Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

INTRANATAL CARE

DOSEN PEMBIMBING:

Ns.Hidayati,S.Kep,M.Kep

DISUSUN OLEH :

Hafifatul Khairiyah

191012114201008

FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KESEHATAN MASYARAKAT

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

INSTITUT KESEHATAN PRIMA NUSANTARA BUKITTINGGI

TP: 2020/2021
DEFINISI
Persalinan Normal adalah
proses persalinan yang melalui
kejadian secara
alami. Proses persalinan terjadi
pada kehamilan cukup bulan
(37-47 minggu) lahir
spontan dengan prensentasi
belakang kepala yang
berlangsung dalam 18 jam
tanpa komplikasi pada ibu
maupun janin. Persalinan
dimulai (inpartu) pada saat
uterus berkontraksi dan
menyebabkan perubahan
pada serviks (membuka dan
menipis) dan berakhir
dengan lahirnya plasenta
secara lengkap
DEFINISI
Persalinan Normal adalah
proses persalinan yang melalui
kejadian secara
alami. Proses persalinan terjadi
pada kehamilan cukup bulan
(37-47 minggu) lahir
spontan dengan prensentasi
belakang kepala yang
berlangsung dalam 18 jam
tanpa komplikasi pada ibu
maupun janin. Persalinan
dimulai (inpartu) pada saat
uterus berkontraksi dan
menyebabkan perubahan
pada serviks (membuka dan
menipis) dan berakhir
dengan lahirnya plasenta
secara lengkap
DEFINISI
Persalinan Normal adalah
proses persalinan yang melalui
kejadian secara
alami. Proses persalinan terjadi
pada kehamilan cukup bulan
(37-47 minggu) lahir
spontan dengan prensentasi
belakang kepala yang
berlangsung dalam 18 jam
tanpa komplikasi pada ibu
maupun janin. Persalinan
dimulai (inpartu) pada saat
uterus berkontraksi dan
menyebabkan perubahan
pada serviks (membuka dan
menipis) dan berakhir
dengan lahirnya plasenta
secara lengkap
1. DEFINISI

Persalinan atau Partus adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput
ketubankeluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada
usia kehamilan yang cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai adanya
penyulit.Persalinan dimulai (inpartu) sejak uterus berkontraksi dan menyebabkan
perubahan pada serviks (membuka dan menipis dan berakhir dengan lahirnya plasenta
secara lengkap. Ibu dikatakan belum inpartu jika kontraksi uterus tidak
mengakibatkan perubahan serviks (Damayanti, dkk, 2015).

Menurut WHO, persalinan normal adalah persalinan yang dimulai secara


spontan(dengan kekuatan ibu sendiri dan melalui jalan lahir), beresiko rendah pada
awalpersalinan dan presentasi belakang kepala pada usia kehamilan antara 37-
42minggu setelah persalinan ibu maupun bayi berada dalam kondisi yang baik.

2. ETIOLOGI
Penyebab pasti partus masih merupakan teori yang kompleks antara lain oleh
factor hormonal ,pengaruh prostaglandin,struktur uterus ,sirkulasi uterus,pengaruh
saraf dan nutrisi,perubahan biokimia antara lain penurunan kadar hormone estrogen
dan progesterone.
 penurunan hormone
Sebelum partus mulai kira-kira 1-2 minggu, terjadi penurunan hormone
progesterone dan estrogen. Fungsi progesterone sebagai penenang otot-otot
polos rahim dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga
timbul his bila progesterone turun.
 placenta menjadi tua
Turunnya kadar hormone estrogen dan progesterone menyebabkan
kekejangan pembuluh darah yang menimbulkan kontraksi rahim.
 distensi rahim
Rahim yang menjadi besar dan merenggang menyebabkan iskemik otot-otot
rahim sehingga mengganggu sirkulasi utero-plasenta.
 iritasi mekanik
Di belakang servik terlihat ganglion servikale (fleksus franterrhauss). Bila
ganglion ini digeser dan ditekan misalnya oleh kepala janin akan timbul
kontraksi uterus.
 Induksi partus
Dapat pula ditimbulkan dengan jalan gagang laminaria yang dimasukan
dalam kanalis servikalis dengan tujuan merangsang pleksus frankenhauser,
amniotomi pemecahan ketuban, dan oksitosin drip yaitu pemberian oksitosin
menurut tetesan perinfus.
3. PATAFISIOLOGI
Proses terjadinya persalinan karena adanya kontraksi uterus yang dapat
menyebabkan nyeri. Ini dipengaruhi oleh adanya keregangan otot rahim,
penurunan progesteron, peningkatan oxytoksin, peningkatan prostaglandin,
dan tekanan kepala bayi.Dengan adanya kontraksi maka terjadi pemendekan SAR
(Segmen Atas Rahim) dan penipisan SBR (Segmen Bawah Rahim).Penipisan SBR
menyebabkan pembukaan servik.Penurunan kepala bayi yang terdiri dari
beberapa tahap antara lain enggament, descent, fleksi, fleksi maksimal, rotasi
internal, ekstensi, ekspulsi kepala janin, rotasi eksterna.
Semakin menurunnya kepala bayi menimbulkan rasa mengejan
sehingga terjadi ekspulsi. Ekspulsi dapat menyebabkan terjadinya robekan jalan
lahir akibatnya akan terasa nyeri. Setelah bayi lahir kontraksi rahim akan
berhenti 5-10 menit, kemudian akan berkontraksi lagi. Kontraksi akan
mengurangi area plasenta, rahim bertambah kecil, dinding menebal yang
menyebabkan plasenta terlepas secara bertahap. Dari berbagai implantasi plasenta
antara lain mengeluarkan lochea, lochea dan robekan jalan lahir sebagai tempat
invasi bakteri secara asending yang dapat menyebabkan terjadi risiko tinggi
infeksi. Dengan pelepasan plasenta maka produksi estrogen dan progesteron
akan mengalami penurunan, sehingga hormon prolaktin aktif dan produksi laktasi
dimulai.

