Anda di halaman 1dari 10

PORTOFOLIO KASUS

NamaPeserta :dr. Alva Arian Zwingly Tessyano


NamaWahana: RSUD Padjonga Dg.Ngalle Takalar
Topik: Pendeskripsian luka dan aspek medikolegal pada kasus penganiayaan yang dicurigai
perlukaan akibat trauma tumpul.
Tanggal (kasus) : 1 Januari 2017
Tanggal Presentasi : Januari 2017 Pendamping : dr. Irmastuti, MARS
Tempat Persentasi : RSUD Padjonga Dg. Ngalle Takalar
Obyekpresentasi :
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauanpustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi: Laki-laki, 17 tahun, datang bersama orang tuanya untuk meminta visum atas
dirinya
Tujuan: Mempelajari pendeskripsian luka dan aspek medikolegal pada kasus penganiayaan
yang dicurigai perlukaan akibat trauma tumpul.
Bahan Bahasan: Tinjauan pustaka Riset Kasus Audit
Cara Membahas: Diskusi Presentasi dan diskusi E-mail Pos
Data Pasien: Nama: Ny. R No.Registrasi: 236223
Nama klinik IRD RSUD Padjonga Dg.Ngalle
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Deskripsi
Wanita, 45 tahun, berbaju daster hitam bermotif bunga – bunga, berjilbab hitam datang
bersama orang tuanya pada pukul 21.45 WITA. Menurut pengakuan korban, pada hari yang
sama dengan pemeriksaan (minggu, 1 januari 2017) pukul 21.45 WITA, korban mengaku telah
dipukul oleh suami korban, di dalam rumah korban korban. Korban dipukul pada kepala kiri
atas satu kali, pipi kanan, dan telinga kanan, korban dipukuli dengan tangan kosong. Setelah
kejadian, korban mengeluh pusing dan nyeri kepala.
2. Riwayat pengobatan: (-)
3. Riwayat kesehatan/penyakit: (-)
4. Riwayat keluarga: (-)
5. Riwayat pekerjaan: Ibu rumah tangga
6. Kondisi lingkungan social dan fisik: Interaksi dengan lingkungan sekitar baik.
7. Lain – Lain
Pemeriksaan fisik dilakukan di UGD RSUD Padjonga Dg.Ngalle Takalar pada tanggal 1
januari 2016.

PEMERIKSAAN UMUM

1
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Nadi : 88 x/menit Suhu : 36,50C
Tekanan darah : 120/70 mmhg Respirasi : 20x/menit

STATUS GENERALIS
 Kepala :
I : tampak memar pada kepala kiri atas ukuran 4x3 cm, berwarna kemerahan
P : Nyeri tekan kepala (+), rambut tidak mudah dicabut, alopecia -.
 Wajah :
I : Tampak memar pada pipi kanan dekat telinga kanan ukuran 5x2 cm
P : Nyeri tekan (+)Nyeri tekan sinus -.
 Mata : Konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-
 Telinga :
I : Tampak memar pada tepi atas daun telinga kanan berukuran 3x2 cm
P : Nyeri tekan tragus +/-, nyeri tekan mastoid (-)
 Hidung : PCH -/-
 Mulut : Sianosis (-)
 Leher : Pembesaran KGB(-)
 Paru : Simetris, vesikuler +/+, Rh-/-, Wh-/-
 Jantung : S1>S2, regular, gallop (-), murmur (-).
 Abdomen : Datar, BU (n), nyeri suprapubik (+), H/L: tidak teraba besar
 Ekstremitas: CRT <2", Tidak ada edema, akral hangat
 Anal : benjolan(-), darah (-)
DaftarPustaka:
1. Apuranto Hariadi. Luka Akibat Benda Tumpul. Diunduh
dari www.fk.uwks.ac.id/elib/Arsip/Departemen/…/LUKA%20TUMPUL.pdf
2. Traumatologi Forensik. Diunduh
dari http://www.freewebs.com/traumatologie2/index.htm
3. Amir Amri. Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Kedua. 1995. Medan :
Percetakan Ramadhan. Hal 72-90

2
Hasil Pembelajaran
1. Mendeskripsikan luka yang dicurigai perlukaan akibat trauma tumpul.
2. Mengetahui aspek medikolegal pada kasus penganiayaan.

