Anda di halaman 1dari 11

JURNAL AKTIVA : RISET AKUNTANSI DAN KEUANGAN, 2(3), 2020, 28-36

ISSN: 2686-1054 (media online)

Analisis Strategi Mempertahankan dan Mengembangkan Bisnis di Tengah


Pandemi COVID-19 Serta Mengetahui Dampak Perkembangan dan
Pertumbuhan COVID-19 di Indonesia

Putri Diah Juniar Perdamaian1

Adinda Puspita2

Neng Frida3

PT Pratama Abadi Industri

ABSTRAK

Meningkatnya kasus yang disebabkan oleh COVID-19 ini sangat merugikan bagi semua sectror
seperti perhotelan, restoran, bioskop, café, pariwisata, perdagangan dan investasi. Selain itu juga
Virus Korona ini sangat merugikan semua kalangan baik kalangan menengah, atas dan bawah
dikarenakan usaha yang mereka jalankan mengalami kerugian yang cukup besar dimasa pandemic
dan banyaknya pemutusan hubungan kerja atau yang kita tahu PHK sehingga meningkatnya
jumlah pengangguran yang menyebabkan meningkatnya kemiskinan, dampak yang paling besar
dirasakan adalah pada perekonomian selain perekonomian Kesehatan dan Pendidikan pun
terancam, begitupun dari segi kesehatan meningkatnya kasus yang terkena COVID-19 ini yang
menyebabkan PSBB yang tidak kunjung selesai sehingga menghambatnya pertumbuhan
perekonomian ekspor, impor. Sehingga menjadi perhatian untuk semua orang pentingnya menjaga
kesehatan dan kebersihan dengan cara berjaga jarak ketika berada di kerumunan dan menggunakan
masker serta mematuhi protokol kesehatan agar mengurangi penyebaran secara luas. Sebab
berpengaruh kepada kesinambungan pada perekonomian yang menyebabkan ekonomi semakin
merosot dikarenakan kurangnya kesadaran. Melambatnya perputaran perumbuhan ekonomi,
melemahnya harga pasar, melemahnya pendapatan serta terganggunya produksitifitas. Untuk
semua sector baik dari sector dagang atau UMKM memerlukan sebuah perubahan untuk
mempertahankan sebuah bisnisnya dengan cara berlalih kepada E-Commers yang dimana
melakukan perdagangan dengan memanfaatkan jejaring social media yang mengandalkan internet.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dengan langkah
eksploratif dengan teknik observasi partisipatif. Hasil penelitian ini merekomendasi strategi
bertahan untuk UMKM berupa melakukan perdagangan secara E-Commerce, melakukan
pemasaran secara digital, melakukan perbaikan kualitas produk dan penambahan layanan serta
menjalin dan mengoptimalkan hubungan pemasaran pelanggan. Hasil penelitian ini penting untuk
dipahami oleh pelaku bisnis dan diharapkan pelaku bisnis selalu responsif dan menyesuaikan diri
terhadap perubahan lingkungan agar bisa terus bertahan.

Kata Kunci: stategi, covid19, dan pengembangan bisnis di tengah pandemic

Page | 26
ABSTRACT

The increase in cases caused by COVID-19 is very detrimental for all schools, such as restaurants,
cinemas, cafes, tourism, trade and investment. In addition, the Corona Virus is very detrimental
to all people, both middle, upper and lower classes because the businesses they run have suffered
considerable losses during the pandemic and many layoffs or who know layoffs so that the number
of unemployed causes poverty, the greatest impact is felt is the economy other than the economy
and education is threatened, as well as in terms of the health of the cases affected by COVID-19
which has caused PSBB to never finish, thus hampering economic growth in exports, imports So
that it becomes a concern for all people who maintain health and hygiene by keeping their distance
when in a crowd and using masks and complying with health protocols so that the widespread
reduction of spread. This is because it affects the sustainability of the economy which causes the
economy to decline due to its awareness. Slowing economic growth, weakening market prices,
weakening income and disrupting productivity. For all sectors, both from the trade sector or
MSMEs, a change is needed to maintain a business by switching to E-Commers who trade using
social media networks that rely on the internet. The research method used in this research is
qualitative analysis with exploratory steps with participatory observation techniques. The results
of the research on survival strategy recommendations for MSMEs are in the form of trading
electronically, doing digital marketing, making product improvements and adding services as well
as establishing and optimizing marketing customer relationships. The results of research are
important to be carried out by business people and it is hoped that business people will always be
responsive and adapt to environmental changes in order to survive.