WOC:
4. MANIFESTASI KLINIS
Tanda-tanda permulaan persalinan adalah lighteningatau settlingatau
droppingyang merupakan kepala turun memasuki pintu atas panggul
terutama pada primigravida.Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun.
Perasaan sering-sering atau susah buang air kecil karena kandung kemih
tertekan oleh bagian terbawah janin. Perasaan sakit diperut dan dipinggang oleh
adanya kontraksi-kontraksi lemah diuterus (fase labor pains).Servik menjadi
lembek, mulai mendatar dan sekresinya bertambah bisa bercampur darah (bloody
show) (Hafifah, 2011).
Tanda-tanda inpartu adalah:
o Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering dan teratur
o Keluar lendir bercampur darah (show) yang lebih banyak karena robekan-
robekan kecil pada serviks.
o Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya.
o Pada pemeriksaan dalam: serviks mendatar dan pembukaan telah ada
5. KOMPLIKASI
a) Persalinan lama
b) Perdarahan pasca persalinan
c) Malpresentasi dan malposisi
d) Distosia bahu
e) Distensi uterus
f) Persalinan dengan parut uterus
g) Gawat janin
h) Prolapsus tali pusat
i) Demam dalam persalinan
j) Demam pasca persalinan

6. PEMERIKSAAN PENUNJANG
o Pemeriksaan urine protein(albumin)
o Pemeriksaan darah(hb)
o USG(untuk mndptkan gambaran dari janin)
o Stetoskop monokuler (mendengar detak jantung janin)

7. PENATALAKSANAAN MEDIS
Adapun penatalaksanaan yang dilakukan pada ibu dengan persalinan
normal adalah:
1) Memimpin persalinan dengan mengajarkan ibu untuk mengejan setiap ada his
dengan cara tarik nafas sedalam mungkin dipertahankan dengan demikian
diafragma membantu otot dinding rahim mendorong ke arah jalan rahim.Bila
kontraksi hilang ibu dianjurkan nafas dalam secara teratur.
2) Demikian seterusnya sampai kepala anak akan lahir lalu ibu diminta untuk
bernafas hal ini agar perinium meregang pelan dan mengontrol lahirnya
kepala tidak terlalu cepat.
3) Menolong melahirkan kepala
 Letakkan satu tangan pada kepala bayi agar defleksi tidak terlalu cepat.
 Menahan perinium dengan satu tangan lainnya yang dialasi duk steril agar
tidak terjadi robekan.
 Setelah muka bayi lahir diusap dengan kasa steril untuk
membersihkan dari kotoran.
 Melahirkan bayi
Periksa tali pusat. Bila ada lilitan tali pusat dilonggarkan dulu dan bila
lilitan terlalu erat maka diklem pada dua tempat dan dipotong sambil
melindungi leher anak.
4) Melahirkan anak dan anggota seluruhnya
 Tempatkan kedua tangan pada sisi kepala dan leher bayi (biparietal).
 Lakukan tarikan lembut ke bawah untuk melahirkan bahu depan dan tarikan
ke atas untuk melahirkan bahu belakang.
 Selipkan satu tangan ke bahu dan lengan bagian belakang bayi sambil
menyangga kepala dan selipkan satu tangan lainnya kepunggung bayi
untuk mengeluarkan tubuh seluruhnya.
5) Merawat bayi
 Pegang erat bayi agar jangan jatuh, letakkan di perut ibu.
 Bebaskan jalan nafas bayi dengan menghisap lendir dari mulut dan
hidung bayi.
 Potong tali pusat yang sebelumnya diklem 15 cm dari perut bayi dan klem
kedua 2 cm dari klem pertama lalu dipotong diantaranya, kemudian
dijepit atau ditali, dibungkus kasa betadin atau kasa alkohol 70%.
 Setelah bayi lahir jangan lupa perhatikan perdarahan, kontraksi uterus dan
robekan perinium. Jika ada dilakukan penjahitan.

