Anda di halaman 1dari 27

MACAM ALAT EVALUASI

Dosen Pengampu:

Dr. Ni Made Sri Mertasari, M. Pd.

Disusun Oleh:

Kelompok 2

I Ketut Ardika /1813011050/VB


I Kadek Agus Megananda /1813011083/VB
I Wayan Budiantha Suta /1813011097/VB
M. Harum Pradnyani W. /1813011031/VC
Ni Kadek Putri Wiani /1813011054/VC
Ni Luh Putu Tresna Damayanti /1813011034/VD

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN MATEMATIKA

JURUSAN MATEMATIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “Macam Alat Evaluasi” tepat pada waktunya. Makalah ini merupakan
salah satu hasil pelaksanaan pemikiran sederhana sebagai wujud partisipasi
penulis dalam mata kuliah Asesmen dan Evaluasi Pembelajaran dan Desain
Pembelajaran.

Dalam penulisan makalah ini, banyak pihak yang memberi bantuan kepada
penulis. Oleh karena itu, pada kesempatan yang baik ini penulis mengucapkan
terima kasih kepada:

1. Dr. Ni Made Sri Mertasari, M.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah
Asesmen dan Evaluasi Pembelajaran atas bimbingan serta arahannya yang
telah banyak memberikan masukan dalam proses pembuatan makalah ini.
2. Teman-teman yang telah banyak memberikan dukungan sehingga makalah
ini dapat selesai sesuai dengan apa yang telah diharapkan.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna. Untuk itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca guna menyempurnakan
makalah ini. Namun demikian penulis berharap makalah ini bisa bermanfaat bagi
pembaca.

Singaraja, 27 Agustus 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................ii

DAFTAR ISI..........................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1

1.1 Latar Belakang..........................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................2

1.3 Tujuan........................................................................................................2

1.4 Manfaat......................................................................................................2

BAB II KAJIAN TEORI..........................................................................................3

2.1 Pengertian Evaluasi...................................................................................3

2.2 Pengertian Alat Evaluasi...........................................................................4

2.3 Macam Alat Evaluasi................................................................................5

BAB III PEMBAHASAN........................................................................................8

3.1 Macam Alat Evaluasi Berdasarkan Pembuatnya.......................................8

3.2 Macam Alat Evaluasi Berdasarkan Tujuannya.......................................11

BAB IV PENUTUP...............................................................................................20

4.1 Simpulan..................................................................................................20

4.2 Saran........................................................................................................21

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.
1.1 Latar Belakang
Berdasarkan UU No. 20 Tahun 2003, Pendidikan merupakan usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan Negara.
Unesco yang dikutip dalam (Muri Yusuf, 2017) merumuskan empat
pilar pendidikan, yaitu: learning to know, learning to do, learning to be dan
learning to live together. Keempat pilar tersebut menunjukkan bahwa
pendidikan tidaklah dapat dipisahkan dari diri individu dan kehidupan,
sehingga individu sebagai produk pendidikan harus dapat mengembangkan
diri sepenuhnya dan mampu hidup dalam masyarakat global yang penuh
dinamika dan kompetisi.
Proses pendidikan merupakan suatu kegiatan yang berkelanjutan, dan
melibatkan banyak komponen, seperti: peserta didik, pendidik, tujuan,
kurikulum, metode, sarana dan prasarana. Usaha dalam meningkatkan
kualitas pendidikan dapat ditempuh dengan peningkatan kualitas
pembelajaran dan sistem evaluasi yang baik. Kegiatan evaluasi dianggap
penting dalam berlangsungnya kegiatan pembelajaran karena evaluasi
merupakan salah satu cara memperbaiki dan mengembangkan kemampuan
peserta didik baik secara intelektual maupun spiritual agar dapat
menyesuaikan diri terhadap perubahan hidup dari masa ke masa.
Sebagai pengajar, guru diharapkan tidak hanya dapat memberikan
pelajaran di kelas tetapi juga mampu mengevaluasi pembelajaran dengan
baik. Kegiatan evaluasi sebagai bagian dari program pembelajaran perlu lebih
dioptimalkan. Evaluasi tidak hanya bertumpu pada penilaian hasil belajar,
namun perlu penilaian terhadap input, output, dan kualitas proses
pembelajaran itu sendiri. Untuk itu, dalam makalah ini akan dijelaskan
tentang konsep alat evaluasi pembelajaran serta macam-macam alat evaluasi
pembelajaran yaitu teknik nontes dan teknik tes.
Evaluasi pembelajaran sangat penting dilakukan untuk mengetahui
efektif atau tidaknya suatu sistem pembelajaran yang diterapkan oleh tenaga
pendidik. Selain itu, sebagai calon pendidik tentunya kita harus mengetahui
macam-macam alat evaluasi sehingga bisa melakukan evaluasi terhadap
pembelajaran yang telah dilakukan. Berangkat dari hal tersebut, pada makalah
ini akan dibahas tentang alat evaluasi pembelajaran.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang dapat kami ajukan adalah sebagai berikut:
1. Apakah yang dimaksud alat evaluasi pembelajaran?
2. Apa saja macam-macam alat evaluasi berdasarkan pembuatnya?
3. Apa saja macam-macam alat evaluasi berdasarkan tujuannya?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan karya tulis ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui dan memahami pengertian alat evaluasi pembelajaran.
2. Mengetahui dan memahami macam-macam alat evaluasi berdasarkan
pembuatnya.
3. Mengetahui dan memahami macam-macam alat evaluasi berdasarkan
tujuannya.

