Anda di halaman 1dari 3

CONTOH STUDI KASUS

Kalimantan Timur (Kaltim) merupakan provinsi yang paling kaya akan sumber daya
batubara di Pulau Kalimantan. Namun demikian, persoalan tambang batubara di Kaltim cukup
kompleks khususnya keberadaan USAha tambang di kawasan hutan yang tidak prosedural
mencapai 2 kali lipat dari jumlah unit yang berizin resmi. Tujuan penelitian ini adalah untuk: (i)
mengkaji perkembangan USAha tambang batubara di Kaltim, (ii) menganalisis perijinan
tambang batubara, (iii) mengidentifikasi persoalan konflik kebijakan USAha tambang, dan (iv)
menyusun kebijakan resolusi konflik tambang di kawasan hutan. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa produksi batubaranya Kaltim setiap tahun mencapai 192,97juta ton atau 86% dari
produksi batubara nasional dan ekspornya mencapai 145,82 juta ton atau 73% dari total ekspor
batabara nasional. Saat ini USAha tambang di kawasan hutannya mencapai 159 unit dengan
luasan sebesar 362.061 ha, tetapi jumlah unit USAha tambang batubara yang tidak prosedural
sebanyak 223 unit dengan luasan 774.519 ha. Kasus-kasus konflik USAha tambang di kawasan
hutan berbeda-beda di setiap kabupaten dengan faktor penyebab dan dampak yang berbeda-beda
juga sehingga menuntut resolusi konflik yang khas sesuai dengan karakteristik dan tipe konflik
yang dihadapinya. Ada tujuh aksi yang harus diambil dalam penyusunan kebijakan sebagai
upaya penyelesian konflik-konflik tambang di kawasan hutan.
CARA PENAMBANGAN
Cara Tambang Dalam dan Cara Tambang Terbuka.
- Cara Tambang Dalam dilakukan dengan pertama kali adalah membuat jalan dan lubang
persiapan, baik berupa lubang sumuran ataupun berupa lubang mendatar atau menurun
menuju ke lapisan batubara yang akan ditambang. Cara penambangnnya dapat dilakukan
secara manual, yaitu menggunakan banyak alat yang memakai kekuatan tenaga manusia.
Atau, secara mekanis. Yaitu mempergunakan alat sederhana sampai menggunakan sistem
elektronis dengan pengendalian jarak jauh. Pada cara penambangan dalam, yang penting
dilakukan adalah bagaimana mempertahankan lubang buka seaman mungkin. Hal ini agar
terhindar dari kemungkinan keruntuhan atap batuan, ambruknya dinding lubang (rib spalling)
dan penggelembungan lantai lapisan batubara (floor heave).
- Cara Tambang Terbuka, yang pertama kali dilakukan adalah mengupas tanah penutup. Pada
penambangan berbagai jenis batubara, memerlukan jenis dan peralatan yang berbeda
pula.Kelebihan dari tambang terbuka dibandingkan dengan tambang dalam adalah relatif lebih
aman, relatif lebih sederhana dan mudah pengawasannya. Pada saat ini, sebagian besar
penambangan batubara dilakukan dengan metode tambang terbuka. Terutama setelah
digunakannya alat-alat besar yang mempunyai kapasitas muat dan angkut yang besar untuk
membuang lapisan penutup batubara menjadi lebih murah dan menekan biaya ekstraksi
batubara.
PERUSAHAAN BATUBARA DI INDONESIA
Beberapa perusahaan tambang batubara terbesar yang ada di Indonesia :
1. Kaltim Prima Coal (KPC)
Kaltim Prima Coal berkantor pusat di Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan
Timur. Pemerintah Indonesia memberi izin ke KPC buat mengelola area konsesi
pertambangan yang luasnya mencapai 90.938 hektar di wilayah Sangatta dan Bengalon.
Sebagian besar saham KPC dipegang PT BUMI Resources Tbk. Sepanjang tahun 2017, anak
usaha BUMI ini udah memproduksi 57,6 ton batu bara. Seperti yang dilaporkan Warta
Ekonomi, laba bersih KPC tahun 2017 mencapai US$ 271,01 juta atau Rp 3,79 triliun.
2. Adaro Indonesia