8. PENGKAJIAN
1) Identitas:
nama,umur,agama,suku/bangsa,Pendidikan,pekerjaan,alamat,penanggung
jawab,tanggal masuk rs.
2) Keluhan utama
Pada umumnya klien mengeluh nyeri pada daerah pinggang menjalar ke perut,
adanya his yang makin sering, teratur, keluarnya lendir dan darah, perasaan selalu
ingin buang air kemih, bila buang air kemih hanya sedikit-sedikit.
3) Riwayat penyakit sekarang
Dalam pengkajian ditemukan ibu hamil dengan usia kehamilan anatara 38-42
minggu disertai tanda-tanda menjelang persalinan yaitu nyeri pada daerah
pinggang menjalar ke perut, his makin sering, tertaur, kuat, adanya show
(pengeluaran darah ampur lendir), kadang ketuban pecah dengan sendirinya.
4) Riwayat penyakit dahulu
Adanya penyakit jantung, hipertensi, diabetes melitus, hepatitis, penyakit
kelamin, pembedahan yang pernah dialami, dapat memperberat persalinan.
5) Riwayat penyakit keluarga
Adanya penyakit jantung, hipertensi, diabitus mielitus,keturunan hamil
kembar pada pasien,TBC,hepatitis, Penyakit kelamin, memungkinkan penyakit
tersebut ditularkan pada klien,sehingga memperberat persalinannya.
6) Riwayat obstetric
o Riwayat haid: .Ditemukan amenorhhea (aterm 38-42 minggu) prematur kurang
dari 37 minggu.
o Riwayat kebidanan: .Adanya gerakan janin, rasa pusing,mual muntah, dan
lain-lain. Pada primigravida persalinan berlangsung 13-14 jam dengan
pembukaan 1 cm/jam, sehingga pada multigravida berlangsung 8 jam dengan 2
cm/jam.
7) Riwayat psikososial dan budaya
Perubahan psikososial pada trimester 1 yaitu ambivalensi,ketakutaan dan
antasi Pada trimester II adanya ketidak nyamanankehamilan (mual, muntah),
Narhisitik, Pasif dan introvert. Pada trimester III klien merasa tidak feminin lagi
karena perubahan tubuhnya,ketakutan akan kelahiran bayinya,distress keluarga
karena adanya perasaan sekarat selama persalinan berlangsung.
8) Pola kebutuhan sehari-hari
o Nutrisi : adanya his berpengaruh terhadapkeinginan atau seleramakan yang
menurun.
o Istirahat tidur:Klien dapat tidur terlentang,miring ke kanan kiri tergantung
pada letak punggung anak,klien sulit tidur terutama kala I-IV
o Aktivitas: Klien dapat melakukan aktivitas seperti biasanya, terbatas pada
aktivitas ringan, tidak membutuhkan tenaga banyak, tidak mebuat klien cepat
Lelah,sampai, lesu. Pada kala I apabila kepala janin telah masuk sbagian ke
dalam PAP serta ketuban pecah,klien dianjurkan duduk/berjalan-jalan
disekitar ruangan/kamar bersalin.
Pada kala II kepala janin sudah masuk rongga PAP klien dalam posisi
miring ke kanan/kiri.
o Eliminasi: Adanya perasaan sering /susah kencing selama kehamilan dan
proses persalinan. Pada akhir trimester III dapat terjadi konstipasi.
o Personal Hygiene: Kebersihan tubuih senantiasa dijaga kebersihannya.
hendaknya yang longgar dan mudah dipakai, sepatu/alas kaki dengan tumit
tinggi agar tidak dipakai lagi.
o Seksual: terjadi disfungsi seksual yaitu perubahan dalam hubungan seksual
fungsi dari seks yang tidak adekuat karena adanya proses persalinan dan nifas.
9) Pemeriksaan
a. Pemeriksaan umum
 Tinggi badan berat badan
 Tekanan darah
 Suhu badan nadi dan pernafasan
b. Pemeriksaan fisik
 Kepala dan leher
 Dada
 Perut
 Genetalia
 Ektremitas
c. Pemeriksaan penunjang
 Pemeriksaan urine protein(albumin)
 Pemeriksaan darah(hb)
 USG(untuk mndptkan gambaran dari janin)
 Stetoskop monokuler (mendengar detak jantung janin)
9. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1) Nyeri melahirkan
2) Resiko cedera pada janin
3) Resiko cedera pada ibu
10. PERENCANAAN

