Anda di halaman 1dari 22

KEPERAWATAN GERONTIK

“ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS LANSIA”

Dosen Pengajar : Dwi Agustanti, S. Kep., M. Kep., Sp. Kom

Disusun Oleh
“KELOMPOK IV”
1. Putri Rahmawati (1914401002)
2. Andi Saputra (1914401004)
3. Erita Herlistina (1914401006)
4. Zarni Utami (1914401010)
5. Siti Mega Marsuli Handayani (1914401012)
6. Aini Intan Putri (1914401016)
7. Yola Aprilia (1914401018)
8. Rima Deliani (1914401031)
9. Rika Novita Sari (1914401038)
10. Desti Nopita (1914401039)
11. Nadila Carnelia (1914401040)
12. David Aulia Titiasa (1914401044)
13. Venty Lia Oktaviana (1914401050)

Kelas : Tingkat 3 DIII Reguler 1

KEMENTERIAN KESEHATAN TANJUNGKARANG


POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNGKARANG
JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI DIII KEPERAWATAN TANJUNGKARANG
TAHUN 2021/2022
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan tepat waktu. Tanpa
pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan
tugas ini dengan baik.
Kami mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-
Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis
mampu untuk menyelesaikan pembuatan tugas mata kuliah “Keperawatan
Gerontik”.
Ucapan terimakasih juga kami haturkan kepada semua pihak khususnya
kepada Ibu dosen yang telah membantu memberikan arahan dalam
pembuatan makalah mengenai “Asuhan Keperawatan Komunitas Lansia”.
Makalah ini kami buat untuk memperdalam ilmu kita mengenai peran
seorang perawat.
Kami tentu menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari kata sempurna dan
masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu,
kami mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk tugas ini, supaya
tugas ini nantinya dapat menjadi tugas yang lebih baik lagi. Kemudian
apabila terdapat banyak kesalahan pada tugas ini kami memohon maaf yang
sebesar-besarnya.
Demikian, semoga tugas ini dapat bermanfaat. Terimakasih.

Bandar Lampung, Agustus 2021

Kelompok IV
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................ii
DAFTAR ISI................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN.............................................................................3
A. Latar Belakang.....................................................................................1
B. Rumusan Masalah................................................................................2
C. Tujuan Masalah....................................................................................2

BAB II KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTENSI LANSIA3


A. Pengertian Hipertensi..........................................................................2
B. Etiologi...............................................................................................3
C. Manifase Klinis...................................................................................7
D. Patofisiologi........................................................................................9
E. Penatalaksanaan................................................................................11

BAB III PROSES KEPERAWATAN.......................................................13


A. Pengkajian.........................................................................................13
B. Analisis Data.....................................................................................20
C. Diagnosis..........................................................................................23
D. Prioritas masalah...............................................................................25
E. Intervensi Keperawatan....................................................................26

BAB IV PENUTUP.....................................................................................27
A. Kesimpulan.......................................................................................27
B. Kritik dan Saran................................................................................27

