Anda di halaman 1dari 19

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pati Sagu


Sagu (Metroxylon Sagu Rottb.) merupakan tanaman asli Asia Tenggara.
Penyebarannya meliputi Melanesia Barat sampai India Timur dan dari
Mindanao Utara sampai Pulau Jawa dan Nusa Tenggara bagian Selatan. Sekitar
50% tanaman sagu dunia atau 1.128 juta ha tumbuh di Indonesia (Flach, 1983
dalam Limbongan 2007), dan 90% dari jumlah tersebut atau 1.015 juta ha
berkembang di Provinsi Papua dan Maluku (Lakuy, 2003 dalam Limbongan
2007). Produk ini digunakan untuk pengolahan makanan, pakan, kosmetika,
industri kimia dan pengolahan kayu (Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan
Industri Sumatera Barat, 2001). Salah satu hasil perkebunan yang banyak terdapat
di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) adalah sagu. Batang sagu merupakan
gudang penyimpanan pati atau karbohidrat, yang lingkup pemanfaatannya dalam
industri sangat luas, seperti industri pangan, pakan, alkohol, dan bermacam-
macam industri kimia lainnya (Haryanto dan Pangloli, 1992).
Komposisi komponen yang terkandung didalam pati sagu secara
mikroskopis struktur batang sagu dari arah luar terdiri dari lapisan sisa-sisa
pelepah daun, lapisan kulit luar yang tipis dan berwarna kemerah-merahan,
lapisan kulit dalam yang keras dan padat berwarna coklat kehitam-hitaman,
kemudian lapisan serat dan akhirnya empelur yang mengandung pati dan
serat-serat (Haryanto dan Pangloli, 1992). Sifat atau kualitas pati sagu
dipengaruhi oleh faktor genetik serta proses ekstraksinya, seperti peralatan dan air
yang digunakan, cara penyimpanan potongan batang sagu dan penyaringan
(Flach, 1983 dalam Limbongan 2007). Pati sagu umumnya berwarna putih.
Menurut Purwani. dkk (2006), derajat putih pati sagu bervariasi dan dapat
berubah selama penyimpanan.
Menurut Knight (1986) suhu gelatinasi pati sagu sekitar 60-72 ⁰C, tetapi
menurut Wirakartakusumah (1986) sekitar 72-90 ⁰C (Hasibuan, 2009). Pati sagu

5
6

atau yang biasa disebut tepung sagu oleh masyarakat, selama ini hanya
digunakan sebagai bahan makanan sumber energi dan belum diketahui manfaat
lainnya. Konsentrasi pati terhadap air akan mempengaruhi kekentalan
larutan pembentuk lapisan plastik dan ketebalan dari film yang terbentuk.
Semakin kental larutan pati semakin tebal lapisan film yang terbentuk.
Semakin tebal lapisan yang terbentuk menghasilkan lebih banyak gugus
hidrofilik yang sangat mudah untuk berinteraksi dengan air. Dalam
aplikasinya didalam plastik biodegradable, pati dicampurkan dengan butiran
alaminya yang dijaga tetap utuh, atau dilelehkan dan dicampur didalam sebuah
level molekular dengan polimer yang sesuai. Sehingga penelitian ini difokuskan
untuk membuat atau mencari sifat lain dari pati sagu tersebut, selain sebagai
sumber energi. Komposisi kimia pati sagu tertera pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Komposisi Kimia Pati Sagu Dalam 100 g Bahan


Komponen Satuan Jumlah
Protein G 0.7
Lemak G 0.2
Karbohidrat G 84.7
Air G 14
Fosfor Mg 13
Kalsium Mg 11
Besi Mg 1.5
Kalori Kal 353
Sumber: Direktorat Gizi, Dep. Kes. RI (1979)

Pati sagu mengandung 27% amilosa dan 73% amilopektin


(Wirakartakusumah. 1986). Butiran pati dapat disertakan sebagai pengisi
biodegradable ke dalam polimer sintetik non-biodegradable. Secara prinsip, pati
sesuai untuk proses sebagai termoplastik. Sifat pati tidak larut dalam air
namun bila suspensi pati dipanaskan akan terjadi gelatinasi setelah mencapai
suhu tertentu (suhu gelatinasi). Hal ini disebabkan oleh pemanasan energi kinetik
7

molekul-molekul air yang menjadi lebih kuat daripada daya tarik menarik antara
molekul pati dalam granula, sehingga air dapat masuk kedalam pati tersebut dan
pati akan membengkak. Granula pati dapat membengkak luar biasa dan pecah
sehingga tidak dapat kembali pada kondisi semula. Perubahan sifat inilah yang
disebut gelatinasi. Untuk lebih meningkatkan nilai ekonomi dari batang sagu, pati
sagu dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan plastik biodegradable.