Di area konsesi tersebut, menurut yang diinformasikan di website resminya, Adaro Indonesia
memiliki tiga pertambangan, yaitu Tutupan, Paringin dan Wara. Dari pertambangan yang
dimiliki Adaro, produksi batu baranya sepanjang tahun 2018 mencapai 54 juta ton. Dari
informasi yang dilaporkan Bisnis Indonesia, Adaro Indonesia mencatatkan pendapatan hingga
September 2018 sebesar US$ 2,66 miliar atau Rp 37 triliun. Adaro sendiri tercatat sebagai
perusahaan terbuka. Sekitar 43 persen sahamnya dimiliki PT Adaro Strategic Investments.
Sementara sisanya dimiliki publik dan Garibaldi Thohir, saudara dari Erick Thohir.
3. Berau Coal
Sebelumnya, perusahaan ini dikenal dengan nama PT Risco. Pada 2010, namanya kemudian
berganti menjadi Berau Coal. Perusahaan ini mendapat konsesi seluas 118.400 hektar di
Kabupaten Berau, Samarinda, Kalimantan Timur. Kepemilikan saham perusahaan ini
sebagian besar dikuasai Vallar Investment UK Limited. Lalu, sisanya dimiliki Sinarmas
Group melalui Asia Resource Minerals Plc. Tahun 2016, Berau Coal mencatatkan produksi
sebesar 26 juta metrik ton.
4. Kideco Jaya Agung
Pada 2017, mayoritas saham Kideco Jaya Agung dikuasai PT Indika Energy Tbk. PT Indika
Energy Tbk. menjadi pemilik 91 persen saham Kideco Jaya Agung. Sementara itu, sisanya
dimiliki Samtan Co., Ltd. Kideco Jaya Agung mulai beroperasi sejak 1982. Area
pertambangan perusahaan batu bara ini berada di Kabupaten Pasir, Kalimantan Timur. Hingga
September 2018, produksi batu bara Kideco Jaya Agung telah mencapai 26,1 juta metrik ton.
5. PT Bukit Asam
Dulunya bernama PN TABA, namun setelah berubah status jadi Perseroan Terbatas, nama
mereka menjadi PT Bukit Asam (Persero). Di tahun 2002, perusahaan yang bergerak di
bidang pertambangan batu bara ini melantai di bursa saham. PTBA memiliki beberapa anak
usaha, sebut saja seperti PT Bukit Energi Investama, PT Bukit Pembangkit Innovative, PT
Bukit Asam Prima, dan beberapa perusahaan lainnya. Sebanyak 65,93 persen saham PTBA
dipegang oleh Inalum, sedangkan 30,37 persennya diperuntukkan bagi publik. Nilai
kapitalisasi pasar PTBA juga cukup besar yaitu Rp 28 triliun pada Maret 2020. Meskipun di
tahun 2019 batu bara lesu, mereka berhasil membukukan laba Rp 4 triliun. 
MINERALOGI
Terdiri dari kandungan C137H97O9NS. Mineral dan batubara tersebut dapat digolongkan menjadi
eberapa golongan mineral menurut Taylor, dkk. (1998), yaitu mineral oksida dan hidroksida,
karbonat, sulfida, mineral lempung, sulfat, silikat (selain mineral lempung), dan native elements.
Grup mineral oksida dan hidroksida yang ditemukan ialah hematit, korondum, magnetit, kuarsa
dan goethite. Grup mineral karbonat yang ditemukan ialah kalsit dan dolomit. Grup mineral
sulfida yang ditemukan ialah pirit. Grup mineral lempung yang ditemukan ialah kaolinit, illit,
dickit, dan halloysit, sedangkan alunit merupakan mineral dari grup sulfat. Grup mineral silikat
selain mineral lempung yang ditemukan ialah klorit, kamosit, dan paragonit, selain itu juga
teridentifikasi mineral native elements berupa grafit.
KRISTALOGRAFI
Mineral pirit yang nampak berwarna kuning perunggu, intensitas sinar pantulnya sangat tinggi serta ukuran butir
berkisar antara 0,1-0,3 mm terbentuk secara singenetik, yaitu pirit yang terbentuk selama proses penggambutan
(peatification)

GANESA
Batubara adalah mineral organik yang dapat terbakar, terbentuk dari sisa tumbuhan purba yang
mengendap di dalam tanah selama jutaan tahun
PENGOLAHAN
Biasanya langsung digunakan setelah pencucian dilakukan kominusi dan pencucian batubara.