Anda di halaman 1dari 12

No. ID dan Nama Peserta : dr.

Hans Alfonso T
No. ID dan Nama Wahana : RSUD H. Padjonga Dg. Ngalle Takalar
Topik : Tuberkulosis Paru
Tanggal (kasus) : 01 November 2016
Presenter : dr. Hans Alfonso T
Tanggal Presentasi : 26 Januari 2017 Pendamping : dr. Vitalis Talik,
M.Kes
Tempat Presentasi : RSUD H. Padjonga Dg. Ngalle Takalar
Obyektif Presentasi :
◊ Keilmuan ◊ Ketrampilan ◊ Penyegaran ◊ Tinjauan Pustaka
◊ Diagnostik ◊ Manajemen ◊ Masalah ◊ Istimewa
◊ Neonatus ◊ Bayi ◊ Anak ◊ Remaja ◊ Dewasa ◊ Lansia ◊ Bumil
◊ Deskripsi : Pria, 47 tahun, Tuberkulosis Paru
◊ Tujuan : Tatalaksana tuberkulosis paru dan menghindari adanya kemungkinan penularan
TB paru
Bahan Bahasan : ◊ Tinjauan Pustaka ◊ Riset ◊ Kasus ◊ Audit
Cara Membahas : ◊ Diskusi ◊ Presentasi & Diskusi ◊ E-mail ◊ Pos
Data Pasien : ◊ Nama : Tn. ADM ◊ No.RM :
Nama Klinik : UGD Telp. : - Terdaftar sejak : 01 November 2016
Data Utama Untuk Bahasan Diskusi :
1. Diagnosis/Gambaran Klinis :Tuberkulosis Paru, Demam dialami sejak 1 minggu yang
lalu, batuk sejak 1 bulan yang lalu disertai lendir, kadang sesak, nyeri dada pada saat
batuk, sering berkeringat pada malam hari, penurunan nafsu makan dan berat badan
menurun.
2. Riwayat pengobatan : pasien hanya minum obat batuk yang dibeli dari warung,
riwayat pengobatan 6 bulan disangkal
3. Riwayat kesehatan/penyakit : pasien menyangkal pernah menderita TB paru, riwayat
batuk darah (+)
- Riwayat Komorbid Lain : Hipertensi (-), Diabetes Melitus (+), Penyakit Ginjal (-),
Penyakit Jantung (-),Asma (-), Keganasan (-).
- Riwayat merokok dan minum alkohol disangkal
- Riwayat Alergi : disangkal
- Riwayat Operasi : disangkal
- Riwayat Opname : disangkal
- Riwayat kontak dengan penderita TB : di sangkal
- Riwayat trauma : disangkal
4. Riwayat keluarga : Riwayat keluarga dengan keluhan yang sama disangkal. Riwayat
keluarga dengan tuberkulosis paru disangkal
5. Riwayat pekerjaan : pasien merupakan petani

Daftar Pustaka :

1
1. Bahar A, Amin Z. Tuberkulosis Paru. In: Setiati S, Alwi I,eds. Buku ajar Ilmu
penyakit dalam. Edisi VI. Jakarta : Interna Publishing ; 2014. p: 863-71
2. Bahar A, Amin Z. Pengobatan Tuberkulosis Muktahir. In: Setiati S, Alwi I,eds. Buku
ajar Ilmu penyakit dalam. Edisi VI. Jakarta : Interna Publishing ; 2014. p: 873-81
3. Aditama TY, Basri C, Surya A, dkk. Pedoman Nasional Penanggulangan
Tuberkulosis edisi ke-2. Jakarta ; Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2014.
4. Isbaniyah F, Thabrani Z, Priyanti S, dkk. 2011. Tuberkulosis; Pedoman Diagnosis dan
Penatalaksanaan di Indonesia. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Jakarta.
5. Alsagaff H,Mukti A. Tuberkulosis paru. In : dasar- dasar imu penyakit paru. Cetakan
ke 7. Surabaya. Airlangga university press. 2010. p:73-108
Hasil Pembelajaran :
1. Diagnosis tuberkulosis paru
2. Penanganan tuberkulosis paru
3. Edukasi pasien dan keluarga pasien mengenai penanganann dan resiko penularan TB
paru