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut WHO (1959), keperawatan komunitas adalah bidang perawatan
khusus yang merupakan gabungan keterampilan ilmu keperawatan, ilmu
kesehatan masyarakat dan bantuan sosial, sebagai bagian dari program
kesehatan masyarakat secara keseluruhan guna meningkatkan kesehatan,
penyempumaan kondisi sosial, perbaikan lingkungan fisik, rehabilitasi,
pencegahan penyakit dan bahaya yang lebih besar, ditujukan kepada individu,
keluarga, yang mempunyai masalah dimana hal itu mempengaruhi
masyarakat secara keseluruhan. Keperawatan kesehatan komunitas menurut
ANA (1973) adalah suatu sintesa dari praktik kesehatan masyarakat yang
dilakukan untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan masyarakat.
Sasaran keperawatan komunitas adalah seluruh masyarakat termasuk
individu, keluarga, dan kelompok yang beresiko tinggi seperti keluarga
penduduk di daerah kumuh, daerah terisolasi dan daerah yang tidak
terjangkau termasuk kelompok siswa di sekolah. Dalam meningkatkan derajat
kesehatan komunitas pelajar intervensi dibuat untuk seluruh pelajar dan
lingkungan sekolah sehingga diharapkan suatu hasil yang berarti untuk civitas
akademika sendiri.
Hipertensi merupakan faktor risiko terbesar penyakit
kardiovaskular. Perkembangan angka kejadian hipertensi di negara
maju dari tahun 1980 hingga 2003 terus menunjukkan peningkatan
(Damasceno, 2009). Sebanyak 735 juta orang di Amerika Serikat
yang berusia 20 tahun ke atas menderita hipertensi
(Smithburger,2010). Diperkirakan 30% dari penduduk Amerika
sekitar 50.000.000 jiwa menderita tekanan darah tinggi dengan
persentase biaya kesehatan cukup besar setiap tahunnya (Depkes
RI, 2007). Prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 15.000.000
penduduk yang mengalami hipertensi (Bustan,2007). Rata-rata
kasus hipertensi di Jawa Tengah adalah 9.800,54 kasus (Depkes
Jawa Tengah, 2004).

B. Rumusan Masalah
Setelah memahami latar belakang dari penulisan makalah ini, maka kami
dapat menentukan rumusan masalah sebagai berikut.

1. Bagaimana asuhan keperawatan dan proses keperawatan


komunitas pada lansia dengan hipertensi

C. Tujuan Penulisan
Setelah menyusun rumusan masalah, maka kami dapat menentukan tujuan
dalam penulisan makalah. Adapun tujuan penulisan makalah ini sebagai
berikut.

a. Untuk megetahui konsep hipertensi pada lansia.


b. Untuk menegakkan diagnosa keperawatan komunitas lansia
dengan hipertensi.
c. Untuk mengetahui bagamana proses keperawatan komunitas
lansia dengan hipertensi
BAB II
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS LANSIA

A. Pengertian Hipertensi
Tekanan darah adalah tekanan yang terjadi di dalam pembuluh
darah arteri ketika darah dipompa oleh jantung ke seluruh tubuh
(ridwan, 2009). Tekanan darah biasanya dicatat sebagai tekanan
sistol dan diastol. Tekanan darah maksimum dalam arteri disebut
tekanan sistolik yang disebabkan sistol ventrikular. Tekanan
minimum dalam arteri disebut tekanan diastolik yang disebabkan
oleh diastol ventrikular (Jain, 2011). Hipertensi merupakan
penyakit yang berhubungan dengan tekanan darah (Ridwan, 2009).
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten
dengan tekanan sistolik di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik di
atas 90 mmHg (Smeltzer, 2002). Apabila seseorang memiliki
tekanan darah sistol 140 mmHg dan tekanan darah diastol 90
mmHg atau lebih yang diukur ketika ia sedang duduk dapat
dikategorikan memiliki tekanan darah tinggi (Ridwan, 2009).

B. Etiologi
Berdasarkan penyebabnya, Ridwan (2009) menggolongkan
hipertensi ke dalam tiga golongan yaitu hipertensi esensial,
sekunder, dan maligna.

1. Hipertensi esensial (hipertensi primer atau idiopatik)


Hipertensi esensial biasanya dimulai sebagai proses labil
(intermiten) pada individu pada akhir 30-an dan awal 50-an
yang secara bertahap akan menetap. Hipertensi esensial secara
pasti belum diketahui penyebabnya. Gangguan emosi,
obesitas, konsumsi alkohol yang berlebih, rangsang kopi yang
berlebih, rangsang konsumsi tembakau, obat-obatan, dan
keturunan berpengaruh pada proses terjadinya hipertensi
esensial. Penyakit hipertensi esensial lebih banyak terjadi pada
wanita dari pada pria (C. smeltzer, 2002).

2. Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder merupakan hipertensi yang disebabkan
karena gangguan pembuluh darah atau organ tertentu (gray et
al, 2009) mengelompokkan penyebab hipertensi menjadi
tiga golongan, yaitu:

 Penyakit parenkim ginjal


Permasalahan pada ginjal yang menyebabkan kerusakan
parenkim akan menyebabkan hipertensi dan kondisi
hipertensi yang ditimbulkan tersebut akan semakin
memperparah kondisi kerusakan ginjal.

 Penyakit Renovaskular
Merupakan penyakit yang menyebabkan gangguan dalam
vaskularisasi darah ke ginjal seperti arterosklerosis.
Penurunan pasokan ginjal akan menyebabkan produksi renin
ipsilateral dan meningkatkan tekanan darah, sering diatasi
secara farmakologis dengan ACE Inhibitor.

 Endokrin
Gangguan aldosteronisme primer akan berpengaruh terhadap
hipertensi. Tingginya kadar aldosteron dan rendahnya kadar
renin mengakibatkan kelebihan natrium dan air sehingga
berdampak pada meningkatnya tekanan darah.

C. Faktor Risiko
Menurut Harrison (2000), kegemukan (obesitas), gaya hidup yang
tidak aktif (malas berolahraga), stress, alkohol, atau garam yang
lebih dalam makanan, bisa memicu terjadinya hipertensi pada
orang- orang yang memiliki kepekaan untuk diturunkan. Faktor
yang mempengaruhi timbulnya hipertensi yaitu sebagai berikut
1. Stres
Hubungan antara stres dengan hipertensi, diduga terjadi melalui
aktivasi saraf simpatis (saraf yang bekerja saat beraktivitas).
Peningkatan aktivitas saraf simpatis dapat meningkatkan tekanan
darah secara intermitten (tidak menentu). Apabila stress
berkepanjangan, dapat mengakibatkan tekanan darah menetap
tinggi (Shadine, 2010).

2. Rokok 
Meskipun efek jangka panjang merokok terhadap tekanan darah
masih belum jelas, namun efek sinergis merokok dengan tekanan
darah yang tinggi terhadap risiko kardiovaskuler telah
didokumentasikan secara nyata.

3. Alkohol
Penggunaan alkohol secara berlebihan juga dapat
meningkatkan tekanan darah, mungkin dengan cara
meningkatkan katekolamin plasma.

4. Konsumsi Garam Dapur


Hubungan antara asupan natrium dan hipertensi masih
kontroversial, tetapi jelas bahwa pada beberapa pasien hipertensi,
asupan garam yang banyak menyebabkan peningkatan tekanan
darah secara nyata. Pasien hipertensi hendaknya mengkonsumsi
garam tidak lebih dari 100 mmol/hari (2,4 gram natrium, 6 gram
natrium klorida).

5. Aktivitas atau Olahraga


Olahraga teratur adalah suatu kebiasaan dan cara yang untuk
mengurangi berat badan. Hal itu juga tampak berguna untuk
menurunkan tekanan darah dengan sendirinya (Shadine, 2010).

6. Obesitas
Faktor yang diketahui dengan baik adalah obesitas, dimana
berhubungan dengan peningkatan volume intravaskuler dan
curah  jantung. Pengurangan berat badan sedikit saja sudah
menurunkan tekanan darah.

7. Jenis Kelamin
Laki-laki cenderung mengalami tekanan darah yang tinggi
dibandingkan dengan perempuan. Tekanan darah pria mulai
meningkat ketika usianya berada pada rentang 35-50 tahun.
Kecenderungan seorang perempuan terkena hipertensi pada saat
menopause karena penurunan hormone seks (Ridwan, 2009).