RANGKUMAN HASIL PEMBELAJARAN PORTOFOLIO:

SUBJEKTIF:
Wanita, 45 tahun, berbaju daster hitam bermotif bunga – bunga, berjilbab hitam datang
bersama orang tuanya pada pukul 21.45 WITA. Menurut pengakuan korban, pada hari yang
sama dengan pemeriksaan (minggu, 1 januari 2017) pukul 21.45 WITA, korban mengaku telah
dipukul oleh suami korban, di dalam rumah korban korban. Korban dipukul pada kepala kiri
atas satu kali, pipi kanan, dan telinga kanan, korban dipukuli dengan tangan kosong. Setelah
kejadian, korban mengeluh pusing dan nyeri kepala.
OBYEKTIF:
 Keadaan umum : Sadar penuh, keadaan umum baik, sikap kooperatif
 Tanda vital
o Tekanan darah: 120/80 mmHg
o Nadi : 84 kali/menit
o Pernafasan : 20 kali/menit
o Suhu : 36,5 oC
Status Lokalis Luka/Cedera
 Tampak memar pada kepala kiri atas, ukuran 4x3cm, berwarna kemerahan
 Tampak memar pada pipi kanan dekat telinga berukuran 5x2 cm
 Tampak memar pada daun telinga kanan tepi atas berukuran 3x1 cm
1. Assesment :

A. Prosedur Medikolegal
Dalam ilmu kedokteran forensik, peranan ilmu kedokteran forensik berfungsi
membantu penegakan hukum antara lain pembuatan visum et repertum terhadap seseorang
yang dikirim oleh polisi (penyidik). Tujuan pemeriksaan forensik pada korban hidup adalah
untuk mengetahui penyebab luka/sakit dan derajat parahnya luka atau sakitnya tersebut,

3
dimaksudkan untuk memenuhi rumusan delik dalam KUHP. Peristiwa yang dapat
mengakibatkan tindak pidana antara lain peristiwa kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja,
penganiayaan, pembunuhan, perkosaan, maupun korban meninggal. Korban dengan luka
ringan merupakan salah satu hasil tindak pidana tersebut, yaitu berupa penganiayaan ringan
(pasal 352 KUHP), korban dengan luka sedang merupakan hasil dari tindak penganiayaan,
dan korban dengan luka berat.
Pada kasus tersebut, penyidik membutuhkan bantuan dari ahli, salah satunya dokter
maupun ahli kedokteran kehakiman, untuk mengungkap kasus dan membuat perkara menjadi
lebih terang agar kasus bisa terselesaikan. Hal ini dikarenakan, dokterlah seseorang yang
paling memahami tubuh manusia. Peranan dokter maupun ahli kedokteran kehakiman
tersebut tertuang dalam Pasal 133 ayat 1 KUHAP yang berbunyi, “Dalam hal penyidik untuk
kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang
diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan
permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli
lainnya.”
Yang dimaksud keterangan ahli tertuang dalam Pasal 1 butir 28 KUHAP yang
berbunyi, “keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang
hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan
pemeriksaan”. Surat keterangan ahli ini dinyatakan dalam surat yang disebut visum et
repertum, sesuai dengan Pasal 133 ayat 2 KUHAP, dan berfungsi sebagai alat bukti yang sah
di pengadilan sebagaimana tercantum dalam Pasal 184 KUHAP. Visum et Repertum juga
berguna dalam proses penyidikan.
Keterangan ahli yang berupa Visum et Repertum (VER) tersebut adalah keterangan
yang dibuat oleh dokter atas permintaan penyidik yang berwenang mengenai hasil
pemeriksaan medik terhadap manusia, baik hidup atau mati, ataupun bagian atau diduga
bagian dari tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah untuk
kepentingan peradilan. Seorang dokter juga berkewajiban memberikan keterangan ahli
seperti yang diminta penyidik yang berwenang tersebut, seperti yang diatur dalam Pasal 179
KUHAP yang berbunyi, “Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran
kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.”
Surat Permintaan Visum et Repertum (SPV) perlu diperiksa kelengkapannya sebelum

