Anda di halaman 1dari 9

Nama Peserta dr.

Hans Alfonso T
Nama Wahana RSUD H. Padjonga Dg. Ngalle Takalar
Topik Visum et Repertum
Tanggal (kasus) 27 Mei 2016
Nama Pasien Ny. NK No. RM -
Tanggal Presentasi 25 Agustus 2016 Pendamping dr. Irmastuti, MARS
Tempat Presentasi RSUD H. Padjonga Dg. Ngalle Takalar
Anggota Komite Medik & Dokter Internsip RSUD H. Padjonga Dg.
Obyektif Presentasi
Ngalle Takalar
◊ Keilmuan ◊ Ketrampilan ◊ Penyegaran ◊ Tinjauan Pustaka
◊ Diagnostik ◊ Manajemen ◊ Masalah ◊ Istimewa
◊ Neonatus ◊ Bayi ◊ Anak ◊ Remaja ◊ Dewasa ◊ Lansia ◊ Bumil
Seorang perempuan usia 32 tahun, datang ke UGD didampingi oleh seorang
petugas kepolisisan dengan membawa surat permintaan visum et repertum.
◊ Deskripsi Pasien mengaku telah mengalami penganiayaan oleh seseorang yang
merupakan tetangga korban sendiri sekitar 6 jam SMRS. Menurut keterangan
pasien, pasien dipukul di daerah paha dengan menggunakan balok.
◊ Tujuan Melakukan penatalaksanaan pada pasien dan membuat catatan visum
Bahan Bahasan ◊ Tinjauan Pustaka ◊ Riset ◊ Kasus ◊ Audit
Cara Membahas ◊ Diskusi ◊ Presentasi & Diskusi ◊ E-mail ◊ Pos
Data Pasien ◊ Nama : Ny. ◊ No.Registrasi : -
Nama Klinik : RSUD H.
Padjonga Dg. Ngalle Telp. : - Terdaftar sejak : -
Takalar
Data Utama Untuk Bahasan Diskusi :
1. Diagnosis/gambaran klinis:
Seorang perempuan usia 32 tahun, datang ke UGD didampingi oleh seorang petugas
kepolisisan dengan membawa surat permintaan visum et repertum. Pasien mengaku
telah mengalami penganiayaan oleh seseorang yang merupakan tetangga korban
sendiri sekitar 6 jam SMRS. Menurut keterangan pasien, pasien dipukul di daerah
paha dengan menggunakan balok.
2. Pada korban ditemukan:
Tampak luka memar pada paha sebelah kiri, dengan ukuran 11,5cm x 5cm, garis
batasmemar cukup tegas, bentuk tidak teratur, warna merah ungu kehijauan.

3. Riwayat pengobatan: -
4. Riwayat kesehatan/penyakit sebelumnya: -
5. Riwayat keluarga : -
6. Riwayat pekerjaan : pasien merupakan seorang ibu rumah tangga.
Daftar Pustaka :
1. Afandi, Dedi., Visum et Repertum Perlukaan: Aspek Medikolegal dan Penentuan

1
Derajat Luka. Riau : Bagian Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK Universitas
Riau, 2010:1-8
2. Starh, Margareth. Blunt Wound in A Physicians’s Guide to Clinical Forensic Medicine.
New York: Humanew Press, 2001 : 351-386.
3. Dominich et all., Suicide in Forensic and Clinical Justice. Second Edition. New
York : CRC Press LLC, 2001: 667-678
Hasil Pembelajaran :
1. Pembuatan visum et repertum
2. Penarikan kesimpulan atas deskripsi luka
3. Pengenalan berbagai jenis luka akibat benda tumpu

Rangkuman hasil pembelajaran portofolio:


1. Subyektif:
Seorang perempuan usia 32 tahun, datang ke UGD didampingi oleh seorang petugas
kepolisisan dengan membawa surat permintaan visum et repertum. Pasien mengaku telah
mengalami penganiayaan oleh seseorang yang merupakan tetangga korban sendiri sekitar
6 jam SMRS. Menurut keterangan pasien, pasien dipukul di daerah paha dengan
menggunakan balok.
2. Obyektif

Vital Sign
Keadaan Umum : Sakit ringan
Kesadaran : Komposmentis
Tekanan Darah : 110/80 mmhg
Nadi : 88x/menit
Pernapasan : 20x/menit
Suhu : 36,9OC
Pemeriksaan Sistemik
Kepala : tidak ada deformitas, tidak ada benjolan
Rambut : hitam, distribusi merata, tidak mudah dicabut
Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Telinga : tidak ditemukan kelainan
Hidung : tidak ditemukan kelainan

