilmiah
sudah mempunyai alat yang canggih
untuk membuktikan kebenaran teori
Galileo, namun pada masa itu hal ikhwal
belumlah jelas. Apalagi ia memasuki soal
iman, yang kiranya menimbulkan antipati
para pengujinya. Pelbagai keangkuhan
bertemu, dan soal pun jadi kompleks.
Kardinal Robert Bellarminus, seorang
teolog ternama saat itu, yang terkenal
sangat rasional, terbuka dan rendah hati
menganjurkan kepada Galileo untuk
mempresentasikan teorinya dalam cara
yang menunjukkan bahwa kita telah “salah

2 Juni 2020 | Silvester Ule | 149


menginterpretasikan” Kitab Suci, bukan
dalam cara bahwa Kitab Suci telah salah.
Namun, Galileo tidek bergeming dengan
gayanya sendiri.
Selanjutnya, soal yang juga penting ialah:
apakah Galileo bisa membuktikan teori
heliosentrisme pada masanya?
Narasi yang dikonstruksikan dunia modern
ialah bahwa seakan-akan pada saat itu
Gereja tahu mereka salah, namun toh
Gereja tetap menghukum Galileo sebagai
upaya melawan sains, karena sains
bertentangan dengan narasi Kitab Suci.
Pada kenyataannya, Galileo tidak pernah
membuktikan kebenaran teori ini pada
masanya. Ia tidak bisa menjawab pelbagai
pertanyaan seputar teori ini. Di tahun 1632
Galileo sendiri mengaku tidak dapat
membuktikannya, walau ia yakin teori itu
benar. Juga sampai pada tahun 1633 di
hadapan para hakim, ia tetap tidak
mampu membuktikannya. Tidak ada yang
mampu membuktikannya pada abad ke-
17, karena pembuktian eksperimental
pertama tentang “paralaks bintang” justru
terjadi pada abad ke-19.
2 Juni 2020 | Silvester Ule | 150
Teori Aristoteles tentang “paralaks
bintang” (stellar parallax), pada dasarnya
rasional dan mudah diterima oleh
masyarakat ilmiah. Teori paralaks kira-kira
berarti bahwa kalau bumi mengelilingi
matahari, maka kita bisa melihat
perubahan gerak bintang, di mana yang
dekat akan bergerak lebih cepat,
sementara ada yang jauh yang lebih
lambat.
Namun, pada masa itu, orang tidak dapat
melihat paralaks bintang dari bumi (karena
pada masanya orang belum paham bahwa
jarak bintang sedemikian jauh dan susah
diamati dengan peralatan di masa itu),
sehingga teori heliosentrisme dianggap
meragukan (pelbagai detail yang lebih
tepat, bisa lihat secara khusus stellar
parallax).
Sebaliknya, kesimpulan bahwa kita tidak
bisa melihat paralaks bintang ini terasa
sangat meyakinkan di masa itu, sementara
Galileo juga tidak punya dasar kepastian
tentang teorinya sendiri, karena alat
teleskop untuk membuktikannya belum
memadai.

2 Juni 2020 | Silvester Ule | 151


Tidak seorangpun bisa membuktikan teori
heliosentrisme saat itu, dan teori ini
ditolak juga oleh astronom ternama,
termasuk Tycho Brahe. Pembuktian teori
paralaks ini baru terjadi pada abad ke-19
berdasarkan observasi Friedrich Wilhelm
Bessel (1784-1846), dengan alat yang
sudah canggih dan berkembang.
Dengan ini, bahwa Galileo benar dalam
kesimpulan akhir tentu jelas dengan
sendirinya, namun bahwa Gereja anti sains
adalah propaganda belaka, karena Galileo
tidak pernah mampu membuktikannya,
dan Gereja justru punya niat baik
menyelamatkan sains yang dianggap
paling otoritatif pada masanya. Selain itu,
pengucilan ini tidak berhubungan dengan
doktrin infalibilitas, karena tidak terjadi
atas nama Gereja Universal; artinya secara
resmi “Ex Cathedra”, namun tanggapan
Gereja belaka atas sikap masyarakat ilmiah
dan lembaga inkuisisi, yang kemudian
direalisasikan Gereja sebagai kekuasaan
sipil saat itu, dalam situasi yang kacau.
Yang terjadi sebenarnya niat baik
menyelamatkan sains, walau kesimpulan

2 Juni 2020 | Silvester Ule | 152


terbukti salah. Justru sebagaimana
diungkapkan filsuf Alfred North
Whitehead: “Yang terburuk yang terjadi
pada ilmuwan ialah bahwa Galileo
mengalami hukuman yang terhormat dan
peringatan yang halus” (the worst that
happened to the men of science was that
Galileo suffered an honorable detention
and a mild reproof).
Dengan ini, manakala Paus Yohanes
Paulus II meminta maaf terhadap kasus
Galileo Galilei, maka hal tersebut bukan
indikasi bahwa Gereja telah melawan
sains, namun sebagai pengakuan yang
rendah hati dari Paus, bahwa dalam
konteks sejarah yang rumit, Gereja telah
menyengsarakan seorang ilmuwan yang
mendapat tempat penting dalam sejarah.
Meminta maaf dalam kasus Galileo sangat
berbeda konteksnya dengan narasi Gereja
telah bersalah terhadap sains dan mesti
dianggap sebagai musuh sains.
Justru kemudian diyakini bahwa sikap
Gereja menolak pandangan Galileo juga
“ada” benarnya, karena tidak semua
teorinya dalam soal ini benar, di mana
2 Juni 2020 | Silvester Ule | 153
Galileo percaya bahwa matahari adalah
pusat semesta, padahal matahari hanya
salah satu bintang di tengah galaksi. Atau
matahari tetap pada tempatnya, padahal
matahari juga bergerak mengelilingi
galaksi. Jadi, orang mesti menerima teori
“heliosentrisme” yang sudah digagaskan
sejak Kopernikus, namun bukan dalam
cara yang dipaparkan Galileo, namun
dalam cara yang dibuktikan sains modern.
Dengan ini, tentu hukuman tahanan
rumah bagi seorang ilmuwan kesalahan,
dan dengannya Gereja meminta maaf.
Namun, mengatakan bahwa Galileo
sepenuhnya benar, dan Gereja anti sains,
kiranya narasi sensasional yang sengaja
dibelokkan, yang jauh dari konteks
sejarah.
Akhirnya, cerita ini selalu diulang-ulang.
Ada cerita lain seperti kasus filsuf
perempuan Hypatia yang agak
meragukan, dan agak jarang disebut
(walau tetap butuh klarifikasi). Namun,
narasi favorit tetaplah kisah Galileo. Jika
satu contoh kasus diulang-ulang untuk
menegaskan narasi umum yang sama,

2 Juni 2020 | Silvester Ule | 154


maka itu tanda bahwa kasusnya sangat
jarang.
Saat orang mengulang-ulang kesalahan
saya yang sama, itu tandanya bahwa ia
tidak dapat menemukan contoh kesalahan
saya yang lain. Karena tidak ada lagi
contoh lain, maka diciptakanlah karya fiktif
yang pada awalnya diklaim sebagai karya
historis: “Da Vinci Code”. Boleh jadi suatu
saat ada yang akan percaya karya fiksi ini
sebagai karya historis, jika propaganda
media cukup berhasil. Peace. ***
Sumber:
https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid
=298416658216930&id=122675402457724

2 Juni 2020 | Silvester Ule | 155


3 JUNI 2020 | AZIS ANWAR FACHRUDIN

Saintisme Bukan Istilah


Peyoratif
Azis Anwar Fachrudin

Sebagian orang menolak penggunaan


kata “saintisme” (scientism) karena
maknanya peyoratif, dengan pengertian ia
biasa dipakai untuk merendahkan
penemuan ilmiah yang menentang
keyakinan (seringnya keyakinan
keagamaan) seseorang.
Benarkah demikian?
Jika maksud klaim itu merujuk pada
penggunaannya dalam perbincangan
publik umum, mungkin benar dalam
sebagian kasus. Tapi jika maksudnya
adalah penggunaannya dalam perdebatan
akademis, atau lebih khusus lagi dalam
wacana agama-dan-sains, tidak. Ia absah
sebagai sebuah deskripsi tentang suatu
posisi filosofis tertentu.

3 Juni 2020 | Azis Anwar Fachrudin | 156


Dalam wacana agama-dan-sains setengah
abad mutakhir, saintisme merujuk pada
pandangan atau ideologi bahwa sains
adalah penjelasan paling valid dan paling
objektif bagi segala hal yang ada. Sekali
lagi: penjelasan paling valid dan paling
objektif bagi segala hal yang ada. Boleh
juga dikatakan, saintisme ialah paham
yang menyatakan bahwa sains adalah
Kebenaran itu sendiri (dengan “K” kapital)
dengan cakupan total pada segala yang
ada. Redaksi dari definisi-definisi yang
diajukan boleh jadi berbeda, tapi acuan
maknanya pada esensinya sama.
Dengan makna ini, tidak ada yang
peyoratif sama sekali, karena ia mengacu
secara deskriptif pada suatu ideologi.
Buku-buku dan artikel-artikel jurnal ilmiah
sudah ditulis untuk mengritik saintisme,
bukan saja oleh para teolog, melainkan
juga kalangan dari latar belakang filsafat
bahkan tak sedikit dari para praktisi sains
itu sendiri. (Misal, jika mau baca artikel
untuk pembaca populer, ini tulisan
panjang dari profesor biologi: "The Folly of
Scientism"

3 Juni 2020 | Azis Anwar Fachrudin | 157


https://www.thenewatlantis.com/publicati
ons/the-folly-of-scientism)
Sebagai ilustrasi seperti apa makna yang
diacu kata “saintisme”, saya berikan tiga
contoh.
Pertama, pernyataan terkenal Stephen
Hawking di pembukaan buku The Grand
Design (2010) bahwa “filsafat telah mati”
karena gagap mengejar kemajuan sains.
Bagi Hawking, pertanyaan tentang apa
watak sejati realitas, yang biasanya
menjadi ranah filsafat, kini sudah bisa
dijawab fisika. Dengan kata lain, filsafat
tidak lagi berguna, karena otoritasnya
sudah diambil sains.
Kedua, pernyataan kimiawan Peter Atkins
dalam artikelnya Science as Truth (1995)
bahwa sains memiliki “kompetensi
universal” untuk menjelaskan segala hal
dan bersifat superior atau mengatasi ilmu-
ilmu sosial humaniora.
Ketiga, pernyataan Richard Dawkins
dalam River Out of Eden: A Darwinian View
of Life (1995): “The universe that we
observe has precisely the properties we

3 Juni 2020 | Azis Anwar Fachrudin | 158


should expect if there is, at bottom, no
design, no purpose, no evil, no good,
nothing but pitiless indifference.”
Jika kalimat Dawkins ini dimaksudkan
sebagai apa yang maksimal bisa sains
berikan, karena ia hanya bisa mengakses
yang material atau empiris (alias setia
pada “naturalisme metodologis”), tidak
ada masalah. Tetapi jika itu dimaksudkan
untuk merefleksikan kebenaran dari segala
yang ada (“naturalisme ontologis”), bahwa
begitu pula watak sejati kehidupan
manusia; yakni tidak ada baik dan jahat;
tidak ada tujuan bagi kehidupan; bahkan
tidak ada pikiran dalam otak manusia, dan
karena itu filsafat akal budi tidak ada
gunanya; maka klaim itu berubah menjadi
klaim saintisme.
Dengan tiga gambaran itu, dari sekian
banyak contoh lain yang biasa muncul dari
kelompok neo-ateis, penggunaan kata
“saintisme” tepat menyasar posisi filosofis
yang hendak diacu. Tidak ada yang
peyoratif dalam hal ini.
Kritik yang dilancarkan terhadap saintisme
juga tidak berbeda dengan kritik terhadap
3 Juni 2020 | Azis Anwar Fachrudin | 159
posisi filsafat lain. (Yang membuat neo-
ateis disebut neo-ateis dan berbeda dari
ateis-ateis lama yang ada hingga awal
abad 20 persis ada pada keyakinan
saintisme itu.)
Saintisme yang demikian ini hendak
menjadikan sains mengatasi semua bidang
ilmu, termasuk filsafat, yang melahirkan
sains itu sendiri. Ia menyatakan bahwa
segala yang ada hanyalah yang material.
Tidak berlebihan jika dikatakan, saintisme
sebenarnya ialah materialisme berbaju
sains.
Bila hendak diperas dalam dua paragraf
singkat apa kritik utama pada saintisme,
sesungguhnya tidak benar-benar sulit.
Sains tidaklah bisa mendaku sebagai
kebenaran itu sendiri sebab kebenaran
sains bertumpu pada kebenaran lain, yakni
keyakinan metafisis yang harus
diasumsikan benar agar sains bisa
bekerja— yang pernah saya tulis di
postingan lama Fesbuk saya. Di antara
contoh keyakinan metafisis itu ialah:
bahwa hukum logika dan matematis benar
(kebenaran koherensial); pikiran bisa tepat

3 Juni 2020 | Azis Anwar Fachrudin | 160


merefleksikan dunia eksternal (kebenaran
korespondensial); kausalitas riil adanya;
induksi valid sebagai metode; dan
seterusnya.
Karena bertumpu pada kebenaran lain,
sains sendiri tidak bisa membuktikan kliam
“sains adalah satu-satunya penjelasan
paling valid bagi segala hal”. Untuk bisa
menyatakan ini, sains butuh topangan lain,
yakni filsafat. Menjelaskan kebenaran
klaim itu dengan bekal sains saja, selain
tidak bisa difalsifikasi secara empiris, juga
akan berarti swa-rujukan (self-reference):
sains benar karena sains itu sendiri benar.
Dengan demikian, yang gusar dengan
saintisme seharusnya bukan saja kalangan
agamawan, tetapi juga para filsuf, para
ilmuwan sosial, dan bahkan semestinya
juga para ilmuwan alam itu sendiri.
Kalangan yang kerap mendelegitimasi
agama kerap menggunakan kata “God-of-
the-gaps”. Sebenarnya dengan nalar
saintisme, kita juga bisa memakai frasa
“philosophy-of-the-gaps” untuk ranah
kajian filsafat yang belum bisa dijelaskan
sains.

3 Juni 2020 | Azis Anwar Fachrudin | 161


*
Boleh jadi ada yang keberatan, bahwa
saintisme yang demikian itu bukan satu-
satunya definisi. Saintisme dalam
penggunaan awalnya berarti “sikap ilmiah”
(scientific attitude), untuk membedakannya
dari dogma.
Keberatan ini bagi saya terasa trivial. Jika
demikian yang dimaksud, maka itu
bukanlah makna yang diacu dalam
penggunaan dan kritik terhadap
“saintisme” dalam wacana agama-dan-
sains setengah abad mutakhir. (Kasih tahu
saya ya jika Anda menemukan dalam
wacana agama-dan-sains ada kritik
terhadap saintisme dengan acuan makna
“sikap ilmiah”.)
Menyatakan kritik terhadap saintisme
keliru karena sama saja mengkritik “sikap
ilmiah” adalah sebentuk “genetic fallacy”,
yakni kesalahan pikir karena menyalahkan
suatu konsep berdasarkan asal konsep itu
dan bukan bagaimana konsep itu
dipahami ketika diajukan oleh orang yang
menggunakannya saat ini.

3 Juni 2020 | Azis Anwar Fachrudin | 162


Saya kasih ilustrasi untuk memahami hal
ini.
Misal, kata “dogma” itu sendiri. Sekarang
ini ia cenderung bermakna kebenaran
yang diterima begitu saja tanpa sikap
kritis. Tapi “dogma” bermakna asali
“pendirian filosofis” (philosophical tenet).
Ini sama dengan kata “doktrin”: awal
mulanya ia bermakna netral saja, yakni
“ajaran” (teaching).
Kini ia cenderung berkonotasi ajaran
agama. Ketika orang mengkritik sikap
dogmatis dengan mengacu pada makna
asalinya, padahal bukan itu makna yang
dikehendaki lawan bicara, maka itu adalah
falasi. Dengan memakai makna asalinya,
klaim bahwa “sains adalah penjelasan
paling valid bagi segala hal” juga
merupakan sebentuk dogma.
Misal lain, kata “sains” itu sendiri. Makna
asalinya adalah “pengetahuan” secara
umum. Kata “ilmu” dari bahasa Arab
merupakan padanan yang pas dengan
makna ini. Di zaman pra-modern,
khususnya dalam kurikulum Aristotelian,
kata “sains” yang diacu saat ini bernama
3 Juni 2020 | Azis Anwar Fachrudin | 163
“natural philosophy” (ini frasa yang dipakai
Isaac Newton dalam Principia
Mathematica); dan kata “natural
philosophy” dipakai untuk
membedakannya dari “moral philosophy”
(yang mencakup politik, ekonomi, dan
etika).
Dalam wacana agama-dan-sains mutakhir,
kata “sains” cenderung mengacu secara
spesifik pada “ilmu-ilmu alam”. Jadi ketika
orang mengkritik santisme saat ini, kata
“sains” yang dimaksud di dalamnya adalah
ilmu-ilmu alam, bukan sains yang
bermakna pengetahuan secara umum.
Jika Anda membuka buku tentang agama-
dan-sains terbitan mutakhir, dan Anda
mengharapkan di dalamnya ada polemik
agama dengan ilmu sosial, Anda perlu
berharap juga bahwa harapan Anda
kemungkinan besar tak terpenuhi.
Demikianlah. Bukan kata yang primer,
tetapi makna dibalik kata itulah yang
seyogianya dijadikan rujukan. “La
musyahhata fil-isthilahat; tidak ada
permasalahan dalam soal istilah,” kata al-
Ghazali ketika mengajak agar tak mudah
3 Juni 2020 | Azis Anwar Fachrudin | 164
terpukau pada istilah para filsuf. “Inna al-
‘ibrah bil-ma’na,” lanjutnya, “karena yang
dipegangi adalah makna yang
dikandungnya.”
Saya pribadi bahkan punya usulan. Jika
kata “saintisme” membuat diskusi
terdistraksi oleh persoalan semantik,
istilahnya boleh diganti, yang penting
makna yang diacu sama. Bagaimana,
misalnya, jika kata saintisme kita ganti saja
jadi “sun-go-kong-isme”? ***
Sumber:
https://www.facebook.com/azis.a.fachrudin/posts/31
29793053775204

3 Juni 2020 | Azis Anwar Fachrudin | 165


3 JUNI 2020 | GOENAWAN MOHAMAD

Tanggapan Terhadap
Nirwan
Goenawan Mohamad

Dalam tulisan pendeknya yang antara lain


tertuju kepada saya, Nirwan Arsuka
membela sains dengan mengajukan
pertanyaan retoris: apakah sains “pongah
dan mengagulkan diri”? Beberapa kalimat
kemudian: “…katakanlah sains memang
pongah dan gemar mengagulkan diri.
Terus kenapa?”
Pertanyaan itu agak aneh, (artinya, saya
tak sanggup menjawabnya), tapi saya tak
akan mempersoalkannya.
Pertama, karena saya tak pernah dengar
ada yang menuduh sains demikian.
Kedua, dengan memakai metafor
“pongah” dan “mengagulkan diri”, saya
takut membawa diskusi ini ke dalam
pembahasan budi pekerti.

3 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 166


Saya lebih baik di sini bicara soal
“scientism”, yakni sikap (ada yang
menganggapnya ideologi) yang
menjunjung sains tinggi banget,
katakanlah, setinggi 10 x Monas.
Kata “scientism” (saya terjemahkan sebagai
“saintisme”) memang sudah jadi peyoratif,
dan makin sedikit orang yang menyatakan
diri sebagai pengusung saintisme. Tapi
semangatnya masih berlanjut— terutama
di kalangan pengagum Richard Dawkins
dan “Atheisme Baru”.
Sebenarnya tak pasti benar apakah
sesungguhnya Dawkins dan teman-
temannya termasuk golongan orang-
orang yang berada di jalan saintisme. Tapi
seperti mereka yang sefaham dengan
saintisme, Dawkins, pengagum dan
epigonnya, pada percaya, bahwa ilmu
pengetahuan empiris merupakan satu-
satunya dasar bagi pengetahuan sejati;
mereka juga “evidensialis”: beranggapan
bahwa pengetahuan harus bisa dibuktikan.
***

3 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 167


Dalam tanggapan saya buat tulisan A.S.
Laksana beberapa hari yang lalu — yang
juga saya pasang di sini — saya kutip Karl
Popper yang mengatakan bahwa
saintisme “secara dogmatis menekankan
otoritas pengetahuan ilmiah”.
Karena saya anggap dalam hal ini Popper
kurang terang dan tajam, akan saya
pinjam penjelasan Ian Hutchinson,
seorang fisikiawan yang mengajar sains
nuklir di MIT.
Saintisme, kata Hutchinson dalam
“Monopolizing Knowledge” (2011),
menganggap sains — artinya ilmu-ilmu
alam modern, pewaris revolusi ilmu yang
bermula sejak abad ke-16 —sebagai satu-
satunya sumber “pengetahuan yang
sebenarnya”. Kata kunci: “satu-satunya”.
Dengan batasan itu Hutchinson
menganggap saintisme sebagai “a ghastly
intellectual mistake”, kesalahan intelektual
yang mengerikan. Para penganut
saintisme misaknya menganggap
keyakinan agama, karena tak “ilmiah”,
berarti tak rasional dan tak dapat
dibenarkan. Padahal, kata Hutchinson,
3 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 168
“banyak keyakinan penting, baik yang
sekuler maupun yang religius…bisa
dibenarkan (justified) dan rasional, tapi
tidak ilmiah”.
Dengan kata lain, jika “tidak ilmiah” itu
artinya tidak mengikuti prosedur ilmu-ilmu
alam modern dengan kekuatan
kuantifikasinya— yang menurut Husserl
dimulai Galileo di abad ke-7 — tak berarti
itu pengetahuan yang keliru, kuno, dan
dianggap sudah (pantas) mati. Atau hanya
pandangan berdasarkan suka dan tak suka
secara pribadi.
Beberapa saintis memang cenderung
memonoli pengetahuan dan kebenaran. Di
tahun 1995 Peter Atkins, kimiawan
Inggris yang banyak menulis itu, membuat
satu esei, “Science as Truth”. Ia
menegaskan “kompetensi universal sains”,
“universal competence of science”. Yang ia
maksudkan, ia anggap sains punya
kompetensi untuk menjelaskan segala hal,
kapan saja, di mana saja.
Lebih tegas lagi kita temukan dalam
pembukaan buku “The Grand Design”
yang tersohor yang disusun Stephen
3 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 169
Hawking dan Leonard Mlodinow. Di situ
dikatakan “filsafat sudah mati” dan
pertanyaan dasar seperti tentang “kodrat
realitas” sudah diambil alih untuk dijawab
sains, terutama ilmu fisika.
Ini bisa dianggap kepongahan Hawking,
tapi karena saya tak ingin membahas budi
pekerti, lebih baik saya katakan
pernyataan itu tak menyelesaikan
pertanyaan yang lebih dasar.
Ada pertanyaan Einstein yang menggaungkan
satu paradoks yang dalam: “The most
incomprehensible thing about the universe
is that it is comprehensible.” Hawking and
Mlodinow mengutip ini dan menjawab: “The
universe is comprehensible because it is
governed by scientific laws; that is to say,
its behavior can be modeled.”
Yang tak ditanyakan lagi oleh dua orang
piawai itu: mengapa alam semesta kita kok
diatur oleh hukum-hukum sains, “governed
by scientific laws.” Itu pertanyaan Einstein
yang tersirat dalam paradoks yang
dikemukakannya. Itu pertanyaan filsafat
yang belum mati.

3 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 170


Walhasil, kemajuan sains memang
dahsyat. Karya Hawking mengagumkan.
Maka saya tak meragukan apa yang
didapat manusia dari sains. Yang saya
ingin tunjukkan: sains, sebagaimana yang
dipikul saintism, tak menyelesaikan
pertanyaan-pertanyaan yang penting,
sementara ia diletakkan dalam posisi
palsu: “memonopoli pengetahuan.” ***

3 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 171


3 JUNI 2020 | ARDI KRESNA CRENATA

Sains, Agama, dan


Kesalahan Kita
Ardi Kresna Crenata

Di hadapan Mehdi Hasan, dalam program


Head to Head produksi Al Jazeera English,
Richard Dawkins memaparkan
pemahamannya soal agama. Ia seorang
saintis yang positivistik dan sangat
mengandalkan rasionalitas horisontal--
bandingkan dengan rasionalitas vertikal
atau meta-rasionalitas yang memberi
ruang bagi spiritualitas dan iman--dan
pandangannya soal agama sangat
reduktif.
Yang dilihatnya dari Kristen, misalnya,
adalah bahwa agama ini menjebak para
pengikutnya di dalam kerangka berpikir
yang sempit. Dawkins memang terang-
terangan dan keras dalam menyerang
dogma Kristen. Ia muak dengan para
pendeta yang mengajak anak-anak untuk
selalu bertolak pada iman Kristen dan di
3 Juni 2020 | Ardi Kresna Crenata | 172
saat yang sama melihat sains sebagai
semacam produk kelas dua.
Di program itu, Mehdi Hasan memang
sedang mengajak Dawkins berdebat soal
apa yang dikemukakannya di bukunya
yang sangat kontroversial, The God
Delusion. Buku ini ditulis dengan
semangat membara seorang ateis garis
keras yang mencoba menyadarkan orang-
orang bahwa beragama itu nonsens,
bahwa agama tidak layak dianut apalagi
dibela dan diperjuangkan.
Ada juga versi film dokumenter dari buku
ini, dengan semangat yang kurang-lebih
sama. Intinya di The God Delusion Dawkins
memaparkan bahwa ada terlalu banyak hal
tak masuk akal di dalam agama dan
sebagai seseorang yang hidup di era
modern ia tak habis pikir orang-orang
mau-mau saja membiarkan diri mereka
dikekang olehnya, bahkan tenggelam di
dalamnya. Di kata pengantar buku ini,
dengan penuh percaya diri, Dawkins
mengatakan bahwa jika seseorang
membaca buku tersebut dengan baik ia
pastilah akan menanggalkan dan

3 Juni 2020 | Ardi Kresna Crenata | 173


meninggalkan agamanya dan menjadi
ateis.
Mehdi Hasan, yang seorang muslim dan
sekaligus intelektual, yang menaruh
perhatian pada realitas politik global dan
karena itu perspektifnya luas, tidak
sepakat dengan Dawkins. Beberapa kali ia
melontarkan pertanyaan-pertanyaan
untuk membantah argumentasi-
argumentasi Dawkins, seperti apakah
Dawkins yakin bahwa akar masalah dari
setiap konflik berbau agama di dunia ini
adalah agama-agama itu sendiri dan
bukannya iklim geopolitik yang toksik.
Dawkins tentu saja bersikeras dengan
pendiriannya. Dan memang ia tidak bisa
diharapkan memiliki perspektif seluas itu
mengingat yang ditekuninya adalah
biologi, bukan sejarah atau sosiologi atau
politik.
Yang menarik adalah, di satu titik, setelah
Dawkins mengutarakan pendapatnya
bahwa Tuhan itu tidak ada dan bahwa
argumentasi-argumentasi yang
dilontarkan kaum agamawan untuk
membuktikan keberadaan-Nya cacat nalar,
3 Juni 2020 | Ardi Kresna Crenata | 174
Mehdi Hasan bertanya, apakah Dawkins
akan mengakui keberadaan Tuhan jika
suatu saat nanti Tuhan ternyata bisa juga
dialami secara empiris.
Sebagai seorang saintis yang positivistik
Dawkins begitu mengagungkan
penginderaan-penginderaan yang sifatnya
konkret, bahwa benar atau tidaknya
sesuatu, bahwa ada atau tidaknya sesuatu,
harus bisa dibuktikan secara empiris,
sesuai dengan rasionalitas horisontal tadi.
Jawaban Dawkins, di luar dugaan, adalah
iya. Ia mengaku bahwa ia akan menerima
keberadaan Tuhan apabila suatu saat nanti
Tuhan bisa dialaminya secara empiris.
Kasus ini menunjukkan dua hal. Pertama,
nalar positivistik itu cacat. Kedua, sikap
sportif di diri seorang saintis bisa
mencegahnya dari terperosok ke jurang
arogansi yang dalam.
Dengan mengatakan bahwa keberadaan
Tuhan bisa diterima apabila Ia bisa dialami
secara empiris, Dawkins sejatinya sedang
mengatakan bahwa pandangannya yang
kokoh soal Tuhan itu tidak ada bisa jadi
ternyata tak sekokoh itu, bahwa
3 Juni 2020 | Ardi Kresna Crenata | 175
argumentasi-argumentasi yang selama ini
dilontarkannya untuk mendukung
pandangannya itu bisa jadi tak
sepenuhnya logis seperti yang ia kira. Ada
hal-hal yang ia lewatkan, dengan kata lain.
Dan apa hal-hal itu?
Terlalu banyak untuk disebutkan di sini.
Yang jelas, rasionalitas horisontal saja
terbukti tak cukup mampu membuat
seseorang memahami realitas dan hal-hal
di dalamnya dengan baik. Seseorang itu
juga perlu memiliki kesadaran versi
Michael S.A. Graziano, bahwa ia harus
memosisikan dirinya di posisi dirinya dan
bukan-dirinya untuk bisa benar-benar
memahami realitas dan hal-hal yang ada
di dalamnya.
Memang, tak bisa dimungkiri, jika kita
bicara soal kemajuan teknologi dan
berkembangnya peradaban maka sainslah
yang mengungguli agama. Tumbuh
pesatnya perekonomian Cina dalam
beberapa dekade terakhir adalah berkat
sains, bukan agama. Jepang bangkit
setelah kekalahan menyakitkan di Perang
Dunia II adalah berkat sains, bukan agama.
3 Juni 2020 | Ardi Kresna Crenata | 176
Dan Jerman menempati posisi strategisnya
di Eropa seperti saat ini adalah juga berkat
sains, bukan agama. Sains, sains, dan sains.
Itulah yang akan kita lihat saat kita fokus
pada pertumbuhan fisik, pada sesuatu
yang sifatnya konkret dan kasatmata.
Tapi jangan salah, hal-hal abstrak dan tak
kasatmata yang merupakan bagian dari
berkembangnya peradaban banyak juga
yang dipengaruhi oleh sains, seperti
kesadaran gender, kesadaran ekologis,
dan kesadaran sosial.
Lalu bagaimana dengan agama? Apakah
di zaman yang sudah sangat modern ini
agama sudah tak dibutuhkan lagi? Apakah
agama memang telah sebegitu jauhnya
tertinggal oleh sains? Jawabannya tidak
sesederhana iya atau tidak. Kita harus
terlebih dahulu melihat konteksnya.
Misalnya, sains akan sangat membantu
kita dalam upaya memahami bagaimana
realitas konkret bekerja. Agama pun bisa
mengambil peran ini, sebenarnya, tetapi
sains lebih bisa dipercaya. Sains
membantu kita memahami bagaimana
planet ini terus mengalami kerusakan dari
3 Juni 2020 | Ardi Kresna Crenata | 177
waktu ke waktu, yang sebagian besar di
antaranya adalah karena ulah kita.
Sains membantu kita memahami kenapa
kesenjangan sosial-ekonomi bisa sampai
ada dan masih saja terus ada, di mana di
sejumlah kawasan justru malah semakin
parah. Sains pun membantu kita
memahami kenapa kesadaran gender
kolektif yang levelnya tinggi sulit sekali
dicapai di negara-negara yang
masyarakatnya relatif konservatif dan
agamis. Dan dengan adanya bantuan-
bantuan dari sains ini, sedikit-banyak, kita
bisa melakukan perubahan-perubahan
positif, paling tidak di skala yang kecil dan
privat.
Agama tak bisa membawa kita sampai ke
sana sebab penjelasan-penjelasan yang
ditawarkannya seringkali kurang mendetail
dan kalaupun mendetail umumnya
terkendala oleh konteks. Dalam hal ini
sains mengungguli agama. Agamalah
justru si produk kelas dua, bukan sains.
Tetapi di situasi yang berbeda, untuk hal
yang berbeda, posisinya bisa saja
sebaliknya. Misalnya ketika seseorang
3 Juni 2020 | Ardi Kresna Crenata | 178
sedang sangat kesulitan entah itu secara
ekonomi atau sosial, seperti ia
dicengkeram kemiskinan atau
diperlakukan dengan buruk oleh orang-
orang di sekitarnya, agamalah justru yang
umum menjadi pegangan, bukan sains.
Karena agama mampu memberikan
sesuatu yang tak mampu diberikan oleh
sains: ketenangan batin. Setiap agama
pada dasarnya menawarkan hal tersebut
sebagai semacam utopia-yang-mungkin-
dicapai. Sains tidak menawarkan itu
karena, pada dasarnya, yang berupaya
dilakukan sains adalah mengungkap
kebenaran, adalah menyingkap tirai-tirai
tak kasatmata yang memerangkap kita di
dalam ilusi. Agama tidak begitu. Meski
memang agama sekilas seperti bicara soal
mana yang benar dan mana yang salah,
jika ditelisik lebih lanjut ia sebenarnya
lebih bicara soal mana yang baik dan
mana yang buruk.
Agama berkutat dengan kebijaksanaan,
sementara sains berkutat dengan
kebenaran. Dan seseorang umumnya lebih
membutuhkan kebijaksanaan ketika ia

3 Juni 2020 | Ardi Kresna Crenata | 179


sedang berada di dalam situasi sulit, ketika
ia merasa beban yang harus
ditanggungnya terlalu besar dan ia
frustrasi. Paling tidak, agama mampu
membuatnya kembali memiliki dorongan
hidup, dan itu penting. Dalam hal ini jelas
sekali bahwa agama mengungguli sains.
Dan masih ada banyak situasi lainnya.
Intinya, kita tidak bisa begitu saja
mengatakan bahwa sains mengungguli
agama atau sebaliknya, apalagi jika
keunggulan di sini adalah keunggulan
yang sifatnya absolut. Setiap keunggulan
selalu memiliki konteks, dan konteks inilah
yang harus kita lihat dan cermati. Orang-
orang yang mengatakan bahwa sains
sudah pasti mengungguli agama sama
kelirunya dengan orang-orang yang
mengatakan bahwa agama jelas-jelas
mengungguli sains. Mereka sama-sama
tenggelam di dalam arogansinya yang
toksik dan menjijikkan.
Dan lebih keliru lagi orang-orang yang
beranggapan bahwa sains sudah pasti
benar atau agama sudah pasti benar.
Sains, kendati terkesan objektif dan bisa

3 Juni 2020 | Ardi Kresna Crenata | 180


dipertanggung jawabkan, kenyataannya
juga dibayang-bayangi bias dan
subjektivitas. Sedari dulu seperti itu.
Terkait hal ini Michel Foucault
sebenarnya sudah mengingatkan kita dari
jauh-jauh hari. Sains bisa diarahkan atau
bahkan digerakkan oleh ideologi, oleh
paradigma, oleh epistema. Sebagai
contoh, dunia kedokteran di Amerika
Serikat pada zaman dulu masih sangat
diracuni oleh rasialisme yang menargetkan
orang-orang kulit hitam; dan sebuah
sekolah kedokteran terkemuka di Jepang
hingga beberapa tahun silam masih
sangat dikotori oleh seksime.
Sains yang konon objektif dan bisa
dipertanggungjawabkan itu ternyata
begitu subjektif, begitu toksik dan
menggelikan. Dalam hal ini ia relatif sama
saja dengan agama. Ia bisa menjadi busuk
di tangan orang-orang yang busuk. Ia bisa
menjadi busuk apabila digerakkan oleh
sistem yang busuk.
Lantas apa? Sederhana saja, sebenarnya,
yakni bahwa balas-membalas tulisan
"saintifik" dalam upaya menentukan mana
3 Juni 2020 | Ardi Kresna Crenata | 181
yang lebih unggul antara sains dan agama,
apalagi secara fanatik atau membabi buta,
adalah sebuah kekonyolan. Itu sungguh
tidak penting dan salah fokus. Kalaupun
mau, yang dibahas di tulisan-tulisan itu
adalah bagaimana sains maupun agama
bisa lebih bisa berperan positif dalam
membantu kita mengatasi situasi kritis
yang saat ini tengah kita hadapi.
Pandemi COVID-19 itu nyata. Ancaman
bangkitnya otoritarianisme itu nyata. Krisis
kemanusiaan di Yaman dan sejumlah
kawasan lainnya di Timur Tengah itu
nyata. Bagaimana sains dan agama bisa
membantu kita mengatasi hal-hal seperti
ini, semestinya itulah yang menjadi fokus
kita, bukannya menentukan mana di
antara keduanya yang lebih unggul dan
karenanya lebih baik. Dan sungguh lucu
sekali apabila aktvitas balas-membalas
tulisan ini diniatkan sebagai semacam
kerja intelektual. Itu ... terlalu
dipaksakan.***
Sumber:
https://www.facebook.com/ardysama/posts/102223
65899393945

3 Juni 2020 | Ardi Kresna Crenata | 182


3 JUNI 2020 | ULIL ABSHAR ABDALLA

Antara Sains dan Soto


Ulil Abshar Abdalla

Saya sering membaca di beberapa buku


sains populer yang terus terang amat saya
nikmati itu suatu statemen yang kira-kira
bisa diringkaskan dengan kalimat berikut:
Perbedaan mendasar antara sains dan
agama adalah bahwa dalam sains, seorang
saintis akan dengan gembira menyambut
koreksi dan kritik oleh sesama koleganya
manakala teori yang ia ajukan terbukti
salah; atau, dalam istilah filsuf Karl Popper,
"di-falsifikasi". Dia tidak akan
mengkafirkan saintis lain yang telah
mengoreksinya, apalagi melaporkannya ke
majlis inkuisisi untuk diadili.
Ini, kata para pendukung sains, berbeda
dengan agama. Di sana, seseorang yang
berbeda mazhab atau sekte bisa
dikafirkan, dimusuhi, diadili, bahkan
dibunuh. Dalam agama, perbedaan akidah
dan pendapat bisa berujung pada perang.
3 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla | 183
Hujjah ini, tentu saja, dikemukakan
sebagai alat untuk "mengejek" agama,
seraya mengunggulkan sains sebagai
diskursus yang lebih superior, lebih
"beradab", karena ia rasional, matang,
tidak menimbulkan permusuhan.
Para pecinta sains (catatan: sains di sini
saya maksudkan sebagai ilmu-ilmu
kealaman, bukan "social sciences") di
mana-mana, termasuk di Indonesia, sering
pula mengulang-ngulang mantra klise ini,
mantra yang tak bisa dipungkiri bernada
"kepongahan" (ini adalah terjemahan saya
untuk istilah "scientific boasting" yang
dipakai oleh David Berlinski dalam
bukunya "Devil's Delusion").
Mari kita teliti, apakah pernyataan ini
benar.
Kita tak bisa mengingkari adanya
pertikaian antara mazhab dan sekte dalam
sejarah agama-agama. Eropa mengenal
tiga puluh tahun perang agama pada abad
ke-17 yang berkecamuk di Jerman akibat
Reformasi Protestan. Islam mengenal
konflik Sunni-Syiah yang berdarah-darah,
baik pada masa klasik atau modern.
3 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla | 184
Sejarah kelam agama seperti ini, terutama
dalam lingkungan dua agama semitik
(Kristen dan Islam), tidak bisa diingkari.
Saya pun membaca sejarah hitam seperti
ini dengan perasaan masygul, kadang
marah: kenapa ajaran Tuhan yang
dimaksudkan untuk menegakkan
kehidupan yang damai di bumi, justru
menimbulkan perang yang berdarah-
darah?
Penjelasan yang komprehensif mengenai
paradoks seperti ini, bisa dibaca dalam
buku yang ditulis Karen Armstrong,
"Fields of Blood: Religion and the History of
Violence" (2014). Tetapi saya punya
penjelasan sendiri.
Menjadikan sejarah kelam agama sebagai
alat untuk "bragging", menepuk dada dan
mengejek agama seperti dilakukan oleh
(sebagian) saintis dan para pendukungnya,
bagi saya, bisa tampak menggelikan.
Mari kita telaah, kenapa tidak ada perang
karena perbedaan pendapat dalam sains.
Tanpa meneliti lebih saksama hal ini, kita
bisa tertipu oleh "argumen retoris" para
pendukung sains itu.
3 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla | 185
Baik sains dan agama, secara ontologis
atau wujudiah, masuk dalam wilayah yang
sama: keduanya adalah bagian dari
aktivitas mental manusia, meskipun dasar-
dasar legitimasinya beda; agama
bersumber dari wahyu, sains dari observasi
atas data-data empiris.
Tetapi keduanya jelas berbeda secara
mendasar dari segi berikut ini: agama
masuk dalam apa yang oleh teolog
Lutheran Paul Tillich disebut sebagai "the
ultimate concern", hal yang begitu
mendalam mempengaruhi "psyche", jiwa,
dan emosi manusia karena menyangkut
pertanyaan mendasar dalam hidup.
Perbedaan dalam hal-hal yang
menyangkut "the ultimate concern"
memang rawan menimbulkan konflik,
karena menyangkut emosi yang terdalam
pada diri manusia.
Sementara watak sains berbeda: dia
bersifat rasional, dan cenderung tidak
menyentuh emosi manusia yang terdalam.
Karena itu, tak ada seorang pun bersedia
mati berjihad untuk membela teori
gravitasi, atau mempertahankan

3 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla | 186


persamaan Einstein E = mc². Untuk apa,
kok seperti kurang pekerjaan saja?
Perbedaan dalam sains tidak melibatkan
"high stake" dalam hidup manusia yang
memiliki kesadaran, karena tidak
menyangkut "the ultimate concern".
Seorang saintis memang tidak akan
bertengkar hingga berujung pada konflik
fisik karena perbedaan hipotesis atau
interpretasi terhadap suatu data. Tetapi ini
tidaklah sesuatu yang khas sains. Betapa
banyak bidang dalam kehidupan manusia
di mana perbedaan di sana tidak berujung
pada konflik dan saling mengkafirkan,
karena tak menyangkut "the ultimate
concern".
Para sarjana sastra tidak berperang karena
perbedaan teori dan pendekatan. Para ahli
hukum tidak bertikai secara fisik karena
perbedaan mazhab. Para pelatih bola tidak
berseteru karena perbedaan strategi.
Para chef tidak bertengkar karena berbeda
dalam menilai resep makanan. Para juri
dalam kompetisi musik tidak saling
mengafirkan karena berselisih pandangan

3 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla | 187


dalam menilai penampilan seorang
kontestan. Seorang kritikus seni atau
lukisan bisa berbeda dalam menilai mana
lukisan yang paling "menggetarkan",
tetapi mereka tidak saling baku-hantam.
Dua orang Ngawi (ini sekadar contoh saja)
tak akan saling memurtadkan karena salah
satunya beranggapan bahwa Soto
Lamongan lebih lezat ketimbang Soto
Bangkong. Mereka berbeda, tetapi tidak
akan adu-jotos.
Contoh-contoh semacam ini tak terhitung
jumlahnya dalam kehidupan sehari-hari.
Sains bukanlah satu-satunya "human
enterprise" yang patut merasa pongah
dengan sebuah klaim bahwa perbedaan di
dalamnya tidak menimbulkan konflik
berdarah-darah. Tak ada yang spesial
pada sains dalam aspek ini. Biasa saja.
Tidak semua perbedaan dalam agama
juga berujung pada pengkafiran dan
konflik. Perbedaan dalam forum bahtsul
masa'il di antara para kiai NU dalam
merumuskan sebuah fatwa, tidak berujung
pada pengafiran. Ribuan bahtsul masa'il

3 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla | 188


saya saksikan dalam sejarah NU, dan tidak
ada satu pun cekcok berdarah-darah
muncul di sana.
Harus diingat pula, perbedaan yang
menimbulkan konflik dan perang tidaklah
monopoli agama. Perang dingin yang
melibatkan perlombaan senjata nuklir
yang nyaris memusnahkan spesies
manusia, berlangsung sejak dekade tahun
1950-an sampai runtuhnya Tembok Berlin
pada 1991. Dalam Perang Dingin ini, dua
mazhab sekuler, bukan agama, saling
berseteru: kapitalisme dan komunisme.
Apakah para pendukung sains akan
mengatakan bahwa: sains lebih unggul
tinimbang ideologi kapitalisme atau
sosialisme, hanya karena para saintis bisa
berbeda secara beradab dan tidak
berujung pada perang, baik dingin,
setengah dingin, atau panas?
Nasionalisme adalah ideologi modern
yang memiliki sejarah yang rumit: ada
sejarah terang, ada sejarah gelap. Sejarah
terang nasionalisme ditandai dengan
lahirnya negara-negara nasional yang
memberikan "ruang sosial-kultural" bagi
3 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla | 189
miliaran penduduk bumi untuk
membangun peradaban mereka masing-
masing, termasuk bagi para saintis untuk
bekerja.
Tetapi nasionalisme juga punya sejarah
yang amat kelam. Kita menyaksikan hal ini
berkali-kali dalam era modern: Kashmir,
Palestina, Rohingya, Uyghur, Bosnia,
Timor-Timur, dan lain-lain. Apakah sains
akan menepuk dada pula bahwa dirinya
lebih unggul dari ideologi nasionalisme
karena para saintis bisa berbeda pendapat
tanpa menimbulkan "perang"?
Perbedaan dalam sains tidak menimbulkan
konflik dan perang karena ia tidak
melibatkan "the ultimate concern" yang
menyentuh emosi manusia yang terdalam.
Dia adalah kegiatan serebral yang tidak
membangkitkan emosi.
Jika sebagian pendukung sains berpikiran
bahwa agama harus dihapuskan saja (jika
bisa!) karena hanya menimbulkan konflik,
maka nasionalisme dan negara-negara
nasional modern juga harus dihapuskan.
Pemilu langsung juga layak ditiadakan
sama sekali, karena potensial menyulut
3 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla | 190
konflik, sekurang-kurangnya seperti
terlihat dalam pilpres kita yang terakhir.
Apakah demokrasi juga kalah unggul
dibanding sains, karena perbedaan di sana
potensial memantik kerusuhan seperti
terjadi di Amerika hari-hari ini?
Konflik dalam kehidupan manusia adalah
fakta yang tak terhindarkan; pemantiknya
bisa agama atau ideologi sekular. Konflik
ini bisa diatasi, dan karena itu muncul
disiplin keilmuan yang bernama "conflict
resolution".
Tetapi menepuk dada seperti dilakukan
sebagian pendukung sains bahwa mereka
bisa berbeda tanpa baku-hantam, dan
karena itu bidang yang mereka geluti lebih
superior tinimbang bidang-bidang lain,
jelas menggelikan. Karena dua orang
Ngawi yang saya ceritakan tadi juga
melakukan hal yang sama: mereka
berbeda, dan tidak berujung pada konflik.
Bedanya hanya satu: dua orang Ngawi itu
tidak pongah. Mereka berbeda soal soto,
dan tetap bersahabat, tidak saling
mengafirkan. Tetapi mereka tidak lalu

3 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla | 191


berpikiran bahwa agama, nasionalisme,
demokrasi, dan kapitalisme kalah unggul
dibanding soto.
Bahwa soto perlu ada, saya sepakat. Tetapi
meremehkan dan mengejek hal-hal lain di
luar soto, seolah-olah yang non-soto
adalah non-sense, itulah sejenis
kepongahan. Sekian.***
Sumber:
https://www.facebook.com/ulil67/posts/1016382919
9355533

3 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla | 192


3 JUNI 2020 | F. BUDI HARDIMAN

Saintisme dan Momok-


Momok Lain
Interupsi untuk Goenawan Mohamad dan A.S.
Laksana

F. Budi Hardiman

Goenawan Mohamad (GM) dan A.S.


Laksana (ASL) berdebat di Facebook.
Dibanding perdebatan politis di TV yang
kerap tidak lebih dari hembus angin,
perdebatan tertulis mereka punya mutu
yang merangsang nalar. Belum banyak
yang mereka gali. Mereka berselisih sikap
atas sains.
Tapi sayang sekali, mereka bertarung
tanpa membedakan kancah mereka.
Kedua penulis berdebat dalam area-area
yang berbeda dalam diskusi sains. ASL
sibuk dengan aksiologi, tentang
bagaimana sains berdampak secara
historis pada masyarakat. Sementara itu,
untuk klarifikasi sikapnya GM malah

3 Juni 2020 | F. Budi Hardiman | 193


melantur ke epistemologi, tentang
bagaimana sains meraih hasilnya (Husserl
dan Popper), atau bahkan ontologi
(Heidegger), tentang realitas yang didekati
sains. Kancah itu tumpang tindih. Tapi
mereka terlanjur saling senggol.
Jika ini arena tinju, yang mereka tampilkan
belum pertandingan yang ditunggu.
Mereka baru ada di “babak adu mulut”
untuk menunjukkan siapa mereka. ASL
tampil antusias pada sains, sementara GM
bersikap hati-hati dengan antusiasme itu.
ASL bilang GM memuja atau - istilah dia -
“berkhidmat pada” Hegel, tapi GM
membantah dengan menyatakan dirinya
anti-Hegelian.
Kalaupun melangkah lebih jauh dari adu
mulut, keduanya paling-paling baru
berjalan berkeliling ring tinju sambil
memamerkan kehebatan mereka
mengingat nama dan peristiwa. ASL
mengacungkan tinjunya dengan tesis
kemajuan yang dibawa sains. Di
seberangnya, GM memanggil nama-nama
besar yang menurutnya kurang familiar
bagi ASL, seperti Husserl, Heidegger dan

3 Juni 2020 | F. Budi Hardiman | 194


tentu saja Popper. Penonton sudah tidak
sabar melihat bogem mendarat ke muka.
Debat memang belum menukik. Meski
begitu, debat tulisan mereka sangat
menjanjikan untuk berkembang menjadi
silang gagasan bermutu yang mendidik
publik kita agar tidak hanya haus sensasi,
tapi juga lapar nalar.
Untuk itu saya minta izin untuk masuk ke
dalam kancah mereka. Bukan untuk
memenangkan, melainkan untuk sekadar
memanaskan. “Panasnya pertarungan,”
kata Bob Marley, ”adalah semanis
kemenangan”.
*
ASL dan GM jelas berbeda sikap. Namun
mereka sebenarnya berada dalam perahu
sama yang berbendera kritisisme. Mereka
alergis terhadap dogmatisme jenis
manapun. Seperti para antusias
Pencerahan Eropa – semoga saya salah -
ASL kelihatannya lega, kalau sains akhirnya
bisa mendepak agama, karena
dogmatisme bercokol di sana.

3 Juni 2020 | F. Budi Hardiman | 195


Tapi di seberang sana, seperti kritikus
Pencerahan GM melihat ASL bergerak
baru setengah jalan. Itulah yang
membuatnya gundah. Bukankah
kepongahan yang muncul dari kemajuan
sains bisa bergulir menjadi dogmatisme
baru? Pisau kritis jangan diarahkan hanya
kepada agama, tetapi juga kepada sains.
Dalam hal ini GM sepakat dengan Popper,
Heidegger dan – jika mau lebih afdol
semestinya juga – dengan Kuhn dan
mungkin juga Feyerabend. Sains tetap
hipotetis dan falsifiable. Bukanlah
keyakinan yang diberikannya kepada sains,
melainkan kewaspadaan. Ada roh pasca-
Pencerahan yang hinggap di benaknya.
Ada distingsi subtil yang sayangnya tidak
muncul dalam silang gagasan mereka.
Padahal jika dimunculkan,
kesalahpahaman bisa dihindarkan.
Distingsi itu adalah antara sains dan
saintisme (scientism), antara agama dan
fideisme, dan antara filsafat dan ideologi.
Yang di sisi kiri berkata: ”Aku sedang
mencari jawaban” dan tidak terlalu dini
merasa menemukannya. Yang di kanan
3 Juni 2020 | F. Budi Hardiman | 196
tidak tahan dengan ketidakpastian
pencarian, maka sejak subuh berkata:
”Akulah jawaban”.
Hal-hal yang di kanan itu jelas tidak
disukai GM, bukan karena dia tidak suka
jawaban. Dia tidak suka jawaban yang
memasung kebebasan dan
menyeragamkan yang majemuk.
Logis juga kalau dia lalu juga waspada
terhadap kekuasaan yang nongkrong di
belakang keyakinan itu, entah itu di
belakang sains, agama atau bahkan di
belakang filsafat. Sikap ASL lurus saja
seperti bapak positivisme, Auguste Comte
yang mengira mitos diusir filsafat, dan
filsafat diatasi sains. Jelas dia menyambut
sains sebagai pembebas, lalu menengok
ke masa silam untuk memaklumkan bahwa
“iman yang gemar menghukum” akhirnya
digilas sains.
Sains memang menjadi digdaya. Kalau
terlalu yakin dengan jawabannya, sains
berhenti bertanya dan dilantik sebagai
jawaban akhir yang tidak lagi perlu
dipersoalkan. Fundamentalisme sains itu
disebut saintisme.
3 Juni 2020 | F. Budi Hardiman | 197
Wiener Kreis dengan positivisme logisnya
mewakili keyakinan itu. Bahkan para
fisikawan, logikus dan matematikus yang
terhimpun di situ punya proyek
Einheitswissenschaft untuk menyatukan
semua ilmu di bawah metode fisika dan
matematika.
Syukur bahwa proyek itu berantakan. Tapi
entah kenapa, impian mereka tidak segera
tamat di benak mereka yang antusias pada
sains. Wujud historisnya adalah
laboratorium-laboratorium Nazi. Di bawah
sorot mata Joseph Mengele, sang
malaikat maut, wanita-wanita Yahudi
Polandia yang disterilisasi tanpa bius
hanyalah preparat risetnya. Tidak lebih.
Silau oleh cahaya dingin kebenaran sains,
manusia bisa kehilangan hati nurani dan
empatinya.
Bagaimana dengan agama?
Mereka yang antusias dengan kemajuan
sains pasti heran dengan penempatan
agama sebagai pencari jawaban. Bukankah
agama, khususnya doktrin-doktrinnya,
sudah memberikan jawaban baku dan
tidak perlu mencari kebenaran lagi?
3 Juni 2020 | F. Budi Hardiman | 198
Seperti dengan sains, di sinipun kita perlu
membedakannya dengan fideisme. Wahyu
memang diyakini sebagai kebenaran final,
tapi pemahaman manusia atasnya tidak
pernah final. Jadi, agama sebetulnya juga
terus bertanya tentang pemahaman yang
benar atas wahyu, maka dihasilkan banyak
tafsir, mazhab, sekte, dan seterusnya.
Mereka yang tidak tahan dengan
ketidakpastian akan mengalami
‘korsleiting’ di otaknya. Fideisme lalu
menjadi pegangan. Sekonyong-konyong
dari sudut mata yang saleh itu sains
tampak sebagai karya iblis.
Filsafat tidak terprivilegi. Dia pun bisa
tergoda untuk menepuk dada dan berujar
“Akulah jawaban”. Di saat itu dia berubah
menjadi doktriner yang intimidatif.
Rousseau di tangan Robespierre, algojo
Revolusi Prancis, menjelma menjadi
doktrin teror. Di bawah Stalinisme Plato
juga bisa mengintimidasi seni dan sastra.
Schopenhauer di tangan Musolini
menjadi dogma gerakan. Namun filsafat
itu sendiri tidak ingin “membangun
monumen”, seperti dikira ASL.

3 Juni 2020 | F. Budi Hardiman | 199


Kalaupun betul, monumen pikiran
menunggu untuk diruntuhkan. Aliran-
aliran di dalamnya mengalir, bukan pikiran
beku. Filsafat hidup dari bertanya. Tentu
bertanya adalah untuk mendapat jawaban.
Tapi begitu jawaban diperoleh, pertanyaan
diubah. Kalau tidak begitu, dia bukan
filsafat, melainkan ideologi.
Pandemi COVID-19 menjadi alasan kuat
untuk mewaspadai saintisme, fideisme dan
ideologi. Mereka bisa saja menjadi
tuntunan praktis bagi rezim biopolitis
global yang mulai mengawasi tubuh dan
mengobok-obok privasi warga. Berkat
sains kita memang lebih siap menghadapi
pandemi ini, tetapi konyol jika bersikap
naif terhadap der Wille zur Macht di balik
sains. Sains itu politis, seperti dicurigai
Feyerabend. Politik lebih sering menikung
ke labirin dunia makna daripada bertahan
di dunia fakta. Tidak mengherankan jika
sains juga diperumit oleh politik, seperti di
saat pandemi ini.
*

3 Juni 2020 | F. Budi Hardiman | 200


Sejak tadi saya gatal untuk menggiring
debat masuk lebih dalam. Entah, apakah
ada yang tertarik. Ada tiga persoalan.
Pertama, agama dan sains kerap dihadap-
hadapkan. Itu tidak realistis. Sains tidak
dapat melepaskan diri sepenuhnya dari
peran agama, sekurangnya secara historis.
Max Weber pernah bertanya, kenapa
sains modern berkembang di Barat dan
tidak di India? Karena monoteisme
menyumbang untuk menghadapi alam
bukan sebagai hal gaib, melainkan sebagai
materi yang bisa ditangani. Menolak
berhala adalah awal materialisasi alam
dalam monoteisme.
Materialisasi alam memungkinkan sikap
objektif dalam sains. Tentu borjuasi Eropa
dengan sikap berjaraknya juga andil dalam
hal itu. Betul bahwa akhirnya sains otonom
dari agama. Namun apakah wahyu religius
tidak ikut melahirkan sains, sekurangnya
secara tidak langsung? Jika ya, mestinya
ibu dan anak bisa saling mengerti, dan
anak tidak perlu durhaka.
Kedua, perkembangan New Sciences,
seperti teori chaos, geometri faktal,

3 Juni 2020 | F. Budi Hardiman | 201


mekanika kuantum dll. telah berpisah dari
mechanical worldview a la Newton. Ilmu-
ilmu sosial ikut dipengaruhi tentu saja.
Ketidakpastian dan kontingensi makin
mendapat tempat penting dalam sains.
Epidemologi yang mencoba
mengantisipasi pola penyebaran infeksi
SAR-CoV-2 juga harus bertatapan dengan
ketidakpastian. Tidakkah realitas yang
ditangkap oleh New Sciences ini jauh lebih
kompleks dan jauh lebih tidak pasti lagi,
sehingga sains - juga agama dan filsafat -
seperti dikatakan Rorty bukan mirror of
nature, melainkan hanyalah upaya rasional
untuk mengurangi kerumitan saja?
Konstruksi-konstruksi rasional seperti itu
tidak bisa permanen. Jadi, ya, mengapa
harus “berkhidmat kepada” mereka?
Yang ketiga adalah tentang hubungan
antara sains dan dunia makna. Realitas
terdiri atas benda dan makna. Sains
berhasil mengetahui benda. Tetapi bisakah
makna didekati oleh sains (ilmu alam)?
Bagaimana mungkin dari benda muncul
kehidupan, dan dari kehidupan muncul
kesadaran?

3 Juni 2020 | F. Budi Hardiman | 202


Neurosains pun belum bisa menjelaskan
mengapa otak bisa menghasilkan
neorosains, jika kesadaran tidak lebih dari
otak saja. Dugaan saya, untuk menjawab
pertanyaan macam ini sains tidak bisa
sendirian tanpa melibatkan agama dan
filsafat.
Masih ada lusinan pertanyaan lain yang
berkecamuk di kepala saya. Tentu bukan ‘
sang Entah’ yang diundang pertanyaan,
melainkan suatu yang menghalaunya.
Karena itulah kita berdiskusi.***
Sumber:
https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid
=1050260685393527&id=100012288167757

3 Juni 2020 | F. Budi Hardiman | 203


4 JUNI 2020 | GOENAWAN MOHAMAD

Maaf, Tanpa Judul


Jawaban buat Taufiqurrahman

Goenawan Mohamad

Pengantar: Taufiqurrahman menulis


panjang, meramaikan polemik tentang
sains yang “dipancing” dengan baik oleh
A.S. Laksana. Saya menjawabnya di sini,
kali ini tanpa judul karena tak ada satu dua
kata yang pas untuk mencakup poin-poin
yang saya akan kemukakan.
Model jawaban ini juga saya bikin sesuai
dengan itu, terpecah-pecah; berbeda
dengan tulisan sebelumnya.
Taufiqurrahman mengatakan: “Goenawan
Mohamad memang seorang peragu—
walau mungkin ia jenis peragu yang
syahdu.”
Catatan saya:
Kayaknya Taufiq benar. Saya bersyukur.
Ragu sering jadi awal filsafat dan ilmu —

4 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 204


misalnya “keraguan Descartes”, “Cartesian
doubt”.
Penjelasannya saya ambilkan saja dari
Wikipedia: “Cartesian doubt is a systematic
process of being skeptical about (or
doubting) the truth of one's beliefs, which
has become a characteristic method in
philosophy.”
*

TENTANG KEBIASAAN BURUK


Taufiqurrahman menyebut tentang
“kebiasaan buruk GM dalam menulis esai:
‘cherry-picking...’”
Catatan saya:
Tentu saya bisa membantah bahwa saya
punya “kebiasaan buruk dalam menulis
essay,” dan bahwa saya “cherry-picking”
kutipan. Tapi saya tak anggap perlu
membela diri buat satu penilaian yang
mirip ad hominem. Saya tak ingin
membuat percakapan ini menyimpang —
atau jadi pertandingan tinju tempat kita
balas membalas pukulan norak.

4 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 205


Saya ingin polemik ini tajam, terfokus,
tanpa saling memburuk-burukkan
“kebiasaan” lawan berbicara. Saya
berharap pertukaran pendapat ini — yang
jarang terjadi, dan ternyata diapresiasi
banyak pembaca — bisa membentuk
percakapan yang asyik. Kalau bisa, bahkan
pertemanan, kalaupun bukan kesepakatan,
dalam bidang pemikiran.
Setidaknya di masa “lokdon”...
Tentang “Protes pada Sains”
Taufiqurrahman mengatakan: “Goenawan
Mohamad mencomot separuh paragraf
saja kalimat Karl Popper untuk
mengorfimasikan pandangannya sendiri
yang berusaha memberi protes kepada
sains.”
Catatan saya:
Saya tak tahu di mana dalam tulisan saya
ada kalimat yang menyatakan “protes
kepada sains”. Mungkin Taufiq ketemu
tulisan Goenawan Mohamad yang bukan
saya.
Coba baca dengan seksama dan dalam
tempo sesantai-santainya jawaban saya
4 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 206
kepada A.S. Laksana. Di sana saya — yang
mengaku “rada Popperan” — menyebut
kekaguman Popper kepada pengetahuan
ilmiah (“admiration for scientific
knowledge”) —dan saya merasa cocok
dengan sikap itu.
Dengan kata lain, tak ada protes saya
kepada sains. Dalam jawaban saya kepada
Nirwan Arsuka — orang yang lebih
mengenal dunia sains ketimbang saya —
saya bahkan mengatakan: “Saya tak
meragukan apa yang didapat manusia dari
sains”.
Jadi, dari mana Taufiq menyimpulkan saya
menyatakan “protes kepada sains”? Saya
duga ini karena ia tak mengerti kata
“caveat”. Tulisnya: “GM merasa perlu untuk
mengutip Popper, karena pandangan
Popper diaggap sebagai ‘caveat’, protes...”
“Caveat”, protes? Bukankah artinya
“peringatan agar berhati-hati”?
*

4 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 207


TENTANG SAINS SEBAGAI PANGLIMA
Taufiqurrahman menulis, bertanya,
“Benarkah ketika sains menjadi panglima,
sains akan terdorong mengedepankan
kepastian? Benarkah ketika ilmu dijadikan
sebagai sumber utama, ilmu pasti berhenti
berproses mencari kebenaran?”
Catatan saya:
Saya membayangkan sains sebagai
penjelajahan yang terus menerus— kisah
perjalanan yang, dalam gambar kulit buku
Novum Organum, karya pelopor “The Age
of Reason”, Francis Bacon, diibaratkan
menerobos dua pilar Herkules menuju ke
samudera mahaluas. Tekad sains adalah
menempuh pelayaran dengan semboyan
dari Perjanjian Lama: “Banyak yang akan
berjalan, dan pengetahuan akan
bertambah”.
Tapi kemudian, terutama di hari-hari ini,
sang penjelajah didudukkan sebagai
panglima kebijakan publik dalam pelbagai
hal. Sebagai sang pemimpin, pendapatnya
menentukan mana kebijakan yang benar
mana yang keliru. Untuk itu ia mau tak

4 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 208


mau di- (ter)-dorong memproduksi
kepastian.
Seperti saya katakan kepada Lukas
Luwarso, yang menulis dengan kalem dan
jernih tentang ini, saya ingin
mengingatkan bahwa dalam posisi
sebagai panglima, sains bisa terjebak jadi
tahanan VIP di markas komando: ia harus
memberi rekomendasi yang persis, buat
melayani apa yang diharapkan publik dan
mereka yang mengatas-namakan publik.
Tentu ini tugas mulia, terutama jika buat
menyelamatkan nyawa ribuan manusia.
Tapi ada harga yang harus dibayar dalam
instrumentalisasi sains.
Contoh yang terkenal ialah dukungan
Joseph Stalin kepada Lysenko, direktur
Genetika dalam Akademi Sains Uni Soviet,
yang diharapkan mengubah pertanian
Rusia yang miskin dan manusia Rusia yang
lama. Dukungan itu demikian besar
dengan rencana menciptakan “manusia
baru Soviet” — meskipun dengan theori
yang tak diuji.

4 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 209


Tanpa Stalin dan Lysenko, dewasa ini,
dengan beberapa perkecualian,
perkembangan sains tetap diterjemahkan
sebagai perkembangan riset dan innovasi.
Ukuran GII (Global Innovation Index)
memicu persaingan modal dan kekuatan
politik yang terus menerus. Investasi
dalam bidang riset dan pengembangan —
yang dijadikan landasan teknologi baru
dan pertumbuhan ekonomi — makin
mendorong sains sebagai pendukung
teknologi. Di posisi itu, kepastian,
kegunaan, hasil temuan untuk diterapkan,
adalah ukuran yang dipakai lembaga-
lembaga riset. Terutama untuk
mendapatkan dana buat kontinyuitas
penelitian.
Yang sering dilupakan, yang kini
mendominasi bidang sains bukanlah sang
ilmuwan, melainkan pelbagai lembaga.
Kita bukan lagi hidup di zaman Newton
yang menggarap theori-theori pentingnya
sendirian di pedalaman ketika mengungsi
dari wabah yang menyerang London. Di
zaman ini, sains ditopang institusi,
bersama itu grant untuk riset, bahkan
patronage oleh dunia bisnis dan Negara.
4 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 210
Kekuasaan-kekuasaan itu menghendaki
target dan hasil yang siap pakai. Makin
dianggap penting satu rencana riset,
makin dibutuhkan ia untuk menentukan
nasib bisnis dan kesejahteraan rakyat,
makin dituntut ia untuk menawarkan satu
produk yang tak bersifat provisional.
*

TENTANG HUSSERL
Taufiqurrahman menulis, bahwa ( ia
mungkin hendak membantah yang saya
sangka) fokus pandangan Husserl
“bukanlah krisis epistemologis yang terjadi
pada sains itu sendiri, melainkan krisis
kemanusiaan”.
Maka, kata Taufiq, untuk mengatasi krisis
kemanusiaan itu sains mesti mengubah
fondasinya: dari matematika ke
fenomenologi transendental. Sains
seharusnya tidak berangkat dari kalkulasi
matematis, tetapi dari pengalaman
langsung manusia dalam dunia
kehidupannya.
Kata Taufiqurrahman pula, tawaran itu
akan menyulitkan ilmuwan untuk bekerja.
4 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 211
Bagaimana cara ilmuwan untuk punya
pengalaman langsung tentang virus,
misalnya?
Catatan saya:
Kritik Husserl terhadap sains yang sejak
Galileo mempertaruhkan diri pada
kuantifikasi menyangkut erat dengan
persoalan bagaimana manusia
mengetahui dunia. Fisika ala Galielo
melihat alam sebagai semesta matematis.
Dengan kata lain, seperti dikatakan
Husserl, ini adalah “matematisasi alam”.
Di sini mau tak mau kita harus “melantur”
masuk ke dalam epistemologi, ke dalam
telaah bagaimana kita mengetahui alam.
Sejak Galileo, artinya sejak sains modern,
kita mengenal sesuatu (batu, bintang,
bangunan, badan, dan lain-lain) “hanya
dalam wujud yang terus menerus
dicocokkan dengan bentuk ideal
geometris yang berfungsi sebagai tonggak
pemandu”, untuk memakai kata-kata
Husserl.
Itu berarti matematika dan sains
matematis, (dalam kiasan yang disukai

4 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 212


Husserl), telah membentuk Ideenkleid,
“jubah ide” yang menutupi apa saja yang
kita cerap di dunia-kehidupan — apa saja
yang konkret. Dengan metode induksi
yang dipakai sains, semesta dan segala
isinya dihadirkan dalam abstraksi dan
formulasi. Sains menganggap itu
gambaran realitas yang ada secara objektif
dan benar.
Fenomenologi tak hendak meniadakan
sains. Para pakar virologi tetap dapat
tempat yang terhormat. Sebagai
sumbangan buat kearifan manusia,
fenomenologi menawarkan pendekatan
lain, yang terkenal dengan anjuran “Zurück
zu den Sachen selbt!” — terjemahan
kasarnya: kembalilah ke bendanya sendiri.
Dalam penafsiran saya, itu berarti yang
tertutup oleh “jubah ide” dan lain-lain
harus ditemui kembali. Artinya kita perlu
kembali berada dalam dunia-kehidupan
yang dibangun dari hal-hal yang unik dan
kompleks.
Sebab ada hal lain yang perlu tersingkap.
Sains modern tak pernah
mempertanyakan, bagaimana sebenarnya
4 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 213
alam semesta, hingga dapat ditampilkan
secara koheren dalam bentuk matematis?
Bagaimana caranya mem-verifikasikan itu?
Dalam “The Grand Design” Stephen
Hawking dan Leonard Mlodinow
menjawab sebuah persoalan yang
dikemukakan Einstein dalam sebuah
paradoks: “The most incomprehensible
thing about the universe is that it is
comprehensible.” Kepada persoalan ini,
Stephen Hawking menegaskan premis
Galileo: “The universe is comprehensible
because it is governed by scientific laws;
that is to say, its behavior can be modeled.”
Yang tak ditanyakan oleh dua orang
piawai itu: mengapa alam semesta kita “is
governed by scientific laws?”
Kritik Husserl kepada sains modern yang
dibawa Galielo akhirnya menunjukkan,
sains tak mempertanyakan semua, dan
sebab itu tak menjawab semua.
Di tahun 1962, saya pernah mengutip satu
refleksi Alfred North Whitehead:

“Apabila kita memahami segalanya


tentang matahari, segalanya tentang

4 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 214


atmosfir, dan segalanya tentang rotasi
bumi, kita masih terluput untuk melihat
kecemerlangan sinar matahari terbenam.”