1.4 Manfaat
Adapun manfaat dari penyusunan karya tulis ini adalah sebagai berikut :
1. Penulis, dapat mengetahui dan memahami mengenai alat evaluasi serta
macam-macam alat evaluasi pembelajaran
2. Pembaca, mengetahui mengenai pengelompokan macam-macam alat
evaluasi pembelajaran.

2
BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 Pengertian Evaluasi


Evaluasi berasal dari kata evaluation yang artinya bagian yang sangat
penting dalam suatu sistem sebagai upaya untuk menentukan nilai atau
jumlah. Dalam definisi tersebut dapat menunjukkan bahwa kegiatan evaluasi
harus dilakukan secara hati-hati, bertanggung jawab, menggunakan strategi,
dan dapat dipertanggungjawabkan.
Adapun beberapa pendapat yang dikemukan oleh para ahli mengenai
evaluasi, antara lain:
a. Menurut Cross dalam (Amri, 2013), Evaluasi adalah sebuah proses
untuk menentukan kondisi, dimana suatu tujuan telah dapat dicapai atau
tidak. Definisi ini menerangkan secara langsung hubungan evaluasi
dengan tujuan suatu kegiatan ini untuk mengukur ketercapaian tujuan.
Sebenarnya, evaluasi juga merupakan proses memahami, memberi arti,
mendapatkan, dan mengkomunikasikan suatu informasi bagi keperluan
mengambil keputusan.
b. Menurut Frey, Barbara A., and Susan W. Alman. (2003) dalam (Ahmad,
2015): Evaluation The systematic process of collecting, analyzing, and
interpreting information to determine the extent to which pupils are
achieving instructional objectives. (Artinya: Evaluasi adalah proses
sistematis pengumpulan, analisis, dan interpretasi informasi untuk
menentukan sejauh mana siswa yang mencapai tujuan instruksional).
c. Menurut Viviane dan Gilbert de Lansheere (1984) dalam (Ahmad, 2015):
menyatakan bahwa evaluasi adalah proses penentuan apakah materi dan
metode pembelajaran telah sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
d. Evaluasi berhubungan dengan keputusan nilai (value judgement). Di
bidang pendidikan, kita dapat melakukan evaluasi terhadap kurikulum
baru, suatu kebijakan pendidikan, sumber belajar tertentu, atau etos
kerja guru. (Depdiknas, 2006) dalam (Ratnawulan, 2014).

3
Dari pengertian evaluasi yang dipaparkan oleh para ahli tersebut, maka
secara umum pengertian dari evaluasi pembelajaran adalah penilaian atau
penaksiran terhadap perkembangan dan keberhasilan peserta didik ke arah
tujuan yang telah di tetapkan dalam hukum.Salah satu dari tujuan evaluasi
pembelajaran yaitu mendapatkan data pembuktian yang akan mengukur
sampai dimana tingkat kemampuan dan keberhasilan peserta didik dalam
mencapai tujuan kurikuler atau pengajaran.
2.2 Pengertian Alat Evaluasi
Dalam hal evaluasi, alat sangat dibutuhkan dalam rangka mencapai suatu
penilaian, baik dalam penilaian secara terstruktur maupun tidak terstruktur.
Dari pengertian umum, alat adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk
mempermudah seseorang dalam melaksanakan tugas atau mencapai
tujuan secara lebih efektif dan efisien. Kata “alat” biasa disebut  juga 
denganistilah “instrumen”. Dengan demikian, alat evaluasi juga dikenal
dengan instrumen evaluasi.
Dalam kegiatan evaluasi, fungsi alat adalah untuk memperoleh hasil
belajar yang lebih baik sesuai dengan kenyataan yang dievaluasi. Pemahaman
tentang instrumen ini menjadi penting karena dalam praktik evaluasi dan
penilaian, pada umumnya guru selalu mendasarkan pada proses pengukuran.
Dalam pengukuran tentu harus ada alat ukur (instrumen). Banyak alat atau
instrumen yang dapat digunakan dalam kegiatan evaluasi hasil pembelajaran,
salah satunya adalah tes. Dalam menggunakan alat tersebut evaluator
menggunakan cara atau teknik, maka dikenal dengan teknik evaluasi. Seperti
disebutkan di atas, ada dua teknik evaluasi yaitu teknik tes dan non-tes.

2.3 Macam Alat Evaluasi


Pada umumnya alat evaluasi dibedakan menjadi dua jenis, yakni tes dan
non tes. Menurut Amir Daien Indrakusuma dalam (Ratnawulan, 2014), tes
adalah suatu alat atau prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperoleh
data-data atau keterangan-keterangan yang diingikan tentang seseorang,
dengan cara yang boleh dikatakan tepat dan cepat.

4
Tes juga dapat diartikan sebagai berikut:
a) Tes adalah suatu alat pengumpul data yang bersifat resmi karena
penuh dengan batasan-batasan.
b) Tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil
belajar siswa, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan
penguasaan bahan pelajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan
pengajaran. Namun tes juga dapat digunakan untuk menilai hasil
belajar bidang afektif dan psikomotoris.

Dilihat dari segi bentuknya, tes ini ada yang diberikan: (a) Tes secara
lisan (menuntut jawaban secara lisan), (b) Tes tulisan (menuntut jawaban
secara tulisan), (c) Tes tindakan (menuntut jawaban dalam bentuk perbuatan),
(d) Soal-soal tes ada yang disusun dalam bentuk objektif, ada juga yang dalam
bentuk esai atau uraian.

