Anda di halaman 1dari 90

LAPORAN MAGANG II

DI SMA NEGERI 18 PALEMBANG

Disusun untuk melengkapi tugas dan


memenuhi syarat mata kuliah Magang II

Oleh :
NOVITA MEGA PURWATI
NIM (1910207019)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) RADEN FATAH
PALEMBANG
2021

LEMBAR PENGESAHAN
Dengan ini Layla Fefrianty dinyatakan telah melaksanakan Program Magang II
dan Laporan Penyusunan Perangkat Pembelajaran yang ditulis oleh mahasiswa
tersebut telah mendapat persetujuan dari Guru Pamong Magang dan Dosen
Pembimbing Magang II.

Palembang, Agustus 2021

Menyetujui Menyetujui
Dosen Pembimbing Magang II Guru Pamong Magang II
(Kepala Madrasah/Sekolah)

Dewi Warna, M.Pd.I H.Heru Supeno,S.Pd,M.Si


NIP. NIP. 196701151991021001

Mengesahkan Mengetahui
Ketua UPL, Ketua Program Studi,

Kris Setyaningsih, M.Pd.I Dr. Yulia Tri Samiha. M.Pd


NIP.196409021990032002 NIP.196807212005012004

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan
karunia-Nya sehingga Penulis dapat menyusun dan menyelesaikan laporan Magang II ini.
Shalawat beriring salam semoga senantiasa tercurahkan kepada baginda tercinta kita yakni
Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan semoga kita dapat menjadi pengikutnya yang
setia hingga akhir zaman. Laporan Magang II ini merupakan bagian yang tidak dapat
dipisahkan dari kegiatan Magang II yang bertujuan untuk mengetahui situasi dan kondisi di
SMA Nurul Qomar Palembang.
Dalam melaksanakan observasi ini tentu tidak terlepas dari dukungan, kerja sama, dan
bimbingan dari berbagai pihak sehingga penulisan laporan Magang II ini dapat tersusun dengan
baik. Oleh karena itu saya sebagai penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima
kasih kepada :

1. Prof. Dr. Nyayu Khodijah .S.Ag.M.Si. selaku Rektor UIN Raden Fatah Palembang.
2. Prof.Dr.H.Abdullah Idi. M.Ed selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN
Raden Fatah Palembang.
3. Kris Setyaningsih, M.Pd.I selaku Kepala Unit Pelaksana Magang UIN Raden Fatah
Palembang.
4. Dr. Yulia Tri Samiha. M.Pd selaku Kepala Program Studi Pendidikan Biologi
5. Dewi Warna,M.Pd.I selaku dosen pembimbing magang.
6. H.Heru Supeno , S.Pd., M.Si selaku Kepala Sekolah SMA Negeri 18 Palembang
7. Hj. Lisqowati selaku Guru Pembimbing Magang II.
8. Bapak, Ibu Guru, dan Staf Tata Usaha SMA Negeri 18 Palembang.
9. Teman-teman Mahasiswa Magang II di SMA Negeri 18 Palembang.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini terdapat banyak kekurangan. Oleh
karena itu Penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dan memotivasi.
Semoga laporan ini dapat menjadi salah satu sumber pengetahuan dan bermanfaat bagi semua
pembaca.
Palembang, Agustus 2021

Novita Mega Purwati


DAFTAR ISI
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Magang II


Magang II merupakan kegiatan mahasiswa di Sekolah/Madrasah/TK/RA untuk
melakukan pembelajaran praktek dalam pembuatan perangkat pembelajaran, strategi
pembelajaran, sistem evaluasi, RPP, media pembelajaran, bahan ajar dan perangkat
evaluasi. Magang II merupakan salah satu kegiatan kurikuler atau matakuliah yang wajib
dilaksanakan oleh mahasiswa FITK UIN Raden Fatah Palembang setelah lulusMagang I
dan sebagai persyaratan untuk mengikuti Magang III.

Pada masa covid-19 proses pembelajaran yang biasa dilakukan selama ini tidak bisa
berjalan sebagaimana mestinya, dan dialihkan menjadi pembelajaran daring sesuai
dengan Surat Edaran Gubernur Sumatera Selatan, Surat Edaran Kemdikbud, dan surat
Edaran Kemenag. Sehagai tindak lanjut dari surat edaran tersebut, maka disusunlah
pedoman Magang II FITK UIN Raden Fatah Palembang pada Masacovid-19.

Sebagai respon terhadap situasi tersebut, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang melakukan revisi pedoman Magang II
dengan mengembangkan kegiatan yang memprioritaskan pada pengembangan
kurikulum, rancangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), bahan ajar, media dan
teknologi pembelajaran, dan manajemen pendidikan. Perubahan yang dilakukan antara
lain dalam hal pendampingan mahasiswa magang dan pembelajaran mandiri secara
daring. Proses ini dilakukan dengan pendekatan e-learning yang meliputi: aktivitas
perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi. Semua aktivitas tersebut dilakukan secara
partisipatif kolaboratif dengan pelibatan mahasiswa, guru pamong, dan dosen
pembimbing magang.

Dalam masa covid-19 ini, kegiatan Magang II diawali dengan tahap latihan- latihan
menyusun perangkat pembelajaan secara terbatas namun demikian dalam workshop
penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibimbing oleh dosen
pendamping Magang II dilakukan sercara daring/online atau zoom ataupun Whatapps
group masing-masing kelompok. Setelah selesai melakukan tahap penyusunan
perangkat pembelajaran yang dibimbing oleh dosen pembimbing Magang II, mahasiswa
dipersilahkan untuk menghubungi guru pamong Magang II, dengan tujuan untuk
melanjutkan belajar pembuatan perangkat pembelajaran yang dapat dilakukan tatap muka
secara langsung minimal 2 atau 3 kali di Sekolah/Madrasah/TK/RA, sedangkan pada
pertemuan selanjutnya dapat dilakukan secara daring atau online.
Panduan ini diharapkan dapat memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk
melaksanakan Magang II di masa covid-19. Praktek penyusunan perangkat
pembelajaran daring yang dilakukan diharapkan dapat menghubungkan antara teori
yang telah dipelajari di kampus dengan praktek di Sekolah/Madrasah/TK/RA.
B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana format program tahunan pembelajaran yang baik dan benar?

2. Bagaimana format program semester pembelajaran yang baik dan benar?

3. Bagaimana format dan perancangan RPP yang baik dan benar?

4. Bagaimana format program tahunan pembelajaran yang baik dan benar?

5. Bagaimana strategi/metode pembelajaran yang baik untuk digunakan?

6. Bagaimana pengembangan media pembelajaran yang cocok untuk peserta didik?

7. Bagaimana pemgembangan perangkat evaluasi yang sesuai?

C. Tujuan

Tujuan Magang II adalah agar praktikan atau calon guru memahami dan mampu
mengembangkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari:

1. Program tahunan pembelajaran;

2. Program semester pembelajaran;

3. Perancangan RPP;

4. Penelaahan strategi/metode pembelajaran;

5. Pengembangan media pembelajaran;

6. Pengembangan perangkat evaluasi.

D. Manfaat

1. Manfaat Bagi Mahasiswa:

a. Mahasiswa mempunyai pengalaman dalam menelaah dan menyusun program tahunan


pembelajaran;

b. Mahasiswa mempunyai pengalaman dalam menelaah dan menyusun program


semester pembelajaran;

c. Mahasiswa mempunyai pengalaman dalam menelaah dan menyusun perancangan


RPP;

d. Mahasiswa mempunyai pengalaman dalam menelaah dan menyusun strategi


pembelajaran;

e. Mahasiswa mempunyai pengalaman dalam menelaah dan menyusun pengembangan


media pembelajaran;

f. Mahasiswa mempunyai pengalaman dalam menelaah dan menyusun pengembangan


perangkat evaluasi.

2. Manfaat Bagi Sekolah:

a. Terjalinnya kerjasama yang saling menguntungkan antara sekolah tempat magang


dengan FITK UIN RF Palembang;

b. Sekolah memperoleh kesempatan untuk ikut serta dalam menyiapkan calon guru yang
kompeten; dan

c. Mendapatkan bantuan pemikiran, tenaga, ilmu, dan teknologi dalam merencanakan


serta melaksanakan pengembangan sekolah.

3. Manfaat Bagi FITK UIN RF Palembang:

a. Mendapatkan informasi tentang penyusunan perangkat pembelajaran di sekolah;

b. Mendapatkan informasi tentang proses membangun kompetensi pedagogik,


kepribadian, profesional, dan sosial di sekolah;

c. Mendapatkan informasi tentang proses pembelajaran di kelas;

d. Mendapatkan masukkan yang berguna untuk penyempurnaan kurikulum yang sesuai


dengan kebutuhan lapangan kerja;

e. Membangun kerjasama antara sekolah dengan FITK UIN RF Palembang dalam


mempersiapkan lulusan yang bermutu; dan

f. Mendapatkan umpan-balik tentang kompetensi akademik mahasiswa.


PROGRAM TAHUNAN
Mata Pelajaran : IPA
Satuan pelajaran : SMP
Kelas / Semester : IX / Ganjil dan Genap
Tahun Pelajaran : 2021 / 2022
Kompetensi Inti :
KI1 dan K12 : Menghargai dan Menghayati ajaran agama yamh dianutnya serta
menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, santun, percaya diri, peduli, dan
bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif sesuai dengan perkembangan
anak di lingkungan, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar,
bangsa, negara, dan kawasan regional.
K13 : Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan
metakognitif pada tingkat teknis dan spesifik sederhana berdasarkan easa ingin
tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dengan wawasan
kemanusiaan, kebangsaan, dan kenegaraan terkait fenomena dan kejadian tampak
mata.
K14 : Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji, secara kratif,
produktif, kritis, mandiri, koloboratif, dan komunikatif, dalam ranah konkret an ranah
abstrak sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam
sudut pandang teori.

SMT Kompetensi dasar Alokasi


Waktu
1 3.1 Menghubungkan sistem reproduksi pada manusia dan gangguan 10
pada sistem reproduksi dengan penerapan pola hidup yang
menunjang kesehatan reproduksi
4.1 menyajikan hasil penelususran informasi dari berbagai sumber
terkait kesehatan dan upaya pencegahan gangguan pada organ
reproduksi
1 3.2 Menganalisis sistem perkembangbiakan pada tumbuhan dan 10
hewan serta penerapan teknologi pada sistem reproduksi tumbuhan
dan hewan
4.2 menyajikan karya hasil perkembangbiakan pada tumbuhan
1 3.3 Menerapkan konsep pewarisan sifat dalam pemuliaan dan 20
kelangsungan makhluk hidup
4.3 Menyajikan hasil peneliusuran informasi dari berbagai sumber
terkait tentang tanaman dan hewan hasil pemuliaan
1 3.4 Memahami konsep listrik statis dan gejalannya dalam kehidupan 25
sehari-hari, termasuk kelistrikan pada sistem saraf dan hewan yang
mengandung listrik
4.4 menyajikan hasil pengamatan tentang gejala listrikstatis dalam
kehidupan sehari-hari
1 3.5 menerapkan konsep rangkaian listrik, energi dan daya listrik, 25
sumber energi listrik dalam kehidupan sehari-hari termasuk sumber
energi alternatif, serta berbagai upaya menghemat energi listrik
4.5 menyajikan hasil rancangan dan pengukuran berbagai rangkaian
listrik
2 3.6 Menerapkan konsep kemagnetan, induksi elektromagnetik, dan 20
pemanfaatan medan magnet dalam kehidupan sehari-hari termasuk
pergerakan/ nafigasi hewan untuk mencari makanan dan migrasi
4.6 membuat karya sederhana yang memanfaatkan prinsip
elektromagnet dan / atau induksi elektromagnetik
2 3.7 Menerapkan konsep bioteknologi dan perananannya dalam 10
kehidpan manusia
4.7 Membuat salah satu produk biotrknologi konvensional yang ada
di lingkungan sekitar
2 3.8 menghubungkan konsep partikel materi ( atom, ion, molekul), 15
struktur zat sederhana dengan sifat bahan yang digunakan dalam
kehidupan sehari-hari, serta dampak penggunaannya terhadap
kesehatan manusia
4.8 menyajikan hasil penyelididkan tentang sifat dan pemanfaatan
bahan dalam kehidupan sehari-hari
2 3.9 Menghubungkan sifat fisika dan kimia tanah, organisme yang 15
hidup dalam tanah, dengan pentingnya tanah untuk keberlanjutan
kehidupan
4.9 menyajikan hasil penyelidikan tentang sifat-sifat tanah dan
pentingnya tanah bagi kehidupan
2 3.10 Memahami proses dan produk teknologi ramah lingkungan 10
untuk keberlanjutan kehidupan
4.10 menyajikan karya tentang proses dan produk teknologi
sederhana yang ramah lingkungan

Mengetahui: Palembang, juli 2021


Kepala MTs. N 1 Palembang Guru Mata Pelajaran

DRA HASNARITA, M. Pd DRA HIDAYATI


NIP : 196810051997032002 NIP: 196409251993022001

Catatan Kepala Sekolah


….………………………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………………………….
.….………………………………………………………………………………………………………………………………
….………………………………………………………………………………………………………………………………
2. Pembahasan Program Tahunan

A. Definisi

Program tahunan merupakan program umum setiap mata pelajaran yang dibuat setiap awal
tahun ajaran. Program tahunan merupakan pedoman untuk mengembangkan program semester,
mingguan dan program harian. Sumber-sumber yang digunakan sebagai
pengembangan program tahunan adalah (E. Mulyasa, 2006: 95):
1) Daftar kompetensi standar sebagai consensus nasional, yang dikembangkan dalam
SKKD setiap mata pelajaran yang akan dikembangkan.
2) Skope dan sekuensi setiap kompetensi. Untuk mencapai tujuan pembelajaran
diperlukan materi pembelajaran yang kemudian disusun dalam pokok-pokok bahasan
dan sub pokok bahasan yang mengandung ide-ide pokok sesuai dengan kompetensi dan
tujuan pembelajaran.
3) Kalender pendidikan. Penyusunan kalender pendidikan selama satu tahun pelajaran
mengacu pada efesiensi, efektifitas dan hak-hak peserta didik

B. Langkah-langkah Penyusunan Prota

Penyusunan Prota harus dilakukan berdasarkan tahapan yang ditetapkan. Langkah-langkah


penyusunan Prota adalah sebagai berikut.

1. mengidentifikasi jumlah Kompetensi Dasar dan Indikator dalam satu tahun;

2. mengidentifikasi keluasan dan kedalaman Kompetensi Dasar dan Indikator;

3. melakukan pemetaan Kompetensi Dasar untuk setiap semester; dan

4. menentukan alokasi waktu tiap Kompetensi Dasar dengan memperhatikan minggu efektif.

Program Tahunan selanjutnya dijabarkan secara rinci pada Program Semester (Promes). Prota
dibuat oleh guru sebelum tahun ajaran baru dimulai karena menjadi pedoman pengembangan
program-program berikutnya. (Wawan S. Suherman, 2001: 119).
Program Semester
Tahun Pelajaran : 2021/2022 Kelas/Semester : IX / Ganjil
Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Alokasi Waktu : 5 Jam / Minggu

Materi Pokok / Kompetensi Jm JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER DESEMBER Ket
dasar l 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 5 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 5
JP
Sistem reproduksi pada 10
manusia JP
 Pembelahan sel 2
 Sistem reproduksi 3
manusia
 Kelainan dan penyakit 2
pada sistem reproduksi
 Pola hidup yang 1
menunjang kesehatan
reproduksi
 Ulangan Harian 2
Sistem perkembangbiakan 10
pada tumbuhan dan hewan JP
 Reproduksi pada 3
tumbuhan
 Teknologi reproduksi 2
pada tumbuhan
 Reproduksi pada hewan 3
 Teknologi reproduksi 1
pada hewan
 Ulangan Harian 1
Pewarisan sifat pada 20
makhluk hidup JP
 Materi genetik 2
 Hukum pewarisan sifat 3 2
 Pewarisan sifat pada 3
manusia
 Kelainan sifat menurun 2
pada manusia
 Penerapan pewarisan 3
sifat dalam pemuliaan
makhluk hidup
 Adaptasi dan seleksi 3
alam
 Ulangan Harian 2
Listrik statis dalam 25
kehidupan sehari-hari JP
 Interaksi antara muatan 3
listrik
 Gaya listrik 2 3

 Potensial listrik 2 3

 Kelistrikan pada sistem 2 3


saraf

 Hewan yang 2 2
mengandung listrik

Ulangan Harian 3
Dinamis dalam kehidupan 25
sehari-hari JP
 Arus listrik 2

 Hukum Ohm 3

 Hukum I Kirchhoff 2

 Rangkaian listrik 3

 Sumber energi listrik 3

 Energi dan daya listrik 2 2

 Penghematan energi 3
listrik

 Sumber energi listrik 3


alternatif
 Ulangan harian 2
Jumlah Jam Efektif 90
Jumlah jam cadangan 5
Jumlah Jam Total 95
Semester Ganjil

Keterangan : = Libur semester = PAS = Liburan Akhir Semester

= UTS = Pembagian Rapot

Mengetahui: Palembang, juli 2021


Kepala MTs. N 1 Palembang Guru Mata Pelajaran

DRA HASNARITA, M. Pd DRA HIDAYATI


NIP : 196810051997032002 NIP: 196409251993022001
Program Semester
Tahun Pelajaran : 2021/2022 Kelas/Semester : IX / Ganjil
Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Alokasi Waktu : 5 Jam / Minggu

Materi Pokok / Kompetensi Jml JANUARI FEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI Ket
dasar JP

1 2 3 4 1 2 3 4 5 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 5

Kemagnetan 20
JP

Sifat magnet 3

Cara membuat 2
magnet

Kemagnetan 2
bumi
Induksi 3
elektromagnetik

Transformator 3

Produk 2
teknologi yang
memanfaatkan
kemagnetan
Pergerakan navi gasi hewan 3
yang memanfaatkan medan
magnet

