Anda di halaman 1dari 9

Nama Peserta dr.

Hans Alfonso T
Nama Wahana RSUD H. Padjonga Dg. Ngalle Takalar
Topik Kejang Demam Sederhana
Tanggal (kasus) 05 Mei 2016
Nama Pasien An. MR No. RM
Tanggal Presentasi 25 Agustus 2016 Pendamping dr. Irmastuti, MARS
Tempat Presentasi RSUD H. Padjonga Dg. Ngalle Takalar
Anggota Komite Medik & Dokter Internsip RSUD H. Padjonga Dg.
Obyektif Presentasi
Ngalle Takalar
◊ Keilmuan ◊ Ketrampilan ◊ Penyegaran ◊ Tinjauan Pustaka
◊ Diagnostik ◊ Manajemen ◊ Masalah ◊ Istimewa
◊ Neonatus ◊ Bayi ◊ Anak ◊ Remaja ◊ Dewasa ◊ Lansia ◊ Bumil
Seorang anak perempuan usia 1 tahun 1 bulan dibawa oleh orangtuanya ke
UGD dengan keluhan kejang yang dialami oleh anaknya kira-kira 1 jam yang
◊ Deskripsi
lalu selama kurang dari 10 menit. Kejang dialami seluruh badan. Frekuensi
kejang satu kali. Pasien demam sejak dua hari yang lalu, terus menerus.
◊ Tujuan Menegakkan diagnosis dan penatalaksanaan Kejang Demam.
Bahan Bahasan ◊ Tinjauan Pustaka ◊ Riset ◊ Kasus ◊ Audit
Cara Membahas ◊ Diskusi ◊ Presentasi & Diskusi ◊ E-mail ◊ Pos
Data Pasien ◊ Nama : An. MR ◊ No.Registrasi : 204847
Nama Klinik : RSUD H.
Padjonga Dg. Ngalle Telp. : - Terdaftar sejak : -
Takalar
Data Utama Untuk Bahasan Diskusi :
1. Diagnosis/gambaran klinis:
Seorang anak perempuan usia 1 tahun 1 bulan dibawa oleh orangtuanya ke UGD dengan
keluhan kejang yang dialami oleh anaknya kira-kira 1 jam yang lalu selama kurang dari
10 menit. Kejang dialami seluruh badan. Frekuensi kejang satu kali. Pasien demam sejak
dua hari yang lalu, terus menerus. Batuk tidak ada, lendir tidak ada, sesak tidak ada. Mual
muntah tidak ada. BAK: saat ini: kesan lancar, tidak ada nyeri, tidak keruh, dan tidak ada
darah. BAB: biasa.
Pemeriksaan fisis: TD: tidak diukur.N: 128 x/mnt, P:32 x/mnt, S: 39,0 ºC.
2. Riwayat pengobatan: Pasien berobat di rumah dengan paracetamol yang dibeli di apotik.
3. Riwayat kesehatan/penyakit sebelumnya: Pasien tidak pernah mengalami kejang
sebelumnya, tidak pernah sesak sebelumnya, tidak pernah mengalami BAB berlendir dan
berdarah sebelumnya. Riwayat penyakit jantung bawaan tidak ada.
4. Riwayat keluarga : Anak kedua, dari 3 bersaudara. Ayah pasien juga menderita Asma
Bronkial.
5. Lain-lain : -
Daftar Pustaka :
1. Mansjoer, A., dkk. Kejang demam. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran, Edisi Ketiga. Jilid

1
2. Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2000 : 434-7.
2. SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unhas. Protokol diare, pneumonia dan kejang demam
Dalam: Standar pelayanan medis kesehatan anak FK Unhas. Makassar: 2009: 1-3, 35-8,
103-8.
3. Deliana, Melda. Tatalaksanan Kejangpada Anak. Sari Pedsiatri, Vol 4. No. 2, September
2002; 59-62.
4. Kliegman, Behrman, Jenson, Stanton (2007). Nelson Textbook Book Of Pediatrics 18th edition
Hasil Pembelajaran :
1. Kriteria Diagnosis Kejang Demam
2. Memberikan penanganan awal kejang demam di UGD

Rangkuman hasil pembelajaran portofolio:


1. Subyektif:
Seorang anak perempuan usia 1 tahun 1 bulan dibawa oleh orangtuanya ke UGD dengan
keluhan kejang yang dialami oleh anaknya kira-kira 1 jam yang lalu selama kurang dari 10
menit. Kejang dialami seluruh badan. Frekuensi kejang satu kali. Pasien demam sejak dua
hari yang lalu, terus menerus. Batuk tidak ada, lendir tidak ada, sesak tidak ada. Mual muntah
tidak ada. BAK: saat ini: kesan lancar, tidak ada nyeri, tidak keruh, dan tidak ada darah.
BAB: biasa.
2. Obyektif