Waktu itu saya membicarakan sajak


Soebagio Sastrowardojo, “Manusia
Pertama di Angkasa Luar” — manusia
yang merasa dipisahkan dari dunia oleh
“rumus ilmu pasti yang penuh janji”.
Matematisasi alam, yang menghasilkan
prestasi ilmiah yang hebat, juga punya
“collateral damage”: keterasingan manusia
dari alam dan dari proses serta hasil
karyanya sendiri. Dalam konteks lain, Karl
Marx menyebutnya Entfremdung.
Pada akhirnya, kritik epistemologis bertaut
erat dengan persoalan ethis: bagaimana
aku menerima dan memperlakukan yang-
bukan-aku, “the other”.
*

TENTANG HEIDEGGER (I)


Taufiqurrahman mengatakan tentang
Heidegger:
‘Kritik Heidegger terhadap sains—juga
terhadap teknologi—bisa saya terima:

4 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 215


bahwa dunia yang tampil melalui sains
(juga melalui teknologi) adalah dunia yang
telah mengalami pembingkaian
(enframing). Pembingkaian inilah, kata
Heidegger, yang menjadi esensi dari
teknologi. Namun, pertanyaannya:
memangnya ada jenis pengetahuan lain
yang tidak membingkai atau—dalam
istilah GM— “mereduksi” objeknya?
Komentar saya:
Ada. Karya seni, misalnya, adalah cara
mengetahui dunia tanpa pembingkaian —
jika kita lihat pembingkaian (Gestel) adalah
mereduksi dan menguasai. Hedegger
menunjukkan, ketika kita menghadapi
dunia, ketika aku menyambut “yang-
bukan-aku” dengan terbuka dan
membiarkannya leluasa, dengan
Gelassenheit, tak ada pembingkaian.
Seorang psikolog juga harus berada dalam
sikap “Gelassenheit”, ketika ia
berhubungan dengan orang yang datang
kepadanya karena hendak melepaskan diri
dari situasi kejiwaan tertentu.

4 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 216


TENTANG HEIDEGGER (2)
Taufiqurrahman menulis: “Heidegger di
fase akhir pemikirannya kemudian melirik
puisi. Di situlah kritik Heidegger terhadap
sains pada akhirnya tidak menghasilkan
apa-apa, selain hanya kata-kata penuh
metafora.”
Komentar saya:
Mengatakan kritik Heidegger terhadap
sains “tidak menghasilkan apa-apa” adalah
sebuah pernyataan yang gagah perkasa
tapi, maaf, gegabah.
Pandangan Heidegger yang memujikan
“pemikiran puitis”, berpengaruh besar
dalam pelbagai bidang. Kita
menemukannya dalam pemikiran dan
praktek arsitektur, misalnya pada karya
Peter Zhumtor, arsitek terkemuka Swiss.
Saya pernah ketemu sebuah buku, “An
Ontology of Trash” yang menganalisa
problem manusia dengan sampah. Di sana
penulisnya banyak menimba pemikiran
Heidegger.
Pengaruh Heidegger memang kuat dalam
gerakan “deep ecology” yang memandang

4 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 217


problem-problem lingkungan dengan
menekankan segi ethis. Pengaruh
Heidegger pada bidang lain tampak pada
theologi, misalnya pada pemikiran Jean-
Luc Marion.
Jadi, Taufiq, Anda keliru untuk
mengatakan pandangan Heidegger “tidak
menghasilkan apa-apa, selain hanya kata-
kata penuh metafora.”
*

TENTANG SAINTISME
Taufiqurrahman, dalam menyerang
pendapat Ulil, memakai pengertian Mario
Bunge tentang saintisme. Bagi Bunge, “the
thesis that all cognitive problems
concerning the world are best tackled
adopting the scientific approach, also called
‘the spirit of science’ and ‘the scientific
attitude’.”
Komentar saya:
Kata kunci dalam pengertian Bunge adalah
“best”. Dan itulah salahnya. Menganggap
pemakaian pendekatan sains sebagai yang
paling bagus dalam menghadapi semua

4 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 218


masalah kognitif dalam hidup ini berarti
menomorduakan pendekatan lain. Maksud
saya, pengetahuan yang tidak cocok
dengan sains modern, dan sebab itu
disebut “tidak ilmiah”, tak berarti klenik.
Dalam “Monopolizing Knowledge” (2011),
Ian Hutchinson, guru besar nuclear
science di MIT ini menunjukkan satu ciri
saintisme: memenganggap bahwa hanya
sains — artinya ilmu-ilmu alam modern,
pewaris revolusi ilmu yang bermula sejak
abad ke-16 — yang bisa dibenarkan
(justified) dan rasional. Bagi Hutchinson,
itu “sebuah kesalahan intelektual yang
mengerikan”, “a ghastly intellectual
mistake.”
Hal ini sudah saya uraikan cukup panjang
dalam tulisan saya buat Nirwan Arsuka.
Mudah-mudahan Taufiq sudi
membacanya. Sebab membaca terus
tulisan saya akan membosankan. Sekian
dulu.***
Sumber:
https://www.facebook.com/gmgmofficial/posts/3535
021433178630

4 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 219


5 JUNI 2020 | FITZGERALD KENNEDY SITORUS

Tentang Garis Demarkasi


antara Sains dan Filsafat
dan Kematian Metafisika
Fitzerald Kennedy Sitorus

Beberapa hari belakangan ini, kita


membaca di halaman Facebook lalu lintas
pertukaran pikiran yang bersemangat
mengenai sains. Picu yang melatuk diskusi
ini adalah pernyataan Mas GM mengenai
permasalahan-permasalahan sains dalam
sebuah seminar online yang berjudul
“Berkhidmat kepada Sains”.
Pertanyaan ini kemudian ditanggapi oleh
A.S. Laksana. Kemudian sejumlah tulisan
tanggapan lainnya bermunculan
meramaikan pertukaran pikiran tersebut.
Sebelum seminar tersebut, perbedaan
pendapat tentang hubungan antara sains
dan filsafat atau metafisika serta agama
juga sebenarnya telah terjadi dalam
sebuah diskusi online pada 16 Mei 2020
5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 220
lalu. Perbedaan pendapat tersebut
melibatkan Nirwan Arsuka dan Hamid
Basyaib di satu sisi dan Mas GM, Romo
Lili dan saya sendiri di sisi lain.
Secara singkat, Nirwan dan Hamid berada
pada posisi yang mengagungkan sains
dan menganggap filsafat dan agama tidak
relevan lagi, sementara Mas GM, Romo Lili
Tjahjadi, SJ dan saya berpendapat bahwa
sekalipun sains memang menghasilkan
kemajuan yang luar biasa dan berjasa
besar bagi umat manusia bukan berarti
filsafat dan agama menjadi tidak relevan.
Hal menarik dari pernyataan-pernyataan
dan tulisan-tulisan yang muncul dalam
pertukaran pikiran ini adalah munculnya
klaim yang mengagungkan sains
sedemikian rupa dan menganggapnya
sebagai satu-satunya cara untuk
memperoleh deskripsi yang paling baik
mengenai realitas.
Klaim ini kemudian diikuti dengan
pernyataan bahwa bidang-bidang lainnya,
seperti filsafat atau metafisika dan teologi,
menjadi tidak relevan karena tidak mampu
menghasilkan pengetahuan yang
5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 221
ketepatan dan kepastiannya sama dengan
sains.
Klaim irrelevansi filsafat atau metafisika
dan agama ini sama dengan frase populer
yang mengatakan bahwa sekarang filsafat
atau metafisika, dan juga agama, telah
mati. Dengan keunggulan metodenya dan
dengan cerita kesuksesannya kita dapat
mengandalkan diri semata-mata pada
sains. Bahkan sudah pantas pula kalau
sains menyombongkan diri, demikian
tulisan Nirwan Arsuka di Facebook.
Tapi, di sisi lain, ada juga tulisan yang
melihat sains dengan lebih realistis. Posisi
ini mengatakan bahwa sains memang
menghasilkan banyak kemajuan dan
memberikan sumbangan yang sangat
besar bagi umat manusia, namun ini tidak
berarti bahwa sains tidak mengandung
kelemahan atau keterbatasan. Sains
bukanlah segala-galanya. Sains hanyalah
salah satu cara dalam menyingkapkan
realitas. Dan oleh karena itu, kita masih
tetap membutuhkan filsafat, metafisika,
agama, dan lain-lain.

5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 222


Di tengah-tengah keriuhan pembicaraan
yang diwarnai dengan klaim-klaim
tersebut saya melihat ada hal yang masih
luput dari perhatian, dan itu membuat
pertukaran pikiran ini belum begitu
produktif. Yang luput itu adalah belum
jelasnya batas-batas antara sains,
filsafat/metafisika dan agama.
Seandainya batas-batas ini jelas, maka
menurut saya kita tidak lagi menganggap
sains sedemikian hebat atau agung,
sedemikian agungnya, sehingga ia
dianggap pantas membuat metafisika dan
agama menjadi tidak relevan. Seandainya
batas-batas ini jelas, maka kita akan sadar
bahwa, dengan segala keberhasilan dan
kesuksesannya yang memang tidak dapat
disangkal, sains tetaplah sains, ia tidak
mungkin melampaui hakikatnya sekalipun
ia sedemikian gemilang; dan sejalan
dengan itu filsafat tetaplah filsafat, dan
agama tetaplah agama. Masing-masing
memiliki wilayah, metode, epistemologi
dan tugasnya sendiri-sendiri.
Tulisan ini berusaha memperlihatkan garis
demarkasi antara sains, filsafat atau

5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 223


metafisika. Upaya itu saya lakukan dengan
memperlihatkan karakter-karakter
keduanya. Di sini yang saya maksud
dengan sains adalah semua jenis ilmu
pengetahuan, dan secara lebih khusus
ilmu pengetahuan alam. Saya juga tidak
membedakan secara ketat antara filsafat
dan metafisika, sekalipun di dalam
diskursus filsafat, kedua disiplin itu harus
dibedakan.

OBJEK MATERIAL DAN OBJEK FORMAL


Untuk memperlihatkan demarkasi
tersebut, saya akan mulai dengan apa
yang dalam filsafat ilmu disebut objek
formal dan objek material ilmu. Apakah
yang membedakan sebuah ilmu dari ilmu
lainnya? Apa yang membedakan ilmu
kedokteran dari ilmu psikologi dan dari
ilmu anatomi? Ketiga ilmu ini sama-sama
meneliti tubuh manusia. Tapi mengapa
mereka berbeda sebagai ilmu? Apa yang
membedakan ilmu ekonomi dan ilmu
politik? Keduanya sama-sama meneliti
masyarakat, tapi mengapa mereka
berbeda?

5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 224


Setiap ilmu memiliki objek material dan
objek formal. Objek material adalah objek
yang diteliti oleh ilmu tersebut, sementara
objek formal adalah sudut pandang atau
perspektif yang digunakan oleh ilmu itu
dalam meneliti objek materialnya. Objek
material ilmu-ilmu itu bisa sama, tapi
objek formalnya pasti berbeda.
Ilmu kedokteran, ilmu psikologi, dan ilmu
anatomi memiliki objek material yang
sama, yakni tubuh manusia, namun
mereka memiliki objek formal yang
berbeda dalam meneliti tubuh manusia.
Ilmu kedokteran meneliti sistem-sistem
mekanis dalam tubuh manusia, ilmu
psikologi meneliti kejiwaan, ilmu
anatonomi meneliti struktur tubuh
manusia.
Masyarakat juga merupakan objek
material bagi banyak ilmu. Ilmu politik
melihat masyarakat dari perspektif
penataan kehidupan bersama, ilmu
ekonomi melihatnya dari perspektif cara-
cara masyarakat memenuhi kebutuhan
hidup mereka, ilmu kriminologi melihat
fenomena kejahatan dalam masyarakat,

5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 225


dan lain-lain. Jadi, objek formal itulah yang
membedakan sebuah ilmu dari ilmu
lainnya.
Metode yang digunakan oleh setiap ilmu
kemudian tergantung dari objek formal
ini. Nah, sekarang apakah objek material
dan objek formal sains dan filsafat?

SAINS
Objek material sains atau ilmu alam adalah
dunia pengalaman empiris, sementara
objek formalnya adalah keterukuran
objek-objek empiris tersebut. Sains
meneliti alam dengan tujuan agar
fenomena-fenomena alam itu dapat
dikontrol, dijelaskan, dikendalikan, atau
diprediksi. Dan untuk itu, sains berusaha
mencari hukum-hukum yang dapat
menjelaskan fenomena-fenomena alam
yang diteliti.
Upaya mencari hukum tersebut dilakukan
melalui metode eksperimen, observasi,
percobaan, perumusan teori dan
pengujian kembali teori tersebut ke dunia
pengalaman empiris itu sendiri.

5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 226


Berdasarkan karakter di atas, kita dapat
menentukan beberapa ciri yang terdapat
dalam semua ilmu, yang membedakannya
dari filsafat.
Pertama, sains itu bersifat empiris, artinya,
objeknya adalah bagian tertentu dari
dunia pengalaman empiris (empirische
Erfahrungswelt). Empiris artinya berada di
dalam ruang dan waktu. Kata “bagian
tertentu“ ini perlu digarisbawahi. Bagian
tertentu berarti bahwa yang diteliti
hanyalah salah satu aspek dari dunia
pengalaman empiris itu. Misalnya,
mengenai virus, mengenai gravitasi,
mengenai gempa bumi, planet-planet, dan
lain-lain. Bahkan penelitian mengenai
planet pun harus terfokus pada aspek
tertentu dari planet tersebut, misalnya
strukturnya, dan bukan keseluruhan hal
ikhwal mengenai planet tersebut. Ilmu
pengetahuan tidak mampu meneliti
keseluruhan totalitas dunia pengalaman
empiris yang sedemikian luas.
Keterbatasan sains ini diakui oleh para
raksasa sains itu sendiri. Teori Relativitas
Khusus Einstein (1905) memperlihatkan

5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 227


bahwa tidak ada konsep mengenai
keseluruhan (das Ganze) yang dapat
dioperasionalkan karena tidak ada sistem
referensi yang serba mencakup dan
sempurna; yang ada hanya relasi-relasi
dalam sebuah sistem yang otonom.
Prinsip Ketidakpastian Werner
Heisenberg (1927) bahkan mengatakan
bahwa kita tidak mungkin memperoleh
pengetahuan yang lengkap mengenai
sebuah sistem, sebab keterfokusan pada
dimensi yang satu telah menyebabkan
pengetahuan pada dimensi yang lain
menjadi tidak mungkin.
Teorema Ketidaksempurnaan Gödel
(1931) juga mengatakan hal yang kurang
lebih sama, yakni bahwa isi kebenaran
sistem-sistem formal tidak pernah dapat
seluruhnya ditangkap. Teorema Gödel ini
telah memvonis ketidakmungkinan
mencapai sebuah sains universal yang
dapat menjelaskan seluruh semesta
dengan model matematika (mathesis
universalis). “Ilmu pengetahuan tidak
mungkin dapat memahami sebuah
totalitas; semua pengetahuan selalu

5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 228


limitatif, terbatas“ (Philosophie und
Wissenschaft, Hg. Willi Oelmüller, 1988,
hal. 120 dst).
Kedua, sains itu secara tematis reduktif.
Artinya objek itu dilihat atau diteliti dari
sudut pandang tertentu (objek formal)
yang terbatas, sedangkan sudut pandang
lainnya diabaikan. Sosiologi misalnya
melihat manusia dari sudut pandang
keberadaannya dengan dengan manusia
lain, dan mengabaikan aspek-aspek
psikologis, mental atau ekonomis dari
manusia-manusia tersebut. Sama hanya,
sekalipun dewasa ini penelitian mengenai
neuron-neuron di dalam otak sudah
sedemikian maju, hal itu tidak dapat
menjelaskan keseluruhan fenomena
kesadaran (consciousness); fenomena
mental tidak dapat diindentikkan
sepenuhnya dengan realitas fisikal-natural.
Ketiga, sains itu secara metodis abstrak.
Artinya, sains hanya meneliti objek sejauh
itu diizinkan oleh metode yang
digunakannya; metode itu mengabaikan
(mengabstraksikan) bidang-bidang lain
yang berada di luar cakupannya. Ini karena

5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 229


sebelum sains meneliti objeknya, ia harus
lebih dulu menentukan metode
penelitiannya. Bila kita misalnya meneliti
kejiwaan manusia dengan metode
psikoanalisis, maka kita memberikan
perhatian pada dimensi-dimensi bawah
sadar yang terdapat dalam diri orang
tersebut, dan tidak memperhatikan aspek-
aspek lain dari kejiwaannya. Atau bila kita
menganalisis masyarakat dengan metode
Marxis, maka kita memusatkan perhatian
pada faktor-faktor ekonomis atau
pertentangan/perbedaan kelas dalam
masyarakat itu, dan mengabaikan faktor-
faktor lainnya.
Ungkapan “secara metodis abstrak“ dan
“secara tematis reduktif“ di atas dapat
diperjelas dengan contoh ilmu alam itu
sendiri. Ilmu-ilmu alam dapat mencapai
kemajuan luar biasa pada zaman modern
berkat penerapan metode baru, yakni
matematisasi fenomena alam. Artinya,
fenomena alam ditangani secara
matematis.
Dengan metode ini, para saintis berusaha
mengkonversi dimensi-dimensi kualitatif

5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 230


menjadi kuantitatif, sehingga dapat diukur.
Misalnya, panas adalah sebuah dimensi
kualitatif. Dalam ilmu alam modern, panas
diukur secara kuantitatif melalui
termometer dan kemudian dapat
diungkapkan dalam bentuk angka-angka.
Panas, yang tadinya kualitatif, menjadi
kuantitatif.
Ini sesuai dengan prinsip G. Galileo (1564-
1642) yang mengatakan: “Semua yang
dapat diukur, diukur secara kuantitatif, dan
apa yang belum dapat diukur, diusahakan
untuk dapat diukur“.
Metode matematisasi objek material ini
membawa jenis observasi dan pengujian
eksperimental yang baru: ilmu
pengetahuan modern hanya mengenal
alam dari sudut ke-dapat-diukur-annya
(die Meßbarkeit, measurability); alam
dilihat dalam bentuk yang telah selalu
diukur.
Inilah maksudnya bahwa sains melihat
alam secara abstrak dalam bentuk yang
telah direduksi secara metodis ke dalam
sebuah model matematika. Alam dilihat
dalam bentuk angka-angka. Tapi, jangan
5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 231
lupa, alam itu sendiri bukan model
matematika, bukan model angka-angka.
Alam itu sangat kompleks. Tapi justru
dengan itulah ilmu pengetahuan modern
dapat berkembang dengan luar biasa,
menghasilkan banyak temuan baru, yakni
ketika ia melihat alam secara abstrak
dalam model matematika (Anno
Anzenbacher, Einführung in die
Philosophie, 1981, hal 22-26).
Jadi, keterbatasan ilmu itu bukanlah
sebuah kelemahan; justru itu adalah
adalah kekuatannya. Dan justru karena
sains terbatas dalam mendeskripsikan
realitas maka kita juga harus menerima
kompetensi bidang-bidang (ilmu
pengetahuan) lainnya dalam melakukan
hal yang sama.
Sejarah kemudian memperlihatkan bahwa
cerita sukses ilmu-ilmu alam ini juga
mempengaruhi bidang ilmu lainnya.
Metode kuantitatif ilmu alam kemudian
diterapkan untuk ilmu-ilmu lainnya,
termasuk ilmu sosial dan ilmu humaniora.

5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 232


Keberhasilan itu juga membuat sains
menjadi sedemikian percaya diri, seakan-
akan ia berhak untuk berjalan sendiri,
dengan logikanya sendiri, dengan
mengabaikan konteks sosial di mana ia
berdiri. Sains menjadi tercerabut dari
dunia kehidupan (Lebenswelt). Ini
kemudian menjadi latar belakang
munculnya kritik terhadap sains, antara
lain dari seorang ahli matematika dan
filsuf, yakni Edmund Husserl. Ini juga
disinggung oleh Mas GM dalam
tulisannya.

KRITIK HUSSERL TERHADAP SAINS


Anehnya, krisis sains itu bersumber justru
dari hal yang memberikan dia keunggulan.
Sains berkembang karena bantuan
matematika, terutama geometri.
Di atas kita sudah melihat bagaimana
Galileo menekankan bahwa segala sesuatu
harus dapat diukur. Galileo meyakini
bahwa satu-satunya jenis kepastian yang
bisa diandalkan dan dipercaya
sepenuhnya hanyalah matematika.

5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 233


Karena itu, ia memisahkan secara definitif
antara ilmu fisika dan filsafat; dan sejalan
dengan pemisahan itu, ia juga
memisahkan secara tegas antara kualitas-
kualitas objektif-primer dan kualitas
subjektif-sekunder. Yang penting hanyalah
kuantitas primier seperti ukuran, bentuk,
bilangan dan kecepatan, sementara
kualitas sekunder seperti warna, suara, bau
tidak relevan.
Galileo juga menolak otoritas apapun
sebagai kriteria kebenaran, selain
observasi, eksperimen dan rasio
matematis. Galileo yakin bahwa
kompleksitas alam nyata yang berubah-
ubah dan kontradiktif bisa dipahami
berdasarkan hukum fisika-matematik yang
sederhana. Tanpa matematika, orang akan
terlunta-lunta dalam labirin gelap, katanya.
Menurut Galileo, geometri memungkinkan
manusia mengatasi relativitas interpretasi
subjektif yang sangat mendasar dalam
dunia empiris. Dengan geometri kita
memperoleh kebenaran yang identik,
mutlak dan dapat diterima oleh setiap
orang yang mengerti dan dapat

5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 234


menggunakan metode tersebut. Sejalan
dengan konsep Plato mengenai adanya
dunia ideal, Galileo mengatakan bahwa
matematika akan membebaskan pikiran
dari sensasi, dan mengakrabkannya
dengan dunia pikiran murni serta
membawa jiwa ke dalam ketinggian dunia
idea.
Geometri adalah pengetahuan mengenai
hal-hal yang abadi. Dan kebenaran
geometri itu sah secara absolut untuk
semua manusia, untuk semua zaman,
semua orang, dan bukan hanya
menyangkut hal-hal faktual historis, tapi
juga bagi segala sesuatu yang bisa
dipahami. (lihat “Asal-Usul Geometri”
dalam die Krisis der europäischen
Wissenschaften und die transzendentale
Phänomenologie, hal. 18 dst).
Ilmu berkembang karena bantuan
matematika atau lebih tepat geometri.
Dengan geometri, maka sains melakukan
geometrisasi dunia kehidupan, semua
diukur dalam kategori-kategori matematis.
Namun kolaborasi antara sains,
matematika dan geometri ini kemudian

5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 235


menimbulkan transformasi lebih jauh lagi,
yang disebut Husserl dengan aritmetisasi
geometri.
Dengan kolaborasi tersebut, segala proses
kerja geometri tidak lagi dilakukan secara
geometris (melalui konsep-konsep spasio-
temporal), melainkan secara aritmetis,
yakni dengan simbol-simbol matematis.
Bila sebelumnya terjadi proses
geometrisasi dunia kehidupan, kini
meningkat menjadi aritmetisasi geometri,
bahkan aritmetisasi dunia kehidupan.
Bila dalam geometri, misalnya, bumi
digambarkan sebagai benda bulat (dan
kebulatan bumi di sini tentu sangat ideal,
sesuai dengan ide tentang kebulatan
bumi), dengan aritmetisasi geometri, bumi
cukup digambarkan dalam angka-angka.
Tinggi sebuah gunung tak perlu lagi
digambarkan, cukup dikatakan dalam
angka. Benda panas tidak lagi dilihat
sebagai benda panas, melainkan cukup
dalam skala sekian derajat, suara diukur
dengan satuan tertentu. Ini tak lain dari
aritmatisasi dunia kehidupan.

5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 236


Singkatnya, semua kualitas subjektif atau
mental dimatematisasi dan direduksi ke
dalam simbol-simbol numerik. Formalisasi
universal inilah yang mengakibatkan sains
terasing dari dunia dan yang kelak
mengakibatkan hilangnya makna
kehidupan (Sinnentleerung). Sains
mereduksi dunia kehidupan ke dalam
angka-angka, dan tercerabut dari dunia
kehidupan. Inilah krisis yang dimaksud
oleh Husserl. (Die Krisis, hal. 45)
Di sini saya tidak berbicara mengenai kritik
filsuf Martin Heidegger terhadap sains dan
ilmu pengetahuan. Cukuplah dikatakan
bahwa sekarang ini tak ada lagi bagian
dunia kehidupan sekarang yang tidak
dipengaruhi atau ditentukan oleh sains
dan teknologi. Dulu teknisisasi dunia
kehidupan itu berlangsung melalui sains
(Technisierung durch Wissen), tapi
sekarang yang terjadi adalah teknisisasi
sains itu sendiri (Technisierung des Wissen
selber). Artinya, sains berkembang
sedemikian rupa untuk melayani
kepentingan teknologi; sains menjadi
pelayan teknologi, dan bukan lagi

5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 237


melayani manusia. (Philosophie und
Wissenschaft, hal. 65).

FILSAFAT
Bagaimana dengan filsafat?
Berbeda dari sains, filsafat tidak bersifat
empiris, tidak reduktif secara tematis dan
juga tidak abstrak secara metodologis.
Filsafat memang bertolak dari pengalaman
empiris, tapi ia justru menantang dan
melampaui pengalaman empiris. Filsafat
juga bertolak dari akal sehat tapi ia
bergerak melampau akal sehat.
Pengetahuan akal sehat adalah
pengetahuan yang kebenarannya kita
terima begitu saja, tanpa dibuktikan dan
tanpa dipertanyakan, berdasarkan
kebiasaan atau pengalaman sehari-hari.
Filsafat menyadari bahwa pengetahuan
akal sehat itu sering tidak sehat.
Objek material filsafat adalah keseluruhan
kenyataan, bukan hanya bagian tertentu
dari kenyataan, sebagaimana sains. Filsafat
mempertanyakan dan menjadikan apa saja
sebagai bahan refleksinya. Heidegger
berfilsafat tentang alat-alat. Hegel dan

5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 238


Immanuel Kant berfilsafat tentang Tuhan
(Filsafat Ketuhanan). Semua hal dapat
menjadi objek refleksi filsafat. Bahkan
ketiadaan (nothingness) itu sendiri.
Leibniz, Heidegger dan Hegel misalnya
merefleksikan ketiadaan dengan
mendalam.
Di Kyoto, Jepang, bahkan ada Kyoto
School of Nothingness. Mereka meneliti
segala hal mengenai ketiadaan, termasuk
struktur ketiadaan itu sendiri. Dan ini
kemudian menimbulkan pertanyaan khas
filsafat: kalau ketiadaan memiliki struktur,
dan bahkan dapat diteliti, apakah
ketiadaan itu masih ketiadaan? Apa itu
ketiadaan.
Tapi ya itulah kekhasan filsafat, sesuai
dengan objek materialnya.
Apa objek formal filsafat? Tidak lain dari
sudut pandang yang sedalam-dalam dan
seradikal-radikalnya. Filsafat merefleksikan
objek materialnya secara sangat
mendalam dan radikal. Jadi, kalau sains
bertolak dan berhenti pada pengalaman
empiris, filsafat bertolak dari pengalaman
empiris dan melampaui pengalaman
5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 239
empiris itu. Filsafat tidak puas hanya di
permukaan, ia ingin mencapai struktur
terdasar dari sesuatu (ontologi).
Filsafat juga tidak reduktif dari segi tema.
Sebelumnya telah dikatakan bahwa filsafat
selalu berusaha memahami segala sesuatu
secara mendalam dan total. Oleh karena
itu, filsafat selalu mencari jawaban hingga
ke wilayah non-empiris. Tidak seperti sains
yang mau tidak mau terbatas pada
pengalaman empiris, filsafat itu tidak
pernah puas hanya dengan mengetahui
aspek tertentu saja, melainkan harus
keseluruhan dari aspek yang diteliti itu,
termasuk syarat-syarat kemungkinannya.
Itu yang membuat filsafat menjadi ilmu
yang mendalam dan menyeluruh.
Karena itu, filsuf Jerman Karl Jaspers
pernah berkata secara agak paradoksal
bahwa filsafat memiliki die Spezialität des
Allgemeinen, artinya, bahwa spesialisasi
filsafat adalah yang umum.
Filsafat juga tidak abstrak secara
metodologis. Kalau sains hanya meneliti
apa yang dimungkinkan oleh metode
yang digunakannya, tidak demikian halnya
5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 240
dengan filsafat. Bagi sains, metode itu
seperti alat yang digunakan untuk
menganalisis objek yang ditelitinya; alat
itu membatasi apa yang diteliti dan
bagaimana penelitian itu berlangsung.
Sebaliknya, filsafat tidak asbtrak karena ia
tidak mengandaikan metode. Filsafat
langsung merefleksikan secara rasional
objek yang ditelitinya dan kemudian
menentukan metode yang digunakan
untuk menganalisis objek itu.
Yang lebih berperan dalam filsafat adalah
kekuatan argumentasi. Justru karena
filsafat tidak dibatasi oleh metode maka ia
dapat melahirkan metode-metode refleksi
yang baru, misalnya fenomenologi,
kritisisme (Kant) atau dialektika. Metode-
metode ini kemudian sering dipinjam oleh
sains. (Tentu dalam refleksi filosofis yang
biasa, orang dapat mengikuti metode
tertentu).
Contoh-contoh pertanyaan sains:
Berapakah gigi beruang es? Dalam kondisi
bagaimana tembaga melebur? Siapakah
penemu benua Australia? Seberapa
cepatkah benda padat jatuh? Seberapa
5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 241
berbahayakah tenaga atom? Bagaimana
cara meraih kekuasaan politik? Zat apakah
yang dikandung oleh jamur? Apakah
bahasa Indonesia termasuk rumpun
bahasa Melayu? Berapakah diameter
bumi? Bagaimana virus corona
berkembang biak? Dan seterusnya.
Contoh-contoh pertanyaan filsafat:
Mengapa ada Ada (Sein) dan bukan
Ketiadaan (Nichts)? Apakah itu
pengetahuan? Apa itu kebenaran? Apa itu
manusia? Apakah kebebasan
memungkinkan determinasi-diri? Apakah
manusia bebas? Apa itu yang baik secara
etis? Apakah sejarah mempunyai makna
dan tujuan? Apa itu keindahan? Apakah
manusia memiliki jiwa? Apakah Tuhan
bereksistensi? Ke mana saya setelah mati?
Mengapa harus saya yang kena COVID-
19? Apakah makna hidupku? Apa itu
hidup yang baik? Apa itu adil? Bagaimana
aku harus hidup? Dan seterusnya.
Pertanyaan-pertanyaan filsafat ini tentu
tidak dapat dijawab oleh sains sebab
pertanyaan itu sendiri tidak menyangkut
pengalaman dunia empiris. Tapi jangan

5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 242


katakan bahwa pertanyaan itu tidak sah.
Pertanyaan itu sah karena menyangkut
makna kehidupan atau realitas ultim
kehidupan itu sendiri.
Sains, justru karena mereka bersifat khusus
dan empiris, tidak dapat menjawab
pertanyaan-pertanyaan mendasar
mengenai makna eksistensial manusia itu
sendiri. Dan tidak ada sains atau ilmu
pengetahuan yang mampu menjawab
pertanyaan-pertanyaan eksistensial
demikian.

BAGAIMANA HUBUNGAN SAINS DAN


FILSAFAT?
Kemajuan sains tidak jarang membawa
mereka pada sebuah titik di mana mereka
terbentur pada masalah-masalah yang
tidak dapat dijawabnya sendiri. Ada
banyak contoh mengenai hal ini.
Perkembangan bioteknologi dan ilmu
genetika misalnya memungkinkan
manusia melakukan cloning atas manusia.
Tapi apakah cloning itu dapat dibenarkan
secara etis? Sampai sekarang ini masih
menjadi bahan perdebatan. Dan anehnya

5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 243


yang terlibat dalam perdebatan itu
bukanlah para ahli yang mengetahui ilmu
cloning, melainkan para ahli bidang etika,
filsafat manusia dll. Ilmu cloning itu sendiri
tidak dapat lagi menjawab pertanyaan
“apakah kloning manusia itu boleh?”
karena hal itu sudah berada di luar wilayah
kompetensinya.
Kita juga melihat bahwa kemajuan teknik
informatika telah memungkinkan manusia
menghasilkan inteligensi buatan. Pikiran
manusia bisa dibentuk sedemikian rupa
sehingga ia misalnya menjadi sangat
cerdas atau sangat berani. Tapi apakah ini
dapat dibenarkan? Apakah Anda setuju
kalau ilmu pengetahuan menciptakan
manusia-manusia seperti robot? Ilmu
pengetahuan mampu melakukan itu, tapi
apakah itu boleh, dan apakah itu perlu?
Pertanyaan ini tidak dapat dijawab oleh
ilmu-ilmu tersebut.
Banyak sekali masalah etis yang sangat
serius yang diakibatkan oleh
perkembangan ilmu yang sedemikian
cepat dan maju dewasa ini. Apakah
cangkok jantung dengan menggunakan

5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 244


organ jantung hewan tertentu misalnya
dapat dibenarkan secara etis manusiawi?
Ilmu kedokteran mampu melakukan
euthanasia, tapi apakah itu dapat
dibenarkan?
Pertanyaan ini tidak dapat lagi dijawab
oleh ilmu kedokteran tu sendiri. Sekarang
telah ada ilmu yang mampu melakukan
campur tangan kepada otak manusia,
sehingga dengan mentrigger bagian
tertentu dari otak, kita dapat menciptakan
manusia-manusia seperti yang kita
inginkan, misalnya menjadi sangat pintar,
sangat religius, sangat rajin, sangat jahat
atau sangat destruktif. Apakah ini dapat
dibenarkan? Kalaupun dapat dibenarkan,
apakah itu perlu dilakukan?
Di sinilah filsafat turun tangan membantu
menjawab masalah yang berada di luar
kompetensi ilmu-ilmu khusus tersebut.
Ilmu-ilmu pengetahuan itu tidak dapat
menjawab pertanyaan: apakah kita dapat
melakukan apa yang mampu kita lakukan?
Sampai sejauh mana kita dapat dan perlu
melakukan apa yang mampu kita lakukan
itu? Apa kriterianya?

5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 245


Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi
kompetensi ilmu filsafat. Filsafat juga
memberi jawaban misalnya mengenai
kesahihan etis dari metode-metode yang
digunakan oleh ilmu tertentu. Filsafat juga
berguna untuk memberikan penjelasan
atas implikasi-implikasi yang disebabkan
oleh ilmu-ilmu itu. Tentu filsafat tidak
dapat sendirian. Ia juga harus bekerja
sama dengan ilmu-ilmu lainnya itu.
Oleh karena itulah jamak terjadi, seorang
saintis yang tidak puas terhadap
pendekatan ilmunya sendiri, kemudian
belajar filsafat, dan memperoleh wawasan
yang lebih luas dan dapat melihat ilmunya
sendiri dengan lebih kritis. Saintis macam
ini kemudian sering menghasilkan
gagasan inovatif dalam bidang ilmunya.
Ke dalam kelompok saintis ini kita dapat
memasukkan Thomas Kuhn, Paul
Feyerabend, Imre Lakatos, Karl R. Popper,
dan lain-lain.

KEMATIAN METAFISIKA?
Dari uraian di atas kita bisa menyimpulkan
bahwa ternyata filsafat belum mati, dan
tidak mungkin mati. Sekalipun sains sudah
5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 246
sedemikian maju filsafat tetap memiliki
alasan untuk hidup. Sains tidak pernah
dapat menggantikan tugas dan fungsi
filsafat dan agama.
Hidup kita akan terlalu dangkal bila
semuanya dijelaskan dengan penjelasan
empiris-ilmiah. Naturalisme tidak pernah
dapat memuaskan manusia. Manusia
adalah mahluk yang selalu ingin tahu.
Pertanyaan-pertanyaan filosofis seperti di
atas akan selalu dilontarkan oleh manusia,
sehebat apapun kemajuan yang telah
dicapai oleh sains. Sains mungkin dapat
menjelaskan asal usul alam semesta
dengan teori Big Bang. Tapi siapa yang
dapat menghentikan akal budi manusia
untuk tidak bertanya: sebelum Big Bang
ada apa? Kalau sains memberikan jawaban
untuk itu, manusia juga akan bertanya:
sebelum itu ada apa?
Manusia tidak akan pernah berhenti
menciptakan sistem-sistem metafisika
yang membantunya memberikan jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan ultim
menyangkut eksistensinya. Karena itu
Heidegger benar ketika ia mengatakan
5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 247
bahwa selama manusia merupakan animal
rationale, ia sekaligus merupakan animal
metaphysicum (as long as man remains the
animal rationale he is also the animal
metaphysicum). (The Way Back into the
Ground of Metaphysics, hal. 209).
Benar, Juergen Habermas dari Sekolah
Frankfurt berbicara mengenai
postmetafisika. Namun, yang dimaksud
Habermas dengan frase itu bukanlah
bahwa di masa depan tidak ada lagi
metafisika. Ciri metafisika menurut
Habermas adalah pemikiran identitas,
idealisme, paradigma filsafat kesadaran
dan prioritas teori atas praktik. Itulah yang
sudah berlalu menurut Habermas.
Postmetafisika dalam pengertian
Habermas adalah post-idealisme, post-
platonisme. Dengan kata lain, era sekarang
tidak lagi mengakui adanya kebenaran
tunggal, seperti Ide Plato, yang mesti
menjadi acuan bagi semua.
Metafisika, demikian Kant, adalah hakikat
manusia (Metaphysik als Naturanlage).
Mengapa? Jawaban atas pertanyaan ini
diberikan Kant pada kalimat pertama
5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 248
bukunya, Kritik der reinen Vernunft: karena
manusia selalu dibebani oleh pertanyaan-
pertanyaan yang tidak dapat dihindari tapi
yang sekaligus tidak dapat dijawab, karena
pertanyaan-pertanyaan itu telah
melampaui pikiran kognitifnya, dan untuk
itulah manusia menciptakan sistem-sistem
metafisika.
Saya pikir uraian di atas sudah cukup
memperlihatkan bahwa metafisika
merupakan keniscayaan eksistensial bagi
manusia itu sendiri.

KESIMPULAN
Sains itu terbatas. Itu sudah jelas. Tapi itu
bukan kelemahan, justru keterbatasan
itulah kekuatan sains. Dengan
keterbatasan itu, sains dapat melakukan
penelitian yang sedemikian mendalam
pada objek tertentu sehingga dengan
demikian kita memperoleh pengetahuan
yang mendalam mengenai objek tersebut.
Goethe pernah mengatakan, “Barang
siapa ingin menjadi besar, ia harus mampu
membatasi dirinya“. Pembatasan diri ini
bukan hanya terjadi pada sains. Pada

5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 249


filsafat juga itu terjadi. Sekarang orang
tidak lagi berbicara mengenai filsafat
sosial, misalnya, karena wilayah itu terlalu
luas. Filsafat sosial kemudian dibagi ke
dalam wilayah lebih spesisik, misalnya
filsafat politik, filsafat ekonomi, dan lain-
lain.
Karena itu, menurut saya, sikap yang
mengagungkan bidang sendiri tidak akan
membawa kita ke mana-mana. Uraian saya
di atas juga bukanlah sebuah
pengagungan filsafat. Itu adalah sebuah
upaya untuk memperlihatkan garis
demarkasi dan tugas serta fungsi kedua
disiplin ilmu tersebut.
Sainstisme, sebagaimana diusahakan oleh
para filsuf neopositivis Lingkaran Wina,
adalah buah dari kebanggaan berlebihan
terhadap sains. Saintisme sama dengan
naturalisme, menganggap manusia
semata-mata sama dengan realitas fisik,
seperti batu atau pohon. Karena itu,
saintisme adalah fundamentalisme sains.
Saintisme adalah dehumanisasi. Saintisme
adalah kedunguan.

5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 250


Saya yakin, sebagaimana ilmu alam maju
karena berkolaborasi dengan matematika,
kita juga akan maju melalui kerja sama
antar-ilmu. Inilah menurut saya salah satu
kunci kemajuan ilmu pengetahuan di
negara-negara Eropa. Saintis, filsuf, dan
teolog duduk bersama membicarakan
tema Tuhan dan Big Bang. Para teolog dan
saintis berdiskusi mengenai bagaimana
Tuhan bertindak di dunia ini.
Rekaman atau teks mengenai diskusi-
diskusi seperti ini dapat dengan mudah
kita temukan di Youtube atau media-
media sosial. Di Jerman, misalnya, filsuf
Otfried Höffe termasuk dalam anggota
komisi ahli yang dibentuk oleh
pemerintahan negara bagian NRW untuk
membantu pemerintah menangani
dampak COVID-19.***
Sumber:
https://www.facebook.com/fiksitorus/posts/1022115
2568357726

5 Juni 2020 | Fitzgerald Kennedy Sitorus | 251


4 JUNI 2020 | FARID GABAN

Sains dan Pemihakan


Farid Gaban

Saya melihat sains sebagai kebutuhan


praktis. Metode saintifik merupakan satu-
satunya common-ground bagi banyak
orang yang beragam untuk merumuskan
kebijakan publik (public policy) yang
membingkai kehidupan kita bersama, baik
di tingkat lokal, nasional maupun
internasional.
Kebijakan publik, menurut saya, haruslah
dilandasi oleh sains; bukan oleh selera
politik, sikap fanatik keagamaan tiap
golongan, atau oleh interest ekonomi
segelintir orang.
Pertimbangan sains harus diutamakan,
tidak hanya dalam kita mengatasi
ancaman wabah (seperti corona sekarang),
tapi juga dalam kebijakan mencegah dan
menangani bencana, dalam transportasi,
energi, ekonomi, sosial-budaya,

4 Juni 2020 | Farid Gaban | 252


kelestarian alam, dan hampir semua aspek
kehidupan.
Dalam konteks kebijakan publik,
perdebatan terpenting bukanlah apakah
sains itu utama atau tidak utama (sudah
jelas utama). Tapi sebarapa jauh
metodologi sains dipakai dan diterapkan.
Menurut saya, justru belum terlalu jauh.
Bahkan masih sangat sedikit.
Kita harus mendorong pengarusutamaan
sains, namun pada saat yang sama justru
harus makin kritis pula terhadap klaim-
klaim keilmiahan yang sering kali cacat,
palsu dan hegemonik (menindas).
Kita tidak hidup di ruang kosong dan
dalam dunia yang sempurna. Anggaran
riset ilmiah kita, misalnya, sangat terbatas,
yang sudah jelas membatasi kita dalam
mempromosikan "perangai sains"
(scientific temper), bahkan jika kita semua
sepakat tentang keutamaannya.
Soal kedua menyangkut kapasitas dan
disiplin kita dalam menerapkan
metodologi sains. Banyak riset ilmiah,
khususnya di bidang sosial dan

4 Juni 2020 | Farid Gaban | 253


humaniora, tergantung pada ketersediaan
dan kesahihan data yang dikumpulkan
oleh badan negara seperti Badan Pusat
Statistik (BPS) misalnya. Terus terang harus
saya katakan, metodologi survai BPS yang
betumpu pada kerja kaum birokrat, sangat
jauh dari memadai.
Tanpa data akurat, sulit membuat
kebijakan yang memuaskan. Kita tahu,
misalnya, bagaimana amburadulnya data
"orang miskin" terkait dengan kebijakan
bantuan sosial yang belum lama ini
banyak diperbincangkan.
Kita juga sering melihat buruknya produk
analisis dampak lingkungan (AMDAL)
dalam menilai kelayanan proyek
pemerintah/swasta. Kajian AMDAL, yang
seharusnya ketat memakai metodologi
ilmiah, justru cenderung cuma menjadi
stempel karet (justifikasi) terhadap apa
yang sudah diputuskan secara politik oleh
aparat pemerintah dan pengusaha.
Ada banyak tema riset sains yang tentu
saja bagus jika bisa kita lakukan semua,
dari perikanan hingga rekayasa genetika
hingga eksplorasi antariksa. Tapi,
4 Juni 2020 | Farid Gaban | 254
keterbatasan anggaran dan kapabilitas
menuntut kita membuat prioritas.
Manakah yang harus didahulukan: riset
pertanian yang bisa mengangkat
kesejahteraan petani, misalnya, atau riset
genetika nuklir 4.0 yang jauh dari
kebutuhan?
Prioritas itu akan menjadi ajang perebutan
persepsi tentang apa yang penting atau
tidak penting, serta perebutan
kepentingan politik maupun ekonomi.
Dalam kaitan ini, tidak cukup untuk
mengatakan bahwa sains itu utama, tapi
sains untuk apa dan siapa yang
diuntungkan.
Makin tinggi keyakinan kita tentang
keutamaan sains, menurut saya, perlu
diimbangi daya kritis yang makin tajam
terhadap klaim-klaim keilmiahaan.
Pseudo-sains tidak hanya lazim di
kalangan masyarakat awam, tapi juga di
lingkungan negara dan swasta besar.
Kita tahu bahwa "research and
development" tidak hanya dilakukan oleh
lembaga negara, tapi juga oleh swasta
nasional maupun multi-nasional. Bahkan
4 Juni 2020 | Farid Gaban | 255
peran swasta dalam riset ilmiah makin
kuat belakangan ini, misalnya dalam
farmasi, kesehatan, maupun bidang-
bidang lainnya.
Laboratorium riset swasta, bagaimanapun,
punya motif profit dan tidak bebas dari
kepentingan bisnis. Bahkan banyak riset
universitas negeri dibiayai oleh swasta.
Perusahaan-perusahaan swasta tak hanya
melakukan riset tapi juga
mempromosikannya secara besar-besaran
untuk menjamin lakunya produk hasil
riset. Apa yang disebut ilmiah atau tidak
ilmiah pada akhirnya tentang adu kuat
kapital (uang).
Obat pabrikan, misalnya, diberi stempel
ilmiah, dan karenanya lebih dianjurkan
pemakaiannya ketimbang jamu tradisional,
meski jamu itu sudah dipakai turun-
temurun (artinya melalui pengalaman
empiris yang panjang).
Tidak cukup untuk mengatakan bahwa
"sains itu tidak sempurna, bisa dikoreksi
dan tidak final". Banyak persepsi dan
pengetahuan kita tentang produk sains

4 Juni 2020 | Farid Gaban | 256


seperti obat-obatan, misalnya, tidak
mudah dikoreksi; semata-mata karena
merasuk dalam kesadaran kita lewat iklan-
iklan produk yang masif dari hari ke hari.
Ada ketimpangan relasi-kekuasaan di
antara promotor sains.
Betul bahwa sains palsu/cacat pada
akhirnya akan terkoreksi juga di kelak
kemudian hari, tapi biasanya setelah
menimbulkan dampak besar yang
seringkali merugikan khalayak ramai.
Di India belum lama lalu, orang
memprotes bagaimana benih beras
basmati (yang enak dan pulen itu) dibawa
ke laboratorium sebuah perusahaan
multinasional, yang kemudian
memodifikasinya secara genetik dan
mematenkan benih itu. Orang India yang
semula bisa mendapatkan benih basmati
secara gratis turun-temurun, kini harus
membeli, bahkan bisa diancam pidana jika
mencoba menanam turunannya.
Di situ kita melihat bahwa "label ilmiah"
(rekayasa genetika) memberi justifikasi
pada perampokan sumber daya genetik

4 Juni 2020 | Farid Gaban | 257


(bio-piracy) dan membenarkan
kesarakahan sempit (paten perusahaan).
Disadari atau tidak, semangat
mempromosikan "perangai ilmiah" juga
sering dipakai untuk menyepelekan dan
mengabaikan kearifan tradisional dengan
menyebutnya sebagai klenik atau tahyul
semata.
Masyarakat-masyarakat tradisional
Indonesia mengenal tradisi seperti "sasi"
atau "hutan larangan". Dalam aturan sasi,
warga dilarang mengail atau menjala ikan
di teluk dan sungai tertentu dan pada
kurun tertentu. Di tempat lain, warga
dilarang menebang pohon di wilayah
tertentu, dengan menyebutnya sebagai
"hutan keramat" agar orang takut
melanggarnya.
Di tengah deru modernitas yang ilmiah
(katanya), suku-suku tradisional digusur
dan tradisi mereka dilecehkan.
"Keutamaan sains" dipakai dalih oleh
kalangan pengagum developmentalisme
dan orang-orang mabuk investasi untuk
menyingkirkan warga yang diberi label
primitif.
4 Juni 2020 | Farid Gaban | 258
Padahal, cara hidup tradisional itulah yang
justru telah menyelamatkan alam: konsep
"sasi" berjasa mengurangi "over-fishing di
laut dan "illegal/over-logging" di darat.
"Hutan larangan" menyelamatkan sumber-
sumber air yang kini makin langka di desa-
desa.
Sains mungkin netral Tapi, pembawa dan
promotornya tidak. Pengutamaan sains
akhirnya juga tentang pemihakan: siapa
yang mau Anda bela.***
Sumber:
https://www.facebook.com/fgaban/posts/10158476
104825127

4 Juni 2020 | Farid Gaban | 259


5 JUNI 2020 | NIRWAN AHMAD ARSUKA

Sains di Tengah Wabah


Corona
Nirwan Ahmad Arsuka

Tak terhindarkan: agama yang yakin


sebagai pengetahuan yang diturunkan
langsung oleh Tuhan pantas mengangkat
diri jadi pengetahuan paling luhur, agung,
lengkap dan sempurna. Kaum agamawan,
dengan niat mulia, kerap menilai
pengetahuan rasional yang sekuler itu
sebagai pengetahuan yang rendah, kasar,
tak lengkap, dan berbahaya.
Mereka yang mengamalkannya harus
dikoreksi dan diselamatkan jiwanya.
Keluhan Galileo Galilei di ruang
tahanannya dan rintihan Giordano Bruno
di api unggunnya, tentu masih bisa kita
dengar di abad ini.
Sejak akhir abad ke-20 hingga hari ini,
masih bisa kita dijumpai literatur yang
menyerukan islamisasi pengetahuan.

5 Juni 2020 | Nirwan Ahmad Arsuka | 260


Penulisnya antara lain adalah Naquib
Alattas, Ismail Raja Al-Faruqi atau
Muhammad Mumtaz Ali. Mereka ini
masih menganggap sains itu jahiliyah
bahkan kafir dan karena itu harus
diislamkan agar benar-benar jadi
pengetahuan yang bermanfaat bagi
seluruh alam.
Cendekiawan Indonesia seperti Mochtar
Lubis, Soedjatmoko hingga bahkan YB
Mangunwijaya juga, sampai batas
tertentu, mengingatkan agar pengetahuan
ilmiah yang tumbuh di Barat itu harus
dihadapi dengan hati-hati karena akan
membawa dampak pada kebudayaan. Di
negeri lain, ada ideolog yang bahkan
menganggap pengetahuan ilmiah itu
berwatak imperialis sebagaimana
peradaban Barat yang melahirkannya.

PEMBACAAN DEKAT
Ledakan pandemi corona adalah rapid test
yang sangat bagus untuk menguji klaim
superioritas berbagai jenis pengetahuan.
Hasil test itu segera menunjukkan bahwa
agama yang meletakkan diri paling
superior itu ternyata adalah jenis
5 Juni 2020 | Nirwan Ahmad Arsuka | 261
pengetahuan yang paling banyak diam
menghadapi corona.
Barangkali sumbangan terbesarnya itu
justru adalah dengan tidak berbuat apa-
apa itu. Dengan bersikap patuh pada
anjuran sains, agama telah sangat
membantu memutus rantai penularan
wabah.
Sastra dan filsafat menunjukkan sikap
yang lebih aktif menghadapi wabah.
Melukiskan dan memberi nama pada
objek adalah tindakan awal dalam
pengetahuan. Slavoc Zizek, misalnya,
memberi rincian sumber wabah itu: a sub-
layer of life, the undead, stupidly repetitive,
pre-sexual. Arundhati Roy memberi
deskripsi yang sedikit lebih dinamis pada
virus itu: unseeable, undead, unliving blobs
dotted with suction pads waiting to fasten
themselves on to our lungs.
Sains memang yang paling awal dan
paling gigih membaca COVID-19. Ketika
korban di Indonesia belum berontokan,
sains sudah berhasil mengurutkan genom
virus tersebut, dan memberi nama yang
bagus: Sars-COV-2. Nama yang
5 Juni 2020 | Nirwan Ahmad Arsuka | 262
merupakan singkatan dari Coronavirus
Sindrom Pernapasan Akut Berat-2,
menjelaskan wujud dan tabiat virus ini
sekaligus asal-usulnya yang adalah galur
baru dari keluarga virus bermahkota yang
sudah dikenal sebelumnya. Nama ini
adalah indeks yang baik karena terang
menunjukkan lokus virus ini dalam tatanan
hal ihwal.
Dari praktek membaca pandemi ini, dapat
dikatakan bahwa hanya sains yang
mengamalkan close reading (pembacaan
dekat), dan menelisik bukan hanya genom
individual. Sastra, seperti halnya sejarah
dan filsafat, hanya sanggup melakukan
distant reading (pembacaan jauh) yakni
mengaji dan meminjam hasil bacaan sains,
atau jadi pengamat dan pencatat dari satu
jarak.
Sains bukan saja membaca dan
menyumbang pemahaman baru tentang
SARS-CoV-2; sains juga “memanfaatkan”
SARS-CoV-2 untuk mengoreksi dan
mengembangkan diri, agar bisa sungguh-
sungguh membaca pandemi ini dengan
jitu. Pembacaan sains tidak mudah bukan

5 Juni 2020 | Nirwan Ahmad Arsuka | 263


saja karena teks bermahkota yang
dihadapi itu tak bisa dibingkai dan
dibekukan. Virus itu bermutasi dalam
penyebarannya di antara manusia dan kala
melintasi wilayah. Tapi juga karena
perangkat baca yang dimiliki masih harus
terus dipercanggih.
Berbagai cabang ilmu bergulat membaca
SARS-CoV-2, antara lain virologi,
pulmonologi, immunologi, epidemiologi,
vaksinologi, genetika molekuler, dan
kecerdasan buatan. Cabang-cabang ilmu
ini punya sejarah, pendekatan, disiplin,
dan metodologinya sendiri, yang mungkin
membuahkan hasil bacaan yang berbeda
dan bisa memicu debat. Perdebatan paling
seru dalam membaca dan merespon
pandemi ini terlihat di ranah epidemiologi
yang memang langsung berhubungan
dengan kehidupan manusia sejagad.

DUA MAZHAB
Ketika WHO mengumumkan bahwa Sars-
COV-2 itu adalah pandemi, korban sudah
banyak jatuh dan wabah menyebar seperti
api besar melangkahi batas-batas negara.
Bill Gates menyebutnya "Once-in-a-
5 Juni 2020 | Nirwan Ahmad Arsuka | 264
Century Pandemic." Flu Spanyol di awal
abad ke-20 menelan korban sekitar 50 juta
jiwa; Sars-COV-2 diduga lebih ganas lagi
dan akan menelan korban yang mungkin
jauh lebih besar. Pengumuman WHO
memantik reaksi para epidemiolog dan
mengobarkan perselisihan yang oleh
filosof kedokteran Jonathan Fuller
dipetakan sebagai debat antara mazhab
"model" melawan mazhab "bukti." Di
Amerika, mazhab "model" diwakili oleh
epidemiolog kesehatan publik dari
Harvard, Marc Lipsitch, dan mazhab
"bukti" diwakili oleh epidemiolog klinis
John Ioannidis dari Stanford.
Hipokrates, Bapak Kedokteran Yunani
Kuno, sudah mengajarkan azas
penanganan penyakit luar biasa. Extremis
malis extrema remedia. Berdasarkan sekian
data yang diakui belum memadai, mazhab
"model" menyusun sejumlah model
matematis yang kemudian diajukan
sebagai dasar untuk membuat keputusan
penanggulangan wabah. Pendekatan
dengan model matematis memang suatu
yang biasa dalam dunia pengetahuan.
Berdasar dugaan bahwa Sars-COV-2 itu
5 Juni 2020 | Nirwan Ahmad Arsuka | 265
adalah virus lebih ganas, maka saran
penanggulangan wabahnya pun berskala
luar biasa.
Para epidemiolog di mazhab "bukti" tentu
tak keberatan dengan ajaran Hippokrates,
tapi mereka mendebat sengit berbagai
usulan yang berdasarkan model-model
matematis itu. Buat kubu ini, pendekatan
model itu bukan saja tak memadai, tapi
bisa berbahaya, karena banyak kajian yang
menunjukkan bahwa pendekatan model
ini mengandung berbagai bias.
Pada 2005, John Ioannidis menerbitkan
paper berpengaruh yang tercatat paling
banyak diunduh dari pustaka akses-
terbuka Public Library of Sciences.
Judulnya, "Why Most Published
Research Findings Are False."
Perdebatan dua mazhab epidemiolog itu
bisa juga tampak sebagai debat antara
kaum pragmatis dan kaum idealis. Bagi
kaum pragmatis, data memang tak
memadai, namun tindakan harus segera
diambil untuk mencegah lebih banyak
korban. Kaum idealis setuju intervensi, tapi

5 Juni 2020 | Nirwan Ahmad Arsuka | 266


dasar tindakan itu harus memenuhi syarat
ilmiah yang ketat.
Sains tanpa pembuktian yang kokoh, tentu
saja bukan sains lagi. Posisi kaum idealis
ini jadi kian penting ketika ditemukan
bahwa wabah ternyata menghantam lebih
keras kalangan miskin dan kelompok
marjinal tertentu, sehingga model yang
tak peka kelompok rentan ini harus
dirombak.

BIAS NIAT MULIA


Jika diperiksa lebih jauh, perdebatan
antara para epidemiolog itu sebenarnya
bukanlah benturan antara paradigma atau
antarmazhab. Perdebatan itu adalah
dinamik penerapan prinsip metode ilmiah
yang ketat. Ia berakar pada kesadaran
akan keterbatasan manusia,
ketaksempurnaan pengetahuan, dan
bahaya dari niat mulia. Terlalu banyak
bukti bahwa niat mulia tanpa
pengetahuan yang teruji adalah jalan
mulus bagi bencana. Ditambah kekuasaan
yang besar tak terkendali, ramuan ini akan
benar-benar ampuh mengundang

5 Juni 2020 | Nirwan Ahmad Arsuka | 267


malapetaka, bahkan jika hanya satu saja
informasi yang keliru.
Sars-COV-2 memang belum hilang,
vaksinnya pun belum ditemukan, Tapi
berbagai disiplin dan cabang ilmu sudah
terus mengoreksi diri dan saling
memperkaya. Model-model direvisi
mengikuti temuan baru dan nilai moral,
membantu para pembuat kebijakan
menawar berbagai kompleksitas dan
dilema antara nyawa manusia dan
ekonomi bangsa.
Kerja sama antar ilmuwan membuat hasil
bacaan yang semula berbeda dapat diuji
bersama untuk kemudian diramu dengan
totalitas pembuktian. Metasains
ditegakkan. Asal diberi waktu yang
memadai, sains optimis akan dapat
menemukan obat yang diperlukan.
Bagi masyarakat awam, perdebatan para
saintis bisa tampak memusingkan. Mirip
mereka yang tak paham bola, pergulatan
dua kesebelasan di lapangan juga
mungkin terasa membingungkan, bahkan
tolol. Dua abad sebelum Giordano Bruno,
Raja Edward II di Inggris pernah
5 Juni 2020 | Nirwan Ahmad Arsuka | 268
mengeluarkan dekrit yang melarang sepak
bola, menganggapnya permainan kacau
yang kampungan. Sains dan sepakbola
memang punya masa silam yang mirip
yakni dipandang rendah oleh kaum yang
berkedudukan mulia.
Eduardo Galeano, dalam Soccor in
Shadow and Sun, antara lain menulis:
Cemoohan dari banyak cendekiawan
konservatif berakar dari anggapan mereka
bahwa pemujaan sepakbola adalah agama
yang cocok buat kaum awam. Dirasuki
oleh sepak bola, rakyat jelata itu berpikir
dengan dengkul kaki mereka, yang
merupakan satu-satunya cara mereka
untuk bernalar... Sebaliknya, banyak
intelektual progresif merendahkan sepak
bola karena mengebiri massa dan
memandulkan semangat revolusioner
mereka.... dihipnotis oleh bola, kesadaran
pekerja menjadi mandeg dan mereka
membiarkan diri dituntun seperti domba
oleh musuh-musuh kelas mereka.
Apapun yang dilontarkan oleh para
pencemooh sepak bola, para ideolog yang
sangat mencintai kemanusiaan namun tak

5 Juni 2020 | Nirwan Ahmad Arsuka | 269


kuat bergaul dengan rakyat jelata, semua
itu tak mengubah para pengkhidmat bola
seperti Galeano, atau Paul Hoyningen-
Huene. Buat mereka sepak bola adalah
pentas bagi drama kehidupan yang paling
intens, arena bagi lahirnya berbagai
macam keajaiban yang tak terlupakan
yang membuat hidup menjadi sangat
berharga.
Pergulatan sains memang tak sesimpel
pertandingan bola. Emosi yang
dibangkitkannya mungkin juga tak
seintens sepak bola. Tapi sains juga bisa
seperti sepak bola, yakni menjadi seni
yang, meminjam frasa Galeano, mengubah
keterbatasan menjadi virtue. Kerjasama
para ilmuwan memang tak menghasilkan
orgasme yang meledakkan tribun berupa
gol indah yang menggetarkan gawang.
Kerja sama mereka telah melontarkan
manusia terbang ke bulan, merentang usia
manusia dua kali lebih panjang, dan
mengangkat peradaban dunia ke tingkat
yang lebih baik.

5 Juni 2020 | Nirwan Ahmad Arsuka | 270


PERMAINAN BERSAMA
Jika sains sanggup ambil manfaat dari
corona, agama juga bisa. Kalau agama tak
berubah setelah pandemi, maka tuduhan
yang pernah diajukan Martin Heidegger
untuk sains, yakni “tidak berfikir” mungkin
cocok dilimpahkan ke agama. Pelajaran
yang bisa langsung disebar adalah bahwa
agama dapat memberikan sumbangan
besar, justru jika ia bungkam dan tak
ngotot menyumbang. Etika publik dan
transaksi argumen yang demokratis jadi
kian perlu dijunjung.
Khazanah religius memang kekayaan
privat paling berharga buat para
penganutnya, yang mungkin ditawarkan,
tanpa paksaan dan pengistimewaan, untuk
memperkaya khazanah publik.
Pilihan yang lebih asyik, yang juga berlaku
untuk sastra dan filsafat tentu saja adalah
memasuki tatanan baru (new normal)
dengan menjadi penonton yang literate,
yang paham aturan main sains dan
mengikuti perjuangan ilmu yang terbatas
dan tak sempurna itu untuk memahami
dan menjinakkan wabah besar yang sama

5 Juni 2020 | Nirwan Ahmad Arsuka | 271


sekali tak punya rasa hormat pada
kedaulatan wilayah, keagungan ibadan
dan segala jenis konstruksi sosial manusia.
Pemahaman akan aturan main sains akan
kian membentangkan jalan selebrasi
keindahan spirit dan nalar kritis manusia
dimana semua pihak, bukan hanya
ilmuwan, filsuf dan penyair, bisa ambil
bagian. Itulah permainan besar yang
menautkan kesadaran sains, olahraga dan
puisi, yakni kesadaran akan keterbatasan
yang harus diolah untuk melampaui
keterbatasan. Permainan bersama itu
bolak balik menghamparkan fakta bahwa
hidup dan pengetahuan, dibanding maut
dan ketidaktahuan, memang jauh lebih
menakjubkan, lebih tak terbatas, dan
karena itu perlu terus dirayakan.
Selamanya.***
Sumber:
https://kompas.id/baca/opini/2020/06/05/sains-di-
tengah-wabah-korona/

5 Juni 2020 | Nirwan Ahmad Arsuka | 272


5 JUNI 2020 | BUDI MUNAWAR RACHMAN

Perbedaan Sains dan


Saintisme
Budi Munawar Rachman

Sedang ramai diskusi di Facebook soal


sains dan saintisme terutama dari
Goenawan Mohamad, A.S. Laksana, dan
para penanggapnya seperti Ulil Abshar
Abdalla, Taufiqurrahman, F. Budi
Hardiman, Fitzerald Kennedy Sitorus,
Husain Heriyanto, dan masih banyak
lainnya.
Saya dalam status ini, ingin ikut berbagi
pikiran bahwa saintisme itu adalah
pandangan yang menyempitkan sains.
Sains hanyalah salah satu cara manusia
mengerti realitas. Ada banyak cara lain
manusia bisa mengetahui realitas,
misalnya bisa melalui filsafat, teologi,
mistisisme dan seterusnya. Ketika
seseorang mengatakan bahwa realitas
hanya bisa diketahui melalui sains, itu
adalah “saintisme”.
5 Juni 2020 | Budi Munawar Rachman | 273
Menurut saya, sains itu mempunyai dua
muka. Jika kita menganggap bahwa apa
yang kita saksikan dalam fenomena sains
itu adalah "sebuah kenyataan yang
sempurna," maka kita akan melihat sains
sebagai hanya kebenaran inderawi.
Sains pernah mengukuhkan bahwa
kebenaran mutlak adalah yang didasarkan
pada panca-inderawi saja. Pandangan ini
disebut “saintisme.” Karena itu,
pertanyaannya adalah, "Apakah ada
sesuatu hakikat yang berada di luar sains?"
Saintisme akan menjawab tidak ada.
Kebenaran hanyalah kebenaran material
yang bisa dideskripsi¬kan melalui hukum-
hukum sains saja.
Melawan pandangan saintisme itu, yang
sekarang mulai ditinggalkan orang,
sangatlah menarik, kalau kalau kita bisa
melihat pada "tanda-tanda", bahwa sains
bisa membawa kita kepada suatu hakikat
yang ada di seberang sains. Sesuatu yang
tidak terpikirkan oleh saintisme.
Kita akan melihat "tanda-tanda" yang
merupa¬kan petunjuk kepada adanya
realitas di seberang sains. Kita catatkan
5 Juni 2020 | Budi Munawar Rachman | 274
terlebih dahulu "tanda-tanda" itu, melalui
“tesis-tesis” perjalanan kita untuk
menunjukkan adanya realitas di seberang
sains (Tesis-tesis berikut saya ambil dari
Huston Smith, Forgotten Truth, The
Common Vision of the World’s Religions,
pada bab “The Place of Science,” [New
York: Harper San Francisco, 1992], h. 96-
117). Tesis-tesis itu kita coba dalami dalam
rangka untuk menyangkal pandangan
saintisme.
 1. Sesuatu itu tidaklah seperti apa yang
kita lihat pada lahiriahnya.
 2. Selain dari yang kita lihat pada sisi
lahiriahnya, terdapat "sesuatu yang
lebih dari itu".
 3. "Sesuatu yang lebih" itu, tidak dapat
diketahui dengan cara yang biasa
dilakukan.
 4. Walaupun begitu, ia bisa diketahui
dengan cara-cara yang memadai untuk
itu, cara yang luar biasa.
 5. Cara-cara tersebut memerlukan
penyuburan (cultivation) atau
penyemaian.
 6. Dan cara itu, juga memerlukan alat.

5 Juni 2020 | Budi Munawar Rachman | 275


TESIS 1
Sesuatu Itu tidaklah seperti apa yang
kita lihat pada lahiriahnya.
Salah satu dari tugas sains adalah
menunjukkan hakikat dari kenyataan. Apa
yang paling menakjubkan dari sains
modern, adalah kemampuannya dalam
menunjukkan bahwa kenyataan tidak
seperti apa yang dapat kita lihat secara
langsung. Jika kita mengatakan bahwa
meja ini bersifat pejal, maka sains akan
mengatakan bahwa, pada hakikatnya tidak
begitu. Sebab, jika kita bisa melihat atau
mengecilkan meja sampai kepada tingkat
elektron, maka yang akan kita lihat adalah
ruang kosong, rasio ruang dan materi di
situ adalah, seperti bola dan ruang
permainannya (lapangan bola). Begitu
juga, jika kita mengatakan meja itu statis.
Itu tidak benar, kata sains, karena kita akan
melihat di dalamnya, ada aktivitas elektron
yang berkelil¬ing memutari intinya
berjuta-juta kali dalam sesaat.
Inilah contoh bahwa setiap saat, inderawi
kita "menggambarkan sesuatu," tetapi
indera kita telah dirancang sedemikian

5 Juni 2020 | Budi Munawar Rachman | 276


rupa sehingga tidak memberitahukan
kepada kita perkara yang sebenarnya.
Bayangkan saja, jika nenek moyang kita
dulu melihat bukan beruang, tetapi
elektron-elektron yang berputar, tentu
saja ia sudah dimakan oleh beruang itu!
Inilah yang dinamakan bahwa, “Sesuatu itu
tidaklah seperti apa yang kita lihat pada
lahiriahnya.”
Dengan kesadaran ini, maka kita didorong
kepada kesadaran suatu "kenyataan lain"
dari kenyataan yang sehari-hari kita lihat
dengan mata kepala kita. Sains
menunjukkan bahwa indera kita telah
memperdayakan kita. Ini mengingatkan
kepada pandangan tradisional-
keagamaan, bahwa "yang lahiriah itu
mengelirukan" (our sensibilities mislead).
Agama mendakwah bahwa ia telah
memberitahu kita tentang suatu alam lain,
tentang sesuatu yang tersembunyi di balik
alam ini, yang bisa kita pegang, lihat dan
sentuh. Kita mungkin berpikir bahwa
dakwahan agama ini palsu, tetapi jika ia
memang benar, kemungkinannya ia
adalah sukar atau sekurang-kurangnya

5 Juni 2020 | Budi Munawar Rachman | 277


sukar seperti fisika modern, atas sebab
yang sama.
Keterangan ini, juga mengingatkan kita
kepada pemikiran Sufisme yang sering
membuat dua lapisan bacaan: antara yang
“terlihat” dan “tak terlihat”. Atau dalam
filsafat India yang menyatakan tentang
maya. Apa yang disebut maya ini
sebenarnya bukanlah bahwa, “dunia ini
adalah khayalan”, tetapi bahwa “cara dunia
memamerkan dirinya kepada kita adalah
mengelirukan”.
Permadani yang dibentangkan di hadapan
kita, dan mengundang kita untuk
menai¬kinya adalah sebuah permadani
ajaib, tetapi ia menyihir; ia menipu.
Frithjof Schuon, dalam Spiritual
Perspectives and the Human Facts, h.169
mengatakan bahwa, "kehidupan ini adalah
perjalanan satu mimpi, satu kesadaran,
satu ego melalui mimpi kolektif dan
kosmis. Kematian menarik mimpi tersebut
dari mimpi keseluruhannya, dan mencabut
akar yang telah diturunkan ke mimpi
umum. Alam ini adalah satu olahan mimpi

5 Juni 2020 | Budi Munawar Rachman | 278


dari mimpi yang banyak. The Self alone is
awake."
Dalam konteks ini, ada do’a yang “aneh”
dari Kitab Suci Yahudi dan Kristen, “Maka
didiklah kami menghitung hari-hari kami,
semoga akan terbit kearifan di hati kami”
(Mazmur 90:12).