4
dokter atau ahli kedokteran kehakiman melakukan pemeriksaan dan membuat visum et
repertum. Seperti yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1983, bahwa
kelengkapan SPV harus memenuhi kop surat, pihak yang meminta visum, pihak yang dituju,
identitas korban, dugaan penyebab kematian, permintaan jenis pemeriksaan, jabatan peminta
visum, dan tanda tangan peminta visum. VER pun memiliki lima komponen tetap yang
terdiri dari Pro Justitia, bagian Pendahuluan, bagian Pemberitaan, bagian Kesimpulan, dan
bagian Penutup.
VER merupakan alat bukti yang sah dan memiliki nilai otentik karena dibuat atas
sumpah jabatan sebagai seorang dokter. Sesuai dengan Stb 350 tahun 1937 yang menyatakan
bahwa visum et repertum hanya sah bila dibuat oleh dokter yang sudah mengucapkan
sumpah sewaktu mulai menjabat sebagai dokter. Pada kasus perlukaan, korban yang
dimintakan visum et repertumnya adalah kasus dengan dugaan adanya tindak kekerasan yang
diancam hukuman oleh KUHP. Seorang dokter untuk membantu peradilan, wajib
membuktikan adanya luka atau memar. Derajat luka sangat diperlukan untuk menentukan
hukuman yang akan diterima oleh korban, sehingga dokter harus menentukan derajat luka
dengan benar. Dokter harus menuliskan luka-luka, cedera, atau penyakit yang ditemukan,
jenis benda penyebab, serta derajat perlukaan, pada visum et repertum.

A. Traumatologi
Traumatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang luka dan cedera serta hubungannya
dengan berbagai kekerasan (rudapaksa). Sementara luka adalah suatu keadaan
ketidaksinambungan jaringan tubuh akibat kekerasan. Kekerasan dapat dibedakan
berdasarkan sifatnya, yaitu mekanik (kekerasan oleh benda tajam, kekerasan oleh benda
tumpul, dan tembakan senjata api), fisika (suhu, listrik dan petir, perubahan tekanan udara,
akustik, dan radiasi), dan kimia (asam atau basa kuat).
Luka akibat kekerasan benda tumpul
Luka jenis ini disebabkan benda yang memiliki permukaan tumpul.
a. Memar
Memar adalah suatu perdarahan pada jaringan bawah kulit karena pecahnya kapiler
dan vena. Luka memar sering kali memberi petunjuk tentang bentuk benda penyebab
lukanya, misal jejas ban (marginal haemorrhage). Faktor yang mempengaruhi letak, bentuk,

5
dan luas luka memar yaitu besarnya kekerasan, jenis benda penyebab, kondisi dan jenis
jaringan, usia, jenis kelamin, corak dan warna kulit, kerapuhan pembuluh darah, dan
penyakit. Perubahan warna pada luka memar dapat secara kasar digunakan untuk
memperkirakan usianya. Saat timbul, memar berwarna merah kebiruan, kemudian berubah
menjadi ungu atau biru kehitaman pada hari ke 2-3, setelah 4 sampai 6 hari akan berwarna
biru kehijauan kemudian berubah menjadi coklat hingga kekuningan dalam 7 sampai 10 hari,
dan biasanya menghilang dalam lebih 14 hari. Dalam medikolegal, interpretasi luka memar
merupakan hal penting.
b. Luka lecet
Luka lecet terjadi akibat cedera pada epidermis yang bersentuhan dengan benda yang
memiliki permukaan kasar atau runcing. Sering terjadi pada kecelakaan lalu lintas, tubuh
terbentul aspar, atau benda tersebut yang bergerak dan menyentuh kulit. Luka lecet
diklasifikasikan sebagai berikut:
 Luka lecet gores : luka lecet inni disebabkan oleh benda runcing yang menggeser
lapisa permukaan kulit di depannya, sehingga lapisan terangkat, dan hal ini dapat
menunjukkan arah kekerasan.
 Luka lecet serut : luka lecet ini merupakan variasi luka lecet gores dengan daerah
persentuhan dengan permukaan kulit lebih lebar. Letak tumpukan epitel menunjukkan
arah kekerasan.
 Luka lecet tekan : luka lecet ini disebabkan penjejakan benda tumpul pada kulit,
sehingga sering digunakan utuk megidentifikasi benda penyebab luka yang khas karena
bentuk luka menyerupai, seperti gigitan, kisi-kisi radiator mobil, dan lain sebagainya.
Luka ini berwarna lebih gelap dari jaringan sekitar.
 Luka lecet geser : luka lecet ini disebabkan tekanan linier pada kulit disertai
gerakan bergeser, seperti pada kasus gantung atau jerat.
c. Luka robek
Luka robek merupakan luka terbuka akibat trauma benda tumpul yang menyebabkan
kulit teregang ke satu arah dan batas elastisitas kulit terlampaui. Ciri luka ini umumnya tidak
beraturan, tepi atau dinding tidak rata, tampak jembatan jaringan antara kedua tepi luka,
bentuk dasar luka tidak beraturan, sering tampak luka lecet atau luka memar di sisi luka.

