Anda di halaman 1dari 16

Nama : BENNY PUSWORO,S.Pd,M.

Pd
Instansi: SDN 2 KARANGWALUH
Kelas :B

Tugas 01-OJT1. Mendalami materi pokok


Sebelum peserta mengisi format tugas 01-OJT-1, terlebih dahulu harus mempelajari bahan
pembelajaran khususnya pada bagian bahan bacaan untuk 5 (lima) materi pokok
pengawasan yang akan dipelajari dalam diklat calon pengawas sekolah. Saudara dapat
menggunakan format di bawah ini:
Tabel Tugas 01-OJT1. Mendalami Materi Pokok
Hal Baru
N Nama
Resume Hasil Eksplorasi Materi yang
o Materi
Diperoleh
a b C d
1 Tugas Organisas
Pokok dan Tugas Pokok dan Kode Etik Pengawas Sekolah i Profesi
Kode Etik Permen PAN dan RB Nomor 21 Tahun 2010 dijelaskan APSI
Pengawas bahwa:
Sekolah (1)Jabatan fungsional Pengawas Sekolah adalah jabatan
fungsional yang mempunyai ruang lingkup tugas,
tanggung jawab dan wewenang untuk melaksanakan
kegiatan pengawasan akademik dan manajerial pada
satuan pendidikan;
(2) Pengawas Sekolah adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS)
yang diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang secara
penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan
pengawasan akademik dan manajerial pada satuan
Pendidikan.
(3) kegiatan pengawasan adalah kegiatan pengawas sekolah
dalam menyusun program pengawasan, melaksanakan
program pengawasan, evaluasi hasil pelaksanaan
program, dan melaksanakan pembimbingan dan
pelatihan profesional Guru.
A. Bidang Sasaran Pengawasan
Dikutip dari PermenPAN dan RB Nomor 21 Tahun 2010
kedudukan pengawas sekolah adalah:
1)Pengawas sekolah berkedudukan sebagai pelaksana
Teknis fungsional di bidang pengawasan akademik dan
Manajerial pada sejumlah satuan pendidikan
2) Bidang pengawasan meliputi pengawasan Taman Kanak-
Kanak/Raudhatul Athfal Sekolah Dasar/Madrasah
Ibtidaiyah, pengawasan rumpun mata pelajaran/mata
pelajaran, pendidikan luar biasa, dan bimbingan
konseling;
3) Sasaran pengawasan bagi setiap pengawas sekolah
adalah:
untuk Taman Kanak-Kanak/Raudhatul Athfal dan
Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah paling sedikit 10
satuan pendidikan dan/atau 60 (enam puluh) Guru;
B. Beban Kerja dan Uraian Tugas Pengawas Sekolah
Beban kerja pengawas satuan pendidikan, pengawas
mata pelajaran, ataupengawas kelompok mata pelajaran
dalam melakukan tugas pembimbingan dan pelatihan
profesional guru dan pengawasan yang ekuivalen dengan
paling sedikit 24(dua puluh empat) jam pembelajaran tatap
muka dalam 1 (satu) minggu (Ayat (8) Pasal 54 PP Nomor 74
Tahun 2008.
Tugas pokok pengawas sekolah : melaksanakan tugas
pengawasan akademik dan managerial pada satuan
pendidikan yang meliputi:
a. penyusunan program pengawasan,
b. pelaksanaan pembinaan,
c. pelaksanaan pemantauan pelaksanaan 8 (delapan) SNP
d. penilaian kinerja,
e. pembimbingan dan pelatihan profesional guru,
f. evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan
g. pelaksanaan tugas kepengawasan di daerah khusus”.
Jenjang jabatan pengawas sekolah terdiri dari:
a. Pengawas Sekolah Muda (Golongan III/c dan III/d),
b. Pengawas Sekolah Madya (Golongan IV/a, IVb, dan IV/c),
c. Pengawas Sekolah Utama (Golongan IV/d dan IVe).
C.Implikasi Pelaksanaan Tugas Pokok dan
Pengembangan
1. Karir PS
Pengembangan karir pengawas sekolah ditandai dengan
kenaikan pangkat dan/atau jabatan pengawas sekolah.
a. Unsur Utama
1)Pendidikan, meliputi:
a) mengikuti pendidikan dengan bukti berupa
gelar/ijazah;
b) mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) fungsional
calon pengawas sekolah dengan bukti berupa Surat
Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan (STTPP); dan
c) mengikuti diklat fungsional pengawas sekolah dengan
bukti berupa STTPP.
2) Pengawasan akademik dan manajerial, meliputi:
a) penyusunan program;
b) pelaksanaan program;
c) pengevaluasian hasil pelaksanaan program pengawasan
d) pembimbingan dan melatih profesional guru; dan
e) pelaksanaan tugas kepengawasan di daerah khusus.
3) Pengembangan profesi, meliputi:
a) penyusunan karya tulis ilmiah;
b) pembuatan karya inovatif: dan
c) penerjemahan/penyaduran buku dan atau karya
ilmiah di bidang pendidikan formal /pengawasan.
b.Penunjang tugas pengawas sekolah, meliputi:
1) peran sebagai penyaji atau peserta dalam seminar /
lokakarya di bidang pendidikan formal/kepengawasan
sekolah;
2) menjadi anggota sebuah organisasi profesi;
3) menjadi anggota tim penilai angka kredit jabatan
fungsional pengawas sekolah;
4) pelaksanaan kegiatan pendukung pengawasan
5) mendapat penghargaan/tandajasa; dan
6) memperoleh gelar/ijazah yang tidak sesuai dengan
bidang yang diampunya.