Ulangan Harian 2
Bioteknologi dan produksi 10
pangan JP

 Prinsip dasar 2
bioteknologi

Bioteknologi 2
konvensional

1 1
Bioteknologi
modern
Penerapan 3
bioteknologi
dalam
mendukung
kelangsungan hudyp manusia

Ulangan Harian 1
Sifat bahan ( atom, ion, 15
dan molekul) JP

Atom, ion, dan 3


molekul

Sifat bahan 2 1
Pemanfaatan 4
bahan dalam
kehidupan
sehari-hari

Pengaruh 3
bahan terhadap
kesehatan

Ulangan Harian 2
Tanah dan kehidupan 15
JP

 Peranan tanah 3
untuk
keberlanjutan
kehidupan

Peranan 2 2
organisme
dalam tanah

Proses 3
pembentukan
tanah

Komponen 3
penyusun tanah

Ulangan Harian 2
Proses dan produk 10
Teknologi Ramah JP
Lingkungan

 Teknologi 2
ramah
lingkungan
Aplikasi 3
teknologi
ramah
lingkungan
untuk
keberlanjutan
kehidupan

Teknologi 3
tidak ramah
lingkungan
Ulangan Harian 2

Keterangan : = Ujian sekolah

= Minggu tidak efektif

Mengetahui: Palembang, juli 2021


Kepala MTs. N 1 Palembang Guru Mata Pelajaran

DRA HASNARITA, M. Pd DRA HIDAYATI


NIP : 196810051997032002 NIP: 196409251993022001
2.Pembahasan Program Semester
a. Definisi
Program Semester (PROMES) adalah bentuk penjabaran dari program tahunan memuat
gambaran pembelajaran dan pencapaian yang ingin diraih selama satu semester.Dengan adanya
program semsster ini,Bapk/Ibu akan lebih mudah dalam menuntaskan mata pelajaran yang
akan Bapak/ ibu ampu.
b. Fungsi Prosem
1. Bisa mempermudah tugas Bapak/Ibu saat mengadakan pembelajaran selama satu
semsster.
2. Mampu mengarahakan kegiatan untuk mencapai tujuan pembelajran yang telah
deprogram.
3. Menjadi pola dasar untuk mengatur tugas dan wewenang setiap pihak yang ikut serta
dalam pembelajaran.
4. Menjadi pedoman guru dalam bekerja dan belajar.
5. Menjadi tolak ukur efektivitas pada proses pembelajaran.
6. Menjadi bahan untuk Menyusun data ,sehingga terbentuk keseimbangan kerja.
7. Mmapu menghemat waktu,tenaga,biaya,dan alat penunjang karena pembelajaran bisa
berlangsung secara efektif dan efisiensi.
c. Langkah-Langklah Mmembuat Prosem
1. Memasukkan kompetensi dasar,topik,dan sub topik materi/bahasan kedalam format
prosem yang tersedia.
2. Menentukan banyaknya jam yang tersedia dikolom minggu dan banyaknya tatap
muka setiap mingggu per mata pelajaran.
3. Menambhakan catatan disetiap bagian yang membutuhkan keterangan.
RANCANGAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : MTs N 1 Palembang


Mata Pelajaran : IPA
Kelas/Semester : IX/Genap
Materi Pokok : Proses dan Produk Teknologi Ramah
Lingkungan
Alokasi Waktu : 10 JP

A. Kompetensi Inti
KI1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama
yang dianutnya.
KI2 : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur,
disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong,
kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan
proaktif dan menunjukan sikap sebagai bagian
dari solusi atas berbagai permasalahan dalam
berinteraksi secara efektif dengan lingkungan
sosial dan alam serta dalam menempatkan diri
sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI3 : Memahami, menerapkan, dan menganalisis
pengetahuan faktual, konseptual,prosedural, dan
metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya
tentangilmu pengetahuan, teknologi, seni,
budaya, dan humaniora dengan wawasan
kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan
peradaban terkait penyebab fenomena dan
kejadian, serta menerapkan pengetahuan
prosedural pada bidang kajian yang spesifik
sesuai dengan bakat dan minatnya untuk
memecahkan masalah.
KI4 : Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah
konkret dan ranah abstrak terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di
sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif
dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda
sesuai kaidah keilmuan.

B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi

Indikator Pencapaian
Kompetensi Dasar
Kompetensi
3.10 Menganalisis proses dan 3.10.1 Menjelaskan pengertian
produk teknologi ramah teknologi ramah lingkungan
lingkungan untuk 3.10.2 Menjelaskan prinsip-prinsip
keberlanjutan kehidupan. teknologi ramah lingkungan
3.10.3 Mengidentifikasi penerapan
teknologi ramah lingkungan
pada bidang energi
3.10.4 Mengidentifikasi penerapan
teknologi ramah lingkungan
pada bidang transportasi
3.10.5 Mengidentifikasi penerapan
teknologi ramah lingkungan
pada bidang lingkungan
3.10.6 Mengidentifikasi penerapan
teknologi ramah lingkungan
pada bidang industri
3.10.7 Merumuskan ide untuk
menghemat energi yang
mudah dilakukan dalam
kehidupan sehari-hari
3.10.8 Menjelaskan prinsip-prinsip
teknologi yang tidak ramah
lingkungan
4.10 Menyajikan karya tentang 4.10.1 Membuat karya yang berupa
proses dan produk poster dengan tema hemat
teknologi sederhana yang energi
ramah lingkungan.

C. Tujuan Pembelajaran
Adapun tujuan pembelajaran pada materi proses dan produk
teknologi ramah lingkungan adalah sebagai berikut :
1. Peserta didik dapat menjelaskan pengertian teknologi ramah
lingkungan
2. Peserta didik dapat menjelaskan prinsip-prinsip teknologi ramah
lingkungan
3. Peserta didik dapat mengidentifikasi penerapan teknologi ramah
lingkungan pada bidang energi
4. Peserta didik dapat mengidentifikasi penerapan teknologi ramah
lingkungan pada bidang transportasi
5. Peserta didik dapat mengidentifikasi penerapan teknologi ramah
lingkungan pada bidang lingkungan
6. Peserta didik dapat mengidentifikasi penerapan teknologi ramah
lingkungan pada bidang industri
7. Peserta didik dapat merumuskan ide untuk menghemat energi yang
mudah dilakukan dalam kehidupan sehari-hari
8. Peserta didik dapat menjelaskan prinsip-prinsip teknologi yang tidak
ramah lingkungan
9. Peserta didik dapat membuat karya yang berupa poster dengan tema
hemat energi

D. Materi Ajar

A. Pengertian dan Prinsip Teknologi Ramah Lingkungan

Teknologi ramah lingkungan atau sering disebut dengan sustainable


technology/green technology merupakan bentuk penerapan teknologi
yang memperhatikan prinsip-prinsip pelestarian lingkungan. Teknologi
tersebut bertujuan untuk memberi kemudahan dan pemenuhan keperluan
manusia. Teknologi ramah lingkungan bertujuan untuk menghasilkan
berbagai produk dan jasa untuk kepentingan manusia. Teknologi tersebut
memanfaatkan sumber daya alam yang dapat diperbarui dan tidak
menghasilkan limbah yang membahayakan lingkungan. Selain itu,
teknologi ramah lingkungan juga dapat menggunakan bahan yang dapat
didaur ulang. Teknologi ramah lingkungan telah diterapkan dalam
berbagai bidang antara lain di bidang energi, transportasi, lingkungan,
dan industri.

B. Aplikasi Teknologi Ramah Lingkungan

1. Teknologi Ramah Lingkungan Bidang Energi


a. Bahan Bakar dari Tumbuhan (Biofuel)
Biofuel adalah jenis bahan bakar alternatif yang berasal dari bahan-
bahan organik. Biofuel termasuk sumber daya alam yang dapat
diperbarui. Ada dua jenis biofuel yaitu dalam bentuk etanol
(C2H5OH) dan biodiesel. Etanol merupakan salah satu jenis alkohol
yang dapat dibuat dengan fermentasi karbohidrat atau reaksi kimia
gas alam. Beberapa tumbuhan yang mengandung karbohidrat tinggi
seperti jagung, sorgum, dan singkong biasanya digunakan untuk
menghasilkan etanol.

- Proses pembuatan bioetanol


Proses pembuatan bioetanol diawali dengan penghancuran
bahan-bahan yang mengandung karbohidrat, sehingga
memiliki ukuran yang kecil. Karbohidrat yang berupa lignin,
selulosa, dan hemiselulosa kemudian dihidrolisis dengan
bantuan enzim yang dihasilkan jamur dan bakteri, sehingga
menghasilkan senyawa gula pentosa dan glukosa. Senyawa
gula tersebut kemudian difermentasi oleh Saccharomyces
cerevisiae sehingga menghasilkan etanol dan senyawa
lainnya. Agar diperoleh etanol murni, selanjutnya dilakukan
penyulingan (distilasi).

b. Biogas
Biogas merupakan jenis bahan bakar alternatif yang diperoleh dari
proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri anaerob (bakteri
yang hidup di lingkungan tanpa oksigen). Bakteri anaerob bekerja
dengan cara mengubah zat organik menjadi gas metana (CH4)
sebesar 75%, dan sisanya adalah gas karbon dioksida, hidrogen, serta
hidrogen sulfida. Namun demikian, gas yang digunakan sebagai
sumber bahan bakar adalah gas metana. Bahan organik yang banyak
digunakan dalam pembuatan biogas berasal dari kotoran dan urine
hewan ternak. Saat ini biogas sudah banyak digunakan sebagai bahan
bakar untuk kebutuhan rumah tangga di Indonesia.

c. Sel Surya (Solar Cell)


Kita dapat mengubah energi cahaya matahari menjadi energi listrik
dengan menggunakan photovoltaic (PV) cell, atau sering disebut
solar cell atau sel surya. Pada umumnya sel surya memiliki ukuran
yang tipis (hampir sama dengan selembar kertas). Sel surya terbuat
dari silikon (Si) yang dimurnikan atau polikristalin silikon dengan
beberapa logam yang mampu menghasilkan listrik. Cara sel surya
mengubah cahaya matahari menjadi listrik yaitu Ketika cahaya
matahari mengenai panel surya, cahaya menghasilkan emisi elektron
pada komponen panel. Elektron ini kemudian dihubungkan dengan
sistem tertentu sehingga dihasilkan listrik. Selanjutnya, listrik ini
dialirkan dan disimpan pada baterai, sehingga dapat digunakan pada
saat mendung atau malam hari.

d. Pembangkit Listrik Tenaga Air (Hydropower)


Tenaga air atau hydropower menggunakan energi gerak (energi
kinetik) dari aliran air untuk menghasilkan listrik. Siklus air dari
hydropower diawali dengan proses evaporasi atau penguapan air
yang kemudian membentuk awan dan hujan. Cara yang paling umum
untuk memanfaatkan hydropower ini yaitu dengan membangun dan
membendung sungai besar untuk membentuk tempat penampungan
air. Air yang dibendung dialirkan melalui suatu pipa besar dengan
debit atau laju tertentu untuk memutar turbin generator yang akan
menghasilkan listrik. Teknologi ini memiliki beberapa keunggulan,
antara lain dapat menghasilkan energi yang besar, membutuhkan
biaya yang sedikit, dan sedikit menghasilkan emisi CO2. Selain itu,
teknologi hydropower ini memiliki beberapa kelemahan, antara lain
banyaknya lahan yang beralih fungsi dan pengalihan tempat tinggal
penduduk, menyumbang emisi metana (CH4) yang dilepaskan di
udara akibat terurainya organisme yang mati dalam air, dan
mengganggu ekosistem air di daerah muara.

e. Pembangkit Listrik Tenaga Pasang Surut Air Laut dan Ombak


(Ocean Power) Kita juga dapat menghasilkan listrik dari energi
pasang surut air laut dan ombak. Di beberapa pantai, level ketinggian
air dapat naik atau turun hingga 6 meter bahkan lebih. Bendungan
dibangun melintasi bibir pantai untuk mengambil energi pada aliran
air laut untuk digunakan sebagai hydropower.

f. Pembangkit Listrik Tenaga Angin (Wind Power)


Perbedaan derajat dari sinar matahari yang menyinari bumi pada
daerah ekuator dan daerah kutub menyebabkan terjadinya perbedaan
panas di antara daerah tersebut. Bersama dengan adanya rotasi bumi,
terjadilah aliran udara yang disebut angin. Angin tersebut dapat
ditangkap oleh turbin angin dan dapat diubah menjadi energi listrik.
Ada dua jenis pembangkit listrik tenaga angin yang saat ini
dikembangkan, yaitu pembangkit listrik tenaga angin yang dibangun
di daratan dan yang dibangun di pantai.

g. Geotermal
Energi geotermal merupakan panas yang tersimpan dalam tanah,
lapisan dasar bumi, dan cairan dalam kerak bumi. Kita dapat
menggunakan energi yang tersimpan ini untuk memanaskan dan
mendinginkan bangunan serta menghasilkan listrik. Salah satu cara
untuk mengambil energi geotermal ini dengan menggunakan sistem
pompa panas geotermal “geothermal heat pump system”. Sistem ini
dapat memanaskan dan mendinginkan sebuah rumah dengan
memanfaatkan perbedaan temperatur. Sistem ini banyak digunakan di
negara yang memiliki empat musim, yaitu musim dingin, musim
semi, musim panas, dan musim gugur. Pada musim dingin, suatu
pipa yang diletakkan dalam tanah dapat mengalirkan cairan yang
membawa panas dari dasar bumi menuju sistem pendistribusian
panas di rumah. Sebaliknya, pada musim panas, sistem ini bergerak
berlawanan, memindahkan panas dari rumah dan menyimpannya
dalam tanah.
h. Fuel Cell dan Hydrogen Power
Para ilmuwan menyatakan bahwa gas hidrogen (H2) akan menjadi
bahan bakar di masa depan. Agar harapan itu dapat terwujud,
ilmuwan saat ini fokus untuk mengembangkan sel bahan bakar “fuel
cell” yang menggabungkan gas hidrogen (H2) dan gas oksigen (O2).
Reaksi antara gas H2 dengan O2 menghasilkan energi panas yang
tinggi, sehingga dapat digunakan sebagai sumber listrik. Reaksi
antara keduanya dapat dituliskan sebagai berikut: 2 H2 + O2 → 2
H2O + energi.

2. Teknologi Ramah Lingkungan Bidang Transportasi

a. Kendaraan Hidrogen (Hydrogen Vehicle)


Kendaraan hidrogen merupakan kendaraan yang menggunakan
hidrogen sebagai bahan bakar penggerak mesin. Di dalam kendaraan
ini terpasang alat yang mampu mengubah energi kimia dari hidrogen
menjadi energi mekanik. Alat tersebut bekerja dengan cara
membakar hidrogen dalam mesin pembakaran internal atau dengan
mereaksikan hidrogen dengan oksigen dalam fuel cell untuk
menggerakkan motor listrik.

b. Mobil Surya (Solar Car)


Mobil surya merupakan mobil yang energi utamanya berasal dari
sinar matahari. Salah satu contoh mobil surya adalah bus surya. Bus
ini menggunakan sinar matahari untuk memberikan energi pada alat-
alat listrik dalam bus dan energi yang digunakan sebagai penggerak
pada mesin bus.

c. Mobil Listrik (Electric Car)


Mobil listrik merupakan mobil yang didorong oleh satu atau lebih
motor listrik, menggunakan energi listrik yang disimpan dalam
baterai atau alat penyimpanan energi yang lain. Motor elektrik ini
mampu memberikan tenaga putaran dengan cepat dan memberikan
percepatan yang kuat, tetapi suaranya halus.

3. Teknologi Ramah Lingkungan Bidang Lingkungan

a. Biopori
Biopori dikenal dengan istilah teknologi lubang resapan (TLR),
merupakan teknik untuk membuat wilayah resapan air hujan. Teknik
biopori memiliki prinsip yang sama dengan sumur resapan. Teknik
ini diterapkan dengan menyediakan area yang dibuat berlubang-
lubang kecil (berpori) yang nantinya akan menyerap air hujan dan
kemudian disalurkan ke dalam tempat penampungan air.
b. Fitoremediasi
Fitoremediasi merupakan salah satu bentuk bioremediasi.
Fitoremediasi merupakan penggunaan tumbuhan untuk
menghilangkan, memindahkan, menstabilkan, atau menghancurkan
bahan pencemar baik itu senyawa organik maupun anorganik.
Melalui fitoremediasi ini polutan (zat penyebab polusi) seperti logam
berat, pestisida, minyak. Contoh tumbuhan yang dapat digunakan
dalam fitoremediasi adalah bunga matahari (Helianthus annus), sawi
(Brassica rappa), eceng gondok (Eichornia crassapies), padi (Oryza
sativa), tembakau (Nicotiana tobacco), dan sansevieria (Sansevieria
trifasciata). lain yang mengotori tanah, air, atau udara dapat
dikurangi bahkan dihilangkan.

c. Toilet Pengompos (Composting Toilet)


Composting toilet merupakan toilet kering yang menggunakan proses
secara aerob untuk menghancurkan atau mendekomposisi feses yang
dihasilkan manusia. Toilet pengompos dapat digunakan sebagai
pengganti toilet air pada umumnya. Toilet ini biasanya ditambah
dengan campuran serbuk gergaji, sabut kelapa, atau lumut tertentu
untuk membantu proses aerob, menyerap air, dan mengurangi bau.
Proses dekomposisi ini umumnya lebih cepat dari proses
dekomposisi secara anaerob yang digunakan pada septic tank.

d. Pemurnian Air (Water Purification)


Pemurnian air merupakan suatu proses penghilangan zat-zat kimia,
kontaminan biologis, partikel-partikel padat, dan gas-gas dari air
yang terkontaminasi atau kotor. Tujuan dari proses ini adalah untuk
menghasilkan air yang dapat digunakan untuk keperluan tertentu.
Secara umum, proses pemurnian air merupakan proses kajian fisika,
kimia, dan biologi. Secara fisika, pada proses pemurnian air ada
proses filtrasi atau penyaringan, sedimentasi atau pengendapan, dan
distilasi atau penyulingan. Secara kimia, ada pemberian klorin (Cl2),
penyinaran dengan sinar ultraviolet (UV), dan pemberian karbon
aktif. Karbon aktif, klorin, dan sinar ultraviolet dapat berperan
sebagai pembunuh kuman yang ada dalam air.