2.1.1 Pati Polimer Biodegradable Alami


Polimer biodegradable adalah bidang yang masih baru. Sejumlah polimer
biodegradable telah disintesa baru-baru ini dan beberapa mikroorganisme dan
enzim yang mampu untuk menguraikannya telah diidentifikasi. Biopolimer adalah
polimer yang terbentuk didalam alam selama lingkaran pertumbuhan semua
organisme, sehingga disebut dengan polimer alami. Sintesanya melibatkan
katalisa enzim, reaksi pertumbuhan rantai polimerisasi dari monomer aktif, yang
biasanya terbentuk didalam sel oleh proses metabolik kompleks (R Chandra and
R. Rustgi, 1998). Untuk aplikasi bahan, perhatian sering ditujukan terhadap
polisakarida yaitu selulosa dan pati. Konsentrasi pati terhadap air akan
mempengaruhi kekentalan larutan pembentuk lapisan plastik dan ketebalan
dari film yang terbentuk. Semakin kental larutan pati semakin tebal lapisan
film yang terbentuk. Semakin tebal lapisan yang terbentuk menghasilkan
lebih banyak gugus hidrofilik yang sangat mudah untuk berinteraksi dengan
air. Gambar Struktur beberapa polisakarida dapat dilihat dibawah ini (R Chandra
and R. Rustgi, 1998).
8

Gambar 2.1 Struktur Beberapa Polisakarida

Selulosa dan pati terbentuk dari ratusan ribu unit berulang d-


glucopyranoside. Unit-unit ini dihubungkan bersama-sama oleh ikatan asetal
yang terbentuk antara karbon atom hemiasetal, C1 dari struktur siklik glukosa
dalam satu unit dan sebuah gugus hidroksil pada atom C 3 (untuk selulosa dan
amilase) atau C6 (untuk unit cabang pada amilopektin) pada unit yang
berdekatan. Jenis struktur ini terjadi karena didalam larutan aqeous. Glukosa
dapat hadir baik didalam bentuk aldehid asiklik maupun hemisetal siklik, dimana
bentuk yang terakhir adalah struktur yang dimasukkan kedalam polisakarida.
Bentuk siklik juga dapat hadir sebagai satu dari dua isomer, isomer-a dengan
gugus OH aksial pada cincin atau isomer-b dengan gugus OH equatorial. Pada
pati, cincin glucopyranoside hadir dalam bentuk a sementara didalam selulosa
unit berulang hadir dalam bentuk b. Karena perbedaan ini, enzim yang
mengkatalis reaksi hidrolisa setal selama biodegradasi dari masing-masing kedua
sakarida ini adalah berbeda dan tidak dapat dipertukarkan.

2.2 Komposit
Komposit adalah suatu material yang terbentuk dari kombinasi dua atau
lebih material sehingga dihasilkan material komposit yang mempunyai sifat
mekanik dan karakteristik yang berbeda dari material pembentuknya. Komposit
memiliki sifat mekanik yang lebih bagus dari logam, kekakuan jenis (modulus
Young/density) dan kekuatan jenisnya lebih tinggi dari logam. Beberapa lamina
9

komposit dapat ditumpuk dengan arah orientasi serat yang berbeda, gabungan
lamina ini disebut sebagai laminat. Komposit terdiri dari dua bagian utama yaitu:
1. Matriks, berfungsi untuk perekat atau pengikat dan pelindung filler (pengisi)
dari kerusakan eksternal. Matriks yang umum digunakan: polimer.
2. Filler (pengisi), berfungsi sebagai penguat dari matriks. Filler yang umum
digunakan: serat karbon.

2.2.1 Klasifikasi Komposit


Secara umum bahan komposit terdiri dar dua macam, yaitu bahan
komposit partikel (particulate composite) dan bahan komposit serat (fiber
composite). Bahan komposit partikel terdiri dari partikel-partikel yang diikat oleh
matriks. Bentuk partikel ini dapat bermacam-macam seperti bulat, kubik,
tetragonal atau bahkan berbentuk yang tidak beraturan secara acak. Sedangkan
bahan komposit serat terdii dari serat-serat yang diikat oleh matrik. Bentuknya ada
dua macam yaitu serat panjang dan serat pendek.