2. Kode Etik Pengawas Sekolah:


Menurut Martin (1993), etika didefinisikan sebagai “the
disicpline which can act as the performance index or
reference for our control system”. Etika akan memberikan
semacam batasan maupun standar yang akan mengatur
pergaulan manusia di dalam kelompok sosialnya.
Kode etik pengawas sekolah telah ditetapkan pada
Munas III Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia (APSI) yang
dilaksanakan pada tanggal 13 s.d. 15 Juli 2013, yang
selanjutnya disempurnakan pada Rapimnas III APSI pada
tanggal 30 Januari 2016.
a. Etika Profesi Pengawas Sekolah
Profesi adalah suatu hal yang berkaitan dengan bidang yang
sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian dalam
bidang tertentu, sehingga banyak orang bisa bekerja sesuai
dengan ketentuan yang disepakati.
Dari hal tersebut yang harus kita ingat dan fahami dengan
benar bahwa “pekerjaan atau profesi” dan “profesional”
terdapat beberapa perbedaan:
Profesi:
a.Mengandalkan suatu keterampilan atau keahlian khusus;
b.Dilaksanakan sebagai suatu pekerjaan atau kegiatan
c.Dilaksanakan sebagai sumber utama nafkah hidup;
d.Dilaksanakan dengan keterlibatan pribadi
Profesional:
a.Orang yang tahu akan keahlian dan keterampilannya;
b.Meluangkan seluruh waktunya untuk pekerjaan itu;
c.Hidup dari pekerjaan itu; dan
d.Bangga akan pekerjaannya.
b.Prinsip dan Peranan Etika Profesi
1. Prinsip-Prinsip Etika Profesi
a) Tanggung jawab
1) Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap
hasilnya;
2) Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan
orang lain atau masyarakat pada umumnya.
b) Keadilan.
Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada
siapa saja apa yang menjadi haknya.
c) Otonomi.
Prinsip ini menuntut agar setiap kaum profesional
memiliki dan diberi kebebasan dalam menjalankan
profesinya.
2. Peranan Etika dalam Profesi
Nilai-nilai etika itu tidak hanya milik satu atau dua
orang, atau segolongan orang saja, tetapi milik setiap
kelompok masyarakat, bahkan kelompok yang paling kecil
yaitu keluarga sampai pada suatu bangsa. Dengan nilai-nilai
etika tersebut, suatu kelompok diharapkan mempunyai tata
nilai untuk mengatur kehidupan secara bersama.
c. Kode Etik Organisasi Profesi APSI
Umumnya pemilik kode etik adalah organisasi
kemasyarakatan yang bersifat nasional, misalnya Ikatan
Penerbit Indonesia (IKAPI), kode etik Ikatan Penasehat
Hukum Indonesia untuk Pengawas sekolah dalam jabatan
profesionalnya memiliki organisasi yang diakui resmi oleh
pemerintah yang disebut Asosiasi Pengawas Sekolah
Indonesia (APSI).
1)Hubungan Pengawas Sekolah dengan guru dan KS
2)Hubungan Pengawas Sekolah dengan Masyarakat:
3)Hubungan Pengawas Sekolah/Madrasah dengan
organisasi profesi APSI:
4)Hubungan Pengawas Sekolah dengan Pemerintah:
Sanksi Pelanggaran Kode Etik
Kasus-kasus pelanggaran kode etik ditindak dan dinilai oleh
suatu dewan kehormatan atau komisi yang dibentuk khusus
untuk itu.
Pengawas sekolah dalam jabatan profesionalnya memiliki
organisasi yang diakui resmi oleh pemerintah yang disebut
Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia (APSI). Kode etik
Pengawas Sekolah Indonesia, yakni:
a. Dalam melaksanakan tugas, senantiasa berlandaskan
iman dan taqwa, serta mengikuti perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi;
b. Merasa bangga mengemban tugas sebagai pengawas
c. Memiliki pengabdian yang tinggi dalam menekuni tugas
sebagai pengawas sekolah;
d. Bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab dalam
tugasnya sebagai pengawas sekolah;
e. Menjaga citra dan nama baik selaku pembina dalam
melaksanakan tugas sebagai pengawas sekolah;
f. Memiliki disiplin yang tinggi dalam melaksanakan tugas
profesi sebagai pengawas sekolah;
g. Mampu menampilkan jati diri dan keberadaan sebagai
aparat dan tokoh yang diteladani;
h. Sigap dan terampil untuk menanggapi dan membantu
memecahkan masalah- masalah yang dihadapi aparat
yang menjadi binaannya;
i. Memiliki rasa kesetiakawanan sosial yang tinggi, baik
terhadap aparat binaan maupun terhadap sesama
pengawas sekolah.