Keywords: strategy, covid19, and business development in the midst of a pandemic

PENDAHULUAN

Dunia saat ini masuk ke dalam status waspada karena penyebaran virus baru yang
penyebarannya semakin hari semakin masif. Virus ini pertama kali muncul dan ditemukan di
Wuhan, Cina, tahun 2019. Virus ini dikenal dengan Coronavirus (CoV) yang merupakan bagian
dari keluarga virus seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV) dan Severe Acute
Respiratory Syndrome (SARS-CoV) yang menyerang saluran pernapasan. Pada awal maret 2020
World Health Organitazion telah menetapkan Virus Corona sebagai pandemi global. Status
pandemi atau epidemi global ini menandakan bahwa penyebaran COVID-19 ini dinamis dan
menyebar hingga hampir ke seluruh dunia.

Pandemi virus COVID-19 tidak hanya mengancam sektor kesehatan, namun juga
mengancam krisis ekonomi global. Berdasarkan data dari World Economic Outlook April 2020,
IMF memprediksikan perekonomian dunia akan merosot hingga ke minus tiga persen sampai
dengan tahun ini. Namun bila pandemi ini berakhir pada paruh kedua tahun 2020 dan aktivitas
ekonomi kembali normal, maka ekonomi Indonesia diprediksi bisa tumbuh hingga 8,2 persen,
sementara perekonomian dunia akan tumbuh hingga 5,8 persen. Untuk dampak yang dirasakan
bagi sector bisnis dan industri ini adalah sebagian dari pertumbuhan mengalami minus dan
sebagian mengalami pertumbuhan secara positif sehingga bisa dikatakan bahwa dampak yang

Page | 27
dirasaakan oleh sector bisnis dan industry ini tidak semuanya mengalami minus atau merugi.
(Kantar Worldpanel Indonesia, 2020)

Ketua Umum Badan Pengurus Daerah (BPD) dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia
(HIPMI) Afifuddin Suhaeli Kalla memperkirakan, pengusaha di setiap sektor telah mengalami
kerugian hingga 20 persen sejak adanya kasus pertama korban positif Corona di Indonesia.

Dari adanya pandemic Corona ini maka dikeluarkanlah PP Nomor 21 tahun 2020 tentang
Pembatasan Sosial Berskala Besar dengan maksud membatasi pergerakan orang dan barang dan
mengharuskan masyarakat jika tidak ada keperluan mendesak diharapkan untuk berdiam diri
dirumah. Hal ini juga berdampak terhadap terbatasnya operasional UMKM dan berkurangnya
konsumen yang berbelanja secara langsung dibandingkan hari biasa. Dengan ini, Pelaku Usaha
dapat menyesuaikan diri dengan membuka toko online atau berjualan melalui E-Commerce. E-
Commerce merupakan sistem penjualan, pembelian dan memasarkan produk dengan
memanfaatkan elektronik (Kotler, Philip dan Amstrong, 2012). Dalam Penelitian (Hardilawati,
2019) dan (Setyorini et al., 2019) menyimpulkan bahwa E-Commerce memiliki pengaruh positif
dan signifikan terhadap peningkatan kinerja pemasaran dan pendapatan UMKM. Selain
melakukan perdagangan E-Commerce, Pelaku UMKM juga dituntut untuk dapat
mengkomunikasikan produk secara intensif dengan melakukan pemasaran produk menggunakan
digital marketing dan memanfaatkan media sosial untuk dapat menjangkau konsumennya secara
langsung dan dapat menekan biaya promosi. Digital marketing merupakan pemasaran yang
dilakukan dengan menggunakan akses internet, memanfaatkan social media maupun perangkat
digital lainnya. Digital Marketing membantu perusahaan atau pelaku usaha dalam mepromosikan
dan memasarkan produk dan jasa mereka dan mampu memperluas pasar baru yang sebelumnya
tertutup atau terbatas karena adanya keterbatasan waktu, jarak dan cara berkomunikasi (Prabowo,
2018). Hasil penelitian (Hendrawan et al., 2019) menyatakan bahwa digital marketing berpengaruh
positif dan signifikan terhadap peningkatan penjualan UMKM.

Efek pertama dari pandemi ini adalah beralihnya sistem finansial perusahaan ke zero-based
budgeting. Kedua adalah adanya Pemutusan Hubungan Karyawan (PHK) besar-besaran di
berbagai perusahaan. Efek ketiga adalah kekacauan produksi yang dialami berbagai perusahaan.
Efek keempat adalah penurunan produktivitas perusahaan. Dampak terakhir adalah runtuhnya
perusahaan akibat kebangkrutan yang disebabkan ketidakmampuan perusahaan untuk bertahan di
tengah pandemi

Secara keseluruhan, pandemi ini membawa dampak yang sangat besar terutama di sektor
bisnis. Dampak besar tersebut tentunya bersifat negatif. Banyak perusahaan mengalami kerugian
besar. Mereka melakukan yang terbaik untuk bertahan hidup. Dampak utama yang harus dihadapi
perusahaan adalah beralihnya system finansial perusahaan menjadi zero based budgeting agar
perusahaan dapat mencapai titik impas, PHK perusahaan besar, kekacauan produksi perusahaan,
penurunan produktivitas perusahaan dan dampak terakhir adalah runtuhnya perusahaan. Berbagai
dampak negatif menunjukkan perjuangan yang dilakukan sektor bisnis untuk dapat bertahan
selama pandemi COVID-19.