Rangkuman hasil pembelajaran portofolio :


Subyektif : Pasien pria usia 47 tahun datang ke UGD dengan keluhan demam yang dialami
sejak 1 minggu yang lalu terus menerus, pusing, sakit kepala, mual tapi tidak muntah, disertai
batuk yang dialami sejak 1 bulan yang lalu dan batuk disertai lendir, dengan riwayat pernah
batuk bercampur darah. Pasien mengeluh nyeri dada ketika batuk. Pasien juga mengeluh
kadang sesak. Pasien mengaku sering berkeringat malam. Pasien mengaku nafsu makannya
menurun drastis dan berat badannya menurun sebanyak 6 kg dari berat sebelumnya. BAB dan
BAK tidak ada keluhan.
Obyektif :
Pemeriksaan fisik
Kesadaran : compos mentis
Keadaan umum : tampak sakit sedang, gizi baik
Tanda vital: TD: 120/70 mmHg N: 84x/m RR: 20x/m S: 38,50C
BB : 40 kg TB : 165 cm BMI : 14,7 (underweight)
Kepala –leher :
Kepala : normocephali
Mata : sklera ikterik -/- conjungtiva anemis -/-
THT : dalam batas normal
Leher : pembesaran KGB (-)

2
Thoraks : Cor dalam batas normal
Pulmo ;
inspeksi = pergerakan dinding dada simetris kanan &kiri, retraksi dinding dada -
Palpasi = vokal fremitus sama kanan dan kiri
Perkusi = sonor kanan dan kiri
Auskultasi = suara napas vesikuler +/+ , rhonki +/+ wheezing -/-

Abdomen:
Inspeksi : datar
Auskultasi : Peristaltik (+) kesan normal
Palpasi : Massa tumor (-), nyeri tekan (-) , Hepar lien tidak teraba
Perkusi : timpani (+), asites (-)

Anggota gerak :
akral hangat, edema (-), perfusi perifer cukup ,
tampak terpasang selang cairan infus RL pada tangan kiri pasien.

Pemeriksaan foto thorax PA :

tampak cavitas berukuran besar


pada lobus superior paru-paru kiri,
tampak bercak berawan pada lobus
superior kedua paru-paru.

cor, kedua sinus dan diafragma baik

tulang- tulang yang termineralisasi


intak.

Kesan :KP Duplex lama aktif

Pemeriksaan sputum BTA


Sewaktu (+), pagi (+), sewaktu (+)

3
Hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, foto rontgen thorax dan pemeriksaan sputum sangat
mendukung diagnosis tuberkulosis paru. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan
penemuan:
 Gejala klinis (batuk ≥ 3 minggu, sesak nafas, nyeri dada, demam, keringat pada
malam hari, nafsu makan dan berat badan menurun)
 Pada pemeriksaan fisik ditemukan ronkhi sedang di kedua lapangan paru, dan BMI di
bawah normal.
 Gambaran rontgen yang khas
 Hasil pemeriksaan sputum BTA positif (sewaktu, pagi, sewaktu)

Assessment (penalaran klinis) :


Berdasarkan anamnesis didapatkan bahwa Pasien pria usia 47 tahun dengan keluhan
utama demam yang dialami sejak 1 minggu yang lalu terus menerus, disertai batuk yang
dialami sejak 1 bulan yang lalu dan batuk disertai lendir, dengan riwayat batuk bercampur
darah. Pasien mengeluh nyeri dada ketika batuk. Pasien juga mengeluh kadang sesak. Pasien
mengaku sering berkeringat malam. Pasien mengaku nafsu makannya menurun drastis dan
berat badannya menurun sebanyak 6 kg dari berat sebelumnya. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan ronkhi di kedua lapangan paru, dan BMI di bawah normal. Pada pemeriksaan foto
thorax ditemukan gambaran lesi yang menyokong ke arah Tuberkulosis paru aktif yaitu
berupa cavitas berukuran besar pada lobus superior paru-paru kiri dan gambaran bercak
berawan pada lobus superior kedua paru-paru. Pada periksaan sputum BTA menunjukkan
hasil positif. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, pasien
ini didiagnosis menderita Tuberculosis Paru.
Tuberculosis paru (TB paru) adalah infeksi kronik pada parenkim paru yang
disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosis (MTB), ditandai dengan pembentukan
granuloma dan adanya reaksi hipersensitifitas tipe lambat. Sumber penularan umumnya
adalah penderita Tb yang dahaknya mengandung Basil Tahan Asam (BTA).
Mycobacterium tuberculosis adalah suatu jenis kuman yang berbentuk batang dengan
ukuran panjang 1-4/um dan tebal 0,3-0,6/um, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap
asam pada pewarnaan. Mycobacterium tuberculosis (MTB) memiliki dinding yang sebagian
besar terdiri atas lipid, kemudian peptidoglikan dan arabinomannan. Lipid inilah yang
membuat kuman lebih tahan asam dan ia juga lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisis.
Kuman dapat hidup dalam udara kering maupun dalam keadaan dingin ( dapat tahan bertahun
- tahun dalam lemari es ) dimana kuman dalam keadaan dormant. Dari sifat ini kuman dapat