6
Trauma Tumpul Tajam
a.       Bentuk luka Tidak teratur Teratur

b.      Tepi Luka Tidak rata Rata

c.       Jembatan Jaringan Ada Tidak ada

d.      Rambut Tidak terpotong Terpotong

e.       Dasar Luka Tidak teratur Teratur

f.       Sekitar Luka Ada luka lecet Tak ada luka lain


atau memar

C. Penganiayaan
Untuk mengetahui peyebab luka/sakit dan derajat parahnya luka atau sakit pada korban
hidup maka diperlukan pemeriksaan kedokteran forensik. Hal ini dimaksudkan utuk
memenuhi rumusan delik dalam KUHP. Oleh karena itu, catatan medic pada setiap pasien
harus lengkap hasil pemeriksaannya, terutama korban yang diduga tindak pidaa. Hal ini
diperlukan untuk pembuatan visum et repertum.
Korban dengan luka ringan dapat merupakan hasil dari tindak pidana penganiayaan
ringan, seperti yang tertuang dalam Pasal 352 KUHP yang berbunyi:
(1) Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang tidak
menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian,
diancam sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau
pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Pidana dapat ditambah sepertiga
bagi orang yang melakukan kejahatan itu terhadap orang yang bekerja padanya atau
menjadi bawahannya.
(2) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.
Pada korban dengan luka sedang, dapat pula merupakan hasil dari tindak

7
penganiayaan, seperti yang disebutkan pada Pasal 351 KUHP ayat (1) yang berbunyi
“Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau
pidana denda paling banyak 4500 rupiah” dan Pasal 353 KUHP ayat (1) yaitu:
“Penganiayaan dengan rencana lebih dahulu, diancam dengan pidana pejara palig lama 4
tahun.”
Korban dengan luka berat seperti yang disebutkan pada pasal 90 KUHP adalah
sebagai berikut:
Luka berat berarti:
1) Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak member harapan akan sembuh sama sekali,
atau yang menimbulkan bahaya maut;
2) Tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan
pencarian;
3) Kehilangan salah satu pancaindra;
4) Mendapat cacat berat;
5) Menderita sakit lumpuh;
6) Terganggunya daya piker selama empat minggu lebih;
7) Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan.
Hasil dari tindak penganiayaan tersebut dengan akibat luka berat diatur dalam pasal 351 ayat
(2) yang berbunyi: “Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam
dengan pidana pejara paling lama 5 tahun” atau Pasal 353 ayat (2) yaitu “Jika perbuatan
mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah dikarenakan pidana pejara palingg lama
tujuh tahun”. Sementara, jika korban dengan luka berat merupakan akibat penganiayaan
berat, undang-undang mengaturnya dalam Pasal 354 ayat (1) yang berbunyi “Barang siapa
dengan sengaja melukai berat orang lain, diancam, karena melakukan penganiayaan berat,
dengan pidana penjara paling lama delapan tahun” atau Pasal 355 ayat (1) yaitu
“Penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencaa lebih dahulu, diancam degan pidana
penjara paling lama dua belas tahun.”
Sementara dalam KUHP, yang dimaksud penganiayaan ringan adalah penganiayaan
yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan jabatan atau halangan
pekerjaan, seperti bunyi Pasal 352 KUHP ayat (1) yang berbunyi: “Penganiayaan yang tidak
menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian,