Penelitian ini dilakukan untuk menjawab sapa yang dapat dilakukan pelaku Bisnis UMKM
untuk dapat mempertahankan bisnis mereka di tengah Pandemik COVID-19 yang melanda Dunia.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjabarkan apa saja strategi bertahan yang
Page | 28
harus dilakukan oleh pelaku UMKM sehingga mereka mampu terus bertahan dan menjadi lebih
responsif terhadap perubahan iklim bisnis terutama saat terjadi COVID-19.

DAMPAK YANG DITIMBULKAN OLEH COVID-19

Dampak yang diterima atau dirasakan oleh Indonesia adalah jutaan orang yang meninggal
dan jutaan pekerja di Indonesia menjadi imbasnya yang dimana sebesar 1,5 juta yang mengalami
PHK dikarena banyak perusahaan yang menutup usahanya karena kurangnya peminat ketika masa
pandemic ini sehingga banyak perusahaan yang tidak bisa membayar kredit nya atau hutang-
hutang usahanya dan memutuskan untuk menutup atau bahkan menjualnya. Dan Ketika
pengangguran itu semakin meningkat maka akan berpengaruh pada peningkatan kemiskinan dan
kelangsungan hidup masyarakat, salah satunya seperti:

1. Sektor usaha perhotelan dan tempat makan atau restoran mengalami penurunan pendapatan
sebesar 50% karena pariwisatanya tidak full seperti tahun sebelumnya dan jika dibandingkan
dengan tahun lalu itu saangat menguntungkan, ketika pamdemic ini belum ada. Akibatnya
ketidak mampuan untuk membayar gaji karyawan maupun utang usahanya disebabkan karena
sepinya pelanggan dan kurangnya angka pendapatan sehingga keuntungan yang di terima oleh
suatu perusahaan itu sedikit bahkan tidak sama sekali. Akibatnya yang menjadi sasaran untuk
mengurangi beban perusahaan adalah buruh atau karyawannya sehingga perusahaan
melakukan PHK atau pemutusan hubungan kerja. selain karena mengurangi beban perusahaan
bertujuan untuk mengurangi penyebaran virus secara luas. Selain hotel-hotel, caffe, bioskop
yang melakukan penutupan sementara sector perdagangan, investasi dan pariwisata pun
menjadi dampaknya karena kurangnya pengunjung disaat pandemic sehingga banyaknya
penutupan seperti pariwisata.
2. Sektor pariwitasata adalah salah satu pendapatan yang paling besar bagi perekonomian negara
karena banyak dari berbagai negara yang berjunjung dan jalan-jalan untuk menikmati
keindahaan Indonesia. Ketika adanya pandemic ini maka pendapatan menurun derastis
ditambah dengan diberlak ukannya system social distancing atau yang kita sebut sekarang
pisikal distancing dalam Bahasa indonesianya menjaga jarak atau membatasi kerumunan
bertujuan untuk mengurangi persebaran virus dengan adanya pembatasan social ini seluruh
negara mengalami penurunan perekonomian dan bahkan mengalami kontraksi pada
perekonomian, bahkan perekonomian suatu negra mengalami minus karena kurangnya
pemasokan dan bahkan kurangnya tingkat permintaan dan penjuaalan. Penyakit COVID-19
ini sangat merugikan pada semua sector.
3. Terjadinya inflasi yang dimna harga-harga bahan pangan meningkat secara drastic selain
bahan pangan yang meningkat secara cepat harga emas pun meningkat.
4. Badan pusat statistic pun memberitahukan bahwa selain terjadinya inflasi pada masa
pandemic ini deflasi pun terjadi dikarenakan penurunan pembayaran pada sector pajak
sehingga harga seperti cabe dan harha angkutan udara pun menurun. Selain cabe dan angkutan
udara pun berkurangnya pada penerimaan migas dan no migas yang berasal dari china, yang
dimana negara china adalah negara terbesar penghasil minyak mentah selain negara Indonesia
yang bergantung pada china begitupun negara lain dan ketika adanya pandemic ini impor dari
china dibatasi karena pengurangan pengiriman dari negara china.
5. Berdampak pada UMKM atau yang kita ketahui dengan usaha mikro kecil menegah yang
dimna ketika pandemic ini mengalami penurunan pendapatan karena kurangnya wisatawan
yang datang dan kebanyakan wisatan yang mengunjungi Indonesia itu berasal dari negara
Page | 29
china, tidak hanya negara china saja tetapi negara di belahan eropa pun ada seperti Amerika,
Australia yang melakukan pariwisata ke negara Indonesia dan biasanya mereka membeli
seperti oleh-oleh atau sofenir untuk dibawa pulang dan ketika adanya COVID-19 akibanya
pendapatan seorang UMKM itu akan sepi pembeli karena kurangnya wisatawan yang datang,
disebabkan tutupnya pariwisata yang bertujuan untuk mengurangi peyebaran virus.
6. Dampak COVID-19 ini membuat seorang investor kurangnya minat untuk berinvestasi atau
menanamkan modalnya Ketika pandemic akibatnya kehilangan kepercayaan seorang investor