2.2.2 Komposit Partikel


Dalam struktur komposit, bahan komposit partikel tersusun dari partikel-
partikel disebut bahan komposit partikel (particulate composite) menurut
definisinya partikel ini berbentuk beberapa macam seperti bulat, kubik, tetragonal
atau bahkan berbentuk yang tidak beraturan secara acak, tetapi rata-rata
berdimensi sama. Bahan komposit partikel umumnya digunakan sebagai pengisi
dan bahan penguat komposit keramik (ceramic matrik composites). Bahan
komposit partikel pada umumnya lebih lemah dibanding bahan komposit serat.
Bahan komposit partikel mempunyai keunggulan, seperti ketahanan terhadap aus,
tidak mudah retak dan mempunyai daya pengikat dengan matrik yang baik.

2.2.3 Komposit Serat


Unsur utama komposit adalah serat yang mempunyai banyak keunggulan,
oleh karena itu bahan komposit serat yang paling banyak dipakai. Bahan komposit
serat terdiri dari serat-serat yang terikat oleh matrik yang saling berhubungan.
10

Bahan komposit serat ini terdiri dari dua macam, yaitu serat panjang (continous
fiber) dan serat pendek (short fiber dan whisker). Penggunaan bahan komposit
serat sangan efisien dalam menerima beban dan gaya. Karena itu bahan komposit
serat sangan kuat dan kaku bila dibebani searah serat, sebaliknya sangat lemah
bila dibebani dalam arah tegak lurus serat.
Komposit serat dalam dunia industri mulai dikembangkan dari pada
menggunakan bahan partikel. Bahan komposit serat mempunyai keunggulan yang
utama yaitu strong (kuat), stiff (tangguh), dan lebih tahan terhadap panas pada saat
didalam matrik (Schwarts, 1984). Dalam pengembangan teknologi pengolahan
serat, membuat serat sekarang semakin diunggulkan dibandingkan material-
material yang digunakan. Cara yang digunakan untuk mengkombinasi serat
berkekuatan tarik tinggi dan bermodulus elastisitas tinggi dengan matrik yang
bermassa ringan, berkekuatan tarik rendah, serta bermodulus elastisitas rendah
makin banyak dikembangkan guna memperoleh hasil yang maksimal. Komposit
pada umumnya menggunakan bahan plastik yang merupakan material yang paling
sering digunakan sebagai bahan pengikat seratnya selain itu plastik mudah didapat
dan mudah perlakuannya, dari pada bahan dari logam yang membutuhkan bahan
sendiri.
Untuk memperoleh komposit yang kuat harus dapat menempatkan serat
dengan benar, berdasarkan penempatannya terdapat beberapa tipe serat pada
komposit yaitu:

a. Continuous Fiber Composite


Continuous atau uni-directional, mempunyai serat panjang dan lurus,
membentuk laminna diantara matriknya. Jenis komposit ini paling sering
digunakan. Tipe ini mempunyai kelemahan pada pemisahan antar lapisan. Hal
ini dikarenakan kekuatan antar lapisan dipengaruhi oleh matriknya.

b. Woven Fiber Composite


Komposit ini tidak mudah dipengaruhi pemisahan antar lapisan karena
susunan seratnya juga mengikat serta antar lapisan. Akan tetapi susunan serat
11

memanjangnya yang tidak begitu lurus mengakibatkan kekauatan dan


kekakuan akan melemah.

c. Discontinuous Fiber Composite


Dicsontinuous fiber composite adalah tipe komposit dengan serat pendek.

d. Random Fiber Composite


Random fiber composite merupakan komposit serat acak. Tipe ini
digunakan supaya dapat mengganti kekurangan sifat dari kedua tipe dan dapat
menggabungkan kelebihannya.

2.2.4 Biokomposit (Komposit Hijau)


Biokomposit atau komposit hijau didefinisikan sebagai material komposit
yang tersusun dari biofiber atau serat alami yang dapat terdegradasi sebagai
penguatnya dan polimer yang tidak dapat terdegradasi (non-biodegradable) atau
yang dapat terdegradasi (biodegradable) sebagai matriksnya. Serat alami yang
digunakan terdiri dari:
1. Serat nabati: merupakan serat yang paling banyak digunakan, karena
jumlahnya di alam berlimpah dan tidak mahal. Contohnya adalah katun, rami,
goni dan serat selulosa lain yang berasal dari tumbuhan.
2. Serat hewani: merupakan jenis yang kurang banyak digunakan tetapi
memiliki potensi. Serat hewani yang sering digunakan adalah sutra, dan wool.
Berikut adalah skema klasifikasi serat alami yang berasal dari tumbuhan
dan skema pembentukan biokomposit.
12

Gambar 2.2 Pembentukan Biokomposit

Gambar 2.3 Klasifikasi serat alami yang berasal dari tumbuhan.