Jenis tes tersebut biasanya digunakan untuk menilai isi pendidikan,


misalnya aspek pengetahuan, kecakapan, ketrampilan, dan pemahaman
pelajaran yang telah diberikan oleh guru.

Hasil belajar dan proses tidak hanya dinilai oleh tes, tetapi juga dapat
dinilai oleh alat-alat non tes atau bukan tes. Penggunaan non tes untuk menilai
hasil dan proses belajar masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan
penggunaan tes dalam menilai hasil dan proses belajar. Para guru disekolah
pada umumnya lebih banyak menggunakan tes daripada bukan tes mengingat
alatnya mudah dibuat, penggunaannya lebih praktis dan yang dinilai terbatas
pada aspek kognitif berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh siswa setelah
menyelesaikan pengalaman belajarnya.

Alat bukan tes atau nontes dapat berupa wawancara dan kuisioner.
Wawancara adalah suatu metode atau cara yang digunakan untuk
mendapatkan jawaban dari responden dengan jalan tanya jawab sepihak.
Wawancara dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu wawancara bebas dan
wawancara terpimpin. Kemudian, kuesioner sering disebut juga angket.
Kuesioner adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang
akan diukur (responden).

5
Adapun alat evaluasi dapat dibagi berdasarkan beberapa hal baik
kegunaan, tujuan, dan pembuat. Menurut Daryanto (2001), ditinjau dari segi
kegunaan untuk mengukur siswa, alat evaluasi dibedakan menjadi 3, yaitu:
a. Tes Diagnostik
Menurut Suharsimi (2013), tes diagnostik merupakan tes yang
digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa, berdasarkan
kelemahan tersebut dapat dilakukan pemberian pemberlakuan yang tepat.
Sejalan dengan pengertian tersebut, Rasyid dan Mansyur (2007)
menjelaskan bahwa tes diagnostik berguna untuk mengetahui kesulitan
belajar yang dihadapi peserta didik, termasuk kesalahan pemahaman
konsep.

Secara garis besar langkah-langkah dalam mengembangkan tes


diagnostik menurut Depdiknas (2007) adalah:

1. Menentukan kompetensi dasar yang belum tercapai ketuntasannya


2. Menentukan kemungkinan sumber masalah
3. Menentukan bentuk dan jumlah soal yang sesuai
4. Menyusun kisi kisi soal
5. Membuat soal
6. Merevisi soal
7. Menyusun kriteria penilaian

Secara umum tes diagnostik memiliki dua fungsi utama, yaitu:

1. Mengidentifikasi masalah atau kesulitan yang dialami siswa


2. Merencanakan tindak lanjut berupa upaya-upaya pemecahan sesuai
masalah atau kesulitan yang telah teridentifikasi
b. Tes Formatif
Formatif test berasal dari kata form yang berarti bentuk dan test yang
berarti alat evaluasi. Dengan demikian formatif test bertujuan sebagai alat
untuk mengevaluasi sejauh mana peserta didik telah “terbentuk” (sudah
sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditentukan atau belum, sudah
terbentuk dari segi ranah kognitif, afektik, dan psikomotoriknya atau

6
belum) dan biasanya diberikan setelah mereka mengikuti proses
pembelajaran pada waktu tertentu.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunakan tes formatif


adalah:

1. Penilaian dilakukan pada akhir setiap satuan pelajaran.


2. Penilaian formatif bertujuan mengetaui sejauh mana Kompetensi
Dasar pada setiap satuan pelajaran yang telah tercapai.
3. Penilaian formatif dilakukan dengan menggunakan tes hasil
belajar, kuesioner, ataupun cara lainnya yang sesuai.
4. Siswa dinilai berhasil dalam penilaian formatif apabila mencapai
taraf sekurang-kurangnya 75% dari tujuan yang ingin dicapai.
c. Tes Sumatif
Tes sumatif merupakan alat evaluasi yang digunakan dengan
tujuan untuk mengetahui pemahaman dan kemampuan siswa terhadap
sejumlah materi atau pokok bahasan tertentu. Tes ini dilaksanakan
setelah berakhirnya pemberian sekelompok program atau sebuah
program yang lebih besar.
Menurut Basrowi dan Siskandar (2012) dalam bukunya, adapaun
beberapa manfaat dari tes sumatif antara lain:
1. Untuk menentukan nilai atau prestasi siswa dalam mata pelajaran
tertentu.
2. Sebagai alat untuk menentukan prakiraan (prediction).
3. Sebagai laporan kemajuan (nilai rapor/ STTB) yang akan berguna
bagi orang tua, guru bimbingan-penyuluh, pihak lain dan siswa itu
sendiri.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tes sumatif:
1. Siswa dinilai berhasil dalam mata pelajaran tertentu selama satu
semester apabila nilai rapor mata pelajaran tersebut tidak kurang
dari standar yang telah ditentukan.
2. Penilaian sumatif (subsumatif) dilakukan dengan mempergunakan
tes hasil belajar, kuesioner ataupun cara yang lainnya yang sesuai

7
dengan menilai ketiga ranah yakni kognitif, afektif, dan
psikomotor.