D. Manifestasi Klinis
Hipertensi merupakan penyakit yang banyak gejala khas sehingga
sering tidak terdiagnosis dalam waktu yang lama. Gejala akan
terasa secara tiba-tiba saat ada kenaikan tekanan darah (Jain,
2011).
Manifestasi klinis yang ditimbulkan hipertensi bersifat
tidak spesifik. Sakit kepala merupakan gejala umum yang
sering dialami pada pasien hipertensi. Namun, sakit kepala juga
disebabkan oleh beberapa hal sepeti camas, stres, sulit tidur
malam, atau infeksi virus minor sehingga sakit kepala bukan
merupakan manifestasi klinis khas hipertensi. Sesak nafas juga
terjadi pada pasien hipertensi. Sesak nafas pada seseorang yang
menderita hipertensi biasanya terjadi karena kegemukan.
Perdarahan di beberapa bagian tubuh juga merupakan efek
hipertensi. Risiko perdarahan dari arteri ke otak atau retina mata
meningkat karena adanya hipertensi terutama pada pasien dengan
usia di atas 50 tahun. Menstruasi yang berat dan munculnya gejala
menopause sering dialami wanita dengan hipertensi. Manifestasi
hipertensi yang lebih serus adalah perdarahan ke otak yang dapat
membunuh seseorang dalam waktu yang singkat atau menyebabkan
kelumpuhan (Jain, 2011).
Hipertensi akan menjadi masalah kesehatan yang serius jika tidak
terkendali karena akan megakibatkan komplikasi yang berbahaya
dan berakibat fatal seperti stroke, penyakit jantung koroner, dan
gagal ginjal (Anies, 2006).

E. Patofisiologi
Tekanan darah dapat meningkat melalui beberapa mekanisme.
Pertama, jantung memompa lebih kuat sehingga darah mengalir
dengan kecepatan tinggi setiap detiknya. Kedua, arteri besar
mengalami kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku sehingga
ketika jantung berdenyut darah harus melewati pembuluh darah
yang sempit sehingga menaikkan tekanan darah. Ketiga, kelainan
fungsi ginjal untuk membuang sejumlah garam dan cairan
sehingga meningkatkan volume darah yang berdampak pada
peningkatan tekanan darah (Ridwan, 2009).
Menurut Anies (2006) peningkatan tekanan darah melalui
mekanisme:
1. Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan darah lebih
banyak cairan setiap detiknya.
2. Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku
sehingga tidak dapat mengembang saat jantung memompa darah
melalui arteri tersebut. Karena itu, darah dipaksa untuk melalui
pembuluh darah yang sempit dan menyebabkan naiknya tekanan
darah. Penebalan dan kakunya dinding arteri terjadi karena
adanya arterosklerosis. Tekanan darah juga meningkat saat
terjadi vasokonstriksi yang diseabkan rangsangan saraf atau
hormon.
3. Bertambahnya cairan dalam sirkulasi dapat meningkatkan
tekanan darah. Hal ini dapat terjadi karena kelainan fungsi ginjal
sehingga tidak mampu membuang natrium dan air dalam tubuh
sehingga volume darah dalam tubuh meningkat yang
menyebabkan tekanan darah juga meningkat.

F. Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan hipertensi adalah untuk mencegah
komplikasi penyakit kardiovaskular dan mortalitas serta morbiditas
yang berkaitan. Tujuan terapi adalah mencapai dan
mempertahankan tekanan sistolik di bawah 140 mmHg dan
tekanan diastolik di bawah 90 mmHg dan mengontrol faktor
risiko. Hal ini dapat dicapai melalui modifikasi gaya hidup atau
dengan obat anti hipertensi (Mansjoer, 2001).
Pengobatan utama hipertensi dengan diuretika, penyekat reseptor
beta-adrenergik, penyakit saluran kalsium, inhibitor ACE
(angiotensin-converting enzyme), atau penyekat reseptor alfa-
adernergik bergantung pada keadaan pasien termasuk mengenai
biaya, karakteristik demografi, penyakit yang terjadi bersamaan,
dan kualitas hidup (Pierce dan Wilson, 2005).
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS LANSIA

A. Pengkajian
1. Data Geografi
a. Lokasi : Desa Bekonang
b. Luas daerah/wilayah : 8 Ha
c. Batas daerah/wilayah :
Utara : Desa Demakan
Barat : Desa Wirun
Selatan : RT 1 RW 2
Timur : Desa Demakan
d. Keadaan tanah : Tanah kering namun tidak berdebu