Material biokomposit tentu memiliki beberapa keunggulan apabila


dibandingkan dengan material dasar seperti logam, keramik dan polimer atau
material komposit lainnnya. Keunggulan tersebut antara lain:
1. Mengurangi berat.
2. Dapat didaur ulang.
3. Merupakan material yang berfungsi sebagai langkah untuk bumi hijau (green
movement).
4. Mengurangi molding cycle.
5. Biaya produksi yang lebih kompetitif.
6. Sifat material yang lebih baik.
13

7. Merupakan material sintetik.


8. Tidak abrasif terhadap permesinan.
9. Penampilan yang alami.
10. Memiliki nilai koefisien ekspansi termal yang rendah.
11. Memiliki nilai susut (shrinkage) yang rendah.
12. Mudah dilakukan pewarnaan.
13. Mudah dibentuk.
14. Konsumsi energi pembuatan yang rendah.
15. Terbuat dari bahan yang dapat diperbarui.
Oleh karena biokomposit memiliki banyak keunggulan dibandingkan
dengan material lainnya, maka pada saat ini penggunaan material biokomposit
sudah sangat banyak digunakan, contohnya seperti interior-interior pada bidang
otomotif dan sebagainya.

2.3 Bagian Komposit


2.3.1 Filler
Salah satu bagian utama dari komposit adalah filler (penguat) yang
berfungsi sebagai penanggung beban utama pada komposit. Serat secara umum
terdiri dari dua jenis yaitu serat alam dan serat sintetis. Serat alam adalah serat
yang dapat langsung diperoleh dari alam. Biasanya berupa serat yang dapat
langsung diperoleh dari tumbuh-tumbuhan dan binatang. Serat ini telah banyak
digunakan oleh manusia diantaranya adalah kapas, wol, sutera, pelepah pisang,
sabut kelapa, ijuk, bambu, nanas dan knaf atau goni. Serat alam memiliki
kelemahan yaitu ukuran serat yang tidak seragam, kekuatan serat sangat
dipengaruhi oleh usia, serat sintetis adalah serat yang dibuat dari bahan-bahan
anorganik dengan komposisi kimia tertentu. Serat sintetis mempunyai beberapa
kelebihan yaitu sifat dan ukurannya yang relatif seragam, kekuatan serat dapat
diupayakan sama sepanjang serat. Serat sintetis yang telah banyak digunakan
antara lain serat gelas, serat karbon, kevlar, nylon, dan lain-lain. Mengenai serat
alam dan sifat mekanisnya dapat dilihat pada tabel 2.2 berikut.
14

Tabel 2.2 Serat Alam dan Sifat Mekanisnya


Serat Diameter Ultimate tensil stress Modulus Berat Jenis
Wood 15-20 160 23 1,5
Bamboo 15-30 550 36 0,8
Jute 10-50 580 22 1,5
Cotton 15-40 540 28 1,5
Wool 75 170 5,9 1,32
Sumber: Vasiliev & Morozov (2001)

Komposit yang diperkuat serat tanaman, sifat-sifat mekanisnya akan


meningkat secara linear seiring dengan pertambahan persen berat serat.
Karakteristik mekanik yang meningkat adalah kekuatan tarik, kekuatan bending,
serta kekuatan impak. Beberapa karakteristik yang juga merupakan kelebihan dari
komposit yang diperkuat serat alam yaitu:
1. Dapat dicat, dipoles maupun dilaminasi.
2. Tahan terhadap penyerapan air.
3. Murah karena bahan baku seratnya banyak tersedia di alam dan proses
pembuatannya relatif mudah dan sederhana.
4. Kuat dan kaku.
5. Ramah lingkungan, karena materialnya merupakan bahan organik dan bisa
didaur ulang secara alami oleh lingkungan.
6. Memiliki kemampuan dan diproses dengan baik.
Disamping kelebihan-kelebihan di atas, komposit serat alam juga memiliki
beberapa kelemahan, beberapa kelemahan komposit serat alam yaitu:
1. Penurunan karena faktor biologi, yaitu adanya organisme yang mungkin
tumbuh dan memakan karbohidrat yang terkandung dalam serat, sehingga
menimbulkan enzim khusus yang akan merusak struktur serat, dan melepaskan
ikatan antara serat dan matrik.
2. Penurunan kualitas karena panas atau termal.
3. Penurunan panas karena radiasi ultraviolet, hal ini terjadi karena penyinaran
ultraviolet akan menyebabkan meningkatnya karbohidrat dan berkurangnya
lignin. Serat yang banyak mengandung karbohidrat akan memiliki kemampuan
ikatan dengan matrik yang rendah, sehingga kekuatan matrik akan turun.
15