BAB III
PEMBAHASAN

Berdasarkan pendapat beberapa ahli mengenai macam alat evaluasi,


dapat disimpulkan bahwa secara garis besar alat evaluasi dibagi menjadi dua
yaitu berdasarkan pembuatnya dan berdasarkan tujuannya
3.1 Macam Alat Evaluasi Berdasarkan Pembuatnya

1. Evaluasi yang dibuat oleh guru


Dibawah ini dibahas secara umum mengenai kedua jenis alat
penilaian yang dibuat oleh guru. Dilihat dari faktor validitas dan
reliabilitasnya.

a. Tes

Amir Daien Indra Kususma dalam (Ratnawulan, 2014), menegaskan


bahwa: Tes adalah suatu alat atau prosedur yang sistematis dan objektif untuk
memperoleh data-data atau keterangan- keterangan yang diingikna tentang
seseorang, dengan cara yang boleh dikatakan tepat dan cepat. Tes juga dapat
diartikan sebagai berikut:
a. Tes adalah suatu alat pengumpul data yang bersifat resmi
karena penuh dengan batasan-batasan.
b. Tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil
belajar siswa, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan
penguasaan bahan pelajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan
pengajaran. Namun tes juga dapat digunakan untuk menilai hasil
belajar bidang afektif dan psikomotoris.
Dilihat dari segi bentuknya, tes ini ada yang diberikan:

a. Tes secara lisan (menuntut jawaban secara lisan),

b. Tes tulisan (menuntut jawaban secara tulisan),

8
c. Tes tindakan (menuntut jawaban dalam bentuk perbuatan).

d. Soal-soal tes ada yang disusun dalam bentuk objektif, ada


juga yang dalam bentuk esai atau uraian.
Jenis tes tersebut biasanya digunakan untuk menilai isi pendidikan,
misalnya aspek pengetahuan, kecakapan, ketrampilan, dan pemahaman
pelajaran yang telah diberikan oleh guru.

b. Non-Tes

Alat evaluasi jenis non-tes ini antara lain :

1. Observasi.

2. Wawancara.

3. Studi kasus.

4. Rating scale (skala penilaian).

5. Check list.

6. Inventory.

Syarat menyusun alat penilaian membuat pertanyaan tes (alat evaluasi)


tidak mudah, sebab tes atau pertanyaan merupakan alat untuk melihat
perubahan kemampuan dan tingkah laku siswa setelah ia menerima
pengajaran dari guru atau pengajaran disekolah.

Alat evaluasi yang salah, akan menggambarkan kemampuan dan tingkah


laku yang salah pula. Oleh karena itu teknik penyusunan alat evaluasi penting
dipertimbangkan agar memperoleh hasil, yang objektif.

Beberapa syarat dan petunjuk yang perlu diperhatikan dalam menyusun


alat evaluasi, ialah :

a. Harus menetapkan dulu segi-segi apa yang dilakukan dinilai, sehingga


betul-betul terbatas serta dapat member petunjuk bagaimana dan dengan
alat apa segi tersebut dapat kita nilai.
b. Herus menetapkan alat evaluasi yang betul-betul valid dan relaibel, artinya
taraf ketepatan dan ketatapan tes sesuai dengan aspek yang akan dinilai.

9
c. Penilaian harus objektif, artinya menilai prestasi siswa sebagaimana
adanya.
d. Hasil penilaian tersebut harus betul-betul diolah dengan teliti sehingga
dapat ditafsirkan berdasarkan criteria yang berlaku.
e. Alat evaluasi yang dibuat hendaknya mengandung unsure diagnosis,
artinya dapat dijadikan bahan untuk mencari kelemahan siswa belajar dan
guru mengajar.
Beberapa hal yang harus diperhatikan guru atau penagajar dalam
melaksanakan penilaian, antara lain:

1. Penilaian harus dilakukan secara berlanjut, artinya setiap saat diadakan


penilaian sehingga diperoleh suatu gambaran yang objektif mengenai
kemajuan siswa.

2. Dalam proses mengajar dan belajar penilaian dapat dilaksankan dalam tiga
tahap yakni:

- Pre-test

- Mid-tes

- Post-tes

3. Penilaian dilaksanakan bukan hanya didalam kelas tetapi juga diluar kelas,
bukan hanya pada waktu proses belajar tapi juga diluar proses belajar,
lebih-lebih aspek tingkah laku.
4. Untuk memperoleh gambaran objektif, penilaian jangan hanya tes tetapi
perlu digunakan jenis non-tes.
Dalam menggunakan alat tersbut, evaluator menggunakan cara atau
teknik, dan oleh karena itu dikenal dengan tekhnik evaluasi.
2. Alat Evaluasi Terstandar
Alat evaluasi terstandar atau alat evaluasi yang dibakukan (standardized)
adalah alat evaluasi yang kualitasnya terjamin sehingga hasilnya
mencerminkan keadaan kemampuan testi sebenarnya. Alat evaluasi ini
derajat validitas dan reliabilitasnya memadai (tinggi). Begitu pula daya