No Diagnose Luaran Intervensi


1. Nyeri melahirkan Setelah dilakukan intervensi Manajemen nyeri
keperawatan selama ..x24 Observasi:
jam tingkat nyeri menurun o Identifikasi skla
dengan nyeri
Kriteria hasil: o Monitor
 Keluhan nyeri menurun keberhasilan terapi
 Meringis menurun komplementer
 Gelisah menurun yang sudah
 Tekanan darah diberikan
membaik o Monitor efek

 Pola tidur membaik samping


penggunaan
analgetic
Teurapetik:
o Berikan Teknik
non farmakologis
untuk mengurangi
rasa nyeri(aroma
terapi,kompres
hangat/dingin)
o Fasilitasi istirahat
dan tidur
Edukasi:
o Jelaskan strategi
meredakan nyeri
o Anjurkan
menggunakan
analgenik secara
mandiri
o Ajarkan Teknik
non farmakologis
untuk mengurangi
rasa nyeri
Kolaborasi:
o Kolaborasi
pemberian
analgetic jika perlu
2. Resiko sedera pada Setelah dilakukan intervensi Pemantauan denyut
janin keperawatan selama …x24 jantung janin
jam tingkat cedera menurun Observasi:
dgn o Identifikasi status
Kriteria hasil: obstetric
 Toleransi aktivitas o Identifikasi adanya
meningkat penggunaan obat
 Kejadian cedera diet dan merokok
luka/lecet menurun o Periksa denyut
 Pendarahan menurun jantung janin
 Denyut jantung apical selama 1 menit
dan radialis membaik o Monitor denyut
 Pola tidur/istirahat jantung janin
membaik o Monitor ttv ibu
Terapeutik:
o Atur posisi pasien
o Lakukan manuver
leupoid untuk
menentukan posisi
janin
Edukasi:
o Jelaskan tujuan
dan prosedur
pemamtauan
o Informasikan hasil
pemantauan,jika
perlu
3. Resiko cedera pada Setelah dilakukan intervensi Pencegahan cedera
ibu keperawatan selama ..x24 Observasi:
jam tingkat cedera menurun o Identifikasi area
dengan lingk yg
Kriteria hasil: menyebabkan
 Toleransi aktivitas cedera
meningkat o Identifikasi obat yg
 Pendarahan menurun berpotensi
 Ekspresi wajah mnyebabkan
kesakitan menurun cedera
 Gangguan mobilitas Teraupetik:
menurun o Pastikan barang2

 Tekanan darah pribadi mudah


membaik terjangkau

 Frekuensi nai o Diskusikan


membaik mengenai Latihan
terapi fisik yang
diperlukan
Edukasi:
o Jelaskan alas an
intervensi
pencegahan jatuh
kepasien dan
keluarga
o Anjurkan berganti
posisi secara
perlahan dan duduk
selama bberapa
menit sebelum
berdiri

11. Implementasi
Implementasi adalah tahap keempat dari proses keperawatan. Tahap ini
muncul jika perencanaan yang dibuat diapliksaikan pada klien. Aplikasi yang
dilakukan disesuaikan dengan kondisi klien saat itu dan kebutuhan yang paling
dirasakan oleh klien. Implementasi keperawatan membutuhkan fleksibilitas dan
kreativitas perawat. Sebelum melakukan suatu tindakan, perawat harus mengetahui
alasan mengapa tindakan tersebut dilakukan.

12. Evaluasi

Evaluasi atau tahap penilaian adalah tahap kelima dari proses keperawatan.pada
tahap ini perawat membandingkan hasil tindakan yang telah dilakukan dengan kriteria
hasil yang sudah ditetapkan serta menilai apakah masalah yang terjadi sudah teratasi
seluruhnya, hanya sebagian, atau bahkan belum teratasi semua (Oda Debora, 2015).

DAFTAR PUSTAKA
Hafifah, 2011.Laporan Pendahuluan pada Pasien dengan Persalinan Normal. Jakarta:
EGC

Barri, Syaiffudin Abdullah, dkk. 2007. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan

Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Bobak, Jensen. 2005. Perawatan Maternitas dan Ginekologi. Jakarta : EGC

Hidayat, Asri, dkk. 2010. Asuhan Kebidanan Persalinan. Yogyakarta : Nuha Medika

JNPK-KR. 2008. Asuhan Persalinan Normal. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik

Indonesia

https://studylibid.com/doc/4372656/lp-inc-persalinan-normal

file:///C:/Users/Acer/Downloads/8cgspw1593487989.pdf

https://www.scribd.com/doc/310679454/Lp-Persalinan-Normal