4. Kekuatannya masih lebih rendah jika dibanding serat buatan.


Serat berperan sebagai penyangga kekuatan dari struktur komposit, beban
yang awalnya diterima oleh matrik kemudian diteruskan ke serat oleh karena itu
serat harus mempunyai kekuatan tarik dan elastisitas yang lebih tinggi daripada
matrik. Serat sebagai penguat dalam struktur komposit harus memenuhi
persyaratan yaitu modulus elastisitas yang tinggi, kekuatan patah yang tinggi,
kekuatan yang seragam diantara serat, stabil selama penanganan proses produksi
dan diameter serat yang seragam. Secara teoritis komposit serat yang
menggunakan serat panjang akan memberikan nilai penguatan yang lebih efisien
dan seragam dibanding serat pendek karena beban yang terjadi disalurkan secara
merata sepanjang serat. Namun dalam prakteknya hal tersebut sulit dicapai karena
sulit didapatkan nilai kekuatan optimum sepanjang serat serta tegangan yang
terjadi tidak terbagi merata ke semua serat.

2.3.2 Matrik
Matrik adalah fasa dalam komposit yang mempunyai bagian atau fraksi
volume terbesar (dominan). Matrik mempunyai fungsi untuk mentransfer
tegangan ke serat secara merata, melindungi serat dari gesekan mekanik,
memegang dan mempertahankan serat pada posisinya, melindungi dari
lingkungan yang merugikan, tetap stabil setelah proses manufaktur.
Sifat-sifat matrik:
1. Sifat mekanis yang baik.
2. Kekuatan ikatan yang baik.
3. Ketangguhan yang baik.
4. Tahan terhadap temperatur.
Matrik yang digunakan dalam penelitian pembuatan komposit ini adalah recycled
polypropylene (RPP). Matrik dalam struktur komposit dapat dibedakan menjadi:

1. Komposit Matrik Polimer (Polymer Matrix Composite-PMC)


Bahan ini merupakan bahan komposit yang sering digunakan, biasa
disebut polimer berpenguat serat (FRP-Fibre Reinforced Polymers or Plastics).
16

Bahan ini menggunakan suatu polimer berbahan resin sebagai matriknya, dan
suatu jenis serat seperti kaca, karbon dan aramid sebagai penguatannya.
Komposit ini bersifat:
a. Biaya pembuatan lebih rendah.
b. Dapat dibuat dengan produksi massal.
c. Ketangguhan baik.
d. Tahan simpan.
e. Siklus pabrikasi dapat dipersingkat.
f. Kemampuan mengikuti bentuk.
g. Lebih ringan.

Jenis polimer yang sering digunakan:


a. Thermoplastic
Thermoplastic adalah plastik yang dapat dilunakkan berulang kali
(recycle) dengan menggunakan panas. Thermoplastic merupakan polimer yang
akan menjadi keras apabila didinginkan. Thermoplastic akan meleleh pada suhu
tertentu, melekat mengikuti perubahan suhu dan mempunyai sifat dapat balik
(reversibel) kepada sifat aslinya, yaitu kembali mengeras bila didinginkan. Contoh
dari thermoplastic yaitu Poliester, nylon 66, PP, PTFE, PET, Polieter sulfon, PES,
dan Polieter eterketon (PEEK).

b. Thermoset
Thermoset tidak dapat mengikuti perubahan suhu (irreversibel), bila sekali
pengerasan telah terjadi maka bahan tidak dapat dilunakkan kembali. Pemanasan
yang tinggi tidak akan melunakkan thermoset melainkan akan membentuk arang
dan terurai karena sifatnya yang demikian sering digunakan sebagai tutup ketel,
seperti jenis-jenis melamin. Plastik jenis thermoset tidak begitu menarik dalam
proses daur ulang karena selain sulit penanganannya juga volumenya jauh lebih
sedikit (sekitar 10%) dari volume jenis plastik yang bersifat thermoplastic. Contoh
dari thermoset yaitu Epoksida, Bismaleimida (BMI), dan Poli-imida (PI).
17

2. Komposit Matrik Logam (Metal Matrix Composite-MMC)


Bahan ini menggunakan suatu logam seperti aluminium sebagai matrik
dan penguatnya dengan serat seperti silikon karbida. Kelebihan MMC
dibandingkan dengan PMC adalah transfer tegangan dan regangan yang baik,
ketahanan terhadap temperature tinggi, tidak menyerapa kelembapan, tidak mudah
terbakar, kekuatan tekan dan geser yang baik serta ketahanan aus dan muai termal
yang lebih baik sedangkan kekurangan MMC biayanya mahal dan standarisasi
material dan proses yang sedikit. Contohnya Almunium beserta paduannya,
titanium beserta paduannya, magnesium beserta paduannya. MMC sering
digunakan pada komponen automotiv (blok silinder mesin, dll), Aircraft (rak
listrik pada pesawat terbang) dan peralatan elektronik.