4
bangkit kembali dan menjadikan penyakit tuberkulosis menjadi aktif lagi.
Paru merupakan port d’entrée lebih dari 98% kasus infeksi TB. Karena ukurannya
yang sangat kecil, kuman TB dalam percik renik (droplet nuclei) yang terhirup, dapat
mencapai alveolus. Masuknya kuman TB ini akan segera diatasi oleh mekanisme imunologis
non spesifik. Makrofag alveolus akan menfagosit kuman TB dan biasanya sanggup
menghancurkan sebagian besar kuman TB. Akan tetapi, pada sebagian kecil kasus, makrofag
tidak mampu menghancurkan kuman TB dan kuman akan bereplikasi dalam makrofag.
Kuman TB dalam makrofag yang terus berkembang biak, akhirnya akan membentuk koloni
di tempat tersebut. Lokasi pertama koloni kuman TB di jaringan paru disebut Fokus Primer
GOHN. Dari fokus primer, kuman TB menyebar melalui saluran limfe menuju kelenjar limfe
regional. Waktu yang diperlukan sejak masuknya kuman TB hingga terbentuknya kompleks
primer secara lengkap disebut sebagai masa inkubasi TB. Hal ini berbeda dengan pengertian
masa inkubasi pada proses infeksi lain, yaitu waktu yang diperlukan sejak masuknya kuman
hingga timbulnya gejala penyakit. Masa inkubasi TB biasanya berlangsung dalam waktu 4-8
minggu dengan rentang waktu antara 2-12 minggu. Dalam masa inkubasi tersebut, kuman
tumbuh hingga mencapai jumlah 103-104, yaitu jumlah yang cukup untuk merangsang
respons imunitas seluler. Berikut ini adalah algoritma pathogenesis TB paru.

Lingkungan hidup yang padat dan pemukiman di wilayah perkotaan kemungkinan


besar telah mempermudah proses penularan dan berperan sekali atas meningkatnya jumlah
kasus TB. Penularan penyakit ini sebagian besar melalui inhalasi basil yang mengandung