10
pembeda, tingkat pembeda, tingkat kesukaran, dan efektivitasnya memenuhi
kriteria kualitas soal evaluasi yang baik.
Suatu alat evaluasi terstandar sebelumnya telah melalui serangkaian uji-
coba (try-uot) analisis, dan revisi sehingga menghasilkan alat evaluasi yang
benar-benar baik. Alat evaluasi ini biasanya dibuat khusus oleh para
ahlidalam disiplin ilmu masing-masing. Contoh alat evaluasi yang sudah
terstandar adalah alat evaluasi yang sudah diujikan oleh para ahli psikologi,
misalkan tes intelegensi, tes bakat, tes minat. Tes ini sifatnya rahasia karena
pelaksanaan dan pengolahan datanya tidak dapat dilaksanakan oleh orang
lain yang bukan ahlinya. Materi tes ini mencangkup hal-hal yang sifatnya
pengetahuan umum yang memerlukan pola piker logis dan spontanitas.
Dari uraian diatas, alat evaluasi terstandar mempunyai ciri-ciri sebagai
berikut:
a. Didasarkan atas bahan dan tujuan yang lebih luas ruang lingkupnya
dari pada tes yan dibuat oleh guru
b. Disusun oleh para ahli dan biasanya mempunyai tim
c. Melalui serangkaian uji-coba sehingga criteria alat evaluasi yang baik
dapat dipenuhi
d. Prosedur yang ditempuh biasanya adalah penyusunan pertimbangan
(jundement), uj-coba, analisis, revisi, dan pengeditan

Dalam pelaksanaan tes standar (baku) ini, adapun tujuan yang termuat
adalah sebagai berikut :

a. Untuk mengukur kedudukan peserta didik dalam lingkup yang luas. Tes
ini dilakukan pada tingkat tertentu dan waktu tertentu.
b. Untuk mengukur kemajuan yang dicapai dalam matapelajaran tertentu
yang bersifat umum dan menyeluruh.
c. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan peserta didik dalam
menguasai materi matapelajaran tertentu secara luas.
Adapun macam-macam alat tes Standar adalah seperti tes Ujian
Nasional jenjang SD dan sederajat, SMP dan sederajat, SMA dan sederajat,
Seleksi Olimpiade Sains. Tes Standar atau baku ini umumnya menggunakan
tes tertulis atau secara online.

11
a. Macam Alat Evaluasi Berdasarkan Tujuannya
1. Tes Kecepatan (Speed Test)
Tes kecepatan digunakan untuk mengevaluasi kecepatan berpikir
(kognitif) atau keterampilan yang bersifat spontanitas, hafalan maupun
pemahaman, dan ketepatan peserta didik dalam mengerjakan sesuatu dengan
waktu yang telah ditetapkan dan biasanya waktunya relatif singkat. Soal
yang diberikan pada tes kecepatan memiliki bobot soal yang relatif mudah
dengan jumlah yang banyak. Tes kecepatan dikelompokkan menjadi dua,
yaitu tes intelegensi dan tes keterampilan.

a. Tes Intelegensi
Menurut Thornburg (1984: 179) dalam Purwanto (2010), intelegensi
adalah ukuran bagaimana individu berperilaku. Intelegensi diukur dengan
perilaku individu, interaksi interpersonal dan prestasi. Tes Intelegensi
diberikan berupa tugas yang berkaitan dengan kemampuan berpikir
abstrak, kemampuan mempertimbangkan, memahami dan menalar,
kemampuan beradaptasi dengan lingkungan. Tes intelegensi memiliki
beberapa macam jenis. Di Indonesia ada beberapa tes intelegensi yang
diterapkan, yaitu sebagai berikut:
 Tes Binet
Tes binet dikembangkan oleh Alferd Binet, dan dipublikasikan
pertama kali pada tahun 1905 di Paris, Prancis. Tes Binet digunakan
untuk mengukur kemampuan mental seseorang. Materi yang digunakan
pada tes binet dengan skala Standford-Binet berupa kotak yang berisi
berbagai macam mainan untuk anak-anak, dua buah buku kecil yang
berisi cetakan kartu, buku catatan untuk mencatat jawaban dan skor,
serta sebuah petunjuk pelaksanaan.
 WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale)

WAIS dikembangkan oleh David Wechsler. Tes ini dikembangkan


pada tahun 1955 dengan batasan dari teori Stanford-Binet, dalam

12
pengukuran kecerdasan untuk orang dewasa usia 16-75 tahun atau
lebih. Dan dilaksanakan secara individu (Maarif et al., 2017)

 IST (Intelligenz Structure Test)

IST dikembangkan oleh Rudolf Amthaeur di Frankfrurt Jerman


pada tahun 1953. Tes ini terdiri dari 9 subtes antara lain Satzerganzung
(SE) yaitu melengkapi kalimat, Wortauswahl (WA) yaitu melengkapi
kata-kata, Analogien (AN) yaitu persamaan kata, Gemeinsamkeiten
(GE) yaitu sifat yang dimiliki bersama, Rechhenaufgaben (RA) yaitu
kemampuan berhitung, Zahlenreihen (SR) yaitu deret angka,
Figurenauswahl (FA) yaitu memilih bentuk, Wurfelaufgaben (WU)
yaitu latihan balok, dan Merkaufgaben (ME) yaitu latihan
simbol.Menurut Kumolohadi & Suseno (2012) melalui IST dapat
diperoleh skor intelegensi umum dan skor kemampuan khusus.