TESIS 2
Selain dari yang kita lihat pada sisi
lahiriahnya, terdapat "sesuatu yang
lebih" dari itu, Dan “itu” menakjubkan.
Kita sudah melihat bahwa sifat sebenarnya
dari “sesuatu itu,” secara radikal “berbeda”
dari yang tampak. Mereka, para saintis
menyetujui bahwa "yang berbeda" itu,
lebih tinggi tingkatannya dari segala yang
kita alami dalam penglihatan sehari-hari.
Sains adalah ilmu yang berurusan dengan
kuantitas. Maka istilah "sesuatu yang
melebihi" itu dalam sains selalu dinyatakan
dalam bentuk angka-angka. Misalnya, kita
mendapatkan bahwa cahaya dari sebuah
galaksi yang agak besar, dan paling dekat
dari bumi memerlukan dua juta "tahun
cahaya" untuk sampai ke bumi. Jumlah
5 Juni 2020 | Budi Munawar Rachman | 279
molekul dalam 4 1/2 dram air (kira-kira
1/2 ons), dan sebagai tetapan avogadro
(Avogadro Constanta) adalah 6,023 x
1023, atau kira-kira 600.000 miliar molekul.
Kepada keajaiban angka-angka seperti itu,
agama biasanya mengatakannya dengan
cara kualitatif, misalnya "Penderitaan yang
kita alami pada masa kini tidak seberapa
besar dibandingkan dengan kemuliaan
dan keindahan yang akan kita alami
kelak."
Dari fisika mikro, kita juga mengetahui
bahwa adanya zat yang 100 miliar kali
lebih kecil dari elektron. John Weller
memberitahukan kita bahwa cakrawala
yang kita ketahui ini, 13 miliar tahun
umurnya, dan 26 miliar tahun cahaya yang
terjauh, jauhnya dari bumi. Angka-angka
ini mempunyai platform yang begitu
besar, sehingga menjadikan sains berkata
secara mistis, sebagai tak terbatas atau tak
tergambarkan, maka dianggap “infinite”.

TESIS 3
"Sesuatu yang lebih" itu, tidak dapat
diketahui dengan cara yang biasa
dilakukan.
5 Juni 2020 | Budi Munawar Rachman | 280
Biasanya, para saintis (ilmuwan)
menggambarkan atas besaran yang sukar
dibayangkan di atas, dengan kata
"mengagumkan" (Siapa yang bisa
membayangkan angka bermiliar-miliar di
atas). Tetapi sebenarnya, ini baru
permulaan, yang belum apa-apa. Karena,
kajian sains belakangan ini
mengemukakan sesuatu yang tidak dapat
diterka oleh pikiran kita. Inilah yang terjadi
pada teori relativitas dan mekanika
kuantum.
Selama abad kedua puluh, penemuan-
penemuan fisika modern telah
meruntuhkan paradigma Newtonian.
Runtuhnya paradigma ini, terjadi akibat
perkembangan teori relativitas Einstein
dan mekanika kuantum. Teori relativitas,
yang merupakan fisika kecepatan tinggi
pada jarak-jarak yang besar, yang
membantah asumsi Newton tentang
ruang dan waktu absolut, telah menguasai
pandangan sehari-hari kita tentang dunia.
Ruang dan waktu direlatifkan oleh
Einstein, ketika unsur kecepatan cahaya
menjadi variabel dari gerak. Dengan
demikian, panjang ruang dan panjang
5 Juni 2020 | Budi Munawar Rachman | 281
waktu adalah sesuatu yang relatif,
tergantung keadaan pengukurnya.
Sementara itu, mekanika kuantum, yang
merupakan fisika tentang dunia mikro
subatomik, merombak total pandangan
tentang materi. Asumsi lama bahwa,
atom-atom dunia mikroskopik adalah versi
berskala kecil dari dunia sehari-hari, harus
segera ditinggalkan. Mesin deterministik
Newton digantikan oleh alam yang diatur
dengan hukum-hukum kemungkinan,
bukan hukum sebab akibat yang
memberikan kepastian. Perkembangan ini
mengakibatkan terbukanya ruang “mistik”
dalam penjelasan fisika, juga menjadi
fenomena yang tak pernah terduga,
karena fisika sebelumnya sangat bersifat
materialistik dan sekular dalam melihat
kenyataan alam.
Pernyataan paling revolusioner dari fisika
kuantum mengenai hakikat kenyataan
alam adalah tentang sifat dualitas dunia
subatomik.
Contoh paling terkenal tentang sifat ini
adalah cahaya, yang bisa diamati sebagai
gelombang elektro-magnetik atau
5 Juni 2020 | Budi Munawar Rachman | 282
partikel-partikel foton, tergantung dari
rancangan percobaan yang diterapkan
padanya. Niels Bohr menjelaskan ini
melalui prinsip komplementaritas. Prinsip
ini mengatakan bahwa, gambaran dunia
subatomik sebagai partikel dan
gelombang merupakan dua penjelasan
yang saling melengkapi tentang satu
kenyataan yang sama, kendati kita tidak
bisa memperolehnya secara sekaligus.
Percobaan yang dirancang untuk
mendeteksi gelombang hanya dapat
mengukur aspek gelombang dari elektron.
Sedangkan percobaan yang dirancang
untuk mendeteksi partikel, hanya dapat
mengukur aspek partikelnya. Sebuah
percobaan tak mungkin mengukur kedua
aspek itu secara serempak.
Prinsip ini mempunyai efek epistemologis
berkaitan dengan objektivitas yang selama
ini dijunjung setinggi langit oleh fisika.
"Tidak benar bahwa fisika adalah tentang
alam sebagaimana adanya. Fisika adalah
tentang alam sebagaimana yang kita
ketahui," begitu Bohr mengomentari
implikasi dari prinsip komplementaritas ini.

5 Juni 2020 | Budi Munawar Rachman | 283


Dualitas partikel-gelombang ini
dilanjutkan oleh prinsip Ketidakpastian
Heisenberg yang membicarakan dualitas
posisi-momentum. Prinsip ini mengatakan
bahwa, kita hanya dapat mengamati
secara teliti separuh dari kenyataan
keadaan fisik suatu sistem. Artinya, kalau
kita dapat mengukur dengan teliti
kecepatan suatu partikel, maka
pengukuran posisinya menjadi tidak teliti.
Sebaliknya, semakin teliti kita mengukur
posisi suatu partikel, semakin tidak teliti
pengukuran kecepatannya.
Kedua prinsip ini memperlihatkan
kenyataan dunia subatomik yang tidak
bisa dilepaskan dari kesadaran
pengamatnya. Jika fisika klasik
mengasumsikan adanya dunia di luar sana
dalam keadaan pasti, dan tak tergantung
pada tindakan pengamat, maka kedua
prinsip ini menampilkan gambaran
kenyataan yang sebaliknya: pengamat dan
yang diamati saling berkaitan erat.
Objektivitas ilmiah seakan lenyap pada
tingkat subatomik, digantikan dengan
subjektivitas pengamat. Apa yang dapat

5 Juni 2020 | Budi Munawar Rachman | 284


kita ketahui ditentukan oleh perangkat
percobaan kita. Dengan demikian,
keyakinan tentang objektivitas menjadi
ilusi. Melalui pengamatan, ternyata kita
menciptakan kenyataan, bukan
mengeksplorasinya.
Ketidakpastian ini, menurut Heisenberg,
bukan disebabkan oleh ketidakmampuan
manusia atau keterbatasan alat, tetapi
merupakan sifat yang melekat pada alam
semesta. Alam pada tingkat subatomik
seakan mengelak untuk diketahui manusia
(bandingkan dengan apa yang disebut
“maya” dalam filsafat India.
Keutuhan yang tak terbagi. Einstein tidak
bisa menerima kenyataan kuantum yang
serba tidak pasti ini. Bagi Enstein, tidak
mungkin alam diciptakan dengan aturan
yang tidak bisa diketahui. "Tuhan tidak
sedang bermain dadu," katanya.
Keberatan utama Einstein terletak pada
prinsip ketidakpastian. Berharap dapat
membuktikan bahwa di balik dunia
kuantum yang ganjil ini, tersembunyi
kenyataan yang selaras dengan tradisi
deterministik fisika klasik, maka pada

5 Juni 2020 | Budi Munawar Rachman | 285


1935, Einstein, Podolsky, dan Rosen
merancang sebuah percobaan untuk
membuktikan bahwa ketidakpastian
kuantum tidak bersifat inheren, tetapi
disebabkan oleh tidak memadainya alat
yang digunakan.
Percobaan ini ingin memperlihatkan
bahwa kita bisa mengukur posisi dan
kecepatan elektron secara serempak pada
saat yang sama. Upaya ini gagal, tetapi
justru memperkuat aspek lain yang lebih
menakjubkan dari dunia subatomik, yaitu
prinsip non-lokalitas. Prinsip ini
mengatakan bahwa partikel-partikel
subatomik, dapat saling mempengaruhi
secara seketika dari jarak yang jauh, tanpa
ada penyebab lokal. Seakan-akan ada
interaksi yang lebih segera dari kecepatan
cahaya antara partikel-partikel itu.
Prinsip ini mempunyai jangkauan implikasi
yang sangat jauh. Jika kita dapat
membayangkan alam semesta sebagai
sebuah jaringan partikel-partikel yang
saling berinteraksi dalam sebuah sistem
kuantum, maka prinsip ini
mengungkapkan sifat kesalinghubungan

5 Juni 2020 | Budi Munawar Rachman | 286


di alam semesta. Ini merombak secara
menyeluruh pandangan klasik tentang
kausalitas yang terbatas pada efek-efek
lokal.
Pada tahun 1951, David Bohm melihat
aspek lain dari percobaan Enstein,
Podolsky dan Rosen. Sambil melanjutkan
keraguan Enstein perihal prinsip
ketidakpastian, David Bohm berpendapat
bahwa prinsip ini muncul hanya karena
ketidakmampuan kita untuk menjelaskan
sesuatu yang lebih mendasar dari teori
kuantum.
Menurut Bohm, kenyataan bahwa partikel-
partikel subatomik dapat berhubungan
secara langsung, justru disebabkan karena
adanya kesatuan di balik realitas kuantum.
Apa yang kita persepsikan sebagai
partikel-partikel yang terpisah dalam
sebuah sistem subatomik, sebenarnya
tidak terpisah, melainkan merupakan
perluasan dari sesuatu yang lebih
fundamental pada tingkat kenyataan yang
lebih tinggi. Bohm menyebut tingkat
kenyataan partikel-partikel itu sebagai
“explicate order”, sementara realitas dasar

5 Juni 2020 | Budi Munawar Rachman | 287


yang merupakan sumber-sumber itu
diistilahkan Bohm sebagai “implicate
order”.
Huston Smith menyebut, pandangan-
pandangan yang dipaparkan di atas,
memunculkan epistemologi, yang
menuntut cara baru dalam memahami
alam, yang disebutnya dengan
“counterintuitive”, yang mengatasi kategori
ruang dan waktu seperti lazimnya selama
ini dipahami dalam sains. Persamaan
filosofis bagi pengertian “counterintuitive”
ini adalah “ineffable” (di luar kemampuan
kata-kata) dan “apophatic”. Kenyataan ini,
tentu saja telah menimbulkan skandal
dalam sains, justru karena terbukanya
ruang paradoks dalam sains. Padahal
selama ini, seperti dikatakan W.T. Stace
dalam The Teaching of the Mystics, "sifat
paradoks adalah satu ciri lazim semua
ajaran mistik". jadi bukan ciri sains, yang
”rigorous”.

TESIS 4
"Kelebihan" itu tidak bisa diketahui
dengan cara biasa. Meskipun begitu, ia

5 Juni 2020 | Budi Munawar Rachman | 288


bisa diketahui dengan cara-cara yang
luar biasa.
Apa yang kita lihat dari perkembangan
sains baru ini, menuntut kita "berjalan
lebih jauh." Pada mekanika kuantum,
sebagaimana dikatakan Schilling dalam
The New Consciousness in Science and
Religion, bahwa, "Kesimpulan...akan
paradoks materi-gelombang... dicapai...
dengan memakai simbol matema¬tika
semata (tentang mekanika kuantum), dan
pada umumnya dengan mengelakkan
konsep yang mempunyai gambaran-
gambaran." Ini memunculkan semacam
."visi mistik," dalam sains yaitu:
Pertama, visi alam yang baru itu adalah
sesuatu yang terlalu hebat untuk
diungkapkan dengan kata-kata. Apa yang
diketahui adalah terlalu sedikit, atau masih
jauh dari pengetahuan biasa, dan hampir
tidak dapat dinyatakan atau dikabarkan
kepada mereka yang tidak terlibat dalam
bidang itu.
Kedua, visi ini menunjukkan bahwa
eksistensi itu disifatkan sebagai perpaduan
yang tidak langsung. Misalnya materi dan
5 Juni 2020 | Budi Munawar Rachman | 289
energi adalah satu. Ruang dan waktu
adalah satu. Ruang dan gravitasi adalah
satu.
Ketiga, penemuan visi ini menghidupkan
rasa bahagia. Dan,
Keempat, rasa bahagia ini bukan suatu
kebetulan, tetapi ia adalah akibat logis dari
penyebab yang mengakibatkannya: yaitu
pencapaian kesatuan wujud dalam sains.
Ini begitu penting ditekankan, karena
tanpa pencapaian kesatuan wujud, visi
ketakjuban akan direndahkan kepada
pengalaman mistikal biasa, yang sering
dianggap sebagai perasaan. Padahal
pengalaman mistik bukan perasaan, tetapi
suatu “noetic” (yang berkaitan dengan
pengetahuan dan visi). Mengambil
ungkapan dalam mistisisme, "Manusia
yang mendekati Tuhan tidak pernah
gembira, karena ia adalah kegembiraan itu
sendiri" begitu Master Eckhart.

TESIS 5
Cara-cara mengetahui yang luar biasa
itu, memerlukan penyuburan
(“Cultivation”) atau Penyemaian.

5 Juni 2020 | Budi Munawar Rachman | 290


Apa yang penting dari realitas sains adalah
perlunya kesungguhan dalam dedikasi.
Untuk menjadi seorang ahli fisika,
sekarang ini memerlukan waktu yang
lama. Teori relativitas bisa dihapal dalam
beberapa menit, tetapi kajian bertahun-
tahun tentang teori ini, belum juga
menjamin penguasaan atas teori tersebut.
Sehingga kesungguhan di dalam sains,
menyerupai dedikasi para wali dan orang
yang bercinta Ilahi; setelah mencapai
kebersihan diri, maka pengalaman mistikal
menjadi mudah dan biasa. Walaupun
seperti dikatakan Bayazid, "pengetahuan
tentang Tuhan tidak bisa dicapai dengan
usaha, tetapi hanya mereka yang benar-
benar beru¬saha untuk mendapatkannya
saja, akan menemuinya."

TESIS 6
Pengetahuan mendalam memerlukan
alat.
Sains pasti memerlukan alat. Sains
misalnya mempunyai teleskop, kamera,
spektroskop, dan sebagainya. Mistik pun
mempunyai alat, yang terdiri dari dua

5 Juni 2020 | Budi Munawar Rachman | 291


macam. Untuk masyarakat yang buta
huruf, ada dan dikenal mitos, sedangkan
bagi penduduk yang berperadaban lebih
maju, ada dan dikenal Kitab Suci (Sacred
Text).
Pada masyarakat yang tidak didatangi
nabi, ia bisa mencapai kebenaran dengan
melalui kesadaran diri yang mendalam,
karena "Sifat ketuhanan ada dalam diri
manusia." Kata Huston Smith, "hukum,
peraturan dan prinsip penghidupan yang
diwahyukan adalah ibarat membongkar
rahasia langit, dan mengumumkan
keagungan Tuhan, tetapi di dalam agama,
alat-alat khusus juga bisa dipakai." Atau
seperti dikatakan penyair mistik Blake
bahwa, "jika pintu akal budi dibuka dan
dibersihkan, setiap sesuatu itu akan
kelihatan seperti pada hakikatnya yang
sebenarnya, karena ia adalah infinit."
Pandangan ini sejalan dengan Paul Dirac yang
mengatakan bahwa, "segala materi tercipta
dari substratum yang tidak bisa dicapai
atau ditanggapi, dan penciptaan materi ini
meninggalkan di belakang mereka sebuah
“lubang” dalam substratum yang kelihatan

5 Juni 2020 | Budi Munawar Rachman | 292


seperti anti-materi. Substratum itu sendiri
tidak dapat secara tepat dikatakan benda,
memandanginya memenuhi semua ruang,
dan tidak bisa diketahui dengan penelitian
sains. Dari segi lain, ia kelihatan seperti
sesuatu yang kosong, tidak merupakan
benda, dan tidak pula dapat dikesani,
tetapi senantiasa ada. Ia adalah suatu
bentuk benda yang tidak bersifat benda,
yang darinya semua benda diciptakan."

AKHIRNYA
Sekarang makin disadari bahwa sains bisa
menjadi jalan memahami realitas kosmos,
mengikuti jalan lain yang lebih tua, seperti
mistik. “Mystics have known about it for
thousands of years. Science is now
discovering it”. Sains tidak lagi
mendominasi, tapi melengkapi jalan mistik
yang banyak membicarakan tema-tema
seperti kesadaran. "Consciousness and the
physical universe are connected," begitu
kata Michael Talbot, seorang penulis
buku-buku bertemakan fisika baru dan
mistisisme. Melalui mistik dan sains,
muncullah apa yang sekarang disebut "the
cosmic connection". Dan rupanya, ini

5 Juni 2020 | Budi Munawar Rachman | 293


hanyalah istilah untuk zaman sekarang.
Padahal, dahulu kala sudah dikenal dan
populer dengan istilah “kesatuan wujud”.
Akhirnya, menarik, “The newphysics is
offering us a scientific basis for religion”
kata Michael Talbot lagi. Kalau saintisme
menolak agama, sains malah bisa menjadi
basis untuk agama, khususnya. agama
dalam dimensi mistisismenya. Inilah
perbedaan sains dan saintisme yang
sangat jelas.***
Sumber:
https://www.facebook.com/budhymunawar.rachma
n.7/posts/1602629073227382

5 Juni 2020 | Budi Munawar Rachman | 294


6 JUNI 2020 | HAMID BASYAIB

Tentang Cicak Sains dan


Ekor Filsafat
Hamid Basyaib

Saya sedang duduk-duduk rileks sambil


menikmati suasana pagi, ketika seseorang
memanggil nama saya. Rasanya saya kenal
pria berkumis itu, yang ternyata
memanggil saya untuk mengajak jalan-
jalan ke tempat-tempat yang
menyenangkan.
Saya penuhi ajakannya, dan saya kecewa.
Sangat kecewa. Ternyata madu yang
dijanjikannya adalah racun yang pahit.
Saya diajaknya masuk-keluar gang becek,
melewati para preman di sudut-sudut
pasar, lalu naik angkot sempit, turun untuk
masuk ke gang-gang lain yang buntu,
menyeberangi sungai besar dengan
perahu, lanjut dengan jalan kaki lagi di
jalan setapak, terus naik mobil
omprengan.

6 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 295


Badan saya sudah lengket dengan
keringat. Dan dalam keadaan lapar karena
tak pernah diajaknya masuk ke restoran,
saya diturunkan begitu saja di tengah jalan
-- saya bahkan tidak diantarkan kembali
ke rumah saya dan tak diberi ongkos
pulang. Saya benar-benar nelangsa; batin
saya hampa dan terombang-ambing tak
tentu arah.
Maka saya berencana mengirimkan somasi
kepada dia, dan kalau dua kali somasi saya
tak digubris, saya akan mendatangi kantor
Yanmas (Pelayanan Masyarakat) di Polda
Metro Jaya. Orang itu telah membuat saya
jengkel, menderita dan putus asa.
Dalam gugatan nanti, saya juga akan
mengajukan tuntutan ganti-rugi imateriel,
yang jumlahnya harus saya rundingkan
dulu dengan lawyer. Nanti akan jelas
berapa ganti rugi yang saya minta untuk
hati yang nelangsa. Berapa pula untuk
batin yang hampa dan terombang-ambing
-- ini bisa ditetapkan harganya secara
terpisah; berapa untuk hampa, berapa
pula untuk terombang-ambing.

6 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 296


Begitulah gambaran yang bisa saya
bayangkan setelah membaca tulisan
panjang Fitzgerald Kennedy Sitorus di
Facebook. Judulnya panjang: "Tentang
Garis Demarkasi Antara Sains dan Filsafat
dan Kematian Metafisika". Di situ ia
menyebut nama saya dan merumuskan
sikap saya sebagai "berada pada posisi
yang mengagungkan sains dan
menganggap agama dan filsafat tidak
relevan lagi."
Inti tulisannya, yang di sana-sini ditaburi
peristilahan Jerman (bukan Inggris, yang
pasaran), sebetulnya hanya di beberapa
kalimat di bagian akhir.
Begini bunyinya: "Sains itu terbatas. Itu
sudah jelas. Tapi itu bukan kelemahan,
justru keterbatasan itu kekuatan sains.
Dengan keterbatasan itu sains dapat
melakukan penelitian yang sedemikian
mendalam pada objek tertentu sehingga
dengan demikian kita memperoleh
pengetahuan yang mendalam mengenai
objek tersebut."
Apa boleh buat, rumusannya memang
seperti itu. Saya membacanya dari kiri ke
6 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 297
kanan sebagaimana layaknya untuk
pembacaan bahasa Indonesia; dan ketika
saya baca dari kanan ke kiri seperti dalam
bahasa Arab, maknanya tidak berubah.
Jadi, terbatas itu kuat, bukan lemah. Orang
yang ceking dan jalannya sempoyongan
adalah atlet angkat besi yang potensial;
bisa juga jadi petinju seperti Ariel Noah,
eh Mike Tyson (Ariel itu penyanyi, kata
keponakan saya).
Keterbatasan itu, kemudian disebutnya
"pembatasan diri", bukan hanya terjadi
pada sains. "Pada filsafat juga itu terjadi",
katanya, mantap.
Jadi, berarti sains dan filsafat sama-sama
terbatas dan karena itu sama-sama kuat?
Sitorus tidak menyimpulkan apakah
dengan kesamaan itu sains dan filsafat
akan seri (draw) jika bertarung.
Kelanjutannya bukan penyimpulan, tapi
wejangan yang mengejutkan: "Karena itu,
menurut saya, sikap yang mengagungkan
bidang sendiri tidak akan membawa kita
ke mana-mana," tulisnya. Kalau saja ia tak
menegaskan "menurut saya" itu, mungkin

6 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 298


saya bisa menduga itu ucapan orang lain.
Dan saya tidak mengerti maksud
"mengagungkan bidang sendiri" itu; sebab
saya bukan ilmuwan. Saya bahkan nggak
punya bidang.
"Uraian saya di atas (maksudnya
pemaparannya yang panjang sekali) juga
bukanlah sebuah pengagungan filsafat. Itu
adalah sebuah upaya untuk
memperlihatkan garis demarkasi, tugas
serta fungsi kedua disiplin ilmu tersebut."
Selalu ada yang baru dalam proposisi
Sitorus. Tupoksi ilmu dan filsafat, sebagai
"kedua disiplin ilmu", ternyata berbeda,
jadi harus ditarik demarkasi.
Tapi tiba-tiba lanjutannya: "Saintisme
sebagaimana diusahakan oleh Lingkaran
Wina, adalah buah dari kebanggaan
berlebihan terhadap sains. Saintisme sama
dengan naturalisme, menganggap
manusia semata-mata sama dengan
realitas fisik, seperti batu atau pohon.
Karena itu saintisme adalah
fundamentalisme sains. Saintisme adalah
dehumanisasi. Saintisme adalah

6 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 299


kedunguan." Saintisme adalah... oh,
kutukannya selesai di situ, rupanya.
Inilah yang disebut orang Jogja, "banter
ning kleru". Suaranya lantang sekali, tapi
salah.
Pernyataan itu tidak bisa ditanggapi
karena tidak memenuhi syarat minimal
untuk dikomentari. Ia tetap salah, bahkan
kalaupun saya komentari dengan taburan
bahasa Jerman atau Thai.
Proposisinya sudah salah. Seolah sains
hanya mengenai manusia. Bagaimana
dengan fisika dan kimia beserta beratus-
ratus cabang dan rantingnya? Fisika itu
mempelajari berbagai daya dan energi
dan gelombang di alam semesta, bukan
tentang manusia -- meskipun ada "fisik" di
situ. Kimia juga mempelajari beraneka
ragam zat, termasuk untuk membuat
pestisida, cat tembok dan pewarna kain.
Tuduhan Sitorus tentang "kedunguan
saintisme" dan berbagai variannya itu,
selain usang dan kini tinggal hanya jadi
hapalan para evangelis Amerika (seiring
penentangan mereka yang kesumat

6 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 300


terhadap teori evolusi), saya anggap
merupakan benteng terakhir bagi kubu
anti-sains untuk membendung laju sains
yang unstoppable. Dalam kelangkaan
argumen, karena stoknya sudah habis
kalaupun pernah ada -- tudingan adalah
tameng kecil yang tersisa, walaupun
niscaya sia-sia.
Dan Sitorus telah bertindak curang atau
setidak-tidaknya sengaja bersikap timpang
dalam membahas perkara. Meski
mengakui bahwa sains dan filsafat sama-
sama terbatas dan dengan demikian
sama-sama kuat (maafkan pengulangan
oxymoron ini), ia tak sedikit pun menyebut
"filsafatisme" sebagai padanan dari
"saintisme" yang dituduhkannya dengan
berkobar-kobar.
Akhirnya, terhadap tandasnya stempel-
stempel "dehumanisasi, dungu" dan
sejenisnya itu, saya hanya sanggup
menghibur diri dengan mengenang Ivan
Turgenev, sastrawan Rusia itu. Dalam
surat kepada sahabatnya, ia menulis:
"Mereka yang melekatkan diri pada sistem
yang sedang berlaku, tidak sadar bahwa

6 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 301


mereka sedang memegang ekor cicak, dan
tak tahu bahwa cicaknya sudah pergi
seraya menumbuhkan ekor baru."
Cicak sains sudah pergi jauh, jauh sekali,
sambil menumbuhkan ekor baru yang
sangat besar dan bermanfaat. Sahabat
saya, Fitzgerald Kennedy Sitorus namanya,
terus menggenggam ekor filsafat. Tapi
perjalanan dengan dia cukup
menyenangkan, ternyata. Karena itu pasti
saya tidak perlu mensomasinya, meskipun
senam ini sedang musim seperti Senam
Orhiba, apalagi melaporkannya ke Polda.
Sitorus telah melakukan perbuatan
menyenangkan terhadap saya. Bukan tak
menyenangkan.***
Sumber:
https://www.facebook.com/hamid.basyaib/posts/10
158356547599894

6 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 302


6 JUNI 2020 | HUSAIN HERIYANTO

Nalar Realis Memahami


Sains
Husain Heriyanto

Menyadari bahwa diskusi yang


berlangsung antara Goenawan Mohamad
(GM) dan A.S. Laksana (ASL) masih di luar
gelanggang perdebatan sains, baik dalam
“the context of discovery” maupun “the
context of justification” — dua istilah baku
dalam studi sains yang diperkenalkan oleh
Hans Reichenbach— tulisan ini mencoba
menyajikan cara kerja Nalar realis dalam
memahami sains supaya diskusi yang
menghangatkan pikiran ini tidak berhenti
pada sensasi permainan bahasa dan istilah
belaka atau meminjam istilah F. Budi
Hardiman (FBH) “babak adu mulut”.
Bahasa dan sastra (sistem penanda)
memang penting tapi makna dan realitas
(sistem petanda) yang dirujuk bahasa lebih
penting. George Sarton, seorang peneliti
dan penulis sejarah sains terkemuka asal
6 Juni 2020 | Husain Heriyanto | 303
Harvard University, menulis “Sebagian
besar penulis (most men of letters) dan,
maaf saya tambahkan, tak sedikit saintis,
hanya mengetahui sains melalui
pencapaian-pencapaian materialnya,
tetapi mengabaikan spirit ilmiahnya dan
gagal memahami keindahan internal sains
sebagai usaha mengesktraksi alam
semesta” (A History of Science, 1952).
Karya Sarton A History of Science yang
tersusun dari tiga volume dengan total
1800-an halaman itu menjadi buku daras
studi sejarah sains di berbagai universitas
dunia dan wajib dibaca oleh setiap orang
yang hendak memahami betul
karakteristik dan dinamika perkembangan
ilmu pengetahuan secara memadai agar –
mengutip ungkapan Thomas Kuhn dalam
“The Structure of Scientific Revolutions”
(1962)- tidak sekedar menjadi seorang
turis museum sains yang mengenalnya
melalui brosur (a tourist brochure) atau
sebuah teks bahasa (a language text), atau
mungkin istilah sekarang dikutip dari
mbah Google.

6 Juni 2020 | Husain Heriyanto | 304


Salah satu kesimpulan utama riset Sarton
selama 25 tahun (1927-1952) menyelidiki
perkembangan sains dimulai dari zaman
prasejarah, peradaban Mesir,
Mesopotamia, Syria, Persia, Yunani,
Aleksandria-Helenistik, Islam/Asia Barat,
Renaisans Eropa hingga peradaban sains
modern adalah “perkembangan sains di
manapun dan periode apapun tidak terjadi
tiba-tiba yang muncul dari kevakuman
nilai kultural dan spirit zaman yang
melambari dinamika sains”. Sarton
menggarisbawahi kelahiran sains sebagai
bagian integral dari usaha manusia
memahami diri dan dunia dengan segala
persoalannya.
Menarik pula dicatat, hampir di kurun
waktu yang sama, ketika sains modern
mencapai perkembangan revolusioner
yang menakjubkan dengan kemunculan
teori relativitas Einstein dan mekanika
kuantum (Niels Bohr, Heisenbeg,
Schrodinger), Karl Popper menulis The
Logic of Scientific Discovery (1959).
Uniknya, melalui pendekatan yang
berbeda, yaitu historis (Sarton) dan logika
formal-material (Popper), setelah
6 Juni 2020 | Husain Heriyanto | 305
mendedah dengan penuh seksama dan
rinci bagaimana sains itu berkembang,
keduanya menyimpulkan bahwa teori-
teori saintifik adalah hasil dari imajinasi
kreatif yang diproses dan dikonstruksi
oleh pengujian yang terpola dan
terstruktur.
Mungkin menyadari keniscayaan proses
pemikiran kreatif itulah Einstein
menyatakan “imajinasi lebih luas dari
pengetahuan”. (Einstein: “Imagination is
more important than knowledge. For
knowledge is limited to all we now know
and understand, while imagination
embraces the entire world, and all there
ever will be to know and understand”).
*
Pengujian yang terpola dan terstruktur itu
berasal dari mana? Tidak lain ia berasal
dari logika. Di mana logika itu? Ia hadir
dalam pikiran. Ibn Sina mendefinisikan
logika sebagai perangkat metodis berupa
prinsip-prinsip dasar berpikir yang jika
dioperasionalkan akan mencegah
kesalahan pemikiran (Isyārāt wa Tanbīhāt,
bab Manthiq). Ibn Sina dengan jeli
6 Juni 2020 | Husain Heriyanto | 306
menggunakan frase “mencegah kesalahan
pemikiran” (al-khathā-i fī al-fikr) karena
peran kunci logika (formal) terletak dalam
pencegahan kesalahan pemikiran, bukan
pencarian kebenaran.
Tidak seperti logika transendental
idealisme Kant (baca Lectures on the
Bloomberg Logic) atau apalagi logika
dialektika Hegel yang begitu antusias
menekankan kemandiran absolut akal
yang bersifat apriori, Ibn Sina –sebagai
filsuf realis dan juga ilmuwan- mengakui
pengalaman dengan dunia luar sebagai
sumber pengetahuan mengenai alam
empiris.
Bagi Ibn Sina, logika sangat penting
dalam proses konstruksi pengetahuan
tetapi tidak mengidolakannya sebagai
kategori transendental Kantian atau idea
mutlak-sebagai-yang real Hegelian. Hal ini
bisa dimaklumi mengingat Ibn Sina adalah
filsuf realis, sementara Kant dan Hegel
tergolong filsuf idealis meskipun diantara
kedua filsuf Jerman ini juga berbeda tipe
idealisme mereka; sesuatu yang bukan
tempatnya dibahas di ruang ini.

6 Juni 2020 | Husain Heriyanto | 307


Sebagai dokter, yang menurut George
Sarton (1952) berpengaruh luas hingga
abad ke-19 di Barat dan Timur serta
karyanya “Qānun fī al-Thībb” (Canon of
Medicine) merupakan salah satu buku
yang paling banyak diterjemahkan selama
era renaisans di Eropa, Ibn Sina tentu
sangat memahami cara kerja sains. Dia
membahas epistemologi sains dari
pengalamannya langsung sebagai
ilmuwan, bukan sebagai orang luar yang
mencoba memahami (baca: melaporkan)
sains sebagaimana yang terjadi pada
sebagian pemikir, filsuf atau pujangga
(meskipun secara verbal tampak begitu
mabuk dan terpesona dalam melihat sains
dengan, meminjam frase GM, “mata yang
berbinar-binar”).
Ibn Sina menguraikan bahwa pengalaman
dengan dunia empiris terjadi melalui tiga
persepsi (al-idrāk) yang utama, yaitu
persepsi inderawi (al-ḫissī), persepsi
imajinatif (al-khayālī), dan persepsi intelek
(al-‘aqlī). Melalui pengalaman indera,
dokter atau ahli virus mengenali gejala-
gejala infeksi virus SARS-CoV-2, yang
kemudiaan diidentifikasi sebagai penyakit
6 Juni 2020 | Husain Heriyanto | 308
COVID-19. Bagaimana dokter tiba pada
kesimpulan itu? Tak lain karena mereka
mengoperasionalkan persepsi imajinatif
yang merekam pengalaman. Tanpa
imajinasi tidak akan ada secuil
pengalaman inderawi apapun yang
terekam dalam mental pikiran. Demikian
uraian Ibn Sina mengenai pentingnya
imajinasi dalam rekonstruksi pengetahuan.
Tapi, kenapa hanya dokter atau ahli virus
yang bisa mengidentifikasi gejala-gejala
COVID-19? Bukankah banyak orang yang
telah terinfeksi COVID-19 tersebut yang
artinya mereka telah memiliki pengalaman
inderawi dan imajinatif? Kenapa hanya
dokter yang bisa mengidentifikasinya
padahal sebagian besar dari mereka tidak
mengalami langsung gejala-gejala COVID-
19 tersebut?
Dengan kata lain, mengapa penderita
COVID-19 gagal mengidentifikasi
penyakitnya melalui pengalaman inderawi
dan sekaligus persepsi imajinasinya,
sementara dokter yang sehat justru bisa
mengidentifikasinya. Jawabannya, sang
dokter memiliki intelek yang sebelumnya

6 Juni 2020 | Husain Heriyanto | 309


telah mempersepsi gugus konsep
mengenai sifat-sifat dan perilaku berbagai
jenis virus. Sementara penderita COVID-19
meskipun sudah langsung merasakan
gejala-gejalanya dan juga merekamnya
dalam imajinasi (terbukti ketika sembuh
dia masih bisa mengingatnya) tidak akan
bisa mengidentifikasi COVID-19 karena dia
tidak memiliki konsep yang memadai
tentang sifat dan perilaku virus.
Di sinilah Ibn Sina menekankan peran
krusial akal dalam melahirkan konsep-
konsep umum (tashawwurāt kulli), yang
lalu dalam kajian khusus epistemologi
para filsuf Muslim kontemporer (sebut saja
Allamah Thabathaba’i, Murtadha
Muthahhari; baca Ushūl al-Falsafah)
menyebutkannya dengan istilah ma’qūlāt
awwaliyah (first intelligibles; konsep-
konsep universal yang pertama). Karena
konsep-konsep ini merupakan esensi
entitas-entitas, mereka disebut juga
“whatness concepts” (ma’qūlāt māhiyah;
konsep keapaan).
Jadi, berbagai konsep yang dikenal dalam
sains atau ilmu pengetahuan pada

6 Juni 2020 | Husain Heriyanto | 310


umumnya merupakan whatness concepts,
sebut saja mulai “virus”, “hewan”,
kecepatan”, “percepatan”, “gravitasi”, “air”,
“emas”, tanaman”, “bunga”, “atom”,
“elektron”, “massa”, “matahari”, “planet”,
“laut”, “tubuh”, “jantung”, “saraf”, “darah”,
hingga konsep “manusia”. Konsep-konsep
ini memiliki contoh partikular yang bisa
ditunjuk dan menempati ruang-waktu
tertentu.
Ibn Sina lalu menyebutkan bahwa saintis
pun pasti sudah mengoperasionalkan dua
jenis konsep lain, yaitu ma’qūlāt tsaniyya
falsafī (secondary philosophical concepts:
sebut saja konsep filosofis) dan ma’qūlāt
tsaniya manthiqī (secondary logical
concepts; sebut saja konsep logis). Konsep
filosofis adalah konsep yang tidak memiliki
entitas partikular; ia hadir dalam pikiran
dan realitas secara umum.
Misalnya konsep “sebab akibat”. “Sebab”
merupakan produk kreativitas pikiran yang
melihat relasi kausal-eksistensial antara
dua fenomena, yaitu satu
peristiwa/keadaan/entitas yang
merupakan alasan munculnya

6 Juni 2020 | Husain Heriyanto | 311


peristiwa/keadaan/entitas yang lain; yag
pertama disebut “sebab” dan yang kedua
disebut “akibat”. Yang menghubungkan
atau “melihat hubungan” antara kedua
peristiwa/keadaan/entitas itu adalah akal,
bukan indera.
Sebagai contoh, ketika kita memanaskan
air dengan kompor gas lalu air itu
mendidih, maka akal kita menciptakan
konsep (dalam filsafat Islam dikenal
dengan intizā’) tentang relasi kausal antara
dua peristiwa, yaitu panas sebagai
penyebab dan mendidihnya air sebagai
akibat. Bukti nyata konsep sebab itu
adalah konsep filosofis terletak pada
keadaan bahwa kita tidak bisa menunjuk
contoh partikular sebab itu.
Kenapa? Karena “sebab” tidak memiliki
entitas partikular. Panas yang kita
kategorikan sebagai sebab hanya berlaku
untuk relasi dengan peristiwa air
mendidih; kita tidak bisa melekatkan
panas sebagai contoh “entitas sebab”
sebab karena fakta di dunia luar panas itu
sendiri adalah akibat jika dihubungkan
dengan terbakarnya gas oleh kompor.

6 Juni 2020 | Husain Heriyanto | 312


Dalam relasi ini, yang merupakan sebab
adalah gas kompor (bersama zat
pembakar oksigen) dan panas adalah
akibat. Dan seterusnya gas kompor itu
juga sekaligus adalah akibat dalam
hubungannya dengan keberadaan tabung
gas, dan demikian selanjutnya.
Walhasil, kita tidak bisa mengidentifikasi
entitas konsep sebab atau menunjuk
contoh partikular yang mana sebab itu
tanpa dikaitkan dengan peristiwa/keadaan
lain. Konsep sebab hanya bisa dijelaskan
dengan keterangan tapi tidak bisa
ditunjuk secara konkret. Ini jelas berbeda
dengan konsep keapaan (whatness
concepts) seperti “hewan”, “virus”, atau
“manusia”. Amir, Budi, Cecep, Dewi adalah
contoh-contoh partikular konsep manusia.
Kucing di rumah kita adalah cotoh
partikular konsep hewan; SARS-CoV-2
yang bersarang di paru-paru seorang
pasien di rumah sakit A adalah contoh
partikular konsep virus.
Nah, berbeda dengan konsep-konsep
keapaan itu, semua konsep filosofis tidak
memiliki entitas partikular. Namun, mereka

6 Juni 2020 | Husain Heriyanto | 313


hadir dalam pikiran, yang kalau absen dari
pikiran maka tidak akan lahir pengetahuan
umum apapun termasuk sains. Bukankah
berbagai penyelidikan sains berpijak pada
keyakinan bahwa segala peristiwa memiliki
sebab?
Sekarang pertanyaannya, dari mana
keyakinan kepada hukum sebab akibat ini?
Indera jelas tidak berperan apa-apa dalam
mencetuskan konsep sebab. Sains pun
tidak mungkin membuktikannya. Sains
hanya mengasumsikan bahwa alam
semesta ini memiliki hukum-hukum yang
tunduk pada hukum primer yaitu hukum
kausalitas; dan atas dasar asumsi inilah
segenap penelitian dan penyelidikan sains
memiliki makna untuk dikerjakan.
Dengan kata lain, sains meminjam dari
filsafat karena konsep sebab akibat hanya
dibuktikan melalui akal semata. Jadi, rukun
iman pertama sains itu adalah percaya
kepada hukum sebab akibat. Tentu banyak
konsep filosofis lain yang telah
diasumsikan dan diterima begitu saja oleh
para saintis seperti “ada”, “tiada”,
“mungkin”, “niscaya”, “mustahil”,

6 Juni 2020 | Husain Heriyanto | 314


“keteraturan”, “chaos”, “tatanan”, “alam
semesta”, “kemanusiaan”, “keadilan”,
“kebebasan”, “awal”, “akhir”, “cita-cita”,
“visi”, “titik nol”, “kehendak”, “sistem”,
“keseluruhan”, “bagian”, “teori”,
“kebahagiaan”, dan seterusnya yang tidak
mungkin kita hidup tanpa konsep-konsep
ini.
Demikian pula, para saintis juga pasti
sudah mengoperasionalkan konsep-
konsep logis dan matematis seperti
“universal”, “partikular”, “kontradiksi”,
“dan”, “atau”, “jika maka”, “walaupun”,
“garis lurus”, “titik”, “dimensi dua”,
“vektor”, “arah”, “induksi”, “deduksi”, dan
seterusnya.
Uraian yang agak detail ini (tentu jika kita
bicara konstruksi sains harus siap
berbicara dengan nalar logis-analitis dan
tidak berpuas diri dengan narasi besar
yang miskin eksplanasi) saya posisikan
sebagai pemicu diskusi tentang sains
secara lebih konstruktif dan mulai
memasuki gelanggang perdebatan ilmiah.
Setidaknya, tulisan ini merupakan sebuah
respons untuk memenuhi ekspektasi FBH
6 Juni 2020 | Husain Heriyanto | 315
agar, mengutip ungkapan FBH sendiri,
“(menjadi) debat tulisan yang sangat
menjanjikan untuk berkembang menjadi
silang gagasan bermutu yang mendidik
publik kita agar tidak hanya haus sensasi,
tapi juga lapar nalar.”***
Sumber: https://baca.nuralwala.id/nalar-realis-
memahami-sains-respons-atas-interupsi-f-budi-
hardiman-terhadap-goenawan-mohamad-dan-a-s-
laksana/

6 Juni 2020 | Husain Heriyanto | 316


8 JUNI 2020 | A. S. LAKSANA

Sains yang Meringkus,


Manusia yang Tidak Aman
Tanggapan atas tanggapan Goenawan Mohamad

A.S. Laksana

Judul tanggapan Goenawan Mohamad,


“Sains dan Masalah-Masalahnya, Sulak
dan Dua Kesalahannya”, menyampaikan
pesan implisit bahwa saya cocok dengan
pernyataan Karl Popper ini: “Keliru adalah
manusiawi.”
Dan saya berbuat manusiawi sekaligus
dua. Selebihnya, dari judul itu kita bisa
menarik gambaran bahwa kurang lebih
seperti itulah pengetahuan berkembang
menurut Popper. Satu pernyataan bisa
dibuktikan salah oleh pernyataan lain, dan
seterusnya. Jika pernyataan saya lebih
kuat, pernyataan Goenawan harus
menyingkir. Jika pernyataan Goenawan
lebih kuat, pernyataan saya terkubur. Anda

8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 317


bisa mengganti kata ‘pernyataan’ dengan
‘teori’.
Kutipan Popper yang saya sebut pada
paragraf di atas ada dalam pernyataannya
yang lebih panjang tentang pengetahuan:

“Knowledge consists in the search for truth


— the search for objectively true,
explanatory theories. It is not the search
for certainty. To err is human. All human
knowledge is fallible and therefore
uncertain. It follows that we must
distinguish sharply between truth and
certainty.”

“Pengetahuan tersusun dari upaya


pencarian kebenaran—pencarian teori-
teori yang benar dan mampu memberi
penjelasan secara objektif. Ia bukan
pencarian kepastian. Keliru adalah
manusiawi. Semua pengetahuan manusia
bisa keliru dan karena itu tidak pasti. Oleh
karenanya kita harus membuat
pembedaan tajam antara kebenaran dan
kepastian.”

Yang terpenting dari pernyataan itu


adalah “bisa keliru”, dan itulah karakteristik
semua pengetahuan. Karena itu Popper
merumuskan pengetahuan atau teori
8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 318
sebagai sebuah konjektur—sebuah
dugaan atau konklusi sementara atau
hipotesis yang disusun dalam
keterbatasan informasi—ia selalu bisa
disangkal atau dibuktikan salah.
Keterbukaannya untuk disangkal atau
dibuktikan salah inilah yang membuat
pengetahuan tumbuh. Manusia akan terus
memproduksi pengetahuan baru, teori
baru. Teori yang lebih kuat akan
menenggelamkan teori yang lebih lemah,
atau temuan-temuan tertentu
memperkuat teori yang sudah ada.
Popper mengibaratkan situasi ini sebagai
“Darwinian struggle”, meskipun sebetulnya
tidak tepat. “Survival of the fittest” Darwin
bukanlah teori tentang yang kuat
menyingkirkan yang lemah, melainkan
yang paling ‘fit’, yang paling adaptif, yang
akan bertahan.
Popper sendiri, jika ia Popperian, begitu
mengeluarkan teori ia serta merta
menyadari bahwa suatu saat akan ada
orang yang menyangkal teorinya. Saya
yakin begitu juga dengan Goenawan, yang
menyatakan diri rada Popperian, ia juga
8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 319
pasti mafhum bahwa selalu akan ada
penyangkal bagi apa-apa yang ia
tawarkan.
Dalam semangat seperti itu, apa gunanya
tudingan saintisme diajukan? Ia hanya
akan terdengar sebagai sebuah alergi, itu
satu jenis simptom, dan efek buruk
simptom itu diperkuat dengan ajektif
‘pongah’ atau ‘sisa-sisa positivisme abad
kesembilan belas.’ Jika apresiasi terhadap
sains dituding sebagai saintisme, saya pikir
orang lain berhak juga mengatakan bahwa
tindakan penudingan adalah agomoisme
atau sisa-sisa permusuhan Abad
Pertengahan.
*
Agomoisme menyimpan bahaya terutama
karena kita tak pernah tahu cara
menanganinya. Ia gigih meng-agama-kan
semua aspek kehidupan dan, sejauh ini,
berhasil. Ia telah melahirkan antara lain
buku pengenalan sains untuk anak-anak
serial “Masya Allah!!!”, serial “Jejak Sains
dalam Alquran”, serial “Super Amazing”,
dan lain-lain.

8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 320


Ia melahirkan penemuan-penemuan yang
mengejutkan (sebuah tulisan di internet
menyebutkan bahwa menurut Alkitab seks
adalah penemuan Allah). Ia menumbuhkan
workshop-workshop poligami. Dan, yang
juga penting, ia memunculkan
pertanyaan-pertanyaan yang meremukkan
hati: Tanya, Tadz, apa hukumnya gak bales
chat berhari-hari tapi update feed dan
story? Tanya, Tadz, apa hukumnya
menikah dengan teman sekantor? Tanya,
Tadz, bolehkan memukul anak yatim?
Tanya, Tadz, saya ini kan punya
kepribadian dan kepribadian itu
pemberian Allah. Bolehkah kita mengubah
kepribadian yang diciptakan oleh Allah?
Tanya sedikit, Tadz, benarkah ada khasiat
kencing unta dan bagaimana sebenarnya
hukum meminum air kencing unta?
Saya akan meragukan kewarasan saya
sendiri jika tidak sedih oleh fakta-fakta
seperti itu. Hawe Setiawan mengirimi
saya foto buku Bertrand Russell “Dampak
Ilmu Pengetahuan atas Masyarakat”, dan
di bawah foto itu ia membuat saran:
Sepertinya tulisan yang cocok untuk gejala

8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 321


saat ini adalah “Dampak Masyarakat atas
Ilmu Pengetahuan”.
Itu saran menarik. Kita bisa mengajukan
pertanyaan: Ilmu pengetahuan apa yang
akan dilahirkan oleh masyarakat yang
sibuk menanyakan apa hukumnya
meminum air kencing unta? Apa
penemuan berikutnya setelah seks adalah
penemuan Allah?
Jawaban sementara saya untuk
meminimalisir perangai ganjil yang
ditimbulkan oleh agomoisme adalah
scientific temper (perangai ilmiah). Istilah
ini diperkenalkan pertama kali oleh
Jawaharlal Nehru di dalam bukunya “The
Discovery of India", yang ia tulis selama
empat tahun (1942-1946) di dalam
penjara, dan kemudian dimasukkan ke
dalam konstitusi saat India merdeka.
Di buku itu Nehru menulis: “Negara atau
masyarakat yang tunduk kepada dogma
dan terbelenggu oleh mentalitas dogmatis
tidak akan pernah bisa maju. Celakanya,
negara dan masyarakat kita terlampau
dogmatis dan berpikiran sempit.” (Tulisan
saya tentang topik ini dimuat di
8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 322
Beritagar.id, 27 Juli 2018, dengan judul
“Melawan Takhayul dengan Scientific
Temper”; saya menampilkannya di
Facebook pada 20 Mei 2020.)
Motif menyuarakan scientific temper itulah
yang melandasi kritik saya terhadap
presentasi Goenawan Mohamad dalam
diskusi yang diselenggarakan oleh Ikatan
Dokter Indonesia (IDI), 20 Mei 2020 lalu,
yang segera dicegat dengan reaksi yang
mudah ditebak: Saintisme!
Tudingan itu terlalu mewah untuk sebuah
masyarakat yang prestasi sainsnya suram,
saintisnya bungkam, dan pusat-pusat
sainsnya telantar. Pada 24 Juni 2018,
Kumparan memberitakan bahwa 15 dari
24 pusat sains di Indonesia sudah tidak
aktif dan ditutup.
Kalaupun semua pusat sains ditutup, saya
akan tetap berpikir bahwa scientific
temper patut dikedepankan dan
disuarakan terus-menerus. Anda tidak
harus memuja sains dengan mata
berbinar-binar untuk mengembangkan
perangai ilmiah. Dan perangai ilmiah tidak

8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 323


akan menghalangi Anda untuk bersikap
kritis terhadap sains.
*
Ketika Goenawan menyodorkan anekdot
Einstein dalam diskusi itu, saya menunggu
penjelasan yang lebih mendalam kenapa
Einstein mengatakan politik lebih sulit
ketimbang fisika. Pikir saya ia akan
melakukannya. Ternyata tidak. Ia berhenti
di anekdot itu tanpa elaborasi apapun.
Tentu pernyataan Einstein itu
mencengangkan banyak orang; saya
membaca juga anekdot itu dan tafsir
orang terhadapnya. Fisika lebih mudah
menemukan jawaban konkret ketimbang
politik. Politik hanya tampak lebih mudah
karena sembarang orang sepertinya bisa
menjadi pengamat, tetapi jawaban yang
konkret sulit didapatkan: Politik berurusan
dengan manusia dan tingkah polah yang
sering bias dan irasional dan itu
menjadikannya sulit diprediksi.
Saya sendiri baru saja membuktikan
betapa sulitnya menebak manusia, yaitu
tentang hubungan Goenawan Mohamad

8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 324


dan Hegel. Pernyataan saya: Goenawan
menolak diajak berkhidmat pada sains, ia
lebih memilih berkhidmat pada Hegel dan
lain-lain. Saya membuat pernyataan itu
karena Hegel sering muncul dalam tulisan-
tulisannya: Ia menyebut nama filsuf itu
ketika menulis tentang Pramoedya
Ananta Toer, ketika menulis tentang
Rahman Tolleng, ketika menulis tentang
maaf, dan ketika menulis tentang pisang.
(Informasi rinci ini saya dapatkan dari
Google yang sama dengan yang
digunakan oleh orang-orang lain.)
Pengetahuan eksperiensial mengingatkan
saya bahwa teman-teman yang sedang
jatuh cinta biasanya akan sering
menyebut-nyebut nama orang yang
mereka cintai. Namun Goenawan ternyata
anti-Hegelian, meskipun ia sering
menyebut Hegel dalam banyak
kesempatan—saya tidak tahu kenapa ia
senang menyebutnya.
Jadi, keajekan atau gejala yang lazim saya
temui dalam kenyataan orang-orang yang
jatuh cinta tidak berlaku untuk
menggambarkan hubungan Goenawan

8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 325


dan Hegel. Di luar cinta, kebencian juga
mendorong orang rajin membicarakan
orang lain; kita bisa menjumpainya dalam
propaganda untuk menjatuhkan lawan
politik. Tetapi saya tidak yakin itu motif
Goenawan dalam kesukaannya merujuk
Hegel. Ia dan Hegel tidak dalam
pertarungan politik, dan Hegel sudah lama
mati.
Satu pandangan lain ditawarkan oleh
penulis Rumania Nicolae Teodosie
Draghicescu. Ia menyebut gejala itu
sebagai filsafatisme, yaitu sebuah
monolog yang dimaksudkan untuk
menggertak atau membuat orang silau
dan kebingungan menghadapi hujan
deras nama-nama dan kutipan-kutipan
dan konsep-konsep abstrak, dan juga
untuk menjadikannya terdengar falsafi dan
melelahkan.
Sebagai teknik, presentasi semacam itu
serupa dengan teknik para politisi yang
berfoto dengan engkongnya sebagai latar
belakang. Sebagai tindakan, ia serupa
yang dilakukan orang-orang zaman dulu
untuk pamer kekayaan dengan memasang

8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 326


gigi emas: ia bisa indah bisa ruwet, tetapi
sudah pasti menyilaukan.
Saya bisa membuat pembahasan lebih
panjang lagi dengan menjelaskan
pemakaian kata berkhidmat, tetapi itu
tidak penting dibandingkan kejutan yang
saya dapat ketika Goenawan memandang
tema sains versus agama sebagai urusan
yang sudah lama dimamah biak. Saya
perlu berhati-hati dengan frase “urusan
yang sudah lama dimamah biak”. Mungkin
itu sama artinya dengan makanan basi,
atau kaos oblong yang sudah jadi gombal
atau isu yang sudah bukan trending topic.
Jika Goenawan seorang Popperian, atau
rada Popperian, ia akan segera menyadari
bahwa pernyataannya itu anti-Popperian.
Pencarian kebenaran tidak pernah basi; ia
bukan fashion yang akan tertinggal dalam
satu atau dua tahun, sebab ia sebuah
proses tak ada ujung.
Saya tak akan membela diri dari tudingan
itu. Barangkali memang ada kesan bahwa
saya sedang memperhadapkan sains
dengan agama di dalam tulisan saya.
Mungkin itu terjadi karena saya kesulitan
8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 327
memahami kolom “Entah”, sehingga
tanggapan saya terhadap kolom itu
tampak oleh Goenawan seperti tindakan
orang gila: memukuli memedi sawah.
Saya bisa menjelaskan apa yang saya
alami saat membaca kolom itu. Namun,
sebelum dinyatakan salah memahami atau
keliru mengidentifikasi masalah atau
kurang informasi, saya akan mengakui
bahwa saya tidak mampu menangkap apa
isi pikiran yang ditawarkan: Saya hanya
menemukan cipratan-cipratan seperti saya
menyaksikan lukisan ekspresionis.
Satu cipratan menyampaikan informasi
tentang orang-orang Yahudi yang dibakar.
Cipratan berikutnya: “Epidemi COVID-19,
yang kini berjangkit dari tempat ke
tempat, berbeda skala dari wabah-wabah
di zaman dahulu. Tapi ada yang sama:
kembali entah menyembul ke depan.”
Cipratan tentang wabah itu saya sangkal.
Tidak sama. Kualitas informasi yang
membuatnya tidak sama. Di zaman dulu,
upaya menangani wabah dilakukan
berdasarkan informasi dari kalangan

8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 328


agama. Di masa sekarang dari kalangan
sains.
Di sinilah segalanya bermula: Ada agama,
ada sains, dan keduanya disebut
berurutan, dan itu berarti ada orang
sedang menggebuki memedi sawah. Saya
harus mengaku tidak paham bagaimana
proses penarikan kesimpulannya.
Sekali lagi, saya tidak ada kepentingan,
setidaknya secara sadar, untuk
mempertarungkan agama dengan sains.
Agama memiliki urusan-urusannya sendiri
yang harus dibereskan, dan ia juga
memiliki urusan di level antariman yang
bagaimanapun masih dibayang-bayangi
ketegangan. Saya tidak ingin
menambahkan urusan lain dengan
menarungkannya dengan sains.
Satu cipratan lagi dalam ekspresionisme
Goenawan muncul dalam bentuk
pernyataan ini: “Mengetahui” adalah
membuat pigura atas realitas.
Kalimat pendek itu membuat saya berpikir
panjang. Kenapa “mengetahui” harus
dipigura dalam tanda petik dan bukan

8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 329


dibiarkan polos saja? Apakah dengan
kalimat itu “Goenawan Mohamad” ingin
menyatakan bahwa “mengetahui” adalah
“tindakan buruk”? Apakah lebih “baik”
semua orang “tidak mengetahui” agar
“kemurnian” tetap “terjaga”?
Ia mengundang Heidegger, ia
mengundang Husserl untuk membuat
saya memahami kalimat itu, dan untuk
menunjukkan bahwa ia tidak sendirian
dalam keberatan utamanya terhadap
sains.
Kritiknya yang lain, semoga saya tidak
keliru menyampaikan, adalah perihal
ketundukan sains kepada modal besar,
kepada kepentingan bisnis dan politik.
Sains menjadi pelayan teknologi, ilmu
pengetahuan mengingkari karakteristik
ketidaksempurnaannya dan menjadikan
dirinya takabur dengan menjanjikan
kepastian. Produsen obat bengek tidak
akan mengatakan jika Anda menelan obat
ini Anda punya kemungkinan sembuh.
Sekiranya Goenawan menyampaikan
aspek ini pada diskusi “Berkhidmat pada
Sains”, presentasinya akan lebih bermakna
8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 330
dan kita akan mendapatkan informasi-
informasi lain di seputar ini dari para
pembicara lain, dan juga dari para peserta
aktif, yang mencoba menanggapi
kritiknya.
*
Ide-ide para filsuf adalah kegelapan total
bagi orang kebanyakan. Husserl
menyampaikan pendapatnya tentang
bagaimana pengetahuan seharusnya
didapatkan. Heidegger punya
pendapatnya sendiri. Hegel sudah tentu
punya pendapat berbeda.
Faktanya, jagat raya terbentang dan
banyak hal tidak diketahui dan manusia
berusaha tahu. “Ada apa di sana? Lalu ada
apa lagi di sana? Lalu ada apa lagi di
sana?” Rasa ingin tahu semacam itu
melahirkan geografi, sebuah ilmu yang
menjawab pertanyaan: “Ada apa saja di
sana?” Sejumlah pendapat menyatakan
bahwa geografi adalah induk ilmu
pengetahuan.
Ketika pengetahuan bertambah, manusia
menciptakan globe, sebuah model, sebuah

8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 331


representasi yang disederhanakan, bagi
bumi. Mula-mula jauh dari akurat;
pembuat pertamanya jelas tidak memiliki
informasi bahwa ada tempat yang kelak
bernama Indonesia. Sampai berabad-abad
sejak yang pertama, globe masih dibuat
dengan poros tegak lurus.
Rasa ingin tahu tidak sekadar melahirkan
jawaban, tetapi rasa ingin tahu berikutnya,
dan begitu terus hingga hari ini. Manusia
memerlukan model untuk
mempresentasikan pengetahuannya dan
juga untuk menguji hipotesis. Guru SD
menggunakan bola dan lampu senter
untuk menjelaskan terjadinya siang dan
malam. Arsitek membuat maket untuk
mempresentasikan bangunan yang
hendak mereka wujudkan. Museum
menampilkan diorama. Para ilmuwan di
laboratorium Bern, Swiss, menggunakan
lalat buah untuk menguji hipotesis mereka
tentang gen penyortir sel-sel rusak yang
jika digandakan akan membuat manusia
berumur lebih panjang. Gen itu, mereka
manamainya Azot mengikuti nama dewa
pelindung nelayan bangsa Aztec, ada pada
manusia dan lalat buah. Laporan
8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 332
penelitian mereka menginformasikan
keberhasilan percobaan itu: Umur lalat-
lalat buah mereka bertambah antara 50-60
persen ketika gen Azot, yang semula
hanya dua, mereka jadikan tiga.
Apakah bekerja dengan model adalah
simplifikasi? Tentu saja. Guru dan murid
sama tahu bahwa bola bukanlah bumi dan
lampu senter bukan matahari. Manusia
memerlukan cara yang mudah dipahami
untuk menyampaikan sesuatu. Agama
juga memerlukan model— imajiner—
dalam bentuk surga dan neraka sebagai
representasi sangat sederhana tentang
kenikmatan dan siksaan kekal dalam
kehidupan setelah mati.
Kita tahu bahwa tidak semua aspek dalam
kehidupan bisa dialami langsung atau
diinderai. Jagat raya, dengan seratus miliar
galaksi, terlalu besar untuk dialami
langsung oleh tubuh manusia. Molekul
terlalu kecil. Bagaimana cara memahami
perilaku benda-benda di jagat raya dan
kromosom di dalam tubuh dengan
pendekatan Husserl dan Heidegger atau
siapa pun yang menyarankan pengalaman

8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 333


langsung dan persentuhan inderawi?
Apakah saran mereka relevan untuk
cabang pengetahuan biologi molekuler?
Goenawan menyajikan matematika dalam
cara yang muram, sebagai pigura yang
digunakan oleh para saintis untuk
meringkus kehidupan ke dalam angka-
angka. Saya ikut menggigil
membayangkan kehidupan menjadi
dingin, makna diabaikan, keharuan tak ada
lagi, rasa estetika menguap.
Karena saya bukan saintis, saya akan
mengundang Richard Feynman untuk
membantu saya menjelaskan urusan ini. Ia
yang paling tepat menjadi juru penerang:
orang menjulukinya “the great explainer”.
Feynman mampu menjelaskan hal-hal
rumit dalam cara yang membuat anak
umur delapan tahun atau mahasiswa baru
bisa memahaminya. Dalam bukunya yang
menghibur, dan cuma bacaan populer,
“The Pleasure of Finding Things Out: The
Best Short Works of Richard P. Feynman,”
ia menuliskan:

“Saya punya teman seorang seniman dan


kadang-kadang saya tidak setuju pada
8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 334
pendapatnya. Dia memegang bunga dan
mengatakan, ‘Lihat betapa indahnya ini,’
dan saya setuju. Lalu dia berkata, ‘Aku
sebagai seniman dapat melihat betapa
indahnya bunga ini, tetapi kamu sebagai
ilmuwan mencacah-cacahnya dan ia
menjadi buruk.’

Saya pikir dia agak gila. Pertama-tama,


keindahan yang dia lihat bisa dilihat oleh
orang lain dan oleh saya juga. Meskipun
pemahaman estetika saya tidak sebaik dia,
saya bisa menghargai keindahan bunga.
Dan, pada saat yang sama, saya melihat
lebih banyak lagi tentang bunga itu
daripada yang dia lihat. Saya bisa
membayangkan sel-sel dan tindakan-
tindakan rumit di dalamnya yang juga
memiliki keindahan.

Maksud saya bukan hanya keindahan pada


dimensi satu sentimeter; ada juga
keindahan pada dimensi yang lebih kecil,
struktur bagian dalam. Juga keindahan
sebuah proses. Fakta bahwa warna-warna
pada bunga berevolusi untuk menarik
serangga agar menyerbukinya itu sungguh
menarik. Artinya, serangga dapat melihat
warnanya. Ini menambah pertanyaan:
apakah kepekaan estetika ini juga ada
pada makhluk-makhluk yang lebih kecil?
8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 335
Mengapa ia estetis? Semua jenis
pertanyaan menarik yang diajukan oleh
ilmu pengetahuan hanya akan menambah
kegembiraan, misteri, dan ketakjuban
terhadap sekuntum bunga. Hanya
menambah. Saya tidak paham bagaimana
itu disebut mengurangi."

Dari Feynman, saya setidaknya


mendapatkan informasi bahwa kuntum-
kuntum bunga memiliki naluri untuk
bersolek, dan serangga-serangga memiliki
rasa estetika untuk mengapresiasi
keindahan si pesolek.
*
Berbeda dari kemuraman Goenawan, bagi
para pecintanya, matematika adalah
cahaya kegembiraan. Saya pecinta
amatiran matematika. Mata saya tidak
memerlukan perkembangan mutakhir
sains untuk berbinar-binar. Sekadar
informasi, saya punya dua mata dan
keduanya selalu berbinar-binar bahkan
hanya dengan membaca buku anak-anak
yang memperkenalkan keajaiban
matematika. Dan saya seperti menemukan
mukjizat ketika suatu hari mendapati

8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 336


persamaan yang rumit sekali oleh
Bertrand Russell untuk membuktikan
bahwa 1+1 adalah benar-benar dua,
bukan dua setengah atau tujuh
seperempat atau tiga puluh sembilan. Jika
Russell keliru dengan persamaannya, tentu
ada matematikawan lain yang
menyanggahnya.
Dengan persamaan matematika, orang-
orang seperti Einstein dan Stephen
Hawking dan para astronom lain bisa
membangun model untuk memahami
jagat raya. Dengan pola yang matematis,
Beethoven melahirkan komposisi-
komposisinya. Piano adalah instrumen
yang sangat matematis. Musik adalah
ekspresi artistik yang sangat dekat dengan
matematika: bahkan musik yang lahir dari
ibu-ibu di dusun yang mendeplok padi
pada lesung, bahkan tetabuhan untuk
membangunkan orang sahur.
Di mana ada pola di situ ada matematika,
sebab matematika adalah juga ilmu
tentang pola. Dengan demikian, para
penyair sesungguhnya juga dekat dengan
matematika, meskipun tidak menyadarinya

8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 337


dan bahkan membenci angka-angka. Alam
semesta sangat matematis; perilakunya
berpola: siang dan malam selalu begitu,
matahari selalu terbit dari timur, satu
tahun selalu 365 ¼ hari, dan sebagainya.
Kita beruntung karena alam semesta
bekerja dengan pola. Karena berpola, ia
bisa dipelajari, dan bisa didekati dengan
matematika. Itu pula sebabnya orang
mengatakan bahwa matematika adalah
bahasa alam semesta.
Harus diakui, mata saya berbinar-binar
dengan itu. Bahkan untuk urusan yang
sangat remeh pun, yaitu mengetahui
panjang garis lingkar bumi, matematika
juga membuat mata saya berbinar.
Eratosthenes, orang Yunani abad ke-3
SM, adalah orang pertama yang berpikir
bahwa bumi bukanlah bidang datar
melainkan sebuah bola raksasa. Pemikiran
itu muncul karena ia ahli matematika: Ia
mengamati bayang-bayang yang tercipta
di permukaan tanah oleh cahaya matahari.
Ia memperhatikan bahwa, pada tengah
hari, derajat kemiringan bayang-bayang di
kota kelahirannya Cyrene (Aswan

8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 338


sekarang) berbeda dari derajat kemiringan
di Aleksandria.
Mengenai panjang garis lingkar bumi, ia
yakin bahwa jika ia tahu jarak dari Cyrene
ke Aleksandria, ia akan tahu berapa
panjang garis lingkar bumi. Dengan
teknologi saat ini, orang bisa tahu dengan
mudah bahwa lingkar bumi adalah 24.860
mil atau 40.000 kilometer. Pada abad
ketiga sebelum masehi, Eratosthenes
membuat perkiraan yang hanya berselisih
antara -2 dan +1 persen dari angka itu.
Eratosthenes tidak mungkin bisa menduga
panjang lingkar bumi tanpa menggunakan
model matematis, sesuatu yang dasar-
dasarnya sudah diperkenalkan kepada kita
sejak SD melalui soal cerita. Masalahnya,
sampai lulus SMA, saya tidak tahu bahwa
itulah yang dinamakan model matematis.
Tidak ada yang memberi tahu hal itu;
setidaknya, dalam pengalaman saya, tidak
pernah saya mendengar penjelasan
tentang pemodelan itu sampai saya tamat
SMA.
Contoh sederhana untuk pemodelan
matematika bisa kita dapatkan dalam soal
8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 339
cerita ini: “Tini memelihara burung nuri
dan anjing di rumahnya. Jumlah burung
nuri dua kali lipat dibandingkan jumlah
anjing. Jika N adalah jumlah burung nuri
dan A adalah jumlah anjing, manakah
persamaan yang benar? N=2A atau
2N=A?”
Jawaban yang benar adalah N=2A. Maka,
kita bisa mengatakan bahwa N=2A adalah
model matematis yang mewakili
perbandingan jumlah burung nuri dan
anjing di rumah Tini.
Model matematis bisa sesederhana itu,
bisa serumit model yang digunakan untuk
membaca cuaca, musim, dan jagat raya.
Tentu ada penyederhanaan di dalam
pemodelan, ada reduksi, tetapi sampai
saat ini matematika masih menjadi alat
terbaik bagi para saintis untuk
membangun model.
*
Dengan matematika yang menakjubkan,
saya menjadi kaget ketika Alfred North
Whitehead, seorang pecinta matematika,
orang yang bersama Bertrand Russell

8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 340


menulis tiga jilid “Principia Mathematica”,
dihadirkan untuk membuat kampanye
hitam tentang ilmu yang ia cintai.
Goenawan (saya sebetulnya kikuk sekali
menulis Goenawan sebab saya biasa
menyebutnya Mas Goen) yang memberi
tahu dalam dua paragraf yang membuat
langit-langit rumah saya seolah runtuh
seketika menimpa kepala.
“Tapi saya ingin mengingatkan, seorang
matematikawan besar pernah menyebut
hubungan matematika dengan
kekecewaan: ilmu ini sungguh muskil, dan
kita gegabah untuk begitu saja
menggunakannya menerjemahkan
semesta.”