2 Supervisi I. PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN LINGKU NGAN Pendidikan


Akademik BELAJAR BERPUSAT PADA PESERTA DIDIK Inklusif
(DIFFERENTIATED INSTRUCTION)
A.Konsep Differentiated Instruction (Diferensiasi
Pembelajaran)
Sekolah inklusif adalah sekolah yang mampu
mengakomodir kebutuhan semua anak termasuk kebutuhan
khusus anak/peserta didik berkebutuhan khusus sehingga
mereka dapat hadir di kelas, diterima oleh guru, tenaga
kependidikan, dan sesama peserta didik, serta berpartisipasi
dalam kegiatan pembelajaran serta menunjukkan
pencapaian baik di bidang akademik maupun non-akademik.
1. Pengertian Diferentiated Instruction (Pembelajaran
Berdiferensiasi)
Dengan kata lain bahwa pembelajaran diferensiasi adalah
menciptakan suatu kelas yang beragam dengan memberikan
kesempatan dalam meraih konten, memproses suatu ide
dan meningkatkan hasil setiap murid, sehingga murid- murid
akan bisa lebih belajar dengan efektif (Hanover Research
and ULEAD Report, 2019).
Menurut Gregory dan Chapman (dalam Dinar, 2016) hal-
hal yang mendukung pandangan pembelajaran
berdiferensiasi adalah sebagai berikut.
a.Semua siswa pada dasarnya memiliki kekuatan dalam
bidang-bidang tertentu;
b.Semua siswa memiliki bidang yang butuh untuk dikuatkan;
c.Setiap otak siswa adalah unik seperti suatu sidik jari
d.Tidak ada kata terlambat untuk belajar;
e.Ketika memulai suatu topik yang baru, siswa membawa
dasar pengetahuan mereka sebelumnya
f.Emosi, perasaan, dan sikap berpengaruh pada belajar;
g.Semua siswa dapat belajar;
h.Siswa-siswa belajar dengan cara&waktu yang berbeda
2.Model Diferentiated Instruction
Untuk lebih memahami apa itu pembelajaran
berdiferensiasi dan yang membedakan dengan pendekatan
lain, akan dibahas satu persatu berkenaan dengan hal
tersebut dalam Dinar (2016):.
a.Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah pembelajaran
individual
b.Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah pembelajaran yang
semrawut atau kacau.
c.Kelompok pada pembelajaran berdiferensiasi tidak
homogen tetapi bersifat fleksibel (Flexible Grouping)
d.Pembelajaran berdiferensiasi adalah proaktif dan berdasar
pada asesmen
e.Pembelajaran diferensiasi menggunakan berbagai
pendekatan (multiple approach) dalam konten, proses dan
produk.
f.Pembelajaran berdiferensiasi adalah model pembelajaran
yang berpusat pada murid
3.Prinsip Differentiated Instruction
Diferensiasi menolak pendekatan "satu ukuran untuk
semua" dalam pembelajaran dan sebaliknya,
memprioritaskan penargetan tugas yang lebih besar untuk
meningkatkan akses ke konten kurikulum dengan cara yang
paling sesuai dengan kemampuan, gaya belajar, dan minat
siswa.
B. Strategi Implementasi Pengembangan
Pembelajaran yang Berpusat pada Peserta Didik
Adapun tingkat dari kemampuan belajar (level of learning)
dari setiap anak dibedakan menjadi tiga, antara lain sebagai
berikut (Karten, dalam Dinar 2016).
a. Independent Level (tingkat mandiri).
Anak pada tingkatan ini tidak memerlukan bantuan
dan bisa mengerjakan tugas secara mandiri.
b. Instructional Level (tingkat pemberian perintah)
Anak pada tingkatan ini memerlukan bimbingan
dalam memahami suatu konsep dan memerlukan
bantuan dalam mengerjakan tugas.
c. Frustration Level (tingkat frustasi)
Pada tingkatan ini anak sangat kesulitan dalam
mengikuti pelajaran dikarenakan karena belum
matangnya konsep-konsep dasar serta pengetahuan
yang dimiliki sehingga anak akan mudah menyerah
dan frustasi dalam mengerjakan tugas.
II. KONSEP DAN LANGKAH-LANGKAH SUPERVISI
AKADEMIK BERORIENTASI PENGEMBANGAN
BELAJAR BERPUSAT PESERTA DIDIK
Pengawas sekolah sebagai tenaga kependidikan,
memegang peran yang signifikan dan strategis dalam
meningkatkan profesionalisme guru dan kepala sekolah,
serta mutu pendidikan di sekolah. Peran dan posisi
pengawas sangat strategis dalam peningkatan mutu
pendidikan.
A. Konsep Supervisi Akademik
Keterampilan utama yang dituntut dari seorang
pengawas adalah melakukan penilaian dan pembinaan
kepada guru secara terus menerus untuk meningkatkan
kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakan agar
berdampak pada kualitas hasil belajar siswa. Untuk dapat
mencapai kompetensi tersebut pengawas diharapkan dapat
melakukan pengawasan akademik yang didasarkan pada
metode dan teknik supervisi yang tepat sesuai dengan
kebutuhan guru
1. Pengertian Supervisi Akademik
Supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu
guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses
pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran (Daresh,
1989, Glickman, et al. 2007).
Prinsip-prinsip Supervisi Akademik.
Prinsip-prinsip supervisi akademik menurut Dodd (1972)
adalah:
a. Praktis: mudah dikerjakan;
b. Sistematis: dikembangkan sesuai perencanaan program
supervisi dan tujuan pembelajaran.
c. Objektif: masukan sesuai aspek-aspek instrument.
d. Realistis: berdasarkan kenyataan sebenarnya.
e. Antisipatif: mampu menghadapi masalah-masalah yang
mungkin akan terjadi
f. Konstruktif: mengembangkan kreativitas dan inovasi guru
dalam mengembangkan proses pembelajaran.
g. Kooperatif: ada kerjasama yang baik antara supervisor
dan guru dalam mengembangkan pembelajaran.
h. Kekeluargaan: mempertimbangkan sikap saling asah,
asih, dan asuh dalam mengembangkan pembelajaran
i. Demokratis: dalam pelaksanaan sepervisi, supervisor tidak
boleh mendominasi.
j. Aktif: guru dan supervisor harus aktif berpartisipasi.
k. Humanis:mampu menciptakan hubungan kemanusiaan
yang harmonis, terbuka, jujur, ajeg, sabar,antusias, humor