 SPM (Standard Progressive Matrices)

SPM dirancang oleh J.C Raven pada tahun 1936. Tes ini mengukur
kecerdasan orang dewasa. Menurut Kumolohadi & Suseno (2012)
SPM adalah alat tes yang lebih sederhana serta tugas yang diberikan
lebih mudah. Namun melalui SPM, seseorang hanya dapat mengetahui
kategorisasi atau tingkatan (grade) rata-rata dari intelegensinya.

b. Tes Keterampilan
Keterampilan merupakan kecakapan untuk menyelesaikan tugas.
Keterampilan merupakan kemampuan untuk melakukan suatu tindakan
dan merupakan penerapan atau pengaplikasian dari pengetahuan teoritis
yang telah dimiliki. Contohnya, seseorang telah mengetahui teori
mengenai KPK dan FPB, lalu dapat diterapkan dalam penggunaan alat
peraga matematika. Jika ia dapat menerapkan konsep atau teori dalam
penggunaan alat peraga dan berhasil menggunakannya maka hasil
evaluasi dianggap baik.
2. Tes Kemampuan (power test)

13
Tes kemampuan yaitu tes yang dilaksanakan untuk mengukur
kemampuan dasar atau bakat yang dimiliki. Berbeda dengan tes
kecepatan, tes kemampuan berfokus pada evaluasi kemampuan kognitif
maupun psikomotorik dan tidak terpaku oleh waktu dalam
pengerjaannya. Soal yang diberikan pada tes kemampuan biasanya lebih
sedikit namun dengan bobot soal yang lebih sulit. Soalnya berupa konsep
pemecahan masalah, dan siswa mampu menggunakan kemampuannya.
Contohnya, tugas yang diberikan untuk dikerjakan dirumah tentunya
dengan bobot soal yang sulit dan tidak terpaku oleh waktu.
3. Tes Pencapaian (archievement test)
Tes pencapaian adalah tes yang digunakan untuk mengetahui tingkat
pencapaian atau prestasi belajar dalam bentuk tugas atau perintah yang
harus dikerjakan. Tes ini bertujuan untuk mengevaluasi hal yang telah
diperoleh dalam suatu kegiatan, meningkatkan kualitas pembelajaran,
mengukur prestasi, dan mengamati pembelajaran. Tes pencapaian
berfokus pada hasil belajar dibandingkan proses belajar. Contohnya,
pemberian tes harian, UTS, UAS yang diberikan dalam kurun waktu
tertentu guna mengevaluasi pembelajaran yang telah dilaksanakan
sebelumya.
4. Tes Kemajuan Belajar (Assessment Test)
Tes kemajuan belajar juga disebut dengan tes perolehan adalah tes
yang dapat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan pendidik dari
informasi yang relevan tentang peserta didik. Tes kemajuan belajar
berpatokan pada tes yang telah dilaksanakan, yaitu tes awal (pre test) dan
tes akhir (post test), kedua tes ini bertujuan untuk mengetahui kemajuan
peserta didik dalam pembelajaran. Tes awal yaitu tes yang diberikan pada
awal pembelajaran dan bertujuan untuk mengetahui kondisi awal peserta
didik sebelum mengikuti pembelajaran selanjutnya. Contohnya pada
awal pembelajaran pendidik akan memberikan tanya jawab mengenai
pemahaman awal mengenai materi barisan dan deret. Tes akhir adalah tes
yang diberikan pada akhir pembelajaran, seperti ulangan harian, UTS,
maupun UAS.

14
5. Tes Diagnostik

Merujuk pada arti kata diagnostik yang berarti penentuan suatu


kondisi yang dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan. Menurut
Arifin dalam (Ratnawulan, 2014) tes diagnostik berfungsi untuk
memahami latar belakang (psikologis, fisik dan lingkungan) peserta didik
yang mengalami kesulitan belajar, dimana hasilnya dapat digunakan
sebagai dasar dalam memecahkan kesulitankesulitan tersebut. Tes ini
akan membantu guru sehingga guru dapat mengambil keputusan untuk
mengatasi permsalahan yang dihadapi peserta didik.

Dalam Pembelajaran, tes diagnostik digunakan oleh guru untuk


mengetahui hambatan-hambatan yang dialami peserta didik, selain juga
menelaah kelebihan yang dimiliki peserta didik yang dapat digunakan
guru untuk mengatasi hambatan yang dihadapi peserta didik. Sehingga
guru dapat memperbaiki dengan memberikan penanganan yang tepat.
Pelaksanaan tes diagnostik dapat dibedakan menjadi beberapa tahap.

a. Tes Diagnostik-1

Pada tes diagnostik-1, akan diukur tingkat penguasaan pengetahuan


dasar peserta didik. Apakah mereka sudah mampu dan paham sehingga
dapat mengikuti proses pembelajaran selanjutnya. Biasanya, tes ini
disebut tes prasyarat karena pengetahuan dasar yang dimaksud
merupakan bahan prasyarat untuk pembelajaran berikutnya. Sebagai
contoh, guru akan memberikan kuis di awal pembelajaran untuk
mengetahui tingkat pemahaman dan pengetahuan dasar peserta didik.
Jika terdapat materi dasar yang masih kurang dan belum di kuasai oleh
peserta didik, tentu hal ini akan menjadi masalah pada pembelajaran
selanjutnya. Karena itu, guru akan memberikan sedikit penekanan
mengenai materi tersebut agar peserta didik lebih paham dan mengerti.

b. Tes Diagnostik-2

Pengelompokan peserta didik menjadi beberapa kelas yang berbeda


sangatlah penting. Untuk membagikan kelas, tentu perlu dilakukan

15
pertimbangan dan informasi. Dalam hal ini, tes diagnostik berfungsi
sebagai tes penempatan. Apakah ke dalam kelas tersebut akan
dikelompokkan anak yang pintar saja, ataukah akan diimbagi agar
persebarannya merata.