“’We are told that by its aid the stars are


weighed and the billions of molecules in a
drop of water are counted. Yet, like the
ghost of Hamlet's father, this great science
eludes the efforts of our mental weapons
to grasp it.’ — Alfred North Whitehead,
dalam “An Introduction to Mathematics”.

Bagaimana mungkin Pak Whitehead


menulis seperti itu di dalam buku
pengantar matematika?

8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 341


Saya menemukan ebook “An Introduction
to Mathematics”, yang sudah berstatus
public domain (terbit 1911), dan kutipan
yang disodorkan Goenawan ada di
paragraf pembuka bab 1 buku itu.

“THE study of mathematics is apt to


commence in disappointment. The
important applications of the science, the
theoretical interest of its ideas, and the
logical rigour of its methods, all generate
the expectation of a speedy introduction
to processes of interest. We are told that
by its aid the stars are weighed and the
billions of molecules in a drop of water are
counted. Yet, like the ghost of Hamlet’s
father, this great science eludes the efforts
of our mental weapons to grasp it — ‘’Tis
here, ’tis there, ’tis gone’— and what we
do see does not suggest the same excuse
for illusiveness as sufficed for the ghost,
that it is too noble for our gross methods.
‘A show of violence,’ if ever excusable, may
surely be ‘offered’ to the trivial results
which occupy the pages of some
elementary mathematical treatises.”

Paragraf ini sebetulnya menyampaikan


gambaran umum bahwa studi matematika
cenderung membuat orang kecewa.

8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 342


Mereka mendengar segala macam
kehebatan sains ini dan tidak sabar untuk
segera mendapatkan semua kehebatan
itu. Kita diberi tahu, misalnya, bahwa
dengan bantuan matematika kita bisa
menimbang bobot bintang-bintang dan
menghitung miliaran molekul dalam
setetes air. Tetapi sains yang hebat ini
ternyata sulit dipahami—ia selalu
menghindar dari upaya kita
memahaminya.
Whitehead mengibaratkan kesulitan orang
memahami matematika itu dengan
kesulitan Horatio dan dua penjaga malam
lainnya saat berusaha menangkap hantu
ayah Hamlet: “Ia di sini, ia di sana, ia
menghilang.” Mereka gagal mendapatkan
kehebatan yang mereka harapkan;
kebanyakan orang justru menjadi frustrasi
harus mengerjakan tugas yang begitu-
begitu saja dari risalah matematika dasar.
Kurang lebih, seperti kebanyakan murid
sekolah frustrasi karena tidak tahu kenapa
harus mempelajari sinus, cosinus, tangent,
akar kuadrat, dan sebagainya.

8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 343


Saya lega. Ternyata tidak ada masalah
pada pernyataan Pak Whitehead: ia tidak
mengabarkan cerita horor tentang
ilmunya. Satu-satunya masalah adalah ia
menyebut matematika sebagai sains.
Memang pada masa ia hidup matematika
digolongkan ke dalam sains. Saat ini tidak
lagi, kurang lebih seperti Pluto yang
dikeluarkan dari kelompok planet-planet.
Matematika tidak dianggap sains karena ia
melakukan pembuktian kebenaran melalui
logika formal.
Tetapi saya sedih juga. Goenawan
menitipkan kritiknya terhadap sains
melalui pernyataan Husserl bahwa Galileo
adalah “jenius yang menemukan dan
sekaligus menyembunyikan,” dan ia
menambahkan bahwa dengan kritik
Husserl “kita bisa melihat bagaimana
dunia yang diletakkan dalam kerangka
matematis merepresentasikan ‘Lebenswelt’,
dunia kehidupan, dengan mereduksinya.”
Saya pikir Mas Goen tidak perlu
melakukan hal itu. Dengan cara ia
mengutip Whitehead, kita bisa melihat
bagaimana seluruh tudingannya, yang

8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 344


menggunakan argumen Husserl, berbalik
ke arahnya: Ia menyembunyikan, ia
mereduksi, ia membuat disinformasi.
Saya menyampaikan hal ini dengan
ingatan terhadap hal yang paling
ditekankan dalam kerja jurnalistik:
Berkomentar itu bebas, tetapi fakta itu
suci. Tulisan Goenawan, dengan banyak
kutipan narasumber, saya baca sebagai
semacam laporan jurnalistik yang rumit.
Penekanan saya pada jurnalistiknya, bukan
rumitnya. Sebagai laporan jurnalistik,
semestinya ia menjunjung tinggi fakta di
atas kepentingan pribadi penulisnya.
Dari Budiono Darsono saya mendapatkan
pengetahuan bahwa komentar
narasumber adalah fakta jurnalistik. Itu
memperbaiki pemahaman saya yang
sebelumnya hanya menganggap setiap
komentar sebagai opini. “Bagi orang yang
mengucapkan, itu memang opini,” kata
Budi. “Tapi bagi wartawan, ia fakta
jurnalistik. Kita tidak boleh memelintirnya.”
*

8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 345


Sebelum menutup tulisan ini, saya ingin
menyampaikan pengakuan bahwa saya
hanya menyebut nama-nama teman. Tidak
ada nama hebat di dalam tulisan ini,
kecuali penulis Rumania Nicolae Teodosie
Draghicescu, dan itu pun fiktif.
Polemik ini, bagaimanapun, memberi
kegembiraan—paling tidak kepada saya
sendiri. Orang tahu bahwa saya bukan
saintis, bukan filsuf, dan sudah terlambat
untuk mengganti cita-cita. Saya hanya
ingin mendorong pembicaraan lebih
serius tentang scientific temper.
Sains punya potensi destruktif, saya setuju.
Tongkat kayu, api unggun, atau anjing
pudel juga punya potensi destruktif. Saya
bersungguh-sungguh. Manusia hadir di
dunia dalam keadaan lemah; bayi-bayi
manusia dilahirkan sangat prematur, tidak
sanggup melindungi diri, tidak sanggup
menolong dirinya sendiri: ia butuh waktu
satu tahun atau lebih untuk sekadar bisa
berjalan dan butuh bertahun-tahun lagi
untuk menjadi dewasa dan mampu
menjalani kehidupannya sendiri.

8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 346


Para saintis menyatakan bahwa
ketidakberdayaan itu membuat manusia
mengembangkan, secara naluriah,
perasaan tidak aman dalam kehadirannya
di tengah alam. Binatang buas adalah
ancaman, manusia di luar kelompoknya
adalah ancaman lain. Ia membutuhkan alat
pelindung untuk mempertahankan
kelangsungan hidup.
Ketika manusia menemukan api, ia
menjadi tahu bahwa api membuatnya
terhindar dari binatang buas, dan
selanjutnya ia tahu bahwa dengan api ia
bisa membuat senjata, yang semakin lama
semakin canggih, dan, dengan peralatan
secanggih apapun, manusia tetap merasa
tidak aman.
Untuk hari ini manusia tidak takut lagi
pada binatang buas, kebanyakan dari
mereka sudah punah dan yang masih ada
hampir punah, tetapi manusia masih
mempertahankan perasaan tidak aman
pada manusia lain di luar kelompoknya.
Kita bisa mengkritik sains, tetapi
mencegah sains adalah sama dengan
memaksa orang berhenti ingin tahu. Itu
8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 347
tidak mungkin. Yang lebih bisa dilakukan
adalah meminimalkan naluri tidak aman,
yang terwariskan turun-temurun sejak
generasi pertama homo sapiens, dan
melakukan upaya sadar untuk
menumbuhkan sikap respek kepada
manusia lain, kepada lingkungan, kepada
alam.
Dan upaya sadar berarti adalah
pendidikan, penumbuhan kesadaran,
sebab pada fase itulah kanak-kanak akan
tumbuh menjadi orang dewasa dan
menjalani hidupnya entah sebagai saintis,
jurnalis, politisi, kerani, atau apa pun.
Selama manusia masih menyimpan
pandangan-pandangan diskriminatif, apa
saja bisa membahayakan. Dan teknologi,
sebagai anak kandung sains, tentu saja
bisa sangat membahayakan.
Untuk yang sudah telanjur tua, saya pikir
kita harus berani memeriksa apa yang
tersimpan di dalam kepala kita.***
Sumber:
https://www.facebook.com/aslaksana/posts/304346
0605739895

8 Juni 2020 | A. S. Laksana | 348


10 JUNI 2020 | SABRANG DAMAR PANULUH

Mempertanyakan
Kebenaran Real World
Science dan Pengkhianatan
Matematika
Sabrang Damar Panuluh

Suatu sore, tiba-tiba menyeruak pesan


sebaran berisi esai Pakde A.S. Laksana dan
Pakde Goenawan Mohamad. Tidak
berselang lama, menyusul tulisan-tulisan
sejenis dari begawan yang lain. Termasuk
Pakde Ulil Abshar Abdalla. Ini jarang
terjadi.
Langka sekali ponsel saya diserbu
broadcast messages berdaging semacam
itu. Biasanya, yang kerap mampir justru
iklan-iklan dengan bujuk rayu surgawi.
Satu demi satu saya tekuni. Topik serta
sudut pandangnya menarik. Tidak
selumrah yang biasa saya baca. Rasanya
seperti menyaksikan sebuah arena diskusi

10 Juni 2020 | Sabrang Damar Panuluh | 349


yang tenang tapi menghanyutkan.
Masing-masing menawarkan pendapat
menggoda.
Lalu, sekonyong-konyong, muncul
dorongan untuk turut menyahut.
Menonton memang menyenangkan, tapi
ikut melempar opini, barangkali bakal
lebih asyik. Bukan karena saya ingin tampil
lebih pandai. Sama sekali bukan! Hanya
terlalu sayang apabila tukar pikiran serupa
itu tak diombyongi.

SELAYANG PANDANG PERCAKAPAN


Beberapa hal yang bisa saya jangkau dari
catatan-catatan itu antara lain sebagai
berikut.
Penanganan COVID-19 di semua tempat,
tak hanya di negeri kita, makin memantik
risau. Nyaris tak menyuguhkan harapan
berarti. Serba gagap. Keadaan ini lantas
menggelitik untuk mempertanyakan
kredibilitas Sains. Apakah Sains masih
layak disebut sebagai panglima untuk
menyelesaikan persoalan dunia, terkhusus
wabah ini?

10 Juni 2020 | Sabrang Damar Panuluh | 350


Lalu argumentasi yang menjabar
kebenaran mutakhir Sains berhamburan.
Termasuk dengan lawannya. Pendapat
yang mengungkap kepongahan Sains juga
muncul. Bahkan, saya temukan pula
gugatan terhadap Matematika, sebab
dianggap menjauhkan Sains dari manusia.
Amat beragam. Bahkan, tak sedikit yang
berbinar-binar menyampaikan bahwa
Sains mengusung tugas mulia untuk
menunjukkan hakikat di balik kenyataan.
Di sisi lain, ada pula kekhawatiran, sebab
Sains lebih mengedepankan kepastian,
ketimbang membimbing proses pencarian
kebenaran.
Dinamis, bukan? Seru!
Hanya saja, terdapat bagian-bagian yang
membuat dahi saya berkerut. Yakni, saat
Sains dipotret sebagai penyedia
kebenaran, bahkan kepastian, terhadap
realitas kehidupan. Serta merta saya
bertanya-tanya, “Pernahkah Sains
menawarkan kebenaran real world? Atau
jangan-jangan, ini hanya epistemic fallacy
saja?”

10 Juni 2020 | Sabrang Damar Panuluh | 351


Pada ranah sains natural, soal ini menarik
untuk dilanjutkan. Namun sebelum jauh,
perlu saya sebut di sini, bahwa
penggunaan kata Sains pada catatan
setelah paragraf ini, merujuk pada maksud
Sains natural.

SENGKARUT BENAR-SALAH
Sepemahaman saya, Sains tidak pernah
menawarkan kebenaran real world.
Apalagi bertugas mencari hakikat
kenyataannya. Hal yang dihasilkan Sains
adalah narrative reality. Dia menciptakan
model realitas. Tapi korelasi one-on-one
antara pengetahuan yang ditawarkan
Sains dengan real world tak bisa dijamin
ada. Begitu pula dengan kebenarannya.
Sains bahkan tak mampu menjamin
konsistensi dirinya. Kesimpulan itu semua,
menurut model Sains sendiri.
Begini ceritanya. Dimulai dari alat utama
pencarian dalam Sains, yakni: metode ilmiah.
Perhatikan tahapan-tahapan dalam
metode ilmiah itu. Masih ingat? Kurang
lebih sebagai berikut.

10 Juni 2020 | Sabrang Damar Panuluh | 352


Pertama, melakukan observasi. Kedua,
memformulasikan pertanyaan. Ketiga,
membuat hipotesis dan penjelasan
dengan kebenaran yang bisa dicek.
Keempat, pengujian prediksi. Lalu yang
terakhir, menggunakan hasil eksperimen
untuk mempertajam hipotesis.
Ada yang perlu dicermati disini, terutama
pada tahap ketiga. Dibutuhkan batas yang
jelas tentang pengecekan kebenaran.
Mana yang bisa dikatakan benar, mana
yang bisa dikatakan salah?
Dalam rentang dekade 1920, sekelompok
filsuf, saintis, serta Matematikawan di
Berlin dan Vienna, menawarkan konsep
logical positivism untuk membuat garis
demarkasi yang jelas soal benar dan salah.
Dinyatakan di dalamnya, hanya ada dua
jenis sumber pengetahuan: penalaran atau
logical reasoning, dan pengamatan
langsung atau empirical experience.
Gagasan tersebut berdampak pada
validasi atas hipotesis. Artinya, hipotesis
dengan kebenaran yang dapat dicek,
hanyalah yang bisa diobservasi langsung.

10 Juni 2020 | Sabrang Damar Panuluh | 353


Masalahnya, hipotesis kerap dibangun dari
referensi atas entitas teori lain yang tak
bisa diobservasi, by definition. Proses
perbandingan saat observasi langsung itu
pun harus meliputi semua kemungkinan
kasus pada hipotesis-fenomena yang diuji.
Semua observasi ini juga tak bisa
dilakukan, by definition.
Rudolf Carnap, seorang pendukung besar
konsep logical positivism berujar:

"At no point is it possible to arrive at


complete verification⎯ of a law. In fact, we
should not speak of 'verification' at⎯all if
by the word we mean definitive
establishment of truth but only of
confirmation."

Pendapat tersebut tertera dalam bukunya,


The Philosophical Foundations of Physics.
Kutipan tersebut jelas menerangkan,
bahwa mendirikan kebenaran yang
definitif bukanlah hal yang mungkin
dicapai oleh verificationism science. Hal
yang niscaya diraih hanyalah: derajat
kebenaran.

10 Juni 2020 | Sabrang Damar Panuluh | 354


Lalu Karl Popper, satu dari sekian filsuf
Sains berpengaruh pada abad 20,
membantu menawarkan falsifiability
sebagai garis demarkasi atas benar dan
salah. Dia bilang, “Hanya pernyataan yang
mungkin disalahkan, yang bisa dianggap
sebagai bagian dari hipotesis Sains”.
Sekilas, ini menjawab masalah
verificationism. Hipotesis tidak lagi perlu
diuji pada semua kemungkinan kasus. Jika
terbukti keliru pada satu kasus saja,
hipotesis bisa dinyatakan salah. Benar
seribu kali, amblas karena salah sekali.
Lantas, jika hipotesis belum dinyatakan
salah, apakah kemudian dia menjadi
kebenaran? Mungkin saja, ini yang
dimaksudkan Pakde A.S. Laksana sebagai
kebenaran mutakhir. Hipotesis dianggap
masih benar, sebelum terbukti salah.
Pertanyaan lanjutannya adalah, kebenaran
atas apa?

MENELITI KEMBALI KEBENARAN SAINS


Bila menilik proses metode ilmiah, atribut
benar-salah terdapat pada relasi antara
hipotesis dan eksperimen. Anggapan

10 Juni 2020 | Sabrang Damar Panuluh | 355


bahwa hipotesis adalah deskripsi dari real
world, berarti harus disertai keberadaan
relasi one-on-one antara pengetahuan
manusia dan real world itu.
Tapi ada masalah besar di sini. Real world
tidak pernah membuat pernyataan apa-
apa atas itu!
Correspondence truth antara pengetahuan
dan realitas tidak bisa dipastikan
kebenaran juga keberadaannya. Sebab
realitas tak bisa ditangkap tanpa tabir bias
dan asumsi pengamatnya. Sedangkan
realitas sendiri, kita tahu, diam seribu
bahasa.
Pada soal ini, falsifiability Popper juga
gagal membantu. Tidak mampu
mengubah fundamental framework dari
Sains. Perannya hanya memberi alternatif
metodologi untuk mempertajam proses
pengecekan yang lazim digunakan para
saintis. Lebih khususnya, untuk menjawab
masalah untestable universal case yang
dihadapi verificationism tadi.

10 Juni 2020 | Sabrang Damar Panuluh | 356


COHERENCE THEORY OF TRUTH
Mari coba menggunakan pandangan lain.
Ambil, Coherence Theory of Truth. Konsep
ini menitikberatkan derajat kebenaran
pada koherensi pengetahuan di dalam
sebuah konstruksi model. Pada konteks
ini, tentu saja model Sains.
Dinyatakan dalam konsep tersebut,
semakin tidak ada kontradiksi di dalam
sebuah model, kian solid lah model
tersebut dalam kebenarannya.
Menarik. Faktor eksternal yang tidak bisa
dijangkau, yakni real world, digantikan
oleh faktor internal berupa model yang
lebih bisa diolah. Sayangnya, pandangan
ini juga mengandung masalah.
Jika kriteria kebenaran adalah koherensi
internal di dalam model, maka mustahil
memastikan keabsahan obervasi atas
realitas, telah benar-benar sesuai dengan
kesejatian realitas itu sendiri.
Sedangkan yang bisa dipastikan Sains
hanyalah representasi real world
sekonsisten mungkin, di dalam sistem
model Sains tersebut. Karena itulah, hasil

10 Juni 2020 | Sabrang Damar Panuluh | 357


dari Sains bukan kebenaran realitas per se,
tapi narrative of reality.
Dengan demikian, semua pernyataan yang
keluar dari Sains, harus dipahami pada
konteks naratif itu. Pernyataan dari para
saintis baru dikatakan bagian dari narasi
Sains, apabila tidak mengganggu
konsistensi model Sains secara
keseluruhan. Perlu dicermati lagi, relasinya
ada pada model Sains secara keseluruhan.
Bukan kepada kebenaran real world.

EFEK SAMPING TAK TERDUGA


Selain membawa Sains berlangkah-
langkah lebih maju, Coherence truth juga
berdampak signifikan lain. Ketika truth
diletakkan pada konsistensi sebuah sistem,
akibatnya Sains tak bisa lagi disebut
sebagai hal yang paling mendekati
kebenaran realitas. Sebab sistem lain,
seperti Agama, juga memiliki derajat
konsistensi di dalam sistem, dengan
aksioma maupun metode deduksi yang
dipakainya.
Dari dulu hingga kini, masalah aksesibilitas
terhadap realitas real world, telah

10 Juni 2020 | Sabrang Damar Panuluh | 358


menghantui segala model realitas yang
pernah digunakan di muka bumi.
Persoalan itu diidap Sains, Agama, aliran
kebatinan, serta lain semacamnya. Sebab
wasitnya, si real world itu, tidak
mengeluarkan skor akurasi apapun. Tetap
diam seribu bahasa!
Alih-alih mempertajam konsep kebenaran,
Coherence truth justru menguak persoalan
lain. Yaitu, extreme relativism! Besertanya,
semua klaim tentang kebenaran dari
sistem model manapun menjadi sama-
sama valid, asal konsisten secara internal.
Truth pada real world jadi hilang karena
pandangan ekstrim, bahwa semua yang
disebut kebenaran hanyalah konstruksi
individu. Kebenaran tergantung pada
referensi masing-masing individu. Ini bikin
susah. Terutama saat truth atau
derajatnya, diperlukan untuk mengambil
keputusan penting yang menyangkut
hajat orang banyak.

JALAN TENGAH
Adalah Ram Roy Bhaskar, seorang filsuf
asal Inggris yang melahirkan pendekatan

10 Juni 2020 | Sabrang Damar Panuluh | 359


Critical Realism. Pemikiran tersebut
termaktub dalam bukunya, A Realist
Theory of Science, yang terbit tahun 1975.
Bhaskar membuat gebrakan, dengan
memisahkan antara real world dan
observable world.
Menurutnya, Real world tak dapat
diobservasi, bebas, dan independen dari
semua perspektif teori, serta konstruksi
manusia. Sedang dunia yang lazim kita
pahami, disebut observable world, karena
dibangun dari perspektif dan pengalaman
manusia.
Konsep ini menjawab epistemic fallacy
yang sering dipakai. Termasuk dalam
polemik ini. Kata ‘real’ sebagai pernyataan
ontologis, direduksi menjadi ‘real’ dalam
pemahaman epistemik.
Pada konteks ini, real world menjadi
mekanisme yang mustahil diobservasi,
yang menghasilkan observable world,
peristiwa yang bisa diobservasi.
Epistemologi dan Ontologi adalah
terpisah.

10 Juni 2020 | Sabrang Damar Panuluh | 360


Terlihat jelas, bahwa real world memang
tak tersentuh sedikit pun. Sains hanya
membangun model, sedikit demi sedikit,
hipotesis demi hipotesis. Masa berlakunya
sendiri tergantung dengan tingkat
kongruensi hipotesis tersebut pada
fenomena yang tengah diuji. Jika ada yang
lebih presisi, usanglah dia!
Dengan demikian, apakah Sains
menjelaskan fakta? Menawarkan
kebenaran realitas kehidupan? Mungkin
iya pada observable world, tapi tidak pada
real world.

SUARA DARI DUNIA MATEMATIKA


Jika derajat kebenaran Sains observable
world berhubungan langsung dengan
konsistensi Sains secara keseluruhan,
rasanya mudah berasumsi, jika Sains
makin berkembang dan tetap konsisten,
kian dekatlah ia dengan kebenaran dari
observable world tersebut.
Tapi tunggu dulu. Coba kita tanya
Matematika!
Sejak zaman baheula, Matematika telah
menjadi alat utama komunikasi di dunia
10 Juni 2020 | Sabrang Damar Panuluh | 361
Sains natural. Baik dengan kuantifikasi-
kuantifikasinya, maupun lewat
kemampuan merangkum relasi logis
menggunakan simbol-simbolnya.
Richard P. Feynman berpendapat,
“Mathematics is a language plus reasoning;
it is like a language plus logic. Mathematics
is a tool for reasoning.”
Pernyataan tersebut sulit terbantahkan.
Matematika memang istimewa, sebab
memiliki presisi logis yang sangat akurat,
bebas dari bias, dan perspektif manusia.
Matematika sangat cocok dijadikan alat
pembedah persoalan yang membutuhkan
objektivitas maksimal. Maka tidak
berlebihan jika Matematika disebut
sebagai jantung Sains natural.
Ranah Matematika tak melulu tenang.
Para pemikirnya juga berdebat, melebur
dalam taburan kapur-kapur penulis rumus,
demi meramu temuan-temuan baru.
Seperti yang terjadi pada tahun 1931.
Meletup drama ‘pengkhianatan
Matematika!’

10 Juni 2020 | Sabrang Damar Panuluh | 362


Seorang Matematikawan berdarah Austria,
Kurt Godel, menggebrak keheningan
dengan melahirkan Godel’s incompleteness
theorem.
Di dalamnya terdapat dua komponen
penting. Pertama, pada sebuah sistem
yang aksiomatis dan cukup ekspresif, pasti
memiliki properti, bahwa sistem tersebut
tidak komplit atau tidak konsisten. Kedua,
kalaupun konsisten, sistem tersebut tidak
akan bisa membuktikan melalui sistemnya
sendiri.
Lalu bagaimana dengan Sains? Apakah
Sains adalah sistem aksiomatis? Tentu saja.
Sains memiliki aksioma seperti Principle of
finality, of causal closure, of sufficient
reason, of contradiction, of
noncontradiction, dan sebagainya.
Apakah Sains cukup ekspresif? Sebentar!
Ini tidak mudah dijawab tanpa simplifikasi.
Saya akan coba menggunakan
generalisasi. Sebutlah broad stroke.
Jika ekspresif didefinisikan sebagai
kemampuan sebuah model untuk
melakukan operasi dasar aritmatika,

10 Juni 2020 | Sabrang Damar Panuluh | 363


seperti penambahan dan perkalian, maka
kita bisa mengambil relasi, bahwa
submodel Sains yang menggunakan
Matematika, telah mengandung properti
ekspresif ini.
Kenyataannya, hampir semua cabang
Sains natural mengandalkan Matematika
untuk mengekspresikan hipotesis maupun
mengolah datanya. Dengan begitu, syarat
aksiomatis dan cukup ekspresif sudah
terpenuhi oleh Sains.
Lalu, bagaimana bila simpulan tersebut
dirasukkan dalam teorema bangunan Kurt
Godel? Maka sistem Sains selalu tidak
komplit, dan tidak akan bisa membuktikan
konsistensinya sendiri. Artinya, Sains tak
akan pernah mampu membuktikan
kebenarannya terhadap real world!

PREDICTIVE POWER OF SCIENCE


Dengan rangkai pemahaman tadi, apakah
berarti Sains tidak lagi berlaku sebagai
panglima? Apakah dia tengah istirahat
saat pandemi COVID-19 merebak, seperti
yang dituturkan dalam tulisan Pakde
Goenawan Mohammad?

10 Juni 2020 | Sabrang Damar Panuluh | 364


Nanti dulu.
Sains memang mengidap kelemahan.
Demikian juga dengan beragam model
kebenaran real world yang lain. Tapi,
jangan sampai juga kita menutup mata
pada kelebihan-kelebihannya.
Tilik lagi jabaran mengenai metode ilmiah.
Kekuatan Sains bukan pada pernyataan
kebenarannya. Melainkan pada kekuatan
prediksinya. Model terhadap observable
world yang dibangun natural Sains,
mampu melakukan prediksi akurat
sekaligus presisi pada observable world
yang kita alami. Bahkan saya berani bilang,
belum pernah ada model sepresisi Sains
sepanjang sejarah manusia yang tercatat.
Pernyataan soal kepongahan Sains,
sebagaimana diungkapkan Pakde Ulil
pada sebaran pesan digital yang mampir
ke ponsel saya, boleh jadi berakar dari
ketidakpahaman pada itu.
Jika dua sistem⎯Agama dan Sains⎯saling
dihadapkan dalam lapangan kebenaran,
tentu mereka memiliki narrative of reality
berbeda. Masing-masing punya aksioma,

10 Juni 2020 | Sabrang Damar Panuluh | 365


metode deduksi, dan konklusi sendiri. Satu
sama lain tidak akan pernah bisa saling
membuktikan kebenaran sistemnya
kepada sistem yang lain. Ataupun
membuktikan kebenaran sistem lain
dengan sistemnya sendiri.
Karena itu, keduanya mustahil bertaut.
Dan masing-masing penganut sistem akan
pongah dengan asumsi kebenaran sendiri.
Wajar saja. Bukankah saintisme, juga
fideisme, lahir dari kesetiaan yang naif
terhadap narrative of reality?

TITIK TEMU: BEST OF BOTH MANY


WORLDS
Titik temu untuk kemaslahatan manusia
dari sistem yang berbeda, demi mencapai
hasil optimal masih bisa dilakukan.
Pertama, iseng-iseng kita perlu
menyadari, bahwa debat Agama versus
Sains mirip debat orang rabun jauh lawan
orang rabun dekat. Kok bisa? Coba geser
lapangannya. Bukan lagi pada soal-soal
kebenaran, melainkan ke tataran kekuatan
serta konteks prediksi.

10 Juni 2020 | Sabrang Damar Panuluh | 366


Sains natural mempunyai kekuatan
prediksi nan akurat pada observable world
hingga jangkauan tertentu. Kemajuan
teknologi hari-hari ini menjadi buktinya.
Tapi sehebat apapun Sains, ia tetap gagal
membuat prediksi yang melewati batas
kematian manusia. Paling tidak in relation
to conscious experience. Sains tak punya
hipotesis pada ranah itu, sebab metode
deduksinya memang tidak memungkinkan
menjangkau. Sementara model Agama
punya depiksi dan prediksi yang sangat
jelas terhadap alam pascamaut.
Sains ibarat penderita rabun jauh, sedang
Agama bak penyandang rabun dekat.
Gambaran ini sekaligus menunjukkan,
bahwa masing-masing area punya
panglima berbeda.

KEGUSARAN ATAS WABAH


Jalan pemecahan masalah, mesti diawali
dengan mengakui serta mendefinisikan
terlebih dahulu masalah tersebut. Ini
pemahaman mendasar yang sudah lazim
kita mengerti. Dan ketika pandemi COVID-

10 Juni 2020 | Sabrang Damar Panuluh | 367


19 meledak, definisi masalah lahir dari
model Sains.
Karena itulah, Sains menjadi pilihan paling
tepat untuk berdiri sebagai panglima
dalam perang menghadapi COVID-19.
Jangan sampai dia istirahat. Dorong
hingga solusi ditemukan! Beruntung,
ternyata Sains terus berjalan tanpa
disuruh.
Beda cerita kalau pandemi ini
dideklarasikan pertama oleh model
Agama. Bisa-bisa, pandemi ini disebut Jin
Merah atau Setan Pocong. Jika itu yang
tempo hari terjadi, maka panglima yang
paling tepat untuk menghadapi adalah
model Agama.
Perjalanan pencarian kebenaran tidak akan
pernah berhenti, sebab masalah-masalah
muncul silih berganti. Kita perlu rendah
hati terhadap semua kemungkinan sistem
model. Mereka pasti punya sesuatu yang
ditawarkan. Model mana yang bakal
dipungut untuk memecahkan masalah, itu
pertimbangan berikutnya.

10 Juni 2020 | Sabrang Damar Panuluh | 368


Bulan Maret 2020 lalu, saya pernah
menawarkan metodologi menghadapi
COVID-19 di Indonesia. Termasuk di
dalamnya menghitung pertimbangan yang
diolah dari sistem model Sains, Agama,
ekonomi, dan kebatinan. Tapi tentu saja
tidak digubris.

WAJAH INDONESIA
Jauh sebelum pandemi, negara ini sudah
terjangkit wicked problem. Frasa yang
menurut C. West Churchman, filsuf dan
saintis sistem dari Amerika, diartikan
sebagai masalah yang tidak mungkin
dipecahkan. Karena komponen
persyaratan jalan keluar yang kita ketahui
tidak komplit, kontradiktif, juga berubah-
ubah. Interdependensi komponen di
dalamnya begitu kompleks, sehingga
upaya-upaya pemecahan masalahnya pun
malah melahirkan masalah baru.
Kemudian datang COVID-19. Bila
dikawinkan dengan wicked problem yang
sudah lebih dulu mendera, wabah tersebut
telah menjelmakan keruwetan Indonesia
menjadi monster nggegirisi.

10 Juni 2020 | Sabrang Damar Panuluh | 369


IN RESPECT TO WICKED PROBLEMS
Barangkali kita perlu mencoba metodologi
yang baru. Coba perhatikan semua model.
Lalu tanyakan definisi kepada masing-
masing model: ada masalah apa?
Formulasi masalah dari sebuah model tak
akan lepas dari aksiomanya. Formulasi
prediksi akan terlokalisasi pada area
terkuat, tempat aksioma tertata menjadi
teorema. Keragaman ini menyediakan
probabilitas lebih tinggi untuk mengenal
wicked problem pada kerangka yang lebih
koheren antar-model. Tidak hanya
intramodel.
Dengan begitu, mudah-mudahan, diskusi
tidak akan lagi berkutat pada urusan
kebenaran belaka. Melainkan lebih menuju
jalan pemecahan masalah. Urusan benar
atau salah, efektif atau tidak, kelak
observable world akan bereaksi sendiri.
Waktu akan membuktikan. Segaduh
apapun perdebatan soal kebenaran, tetap
saja tak membangunkan real world dari
kebisuannya. Kita hanya perlu
memformulasi hipotesis selengkap
mungkin dari semua model yang tersedia.

10 Juni 2020 | Sabrang Damar Panuluh | 370


Keruwetan bangsa ini bisa dihadapi
bersama menggunakan berbagai model.
Tak ada yang ditinggal, semua ikut serta.
Masing-masing pihak masih bisa
melakukan upaya sesuai kapasitas. Ada
yang riset, sementara yang lain wiridan,
berdoa sembari bakar menyan, serta yang
lain-lain. Jika ini terjadi, tidak mustahil,
monster wicked problem bisa dikalahkan.
Kalaupun masih gagal, paling tidak kita
telah mendapat laba berupa keindahan.
Itu jadi modal kekuatan untuk melanjutkan
perjuangan.

EKSPLORASI POSIBILITAS
Apakah cara-cara tadi terasa utopis? Bisa
jadi!
Mari belajar sedikit dari sistem yang
sampai saat ini memiliki koherensi paling
solid, yakni Matematika. Simbol-simbolnya
mampu membawa kita ke tempat-tempat
sukar dijangkau pengalaman. Kerumitan
dimensi hasil prediksi fisika yang sulit
dibayangkan, akan mudah dialami melalui
simbolisme Matematika.

10 Juni 2020 | Sabrang Damar Panuluh | 371


Bahasa Matematika tidak menghilangkan
esensi manusia pada Sains.
Ketidakpahaman pada bahasa Matematika
formal, sama seperti kepelikan kita
memahami bahasa orang-orang dari
negeri-negeri yang tidak terekspos media
massa kelas internasional. Dan itu tidak
menghilangkan kemanusiaan, bukan?
Matematika menyediakan dunia yang
berbeda. Bukan real world, ataupun
observable world. Melainkan symbolic
world! Dunia abstrak, imaji, tapi memiliki
properti koherensi logis yang tinggi.
Tingkat konsistensinya tak diragukan.
Pantas disebut sebagai bahasa untuk
berkomunikasi dengan jagat raya.
“Mathematics is the language with which
God has written the world,” ujar Gelileo
Galilei berabad-abad silam.
Kita sudah membedakan real world dan
observable world. Tapi sudahkah kita
efektif mengeksplorasi symbolic world?
Bukan berarti semua harus tahu
Matematika. Tapi menyadari keberadaan
dunia imaji yang penuh kemungkinan,

10 Juni 2020 | Sabrang Damar Panuluh | 372


dibingkai dengan konsistensi dan
keistiqomahan.

CODA
Real world mungkin akan terus diam. Tapi
dia tak pernah gagal mengikuti apapun
yang kita jogetkan. Untuk kita yang hidup
bersama, mungkin nada memang
berbeda, tapi simfoni tetap harus
ditembangkan. Barangkali bisa membawa
kita ke tempat yang belum pernah
terbayangkan.***
Sumber:
https://www.facebook.com/toto.rahardjo.18/posts/1
564916687012523

10 Juni 2020 | Sabrang Damar Panuluh | 373


9 JUNI 2020 | LUKAS LUWARSO

Trilema Sains, Agama, dan


Filsafat
Lukas Luwarso

Perdebatan “menghadap-hadapkan”
agama, filsafat, dan sains sebagai
semacam “perselisihan paradigma”
berisiko menghadapi problem trilema
(dilema namun menyangkut tiga aspek).
Tiga aspek ini cukup sulit dipersatukan
untuk menjadi kesatuan paradigma yang
koheren, substantif, non-superficial. Kita
bisa mengombinasikan dua paradigma,
namun agak mustahil menyatukan
ketiganya. Mampu menjadi orang yang
taat beragama, mendalami filsafat,
sekaligus antusias pro-sains.
Trilemanya begini: (1) Jika Anda taat
beragama dan mendalami filsafat, pasti
tidak pro-sains; (2) Jika Anda pro-sains
dan beragama, pasti kurang mendalami
filsafat; (3) Jika Anda berfilsafat dan pro-
sains, pasti tidak taat beragama.
9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 374
Saya mengategorikan F. Budi Hardiman
(FBH) pada trilema pertama: beragama
dan berfilsafat, namun tidak pro-sains. Ia
menulis “Saintisme dan Momok-Momok
Lain” ikut meramaikan debat menyoal
sains dan korelasinya dengan filsafat dan
agama.
Tulisannya, di beberapa paragraf awal,
bernada patronizing dalam mendakwa
sains. Ia sengaja memilih judul dengan
diksi yang detraktif (“saintisme”;
“momok”). Berkhotbah: “kepongahan
kemajuan sains bisa menjadi dogmatisme
baru.”
FBH juga mengajak untuk membuat
distingsi antara “sains dengan saintisme,”
sebagaimana memilah “agama dengan
fideisme,” dan membedakan “filsafat
dengan ideologi.” Menurutnya, yang
pertama adalah upaya mencari jawaban,
yang kedua merasa telah menemukan
jawaban. Perdebatan yang berlangsung,
katanya, lebih pada saintisme, fideisme,
dan ideologi; ketimbang soal sains,
agama, atau filsafat.

9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 375


FBH fokus memilih menyerang sains
dengan mengupas “saintisme”, namun
enggan menyentuh fideisme (agama) dan
ideologisasi (filsafat). Menunjukkan bias-
berpikirnya yang terjebak pada trilema
kategori pertama. Tak soal tentu, bias
berpikir adalah manusiawi. Bagaimanapun,
saya tertarik menanggapi ajakannya untuk
membuat debat “masuk lebih dalam”. Ia
mengajukan tiga premis dan pertanyaan:
Pertama, menghadap-hadapkan agama
dan sains tidak realistis; karena sains
secara historis tidak dapat lepas
sepenuhnya dari agama.
Kedua, New Sciences (seperti teori chaos,
geometri faktal, mekanika kuantum) telah
berpisah dari Newtonian mechanical
worldview; ketidakpastian dan kontingensi
makin mendapat tempat dalam sains.
Ketiga, hubungan antara sains dan dunia
makna; realitas terdiri atas benda dan
makna. Sains berhasil mengetahui benda,
tetapi bisakah makna didekati oleh sains?
Bagaimana menjelaskan dari benda
muncul kehidupan, dan dari kehidupan
muncul kesadaran?
9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 376
Tulisan ini mencoba mengupas tiga premis
persoalan yang diajukan FBH.

MENGHADAPKAN AGAMA DAN SAINS


“Menghadap-hadapkan agama dan sains
tidak realistis; karena secara historis sains
tidak bisa dilepaskan sepenuhnya dari
agama.” Secara prinsip premis ini valid,
dalam hal “tidak bisa dilepaskan secara
historis”. Cukup banyak temuan sains yang
dihasilkan oleh sejumlah saintis bukan saja
terinspirasi ajaran agama, namun awal
niatannya adalah untuk—secara harfiah—
pengabdian pada agama.
Isaac Newton adalah quintessential saintis
yang mendedikasikan hidup dan ilmunya
untuk agama. Ia menulis sejumlah “karya
ilmiah” yang dapat dikategorikan occult
studies (studi hal-hal ghaib), seperti
astrologi, alchemy, keajaiban alam, dan
interpretasi Kitab Injil, antara lain tentang
nubuat second coming Yesus dan hari
kiamat. Ia berupaya menggali ulang
wisdom teks kitab suci dan memaknai
secara harfiah—bukan sebagai metafora
atau kiasan.

9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 377


Newton lahir dari keluarga gereja
Anglikan, dan percaya sepenuhnya Tuhan
monotheis adalah Sang Pencipta yang
keberadaannya tak terbantahkan. Saat itu,
abad ke-17, belum ada pemilahan antara
sains, pseudo-sains, dan takhyul.
Paradigma intelektual (Eropa) umumnya
terpaku pada agama. Newton percaya
logam tumbuh di tanah seperti pohon,
dunia materi itu hidup, dan gaya gravitasi
disebabkan oleh emisi kimiawi garam.
Newton meyakini, Tuhan secara khusus
mengutusnya untuk menyampaikan
kebenaran teks kitab suci. Ia percaya
kedatangan kembali (second coming)
Yesus. Dalam kalkulasinya Yesus akan
datang kembali ke dunia pada tahun 2060,
diikuti dengan berdirinya Kerajaan Allah di
bumi yang akan bertahan hingga akhir
zaman.
Newton menulis Rules for interpreting the
words & language in Scripture, sebagai
panduan interpretasi Kitab Injil yang
benar. Ia serius mengabdikan diri
mengungkap “Bible Code”, pesan-pesan
tersembunyi Alkitab. Tujuannya untuk

9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 378


meluruskan hal-hal yang tidak dipahami
dengan baik oleh umat. Pendekatan
Newton dalam mengungkap makna teks
Alkitab (Book of Revelation), saat itu, jelas
tidak bisa disebut saintifik. Namun ia yakin
temuan-temuannya adalah hasil riset
berbasis evidence.
Terlepas pada awalnya gandrung
mendalami occultism, sesuatu yang lazim
pada era saat itu, Newton menghasilkan
karya seminal saintifik: Mathematical
Principles of Natural Philosophy (1687).
Karya ini menjadi salah satu tonggak
penting sejarah sains. Memaparkan tiga
hukum fisika yang menjadi basis bagi
Teori Gravitasi dan pengukuran
pergerakan planet-planet. Newton
membawa paradigma baru: dunia yang
mekanistis dan bisa diukur dengan
memakai hukum fisika dan matematika
(calculus). Perhitungan dan pengukuran
secara matematis menggantikan dugaan,
spekulasi, dan hipotesis.
Ungkapan Newton yang terkenal
Hypotheses non fingo (“saya tidak terpaku
pada hipotesis”) adalah kredo saintifiknya.

9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 379


Hipotesis apapun tentang dunia fisika,
metafisika, occultis, atau mekanis, harus
dibuktikan melalui eksperimentasi.
Newton melanjutkan era revolusi saintifik,
yang dimulai para saintis pendahulunya,
seperti Galileo Galilei, Nicolaus
Copernicus, Johannes Kepler.
Selain Newton, saintis yang dikenal
religius adalah Gregor Mendel. Seorang
biarawan Katolik, Ordo Agustinian, yang
mengisi waktu luangnya untuk
bereksperimen dengan tanaman dan
serangga— selain berdoa. Karyanya
“Experiments on Plant Hybrids” adalah
salah satu tonggak penting genetika
modern, dan menempatkan dia sebagai
Bapak ilmu genetika.
Mendel bukan cuma mengamati atau
bereksperimen, namun juga secara kreatif
merancang skema perkawinan silang
(hibridisasi) pada 28.000 tanaman kacang.
Semula ia bereksperimen dengan kucing,
namun gereja melarang, dan
menggantinya dengan tanaman dan
lebah. Ketika itu, tahun 1860-an, ia
mengidentifikasi adanya “faktor tak

9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 380


terlihat” (kemudian dinamai “gen”) yang
bertanggung jawab mewariskan ciri-ciri
spesifik ke keturunan. Ia sendirian
menemukan hukum yang mengatur
genetik yang diwariskan (Hukum Mendel),
yang berlaku untuk semua mahluk hidup.
Temuannya kemudian memperkuat Teori
Evolusi Darwin dan sains genetika
molekuler.
Charles Darwin dikenal sebagai saintis
yang mengundang konotasi “penghujat
agama” karena Teori Evolusi-nya. Namun
ia sebenarnya penganut agama Protestan
non-conformist, dan pernah bercita-cita
menjadi pendeta. Ia sangat berminat
mempelajari asal muasal alam, dan
mendalami theologi alam (natural
theology). Ia berprinsip keberadaan dan
tindakan Tuhan dapat dilihat dalam
fenomena alam dan dinalar melalui hukum
alam. Saat berusia 22 Ia ikut ekspedisi
kapal Beagle, dengan harapan bisa melihat
kawasan kepulauan tropis, keindahan alam
ciptaan Tuhan, sebelum menjadi pendeta.
Saat berangkat untuk berlayar Darwin
masih seorang religius ortodoks yang

9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 381


berhasrat melihat “kerja keilahian
menciptakan alam”. Namun menjelang
berakhirnya ekspedisi pelayaran ia mulai
meragukan kisah penciptaan sebagaimana
tertulis di Alkitab. Ia melihat beragam
spesies hewan yang secara fisiologis
berubah. Ia mulai berhipotesis adanya
transmutasi hewan melalui proses seleksi
alam. Setelah tersedia cukup bukti ia
menguraikan teorinya dalam buku “On
The Origin of Species” (1859). Sebuah
paparan temuan saintifik yang menjadi
fondasi ilmu biologi evolusioner, dikenal
sebagai Teori Evolusi Darwin.
Paparan sekilas pencapaian tiga saintis,
Newton, Mendel, dan Darwin di atas
sekdar sebagai ilustrasi untuk
menunjukkan validitas premis “sains tak
bisa sepenuhnya dilepaskan dari agama—
secara historis.” Namun kaitan sejarah itu
bersifat serendipities, alih-alih
metodologis. Newton dengan keyakinan
agamanya tertarik dengan okultisme,
namun saat menulis Teori Gravitasi ia tidak
menggunakan metode agama, namun
memakai matematika—yang sama sekali
tidak dikenal dalam Alkitab.
9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 382
Mendel juga demikian. Hukum Genetika
lahir bukan karena ia adalah seorang rahib
Katolik, yang mendapat “inspirasi
keilahian”, melainkan karena studi sains
yang ia tekuni sebelumnya di universitas
dan sikap rasa ingin tahu yang besar pada
kehidupan. Sama halnya dengan Darwin,
paradigmanya berubah setelah
mengobservasi bagaimana cara kerja
alam. Ia mengurungkan niatnya menjadi
pendeta setelah menyaksikan keragaman
kehidupan yang dinamis, tidak statis
sebagaimana tertulis di Alkitab.
Memang benar, sains tidak bisa dilepaskan
sepenuhnya dari agama. Namun, agama
jelas bukan penyebab atau faktor
pendorong penemuan sains. Juga bukan
raison d’être (alasan adanya (atau conditio
sine qua non (kondisi yang menjadi sebab
akibat yang harus terjadi) bagi munculnya
teori sains. Dalam beberapa kasus Agama
justru menghambat sains, khususnya
temuan sains yang merongrong atau
bertentangan dengan teks Alkitab. Agama
dapat dianalogikan seperti kondisi cuaca
untuk riset sains. Saintis akan tetap
bekerja mengobservasi, meneliti dan
9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 383
bereksperimen untuk mendapatkan
penjelasan soal dunia. Tidak soal kondisi
cuaca saat itu: hujan, mendung, berawan,
atau cerah.

NEW SCIENCES DAN KETIDAKPASTIAN


“New sciences, seperti teori chaos, geometri
fraktal, mekanika kuantum, telah berpisah
dari Newtonian mechanical worldview;
ketidakpastian dan kontingensi makin
mendapat tempat dalam sains.”
Premis ini juga cukup valid. Temuan-
temuan sains terbaru telah mampu
menjawab sejumlah pertanyaan, namun
sekaligus memunculkan berbagai
pertanyaan baru. Saya sudah menyentuh
sekilas dalam tulisan saya sebelumnya
“Kepastian Sains dan Pencarian
Kebenaran.”
Saya ingin merespons dengan memberi
ilustrasi soal hipotesis aether (ether).
Sampai awal abad ke-20, di kalangan
fisikawan terdapat “postulat” adanya
medium universal yang memerantarai
berbagai interaksi fenomena alam, seperti
gelombang cahaya dan gaya gravitasi.

9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 384


Sebagaimana air yang memiliki substansi
(medium) penyebab permukaan air
bergelombang, maka suara, cahaya, dan
gravitasi diduga juga memiliki medium.
Bagaimana suara terdengar, cahaya
menyinari, dan gravitasi menarik segala
sesuatu tetap menempel di bumi?
Fisikawan berpostulat, medium itu adalah
ether, secara semantik artinya “esensi
materi yang memenuhi semua wilayah di
alam semesta dan di bumi.” Ether sebagai
istilah sudah lazim digunakan dalam kisah-
kisah mitologi Yunani kuno sebagai esensi
atau “hembusan nafas Tuhan yang
memenuhi ruang kehidupan”.
Teori-teori fisika hingga akhir abad ke-19
menggunakan konsep ether sebagai
hipotesis untuk menjelaskan berbagai
fenomena alam. Dalam “Einstein: His Life
and Universe”, Walter Isaacson mengulas
bagaimana Albert Einstein turut bergulat
memecahkan “misteri” ether, medium
pembawa cahaya ini. Einstein juga
mengamini postulat lintasan cahaya
bergerak di ruang vakum karena adanya
ether.

9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 385


Selain Einstein, banyak fisikawan saat itu
yang merancang berbagai eksperimen
untuk mendeteksi ether, dan selalu gagal
membuktikan keberadaannya. Sampai
akhirnya, eksperimen yang dilakukan
Michelson-Marley menyudahi spekulasi.
Ether terbukti tidak ada. Penyelidikan
Einstein, yang kemudian menghasilkan
Teori Relativitas Khusus (1905) juga
membenarkan tidak adanya ether.
Kisah pencarian ether di dunia fisika
adalah simbolik kemenangan pembuktian
kebenaran melalui eksperimen melawan
hipotesis, postulat, asumsi atau intuisi.
Konsep ether yang “bernuansa mistis”, dan
bertahan selama ribuan tahun—sejak era
mitologi hingga menjadi asumsi sains—
akhirnya dihapus. Misteri “dunia ghaib”,
yang kerap diyakini ada, satu per satu bisa
diungkap, diukur, dan dijelaskan
mekanismenya. Sebagian ketidakpastian
bisa dipastikan melalui sains. Dunia ghaib
satu per satu menyerah pada interogasi
sains.
Ether telah tumbang, namun masih ada
ketidakpastian atau misteri dunia yang

9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 386


belum terjawab. Fisika pasca-modern, atau
“New Sciences”, juga memiliki sejumlah
misteri baru, misalnya konsep “dark
matter” atau “dark energy”. Termasuk
dunia super-kecil, partikel sub-atomik,
yang misterius. Sebuah “dunia ghaib lain”
yang selama ribuan tahun peradaban
manusia menjadi misteri yang memesona
agama atau penganut mistik. Keghaiban
itu bisa dideteksi dan dijelaskan melalui
sains mekanika quantum (Quantum
mechanics).
Fisika klasik adalah sains yang menjelaskan
materi dan energi pada skala yang dapat
dilihat atau dirasakan indera manusia,
seperti berbagai benda yang terlihat mata
hingga peredaran planet. Teori mekanika
quantum (MQ) menjelaskan interaksi
materi dan energi pada dunia sub-atomik
yang ukurannya sepermiliar milimeter.
Sebagai sains MQ lahir pada 1924, melalui
proses panjang yang dibidani oleh
penemuan banyak fisikawan. Dari
hipotesis awal Thomas Young (1801)
tentang cahaya sebagai gelombang
hingga penemuan efek foto-elektrik

9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 387


Einstein (1905), yang membuktikan cahaya
tersusun dari partikel quantum photons.
Teori Relativitas Einstein dan Teori MQ
menjungkirbalikkan paradigma lama dunia
mekanis-deterministik Newtonian dan
membuka pemahaman baru tentang
realitas yang “tidak pasti”, dan munculnya
berbagai sains baru. Antara lain Teori
Chaos dan fraktal geometri, yang
menggunakan komputer (sebagai
teknologi baru) untuk membuat simulasi
fenomena alam secara matematis.
Teori Chaos adalah sains yang
menjelaskan perilaku alam yang bersifat
kontingen, tidak pasti, sulit diprediksi
karena sangat dinamis. Misalnya gerakan
awan di langit, ombak di lautan, aliran
sungai, perubahan cuaca, kebakaran
hutan, dan semacamnya. Edward Lorenz
mengumumkan Teori Chaos, pada 1961,
setelah berhasil membuat simulasi pola
cuaca—berbasis 12 variabel, dari
temperatur hingga kecepatan angin—
menggunakan komputer sederhana.
Lorenz berteori: “di balik keacakan sistem
dan fenomena gerak alam yang kompleks
9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 388
terdapat pola, fraktal, keteraturan yang
berulang dan ada pengorganisasian-diri.”
Keacakan (randomness) dan terbentuknya
pola tertentu bergantung pada kondisi
awal. Teori Chaos populer dengan analogi
“The butterfly effect”, perubahan kecil
(sistem atau kondisi) bisa berakibat
perbedaan besar. “Kepakan kupu-kupu di
China bisa menyebabkan badai di
Amerika.”
Pandemi Covid-19 adalah contoh situasi
yang bisa dijelaskan dengan Teori Chaos.
Virus yang menginfeksi beberapa orang di
Wuhan bisa mengguncang dunia, dan
berdampak luar biasa di Amerika. Dunia
virus berpola deterministik, namun ketika
terjadi perubahan situasi (pindah
menginfeksi manusia) pengaruhnya tidak
lagi mudah diprediksi. Virus memicu
kekacauan (chaos) namun tetap bisa
dideteksi polanya.
Edward Lorenz mengintroduksi
“determinist chaos”: apa yang terjadi saat
ini menentukan masa depan, namun tidak
pasti (bersifat kontingen). Seperti wabah
Covid-19, bagaimana akan berakhir dan

9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 389


apa dampaknya bagi kultur/peradaban
manusia? Tergantung banyak faktor. Teori
Chaos dapat memprediksi suatu kondisi
dengan tiga syarat: seberapa besar
ketidakpastian bisa ditolerir, seberapa
akurat kondisi bisa diukur, dan skala waktu
dinamika situasi.
Teori Chaos telah mengubah paradigma
melihat dunia, bagaimana menjelaskan
“kekacauan” alam dan cara mengelolanya.
Teori ini semakin membuka pemahaman
tentang dinamika alam, ketika ilmu
geometri fraktal diperkenalkan. Fraktal
adalah pola keteraturan geometris yang
berulang, mekanisme alam mereplikasi-
diri, dan sistem peniruan-diri sehingga
alam berwujud seperti yang terlihat saat
ini.
Fraktal adalah “sidik jari’ alam, bagaimana
alam mengukir atau memoles diri menjadi
berbagai bentuk struktur yang rumit
namun indah. Seni fraktal alam bisa dilihat
dari pola dekoratif bunga matahari, kristal
salju, kelokan sungai, gelombang laut, sisik
ikan, strip zebra, alur padang pasir, hingga
spiral galaksi.

9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 390


Benoit Mandelbrot adalah ilmuwan
pertama yang mensimulasikan faktral
melalui program komputer pada 1975.
Baginya fraktal adalah seni kekesatan
(roughness) fenomena, elemen, dan wujud
alam yang kompleks. Hal-hal yang
dianggap “taken for granted” dari alam—
“memang begitulah alam”—mulai bisa
dijelaskan dan disimulasikan prosesnya
melalui ilmu geometri fraktal.
Fisikawan Stephen Wolfram melanjutkan
kerja-kerja Mandelbrot untuk
memecahkan misteri bagaimana proses
alam semesta dan seisinya terbentuk.
Dalam “A New Kind of. Science” (2002) ia
memaparkan dan menyimulasikan
prosesnya melalui program komputer. Ia
menyimpulkan, alam semesta adalah
keragaman yang berkembang dari
program sederhana yang berbasis pada
hukum fundamental fisika, kimia, biologi,
dan sains lainnya.
Wolfram kini sedang menyusun “Theory of
Everything” yang pernah dirintis—dan
kemudian ditinggalkan—Stephen
Hawking. Wolfram berhipotesis, cara kerja

9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 391


alam semesta mirip jalinan kode program
komputer. “Diawali dengan proses
(program) sederhana, berkembang menjadi
struktur yang kompleks.” Ia menyusun
kode komputer, menggunakan aspek-
aspek persamaan matematis Teori
Relativitas Einstein dan mekanika
quantum, dua pilar sains fisika moderen,
untuk menyimulasi proses lahirnya alam
semesta.
Wolfram menulis risalah ilmiah populer,
“Finally We May Have a Path to the
Fundamental Theory of Physics… and It’s
Beautiful” (14 April 2020). Penuh dengan
ilustrasi simulasi grafis, memaparkan
bagaimana kira-kira proses alam semesta
mewujud. Namun, sebagaimana bukunya
“A New Kind of Science”, risalah hipotesis
terbaru Wolfram ini mendapat kritikan
“sengit” dari sejumlah fisikawan. Dalam
dunia sains, “kritikan sengit” adalah
mekanisme dan metode yang lazim untuk
menguji validitas hipotesis atau teori.
Kritik “built-in” dalam ekosistem dunia
sains dan metodenya, justru untuk
memastikan validitasnya. Agar teori sains

9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 392


bukan cuma dogma yang tidak berdasar.
“Dogmatisme sains” adalah misnomer,
frasa yang konvolutif. Dogma adalah diksi
yang lazim dalam ekosistem agama atau
filsafat, namun tidak logis untuk sains.
Termasuk istilah “saintisme” yang secara
esensial cuma mitos, mirip hantu, sekedar
“momok” menakutkan—bagi yang
percaya takhyul.
Carl Sagan menyatakan, “the reason science
works so well is partly that built-in error-
correcting machinery. There are no
forbidden questions in science, no matters
too sensitive or delicate to be probed, no
sacred truths. That openness to new ideas,
combined with the most rigorous, skeptical
scrutiny of all ideas, sifts the wheat from
the chaff.”

SAINS DAN DUNIA MAKNA


“Hubungan antara sains dan dunia makna;
realitas terdiri atas benda dan makna.
Sains berhasil mengetahui benda, tetapi
bisakah makna didekati oleh sains?
Bagaimana menjelaskan dari benda
muncul kehidupan, dan dari kehidupan
muncul kesadaran?”
9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 393
Ada dua isu dalam premis yang
dinarasikan FBH ini. Pertama, bagaimana
sains membantu manusia memaknai
dunia. Kedua, bagaimana proses
kehidupan dan kesadaran muncul. Isu
pertama, sains beririsan dengan filsafat.
Isu kedua, sains beririsan dengan
spiritualisme agama, atau keyakinan.
Dalam artikel “Kepastian Sains dan
Pencairan Kebenaran”, saya menulis:
Pencarian makna lazimnya adalah wilayah
agama, spiritualitas, atau filsafat. Sains
tidak menyentuh pemaknaan, karena
abstrak. Pertanyaan saintifik yang valid
bukanlah “apa makna kehidupan”,
melainkan “bagaimana membuat hidup
lebih bermakna”.
Fisikawan teoretis Sean Caroll dalam “The
Big Picture: On the Origins of Life, Meaning,
and the Universe Itself,” menguraikan,
tugas sains adalah mendeskripsikan dunia.
Hukum-hukum fisika tidak berurusan
dengan wilayah perasaan, seperti soal
salah-benar, baik-buruk, bermakna-tak
bermakna, tujuan hidup, atau adakah
kehidupan setelah kematian.

9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 394


Pencarian makna, secara serius, tidak
cukup hanya mengandalkan perasaan,
imtuisi, atau asumsi. Memahami estetika,
etika, moralitas, atau pencarian makna
hidup akan semakin bermakna jika itu
sejalan dengan temuan sains yang valid.
Menemukan makna hidup adalah proses
kreatif. Manusialah yang menghadirkan
makna dan tujuan pada dunia. Makna
bukan sesuatu yang sudah ada di suatu
tempat untuk ditemukan.
Upaya “mencari makna” adalah domain
agama atau filsafat, bersifat arbriter dan
spekulatif. Beda agama atau beda filsafat
akan memberikan makna yang berbeda.
Lain halnya dengan upaya mencari
penjelasan tentang asal-usul kehidupan
dan bagaimana proses kehidupan itu
kemudian memunculkan kesadaran. Asal-
usul kehidupan dan munculnya kesadaran
adalah dua pertanyaan paling sulit untuk
dijelaskan dan dibuktikan oleh sains.
Namun upaya menjawabnya sudah
dimulai, yang pertama melalui Abiogenesis,
yang kedua melalui Neurosains.

9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 395


Abiogenesis, sebagai studi tentang
bagaimana kehidupan muncul, sejauh ini
memberikan hipotesis awal kehidupan
berproses dari DNA dan RNA. Rangkaian
molekul sederhana, yang berinteraksi
dengan asam nukleid untuk menyusun
protein. Protein adalah unsur dasar
terbentuknya sel sebagai materi (“benda”)
yang menjadi hidup. Bagaimana
penjelasan “dari benda menjadi
kehidupan?” Selain penjelasan
menggunakan teori Abiogenesis (yang
memadukan pendekatan fisika, kimia, dan
biologi), asal kehidupan bisa dijelaskan
dengan menggunakan Teori Informasi.
Dalam “Introduction to Artificial Life”
saintis polymath Christoph Adami
menginvestigasi asal kehidupan dengan
mengkonsepsikan kehidupan sebagai
jalinan informasi yang terus menerus
mengabadikan-diri (self-perpetuating
information strings). Menurutnya, hidup
bukan hanya peristiwa kimiawi, melainkan
juga proses informasi. Genome manusia,
dan makhluk hidup lainnya, adalah
gudang informasi tentang dunia yang
terakumulasi sedikit demi sedikit dalam
9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 396
proses evolusi yang panjang. Informasi
sari soal bagaimana mengubah gula
menjadi energi, bagaimana sel mereplikasi
diri, sampai bagaimana menjaga diri agar
selamat dari bahaya.
Informasi adalah “mata uang kehidupan”,
kemampuan memprediksi dan memilih
yang lebih baik dari peluang yang ada.
DNA manusia adalah ensiklopedia tentang
dunia dan bagaimana bertahan hidup.
Evolusi adalah proses mengalirnya
informasi dari lingkungan ke genome
secara timbal balik. Genome menyerap
informasi dari lingkungan, dan dengan
informasi itu, genome membuat prediksi
tentang situasi lingkungan.
Ray Kurzwell menyatakan, evolusi adalah
proses informasi mencari medium yang
lebih kompleks. Saat ini medium
penyimpan dan pengolah informasi adalah
otak manusia, dan sedang berproses
untuk hijrah ke server internet (cyber
space). Dalam “The Singularity Is Near”
Kurzwell membagi evolusi dalam enam era
informasi: (1) Era fisika dan kimia:
informasi tersimpan dalam partikel

9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 397


subatomik. (2) Era biologi, informasi
tersimpan dalam DNA organisme seluler
sederhana. (3) Era otak manusia, informasi
memunculkan kesadaran. (4) Era
teknologi: transformasi informasi ke digital
dan munculnya artificial Intelligence (saat
ini kita berada di penghujung era ini). (5)
Era Singularitas: manusia dan teknologi
cerdas menyatu, munculnya mahluk super
cerdas-transhuman. (6) Era semesta
tersadar: transhuman berekspansi ke
seluruh alam semesta. (Hipotesis Kurzwell
berbasis fakta kemajuan eksponensial
sains dan teknologi, namun untuk
sementara anggap saja sebagai science-
fiction. Semua teknologi yang kita nikmati
saat ini, 100 tahun lalu adalah science-
fiction).
Menyangkut kesadaran, seperti yang
diuraikan Kurzwell, baru muncul pada era
ketiga evolusi informasi (era otak
manusia). Otak manusia yang kompleks
mampu mengolah informasi, sedemikian
rupa, sehingga memunculkan kesadaran.
Studi Neuroscience menunjukkan,
kesadaran adalah fenomena “emergence”
(muncul), bukan “given” (anugerah
9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 398
supranatural). Sebagaimana kehidupan
muncul dari benda fisik dan proses
kimiawi, dari atom, menjadi molekul,
menyusun sel, menjadi organisme, spesies,
manusia dan seterusnya. Munculnya
kesadaran juga melalui proses evolusi
ribuan tahun perkembangan kognisi
manusia.
Boleh saja agama mengklaim atau
memaknai: “kesadaran adalah anugerah
Tuhan untuk manusia, sebagai mahluk
ciptaan-Nya yang paling mulia.” Namun
klaim seperti ini tidak memadai sebagai
penjelasan untuk orang yang bernalar.
Sains tidak pernah mengklaim bisa
mengetahui atau mampu menjelaskan
semua hal. Namun setidaknya, sains bisa
menunjukkan bukti atas klaim teorinya
yang sudah terbukti benar. Soal asal-usul
kehidupan dan kesadaran (dua pertanyaan
paling sulit), hipotesis sains masih bersifat
tentatif, masih dicari bukti-bukti otentik
untuk memvalidasi atau memfalsifikasinya.
Dunia makna adalah wilayah perasaan,
yang bersifat personal. Setiap orang bisa
dan boleh memaknai hidupnya sesuai

9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 399


subjektifitas pemahaman atau
paradigmanya. Hidup bisa memunculkan
beragam makna: sebagai pewahyuan,
kehendak, cerita, permainan, tragedi,
komedi, petualangan, pelajaran, dan
sebagainya. Upaya memaknai hidup ini
telah menginspirasi lahirnya berbagai
karya seni kreatif yang inspiratif.
Mereka yang berparadigma agama atau
filsafat, misalnya, bisa memaknai hidup
sebagai “sebuah misi atau panggilan
hidup.” Misi untuk mengabdi pada Illahi
atau cita-cita luhur, mengajak pada
kebaikan. Goethe menyebut misi hidupnya
adalah menulis untuk memberikan
pencerahan. Hegel memiliki misi memakai
filsafat idealisme untuk menjelaskan
makna hidup (merespons kepedihan
tragedi Revolusi Perancis).
Para politikus sering merasa membawa
misi ingin mengubah situasi,
memperjuangkan kebebasan dan keadilan.
Misi orang biasa umumnya adalah
bagaimana menjalani hidup dengan
tenang, memiliki nafkah yang cukup dan
merawat keluarga. Jeremy Bentham,

9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 400


dengan filsafat utilitarian, mempromosikan
misi moral “kebahagiaan sebesar-besarnya
untuk sebanyak-banyaknya manusia.”
Kita bisa memaknai dunia secara idealis
dan sangat optimis, sebagai tempat yang
penuh keindahan, kebaikan, kedamaian
dan harmoni. Atau memaknai secara
realistis (dan agak pesimis). Misalnya,
prinsip utama ajaran Budhisme, the first
nobel truth: “Hidup adalah penderitaan”,
Sang Budha mengajarkan bagaimana
terbebas dari penderitaan. Atau seperti
mitos Sisypus, hidup adalah ritus
mendorong batu ke puncak bukit hanya
untuk menggelinding lagi ke bawah—
terus berulang.
Bagi yang berprinsip fatalistis, hidup
adalah absurditas tak bertujuan, bunuh
diri adalah pilihan. Arthur Schopenhauer,
filsuf yang dikenal sebagai “sang pesimis
agung” menyebut hidup sebagai rasa
frustrasi, hasrat hidup adalah irasionalitas
yang tak jelas juntrungnya.
Sejumlah pemikiran filsafat kuno telah
menawarkan tips atau solusi praktis untuk
memaknai dunia, misalnya Epicureanism
9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 401
memaparkan bagaimana menikmati hidup
dengan mengurangi penderitaan
(minimalizing pain). Atau Stoicism,
mengajak hidup harmonis dengan
lingkungan alam dengan menggunakan
nalar, melatih disiplin mengendalikan
hasrat, tindakan, dan perasaan.
Hidup yang baik, bagi penganut Stoicism,
adalah bagaimana menggunakan nalar
untuk meningkatkan harkat masyarakat.
Menyangkut keberagaman makna, baik
juga dikutip ungkapan Pythagoras 2600
tahun lalu: “Hidup mirip acara Olimpiade;
beberapa orang berlatih keras untuk
menjadi juara, ada yang jualan suvenir
untuk cari untung; banyak yang datang
sekadar menonton.” (Life is like the
Olympic games; a few strain their muscles
to carry off a prize, others sell trinkets to
the crowd for a profit; some just come to
look and see how everything is done).

SINTESIS TRILEMA SAINS, FILSAFAT,


AGAMA
Menelaah relasi “trilematis” agama, filsafat,
dan sains—sebagai tiga cara menafsirkan

9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 402


dunia—dapat melalui pendekatan
perselisihan: membenturkan paradigma,
karakteristik konseptual, dan klaim
masing-masing. Atau pendekatan
dialektis: menguraikannya sebagai
rangkaian proses dialogis triadic (tesis-
antitesis-sintesis).
Trilema sains, filsafat, dan agama juga bisa
diharmonisasi menggunakan metode
Stephen Jay Gould “Non-Overlapping
Magisteria”. Konsep yang ditawarkan oleh
Gould untuk “mendamaikan” perselisihan
sains dan agama. Dua paradigma yang
merepresentasikah cara tafsir yang
berbeda—antara fakta dengan makna.
Masing-masing memiliki wilayah legitimasi
dan otoritas (magisteria) sendiri, dan
sebaiknya tidak ditumpang-tindihkan
(overlap).
Dunia agama penuh dengan kisah menarik
dan ajaib tentang masa lalu, yang bisa
menjadi pelajaran. Dunia filsafat penuh
dengan gagasan spektakular-spekulatif,
yang bisa memancing pemikiran. Dunia
sains penuh dengan temuan fakta dan
perspektif baru, yang bisa memupuk

9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 403


pengetahuan dan imajinasi. Banyak hal
sudah bisa dijelaskan dan dideskripsikan
oleh sains dengan baik, namun masih
banyak “terra incognita” yang masih
menjadi misteri. Sains bisa mencari
inspirasi dari kisah-kisah agama atau
pertanyaan filsafat.
Trilema tidak perlu ada jika kita mampu
memilah paradigma tafsir sesuai proporsi
otoritasnya. Gunakan agama untuk
meyakini (devotion), filsafat untuk
memikirkan (wisdom), dan sains untuk
menjelaskan (the nature of devotion and
wisdom). Merenungkan makna dan
berserah pada keagungan semesta
(Tuhan), gunakan agama. Memikirkan
hakikat makna secara spekulatif (exercise
thinking), pakai filsafat. Mendapatkan
penjelasan yang valid dan akurat tentang
realitas dunia (evidence-based), pilih sains.
Kemampuan memilah paradigma agama,
filsafat, dan sains, secara tidak overlap, dan
tanpa sinisme, adalah kunci. Kapan kita
paham menggunakan agama, memakai
filsafat, atau memilih sains, bukan sebagai
perselisihan. Termasuk paham memilah

9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 404


sains sebagai fakta dengan “saintisme”
sebagai hantu yang menjadi momok.
Pada akhirnya, ketika perenungan dan
pemikiran mandeg, kita harus memilih
untuk menggali fakta mendapatkan bukti,
melalui sains. Untuk terus maju.***
Sumber:
https://www.facebook.com/lukas.luwarso/posts/101
57445970145794

9 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 405


9 JUNI 2020 | BAMBANG SUGIHARTO

Masih Perlukah Sains,


Filsafat, dan Agama?
Bambang Sugiharto

(Tulisan ini disampaikan ke publik pada


tahun 2004 dalam suatu pidato ilmiah,
tetapi kemudian dimunculkan kembali
setelah ramainya diskusi tentang tiga topik
tersebut. —Editor)
Judul ini bukanlah sekadar pertanyaan
retoris dengan jawaban yang sudah jelas.
Judul itu lebih hendak menunjukkan
suasana ketidakpastian mendasar yang
dihadapi peradaban manusia di awal
millennium ketiga ini, akibat gelombang
kritik dasyat atasnya yang akhir-akhir ini
muncul secara tak terelakkan dari
perkembangan kesadaran bangsa manusia
sendiri.
Sains, filsafat, dan agama –pilar-pilar
utama peradaban- akhir-akhir ini telah
mendapatkan berbagai kritik mendasar

9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 406


yang memaksa kita untuk meninjau
kembali hakikat masing-masing bidang itu
beserta posisinya dalam peradaban
manusia hari ini dan nanti. Orasi ini hanya
akan melukiskan pemetaan global saja,
yang dimaksudkan sebagai perangsang
untuk me-refleksi ulang kiprah perguruan
tinggi sebagai institusi yang mengelola
pillar-pillar peradaban tersebut, maupun
kinerja masing-masing kita didalamnya
sebagai pribadi.