l. Berkesinambungan: sepervisi akademik dilakukan secara


teratur dan berkelanjutan.
mTerpadu:menyatu dengan program pendidikan
n. Komprehensif: memenuhi ketiga tujuan supermik
Fungsi Supervisi Akademik Supervisi akademik dapat
berfungsi sebagai sumber informasi bagi pengembangan
profesionalisme guru
Rencana pengawasan yang telah disusun oleh pengawas
sekolah tergantung dari jenis pengawasnya.
RPA dan RPBK pada dasarnya memuat komponen-
komponen sebagai berikut.
1) Aspek/masalah. Memuat permasalahan kompetensi
guru
2) Tujuan. Setelah menetapkan permasalahan yang
dihadapi guru dan menjadi prioritas pembinaan atau
pembimbingan guru dalam upaya meningkatkan
kompetensinya, pengawas sekolah perlu
merumuskan tujuan pembinaan atau pembimbingan.
3) Indikator. Tujuan yang telah di tetapkan perlu di
ketahui dengan pasti tingkat ketercapaiannya. Salah
satu cara yang dapat ditempuh untuk memastikan
ketercapaian tersebut yaitu dengan menentukan
indikator pencapaian. Kriteria perumusan indikator
antara lain memuat diskripsi tentang peningkatan
kemampuan guru terkait dengan masalah yang
dihadapi.
4) Waktu. Pelaksanaan pembinaan dan pembimingan
peningkatan kompetensi guru tentunya memerlukan
waktu khusus. Penentuan waktu tersebut dapat
disesuaikan dengan kebutuhan dan kalender
pendidikan.
5) Setting. Disamping memerlukan waktu secara
khusus,
tempat pembinaanpun perlu ditetapkan. Penetapan
waktu dapat disesuaikan dengan sekolah binaan,
tempat kegiatan MGMP guru mata pelajaran atau
guru bimbingan dan konseling.
6) Strategi/metode/teknik. Efketivitas pembinaan dan
pembimbingan akan sangat tergantung pada
Srategi/Metode/Teknik yang dipilih oleh pengawas
sekolah.
7) Skenario kegiatan. Arah yang ditempuh dalam proses
pembinaan atau pembimbingan agar lebih efektif dan
efesien yang dimulai dengan pertemuan awal,
kegiatan inti, dan kegiatan akhir dapat dirancang
sesuai dengan fase-fase pembelajaran dan sintaks
strategi/metode/teknik yang telah ditetapkan
8) Sumber daya. Pada kegiatan pembinaan atau
pembimbingan guru diperlukan pula berbagai
referensi yang sesuai dengan permasalahan yang
dihadapi guru baik terkait dengan regulasi maupun
sumber belajar yang bersikaf akedemik dan
dilengkapi dengan media pembelajaran.
9) Penilaian dan instrumen. Untuk mengukur tingkat
ketercapaian dari kegiatan pembinaan atau
pembimbingan guru perlu dilakukan. Penilaian
tersebut di orientasikan pada produk sebagai wujud
implementasi dari pengetahuan yang sudah dimiliki
oleh masing-masing guru binaan terkait dengan
masalah yang dihadapinya..
10) Rencana tindak lanjut. Untuk memastikan bahwa
konsistensi terkait dengan kompetensi yang sudah
meningkat dari setiap guru binaan perlu dirancang
rencana tindak lanjut yang diorientasikan pada
pemantauan dan penilaian.
c. Menyusunan Instrumen Supervisi
Instrumen supervisi akademik merupakan perangkat
yang digunakan oleh Supervisor/Pengawas sekolah untuk
mengidentifikasi profil kemampuan guru dalam pembuatan
rencana dan pelaksanaan pembelajaran serta penilaian
pembelajaran.
1) Mengembangkan Instrumen Sendiri
Menurut Arikunto (1988: 48-52), langkah-langkah yang
harus dilalui dalam menyusun instrumen apapun,
termasuk instrumen pengawasan sekolah adalah sebagai
berikut.
a) Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan
instrumen yang akan disusun. Misal: tujuan
menyusun istrumen adalah untuk mengetahui
kesesuaian proses pembelajaran dalam kegiatan
ekstrakurikuler.
b) Membuat kisi-kisi yang memuat perincian variabel
dan jenis instrumen yang akan digunakan untuk
mengukur bagian variabel yang bersangkutan.
Misalkan untuk mengumpulkan data tentang
kesesuaian proses diperlukan angket, wawancara,
observasi, dan dokumen.
c) Membuat butir-butir instrumen, contoh instrumen
supervisi ini dapat dilihat pada Buku Panduan
Supervisi tahun 2017..
d) instrumen, apabila butir-butir instrumen sudah
tersusun dengan lengkap, maka pengawas
melakukan penyuntingan (editing).