2. Data Demografi
a. Jumlah Lansia : 100 orang
b. Mobilitas lansia : Beberapa lansia jarang di rumah ketika pagi
dan siang hari karena ada yang bekerja
c. Kepadatan penduduk : padat
d. Tipe masyarakat : Masyarakat niaga
e. Kepadatan penduduk : Tergolong padat.
f. Agama : 100% Islam

3. Lingkungan fisik
a. Sumber air dan air minum :
Penyediaan air bersih : Di desa tersebut, rata rata
menggunakan air sumur sebagai sumber air dan air minum
b. Kualitas fisik air bersih : Setelah dilakukan pengecekan oleh
petugas kualitas fisik air bersih di Desa Bekonang memenuhi syarat
kesehatan sehingga bisa dikonsumsi dengan baik
c. Pengelolaan air minum : Sebagian bahkan hampir seluruh lansia
di Desa Demakan mengelola sumber air untuk dijadikan sebagai air
minum dengan cara di masak
d. Kebiasaan membuang sampah : Di Desa Bekonang biasanya untuk
membuang sampah dibuang dan dikumpulkan di TPS dekat makam
setempat
e. Kebiasaan membuang limbah : Dialirkan lancar ke selokan dan tidak
menggenang
f. Jamban :
1. Kepemilikan jamban : Setelah dilakukan pengecekan oleh
petugas rata rata 80% sudah mempunyai jamban di rumah masing-
masing
2. Jamban yang dimiliki : Rata rata jamban yang dimiliki oleh
penduduk tersebut adalah WC closed (WC Jongkok).
g. Keadaan perumahan : Permanen dan rata-rata dalam kategori baik
h. Penerangan : Di lingkungan penerangan pada malam hari sudah cukup,
tapi banyak rumah warga yang kurang pencahayaannya pada siang hari
i. Sirkulasi udara : lingkungan sejuk karena banyak pohon yang ditanam
warga sekitar tetapi banyak perumahan warga yang ventilasi rumahnya
kurang memadahi seperti kurangnya jumlah jendela dan dekatnya jarak
antar rumah.

4. Status pendidikan: SMA sederajat, yang terdiri dari:


a. Lansia tidak bersekolah : 30
b. Lansia tamat SD : 50
c. Lansia tamat SMP : 10
d. Lansia tamat SMA :5
e. Lansia tamat perguruan tinggi : 5
5. Fasilitas Umum dan kesehatan
a. Sarana Ibadah : Di Desa Bekonang, mayoritas utama
penduduk beragama Islam. Jadi sarana yang digunakan dalam
melaksanakan ibadah adalah Masjid/Mushola
b. Sarana Olahraga : Di Desa Bekonang terdapat Lapangan
futsal, lapangan bola volly dan biasanya lapangan tersebut digunakan
sebagai fasilitas untuk kegiatan Kebugaran Jasmani/olahraga.
c. Tempat umum dan industri : Tidak terdapat pasar, namun terdapat
banyak toko kelontong yang menyediakan banyak kebutuhan dari
masyarakat sekitar
d. Jenis fasilitas kesehatan : Tidak terdapat praktik bidan swasta
maupun praktik klinik swasta yang lain.
e. Posyandu : Terdapat posyandu lansia (tiap minggu
ke 2)
 Sering hadir : 35 % lansia
 Jarang hadir : 25 % Lansia
 Tidak pernah hadir : 40 %
f. Tenaga kesehatan : Terdapat 2 perawat dan 1 bidan
g. Sekolah : Terdapat 1 taman kanak-kanak
h. Panti sosial : Tidak ada