SAINS
Suatu saat ketika Museum of American
History diminta mengadakan pameran
tentang perkembangan sains di Amerika,
para penyandang dananya sebetulnya
berharap melihat kecanggihan
pencapaian-pencapaian mutakhir di
bidang sains.
Namun ternyata yang mereka dapatkan
pada katalog adalah persis kebalikannya:
deretan bencana akibat kiprah dunia ilmu
dan teknologi, yaitu perusakan lingkungan
yang parah, senjata pemusnah masal,
peracunan makanan oleh berbagai zat
kimia, robotisasi industri yang mengancam
9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 407
para buruh pabrik, ketidakadilan sosial,
berbagai eksperimen tak bermoral, dsb.
Bagi manusia zaman ini, sains rupanya
bukan lagi sesuatu yang sangat
mengagumkan. Kalau pun masih tersisa
kekaguman, maka itu kini bercampur
dengan kecemasan dan kecurigaan.
Yang mencemaskan dan mencurigakan
bukanlah akibat-akibat negatifnya saja,
melainkan sesuatu yang lebih mendasar,
yakni sisi-sisi ideologis, kerangka dasar
ontologis, beserta doktrin-doktrin
metodologisnya. Kaum feminis, misalnya,
suka sekali membayangkan kiprah ilmu
dan teknologi sebagai salah satu benteng
kokoh dominasi perspektif patriarki. Di
sana realitas, khususnya alam, bagaikan
kaum perempuan yang tak berdaya
dieksploitasi, diinterogasi dan dipaksa
untuk membukakan rahasia-rahasianya.
Paul Feyerabend, fisikawan yang
berkiprah dalam filsafat ilmu,telah
menohok sisi ideologis sains yang baginya
telah menjadi opressif terhadap jenis-jenis
pengetahuan lain, sama dengan kelakuan
agama di masa pra-modern. Jenis-jenis
9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 408
pengetahuan tradisional, klenik, dsb.
cenderung didiskreditkan dihadapan sains,
sementara bagi Feyerabend, sains sendiri
sebenarnya tak memiliki otoritas lebih
dibanding ilmu pengetahuan lain.
Secara ontologis, gambaran dunia
(worldview) Newtonian yang material-
atomistik ala sains pun makin hari makin
diragukan. Meskipun hingga kini masih
problematis dan masih diperdebatkan, toh
melalui Fisika Kuantum ada tendensi
makin kuat kini untuk melihat
materi/massa sebagai interkonvertibel
dengan energi, atau partikel
interkonvertibel dengan gelombang.
Artinya ada tendensi kuat untuk melihat
unit terdasar realitas sebagai non-material.
Dan lebih jauh lagi, juga bertentangan
dengan paham Newtonian, segala hal kini
cenderung dilihat sebagai saling terkait
dalam suatu jaringan interdependensi
keseluruhan. Bahkan pandangan dasar
sains yang cenderung “substansialistik”
pun kini berubah ke arah pengutamaan
“flux” (aliran) ataupun “web” (jaringan),
yang niscaya mengubah pola berpikir

9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 409


tradisional sains ke arah yang secara
radikal berbeda.
Dan pada tingkat sosio-kultural, revolusi
elektronik membuat kita makin hari makin
hidup dan berinteraksi pada tingkat
“virtual” dalam ruang-ruang maya. Aliran
gelombang elektron makin
memungkinkan kita berinteraksi tanpa
terlalu tergantung lagi pada kondisi fisik
material. Kontradiksi klasik antara tubuh
dan jiwa kini pun menjadi terasa kuno.
Secara epistemologis dan metodologis,
filsafat ilmu telah menyingkapkan betapa
konsep-konsep pokok dalam dunia sains
macam “penalaran logis” (rasionalitas),
“kebenaran”, ”objektivitas”, “observasi”,
dan sebagainya, sebetulnya sangat
bermasalah.
Logis atau tidak logis, rasional atau
irasional, kini dilihat erat terkait pada
gambaran dunia (world view) yang
partikular dan struktur bahasa yang
digunakan.
Berbagai kultur memiliki gambaran dunia
yang khas dan struktur bahasa yang

9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 410


khusus. Dan ini melahirkan cara berpikir
dan logika yang khas pula. Gambaran
dunia ala Hindu melahirkan logika tentang
Chakra, atau gambaran dunia ala Taoisme
misalnya melahirkan logika unik tentang
jalur-jalur meridian dalam praktik
akupunktur.
Dan logika-logika tersebut memang
merupakan cara berpikir yang sungguh
berbeda dengan cara pikir sains yang
gambaran dunianya pun lain.
Logika tidaklah mesti satu seperti diyakini
dahulu. Konsep tentang “kebenaran” pun
telah berubah, kini orang menemukan
berbagai kemungkinan arti konsep
tersebut. Kebenaran bisa dilihat secara
berbeda dari sudut korespondensi,
koherensi, pragmatis, performatif,
eksistensial, disclosive, ataupun relasional.
Yang jelas, kini secara umum ada
keyakinan bahwa dalam dunia manusia tak
ada realitas yang murni tanpa tafsir.
Segala pernyataan tentang realitas yang
kita buat adalah selalu tafsiran versi
manusia. Yang dahulu diklaim sebagai
“hukum alam” oleh sains, kini hanya dilihat
9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 411
sebagai produk sementara hasil tafsir
manusia yang memiliki tingkat
kemungkinan tinggi.
Alam sendiri persisnya bagaimana
hukumnya tak sepenuhnya bisa kita
ketahui, atau bisa dirumuskan dengan
berbagai kemungkinan. Yang dapat kita
tangkap hanyalah aspek-aspek tertentu
saja dari perilaku alam itu.
Tentang “objektivitas” pun kini tak
mungkin lagi kita membayangkannya
sebagai sesuatu yang “murni” sesuai
dengan kenyataan alamiahnya. Tiap klaim
tentang objektivitas adalah hasil observasi.
Dan observasi tak pernah netral, selalu
dipengaruhi imajinasi maupun horizon
intelektual si pengamat, ditentukan oleh
faktor retoris dan sosiologis dalam
komunitas ilmuwan sendiri, maupun oleh
faktor historis yang membuat ilmuwan
sudah selalu berpikir ke arah tertentu
tanpa disadari, dsb.
Objektivitas kini hanya bisa dimengerti
sebagai “Konsensus intersubjektif”.
Pendeknya, ada begitu banyak persoalan
intern yang dihadapi oleh sains, yang
9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 412
akhirnya menunjukkan bahwa hasil dari
sains sebetulnya tendensius, diliputi
banyak unsur “kepercayaan” dan
kebiasaan, tak sepenuhnya objektif-murni
dan netral-universal, dan dalam kiprahnya
bermuatan kepentingan ideologis
tertentu.
Akibat dari semua kritik itu maka kini kita
menyaksikan suatu zaman baru di mana
segala jenis pengetahuan tradisional,
astrologi, prana, klenik, dan berbagai
bentuk pengetahuan supranatural (yang
secara ganjil biasa disebut pengetahuan
“Metafisik”) yang dahulu diharamkan kini
dengan leluasa hidup berdampingan
dengan sains.
Dalam berbagai kasus sains justru belajar
dari berbagai jenis pengetahuan aneh itu.
Sedangkan para saintist yang masih setia
pada kerangka positivisme klasik dengan
segala kaidah objektivistik-empiris-
kuantitatifnya kini kerap dituding sebagai
kaum reduksionis sempit atau para
pengidap realisme-naïf yang kedaluwarsa.
Tentu tudingan itu masih perlu

9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 413


diperdebatkan, sebab perkaranya
sesungguhnya cukup kompleks.

FILSAFAT
Sepanjang sejarahnya filsafat telah
berusaha untuk mengatasi tegangan
antara kecenderungan akal untuk
membentuk kerangka teoretis formal
tentang realitas kehidupan ini di satu
pihak, dan di pihak lain kenyataan bahwa
realitas kehidupan dialami sebagai sesuatu
yang senantiasa mengalir, berubah, tanpa
bentuk yang pasti dan menyangkut
demikian banyak aspek sekaligus.
Plato meyakini bahwa refleksi akal budi
manusia mampu menyaring peristiwa-
peristiwa real yang partikular dan unik
dalam rangka mendapatkan idea yang inti,
abadi dan universal. Dan fokus refleksi
mesti diarahkan pada persoalan
“kebenaran” yang bersifat abstrak.
Aristoteles agak lain prosedurnya. Yang
inti dan universal itu tidak didapatkan
terutama melalui refleksi. Hakikat dari
realitas itu terdapat dalam kenyataan

9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 414


duniawi ini, dalam gerakan dan
perubahannya.
Maka yang diperlukan bukanlah
merenungi kebenaran pada tingkat
abstrak, melainkan memahami hakikat
gerakan dan perubahan itu sendiri saja.
Tidak ada dunia abstrak ide-ide inti
tersendiri. Abstraksi hanyalah prosedur
cara kita memahami realitas konkret.
Para filsuf Abad Pertengahan berada di
antara kedua tradisi itu namun dengan
keyakinan baru bahwa wahyu Tuhan
menjamin ditemukannya inti semesta
kehidupan. Realitas pengalaman sendiri
tak memungkinkan manusia sampai pada
yang inti. Wahyu Tuhan akan membantu
memahami realitas melalui rahmatNya dan
penyelenggaraan-illahiNya sendiri. Pada
tingkat formulasi manusiawi sendiri kita
hanya akan sampai pada rumusan-
rumusan negatif (teologia negativa), sebab
bahasa-bahasa kita selalu terbatas. Di sini
tentu saja filsafat lantas bercampur baur
dengan teologi.
Pada abad ketujuh belas tugas filsafat
dipahami secara lain lagi. Untuk Descartes,
9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 415
misalnya, tugas filsafat adalah
membangun sebuah sistem pengetahuan
yang akan mendasari segala bentuk
pengetahuan lain (sains) dengan tingkat
kepastian tinggi bagai kepastian
matematis.
Kepastian dasar ditemukan pada
penalaran itu sendiri:saya bernalar maka
saya ada (cogito ergo sum). Berdasarkan
proposisi-proposisi macam itu
dilakukanlah penalaran dan penarikan
kesimpulan lanjutan secara logis ketat.
Sistem filsafat yang kokoh dan rasional
akan muncul dari sana.
Empirisme Inggris sempat mengoreksi
kecenderungan filsafat Cartesian yang
menekankan sentralitas penalaran subjek
itu dan mengubah fokus filsafat ke arah
pengalaman inderawi konkret.
Hasil material dari gelombang empirisme
ini memang sangat meyakinkan. Sains
berkembang pesat dengan cara
pengukuran, kuantifikasi dan
penghitungan data dari pengalaman
inderawi itu. Namun tendensi
oversimplifikasi dan reduksionistik dalam
9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 416
empirisme ini toh tetap menggelisahkan
dan merupakan persoalan yang tetap
meradang di balik permukaan. Persoalan
ini kelak akan muncul kembali di akhir
abad 20.
Namun sementara itu pada abad delapan
belas bagaimana pun juga sains beserta
teknologi yang dihasilkannya memang
menyilaukan pandangan. Perkembangan
pengetahuan saat itu sangatlah
mengundang antusiasme, sedemikian
hingga hakikat “pengetahuan” dan
“penalaran” menjadi tema utama
permenungan.
Para filsuf abad pencerahan lalu percaya
bahwa aneka ragam pengetahuan
sesungguhnya hanyalah manifestasi saja
dari akal yang universal dan homogen.
Penalaran akal adalah sesuatu yang sama
bagi setiap orang, setiap bangsa atau tiap
zaman. Berbagai paham yang akar
kulturalnya berbeda sekalipun bila
direnungi akan sampai pada prinsip-
prinsip rasional yang sama, permanen dan
universal.

9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 417


Maka berdasarkan “logika fakta” yang
positivistic-empiristik, dikombinasikan
dengan ambisi Cartesian yang
rasionalistik, filsafat abad pencerahan
terobsesi hendak mencari pondasi paling
kokoh dan tak tergoyahkan bagi
pengetahuan.
Tegangan yang mesti dihadapinya lalu
adalah: di satu pihak secara “internal”
subjek harus mengandalkan kemampuan
logika nalarnya, di pihak lain ia perlu
mencerminkan kenyataan “eksternal” juga
seakurat dan sepasti mungkin lewat daya
tangkap inderawinya.
Tegangan antara ambisi foundationalism
dan tendensi representationalism ini
berlanjut terus sejak Descartes, Locke,
Kant hingga Hegel, dan bermuara pada
Husserl.
Persoalannya adalah bahwa, proyek
ontologis macam itu de facto telah
mendorong filsafat menjadi ego-logis,
antroposentris dan monolitik; tapi juga
mengakibatkan sains menjadi
instrumentalistik.

9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 418


Akibat dari ini semua adalah menguatnya
sisi ideologis filsafat dan pengetahuan
Barat, yang dampaknya adalah: segala
jenis pengetahuan lain dianggap non-
ilmiah dan tidak valid ( dalam politik ini
menampakan diri dalam berbagai tendensi
fasisme yang totaliterian dan destruktif);
eksploitasi alam besar-besaran hingga
melahirkan persoalan ekologis yang parah;
meriapnya pola berpikir pragmatis
instrumental yang menganggap sepele
penalaran reflektif yang menyangkut nilai
dan makna, dan dengan itu melahirkan
pemiskinan moralitas,dsb.dsb
Ambisi pencerahan itu bermuara pada
Husserl, dalam arti bahwa di satu pihak
ambisi Husserl sendiri adalah hendak
membetot filsafat menjadi dasar ilmu
pengetahuan yang paling logis ketat
(rigorous science; strenge wissenschaft)
sebagaimana dirindukan oleh tradisi
metafisik Platonik-Cartesian, di pihak lain
gagasan-gagasan yang dikembangkannya
justru memberi peluang besar untuk
menghancurkan ambisi metafisika itu
sendiri, bahkan mengakhirinya. Memang
ironis.
9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 419
Salah satu gagasan pokok Husserl yang
bagai pedang bermata dua itu adalah
gagasannya tentang Lebenswelt atau Life-
world, yaitu anggapan bahwa dunia yang
paling dasar, paling primer dan paling real
sebetulnya adalah dunia pengalaman yang
dihayati sehari-hari, dunia pra-reflektif,
dan pra-ilmiah, yang mengalir begitu saja,
dengan bentuk yang tak jelas (amorf) dan
sudah selalu multidimensi.
Dunia sains atau realitas ilmiah “objektif”
hanyalah konstruksi, idealisasi, abstraksi
atau interpretasi atas dunia pra-reflektif
primordial itu. Realitas pra-reflektif itu
sendiri adalah sesuatu yang mengatasi
kategori subjek-objek.
Itu adalah dunia pengalaman asli di mana
subjek dan objek, beserta segala kualitas
bercampurbaur. Sedang “pengalaman
empiris” versi dunia sains sebetulnya
bukan sungguh-sungguh pengalaman,
sebab disana banyak kualitas penting
dihilangkan berhubung tak bisa diukur
atau diulang, misalnya: sentuhan, bau,
perasaan, rasa moral, nilai, jiwa, kesadaran,
bahkan ruh.

9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 420


Fenomenologi Husserl ini, kita tahu,
kemudian dikembangkan oleh Heidegger
dan para filsuf yang mengikutinya
(Gadamer, Ricoeur, dsb) menjadi tradisi
Hermeneutik, yang kini membawa filsafat
pada salah satu puncak otokritiknya yang
menghancurkan diri sendiri dalam
berbagai gelagat yang biasa disebut
dengan istilah longgar “Postmodernisme”
(yang kontroversial itu).
Namun refleksi lanjut yang sama
pentingnya sebetulnya adalah dari filsuf
Merleau-Ponty. Berangkat dari gagasan
Husserl tentang life-world tadi, Ponty
memperlihatkan bahwa persepsi adalah
kontak primordial kita dengan dunia, satu-
satunya modus untuk membentuk makna
realitas (Being).
Pada dasarnya persepsi itu pra-sadar, pra-
personal, dan mewujud lewat
kebertubuhan kita. Kebertubuhan itu
sendiri sebagian besarnya pra-sadar. Nah
oleh sebab di sana kita berhadapan
dengan realitas pra-sadar, maka filsafat
(fenomenologi) adalah soal bagaimana
mendeskripsikan realitas itu ke tingkat

9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 421


kesadaran, bukan pertama-tama soal
analisis atau pun tafsir.
Persepsi adalah background yang melatari
segala tindakan. Dan dunia bukanlah
objek, yang hukum-hukumnya tinggal kita
tangkap saja. Dunia adalah medan alamiah
kesadaran. Kesadaran yang akhirnya
menyadari ketergantungannya pada
ketidaksadaran, pada kehidupan pra-
reflektif.
Konsekuensi penting dari hal ini adalah
bahwa gagasan kita tentang “inti
terdalam” atau “essensi” realitas bukanlah
tujuan filsafat, melainkan sarana saja untuk
mengenali dan memberi makna
keterkaitan pra-sadar kita dengan dunia.
Kita terlampau menyatu dengan dunia itu
untuk bisa menyadari hidup kita sendiri,
maka kita membutuhkan gagasan-
gagasan itu untuk menaklukan dan
menyingkapkannya.
Kesatuan dasar dengan dunia itu lebih
langsung tampil dalam rupa perasaan,
hasrat, perilaku, dan penilaian spontan,
ketimbang dalam pengetahuan objektif
ilmiah. Perasaan, hasrat, dsb itu adalah
9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 422
semacam “bahasa sebelum bahasa”.
Segala pernyataan tekstual dan ilmiah
yang kita buat hanyalah berbagai upaya
tak berkesudahan untuk
mengartikulasikan dan menterjemahkan
pengalaman kesatuan mendasar itu
Filsafat selalu mencoba menyelesaikan
persoalan dengan mencari evidensi
apodiktik atau mengacu pada kebenaran
abadi. Tapi bagi Ponty kita sudah selalu
berada dalam wilayah kebenaran, sudah
selalu mengalami kebenaran, yaitu
pengalaman menyatu dengan dunia tadi.
Maka dengan begitu Merleau-Ponty
menggeser pusat gravitasi filsafat dari
kesadaran Subjek ke pengalaman
kesatuan dengan dunia. Semua
pengetahuan kita berakar pada postulat-
postulat makna yang telah muncul
sepanjang sejarah. Filsafat perlu
memanfaatkan segala khasanah makna itu
sambil tetap selalu memperkarakannya
dalam kaitan dengan pengalaman konkret
Dalam rangka itu misalnya, ketika kini
muncul kesadaran baru bahwa realitas
adalah jaringan hubungan-hubungan,
9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 423
maka dalam berfilsafat pun diperlukan
metafor-metafor baru dan cara pandang
baru.
Lama sekali filsafat Barat memahami
realitas dengan metafor arsitektural. Para
filsuf bicara tentang bagaimana membuat
“bangunan“ sistem, mencari “pondasi”
yang kokoh untuk itu, dsb.dsb. Barangkali
metafor yang kini relevan adalah misalnya
“jaringan hubungan”, bukan “bangunan”
dan “pondasi”.
Deskripsi kita tentang keberadaan kita di
dunia ini bisa berragam-ragam, dan itu
mesti dilihat sebagai jaringan konsep dan
model saja, yang tak mesti membutuhkan
suatu “pondasi” tunggal. Segala jenis
pengetahuan (ilmiah, klenik, tradisional,
magis, mistik, dsb) itu di satu pihak
masing-masing otonom, di pihak lain
bersilangan bahkan bertumpang tindih
dan saling terkait juga. Ilmu yang
berkaitan dengan Chakra atau Prana,
misalnya bisa bersinggungan dengan
wacana tentang “energi” di bidang Fisika,
atau dengan perkara “ruh” dalam wilayah
pengetahuan mistik religius, dst.dst.

9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 424


Di sana masing-masing ilmu bisa saling
merumuskan diri lebih tajam melalui
perbandingan dengan satu sama lain,
sekaligus juga saling mengambil inspirasi
dari masing-masing. Dengan demikian
setiap bidang keilmuan bisa dilihat
sebagai saling “bersarang” dan mendapat
daya hidup dari satu sama lain.
Filsafat di sana lantas hanyalah membantu
membawa pada kesadaran apa yang
sesungguhnya terabaikan atau bahkan
disingkirkan dalam sistem-sistem
pengetahuan itu. Juga filsafat dapat
memperjelas pola-pola pemahaman yang
berlaku dalam tiap sistem itu, bagaimana
interpretasi dan idealisasi pengalaman
disana dipercayai dan dipertahankan,
misalnya.
Maka filsafat tak lagi mesti menjadi suatu
sistem yang “all encompassing” . Ia
hanyalah perenungan reflektif lebih jauh
tentang berbagai cara bagaimana realitas
kehidupan ini dipahami dan bagaimana
makna-makna diciptakan, dengan selalu
mengaitkannya kembali ke medan
pengalaman-pengalaman konkret.

9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 425


Bagi mereka yang belajar filsafat secara
klasik, boleh jadi ini akan dilihat sebagai
tahap ketika filsafat kehilangan identitas
atau mengalami degradasi. Tapi dari sudut
lain bisa saja ini dilihat justru sebagai
proses evolusi.

AGAMA
Orang umumnya meyakini bahwa
millennium ketiga ini ditandai dengan
bangkitnya kembali kehidupan religius.
Maka abad ini sering disebut sebagai abad
post-sekular, abad dimana sekularisme
atheistik dianggap tak lagi meyakinkan
sebagai kerangka pandang.
Ada berbagai unsur yang telah
mengangkat religiusitas kembali menjadi
primadona, dan umumnya bukanlah
karena daya tarik agama-agama itu sendiri
an sich. Religiusitas bangkit sebagian
karena ideologi-ideologi besar ambruk,
sebagian lagi karena dunia sains sendiri
akhirnya sampai pada fenomena-
fenomena yang berkaitan dengan
eksistensi suatu intelegensi kosmik
transenden, sebagian lain karena
kehidupan modern sekular akhirnya
9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 426
mengakibatkan gejala umum kekosongan
batin mendalam, dan sebagainya, dan
sebagainya.
Bersama dengan naiknya religiusitas,
justru agama-agama tampil sebagai
penuh persoalan. Ini memang ironis.
Agama bagaimana pun adalah produk dari
perkembangan kesadaran bangsa
manusia.
Mengikuti Eliade dan Huston Smith, yang
meski terasa simplistik toh ada gunanya
untuk melihat peta besar, babakan awal
kehidupan agama bisa disebut sebagai
periode “Arkhaik”, yaitu ketika agama-
agama berfokus pada realitas ilahi yang
metafisik dan mengatur perilaku umatnya
dalam ritual dan mitos yang ketat.
Babakan kedua adalah periode “Axial”,
yang bersama dengan munculnya para
nabi macam di Israel, Persia, India, Cina,
hingga Arab fokus bergeser ke arah nilai
etis. Kesalehan vertikal dalam ritual dan
pengakuan doktrin tidak cukup,
religiusitas menuntut komitmen nilai
dalam hubungan manusiawi horizontal.

9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 427


Babakan ketiga adalah periode “Modern”,
ketika bersama dengan penyebaran
ajaran, agama-agama mengalami
pembakuan doktrin dan pembentukan
jaringan institusi.
Pada tahap ini agama banyak berfokus
pada perkara struktur. Struktur ajaran
dalam rupa pernyataan (proposisi) verbal
maupun wacana menjadi penting, tapi
juga struktur organisatoris mengalami
perluasan dan perumitan.
Agama menjadi “logo-sentris” alias sangat
nyinyir dalam soal kalimat atau konsep,
dan akrab dengan struktur-struktur
kekuasaan. Etos yang menghidupinya
adalah etos “tanggung jawab” sebagai
“pemegang kebenaran paling murni”,
tanggung jawab atas keselamatan bangsa
manusia
Tapi persis karakter-karakter yang terakhir
itulah yang juga menyebabkan agama saat
ini menyandang banyak persoalan, yang
tersingkap kini justru ketika situasi zaman
menyeret agama ikut menjadi salah satu
primadona juga.

9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 428


Adalah idealisme tentang “tanggung
jawab” itu yang juga telah sempat
melahirkan kolonialisme serta berbagai
tendensi ke arah penindasan dan
kekerasan (perang, perbudakan, terorisme,
dsb.).
Ketika proposisi tertentu “disucikan”
sebagai doktrin, agama otomatis
mendefinisikan tentang apa yang secara
moral benar dan apa yang salah, apa yang
dianggapnya “kodrat” apa yang
bertentangan dengan kodrat.
Ini dengan mudah membawa konsekuensi
bahwa segala ajaran lain yang
bertentangan dengannya akan dicap
sebagai tidak sesuai dengan “kodrat”
kemanusiaan yang dikehendaki Tuhan,
maka umat pengikutnya pun bisa
dianggap sebagai setan, ancaman
berbahaya terhadap kemurnian, dan
akhirnya perlu ditaklukan, dibasmi, atau
dianggap saja warga kelas dua.
Semua itu justru karena rasa “tanggung
jawab” itu. Berbagai peperangan dan
kekerasan religius selama ini adalah
manifestasi paling grafis dari tendensi
9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 429
tersebut. Semakin bersikukuh
mencanangkan “kemurnian” kebenaran
dan tanggung jawab, semakin besar
tendensi agama-agama ke arah
kekerasan.. Dan konsekuensinya: justru
semakin tak meyakinkanlah konsep
mereka tentang Tuhan bagi intelegensi
zaman.
Namun yang lebih mengaburkan
idealisme “tanggung jawab” adalah aliansi
antara yang suci dan kekuasaan.
Dalam masyarakat pra-modern dahulu
kekuasaan sekular tergantung pada
penyuciannya (sanctification). Dengan
konsekuensi, kekuasaan sekular
merupakan semacam sarana bagi yang
suci.
Dalam masyarakat modern sebaliknya,
yang suci seringkali tergantung pada
kekuasaan sekular. Konsekuensinya, yang
suci menjadi sarana saja bagi kekuasaan
sekular, terutama bagi kekuasaan politik
atau pun bisnis.
Pada kedua kemungkinan itu tendensi
korup dan kesewenangannya sama saja.

9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 430


Sisi tragis dari itu adalah bahwa korbannya
tak lain kewibawaan dan kehormatan
agama-agama itu sendiri. Semakin agresif
dan kuat persekongkolan antara
kekuasaan dan agama-agama, sebenarnya
semakin kehormatan agama-agama itu
sendiri terancam merosot dan rusak.
Sayang ini tak mudah disadari.
Benar bahwa aliansi dengan kekuasaan
sekular itu telah memungkinkan agama
membangun peradaban-peradaban
manusia yang dahsyat dan mengagumkan.
Namun aliansi dan tendensi yang sama
jugalah yang kini menjadikan agama-
agama bertendensi patologis dan
menjadikannya potensi paling destruktif
yang mampu menghancurkan peradaban
manusia, lebih dari senjata pemusnah
massal apa pun.
Semua fenomena itulah yang
mengakibatkan kini muncul tendensi baru,
yaitu di satu pihak religiusitas memang
bangkit, namun pada saat yang sama
berkembang pula justru kecenderungan
sikap sangat kritis-berjarak terhadap
agama sebagai doktrin, sistem ritual

9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 431


maupun institusi; semacam tendensi post-
dogmatis yang lebih berfokus pada
pengalaman eksistensial dan
transendental, “religion without religion”,
kata John D.Caputo.
Tentu ini sekaligus beriringan dengan
kutub lain yang persis kebalikannya, yaitu
tendensi ke arah fundamentalisme yang
dengan membabibuta memeluk sistem
doktrin, ritual maupun institusi, seringkali
karena panik dan tidak mampu
menghadapi kemelut dunia yang sedang
berkecamuk dalam aneka perubahan yang
memang membingungkan.
Makin terasa kacau dunia ini, makin
kuatlah tendensi ke arah
fundamentalisme, makin kerdil martabat
agama. Zaman ini memang ditandai
dengan demikian banyak paradoks.
Agama-agama besar, bila hendak
dianggap masih berarti bagi peradaban,
perlu menghadapi berbagai persoalan
multidimensi itu.
Diperlukan semacam redefinisi, pemahaman-
diri baru: mesti dipahami sebagai apa
sebenarnya agama-agama itu. Jika tidak isu
9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 432
kebangkitan agama hanya akan merupakan ilusi
egosentris yang kosong dan naïf.

TENTANG SAINS
Hasil-hasil positif dari sains dan teknologi
tentu tak bisa diragukan. Yang perlu
diwaspadai adalah aspek ideologis dan
paradigmatisnya.
Hasil-hasilnya yang memukau tak mesti
berarti bahwa sains atau iptek harus
dianggap sebagai satu-satunya tolok ukur
kebenaran dan kesahihan pengetahuan.
Intelegensi manusia masih jauh lebih
misterius dan lebih luas daripada yang
bisa dikategorikan oleh sains, apalagi oleh
ilmu-ilmu eksakta.
Kini makin disadari bahwa kecerdasan di
bidang religius (mistik), politik, bisnis, seni,
apalagi klenik, dsb. sebetulnya tak
sepenuhnya bisa dijelaskan dengan
kriteria IQ,EQ, bahkan SQ misalnya. Ada
berragam jenis kecerdasan, berbagai jenis
pengetahuan, dan banyak bentuk “logika”.
Dan tidak perlu ada satu jenis meta-
bahasa yang merangkum semua bahasa-

9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 433


pengetahuan, satu logika yang seragam
dan universal.
Jenis-jenis pengetahuan tradisional pun
tak perlu baru merasa sahih dan qualified
hanya setelah dapat diterjemahkan dalam
bahasa sains. Suatu kerangka bahasa
(logika) tak selalu bisa diterjemahkan
dengan persis kedalam kerangka bahasa
(logika) lain. Yang diperlukan adalah saling
berinteraksi dan mengambil inspirasi dari
satu sama lain, saling memperkaya, tapi
juga saling memperkarakan, saling
mengoreksi dan mempercanggih diri
melalui yang lain.
Namun di sisi lain, dalam beberapa aspek
tertentu, sains memang masih dapat
dianggap memiliki beberapa keunggulan
tersendiri yang menyebabkannya layak
mendapatkan privilese diantara jenis
pengetahuan lain. Selain hasil-hasilnya
paling nyata dan meluas, sains tetaplah
merupakan etos terbaik dalam hal belajar
dari kesalahan dan pengalaman konkret,
dengan prinsipnya yang menjunjung
tinggi kejujuran, penalaran kritis, ketelitian,
keakuratan, keterbukaan pada wacana

9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 434


publik (transparansi) maupun
keketatannya pada pembuktian.
Secara sosiologis (politis) pun sains dan
teknologi telah sangat berjasa
memungkinkan segala manusia di belahan
bumi mana pun terlibat dalam komunikasi
intens dan penalaran bersama, dalam
kedudukan dan martabat yang sama, demi
kepentingan bersama (kendati di sana-sini
tentu bisa terjadi distorsi yang tidak adil).
Terutama dalam arti yang terakhir itulah
sains tetap bernilai sentral. Dan kita tak
perlu kembali ke zaman purba.
Yang mesti tetap dirawat dan dijunjung
tinggi oleh Perguruan Tinggi sebagai
pengusung utama kehidupan sains adalah
terutama etos-nya itu, yaitu intensitasnya
dalam belajar dari kesalahan, dengan
prinsip kejujuran, kekritisan, keterbukaan
dsb, itu; tapi juga komitmennya dalam
bernalar bersama, dalam kesederajatan,
demi kepentingan bersama.

TENTANG FILSAFAT
Dari refleksi kritis para filsuf mutakhir
memang kini ambisi filsafat untuk mencari

9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 435


dasar terkokoh pengetahuan atau satu
kepastian dasar terdalam dan universal
seperti sirna. Luruh pula ambisi filsafat
untuk menciptakan sistem pemikiran
tunggal monumental dengan logika ketat
(rigorous).
Tapi nilai dan kebermaknaan filsafat tidak
hanya di wilayah itu. Filsafat tetap memiliki
posisi unik dan signifikan terutama dalam
kemampuannya memetakan kait-mengait
berbagai bidang kehidupan manusia
secara menyeluruh (yang tak mungkin
dilakukan oleh sains); dalam
ketazamannya menyingkapkan persoalan-
persoalan mendalam peradaban
manusia,yang seringkali tersembunyi, pelik
dan kompleks; dalam kenekadannya
menawarkan kemungkinan-kemungkinan
baru untuk memahami dunia dan
kemanusiaan kita; tapi juga dalam
kebrutalannya memperkarakan dan
menguncang-guncang lagi setiap kali
banyak hal yang telah lama kita yakini,
agar pencarian kebenaran tetap berjalan
mengalir, tidak terperangkap dogmatisasi
atau mengalami stagnasi.

9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 436


Dengan cara itu, dalam konteks perguruan
tinggi, filsafat dapat berperan membetot
kembali setiap kali segala kiprah keilmuan
yang spesialistis itu ke arah persoalan nilai
dan makna pada tingkat pengalaman real
maupun kemanusiaan global; tapi
sekaligus juga menarik kembali segala
kiprah ilmu ke persoalan-persoalan dasar
teoretis-paradigmatis intern keilmuan
sendiri.
Pengaitan kembali pada konteks eksternal
maupun internal itu adalah bagian esensial
dari tanggung jawab keilmuan para
akademisi, sebagai ilmuwan maupun
cendekiawan sejati. Ini terasa urgen justru
ketika Perguruan tinggi dan dunia
keilmuan umumnya kini keasyikan
terbenam dalam perspektif pragmatis dan
motif ekonomis.
Perguruan tinggi tak boleh hanya menjadi
balai pelatihan tukang, supermarket ilmu
atau bursa gelar. Kehormatan dan nilainya
terletak pada posisinya sebagai ajang
proses interaksi kecendekiawanan, dan
dengan itu sekaligus sebagai benteng
kokoh dimana martabat dan harkat

9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 437


kemanusiaan, peradaban dan kehidupan
dirawat serta dipertahankan.

TENTANG AGAMA
Dalam konteks peradaban sesungguhnya
agama tetaplah bisa dilihat sebagai oasis
yang mampu menyuburkan sisi-sisi terbaik
manusia, sebagai “the mind in all the
mindlessness of the world” atau “the heart
in the heartless world”. Tapi juga sebagai
upaya yang tak pernah berhenti untuk
mewujudkan cita-cita luhur yang “tak
mungkin” sampai menjadi mungkin.
Sayangnya itu semua sering terkubur oleh
antusiasme berlebihan yang membabi
buta, oleh kesempitan wawasan, oleh krisis
identitas, oleh nafsu kekuasaan, atau pun
egosentrisme kekanak-kanakan. Dan
dengan itu agama malah justru menjadi
bahaya laten paling destruktif bagi
peradaban.
Perguruan tinggi, terutama yang
menyandang nilai-nilai agama secara
eksplisit, perlu ekstra waspada terhadap
ironi-ironi yang kerap tak disadari itu.

9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 438


Iman bukanlah hanya perkara perasaan
dan hati. Antusiasme perasaan yang
berlebihan bisa berdampak keluar ngawur
dan mengerikan, apalagi bila agressi
dihayati sebagai kesalehan. Dalam
berhadapan dengan kompleksitas
kehidupan dan peradaban, iman perlu
juga dijernihkan dan dimatangkan oleh
akalbudi. Hati dan perasaan pun perlu
diasah dan dididik oleh penalaran.
Meksipun sebaliknya juga benar.
Tapi yang lebih pokok lagi barangkali
adalah bahwa iman itu soal perbuatan,
bukan perkara institusi atau pun proposisi
(dogma). Dan agama, dogma atau pun
kitab suci jelas bukanlah Tuhan itu sendiri.
Perguruan tinggi, yang senantiasa mencari
kebenaran, mesti selalu berani meletakkan
Tuhan -sang kebenaran itu- sebagai
sesuatu yang masih perlu dicari. Keyakinan
berlebihan bahwa kebenaran ilahi sudah
ada ditangan mudah sekali membuat kita
merasa mampu membaca pikiran Tuhan.
Dan itu hanya satu langkah untuk
menganggap diri kita Tuhan itu sendiri,

9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 439


lantas dengan mudah kita mengadili dan
menghukum yang lain.***
Sumber:
https://www.facebook.com/gmgmofficial/posts/3540
310685983038

9 Juni 2020 | Bambang Sugiharto | 440


12 JUNI 2020 | GOENAWAN MOHAMAD

Sebuah Tempat yang Bersih


dan Lampunya Terang
untuk Sains
Goenawan Mohamad

Berilah aku satu kata puisi


daripada seribu rumus ilmu yang penuh
janji
yang menyebabkan aku terlontar kini jauh
dari bumi
yang kukasih. Angkasa ini bisu. Angkasa ini
sepi.
Tetapi aku telah sampai pada tepi. Dari
mana aku
tak mungkin lagi kembali.

— Soebagio Sastrowardojo, “Manusia


Pertama di Angkasa Luar”, (1961)

Di bulan April 1961, Yuri Gagarin,


penerbang AU Uni Soviet, menjadi
“kosmonaut” pertama yang, dengan
mengendarai kapsul pesawat ruang
angkasa Vostok I, berhasil diorbitkan
mengelilingi bumi. Ia hidup di ketinggian
12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 441
187 mil dan kembali ke dunia setelah 89
menit. Tepuk tangan gemuruh dari segala
penjuru buat prestasi ilmu dan teknologi
Uni Soviet. Gagarin, manusia pertama di
angkasa luar, menjadi pahlawan jenis baru
dalam sejarah.
Tak lama setelah itu Penyair Soebagio
Sastrowardojo menulis sajaknya yang
saya kutip di atas. Bukan sebuah puja-puji,
tapi sebuah gambaran suasana lain: si
manusia pertama di angkasa luar merasa
terasing, kesepian, terbuang jauh dari
bumi yang dicintainya. Ia merasa jadi
korban “seribu rumus ilmu pasti yang
penuh janji”. Ia merindukan sebuah
alternatif: puisi, sepatah kata puisi.
Sajak ini dengan pedih menggugat ilmu
dan teknologi justru di saat kemajuan dua
komponen peradaban itu mencapai taraf
yang menakjubkan. Suara sajak Soebagio
adalah ungkapan pesimisme terhadap
sains.
*

12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 442


Sajak itu bukan suara muram pertama
tentang sains dan teknologi dalam karya
sastra.
Di tahun 1895, terbit karya H.G. Wells
“Time Machine” (kemudian difilmkan di
tahun 1960). Kisahnya berporos pada
penemuan seorang ilmuwan Inggris yang
hidup di zaman Ratu Viktoria: sebuah
mesin yang bisa membawa manusia
mengarungi waktu dengan sangat cepat
ke masa depan dan ke masa lalu.
Ia sendiri mencoba ke tahun 802701.
Alkisah, sang Pengarung Waktu sampai ke
sebuah tempat yang dikelilingi gedung-
gedung agung, dan dihuni manusia yang
cantik tapi malas dan tidak cerdas —
mungkin satu antitesis bagi optimisme
zaman itu yang menggambarkan
kemajuan manusia masa depan.
Di tahun 1932 terbit novel “distopia” yang
lebih termashur —lebih menakutkan —
“Brave New World”, karya Aldous Huxley.
Huxley berkisah tentang London tahun
2540, ketika manusia adalah makhluk yang
dimanipulasi teknologi.

12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 443


Novel dibuka dengan adegan di Central
London Hatcheries and Conditioning
Centre. Di situ ribuan embrio manusia
yang sama ditaruh dalam deretan botol.
Embrio-embrio itu disiapkan untuk jadi
lima kasta manusia. “96 anak kembar
identik akan mengerjakan 96 mesin yang
identik”. Semua ditertibkan. Narkoba yang
diberi nama “soma” dibagi gratis ke semua
warga World State, agar patuh. Seks bebas
adalah wajib.
Novel berakhir dengan tokohnya, John,
bunuh diri. Ia anak haram yang lahir di
Cagar Budaya Liar di Meskiko dan
kemudian hidup di London. Di ujung cerita
John menyiksa orang, mencambuki diri
sendiri, ikut dalam sebuah orgi, dan
akhirnya menghabisi nyawanya sendiri.
Di tahun 2003 terbit novel Margaret
Atwood, “Oryx and Crake”. Tokohnya
Jimmy, mungkin satu-satunya manusia
yang tersisa di dunia. Manusia lain,
manusia versi lama, telah diubah rekayasa
genetik atau dibinasakan tablet
BlysssPluss. Crake, jenius yang
menciptakan pil itu, memang berencana

12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 444


membasmi homo sapiens. “Yang
diperlukan”, katanya, “adalah terhapusnya
satu generasi. Satu generasi apa saja.
Kumbang, pohon, mikroba, ilmuwan,
orang-orang yang omong Prancis, apa
saja”. Ia ingin merekayasa makhluk jenis
baru yang lebih ramah lingkungan.
Distopia lain kita bisa ikuti dalam film: kita
kenal “Blade Runner 2049”. Atau, lebih
menyentuh, “AI, Artificial Intelligence”.
Dalam film Steven Spielberg dari tahun
2001 ini, para teknolog menciptakan
“Mecha”, robot-robot canggih yang mirip
manusia. Seorang ilmuwan menghasilkan
“David”, robot bocah yang bisa mencintai
orang tempat ia ditempatkan dengan
cinta yang tak bisa pudar. Ia juga bisa
cemburu dan berambisi. Si David ingin
seperti Pinokio, boneka yang jadi manusia.
Ditinggalkan di dekat hutan oleh Monica,
“ibu angkat”-nya, dan tersesat ke mana-
mana, ia mencari Peri Biru yang ia yakini
akan bisa menyulapnya jadi bocah.
Beribu tahun kemudian, ia menemukan
apa yang dicarinya. Tapi Peri Biru tak
sanggup. David pun pasrah. Ia hanya
12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 445
minta ibu angkatnya yang ia cintai
dihidupkan kembali. Satu-satunya harapan
itu terkabul. Ia bisa ketemu kembali sang
ibu, meskipun sebentar. Satu-satunya
tanda “happy ending” adalah ketika si
robot bocah mendengar Monica berbisik,
seraya memeluknya di tempat tidur, “Aku
sayang kamu, David, aku selalu sayang
kamu”.
*
Kritik kepada sains, kekecewaan pada
“seribu rumus ilmu pasti yang penuh janji”,
tak hanya dalam karya sastra dan film. Di
tahun 1918, di Universitas Munchen, Max
Weber berpidato di depan para
mahasiswa, dengan judul “Wissenschaft als
Beruft” (“Sains sebagai Panggilan”). Weber,
sosiolog termashur yang menganalisa
dunia modern dengan suram, menyebut
apa yang baginya “cacat” ilmu-ilmu alam:
sains tak pernah menanyakan asumsi
dasarnya sendiri, tak pernah menanyakan
makna hidup — hidup yang konon hendak
diperbaikinya, bahkan diperpanjangnya.
*

12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 446


Tiap zaman punya Jeremiahnya sendiri.
Karya-karya sastra dan film yang saya
sebut di atas bisa dianggap sebuah caveat,
sebuah peringatan “awas, hati-hati, jangan
jumawa,” ketika sains dan teknologi
dianggap mampu menjawab segala hal.
Novel seperti “Brave New World” dan
“Oryx and Crake” tentu saja hiperbolik —
mungkin seperti pesan parau Jeremiah
dalam Perjanjian Lama. Mereka melipat-
gandakan kegelapan hidup di bawah
dampak negatif sains. Tapi dengan
dorongan ethis —tak jauh beda dengan
peringatan agar masyarakat mewaspadai
kekuasaan yang hendak mengatur
hidupnya.
Lagipula, ada yang bukan fiktif dalam
thema Jeremiah ini. Kasus pestisida
Monsanto yang baru terjadi seharusnya
tak dilupakan mereka yang berbicara
tentang sains dengan opimisme habis-
gelap-terbit-terang. Sains pegang peran
pembantu yang penting dalam drama ini.
Sebuah lembaga yang didengar di mana-
mana, ILSI (Internasional Life Sciences
Institute) telah membuat sains dibayar
12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 447
tinggi. Ia adi penjaga kepentingan bisnis
pestisida. Dari sini, atau dari institut seperti
ini, pelbagai rekomendasi ilmiah ditulis
mendukung produk yang akan dijual ke
masyarakat — produk yang sebenarnya
belum diuji secara semestinya.
Tapi zaman berubah. Konsumen dan
pasien kini punya akses ke informasi
tentang diri mereka. Di akhir 1990-an,
meledak konfrontasi di sekitar penyebaran
tanaman pangan yang secara genetik
dimodifikasi (GMO).
Perdana Menteri Prancis tahun 1997 itu,
Alain Juppe, melarang penggunaannya; ia
dituduh menentang sains. Tapi
pembangkangan di kalangan petani
meluas. Akhirnya terungkap bahwa produk
Monsanto itu memang menebar racun di
kalangan petani Eropa dan Amerika.
Isabelle Strengers, seorang filosof yang
banyak menulis tentang sains, menyebut
konfrontasi itu “GMO event”. Dalam “In
Catastrophic Times” yang terbit pada 2015
digambarkan momentum yang
menyadarkan orang banyak di Eropa
bahwa sebuah persoalan sains — dalam
12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 448
hal ini sains tentang tanaman dan
genetika, “genetic modified organism” —
pantas direbut dari wali penjaganya:
saintis.
Tersirat dalam “GMO event” adalah
sebuah sanggahan: sains tak mesti dilihat
sebagai hasil adiluhung yang layak
memandu pengetahuan lain.
*
Tapi hari-hari ini, entah kenapa, tilikan
kritis atas sains akan dianggap “anti-sains”.
Atau dinilai meremehkan sains. Atau, lebih
buruk lagi, memberi mesiu kepada apa
yang saya sebut Jorge-isme.
Jorge-isme saya pakai dari nama biarawan
tua yang ganas dalam novel Umberto Eco,
“Il nome de la rosa”. Rahib Jorge sosok
agama yang memusuhi humor dan
menhgharamkan pertanyaan-pertanyaan
sebagai penghujatan. Dalam konteks kita,
kaum Jorge-is adalah para agamawan dan
pengikut mereka yang dengan dogma
mempertahankan, misalnya, keyakinan
bahwa bumi datar dan homoseksualitas
sebuah dosa.

12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 449


Saya tak menaruh simpati kepada Jorge-
isme. Tapi menganggap kritik kepada
sains berarti mendukung dogmatisme, itu
prinsip totaliter: “yang tak bersama kita
berarti bersama musuh”. Dari sikap seperti
itu, saking sengitnya menghadapi Jorge-
isme, bisa tumbuh dogmatisme lain —
dogmatisme saintis.
Apalagi saintisme merasa sejiwa dengan
sains, dan sains dianggap parameter
kebenaran. Para pendukung pandangan
ini, seperti Posivitisme di Eropa abad ke-
19, menganggap sains modern satu-
satunya jalan ke kebenaran. Dengan
sengit, tiap kritik kepada sains dianggap
bagian dari usaha mengepung,
menghantam, dan mendeskreditkan sains
— dan itu berarti kebodohan, takhayul,
kemunduran.
Paranoia ini tak membuka penjelajahan
lain untuk memahami bagaimana kita,
manusia, mengetahui dan menafsirkan
dunia. Para apologis neo-positivisme tak
menunjukkan keinginan merenungkan,
ada apa dengan praktek GMO dalam
kapitalisme Barat. Atau ada apa dengan

12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 450


Dokter Josef Mengele dalam Naziizme,
yang menggunakan ilmunya untuk
pembantaian orang Yahudi. Atau dengan
Lysenko, pakar biologi dan agronomi
Stalin yang memaksakan “kebenaran”
dalil-dalilnya untuk dilaksanakan para
petani, dengan akibat kelaparan besar.
Kejahatan itu bukan kejahatan sains, tentu.
Tapi agaknya perlu ditelaah, jangan-
jangan ada yang “gerowong” dalam sains.
*
Dalam tulisan sebelum ini saya
menguraikan kritik Husserl terhadap sains
modern yang dipelopori Galileo di Italia
diabad ke-7: apa yang oleh Husserl
disebut matematikasi (Mathematisierung)
ilmu-ilmu alam.
Bagi yang belum baca saya coba
ikhtisarkan.
Dalam sains modern yang dipelopori
Galielo, benda-benda kongkrit dalam
dunia-kehidupan diterjemahkan menjadi
konsep; dengan kata lain, menjadi “ide”:
air untuk menyiram bunga di vas itu, air
dingin di botol di ransel saya, air parit
12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 451
yang mengalir di seberang kebun, masing-
masing unik, berubah-ubah. Tapi mereka
perlu punya identitas.
Maka bahkan dalam masa pra-sains,
semuanya dikelompokkan ke dalam satu
konsep “air” melalui abstraksi. Abstraksi
berarti menarik (asal katanya “abstrahere”)
aspek yang sama dari tiap-tiap kasus;
berdasarkan aspek yang sama itu,
dibentuk sebuah identitas.
Maka “air” pun hadir sebagai ide — hasil
dari peng-ideal-an (Idealiserung) benda di
alam yang kita alami dengan tubuh kita
sehari-hari. Pada “air” sebagai ide
diterapkan lambang kimia H2O. Jika
diperlukan, H2O diidentifikasi dalam
volume tertentu, dan didapatkan Berat
Jenisnya, katakanlah 1000kg/m3.
Tentu saja tak ada yang salah dengan
matematika. Tak ada yang muram
sebagaimana dilihat AS Laksana dalam
tulisan saya. Jika dibaca dengan cara
seksama, akan tampak saya tak menafikan
perkembangan sains yang menakjubkan
itu, setelah berkal-kali disodori (juga oleh

12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 452


Sulak), katalog sumbangan sains bagi
peradaban.
Kita tahu apa syarat agar sains ada. Ia
memerlukan objek yang bisa diulangi
secara persis, dalam proses eksperimen.
Mengikuti metode yang benar, air yang
dipakai dalam tabung di laboratorium X
harus sama dengan yang di laboratorium
Y, untuk dapat kesimpulan yang akurat.
Dalam proses itu, sang air adalah sesuatu
yang konsisten, stabil, jelas, persis, tak
ambigu. Untuk itu, matematisasi sangat
membantu.
Jadi, Sulak, bagi saya tak ada yang muram
dengan matematika. Yang “muram” ialah
apabila dunia diterjemahkan semuanya
sebagai wujud yang dimatematiskan.
Husserl menulis kemungkinan ini ketika ia
mengatakan (dalam terjemahan bebas
saya): “Matematika dan sains matematis,
sebagai jubah ide (“Ideenkleid”), atau
jubah simbol yang diambil dari teori
matematis, menyelimuti tiap hal, tiap
benda — dan oleh ilmuwan, hal itu
diterima sebagai wakil sah dunia-
kehidupan”.
12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 453
Husserl tak sendirian. Alfred North
Whitehead menyebut itu contoh FMC, the
Fallacy of Misplaced Concreteness.
Yang ingin saya katakan, yang muram
adalah bila hasil kalkulasi dihadirkan
sebagai benda itu sendiri. Yang muram
adalah jika hutan dilihat hanya sebagai
sekian ribu pohon, sekian jumlah flora dan
fauna, sekian hektar luas untuk
dipertukaran dengan harga sekian rupiah
— dan kita pun mengabaikan rindang dan
teduhnya, warna-warni daunnya, aroma
humus di dalamnya. Lebih muram lagi jika
kita memandang manusia lain sebagai
sekian jam tenaga kerja, sekaligus dilihat
nilai rupiahnya.
Sains “an-sich” tentu tidak memperlakukan
makhluk hidup seperti itu. Tapi dunia yang
dipandang (bahkan dikonsruksikan)
dengan pendekatan ilmu-ilmu alam —
meskipun sangat pas untuk eksperimen
dan ekspolitasi — adalah sebuah dunia
tanpa makna. Hidup dan matinya tak
terkait hidup matiku, hidup matimu.
Itu berarti manusia memerlukan yang lain,
yang bukan-sains. Seni, misalnya.
12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 454
*
Sains dan seni hari-hari ini tak
dikonfrontasikan. Maka menarik — dan
bagi saya menyenangkan — dalam
jawabannya untuk saya, Sulak mengutip
Richard P. Feynman. Fisikawan pesohor
ini mencoba menemukan persamaan rasa
estetis antara dia dan temannya dalam
memandang sekuntum bunga.
Feynman seperti biasa pintar bercerita,
tapi dalam soal yang satu ini ia kedodoran.
Katakanlah ia, seperti diutarakannya
sendiri, orang yang peka akan keindahan.
Tapi ia keliru memahami perbedaan dasar
antara sikap estetik dan sikap ilmiah.
Baiklah saya jelaskan dengan membalas
Sulak lebih dulu. Sulak mempersoalkan
satu kalimat dalam tulisan saya yang lalu
ketika membahas sains: ‘“Mengetahui”
adalah membuat pigura atas realitas’.
Agaknya ia kurang paham kalimat itu. Saya
bisa memaklumi. Kami berbeda
pengalaman.
Pengalaman saya: saya belajar histologi di
tahun 1961. Salah satu yang tiap
12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 455
praktikum saya lakukan adalah menatap
preparat dengan mikroskop. Histologi
menelaah mikroanatomi sel, jaringan, dan
organ. Untuk mempertahankan dan
menjaga struktur jaringan dan sel pada
preparat, digunakan “fixative” kimia.
Melalui mikroskop saya bisa melihat
bentuk sel yang seperti palet pelukis,
lengkap dengan warna-warni. Tapi elemen
biologis manusia ini disiapkan sebagai
preparat yang statis. Ia hanya sel. Ia baru
dimatikan, dan di mikroskop ia
menampilkan nukleusmya, mitokondria,
atau cytoplasma.
Sejak itu saya melihat bagaimana biologi,
sebagaimana sains pada umumnya harus
memberi “pigura” atau “frame” atas
realitas. Harus ada kerangka seperti
preparat itu; “pigura” itu bisa berwujud
tabung di laboratorium, bahkan sebuah
hipotesis, bahkan sebuah theori. Harus
ada asumsi bahwa yang kita telaah
sesuatu yang mandeg; “fixative” itu bisa
jadi rujukannya. Kita tahu bahwa yang kita
observasi berubah terus menerus, apalagi
ia unsur biologis, tapi kita harus titis,
akurat, dalam telaah kita. Kita harus siap
12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 456
hasil penelitian kita mesti diuji. Untuk itu,
seperti sudah saya katakan di atas, objek
penelitian harus bisa diulang dengan
persis.
Maka sains pun mau tak mau bertolak dari
sesuatu yang berhenti di satu lokasi. Ini
tak cocok dengan realitas —dan disebut
Alfred North Whitehead sebagai ESL,
“Error of the Simple Location”.
ESL adalah akronim sebuah kesalahan; ia
asumsi yang keliru, bahwa objek penelitian
kita mandeg — pandangan salah yang
dimulai oleh Newton. Tapi berdasar teori
elektromagnetisme dan temuan mekanika
kuantum, Whitehead melihat realitas
sebagai proses. Ia menyebutnya “event”.
Dalam pandangan dia, dan saya setuju,
tiap realitas berubah. Preparat X yang saya
lihat pukul 13:00 bukan lagi preparat X
yang saya lihat pukul 12:58.
Tapi sains tak bisa menerima sebuah
“event” sebagai objek penelelitian.
Dari sini kita bisa mengerti kenapa bagi
Whitehead, sains tidak mungkin meliputi,
mencakup, mengartikan segala-galanya.

12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 457


Misalnya suasana senja di sebuah
pelabuhan kecil.
*

Ini kali tak ada yang mencari cinta


Antara gudang, rumah tua, tiang serta
temali.

Kita baca sajak Chairil Anwar yang


terkenal, “Senja di Pelabuhan Kecil.” Sajak
itu membawa kita seperti sebuah kamera
film yang bergerak, dalam proses,
berpindah-pindah (antara camar, gudang,
rumah tua, tiang serta temali, laut yang
hilang ombak, juga suasana murung),
tanpa urutan yang ditata. Seluruhnya
melintas, seketika. Tiap hal bukan
ditemukan dari analisa.
Adorno menyebut momen seperti itu
sebagai momen “mimesis”: sang penyair
dengan empati seakan-akan “masuk
menyusup” (“anschmiegen”) ke dalam
lanskap senja di pelabuhan itu.
Berbeda dengan Feynman. Sebagaimana
dikutip Sulak. Feynman membandingkan
dua kasus: (A) bagaimana sekuntum
bunga dilihat temannya (seorang
12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 458
seniman), dan (B) bagaimana bunga yang
sama ia lihat (ia sebagai seorang ahli
fisika):

“Saya melihat lebih banyak lagi tentang


bunga itu daripada yang dia lihat. Saya
bisa membayangkan sel-sel dan tindakan-
tindakan rumit di dalamnya yang juga
memiliki keindahan. Maksud saya bukan
hanya keindahan pada dimensi satu
sentimeter; ada juga keindahan pada
dimensi yang lebih kecil, struktur bagian
dalam.”

Tampak, observasi Feynman bersifat


analitik, menangkap sentimeter demi
sentimeter dalam objek (“bunga”); ia tak
langsung menangkap
keseluruhan-(Gestalt)-nya. Itu sebabnya ia
merasa yakin mengatakan “saya melihat
lebih banyak lagi tentang bunga”
dibanding yang dilihat teman senimannya.
Tapi sebenarnya apa yang ia hitung?
Bagaimana ia bisa membandingkan?
Berbareng dengan itu, Feynman
menganggap “keindahan” sebagai sesuatu
yang di luar atau berjarak dari si bunga.
“Keindahan” bagi Feynman adalah sesuatu
12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 459
yang di-“milik”-i objek. Sementara dalam
sajak Chairil Anwar, “keindahan” — atau
sesuatu yang mempesona, menyentuh
hati — bukan sesuatu yang di-“milik”-i
oleh lanskapa senja itu; ia tak terpisah dari
benda, alam, manusia dan suasana hati.
Beberapa belas tahun yang lalu saya
pernah, bersama Arief Budiman,
memperkenalkan satu metode yang
menampik pendekatan analitik seperti itu
ke dalam karya sastra. Arief menamainya
“metode Ganzheit”: di sana ditekankan
bahwa dalam proses menikmati karya,
kritikus dan pembaca langsung
meresapkan karya itu dalam totalitas,
Ganzheit-nya — seakan-akan langsung
masuk ke dalam karya; posisi subjek dan
objek berbaur.
Di sana, tak ada “bifurcation of nature”. Di
sana alam tidak dipersepsikan seperti
dibagi-bagi, terpisah-pisah — ala
perspektif sains modern yang dikritik
Whitehead dalam “The Concept of Nature”.
*

12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 460


Whitehead — Alfred North Whitehead.
Rasanya kini saatnya saya bicara lebih
panjang tentang tokoh ini.
Pertama, karena saya merasa perlu
menjawab Sulak. Kedua, karena pemikir ini
— seorang matematikawan, juga filosof
sains awal abad ke-20 yang ternyata bisa
disebut sejiwa dengan perspektif
“postmodernisme”, dan punya banyak
persamaan dengan Deleuze. Whitehead
punya pandangan lain tentang sains.
Izinkan saya mulai dengan yang pertama.
Sulak menilai terjemahan bebas saya atas
satu kalimat Whitehead dalam pengantar
“An Introduction to Mathematics” sebagai
tindakan “menyembunyikan”, “mereduksi”,
“membuat disinformasi”.
Seorang teman menganggap di sini Sulak
“lebay”. Saya lebih menganggapnya
“bingung”. Entah kenapa. Ada dua
kemungkinan: atau pikiran Sulak lagi
ruwet atau bahasa saya yang sungguh
ruwet. Pendeknya Sulak menganggap
bahwa dengan terjemahan saya,
Whitehead “dihadirkan untuk membuat

12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 461


kampanye hitam tentang ilmu yang ia
cintai”.
Lho.
Saya tak mengubah arah makna kalimat
Whitehead. Saya tak memotong kata-kata
Whitehead yang menyebut matematika
sebagai “great science”. Dalam terjemahan
dan kutipan itu saya tunjukkan bagaimana
Whitehead menghargai tinggi matematika,
sebuah disiplin yang muskil, yang tak
mudah untuk dikuasai — seperti hantu
ayah Hamlet dalam lakon Shakespeare.
Maka Whitehead memperingatkan: jangan
gegabah, jangan sembarangan
mempergunakannya untuk
menerjemahkan alam semesta.
Apakah itu “kampanye hitam” buat
matematika?
Terjemahan selalu mengandung tafsir atas
teks. Kalaupun tafsir saya atas teks bisa
saja tak sama dengan tafsir Sulak, tak
berarti saya melakukan “disinformasi”.
Yang pasti, saya tak menunjukkan
Whitehead sebagai pembenci ilmu yang
disebutnya sebagai “ratu geometri” ini.

12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 462


Saya perkirakan Whitehead seperti Sulak,
yang menyatakan matanya berbinar-binar
memandang matematika.
*
Tapi ketimbang menghabiskan energi
buat mempertengkarkan perkara
sampingan ini — “a silly pedantry”, kata
orang Inggris — saya lebih baik
menengok lagi Bab V buku yang sama.
Ada yang mengingatkan saya kepada guru
favorit saya di sekolah menengah.
Ketika saya belajar geometri, ia memberi
pesan: “Ilmu ini jangan kau pikir akan kau
pakai untuk jadi insinyur dan membangun
jembatan. Di sini kamu harus seperti tak
melihat ruang atau garis — hanya angka-
angka. Yang akan kamu dapat latihan
berfikir keras dan teratur”.
Saya kagum akan kata-kata itu — tapi “An
Introduction to Mathematics” memberi
saya kearifan: manusia tak selalu harus
berfikir keras dan teratur.
Dalam Bab V buku ini Whitehead bicara
tentang simbol-simbol matematik dan
perannya, dengan sedikit sejarah.
12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 463
Lambang-lambang matematika
membantu manusia “membuat transisi
dalam penalaran hampir-hampir secara
mekanistis melalui mata”. Dengan adanya
lambang, kata Whitehead itu, manusia tak
perlu mengerahkan “kemampuan yang
lebih tinggi dari otak”.
Bertolak dari sini, Whitehead menunjukkan
betapa salahnya anjuran yang diulang-
ulang agar kita “cultivate the habit of
thinking of what we are doing”. Sebab
kemajuan peradaban terjadi, kata
Whitehaed, bersama makin banyaknya
kerja penting yang dapat kita lakukan
tanpa memikirkannya. “Kerja pikiran”,
“operations of thought”, katanya seraya
menggunakan metafor peperangan, “itu
seperti serbuan pasukan kavaleri”:
jumlahnya sangat terbatas, “mereka
membutuhkan kuda-kuda yang masih
segar”, dan sebab itu harus dilakukan
“hanya pada saat yang menentukan.”
Dari sini kita lihat pandangan Whitehead
tentang prestasi manusia: sebuah paduan
“kerja pikiran” yang bergotong-royong
dengan kerja tubuh (dalam menelaah

12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 464


matematika, ada peran “mata” yang
mengindra lambang-lambang).
Pengalaman manusia dalam istilah
Whitehead adalah “kebersamaan”
(togetherness) dari pelbagai elemen —
tubuh dan pikiran, kesadaran dan alam.
Dari premis ini, dalam “The Concept of
Nature” Whitehead mengritik sains
modern, yang theorinya menjelaskan
pengalaman hanya “semata-mata secara
intelektual” (“a purely intellectual rendering
of experience”), dan dengan pikiran yang
analitik menghasilkan “bifurcation of
nature”, ide tentang alam yang terbagi-
bagi. Ada yang dianggap “primer”, yakni
sisi yang bisa dikuantifikasikan. Sisi yang
kualitatif, misalnya nilai estetik, warna dan
bau, itu “sekunder”.
Dalam perkembangannya, sisi yang
”primer” itu diposisikan untuk menjelaskan
sisi “sekunder”. Dengan bentuk matematis,
sisi ini tak bicara sendiri. Maka warna,
misalnya, tak lain hanya frekuensi-
gelombang elektromagnetik.
Menguraikan “bifurcation of nature”, suara
Whitehead seperti murung. Dalam “Modes
12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 465
of Thought” ia menulis: “The concrete
world has slipped through the meshes of
the scientific net”.
Itulah mula bukanya sains modern.
Whitehead menamakannya “materialisme”,
yang menganggap alam sebagai
himpunan materi, yang mengartikan
waktu sebagai deretan bagian-bagian
yang satu dimensional.
Whitehead anggap ini “buta” karena
hanya berdasar satu sisi pengalaman
manusia. Juga keliru. Karena, seperti
dilakukan sejak Newton, sains modern
“meniadakan moda intuitif kita [buat
memahami dunia]”. Sains modern gagal
menangkap alam sebagai “togetherness of
things”.
Tapi sains modern ini mujur, kata
Whitehead, karena dirumuskan di zaman
ketika pemikiran ilmiah sedang segar-
segarnya. Ia mendominasi bahasa dan
imajinasi sains semenjak sains
berkembang ramai di Alexandria. Ia
berlanjut terus, sehingga sulit hari ini kita
berbicara tanpa menerapkannya.

12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 466


Tak berarti Whitehead menolak sains.
Kritiknya ditujukan ke arah kekekeliruan
sains modern, ketika bertopang pada FMC,
“fallacy of misplaced concreteness” — ya,
kepada kekacauan membaca dunia-
kehidupan. Bagi Whitehead, sains modern
keliru menganggap dunia yang dibentuk
dalam konsep, (dalam kata-kata Husserl,
ditutupi “jubah ide”), seolah-olah itu sang
realitas sendiri.
Dengan semangat “empirisme radikal”,
Whitehead menganggap salah jika sains
hanya berkelana dalam abstraksi — dan
melalaikan yang konkret di dunia dan
nasib manusia.
Tapi ia tak bersikap ekstrim. Ia tahu
abstraksi dalam sains (bahkan dalam
bahasa) tak bisa ditiadakan, hanya perlu
diperbaiki. Ia cuma ingin sains tak
menjauh, bahkan selalu berkelindan,
dengan pengetahuan lain.
Sebab kita tak mengalami dunia hanya
dengan akal. Realitas adalah sebuah
“event”, “kejadian” yang berproses terus.
Dalam tiap kejadian, hubungan
berlangsung antara “objek-objek inderawi”
12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 467
(suara, warna, aroma) dan “objek ilmu”
(molekul, gelombang elektromagnetik),
dan gabungan keduanya.

“When you undertand all and all about the


atmosphere and all about the rotation of
the earth, you may still miss the radiance
of the sunset.”

Dalam konstelasi itu, sains tetap akan


berada di “tempat yang bersih dan
lampunya terang”, untuk meminjam satu
kalimat Hemingway. Sains bukan anggota
masyarakat pengetahuan yang patut
dicurigai. Tapi — dan ini sekali lagi saya
ucapkan dalam polemik ini —ia tak perlu
dipromosikan ke markas komando,
menjadi otoritas tertinggi untuk
kebenaran dan kebijakan.***
Sumber:
https://www.facebook.com/gmgmofficial/posts/3557
211867626253

12 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 468


19 JUNI 2020 | GOENAWAN MOHAMAD

Aku Mengritikmu dengan


Agenda yang Sederhana
Untuk Taufiqurrahman dan kawan-kawan lain

Goenawan Mohamad

Pada tanggal 2 Juni 1897 ada kabar Mark


Twain meninggal. Para wartawan datang
ke rumahnya untuk mengecek. Pengarang
yang kocak itu ternyata masih segar
bugar. Komentarnya, kalau diterjemahkan
dengan gaya Cak Lontong: “Saya? Mati?
Wah, itu dilebih-lebihkan!”.
Demikianlah, ketika dikatakan bahwa
filsafat sudah mati, saya ingin meniru Mark
Twain: “The report of the death of
philosophy was exaggerated.”
*
Maka saya senang membaca tanggapan
kritis Taufiqurrahman atas tulisan saya.
Dari semua yang “menyerang” saya dalam
polemik tentang sains kini, setahu saya

19 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 469


hanya Taufiq — mungkin karena dia
terlatih dalam filsafat —yang tanggap
terhadap soal yang sejak mula saya
sarankan: agar kita menengok bersama
lebih dalam bagaimana sebenarnya sains
“menafsirkan dunia”, bukan hanya
bercerita bagaimana sains “mengubah
dunia”.
Menurut hemat saya, sudah saatnya kita
menelaah sisi epistemologis dari sains —
dan ruangan di FB kita ini tak hanya diisi
cerita tentang seabrek prestasi sains yang
hebat. Katakanlah mengulang-ulang
kehebatan prestasi sains itu penting
sebagai semacam pembelaan, bila
pandangan kritis kepada sains dianggap
sebagai “dakwaan” (kata yang dipakai
Hamid Basyaib). Tapi sesungguhnya tak
perlu pembelaan. Jangan khawatir, Bung
Hamid. Saya (dan saya kira juga Fritz
Sitorus, Budi Hardiman, dan Bambang
Sugiharto) tak menuding sains sebagai
penyelewengan. Saya, misalnya, sudah
berkali-kali, sejak tulisan pertama,
mengatakan, bahwa saya — yang merasa
“rada Popperan” — mengagumi sains.