. Adapun tahapan penyiapan instrumen supervisi,


dikelompokkan sebagai berikut.
1) Persiapan pendidik untuk mengajar terdiri dari:
a) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
b) Program Tahunan.
c) Program Semesteran.
d) Pelaksanaan proses pembelajaran.
e) Penilaian hasil pembelajaran.
2). Instrumen supervisi kegiatan belajar mengajar
a) Lembar observasi (RPP, Pembelajaran,
Penilaian hasil pembelajaran)
b) Suplemen observasi (ketrampilan mengajar,
karakteristik mata pelajaran, pendekatan klinis, dsb
Pelaksanaan Supervisi Akademik
Dalam melaksanakan supervisi akademik seorang
pengawas dituntut untuk memahami pendekatan, model, dan
teknik supervisi akademik dan supervisi klinis serta cakupan
materi pembinaan dan pembimbingan dan pelatihan
khususnya berkaitan dengan kompetensi, tugas pokok,
beban kerja guru dan implementasi kurikulum terkini.
a. Pendekatan Pelaksanaan Supervisi Akademik
Pendekatan yang bisa dilakukan pengawas sekolah dalam
melaksanakan tugas supervisi akademik terhadap guru
meliputi tiga macam pendekatan, yaitu direktif, kolaboratif
dan non-direktif.
1) Pendekatan Langsung (Direktif)
Pendekatan direktif adalah cara pendekatan terhadap
masalah yang bersifat langsung. Supervisor memberikan
arahan langsung.
2) Pendekatan Tidak Langsung (Non-direktif)
Pendekatan tidak langsung (non-direktif) adalah cara
pendekatan terhadap permasalahan yang sifatnya tidak
langsung. Perilaku supervisor dalam pendekatan non-direktif
adalah: mendengarkan, memberi penguatan, menjelaskan,
menyajikan, dan memecahkan masalah
3) Pendekatan Kolaboratif
Pendekata koplaboratif adalah cara pendekatan yang
memadukan cara pendekatan direktif dan non–direktif
menjadi pendekatan baru.
b. Model Supervisi Akademik
1) Model Supervisi Saintifik
Menurut Sahertian (2008) model supervisi saintifik
(ilmiah) adalah sebuah model supervisi yang digunakan
oleh supervisor untuk menjaring data atau informasi dan
menilai kinerja kepala sekolah dan guru dengan cara
menyebarkan angket..
2) Model Supervisi Artistik
Model supervisi artistik menuntut seorang supervisor
dalam melaksanakan tugasnya harus berpengetahuan,
berketerampilan, dan memiliki sikap arif.
3) Model Supervisi Klinis
Menurut Acheson dan Gall (1987), supervisi klinis
adalah sebuah model alternatif dari supervisi yang lebih
interaktif, demokratis, dan berpusat pada kebutuhan
guru.
Supervisi klinis terdiri atas tiga tahap, yaitu tahap pertemuan
awal (Pre-Observational Conference), tahap observasi
pembelajaran (Observation) dan tahap pertemuan
akhir/balikan (post-observational Conference).
Prinsip-prinsip Supervisi Klinis
Beberapa prinsip yang menjadi landasan bagi pelaksanaan
supervisi klinis adalah:
(1) Hubungan antara supervisor dengan guru atau kepala
sekolah dengan guru adalah mitra kerja yang bersahabat dan
penuh tanggung jawab.
(2) Diskusi atau pengkajian balikan bersifat demokratis
dan didasarkan pada data hasil pengamatan.
(3) Bersifat interaktif, terbuka, obyektif dan tidak bersifat
menyalahkan.
(4) Pelaksanaan keputusan ditetapkan atas kesepakatan
(5) Hasil tidak untuk disebarluaskan
(6) Sasaran supervisi terpusat pada kebutuhan dan
aspirasi guru,
(7) Prosedur pelaksanaan berupa siklus, mulai dari tahap
perencanaan, tahap pelaksanaan (pengamatan) dan tahap
balikan.
Karakteristik Supervisi Klinis
Supervisi klinis memiliki karakteristik sebagai berikut:
(1) Perbaikan dalam pembelajaran mengharuskan guru
mempelajari keterampilan intelektual dan bertingkah laku
berdasarkan keterampilan tersebut.
(2) Fungsi utama supervisor adalah menginformasikan
beberapa keterampilan, seperti: (i) keterampilan menganalisis
proses pembelajaran berdasarkan hasil pengamatan, (ii)
keterampilan
Teknik Supervisi Akademik
Berdasarkan jenis kegiatannya teknik supervisi akademik
dapat dibedapak atas 2 jenis yakni: teknik supervisi individual
dan teknik supervisi kelompok, baik di dalam ataupun di luar
kelas.
1) Teknik Supervisi Individual
Teknik supervisi individual adalah supervisi yang diberikan
kepada guru tertentu yang mempunyai masalah khusus dan
bersifat perorangan. Pengawas sekolah hanya berhadapan
dengan seorang guru yang dipandang memiliki persoalan
tertentu.
a) Kunjungan Kelas (Classroom Visitation)
Pengawas sekolah datang ke kelas untuk mengobservasi
guru mengajar. Dengan kata lain, untuk melihat apa
kekurangan atau kelemahan yang sekiranya perlu diperbaiki.
b) Kunjungan Observasi (Observation Visits)
Pada kegiatan supervisi dalam bentuk kunjungan