6. Sosial Ekonomi
Keadaan ekonomi masyarakat RW 1 desa Bekonang dalam kategori baik
dan diatas garis kemiskinan. Warga masyarakat juga tidak ada yang
menganggur di rumah namun beberapa lansia dikarenakan usia yang sudah
rentan sehingga mengharuskan untuk istirahat di rumah masing masing.
Rata-rata pekerjaan warga setempat adalah pedagang, baik di rumah
maupun masyarakat. Rata-rata penghasilan:
a. Rp 800.000,- : 20%
b. Rp 800.000,- s/d Rp 2.000.000.- : 50%
c. Rp 2.000.000,- : 30%
7. Keamanan dan Transportasi
a. Pemadam kebakaran : Tidak ada
b. Polisi : Tidak ada namun terdapat siskamling secara
rutin
c. Sarana transportasi : Sepeda ontel, motor dan mobil pribadi
d. Keadaan jalan : Jalanan sudah diaspal dan ramai akan
kendaraan bermotor

8. Politik dan Pemerintahan


a. Masyarakat swadaya yang terdiri dari 1 RW dan 4 RT
b. Pamong desa : 1 orang
c. Kader desa : 5 orang
d. PKK : Ada dan masih berjalan aktif tiap bulan
e. Kontak tani : Tidak ada
f. Karang taruna : Ada dan berjalan aktif tiap bulan
g. Kumpulan agama : Ada dan aktif di masyarakat

9. Komunikasi
Terdapat infrastruktur komunikasi yang memadai dan modern seperti
internet, ponsel, koran, majalah, radio dan televisi. Masyarakat juga bisa
menggunakan alat-alat komunikasi tersebut. Untuk papan informasi untuk
menyampaikan kabar berita dari desa maupun dari yang disediakan tempat
di dekat rumah pak RW.

10. Rekreasi
Karang taruna dari wilayah setempat sering mengadakan wisata bersama-
sama ke suatu tempat. Kelompok khusus seperti anggota kader juga sering
mengadakan rekreasi bersama yang diharapkan dapat mengurangi stresor
dan beban pikiran.
Distribusi penyakit dengan agregat lansia dengan hipertensi. Dari
rekapitulasi data bulan Maret-Mei di puskesmas mojolaban 90 lansia yang
bekunjung/periksa. Dari jumlah tersebut ada 3 penyakit dengan distribusi
terbesar yaitu:
a. Hipertensi : 50 orang atau 45 %
b. Atritis : 15 orang atau 13,5 %
c. DM : 25 orang atau 22,5 %

Dari data kesehatan di RW 1 didapatkan data bahwa :


1. Jumlah lansia keseluruhan : 100 orang
2. Jumlah lansia dengan hipertensi : 50 orang atau sekitar 50 %
3. Jumlah lansia dengan artritis : 15 orang atau sekitar 15 %
4. Jumlah lansia dengan DM : 25 orang atau sekitar 25 %

B. Analisa Data
NO DATA FOKUS MASALAH ETIOLOGI
.

1. Data Subjektif : Resiko tinggi Kurangnya


peningkatan pengetahuan
Dari hasil wawancara dengan
angka kejadian tentang penyakit
ketua RW 1 mengatakan bahwa
hipertensi pada hipertensi
rata-rata lansia yang menderita
lansia
hipertensi sekitar 50 %

Data Objektif :

1. Berdasarkan data dari


puskesmas mojolaban pada
bulan Maret sampai bulan
Mei di kelurahan bekonang
dukuh mojosari RW 1 45%
Lansia menderita
hipertensi.
2. 85% kemampuan lansia
dalam mengenali secara
dini penyakit hipertensi
kurang baik.
3. 40% warga yang menderita
hipertensi tidak pernah
mendapatkan penyuluhan
tentang hipertensi