19 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 470


Yang ingin saya soroti adalah pikiran-
pikiran “positivisme baru” yang
menjunjung kembali beberapa thesis
Positivisme Prancis abad ke-19 yang
sebenarnya sudah lapuk. Belum jelas
benar kenapa semangat ala Comte ini
berkibar lagi sekarang— bahkan dengan
elan dan dogmatisme ala mualaf. Orang
menyebut itu gejala “saintisme”. Tapi saya
tak mau berdebat panjang lagi tentang
istilah itu; maka lebih baik saya melihat
apa yang diyakini Positivisme — baik
Positivisme KW-1 abad ke-19 maupun
“Positivisme” KW-2 abad ke-21:
A. Di dalamnya ada kepercayaan, bahwa
dengan kemajuan pengetahuan manusia,
agama akan lenyap.
B. Di dalamnya ada kepercayaan, bahwa
filsafat akan mati.
C. Di dalamnya ada kepercayaan, bahwa
semua pengetahuan manusia akhirnya
akan jadi produk sains, atau menggunakan
dasar pemikiran dan metode sains
modern. Kalau tidak, akan ketinggalan
zaman, atau bisa dianggap takhayul.

19 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 471


Apa dasar kepercayaan-kepercayaan itu?
Sejauh manakah kepiawaian sains?
*
Taufiq menjawab, dengan kalem dan
jernih: sains memang tidak berpretensi
menjawab semua persoalan. Sains—dalam
arti spesifik: ilmu alam—hanya berupaya
menjawab soal-soal dunia alamiah. Maka,
dalam hal ini, kata Taufiq pula, (dan ini
melegakan hati saya), “ kritik Husserl dan
Heidegger terhadap sains tentu saja
benar.”
“Sebab sains, tak seperti fenomenologi,
memang tidak hendak menangkap
dimensi subjektif manusia dalam
pengalamannya berhadapan dengan
dunia. Sains justru berupaya mengetahui
dunia sebagaimana ia ada dalam dirinya,
bukan dunia sebagaimana yang dialami
manusia.”
Kata Taufiq selanjutnya: “Dunia yang ingin
diketahui sains adalah dunia yang
keberadaannya tidak bergantung pada
pengalaman dan pikiran manusia (“mind-
independent world”), dunia yang objektif,

19 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 472


ada di sana. Dunia semacam itu bisa
diakses oleh manusia melalui matematika,
bukan melalui fenomenologi
transendental ataupun melalui kata-kata
penuh metafora.”
*
Taufiq merujuk ke pemikiran Quentine
Meillassoux, filsuf yang dalam usia muda,
sekitar 30 tahun, mempesona dunia
filsafat Barat. Dengan bukunya yang tak
tebal, (versi Inggrisnya “After Finitude”),
yang ditulis dengan bahasa yang terang,
Meillassoux mencoba dengan serius
menjungkirkan bangunan epistemik
filsafat Barat selama ini: “korelasionisme”.
“Korelasionisme”, kata Meillassoux
sebagaimana yang saya baca dari
ceramahnya di Middlesex Unversity,
London, tahun 2008, “mengambil bentuk
bermacam-macam — filsafat
transendental, fenomenologi, dan
pemikiran “post-modernis”. Mereka ini
bisa saling bertentangan, tapi semuanya
bertolak dari thesis bahwa tak ada objek,
atau kejadian, atau hukum, atau makhluk,
yang selamanya, sejak mula, tidak
19 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 473
berkorelasi dengan satu pandangan
subjek, atau tanpa akses ke satu subjek,
yakni kesadaran manusia. “Mind-
independent world”, dalam kata-kata
Taufiq.
Adapun premis Meillassoux ini berkaitan
dengan temuan para ilmuwan — di
bidang, astrofisika, geologi, paleontologi
— tentang realitas yang ada sebelum
manusia muncul di alam semesta, tentang
fosil dari makhluk yang punah jauh
sebelum ada pengetahuan manusia.
Tersirat, ada beda waktu antara terjadinya
dunia dan lahirnya pikiran, antara
“pemikiran” dan “adanya subjek”, .
Pemikiran “korelasionis” menampik premis
Meillassoux ini. Artinya, menolak filsafat
dengan fundamen Realisme. Realisme
bertolak dari asumsi bahwa realitas adalah
arena tersendiri di luar pembentukan Ide.
Tapi “korelasionisme” tak melihat
kemungkinan kita untuk menjangkau
realitas dalam diri realitas itu sendiri, apa
oleh Kant disebut sebagai “das Ding an
sich”. Bagi “korelasionisme”, tak ada yang

19 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 474


secara mutlak independen dari aku, atau
dari zamanku, atau duniaku.
Pendek kata bagi pandangan
“korelasionisme”, kata Meillassoux, pikiran
hanya harus berurusan dengan dunia yang
berkorelasi dengan dirinya. Dan itulah
yang hendak ia koreksi.“Tujuan saya
sederhana,” katanya: “mencoba
membantah tiap pemikiran
“korelasionistis”.
Itu berarti ia akan mencoba menunjukkan
bahwa pemikiran dapat mengakses
realitas sebagaimana adanya — realitas
dalam kondisi murni mandiri dari semua
pengaruh atau tindakan subjek. Dengan
kata lain, dalam filsafat Meillassoux, ada
keyakinan, “sebuah realitas yang terpisah
dari subjek dapat dipikirkan subjek itu”.
Baiklah saya kutipkan apa yang dikatakan
Taufiqurrahman:
“Sifat-sifat objek, sejauh dapat
diformulasikan ke dalam bahasa
matematis, adalah sifat yang objek yang
independen dari persepsi atau sensasi kita,
sifat yang tidak hanya ada karena kita ada,

19 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 475


tetapi juga bisa ada meskipun kita tidak
ada. Dengan kata lain, ia adalah sifat objek
di dalam dirinya, bukan objek sejauh
terpersepsi oleh kita”.
*
Ini sebuah pendekatan yang segar untuk
membicarakan sains. Ini mudah-mudahan
bisa membuat percakapan kita tak jadi
pengusutan (“inkuisisi”) siapa yang anti-
sains dan siapa yang setia sampai mati.
Ada dua catatan untuk Taufiq.
Pertama, ia tidak menganggap sains
sebagai satu-satunya jalan terang — atau
jalan yang paling diridhoi Logos —untuk
memahami dunia dan kehidupan. Taufiq
bukan neo-positivis. Seperti saya.
Alhamdulillah.
Kedua, Taufiq dengan baik menjelaskan
apa spesialitas sains. Ia mulai dengan
menyebut adanya dua “kualitas” dalam
benda-benda dalam alam, seperti dalam
teori John Locke: kualitas primer (“primary
qualities”), yang dibedakan dari kualitas
sekunder (“secondary qualities”) seperti
warna, panas, dan bau.
19 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 476
“Panas, misalnya, adalah kualitas objek
yang baru muncul begitu ada relasi antara
subjek dan objek, begitu subjek
menyentuh objek pembawa sifat panas”.
Dengan kata lain, kualitas itu muncul
karena adanya relasi subjek-objek. Maka
tingkat kepanasan objek yang sama akan
terasa berbeda bagi subjek yang berbeda.
Tapi sebagai temperatur, karena bisa
diformulasikan secara matematis,
bukanlah kualitas yang bergantung pada
sensasi subjek. Siapa pun subjek yang
mengukurnya, temperatur dari objek yang
sama dalam kondisi yang sama akan
tetap.”
Dengan demikian, kata Taufiq, sains,
“melalui perangkat matematisnya, mampu
menggambarkan dunia sebagaimana
adanya, dunia yang independen dari
segala bentuk subjektivitas manusia.”
*
Karena saya belum paham benar
pemikiran Meillassoux, saya masih
dirundung pertanyaan: jika “primary
qualities” adalah kualitas pada sesuatu
yang tak bergantung pada hubungannya
19 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 477
dengan kita, dari mana datangnya asumsi
bahwa ia dapat di-matematika-an?
Dengan kata lain, jika “kualitas primer” itu
dapat dimatematiskan, tidakkah itu berarti
ia tidak otonom dari manusia?
Mungkin Meillassoux akan menjawab,
mereka akan tetap punya kualitas itu
bahkan ketika tak ada lagi manusia. Tapi
itu berarti, seperti dikemukakan dalam
kritrik Graham Harman, pelopor “object-
oriented-onthology”, (jadi sebenarnya
sama-sama dalam “mazhab” Realisme
Spekulatif), Meillassoux
mencampuradukkan pengertain
keterlepasan dari masa hidup manusia,
dengan pengertian otonomi dari
jangkauan pikiran manusia.
Atau kritik Ray Brassier, yang juga, seperti
Harman, seorang pemikir “mazhab”
Realisme Spekulatif. Bagi Brassier,
Meillassoux mempertaruhkan otonomi
das-Ding-an-sich (“the in-itself”) ke dalam
rangka kronologi atau acuan waktu; ia
meletakkan “arche-fossil” dalam
parameter temporal: sebelum dan sesudah
zaman manusia. Padahal parameter itu,

19 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 478


waktu yang terukur itu, adalah waktu
manusia, waktu subjek yang sadar. Di sini,
ia tergelincir ke dalam premis
“korelasionis”.
Lalu?
Barangkali kita perlu kembali ke Realisme
bodo-bodoan: sains tak mungkin
menjangkau sesuatu yang di luar
pemikiran manusia. Meskipun ia dapat,
dengan metodenya, mampu independen
dari subjektivitas manusia, dalam batas
tertentu, dalam kondisi tertentu.
Lebih sederhana lagi, seperti dikatakan
Taufiq, “sains—dalam arti spesifik: ilmu
alam—hanya berupaya menjawab soal-
soal dunia alamiah.” Dengan serius dan
piawai.
Tak perlu kita buru-buru masuk ke dalam
“fideisme”. Iman kepada yang Maha
Dahsyat bisa terjadi dalam pelbagai cara,
dengan pelbagai alasan, melalui pelbagai
jalan — tak selamanya karena kebuntuan
nalar, atau kebodohan, atau karena
kesadaran akan kedaifan. Juga tak
selamanya diartikulasikan dalam agama

19 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 479


(yang tak jarang malah menciderainya).
Bahkan kadang-kadang tak diucapkan
sama sekali.
Kita tahu kaum neo-Positivis memusuhi
dogmatisme agama, dogmatisme kaum
“Jorgeis”. Maka diharapkan mereka juga
meninggalkan sikap dogmatis mereka atas
nama sains. Kritik yang umumnya
ditembakkan keras ke arah “saintisme”
(atau yang sejenis ini) ialah sikapnya yang
menjunjung sains sebagai hakim, atau
sebagai pemegang monopoli
pengetahuan.
Mumpung filsafat belum mati,
meninggalkan itu sebenarnya agenda
yang sederhana.***
Sumber:
https://www.facebook.com/gmgmofficial/posts/3576
521859028587

19 Juni 2020 | Goenawan Mohamad | 480


19 JUNI 2020 | ULIL ABSHAR ABDALLA

Tentang Korrelasionisme
Catatan kecil untuk Goenawan Mohamad
Ulil Abshar Abdalla

Percakapan tentang filsafat dan sains


masih berlanjut, dan saya menikmatinya.
Dalam catatannya yang terakhir yang baru
dirilis beberapa jam lalu di laman fb-nya,
Mas Goen menyinggung nama filsuf
Perancis Quentin Meillassoux yang
menulis buku "After Finitude" (terjemahan
Inggrisnya, menurut saya, kurang bagus!).
Salah satu gagasan penting Meillassoux
adalah kritiknya atas apa yang ia sebut
"korrelasionisme", yaitu cara berfilsafat
setelah Immanuel Kant yang
membayangkan manusia tak mungkin ada
tanpa dunia, atau dunia tak mungkin ada
tanpa manusia.
Meillassoux berpandangan bahwa dunia
bisa ada dan memiliki "qualities" pada
dirinya sebelum ada manusia. Sebab,

19 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla | 481


dalam sejarah alam raya yang berumur
13,8 miliar tahun ini, umur manusia
barulah beberapa detik saja. Sesuatu pada
dirinya sendiri (disebut oleh Kant sebagai
"das Ding an sich") jelas ada sebelum
manusia muncul. Itulah yang disebut
Meillassoux sebagai "ancestrality" (judul
bab pertama dalam bukunya).
Jalan untuk mengetahui "qualities" segala
sesuatu pada dirinya sendiri, ada atau tak
ada manusia, menurut Meillassoux, adalah
melalui matematika. Baginya, matematika
adalah sejenis realitas sesuatu pada
dirinya sendiri yang independen dari
manusia (filsuf Muslim biasa
menyebutnya: "al-'alam al-khariji").
Saya melihat, langkah Meillassoux ini
adalah bagian dari trend besar dalam
pemikiran filsafat di Barat yang hendak
"membunuh manusia" (setelah
sebelumnya membunuh Tuhan!). Ini
adalah "the latest attempt at the killing of
God and, by its default, human".
Kecenderungan ini paling menonjol dalam
tradisi filsafat Perancis. Apakah ini ada

19 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla | 482


kaitan dengan konsep "laïcité" yang keras
di negeri itu?
Saya tak cocok sama sekali dengan gaya
berpikir seperti ini. Bagi saya, manusia
adalah pusat dari seluruh pekerjaan
pengetahuan. Seluruh bangunan sains
modern hanya mungkin tegak dengan
mengandaikan adanya agen penting: yaitu
manusia.
Tanpa manusia, seluruh "struktur
komprehensibilitas" (ingat perkataan
Einstein: the most incomprehensible thing
about the universe is that it is
comprehensible) yang kita jumpai dalam
alam raya ini, menjadi tak berguna sama
sekali.
Tragedi filsafat Barat, menurut saya,
adalah adanya "the will to homicide",
kehendak untuk "membunuh manusia",
dengan satu dan lain cara, setelah
menuntaskan babak sebelumnya: theocide,
membunuh Tuhan. Apa yang dilakukan
oleh Meillassoux ini adalah bagian dari
tendensi homisidal ini.

19 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla | 483


Sebab, selama manusia belum dibunuh,
kemungkinan Tuhan atau metafisika
tradisional balik lagi ke panggung sejarah,
akan terus ada. Dan filsafat Barat
tampaknya memiliki trauma terhadap
Tuhan.
Kritik sederhana pada Meillassoux (saya
tak bisa menghindar dari nama Ari Lasso),
menurut saya, adalah: bahkan kritik atas
"metafisika" (saya menyebutnya demikian)
korrelasionisme yang ia kerjakan itu hanya
mungkin diselenggarakan oleh subjek
yang sadar, yaitu seorang filsuf bernama
Meillassoux.
Atau lebih jauh lagi: apa yang disebut
"matematika" (oleh Meillassoux dianggap
sebagai jalan untuk menembus realitas
sesuatu pada dirinya, "irrespective of the
beholding subject") adalah hasil kerja
subjek juga, yaitu manusia. Saya bertanya:
Apakah mungkin lari dan menghindar dari
manusia dalam seluruh "knowledge
formation"?
Rasasanya mustahil. Pada akhirnya,
pembentukan pengetahuan adalah "a
humanist undertaking", pekerjaan manusia
19 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla | 484
dengan seluruh struktur "finitude" yang
mengepungnya dari segala sisi. Itu
pendapat saya.
Kembali kepada soal korrelasionisme:
pada akhirnya, "das Ding an sich,"
sebagaimana dikatakan Kant, tidak
mungkin ditembus. Tetapi saya lebih
menyukai istilah para sufi (biar tidak
pinjam bahasa orang Eropa terus) "sirrul
al-asrar," rahasinya rahasia.
Sains hanya mengungkap satu lapis
"rahasia natural" dengan metode tertentu,
dan dengan mengandaikan bahwa rahasia
ini terungkap dalam relasi antara objek
dan subjek (=manusia).
Tetapi ada lapis rahasia yang lain, yaitu
sesuatu pada dirinya sendiri. Lapis inilah
yang tidak bisa ditembus. Meskipun saya
bertanya-tanya pula: apakah tak bisa
ditembus sama sekali, atau tidak bisa
ditembus melalui metode sains?
Belum lagi memperhitungkan pertanyaan
lain: apakah "properties" dari "das Ding" itu
hanya sebatas "natural properties"? Tidak
mungkinkah ada "properties" lain (tentu

19 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla | 485


tak ada sangkut-pautnya dengan bisnis
properti)?
Anyway, terima kasih untuk GM yang telah
membawa kita pada percakapan yang
menarik tentang sains, tidak semata-mata
dengan "sikap berkhidmat", tetapi juga
curiga. Jika terhadap agama dan
metafisika berlaku "tatapan kritis", kenapa
tidak berlaku tatapan yang sama terhadap
sains?
Dan, seperti kata GM, tatapan ini tidak
harus dimaknai sebagai "dakwaan" atas
sains, atau apalagi mewakili sikap regressif
ke dalam metafisika tradisional yang
dianggap akan mengganggu kemajuan
sains.***
Sumber:
https://www.facebook.com/ulil67/posts/1016391135
2495533

19 Juni 2020 | Ulil Abshar Abdalla | 486


15 JUNI 2020 | HAMID BASYAIB

Romantisisme dan Falasi


Memedi Goenawan
Mohamad (1 dari 6)
Hamid Basyaib

Bukan hanya menarik, tapi penting. Itulah


kesan pertama saya dari membaca
polemik antara sastrawan A.S Laksana
[selanjutnya, Sulak] dan penulis Catatan
Pinggir majalah Tempo Goenawan
Mohamad [selanjutnya, GM atau
Goenawan] di laman Facebook beberapa
hari terakhir.
Menarik, karena di sana banyak muncul
proposisi yang inspiratif, dan penting,
karena isu yang dibahas adalah perkara
sains, hal yang bagus dibicarakan terus di
tengah suasana umum negeri kita yang
semakin diwarnai cara berpikir religius.
Polemik mereka, yang dengan cepat
dimeriahkan oleh banyak peserta lain,
penting dalam konteks penumbuhan

15 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 487


budaya keilmuan, guna menanamkan
perangai ilmiah (scientific temper) pada
publik, bukan agar mereka semua jadi
ilmuwan.
Saya berdiri di barisan Sulak, dan
karenanya akan turut menyanggah
presentasi Goenawan; sambil di sana-sini
menyinggung poin-poin tertentu para
peserta lain. Tapi saya merasa harus
pertama-tama melihat konstruk umum
presentasi ide Goenawan, terutama yang
rutin dituangkan dalam Catatan Pinggir,
yang ditulisnya sejak 1976, praktis tanpa
putus sampai pekan lalu. Sudah ada
2000an esai pendek itu, dihimpun dalam
sedikitnya 12 jilid antologi. Ini
mempermudah kita untuk menemukan
rujukan, misalnya tentang contoh-contoh
untuk apa yang saya maksud.
Menyoroti presentasi umum Goenawan
saya pikir bermanfaat, karena ia esais
paling produktif dan berstamina paling
panjang, selain merupakan stylist terbaik
Indonesia; ia telah menulis selama enam
dekade tanpa henti.

15 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 488


Secara umum semua esai Goenawan
dilandaskan pada apa yang disebut
strawman fallacy oleh cognitive science
(dan psikologi sosial). Ia sendiri
menyinggung pengertian itu dalam
tanggapannya kepada Sulak; ulasan Sulak
ia anggap seperti memukul "memedi
sawah" alias salah sasaran; maka bolehlah
kita indonesiakan istilah itu dengan "falasi
memedi".
Makna strawman fallacy adalah: seseorang
mengartikan pendapat orang lain secara
keliru, lalu menyanggah pemaknaan opini
yang keliru itu. Misalnya A berpendapat
gula pasir sekarang lebih putih dan kurang
manis, lalu B menganggap A berpendapat
bahwa gula pasir sekarang lebih kuning
dan lebih manis, lalu ia mengritik A karena
berpendapat gula pasir sekarang lebih
kuning dan lebih manis.
Falasi memedi biasanya diikuti oleh
motivated reasoning, yaitu penalaran yang
didorong oleh hasrat untuk melakukan
pembenaran terhadap apa yang diyakini,
bukan oleh kehendak menyajikan fakta-

15 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 489


fakta [meski fakta-fakta itu tidak sesuai
dengan apa yang kita yakini].
Si B tadi akan membantah "gula lebih
manis" si A dengan berfokus pada
pernyataan yang tidak pernah dikatakan
oleh A itu. Untuk itu ia akan menerapkan
confirmation bias, ini level lanjutan dari
motivated reasoning, yaitu sikap yang
hanya memilih data dan fakta yang cocok
untuk menyanggah "gula lebih manis",
bukan data untuk membantah "gula
kurang manis" seperti yang dimaksud si A.
Maksudnya tentu saja agar data itu cocok
dengan skema yang sudah terbentuk di
pikirannya berkat falasi memedi tersebut.
Selanjutnya, B akan menebar berbagai
ilustrasi berupa anecdotal evidence di
sekujur tulisannya, yaitu satu-dua contoh
kecil yang dianggap atau ingin dikesankan
B sebagai ilustrasi yang relevan, tapi
sesungguhnya meleset atau tidak
merepresentasikan situasi umum yang
sebenarnya.
Dalam operasinya, falasi memedi tidak
harus berupa pendapat satu orang, tapi
bisa merupakan anggapan tentang adanya
15 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 490
pendapat suatu kolektifitas tentang
masalah tertentu.
Begitulah, misalnya, Goenawan menulis:
"Penyidik bukanlah orang yang mendapat
wahyu Tuhan" (Tempo, dimuat kembali di
FB, 17 November 2019). Ini tentu
didasarkan pada anggapan bahwa ada
orang atau sekumpulan orang yang
berpendapat penyidik adalah orang yang
mendapat wahyu Tuhan, meski Goenawan
menyembunyikan identitas pihak yang
beranggapan demikian [“penyembunyian”
ini memang keniscayaan yang lazim
karena ketakmampuan mengidentifikasi].
Kalimat topik yang membingkai
keseluruhan tulisannya itu diikuti dengan:
"Setidaknya saya berbicara tentang
Sherlock Holmes, detektif termashur
dalam cerita-cerita Arthur Conan Doyle.
Juga tentang Romo Brown, pastur Katholik
yang memecahkan kasus-kasus kejahatan
dalam fiksi G.K. Chesterton."
Konsekuensi pernyataan ini tidak bisa lain
kecuali: dua contoh figur yang dipetik dari
karya fiksi itu adalah penyidik yang tidak
mendapat wahyu Tuhan, sedangkan
15 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 491
semua atau kebanyakan penyidik lainnya
(tentu maksudnya di dunia nyata, bukan di
novel detektif) mendapatkan wahyu Tuhan
dalam menjalankan kerja penyidikannya.
(Pasti maksud GM adalah penyelidik,
bukan penyidik; keduanya punya
pengertian berbeda).
Argumen-argumen pendukung untuk
klaim itu kemudian bergerak di sepanjang
jalur motivated reasoning dan seterusnya
tadi.
"Demokrasi adalah surat cinta yang
hambar," tulis Goenawan (Tempo, dimuat
kembali di FB). Ini mengasumsikan ada
orang yang berpendapat bahwa
demokrasi adalah surat cinta, dan
mungkin ia menyetujuinya; namun, sambil
mengakuinya, ia berpendapat surat cinta
itu hambar. Jika demikian, apakah
demokrasi harus diganti dengan surat
cinta yang tidak hambar?
Uraian selanjutnya adalah rangkaian
confirmation bias, meski di sana ia tidak
mampu mempertahankan irama metaforis
yang seakan ia janjikan di kalimat
pembuka. Ia menyebut lembaga legislatif,
15 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 492
misalnya, dengan nama harfiahnya – DPR -
- dan tidak diibaratkan dengan hal lain;
misalnya "calon mertua yang judes" atau
"ipar yang mengecewakan" (paralel
dengan “surat cinta yang hambar” untuk
demokrasi).
Baiklah, kita mudah memahami bahwa
Goenawan, seorang penulis yang terlalu
gandrung bermain metafor,
mengibaratkan demokrasi sebagai hal
atau janji yang menyenangkan tentang
suatu sistem politik ideal (indah seperti
"surat cinta"), tapi ia telah bermain-main
dengan metafor yang risky, yang mudah
sekali terlihat inkonsistensi dan
inkoherensinya, bahkan di tingkat
permainan metafor itu sendiri.
Dan dengan itu pula ia meremehkan
keseriusan isu demokrasi, suatu sistem
politik yang diterapkan di semakin banyak
negara dengan tingkat sukses masing-
masing, dan dipelajari oleh beribu-ribu
mahasiswa ilmu politik dengan tekun di
kampus-kampus di seluruh dunia.
Adalah sikap serampangan jika dengan
semua itu demokrasi hanya dicibir sebagai
15 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 493
"surat cinta yang hambar" -- betapa
bodohnya para pemimpin dunia dan para
sarjana itu, yang susah payah menekuni
isu demokrasi, padahal ia setara dengan
secarik surat cinta belaka, hambar pula.
Bagaimana jika seorang sarjana elektro
menyebut, misalnya, "Puisi adalah arus
listrik yang terpotong korsleting sebelum
ia mencapai SUTET?" Atau pakar kimia
menulis: "Teater, drama modern, adalah
tabung-tabung reaksi yang kekurangan
zat-zat esensial"? Ahli ilmu politik bisa
menulis tentang seni tari seperti ini:
"Tarian adalah sistem elektoral yang tak
dilengkapi KPU untuk mengawasi
pelaksanaannya."
Para seniman penggiat jenis-jenis
kesenian itu sangat mungkin
mengernyitkan dahi terheran-heran
dengan metafor ganjil itu (meski mungkin
terdengar indah), jika bukan jengkel dan
marah terhadap penggambaran yang
semau-mau itu.
Di sini kita masuk ke problem Goenawan
yang lain: ia membahas apapun, atau
dalam hal ini masalah yang bersifat sosial,
15 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 494
dengan menjadikan individu sebagai unit
analisis. Ia gemar menggunakan analogi
dan metafor individual.
Tentu saja metode ini lebih sering meleset
daripada tepat. Seperti sudah lama
ditunjukkan oleh studi sosiologi dan
psikologi, "logika" yang berlaku bagi
individu berbeda dari logika sosial atau
kolektifitas; berbeda pula kompleksitasnya
jika masuk variabel negara.
Pertanyaannya: mengapa ide Goenawan
berciri demikian?
Mau tak mau kita menyandarkan tendensi
itu pada aliran atau corak filsafat yang
dianutnya, yaitu Romantisisme yang
muncul di akhir abad ke-19, sebagai reaksi
terhadap mekarnya filsafat Pencerahan
(Enlightenment) di Eropa. Ya, meski
merupakan reaksi terhadap Pencerahan,
sejarawan menamai aliran itu
"Romantisisme", bukan filsafat
"Penggelapan" atau "Penyuraman";
mungkin karena maksudnya: para
Romantisis mendambakan suasana
sediakala, sebelum Pencerahan merajalela

15 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 495


dan menjadi semangat dominan. Dan
dengan ini kita masuk ke isu sains.
Pencerahan bertumpu pada empat pilar:
reason, science, humanism dan progress --
buku Steven Pinker Enlightenment Now,
Penguin [2018], menjelaskan ini dengan
lengkap dan sangat baik. Pencerahan
percaya bahwa kemanusiaan akan terus
maju berdasarkan penalaran dan
pengutamaan manusia atas rasio, bukan
hal-hal lain seperti tahayul dan mitologi,
yang menghambat kemajuan intelektual
manusia dan pengembangan potensi
pribadinya secara penuh. Tahayul dan
mitos memang terkadang punya makna
sosial yang penting, misalnya untuk
integrasi bangsa.
Sebuah bangsa, masyarakat atau
komunitas tertentu bisa rekat jika
anggota-anggotanya meyakini mitos dan
tahayul tertentu (meski hal ini pun
menyimpan bahayanya sendiri jika
misalnya bangsa lain meyakini mitos yang
berlawanan). Namun secara umum tahayul
dan mitos mengaburkan kejernihan
berpikir manusia.

15 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 496


Tapi karena apa yang muncul dari
reason/rasio tidak niscaya rasional atau
masuk akal, maka sains berfungsi
membereskan [refining] reason itu agar
yang muncul dari sana adalah pertanyaan
atau opini yang bermakna, yang bisa
dipercakapkan secara inter-subjektif.
Tanpa sains, maka tukang sihir, dukun, ahli
nujum ataupun remaja yang putus cinta,
misalnya, bisa mengeluarkan macam-
macam hal yang tidak rasional dari rasio
mereka. Karena semangat pembebasan
itulah maka Pencerahan disebut suatu
Revolusi Humanitarian.
Kaum Romantisis menentang penekanan
atas keunggulan rasio tersebut, dan
menekankan hal lain untuk meraih
kemanusiaan terbaik, yaitu dengan
prinsip-prinsip estetika. Kaum Romantisis
tahu bahwa dunia ini bukan puisi, tapi
justru karena itu ia harus diupayakan
menjadi puisi (sesuatu yang indah).
Mereka, menurut Stanford Encyclopaedia
of Philosophy (SEP), cenderung melakukan
puitisasi (poeticizing) atas dunia.

15 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 497


Memang tidak mudah merumuskan apa
dan bagaimana aliran filsafat
Romantisisme itu, apalagi ada pula
perbedaan tekanan di negara-negara
berbeda (Jerman, Inggris, Prancis). Arthur
Lovejoy, pembentuk disiplin history of
ideas, misalnya, putus asa dengan sifat
elusif aliran ini, sehingga ia menyebutnya
"skandal sejarah dan kritik sastra."
Kesulitan utama dalam memahaminya,
kata dia, ialah karena tiadanya “entitas real
yang tunggal, atau tak adanya tipe entitas”
sebagaimana yang dimaksud dengan
konsep “romantisisme”. Kata “romantics”
digunakan untuk memaknai begitu banyak
hal, sehingga istilah itu sendiri akhirnya
tidak berarti apa-apa.
Isaiah Berlin, sambil memaklumi
keputusasaan Lovejoy dalam
mengidentifikasi apa maunya kaum
romantisis itu, tak sejalan dangan
skeptisisme radikal Lovejoy, dan
menganggap sejumlah ciri umum
Romantisisme bisa dipetakan. Faktanya,
kata Berlin, gerakan Romantisisme pernah
ada; ada sesuatu yang yang sentral di

15 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 498


dalamnya; ia menciptakan sebuah revolusi
kesadaran, dan karena itu penting untuk
mengungkapkannya.
Estetika, ide sentral dalam Romantisisme,
lazimnya dihubungkan dengan seni dan
keindahan atau cabang filsafat yang
mempelajari aspek-aspek ini. Namun,
banyak penganut Romantisisme yang
menolak pembatasan estetika dalam
kehidupan manusia hanya pada aspek-
aspek itu saja, atau memisahkan wilayah
praktis dan wilayah teoretis dalam
kehidupan.
Jadi, ciri yang paling menonjol dalam
komitmen romantisis adalah pada
gagasan bahwa karakter seni dan
keindahan serta keterlibatan kita di
dalamnya haruslah mewarnai semua aspek
kehidupan manusia. Estetika hendaknya
menjadi ciri sentral dalam keseharian
hidup orang biasa, bukan hanya bagian
dari kehidupan filosofis dan artistik.
Kesulitan lain dalam mengidentifikasi ciri-
ciri pokok Romantisisme ialah karena
kebanyakan penganutnya adalah penyair
dan seniman yang wawasannya tentang
15 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 499
seni dan keindahan tidak terdapat dalam
bentuk rumusan-rumusan teoretis yang
matang, tetapi hanya berupa penggalan-
penggalan kalimat, semboyan dan puisi.
Bentuk-bentuk ekspresi ini hanya
menyajikan siratan-siratan ide (sugestif)
yang sulit dipegang (elusif), dan tak
mudah disimpulkan (tak konklusif).
Dengan merujuk Romantisisme seperti
dipaparkan SEP itu kita jadi sedikit paham
kenapa, misalnya, Goenawan sangat sengit
terhadap sains, seperti juga terlihat dari
tanggapannya atas kritik Sulak. Dalam
berbagai kesempatan, mudah dilihat
upaya-upayanya untuk "menyelundupkan"
skeptisisme atau ledekannya terhadap
sains – tentu saja bukan dalam bentuk
paparan konseptual yang cukup matang
dan layak didiskusikan.
Di hari-hari pandemi ini kejengkelannya
tampak memuncak menyaksikan betapa
beragamnya pendapat kaum ilmuwan
tentang cara terbaik menghadapi Covid-
19, dan karena itu pemerintah sulit
membuat kebijakan tegas sebagai upaya
mengatasinya; untuk menghambat

15 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 500


penyebaran virus, untuk menetapkan
kapan aktifitas publik bisa dijalankan
kembali (new normal), dan segala hal yang
terkait.
Ilmuwan yang satu menyarankan lockdown
seperti di Wuhan, yang terbukti efektif
menumpas Covid-19. Ilmuwan lain
menyatakan tidak perlu lockdown, sebab
penguncian kota akan melumpuhkan
ekonomi dan bahkan bisa memangsa
korban lebih banyak daripada korban
virus. Pendapat mereka bertentangan,
padahal mereka sama-sama ilmuwan,
bahkan menekuni disiplin yang sama.
Keragaman opini ilmuwan itu membuat
bingung, dan tidak sesuai dengan "janji"
atau citra yang ditampilkan sains dan para
penggandrungnya bahwa kerja sains itu
pasti [bukankah namanya pun “ilmu pasti”
atau “ilmu eksakta”?] dan dengan
demikian sanggup menyajikan solusi cepat
dan tepat. Yang dilupakan Goenawan:
keragaman opini kaum ilmuwan itu
memang berlangsung tiap hari di seluruh
dunia; di laboratorium kampus-kampus

15 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 501


dan pabrik-pabrik obat, di stasiun-stasiun
riset kimia, fisika dan biologi.
Sebuah produsen obat baru, misalnya,
harus berjuang keras untuk mendapatkan
izin pemerintah untuk memasarkan obat
itu, meski seluruh proses pembuatan obat
tersebut, disertai keterangan terinci
tentang kandungan elemen-elemennya,
sudah disertakan. Lembaga negara yang
mengawasi pembuatan dan peredaran
obat-obatan seperti BPPOM di Indonesia
atau FDA di Amerika Serikat, akan meneliti
seluruh proses dan aspek pembentukan
obat itu dari nol lagi, dengan
mengerahkan tim ilmuwan mereka sendiri.
Begitupun, mereka tetap bisa keliru, atau
sekian tahun kemudian mereka
mengoreksi suatu kebijakan yang telah
lama ditetapkan. Salah satu contoh
terbaru adalah keputusan FDA untuk
menghapus kolesterol sebagai unsur yang
paling berbahaya bagi kesehatan manusia.
Setelah lima puluh tahun kolesterol
dinyatakan sebagai momok kesehatan,
dicantumkan di urutan pertama, kini
posisinya digantikan oleh gula; ternyata
15 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 502
gula adalah si manis pembunuh kejam.
Kematian akibat diabetes, misalnya, lebih
duaratus kali lipat dari jumlah korban
terorisme, sampai seorang penulis
menyebutnya, “Coca Cola lebih berbahaya
dibanding Al Qaedah.”
Perbedaan pendapat di kalangan ilmuwan
--bukan di kalangan filosof ataupun
ulama-- adalah rahmat bagi mereka,
membuat ilmu berkembang sangat cepat.
Hal semacam itulah yang disebut Thomas
Kuhn dengan revolusi ilmiah. Ilmuwan
bekerja dengan paradigma tertentu, ini
disebutnya “normal science”, lalu ilmuwan
lain mengoreksinya, dan dengan itu terjadi
“paradigm shift”. Kontroversi di seputar
bukunya, The Structure of Scientific
Revolution [terbit pertama kali 1962], bisa
menjadi diskusi tersendiri.
*
Dalam diskusi "Berkhidmat pada Sains"
yang diadakan Ikatan Dokter Indonesia itu,
Goenawan kembali menekankan bahwa
"sains bukan segala-galanya", seakan ada
orang yang menganggapnya demikian.

15 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 503


Falasi memedi terus membayanginya di
mana pun.
Bahwa sains bukan segala-galanya
tentulah sebuah truism, self-evident
statement, pernyataan yang dengan
sendirinya benar dan karenanya tidak
memerlukan pembuktian panjang-lebar.
Menyatakan hal itu adalah “stating the
obvious”.
Setiap orang yang cukup paham
metodologi sains (rangkaian proses
menuju hasil akhir atau kesimpulannya),
apalagi kaum ilmuwan sendiri, tentu
paham betul bahwa sains memang bukan
segala-galanya. Sama juga: ilmuwan juga
tidak mungkin bersikap arogan atau
memiliki "kecongkakan saintifik"; bukan
karena para ilmuwan adalah orang-orang
yang rendah hati, tapi karena watak-dasar
ilmu itu sendiri tidak memungkinkan
mereka bersikap demikian.
Pada umumnya, beginilah proses tipikal
kerja sains: bermula dari gejala yang
teridentifikasi, lalu gejala itu diobservasi,
lalu dirumuskan sebagai hipotesis,
kemudian didiskusikan untuk didalami
15 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 504
aneka kemungkinannya guna
mendapatkan cara paling efektif untuk
mengetahui karakter utamanya, lalu
dieksperimentasi di laboratorium,
kemudian diverifikasi, mungkin tahap
eksperimen dan verifikasi ini diulangi
beberapa kali, lalu ditarik kesimpulan
tentang hal-ihwal objek tersebut (bisa
berupa benda, proses, elemen baru, dsb).
Jika ilmuwan yang mengerjakan proyek
riset itu ingin mengumumkan temuan
tersebut di jurnal ilmiah, maka mereka
wajib memaparkan seluruh proses berikut
cara kerja mereka itu ke dalam naskah.
Editor akan menyebar naskah itu kepada
sejumlah ahli untuk diperiksa validitasnya
(misalnya untuk melihat adakah tahap-
tahap riset yang terlewati atau dilalui
dengan keliru), adakah kemungkinan
duplikasi dengan karya sebelumnya (yang
bisa berarti terjadi penjiplakan atau
setidak-tidaknya karya itu tidak orisinal
atau bukan karya terobosan), dan
sebagainya.
Jika naskah itu lolos dari peer review itu,
yang dilakukan dengan menutup nama

15 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 505


penulis teks (blind review), barulah ia
diterbitkan, bukan hanya untuk diketahui
para rekan sejawat tapi juga untuk dikritisi
seluruh aspeknya; ini menjadi semacam
pertanggung jawaban sosial dan ilmiah
keilmuan.
Sebab pelaku riset pun tidak pernah yakin
sepenuhnya tentang validitas temuannya
(dan memang mereka, kata ahli
epistemologi Karl Popper, tidak boleh
bersikap yakin!), dan jika ditemukan sedikit
saja kekeliruan, maka validitas temuan
baru itu mungkin dianggap gugur dan
perlu disempurnakan.
Bisa juga terjadi: temuan itu lolos uji peer
review, dan bertahun-tahun setelah ia
diterbitkan mungkin ia dikoreksi oleh
ilmuwan lain di tempat lain; mungkin pula
ia justru menginspirasi saintis lain untuk
meneliti lebih lanjut aspek-aspek tertentu
dalam paparan hasil riset awal itu.
Prosedur sains ini berbeda dari “prosedur
filsafat”, yang rentan manipulasi, seperti
terjadi pada Alan Sokal di tahun 1990an.
Fisikawan Universitas New York itu
mengirim artikel kepada Social Text, jurnal
15 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 506
cultural studies dan posmodernisme
terbitan Universitas Duke; setelah dimuat,
Sokal mengungkap di jurnal Lingua Franca
bahwa artikel itu hoax.
Dia mengaku menulis secara ngawur saja,
tapi seolah-olah canggih, dengan taburan
macam-macam istilah yang ia karang
sendiri sekenanya, untuk membuktikan
bahwa kerangka “keilmuan” yang dianut
kubu leftist itu kabur. Sokal berhasil.
Tulisannya yang ngawur itu ternyata bisa
dimuat di Social Text, salah satu jurnal
paling bergengsi di bidangnya. Tanpa peer
review, tentu peluang pemuatan tulisan
yang awut-awutan semakin besar – meski
tulisan itu terkesan canggih.
Itulah saya rasa yang dimaksud Sulak
bahwa sains itu ibarat komputer jaringan,
yang simpul-simpulnya saling mendukung,
sehingga sains bisa berkembang begitu
cepat, termasuk dalam mekanisme koreksi
atas kesalahan-kesalahannya.
Sedangkan filsafat seperti stand-alone
computer alias komputer ijen, yang pasti
kalah cepat perkembangannya dibanding

15 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 507


sains karena sifat eksklusif dan soliternya
itu.
*
Metode sains yang sangat ketat dan terus
disempurnakan ini tidak mungkin
ditandingi oleh jenis-jenis pengetahuan
lain -- kalaupun semua orang, dari bangsa
mana pun, setuju belaka dengan teriakan
cemas kaum filosof atau insan religius
bahwa sains bukanlah satu-satunya jenis
pengetahuan untuk mencapai kebenaran.
Teriakan mereka tidak pernah sedikit pun
disertai penjelasan tentang proses-
prosedur operasi jenis-jenis pengetahuan
non-sains itu, sementara metodologi sains
telah dipaparkan sedemikian gamblang,
tanpa penyembunyian apapun, sehingga
setiap orang bisa mengujinya.***
Sumber:
https://www.facebook.com/hamid.basyaib/posts/10
158383963089894

15 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 508


16 JUNI 2020 | HAMID BASYAIB

Romantisisme dan Falasi


Memedi Goenawan
Mohamad (2 dari 6)
Hamid Basyaib

Prosedur metodologis juga mungkin


mencakup modeling, yang mungkin
dikerjakan oleh ilmuwan lain dari sisi
teoretis, misalnya ahli fisika kuantum atau
fisika partikel, pakar biologi molekuler dan
sebagainya, yang pasti melibatkan
penerapan matematika. Dan matematika
bukanlah sekadar angka-angka (meski
namanya mirip aritmatika).
Matematika malah makin cenderung
meminimalkan pelibatan angka dan lebih
menonjolkan simbol-simbol lain. Inilah
sebabnya matematika disebut sebagai
bahasa ilmu, sebagaimana bahasa Inggris
dinyatakan sebagai bahasa pergaulan
internasional.

16 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 509


Persamaan mashur Einstein tentang teori
relativitas, misalnya, hanya mencantumkan
satu angka sebagai tanda kuadrat saja;
semua elemen lainnya adalah huruf,
simbol sesuatu yang konseptual dan bisa
sangat panjang elaborasi matematis
maupun verbalnya.
Pembuatan model bukan berarti
mereduksi realitas, seperti didakwakan
Goenawan, tapi demi memungkinkan
sesuatu itu diteliti untuk diketahui. Tanpa
modeling, maka rembulan, dalam
posisinya terhadap bumi, misalnya, hanya
bisa dilihat-lihat saja dari jarak jutaan
kilometer sambil ditebak-tebak tanpa
ujung pangkal, dan pada umumnya
tebakan itu salah besar.
Misalnya pengarang lagu memuja
kecantikan gadis pujaannya dengan
menyamakannya dengan rembulan atau
bulan purnama –suatu pemujaan yang
membuat ahli astrofisika terheran-heran,
prihatin, tapi kemudian mungkin
tersenyum maklum akan ketakmengertian
sang perjaka malang.

16 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 510


Model, penetapan simbol-simbol, menurut
Goenawan merupakan pemiguraan
[framing] atas realitas, seperti dikatakan
Martin Heidegger, yang terlalu sering
dikutipnya. Ia mencontohkan apa yang
terjadi dalam kerja ilmu kimia. Segala jenis
air, misalnya, kata dia, diringkus dengan
simbol H2O. Padahal air yang dirumuskan
dengan simbol kimia itu berbeda – ada air
minum, air di vas bunga, air di comberan.
Ini kritik yang aneh sekali.
Padahal tiap hari ia sendiri meringkus
realitas dengan bahasa. Realitas memang
tidak pernah bisa dihadapi langsung apa
adanya. Ia terlalu kompleks. Bahasa
dengan sendirinya adalah konseptualisasi
atas realitas -- dengan demikian ia niscaya
"meringkus”, “mereduksi”, “memigura”.
Dalam contoh air tadi, misalnya, air –
terdiri atas huruf-huruf a, i dan r dalam
bahasa Indonesia – adalah simbol untuk
sejenis benda cair dalam bahasa sehari-
hari ataupun bahasa literer. Dalam bahasa
kimia ia disebut H2O, dan dari segi struktur
atomik dan sifat-sifatnya sama saja antara
H2O comberan atau air pegunungan. Jika

16 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 511


orang menyebut “bumi”, apakah orang itu
bermaksud mengatakan bahwa ia sedang
menunjuk sesuatu yang berisi 8.000.000
spesies dengan segala macam
kompleksitasnya?
Jika penyair menyebut “laut” dalam
puisinya, apakah ia mencakup proses
terbentuknya hal itu beserta miliaran biota
yang ada di dalamnya? Bumi, laut, pohon,
pisang goreng, soto babat, gunung dan
semua kata lain adalah simbol dalam
bahasa literer. Tapi Goenawan tidak
pernah mengeluhkan peringkusan dan
reduksionisme kronis atas realitas ini.
Tanpa pernah melihat the elephant in the
room, ia hanya sibuk mempersoalkan
pemiguraan oleh bahasa sains -- tidak
kena pula.
Sains memigura realitas, kata Goenawan,
dan ia mengajukan alternatif cara melihat
yang bebas dari pigura: seni. Alternatif
yang ditawarkannya ini benar-benar
mengejutkan. Seni mana yang bukan
merupakan pigura atas realitas? Dalam
seni, pemiguraan itu bahkan bisa terjadi

16 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 512


berlapis-lapis, dan dengan demikian
reduksi yang terjadi pun berlapis-lapis.
Riwayat hidup Alexander Hamilton
dipigura oleh seorang pakar ilmu politik
menjadi biografi, lalu dari pigura itu Lin-
Manuel Miranda memiguranya menjadi
drama musikal “Hamilton”, sensasi teater
sejak beberapa tahun lalu di Amerika dan
Eropa. Goenawan sendiri terlalu sering
memigura pigura.
Jika ia ingin menulis suatu realitas
tertentu, ia lebih sering mengutip datanya
dari karya fiksi, misalnya The Name of the
Rose karya Umberto Eco [maaf, saya lupa
judul asli Italianya], yang entah berapa kali
sudah dikutipnya sejak bertahun-tahun
lalu – tentu saja juga ada kutipannya
dalam polemik ini. Ini problem lain dalam
mode presentasinya: meminjam "analisis"
dari karya fiksi untuk paparannya tentang
peristiwa-peristiwa faktual.
Bagaimana dengan pandemi yang
melingkupi kita hari-hari ini? Jangan
kuatir, ada novel Albert Camus yang
menjelaskannya, yang juga sering
dikutipnya. Pemiguraan ratusan halaman
16 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 513
yang dilakukan Eco dan Camus itu
dipigura lagi oleh Goenawan dalam
bentuk satu halaman tulisan di majalah.
Bagaimana sesungguhnya masalah
korupsi, misalnya di Indonesia? Ada pigura
yang dibuat Anton Chekov tentang
realitas itu dalam bentuk cerita pendek,
dan dipigura lagi oleh Sjumandjaja
menjadi film “Si Mamad”, dan dari pigura
atas pigura inilah Goenawan membuat
pigura berupa esai. “Korupsi adalah
korupsi karena sebuah garis batas,”
tulisnya, tiba-tiba.
Esai itu ditutup secara “ajaib”: “Berangsur-
angsur, korupsi, yang melintasi garis batas,
berakhir jadi cerita hantu. Hantu itu
bernama ‘Negara Kesatuan Republik
Indonesia’ – sesuatu yang sebenarnya
bukan 100 persen ‘Negara’, bukan pula
‘kesatuan’, sesuatu antara ada dan tiada,
seram dan tak menentu.”
Kita tak punya harapan apapun tentang
pemberantasan korupsi. Hantu yang
“seram dan tak menentu,” bahkan
eksistensinya “antara ada dan tiada”, tidak

16 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 514


mungkin punya hubungan apapun dengan
instrumen legal dan aparat hukum.
*
Tanpa modeling, tidak mungkin seorang
astrofisikawan mengerti apa dan
bagaimana kondisi di planet Jupiter; atau
ahli biologi molekuler tak mungkin tahu
bahwa asam amino – unit struktural dan
unsur utama pembentuk protein dalam
semua sel hidup di dalam tubuh -- asal
muasalnya dari luar bumi.
Sebab suhu yang memungkinkannya
berdenyut dan menggerakkannya di masa
awal -- dulu sekali, miliaran tahun lalu --
tidak pernah ada di bumi. Begitulah
menurut Abdus Salam, pemenang Nobel
Fisika 1979 yang di tahun-tahun terakhir
karirnya menekuni biologi molekuler; dan
dengan teorinya itu ia diduga akan
mendapat Hadiah Nobel kedua jika tak
keburu wafat.
Demikian pula, jika tanpa model, ahli
neurosains tidak bisa menjelaskan
bagaimana proses sinapsis bekerja di otak
manusia; bagaimana suatu informasi

16 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 515


diproses melalui rangkaian rumit yang
melibatkan berjuta-juta neuron otak. Dan
dengan pengetahuan itu suatu proses dan
strategi belajar mungkin dapat disusun
untuk membuat murid sekolah memahami
dengan efektif dan efisien jenis
pengetahuan atau pelatihan tertentu.
Dengan itu pula mungkin akhirnya bisa
diketahui kapan saat yang paling tepat
untuk memberi pelajaran apa; jenis
makanan apa yang memungkinkan otak
bekerja optimal, dan lain-lain. Sekarang
ahli neurosains bisa mengetahui kenapa
seorang yang sukses, misalnya, cenderung
sukses terus dalam hidupnya, dan kenapa
yang gagal cenderung selalu gagal.
Mereka mampu menunjukkan jejak-jejak
memori sukses dan gagal itu dalam otak
manusia, lalu bahkan bisa memberi saran-
saran praktis bagaimana cara memperkuat
memori sukses (agar orang bisa lebih
sering berhasil) dan meminimalkan
memori gagal itu (supaya orang tidak
selalu gagal).
Apa yang dikenal sebagai insting atau
naluri bertindak, menurut neurosains tidak
16 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 516
ada; semua tindakan manusia adalah hasil
kalkulasi biokimia yang berpusat di otak.
Jika saya dikejar anjing dan saya punya
dua pilihan untuk menyelamatkan diri --
melompati pagar atau masuk ke dalam
rumah orang lain -- otak saya akan
menghitung: berapa besar risiko masing-
masing di antara kedua pilihan itu, mana
yang lebih cepat antara saya melompati
pagar atau masuk ke rumah orang.
Kalkulasi biokimia itu muncul bukan dalam
bentuk angka-angka, melainkan berupa
perasaan berani ataupun takut. Misalnya,
saya memilih lompat pagar meski dengan
risiko terluka, karena pilihan itu lebih
mungkin berhasil. Artinya saya lebih
memilih peluang cidera karena melompat
daripada terluka karena digigit anjing.
Semua proses itu berlangsung sangat
cepat, dalam hitungan picosecond [satu
per triliun detik], dan untuk keperluan
pengukuran ini pun ilmuwan
mengembangkan metode pengukuran
yang semakin presisi, meski dalam
kenyataan sehari-hari kita tidak sanggup
membayangkan berapakah durasi

16 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 517


seperseribu detik, misalnya, apalagi satu
picosecond.
Imajinasi manusia tidak mampu
membayangkan durasi sesingkat itu,
sebagaimana tak mampu membayangkan
jarak geografis jutaan tahun cahaya. Tetapi
matematika menemukan cara berupa
penciptaan simbol-simbol, sehingga meski
hal itu tak terjangkau imajinasi manusia, ia
bisa dihitung.
Saya masih saja heran, misalnya, mengapa
proses pengunduhan buku seribu halaman
ke dalam telepon saya hanya berlangsung
satu detik saja; jadi downloading itu,
dengan hitungan kasar, berlangsung
selama seperseribu detik per halaman
buku – dan saya tetap tak sanggup, meski
sudah berusaha keras, membayangkan
kecepatan sepesat itu. Sebagaimana saya
juga tak sanggup membayangkan ukuran
virus, ketika seorang ilmuwan mengatakan
dalam benda sebesar titik di akhir kalimat
ini bisa berkumpul satu juta virus.
Alhamdulilah matematika mampu
menjangkau wilayah itu dengan
simbolisasi.

16 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 518


Hal-hal semacam itulah yang menjadi
bahan baku untuk dialihkan ke dalam
machine learning yang berbasis artificial
intelligence, dan kini makin mewarnai
kehidupan umat manusia; dijadikan
algoritma untuk mesin pencari Google,
smartphone, dan sebagainya.
Sekadar info: mantan Wakil Presiden
Boediono, seorang ahli ekonomi, pernah
menulis di Kompas, menekankan betapa
pentingnya sistem pendidikan kita
memanfaatkan temuan-temuan mutakhir
di bidang neurosains, disiplin yang kini
paling maju, sebagaimana diadopsi di
Cina, Singapura dan lain-lain, agar
pendidikan kita tidak semakin tertinggal.
*
Begitu pula yang terjadi di bidang fisika
partikel. Pada 1964, fisikawan Universitas
Edinburgh Inggris Peter Higgs
menggagas adanya partikel penggerak
[force-carrier] yang menggerakkan tiga
unsur pembentuk materi (positron,
neutron, dan elektron), yang sebelumnya
dianggap sebagai elemen elementer
dalam materi.
16 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 519
Berdasarkan permodelan yang dibuatnya,
Higgs, saat itu seorang fisikawan muda
yang kurang dikenal, menduga di balik
ketiga hal itu ada partikel lain yang
menggerakkan mereka. (Dalam Standard
Model fisika, "partikel penggerak" itu
disebut boson; dan partikel yang
digerakkan dinamai fermion).
Sejak itu perburuan atas partikel tersebut,
yang dinamai "boson Higgs" (tapi
"barang"nya tidak ada, dan selamanya
hanya ada dalam pengandaian) menjadi
pencarian terbesar yang mendebarkan
seluruh dunia. Bahkan konsorsium sains
Eropa CERN membangun Large Hadron
Collider (LHC) di bawah-tanah perbatasan
Swiss-Prancis, suatu terowongan 27
kilometer yang sangat mahal, antara lain
untuk memburu boson Higgs (RRT kini
sedang membangun collider serupa yang
jauh lebih panjang, 100 kilometer).
Beberapa tahun lalu CERN mengumumkan
indikasi adanya boson Higgs mulai terlihat.
Wartawan sains segera memburu berita itu
dan menulis seolah-olah boson itu sudah
pasti ditemukan. Wartawan menyebut

16 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 520


boson itu "God particle", istilah Pemenang
Nobel Fisika Leon Lederman untuk
menjuduli buku karyanya, karena
diasumsikan sebagai "causa prima" –
dengan penamaan itu diisyaratkan bahwa
Tuhan tidak ada; penggerak segala
sesuatu adalah boson Higgs.
CERN mengklarifikasi: pertama, data
tentang keberadaan boson Higgs belum
menunjukkan signifikansi statistik
[berdasarkan statistik Bosonic], jadi belum
bisa ditarik konklusi yang meyakinkan;
kedua, mereka tidak pernah menyebut
boson itu "partikel Tuhan"; ini adalah
penamaan oleh media massa. Peter Higgs
sendiri tidak suka dengan istilah itu.
Pada Maret 2013 CERN mengkonfirmasi
boson Higgs memang ada. Pada
Desember, Higgs dan Francois Englert
mendapat Hadiah Nobel untuk Fisika
karena prediksi teoretis mereka – bukan
temuan mereka yang bisa dilihat dan
dikendarai. Pengakuan atas teori semacam
ini besar maknanya. Sebagai
perbandingan: partikel graviton, yang
diteorikan merupakan force-carrier

16 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 521


gravitasi, belum diakui; belum dimasukkan
ke dalam Standard Model, suatu model
yang menyediakan kerangka pemahaman
hampir semua gejala fisika, selain gravitasi.
Tapi eksistensi boson Higgs sudah diakui
sebelum ia dikonfirmasi oleh CERN; sejak
2012 ia dimasukkan ke dalam Standard
Model fisika partikel, yang disepakati pada
1970-an. Dengan masuknya Higgs maka
sejauh ini, dengan dua partikel
fundamental utama di alam semesta
(jumlahnya memang cuma dua), yaitu
partikel dalam keluarga fermion (dari
nama fisikawan Italia Enrico Fermi; dan
digambarkan dengan statistik Fermi-Dirac)
menjadi 12, dan dalam keluarga boson
(dari nama fisikawan India Satyendra
Bose) menjadi lima.
Dari 17 partikel itu, hanya satu, photon,
yang kurang-lebih berinteraksi langsung
dengan manusia karena photon adalah
partikel cahaya; kita berinteraksi
dengannya dalam bentuk penerangan di
rumah dan sebagainya. Sedangkan enam
belas partikel lainnya tidak pernah kita

16 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 522


ketahui dan tak pernah dilihat manusia,
tapi semua fisikawan tahu mereka ada.
Seorang fisikawan besar bahkan mengaku
ia tidak tahu esensi partikel-partikel itu,
tapi ia tahu mereka ada dan apa yang ia
lakukan dengan partikel-partikel itu
berjalan -- "I don't know them exactly but
it works", katanya. Paul Dirac, raksasa
fisika Inggris, menyarankan orang untuk
tidak bertanya apa gerangan partikel-
partikel itu, sebab pertanyaan ini tidak
bermakna; pertanyaan yang bermakna
adalah: bagaimana partikel-partikel itu
berperilaku.
Cerita panjang tentang partikel dan
bagaimana fisikawan di seluruh dunia
menghadapinya menunjukkan bahwa
debat usang tentang empirisisme dalam
sains, yang masih muncul dalam polemik
ini, benar-benar penyederhanaan masalah
yang sulit dipercaya; suatu
keterbelakangan informasi yang
keterlaluan di tengah mudahnya info
didapat sekarang ini.
Lukas Luwarso dalam tanggapannya
menyebut gejala itu sebagai “nostalgis
16 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 523
dan anakronis.” Sudah lebih dari satu abad
para fisikawan yang telah mengubah
wajah dunia hampir tak pernah
mendengar istilah itu, karena semua yang
mereka kerjakan sepenuhnya abstrak, tapi
bisa dibuktikan dengan matematika –
bahkan kemudian dibuktikan dalam wujud
teknologi.
*
Tentang apa yang disebut ilmu-ilmu sosial
(social sciences), tradisi risetnya masih
muda, dan pada umumnya berupaya
meniru apa yang telah mapan pada ilmu-
ilmu alam (natural sciences atau life
sciences; sudah lebih dari setengah abad
tidak ada lagi yang menyebutnya ilmu
pasti atau exact science).
Ilmu-ilmu sosial tidak akan pernah
mencapai status saintifik setara, meski
mereka terus berusaha menguantifikasinya
dengan memanfaatkan statistik – misalnya
untuk riset opini publik -- karena tidak
akan mungkin mencapai tingkat rigorness
seperti ilmu-ilmu alam dalam pengujian
temuan-temuannya. Karena itu setiap

16 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 524


“science” disebut, itu artinya natural
science.
Universitas Harvard merupakan penemu
metode riset sosial, ketika sekelompok
ilmuwan sosialnya terpanggil untuk turut
memulihkan situasi pasca Perang Dunia II,
khususnya dalam konteks Marshall Plan,
proyek bantuan besar-besaran Amerika
Serikat untuk membangun Eropa yang
luluh lantak.
Tentu saja “panggilan jiwa” ini sekaligus
berarti “panggilan ekonomis”.
Sebagaimana perusahaan media
“terpanggil” untuk menyajikan berita yang
benar, karena publik “berhak mendapat
informasi yang benar”, tapi berita berkat
“panggilan jiwa” itu dijual sehingga
perusahaan bisa untung dan bisa
menggaji wartawannya.
Kelompok ilmuwan sosial Harvard itulah
yang menciptakan desain riset sosial, yang
kemudian ditiru oleh semua universitas
lain (juga kemudian oleh berbagai think
tank non-universitas), tentu dengan
macam-macam penyempurnaan dalam
prosesnya.
16 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 525
Sebelumnya ilmuwan sosial juga seperti
filosof, “komputer ijen”, yang merenung-
renung seorang diri dan melakukan riset
individual, lalu muncul dengan berbagai
“grand theory”, seperti dikerjakan Max
Weber, Emile Durkheim atau Sigmund
Freud; atau juga Karl Marx.
Karena status pionirnya itu Harvard
sampai baru-baru ini (mungkin hingga hari
ini) rutin mengadakan kursus pembuatan
desain dan proposal riset sosial.***
Sumber:
https://www.facebook.com/hamid.basyaib/posts/10
158386956469894

16 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 526


17 JUNI 2020 | HAMID BASYAIB

Romantisisme dan Falasi


Memedi Goenawan
Mohamad (3 dari 6)
Hamid Basyaib

Dengan ilustrasi yang semoga tidak


menjadi simplikasi terhadap proses dan
prosedur ilmiah tersebut, dapat dipastikan
bahwa tidak mungkin sains dianggap
"segala-galanya" -- walaupun sebetulnya
kita tidak tahu apa yang dimaksud
Goenawan dengan frasa ini.
Apakah ia menganggap ada orang yang
yakin sains mampu menjelaskan segala hal
ihwal; ataukah ada yang menganggap
sains mampu memberi solusi atas semua
masalah dalam hidup ini?
Prosedur sains terlalu panjang, pencapaian
hasilnya sering belum konklusif. Peluang
kesalahan, dan karena itu koreksinya,
selalu terbuka dan, yang terpenting:
kebenaran yang dicapainya niscaya adalah
17 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 527
kebenaran fungsional (atau konjektural),
artinya sesuai konteksnya, yang
dirumuskan berdasarkan informasi yang
tak lengkap.
Kebenaran saintifik tidak mungkin berupa
truth dalam arti sebagaimana diklaim oleh
agama-agama, yang sesungguhnya tidak
pernah mutlak pula, terbukti dari berbeda-
bedanya mereka memaknai apa yang
mereka yakini sebagai kebenaran ilahiah.
Dan yang lebih penting: agama-agama
tidak pernah memaparkan metodologi
untuk tiba pada kesimpulan tertentu, dan
langsung saja mengklaim truth versi
masing-masing.
Misalnya: para pemuka Hinduisme, yang
menyamar sebagai ilmuwan dan menjadi
anggota Kongres Sains India,
mengusulkan teori “Narendra Modi
Waves” sebagai koreksi sekaligus sintesis
terhadap teori Einstein dan Newton.
Mereka yakin Perdana Menteri India itu,
atas dasar pembacaan teks-teks suci, telah
mendapatkan truth di bidang fisika
fundamental.

17 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 528


Sebelumnya, pakar-pakar medis Hindu
meraih truth dan dengan itu mendesak
fakultas-fakultas kedokteran di seluruh
India agar memasukkan terapi kencing
sapi sebagai mata kuliah wajib. Sebentar
lagi kita mungkin mendengar pemuka
agama lain mengantungi truth versi
mereka dan menganjurkan terapi kencing
hewan lain.
Dalam contoh kasus temuan neurosains
tentang memori sukses dan memori gagal
tersebut, misalnya, itu baru merupakan
temuan dua orang peneliti dari Universitas
Chicago dan Universitas Harvard. Temuan
mereka bisa disanggah oleh neurosaintis
lainnya, yang mungkin meragukan
beberapa aspeknya sehingga temuan
tersebut belum mapan [yang mapan pun
bukan berarti pasti benar]. Karena itu tidak
ada peneliti lain yang menjadikannya
sebagai panduan atau kerangka teori
untuk, misalnya, meneliti mentalitas ribuan
pengusaha sukses dan ribuan politisi
gagal.
Menganggap sains bisa diperlakukan
sebagai segala-galanya dan ilmuwannya

17 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 529


bersikap pongah adalah simply
unthinkable, mustahil terpikirkan, karena
untuk bersikap demikian mereka terhalang
oleh karakter sains itu sendiri.
Peter Thiel memang terasa seperti
sesumbar. "Jika Anda tanya apakah
manusia bisa hidup selama 500 tahun,
maka hari ini saya jawab: bisa," kata
pemilik PayPal itu. Tapi yang sedang
diupayakan oleh ilmuwan-ilmuwan yang
bekerja di perusahaannya, kata dia, adalah
agar manusia bisa hidup ribuan tahun atau
bahkan abadi, bukan sekadar 500 tahun. Ia
bukan ilmuwan. Ia hanya investor di
Calico, anak usaha Alphabet atau grup
Google, yang bertujuan membuat manusia
hidup abadi, dengan motto simpel: "to
overcome death".
Memperlakukan investor-investor seperti
Peter Thiel sebagai representasi sains
tentu meleset. Siapa tahu pula ia, dengan
sesumbarnya yang terkesan terlalu
optimistik itu, hanya bermaksud
mendongkrak harga saham
perusahaannya.

17 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 530


Jadi, ditujukan kepada siapakah
peringatan atau pernyataan "sains
bukanlah segala-galanya" itu? Kepada
kaum ilmuwan sendiri, para
penggandrung sains, investor teknologi?
Goenawan selayaknya tidak terus
berlindung di balik pernyataan-pernyataan
umum dan abstrak, tanpa pernah
menyajikan sekadar bayangan ilustrasi
sedikit pun untuk apa yang dia maksud,
sehingga menanggapinya selalu dibayangi
ancaman konstan: salah paham.
Dan karena sudah terlalu banyak korban
berjatuhan dan dicapnya sebagai "salah
paham" terhadap tulisan-tulisannya,
tidakkah Goenawan sebaiknya berpikir
dari arah sebaliknya: mempertimbangkan
kemungkinan dirinya sendirilah yang
selama ini tidak pernah jelas memaparkan
pikirannya, dan karena itu telunjuknya
lebih baik diarahkan ke dadanya sendiri?
Siapa tahu dengan cara itu bisa muncul
kesimpulan yang solid – tapi tetap
merupakan kebenaran konjektural --
bahwa ia telah salah paham terhadap
tulisannya sendiri.
17 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 531
*
Goenawan mengeluh bahwa sains
sekarang lebih digerakkan oleh uang dan
bisnis. Upaya-upaya sains pun, katanya,
bukan untuk sekadar menafsir dunia
melainkan untuk mengubahnya.
Dengan mengasumsikan maksud keluhan
itu jelas, di situ ia mencampuradukkan
proses-prosedur sains dengan tujuan-
tujuannya. Dan sebetulnya sejak pertama
kali muncul, setidaknya dalam arti modern
sekitar empat abad lalu, ikhtiar saintifik
memang digerakkan oleh hasrat-hasrat
ekonomi dan politik/kekuasaan.
Bahkan perjalanan riset Charles Darwin,
yang kemudian melahirkan teori evolusi
yang mengubah pandangan manusia
tentang dunia dan dirinya sendiri,
menumpang kapal kerajaan Inggris,
Beagle, sebagai proyek ekspedisi
kolonialistik, untuk tujuan-tujuan
ekonomi-politik.
Tapi hal itu tidak ada hubungan dengan
proses-prosedur sains, yang tetap harus
mengikuti standar metode yang terus

17 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 532


disempurnakan, dan pasti akan kacau jika
di level itu sains dicampuri oleh pemilik
modal atau penguasa politik. Kapten kapal
Beagle yang membawa Darwin meneliti ke
Galapagos dan tempat-tempat lain
bahkan kemudian marah dan menentang
teori Darwin setelah terbit On the Origin
of Species yang merupakan hasil dari
menumpang kapal si kapten dan dibiayai
oleh kas negara Inggris.
Jika tanpa tujuan jelas dan manfaat-
manfaat sosial yang kurang-lebih bisa
diukur, bagaimana cara mempertanggung
jawabkan penggunaan dana publik untuk
membiayai upaya-upaya sains itu? Atau
bagaimana korporasi mampu bertahan
dan tidak bangkrut, jika proyek-proyek
riset yang dibiayainya tidak ditujukan
untuk memperoleh laba sekian tahun lagi?
Agaknya hanya Kaisar Hirohito yang bisa
bermewah-mewah meneliti aneka
tumbuhan sesuai hobinya di bidang
botani; ia tak perlu memikirkan potensi
laba dan keuntungan politik dari kegiatan
meneropong aneka kembang dengan
mikroskop antiknya, karena memiliki

17 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 533


kekayaan dan kekuasaan yang begitu
besar.
Jika dikaitkan dengan manfaat yang
akhirnya dinikmati umat manusia di mana
pun tanpa pandang bulu -- tentu saja
termasuk bagi dirinya sendiri, sejak
bangun tidur hingga tidur lagi -- maka
keluhan Goenawan itu semakin tak relevan
dan tidak valid.
Lihatlah apa yang terjadi pada ilmuwan-
pebisnis Thomas Alva Edison. Sekitar
seribu temuan yang dihasilkan di
bengkelnya (sebagian besar bukan
karyanya sendiri, tapi temuan para
pegawainya yang diklaim sebagai temuan
pribadinya melalui pengaturan bisnis, dan
itu lumrah sebagai praktik dagang)
sekarang bisa dinikmati siapa saja dengan
harga yang semakin murah.
Yang paling populer tentu saja bohlam,
yang kini tersedia dalam versi LED yang
semakin terang, sangat hemat listrik dan
semakin murah dan mudah didapat (harga
lampu LED merek-merek lain umumnya
lebih murah dibanding merek General
Electric, perusahaan warisan Edison).
17 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 534
Dibanding peluang campur tangan
pemodal/politisi terhadap proses sains,
jauh lebih besar kemungkinan intervensi
pemodal/pemilik media terhadap proses
pembuatan dan pemilihan berita untuk
dimuat di media mereka.
*
Salah satu, dan mungkin yang utama, dari
skeptisisme Goenawan yang mendekati
antipati terhadap sains adalah
kecemasannya bahwa sains akan
menghancurkan aneka misteri dunia --
atau hal-hal yang dianggapnya misteri.
Padahal baginya pesona dunia justru
terletak pada misterinya -- pernyataan ini
sangat mungkin dibantahnya karena ia
tidak pernah menyatakan hal ini secara
harfiah; ia, seorang yang gemar menafsir
apa saja, memang kadang bisa tiba-tiba
memakai argumen legal-formal, seperti
terlihat dalam polemik ini. Jika semua
tersibak, oleh kerja sains, lalu apa lagi
yang tersisa untuk menakjubi manusia --
dan membuatnya rendah hati karena
menyadari kedaifannya?