kelas/observasi guru- guru ditugaskan untuk mengamati
seorang guru lain yang sedang mendemonstrasikan cara-
cara mengajar suatu mata pelajaran tertentu
c) Pertemuan Individual
Pertemuan individual adalah satu pertemuan, percakapan,
dialog, dan tukar pikiran antara pengawas sekolah dan guru.
d) Kunjungan Antar Kelas
Kunjungan antar kelas adalah seorang guru berkunjung ke
kelas yang lain (guru lainnya) di sekolah yang sama.
Tujuannya adalah untuk berbagi pengalaman dalam
pembelajaran.
Teknik Supervisi Kelompok
Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan
program supervisi yang ditujukan pada dua orang atau lebih,
memiliki masalah atau kebutuhan atau kelemahan-
kelemahan yang sama dikumpulkan menjadi satu/bersama-
sama.
Pelaksanaan teknik supervisi kelompok dapat dilakukan
dengan cara pertemuan atau rapat, diskusi kelompok, dan
mengadakan pelatihan- pelatihan/workshop atau kegiatan
lain yang rerevan.
a) Mengadakan pertemuan atau rapat (meeting):
Seorang pengawas sekolah menjalankan tugasnya
berdasarkan rencana yang telah disusun. Termasuk
mengadakan rapat-rapat secara periodik dengan guru-guru.
Dalam hal ini rapat-rapat yang diadakan dalam rangka
kegiatan supervisi. Rapat tersebut antara lain melibatkan
Kelompok
Kerja Guru (KKG), dan Musyawarah Guru Mata
Pelajaran/Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling
(MGMP/MGBK).
b) Mengadakan diskusi kelompok (group discussions):
Diskusi kelompok dapat diadakan dengan membentuk
kelompok-kelompok guru bidang studi sejenis. Di dalam
setiap diskusi, pengawas sekolah memberikan pengarahan,
bimbingan, nasehat-nasehat dan saran-saran yang
diperlukan.
c) Mengadakan pelatihan (inservice-training): Teknik ini
dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan, misalnya
pelatihan untuk guru mata pelajaran tertentu. Mengingat
bahwa pelatihan pada umumnya diselenggarakan oleh pusat
atau wilayah, maka tugas pengawas sekolah adalah
mengelola dan membimbing implementasi program tindak
lanjut (follow- up) dari hasil pelatihan.
d. Langkah-langkah Pelaksanaan Supervisi Akademik
1) Pertemuan Pra-pengamatan (Pra Observasi)
2) Pengamatan (Observasi)
3) Analisis hasil pengamatan (observasi)
4). Pertemuan setelah pengamatan (Pasca Observasi)
Data yang telah dianalisis ditunjukkan pada guru. Umpan
Hubungan yang bersahabat merupakan hubungan yang
banyak manfaatnya. Hubungan mereka harus menunjukkan
berikut.
a) Kepercayaan timbal balik terhadap
kemampuannyamasing-masing.
b) Kepercayaan/ ketergantungan satu sama lain
sebagai bentuk pertolongan/bantuan konstruktif
c) Pendirian untuk saling bekerja sama menuju
tujuan bersama.
Beberapa kegiatan pasca observasi yang dilakukan antara
lain sebagai berikut.
a) Melakukan konfirmasi hasil penilaian diri
b) Melakukan klarifikasi temuan/catatan
khusus selamaobservasi berdasarkan pengamatan
maupun informasi dari peserta didik
c) Memberikan apresiasi terhadap kegiatan yang
terlaksana dengan baik
d) Menyampaikan hasil evaluasi hasil supervisi
e) Menggali informasi tentang kesulitan/hambatan yang
dihadapi guru atau peserta didik dalam kegiatan
pembelajaran
f) Memberi masukan dan saran untuk mengatasi
kesulitan/hambatan serta perbaikan yang diperlukan
g) Memberikan motivasi untuk terus menindaklanjuti
hasil supervisi dan mendorong peningkatan
a) Menandatangani secara bersama dengan guru hasil
supervisi setelah dilakukan konfirmasi.
5). Evaluasi Hasil Pengamatan
Dari umpan balik kepala sekolah/supervisor dan
dukungan pada guru, maka dapat ditentukan :
a) Perilaku positif pembelajaran yang harus dipelihara.
b) Strategi-strategi alternatif untuk mencapai perubahan
yang diinginkan.
c) Kelayakan/kepantasan dari menggunakan kembali
metode yang pernah dilakukan.
e. Indikator Keberhasilan Supervisi Akademik
3. Laporan Hasil Supervisi Akademik
Hasil kegiatan pemantauan, supervisi, dan evaluasi proses
pembelajaran disusun dalam bentuk laporan untuk
kepentingan tindak lanjut pengembangan keprofesionalan
pendidik secara berkelanjutan. Pelaporan supervisi akademik
adalah reprentasi semua kegiatan supervisi selama kurun
waktu tertentu semester atau tahunan
Laporan sederhana hasil supervisi akademiksedikit-
dikitnyamemuat (1) Pendahuluan/Latar Belakang, (2) Hasil
Supervisi, dan (3) Kesimpulan/Penutup.
4. Tindak Lanjut Hasil Supervisi
Kegiatan akhir pengawasan proses adalah tindak lanjut yakni
melakukan analisis hasil pelaporan supervisi akademik yang
memuat peta mutu guru hasil supervisi akademik guna