C. Diagnosis Keperawatan
Resiko tinggi peningkatan angka kejadian hipertensi pada lansis b.d.
kurangnya pengetahuan tentang penyakit hipertensi
D. Intervensi Keperawatan
N Diagnosa Sasaran Tujuan Strategi Rencana Sumber Kriteria Hasil Standar
o Kegiatan Evaluasi
1. Gangguan Komunitas Setelah dilakukan Health 1. Pendidikan Mahasiswa, - Klien mampu Respon
lansia proses keperawatan promotion kesehatan tentang petugas menjelaskan verbal dan
hipertensi
dengan selama 2x60 menit hipertensi puskesmas, tentang hipertensi psikomotor
pada klien mampu kader
hipertensi - Jelaskan - Klien mampu
komunitas memahami konsep posyandu
dengan definisi menjelaskan
hipertensi dan lansia,
lansia hipertensi
keluarganya upaya keluarga secara singkat
berhubunga - Jelaskan factor
pencegahannya faktor resiko
risiko hipertensi
n dengan hipertensi
- Jelaskan upaya
kurangnya preventif hiperte - Klien mampu
nsi menyebutkan
pengetahuan
- Jelaskan kepada minimal 3 (tiga
tentang
klien yang uapaya
penyakit dapat mencegah pencegahan
hipertensi hipertensi hipertensi dan
- Jelaskan untuk cara mengubah
penanganan dini perilaku sehat
untuk - Klien mampu
mengurangi menjelaskan
hipertensi secara singkat
- Ajarkan terapi penanganan
relaksasi otot hipertensi
untuk - Klien mampu
mengurangi mendemonstrasi
hipertensi kan terapi
cara mengubah relaksasi otot
prilaku progresif
2. Komunitas Parthership 2. Lakukan inisiasi Komunitas Respon
Setelah dilakukan -Terlaksananya
lansia dengan lansia, psikomotor
pertemuan selama pemeriksaan
dengan 1x60 menit dapat puskesmas untuk petugas tekanan darah dan afektif
terjalin kerjasama malakukan puskesmas secara rutin
hipertensi,
pemeriksaan tindakan minimal 1 bulan
petugas
tekanan darah dan pemeriksaan oleh petugas
posyandu upaya preventif puskesmas
tekanan darah
penyakit hipertensi - Terlaksananya
dan upaya
secara rutin kepada minimal 2 upaya
komunitas lansia preventif
pencegahan
dengan hipertensi penyakit hipertensi pada
hipertensi komunitas
secara rutin lansia.
kepada
komunitas
lansia dengan
hipertensi
3. Komunitas Setelah dilakukan Empowerme 3. Jelaskan pada Komunitas Komunitas saling Respon
lansia pembinaan selama nt komunitas lansia lansia dengan bekerjasama afektif dan
dengan 1x60 menit dengan hipertensi hipertensi dan dengan pembagian psikomotor
hipertensi diharapkan dan keluarga keluarga peranuntuk
komunitas mampu masing masing mencegah
menjalankan oerannya untuk hipertensi
perannya masing
saling
masing dalam
bekerjasama
upaya pencegahan
hipertensi. mencegah
hipertensi
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

a. Diagnosa keperawatan komunitas yang bias ditegakkan pada


asuhan keperawatan komunitas lansia dengan hipertensi
adalah:
1. Gangguan hipertensi pada komunitas lansia di desa X
berhubungan dengan pola hidup yang buruk.
2. Nyeri pada komunitas lansia di desa X berhubungan dengan
tekanan vasekuler serebral
3. Risiko intoleransi aktivitas pada komunitas lansia di
desa X berhubungan dengan kelemahan umum.
b. Salah satu terapi modalitas yang dapat digunakan untuk
menurunkan tekanan darah adalah terapi relaksasai otot
progresif.

B. Saran
Kami tentu menyadari bahwa tugas makalah ini masih jauh dari kata
sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di
dalamnya. Untuk itu, kami mengharapkan kritik serta saran dari pembaca
untuk tugas ini, supaya tugas ini nantinya dapat menjadi tugas yang lebih
baik lagi. Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan pada tugas ini
penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.

21
DAFTAR PUSTAKA

Effendi dan Makhfudi. 2010. Keperawtan Kesehatan Komunitas Teori


dan Praktik dalam Keperawtan. Jakarta: salemba medika

Nugroho, Wahjudi.2006. Komunikasi dalam Keperawat n Gerontik. 


Jakarta: penerbit Buku Kedokteran EGC

Tiarney, L. M., McPhee, S. J., and Papadakis, M. A. 2002.  Diagnosis dan


Terapi Kedokteran : Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Salemba Medika

22