17 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 535


Dan sains sejauh ini jelas mengarah ke
pengungkapan total itu. Sudah terlalu
banyak "misteri" yang diungkap, seperti
jelas terlihat dalam lima ratus tahun
terakhir; perubahan yang ditimbulkan
sains dalam masa ini melampaui seluruh
masa hidup Homo sapien.
Sejarawan Yuval Harari membagi tiga
tonggak sejarah manusia alias Homo
sapien, salah satu dan satu-satunya yang
masih hidup di antara sembilan atau
sepuluh jenis manusia yang dikenal sejauh
ini.
Pertama, Revolusi Kognitif, yang terjadi 70
ribu tahun lalu di tempat yang kini dikenal
sebagai Afrika Timur; dan tidak diketahui
kenapa "tiba-tiba" manusia bisa berpikir,
setelah selama 150 ribuan tahun
sebelumnya manusia setara saja dengan
serangga dalam hal dampaknya terhadap
bumi. Kedua, Revolusi Pertanian, kira-kira
12 ribu tahun lalu; ada yang menyebut
dimulai di tempat yang kini termasuk
wilayah Turki modern. Ketiga, Revolusi
Saintifik, kira-kira 500 tahun lalu, di Eropa
Barat.

17 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 536


Sebagai catatan: tujuh tahun lalu
ditemukan jenis manusia baru, Homo
naledi, yang 21 kerangkanya terdapat di
sebuah goa di dekat situs UNESCO The
Cradle of Humankind, Afrika Selatan. Usia
Homo naledi, ini yang sangat
mengejutkan, kira-kira sama dengan H.
sapien.
Temuan tim yang dipimpin oleh Lee
Berger ini sangat penting dalam studi
paleoantropologi, sebab 21 kerangka itu
mewakili demografi yang lengkap [laki-laki
dan perempuan, tua dan muda, dewasa
dan anak-anak, bahkan bayi].
Data Homo naledi sudah diungkap sejak
2015; tinggi mereka rata-rata 143 cm [atau
4.5 kali kepala]; mereka bisa berlari, tapi
lebih suka di atas pohon dan jago
memanjat. Dari ritual permakaman yang
mereka lakukan diduga mereka belum
memiliki konsep akhirat. Belum diketahui
apakah mereka punah karena dimangsa
predator [termasuk Homo sapien] atau
karena sebab-sebab lain. Tapi semua data
itu tidak mempengaruhi teori “Out of
Africa” yang sejauh ini masih mapan.

17 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 537


Perubahan yang terjadi di muka bumi
sejak Revolusi Saintifik itu melampaui
seluruh perubahan yang terjadi di seluruh
masa sebelumnya. Ini juga berarti:
kehadiran agama dan filsafat, yang jauh
lebih tua dibanding sains, tidak banyak
pengaruhnya pada dunia dan kondisi
hidup manusia. Segala macam misteri
berikut segenap tahayul yang
membungkus dan merawatnya perlahan-
lahan dibongkar oleh sains.
Dan sejak paruh kedua abad lalu, laju
kereta sains melesat eksponensial, berkat
ditemukannya perangkat-perangkat ilmiah
yang semakin canggih dan makin
tersebarnya pusat-pusat kajian dan
laboratorium yang mampu memproduksi
teknologi sebagai derivat sains.
*
Sekarang, di frontier sains, kita
menyaksikan sesuatu yang teramat
mengesankan sekaligus mendebarkan.
Ada biologi sintetik [synthetic biology,
synbio] yang diklaim mampu menciptakan
mahluk baru dari ketiadaan (berbasis
bakteri) dengan tokoh-tokoh utama
17 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 538
seperti J. Craig Venter dan George
Church; di belakang mereka ada ilmuwan-
ilmuwan usia 30an di universitas-
universitas besar Amerika dan mungkin
juga sekarang Cina.
Ada CRISPR, metode editing gen, yang
antara lain memungkinkan manusia
mendesain bayi mereka, selain melakukan
pengobatan untuk berbagai penyakit
berat yang tak kunjung ditemukan
obatnya, dengan tokoh seperti Jennifer
Doudna, yang mendemonstrasikan hasil
metode itu dalam ceramahnya di forum
TED. David Liu dari Broad Institute MIT-
Harvard menyatakan, metode CRISPR
mampu menyembuhkan lebih dari 90
persen penyakit yang terkait problem
genetik.
Ada temuan-temuan neurosains yang
mencengangkan tentang apa dan
bagaimana otak manusia dan cara
kerjanya; misalnya mereka menggagas
kemungkinan bahwa yang disebut ruh
oleh agama, dan diyakini oleh semua
orang secara universal, adalah aktifitas
salah satu faset otak saja.

17 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 539


Ada komputer kuantum yang
berkemampuan komputasi jutaan kali
dibanding komputer supercepat yang kita
kenal sejauh ini; padahal telepon pintar
yang kita genggam ini saja punya
kemampuan 140 juta kali dari seluruh
komputer di tiga gedung besar yang
mengendalikan perjalanan Apollo 11 ke
bulan pada 1969.
Ada percetakan 3D yang makin banyak
dijual dan harganya akan semakin murah.
Moore's law di bidang teknologi informasi
mendalilkan: peningkatan kemampuan
perangkat komputer berganda tiap dua
tahun. Tampaknya hukum ini sudah
berubah; mungkin sekarang pergandaan
itu terjadi tiap 12 bulan atau kurang.
Teknologi robotik tentu akan
dikembangkan besar-besaran. Google
sudah membeli beberapa perusahaan
produsen robot; ia memutuskan membeli
pabrik-pabrik yang sudah jadi ketimbang
membangunnya dari nol; ia tinggal
menambah elemen-elemennya saja untuk
meningkatkan secara signifikan
kemampuan robot itu, sekaligus dengan

17 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 540


akuisisi itu ia menelan para kompetitor.
Jika raksasa bisnis seperti Google
menunjukkan kesungguhan seperti itu,
berarti ia sedang merencanakan sesuatu
yang sangat besar.
Sejauh ini yang sudah berhasil dibuat
adalah “komputer beroda” berupa sepeda
dan terutama mobil tanpa supir, yang
sejak sepuluhan tahun lalu sudah berjalan
sendiri sepanjang ratusan ribu kilometer di
kota-kota yang sibuk di California.
Kemungkinan mobil nir-supir Google
menabrak sesuatu jauh lebih kecil
dibanding mobil bersupir -- ini akan
mengurangi signifikan kecelakaan lalu
lintas.
Suatu kejutan yang menyenangkan
sekaligus ironis bahwa era manusia robot
justru dicanangkan resmi di Arab Saudi,
berupa pemberian kewarganegaraan
kepada Sophia, gadis robot yang sekaligus
menjadi simbol bagi kota baru Neom yang
akan dikelola dengan perangkat-
perangkat teknologi tercanggih. Sophia
pernah berbincang antara lain dengan PM
Malaysia Mahathir Muhammad, yang tak

17 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 541


henti tersenyum geli dan takjub atas
manusiawinya Sophia, yang bahkan bisa
bergurau.
Sudah tentu pemberian kewarganegaraan
kepada Sophia adalah gestur politik
(bukan saintifik) dari penguasa baru Saudi
yang ambisius. Tapi gestur ini punya
makna simbolik kuat: suatu tekad bahwa
agama, setidaknya dalam wajahnya yang
murung dan out of date, ingin berusaha
keras menyejajarkan diri dengan
kecemerlangan dan kemutakhiran sains.
Tanpa melihat hasil-hasilnya kelak, gestur
ini saja cukup melegakan di tengah
ketakmengertian global tentang apa
maunya agama dan bagaimana ia harus
ditempatkan dalam masyarakat abad 21
dan selanjutnya – jika di abad-abad itu
manusia masih ada.
Sedangkan eksplorasi ke luar angkasa
semakin gencar, dan kini bahkan ikut
dikerjakan oleh perusahaan-perusahaan
swasta berkat kemampuan finansial
mereka. Yang paling menonjol tentu saja
adalah SpaceX milik Elon Musk. Ahli-ahli
astronomi sekarang ini sering sekali
17 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 542
menemukan exoplanet berkat kian
canggihnya perangkat pengidentikasi
bintang.
Exoplanet adalah planet yang diketahui
dapat dihuni karena memiliki kondisi mirip
bumi, dan kebanyakan berukuran sedikit
lebih besar dibanding bumi. Sekarang ada
beberapa exoplanet yang berpeluang
dijadikan rumah baru bagi manusia,
seandainya umat manusia harus pindah
dari bumi, karena kedekatannya dari bumi
dan aman karena jaraknya cukup jauh dari
matahari.
Bukan tak mungkin kelak exoplanet itu
bisa dijadikan seperti vila atau lokasi
wisata, seandainya umat manusia tetap
tinggal di bumi. Jarak yang jauh akan
diatasi oleh kemampuan pesawat-pesawat
khusus yang jauh lebih besar daripada
pesawat penumpang tercepat yang kita
kenal.
Tentu saja terjadi ledakan perubahan di
hampir semua aspek kehidupan oleh
penerapan artificial intelligence.
Primadona iptek sejak dua puluh tahun
terakhir ini antara lain sudah menghasilkan
17 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 543
teknologi pengintaian dan detektor yang
kemampuannya jauh lebih besar
dibanding diri kita bahkan dalam
mengenal diri sendiri, selain menghasilkan
robot-robot yang makin pintar dan pasti
menggantikan kerja manusia di banyak
bidang, juga memungkinkan terciptanya
mesin pintar seperti sudah disebut.
Berhadapan dengan musuh yang
mengepung ketat itu, wajarlah para
pemuja misteri cemas kereta sains akan
menggilas semua misteri terakhir yang
masih tersisa. Itu sebabnya Goenawan
mengeluh: sains kini "ingin mengubah,
bukan hanya menafsir" -- walau dalam
tindak mengubah tentu ada upaya tafsir
sebagai tahap yang harus dilalui; dan kita
heran mengapa tindak mengubah itu
disayangkan, kenapa pula menafsir
dianggap cukup dan bermanfaat (entah
bermanfaat bagi siapa dan dalam hal apa).
*
Kita justru takjub, bukan meratap, dengan
upaya dan banyaknya sukses sains dalam
menyibak misteri, yang bagi sains adalah
problem dan karena itu pasti ada
17 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 544
solusinya, cepat atau lambat -- dan bukan
takjub pada misteri itu sendiri dan upaya-
upaya pelestariannya.
Begitu banyak misteri atau persepsi
tentang misteri yang membelit hidup kita
berikut segenap kecemasan, kebingungan
serta hambatan mental yang
ditimbulkannya. Begitu banyak korban
manusia akibat persepsi tentang misteri,
misalnya dalam soal penyakit.
Hampir semua penyakit di masa lalu
dipercaya timbul karena faktor-faktor
misterius, bersumber dari luar bumi dan
sejarah, sehingga penyembuhannya pun
diupayakan dengan cara-cara yang kini
memalukan atau mengerikan untuk
diceritakan – misalnya, dengan membakar
ribuan orang Yahudi di Eropa, seperti
diceritakan oleh Goenawan. Kita
selayaknya tak henti bersyukur bahwa
sains sejauh ini telah cukup banyak
memerdekakan umat manusia dari
kungkungan aneka misteri itu.
Begitupun, "misteri" itu, seperti sudah
terlihat terlalu sering, berlapis-lapis dan
bercabang-cabang dan beranting-ranting.
17 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 545
Satu lapis misteri yang terpecahkan
memunculkan lapis dan cabang dan
ranting misteri berikutnya. Karena itu stok
misteri tidak akan habis, jika bukan justru
bertambah banyak.
Semua ilmuwan akan mengakui fakta ini;
mereka telah terlalu sering mengalami
sendiri bagaimana percabangan misteri itu
begitu tak terhingga kayanya. Ahli
neurosains pasti merupakan salah satu
contohnya. Tiap hari mereka menemukan
hal-hal baru pada aspek-aspek kecil dalam
studi otak, yang digambarkan oleh
neurosaintis Diane Ackerman sebagai
“gundukan berkilau, yang sangat sibuk
dengan percakapan-percakapan neural
nonstop; sebuah laboratorium kimia yang
sesak; suatu parlemen sel berwarna
kelabu-tikus; sebuah pabrik mimpi; tiran
mini di dalam sebuah bola tulang...”
Tapi mereka mengerti: penyibakan itu
membukakan mereka pintu misteri baru.
Dan mereka semakin terpesona. Inilah
yang menjelaskan kenapa semakin banyak
subdisiplin yang dikembangkan ilmuwan
karena mereka merasa "misteri-misteri

17 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 546


baru" itu membutuhkan kajian khusus
yang lebih spesialistik.
Ini pula yang menimbulkan kritik bahwa
tendensi hiper-spesialisasi itu membuat
pemahaman tentang dunia semakin jauh
dari keutuhan pengertian – ini pun kritik
yang invalid, karena mengandaikan
tiadanya konglomerasi para spesialis
dalam kajian multidisiplin; seolah mereka
seperti filosof, yang suntuk sendirian
dengan kesunyian masing-masing.
Peminat dan konsumen sains turut
terpesona justru oleh kemampuan
penyingkapan itu dan oleh misteri baru
yang terbuka karenanya -- bukan
terpesona oleh ketakberdayaan dan
kenikmatan mental berkat dibelenggu
ketaktahuan akan misteri itu.
Manusia dewasa yang terdidik selayaknya
tak perlu merasa beruntung karena
ketidaktahuan, dan karenanya terus
mendekap ketidaktahuan itu -- the benefit
of ignorance.***

17 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 547


Sumber:
https://www.facebook.com/hamid.basyaib/posts/10
158389841194894

17 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 548


19 JUNI 2020 | HAMID BASYAIB

Romantisisme dan Falasi


Memedi Goenawan
Mohamad (4 dari 6)
Hamid Basyaib

Raymond Kurzweil, yang meramalkan


selambatnya pada 2045 akan tercipta
manusia hibrid (gabungan fisik biologis
dan perangkat-perangkat teknologis),
merasa dia tinggal beberapa langkah lagi
untuk mampu menciptakan pikiran, seperti
ia petakan dengan terinci dalam bukunya
How to Create a Mind: The Secret of
Human Thought Revealed (Viking Penguin,
2012).
Tapi "beberapa langkah" itu tampaknya
masih perlu dua puluh tahun lagi, selain
pikiran ciptaannya mungkin saja tak sebaik
akal manusia walau yang lebih mungkin
adalah sebaliknya. Di buku itu ia bilang,
misalnya, membran di dalam otak manusia
mampu menyimpan 300 juta informasi – ia

19 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 549


tentu bisa membuat “otak digital” berkali-
kali lipat dari jumlah ini, sambil
memberinya kemampuan untuk
memanggil informasi itu kapan saja; hal
yang tidak dimiliki otak biologis.
Jika orang seperti Ray Kurzweil
menyatakan sesuatu yang berhubungan
dengan sains dan teknologi, siapapun
perlu menyimaknya, paling sedikit demi
kejujuran intelektual. Ia satu dari 16
inventor terbesar Amerika.
Ia meramal dengan tepat berpuluh-puluh
perkembangan sains dalam 40 tahun
terakhir, dan ia kini direktur teknologi
grup Google, yang antara lain membawahi
DeepMind, perusahaan pencipta AlphaGo,
komputer yang mengalahkan juara dunia
Go (Wei qi) 18 kali, Lee Sedol; Go adalah
permainan Cina kuno yang lebih rumit
daripada catur.
Generasi AlphaGo berikutnya bahkan
mengagetkan penciptanya sendiri karena
komputer itu tampak mampu berpikir;
pelatihnya hanya memasukkan data
tentang aturan main Go, tanpa
memasukkan satu pun contoh langkah,
19 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 550
lalu AlphaGo berpikir sendiri dan
menggerakkan buah-buah Go; selalu
demikian dalam pelatihan yang tak
terhitung banyaknya.
Kemungkinan-kemungkinan seperti inilah
yang dirisaukan oleh fisikawan Stephen
Hawking dan salah satu ikon teknologi
Elon Musk, yang mendesak agar
perangkat seperti AlphaGo dikembangkan
dengan sangat hati-hati.
Menurut mereka robot-robot itu akan
menghancurkan peradaban dunia, karena
mereka mampu berkomunikasi antar
sesama mereka, dan karena itu mungkin
saja melakukan permufakatan jahat
terhadap manusia dan dunia, terlepas dari
arahan dan kendali "pawang"nya.
Sekadar perbandingan: pada 1997 IBM
menciptakan Deep Blue, yang
memenangkan pertandingan melawan
juara dunia catur Gary Kasparov. Saya
pernah memainkan partai mereka di situs
chessgames.com dan pada langkah ke
sekian, Kasparov benar-benar menjepit
Deep Blue dengan sangat ketat tapi

19 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 551


sangat halus, membuat komputer itu
terdiam cukup lama.
Tapi akhirnya Deep Blue mampu
mengelak, menyerang balik, dan Kasparov
kalah. "Saya rasa mesin itu benar-benar
mampu berpikir,” katanya seusai
pertandingan. “Saya sudah menyusun
serangan dengan sangat halus (dan
ternyata ia tahu perangkap itu)."
Jenius seperti Kasparov disebut mampu
memikirkan 15 variasi langkah per detik.
Deep Blue bisa mempertimbangkan 200
ribu langkah per detik.
Dengan mengingat Moore's law, kita sulit
membayangkan kekuatan AlphaGo, yang
dikembangkan dua puluh tahun setelah
Deep Blue, yang ditujukan terutama untuk
keperluan medis -- pertandingan dengan
Lee Sedol di Beijing itu cuma ujian
kekuatan intelektualnya saja, dan dijadikan
bukti bahwa mesin telah mengalahkan
manusia; Sedol sendiri seusai
pertandingan menyatakan mundur dari
arena Go, sambil minta maaf bahwa ia
telah gagal mempertahankan keunggulan
manusia terhadap mesin.
19 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 552
*
Pada 1993, ilmuwan dan penulis novel
fiksi-ilmiah Vernor Vinge menulis: "Dalam
tiga puluh tahun mendatang kita akan
memiliki perangkat teknologi yang mampu
menciptakan kecerdasan manusia-super.
Tak lama setelah itu sejarah manusia
berakhir."
Ray Kurzweil, seperti sudah disebut,
menilai ramalan Vinge terlalu cepat; ia
sendiri memperhitungkan situasi itu akan
dicapai pada 2045. Tapi harus diakui,
sekarang, 27 tahun setelah Vinge
meramal, sebagian elemen dalam
ramalannya itu sudah terbukti. Menurut
Kurzweil, pada 2045 itulah mulai terwujud
era Singularity (istilah ini dipopulerkan
oleh Kurzweil dan Vinge sejak duapuluhan
tahun lalu).
Singularity adalah situasi ketika
perkembangan teknologi bersifat
uncontrollable atau tidak dapat
dikendalikan oleh manusia; manusia hibrid
[cyborg atau transhuman] yang tercipta di
masa itu akan mampu meningkatkan
kapasitasnya sendiri terus menerus. Ray
19 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 553
Kurzweil memaparkan secara terinci
skenario ini dalam bukunya yang terbit
2005, Singularity is Near: When Humans
Transcend Biology -- saya tak kunjung
tamat membaca karya 652 halaman ini.
Manusia yang dimaksud dalam "era
manusia berakhir" adalah manusia yang
kita kenal selama ini. Yang akan makin
banyak muncul adalah manusia hibrid,
gabungan organ-organ biologis dan
teknologi, yang jauh lebih cerdas. Maka
akan terjadi pula ledakan kecerdasan
(intelligence explosion).
Tentu yang akan terjadi adalah seperti
yang telah kita alami berulang kali selama
ini: yang akan mampu membeli teknologi
hibrid pertama-tama adalah orang-orang
kaya; mereka inilah yang akan
mengalahkan manusia-manusia biasa
yang hanya memiliki kecerdasan alamiah-
biologis. Lama kelamaan semakin banyak
orang yang mampu membeli teknologi itu,
karena harganya akan semakin murah.
Semua barang teknologi pun
perjalanannya begitu. Dulu hanya orang
kaya yang mampu membeli pesawat
19 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 554
televisi, mobil atau sepeda motor;
sekarang lebih dari separuh penduduk
dunia memiliki telepon genggam yang
harganya semakin murah (diukur dari
kemampuannya dan harganya di masa
lalu).
Terhadap prospek kemampuan hidup
abadi itu, makin banyak orang yang
percaya. Mereka melihat, tanpa intervensi
teknologi secara langsung pun faktanya
usia manusia terus memanjang.
Jika di abad ke-19 rata-rata harapan hidup
global adalah 40 tahun, pada abad ke-20
life expectancy meningkat menjadi 70
tahun, maka secara teoretis -- berdasarkan
pola peningkatan itu -- ada harapan rata-
rata harapan hidup di abad ini sedikitnya
adalah 130 tahun.
WHO pun sudah merevisi dan membuat
standar baru kategori status usia.
Sekarang orang berusia 50-65 tahun
adalah "menjelang tua", 66-75 adalah
"tua", usia 76-90 "sangat tua", dan 90 ke
atas adalah "superold". Ini juga tentu
berpengaruh pada penetapan batas usia
pensiun bagi pegawai di seluruh dunia.
19 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 555
Sekarang, orang-orang seperti Raymond
Kurzweil meramalkan prospek hidup abadi
– suatu aspirasi tua manusia; mungkin
karena ini pula muncul konsep afterlife,
kehidupan setelah mati. Kebetulan sudah
ada pula perusahaan-perusahaan yang
menyediakan jasa cryonic, suatu metode
pembekuan jasad dengan nitrogen cair.
Seorang yang saat ini berusia 70, misalnya,
pada saat ia meninggal dunia kelak bisa
minta jasa cryonic. Harapannya jika nanti
ada teknologi yang mampu
menghidupkannya lagi ia bisa mengikuti
proses medis dan teknologi yang
memungkinkannya hidup selama ribuan
tahun atau bahkan abadi.
Televisi BBC pernah meliput perusahaan-
perusahaan penyedia jasa cryonic itu, yang
masih ditanggapi dengan skeptis oleh
komunitas ilmiah mainstream. BBC
mewawancarai anggota keluarga orang-
orang yang ikut program tersebut, dan
menginterviu para pakar yang menganut
metode ini. Semua ahli itu menyatakan
teknologi tersebut memang bisa
dijalankan, meski sejauh ini jasad manusia

19 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 556


yang di-cryonic belum bisa kembali utuh
sepenuhnya.
Ray Kurzweil sendiri berencana mengikuti
proses itu jika ia meninggal, dengan
bergabung ke perusahaan Alcor Life
Extension Foundation. Saat ini, selain
memilih menu dengan ketat, ia menelan
100 tablet suplemen setiap hari; semula ia
mengonsumsi dua kali lipatnya; setelah
muncul banyak kritik, ia mengurangi
menjadi separohnya.
Dan dengan Singularity itu pula sejarah
evolusi biologis manusia, yang sudah
berlangsung selama 3.5 miliar tahun,
berakhir. Manusia-hibrid akan
berkembang ke arah yang belum bisa
diramalkan dan mungkin tak pernah bisa
diketahui. Kurzweil meramalkan
transhuman akan memasal pada periode
2079-2099. Homo sapien akan keluar dari
skema evolusi biologis.
Sejarawan Yuval Harari juga banyak
menyinggung isu ini dalam buku dan
ceramah-ceramahnya. Ia meramalkan di
akhir abad ini manusia akan punah (bisa
juga kita tafsirkan: ia menghitung masa
19 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 557
lima puluhan tahun setelah ramalan
Kurzweil 2045 itu, ketika semakin banyak
warga bumi berubah menjadi manusia-
hibrid).
Nada Harari cenderung murung dan
pesimistik, sedangkan Kurzweil, yang telah
menginvensi atau menginovasi banyak
perangkat teknologi -- termasuk piano
synthesizer yang mampu meniru
instrumen asli nyaris sempurna, perangkat
audio dan mesin alat bantu baca bagi
tunanetra -- jauh lebih optimistik terhadap
prospek hadirnya manusia-hibrid itu.
Seperti biasa, terhadap prospek
perkembangan iptek semacam itu, banyak
orang meragukan atau bahkan mencibir;
menganggapnya berlebih-lebihan, dan
semacamnya. Itu yang terjadi ketika mobil
pertama dibuat oleh Henry Ford, ketika
telepon dibuat oleh Graham Bell, ketika
Wright bersaudara membuat pesawat
udara dan memulainya dengan
mengkhayal manusia bisa terbang.
Skeptisisme itu juga meruyak ketika
Armstrong-Buzz-Aldrin menginjak bulan
lima puluh tahun silam; cibiran itu pula
19 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 558
yang mungkin hari-hari ini berjangkit di
mana-mana ketika Elon Musk dan NASA
sibuk mengurus rencana menaklukkan
Mars dan ingin menjadikannya rumah
baru umat manusia (dan ada orang
Indonesia, Vera Mulyani, yang sejak
beberapa tahun lalu mendirikan biro
arsitek "Mars City Design" di Amerika
untuk mendesain perumahan dll di Mars);
itu juga yang membuat orang tertawa
ketika teknologi komuniasi nirkabel
dibuat, dan seterusnya.
Keraguan-keraguan semacam itulah yang
memunculkan istilah konservatisme; orang
memang cenderung memelihara saja (to
conserve) apa yang sudah ada. Lalu
muncul pula istilah rasionalisasi dan
justifikasi -- alasan-alasan pembenaran
dan persetujuan ketika apa yang
diragukan itu ternyata kemudian terbukti.
Terhadap kritik-kritik yang meragukan
ramalannya dan prospek muram yang
dipaparkannya ("manusia akan punah di
akhir abad ke-21 ini", yang dianggap
terlalu cepat), Yuval Harari menanggapi
enteng: kalaupun bukan di abad ini,

19 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 559


kepunahan itu akan terjadi di abad ke-
atau abad ke-23. "Apa artinya masa 100-
200 tahun dalam konteks usia manusia
yang 200 ribu tahun?" katanya – dengan
ini orang makin sulit menyanggahnya.
*
Mereka yang cukup memahami situasinya
dan mengerti bahwa prospek yang nyata
ini memang merisaukan, berusaha keras
menahan laju menuju Singularity itu.
Maka, misalnya, Fisikawan Stephen
Hawking bersama tiga rekannya --
pemenang Nobel Fisika Frank Wilczek,
Fisikawan MIT Max Tegmark dan penulis
buku teks utama tentang AI, Stuart Russel
-- antara lain menulis surat terbuka di
koran Huffington Post [2014], menanggapi
film Transendence, yang menceritakan
teknologi yang bisa menghidupkan orang
yang sudah meninggal, meski hanya
dalam bentuk gambar dan komputer.
Muatan otak si mati (dimainkan oleh
Johnny Depp) sebelumnya sudah
diunggah ke komputer, dan setelah ia mati
ia hidup lagi di komputer itu. (Ray Kurzweil
sejak beberapa tahun lalu sungguh-
19 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 560
sungguh mengupayakan hal itu untuk
menghidupkan kembali ayahnya; dia
kumpulkan semua bahan yang relevan;
catatan-catatannya, gestur dan cara
bicaranya, dsb. "Jadi kalau saya kangen
sama Ayah, saya bisa mengobrol dengan
dia," katanya).
Menurut Hawking dkk apa yang
diceritakan dalam film Transendence
memang bisa terjadi sungguhan, bukan
sekadar cerita fiksi. Mereka cemas akan
prospeknya bagi kemanusiaan. Dalam
surat terbuka itu Hawking dkk meminta
agar masalah ini -- misalnya prospek
munculnya sistem persenjataan otonom
yang mampu memilih sendiri targetnya,
dan sanggup meningkatkan sendiri
kemampuannya -- benar-benar dipikirkan
oleh PBB. Mereka risau pula menyaksikan
sedikitnya lembaga yang peduli pada
upaya pembatasan dan kontrol terhadap
AI. Yang ada, kata mereka, hanya
beberapa LSM kecil seperti Cambridge
Center for Existential Risk dan Future of
Life Institute.

19 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 561


Dikoordinasi oleh Max Tegmark, Hawking
dkk kembali meminta perhatian PBB
tentang potensi ancaman tersebut
beberapa tahun lalu. Kali ini mereka
membuat petisi yang sejauh ini sudah
ditandatangani oleh lebih dari 8.000
orang; meminta agar dilakukan upaya
serius untuk mengoptimalkan
pengembangan AI agar memberi manfaat
sosial dan mengurangi dampak-
dampaknya yang berbahaya bagi
kehidupan umat manusia.
Begitu banyak nama besar yang
menandatangani petisi itu, yang dimuat di
situs futureoflife.org (siapapun bisa ikut
menekennya sampai sekarang), termasuk
Steve Wozniak (pendiri Apple Computer),
Sam Harris (ahli neurosains dan pendiri
Project Reason), Demis Hassabis dan
Mustafa Suleyman (pendiri DeepMind,
pembuat AlphaGo).
Terlibatnya nama-nama besar itu, para
teoretisi utama dan teknolog di garis
terdepan teknologi AI, menunjukkan
keseriusan masalah ini. Mereka bahkan
melampirkan dokumen panduan riset

19 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 562


prioritas dalam petisi itu, yang boleh
dimanfaatkan oleh siapa saja, agar AI bisa
mendatangkan manfaat sosial optimal.***
Sumber:
https://www.facebook.com/hamid.basyaib/posts/10
158392636474894

19 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 563


20 JUNI 2020 | HAMID BASYAIB

Romantisisme dan Falasi


Memedi Goenawan
Mohamad (5 dari 6)
Hamid Basyaib

Kehadiran artificial intelligence [AI], seperti


kita tahu, telah mendisrupsi begitu banyak
bisnis yang sudah mapan selama puluhan
tahun; dalam sekejap mereka dikalahkan
oleh perusahaan-perusahaan rintisan di
seluruh dunia. Di sektor itu AI
mendatangkan manfaat sosial sangat
besar – inilah justeru kunci kemajuannya
yang membuat gagap begitu banyak
raksasa bisnis tradisional.
Beberapa tahun lalu mesin AI produk
sebuah perusahaan rintisan berhasil
menulis esai dengan kematangan ide
setingkat siswa SMA; sangat mungkin saat
ini mesin itu sudah bisa menulis makalah
ilmiah sekelas tulisan doktor; juga mampu
menulis karya sastra.

20 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 564


Microsoft memberhentikan beberapa
puluh wartawan yang menjalankan sayap
bisnis medianya, untuk digantikan dengan
robot. Kantor berita Reuters juga sudah
mempekerjakan robot untuk menulis
berita. Tamedia, sebuah grup perusahaan
media di Swiss, mempekerjakan robot-
robot yang disebut mampu memproduksi
40.000 tulisan dalam lima menit. Dengan
bantuan AI, grup Amazon merekrut 90.000
pegawai hanya dalam satu hari.
Tapi bahaya-bahaya yang dicemaskan
Elon Musk dll itu tentang AI juga nyata. Di
bidang pengintaian (surveillance),
sekarang pun sudah terlihat dampaknya.
Di tangan penguasa otoriter, pengintaian
oleh AI dapat digunakan untuk mengawasi
warganya secara total – meski dalam
aspek ini AI juga bisa ampuh untuk
menekan angka kriminalitas atau
menangkap buron yang sudah bertahun-
tahun lolos.
Dulu pengawasan oleh pemerintah
(misalnya di Uni Soviet) hanya berupa
penguntitan pembangkang; intel KGB
menguntit orang seperti Andrei Sakharov

20 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 565


ke mana pun ia bergerak selama 24 jam
sehari.
Bahkan aplikasi Whatsapp, yang kini
digunakan oleh miliaran manusia, dibuat
oleh Jan Koum, imigran Amerika dari
Ukraina, lantaran ia traumatik karena
ayahnya hilang setelah gerak-geriknya
dipantau tanpa henti oleh intel penguasa;
maka ia, katanya, berusaha membuat
teknologi komunikasi yang anti sadap.
Semua itu merupakan pengawasan "over
the skin"; masih kasar dan fisikal.
Pengembangan AI memungkinkan
pengawasan "under the skin", yang
membuat sang mesin mampu memahami
kita lebih baik dibanding kita memahami
diri sendiri.
Jika kita menonton televisi atau
menggunakan telepon seluler, misalnya,
seseorang entah di mana bisa tahu
bagaimana perasaan kita saat menonton
acara tertentu; bagaimana reaksi kita
ketika membaca buku tertentu. Saat ini
pun hal itu sudah kita alami.

20 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 566


Cobalah baca buku di aplikasi Apple
Books, misalnya. Ia akan tepat
menunjukkan di halaman berapa kita
berhenti dalam pembacaan sebelumnya.
Jika ada kata yang kita tidak pahami dalam
sebuah buku, kita hanya perlu mengklik
kata itu lalu kita kontan terhubung dengan
penjelasan kata itu di dalam kamus.
Dengan cara itu pula sebenarnya yang
terjadi adalah saling baca antara kita dan
buku. Kita membaca teks di dalamnya,
sang buku membaca emosi kita. Maka ia
tahu di halaman berapa kita berhenti
membaca, kata-kata apa yang kita tandai,
istilah-istilah apa yang kita tak mengerti;
kapan kita kembali ke buku itu [disertai
pemberitahuan telah berapa persen Anda
membaca buku itu].
Makin lama data semacam ini makin
lengkap. Dua-tiga tahun lagi data di
seputar ini, dan dengan demikian fasilitas
dan fiturnya -- misalnya bacaan kita
langsung bisa terhubung dengan semua
buku yang membahas isu yang sama
untuk keperluan cek silang -- akan
semakin dipertajam. Makin lama data

20 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 567


reaksi tubuh dan pikiran kita pun diketahui
kian mendetail; apakah kita berkeringat,
apakah tekanan darah naik, apakah asam
lambung meningkat, dst.
Singkatnya sang buku mengerti bioritmik
kita saat kita membacanya dan dengan
demikian si buku pun lebih jelas dalam
membaca diri kita. Semua data ini bisa
digunakan oleh dunia industri untuk
menawarkan barang-barang tertentu
kepada Anda secara spesifik, langsung ke
HP Anda; ini bisa mengurangi biaya
pemasaran dan promosi.
Tentu ini bisa negatif, tapi juga bisa sangat
positif bagi kebutuhan kita. Dengan itu
kita bisa menghemat waktu dalam
menyeleksi barang yang kita butuhkan.
Kita juga mungkin diberitahu bahwa kita
membutuhkan obat tertentu, meski kita
bahkan tidak menyadari gejala penyakit
yang mungkin bersarang di dalam tubuh
kita.
Tapi penguasa di negeri seperti RRT pun
bisa memanfaatkannya untuk mengawasi
warganya; dan sejauh ini hal itu sudah
terjadi di sana. Seorang buron tahunan
20 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 568
tiba-tiba ditangkap, lima menit setiba ia di
gedung konser musik, 100 kilometer dari
persembunyiannya.
Para pengamat dan pemain AI di Amerika
bahkan mengakui kemajuan AI Cina akan
segera melampui negeri mereka. Peter
Diamandis, pendiri Universitas Singularity,
memastikan RRT akan segera menjadi
pusat terbesar pengembangan AI di dunia,
setelah mengunjungi kota-kota RRT tahun
lalu.
Itulah yang membuat Henry Kissinger
dalam usia 90an merasa perlu menulis
artikel panjang di Atlantic Monthly, yang
memperingatkan bahaya nyata berupa
keunggulan AI Cina dalam persaingan
dengan Amerika -- keprihatinan politisi
veteran memang terbatas dalam konteks
kemampuan kompetisi negaranya di
panggung global. Kissinger mengaku
sudah banyak berdiskusi dengan pakar-
pakar terbaik AI dan menyimpulkan bahwa
dalam soal teknologi yang sama sekali ia
tidak kenali itu, RRT sudah mengungguli
Amerika.

20 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 569


Di tangan penguasa seperti Kim Jong-Un,
detektor AI bisa digunakan untuk
mengamati detak jantung dan perasaan
warganya. Jika ada warga Pyongyang yang
saat menyaksikan pidato dia di televisi
tertawa mengejek, meski secara diam-
diam di rumahnya sendiri, mungkin dalam
lima menit ia didatangi pasukan khusus
yang akan membawanya ke lapangan
tembak.
Untuk persenjataan, salah satu skenario
yang sudah dibayangkan, dan telah dibuat
video simulasinya, adalah pembentukan
barisan tentara robot sebesar lalat. Sebuah
pesawat bisa mengangkut berjuta-juta
serdadu semacam itu untuk diterjunkan di
wilayah musuh. Mereka bisa beterbangan
ke sana ke mari tanpa seorang pun di
wilayah itu menyadarinya.
Seekor serdadu AI bisa menyelinap di
sela-sela jendela gedung tinggi yang
terbuka, lalu masuk ke ruang rapat tempat
para pemimpin atau pebisnis sedang
berunding, dan menembak. Setiap ekor
cukup membawa tiga gram mesiu; ini
jumlah yang cukup untuk memastikan

20 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 570


kematian korban jika ditembakkan ke otak
atau jantung manusia, dan serdadu lalat
pasti mampu menembak dengan akurat.
Serdadu robot supermini semacam ini sulit
dikontrol pembuatan dan
pengembangannya. Senjata nuklir tentu
saja merupakan ancaman paling
mengerikan bagi umat manusia, selain
runtuhnya ekosistem dunia, tapi proliferasi
nuklir dan pengayaan uranium untuk
pengembangannya di sejumlah negara
lebih bisa dikontrol, diawasi badan nuklir
PBB dengan protokol yang mendetail.
Untuk pengembangan serdadu robotik,
bagaimana cara dunia mengontrolnya?
*
Dengan teknologi yang kecanggihannya
mencemaskan itu, pada banyak
kesempatan lain Stephen Hawking tetap
cemas akan kemungkinan dunia
ditaklukkan oleh alien dari luar angkasa.
Berulang kali ia memohon agar jangan ada
upaya apapun dari pihak manusia untuk
coba-coba mengontak mahluk-mahluk
luar angkasa. Jika kontak terjadi dan
20 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 571
mereka tertarik dengan kita, menurut dia,
umat manusia akan sangat terancam
karena mereka ia yakini memiliki teknologi
yang jauh lebih unggul dan karenanya
akan memperbudak kita.
Fisikawan dan pemopuler sains Michio
Kaku juga percaya keberadaan alien.
Bahwa mereka tidak tertarik atau belum
berminat kepada manusia bumi, itu karena
mereka anggap kita terlalu remeh untuk
diperhitungkan.
"Ibarat Anda melakukan perjalanan
dengan mobil," kata Kaku, "di tengah jalan
Anda buang air kecil lalu melihat semut di
rerumputan.
Apakah Anda akan tanya kepada semut itu
di mana ratunya dan sebagainya? Tentu
tidak, kan? Sebab semut itu sangat remeh.
Begitu juga: manusia dianggap tak berarti
oleh alien luar angkasa itu."
Meski Hawking berulang kali mewanti-
wanti agar ilmuwan menghentikan upaya
mengontak mahluk luar angkasa, upaya-
upaya ke arah sana terus saja dilakukan
sejak beberapa puluh tahun lalu. Stasiun-

20 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 572


stasiun pemancar dan penerima
gelombang terus disempurnakan
kepekaan dan kecanggihannya, misalnya
parabola raksasa yang diletakkan di
pegunungan Peru. Tahun depan bahkan
akan mulai dibangun parabola seluas satu
kilometer persegi, dengan satu juta antena
radio, oleh konsorsium pimpinan Australia.
Ilmuwan bumi pernah mengirim sapaan
perkenalan dengan menggunakan suara
wartawan mashur Walter Cronkite, selain
mengirim Ninth Symphony Beethoven.
Tiada tanggapan apapun dari atas sana.
Mungkin Michio Kaku benar. Kita hanya
mereka pandang seremeh semut yang
tertatih-tatih di rerumputan.
Tapi para ahli tetap giat memburu alien
dengan proyek pencarian kehidupan di
luar angkasa (SETI, search for
extraterrestrial life). Joseph Gale baru-
baru ini menulis di International Journal of
Astrobiology (ya, mereka bahkan sudah
membentuk disiplin astrobiologi) bahwa
temuan-temuan mutakhir AI akan
mengubah seluruh paradigma SETI. Dan
Singularity yang tercapai 25 tahun lagi

20 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 573


akan merupakan pencapai manusia
terbesar dan terakhir. Kisah selanjutnya
tidak ada yang mampu meramalkan.
*
Dalam perkembangan lain, muncul
metode editing gen, seperti telah disebut.
Jeniffer Doudna, pelopor metode itu,
dalam ceramah di TED mengimbau para
moralis dan etisis untuk memikirkan
dampak dari kemampuan editing gen
(pendefinisi manusia).
Ia menunjukkan bukti bahwa teknik
CRISPR Cas9 memang mampu mengedit
gen, dengan menunjukkan gambar-
gambar tentang apa yang telah dikerjakan
di laboratoriumnya. Dua dari enam ekor
tikus tanpa bulu terlihat berwarna hitam di
layar besar -- menunjukkan bahwa editing
gen bisa mengubah warna kulit sebagai
salah satu kemampuannya.
Sambil berpesan kepada para etisis agar
memikirkan masalah ini, Doudna
mengisyaratkan bahwa mereka mungkin
bisa menetapkan batas-batas etis untuk
editing gen, tapi tidak boleh dan memang

20 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 574


tidak akan bisa membendung hasrat
ilmuwan untuk melanjutkan penelitian dan
kemampuan mereka.
Dalam dunia yang kian terbuka,
kemampuan ilmiah semacam itu memang
dengan cepat menyebar di kalangan
profesional sejenis. Dan benar saja. Tak
lama kemudian, seorang dokter Cina
mengklaim telah menerapkan metode
CRISPR terhadap seorang perempuan
hamil demi menyelamatkan bayinya.
Doudna mungkin teringat dan tak mau
terulang apa yang terjadi beberapa tahun
sebelumnya ketika teknologi stem cell
ditemukan. Pemerintahan George Bush Jr.
melarang penerapannya, diduga karena
tekanan Christian Coalition. Para ilmuwan
dan dokter spesialis bidang itu segera
menanggapinya dengan berbondong-
bondong pindah dari Amerika, konon
jumlahnya beribu-ribu, terutama ke
Inggris. Amerika mengalami brain drain
yang sangat merugikan.
Semua orang tahu kekuatan utama negeri
itu adalah kehebatan universitas dan
ilmuwan-ilmuwannya (perolehan Hadiah
20 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 575
Nobel bagi ilmuwan Amerika yang sangat
besar merupakan indikator pentingnya).
Jika cuaca keilmuan mendung, kegiatan
ilmiah tentu akan merosot dan bisa
melanda bidang-bidang lain, bukan hanya
sektor stem cell.
Lagi pula, negara telah berinvestasi sangat
besar untuk mencetak begitu banyak ahli;
ironis jika hasilnya justeru dipetik negara
lain, tempat mereka "mengungsi"; betapa
beruntungnya negara-negara itu,
mendapat ahli-ahli terbaik tanpa pernah
berinvestasi untuk mencetaknya. Brain
drain itu begitu terasa. Tak lama kemudian
Presiden Bush mencabut larangan untuk
menarik pulang jagoan-jagoan medis itu.
Sebagian besar kabarnya kembali; hal
yang tidak bisa disebut brain gain oleh
Amerika.
*
Demikian pula, para penggiat biologi
sintetik (synbio) pun mengirim surat
kepada Presiden Obama di masa kedua
presidensinya. Mereka memberitahu
bahwa mereka akan segera sanggup
menciptakan mahluk baru, dan
20 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 576
mengharap pemerintah Amerika
mengeluarkan keputusan yang jelas
mengenai hal ini.
Tentu saja dampak hal itu adalah mereka
bisa pindah ke negara lain seandainya
keputusan Obama tidak mendukung. Dan
hal itu menyimpan potensi bahaya. Tidak
ada yang bisa menjamin karya-karya
mereka tidak digunakan oleh negara-
negara lain untuk pemanfaatan mahluk-
mahluk itu dengan cara yang merugikan
Amerika dan dunia.
Presiden Obama kemudian membentuk
komisi khusus untuk mempelajarinya, dan
dia sendiri yang menjadi ketua komisi. Tak
terdengar lagi kabar lanjut isu ini, seolah
tenggelam oleh gemerlap cahaya sang
primadona baru: artificial intelligence
dengan segenap buahnya yang memukau
sekaligus menggentarkan dunia.
Tak ada lagi berita perkembangan
kemajuan synbio, setelah kita disuguhi
dokumenter Craig Venter yang dari kapal
ekplorasinya di tengah laut, menyatakan:
"Masa depan dunia ada di kapal ini."
Venter adalah ahli biologi yang pertama
20 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 577
kali membuat sekuensi genom secara
lengkap.
Ia bekerja di luar kampus, di lembaga
miliknya sendiri, J. Craig Venter Institute. Ia
pernah mendapat USD 600 juta dari
raksasa Exxon untuk membuat bahan
bakar minyak dari air dengan berbasis
bakteri
Exxon yang cerdik tidak akan sudi
memberi uang sebanyak itu jika Venter
tidak menunjukkan dengan meyakinkan
bahwa teorinya realistis.
Apakah tenggelamnya pemberitaan
tentang synbio berarti berhenti pula
aktifitas para penggiatnya?
Di saluran TV National Geographic,
George Church dari MIT, yang juga
pelopor CRISPR, dengan kalem dan
percaya-diri menunjukkan bahwa ia dan
timnya hanya perlu melengkapi kira-kira
seratus tahap lagi untuk membuat
manusia. Itu jumlah yang kecil. Sekian ribu
problem lainnya sudah mereka atasi.
Aktifitas Church, Venter, dan lain-lain
itulah yang membuat Newsweek membuat
20 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 578
cerita sampul kira-kira sepuluh tahun lalu:
Life 2.0. Kehidupan akan segera naik ke
level berikutnya, seperti kapasitas
komputer.
Ternyata ambisi itu diambil alih oleh AI,
sehingga Max Tegmark memberi judul
bukunya, Life 3.0: Being Human in the Age
of Artificial Intelligence [2017]. Ia memberi
nafas spirit yang berbeda daripada ambisi
para penggiat synbio, sesuai visinya yang
sangat hati-hati dan kritis terhadap
potensi destruktif AI.***
Sumber:
https://www.facebook.com/hamid.basyaib/posts/10
158395359604894

20 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 579


21 JUNI 2020 | HAMID BASYAIB

Romantisisme dan Falasi


Memedi Goenawan
Mohamad (6 dari 6)
Hamid Basyaib

Kritik saya terhadap sikap negatif GM atas


sains sudah saya sampaikan dalam
pengantar berjudul "Stamina, Style,
Strategi Goenawan Mohamad" untuk
kumpulan Catatan Pinggir 12 yang terbit
tiga tahun lalu (Penerbit Tempo, 2017). Di
situ antara lain saya menulis:

"Cukup mengherankan bahwa sebagai


pemikir yang punya minat dan
keprihatinan besar pada begitu banyak
bidang, .... ia sangat kurang peduli -- jika
bukan cenderung merendahkan --
perkembangan mutakhir di bidang sains…..
Semuanya berpengaruh sangat besar pada
cara manusia memandang dirinya dan
dunia; pada cara orang berbisnis dan
menghabiskan waktunya; pada
kemampuan pemerintah-pemerintah

21 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 580


mengatur dan mengawasi warganegara
mereka.”

Jauh sebelumnya, pada 1989, Ignas


Kleden mengeluh betapa sulitnya
menemukan kejelasan sikap dan proposisi
Goenawan dalam esai-esai Catatan
Pinggir-nya. Dalam pengantar kumpulan
Catatan Pinggir 2, berjudul “Eksperimen
Seorang Penyair", Ignas Kleden
menyatakan satu-satunya hal yang jelas
dalam sikap Goenawan hanya ketika ia
membahas soal penyair dan kepenyairan.
Sedangkan untuk semua isu lain, ia
menggunakan teknik persuasi estetik,
bukan mengajak kita berargumentasi
secara diskursif. Ketika membahas
birokrasi, misalnya, Goenawan
menggambarkan birokrasi dengan:
"sebuah meja yang penuh bekas rokok…
sebuah ruang yang tak pernah lagi dipel…
sederet map kertas yang tak jelas
fungsinya, toh sementara itu semuanya tak
dibuang." Sedangkan birokrat adalah
orang yang "sedikit bicara, sedikit berbuat,
sedikit menongol."

21 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 581


Dengan "perumusan masalah" semacam
itu, apa yang bisa dilakukan terhadap
birokrasi dan birokrat? Apakah, misalnya,
jika ruang kerja para birokrat itu dipel
lebih sering maka kondisi birokrasi akan
membaik, dan para birokrat akan lebih
sering menongol?
Goenawan tidak menyiratkan konsekuensi
apapun dari “definisi” rumusannya tentang
birokrasi dan birokrat itu – dan agaknya
"hipotesis" semacam itu tidak mungkin
dimasukkan dalam agenda riset studi
public policy ataupun administrasi
pemerintahan.
Bagi Ignas, esai-esai Goenawan "penuh
bertabur bunga tapi sulit ditebak jenis
tanamannya." Tiga dekade setelah Ignas
menulis itu – tiga puluh satu tahun
kemudian -- kita masih mudah untuk
setuju dengannya, karena ciri itu masih
terus “menongol” dalam esai-esai
Goenawan, bahkan tetap terlihat dari
tulisan-tulisannya di polemik ini.
Kita dibuat terhuyung-huyung di labirin
kutipan penggalan kalimat atau frasa
Jerman, Inggris, Prancis atau Italia dari
21 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 582
para filosof kuno Eropa yang – kalaupun
akurasinya bisa dijamin -- hanya sedikit
terkait dengan apa yang nyata dikerjakan
oleh ilmuwan dan apa yang terjadi di
dunia berkat temuan-temuan mereka.
Ignas menyimpulkan bahwa yang selalu
ditebar oleh Goenawan dalam esai-esai itu
adalah skeptisisme yang tak pernah
ditingkatkannya menjadi sikap kritis. Ignas
merangkum seluruh ciri itu dengan
meminjam formulasi Karl Popper (nama
yang dalam polemik ini ternyata kembali
muncul, bahkan Goenawan mengklaim
dirinya sebagai "rada Popperian") tentang
ekspresionisme epistemologis.
Maknanya: “suatu uraian yang bagian-
bagiannya tidak dianggap sebagai
proposisi-proposisi yang dapat
didiskusikan secara objektif, tetapi harus
diterima sebagai ekspresi keadaan mental,
situasi kejiwaan, atau percikan ke luar
suatu interioritas yang pribadi dan intim.”
Dengan semua ciri itu, maka esai-esai
Goenawan, disebut “terlalu banyak puisi
untuk hal yang terlalu prosais.” Merujuk
ciri-ciri Romantisisme seperti dipaparkan
21 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 583
Stanford Encyclopaedia of Philosophy, kita
mudah untuk sepakat dengan analisis
Ignas Kleden dan juga rujukannya pada
Karl Popper.
*
Lalu bagaimanakah masa depan sains?
Apa yang dikemukakan Stanislav Grof
barangkali bisa sedikit menghibur mereka
yang mengidap rasa sengit terhadap sains
– meski atas dasar ketakmengertian yang
kronis, yang bahkan tetap bertahan
walaupun telah diajukan penjelasan
panjang-lebar yang seterang matahari
pagi tentang apa dan bagaimanakah sains
itu.
Menurut ahli biologi Jerman-Amerika itu,
sains bisa dan akan berakhir jika tiga isu
besar ini terpecahkan: 1] asal-usul alam
semesta 2], kesadaran dan cara kerjanya;
3] mengapa sebuah entitas sesederhana
spermatozoid bisa berkembang menjadi
organisme yang begitu kompleks berupa
manusia.
Tapi itu bukan berarti ikhtiar saintifik
benar-benar berakhir dalam arti harfiah; ia

21 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 584


lebih merupakan akhir simbolik. Sama saja
dengan kalau orang berkata “filsafat sudah
mati” [misalnya dikatakan oleh Stephen
Hawking seperti dikutip Goenawan], tentu
itu artinya kekuatan eksplanasi dan
intelektual filsafat sudah pudar, semakin
jauh tertinggal dari kekuatan sains, yang
ditopang oleh metodologi yang terus
disempurnakan.
Tentu saja menggelikan jika pernyataan
semacam itu dimaknai literal, apalagi oleh
seorang yang menggandrungi metafora,
dan orang yang mengatakannya harus
memberi pembuktian “secara ilmiah”
seperti diminta Goenawan; disetarakan
dengan pernyataan tentang kematian
klinis seekor kucing. Apalagi, metafor
semacam itu sudah sering dikatakan
orang, misalnya oleh F. Nietzsche [God is
Dead], Daniel Bell [The End of Ideology],
Francis Fukuyama [The End of History],
John Horgan [The End of Science].
Bahkan Martin Heidegger, filsuf favorit
Goenawan, punya buku berjudul The End
of Philosophy [diterjemahkan oleh Joan
Stambaugh]. Kepada mereka semua tentu

21 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 585


tidak selayaknya kita minta pembuktian
“secara ilmiah” atau menanyakan di
manakah kuburan hal-hal yang sudah mati
atau berakhir itu – bahkan sebagai
gurauan pun permintaan naif ini tidak
memenuhi syarat untuk disebut “lucuk”.
Jadi jelaslah, pernyataan “filsafat sudah
mati” itu bahkan sudah dikatakan orang
puluhan tahun silam; tentu tidak perlu
disikapi dengan emosionalisme membara
seolah-olah cuma saya sorangan yang
berani-beraninya mengatakannya, tadi
pagi.
Menurut Grof, kegiatan sains masih akan
terus berlangsung di mana-mana dan
dalam berbagai sektor dan disiplin. Tetapi
kerja sains hanya berkenaan dengan
cabang dan ranting-ranting saja, terutama
yang terkait langsung dengan penciptaan
teknologi. Sebab isu-isu terbesarnya, yaitu
ketiga hal tadi, sudah terungkap.
Masalahnya, seandainya pun kita setuju
dengan Stan Grof, jalan ke arah sana
masih panjang dan berliku. Para fisikawan,
misalnya, sejak beberapa dekade lalu
berambisi mengupayakan theory of
21 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 586
everything (ToE), suatu kerangka teori
koheren yang mampu mengaitkan seluruh
aspek fisik alam semesta (yang
pembentukannya melahirkan tiga bidang
ilmu utama yaitu fisika, kimia dan biologi).
Banyak juga ahli yang percaya "teori
segalanya" itu mungkin diraih. Konon
sedikitnya kini ada dua calonnya, String
Theory dan Loop Quantum Gravity. Tapi
tak sedikit yang tak percaya. Geoffrey
West, pakar fisika dan eks direktur Santa
Fe Institute, cenderung menertawai upaya
pencarian ToE itu, yang pernah pula
diupayakan oleh Hawking tapi kemudian
ditinggalkannya.
Bagi West, penulis Scale: The Universal
Laws of Life and Death in Organisms, hal
itu tak masuk akal. Sebuah teori yang
lengkap di suatu disiplin atau subdisiplin
mungkin saja diperoleh. Tapi ToE sungguh
sukar dibayangkan.
Dan barangkali optimisme (?) Stan Grof
dan pesimisme Geoffrey West itu kalah
cepat dalam perlombaan dengan manusia
hibrid Ray Kurzweil. Semua rencana itu,
baik perburuan ToE maupun impian West
21 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 587
yang membiarkan setiap disiplin memburu
teori lengkapnya masing-masing, akan
menempuh jalur yang sama sekali baru,
sesuai dengan ketakterdugaan
perkembangan cyborg.
Alam semesta ini, kata Stephen Hawking,
yang telah memberkahi kita dengan
pemahaman yang menggetarkan tentang
alam semesta, terbentuk karena hukum-
hukumnya sendiri, 13,8 miliar tahun yang
lalu. Pertanyaan tentang apa yang ada
atau terjadi sebelum itu, menurut
Hawking, adalah pertanyaan yang tak
bermakna, karena pertanyaan itu
mengasumsikan sudah ada waktu yang
menjadi titik referensi, padahal dalam awal
pembentukan universe tersebut waktu
tidak ada.
Pertanyaan ini, katanya, setara dengan
pertanyaan: apa bagian selatannya Kutub
Selatan (what lies south of the South Pole);
apa yang ia disebut "no-boundary
proposal" yang ia rumuskan bersama
James Hartle ini dikemukakan pertama
kali di forum akademis Vatikan pada 1981,
diutarakannya dalam buku Grand Design

21 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 588


[2010], dan diulanginya 1,5 tahun sebelum
ia wafat.
Ia menyebut bentuk alam semesta di masa
formatif itu seperti kok bulutangkis
(shuttlecock) dalam posisi melintang,
dengan bidang dasarnya berupa ruang
murni (tanpa waktu).
Terhadap ungkapan mashur yang disebut
dinyatakan oleh Albert Einstein, bahwa
"Tuhan tidak bermain dadu", sanggahan
Hawking membuyarkan semua upaya
pemanfaatan religius atas pernyataan itu
dengan mengatakan: "Masalahnya, Tuhan
melempar dadu itu di tempat yang kita
tidak bisa temukan."
Jadi ikhtiar saintifik haruslah diteruskan,
untuk menemukan tempat dadu-dadu
metaforis itu dilontarkan, tanpa perlu
dihalangi oleh godaan-godaan keyakinan
yang tak mungkin
dipertanggungjawabkan dari segi
epistemologi, karena tiada jalan apapun
bagi upaya pembuktian atas keyakinan itu.
Steven Weinberg termasuk orang yang
tidak tahu di manakah tempat dadu-dadu

21 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 589


itu dilempar. Ia mengatakan, alam semesta
ini tak bertujuan [purposeless]. Ia tahu,
banyak orang akan keberatan dengan
pernyataannya yang seolah
menghancurkan segala sesuatu yang
diyakini memiliki tujuan luhur. Tapi, kata
Weinberg, pemenang Nobel Fisika 1979,
fakta itulah yang ia temukan dari upaya
pencarian matematis atas dasar kejujuran
akademis-ilmiahnya.
*
Sejarawan Harari, sambil mengakui betapa
besar dunia membaik berkat
perkembangan sains dalam beberapa
ratus tahun terakhir (harapan hidup yang
memanjang, kesejahteraan umum
meningkat tinggi) tak bisa menjawab soal
kebahagiaan. Apakah manusia sekarang
lebih bahagia dibanding lima ratus tahun
silam? Tidak dapat dipastikan.
Ia juga menganggap manusia, seperti
alam semesta, tak bertujuan; sebab evolusi
yang mengaturnya hanya berkepentingan
dengan reproduksi, urusan menyambung
rantai evolusi dengan memperbanyak

21 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 590


jumlah, bukan dengan tujuan hidup
ataupun kebahagiaan.
Tetapi dalam konteks sejarah, terlihat jelas
umat manusia bergerak konvergen,
cenderung merasa bahwa kemanusiaan
adalah satu, meski berbagai cirinya
beraneka ragam. Setelah pertama kali
keluar dari Afrika 70 ribu tahun lalu dan
berpencar sampai akhirnya menempati
seluruh sudut bumi (kini tak ada satu pun
pojok bumi yang tak dihuni atau
disinggahi manusia), lalu di sana sini
mengobarkan perang yang sering sangat
bengis, kini manusia bergerak untuk terus
mempersatukan diri, bukan secara fisik,
tapi terutama secara mental.
Kehadiran PBB dengan segala lembaga
berbagai bidang yang dipayunginya bisa
dilihat sebagai simbol hasrat bersatu itu.
Ukuran-ukuran kesehatan, keamanan,
kebersihan, kesejahteraan hidup dan
pendidikan, misalnya, terus ditetapkan
sama untuk semua warga di semua
negara.
Semua itu akan berhenti jika ramalan Ray
Kurzweil, untuk ke sekian puluh kalinya,
21 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 591
terbukti. Dan ia bukan hanya meramal,
atau menunggu ramalannya terbukti
sendiri. Ia turut aktif mewujudkan
ramalannya itu dengan segala macam
aktifitas guna melahirkan manusia-hibrid,
mematangkan situasi Singularity, ketika
sejarah manusia-biologis berakhir. Dan
manusia keluar dari skema evolusi yang
sudah berlangsung 3.5 miliar tahun – jejak
sel tunggal atau LUCA dari masa itu, kata
para ahli biologi, masih ada di dalam
tubuh kita hari ini - - untuk melangkah ke
arah yang belum dapat diperkirakan.
Kita juga tak bisa hanya berdebar
menunggu Singularity yang tak lama lagi
itu. Apapun yang terjadi, keadaan apapun
yang melingkupi diri kita, termasuk
dikepung jenis virus baru seperti yang
mencekam kita hari-hari ini, kita boleh
terus bertanya.
Dan sains akan terus membantu kita
merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang
benar dan berguna dalam hidup yang
maknanya perlu terus diperkaya, agar the
purposelessness of life tidak sia-sia

21 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 592


sempurna, sebab kita telanjur ada di
dalamnya.
Sumbangan sains itu tidak perlu direcoki
dengan tuduhan-tuduhan palsu yang
dangkal, distortif dan hanya merupakan
pameran desperasi. Sudah jelas ilmuwan-
ilmuwan terpenting dalam sejarah
mutakhir pun kritis terhadap dunia sains,
seperti misalnya ditunjukkan oleh Stephen
Hawking dan beribu-ribu ilmuwan dan
teknolog lain dengan petisi mereka
kepada PBB agar mengatur
pengembangan teknologi artificial
intelligence.
Kaum awam penggandrung sains pun
sangat paham tentang isu sederhana ini,
yaitu bahwa sains bukan hal yang
sempurna. Para filsuf lampau yang nama-
namanya banyak dimunculkan dalam
polemik ini sudah jauh sekali tertinggal
relevansinya dari perkembangan sains
mutakhir.
Senam filsafat yang coba dilakukan oleh
para pengikut bapak-bapak filsuf Eropa
itu, yang sangat mungkin spekulasi-
spekulasinya saling berbenturan -- tapi
21 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 593
pendapat-pendapat mereka yang
dimutilasi di sana-sini diringkus saja
sekenanya tanpa peduli pentingnya
kejujuran intelektual, konsistensi dan
koherensi ide -- hanya akan berputar-
putar di sekitar teriakan tuduhan
saintisme.
Teriakan itu makin parau, dan akhirnya tak
lebih hanya menggemakan kecemasan
agama terhadap sains, terutama di
Amerika -- hanya kalangan itu yang
sampai hari ini masih sekali-sekali
mencoba meneriakkannya, tentu tanpa
hasil apapun. Mungkin karena fakta ini
maka Goenawan kemudian enggan
melanjutkan pembahasan tentang
“saintisme”.
Saya rasa orang-orang yang memilih
meledek apa yang mereka sebut
“saintisme” telah salah pilih. Bukannya
turut mengapresiasi sains modern, dengan
segala kurang-lebihnya – dan siapa tahu
dengan ini makin banyak orang yang
mengembangkan perangai ilmiah, dan
bukan suntuk dengan tahayul dan
obskurantisme -- mereka malah sibuk

21 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 594


menggambar aspek karikaturalnya, sambil
tak bosan-bosannya memamah spekulasi-
spekulasi filsafat baheula, yang ternyata
tak pula mereka pahami dengan memadai,
seperti diakui oleh Goenawan tentang
Martin Heidegger, seorang filosof anti-
Semit dan pendukung loyal Nazi, sehingga
sejumlah penulis, misalnya Fried Gregory,
menghubungkan filsafatnya dengan
Naziisme.
*
Saya telah mencoba menunjukkan amat
sedikit perkembangan sains mutakhir,
yang sedang dan akan mengubah wajah
dunia, bahkan berpotensi
menjungkirbalikkan eksistensi kita sebagai
manusia. Saya mengungkapkannya sambil
sekali lagi mengingatkan tentang cicak
Ivan Turgenev. Adalah ironi besar jika
mereka terus memegang ekor cicak tanpa
menyadari cicaknya sudah berlalu sambil
menumbuhkan ekor baru.
Tapi bagi Goenawan ilustrasi panjang
tentang state of the art sains di berbagai
bidang itu hanyalah “katalogus sains yang
hebat-hebat” dan “tak memberi insight
21 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 595
baru”; tanpa menyadari yang dilakukannya
adalah tak henti-hentinya menyuguhkan
katalogus usang ide filosof-filosof lama
Eropa, yang tak ada hubungan apapun
dengan perkembangan sains mutakhir.
Dalam konteks ini ia tergopoh-gopoh
memburu nama yang tampak baru
didengarnya, dan segera mengutipnya,
walaupun “saya belum paham benar
pemikiran Meillassoux.”
Bahkan saat spekulasi-spekulasi itu
diungkapkan berpuluh-puluh tahun silam,
umpamanya oleh pemuda usia 30-an
seperti Heidegger, ia dikategorikan
sebagai “agrarian nostalgia”, misalnya oleh
arsitek-filsuf Nader el-Bizri.
Saya mencoba menarik diskusi ke situasi
sains mutakhir, agar polemik ini relevan,
antara lain karena ada banyak dilema di
sana, dan sebagian dilema itu bahkan
terkait langsung dengan eksistensi
manusia di bumi ini. Bukankah hal ini
merupakan “a clear and present danger”
yang patut mendapat perhatian besar kita
sebagai warga bumi?