2
Mulut : tonsil T1/T1 , tidak hiperemis
Leher : tidak ditemukan kelainan
Kelenjar getah bening : tidak ada pembesaran getah bening
Thorax
Inspeksi : Simetris Ka=Ki
Palpasi : benjolan (-), fremitus kiri dan kanan sama
Perkusi : sonor di kedua lapang paru
Auskultasi : vesikular, rhonki -/-, wheezing -/-
Cor
Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : iktus kordis tidak teraba
Perkusi : batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop(-)
Abdomen
Inspeksi : datar, ikut gerak napas
Palpasi : distensi (-),hepar dan limpa sulit dinilai
Perkusi : timpani
Auskultasi : bising usus (+) normal
Anggota gerak : akral hangat, edema (-), perfusi perifer cukup

3. Assessment
Traumatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang luka dan cedera serta hubungannya
dengan berbagai kekerasan (rudapaksa), sedangkan yang dimaksud dengan luka adalah
terjadinya diskontinuitas jaringan tubuh akibat kekerasan.

DEFINISI
Luka akibat benda tumpul terjadi akibat benda yang memiliki permukaan tumpul. 
Faktor – Faktor yang mempengaruhi keparahan benturan.
 Usia

3
 Besarnya Kekuatan Kekerasan
 Kondisi benda Penyebab (Karet, Kayu, Besi, Benda yang datar)
 Kondisi dan Jenis jaringan (Jaringan Ikat Longgar, Jaringan Lemak)
 Waktu Hantaran Energi Tumbukan
 Luas permukaan objek yang terkena
 Kerapuhan pembuluh darah dan Kondisi medis tertentu (Hipertensi, Penyakit
Kardiovaskuler, Diatesis Hemoragik,Sirosis, Konsumsi obat-obatan tertentu)

Luka yang dapat terjadi 


1. Memar (Kontusio, Hematom Injury)
2. Luka Lecet (Ekskoriasi, Abrasi)
3. Luka Retak, Robek atau Koyak (Vulnus Laseratum)
4. Fraktur Sistem Rangka

Luka Memar (Kontusio)


Merupakan perdarahan di daerah jaringan lunak bawah kulit yang muncul karena ruptur
pembuluh darah baik kapiler maupun vena yang diakibatkan oleh trauma / benturan
dengan benda tumpul seperti pukulan dengan tangan, jatuh pada permukaan yang datar ,
cedera akibat senjata tumpul, dan lain-lain. Pada jenis luka ini, terjadi ektravasasi
pembuluh darah dan mngakibatkan darah merembes ke jaringan di sekitarnya. Permukaan
kulit utuh dan biasanya terjadi kerusakan pada jaringan di bawah kulit. Luka memar
kadangkala memberikan gambaran bentuk benda penyebabnya, misalnya jejas beban yang
sebenarnya adalah suatu perdarahan tepi (Marginal Haemorrhage). 

Memar pada suatu tempat tidak selalu mengindikasikan lokasi terjadinya trauma karena
perdarahan akan mengalir ke jaringan yang lebih longgar dan dipengaruhi oleh gaya
gravitasi. Misalnya, kekerasan benda tumpul pada dahi menimbulkan hematom palpebra.
Juga kekerasan benda tumpul pada paha dengan patah tulang paha menimbulkan hematom
pada sisi luar tungkai bawah.
Memar yang dalam mungkin tidak bisa terlihat melalui pemeriksaan luar sehingga kadang
dibutuhkan insisi jaringan lunak untuk memastikan ada/tidaknya memar. Memar juga sulit
dinilai pada orang berkulit hitam. 

4
Luka Lecet (Abrasi)
Luka lecet terjadi akibat cedera pada epidermis berupa robeknya jaringan yang
bersentuhan dengan benda yang memiliki permukaan kasar atau runcing, misalnya pada
kejadian kecelakaan lalu lintas, tubuh terbentur aspal jalan, atau sebaliknya benda tersebut
yang bergerak dan bersentuhan dengan kulit. Luka bersifat superfisial yang terbatas hanya
pada lapisan kulit yang paling luar / kulit ari epidermis.
Pembagian Luka Lecet

 Luka lecet gores (Scratch)


 Luka lecet gesek / serut (graze)
 Luka lecet tekanan (impression,impact abrasion)
 Luka lecet geser (friction abrasion)