3. Komposit Matrik Keramik (Ceramic Matrix Composite-CMC)


Bahan ini menggunakan keramik sebagai matrik dan diperkuat dengan
serat pendek, atau serabut-serabut (whiskers) dimana terbuat dari silikon karbida
atau boron nitride. Matrik yang sering digunakan pada CMC adaah gelas
anorganik, keramik gelas, alumina dan silikon nitrida. Keuntungan dari CMC
diantaranya dimensinya stabil bahkan lebih stabil dari pada logam, sangat
tanggung bahkan hampir sama dengan ketangguhan dari cast iron, mempunyai
karakteristik permukaan yang tahan aus, unsur kimianya lebih stabil pada
temperature tinggi, tahan pada temperatur tinggi (creep), kekuatan dan
ketangguhan tinggi serta ketahanan pada korosi. Kerugian dari CMC adalah sulit
untuk diproduksi dalam jumlah besar, relatif mahal dan non-cot effective hanya
untuk aplikasi tertentu. CMC biasanya digunakan pada proses kimia yaitu filter,
membran seals, liners, piping, hangers. Power generation yaitu combustorrs,
vanrs, nozzles, recuperators, heat exchange tubes, liner. Water inineration yaitu
furnace part, burners, heat pipes, filters, sensors. Kombinasi dalam rekayasa
wisker SiC/alumina polikristalin untuk perkakas potong. Serat grafit/gelas boron
silikat untuk alas cermin laser. Grafit/keramik gelas untuk bantalan, perapat dan
lem. SiC/litium aluminosilikat (LAS) untuk calon material mesin panas.
18

2.4 Sekam Padi


Sekam padi adalah limbah dari penggilingan padi yang jumlahnya sangat
banyak dan nilai ekonomisnya sangat murah.. Ditinjau dari komposisi kimiawi,
sekam padi mengandung beberapa unsur kimia penting, menurut DTC-IPB
kandungan kimiawi sekam sebagai berikut, karbon (zat arang) 1.33 %, Hidrogen
1.54 %, Oksigen 33.64 % dan silika 16.98 %. Dengan komposisi kandungan
kimia tersebut sekam padi dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan di
antaranya sebagai bahan baku pada industri kimia, sebagai bahan bangunan
terutama kandungan silica (Si02) yang dapat digunakan untuk campuran pada
pembuatan semen Portland, sebagai sumber energi panas pada berbagai keperluan
manusia, dan juga dapat dipakai sebagai material teknik yaitu bahan pembuatan
komposit yang penggunaannya sesuai dengan sifat fisis dan mekanisnya.

2.5 Polypropylene (PP)


Polipropilen (PP) adalah termoplastik yang terbuat dari monomer
propilena yang memiliki sifat kaku, tidak berbau, serta tahan terhadap bahan
kimia pelarut, asam dan basa. Propilena merupakan senyawa vinil yang memiliki
struktur yaitu:
CH2= CH – CH3 atau dapat ditulis C3H6
Polipropilen digunakan dalam berbagai aplikasi, antara lain: komponen
otomotif, pengeras suara, peralatan laboratorium, wadah atau kontainer yang
digunakan berulang kali, alat tulis, tekstil, dan banyak lagi produk sehari-hari
yang menggunakan bahan palstik polipropilen. Plastik jenis ini memiliki sifat licin
sehingga banyak jenis lem yang tidak bisa melekat pada permukaannya, dan untuk
menggabungkan bahan ini sering dengan proses pengelasan.
Polipropilen memiliki banyak kemiripan dengan polietilen, terutama
dalam sifat listrik, mekanik dan tahan terhadap panas pada waktu digunakan,
sedangkan untuk ketahanan terhadap kimia lebih rendah (Triphati, 2001). Sifat-
sifat propilena sangat tergantung pada berat molekul, kristalinitas, jenis dan
proporsi komonomer. Kepadatan polipropilen adalah 0,895-0,92 g/cm3, dengan
demikian polipropilen merupakan plastik standar yang memiliki kepadatan
19

terendah, artinya apabila sebuah cetakan yang sama digunakan untuk


memproduksi plastik maka polipropilen hasilnya akan lebih ringan dibanding
dengan polietilen, dikarenakan kepadatan polietilen sangat signifikan dalam
mengisi ruang cetakan (Tripathi, 2001).