PERKEMBANGAN COVID-19

Saat ini kasus COVID-19 yang berada di Indonesia setiap harinya meningkat yang dimana
pada tanggal 19 April tercacat sebanyak 6.575 orang yang mengalami penyakit COVID-19 ini.
Dari sekian banyaknya yang terkena ada 686 yang sudah dinyatakan bebas dari COVID-19 dan
jumlah orang yang meninggal dinyatakan sebanyak 582 orang (Kompas, 2020). Satu bulan
kemudian, pada tanggal 20 Mei 2020 mengalami kenaikan yang sangat tinggi dari sebelunya yang
dimna jumlah yang terkena COVID-19 ini jumlahnya 19.189 orang yang dinyatakan positif,
sementara orang yang sudah dinyatakan sembuh sebanyak 4.575 tetapi orang yang meninggal
dikarenakan COVID-19 ini sebanyak 1.245 orang (nugraheni, 2020). Dari data kasus COVID-19
sebelumnya dan ini terjadi hanya selama 2,5 bulan pada tanggal 2 Maret dan kasus ini sangat pesat
dalam peningkatanya dengan jumlah sebedar 19.189 yang dimana ini belum ada tanda-tanda
adanya penurunan Virus COVID-19 ini dan ini kemungkinan akan meningkat terus.

Jumlah kasus positif Corona di Indonesia Maret-Mei 2020

(sumber : olahan data penulis)

Bisa dilihat hasilnya yang dimana COVID-19 ini mengalami kenaikan yang sangat pesat
dari bulan maret hingga bulan Mei 2020 tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Virus COVID-
19 ini untuk menyerang kesehatan manusia. Dan jika dilihat dari table diatas persebaran virus ini
sudah menyebar ke 34 Provinsi yang dimana artinya sudah menyeluruh di berbagai provinsi di
Indonesia (Ekp et al., 2020). Jika virus COVID-19 ini tidak diatasi dengan benar maka Indonesia
akan mengalami kerugian secara materi karena ini sudah membahayakan semua usia dalam
penyebaranya sehingga membutuhkan penanganan yang serius. meskipun pada hakikatnya semua
manusi yang ada di bumi ini akan meninggal dan tidak dapat menghindar dari kematian sekalipun
oleh virus COVID-19 ini begitupun pemerintah dalam menangani kasus COVID-19 ini (Ekp et
al., 2020). Tetapi pemerintah bisa menjaga masyarayakatnya dari COVID-19 ini dengan cara
membuat sebuah peraturan yang dimana harus dipatuhi oleh semua masyarakat dengan cara
Page | 30
mengkarantina, atau social distancing atau menjaga jarak Ketika keluar rumah dan menggunakan
masker agar mengurangi persebaran virus dengan pencegahan ini setidaknya mengurangi tingkat
resiko dan ini memerlukan tingkat kedasaran masyarakat. Sehingga perlunya kerjasama antara
masyarakat dengan pemerintah.