memberikan rekomendasi terkait peningkatan mutu.
HOTs dan keterampilan abad 21 yang meliputi:
a. Persiapan, pelaksanaan dan penilaian standar
proses, standar isi, dan panduan pelaksanaannya.
b. Peningkatan mutu pembelajaran.
Tindak lanjut bisa dilakukan dengan beberapa alternatif,
misalnya berupa penguatan dan penghargaan diberikan
kepada guru yang telah memenuhi standar, teguran yang
bersifat mendidik diberikan kepada guru yang belum
memenuhi standar, dan pemberian kesempatan untuk
mengikuti pelatihan dan kegiatan sejenis lainnnya.
Pelaksanaan tindak lanjut hasil supervisi akademik dapat
dilakukan dengan tahapan sebagai berikut.
a. Mengkaji rangkuman hasil supervisi.
b. Mengidentifikasi permasalahan yang muncul.
c. Mengidentifikasi akar permasalahan.
d. Mencari solusi untuk menyelesaikan.
e. Menyusun rencana tindak lanjut supervisi akademik.
f. Mengimplementasikan rencana tindak supervisi
akademik.
Tindak lanjut hasil analisis merupakan pemanfaatan hasil
supervisi untuk pembinaan/pembimbingan kepala sekolah
dan guru binaan.
Adapun hal-hal yang dilihat pada tindak lanjut adalah ruang
lingkup hasil supervisi yang meliputi antara lain:
a. Pelaksanaan KTSP
b. Persiapan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran
oleh pendidik.
c. Pencapaian standar kompetensi lulusan, standar
proses, standar Isi, dan peraturan pelaksanaannya.
d. Peningkatan mutu pembelajaran melalui Implementasi
Tindak Lanjut:
Macam-macam Pembinaan
a) Pembinaan langsung
Pembinaan langsung adalah bentuk pembinaan yang
dilakukan terhadap hal-hal yang bersifat khusus serta perlu
perbaikan segera dari hasil analisis pelaksanaan supervisi
dengan pendekatan directive.
b) Pembinaan tak langsung
Pembinaan tidak langsung dilakukan untuk mereka yang
hasil analisis supervisinya telah memenuhi standar dan
hampir memenuhi standar melalui pendekatan collaborative
dan self assesment.
Teknik Peningkatan Kualitas Pembelajaran
Beberapa cara dan teknik yang dapat dilakukan supervisor
untuk memperbaiki proses pembelajaran melalui program
tindak lanjut hasil supervisi, sebagai berikut.
a) Menerapkan model pembelajaran yang efektif
yang dapat dilakukan selama pelatihan/ In House
Training (IHT).
b) Mengembangkan teknik pembelajaran yang telah
dimiliki menjadi pembelajaran berbasis TIK.
c) Menggunakan metodologi yang luwes dan dinamis
sesuai Standar Kompetensi (SK) dan (KD)
d) Menggunakan teknik Discovery Learning
untuk merespon berbagai kebutuhan individu
e) Menggunakan lingkungan sekitar sebagai alat bantu
pembelajaran dan sumber belajar dalam penerapan
ekosistem pendidikan.
f) Teknik mengelompokan peserta didik secara lebih
efektif dengan mengenali karakteristik peserta didik.
g) Mengevaluasi peserta didik dengan authentic
assessment teliti dan akurat berbasis bukti(evidence).
h) Berkolaborasi dengan guru lain agar lebih berhasil.
i) Membantu peserta didik dalam meningkatkan Higher
Order Thinking Skills (HOTS).
j) Menciptakan suasana belajar yang kondusif dan
menyenangkan sehingga terwujud
3) Pemantapan Instrumen Supervisi
Kegiatan pemantapan instrumen supervisi dapat dilakukan
dengan cara berdiskusi kelompok yang di bimbing oleh
pengawas dalam memperbaiki instrumen supervisi akademik
maupun instrumen supervisi non akademik. Pemantapan
instrumen supervisi dapat dikelompokan sebagai berikut.
a) Persiapan guru untuk mengajar terdiri dari;
silabus, RPP, program tahunan, program
semester, pelaksanaan proses pembelajaran,
penilaian hasil belajar, pengawasan proses
pembelajaran.
b) Instruman supervisi kegiatan pembelajaran antara
lain; lembar observasi, suplemen observasi
keterampilan mengajar, karakteristik mata
pelajaran/tema, pendekatan klinis, dan
pendekatan ilmiah dan artistik.
c) Komponen dan kelengkapan instrumen baik
instrumen supervisi akademik maupun instrumen
supervisi manajerial.
4) Pembimbingan Pemanfaatan Teknologi dan Informasi
Pendidikan
.
3 Supervisi I. Konsep supervisi majerial Supervisi
Manajerial manajeria
A.Pengertian
l di
Supervisi manajerial adalah serangkaian kegiatan daerah
profesional yang dilakukan oleh pengawas sekolah dalam khusus
rangka membantu kepala sekolah, guru dan tenaga
kependidikan lainnya guna meningkatkan mutu dan Inovasi :
efektivitas penyelenggaraan pembelajaran dan Perlu
pendidikan. instrumen
tersendiri
Tugas pokok Pengawas Sekolah adalah melaksanakan untuk
tugas supervisi akademik dan manajerial pada satuan Sepervisi
pendidikan yang meliputi didaerah
1. penyusunan program supervisi khusus