2.6 Termoplastik
Termoplastik membutuhkan panas untuk membuat nya menjadi dapat
terbentuk dan setelah pendinginan akan berubah kembali kepada bentuk semula.
Bahan-bahan ini dapat dipanaskan ulang dan membentuk bentuk baru beberapa
kali tanpa adanya perubahan yang berarti pada sifatnya. Perilaku ini adalah akibat
ketidakhadiran crosslink kimia pada polimer ini, bahkan setelah dilelehkan. Film
didefinisikan sebagai lembaran yang fleksibel yang tidak megandung bahan
metalik, dengan ketebalan tidak lebih dari 0.01 inchi atau 250 mikron. Film
terbuat dari turunan selulosa dan sejumlah resin termoplastik, terdapat dalam
bentuk gulungan lembaran dan tabung yang dapat digunakan sebagai
pembungkus, kantong, tas dan sampul (Wiwik dkk, 2012). Film dari campuran
pati dan plasticizer dapat digunakan sebagai kemasan, namun harus memenuhi
standar sifat mekanik tertentu. Sifat fisik dan mekanik dari beberapa jenis plastik
berdasarkan ASTM D638 diperlihatkan pada Tabel 2.2 berikut.

Tabel 2.3 Sifat Fisik dan Mekanik dari Beberapa Jenis Plastik
Film Pati Kulit Film Pati
Sifat Mekanik LDPE HDPE Singkong Sorgum
Tensile strength (MPa) 10 10-40 0.406 6.9711
Elongation (%) 620 500 1.27 16.48
Sumber: Dayanti, 2009

2.7 Plasticizer
20

Plasticizer adalah bahan yang mempunyai titik didih yang tinggi dan
biasa digunakan sebagai bahan didalam pembuatan pernis dan plastik
tertentu. Plasticizer bersifat tidak menguap akan tetapi hanya menjaga
fleksibilitas dan daya rekat dari selulosa film dari pernis atau fleksibilitas
lembar plastik dan film (David, 1982). Plasticizer berfungsi pada polimer
polar untuk mengurangi ikatan hidrogen.

2.8 Gliserol
Salah satu alkil trihidrat yang penting adalah gliserol (propa- 1,2,3 -triol)
CH2OHCHOHCH2OH. Senyawa ini kebanyakan ditemui hampir semua lemak
hewani dan minyak nabati sebagai ester gliserin dari asam palmitat dan oleat
(Austin, 1985). Gliserin, atau juga sering dikenal sebagai gliserol, merupakan
unsur kimiawi yang bersifat organik. Gliserin dapat larut sempurna dalam air dan
alkohol, tetapi tidak dalam minyak. Sebaliknya, banyak zat dapat lebih mudah
larut dalam gliserol dibanding dalam air maupun alkohol. Oleh karena itu gliserin
merupakan jenis pelarut yang baik (Yusmarlela, 2009).
Gliserol efektif digunakan sebagai plasticizer pada film hidrofilik, seperti
film berbahan dasar pati, gelatin, pektin, dan karbohidrat lainnya termasuk
kitosan. Penambahan gliserol akan menghasilkan film yang lebih fleksibel dan
halus. Gliserol adalah molekul hidrofilik yang relatif kecil dan dapat dengan
mudah disisipkan di antara rantai protein dan membentuk ikatan hidrogen dengan
amida. Gliserol dapat meningkatkan pengikatan air pada edible film. Gliserol
merupakan cairan yang memiliki kelarutan tinggi, yaitu 71 g/100 g air pada suhu
25°C. Biasanya digunakan untuk mengatur kandungan air dalam makanan dan
mencegah kekeringan pada makanan (Ginting, 2012).
Gliserol merupakan plasticizer yang bersifat hidrofilik, dan dapat
meningkatkan penyerapan molekul polar seperti air. Peran gliserol sebagai
plasticizer dan konsentrasinya dapat meningkatkan fleksibilitas film (Austin, 1985
dalam Ginting, 2012). Bertambahnya jumlah gliserol dalam campuran pati-air
mengurangi nilai tegangan dan perpanjangan (elongation). Kandungan gliserol
yang rendah juga mengurangi kuat tarik edible film (Larotonda, et., all. 2004).
21

2.9 Sintesa Poliol


Poliol dapat dihasilkan dari minyak-minyak nabati, yaitu dari minyak
kelapa sawit, minyak kedelai, minyak bunga matahari, minyak kelapa, minyak
jarak, dll. Dengan kandungan trigliserida dan asam lemak tidak jenuh, minyak
jarak dapat diubah menjadi poliol melalui proses-proses epoksidasi dan
hidroksilasi, (Budi, 2001).