PERTUMBUMBUHAN EKONOMI PADA MASA PANDEMIC COVID-19

Diketahui bahwa IMF memotong proyeksi pertumbuhan perekonomian secara menyeluruh


atau mendunia ini dilakukan pada bulan April 2020. dan Ketika pada tahun 2020 pertumbuhan
perekonomian berubah sebesar -3,0 persen dari yang awalnya itu 3,3 persen dari tahun ke tahun
dikarenakan pemotongan proyeksi yang dilakukan oleh IMF. Berikut ada 3 Negara yang
dikabarkan bahwa perekonomiannya masih meningkat dengan hasil positif dalam proyeksinya
serta dengan inflasi volatile food atau disingkat dengan (VF) diantaranya negara Indonesia, china,
india, pilipina dan dan Vietnam dengan jumlah 5,04 persen dari tahun ketahun yang dimana itu
pada bulan April 2020. Pada April tahun 2020 mengalami penurunan pada indek keyakinan
konsumen atau disebut IKK yaitu mengalami penurunan sebesar 84,8 sedangkan untuk penjualan
ritel berkontrasi sebesar -5,4 persen dari tahun ketahun Ketika bulan maret tahun 2020. Dan untuk
cadangan divisanya mengalami kenaikan sebesar $127,9 M. Jumlah impor barang juga mengalami
penurunan pada kuartal satu yang dimana pada tahun 2020 dengan hasil pertumbuhannya positif
meskipun sedikit dalam perubahanya sebesar 0,15%. Untuk konsumsi rumah tangga pun menjadi
salah satu pertumbuhan yang sangat bagus yang bisa mendorong yang lainnya dengan
pertumbuhan sebesar 1,56 masih pada kuartal ke satu dari 2,97 % ini mampu menyumbangkan
sebesar 1,56 dari tahun ke tahun. Pertumbuhan ekonomi ini tidak hanya dilakukan oleh konsumsi
rumah tangga saja tetapi ada dorongan dari ekspor barang pada kuartal satu ini sebesar 0,45,
sedangkan PMTDB sebesar 0,55 dan konsumsi pemerintahnya sebesar 0,22. Untuk sector lainnya
pun tetap tumbuh meskipun tidak mengalami secara cepat dibandingkan triwulan tahun lalu
maupun tahun sekarang (Fahrika & Roy, 2020).

Grafik: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Dari data di atas bisa dilihat bahwa perekonomian yang dimiliki oleh Indonesia mengalami
penurunan yang sangat drastic di tahun 2020 ini. penyebabnya karena Corona yang menyebabkan
semua sector tidak bekerja seperti biasanya sehingga banyak hambatan pada pertumbuhan
perekonomian Indonesia dan merugikan khususnya pada produksi, konsumsi, distribusi, investasi,
perdagangan luar negeri luar negeripun terhambat dan menyebabkan semua usaha terhenti secara

Page | 31
paksa serta ekspor impor pun. Dan bahkan bank sudah memperkirakan perekonomian Indonesia
akan mengalami penurunan pada bulan April yang disebabkan oleh COVID-19 ini.

METODE PENELITIAN

Metode kualitatif adalah jenis metode yang di gunakan dalam penelitian ini. Metode
Penelitian Kualitatif adalah metode yang lebih menekankan pada aspek pemahaman secara
mendalam terhadap suatu masalah daripada melihat permasalahan untuk penelitian generalisasi.
Metode penelitian ini lebih suka menggunakan teknik analisis mendalam (in-depth analysis), yaitu
mengkaji masalah secara kasus perkasus karena metodologi kualitatif yakin bahwa sifat suatu
masalah satu akan berbeda dengan sifat dari masalah lainnya. Menurut (Semiawan, 2010)
menyatakan metode penelitian kualitatif adalah jenis metode penelitian yang paling tepat dalam
menangkap persepsi manusia hanya dengan kontak langsung dan fikiran terbuka serta lewat proses
induktif dan interaksi simbolik manusia bisa mengenal dan mengerti sesuatu. Teknik pengumpulan
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi partisipasi dengan langkah eksploratif
yaitu melakukan salah satu teknik pengumpulan data kualitatif yang dianjurkan untuk
mendapatkan data-data deskriptif. Data sekunder adalah data yang mengacu pada informasi yang
dikumpulkan dari sumber yang telah ada. Sumber data sekunder adalah catatan atau dokumentasi
perusahaan, dokumentasi pemerintah atau publikasi pemerintah, analisis industri oleh media, situs
web dan lainnya (Uma Sekaran, 2011).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Data yang dirilis oleh website corona. help.com dan website worddometer.com per 3 April
2020, menunjukkan bahwa Indonesia berada pada urutan pertama diantara negara-negara ASEAN,
berdasarkan dari total angka akumulasi kematian akibat COVID-19 dengan Jakarta sebagai
epicentrum penyebaran COVID-19 di Indonesia. Data COVID-19 di DKI Jakarta akumulasi Orang
Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dari tanggal 11 Maret sampai 25
Maret 2020 berjumlah 1.617 orang (https://corona.jakarta.go.id/id/data, diakses 25 maret 2020).
Kebijakan dan upaya pencegahan skala sebaran COVID-19 yang pertama kali diumumkan oleh
Presiden Joko Widodo, 2 Maret 2020, telah berimbas pada perubahan cara dan ritme beragam
aktivitas, baik sosial kemasyarakatan, pelayanan public maupun kegiatan bisnis.