5
droplet nuclei yang ditemukan pada pasien tuberkulosis paru dengan BTA (+). Pada waktu
batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan
dahak). Kuman yang berada di dalam droplet dapat bertahan di udara pada suhu kamar
selama beberapa jam dan dapat menginfeksi individu lain bila terhirup ke dalam saluran
nafas. Kuman tuberkulosis yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan dapat
menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya melalui sistem peredaran darah, sistem saluran
limfe, saluran pernafasan, atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya.
Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang
dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin
menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka
penderita tersebut dianggap tidak menular. Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan
oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. Penularan pada
anak-anak biasanya karena ada kontak dengan penderita TB dewasa.
Gejala klinis yang sering ditemukan pada pasien TB adalah batuk berdahak >3
minggu, bisa disertai darah, sesak napas, nyeri dada, sering demam, mengigil, keringat
malam, malaise ditandai dengan penurunan nafsu makan menyebabkan berat badan menurun.
Gejala klinis pada pasien ini adalah batuk sejak 4 bulan yang lalu disertai lendir bercampur
darah. Batuk terjadi karena adanya iritasi pada bronkus. Gejala batuk berdahak merupakan
respon tubuh untuk mengeluarkan produk ekskresi dari peradangan.
Batuk berdahak berawal dari adanya infeksi kuman tuberculosis paru yang
membentuk tuberkel. Pada system imun yang rendah, bakteri ini akan mengalami
perkembangbiakan sehingga tuberkel bertambah banyak. Sehingga tuberkel yang banyak ini
berkumpul membentuk sebuah ruang didalam rongga paru, Ruang inilah yang nantinya
menjadi sumber produksi sputum (riak/dahak). Pada keadaan yang lebih lanjut, batuk
berdahak bisa bercampur darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah. Kebanyakan
batuk darah pada tuberculosis terjadi pada kavitas, tetapi bisa juga terjadi pada ulkus dinding
bronkus.
Selain itu pasien ini juga mengeluk Sesak dan nyeri dada ketika batuk. Sesak terjadi
jika kerusakan sudah meluas yang infiltrasinya sudah meliputi setengah bagian paru- paru
dan mengganggu proses ventilasi sehingga udara yang sampai ke alveoli akan berkurang.
Sedangkan nyeri dada dapat timbul jika infiltrasi radang sudah sampai ke pleura dan
menimbulkan pleuritis yang menyebabkan terjadinya gesekan kedua pleura sewaktu pasien
menarik atau melepaskan napas.
Pada pemeriksaan fisik, kelainan yang akan dijumpai tergantung dari organ yang
6
terlibat. Pada tuberkulosis paru, kelainan yang didapat tergantung luas kelainan struktur paru.
Pada permulaan (awal) perkembangan penyakit umumnya tidak (atau sulit sekali)
menemukan kelainan. Kelainan paru pada umumnya terletak di daerah lobus superior
terutama daerah apeks dan segmen posterior (S1 & S2) , serta daerah apeks lobus inferior
(S6). Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan antara lain suara napas bronkial, amforik, suara
napas melemah, ronki basah, tanda-tanda penarikan paru, diafragma & mediastinum.
Untuk menegakkan diagnosis TB paru, dapat kita lakukan pemeriksaan penunjang
yaitu pemeriksaan darah rutin, foto rontgen thorax dan pemeriksaan sputum BTA.
pemeriksaan darah rutin kurang menunjukkana indikator yang spesifik untuk tuberkulosis.,
Laju endap darah (LED) jam pertama dan kedua dapat digunakan sebagai indikator
penyembuhan pasien . Biasanya Laju endap darah dan lekosit sering meningkat pada proses
aktif tetapi laju endap darah yang normal tidak menyingkirkan tuberkulosis. Limfositpun
kurang spesifik. Pada TB berat sering disertai dengan anemia..
Pemeriksaan foto toraks dengan lesi TB aktif ditunjukkan dengan adanya Bayangan
bercak berawan/nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas paru dan segmen superior
lobus bawah. Kavitas, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau
nodular, Bayangan bercak milier, Dan Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral
(jarang). Sedangkan Gambaran radiologi yang dicurigai lesi TB lama tenang ditemukan
adanya garis fibrotik, kalsifikasi, ataupun Schwarte atau penebalan pleura, sedangkan TB
lama aktif bila terdapat minimal 1 tanda gambaran TB aktif dan 1 tanda gambaran TB lama
tenang dengan lokasi di apex paru.
Pada pasien ini tampak cavitas berukuran besar pada lobus superior paru-paru kanan
disertai bercak- bercak retikulogranuler pada kedua paru-paru. Adanya cavitas pada foto
thorax menunjukkan lesi TB yang aktif.
Untuk melakukan Pemeriksaan sputum BTA (basil tahan asam), Dahak terbaik adalah
dahak pagi hari sebelum makan, kental, purulen, dengan jumlah minimal 3-5 ml. Dahak
diperiksa 3 hari berturut-turut dengan pewarnaan Ziel Neelsen atau Kinyoun Gabbet. BTA
dikatakan positif bila BTA dijumpai setidaknya pada dua dari tiga pemeriksaan BTA. Akan
tetapi pemeriksaan BTA pada faskes ini tidak tersedia, sehingga untuk melakukan
pemeriksaan BTA pasien harus kembali faskes primer. Berikut ini alur diagnose TB Paru :