VISUM ET REPERTUM
Visum et Repertum (VeR) merupakan salah satu bantuan yang sering diminta oleh pihak
penyidik (polisi) kepada dokter menyangkut perlukaan pada tubuh manusia. Visum et
Repertum (VeR) merupakan alat bukti dalam proses peradilan yang tidak hanya memenuhi
standar penulisan rekam medis, tetapi juga harus memenuhi hal-hal yang disyaratkan
dalam sistem peradilan. Data di beberapa rumah sakit menunjukkan bahwa jumlah kasus
perlukaan dan keracunan yang memerlukan VeR pada unit gawat darurat mencapai 50-
70%.
Dibandingkan dengan kasus pembunuhan dan perkosaan, kasus penganiayaan yang
mengakibatkan luka merupakan jenis yang paling sering terjadi, dan oleh karenanya
penyidik perlu meminta VeR kepada dokter sebagai alat bukti di depan pengadilan.
Dalam praktik sehari-hari seorang dokter tidak hanya melakukan pemeriksaan medis untuk
kepentingan diagnostik dan pengobatan penyakit saja, tetapi juga untuk dibuatkan suatu
surat keterangan medis. Demikian pula halnya dengan seorang pasien yang datang ke
instalasi gawat darurat, tujuan utama yang bersangkutan umumnya adalah untuk
mendapatkan pertolongan medis agar penyakitnya sembuh. Namun dalam hal pasien
tersebut mengalami cedera, pihak yang berwajib dapat meminta surat keterangan medis
atau VeR dari dokter yang memeriksa. Jadi pada satu saat yang sama dokter dapat
bertindak sebagai seorang klinisi yang bertugas mengobati penyakit sekaligus sebagai
seorang petugas forensik yang bertugas membuat VeR. Sedangkan korban yang diperiksa
dan hasilnya dijadikan alat bukti. Sebuah VeR yang baik harus mampu membuat terang

5
perkara tindak pidana yang terjadi dengan melibatkan buktibukti forensik yang cukup.
Tetapi hasil penelitian di Jakarta menunjukkan bahwa hanya 15,4% dari VeR perlukaan
rumah sakit umum DKI Jakarta berkualitas baik sementara di Pekanbaru menunjukkan
bahwa 97,06 % berkualitas jelek dan tidak satu pun yang memenuhi kriteria VeR yang
baik.
Dari kedua penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa bagian pemberitaan dan bagian
kesimpulan merupakan bagian yang paling kurang diperhatikan oleh dokter. Kualitas
bagian pemberitaan berturut-turut untuk Jakarta dan Pekanbaru adalah 36,9% dan 29,9%,
yang berarti berkualitas buruk. Nilai kualitas bagian pemberitaan merupakan nilai yang
terendah dari ketiga bagian VeR. Unsur yang tidak dicantumkan oleh hampir semua dokter
adalah anamnesis, tanda vital, dan pengobatan perawatan. Hal tersebut mungkin
disebabkan masih adanya anggapan bahwa anamnesis, tanda vital dan pengobatan tidak
penting dituliskan dalam VeR, atau juga dapat disebabkan karena dokter pembuat VeR
tidak mengetahui bahwa unsur tersebut perlu dicantumkan dalam pembuatan VeR.
Pada penelitian yang sama didapatkan bahwa kualitas untuk bagian kesimpulan 65,94%
(kualitas sedang) di Jakarta dan 37,5% (berkualitas buruk) di Pekanbaru.
Pada bagian kesimpulan, walaupun sebanyak 68,9% dokter dapat menyimpulkan jenis
luka dan kekerasan, namun terdapat 62% dokter yang tidak dapat menyimpulkan
kualifikasi luka secara benar.
Sementara dari hasil penelitian di Pekanbaru, tidak satupun dokter pemeriksa VeR yang
mencantumkan kualifikasi luka menurut rumusan pasal 351, 352, dan 90 Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana (KUHP). Rumusan ketiga pasal tersebut secara implisit
membedakan derajat perlukaan yang dialami korban menjadi luka ringan, luka sedang, dan
luka berat. Secara hukum, ketiga keadaan luka tersebut menimbulkan konsekuensi
pemidanaan yang berbeda bagi pelakunya. Dengan demikian kekeliruan penyimpulan
kualifikasi luka secara benar dapat menimbulkan ketidakadilan bagi korban maupun
pelaku tindak pidana. Hal tersebut dapat mengakibatkan fungsi VeR sebagai alat untuk
membantu suatu proses peradilan menjadi berkurang.
a. Berdasarkan tujuannya, paradigma yang digunakan dalam pemeriksaan medikolegal
sangat berbeda dibandingkan dengan pemeriksaan klinis untuk kepentingan
pengobatan. Tujuan pemeriksaan medikolegal pada seorang korban adalah untuk
menegakkan hukum pada peristiwa pidana yang dialami korban melalui penyusunan
VeR yang baik. Tujuan pemeriksaan klinis pada peristiwa perlukaan adalah untuk
memulihkan kesehatan pasien melalui pemeriksaan, pengobatan, dan tindakan medis
6
lainnya. Apabila seorang dokter yang ditugaskan untuk melakukan pemeriksaan
medikolegal menggunakan orientasi dan paradigma pemeriksaan klinis, penyusunan
VeR dapat tidak mencapai sasaran sebagaimana yang seharusnya.
b. Dari segi medikolegal, orientasi dan paradigma yang digunakan dalam merinci luka
dan kecederaan adalah untuk dapat membantu merekonstruksi peristiwa penyebab
terjadinya luka dan memperkirakan derajat keparahan luka (severity of injury).
Dengan demikian pada pemeriksaan suatu luka, bisa saja ada beberapa hal yang
dianggap penting dari segi medikolegal, tidak dianggap perlu untuk tujuan
pengobatan, seperti misalnya lokasi luka, tepi luka, dan sebagainya.
Berdasarkan uraian di atas, sama-sama disadari bahwa pembuatan VeR memiliki
aspek medikolegal yang harus diperhatikan terutama penilaian klinis untuk
menentukan derajat luka. Untuk selanjutnya akan dibahas berbagai aspek
medikolegal dari VeR dan penilaian klinis sebagai bahan penyegar bagi kita semua.