Pengaruh Corona ini sangat berdampak bagi kehidupan masyarakat, dimana peraturan atau
kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah tersebut tentu sangat berpengaruh terhadap segala
sisi kehidupan. Hal ini sangat berdampak terhadap perekonomian, dunia usaha dan pendidikan.
Diantaranya menyebabkan beberapa hal, yakni: Perekonomian masyarakat menurun,
Perekonomian Negara menurun drastis, COVID-19 juga mempengaruhi industri dan sektor usaha.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyampaikan, tak hanya


industri yang terganggu, pandemi COVID-19 juga akan menambah pengangguran. Ia memprediksi,
dalam skenario berat potensi pengangguran akan bertambah 2,92 juta orang dan bisa bertambah
sangat besar bisa mencapai 5,23 juta. Ini artinya pengangguran di Indonesia bertambah
banyak.Pemerintah dalam hal ini memiliki peran yang sangat besar untuk mengatasi masalah
pengangguran.

Page | 32
Berdasarkan dari hasil observasi, rata-rata UMKM merasakan penurunan omzet selama
adanya COVID-19. Hal ini terjadi karena mulai berkurangnya aktivitas yang dilakukan diluar
rumah, kesulitan dalam memperoleh bahan baku karena terjadi kendala transportasi, serta mulai
turunnya kepercayaan masyarakat terhadap produk yang ada di luar terutama bidang kuliner.
UMKM yang merupakan salah satu penopang perekonomian karena juga banyak menyediakan
lapangan pekerjaan, dengan adanya COVID-19 ini, juga mulai ada yang melakukan PHK atau
merumahkan karyawan sementara karena perusahaan/usaha mereka harus tutup sementara waktu.

Setiap pebisnis tentu menginginkan usahanya sukses dan tetap survive di tengah pandemic
corona ini. Ada kiat-kiat tertentu agar bisnis tetap survive walau di landa badai. Berikut strategi
mempertahankan bisnis di tengah pandemi:

1. Memiliki kepercayaan diri dan kemandirian yang tinggi. Setiap pebisnis harus memiliki rasa
percaya diri yang tinggi. Setiap bisnis apapun yang dilakukan tentu memiliki faktor risiko.
Tanpa kepercayaan yang tinggi bisnis tidak dapat berjalan karena tidak berani untuk
menanggung segala risikonya. Bila sudah memiliki kepercayaan diri, dengan modal yang kecil
pun sudah bisa memulai usaha. Seorang pebisnis juga harus memiliki mental wirausaha dan
kemandirian yang tinggi sehingga tidak malas-malasan dalam menjalankan usahanya. Mental
wirausaha itu sangat penting, karena dalam menjalankan usahanya tentu seorang pebisnis akan
mengalami berbagai permasalahan, sehingga siap jatuh bangun dalam membangun bisnisnya.
Jika tidak memiliki mental wirausaha, bisa dipastikan pebisnis itu akan putus asa dan gulung
tikar.
2. Berbisnis yang halal, mulai dari modal, proses, hingga penjualan. Modal usaha sangat penting,
meski demikian harus didapatkan dengan cara yang baik, tidak curang. Proses dalam berbisnis
pun juga dijalankan dengan cara-cara yang baik pula, jujur, tidak melakukan monopoli, dan
kecurangan. Pada dasarnya jika berbuat kecurangan imbasnya kembali pada diri sendiri.
Selain itu yang tidak kalah penting adalah barang-barang yang diperjualbelikan itu barang-
barang yang halal, baik, dan tidak membahayakan tubuh manusia.
3. Melakukan ekspor dan impor barang. Pebisnis harus memiliki pangsa pasar yang luas. Dengan
melakukan kegiatan ekspor dan impor barang berarti telah memperluas pangsa pasar. Semakin
luas pangsa pasar yang diciptakan, maka semakin besar target penjualan dan keuntungan yang
didapatkan. Seorang pebisnis harus kreatif mencari dan menciptakan peluang pasar,
meningkatkan produktivitas, dan efisien.
4. Menjaga kepercayaan relasi bisnis. Hal ini sangat penting bagi maju mundurnya usaha yang
dilakukan. Menjaga kepercayaan relasi bisnis dengan cara menjaga kualitas barang dan juga
menepati pembayaran sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Cara yang digunakan
untuk menjaga kepercayaan pelanggan adalah dengan memberikan servis yang baik dan
memuaskan. Juga barang yang dijual kualitasnya baik dan tidak ada cacat.
5. Melakukan promosi barang yang diperdagangkan, yaitu dengan membuat iklan baik di media
elektronik maupun media cetak. Pada era sekarang promosi dapat dilakukan dengan mudah,
yaitu melalui social media yang memiliki follower sangat banyak dan luas, dapat menjangkau
berbagai belahan dunia. Dengan promosi ini calon konsumen dapat mengetahui kualitas,
bentuk, dan harga dari komoditas yang ditawarkan. Promosi dapat lebih menarik konsumen
dengan memberikan taster dan diskon harga pada awal launching produk.
6. Berbisnis barang kebutuhan dasar. Bisnis yang sangat menjanjikan adalah bisnis barang
kebutuhan dasar. Hal ini dikarenakan barang kebutuhan dasar memiliki dua sifat, yaitu long