- Pemurnian Air Sederhana


Pemurnian air dapat dilakukan dengan membuat alat yang
berbentuk tabung yang di dalamnya terdapat lapisan-lapisan
bahan seperti pasir, kerikil, batu, arang, ijuk atau sabut kelapa,
dan dapat juga ditambah dengan kapas atau kain katun.
- Teknologi Osmosis Balik
Osmosis balik merupakan teknologi pemurnian air yang
menggunakan prinsip kebalikan dengan prinsip osmosis. Osmosis
balik menggunakan prinsip tekanan untuk mengatasi tekanan
osmotik yang terjadi secara alami. Teknologi osmosis balik ini
diterapkan dalam pembuatan air minum dari air laut, yakni
dengan menghilangkan garam dan zat-zat lain yang tercampur
dengan molekul air.

4. Teknologi Ramah Lingkungan Bidang Industri

a. Biopulping
Biopulping adalah teknologi ramah lingkungan yang terinspirasi dari
proses pelapukan kayu dan sampah tanaman oleh mikroorganisme.
Proses pelapukan dilakukan secara alami oleh beberapa jenis mikrob
dan jamur, sehingga sampah dari pohon-pohon yang telah mati akan
kembali diserap oleh alam secara alami.
Terinspirasi dari kemampuan mikrob dalam proses pelapukan kayu,
para ahli saat ini mulai mengembangkan proses pengolahan limbah
dengan menggunakan mikroorganisme yang mampu menguraikan
lignin secara alami yang banyak ditemui secara bebas di alam. Contoh
mikroorganisme yang digunakan yaitu dari jenis kapang (jamur)
Phlebia subserialis dan Ceriporiopsis subvermispora. Perhatikan

C. Perilaku Hemat Energi dalam Keseharian

Perilaku hemat energi dalam kehidupan sehari-hari, misalnya sebagai


berikut :
- Membudayakan penggunaan sepeda atau berjalan kaki untuk
kegiatan sehari-hari. Selain menghemat BBM, penggunaan sepeda
dan berjalan kaki juga dapat mengurangi polusi udara dan
menyehatkan.
- Mematikan kendaraan jika sedang tidak digunakan dan jangan terlalu
lama menyalakan kendaraan ketika akan digunakan.
- Mematikan lampu saat tidur dan saat siang hari. Oleh karena itu, saat
membangun atau merenovasi rumah, sebaiknya membuat rumah
dengan banyak jendela sehingga cahaya matahari dapat masuk ke
dalam rumah.
- Jika menggunakan pompa air listrik untuk mengalirkan air, penuhilah
bak mandi dan tempat penampungan air dalam sekali waktu.
- Membuat jadwal mencuci dan menyetrika pakaian secara teratur,
misal dua kali seminggu untuk seluruh pakaian yang kotor.
- Jika menggunakan kendaraan, sebaiknya berangkat lebih pagi agar
terhindar dari kemacetan. Kemacetan di jalan membuat kendaraan
membuang bahan bakar secara percuma.
- Memilih peralatan rumah tangga yang hemat energi. Misalnya
mengganti lampu pijar yang menghasilkan warna kuning dengan
lampu neon yang menghasilkan warna putih atau lampu LED (light
emitting diode) yang dapat bertahan hingga 15 tahun.
- Jangan buang kertas-kertas bekas begitu saja, tanamkan dalam diri
bahwa setiap menggunakan sebuah kertas, berarti kita telah
menebang sebuah pohon.
- Menggunakan air secukupnya saat mandi dan mencuci.

D. Teknologi Tidak Ramah Lingkungan

Beberapa prinsip teknologi tidak ramah lingkungan di antaranya


adalah teknologi tersebut menghasilkan sisa atau limbah yang dapat
membahayakan lingkungan, dan sumber energi yang digunakan adalah
sumber energi yang tidak dapat diperbarui. Selain itu, penerapan
teknologi tidak ramah lingkungan ini kurang memperhatikan kelestarian
lingkungan.

1. Pengolahan Minyak Bumi


Minyak bumi merupakan komoditas yang sangat penting karena
memiliki banyak manfaat. Minyak bumi dapat diolah untuk
digunakan sebagai bahan baku aspal, pelumas, nafta, solar, minyak
tanah, avtur, bensin, dan LPG. Minyak bumi terbentuk dari makhluk
hidup yang telah mati jutaan tahun yang lalu dan terjebak dalam
suatu ruangan yang tertutupi oleh bebatuan di dalam tanah atau di
dasar laut, minyak bumi yang demikian disebut dengan “light crude
oil”. Untuk mengambil minyak bumi tersebut kita harus mengebor ke
dalam ruangan yang berisi minyak tersebut, lalu memompanya
keluar. Eksploitasi minyak bumi tersebut memiliki banyak dampak
negatif terhadap tanah, udara, air, makhluk hidup, dan iklim.

2. Pengolahan Batu Bara


Batu bara merupakan bahan bakar fosil berbentuk padat yang
terbentuk dari beberapa tahapan dan berasal dari tanaman yang
terkubur 300-400 juta tahun lalu, kemudian terpapar panas yang
tinggi dan tekanan selama jutaan tahun. Batu bara merupakan bahan
bakar yang paling kotor di antara bahan bakar yang lain. Bahkan
sebelum batu bara dibakar, proses produksi batu bara, sehingga siap
digunakan pun telah merusak tanah dan mencemari air dan udara. Di
dalam batu bara terkandung banyak karbon dan sulfur. Ketika
dibakar sulfur akan dilepas dalam bentuk gas belerang dioksida
(SO2). Pembakaran batu bara juga menghasilkan partikel karbon
hitam dalam jumlah yang sangat banyak. Partikel-partikel ini dapat
masuk ke dalam paru-paru dan menyebabkan penyakit pernapasan.
Permasalahan lain akibat pembakaran batu bara yaitu adanya emisi
zat radioaktif.
E. Metode Pembelajaran
IPK Pertemuan Model
3.10.1
3.10.2 I Discovery Learning
3.10.3
3.10.4
3.10.5 II Discovery Learning
3.10.6
3.10.7
3.10.8 III Discovery Learning
4.10.1
IV Ulangan harian

F. Media/Alat Media Pembelajaran


1. Alat : Papan tulis, pena, buku tulis
2. Media : PPT, LKPD
3. Sumber belajar
a. Buku IPA kelas 9 semester 2 Kemendikbud 2018
b. Sumber buku lain yang menunjang materi Proses dan Produk
Teknologi Ramah Lingkungan
Langkah-langkah Pembelajaran

Pertemuan I (2JP)

Alokasi
Tahap/Urutan Deskripsi Kegiatan Media
Waktu

Kegiatan awal (pendahuluan)


Salam pembuka 1. Guru memberi salam, 5 menit
berdoa
2. Mengecek kehadiran
peserta didik
3. Guru menanyakan
kesiapan peserta didik
untuk melaksanakan
pembelajaran
Apersepsi Guru memberikan pertanyaan 5 menit
kepada peserta didik,
“Tahukah anak-anak apa saja
yang termasuk BBM? Dari
manakah BBM berasal?
Apakah BBM dapat
menyediakan energi bagi
kehidupan manusia sepanjang
masa? Apakah ada alternatif
sumber energi lain untuk
mendukung kehidupan
manusia? Apa saja dampak
penggunaan BBM secara
terus menerus terhadap
lingkungan?”
Motivasi Guru memberi pernyataan 5 menit
untuk memotivasi peserta
didik, “Bahan bakar minyak
(BBM) merupakan salah satu
sumber energi yang sangat
dibutuhkan masyarakat. BBM
diperlukan sebagai bahan
bakar kendaraan motor,
mobil, atau kapal. Keberadaan
bahan bakar minyak semakin
lama semakin menipis bahkan
pada tahun 2025 diperkirakan
ketersediaan minyak bumi
akan habis. Sebagai pengganti
BBM, saat ini mulai
dikembangkan Bahan Bakar
Nabati (BBN).”

Kegiatan Inti
Penyampaian Guru menyampaikan tujuan 5 menit
tujuan pembelajaran :
1. Peserta didik dapat
menjelaskan pengertian
teknologi ramah
lingkungan
2. Peserta didik dapat
menjelaskan prinsip-
prinsip teknologi ramah
lingkungan
3. Peserta didik dapat
mengidentifikasi
penerapan teknologi
ramah lingkungan pada
bidang energi
Pembagian 1. Guru membagi peserta 5 menit
kelompok didik secara heterogen
menjadi beberapa
kelompok. Masing-masing
kelompok terdiri dari 3-4
orang peserta didik
2. Peserta didik duduk di
kelompoknya masing-
masing
Presentasi guru 1. Guru menuntun peserta 5 menit PPT
didik untuk membaca
sejarah singkat penemuan
bahan bakar fosil dan
pengolahan minyak bumi
sehingga dapat
dimanfaatkan seperti yang
ada pada saat ini.
2. Guru menggali
pengetahuan awal peserta
didik tentang pengertian
dan contoh sumber energi
yang tidak dapat
diperbarui dan sumber
energi yang dapat
diperbarui, dan
mengaitkannya dengan
dampak negatif yang
ditimbulkan dari
penggunaan bahan bakar
minyak (BBM) sehingga
saat ini mulai
dikembangkan teknologi
yang ramah lingkungan.
3. Guru mengarahkan
peserta didik untuk
berdiskusi bersama
kelompok masing-masing,
tentang prinsip-prinsip
dari teknologi ramah
lingkungan.
Kegiatan belajar 1. Pada saat berdiskusi, 40 menit
dalam kelompok peserta didik dapat
mengajukan pertanyaan
atau memberi tanggapan
terkait dengan prinsip
teknologi ramah
lingkungan.
2. Guru memberikan
penguatan materi dan
menjelaskan pmateri pada
peserta didik yang belum
paham.
Evaluasi Guru memberi kuis kepada 15 menit LKPD
peserta didik mengenai materi
yang telah di pelajari

Penutup
1. Peserta didik bersama 5 menit
guru menyimpulkan
materi yang telah di
pelajari
2. Melakukan penilaian
dan/atau refleksi terhadap
kegiatan yang sudah
dilaksanakan secara
konsisten dan terprogram.
3. Memberikan umpan balik
terhadap proses dan hasil
pembelajaran.
4. Guru menyapaikan materi
yang akan di bahas pada
pertemuan selanjutnya
5. Guru mengakhiri
pelajaran dengan
mengucapkan salam

Pertemuan 2 (3JP)
Alokasi
Tahap/Urutan Deskripsi Kegiatan Media
Waktu

Kegiatan awal (pendahuluan)


Salam pembuka 1. Guru memberi salam, 5 menit
berdoa
2. Mengecek kehadiran
peserta didik
3. Guru menanyakan
kesiapan peserta didik
untuk melaksanakan
pembelajaran
Apersepsi Guru memberikan pertanyaan 5 menit
kepada peserta didik, “Apakah
anak-anak tahu mengenai
mobil surya?”
Motivasi Guru memberi pernyataan 5 menit
untuk memotivasi peserta
didik,”Anak-anak mobil sel
surya adalah salah satu jenis
kendaraan listrik yang
menggunakan tenaga matahari
sebagai sumber energinya.”

Kegiatan inti
Penyampaian Guru menyampaikan tujuan 5 menit
tujuan pembelajaran :
1. Peserta didik dapat Peserta
didik dapat
mengidentifikasi
penerapan teknologi
ramah lingkungan pada
bidang transportasi
2. Peserta didik dapat
mengidentifikasi
penerapan teknologi
ramah lingkungan pada
bidang lingkungan
3. Peserta didik dapat
mengidentifikasi
penerapan teknologi
ramah lingkungan pada
bidang industri
Pembagian Guru menginstruksikan 5 menit
kelompok kepada peserta didik untuk
kembali bergabung dengan
kelompok pada pertemuan
sebelumnya
Presentasi guru 1. Guru mengarahkan kepada 10 menit PPT
peserta didik untuk
mendiskusikan dengan
kelompok masing-masing
terkait sumber energi yang
diperoleh dari berbagai
sumber energi alternatif
dengan alat transportasi
yang ramah lingkungan,
seperti kendaraan
hidrogen, mobil dengan
menggunakan tenaga
surya, dan mobil listrik.
2. Guru menunjuk kelompok
diskusi secara acak untuk
maju kedepan kelas
mempresentasikan hasil
diskusi
Kegiatan dalam 1. Peserta didik berdiskusi 65 menit
tim dengan kelompok masing-
masing tentang aplikasi
teknologi ramah
lingkungan di bidang
transportasi, lingkungan
dan industri.
2. Guru membimbing peserta
didik selama jalannya
diskusi dan presentasi
berlangsung
Evaluasi Guru memberi kuis kepada 15 menit LKPD
peserta didik mengenai materi
yang telah di pelajari

Penutup
1. Peserta didik bersama 5 menit
guru menyimpulkan
materi yang telah di
pelajari
2. Melakukan penilaian
dan/atau refleksi terhadap
kegiatan yang sudah
dilaksanakan secara
konsisten dan terprogram.
3. Memberikan umpan balik
terhadap proses dan hasil
pembelajaran.
4. Guru menyapaikan materi
yang akan di bahas pada
pertemuan selanjutnya
5. Guru mengakhiri pelajaran
dengan mengucapkan
salam
Pertemuan 3 (2 JP)

Alokasi
Tahap/Urutan Deskripsi Kegiatan Media
Waktu

Kegiatan awal (pendahuluan)


Salam pembuka 1. Guru memberi salam, 5 menit
berdoa
2. Mengecek kehadiran
peserta didik
3. Guru menanyakan
kesiapan peserta didik
untuk melaksanakan
pembelajaran
Apersepsi Guru memberikan pertanyaan 5 menit
kepada peserta didik,
“Menurut pendapat anak-
anak, mengapa kita perlu
menghemat energi?”
Motivasi Guru memberi pernyataan 5 menit
untuk memotivasi peserta
didik,”Jadi anak-anak
menghemat energi adalah
mempergunakana energi yang
ada dengan seperlunya saja.
Energi yang kita gunakan
tidak adapt diperbaharui. Oleh
karena itu kita harus
menggunakannya sehemat
mungkin”

Kegiatan inti
Penyampaian Guru menyampaikan tujuan 5 menit
tujuan pembelajaran :

1. Peserta didik dapat


merumuskan ide untuk
menghemat energi yang
mudah dilakukan dalam
kehidupan sehari-hari
2. Peserta didik dapat
menjelaskan prinsip-
prinsip teknologi yang
tidak ramah lingkungan
3. Peserta didik dapat
membuat karya yang
berupa poster dengan tema
hemat energi

Pembagian Guru menginstruksikan 5 menit


kelompok kepada peserta didik untuk
kembali bergabung dengan
kelompok pada pertemuan
sebelumnya
Presentasi guru 1. Guru dapat menjelaskan 5 menit
jenis-jenissumber minyak
bumi yaitu light crude oil
dan heavy crude oil,
teknologi pengolahannya
yaitu kilang minyak serta
dampak lingkungan yang
disebabkan dari
penambangan dan
pemakaian minyak
tersebut.
2. Guru menjelaskan kepada
peserta didik untuk
membuat karya poster
dengan tema hemat energi
3. Guru menunjuk kelompok
diskusi secara acak untuk
maju kedepan kelas
mempresentasikan hasil
diskusi
Kegiatan dalam 1. Peserta didik berdiskusi 40 menit
tim dengan kelompok masing-
masing tentang perilaku
hemat energi dan teknologi
tidak ramah lingkungan
2. Guru membimbing peserta
didik untuk melakukan
diskusi kelompok.
Evaluasi Guru memberi kuis kepada 15 menit LKPD
peserta didik mengenai materi
yang telah di pelajari

Penutup
1. Peserta didik bersama 5 menit
guru menyimpulkan
materi yang telah di
pelajari
2. Melakukan penilaian
dan/atau refleksi terhadap
kegiatan yang sudah
dilaksanakan secara
konsisten dan terprogram.
3. Memberikan umpan balik
terhadap proses dan hasil
pembelajaran.
4. Guru menyuruh peserta
didik untuk
mempersiapkan
menghadapi ulangan
harian pada pertemuan
selanjutnya
5. Guru mengakhiri pelajaran
dengan mengucapkan
salam
Lampiran 1
Lembar Pengamatan Sikap

Kelas : VIII
Hari/Tanggal :
Materi Pokok/Tema : Sistem Pernapasan pada Manusia
Sikap

Tanggung jawab

Gotong royong
Nama peserta Jumlah

Percaya diri
No Nilai
didik skor

Toleransi
Disiplin

Santun
Jujur

1
2
3
4

Keterangan Pensekoran :
4 = Apabila selalu konsisten menunjukkan sikap sesuai aspek sikap
3 = Apabila sering konsisten menunjukkan sikap sesuai aspek sikap
dan kadang-kadang sesuai dengan aspek sikap
2 = Apabila kadang-kadang konsisten menunjukkan sikap sesuai aspek
sikap dan sering tidak sesuai aspek sikap
1 = Apabila tidak pernah konsisten menunjukkan sikap sesuai aspek
sikap
12

BAB II
KAJIAN TEORI
A. Kajian Teori
1. RPP
a. Definisi RPP
Kegiatan proses belajar mengajar harus menggunakan rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP) agar proses belajar mengajar memenuhi
syarat dalam mengajar. Sebagaimana dijelaskan oleh Nanang Hanafiah dan
Cucu Suhana (2012 hml.120,) Rencana pelaksanaan pembelajaran adalah
rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran
untuk mencapai suatu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan
dijabarkan dalam silabus. Lingkup rencana pembelajaran paling luas
mencangkup satu kompotensi dasar yang terdiri atas 1 indikator atau
beberapa indikator untuk satu kali pertemuan atau lebih. guru merancang
penggalan RPP untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan
di satuan pendidikan .
Sebagaimana dalam permendikbud No 22 (2016 hlm.6) Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran
tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari
silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam
upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD). Setiap pendidik pada satuan
pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis
agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang, efisien, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif,
serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan
kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta
psikologis peserta didik. RPP disusun berdasarkan KD atau subtema
yang dilaksanakan kali pertemuan atau lebih.
Berdasarkan dua teori di atas dapat disimpulkan bahwa RPP adalah
rencana kegiatan untuk satu pertemuan atau lebih untuk mencapai suatu
kompetensi.
13

b. Prinsip-prinsip RPP
Selain definisi di atas RPP pun mempunyai prinsip-prinsip seperti
yang di kemukakan oleh Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana (2012 hml.122)
yaitu :
1. Memperhatikan perbedaan individu peserta didik
RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan jenis
kelamin, kemampuan awal, tingkat intelektual ,minat,
motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi,
gaya belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan atau
lingkungan peserta didik.
2. Mendorong partisipasi aktif peserta didik
Proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada peserta
didik untuk mendorong motivasi, minat, aktivitas, inisiatif,
inspirasi, kemandirian dan semangat belajar.
3. Mengembangkan membaca dan menulis proses pembelajaran
dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca,
pemahamaan beragan bacaan,dan berkreasi dalam beragan
bentuk tulisan
4. Memberikan umpan balik dan tindak lanjut.
RPP Memuat rancangan program pemberian umpan balik
positif ,penguatan, pengayaan, dan remedy.
5. Keterkaitan dan keterpaduan
RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan
keterpaduanantara SK,KD,materi pembelajaran, kegiatan
pembelajaran,indikator pencapaian kompetensi,penilaian dan
sumber belajar dalam satukeutuhan pengalaman belajar.RPP
disusun dengan mengakomodasikan pembelajaran tematik
,keterpaduan lintas mata pelajaran,lintas aspek belajar, dan
keragaman budaya.
6. Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi
RPP disusun dengan mempertimbangkan penerapan
teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi
,sistematis,dan efektifsesuai dengan situasi dan komdisi.