Penentuan Derajat Luka


Salah satu yang harus diungkapkan dalam kesimpulan sebuah VeR perlukaan adalah
derajat luka atau kualifikasi luka. Dari aspek hukum, VeR dikatakan baik apabila substansi
yang terdapat dalam VeR tersebut dapat memenuhi delik rumusan dalam KUHP.
Penentuan derajat luka sangat tergantung pada latar belakang individual dokter seperti
pengalaman, keterampilan, keikutsertaan dalam pendidikan kedokteran berkelanjutan dan
sebagainya.
Suatu perlukaan dapat menimbulkan dampak pada korban dari segi fisik, psikis, sosial dan
pekerjaan, yang dapat timbul segera, dalam jangka pendek, ataupun jangka panjang.
Dampak perlukaan tersebut memegang peranan penting bagi hakim dalam menentukan
beratnya sanksi pidana yang harus dijatuhkan sesuai dengan rasa keadilan.
Hukum pidana Indonesia mengenal delik penganiayaan yang terdiri dari tiga tingkatan
dengan hukuman yang berbeda yaitu penganiayaan ringan (pidana maksimum 3 bulan
penjara), penganiayaan (pidana maksimum 2 tahun 8 bulan), dan penganiayaan yang
menimbulkan luka berat (pidana maksimum 5 tahun). Ketiga tingkatan penganiayaan
tersebut diatur dalam pasal 352 (1) KUHP untuk penganiayaan ringan, pasal 351 (1)
KUHP untuk penganiayaan, dan pasal 352 (2) KUHP untuk penganiayaan yang
menimbulkan luka berat. Setiap kecederaan harus dikaitkan dengan ketiga pasal tersebut.
Untuk hal tersebut seorang dokter yang memeriksa cedera harus menyimpulkan dengan
menggunakan bahasa awam, termasuk pasal mana kecederaan korban yang bersangkutan.
7
Rumusan hukum tentang penganiayaan ringan sebagaimana diatur dalam pasal 352 (1)
KUHP menyatakan bahwa “penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau
halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian, diancam, sebagai
penganiayaan ringan”. Jadi bila luka pada seorang korban diharapkan dapat sembuh
sempurna dan tidak menimbulkan penyakit atau komplikasinya, maka luka tersebut
dimasukkan ke dalam kategori tersebut.
Selanjutnya rumusan hukum tentang penganiayaan (sedang) sebagaimana diatur dalam
pasal 351 (1) KUHP tidak menyatakan apapun tentang penyakit. Sehingga bila kita
memeriksa seorang korban dan didapati “penyakit” akibat kekerasan tersebut, maka
korban dimasukkan ke dalam kategori tersebut.
Akhirnya, rumusan hukum tentang penganiayaan yang menimbulkan luka berat diatur
dalam pasal 351 (2) KUHP yang menyatakan bahwa Jika perbuatan mengakibatkan luka-
luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun”. Luka
berat itu sendiri telah diatur dalam pasal 90 KUHP secara limitatif. Sehingga bila kita
memeriksa seorang korban dan didapati salah satu luka sebagaimana dicantumkan dalam
pasal 90 KUHP, maka korban tersebut dimasukkan dalam kategori tersebut.
Luka berat menurut pasal 90 KUHP adalah :
 jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali,
atau yang menimbulkan bahaya maut;
 tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan
pencarian; kehilangan salah satu panca indera;
 mendapat cacat berat;
 menderita sakit lumpuh;
 terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih;
 gugur atau matinya kandungan seorang perempuan.
4. Plan

Diagnosis : Kesimpulan atau hasil pemeriksaan pada tanggal 27 mei 2016 atas seorang
perempuan usia 32 tahun dengan 1 buah luka memar sesuai gambaran akibat kekerasan
dari benda tumpul.

Takalar, 25 Agustus 2016

PESERTA PEMBIMBING

8
dr. Hans Alfonso T

dr. Irmastuti, MARS