Page | 33
lasting dan fast moving. Dalam dunia bisnis long lasting diartikan mampu bertahan dalam
waktu yang lama untuk dikelola sebagai sebuah usaha, karena usaha yang peluangnya tidak
menentu, kemungkinan kecil bisa menghasilkan keuntungan yang signifikan. Barang
kebutuhan dasar akan selalu dicari dan diperlukan oleh seluruh lapisan masyarakat untuk
memenuhi kebutuhan mereka, karena kebutuhan ini sifatnya primer. Barang kebutuhan dasar
juga memiliki sifat fast moving, yaitu terus dicari-cari konsumen karena barang tersebut
merupakan kebutuhan primer. Seluruh lapisan masyarakat memerlukan barang tersebut, maka
akan selalu ada permintaan untuk membeli barang tersebut. Permintaan yang tinggi akan
membuat barang kebutuhan primer tersebut cepat laku terjual. Barang kebutuhan dasar itu di
antaranya adalah makanan, minuman, pakaian, alat kesehatan dan kebersihan lingkungan.
Jenis barang-barang ini merupakan komoditas yang prospektif untuk berbisnis.
7. Leadership/kepemimpinan. Seorang pemimpin harus memiliki jiwa kepemimpinan, mudah
beradaptasi dengan orang lain, dan terbuka dengan saran dan kritik. Hal ini demi kemajuan
bisnis yang dijalankan. Tanpa kepemimpinan yang baik sebuah bisnis tidak akan sukses. Saran
dan kritik diterima agar bisnis yang dijalankan selalu inovatif, kreatif, dan fleksibel.
8. Menggunakan teknologi informasi dalam berbisnis. Dewasa ini masyarakat sudah mulai
terbiasa dengan konsumsi digital, apalagi dengan adanya wabah Corona pemerintah membuat
kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masyarakat harus membatasi geraknya
di luar rumah. Dengan adanya pelayanan belanja online masyarakat akan sangat terbantu, dan
juga ini merupakan kesempatan pebisnis untuk melayani dan menarik konsumen sebanyak-
banyaknya.

Untuk mengembangkan bisnis di masa pandemi Corona ini pun bisa di lakukan dengan
strategi berikut ini ada jenis-jenis usaha yang bisa dilakukan pebisnis pemula, tidak memerlukan
modal besar, dan dapat mendatangkan keuntungan yang menjanjikan.

1. Bisnis makanan dan minuman rumahan, bekerjasama dengan grab food/go food/yang
semisalnya. Dengan adanya kebijakan pemerintah tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar
(PSBB) maka banyak masyarakat yang lebih memilih untuk melaksanakan aktivitas di rumah.
Makanan dan minuman adalah kebutuhan primer, mau tidak mau setiap hari pasti mereka
membutuhkannya. Bisnis ini bila ditekuni bisa mendatangkan keuntungan yang menjanjikan
dan bisa menjadi solusi untuk menghasilkan uang, terutama bagi yang di PHK maupun
pengangguran.
2. Bisnis makanan olahan yang dibekukan. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat
masyarakat harus membatasi geraknya di luar rumah. Bisnis makanan beku merupakan solusi
yang menarik untuk ditawarkan, karena makanan ini tahan lama, praktis, dan mudah untuk
disajikan. Masyarakat bisa menghemat waktu untuk belanja, karena bisa langsung belanja
makanan beku ini untuk stock beberapa pekan. Misalnya, bakso beku, nugget, ayam, sosis,
kentang, dim sum, dan lain-lainnya. Makanan tersebut dapat disajikan secara cepat tanpa
mengolahnya lagi, tinggal digoreng ataupun dikukus.
3. Jasa logistik. Di tengah wabah Corona ini, dimana masyarakat dianjurkan untuk bekerja,
beribadah, dan belajar dari rumah, maka sangat diperlukan jasa distribusi/penghantaran
logistik. Modal yang diperlukan juga tidak terlalu besar. Hanya dengan modal sebuah motor
ataupun mobil pickup sudah bisa membuka jasa penghantaran logistic.