Sebagaimana dalam Permendikbud No 22 (2016 hml.7 ) adalah


Prinsip Penyusunan RPP dalam menyusun RPP hendaknya
memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Perbedaan individual peserta didik antara lain kemampuan awal,
tingkat intelektual, bakat, potensi, minat, motivasi belajar,
kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus,
kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau
lingkungan peserta didik.
2. Partisipasi aktif peserta didik.
14

3. Berpusat pada peserta didik untuk mendorong semangat belajar,


motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, inovasi dan
kemandirian.
4. Pengembangan budaya membaca dan menulis yang dirancang
untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam
bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan.
5. Pemberian umpan balik dan tindak lanjut RPP memuat rancangan
program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan
remedi.
6. Penekanan pada keterkaitan dan keterpaduan antara KD, materi
pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indicator pencapaian
kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan
pengalaman belajar.
7. Mengakomodasi pembelajaran tematik-terpadu, keterpaduan lintas
mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.
8. Penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi,
sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

Berdasarkan kedua teori di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip-


prinsip RPP adalah
1. Perbedaan individual peserta didik.
2. Partisipasi aktif peserta didik.
3. Pemberian umpan balik dan tindak lanjut RPP.
4. Keterkaitan dan keterpaduan.
5. Penerapan teknologi informasi dan komunikasi.

c. Karakteristik RPP
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) terdapat karakteristik
RPP sebagaimana di jelaskan oleh Jamil Suprihatiningrum (2012 hlm 114.)
karakteristik rencana pelaksanaan dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan
kegiatan belajar siswa dalam upaya mencapai KD. Setiap guru pada satuan
pendidikan bekewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar
pembelajaran berlangsung, secara interaktif, inspiratif,
menyenangkan,menantang, memotifasi siswa untuk berpartisipasi aktif, serta
memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas, dan kemandirian
sesuai dengan bakat, minat,dan perkembangan fisik serta psikologis siswa.
Sebagaimana dalam Permendikbud No 22 Tahun 2016,
karakteristik rencana pembelajaran dijabarkan dari silabus untuk
mengarahkan kegiatan belajar siswa dalam upaya mencapai KD. Setiap guru
pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan
15

sistematis agar pembelajaran berlangsung secara intektif, inspiratif,


menyenangkan menantang, memotivatisi siswa untuk berpartisipasi akti,serta
memberikan ruang yang cukup bagi perkasa, kreativitas dan kemandirian
sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa.
Berdasarkan 2 teori diatas dapat disimpulkan bahwa karakteristik
rencana pelaksanaan pembelajaran merupakan suatu proses dalam
pembelajaran yang Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan, sasaran
pembelajaran mencakup pengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan
keterampilan yang dielaborasi untuk setiap satuan pendidikan. Ketiga ranah
kompetensi tersebut memiliki lintasan perolehan (proses psikologis) yang
berbeda. Sikap diperoleh melalui aktivitas “menerima, menjalankan,
menghargai, menghayati, dan mengamalkan”. Guru merancang penggalan
rencana pelaksanaan pembelajaran untuk setiap pertemuan yang disesuaikan
dengan penjadwalan disatuan pendidikan
d. Langkah penyusunan RPP
Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) terdapat
langkah-langkah sebagaimana dijelaskan Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana
(2012 hml.122,). Langkah-langkah minimal dari penyusunan pelaksanaan
pembelajaran dimulai dari mencantumkan identitas , tujuan pembelajaran,
materi pembelajaran, metode pembelajaran, langkah-langkah kegiatan
pembelajaran,sumber belajar, dan penilaian. Setiap komponen mempunyai
arah pengembangan masing-masing,tetapi semua merupakan satu kesatuan
penjelasan tiap-tiap komponen adalah sebagai berikut :
1. Mencantumkan identitas
2. Merumuskan tujuan pembelajaran
3. Menentukan materi pembelajaran
4. Menentukan model pembelajaran
5. Menetapkan kegiatan pembelajaran
a. kegiatan awal
b. kegiatan inti
c. kegiatan penutup
6. memilih sumber belajar
7. menentukan penilaian
16

Sebagaimana dalam Permendikbud No 22 Tahun 2016 langkah


penyusunan RPP adalah:
1. Identitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan;
2. Identitas mata pelajaran atau tema/subtema;
3. Kelas/semester;
4. Materi pokok;
5. Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk
pencapaian KD dan beban belajar dengan
mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia
dalam silabus dan KD yang harus dicapai;
6. Tujuan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan KD,
dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat
diamati dan diukur, yang mencakup sikap, pengetahuan, dan
keterampilan;
7. Kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi;
8. Materi pembelajaran, memuat fakta, konsep, prinsip, dan
prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir
sesuai dengan rumusan indikator ketercapaian kompetensi
9. Metode pembelajaran, digunakan oleh pendidik untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik mencapai KD yang disesuaikan dengan
karakteristik peserta didik dan KD yang akan dicapai;
10. Media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran
untuk menyampaikan materi pelajaran;
11. Sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan
elektronik, alam sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan;
12. Langkah-langkah pembelajaran dilakukan melalui tahapan
pendahuluan, inti, dan penutup; dan
13. Penilaian hasil pembelajaran.

Dari kedua teori di atas dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah


penyusunan RPP adalah
1. Identitas sekolah.
2. Mata pelajaran atau tema atau subtema.
3. Kelas atau semester.
4. Materi pokok.
5. Alokasi waktu.
6. Tujuan pembelajaran.
7. Kompetensi dasar dan indicator.
8. Langkah-langkah pembelajaran.
9. Metode pembelajaran.
17

10. Media dan sumber belajar.


11. Penutup.
2. Model Project Based Learning
a. Definisi Project Based Learning
Pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran
inovatif yang memfokuskan pada belajar kontekstual melalui kegiatan yang
kompleks ( CORD dalam Sutirman, 2013 hlm 43 ). Suzie & Jane dalam
Sutirman ( 2013 hlm 43 ) menyatakan bahwa “ Project Based Learning ….. is
strategy certain to turn traditional classroom upside down”. Pembelajaran
berbasis proyek adalah suatu strategi untuk mengubah kelas
tradisional.Sebagaimana dijelaskan oleh Buck Institute For Education ( 2003,
hlm.43 ) :menyatakan bahwa pembelajaran berbasis proyek adalah “ suatu
metode pengajaran sistematis yang melibatkan para siswa dalam mempelajari
pengetahuan dan keterampilan melalui proses yang terstruktur, pengalaman
nyata dan teliti yang dirancang untuk menghasilkan produk.
Dari beberapa pendapat di atas kesimpulan pembelajaran berbasis
proyek merupakan model pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif
dalam merancang tujuan pembelajaran untuk menghasilkan produk atau
proyek yang nyata.
b. Karakteristik Project Based Learning
Model Project Based Learning memiliki karakteristik seperti yang
terdapat pada Buck Institut for Education sebagaimana dikutip oleh Wena
dalam Sutirman ( 2013 hlm 44 ) memberikan karakteristik pembelajaran
berbasis proyek yaitu :
1. Siswa membuat keputusan dan membuat kerangka kerja.
2. Terdapat masalah yang pemecahannya tidak ditentukan
sebelumnya.
3. Siswa merancaang proses untuk mencapai hasil.
4. Siswa bertanggung jawab mendapatkan dan mengelola
informasi yang dikumpulkan.
5. Siswa melakukan evaluasi secara kontinu.
6. Siswa secara teratur melihat kembali apa yang mereka kerjakan.
7. Hasil akhir berupa produk dan dievaluasi kualitasnya.
8. Atmosfir kelas memberi toleransi kesalahan dan perubahan.
18

Selain pendapat di atas Project Based Learning terdapat


karakteristik seperti dalam Zainal Aqib dan Ali Murtadlo (2016 hlm. 160)
antara lain sebagai berikut :
1. Centrality. Dalam hal ini, proyek menjadi pusat dalam
pembelajaran.
2. Driving Question.proyek difokuskan pada pertanyaan atau
masalah yang mengarahkan peserta didik untuk mencari solusi
dengan konsep atau prinsip ilmu pengetahuan yang sesuai.
3. Contructive investigation. Pada metode proyek ini, peserta didik
membangun pengetahuannya dengan melakukan investigasi
secara mandiri ( pendidik sebagai fasilitator).
4. Autonomy. Project Based Learning menuntut student centered,
peserta didik sebagai problem solver dari masalah yang di bahas.
5. Realisme. Kegiatan peserta didik difokuskan pada pekerjaan
yang serupa dengan situasi yang sebenarnya. Aktivitas ini
mengintegrasikan tugas otentik dan menghasilkan sikap
professional ( Thomas,2000) dalam Zainal Aqib dan Ali
Murtadlo (2016 hlm.161).

Dari kedua teori di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik


model Project Based Learning adalah:
1. Pembelajaran berbasis proyek dapat menjadi pusat
pembelajaran.
2. Terdapat masalah yang pemecahannya tidak ditentukan
sebelumnya dan mengarahkan peserta didik untuk mencari
solusi.
3. Dapat membangun pengetahuan dan mengelola informasi yang
telah di dapat.
4. Proses pembelajaran dapat menghasilkan suatu produk.

c. Kelebihan Project Based Learning


Project Based Learning sering di gunakan dalam pembelajaran
karena mempunyai beberapa kelebihan seperti yang di kemukakan Moursund
yang di kutip oleh Wena ( 2011 : 147 ) keuntungan pembelajaran berbasis
proyek adalah :
1. Meningkatkan motivasi.
2. Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah.
3. Meningkatkan kemampuan studi pustaka.
4. Meningkatkan kolaborasi.
5. Meningkatkan keterampilan manejemen sumber daya.
19

Sedangkan pengalaman yang dilakukan oleh Intel Corporation


melalui Intel Teach Program ( 2007 ) menunjukan bahwa penerapan project
based learning membawa keuntungan terutama bagi siswa, yaitu :
1. Meningkatkan frekuensi kehadiran, menumbuhkan kemandirian,
dan sikap positif terhadap belajar.
2. Memberikan keuntungan akademik yang sama atau lebih baik
dari pada yang dihasilkan oleh model lain, dimana siswa yang
terlibat dalam proyek memiliki tanggung jawab yang lebih besar
untuk pembelajaran mereka sendiri.
3. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan
keterampilan yang kompleks, seperti berfikir tingkat tinggi,
pemecahan masalah, bekerja sama, dan berkomunikasi.
4. Memperluas akses belajar siswa sehingga menjadi strategi untuk
melibatkan siswa dengan beragam budaya.

Sebagaimana dalam dalam Zainal Aqib dan Ali Murtadlo (2016


hlm.165) keuntungan metode proyek adalah :
1. Dengan metode proyek, dapat membangkitkan dan
mengaktifkan peserta didik, di mana masing-masing belajar dan
bekerja sendiri.
2. Melalui metod proyek memberikan kesempatan kepada setiap
peserta didik untuk mempraktikan materi yang telah dipelajari.
3. Melalui metode proyek, mendidik memerhatikan minat,
perbedaan dan kemampuan masing-masing individu peserta
didik.
4. Dapat menumbuhkan sikap sosial dan bekerja sama yang baik.
5. Dapat membentuk peserta didik dinamis dan iliah dalam berbuat
atau berkarya.
6. Beberapa metode mengajar tercakup dalam unit (proyek)
7. Unit sesuai dengan pendapat baru tentang cara belajar.
8. Mempererat hubungan antara sekolah dan masyarakat.

Dari beberapa teori di atas dapat disimpulkan bahwa kelebihan


pembelajaran berbasis proyek adalah
1. Meningkatkan motivasi pada proses pembelajaran.
2. Melalui metode proyek memberikan kesempatan pada setiap
peserta didik untuk mempraktikan materi yang telah dipelajari.
3. Meningkatkan siswa untuk mengembangkan berfikir tingkat
tinggi, memecahkan masalah, bekerja sama dan berkomunikasi
dengan baik.
4. Meningkatkan keterampilan siswa dalam proses pembelajaran.
20

d. Kelemahan Project Based Learning


Disamping kelebihan diatas, model pembelajaran project based
learning juga mempunyai beberapa kelemahan, sebagaimana dijelaskan
Abiding ( 2014 : 171 ) kelemahan model project based learning sebagai
berikut :
1. Memerlukan banyak waktu dan biaya.
2. Memerlukan banyak media dan sumber belajar.
3. Memerlukan guru dan siswa yang sama – sama siap belajar dan
berkembang.
4. Ada kekhawatiran siswa hanya akan menguasai satu topik tertentu yang
dikerjakannya.
Sebagaimana kebanyakan metode pembelajaran, pasti memiliki
beberapa kekurangan atau kelemahan sesuai dengan karakteristik yang
dimiliki. Adapun kekurangan metode proyek, dalam Zainal Aqib dan Ali
Murtadlo (2016 hlm.165) di antaranya sebagai berikut:
1. Memerlukan perencanaan yang matang.
2. Tidak semua pendidik merencanakan atau terbiasa dengan
metode proyek. Sebab dengan metode proyek, pendidik di tuntut
untuk bekerja keras dan mengorganisir pelajaran yang menjadi
proyek secara terencana.
3. Jika proyek diberikan terlalu banyak, akan membosankan bagi
peserta didik.
4. Bagi sekolah tingkat rendah metode proyek masih sulit
digunakan. Hal ini karena metode proyek menuntut peserta didik
untuk mencari, membaca, memikirkan dan dapat memecahkan
masalah sendiri.
5. Dilihat dari segi aktivitasnya, organisasi sekolah menjadi tidak
sederhana karena memerlukan banyak fasilitas, tenaga dan
finansial.
6. Bahan pelajaran tidak mempunyai urutan yang logis dan
sistematis.
7. Banyak memerlukan waktu dan alat pelajaran.
8. Membutuhkan ketekunan darui pendidik karena setiap tahun
pendidik harus menyusun bahan baru.