2.10 Polyurethane
Polyurethane dihasilkan dengan mereaksikan poliol dan isosianat dengan
kehadiran blowing agent dan aditif. Isocianate yang umum digunakan adalah
Diphenylmethylene Diisocyanates (MDI) dan Toluene Diisocyanates (TDI).
Sekarang ini, sumber penghasil poliol adalah bahan berasas minyak bumi. Dengan
menurunnya cadangan minyak bumi, sangatlah penting untuk mencari bahan yang
dapat diperbaharui untuk menghasilkan poliol dengan karakteristik yang dapat
dibandingkan dengan karakteristik poliol berasas minyak bumi. Struktur dan
karakteristik polyurethane yang unik umumnya disebabkan karena tiga reaksi
penting dari isosianat dengan poliol, isosianat dengan air dan isosianat dengan
amina.
Reaksi 1:

Gambar 2.4 Reaksi pembentukan Polyurethane

Reaksi tersebut adalah reaksi dasar untuk pembentukan kelompok uretan


dan dapat dikatakan sebagai reaksi propogasi rantai. Reaksi kedua adalah
pembentukan uretan polimer. Isosianat bereaksi dengan air untuk membentuk
asam karbamik yang tidak stabil yang akan terdekomposisi menjadi amina dan
karbon dioksida. Karbon dioksida yang dihasilkan dijebak didalam jaringan
22

polimer yang menghasilkan pembentukan gelembung-gelembung pada sel, yang


akan memberikan busa poliurethane.

2.10.1. Polyuerethane Termoplastik


Polyuerethane termoplastik adalah golongan plastik poliurethane dengan
banyak sifat yang berguna, termasuk elastis, transparan, dan tahan terhadap
minyak, gemuk dan abrasi. Polyuerethane termoplastik dibentuk dengan reaksi
pertama yaitu diisosianat dengan rantai pendek diol (chain extenders) dan kedua
reaksi diisosianat dengan rantai panjang diol. Termoplastik polyurethane
mempunyai banyak aplikasi termasuk panel instrumen, alat-alat olahraga, alat-alat
kesehatan, sepatu, film, alat-alat eloktronika seperti telepon genggam, dan lain-
lain.

2.10.2 Methylene Diphenyl Diisocyanate (MDI)


Isosianat yang digunakan untuk menghasilkan polyurethane harus
memiliki dua atau lebih gugus isosianat pada masing-masing molekulnya.
Isosianat yang umum digunakan adalah aromatic diisocyantes,Toluene
Diisocyanate (TDI) dan Methylene Diphenyl Diisocyanate (MDI). TDI and MDI
lebih murah dan lebih reaktif dibandingkan isosianat yang lain. TDI and MDI
dengan grade industri adalah campuran isomer dan MDI sering mengandung
bahan polimerik. TDI dan MDI digunakan untuk membuat busa fleksibel (untuk
membuat busa slabstock untuk kasur atau busa untuk kursi mobil), busa rigid
(untuk busa insulasi untuk lemari pendingin/refrigerator), elastomer (untuk tapak
sepatu), dan lain-lain. Isosianat dapat dimodifikasi dengan mereaksikannya
sebagian dengan poliol atau mencampurkan dengan beberapa bahan lain untuk
mengurangi volatilitas polyurethane (meningkatkan toksisitasnya), mengurangi
poin freezing untuk membuat penanganannya lebih mudah atau untuk
meningkatkan sifat akhir polimer. Struktur dari isosianat dapat dilihat pada
Gambar 2.6 dibawah ini.
23

Gambar 2.5 Struktur MDI


Formula molekular MDI adalah C15H10N2O2, berbentuk padatan berwarna
putih atau kuning pucat. MDI mempunyai densitas 1.230 g/cm 3, mempunyai titik
leleh pada suhu 30 oC dan titik didih pada suhu 314 oC. MDI lebih kurang
berbahaya dibandingkan dengan golongan isosianat yang lainnya. Tekanan
uapnya yang sangat rendah mengurangi bahayanya selama penanganan
dibandingkan dengan TDI dan HDI. Tetapi sebagaimana layaknya isosianat yang
lain, MDI adalah pemicu alergi dan sensitif.