21 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 596


Tapi Goenawan menampik ajakan ini,
malah menganggap saya “mengelak
berkonfrontasi” dengan pertanyaan
epistemologis karena dasar epistemologi
saya kurang siap. Padahal, menurut dia,
untuk memahami semua itu “memang
diperlukan dasar epistemologi yang kuat –
juga filsafat.” Ia lalu menyayangkan saya
yang “tak [mau] belajar filsafat.”
Saya tidak tahu apa yang dimaksud
Goenawan dengan “belajar filsafat”. Jika
yang dia maksud adalah belajar formal di
ruang kuliah, saya memang hanya sempat
belajar Filsafat Ilmu satu semester semasa
kuliah, selain belajar Filsafat Hukum dan
Filsafat Hukum Islam. Saya memang
sangat sedikit membaca, misalnya,
Thomas Kuhn, Karl Popper, Feyerabend,
atau Imre Lakatos.
Subjek ini memang berat, maka saya
mencoba menyentuhnya di permukaan
saja, lalu berusaha menarik perhatian pada
apa yang saya pandang urgen, yaitu
mencoba menularkan scientific temper
pada publik pembaca polemik, pada
perkembangan sains mutakhir berikut

21 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 597


dilema-dilemanya. Saya pikir, biarlah para
peserta lain yang lebih paham tentang
epistemologi yang membahasnya, dengan
begitu polemik ini bisa lebih kaya.
Tapi setahu saya Goenawan sendiri tidak
pernah belajar formal tentang filsafat, juga
tentang semua subjek yang dengan
gagah-berani dibahasnya -– kapitalisme,
sosialisme, perubahan iklim, pisang,
kesastraan, Tuhan, epidemiologi, agama,
dan ... semua urusan yang pernah dikenal
umat manusia, bahkan sains.
Dalam isu epistemologi, misalnya, seperti
terlihat jelas dari polemik ini, Goenawan
bukan hanya kurang siap, tapi cetusan-
cetusan pendapatnya lebih sering
membingungkan daripada menjernihkan
duduk perkara. Kutipan-kutipannya atas
Alfred Whitehead, misalnya, sungguh
ganjil, dan sulit dipercaya bahwa
Whitehead berpendapat seperti itu
[misalnya tentang ketidakperluan berpikir
keras dan tertib]; bahkan “empirisme
radikal” Whitehead, aneh sekali,
disetujuinya [ini sebetulnya alternatif
untuk kritiknya terhadap filosof David

21 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 598


Hume, bukan kritik atas Issac Newton;
pemikiran Hume disebutnya
"sensationalist empiricism").
Dan kekeruhan itu dari hari ke hari terlihat
makin jelas. Sehingga Bambang Sugiharto,
misalnya, yang tampaknya diajak
Goenawan turut dalam polemik ini, justru
banyak menjelaskan makna “model”
dalam sains [meski pointers-nya itu
problematik juga karena dicampur aduk
dengan teknologi], dan penjelasan itu
tentu saja ditujukan kepada Goenawan,
karena dialah yang sibuk menyanggah
validitas modeling sains yang disebutnya
mereduksi realitas.
Yang mengherankan juga: tulisan profesor
filsafat dari Bandung itu dipenuhi kata dan
frasa dalam huruf kapital [jadi, ia seperti
sedang menjerit-jerit], sehingga seseorang
di wall Goenawan menilai “ketikan Pak
Goenawan lebih rapi” dibanding ketikan
Pak Bambang, yang rupanya kurang
paham pentingnya kerapian ketikan dalam
sebuah tulisan.
Jika yang dimaksud Goenawan dengan
“belajar filsafat” adalah membaca bacaan-
21 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 599
bacaan populer filsafat, terutama yang
berserakan di internet, saya juga sedikit-
sedikit bacalah. Pastilah tidak setekun dia,
tapi setidak-tidaknya saya mengerti
perbedaan antara penyidik dan penyelidik;
mengerti juga perbedaan ilmu alam dan
ilmu sosial; bahkan saya agak paham
bahwa membuat metafora itu tidak boleh
semau-mau, dan tak boleh dengan
pertimbangan kreatif dan keindahan
semata.
Saya juga tidak pernah menyebut istilah
lama “ilmu pasti” atau “ilmu eksakta”;
bahkan jurusan saya di SMA, puluhan
tahun lalu, sudah menggunakan istilah
“Ilmu Pengetahuan Alam”. Karena itu saya
sering juga ikut praktikum di laboratorium,
tapi saya tidak mungkin dengan naif
meyakini bahwa biologi telah diringkus
dan direduksi oleh preparat dan
mikroskop di laboratorium sederhana itu.
Sebab saya tahu: biologi sudah jauh sekali
berkembang. Para fisikawan, misalnya,
makin banyak yang terjun ke bidang
biologi molekuler, yang bekerja dengan
model-model matematika [bukan dengan

21 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 600


preparat dan mikroskop]; seperti
dikerjakan oleh Abdus Salam untuk
meneliti asam amino, dan tiba pada
kesimpulan sementara: asal muasal
manusia adalah dari luar bumi.
*
Saya sangat heran terhadap usikan
Goenawan tentang “belajar filsafat” dan
“epistemologi yang kurang siap” itu; ini
saya rasa menyentuh taktik argumentum
ad hominem [biasanya ini isyarat
kelemahan atas substansi diskusi].
Padahal, setiap saya menikmati puisi-
puisinya, misalnya, saya tidak pernah
peduli dan bertanya di universitas mana ia
belajar menulis puisi; saya juga tak
bertanya di fakultas apa ia belajar menulis
naskah drama dan menyutradarainya.
Saya hanya berfokus dan menilai kualitas
karya-karya itu. Jika suatu puisi saya
anggap bagus, misalnya, penilaian itu
tidak akan saya batalkan, kalaupun saya
kemudian tahu bahwa penciptanya tidak
pernah kuliah di fakultas sajak atau
akademi puisi. Jika karya itu jelek, saya
pun akan mengkritiknya tanpa mengaitkan
21 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 601
dengan ukuran celana penyairnya, bakmi
kesukaannya, dan hal-hal tak selesai
lainnya.
Akhirnya, saya perlu menegaskan lagi apa
yang semula saya kira tak perlu dijelaskan
bahwa yang saya maksud “filsafat sudah
mati” adalah dalam pengertian simbolik,
metaforis, katakanlah seperti “God is dead”
Nietzsche – yang oleh Goenawan tak
pernah didesak untuk dijelaskan “secara
ilmiah”. Dan itu tidak berarti filsafat tak
berguna sama sekali. Karl Popper
menggolongkan filsafat ke dalam
pengetahuan pre-science [lihat bukunya,
The Logic of Scientific Discovery, 1959].
Ia tidak ilmiah, kata Popper, tapi yang
tidak ilmiah tak niscaya mubazir.
Kesepakatan tentang hak-hak asasi
manusia, misalnya, yang diadopsi PBB
sejak 1948, itu tidak ilmiah.
Di dalam tubuh manusia tidak ada HAM.
Yang ada adalah jantung, usus, ginjal, dan
sebagainya. Tapi prinsip HAM penting
sebagai sarana menghormati martabat
warga negara [ini juga tidak ilmiah],
terutama dari potensi pelanggaran oleh
21 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 602
negara; dan konseptualisasi cakupannya
terus diperluas.
Masalah-masalah dunia dan kehidupan
yang membutuhkan jawaban dan
pemecahan semakin banyak. Sains,
dengan segala keterbatasannya – tapi
jenis-jenis pengetahuan lain mungkin
lebih sulit diandalkan – membantu kita
merumuskan pertanyaan yang bermakna,
sebab pertanyaan kadang lebih penting
daripada jawaban.
Dengarlah Richard Feynman: "Saya lebih
suka memiliki pertanyaan-pertanyaan
yang tidak bisa dijawab daripada punya
jawaban atas pertanyaan yang tidak bisa
diajukan."
Dan itu adalah pernyataan arif yang
rendah hati -- bukan pongah dan
mengidap saintisme. ***
Sumber:
https://www.facebook.com/hamid.basyaib/posts/10
158398460669894

21 Juni 2020 | Hamid Basyaib | 603


21 JUNI 2020 | LUKAS LUWARSO

Sains, Filsafat dan


Storytelling.
Oleh Lukas Luwarso

Terlahir dalam dunia yang diselimuti


misteri dan teka-teki, manusia tidak tahu
mengapa ada di dunia, dari mana, dan
untuk apa. Mau tak mau manusia harus
mencari, atau mengarang, penjelasan.
Pencarian penjelasan dimulai dengan
menyusun mitos-mitos, membuat
spekulasi filosofis, hingga memakai
metode sains. Satu proses evolusi panjang
manusia mencari dan mengakumulasi
pengetahuan.
Pengetahuan itu menjadi bahan bagi
manusia untuk bercerita. Berbagi cerita
dalam segala situasi dan medium,
bergosip, pesta cocktail, posting di media
sosial, hingga menulis buku atau artikel
untuk berpolemik. Bercerita adalah cara
manusia, sebagai mahluk sosial, untuk

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 604


berinteraksi dan berkomunikasi. Manusia
adalah story-teller.
Goenawan Mohamad (GM) adalah contoh
seorang story-teller yang cakap. Terbukti
dari ribuan tulisannya. Artikel panjang GM
terbaru “Sebuah Tempat yang Bersih, dan
Lampunya Terang untuk Sains“ (STBLTS),
menunjukkan kalibernya. Ia bertutur pada
pembaca, mengajak bersikap kritis pada
dogmatisme sains dan saintisme. Mereka,
dituding GM, mirip kaum Positivisme abad
19. Kaum penjunjung panji-panji slogan:
“sains modern satu-satunya jalan
kebenaran”.
GM tak lupa menyertakan kisah bisnis
GMO Monsanto, kekejaman Josef
Mengele, dan praktek pseudo-sains Trofim
Lysenko. Meskipun menyampaikan, tiga
kasus itu bukan “kejahatan sains,” namun
tetap menyebut sebagai contoh adanya
“gerowong” dalam sains. Tuturan kisah
dan kefasihannya memilih kutipan, pasti
memikat bagi mereka yang sejalan dengan
perspektif pemikirannya.
Paparan GM mengesankan telah terjadi
multikrisis dalam dunia sains. Selain “krisis
21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 605
paradigma epistemologis”, komunitas
sains dinilai telah mengalami defisiensi
sikap kritis yang akut. Saintis perlu
“berkhidmat” pada pemikiran filsafat,
misalnya fenomenologi dan hermeneutika,
agar mendapat “pencerahan” untuk
mengibas mendung yang menyelimutinya.
Agar tidak menjadi wilayah tertutup
berkabut dogma. Sains berada di “tempat
yang kotor dan lampunya redup”. Dan GM
menasehati, secara puitis, agar sains
berada di “tempat yang bersih dan terang
lampunya.”
Big wisdom for sains. Mengingatkan
nasehat pepatah-petitih lama: “Hemat
Pangkal Kaya, Rajin Pangkal Pandai, Bersih
Pangkal Sehat.”
Komunitas sains dalam tuturan cerita GM
terkesan telah menjadi semacam “secret
societies”. Sebuah komunitas elite yang
berkomplot untuk menguasai dunia
dengan agenda utama saintifiknya:
“merampas pemaknaan dari pikiran
manusia.”
Segera terbayang nama-nama “secret
societies” yang familiar dalam kisah dunia
21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 606
teori konspirasi: Illuminati, Fremason,
Cabalists, Rosicrucians, Elder of Zions,
entah apa lagi. Sains, saintis, aktivitas
saintifik dan temuan sains menjadi
semacam occultisme yang mengancam.
OK, saya sedikit hiperbolik menafsirkan
narasi GM ini. Tapi, terus terang, saya sulit
menahan geli dengan pandangan GM
pada sains yang begitu muram dan sarat
prasangka.
Saya masih yakin GM tidak sedang
menimbang rasa berpikir ala penggemar
teori konspirasi. Mereka yang gemar
mereka-reka cerita dramatik tentang
adanya “kuasa gelap” yang mengatur,
mengontrol, dan mengubah hidup
manusia dengan maksud membuat
“tatanan dunia baru” (New World Order),
sebagaimana belakangan ini bertebaran
berbagai teori konspirasi terkait pandemi
Covid-19, dari teori virus SARS-CoV-2
sebagai senjata biologis buatan China, eh
Amerika, eh Israel, eh entah buatan siapa;
atau bisnis jahat para kapitalis farmasi
untuk jualan obat dan vaksin; hingga
agenda Bill Gates untuk mendepopulasi
dunia.
21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 607
Membaca esai STBLTS, juga artikel
sebelumnya, kesan kuat yang muncul
adalah: GM cemas dengan kemajuan sains.
Menurutnya, ada yang salah dengan
epistemologi dan metode sains.
Kisah tentang sains, satu tema yang
menarik dan membuka imajinasi tanpa-
batas, menjadi kering dan getir dalam
tuturan GM. Uraiannya soal sains seperti
terkungkung dalam “kubah transparan di
langit yang tidak ada”. Mirip wacana
geosentrisme abad pertengahan yang
mengira bumi diselubungi kubah langit
transparan, yang memisahkan bumi
dengan surga.
Semoga narasi GM pada sains sekadar
romantisme penyair romantik, yang
sedang ingin meromantisasi segala hal
terkait sains. Sekadar ekspresi kecemasan
sambil lalu pada perkembangan dan
perubahan yang diakibatkan oleh sains
dan teknologi. Respon wajar bagi orang
yang tidak ingin ada perubahan pada
dunia yang ia klangeni.
Kecemasan GM, pada kemajuan sains,
terepresentasi dari cara ia menuturkan
21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 608
peristiwa bersejarah, salah satu tonggak
penting sains. Keberhasilan Yuri Gagarin
astronot pertama berada di angkasa luar
ia persoalkan dengan mengutip puisi
Soebagio Sastrowardojo, memaknainya
sebagai: “keterasingan, kesepian, terbuang
jauh dari bumi yang dicintainya.”
Sebegitu romantiknya, GM tidak merasa
perlu ingin tahu, bertanya-tanya pada diri
sendiri, atau sedikit berempati, benarkah
Yuri Gagarin merasa terasing, kesepian,
dan terbuang saat berada di angkasa luar?
GM juga menyepelekan tepuk tangan
manusia di seluruh dunia yang merayakan
dengan “berbinar-binar” peristiwa
bersejarah yang belum pernah terjadi
sebelumnya ini.
Pemaknaan GM, sebagai penyair romantik
elitis, mungkin memang harus beda dari
pemaknaan “manusia pada umumnya”.
Prestasi manusia mengangkasa, satu
proses saintifik yang rumit dan berisiko,
hasil olah ingenuitas dan kecerdasan
manusia, cuma dimaknai dengan
“keterasingan”.

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 609


GM mengawali artikel STBLTS dengan
mengutip puisi, untuk menggugat sains
dan teknologi. Ia berlanjut
mengungkapkan sikap pesimisme dan
sinisme dengan menuturkan sederet karya
sastra yang, menurutnya, menunjukkan
“suara muram” pada prospek kemajuan
sains dan teknologi. Novel H.G. Wells Time
Machine (1960), karya Aldous Huxley Brave
New World (1932). Juga sejumlah film
Hollywood Blade Runner (Ridley Scott)
atau Artificial Intelligence (Steven
Spielberg).
Selain karya sastra dan film, GM juga
merasa perlu mengutip pidato Max
Weber, dan sejumlah filsuf lain, untuk
memastikan bahwa sikap muramnya pada
sains bukan cuma “nyeni”, tapi juga
“filosofis”. Poin kritik GM adalah bahwa
sains “tak pernah menanyakan makna
hidup”, sekaligus ia mengingatkan agar
“jangan jumawa, mampu menjawab segala
hal”.
Kegemaran GM mengunyah polemik lama
(kritik atas paradigma Positivisme abad 19)
yang memicu pemikiran pada jamannya

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 610


tentu valid. Namun era baru
membutuhkan perspektif dan paradigma
baru. Referensi lama baik disertakan
sebagai catatan kaki untuk kelengkapan
historis. Namun dalam konteks sains, lebih
aktual jika mengupas berbagai temuan
dan wacana terbaru dunia sains, dengan
perspektif baru.
Situasi baru membutuhkan pemikiran dan
perspektif baru. Sikap kritis pada
epistemologi sains akan lebih relevan dan
berguna untuk mempersoalkan situasi
terkini “proyek sains” dan potensi
maslahat atau mudaratnya bagi manusia
di masa kini dan masa depan. Jika
niatannya memang sekadar ingin
menambal “gerowong” sains.
Berbagai temuan sains terbaru dan
teknologi turunannya, 75 tahun terakhir,
masih membuat kita terbelalak. Ilmu dan
teknologi komputer, internet, artificial
intelligence, virtual-reality, augmented
reality, nano-technology, synthetic-life,
transhumanism, cognitive-augmentation,
termasuk hipotesis kita hidup dalam dunia
simulasi. Berbagai temuan dan hipotesis

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 611


sains yang membuka imajinasi dan
kreativitas tanpa batas.
Banyak pemikir besar kontemporer yang
lebih aktual untuk dikupas atau dikutip
pemikirannya. Mereka para filsuf-cum-
saintis yang mempertanyakan dengan
tajam problem aktual masyarakat terkait
dengan perkembangan ilmu, sains dan
teknologi. Beberapa nama bisa disebut,
misalnya Nick Bostrom, Mario Bunge,
Luciano Floridi, Stuart Russel, Kevin Kelly,
untuk menyebut beberapa nama.
Jika kecemasan pada sains dan teknologi
menjadi fokus pemikiran, bisa dibaca,
misalnya, buku “Global Catastrophic Risks”
(Nick Bostrom, 2011). Buku kumpulan
tulisan 25 pemikir kontemporer, melihat
ancaman yang dihadapi manusia di abad
21. Ancaman potensi kiamat (existential
risk) dari semburan sinar-gamma, perang
nuklir, perubahan iklim, senjata biologis,
nano-technology, artificial intelligence,
hingga kemungkinan runtuhnya
masyarakat (social collapse). Buku yang
komprehensif, sebagai pengantar, bagi

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 612


yang tertarik dengan isu-isu besar terkait
sains, technologi, termasuk public-policy.
Dalam dunia sains—sama seperti dunia
pemikiran, filsafat, seni, dan sastra—selalu
muncul pertanyaan: Adakah yang baru?
Apa yang beda dari yang pernah ada?
Agar kita tidak letih, selalu menoleh atau
mengulang hal yang sama.
J. B. S. Haldane, ahli genetika dan biologi
evolusioner, dalam “Possible World” (1927)
menyatakan: “Saya tidak ragu, realitas di
masa depan akan sangat mengejutkan
dibanding apapun yang bisa saya
bayangkan. Dugaan saya, alam semesta
bukan cuma lebih aneh dari bayangan
kita, namun bahkan lebih aneh dari apa
yang bisa kita bayangkan.” (I have no
doubt that in reality the future will be
vastly more surprising than anything I can
imagine. Now my own suspicion is that the
Universe is not only queerer than we
suppose, but queerer than we can suppose).
Dengan semangat sikap saintifik,
sebagaimana rasa berbinar-binar J.B.S.
Haldane 100 tahun lalu itu, mari kita
berselancar dalam dunia sains yang terus
21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 613
berubah dan mengubah perspektif kita.
Melacak cerita apa yang sains telah
sumbangkan, sembari membayangkan
seperti apa masa depan alam semesta dan
kehidupan manusia. Tulisan ini ingin
meredakan kecemasan dan kesinisan GM
pada sains. Dengan pendekatan perspektif
yang disukainya: melalui tuturan
penceritaan (story-telling).

FILSAFAT BERTUTUR
“Suasana senja di sebuah pelabuhan kecil,”
tutur Goenawan Mohamad (GM), adalah
contoh kesyahduan alam yang tidak bisa
dirasakan oleh sains.
GM begitu romantis merasakan alam dan
kehidupan. Mungkin ia terpengaruh
Goethe, pemikir era romantik, yang
pernah bilang: “Perasaan adalah
segalanya." Sikap romantisisme ini bisa
menjelaskan mengapa GM sinis dan sengit
memahami sains. Dunia bagi kaum
romantik adalah kanvas indah yang penuh
warna, puisi yang perlu dihayati. Dan sains,
menurutnya, gagal memaknainya.

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 614


Filsafat romantisme memang dikenal lebih
menekankan pada perasaan, ketimbang
pada nalar murni (rasionalisme) atau
dengan fakta dan data (empirisisme).
Paradigma romantik melihat segala
sesuatu dengan “nilai rasa” subyektif.
Blaise Pascal, filsuf romantik, mengatakan
“hati punya alasan yang akal tidak
memahami” (the heart has reasons that
reason knows nothing of).
Epistemologi romantik ingin memahami
segala sesuatu secara holistik
(togetherness of things), ketimbang
deskripsi eksperimental yang analitis,
logis, dan detil. Memakai intuisi atau
perasaan hati—alih-alih memakai
rasionalitas atau penelitian empiris—
adalah misinya menafsirkan dan
memaknai dunia. Logika rasio dan bukti
empiris tidak banyak berarti bagi kaum
romantik, jika tidak menyentuh perasaan
atau emosi. Tidak heran mereka lebih
getol menafsir ketimbang memikir;
mempertanyakan makna ketimbang
menjelaskan fakta.

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 615


Kaum romantik lebih melihat manusia
sebagai “insan” yang utuh, lengkap, dan
sempurna. Mengabaikan bahwa manusia
juga tersusun dari atom, sel dan molekul
seperti mahluk lain, yang muncul
(emergent) dalam proses evolusi panjang
yang terus berlangsung dan belum usai—
sebagaimana deskripsi kaum empiris.
Menikmati senja di pelabuhan kecil,
memang romantik, namun apa perlu
meromantisasi. Begitu banyak pelabuhan
kecil yang mengalami senja tiap hari, satu
rutinitas alam yang berulang setiap hari
dan berpola sama. Kaum romantis perlu
juga menyadari bahwa dibalik “keindahan
senja di pelabuhan kecil ” selalu ada
potensi ancaman gelombang badai,
tsunami, atau kesedihan nelayan yang
gagal menjaring ikan. Alam tidak
selamanya indah, dan hidup tidak selalu
mudah.
Filsafat romantisme yang cenderung
superficial dipersoalkan oleh rasionalisme
dan empirisme. Dua aliran filsafat yang
kemudian melahirkan Positivisme
(Auguste Comte). Pada gilirannya

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 616


positivisme dikritik oleh neo-positivisme,
fenomenologi, hermeneutika, post
strukturalisme, termasuk post-
modernisme.
Kritik terhadap paradigma positivisme
Comte, yang menjadi basis paradigma
sains, cukup gamblang dan “well taken”.
Metode positivistik dinilai mereduksi
realitas hanya pada fakta yang teramati;
mengabaikan sifat kontingensi dan
relativitas pikiran; menyeragamkan
keunikan budaya manusia (sains tidak
aplikatif untuk kajian humaniora, sosial
atau budaya); sains juga memunculkan
negativitas, seperti kerusakan lingkungan
atau kesenjangan sosial. Poin-poin itu lah
yang, lebih kurang, ditulis ulang oleh GM.
Wacana lama yang kembali diulang.
Cukup rasanya ilustrasi memilah-milah
epistemologis filsafat dalam aliran-aliran
romantisme, rasionalisme, empirisme,
positivisme dan seterusnya secara
demarkatif. Kecuali untuk kajian
historiografi pemikiran filsafat, berpolemik
ala abad 19, berbasis “mazhab atau

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 617


aliranisme” filsafat rasanya tidak perlu
dilanjutkan.
Salah satu ironi filsafat adalah sulitnya
merumuskan kesepakatan, bukan hanya di
antara aliran filsafat yang berbeda, tapi
bahkan di internal aliran yang sama.
Ketidaksepakatan pada isu-isu filosofis
yang mendasar membuat kritik filsafat
lebih mirip kritik seni atau apresiasi sastra.
Kritik pada sains, yang rigid metodenya.,
semestinya menggunakan metode yang
jelas.
Tapi itu pula, misalnya, yang ditolak oleh
filsuf Post-modernist, Paul Feyerabend,
yang dalam bukunya “Against Method:
Outline of an Anarchistic Theory of
Knowledge” i(1975). Ia berargumen sains
adalah “upaya anarkis” (an anarchic
enterprise), metode sains itu tidak ada.
Feyerabend menawarkan, secara sarkastis,
metode alternatif untuk sains: "anything
goes" metode apa saja boleh. Baginya,
tidak boleh ada dominasi atau pemaksaan,
metode digunakan sesuai tujuan
penelitian. Gagasan yang cukup
“eksentrik” ini tentu tidak soal untuk
21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 618
diterapkan dalam ilmu humaniora dan
sosial-budaya, tapi sepertinya tidak cocok
untuk ilmu alam. Kritik sarkasme ala
Feyerabend ini membuat dia terisolasi,
dijauhi, oleh komunitas filsafat. Tapi
uniknya, namanya diabadikan oleh
komunitas saintis menjadi nama asteroid
(22356, Feyerabend) sebagai
penghormatan.
Sulitnya menyepakati konsep-konsep,
misalnya, pada aliran terbaru filsafat (abad
21), aliran “speculative realism”. Para
pengusungnya, antara lain Ray Brassier,
Iain Hamilton, Graham Harman, atau
Quentin Meillassoux. Mereka mengritik
filsafat kritisisme Imannuel Kant, juga
post-Kantianisme, sebagai “correlationism”
yang cenderung antroposentrik. Seperti,
mengritik kritisisme perlu agar tetap kritis
dalam mengkritik.
Ironisnya, Ray Brassier, filsuf utama
speculative realism, menolak dirinya
disebut sebagai pengusung aliran ini. Ia
menjaga jarak bahkan mengabaikan
adanya label gerakan pemikiran ini
(“speculative realist movement”) dan

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 619


memilih menyebut aliran pemikirannya
sebagai “nihilism”. Ia menyatakan: “Saya
seorang nihilis, karena saya masih percaya
kebenaran” (Kronos, 2011).
Di luar tuturan spekulatif dan label-label
yang kadang membingungkan, filsafat
tetap menarik sebagai paradigma berpikir.
Filsafat penting untuk mengasah
ketajaman berpikir dan mempertanyakan
hal-ihwal. Namun filsafat juga memiliki
kelemahan akut dalam kegemarannya
menuturkan konsep-konsep dengan
bahasa rumit. Dalam istilah Immanuel
Kant, kegemaran filsuf “berakrobat kata-
kata” (word jugglery) seringkali
mengaburkan makna atau konsep filsafat.
Istilah yang ironis, mengingat Kant sendiri
terkenal sebagai filsuf yang gemar
berakrobat kata-kata dan berumit-rumit
dengan konsep.
Dalam filsafat, misalnya, terdapat
paradigma “compatibilism”. Istilah ejekan
bagi pemikiran yang berupaya
menyelaraskan konsep yang bertentangan
agar bisa “mutually compatible”. Misalnya
soal pertentangan filosofis antara free will

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 620


dengan determinisme, dikompatibelkan
menjadi “soft-determinism”. William
James mengejek kompatibilisme sebagai
upaya menciptakan “rawa-rawa dalih”
(quagmire of evasion) yang secara logika
tidak konsisten. Immanuel Kant menyebut
kompatibiisme sebagai “dalih celaka akal-
akalan” (wretched subterfuge).
William James, filsuf pragmatisme dan
psikolog Amerika, menyebut pertentangan
pemikiran filsafat pada akhirnya bisa
direduksi sebagai soal psikologis. Sejarah
filsafat, menurutnya, adalah perbenturan
perangai manusia (the history of
philosophy is, to a great extent, that of a
certain clash of human temperament). Saat
berfilsafat, filsuf tenggelam dalam bias
perangainya, dan meyakini, dunia sepakat
dengan pemikirannya. “Human, all too
human,” kata Nietzsche.
Pada akhirnya, apapun “drama”
perdebatan atau polemiknya, filsafat
(epistemologi), tunduk pada proses
evolusi. Filsafat dalam perspektif sejarah
juga berevolusi, paradigma berubah, dan
lingkup kajian menyempit, dari hal general

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 621


menjadi spesifik. Filsafat klasik mengulas
alam semesta sebagai obyek kajian
(Cosmocentrism); filsafat abad
pertengahan beralih ke Tuhan
(Theocentrism); lalu filsafat pencerahan
membahas manusia (Anthropocentrism);
dan beberapa dekade terakhir filsafat
post-modern fokus membahas bahasa
(Logocentrism).
Filsafat semakin menyusut wilayah
kajiannya, ketika teori atau temuan sains
dapat menjelaskan dengan lebih baik.
Bertrand Russell dalam “The Value of
Philosophy”, menyatakan filsafat adalah
seni mengajukan pertanyaan, dan sains
melalui metode pengukuran dan
ekperimentasi memberikan jawaban.
Russell menegaskan: “ketika pengetahuan
definitif tentang satu subyek sudah ada,
subyek pengetahuan itu berhenti sebagai
filsafat, menjadi sains” (as soon as definite
knowledge concerning any subject becomes
possible, this subject ceases to be called
philosophy, and becomes a separate
science).

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 622


Studi tentang pergerakan benda-benda
langit pada mulanya wilayah astrologi
(mitologis), kemudian menjadi kajian
filsafat (ontologi), dan selanjutnya menjadi
sains astronomi. Peneitian mengenai
unsur-unsur elemen materi semula adalah
wilayah alchemy, kemudian menjadi ilmu
kimia. Studi tentang pikiran dan mental
(kesadaran) semula wilayah filsafat,
kemudian menjadi psikologi dan
berkembang lebih spesifik menjadi neuro-
sains.
Apakah filsafat akan mati jika wilayahnya
makin menyempit? Tidak, karena hal-hal
yang belum pasti tetap menjadi domain
filsafat. Secara klinis filsafat tidak akan
mati sejauh masih ada pertanyaan
manusia yang belum terjawab.
Kontemplasi filsafat tetap akan penting
untuk memperluas konsepsi berpikir,
memperkaya imajinasi intelektual, dan
mengikis keyakinan dogmatis.
Ludwig Wittgenstein dalam Philosophical
Investigations (1953), menyebut tujuan
filsafat bukanlah mencari kebenaran
namun memberikan kelegaan (the aim of

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 623


philosophy is not to seek the truth but
rather to provide relief). Membebaskan dari
penjara “pseudo-problem” berbagai
pertanyaan manusia. Wittgenstein
menganalogikan manusia seperti lalat
yang terjebak dalam botol, dan filsafat
“menunjukkan lalat jalan keluar dari botol”
(to show the fly the way out of the fly-
bottle).

SAINS BERCERITA

“The universe Is made of stories, not of


atoms.” (Alam semesta terbuat dari cerita,
bukan dari atom) — Muriel Rukeyser,
penyair Amerika.

Umberto Eco dalam novel “Focault


Pendulum” menuturkan, manusia tidak
bisa menerima alam semesta lahir dari
peluang atau kebetulan, karena empat
atom saling bertumbukan. Maka cerita
konspirasi kosmik perlu disusun—Tuhan,
malaikat, setan (juga surga dan neraka)
sebagai cerita . “Jika tidak ada rencana
kosmik, sungguh menjengkelkan, hidup
dalam pembuangan, tanpa tahu siapa
yang membuang. Terbuang dari tempat

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 624


yang tidak pernah ada.” (If there is no
cosmic plan; what a mockery, to live in exile
when no one sent you there. Exile from a
place, moreover, that does not exist).
Dalam artikel “Our Brains Tell Stories So
We Can Live” (Nautilus, 2019), neurolog
Robert Burton menyatakan, tanpa
bercerita manusia akan “tersesat di dunia
yang chaotic.” Otak manusia adalah mesin
pencari pola dan pencerita, selalu melihat
pola pada apa saja yang dipersepsikan
indera. Setelah menemukan pola, manusia
akan menyusun cerita.
Selain bercerita, sains juga tertarik meneliti
mengapa manusia suka bercerita.
Ramachandran dan Hirstein dalam “The
Science of Art: A Neurological Theory of
Aesthetic Experience” (Journal of
Consciousness Studies, 1999) memaparkan
teori pengalaman artistik manusia dan
bagaimana mekanisme kerja saraf.
Kecenderungan manusia menyusun cerita
terkait dengan hormon dopamin. Senyawa
neurotransmiter yang mengalirkan arus
informasi antar-neuron.

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 625


Otak melepaskan dopamin, sebagai
insentif, saat manusia merasa senang,
nikmat, atau puas. Itu sebabnya dopamin
dijuluki happy hormones. Ia menstimulus
hippocampus, bagian otak yang terkait
dengan aktivitas mengingat dan
memahami. Ia membuat naratif untuk
disimpan dalam ingatan (episodic
memory), sebagai sumber imajinasi. Ia juga
membuat peta kognitif untuk dipakai
sebagai navigasi arah dan tujuan kegiatan
sehari-hari, agar tak mudah tersesat.
Manusia menyusun cerita mitologi, agama,
filsafat, dan sains sebagai navigasi agar
hidup lebih mudah dijalani. Berbeda
dengan mode cerita mitologi dan agama
yang memiliki akhir, cerita sains tidak
pernah tamat. Tidak ada “the end, they live
happily ever after.” Cerita sains terus
bersambung, karena penjelajahan terra-
incognita, wilayah yang tak diketahui, terus
dilakukan. Cerita sains selalu diperbarui,
dilengkapi, dan diuraikan dengan semakin
detil. Tidak akan ada habisnya.
Cerita sains adalah rangkaian sejarah
afirmasi memilah cerita faktual dengan

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 626


yang non-faktual (takhayul, mitos,
occultisme, atau spekulasi). Misalnya,
pertanyaan, “dari mana dunia berasal,
bagaimana alam semesta tercipta,” telah
melahirkan berbagai versi cerita. Setiap
suku bangsa memiliki cerita mitos
penciptaan oleh dewa-dewa, versi masing-
masing. Kemudian agama Samawi (Yahudi,
Kristen, Islam), yang dominan dianut lebih
dari tiga miliar manusia, mengambil alih
narasi mitologis kisah penciptaan. Mereka
meyakini, Tuhan monoteis menciptakan
alam semesta dalam waktu enam hari.
Sains memiliki versi tersendiri “kisah
penciptaan”. Teori dentuman besar (Big
Bang) menjadi konsensus saintifik awal
terbentuknya alam semesta, dan
berevolusi miliaran tahun menjadi dunia
seperti saat ini. Big Bang bukan cerita
rekaan, ada dua bukti hasil penghitungan
dan pengukuran valid: spektrum redshift
(Hubble) dan gelombang mikrokosmik
(Penzias dan Wilson).
Kisah Big Bang dianggap valid pada 1964,
setelah melalui proses penyelidikan dan
perdebatan panjang. Pertama kali

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 627


diindikasikan oleh Einstein dalam Teori
Relativitas (1917) dan dirumuskan oleh
George Lemaitre (1927) dengan istilah
“Cosmic Egg” (telur kosmik) sebelum
bernama Teori Big Bang.
Cerita alam semesta berubah dan harus
direvisi berulang kali, sesuai dengan
temuan dan pengukuran teknologi
terbaru. Sebelum Teori Big Bang, manusia
memahami “dunia” sebagai bumi datar
tertutup kubah transparan yang menjadi
batas langit. Dalam kubah transparan ini
ada bintang, bulan dan matahari yang
mengelilingi bumi sebagai semacam
dekorasi. Ini adalah cerita versi paradigma
Geosentrisme, bumi sebagai pusat dunia.
Cerita itu direvisi pada abad 16, dengan
temuan Copernicus, Keppler dan Galileo,
yang menunjukkan bumi dan planet-
planet mengelilingi matahari. Ini adalah
cerita versi paradigma Heliosentrisme,
matahari sebagai pusat dunia.
Pada abad 17 astronom Charles Messier
mengidentifikasi keberadaan galaksi, yang
kemudian dinamai Bima Sakti (Milky Way).
Pemahaman dunia Heliosentrisme harus
21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 628
direvisi. Tata surya matahari dan planet-
planetnya ternyata cuma salah satu dari
miliaran tata surya lainnya di dunia seluas
satu galaksi.
Temuan Edwin Hubble (1929), kembali
merevisi cerita dunia seluas galaksi.
Ternyata di alam semesta bukan cuma
satu galaksi, tapi ada ratusan miliar
galaksi. Dan alam semesta ternyata
mengembang dan meluas, bukan statis
seperti yang dipahami sebelumnya. Cerita
belum berakhir.
Teori Big Bang sebagai cerita sains ditulis
oleh kolaborasi banyak saintis dalam
jangka waktu yang panjang. Ibarat
menyusun buku “sejarah alam semesta”,
saintis masih belum bisa menulis beberapa
paragraf awal: apa faktor yang memicu Big
Bang. Cerita alam semesta akan lebih
menarik jika dimulai dengan kalimat
pembuka: “Pada suatu ketika” (once upon
a time). Problemnya, tidak ada waktu
sebelum Big Bang.
Aristoteles pernah berspekulasi alam
semesta abadi, tidak berawal atau
berakhir. Tapi menurut agama Samawi,
21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 629
Tuhan lah yang menciptakan alam
semesta dalam waktu 6 hari. Apa yang
dikerjakan Tuhan sebelum menciptakan
alam semesta? Tidak ada penjelasan, itu
misteri Tuhan.
Teori Big Bang juga menyisakan misteri
yang serupa. Ada apa sebelum Big Bang?
Alih-alih menyerah, “Oh itu misteri Big
Bang”, sejumlah astrofisikawan
mengajukan cerita (hipotesis) baru
berjudul “String Theory.” Basis ceritanya:
jika alam semesta adalah pertunjukan
drama, partikel subatomik (quark, proton,
neutro, elektron, fermion) adalah aktor-
aktornya dan medan gravitasi adalah
panggung.
String Theory bisa dianalogikan sebagai
“koreografi musik yang mengawali Big
Bang,” lahirnya alam semesta baru. Dalam
kisah String Theory, alam semesta bukan
cuma tunggal (universe) melainkan jamak
(multiverse). Big Bang adalah proses
kelahiran satu alam semesta (yang kita
tinggali saat ini) dari sekian banyak alam
semesta multiverse. Seperti layaknya
organisme hidup, alam semesta lahir,

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 630


tumbuh berkembang, menua, dan mati.
Untuk lahir kembali.
String Theory menguraikan partikel
subatomik muncul dari getaran dawai
(String). Getaran dawai tertentu akan
menghasilkan geliat partikel tertentu,
sebagaimana bunyi senar (gitar, harpa,
atau piano) yang berbeda menghasilkan
nada berbeda. Dengan String Theory,
adegan yang dimainkan berbagai partikel
subatomik (para aktor) bisa dideteksi
dalam panggung gravitasi. Alam semesta,
menurut String Theory, adalah satu
orkestrasi musik kosmik abadi.
Namun masih ada persoalan, cerita String
Theory hanya berlaku jika panggung
gravitasi bukan cuma tiga dimensi,
melainkan 10 dimensi. Ini yang masih
belum terkonfirmasi, dunia yang dipahami
dan bisa diobservasi manusia, sejauh ini,
cuma empat dimensi. String Theory benar
secara hitungan matematis, namun belum
terbukti bisa diobservasi secara empiris.
Ceritanya masih dianggap fiksi, belum
menjadi fakta.

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 631


Tuturan ringkas kisah alam semesta ini
diuraikan sekedar sebagai ilustrasi,
menunjukkan proses cara sains menulis
cerita. Proses kolaborasi saintis, manusia
pintar dari berbagai penjuru dunia, bekerja
sama untuk menjawab pertanyaan. Pasti
tidak semudah proses seorang penulis
romantik, seperti GM, ketika membuat
puisi atau artikel.
Kembali pada tulisan GM, STBLTS. Ia
mencoba “membuktikan” prospek masa
depan kemajuan sains dan teknologi yang
muram, telah digambarkan oleh novel
fiksi-sains dan film. Ia mencontohkan
“Time Machine”, “Brave New World”, “Blade
Runner” dan “Artificial Intelligence”.
Sepertinya GM mengalami konvolusi
membedakan fiksi dengan prediksi,
hiburan dengan kenyataan. Karya fiksi
memikat konsumen dengan menjual
drama, ancaman, atau kengerian. Karena
cerita kebahagiaan, kedamaian, atau
harmoni tidak menarik sebagai bacaan
atau tontonan. Itu penjelasan mengapa
novel atau film fiksi-sains berisi situasi
distopian.

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 632


Karl Schroeder, novelis dan futurist,
mengatakan, tugas penulis fiksi-sains
bukanlah membayangkan mobil masa
depan, melainkan memaparkan
“kemacetan”. Karya yang mampu
mengisahkan secara realistik skenario
buruk akibat sains dan teknologi di masa
depan pasti menarik. Bayangkan jika
dinosaurus dalam serial film “Jurassic Park”
jinak dan patuh pada manusia, pasti
kurang menarik dan tidak laku.
Mengisahkan masa depan yang muram,
sebagai worst case scenario fiksional,
adalah kontribusi penulis fiksi pada sains.
Filsuf estetika Perancis yang fokus
mengamati teknologi, Paul Virilio,
mengatakan “penemuan kapal juga artinya
penemuan kapal-karam” (the invention of
the ship was also the invention of the
shipwreck). Ia mengingatkan setiap inovasi
teknologi selalu diiringi potensi celaka. Ia
mengintroduksi “dromology” (the science
of speed), logika kecepatan, terkait dengan
inovasi teknologi perang dan media.
Kecepatan, menurutnya, mengubah hal
yang alamiah. Siapa cepat akan menguasai

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 633


yang lambat. Virilio menginginkan sains
mengerem obsesi pada teknologi.
Dalam buku “The Administration of Fear”
(2012), Virilio mempersoalkan kepesatan
laju teknologi media. Menurutnya,
komunikasi manusia via komputer dan
internet telah “mendisrupsi ritme biologis
dan pola musiman budaya manusia,
mengakibatkan rasa takut dan cemas.”
Kekhawatiran pada kemajuan sains dan
teknologi bisa dijelaskan secara psikologis.
Pada kasus Virilio, misalnya, ia mengalami
trauma perang. Saat berumur 12 tahun,
kota tempat tinggalnya (Nantes) luluh
lantak akibat serangan Blitzkrieg pasukan
Nazi Jerman. Trauma perang berpengaruh
kuat pada pemikirannya, “perang adalah
universitas saya’”.
Perang memang traumatik. Validkah
menuding sains dan teknologi sinonim
dengan perang? Bagi pemikir “alarmists”,
seperti Virilio, teknologi memacu perang.
Namun bisa dililihat sebaliknya: perang
memacu inovasi teknologi. Manusia gemar
berperang, dengan atau tanpa teknologi.
Kisah manusia adalah rangkaian
21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 634
peperangan tanpa henti, sejak perang
batu zaman purba hingga perang dengan
senjata modern.
Alih-alih pemicu perang, sains dan
teknologi boleh jadi akan menghentikan
perang. Bom hidrogen yang dijatuhkan di
Hiroshima dan Nagasaki menghentikan
perang dunia kedua: “The War To End All
Wars”. Dengan adanya bom nuklir muncul
kesadaran perang adalah kesia-siaan. Akan
terjadi mutual destruction jika manusia
melanjutkan kegemaran berperang.
Perang adalah soal hormonal manusia,
teknologi dipakai untuk mengintensifkan
agresivitas itu. Dugaan saya, di masa
depan, sains akan bisa menghentikan
problem hormonal ini, dengan
menemukan vaksin yang bisa
mengendalikan agresivitas manusia.
Perang suatu saat akan akan berhenti.
Namun perang gagasan, “war of ideas”,
akan berlanjut. Dalam polemik
mempersoalkan sains saat ini, GM
menyampaikan kekhawatiran, sains akan
menjadi “panglima” pengetahuan
manusia. Statemen ini sepertinya

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 635


mencerminkan trauma GM muda, pada
politik era Orde Lama (1960-an) ketika di
Indonesia populer slogan “politik menjadi
panglima”.
“Sains menjadi panglima” adalah istilah
misnomer, salah frasa, dan tidak berbasis
fakta. (Meski saya berharap suatu saat
nanti terwujud “sains menjadi panglima
pengetahuan”). Namun untuk saat ini,
“panglima” manusia jelas masih politik dan
politisi, politik masih menjadi penentu
arah pengetahuan. Contoh yang paling
jelas adalah isu “climate change”. Sains
sudah menjelaskan bahaya perubahan
iklim ini, namun banyak negara masih abai
dan tidak peduli. Donald Trump menuduh
sebagai teori konspirasi yang disebarkan
China.
Selain politik, agamalah yang selama
ribuan tahun menjadi “panglima”
pengetahuan melalui doktrin dan
dogmanya. Politik dan agama berkorelasi
dan berkonspirasi menjadi panglima
sepanjang peradaban manusia. Seringkali
dengan inkuisisi, persekusi, dan otokrasi.

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 636


Mengistilahkan “sains menjadi panglima”
adalah contradictio in terminis. Sains
modern selalu berada di bawah bayang-
bayang kekuasaan politik atau
kepentingan bisnis. Riset sains yang begitu
kompleks dan mahal saat ini memerlukan
dukungan keputusan politik atau
kepentingan bisnis agar bisa membiayai
aktivitasnya. Sains, pada dirinya sendiri,
tidak pernah bisa menjadi panglima.
Jargon politik “Orde Lama” jelas tidak
cocok dikenakan pada sains, sekalipun itu
cuma metafora.
Ketimbang sebagai panglima, sains lebih
pas dianalogikan sebagai “alat penunjuk
arah”. Seperti aplikasi penunjuk jalan
Google-Map, Waze, MapQuest, misalnya.
Sains membantu manusia mengetahui
pilihan destinasi, arah, dan rute yang
sebaiknya ditempuh. Namun ke mana
manusia mau menuju—ke masjid, ke
kampus, atau ke red-district area—
sepenuhnya keputusan manusia. Sains
sebagai alat sering masih tunduk pada
konsensus politik atau kepentingan bisnis.

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 637


Sains sebagai metode untuk mendapat
pengetahuan baru dipakai kurang dari 300
tahun, bandingkan dengan agama dan
filsafat yang setidaknya sudah 2500 tahun.
Sulit pasti membayangkan, penemuan dan
pencapaian saintifik seperti apa 2000
tahun ke depan. Jangankan 2000 tahun,
kita bahkan sulit memprediksi kemajuan
sains 50 tahun ke depan.
Dunia sains 25 tahun terakhir
menunjukkan etalase kemajuan
mencengangkan. Berbagai wacana lama
tentang realitas ontologis mendapatkan
tafsir baru. Dunia artificial intelligence (AI)
tak pelak akan mengakselerasi berbagai
penemuan teknologi dan pengetahuan
baru. Nick Bostrom adalah filsuf yang
perlu dirujuk dan dikutip untuk memahami
geliat dunia sains masa kini dan
mendatang, ketimbang Husserl,
Heidegger, Popper, atau Meillassoux.
Bostrom menulis risalah “The simulation
hypothesis” menggagas realitas alam
semesta sebagai simulasi. Sebuah
pendekatan baru, technoscience, yang
segar untuk wacana filsafat ontologi atau

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 638


metafisika, dan memancing perdebatan
menarik. Elon Musk dan David Chalmer,
filsuf cognitive-science, termasuk penganut
hipotesis simulasi ini. Bostrom juga
menulis buku “Superintelligence: Paths,
Dangers, Strategies” (2014) menguraikan
sejumlah problem filosofis tentang
kemanusian dalam era mesin super cerdas
di masa depan. Ia mendirikan The Future
of Humanity Institute, lembaga pengkajian
soal-soal kemanusian dan teknologi.
AI dan teknologi terbaru bukan hanya
akan menjadi alat membantu, namun juga
untuk mengetahui manusia dan
realitasnya. Termasuk pertanyaan apa
makna dan hakekat menjadi manusia.
Untuk memahami kecerdasan, kita
membuat kecerdasan buatan, untuk
mengidentifikasi realitas, kita membuat
realitas buatan (virtual reality dan
augmented reality), untuk memahami
manusia kita membuat cyborg. Dalam
proses itu, manusia bukan hanya mencoba
memahami, namun juga mengubah. Jika
manusia bisa mengubah sesuatu menjadi
lebih baik, mengapa tidak?

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 639


Faktanya, evolusi peradaban manusia
adalah cerita tentang bagaimana manusia
mengubah diri dan lingkungannya.
Manusia membuat bahasa, tulisan,
kesenian, mesin cetak, dan segala
teknologi untuk kemajuan peradaban.
Yuval Noah Harari menceritakan dengan
baik dalam “Sapiens” dan “Homo Deus”
bagaimana proses sejarah manusia
menjadi seperti saat ini, dan seperti apa
kemungkinan masa depan.
Pengetahuan manusia adalah proses
evolusi panjang. Terakumulasi dari yang
sederhana menjadi semakin kompleks.
Dari berpikir takhayul hingga sains. Evolusi
natural telah melahirkan manusia, kita
tidak tahu, ke mana evolusi kultural, yang
berjalan sedemikian cepat, akan membawa
perubahan pada manusia.
GM cemas dan khawatir pada implikasi
perubahan dunia dan manusia akibat sains
dan teknologi, dengan berfilsafat
romantik. Tidak soal sebenarnya jika GM
memilih berhenti berpikir pada level
filsafat dan kritis mempersoalkan sains,

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 640


mengingat banyak orang yang berpikirnya
berhenti pada level takhayul dan mitos.
Judul esai GM “Sebuah Tempat yang
Bersih, dan Lampunya Terang untuk
Sains“, cukup puitis. Ada argumen filosofis
di dalamnya. Namun tidak ada yang baru
bagi yang serius mengikuti perkembangan
sains dan cukup membaca filsafat. Esensi
kritiknya pada sains agak melankoli.
Cermin kecemasan: cemas pada dunianya
yang tidak pasti dan akan berubah.
Penutup tulisan GM agak konvolutif, ia
menyatakan: “Sains tidak perlu dicurigai,
namun tak perlu dipromosikan ke markas
komando, menjadi otoritas tertinggi untuk
kebenaran dan kebijakan.” GM curiga,
yakin ada “pihak-pihak” yang berupaya
menjadikan sains sebagai panglima
komando kebenaran. Seriously, ini satu
misteri “teori konspirasi” yang perlu diteliti
secara sainstifik, siapa gerangan pihak-
pihak itu?
Bagaimanapun, upaya GM perlu
diapresiasi. Kecemasannya telah memicu
polemik pemikiran yang intensif hampir
sebulan terakhir. Saya berharap
21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 641
kekhawatirannya, betapapun tidak akurat,
blessing in disguise, akan membangkitkan
minat publik pada sains. Syukur kalau bisa
mendorong munculnya kebijakan agar
Indonesia “berkhidmat” pada sains dan
memasyarakatkan scientific temper
(perangai saintifik). Mengingat masih
besarnya sikap ignorant masyarakat
Indonesia pada ilmu pengetahuan,
khususnya sains.
Karena seperti ucapan Alfred North
Whitehead: “Bukan sikap masa bodoh
yang membuat ilmu pengetahuan mati,
tapi sikap masa bodoh pada
kemasabodohan” (Not ignorance, but
ignorance of ignorance, is the death of
knowledge). Dalam konteks ini, GM telah
memerankan posisi sebagai the devil’s
advocate bagi wacana sains di
Indonesia.***
Sumber:
https://www.facebook.com/lukas.luwarso/posts/101
57479414160794

21 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 642


26 JUNI 2020 | LUKAS LUWARSO

Empati untuk Para Penafsir


dan Pencari Makna
Esai ringan untuk mereka—Goenawan Mohamad
dan lain-lain—yang menilai sains sebagai
saintisme, panglima, pongah, dogmatis, atau
bigotri.

Lukas Luwarso

Narasi membenturkan antara sains, filsafat,


dan agama tak perlu diteruskan. Kita
paham, sebenarnya tidak ada perselisihan
pada esensi tiga paradigma ilmu ini. Yang
berselisih adalah orang-orang yang
memilih satu paradigma ketimbang yang
lain, dan merasa paradigma tertentu itu
mengancam yang lain. Jika saya memilih
paradigma sains, ketimbang dua yang lain,
itu semata-mata karena dalam
keterbatasan energi dan waktu saya ingin
fokus mendapat pengetahuan melalui
referensi sains. Bukan berarti saya
mengabaikan atau menilai agama dan
filsafat sebagai metode inferior.

26 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 643


Sains memberikan banyak informasi dan
pengetahuan baru dalam upaya saya
untuk memaknai, menafsirkan, dan
memahami dunia. Itu alasan saya
menyukai sains. Dalam perspektif saya,
yang tentu subyektif, sains adalah
kontinuasi dari evolusi paradigma metode
pengetahuan manusia. Semua hal di
dunia, kita tahu, berproses dan berevolusi.
Ilmu pengetahuan juga berevolusi,
berproses dari mitologi, agama, filsafat,
dan sains. Metode sains muncul
belakangan dari proses panjang cara
memaknai, menafsirkan, dan memperoleh
kejelasan.
Bukan kebetulan metode sains muncul
terakhir dari proses evolusi panjang itu. Ia
muncul ketika akumulasi pengetahuan
manusia semakin kompleks. Kompleksitas
menuntut pendekatan yang berbeda.
Tidak cukup mengandalkan keyakinan,
asumsi, intuisi atau spekulasi. Penjelasan
ini sudah saya uraikan dalam tiga tulisan
sebelumnya: “Kepastian Sains dan
Pencarian Kebenaran”, “Trilema Sains,
Filsafat, Agama”, serta “Sains, Filsafat, dan
Storytelling.”
26 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 644
Kali ini saya menulis sebagai rasa empati
pada Anda yang berkhidmat pada agama
dan filsafat. Saya mencoba melihat
perspektif dari sudut Anda. Saya tahu
tidak akan mudah, namun mohon
diizinkan. Bagi saya agama, filsafat, dan
sains sebenarnya mencoba mengisahkan
cerita yang sama dengan bahasa yang
berbeda. Ketiganya ingin menjawab
keberadaan manusia dalam misteri alam
semesta. Ketiganya adalah wujud
keterpukauan dan ketakjuban pada alam
semesta. Agama ingin memaknai, filsafat
berupaya menafsirkan, dan sains mencoba
menjelaskan. Agama adalah pengabdian
(devotion), filsafat pemikiran (reason), dan
sains penyelidikan (investigation).
Tiga model pendekatan ini (devotion,
reason, investigation) menghasilkan output
pengetahuan yang berbeda. Masing-
masing penganutnya yang memahami
substansi mustinya tidak akan
membenturkan dogma (agama), spekulasi
(filsafat), atau deskripsi (sains).
Perselisihan, jika ada, cuma soal semantik
dan temperamen manusianya, bukan
substansi paradigmanya. Perlu lebih
26 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 645
kejernihan dan kejelasan berpikir untuk
memahami proses evolusi sejarah
paradigma manusia mencari makna,
menafsirkan, dan memahami dunia—
sebagai satu rangkaian pemikiran yang
berkorelasi. Sebelum menyampaikan
empati, izinkan saya menguraikan, secara
ringkas, sejarah evolusi paradigma itu di
bawah ini.
*
Manusia pada fajar peradaban terpana
dan takjub pada alam semesta, khususnya
pada sejumlah fenomena yang—pada
masanya—tak sepenuhnya dimengerti.
Kenapa ada hujan, banjir, gunung meletus,
badai, wabah, penderitaan, kematian.
Untuk menjelaskan misteri ini manusia
menyusun cerita tentang adanya kekuatan
tersembunyi, yang lebih besar dari
manusia, dan mengatur alam di sekitarnya.
Muncullah kisah-kisah dewa-dewi sebagai
tafsir dan penjelasan.
Apa saja yang tidak dimengerti manusia
dilimpahkan ke dewa-dewa. Apakah hujan
itu, mengapa ada badai, bagaimana
gunung meletus, manusia tidak tahu.
26 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 646
Bagaimana menjelaskan ketidakberdayaan
manusia vis a vis keperkasaan alam itu?
Para kepala suku, tetua adat, atau shaman
menyusun cerita yang dikisahkan kepada
anak-anaknya. Upaya awal, dalam
kesederhanaan cara berpikir, manusia
memanusiawikan (anthropomorphize)
kekuatan alam sebagai ulah para dewa.
Begitulah pada masanya cara termudah
untuk menjelaskan hal-hal yang tak
dipahami adalah menciptakan “agen”
berkekuatan besar yang bisa melakukan
berbagai hal di luar kemampuan manusia.
Mengalihkan penjelasan sebab-
musababnya ke dewa adalah jawaban
termudah. Manusia bingung memahami,
mengapa ada wabah penyakit? Tak perlu
repot memaknai atau menafsirkan, cukup
dengan penjelasan: para dewalah yang
membuatnya. Begitulah bahasa dunia era
politeisme
Agama adalah kelanjutan cara berpikir
mitologis politeistik itu. Upaya untuk
menjelaskan segala sesuatu dengan
mengalihkan ke entitas supranatural
sebagai jawaban. Alih-alih beragam dewa

26 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 647


politeistik, yang gemar berantem antar
mereka sendiri, kemudian penjelasan
dipampatkan menjadi cukup satu maha-
dewa: Tuhan yang mahakuasa. Tuhan
adalah penggabungan dan penyatuan
(merger) berbagai kekuatan dewa-dewa.
Begitulah bahasa dunia era monoteisme.
Saat itu, 2000 tahun lalu. Ibarat komputer,
sistem operasi dan kapasitas memori otak
manusia masih sangat terbatas
(bayangkan awal-awal komputer pada
1970-an). Operating system otak manusia
belum mampu memproses secara baik
begitu banyak informasi kehidupan alam
di sekitar.
Pertanyaan sulit tentang apa, bagaimana,
mengapa, tentang fenomena alam yang
dihadapi sehari-hari (soal-soal yang
sekarang terasa sepele), lebih mudah
diserahkan pada Tuhan, sebagai sumber
segala pengetahuan. Dan Tuhan selalu
menjawab, antara lain dengan
menurunkan wahyu dan malaikatnya
untuk membimbing manusia. Tuhan juga
menurunkan 10 perintah agar diikuti
manusia (yang ternyata boleh juga tidak

26 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 648


diikuti). Segala sesuatu terjadi semata-
mata karena kehendak Tuhan, melalui
konsep takdir. Tapi, tentu, manusia boleh
melawan takdir, karena sepertinya Tuhan
Maha-Demokratis.
Dengan turunnya agama, pertanyaan
esensial dari mana asal manusia dan ke
mana tujuannya telah terjawab dengan
pasti. Makna hidup “telah ditemukan”
melalui agama. Hidup lebih mudah
dipahami dan dijalani dengan hadirnya
Tuhan selaku penentu takdir jalan hidup
manusia. Agama menuntut keyakinan
(faith) tanpa ada pertanyaan, itulah
kebutuhan manusia umumnya pada masa
itu: mendapat penjelasan yang
memuaskan.
Namun bersamaan dengan turunnya
agama dan hadirnya Tuhan, sebagian
manusia menolak keyakinan dan memilih
pemikiran. Sebagian manusia, yang
menamakan diri “para pecinta
kebijaksanaan”, memilih memakai
penalaran untuk menjelaskan hal-ihwal.
Ketika manusia pada umumnya meyakini
adanya kekuatan Tuhan monoteis yang

26 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 649


menentukan segala hal, di satu wilayah
yang bernama Yunani (juga di China dan
India) sejumlah orang berpikir keras untuk
mencari penjelasan alternatif. Mereka
menebak-nebak tentang apa hakikat
dunia, apa sebenarnya alam semesta, dan
tersusun dari apa. Mereka adalah para
filsuf yang menggunakan metode filsafat.
Para filsuf klasik Yunani berspekulasi,
memperdebatkan, apa esensi di balik
keberadaan alam semesta. Menurut
mereka, alam semesta tersusun dari empat
elemen tanah, air, api, dan udara. Thales
menyebut air, Anaximenes menganggap
udara, Empedokles menggabungkan api-
udara-air-tanah, Anaxagoras menyebut
pikiran, dan Pythagoras memilih angka
(matematika sebagai esensi dunia).
Begitulah filsafat, masing-masing filsuf
bersikukuh dengan kebenaran
spekulatifnya, yang terus terbawa hingga
sekarang.
Sampai kemudian, sekitar 300 tahun lalu,
muncul sains sebagai metode menguji
fakta yang diperdebatkan para filsuf. Sains
melanjutkan tradisi mempertanyakan

26 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 650


untuk mendapat penjelasan yang lebih
pasti terkait dengan keyakinan (agama)
dan keraguan (filsafat). Sains modern lahir
dari pemikiran filsuf seperti Francis Bacon,
Rene Descartes, David Hume, Immanuel
Kant, Auguste Comte, dan lain-lainnya,
yang sering disebut Era Pencerahan.
Prinsip sains adalah melanjutkan rasa
keterpukauan dan pertanyaan yang
diinisiasi oleh agama dan filsafat. Namun
keterpukauan bukan lagi pada hal-hal
yang agung (seperti hakikat dan esensi
alam semesta), melainkan pada hal-hal
yang “remeh-temeh”. Sains modern
muncul dari kegemaran para filsuf
menyelidiki hal-hal yang bisa membantu
sebagai pengetahuan praktis. Francis
Bacon ingin mengawetkan daging agar
tidak cepat membusuk, yang kemudian
melahirkan teknologi lemari es pendingin
modern. René Descartes bertanya-tanya,
mengapa lalat terbang masuk ke
kamarnya tidak tersesat. Dengan
mengamati lalat, Descartes merumuskan
analisis geometri dan merumuskan
metode sains modern awal.

26 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 651


Albert Einstein kecil tertarik pada sains
karena terpukau dengan kompas
pemberian ayahnya sebagai hadiah ulang
tahun. Einstein begitu girang mendapat
hadiah dan merasa ada “misteri” yang
aneh dengan kompas. Ke mana pun
digerakkan, jarum kompas selalu
menunjuk ke arah utara. Einstein kecil
menduga, pasti ada hal tersembunyi yang
bisa dijelaskan di balik fenomena aneh
jarum kompas. “Something deeply hidden,”
pikirnya. Hasrat Einstein untuk
memecahkan misteri kompas ini terbawa
hingga ia dewasa. Ia ingin memahami apa
yang menggerakkan jarum kompas.
Pertanyaan filsuf untuk “hal-hal yang
sepele” kemudian melahirkan para pemikir
jenis baru (para saintis) dan obyek
penelitiannya menjadi cabang ilmu
spesifik. Para saintis tekun meneliti dan
bersinergi saling melengkapi (beda
dengan tradisi filsafat yang “saling
berbantah”). Misalnya teori dan hukum
elektromagnetik ditemukan oleh
penyelidikan terpisah banyak saintis dalam
waktu yang berbeda: Faraday, Maxwell,
Gauss, Lorentz, dan masih banyak lagi.
26 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 652
Temuan-temuan kecil hasil kolaborasi
banyak saintis ini kemudian berefek
domino melahirkan berbagai temuan baru
yang berguna: teknologi listrik, optik,
lensa, gelombang radio, komunikasi
nirkabel, radar, dan sebagainya, yang
berguna memudahkan hidup manusia.
Obyek penelitian sains yang “sepele dan
remeh-temeh” sesungguhnya rumit (tentu
tidak serumit memaknai dan menafsir
alam semesta, atau kehendak Tuhan).
Rumit dalam arti bagaimana menjelaskan
cara kerjanya secara ilmiah,
merumuskannya dalam persamaan
matematis yang konsisten, dan bisa
memanfaatkannya untuk kebutuhan
praktis.
Berbeda dengan wacana dan bahasa
filsafat yang rumit, penjelasan sains mirip
cara agama memberikan uraian:
sesederhana mungkin. Penjelasan agama
merujuk pada prinsip “kehendak Tuhan”,
sedangkan sains berprinsip “penjelasan
paling masuk akal adalah yang
sederhana”, dikenal sebagai prinsip
Occam’s Razor: “rumuskan teori dan

26 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 653


hipotesismu sesederhana mungkin dalam
menguji dan meneliti fakta yang teramati.”
Prinsip epistemologi dan metode sains
kemudian terbukti mampu menjelaskan
atau melengkapi berbagai keyakinan atau
keraguan, menjadikan dunia dan
kehidupan lebih mudah dijalani,
sebagaimana yang kita rasakan saat ini.
*
Cukup rasanya menjelaskan sejarah
korelasi agama, filsafat, dan sains dalam
ilustrasi yang ringkas, seperti terurai di
atas. Kini izinkan saya menyampaikan
tujuan penulisan artikel ringan ini, yaitu
menyampaikan rasa empati pada Anda,
“para penafsir dan pencari makna”, yang
gelisah dan cemas pada perkembangan
sains. Ada “lima poin empati” (Panca-
empati):

PERTAMA
Maafkan sains yang fokus mengamati,
meneliti, dan mengukur alam natural yang
hanya bisa diobservasi. Sains tidak
mengutik-utik (tinkering) dengan urusan
yang besar, agung, metafisik, dan mistik.

26 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 654


Itu biarlah tetap menjadi wilayah
keyakinan agama atau spekulasi filsafat
Anda. Silakan terus menikmati keyakinan
Anda jika itu membuat hidup Anda lebih
bermakna. Silakan lanjutkan berspekulasi
menafsirkan yang ada (das ding an sich).
Sains bukannya mengabaikan hal-hal
supranatural atau menganggap spekulasi
tidak bermanfaat. Sains hanya tidak tahu
bagaimana caranya mengobservasi
keajaiban atau kegaiban. Sains juga tidak
ingin berlarut-larut dalam kebingungan
spekulatif. Ketika sains tidak tahu, maka ia
akan bilang: tidak tahu.
Kalau saja fenomena keajaiban itu bisa
diundang atau terjadi berulang, sehingga
bisa diidentifikasi polanya, kemungkinan
sains bisa menyusun penjelasannya.
Namun selama hal-hal (kisah) supranatural
cuma pernah sekali terjadi, di masa lalu,
dan tidak meninggalkan jejak bukti, maka
mustahil sains bisa menjelaskan—selain
menganggapnya sebagai “storytelling”.
Kalau saja keajaiban meninggalkan jejak
fosil, sebagaimana dinosaurus, tentu sains
bisa membantu menjelaskan
karakteristiknya.
26 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 655
Lagi pula, bagi Anda yang berkeyakinan,
tentu tidak terlalu soal jika tidak ada
penjelasan atau kejelasan. Karena esensi
keyakinan, toh, meyakini sesuatu tanpa
perlu ada penjelasan. Dan sains juga tidak
berniat memaksakan penjelasan. Buktinya,
setelah 300 tahun era sains modern,
mayoritas manusia masih memeluk
keyakinan agama. Dalam dunia yang
semakin demokratis Anda bebas memilih
mau yakin atau mau jelas. Silakan
suarakan pilihan Anda. Pilihan itu pasti
bukan sejenis “kepongahan”, sebagaimana
penghayat Islam liberal (tadinya) Ulil
Abshar Abdalla sering kemukakan.
Manusia, makhluk dhaif, seperti Ulil, bisa
pongah. Namun metode sains—
sebagaimana agama atau filsafat—
lazimnya tidak punya karakter
antroposentrik seperti pongah, misalnya.

KEDUA
Supaya adil dan tidak terus berselisih—
sehingga terkesan kurang adab—abaikan
saja temuan dan teori sains yang mungkin
menyinggung keyakinan atau penafsiran
anda. Sains tidak pernah memaksakan

26 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 656


agar Anda mengubah keyakinan untuk
bertaklid pada penjelasan sains. Anda
dipersilakan mengabaikan, menjauhi, atau
membuang (sejauh tidak melarang)
informasi atau buku-buku terkait dengan
teori sains. Karena, bagi sains, sikap dan
opini personal Anda tidak akan ada
pengaruhnya. Prinsip dan temuan sains
tetap berfungsi, baik Anda yakin atau
tidak. Teori gravitasi, teori relativitas, dan
teori evolusi tetap berlaku baik Anda
percaya atau tidak.
Anda boleh terusik atau tersinggung
dengan opini, tapi menjadi lucu jika Anda
terganggu dengan fakta. Sains tidak
pernah bermaksud mengusik keyakinan
dan keraguan Anda, selain sekadar
mengungkap fakta. Jika karena satu hal
Anda bertemperamen mudah tersinggung,
saran saya hindari tempat atau sumber
informasi yang kental bernuansa sains
(seperti buku pengetahuan, internet,
komputer, televisi, radio, perpustakaan,
museum, sekolah, universitas). Hindari
berbincang dengan saintis dan penyuka
sains, jangan baca ulasan sains, jangan
ikut berpolemik tema sains. Dan jika Anda
26 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 657
merasa “ada yang salah” dengan
modernitas hidup manusia—akibat produk
sains—Anda bisa mulai berhenti
menggunakan teknologi modern. Di
Amerika, misalnya, ada masyarakat yang
bergaya hidup tegas menolak sains dan
teknologi. Mereka, komunitas Amish,
menginginkan dunia berhenti pada abad
17. Itu pilihan sah dan menarik sebagai
satu eksentrisitas gaya hidup. Komunitas
Amish setidaknya menarik sebagai atraksi
turis.

KETIGA
Jika Anda tidak berniat bergaya hidup
eksentrik ala komunitas Amish atau
komunitas lain yang anti-sains, silakan
manfaatkan pengetahuan dan teknologi
hasil kerja keras sains. Gunakan komputer
untuk mengakses informasi dan
berkomunikasi, pakai smartphone dengan
berbagai aplikasinya, televisi dengan
beragam acara. Namun, tetap waspada
dengan pilihan informasi, jangan tergoda
info yang mengusik keyakinan (abaikan
dan segera matikan saja gajet Anda jika
ada info sains masuk). Manfaatkan sarana

26 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 658


transportasi darat, laut dan udara, untuk
memudahkan mobilitas dari satu tempat
ke tempat lain.
Manfaatkan juga sains terkait dengan
kesehatan saat sakit jantung, gagal ginjal,
sakit hati, dan berbagai penyakit terkait
organ tubuh, dengan transplantasi organ.
Temuan sains di bidang kesehatan telah
banyak membantu manusia. Sejumlah
penyakit degeneratif seperti kanker,
Alzheimer, Parkinson, cepat atau lambat
akan bisa diobati dengan sains nano-
technology. Namun jika tidak yakin dengan
kemajuan dan resep ilmu kesehatan,
silakan lanjutkan memilih obat tradisional,
mengkonsumsi herbal, konsultasi dengan
“orang pinter” (dukun atau cenayang)

KEEMPAT
Jika Anda termasuk orang beriman yang
memanfaatkan pengetahuan dan produk
sains modern untuk memudahkan hidup,
Anda tetap bisa menjalankan keyakinan,
atau sebagai filsuf terus meragukan sains.
Namun, sedikit mengingatkan, sains
dihasilkan oleh proses panjang
pengamatan, penelitian, dan pengujian
26 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 659
hasil kolaborasi saintis dari berbagai
penjuru dunia. Sains dan teknologi bukan
hadir secara ajaib dari alam gaib (sains
bukan sulap kelinci yang bisa sekonyong-
konyong-konyong muncul dari topi
pesulap) atau hasil renungan spekulatif
belaka.
Akan lebih mudah bagi hidup Anda,
setidaknya secara pemahaman kognitif,
jika selain menggunakan teori atau produk
sains, Anda juga menerima metode dan
paradigmanya. Anda akan selalu menjadi
orang yang mengalami “kebingungan
paradigmatis” jika getol menggunakan
produk sains-teknologi tapi
mempersoalkan metodenya. Gemar
memakai aplikasi media sosial, sekaligus
mengecam sains yang menghasilkannya.
Berpretensi kritis-filosofis,
mempertanyakan epistemologi sains, baik-
baik saja jika jelas bidikannya. Bermaksud
membawa sains ke “tempat yang bersih,
dan terang lampunya,” seperti Goenawan
Mohamad, tentu satu niat yang mulia.
Tapi, sekadar mengingatkan, pastikan
tempat yang bersih itu ada aliran
listriknya, agar lampu (produk sains)
26 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 660
menyala. Karena lilin atau obor, pasti
kurang efektif untuk penerangan.

KELIMA
Seperti fatwa, “ketidaksukaan tidak boleh
membuat kita tidak adil”. Kritis pada sains
tentu baik dan penting. Komunitas sains
menjadikan sikap kritis bukan cuma
sebagai slogan, wacana, atau khotbah,
namun memakainya sebagai metode.
Berpikir kritis inheren dalam metode sains,
bagian dari metode ilmiah saat
merumuskan, menyimpulkan, hingga
menguji teori sains. Jadi, kritisisme yang
proporsional dan tepat sasaran pasti
disambut dengan baik dan diperlukan.
Sains mustahil menjadi “dogma atau
panglima”, karena “dogmatisme dan
panglimaisme” justru dipersoalkan dan
ditolak oleh sains.
Sangat penting Anda mampu secara jernih
membedakan sains, saintisme, dan
saintologi (science, scientism, dan
scientology). Anda pasti sedang bingung
atau ragu jika bersikap “kritis” pada sains,
namun yang Anda serang dan persoalkan
adalah saintisme. Anda cocok menjadi
26 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 661
penganut scientology (yang menjadikan
novel sains-fiksi L. Ron Hubbard sebagai
ajaran agama) jika gagal memahami
perbedaan science dengan scientism, dan
gemar menggunakan diksi keagamaan,
seperti “dogmatis” atau “bigotry” untuk
memberi label pada sains. Poin ini penting
untuk diperhatikan “men of faith” seperti
Budhy Munawar-Rahman, F. Budi
Hardiman, dan Haidar Bagir.
Kebingungan yang fatal, tapi bisa
dipahami secara empati. Bagi mereka yang
cara berpikirnya terbiasa dengan
dogmatisme agama, maka kegemaran
menggunakan diksi agama, seperti
“dogmatisme”, “bigotry”, tentu harus
dimaklumi. Sikap superficial dalam melihat
sains, seperti kegemaran mempermainkan
label istilah ketimbang substansi, perlu
dimaklumi secara empati. (Majalah Tempo,
misalnya, dua kali menggelar diskusi
online dengan memilih tema “saintisme”,
ketimbang “sains”. Boleh diduga panitia
penggagas diskusi di Tempo adalah para
penganut scientology, mereka pasti
mengidolakan Tom Cruise)

26 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 662


*
Demikian pernyataan empati saya, untuk
para “Penafsir dan Pencari Makna”. Saya
mendukung penuh, bersimpati, sekaligus
berempati pada upaya menafsirkan dan
memaknai dunia. Saya berharap upaya
Anda menafsir dan memaknai dunia akan
menemukan kejelasan, baik Anda
memakai atau mengabaikan sains.
Sekali lagi, saya ingin menegaskan, seperti
agama dan filsafat, sains adalah juga
produk intelegensia manusia. Sains bukan
produk setan, delusi, atau halusinasi yang
perlu ditakuti. Sudah sepantasnya sains,
filsafat, dan agama dapat bersama-sama
memperkaya pemahaman kognisi kita
(tanpa menganggap yang satu panglima
yang lain prajurit atau pramuwisma). Saya
berharap, semoga Anda dapat menikmati
hidup di dunia, yang begitu luas dan
indah, dengan lebih tenang dan bahagia,
tidak terganggu dan terusik sains. Semoga
poin-poin empati saya ini dapat
mengurangi satu kecemasan Anda yang
tidak perlu: cemas pada sains.***

26 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 663


Sumber:
https://www.facebook.com/lukas.luwarso/posts/101
57494263085794

26 Juni 2020 | Lukas Luwarso | 664