Vital Sign
Keadaan Umum : Sakit sedang
Kesadaran : Komposmentis
Tekanan Darah : Tidak diukur
Nadi : 128x/menit
Pernapasan : 32x/menit
Suhu : 39OC
BB : 11 kg
Status Neurologis:
GCS 15 : E4 M6 V5
FKL : kesan dbn.
RM : Kaku kuduk (-), Kernick Sign (-)/(-)
Pupil : Kedua pupil bulat isokor ki=ka,  uk 0,25 cm/0,25 cm. RCL (+)/(+). RCTL

2
(+)/(+)
Motorik:

K = N/N T = N/N Rf = N/N Rp = -/-

N/N N/N N/N -/-

Sensorik : kesan dbn


SSO : kesan dbn

Pemeriksaan Sistemik
Kepala : tidak ada deformitas, tidak ada benjolan
Rambut : hitam, distribusi merata, tidak mudah dicabut
Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Telinga : tidak ditemukan kelainan
Hidung : tidak ditemukan kelainan
Mulut : tonsil T1/T1 , tidak hiperemis
Leher : tidak ditemukan kelainan
Kelenjar getah bening : tidak ada pembesaran getah bening
Thorax
Inspeksi : Simetris Kiri = kanan
Palpasi : benjolan (-), fremitus kiri dan kanan sama
Perkusi : sonor di kedua lapang paru
Auskultasi : bronchovesikular, rhonki -/-, wheezing -/- di kedua lapangan paru
Cor
Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : iktus kordis tidak teraba
Perkusi : batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop(-)
Abdomen
Inspeksi : datar, ikut gerak napas
Palpasi : distensi (-), hepar dan limpa sulit dinilai
Perkusi : timpani

3
Auskultasi : bising usus (+) normal
Anggota gerak : akral hangat, edema (-), perfusi perifer cukup

3. Assessment
Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada anak berusia 3 bulan sampai dengan 5 tahun
dan berhubungan dengan demam serta tidak didapatkan adanya infeksi ataupun kelainan yang
jelas di intrakranial.
Kejang demam dibagi menjadi dua kelompok yaitu kejang demam sederhana dan kejang
demam kompleks.

No Klinis KD sederhana KD kompleks

1 Durasi <15 menit >= 15 menit

2 Tipe Kejang Umum Umum/fokal

3 Berulang dalam satu episode 1 Kali >1 kali

4 Defisit neurologis - +/-

5 Riw. Keluarga KD +/- +/-

6 Riw. Keluarga tanpa KD +/- +/-

7 Abnormalitas neurologis +/- +/-


seblumnya

Tabel 1. Perbedaan kejang demam sederhana dan kompleks..

EPIDEMIOLOGI

Kejang demam merupakan salah satu kelainan neurologis yang paling sering dijumpai pada bayi dan
anak. Kejang demam terjadi pada 2-5% anak usia dibawah 5 tahun di negara industri seperti di
Amerika Serikat dan Eropa Barat, sedangkan angka kejadian di Asia dilaporkan lebih tinggi.
Diperkirakan sekitar 20% dari kasus merupakan kejang demam kompleks, dengan insiden lebih tinggi
pada anak laki-laki.

Anak-anak dengan riwayat kejang demam memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kejang
demam. Hal ini di dapatkan pada satu dari tiga kasus kejang demam. Anak-anak dibawah 12 bulan
memiliki risiko sebesar 50% untuk mengalami kejang demam ulangan, dan akan menurun menjadi
30% jika anak mencapai usia diatas 12 bulan.

4
PATOFISIOLOGI
Kejang adalah manifestasi klinis khas yang berlangsung secara intermitten dapat berupa
gangguan kesadaran, tingkah laku, emosi, motorik, sensorik, dan atau otonom yang
disebabkan oleh lepasnya muatan listrik yang berlebihan di neuron otak. Status epileptikus
adalah kejang yang terjadi lebih dari 30 menit atu kejang berulang lebih dari 30 menit tanpa
disertai pemulihan kesadaran.
Mekanisme dasar terjadinya kejang adalah peningkatan aktifitas listrik yang berlebihan pada
neuron-neuron dan mampu secara berurutan merangsang sel neuron lain secara bersama-sama
melepaskan muatan listriknya. Hal tersebut diduga disebabkan oleh; kemampuan membran
sel sebagai pacemaker neuron untuk melepaskan muatan listrik yang berlebihan;
berkurangnya inhibisi oleh neurotransmitter asam gama amino butirat [GABA]; atau
meningkatnya eksitasi sinaptik oleh transmiter asam glutamat dan aspartat melalui jalur
eksitasi yang berulang. Status epileptikus terjadi oleh karena proses eksitasi yang berlebihan
berlangsung terus menerus, di samping akibat ilnhibisi yang tidak sempurna.