Dari kedua teori di atas dapat di simpulkan bahwa kekurangan


model pembelajaran berbasis proyek adalah :

1. Memerlukan banyak waktu dan biaya.


2. Banyak memerlukan medi, fasilitas untuk di gunakan.
21

3. Membutuhkan guru dan siswa yang siap untuk melaksanakan proyek.

e. Langkah Pembelajaran Project Based Learning


Langkah-langkah pembelajaran berbasis proyek seperti yang di
utarakan menurut The George Lucas Educational Foundation yang dikutip
Sabar Nurohman ( 2007 ), langkah – langkah Project Based Learning adalah
sebagai berikut :
1. Mulai dengan pertanyaan esensial
Pembelajaran dimualai dengan pertanyaan esensial, yaitu
pertanyaan yang mendorong siswa untuk melakukan suatu
aktivitas.
2. Membuat desain rencana proyek
Siswa dengan pendampingan dari guru membuat desain rencan
proyek yang akan dilakukan. Rencana proyek ditentukan oleh
siswa sendiri mengacu kepada pertanyaan esensial yang telah
dikemukakan seebelumnya.
3. Membuat jadwal
Guru dan siswa secara kolaboratif menyusun jadwal
pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Aktifitas pada tahap ini
antara lain :
1. Membuat timeline untuk menyelesaikan proyek.
2. Membuat deadline penyelesaian proyek.
3. Mengarahkan siswa agar merencanakan cara yang baru.
4. Mengarahkan siswa ketika mereka membuat cara yang
tidak berhubungan dengan proyek.
5. Meminta siswa untuk memberi alasan tentang cara yang
dipilih.
4. memantau siswa dan kemajuan proyek
Guru bertanggung jawab memantau kegiatan siswa selama
menyelesaikan proyek untuk mengetaui kemajuan pelaksanaan
proyek dan mengantisipasi hambatan yang dihadapi siswa.
5. Menilai hasil
22

Penilaian dilakukan untuk mengukur ketercapaian standar,


mengevaluasi kemajuan masing – masing siswa, memberi
umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai,
dan memjadi bahan pertimbangan dalam menyusun strategi
pembelajaran berikutnya.
6. Refleksi
Pada akhir pembelajaran, guru dan siswa melakukan refleksi
terhadap aktifitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan.
Proses refleksi dilakukan secara individu maupun kelompok.
Sependapat dengan Yunus Abidin dalam skripsi Giadi Basyari
Apriawan tahapan project based learning adalah sebagai berikut:
a. Prapoyek pada tahapan ini merupakan kegiatan yang dilakukan
guru diluar jam pelajaran, pada tahap ini guru merancang
deskripsi proyek, menentukan pijakan proyek , menyiapkan
media dan berbagai sumber belajar, dan menyiapkan kondisi
pembelajaran.
b. Fase 1 mengidentifikasi masalah pada tahap ini siswa
melakukan pengamatan terhadap objek tertentu . berdasarkan
pengamatannya siswa mengidentifikasi masalah dan membuat
rumusan masalah dalam bentuk pertanyaan.
c. Fase 2 membuat desain dan jadwal pelaksanaan proyek, pada
tahap ini siswa secara kolaboratif baik dengan anggota
kelompok ataupun dengan gurumulai merancang proyek, dan
melakukan aktifitas persiapan lainnya.
d. Fase 3 melaksanakan penelitian, tahap ini siswa melakukan
kegiatan penelitian awal sebagai model dasar bagi produk yang
akan dikembangkan. Berdasarkan penelitian tersebut siswa
mengumpulkan data dan selanjutnya menganalisis data
tersebut sesuai dengan teknik analis data yang relevan dengan
penelitian yang dilakukan.
e. Fase 4 menyusun draf/prototype produk pada tahap ini siswa
mulai membuat produk awal sebagaimana rencana dan hasil
penelitian yang dilakukan.
f. Fase 5 mengukur,menilai dan memperbaiki produk pada tahap
ini siswa melihat kembali produk awal yang dibuat, mencari
kelemahan dan memperbaiki produk tersebut. Dalam
praktiknya kegiatan mengukur dan menilai produk dapat
dilakukan dengan meminta pendapat atau kritik dari anggota
kelompok lain ataupun pendapat guru.
g. Fase 6 finalisasi dan publikasi produk pada tahap ini siswa
melakukan finalisasi produk. Setelah diyakini sesuai dengan
harapan produk dipublikasikan.
23

h. Pascaproyek pada tahap ini guru menilai, memberikan


penguatan, masukan dan saran perbaikan atas produk yang
telah dihasilkan siswa.
Berdasarkan langkah-langkah pembelajaran berbasis proyek atau
project based learning (PJBL) di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
langkah langkah pembelajaran project based learning adalah pertanyaan
esensial,membuat desain rencana proyek, membuat jadwal,memantau siswa
dalam kemajuan proyek, menilai hasil dan refleksi.
3. Hasil Belajar
a. Definisi Hasil Belajar
Hasil belajar siswa menurut Dimyati dan Mudjioni (2013:250)
memberikan pengertian tentang hasil belajar, bahwa Hasil belajar merupakan
suatu proses pembelajaran untuk mencapai hasil belajar. hasil belajar
merupakan suatu yang ingin dicapai oleh seseorang melalui proses
pembelajaran disekolah yang bisa dinyatakan berupa nilai dari hasil tes
belajar hasil belajar tersebut mencangkup proses dan pengalaman secara
individu maupun secara kelompok .
Sependapat dengan Hamalik dalam Riani Al-astari (2001,hlm. 30)
adalah Bukti seseorang telah belajar belajar adalah terjadinya perubahan
tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu nenjadi tahu, dari
tidak mengerti menjadi mengerti. Hasil belajar seseorang akan tampak pada
setiap perubahan tingkah laku yakni aspek : 1 pengetahuan 2, pengertian 3,
kebiasaan 4, keterampilan 5, apresiasi 6, emosional 7, hubungan sosial 8,
jasmani 9, etis atau budi pekerti 10, sikap.
Berdasarkan teori di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
adalah proses pengumpulan data atau pembelajaran peseta didik dalam aspek
sikap, aspek pengetahuan, dan aspek keterampilan yang dilakukan secara
terencana dan sistematis untuk mencapai hasil belajar.
b. Prinsip Hasil Belajar
Prinsip- prinsip hasil belajar menurut Suprijono (2009 hlm 4-5)
dalam M.Thobroni, 2015 hlm 19 ( prinsip prinsip belajar terdiri dari 3 hal
pertama prinsip belajar adalah perubahan prilaku sebagai hasil belajar yang
memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
24

1. Sebagai hasil tindakan rasional instrumental, yaitu perubahan


yang disadari.
2. Kontinu atau berkesinambungan dengan perilaku lainnya.
3. Fungsional atau bermanfaat sebagai bekal hidup.
4. Positif atau berakumulasi.
5. Aktif sebagai usaha yang direncanakan dan dilakukan.
6. Permanen atau tetap, sebagaimana dikatakan Wittig, belajar
sebagai “any relatively permanent change in an organism’s
behavioral repettoire that accurs as a result of experience”.
7. Bertujuan dan terarah
8. Mencangkup keseluruhan potensi kemanusiaan.

Sebagaimana dalam buku panduan (2016, hlm 8) terdapat prinsip-


prinsip hasil belajar adalah:
1. Sahih, berarti penilaian didasarkan pada data yang
mencerminkan kemampuan yang diukur.
2. Objektif, berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan
kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai.
3. Adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan
peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar
belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial
ekonomi, dan gender.
4. Terpadu, berarti penilaian oleh pendidik merupakan salah satu
komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.
5. Terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan
dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang
berkepentingan.
6. Menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian oleh
pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan
menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk
memantau perkembangan kemampuan peserta didik.
7. Sistematis, berarti penilaian dilakukan secara berencana dan
bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku.
8. Beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran
pencapaian kompetensi yang ditetapkan.
9. Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan,
baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.

Berdasarkan teori diatas dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip


dari hasil belajar adalah:
1. Objektif, berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan
kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai.
2. Adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan
peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar
25

belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial


ekonomi, dan gender.
3. Terpadu, berarti penilaian oleh pendidik merupakan salah satu
komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.
4. Terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan
dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang
berkepentingan.
5. Menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian oleh
pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan
menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk
memantau perkembangan kemampuan peserta didik.
c. Karakteristik Hasil Belajar
Karakteristik hasil belajar yitu adanya perubahan dalam
pengetahuan, kebiasaan keterampilan. Perubahan tersebut terjadi secara sadar,
bersifat fungsional, positif dan aktif. Sebagaiaman dijelaskan oleh Dimyati
dkk (2013, hlm. 34) Karakteristik dari hasil belajar dapat dibagi menjadi 3
bagian yaitu:
1. Hasil belajar memiliki kapasitas berupa pengetahuan, kebiasaan,
keterampilan sikap dan cita-cita
2. Adanya perubahan mental dan perubahan jasmani
3. Memiliki dampak pengajaran dan pengiring
Sependapat dengan Syaiful bahri Djamarah (2008 hlm 132) yang
menyatakan bahwa karakteristik perubahan hasil belajar yaitu :
1. Perubahan yang terjadi secara sadar.
2. Perubahan dalam belajar bersifat fungsional.
3. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif.
4. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara.
5. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah.
6. Perbuhan mencangkup seluruh aspek tingkah laku.

Berdasarkan perndapat di atas dapat disimpulkan bahwa


karakteristik dari hasil belajar proses belajar terjadi karena adanya suatu
26

masalah yang terdapat di lingkungan sekitar maupun di dalam materi


pelajaran, dalam proses belajar terjadi pada waktu sekema seseorang dalam
kesenjangan yang merangsang pada sebuah materi. Dalam proses ini hasil
belajar terjadi dipengaruhi oleh pengalaman siswa tersebut dengan fisik dan
lingkungannya, hasil belajar juga tergantung dari apa yang telah diketahui
oleh siswa.
d. Unsur Hasil Belajar
Adapun unsur hasil belajar terdapat kemampuan yang
dikembangkan oleh sudjana (2010 hlm 22) antara lain :
1. Hasil belajar intelektual merupakan hasil belajar terpenting dari
hasil system lingsikkolastik
2. Strategi kognitif yautu mengatur cara belajar dan berfikir
sseorang dalam arti seluasluasnya
3. Sikap dan nilai berhubungan dengan arah intensitas emosional
dimiliki seseorang bagaimana disimpulkan dari kecendrungan
tingkah laku terhadap orang dan kejadian.
4. Informasi verbal, pengetahuan dalam arti informasi dan fakta
5. Keterampilan motorik.

Selain pendapat di atas unsur hasil belajar menurut Siti Pratini


(2005, hlm 49), unsur-unsur hasil belajar yaitu:
1. Adanya perubahan tingkah laku
2. Perubahan terjadi dari hasil latihan atau pengalaman.
3. Perubahan itu menyangkut beberapa aspek, yaitu aspek
Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik.

Dari kedua teori di atas dapat di simpulkan bahwa unsur hasil


belajar adalah adanya perubahan tingkah laku seseorang yang mempengaruhi
kognitif dan keterampilan motorik seseorang.
4. Sikap Percaya Diri
a. Definisi sikap percaya diri
Sikap percaya diri menurut Sri Marjanti (2015, hlm 2) menyatakan
“Percaya diri merupakan keberanian menghadapi tantangan karena memberi
suatu kesadaran bahwa belajar dari pengalaman jauh lebih penting daripada
keberhasilan atau kegagalan”.
27

Buku panduan penilaian untuk sekolah dasar (SD) (2016, hlm


25),Percaya diri merupakan suatu keyakinan atas kemampuannya sendiri
untuk melakukan kegiatan atau tindakan.
Menurut dua teori di atas dapat disimpulkan bahwa definisi sikap
percaya diri adalah , Salah satu sikap keberanian seseorang untuk menghadapi
tantangan terhadap aktifitas fisik dan mental pada proses pembelajaran.
b. Karakteristik percaya diri
Karakteristik percaya diri yaitu sesorang dapat memiliki cara
pandang positif terhadap dirinya sendiri, orang lain dan situasi di luarnya,
berani menerima kritikan dari orang lain, bisa menjadi diri sendiri.
Sebagaimana di jelaskan oleh Edi Warsidi (2011, hlm. 22) karakteristik atau
ciri individu yang percaya diri sebagai berikut:
1. Percaya akan kompetensi/kemampuan diri sehingga tidak
membutuhkan pujian, pengakuan, penerimaan ataupun rasa
hormat orang lain
2. Tidak terdorong untuk menunjukan sikap konformis demi
diterima oleh orang lain atau kelompok
3. Berani menerima dan menghadapi penolakan orang lain (berani
menghargai diri sendiri)
4. Memiliki pengendalian diri yang baik (tidak moody dan
emosinya stabil)
5. Meniliki internal locus of control (memandang keberhasilan
atau kegagalan, bergantung pada usaha diri sendiri dan tidak
mudah menyerah pada nasib atau keadaan serta tidak
bergantung (mengharapkan) pada bantuan orang lain)
6. Memiliki cara pandang yang positif terhadap diri sendiri, orang
lain dan situai di luar dirinya
7. Memiliki harapan yang realistik terhadap diri sendiri sehingga
ketika harapan itu tidak terwuwjud, ia tetap mampu melihat sisi
positif dirinya dan situsi yang terjadi.

Berdasarkan teori diatas dapat disimpulkan bahwa karakteristik


percaya diri adalah memiliki rasa positif terhadap diri sendiri, dan berani
mengungkapkan pendapat terhadap orang lain.
c. Faktor pendorong percaya diri
Selain karakteristik sikap percaya diri pun mempunyai factor
pendorong sebagaimana dijelaskan Jecinta F. Rini (dalam skripsi Erna Eryani,
28

2014, hlm. 45) ada beberapa faktor pendorong rasa percaya diri yakni sebagai
berikut:
1. Percaya akan kompetensi/kemampuan dirinya.
2. Tidak terdorong untuk menunjukan sikap kompormis demi di
terima oleh orang lain atau kelompok.
3. Berani menerima dan menghadapi kesalahan.
4. Punya pengendalian diri yang baik.
5. Bisa memandang keberhasilan atau kegagalan dari hasil usaha
sendiri.
6. Mempunyai cara pandang yang positif terhadap diri sendiri.
7. Memiliki harapan yang realistik terhadap diri sendiri.

Selain pendapat di atas faktor pendorong sikap percaya diri pada


seseorang menurut Hakim (2002:121) muncul pada dirinya sebagai berikut:
1. Lingkungan keluarga
2. Pendidikan formal
3. Pendidikan non formal
Dari kedua teori diatas dapat disimpulkan bahwa factor percaya diri
adalah :
1. Berani menerima dan menghadapi kesalahan
2. Factor keluarga.
3. Mempunyai cara pandang yang positif.
4. Pendidikan.
4. Faktor Penghambat Percaya Diri
Selain factor pendorong sikap percaya diri mempunyai factor
penghambat sebagaimana dijelaskan Jecinta F. Rini (dalam skripsi Erna
Eryani, 2014, hlm. 44) ada beberapa faktor penghambat rasa percaya diri
yakni sebagai berikut:
1. Berusaha menunjukan sikap ingin diterima oleh seseorang atau
kelompok.
2. Mempunyai rasa takut/khawatir.
3. Selalu melemahkan diri sendiri tidak pernah berfikir positif
dalam kemampuan diri sendiri.
4. Pesimis, mudah menilai sesuatu dari sisi negatif.
5. Takut gagal.
6. Selalu memposisikan diri sendiri dalam urutan terakhir.
29

Sedangkan factor penghambat percaya diri menurut Yusuf Al-


Uqshari (2005, hlm 181-187) faktor penghambat sikap percaya diri meliputi:
1. Perasaan dianiaya orang lain
Perasaan seperti ini bukan hanya membuat seseorang merasa
kehilangan kepercayaan diri saja, namun juga membuat
kehilangan kepercayaan pada orang lain.
2. Merasa marah
Ini menyangkut seluruh perasaan marah, dimulai dari
kejengkelan sampai kemarahan yang meledak atau kemarahan
yang meledak atau kemarahan yang cepat.
3. Perasaan kecewa
Perasaan ini berbeda dengan kehilangan harapan, karena dalam
perasaan ini ada sesuatu yang ingin diwujudkan tetapi tidak
dipenuhi
4. Perasaan kehilangan harapan
Ini merupaka perasaan yang merusak jiwa manusia
5. Perasaan berdosa
Perasaan berdosa, menyesal dan kecewa adalah perasaan yang
menyakiti diri
6. Perasaan kesepian
Perasaan kesepian dan terkucilkan atau terputus hubungan
dengan orang lain yang menyebabkan seseorang tidak percaya
diri untuk menjalin hubungan dengan lingkungan.

Berdasarkan teori diatas dapat disimpulkan bahwa faktor


penghambat sikap percaya diri diantaranya berani menjadi diri sendiri dan
menerima dan menghadapi penolakan orang lain, dan tenang mengerjakan
segala sesuatu.
5. Upaya Meningkatkan Rasa Percaya Diri
Percaya diri merupakan hal yang sulit dikembangkan apabila tidak
dipupuk sejak dini.Oleh karena itu perlu suatu upaya untuk mengembangkan
percaya diri anak terutama ketika berada di dalam kegiatan belajar dan
pembelajaran. Beberapa upaya yang harus dilakukan guru untuk memupuk
rasa percaya diri siswa menurut Amhar (2013, hlm. ) adalah:
1. Hadirkan citra positif.
2. Jangan mengoreksi secara langsung dipembicaraan terbuka.
3. Tawarkan pendapat, bukan jawaban salah atau benar.
4. Buat peraturan bahwa siswa harus berbicara.
5. Sabar dan tetap memberi siswa kesempatan.
30

Sedangkan menurut Enung fatimah (2010, hlm 153-156) upaya


meningkatkan rasa percaya diri yaitu:
1. Evaluasi diri secara objektif
2. Memberi penghargaan secara jujur terhadap diri
3. Positif thinking
4. Gunakan sel affirmation
Menggunakan sel affirmation memerangi negatif thinking,
contohnya “saya pasti bisa!”
1. Berani mengambil resiko
2. Belajar mensyukuri dan menikmati rahmat tuhan
3. Melakukan tujuan relistik
Berdasarkan teori diatas dapat disimpulkan bahwa upaya
meningkatkan sikap percaya diri merupakan mengevaluasi diri secara objektif
dan belajar mensyukuri dan menikmati rahmat tuhan.
5. Sikap Peduli
a. Definisi Sikap Peduli
Buku panduan penilaian untuk sekolah dasar (SD) (2016, hlm 25)
merupakan sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan kepada
orang lain atau masyarakat yang membutuhkan.
Sependapat dengan Hamzah (dalam jurnal Amirul Mukminin Al-
Anwari, 2014, hlm. 228) mengatakan “Kepedulian lingkungan hidup
merupakan wujud sikap mental individu yang direfleksikan dalam
perilakunya.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa definisi sikap peduli
adalah sebuah tindakan kepedulian dari wujud sikap individu yang di
keluarkan untuk orang lain.
b. Karakteristik Peduli
Karakteristik sikap peduli yaitu mempunyai objek tertentu yaitu
orang, perilaku, konsep, benda, mengandung penilaian yaitu setuju-tidak
setuju, suka-tidak suka, sikap mengandung tiga bagian yaitu kognitif yaitu
keyakinan, kesadaran, afektif (perasaan) dan konatif (perilaku). Adapun
karakteristik dari kepedulian sosial adalah sebagaimana di akses dari halaman
31

web tanggal 3 juni 2017, pukul 06:37 wib,dari:


http://sulufiyyah.blogspot.co.id/2010/05/masya
1. Memperhatikan kesusahan orang
2. Meringankan penderitaan orang lain
3. Dimensi sosial kemasyarakatan
Sependapat dengan Hutagalung (2007) menjelaskan bahwa
karakteristik dari sikap peduli adalah mempunyai objek tertentu (orang,
perilaku, konsep, benda) dan mengandung penilaian (setuju-tidak setuju,
suka-tidak suka). Sikap mengandung tiga bagian yaitu kognitif (keyakinan,
kesadaran), afektif (perasaan) dan konatif (perilaku). Komponen kognitif
adalah komponen yang berisikan apa yang diyakini dan diperkirakan
seseorang mengenai objek tertentu. Komponen afektif terdiri atas seluruh
perasaan atau emosi seseorang terhadap objek. Komponen perilaku terdiri
dari kesiapan seseorang untuk bereaksi atau kecenderungan untuk bertindak
terhadap objek.
Dari dua teori di atas dapat di simpulkan bahwa karakteristik sikap
peduli adalah sikap atau perilaku seseorang yang mengandung nilai-nilai,
keyakinan, kesadaran.
c. Faktor pendorong peduli
Faktor pendorong sikap peduli yaitu, seorang individu menerima
tingkah laku tanpa kritikan terlebih dahulu, dan mempunyai dorongan dari
nuraninya sendiri untuk berbuat baik. Sikap peduli mempunyai factor
pendorong peduli sebagaimana di jelaskan oleh Nawawi, 2000 : 72.
a. Faktor Sugesti Dalam buku Psikologi Kepribadian dijelaskan
bahwa: “Sugesti adalah proses seorang individu didalam berusaha
menerima tingkah laku maupun prilaku orang lain tanpa adanya
kritikan terlebih dahulu.
b. Faktor Identifikasi dilakukan kepada orang lain yang
dianggapnya ideal atau sesuai dengan dirinya. Anak yang
mengidentifikasikan dirinya seperti orang lain akan
mempengaruhi perkembangan sikap sosial seseorang, seperti
anak cepat merasakan keadaan atau permasalahan orang lain
yang mengalami suatu problema (permasalahan)”
c. Imitasi dapat mendorong seseorang untuk berbuat baik. Pada
buku Psikologi Pendidikan dijelaskan bahwa: “Sikap seseorang
yang berusaha meniru bagaimana orang yang merasakan
keadaan orang lain maka ia berusaha meniru bagaimana orang
32

yang merasakan sakit, sedih, gembira, dan sebagainya. Hal ini


penting didalam membentuk rasa kepedulian seseorang.