7
Terminologi tipe penderita Tb dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu kasus baru, kasus
kambuh, kasus defaulted atau drop out, kasus gagal, dan kasus kronik. Kasus baru yakni
pasien tidak mendapat obat anti TB lebih dari 1 bulan, kasus kambuh yakni pasien yang
pernah dinyatakan sembuh dari TB, tetapi kemudian timbul lagi TB aktifnya. Kasus defaulted
atau drop out, pasien yang tidak mengambil obat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum
masa pengobatannya selesai. Sedangkan kasus gagal yaitu pasien yang sputum BTA nya tetap
positif setelah mendapat obat anti TB lebih dari 5 bulan atau pasien yang menghentikan
pengobatannya setelah mendapat obat anti TB 1-5 bulan dan sputum BTA nya masih postif.
Kasus kronik yaitu pasien yang sputum BTA nya tetap positif setelah mendapat pengobatan
ulang lengkap yang disupervisi dengan baik. Pada pasien ini tidak pernah mendapatkan
pengobatan anti TB sebelumnya, maka dari itu digolongkan sebagai kasus baru.
Terminologi diagnosis dibagi dalam 3 kelompok, yaitu Tb paru BTA positif, Tb paru
BTA negatif dan bekas Tb paru. Yang termasuk Tb paru BTA positif apabila sputum BTA
positif ≥ 2 kali, sputum BTA positif ≥ 1 kali dengan kultur positif atau sputum BTA positif ≥
1 kali dengan klinis/radiologist sesuai dengan Tb paru. Tb paru BTA negatif apabila klinis
dan radiologist sesuai dengan Tb paru, sputum BTA negatif dan kultur negatif atau positif.
Bekas Tb paru apabila sputum dan kultur negatif, gejala klinis tidak menunjang dan
gambaran radiologis menunjukkan gambaran tak aktif.
Penyakit tuberkulosis paru bila tidak di tangani dengan benar akan menimbulkan

8
komplikasi. Komplikasi dini yang dapat terjadi yaitu pleuritis, efusi pleura,
empiema,laringitis. Dan pada penderita TB paru stadium lanjut komplikasi yang bisa terjadi
yaitu Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan
kematian karena syok hipovolemik atau karena tersumbatnya jalan napas. Atelektasis (paru
mengembang kurang sempurna) atau kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial,
bronkiektasis (pelebaran broncus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan
ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru, kor pulmonal,
amiloidosis,karsinoma paru, sindrom gagal napas dewasa (ARDS) yang sering terjadi pada
TB milier dan kavitas TB serta Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak,
tulang, persendian, dan ginjal.

Plan :
Diagnosis : Tuberkulosis Paru

Pengobatan :
Non-farmakologis
- Istirahat yang cukup
- Makan makanan yang bergizi
- Edukasi rutin memakai masker
- Edukasi kepada pasien dan keluarga pasien tentang pentingnya keteraturan
meminum obat dan bahaya komplikasi penyakit TB Paru

Farmakologis
Pada pasien ini terapi yang telah diberikan adalah :
- IVFD RL 28 tetes / menit
- Injeksi Ceftriaxone 1 gr / 24 jam/ IV
- Ambroxol 30 mg 3x1
- Paracetamol 500 mg 3x1
- Vitamin B kompleks 1x1 tablet

Selain itu jika telah dilakukan pemeriksaan sputum BTA dan menunjukkan hasil
positif, maka pasien harus segera memulai pengobatan OAT nya.
Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan. Pada tahap
intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk

9
mencegah terjadinya resistensi obat. Bila pengobatan tahap intensif ini diberikan secara tepat,
biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar
pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif dalam 2 bulan. Pada tahap lanjutan pasien
mendapat jenis obat lebih sedikit namun dalam jangka waktu yang lebih lama. Tahap lanjutan
penting untuk membunuh kuman persisten sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.
Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis
di Indonesia:
 Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3.
Diberikan untuk pasien baru TB paru BTA positif, Pasien TB paru BTA negatif
foto toraks positif, Pasien TB ekstra paru
 Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3.
Diberikan untuk pasien TB paru BTA positif yang telah diobati sebelumnya
seperti pasien kambuh, pasien gagal pengobatan & pasien dengan putus berobat
(default)
Pada tahun 1998 WHO dan IUATLD merekomendasikan pemakaian obat kombinasi
dosis tetap 4 obat sebagai dosis yang efektif dalam terapi TB untuk menggantikan paduan
obat tunggal sebagai bagian dari strategi DOTS. Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk
paket dengan tujuan memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan pengobatan
sampai selesai. Tersedia obat Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) atau Fix Drugs
Combination (FDC) untuk paduan OAT kategori I dan II.
Jenis-jenis tablet FDC dikelompokkan menjadi 2, yaitu: FDC untuk dewasa dan FDC
untuk anak-anak. Tablet FDC untuk dewasa terdiri tablet 4FDC dan 2FDC. Tablet 4FDC
mengandung 4 macam obat yaitu: 75 mg Isoniasid (INH), 150 mg Rifampisin, 400 mg
Pirazinamid, dan 275 mg Etambutol. Tablet ini digunakan untuk pengobatan setiap hari
dalam tahap intensif dan untuk sisipan. Tablet 2 FDC mengandung 2 macam obat yaitu: 150
mg Isoniasid (INH) dan 150 mg Rifampisin. Tablet ini digunakan untuk pengobatan
intermiten 3 kali seminggu dalam tahap lanjutan. Baik tablet 4FDC maupun tablet 2FDC
pemberiannya disesuaikan dengan berat badan pasien. Untuk melengkapi paduan obat
kategori II tersedia obat lain yaitu: tablet etambutol @400 mg dan streptomisin injeksi (vial
@750 mg). Dosis dan aturan pakai FDC disesuaikan dengan berat badan pasien. Untuk
pasien TB dewasa yang masuk dalam kategori I dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Berat Badan Tahap Intensif tiap hariTahap Lanjutan 3 kali seminggu

10
selama 56 hari selama 16 minggu
30 – 37 kg 2 tablet 4FDC 2 tablet 2FDC
38 – 54 kg 3 tablet 4FDC 3 tablet 2FDC
55 – 70 kg 4 tablet 4FDC 4 tablet 2FDC
≥ 71 kg 5 tablet 4FDC 5 tablet 2FDC

Dengan memberikan FDC kepada pasien TB diharapkan pasien akan lebih mudah
dalam minum OAT karena jumlah tabletnya lebih sedikit. Selain itu dapat meminimalkan
efek samping OAT. Hal ini karena formula dosis FDC disesuaikan dengan berat badan pasien
dan jumlah komponen obat yang harus diminum pasien. Dengan adanya FDC, tingkat
kepatuhan pasien dalam minum obat akan lebih tinggi karena pengaruh psikis pasien dari
melihat jumlah tablet yang harus diminum, tidak sebanyak dibandingkan dengan pemberian
OAT dalam tablet yang terpisah.

Pendidikan :
Menjelaskan kepada pasien dan keluarganya tentang penyakit yang dideritanya saat
ini, cara pengobatan, prognosis dan komplikasi yang dapat terjadi pada pasien. Mengedukasi
pasien untuk istirahat yang cukup, makan makanan bergizi, tidak merokok dan minum
alcohol. Menjelaskan kepada pasien tentang penularan penyakitnya dan memberitahu penjaga
pasien agar senantiasa memakai masker untuk menghindari terjadinya penularan.
Karena tidak adanya fasilitas pemeriksaan Sputum di faskes ini, maka pasien di
jelaskan agar melakukan pemeriksaan Sputum BTA di Puskesmas agar segera mendapatkan
pengobatan OAT
Jika telah menjalani pengobatan OAT, pasien diharuskan memiliki PMO (Pengawas
Minum Obat) sehingga dapat menjamin kepatuhan pasien dalam minum OAT.

Konsultasi :
Konsultasi pada spesialis penyakit dalam diperlukan jika terdapat efek samping dari
pengobatan TB yang dilakukan dan terjadinya multi resisten terhadap obat.

Rujukan :
Setelah kondisi membaik, diharapkan pasien kembali ke Puskesmas untuk melakukan
Pemeriksaan Sputum BTA.

Prognosis :

11
Vital : Dubia ad bonam
Functional : Dubia ad bonam
Sanationam : Dubia ad bonam

Takalar, 26 Januari 2017

PESERTA PEMBIMBING

dr. Hans Alfonso T dr. Vitalis Talik, M.Kes

12