KLASIFIKASI
Setelah diyakini bahwa serangan ini adalah kejang, selanjutnya perlu ditentukan jenis kejang.
Saat ini klasifikasi kejang yang umum digunakan adalah berdasarkan Klasifikasi
International League Against Epilepsy of Epileptic Seizure [ILAE] 1981, yaitu dapat dilihat
pada tabel 2.

ETIOLOGI
Langkah selanjutnya, setelah diyakini bahwa serangan saat ini adalah kejang adalah mencari
penyebab kejang. Penentuan faktor penyebab kejang sangat menentukan untuk tatalaksana

5
selanjutnya,2 karena kejang dapat diakibatkan berbagai macam etiologi. Adapun etiologi
kejang yang tersering pada anak dapat dilihat pada tabel 3.

DIAGNOSIS
Anamnesis dan pemeriksaan fisis yang baik diperlukan untuk memilih pemeriksaan
penunjang yang terarah dan tatalaksana selanjutnya. Anamnesis dimulai dari riwayat
perjalanan penyakit sampai terjadinya kejang, kemudian mencari kemungkinan adanya faktor
pencetus atau penyebab kejang. Ditanyakan riwayat kejang sebelumnya, kondisi medis yang
berhubungan, obatobatan, trauma, gejala-gejala infeksi, keluhan neurologis, nyeri atau cedera
akibat kejang.
Pemeriksaan fisis dimulai dengan tanda-tanda vital, mencari tanda-tanda trauma akut kepala
dan adanya kelainan sistemik, terpapar zat toksik, infeksi, atau adanya kelainan neurologis
fokal. Bila terjadi penurunan kesadaran diperlukan pemeriksaan lanjutan untuk mencari
faktor penyebab. Untuk menentukan faktor penyebab dan komplikasi kejang pada anak,
diperlukan beberapa pemeriksaan penunjang yaitu: laboratorium, pungsi lumbal,
elektroensefalografi, dan neuroradiologi. Pemilihan jenis pemeriksaan penunjang disesuaikan
dengan kebutuhan. Pemeriksaan yang dianjurkan pada pasien dengan kejang pertama adalah
kadar glukosa darah, elektrolit, dan hitung jenis.
Dari hasil diagnosis dan pemeriksaan fisis serta pemeriksaan penunjang maka diagnosis
pasien ini mengarah pada kejang demam.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis,
terutama pada pasien kejang demam yang pertama. Pada bayi-bayi kecil seringkali gejala
meningitis tidak jelas sehingga pungsi lumbal harus dilakukan pada bayi berumur kurang dari

6
6 bulan, dan dianjurkan untuk yang berumur kurang dari 18 bulan. Elektroensefalografi
(EEG) ternyata kurang mempunyai nilai prognostik. EEG abnormal tidak dapat digunakan
untuk menduga kemungkinan terjadinya epilepsi atau kejang demam berulang di kemudian
hari. Saat ini pemeriksaan EEG tidak dianjurkan untuk pasien kejang demam sederhana.
Pemeriksaan laboratorium rutin tidak dianjurkan dan dikerjakan untuk mengevaluasi
sumber infeksi.

PENATALAKSANAAN
Ada 3 hal yang perlu dikerjakan, yaitu: (1) pengobatan fase akut; (2) mencari dan mengobati
penyebab; dan (3) pengobatan profilaksis terhadap berulangnya kejang demam.

1. Pengobatan fase akut. Penanganan kejang

Jika pasien datang dalam keadaan kejang, pasien harus segera dimiringkan untuk mencegah aspirasi
ludah atau muntahan. Obat yang paling cepat untuk menghentikan kejang adalah diazepam yang
diberikan secara intravena atau intrarektal. Dosis diazepam intravena adalah 0,3-0,5 mg/ kgBB
perlahan-lahan dengan kecepatan 1-2 mg/ menit dengan dosis maksimal 20 mg. Untuk diazepam
intrarektal, dosis untuk berat badan kurang dari 10 kg, diberikan 5 mg, dan untuk berat badan lebih
dari 10 kg, diberikan 10 mg. Bila kejang tidak berhenti, dapat diulang 5 menit kemudian.