Pendorong sikap peduli harus di awali dengan keluarga jika


keluarga memberikan contoh yang baik maka anak nya pula mengikuti
contoh kedua orangtuanya mempunyai sikap peduli terhadap orang lain yang
membutukan bantuan. Situs online (http://dimas-p-a-
fib11.web.unair.ac.id/artikeldetail-104726-etika%20dan%20kepribadian-
kepedulian%20sosial.html. Di akses minggu 04 juni 2017 pukul 13.15)
menyebutka ada beberapa hal yang merupakan hambatan kepedulian sosial,
diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Egoisme
Egoisme merupakan doktrin bahwa semua tindakan seseorang terarah atau
harus terarah pada diri sendiri
2. Materialistis
Merupakan sikap perilaku manusia yang sangat mengutamakan materi
sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hidupnya. Demi mewujudkan itu
mereka umumnya tidak terlalu mementingkan cara untuk
mendapatkannya.
Dapat disimpulkan bahawa factor pendorong sikap peduli adalah
sikap perilaku manusia yang sangat mengutamakan materi sebagai sarana
pemenuhan kebutuhan hidupnya.
d. Faktor penghambat peduli
Kepedulian merupakan fenomena universal, dimana sebuah
perasaan yang secara alami menimbulkan pikiran tertentu dan mendorong
perilaku tertentu di seluruh budaya di dunia. Faktor-faktor penghambat sikap
peduli, yaitu:
1. Budaya mempengaruhi bagaimana kepedulian tersebut
diekspresikan dan diwujudkan ke dalam tindakan. Budaya
mengendalikan bagaimana aksi atau tindakan tersebut
diwujudkan. Penerimaan sosial dan harapan sosial juga
mempengaruhi bagaimana kepedulian diberikan di tempat
tertentu.
33

2. Nilai yang dianut oleh individu berpengaruh terhadap proses


pengambilan keputisan bagi seseorang, seperti bagaimana
menentukan prioritas, mengatur keuangan, waktu dan tenaga.
Motvasi, maksud dan tujuan juga bergantuk pada nilai yang
dianut.
3. Faktor selanjutnya merupakan harga. Harga apa yang kita
dapatkan ketika kita bersedia memberikan waktu, tenaga,
bahkan uang, harus sesuai dengan nilai dari hubungan kita
dengan orang lain. Kepedulian yang sungguh-sungguh tidak
akan membuat waktu, uang, dan tenaga yang bersedia kita
berikan menjadi sia-sia atau tidak bijaksana. Untuk mencapau
suatu tujuan yang sangat penting (misalnya demi keselamatan
nyawa), orang yang peduli mungkin akan melukai dirinya
sendiri. Tetapi mengarah kepada hal yang membahayakan tentu
saja bukan termasuk wujud dari kepedulian.
faktor yang menyebabkan turunnya kepedulian sosial adalah karena
kemajuan teknologi, menurut Buchari Alma, dkk (2010, hlm 209) adalah:
a. Internet
Dunia maya yang sangat transparan dalam mencari suatu informasi
malah menjadi sarana yang menyebabkan lunturnya kepedulian
sosial.
b. Sarana hiburan
Seiring kemajuan dengan teknologi maka dunia hiburan akan turut
berkembang
c. Tayangan tv
Televisi merupakan salah satu sarana untuk mencari hiburan dan
memeperoleh informasi yang up to date, namun sekarang ini
banyak tayangan d tv yang tidak mendidik anak.
d. Masuknya budaya barat
e. Pengaruh budaya barat yang bersifat immaterial dan cenderung
bersebrangan dengan budaya timur akan mengakibatkan
34

norma-norma dan tata nilai kepedulian yang semakin


berkurang.
Berdasarkan teori diatas dapat di simpulkan bahwa faktor
penghambat kepedulian sosial merupakan perubahan tingkah laku yang
merusak moral tehdap tingkah laku seseorang terutama di kehidupan sehari-
hari anak tersebut.
e. Upaya meningkatkan sikap peduli
Upaya meningkatkan sikap peduli sosial menurut Kusnaed (2013,
hlm. 134-135) adalah dengan pengembangan karakter peduli sosial sebagai
berikut:
a. Penanaman nilai peduli sosial, yaitu dengan menanamkan nilai-
nilai pentingnya peduli sosial melalui pendidikan semua mata
pelajaran dalam teori, maupun praktek pengajaran.
b. Penguatan nilai peduli sosial
c. Pembiasaan mengembangkan peduli sosial
d. Pemberian keteladanan dalam peduli sosial, yaitu guru menjadi
contoh dalam bersikap dan bertindak peduli paa lingkungan
sosial dalam kelas maupun diluar kelas. Misal memberikan
contoh ikut melayat orang sakit dan meninggal dan ikut serta
dalam penggalangan dana bencana.

Dari teori di atas dapat disimpulkan bahwa upaya untuk


meningkatkan sikap peduli dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu:
a. menciptakan pembelajaran yang didalamnya terdapat
pengembangan sikap peduli social.
b. memberikan teladan atau contoh sikap peduli sosial secara
langsun
c. memperlihatkan dan mengamati, fenomena masalah-masalah
sosial dilingkungan lokal, nasional maupun global
d. Melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan
sikap peduli.
6. Sikap Tanggung Jawab
a. Definisi Tanggung Jawab
Definisi sikap tanggung jawab sebagaimana dijelaskan Hermawan
Aksan (2014, hlm. 105) “Tanggung jawab adalah sikap dan perilaku
seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajiban yang harus dia lakukan,
baik terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat, lingkungan, Negara, maupun
Tuhan Yang Maha Esa”.
35

Sedangkan sikap tanggung jawab menurut (Sugeng Istanto 2010)


pertanggungjawaban berarti kewajiban memberikan jawaban yang merupakan
perhitungan atas semua hal yang terjadi dan kewajiban untuk memberikan
pemulihan atas kerugian yang mungkin ditimbulkannya.
Berdasarkan definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa tanggung
jawab adalah sikap seseorang untuk melaksanakan dan menanggung
kewajiban yang harus dia lakukan.
b. Karakteristik Tanggung Jawab
Karakteristik tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan
tingkah laku atau perbuatannya yang di sengaja maupun yang tidak di
sengaja.tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran
akan kewajiban. Sikap tanggung jawab mempunyai karakteristik sebagaimana
dijelaskan (Sugeng Istanto 2010) yaitu :
a. Usaha melaksanakan kewajiban degan hasil kerja yang bermutu
b. Kesediaan menanggung resiko
c. Pengikatan diri pada tugasKeterikatan sosial.
Sependapat dengan (Sukiat, 2010) karakteristik tanggung jawab
yaitu :
a. Hasil kerja yang bermutu,
b. Kesediaan menanggung resiko,
c. Pengikatan diri pada tugas,
d. Tujuan hidup,
e. Kedirian, dan
f. Keterikatan sosial
Dari kedua teori diatas dapat disimpulkan bahwa karakteristik dari
tanggung jawab adalah :
a. Hasil kelja yang bermutu,
b. Kesediaan menanggung resiko,
c. Pengikatan diri pada tugas,
d. Pengikatan diri pada tugas Keterikatan sosial
36

c. Faktor Pendorong Tanggung Jawab


Faktor pendorong eksternal pembentukan karekter tanggung jawab
menurut (Heri 2010) yaitu:
1. Penghargaan
2. Memberi memotivasi
3. Menanamkan nilai moral
4. Saling mengingatkan dengan ketulisan hati
Faktor pendorong internal pembentukan karekter tanggung jawab
menurut (Rini Andriyani 2014) yaitu:
1. Kasih sayang
2. Pemberian ruang untuk pengembangan diri
3. Kepercayaan
4. Berinteraksi secara positif
5. Kerja sama
6. Saling berbagi
Dari kedua teori diatas dapat disimpulkan bahwa faktor pendorong
pada pembentukan karakter tanggung jawab adalah :
1. Kasih sayang
2. Pemberian ruang untuk pengembangan diri
3. Kepercayaan
4. Berinteraksi secara positif
5. Kerja sama
6. Saling berbagi
7. Penghargaan
8. Memberi memotivasi
9. Menanamkan nilai moral
10. Saling mengingatkan dengan ketulisan hati
d. Faktor Penghambat Sikap Tanggung Jawab
Faktor eksternal penghambat pembentukan karekter tanggung
jawab menurut (Heri 2010) yaitu:
1. Pengaruh lingkungan sebaya
2. Media massa
37

3. Substansi materi di sekolah atau lembaga pendidikan lain


4. Pemodelan oleh orang dewasa atau orang yang lebih tua
Faktor internal penghambat pembentukan karekter tanggung jawab
menurut (V. Campbell dan R. Obligasi 1982 dalam Rini Andriani) yaitu:
1. Faktor keturunan
2. Pengalaman masa kanak-kanak
3. Lingkungan fisik dan sosial
Dari kedua teori diatas dapat disimpulkan bahwa faktor
penghambat pada pembentukan karakter tanggung jawab adalah :
1. Faktor keturunan
2. Pengalaman masa kanak-kanak
3. Lingkungan fisik dan sosial
4. Pengaruh lingkungan sebaya
5. Media massa
6. Substansi materi di sekolah atau lembaga pendidikan lain
7. Pemodelan oleh orang dewasa atau orang yang lebih tua
e. Upaya Meningkatkan Sikap Tanggung Jawab
Upaya meningkatkan sikap tanggung jawab yaitu Biarkan anak
mengambil keputusan dengan dengan uang yang dimilikinya pada saat anak
masih kecil. Sebagaimana dijelaskan Peters dikutip Sudjana (dalam Helda
Agustiana, 2015 hlm. 25) menyebutkan tugas dan tanggung jawab guru,
yaitu:
1. Guru sebagai pengajar.
2. Guru sebagai pembimbing.
3. Guru sebagai administrator.
Adapun tanggung jawab guru menurut Hamalik (dalam Helda
Agustiana, 2015 hlm. 25-27) yaitu:
1. Guru harus menuntut murid-murid belajar.
2. Turut serta membina kurikulum sekolah.
3. Melakukan pembinaan terhadap diri siswa (kepribadian, watak
dan jasmaniah).
4. Memberikan bimbingan kepada murid.
5. Melakukan diagnosis atas kesulitan-kesulitan belajar dan
mengadakan penilaian atas kemajuan belajar.
6. Menyelenggarakan penelitian.
38

7. Mengenal masyarakat dan ikut serta aktif.


8. Mengahyati, mengamalkan dan mengamankan Pancasila.
9. Turut serta membantu terciptanya kesatuan dan persatuan
bangsa dan perdamaian dunia.
10. Turut menyukseskan pembangunan.

Berdasarkan kedua teori diatas dapat simpulkan bahwa upaya


meningkatkan tanggung jawab siswa adalah tanggung jawab guru sebagai
pengajar, pembimbing dan administrator, guru mengemban banyak tanggung
jawab dalam proses bimbingan kepada murid.
7. Pemahaman
a. Definisi Pemahaman
Pemahaman ini bisa di dapatkan dengan melakukan pengamatan
yang dilakukan secara empiris dan rasional. Pengetahuan ini juga dapat
berkembang menjadi pengetahuan deskriptif bila seseorang dapat melukiskan
dan menggambarkan segala ciri, sifat, dan gejala yang ada pada objek
tersebut. Sebagaiamana dijelaskan oleh (Bloom Benyamin, 1975, hlm. 89)
Sehingga dapat diartikan bahwa pemahaman adalah suatu proses, cara
memahami cara mempelajari baik-baik supaya paham dan pengetahuan
banyak.
Sependapat dengan Poesprodjo (1987, hlm. 52-53) yang
menyatakan bahwa pemahaman bukan kegiatan berpikir semata, melainkan
pemindahan letak dari dalam berdiri disituasi atau dunia orang lain.
Mengalami kembali situasi yang dijumpai pribadi lain
didalam erlebnis (sumber pengetahuan tentang hidup, kegiatan melakukan
pengalaman pikiran), pengalaman yang terhayati. Pemahaman merupakan
suatu kegiatan berpikir secara diam-diam, menemukan dirinya dalam orang
lain.
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa
Pengetahuan yang lebih menekankan pengamatan dan pengalaman indera
dikenal sebagai pengetahuan empiris pengetahuan ini bisa di dapatkan dengan
melakukan pengamatan yang dilakukan secara empiris dan rasional.
Pengetahuan ini juga dapat berkembang menjadi pengetahuan deskriptif bila
39

seseorang dapat melukiskan dan menggambarkan segala ciri, sifat, dan gejala
yang ada pada objek tersebut.
b. Karakteristik Pemahaman
Karakteristik pemahaman yaitu pemahaman lebih tinggi dari
pengetahuan, Pemahaman bukan hanya sekedar mengingat fakta, akan tetapi
berkenaan dengan menjelaskan makna atau suatu konsep. Dapat
mendeskripsikan, mampu menerjemahkan. Mampu menafsirkan,
mendeskripsikan secara variabel. Pemahaman eksplorasi, mampu membuat
estimasi. Sebagaiamana dijelaskan oleh Wina Sanjaya (2008, hlm. 45)
mengatakan pemahaman memiliki karakteristik sebagai berikut :
1) Pemahaman lebih tinggi dari pengetahuan
2) Pemahaman bukan hanya sekedar mengingat fakta, akan tetapi berkenaan
dengan menjelaskan makna atau suatu konsep.
3) Dapat mendeskripsikan, mampu menerjemahkan.
4) Mampu menafsirkan, mendeskripsikan secara variabel.
5) Pemahaman eksplorasi, mampu membuat estimasi.
Berdasakan pendapat di atas maka dapat disimpulkan Pemahaman
lebih tinggi dari pengetahuan, Pemahaman bukan hanya sekedar mengingat
fakta, akan tetapi berkenaan dengan menjelaskan makna atau suatu konsep.
Dapat mendeskripsikan, mampu menerjemahkan. Mampu menafsirkan,
mendeskripsikan secara variabel. Pemahaman eksplorasi, mampu membuat
estimasi.
c. Faktor Pendorong Pemahaman
Faktor pendorong pemahaman adalah kematangan, pertumbuhan,
cara mengajar, alat-alat yang digunakan dalam belajar, faktor psikologis,
suasana. Sebagaiamana dijelaskan oleh Benyamin Bloom adalah Ningrum,
E.F. (2015, hlm. 32) faktor pendorong pemahaman konsepmenurut terbagi
menjadi dua, yaitu faktor eksternal, faktor internal yang mendorong
pemahaman siswa adalah faktor psikologis (intelegensi, perhatian, minat,
bakat, kematangan dan kesiapan) sedangkan faktor eksternal adalah keluarga
sebagai dorongan utama karena orang tua yang pertama mendidik, relasi
antara anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi, perhatian orang
40

tua dan yang selanjutnya yaitu sekolah karena pendorong pemahaman siswa
dilihat dari bagaimana metode mengajar yang diterapkan serta kurikulum
yang digunakan.
Sependapat dengan Ngalim purwanto dalam Fatimah, N.N. (2016,
hlm. 34.) menyatakan faktor-faktor pendorong pemahaman digolongkan
menjadi dua yaitu :
1. Faktor yang ada dalam organisme itu sendiri yang kita sebut
faktor individual, yang termasuk dalam faktor individual antara
lain kematangan atau pertumbuhan, kecerdasan latihan,
motivasi dan faktor pribadi.
2. Faktor yang ada di luar individu atau yang kita sebut faktor
sosial, yang termasuk faktor sosial ini antara lain kelaurga atau
keadaan rumah tangga, guru dan cara mengajar, alat-alat yang
digunakan dalam belajar, lingkungan dan kesempatan yang
tersedia serta motivasi sosial.
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan faktor
pendorong pemahaman adalah kematangan, pertumbuhan, cara mengajar,
alat-alat yang digunakan dalam belajar, faktor psikologis, suasana rumah, dan
keadaan ekonomi. faktor eksternal yang mendorong pemahaman siswa yaitu
faktor psikologis diantaranya perhatian, minat, bakat, kematangan dan
kesiapan. Faktor internal yaitu keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi.
d. Faktor Penghambat Pemahaman
Faktor penghambat pemahaman yaitu Faktor jasmani, Kecerdasan,
daya tangkap, minat, bakat, faktor psikis, Faktor lingkungan faktor
keagamaan. Sebagaiamana dijelaskan oleh Suryani, D. (2015, hlm.31) faktor
yang menghambat pemahaman siswa menurut sebagai berikut :
1. Faktor internal
a. Faktor jasmani (fisiologi) meliputi keadaan panca indera yang tidak sehat
(cacat/gangguan).
b. Faktor psikologis meliputi keintelektual (kecerdasan), minat bakat, dan
potensial prestasi yang dimiliki.
c. Faktor kematangan fisik atau psikis.
41

2. Faktor eksternal (dari luar diri)


a. Faktor sosial meliputi: lingkungan keluarga, lingkungan sekolah,
lingkungan kelompok, dan lingkungan masyarakat.
b. Faktor budaya meliputi : adat istiadat, ilmu pengetahuan teknologi dan
kesenian.
c. Faktor lingkungan fisik meliputi: fasilitas rumah dan sekolah.
d. Faktor lingkungan spiritual (keagamaan).

Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan faktor


penghambat yaitu :
1. Faktor jasmani
2. Kecerdasan, daya tangkap, minat, bakat.
3. Faktor psikis.
4. Faktor lingkungan
5. Faktor keagamaan.
e. Upaya Meningkatkan Pemahaman
Upaya meningkatkan pemahaman yaitu Merangsang minat bakat
siswa, membuat pembelajaran aktif kreatif dan menyenangkan, guru
menyediakan media yang inovatif sehingga meniptakan suasana yang
berbeda. Sebagaiamana dijelaskan oleh Chusini, A. DKK, (2013, hlm. 25)
menyatakan bahwa upaya untuk meningkatkan pemahaman siswa sebagai
berikut:
1. Memotivasi siswa dalam pembelajaran
2. Guru membuat pembelajaran lebih kreatif
3. Membuat pembelajaran yang aktif
4. Menumbuhkan sikap kreatif
5. Guru menyediakan media yang inovatif
Sependapat dengan Suryani, D (2015, hlm. 21) yang menyatakan
upaya guru yang dilakukan untuk meningkatkan pemahaman adalah sebagai
berikut:
1. Menciptakan suasana yang berbeda sehingga memunculkan ketertarikan
pada siswa untuk belajar.
42

2. Guru memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengembangkan


pengetahuannya, bisa dengan bertanya jawab, atau berdiskusi dengan
teman.
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan upaya
meningkatkan pemahaman yaitu:
1. Merangsang minat bakat siswa
2. Membuat pembelajaran aktif kreatif dan menyenangkan.
3. Guru menyediakan media yang inovatif sehingga meniptakan suasana
yang berbeda.
8. Mengkomunikasikan
a. Definisi Mengkomunikasikan
Mengkomunikasikan merupakan modal dan kunci sukses dalam
pergaulan dan karier karena hanya dengan komunikasi sebuah hubungan baik
dapat dibangun dan dibina. Keterampilan komunikasi adalah keterampilan
utama yang harus dimiliki untuk mampu menjalani hubungan yang sehat
dimana saja, dilingkungan sosial, sekolah, usaha perkantoran, dll. Ruang
lingkup keterampilan berkomunikasi meliputi: Komunikasi lisan, tulisan, non
Verbal. Sebagaimana dijelaskan oleh Bondy dan Frost (2002, hlm. 25)
mengatakan bahwa tujuan komunikasi adalah untuk mengungkapkan
keinginan, mengekspresikan perasaan dan bertukar informasi.
Sependapat dengan Roswhite (1986, hlm. 52) yang menjyatakan
komunikasi sebagai proses dua arah yang melibatkan seseorang yang
memberi pesan dan orang lain yang menerima dan bertingkah laku sesuai
pesan tersebut.
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa
komunikasi merupakan modal dan kunci sukses dalam pergaulan dan karier
karena hanya dengan komunikasi sebuah hubungan baik dapat dibangun dan
dibina. Keterampilan komunikasi adalah keterampilan utama yang harus
dimiliki untuk mampu menjalani hubungan yang sehat dimana saja,
dilingkungan sosial, sekolah, usaha perkantoran, dll. Ruang lingkup
keterampilan berkomunikasi meliputi: Komunikasi lisan, tulisan, non Verbal
43

b. Karakteristik Mengkomunikasikan
Karakteristik mengkomunikasikan yaitu menyampaikan ide dan
pesan dengan jelas dan tidak berbelit-belit pembicara yang baik dapat
mengkomunikasikan idenya dengan simpel. Walaupun sepeerti itu tetap
pembicara harus memperhatikan isi dari pembicaraanya tidak hanya simpel
tetapi harus bermakna. Sebagaiamana dikemukakan oleh Ibstisam, F. (2017,
hlm. 41) mengemukakan ketika seseorang memiliki keterampilan
berkomunikasi yang baik maka akan memiliki ciri-ciri sebagaimana yang
telah adalah :
1. Pendengaran yang baik.
ketika seseorang menghargai orang lain, maka dia akan
memberi kesempatan orang lain untuk berbicara/
menyampaikan sesuatu serta memperhatikan apa yang
disampaikannya itu mutlak diperlukan.
2. Menyampaikan ide dan pesan dengan jelas dan tidak berbelit-
belit pembicara yang baik dapat mengkomunikasikan idenya
dengan simpel. Walaupun sepeerti itu tetap pembicara harus
memperhatikan isi dari pembicaraanya tidak hanya simpel
tetapi harus bermakna.
3. Kemampuan bahasa yang baik
Bahasa menjadi modal utama dalam berkomunikasi, oleh
karena itu bahasa yang digunakan harus jelas objek, predikat
dan objeknya. Karena kemampuan bahasa yang minim akan
menyukitkan kita untuk berkomunikasi.
4. Gaya berkomunikasi sesuai dengan lawan bicaranya dan sikon
pembicara harus bisa mengetahui siapa lawan bicaranya dan
paham bagaimana situasi dan kondisinya.
5. Paham akan gestur (non verbal) diri sendiri dan orang lain
Komunikasi tidak hanya verbal dan tulisan tetapi bagaimana
kita menggunakan gestur kita pada saat berkomunikasi dan
paham akan gestur orang lain yang mungkin memberikan
sinyal kepada kita.
44

6. Froendly
Orang yang memiliki ketermapilan berkomunikasi juga
memiliki ciri mudah bersahabat, karena orang yang memiliki
keterampilan pasti membuat orang-orangdisekitarnya nyaman
seperti menghargai, dan terbuka dalam berdiskusi.
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahasa
menjadi modal utama dalam berkomunikasi, oleh karena itu bahasa yang
digunakan harus jelas objek, predikat dan objeknya. Karena kemampuan
bahasa yang
7. Faktor Pendorong Mengkomunikasikan
Faktor pendorong mengkomunikasikan yaitu kecakapan yang harus
dimiliki komunikator adalah mampu menyampaikan materi, pemilihan
informasi/ data dan teknik berbicara maupun cakap membangkitkan minat
pendengar, sehingga mampu menarik perhatian pendengar. Sebagaiamana
dijelaskan oleh Scott M. Cultip & Allen H. Center (2009, hlm. 44) dalam
bukunya Effective Public Relations komunikator dengan kondisi fisik sehat
dan tidak cacat akan menunjang keberhasilan dalam melakukan komunikasi.
Agar komunikasi bisa efektif, ada 7 faktor yang harus diperhatikan (the seven
communication), adalah sebagai berikut:
1. Credibility (Kepercayaan)
Dalam komunikasi antara komunikator dan komunikan harus
saling mempercayai, kalau tidak ada unsur saling
mempercayai, komunikasi tidak akan berhasil, karena dengan
tidak adanya rasa saling percaya akan menghambat
komunikasi.
2. Context (perhubungan/ pertalian)
Keberhasilan komunikasi berhubungan erat dengan situasi
kondisi lingkungan saat komunikasi berlangsung.
3. Content (isi)
Komunikasi harus dapat menimbulkan kepuasan antara kedua
belah pihak, kepuasan ini akan tercapai apabila isi berita dapat
dimengerti oleh pihak komunikasi dan sebaliknya pihak
komunikan mau memberikan reaksi atau respons kepada pihak
komunikator.
4. Clarity (kejelasan)
Kejelasan yang meliputi kejelasan isi berita, kejelasan tujuan
yang hendak dicapai, kejelasan istilah-istilah yang digunakan
dalam menggunakan lambang-lambang.
5. Continuity and consistency (kesinambungan dan konsisten)
45

Komunikasi harus dilakukan secara terus menerus dan


informasi yang disampaikan jangan bertentangan dengan
informasi terdahulu (konsisten).
6. Capability of audience (kemampuan pihak penerima berita)
Pengiriman berita harus disesuaikan dengan kemampuan dan
pengetahuan pihak penerima berita, jangan menggunakan
istilah-istilah yang mungkin tidak dimengerti oleh penerima
berita.
7. Channels of distribution (saluran pengiriman berita)
Agar komunikasi berhasil, hendaknya dipakai saluran-saluran
komunikasi yang sudah biasa digunakan dan sudah dikenal
oleh umum. Misal: media cetak, televisi dan telepon.
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan faktor
pendorong mengkomunikasikan yaitu :
1. Kecakapan komunikator
Kecakapan yang harus dimiliki komunikator adalah mampu
menyampaikan materi, pemilihan informasi/ data dan teknik
berbicara maupun cakap membangkitkan minat pendengar,
sehingga mampu menarik perhatian pendengar.
2. Pengetahuan
Komunikator mempunyai pengetahuan yang luas, sehingga
menguasai materi yang disampaikan.
3. Sikap
Komunikator harus bersikap supel, ramah dan tegas.
4. Sistem social
Komunikator harus mampu menyesuaikan diri dengan situasi
dan kondisi masyarakat dimana dia berbicara. Dengan
demikian, komunikator akan mampu memahami dengan siapa
dia berbicara dan bagaimana kebiasaannya.
5. Faktor Penghambat Mengkomunikasikan
Faktor yang menghambat komunikasi adalah kecakapan kurang,
kurang mendengarkan dapat menghambat jalannya komunikasi sebagaimana
dijelaskan Abdorrakhman Ginting (2010, hlm. 134) ada beberapa hambatan
yang terjadi pada mengkomunikasi, yaitu:
1. Hambatan semantic atau hambatan bahasa yaitu gangguan yang
diakibatkan oleh kesenjangan pemahaman atau kesalahan dalam
46

mentransfer pesan oleh komunikan, hal ini diakibatkan oleh


penggunaan kata yang tidak tepat atau perbedaan terhadap
istilah tertentu.
2. Hambatan saluran mempengaruhi keutamaan fisik symbol-
simbol ang dikirim oleh komunikator kepada komunikan
misalnya kesalahan cetak dalam buku pembelajaran,
terganggunya suara guru atau siswa karena kebisingan yang
terjadi di dalam kelas, tidak telihatnya tulisan guru dipapan tulis,
dll. Hal ini merupakan gangguan atau hambatan saluran
komunikasi dalam belajar dan pembelajaran.
3. Hambatan sistem, sekalipun tidak terjadi hambatan semantic
atau hambatan saluran, yaitu pesan yang disampaikan tidak akan
tiba pada pihak yang memerlukan informasi yang tepat dan
cepat jika tidak tersedia sistem formal yang efektif.
4. Hambatan hubungan interpersonal, terkait dengan hambatan
sistem sikap seseorang dalam memandang arti dan manfaat
komunikasi akan menentukan apakah ia mendukung atau justru
menghindarkan komunikasi. Sikap tertutup guru atau sikap
tertutupnya siswa akan menjadi hambatan komunikasi siantara
guru dan siswa yang berujung kurang kondusifnya suasana
belajar. Bagaimanapun hal ini akan berpengaruh terhadap hasil
belajar siswa.
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan Faktor yang
menghambat komunikasi adalah kecakapan kurang, kurang mendengarkan
dapat menghambat jalannya komunikasi. Untuk mengatasinya harus banyak
belajar dan berlatih berbicara, menulis, baik teori maupun praktek, sikap yang
kurang tepat sikap kurang baik dan kurang tepat dapat mengurangi
komunikasi. Cara mengatasinya adalah dengan sikap yang simpatik dan muka
manis.
B. Hasil Penelitian Terdahulu
Ditunjang dari peneliti terdahulu yang menggunakan model project
based learning dengan hasil penelitian dikatakan meningkat sesuai indikator
47

keberhasilan. berikut adalah 5 peneliti yang menggunakan model project


based learning diantaranya yaitu :
1. Hasil Penelitian Afianti Dyah Anjarsari (2016)
Penelitian kelas IV oleh Afianti Dyah Anjarsari Universitas Muria
Kudus Tahun 2016 dengan Judul Penerapan Model Project Based
Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ipa Materi Struktur
Tumbuhan Pada Siswa Kelas IV SD N 2 Bulucangkring Jekulo Kudus.
Penelitian ini bertujuan untuk 1. Mengetahui hasil belajar IPA
materi struktur tumbuhan pada siswa kelas IV SD N 2
Bulungcangkring Jekulo Kudus sebelum dan sesudah penggunaan
Model Project Based Learning. 2. Mengetahui keterampilan guru
dalam penggunaan Model Project Based Learning materi struktur
tumbuhan pada siswa kelas IV SD N 2 Bulungcangkring Jekulo
Kudus. Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan metode belajar yang
menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan
dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya
dalam beraktivitas secara nyata. Pembelajaran berbasis proyek
dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang
diperlukan peserta didik dalam melakukan investigasi dan
memahaminya. Hasil belajar adalah hasil penilaian kegiatan belajar
yang dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf maupun kalimat
yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap siswa
dalam periode tertentu pada mata pelajaran yang tersusun secara alam.
Perkembangan IPA tidak hanya ditandai dengan adanya fakta, tetapi
juga oleh adanya metode ilmiah dan sikap ilmiah. Metode ilmiah dan
pengamatan ilmiah menekankan pada hakikat IPA. Hipotesis
penelitian ini adalah: 1. Penerapan model project based learning dapat
meningkatkan hasil belajar IPA materi struktur tumbuhan pada siswa
kelas IV SD N 2 Bulungcangkring Kecamatan Jekulo Kudus Tahun
Pelajaran 2014/ 2015. 2.
Penerapan model project based learning dapat meningkatkan
keterampilan guru materi struktur tumbuhan pada siswa kelas IV SD N
48

2. Bulungcangkring Kecamatan Jekulo Kudus Tahun Pelajaran 2014/


2015. Penelitian yang dilaksanakan merupakan Penelitian Tindakan
Kelas (PTK). Penelitian ini berlangsung selama 2 siklus, setiap siklus
dilaksanakan 4 kali pertemuan terdiri dari empat tahap yaitu:
perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Subjek dalam
penelitian ini adalah siswa kelas SD N 2 Bulungcangkring Kecamatan
Jekulo Kabupaten Kudus. Pada penelitian ini subjek penelitian adalah
siswa kelas IV SD N 2 Bulungcangkring sebanyak 16 orang. Teknik
pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan
dokumentasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
analisis data deskriptif kualitatif. Penelitian tindakan kelas dengan
menerapkan model Project Based Learning dapat memperbaiki hasil
belajar pada siswa kelas IV SD N 2 Bulungcangkring Kudus pada mata
pelajaran IPA materi Struktur Tumbuhan.
Hal ini terbukti dengan adanya perubahan ketuntasan tes hasil
belajar kognitif siswa di xii setiap siklusnya. Siklus I dengan
persentase klasikal 37,5% (kurang) dan siklus II dengan persentase
klasikal 87,5% (sangat baik). Hasil belajar siswa ranah afektif
meningkat dari siklus I ke siklus II yaitu memperoleh persentase
sebesar 66,75% (baik), sedangkan pada siklus II memperoleh
persentase sebesar 78% (baik). Hasil belajar siswa ranah psikomotorik
meningkat dari siklus I ke siklus II yaitu memperoleh persentase
sebesar 65,65% (baik), sedangkan pada siklus II memperoleh
persentase sebesar 78,05% (baik). Kesimpulan dalam Penelitian
tindakan kelas dengan menerapkan model Project Based Learning
dapat memperbaiki hasil belajar pada siswa kelas IV SD N 2
Bulungcangkring Kudus pada mata pelajaran IPA materi Struktur
Tumbuhan. Saran yang dapat diberikan yaitu: 1) Bagi Guru, Guru
harus terus berusaha meningkatkan hasil belajar siswa salah satunya
dengan menerapkan model Project Based Learning yang dapat
meningkatkan keaktifan siswa, minat belajar, kreativitas dan daya
imajinasi. 2) Bagi Siswa, Siswa diharapkan mempunyai kesadaran dan
49

motivasi dalam belajar untuk kepentingan diri siswa sendiiri. 3) Bagi


Sekolah, Penelitian ini diharapkan mampu memicu berkembangnya
penelitian-penelitian lain yang lebih kreatif dan inovatif, khususnya
terhadap pembelajaran IPA.
2. Hasil Penelitian I Gusti Ayu Jayanti Kusuma (2015)
Penelitian kelas VI oleh I Gusti Ayu Jayanti Kusuma1, Ni Wayan
Suniasih2, Made Putra3. Dengan judul Penerapan Model Project
Based Learning Berbantuan Media Audiovisual Untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Ipa Tema Tempat Tinggalku Siswa Kelas IVB SDN 17
Dauh Puri Denpasar.
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar
IPA melalui penerapan model project based learning berbantuan
media audiovisual siswa kelas IVB SDN 17 Dauh Puri tahun ajaran
2015/2016. Jenis penelitian ini adalah PTK yang dilaksanakan dalam
dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu tahap
perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Subjek
penelitian adalah siswa kelas IVB SDN 17 Dauh Puri yang berjumlah
36 siswa, terdiri dari 12 siswa perempuan dan 24 siswa laki-laki.
Pengumpulan data dilakukan dengan metode tes untuk
mengukur kompetensi pengetahuan dan metode observasi untuk
kompetensi keterampilan IPA dan kompetensi sikap dalam belajar
IPA. Data hasil belajar IPA dianalisis menggunakan metode analisis
deskriptif kuantitatif dan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian
menunjukkan terjadinya peningkatan ketuntasan klasikal kompetensi
pengetahuan IPA dari 77,78% pada siklus I menjadi 97,20% pada
siklus II dengan kata lain terjadi peningkatan 19,42%.
Hasil penelitian kompetensi keterampilan menunjukkan
adanya peningkatan kuantitas siswa yang memenuhi indikator
kompetensi keterampilan IPA. Kemudian, secara umum data hasil
belajar kompetensi sikap dalam belajar IPA menunjukkan seluruh
siswa memiliki sikap yang baik dan bertambahnya kuantitas siswa
yang memenuhi indikator kompetensi sikap dalam belajar IPA.
50