KESIMPULAN

Page | 34
Pandemic COVID-19 yang terjadi di Indonesia berdampak pada ketidak stabilan dalam
perekonomian terutama pada UMKM. Pelaku UMKM ini merasakan dampak langsung berupa
menurunnya angka penjualan dikarenakan adanya himbauan pemerintah dan penerapan PSBB
yang menghimbau masyarakat untuk tetap dirumah sehingga cukup banyak UMKM yang harus
berhenti beroperasi untuk sementara waktu. Untuk itu pelaku UMKM harus memiliki strategi
untuk dapat bertahan di tengah pandemik ini dan dituntut untuk dapat menyesuaikan diri terhadap
kondisi yang terjadi.Ada banyak peluang usaha di tengah-tengah terpuruknya perekonomian saat
ini. Ada peluang usaha yang berskala besar dan kecil. Bisnis di bidang kesehatan, dan kebersihan
lingkungan memiliki peluang yang sangat menjanjikan. Begitu juga bisnis makanan beku dan
minuman juga tidak kalah prospektif. Masyarakat dapat memilih peluang usaha yang sesuai
dengan modal yang dimiliki, dan kondisi yang ada di sekitarnya. Selain yang disebutkan tersebut
pelaku UMKM bisa beralih bisnis dengan cara berjualan secara online yang dimna belanja online
ini sangat diminati oleh semua kalangan apalagi dimasa pandemic seperti ini sangat
menguntungkan. Dikarenakan adanya social distancing atau physical distancing yang dimana
mengharuskan seseorang untuk berjaga jarak dan menghindari kerumunan yang intinya harus
berdiam diri di rumah yang bertujuan untuk mengurangi persebaran virus COVID-19 sehingga
orang-orang akan beralih dan berminat untuk membeli sesuatu secara online. Berbagai peluang
usaha ini apabila ditekuni bisa mengurangi pengangguran, karena banyak menyerap tenaga kerja.
Dengan demikian dapat membantu pemerintah untuk menciptakan lapangan pekerjaan,
terpenuhinya kebutuhan masyarakat, serta mengurangi kesenjangan sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Ekp, A. G., Unsyiah, F. E. B., Darussalam, K., Aceh, B., Covid, P., & Indonesia, D. I. (2020).
Merespon Nalar Kebijakan Negara Dalam Menangani Pandemi Covid 19 Di Indonesia. Jurnal
Ekonomi Dan Kebijakan Publik Indonesia, 7(1), 36–53.
https://doi.org/10.24815/ekapi.v7i1.17370
Fahrika, A. I., & Roy, J. (2020). Dampak pandemi covid 19 terhadap perkembangan makro
ekonomi di indonesia dan respon kebijakan yang ditempuh The impact of the Covid 19
pandemic on macroeconomic developments in Indonesia and the policy response taken.
Inovasi, 16(2), 206–213.
Farida, N., Naryoso, A., & Yuniawan, A. (2017). Model of Relationship Marketing and E-
Commerce in Improving Marketing Performance of Batik SMEs. Jurnal Dinamika
Manajemen, 8(1), 20–29. https://doi.org/10.15294/jdm.v8i1.10408
Garvin, D. A. (1998). Managing Quality: The Strategic and Competitive Edge. The Free Press.
Fitri, Ahmad Asrof. 2019. Inspirasi Sukses Khadijah, Klaten: Semesta Hikmah.
Gary, P. K. (2013). Marketing Management (14th ed.). Pearson Education Limited.
Gunawan, I. (2017). Metode Penelitian Kualitatif. In Bumi Aksara (5th ed.).

Hanum, A. N., & Sinarasri, A. (2017). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi e
commerce dan pengaruhnya terhadap kinerja umkm (studi kasus umkm di wilayah kota
semarang). Maksimum, Vol. 1(No. 1), 1–15.

Page | 35
Hardilawati, W. L. (2019). Model Pemasaran Hubungan Pelanggan, Inovasi Dan E-Commerce
Dalam Meningkatkan Kinerja Pemasaran Ukm Di Pekanbaru. Jurnal Akuntansi Dan
Ekonomika, 9(2), 213–222.
Hardilawati, W. L. (2019). The Role of Innovation and E-Commerce in Small Business.373,83–
87.
Helmalia, H., & Afrinawati, A. (2018). Pengaruh E-Commerce Terhadap Peningkatan Pendapatan
Usaha Mikro Kecil Dan Menengah Di Kota Padang. JEBI (Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Islam),
3(2), 237. https://doi.org/10.15548/jebi.v3i2.182
Hendrawan, A., Sucahyowati, H., Cahyandi, K., Indriyani, & Rayendra, A. (2019). Pengaruh
Jurnal Akuntansi & Ekonomika, Vol. 10No. 1, Juni 2020
Alma, Buchari. 2013. Kewirausahaan, Bandung: Alfabeta.
Idri, 2016. Hadis Ekonomi, Jakarta: Prenada Media.
Maggalatung, A.S.; Aji, A.M.; Yunus, N.R. 2014. How The Law Works, Jakarta: Jurisprudence
Institute.
Tohar, Muhammad. 2000. Membuka Usaha Kecil, Yogyakarta: Kanisius.

Page | 36

Anda mungkin juga menyukai