Bila kejang tidak berhenti juga, berikan fenitoin secara intravena dengan dosis awal 10-20 mg/ kgBB/
kali dengan kecepatan 1 mg/ kgBB/ menit. Bila dengan fenitoin kejang belum berhenti maka pasien
harus dirawat di ruang rawat intensif.

Bila kejang telah berhenti, pemberian obat selanjutnya tergantung dari jenis kejang demam apakah
kejang demam sederhana atau kompleks dan faktor resikonya.

Alur penanganan kejang demam:

7
2. Mencari dan mengobati penyebab. Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk
menyingkirkan kemungkinan meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang pertama.
Walaupun demikian kebanyakan dokter melakukan pungsi lumbal hanya pada kasus yang
dicurigai sebagai meningitis, misalnya bila ada gejala meningitis atau bila kejang demam
berlangsung lama.

3. Pengobatan profilaksis. Ada 2 cara profilaksis, yaitu (1) profilaksis intermiten saat
demam dan (2) profilaksis terus-menerus dengan antikonvulsan setiap hari.
Untuk profilaksis intermiten diberikan diazepam secara oral dengan dosis 0,3-0,5
mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis saat pasien demam. Diazepam dapat pula diberikan
secara intrarektal tiap 8 jam sebanyak 5 mg (BB < 10 kg) dan 10 mg (BB > 10 kg) setiap
pasien menunjukkan suhu lebih dari 38,5°C. Efek samping diazepam adalah ataksia,
mengantuk, dan hipotonia.
Profilaksis terus-menerus berguna untuk mencegah berulangnya kejang demam berat yang
dapat menyebabkan kerusakan otak tapi tidak dapat mencegah terjadinya epilepsi di
kemudian hari. Profilaksis terus-menerus setiap hari dengan fenobarbital 4-5 mg/ kgBB/hari
dibagi dalam 2 dosis. Obat lain yang dapat digunakan adalah asam valproat dengan dosis 15-
40 mg/kgBB/hari. Antikonvulsan profilaksis terus menerus diberikan selama 1-2 tahun
setelah kejang terakhir dan dihentikan bertahap selama 1-2 bulan.
Profilaksis terus-menerus dapat dipertimbangkan bila ada 2 kriteria (termasuk poin 1 atau 2)
yaitu:
1. Sebelum kejang demam yang pertama sudah ada kelainan neurologis atau perkembangan
(misalnya serebral palsi atau mikrosefal).
2. Kejang demam lebih lama dari 15 menit, fokal, atau diikuti kelainan neurologis sementara
atau menetap.
3. Ada riwayat kejang tanpa demam pada orang tua atau saudara kandung.
4. Bila kejang demam terjadi pada bayi berumur kurang dari 12 bulan atau terjadi kejang
multipel dalam satu episode demam.
Bila hanya memenuhi satu kriteria saja dan ingin memberikan pengobatan jangka panjang,
maka berikan profilaksis intermiten yaitu pada waktu anak demam dengan diazepam oral atau
rektal tiap 8 jam di samping antipiretik.

PROGNOSIS
Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat, prognosisnya baik dan tidak menyebabkan
8
kematian. Frekuensi berulangnya kejang berkisar antara 25-50%, umumnya terjad pada 6
bulan pertama. Risiko untuk mendapatkan epilepsi rendah.

4. Plan

Diagnosis klinis : Kejang Demam Sederhana

Penatalaksanaan
 O2 1 lpm
 IVFD Asering 24 tpm, mikrodrips
 Inj. Cefotaxime 500mg / 12 jam / iv (ST)
 PCT Syrup 3 x 1 cth
 Injeksi Diazepam: 0,3 x 11 = 3,3mg (diencerkan dengan aquades lalu injeksi perlahan
via wing needle)
 Luminal 2 x 22mg

Pendidikan:
Kita menjelaskan prognosis dari pasien, serta komplikasi yang mungkin terjadi.
Konsultasi:
Dijelaskan adanya indikasi rawat ICU dan konsultasi dengan spesialis anak untuk
penanganan lebih lanjut.
Rujukan:
Diperlukan jika terjadi komplikasi serius yang harusnya ditangani di rumah sakit dengan
sarana dan prasarana yang lebih memadai.

Takalar, 25 Agustus 2016

PESERTA PEMBIMBING

dr. Hans Alfonso T dr. Irmastuti, MARS