Peningkatan hasil belajar IPA terjadi dari pra siklus ke siklus I


maupun dari siklus I ke siklus II. Berdasarkan hasil analisis data dapat
disimpulkan bahwa melalui penerapan project based learning
berbantuan media audiovisual terbukti dapat meningkatkan hasil
belajar IPA siswa kelas IVB SDN 17 Dauh Puri.
3. Hasil Penelitian Hanung Setya Wibowo (2015)
Penelitian kelas V oleh Hanung Setya Wibowo1), Kartono2),
M.Ismail Sriyanto3). (2015). Dengan judul Penerapan Model Project
Based Learning (PjBL) Untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis
Deskripsi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan
menulis deskripsi pada siswa kelas V SDN Pajang II Surakarta
melalui model pembelajaran tipe PjBL (Project-Based Learning)
tahun ajaran 2014/2015. Bentuk penelitian ini adalah penelitian
tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Tiap siklus terdiri
dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan
refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas V yang berjumlah 41
siswa dan guru kelas V SDN Pajang II Surakarta. Sumber data berasal
dari siswa dan guru.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah hasil observasi,
wawancara, dokumentasi, dan tes. Validitas data yang digunakan
adalah triangulasi sumber data dan triangulasi metode. Analisis data
menggunakan teknik deskriptif komparatif dan teknik analisis kritis.
Hasil pretest menunjukan persentase ketuntasan siswa kelas hanya
sebesar 36,58%. Pada siklus I, persentase ketuntasan kelas sebesar
68,30% dan pada siklus II, persentase ketuntasan kelas sebesar
82,93%. Simpulan penelitian ini adalah penggunaan model
pembelajaran PjBL (Project-Based Learning) dapat meningkatkan
keterampilan menulis deskripsi pada siswa kelas V SDN Pajang II
Surakarta tahun ajaran 2014/2015.
4. Hasil Penelitian Ni Wayan Ari Septiasih ( 2015)
51

Penelitian kelas V oleh Ni Wayan Ari Septiasih1, I Gusti Ngurah


Japa2, Ni Wayan Arini3. Dengan judul Penerapan Project Based
Learning Berbantuan Video Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil
Belajar Ipa Di SD.
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas belajar dan
hasil belajar IPA dengan menerapkan model pembelajaran project
based learning berbantuan media video pembelajaran pada siswa
kelas V tahun pelajaran 2015/2016 di SDN 1 Tukadmungga. Jenis
penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan
dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri atas tahap perencanan,
pelaksanan, observasi/evaluasi, dan refleksi. Pengumpulan data dalam
penelitian ini dilakukan dengan metode observasi dan tes.
Data dianalisis dengan metode analisis statistik deskriptif. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan persentase
aktivitas belajar dan hasil belajar IPA pada siswa kelas V di SDN 1
Tukadmungga. Berdasarkan observasi aktivitas belajar, persentase
ratarata aktivitas belajar siswa pada siklus I sebesar 66,36% (cukup
aktif), dan persentase rata-rata aktivitas belajar siswa pada siklus II
sebesar 83,08% (aktif), Berdasarkan tes hasil belajar IPA, persentase
rata-rata hasil belajar IPA siswa pada siklus I sebesar 72,58%
(sedang), dan persentase rata-rata hasil belajar IPA siswa pada siklus
II sebesar 84,20% (tinggi). Berdasarkan penghitungan gains skor,
kualitas peningkatan aktivitas belajar pada siklus I dan siklus II
sebesar 0,50 (sedang). Kualitas peningkatan hasil belajar IPA pada
siklus I dan siklus II sebesar 0,42 (sedang).
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan
model pembelajaran project based learning berbantuan media video
pembelajaran dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar
IPA siswa kelas V di SDN 1 Tukadmungga tahun pelajaran
2015/2016.
5. Hasil Penelitian Hafizhah Lukitasari (2015)
52

Penelitian kelas IV oleh Hafizhah Lukitasari (2015). Dengan judul


Penerapan Pembelajaran Project Based Learning Berbantuan Mind
Map Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Siswa Kelas IV
SDN 01 Pekalongan Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelas IV SDN 01
Pekalongan Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga,
ditemukan permasalahan pembelajaran bahwa guru belum
menerapkan strategi belajar yang inovatif dengan menstimulus siswa
pada pembelajaran berbasis proyek, siswa kurang aktif dalam
pembelajaran karena belum diterapkan media pembelajaran yang
memancing ide dan kreatifitas siswa, serta hasil belajar siswa rendah
dengan ketuntasan klasikal sebesar 28%. Rumusan masalah dalam
penelitian ini yaitu bagaimanakah cara meningkatkan kualitas
pembelajaran menggunakan penerapan project based learning
berbantuan media mind map pada siswa kelas IV SDN 01 Pekalongan
Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga.
Penelitian menggunakan penelitian tindakan kelas yang
berlangsung dalam 3 siklus dengan 1 pertemuan di setiap siklusnya.
Setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan,
observasi dan refleksi. Subjek penelitian adalah guru dan siswa kelas
IV SDN 01 Pekalongan Kecamatan Bojongsari Kabupaten
Purbalingga. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik tes dan
nontes. Teknik analisa data menggunakan teknik analisa data
kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
keterampilan guru pada setiap siklus meningkat dengan skor pada
siklus I sebesar 22 dengan kriteria “baik”, siklus II sebesar 26 dengan
kriteria “baik”, dan siklus III sebesar 30 dengan kriteria “sangat baik”.
Aktivitas siswa juga meningkat pada setiap siklus dengan skor
pada siklus I sebesar 12,8 dengan kriteria “cukup”, siklus II sebesar
15,6 dengan kriteria “cukup, dan siklus III sebesar 15,6 dengan
kriteria “baik”. Hasil belajar pada ranah sikap spiritual dan sikap
sosial meningkat di setiap siklus dengan perolehan skor berurutan
53

pada siklus I sebesar 5,1 dan 5,5 dengan kriteria “cukup”, siklus II
sebesar 5,9 dan 5,8 dengan kriteria “cukup”, dan siklus III sebesar 7,4
dan 6,2 dengan kriteria “baik”.
Peningkatan hasil belajar ranah pengetahuan ditunjukan dengan
ketuntasan klasikal pada siklus I sebesar 58,33%, meningkat pada
siklus II sebesar 72,22%, dan meningkat pada siklus III sebesar
88,89%. Peningkatan hasil belajar ranah keterampilan ditunjukkan
dengan ketuntasan klasikal pada siklus I sebesar 63,89%, meningkat
pada siklus II sebesar 77,78%, dan meningkat pada siklus III sebesar
86,11%.
Simpulan dari penelitian ini bahwa penerapan project based
learning berbantuan media mind map dapat meningkatkan kualitas
pembelajaran meliputi keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil
belajar pada siswa kelas IV SDN 01 Pekalongan Kecamatan
Bojongsari, Kabupaten Purbalingga. Saran untuk peneliti selanjutnya
adalah dapat mengembangkan keterampilan mengajar meliputi model,
metode, dan media lainnya yang digunakan dengan muatan pelajaran
apapun.

C. Kerangka Berfikir
Hasil observasi dan wawancara dengan guru di SDN Coblong
permasalahan yang timbul dari kondisi pembelajaran pada subtema
Pemanfaatan Kekayaan Alam di Indonesia, sebagian siswa masih kesulitan
dalam proses pembelajaran berlangsung sehingga proses belajar di kelas
siswa masih merasa bosan, jenuh dan kurang aktif saat pembelajaran.
Sehingga dari aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan tidak mencapai
indicator keberhasilan, di tinjau dari buku Panduan Penilaian bahwa Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM) adalah kriteria ketuntasan belajar yang
ditentukan oleh satuan pendidikan yang mengacu pada standar kompetensi
lulusan.
Faktor penyebab rendahnya hasil belajar siswa diantaranya guru
yang kurang melibatkan siswa untuk berperan aktif dalam kegiatan
54

pembelajaran, guru hanya menggunakan metode ceramah dan guru tidak


menggunakan model pembelajaran. Masalah lainnya, ketika pembelajaran
banyak siswa yang kurang baik sikapnya dan kurang berkomunikasi dengan
baik. Berdasarkan observasi, permasalahan yang terjadi perlu segera
dilakukan tindakan pemecahan masalah. Salah satu upaya yang dapat
dilakukan adalah mengupayakan pengembangan strategi pembelajaran yang
tepat, menarik dan efektif, sehingga dapat meningkatkan keterampilan guru,
aktifitas siswa serta hasil belajar siswa yaitu dengan menggunakan model
pembelajaran Project Based Learning.
Project Based Learning adalah model pembelajaran inovatif yang
memfokuskan pada belajar kontekstual melalui kegiatan yang kompleks (
CORD dalam Sutirman, 2013 ) dan memiliki keunggulan Menurut Moursund
yang di kutip oleh Wena ( 2011 : 147 ) adalah :
1. Meningkatkan motivasi.
2. Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah.
3. Meningkatkan kemampuan studi pustaka.
4. Meningkatkan kolaborasi.
5. Meningkatkan keterampilan manejemen sumber daya.
Dengan menggunakan model Project Based Learning diharapkan
mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Adapun hasil peneliti terdahulu
yaitu menggunakan model pembelajaran Project Based Learning yaitu
Data penelitian pertama dilakukan oleh Afianti Dyah Anjarsari
(2016) bahwa model project based learning dapat meningkatkan hasil belajar
siswa.
Data penelitian kedua dilakukan oleh I Gusti Ayu Jayanti (2015)
bahwa model project based learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Data penelitian ketiga oleh Hanung Setya Wibowo (2014)
menunjukan model project based learning dapat meningkatkan hasil belajar
siswa.
Data penelitian ke empat di lakukan oleh Ni Wayan Ari Septiasih
(2015) mengusulkan model project based learning dapat meningkatkan hasil
belajar siswa.
55

Data penelitian kelima dilakukan oleh Hafizhah Lukitasari (2015)


bahwa model project based learning dapat meningkatkan kualitas
pembelajaran dengan berbantuan mind map.
Berdasarkan hasil penelitian terdahulu maka peneliti tertarik untuk
menggunakan model project based learning agar dapat meningkatkan hasil
belajar siswa.
Hasil di atas, peneliti bentuk dalam bagan model project based
learning sebuah kerangka berfikir yang akan peneliti lakukan, yaitu sebagai
berikut:
56

Kondisi Awal Tindakan Kondisi Akhir

Siklus I
Penerapan model project based
1. Rendahnya hasil learning dengan langkah-langkah : Hasil belajar
belajar siswa. 1. Mulai dengan pertanyaan esensial. siswa
2. Kurangnya sikap 2. Membuat desain rencana proyek. meningkat
peduli. 3. Membuat jadwal.
3. Kurangnya sikap 4. Memantau siswa dan kemajuan
percaya diri. 5. Menilai hasil
4. Kurangnya sikap 6. refleksi
tanggung jawab.

Siklus II
Penerapan model project based
learning dengan langkah-langkah :
1. Mulai dengan pertanyaan esensial.
2. Membuat desain rencana proyek.
3. Membuat jadwal.
4. Memantau siswa dan kemajuan
proyek.
5. Menilai hasil
6. refleksi

Siklus III
Penerapan model project based
learning dengan langkah-langkah :
1. Mulai dengan pertanyaan esensial.
2. Membuat desain rencana proyek.
3. Membuat jadwal.
4. Memantau siswa dan kemajuan
proyek.
5. Menilai hasil
6. refleksi

Gambar 2.1
Sumber Gita Mentari (2017 hlm 55)
57

D. Asumsi dan Hipotesis


1. Asumsi
Jawaban sementara dari rumusan penelitian di atas bahwa jika
menggunakan model Project Based Learning adalah tepat, karena dalam
penerapan model ini pembelajaran berbasis proyek adalah strategi yang
berpusat pada siswa yang mendorong inisiatif dan memfokuskan siswa pada
dunia nyata, dan dapat meningkatkan motivasi mereka yang dapat digunakan
pada pembelajaran kelas IV pada subtema pemanfaatan kekayaan alam di
indonesia, dengan menggunakan model pembalajaran ini dapat meningkatkan
hasil belajar siswa.
2. Hipotesis Tindakan
Hipotesis Umum
Jika guru menerapkan model pembelajaran Project Based Learning
pada subtema pemanfaatan kekayaan alam di indonesia maka hasil belajar
siswa akan meningkat.
Hipotesis Khusus
1. Jika guru menyusun (RPP) sesuai Peremendikbud No 22 tahun
2016 maka hasil belajar siswa pada subtema subtema Pemanfaatan
Kekayaan Alam di Indonesia meningkat.
2. Jika guru melaksanaan sesuai dengan langkah project based
learning pada subtema Pemanfaatan Kekayaan Alam di Indonesia
maka hasil belajar siswa kelas IV SDN Coblong akan meningkat.
3. Jika guru menerapkan model project based learning maka sikap
percaya diri siswa kelas IV SDN Coblong pada subtema
Pemanfaatan Kekayaan Alam di Indinesia akan meningkat.
4. Jika guru menerapkan model project based learning maka sikap
peduli siswa kelas IV SDN Coblong pada subtema Pemanfaatan
Kekayaan Alam di Indonesia akan meningkat. akan meningkat.
5. Jika guru menerapkan model project based learning maka sikap
tanggung jawab siswa kelas IV SDN Coblong pada subtema
Pemanfaatan Kekayaan Alam di Indonesia akan meningkat.
58

6. Jika guru menerapkan model project based learning maka aspek


pemahaman siswa kelas IV SDN Coblong pada subtema
Pemanfaatan Kekayaan Alam di Indinesia akan meningkat..
7. Jika guru menerapkan model project based learning maka aspek
keterampilan berkomunikai siswa kelas IV SDN Coblong pada
subtema Pemanfaatan Kekayaan Alam di Indonesia akan
meningkat.
8. Jika guru menerapkan model project based learning maka hasil
belajar siswa kelas IV SDN Coblong pada subtema Pemanfaatan
Kekayaan Alam di Indonesia akan meningkat.
PROFIL MTS 1 PAHLAWAN
1.sejarah sekolah
Berdiri nya MTS Negeri 1 palembang di awali dengan MTS Madiatul ulum yang
dikelolah oleh Yayasan pemdidikan Madiatul ulum (YPMU), yang berlokasi di Lorong
kedudukan bukit di daerah 35 ilir Palembang,dengan pembangunan Gedung ruang belajar
untuk pertama kalianya berlangsung pada tahun 1951.ada pun tenaga pendidik dan pengolah
terdiri dari tokoh masyarakat dan alim ulama.
Dari tanggal 1 januari 1961 hingga tanggal 20njanuari 1968 YP.MADIATUL ULUM yang
merupoakan institusi swasta dan berbadan hukum (dengan akte Tan Thongkie nomor: 8 tahun
1962)mengelola dua madrasah dalam 2 tingkatan yaitu MTS setingkat dengan STLP dan
madrasah aliya (MA) setingkat dengan SMA.selama masa tersebut kedua madrasah yang di
kelolah YPMU berkembang dengan pesat dan pada akhir menarik perhatian gubenur provinsi
ssumatra selatan , yang kala itu itu di jabat oleh H.Ahmad bastari,untuk brkunjung k madrasah
tersebut yang kemudian di tindak lanjuti dengan pembinaan dari pihak pemerintah dalam
memberikan perintah daerah secara berkesinambungan.melihat keseriusan pemerintah dalam
memeberikan pembinaan dan desakan situasi kondisi pada saat itu, maka pihak Yayasan pada
tanggal 4 agustus 1967 memutus kan untuk menyerah kan madrasah tasanawiyah (MTs) pada
pihak pemerintah untuk di negrikan.
Adapun proses pererubahan status Mts tersebut menjadi MTs negri, melalu kantor kepala
kantor inspeksi Pendidikan Agama TK. I provinsi Sumatra seatan, dengan surat keputusan
Nomor : 3751 B Mdr.f.15. 1967, tanggal 11 November 19967. Selanjut nya usulan penegrian
ini di teruskan ke direktorat Pendidikan agama RI di jakrta , dari sini madrasah tersebut
sementara waktu status nya berubah menjafi madrasah persiapan negri. Dan pada akhir nya
pada tanggal 20 agustus 1968 status MTs madiatul ulum berubah menjadi madrasah negri
dengan nama madrasah Tsanawaiyah agama islam negri Palembang yang disingkat dengan
MTs.
2.struktur organisasi sekolah MTs negeri 1 palembang