c. Tes Diagnostik-3

Setiap peserta didik memiliki cara belajar yang berbeda-beda. Tidak


semua peserta didik dapat menerima dan mengerti dengan materi yang
diberikan. Sehingga, guru harus memberikan tes diagnostik. Tes
diagnostik-3 dilakukan terhadap siswa yang sedang belajar. Sehingga
guru mengetahui bagian mana yang tidak dipahami oleh siswa sekaligus
mendeteksi penyebabnya. Dengan mengacu pada hasil tersebut, guru
dapat memberikan bantuan atau solusi kepada peserta didik.

d. Tes Diagnostik-4

Tes ini merupakan tes terakhir dari tes diagnostik. Setelah pada tahap
sebelumnya guru telah menemukan faktor yang menjadi akar
permasalahan anak dan memberikan solusinya. Tes ini diberikan pada
akhir pembelajaran. Bertujuan untuk mengetahui tingkat penguasaan
peserta didik, berkaitan dengan materi yang diberikan.

Dengan tes diagnostik, guru dapat mengetahui permasalahan yang


dihadapi peserta didik dan memberikan alternatif atau solusi sehingga
peserta didik dapat melanjutkan pembelajaran sesuai dengan tujuan yang
diharapkan.

6. Tes Formatif

Tes formatif dilakukan oleh guru dalam perkembangan


pembelajaran atau kurun waktu proses pelaksanaan program
pembelajaran semester (Ahmad, 2015). Tujuannya agar guru dapat
mengetahui kemungkinan adanya penyimpangan seperti tidak sesuainya
pelaksanaan pembelajaran dengan rencana yang telah disusun. Tes
formatif diberikan pada akhir sub pokok materi atau bahan ajar,
sehingga jika terdapat ketidaksesuaian dengan tujuan pembelajaran,

16
dapat segera diatasi. Fungsi utama dari tes formatif adalah untuk
memperbaiki proses pembelajaran. Contohnya: ulangan harian dan kuis
setelah pembelajaran berlangsung. Manfaatnya bagi siswa adalah
melatih dalam mengerjakan soal dan mengetahui kemampuan sendiri.
Sedangkan bagi guru adalah mengetahui sejauh mana kemampuan
siswa serta dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan nilai
akhir.

7. Tes Sumatif

Setiap akhir semester, guru akan melakukan evaluasi dengan


memberikan tes atau ulangan akhir semester. Inilah contoh dari tes
sumatif. Guru dapat melakukan tes sumatif jika seluruh materi atau
pokok bahasan dalam satu semester tersebut telah tuntas dibahas
dalam proses pembelajaran. Tes sumatif bertujuan untuk mengetahui
tingkat keberhasilan berupa pemahaman yang dicapai peserta didik
dalam kurun waktu satu semester, satu tahun atau akhir program.
Dengan kata lain, untuk mengetahui hasil, kemampuan, dan kemajuan
peserta didik.

Pada dasarnya, antara Tes Diagnostik, Tes Formatif dan Tes Sumatif
terdapat hubungan dan ketiganya saling terkait. Jika dikaitkan dengan step
by step secara terurut dalam pembelajaran maka dapat dikatakan bahwa
Tes diagnostik merupakan tes yang ditujukan untuk menelaah kelemahan-
kelemahan peserta didik beserta faktornya. Setelah itu, peserta didik akan
diberikan tes formatif untuk memperbaiki dan meningkatkan proses
pembelajaran. Kemudian pada akhir keseluruhan materi pembelajan, akan
diberikan tes sumatif untuk menentukan hasil dan kemampuan peserta
didik. (Widiyanto, 2018).

Agar lebih jelas, akan dijabarkan perbedaan dari tes diagnostik, tes
formatif, dan tes sumatif.

Tabel 1. Perbedaan Dari Tes Diagnostik, Tes Formatif, dan Tes Sumatif

17
No Aspek
Tes Diagnostik Tes Formatif Tes Sumatif
. Pembeda
Fungsi - Untuk Sebagai bahan Untuk
mengetahui evaluasi dari mengetahui
apakah peserta pelaksanaan tingkat
didik sudah satu Sub keberhasilan
mengusai pokok materi, peserta didik
pengetahuan sehingga dapat berupa hasil,
dasar atau materi memperbaiki kemampuan,
prasyarat atau proses dan kemajuan
belum pembelajaran. peserta didik
- Untuk mencari
acuan yang jelas
1
dalam
mengelompokka
n (memilih kelas)
peserta didik
- Untuk
mengetahui
tingkat
pemahaman
peserta didik
terhadap materi
pembelajaran
2 Waktu - Waktu pertemuan Selama Pada akhir
pertama dengan pelaksanaan semester,
pembahasan program akhir tahun,
materi baru pembelajaran akhir
- Penyaringan semester program, dan
calon siswa dan caturwulan
pembagian kelas
- Selama proses
pembelajaran

18
berlangsung dan
di akhir
pembelajaran
- Tes prestasi - Tes prestasi Tes Ujian
belajar yang belajar yang Akhir
sudah tersusun secara
distandarisasikan baik
Alat
3 - Tes diagnosis - Tes buatan
Evaluasi
yang sudah guru
distandarisasikan
- Tes buatan guru
- Pengamatan
Dicatat dan Prestasi setiap Keseluruhan
dilaporkan dalam peserta didik atau sebagian
Cara
bentuk profil dilaporkan dalam skor dari yang
4 pencatatan
bentuk catatan dicapai
hasil
berhasil atau
menguasai tugas