8
diancam, sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau
pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Pidana dapat ditambah sepertiga
bagi orang yang melakukan kejahatan itu terhadap orang yang bekerja padanya, atau
menjadi bawahannya”. Umumnya, korban datang tanpa luka, atau dengan luka lecet atau
memar kecil di lokasi yang tidak berbahaya atau tidak menurunkan fungsi alat tubuh tertentu.
Luka-luka ini dimasukkan ke kategori luka ringan atau luka derajat satu. Hukuman bagi
pelaku sesuai pasal ini adalah penjara paling lama tiga bulan atau denda paling banyak empat
ribu lima ratus rupiah.
Hoge Road pada tanggal 25 Juni 1894 menjelaskan pengertian penganiayaan yang tidak
disebutkan di KUHP, bahwa menganiaya adalah dengan sengaja menimbulkan sakit atau
luka. Dalam hal ini, semua keadaan yang “lebih berat” dari luka ringan dimasukkan ke dalam
kategori luka sedang (luka derajat dua) dan luka berat (luka derajat tiga). Luka sedang adalah
keadaan yang terletak di antara luka ringan dan luka berat.
Penentuan derajat luka ini penting utuk membuat visum et repertum, sehingga dokter
harus memeriksa dengan teliti korban yang datang. Uraian yang dibuat meliputi keadaan
umum sewaktu datang, letak, jenis dan sifat luka serta ukuran, pemeriksaan
khusus/penunjang, tindakan medik yang dilakukan, riwayat perjalanan penyakit, dan keadaan
akhir saat perawatan. Secara objektif, dapat dimasukkan gejala yang ditemukan pada korban.

4. Plan
Tindakan/Pengobatan
 Pembuatan Visum et Repertum
 Asam Mefenamat 3 x 500 mg
 Ranitidin 2 x 150mg

Aspek Medikolegal
Pada kasus ini, terdapat bukti kekerasan tumpul berupa kemerahan pada daerah dada
kanan, dan nyeri pasca kejadian. Walaupun demikian, korban mengaku tidak mengalami
hambatan apa pun dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari, termasuk bekerja dan
beraktivitas.

9
Sesuai dengan pasal KUHP pasal 352 ayat (1) yang berbunyi: “Penganiayaan yang tidak
menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian,
diancam, sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau
pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Pidana dapat ditambah sepertiga
bagi orang yang melakukan kejahatan itu terhadap orang yang bekerja padanya, atau
menjadi bawahannya”, maka pada kasus ini, penganiayaan yang terjadi merupakan
penganiayaan ringan karena luka yang didapat merupakan luka ringan yang tidak memerlukan
perawatan khusus serta tidak mengganggu pekerjaan. Hukuman bagi pelaku sesuai pasal ini
adalah penjara paling lama tiga bulan atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Kesimpulan
Pada wanita berusia 45 tahun ini ditemukan kemerahan pada kepala kiri atas, pipi kanan, tepi
atas telinga kanan yang sesuai dengan perlukaan yang disebabkan oleh trauma benda tumpul.
Luka-luka tersebut tidak menimbulkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan,
jabatan, atau pencaharian. Berdasarkan KUHP pasal 352 ayat (1), pelaku diancam pidana
penjara paling lama tiga bulan atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
Pendidikan
Menjelaskan prognosis dan komplikasi yang mungkin terjadi.

Konsultasi
Dilakukan konsultasi kepada dokter ahli forensik.

Rujukan
Diperlukan jika terjadi komplikasi serius yang harus ditangani di rumah sakit dengan sarana
dan prasarana yang lebih memadai.

Peserta Pendamping

dr. Alva Arian Zwingly Tessyano dr. Irmastuti, MARS

10