2. pelaksanaan pembinaan,
3. pemantauan pelaksanaan 8 SNP
4. penilaian,
5. pembimbingan pelatihan profesional
6. evaluasi hasil pelaksanaan program supervisi, dan
7. pelaksanaan tugas supervisi di daerah khusus.
B. PRINSIP SUPERVISI MANAJERIAL
1.Harmonis.
2. Berkesinambungan
3. Demokratis
4. Integral
5. Komprehensif.
6. Konstruktif
7. Objektif
C.Metode dan Teknik Supervisi Manajerial dalam
Pembinaan Pengelolaan Sekolah
Metode Supervisi Manajerial
1.Monitoring dan Evaluasi
2.Focus Group Discussian (FGD)
3.Metode Delphi
4.Workshop
II. Langkah-langkah Supervisi Manajerial:
A.Perencanaan Supervisi Manajerial
1. Menyusun Program Kepengawasan
2. Menyusun Metode Kerja dan Instrumen Pelaksanaan
Pengawasan Manajerial
B.Pelaksanaan Supervisi Manajerial
C.Laporan dan Tindak Lanjut Supervisi Manajerial
III.Pembinaan Pengembangan Kewirausahaan Kepala Sekolah

4 Evaluasi 1. Konsep Evaluasi Pendidikan bagi Pengawas


Pendidikan sekolah
1. Pengertian Evaluasi Pendidikan merupakan
kegiatan penelitian di bidang pendidikan yang
meliputi evaluasi belajar siswa dan evaluasi
program pendidikan.
2. Model-model Evaluasi
a. Berorientasi kepada tujuan ( Goal
Oriented Evaluation Model)
b. Bebas Tujuan (Goal Free Evaluation
Model)
c. Formatif-Sumatif (Formative-Summative
Evaluation Model)
d. Evaluasi Persetujuan (Countenance
evaluation model)
e. Centre for the Study of Evaluation (CSE)
f. Context – Input – Process – Product
(CIPP) Evaluation
g. Evaluasi Kesenjangan (Discrepancy
Evaluation Model)

3. Implementasi Kompetensi Evaluasi


Pendidikan dalam Tugas Pengawasan
Kompetensi evaluasi pendidikan yang harus
dimiliki pengawas satuan pendidikan
berdasarkan Permendiknas No. 12 Tahun
2007 tentang Standar Kompetensi
2. Implementasi Kompetensi Evaluasi Pendidikan di
Sekolah Binaaan
1. Menyususn Kriteria dan Indikator
2. Menyusun Kisi-kisi dan Intrumen Evaluasi
Pendidikan
3. Pemantaauan Pelaksanaan Pembelajaran
dan Evaluasi Belajar Peserta Didik
4. Pembinaan Guru dalam Pemanfaatan Hasil
Penilaian
5. PKG dan PKKS
3. Evaluasi Hasil Pelaksanaan Program Pengawasan
1. Evaluasi Program Penyelenggaraan di
sekolah Binaan
Sasarannya 8 SNP
2. Evaluasi Hasil Pelaksanaan Program
Pengawasan
Sasarannya PKG dan PKKS
5 Penelitian Permendiknas Nomor 12 tahun 2007 tentang Standar kompeten
dan Pengawas Sekolah mengisyaratkan bahwa salah satu si
Pengemban dimensi kompetensi yang harus dimiliki pengawas sekolah penelitian
gan adalah dimensi penelitian pengembangan. bidang
Pada hakikatnya penelitian pendidikan merupakan pengawas
cara untuk memperoleh informasi yang bisa an,
dipertanggungjawabkan sebagai upaya untuk memahami
proses kependidikan.
Tahapan Penelitian Secara umum tahapan penelitian adalah
sebagai berikut.
a. Merumuskan masalah;
b. Melakukan studi literatur
c. Membuat hipotesis atau pertanyaan-pertanyaan yang
jawabannya akan dicari;
d. Mengumpulkan dan mengolah data.
e. Menganalisis data serta menguji hipotesis;
f. Membuat kesimpulan
Tujuan Penelitian pendidikan, yaitu:
a. bahan masukan, meningkatkan mutu isi, proses serta
hasil pembelajaran dan pendidikan di
sekolah;
b. membantu tenaga kependidikan seperti guru dan lainnya
dalam mengatasi masalah Pendidikan
dan pembel ajaran baik di luar maupun di dalam kelas;
c. profesionalisme bagi pendidik maupun tenaga
kependidikan;
d. menumbuhkan dan mengembangkan budaya akademik
dalam lingkungan sekolah,sehingga bisa
melakukan perbaikan mutu pembelajaran dan pendidikan
secara berkelanjutan;
e. meningkatkan keterampilan bagi tenaga pengajar
khususnya saat melakukan pembelajaran;
f. meningkatkan kerja sama yang profesional di antara para
pendidik maupun tenaga kependidikan

Manfaat Penelitian , yaitu


1. manfaat teoretis untuk memperkaya khasanah
2. manfaat praktis untuk solusi nyata praktik pendidikan dan
pengajaran bagi penyelenggara Pendidikan
Secara khusus, manfaat penelitian, diantaranya:
a. Menghasilkan peta yang dapat mendeskripsikan
keadaan Pendidikan, peta diskripsi kondisi pendiikan
dan sumber daya Pendidikan
b. Diagnosis penyebab kegagalan
c. Bahan penyusunan kebijakan
d. Bahan masukan tentang gambaran peralatan dst
Ruang Lingkup Masalah Penelitian Kepengawasan
Semua jenis penelitian berawal dari adanya masalah.
Masalah adalah kesenjangan antara kondisi ideal
dengan kondisi nyata. Karya Tulis/Karya Ilmiah 1.

Petunjuk pengisian hasil refleksi pendalaman bahan pembelajaran:


1. Kolom “a” diisi dengan nomor urut;
2. Kolom “b” diisi dengan nama materi;
3. Kolom “c” diisi dengan resume hasil eksplorasi materi secara garis besar;
4. Kolom “d” diisi dengan hal-hal baru yang diperoleh setelah mendalami materi.

Anda mungkin juga menyukai