19
BAB IV
PENUTUP

4.1 Simpulan

Alat evaluasi adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah


seseorang dalam melaksanakan tugas atau mencapai tujuan secara lebih efektif
dan efesien. Dalam kegiatan evaluasi, fungsi alat juga untuk memperoleh hasil
yang lebih baik sesuai dengan kenyataan yang dievaluasi.
Macam alat evaluasi berdasarkan pembuatnya dikelompokan menjadi 2
yaitu
a. Alat Evaluasi Buatan Guru, alat evaluasi yang sengaja dibuat oleh guru,
baik tes maupun non-tes, yang dipergunakan untuk mengukur hasil
belajar siswa terhadap materi pelajaran yang telah
disampaikan.Contohnya tes kuis, tes ulangan, dan tes seleksi siswa
baru.
b. Alat Evaluasi Terstandar, alat evaluasi yang kualitasnya terjamin
sehingga hasilnya mencerminkan keadaan kemampuan testi
sebenarnya.Contohnya tes ujian nasional tingkat SD dan sederajat, SMP
dan sederajat, SMA dan sederajat.

Macam alat evaluasi berdasarkan tujuannya yaitu dibagi menjadi 7


kelompok yaitu:

a. Tes Kecepatan, yang memiliki tujuan untuk merepresentasikan


kecepatan dan ketepatan peserta didik dalam mengerjakan sesuatu pada
waktu atau periode tertentu.
b. Tes Kemampuan,tes yang dilaksanakan untuk mengukur kemampuan
dasar atau bakat yang dimiliki.
c. Tes pencapaian,tes yang digunakan untuk mengetahui tingkat
pencapaian atau prestasi belajar dalam bentuk tugas atau perintah yang
harus dikerjakan.
d. Tes kemajuan Belajar, tes yang dapat menjadi dasar dalam pengambilan
keputusan pendidik dari informasi yang relevan tentang peserta didik.

20
e. Tes diagnostik, berfungsi untuk memahami latar belakang (psikologis,
fisik dan lingkungan) peserta didik yang mengalami kesulitan belajar,
dimana hasilnya dapat digunakan sebagai dasar dalam memecahkan
kesulitankesulitan tersebut.
f. Tes formatif, merupakan suatu tes yang biasanya diberikan setiap kali
satuan pelajaran atau sub pokok bahasan terakhir. Contohnya ulangan
harian
g. Tes sumatif merupakan alat evaluasi yang bersifat menyeluruh sehingga
tes ini gunakan untuk mengevaluasi jumlah keseluruhan, maka biasanya
pemberian tes ini dilakukan diakhir pengajaran.
4.2 Saran
Sebagai seorang guru diharapkan mampu memahami macam-macam alat
evaluasi yang ada sehingga bisa menerapkan dalam proses pembelajaran.
Dan, dalam pengimplementasian alat evaluasi, sebagai seorang guru harus
bisa menyesuaikan dengan situasi, kondisi dan keadaan dilapangan.

21
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Nahjiah. 2015. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Interpena


Yogyakarta

Amri, Sofan. 2013. Pengembangan dan Model Pembelajaran dalam Kurikulum


2013. Jakarta: PT Prestasi Pustakarya

Arifin, Zaenal. 2011. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Arikunto, Suharsimi. 2013. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi


Aksara

Basrowi & Iskandar. 2012. Evaluasi Belajar Berbasis Kinerja. Bandung: Karya
Putra Darwati

Depdiknas. (2007). Tes Diagnostik. Jakarta: Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar


dan Menengah

Kumolohadi, R., & Suseno, M. N. (2012). Intelligenz Struktur Test Dan Standard
Progressive Matrices: Dari Konsep Intelegensi Yang Berbeda
Menghasilkan Tingkat Intelegensi Yang Sama. Jurnal Inovasi Dan
Kewirausahaan, 1(2), 79–85. https://journal.uii.ac.id/ajie/article/view/2825

Maarif, V., Widodo, A. E., & Wibowo, D. Y. (2017). Aplikasi Tes IQ Berbasis
Android. Ijse.Bsi.Ac.Id IJSE – Indonesian Journal on Software
Engineering ISSN, 3(2), 2461–
2690.https://ejournal.bsi.ac.id/ejurnal/index.php/ijse/article/view/2820

Purwanto. 2010. Intelegensi: Konsep dan Pengkurannya. Jurnal Pendidikan dan


Kebudayaan, 16(4).
http://jurnaldikbud.kemdikbud.go.id/index.php/jpnk/article/download/479/
322/

Purwanto. 2013.Evaluasi hasil belajar.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rasyid, H., & Mansyur (2007). Penilaian Hasil Belajar. Bandung: Wacana prima
Ratnawulan, Elis. 2014. Evaluasi Pembelajaran Dengan Pendekatan Kurikulum
2013. Bandung: Pustaka Setia Bandung

2
Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Widiyanto, Joko. 2018. Evaluasi Pembelajaran (Sesuai dengan Kurikulum 2013).


Madiun Jawa Timur: UNIPMA PRESS.

Yusuf, Muri. 2017. Asesmen dan Evalusai Pendidikan. Jakarta: PT Fajar


Interpratama Mandiri

Anda mungkin juga menyukai