Anda di halaman 1dari 10

FRAUD DALAM PENYALAHGUNAAN INFORMASI LAPORAN

KEUANGAN

Author : Padlah Riyadi.

The Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) atau Asosiasi Pemeriksa


Kecurangan Bersertifikat, merupakan organisasi professional bergerak di bidang
pemeriksaan atas kecurangan yang berkedudukan di Amerika Serikat dan
mempunyai tujuan untuk memberantas kecurangan, mengklasifikasikan fraud
(kecurangan) dalam beberapa klasifikasi, dan dikenal dengan istilah “Fraud Tree”
yaitu Sistem Klasifikasi Mengenai Hal-hal Yang Ditimbulkan Sama Oleh
Kecurangan (Uniform Occupational Fraud Classification System). Dibawah ini
akan di uraikan menegnai Jenis-jenis penyalahgunaan dalam pencatatan laporan
keuangan :

1. Whistle Blowing
Jenis ini merupakan tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau lebih
untuk membocorkan kecurangan yang telah dilakukan kepada pihak lain.
Dalam kata lain adalah mebuka rahasia perusahaan.
2. Embezzlement
Embezzlement merupakan tindakan kecurangan dalam bentuk
penggelapan hak milik organisasi untuk kepentingan pribadi (seperti
penggunaan kas kecil (petty cash), pembuatan faktur tagihan fiktif,
penggelebungan biaya perjalanan dinas dll).
3. Kiting
Kiting adalah suatu tindak kecurangan dengan cara memanfaatkan transfer
bank yang dilakukan dalam bentuk pengiriman transfer uang ke rekening
sebuah institusi boneka (dummy institution), seperti pendepositoan uang
proyek terlebih dahulu untuk mendapatkan bunganya dan baru disetor
kemudian pada saat akhir masa anggaran.
4. Window Dressing
Teknik ini dilakukan oleh manajer keuangan dengan cara meningkatkan
atau menurunkan laba bersih yang tercatat dalam suatu tahun, dalam kata
lain ini bisa dikatakan mengatur profit secara mulus atau mengatur
pendapatan.
5. Larceny
Merupakan kecurangan yang dilakukan oleh oknum yang sebenarnya tidak
memiliki otoritas atas fungsi yang dicuranginya. Contoh : pembuatan cek
kosng, pengeluaran uang kas tanpa ijin pemilik otoritas.
6. Lapping
Lapping merupakan tindak kecurangan dalam bentuk penyalahgunaan
hasil pembayaran tagihan dari pelanggan untuk kepintingan pribadi,
seperti pemakaian uang sewa suatu aset ke rekening pribadi sementara
biaya operasional aset tersebut diambilkan dari anggaran rutin oerganisasi.
7. Pilferage
Pilferage adalah tindak kecurangan dalam bentuk pencurian atau
pemakaian sarana kantor dalam jumlah kecil untuk kepentingan pribadi
(petty corruption). Tindakan pilferage sangat sering dilakukan setiap saat
dan berulang kali oleh hampir semua karyawan. Tindakan pilferage
dilakukan dalam bentuk, seperti: pencurian atau pemakaian tidak
bertanggung jawab alat tulis kantor (klip, kertas, pensil, dan lain-lain)
dalam jumlah kecil-kecil dan berulang. Tindakan pilferage seakan sudah
menjadi umum dan tidak dianggap sebagai sebuah kesalahan. Pada
umumnya para pelaku selalu memiliki rasionalisasi.
8. Creative Accounting
Creative Accounting adalah semua proses dimana beberapa pihak
menggunakan kemampuan pemahaman pengetahuan akuntansi (termasuk
di dalamnya standar, teknik, dll) dan menggunakannya untuk
memanipulasi pelaporan keuangan (Amat, Blake dan Dowd, 1999). Pihak-
pihak yang terlibat di dalam proses creative accounting, seperti manajer,
akuntan, pemerintah, asosiasi industri, dll.
Creative accounting melibatkan begitu banyak manipulasi, penipuan,
penyajian laporan keuangan yang tidak benar, seperti permainan
pembukuan (memilih penggunaan metode alokasi, mempercepat atau
menunda pengakuan atas suatu transasksi dalam suatu periode ke periode
yang lain).
9. Fraud accaunting\
Kata fraud, penipuan yang disengaja (intentional deception), kebohongan
(lying), dan curang (cheating) memiliki antonim kejujuran (truth), keadilan
(justice), kewajaran (fairness), dan kesamaan (equity). Fraud juga bisa
berupa pemaksaan terhadap seseorang untuk berkelakuan melawan
keinginannya. Misalnya, seorang pegawai yang terbiasa jujur, namun
karena ada kesempatan dan kondisi ekonomi yang menghimpit maka
pegawai tersebut melakukan kecurangan-kecurangan yang menguntungkan
pribadinya.

Kesimpulan
Contoh fraud atas kas yang paling umum di dunia bisnis adalah lapping dan
kitting. Secara sederhana lapping didefinisikan sebagai suatu cara penggelapan
uang kas dengan cara mengundur-undur pencatatan penerimaan kas. Hal ini dapat
dilakukan untuk waktu yang tidak terlalu lama, dan mungkin juga dapat dilakukan
untuk waktu yang sangat lama. Sedangkan kitting merupakan suatu jenis
penyelewengan dengan cara tidak mencatat pembayaran tetapi mencatat
penyetorannya dalam hal melakukan transfer bank. Disamping itu kitting juga
dapat dilakukan dengan cara “window dressing”. Yang dimaksud dengan window
dressing adalah yaitu bahwa keadaan posisi kas di bank dibuat lebih baik dari
keadaan sebenarnya. Jadi keadaan kas yang sebenarnya tidak baik (kekurangan
kas) dibuat menjadi lebih baik dengan menaikkan posisi atau nilai kas tersebut
dari keadaan yang sebenarnya. Dengan demikian, akibat dari usaha
penyelewengan tersebut maka penyediaan dan penggunaan kas pada perusahaan
menjadi tidak efektif dan efisien.
Permintaan atas Konfirmasi Bank Meskipun tidak disyaratkan oleh standar audit,
auditor biasanya meminta konfirmasi dari setiap bank atau institusi keuangan
lainnya yang berbisnis dengan klien, kecuali jika terdapat sejumlah besar akun
yang tidak aktif. Jika bank tidak menjawab permintaan konfrimasi, maka auditor
perlu mengirimkan permintaan kedua atau meminta klien berkomunikasi dengan
bank untuk meminta mereka melengkapi dan mengembalikan konfirmasi kepada
auditor, agar memudahkan auditor maupun pihak bank yang diminta mengisi
konfirmasi, di Amerika Serikat, AICPA menyetujui penggunaan formulir bank
standar. Pentingnya konfirmasi bank dalam audit lebih dari sekedar verifikasi
saldo kas aktual. Bank mengonfirmasi informasi pinjaman dan saldo bank dalm
formulir yang sama. Infromasi pada wesel bayar pada bank, hipotek, dan utang
lainnya biasanya memasukkan jumlah dan tanggal pinjaman, tanggal jatuh tempo
pinjaman, tingkat bunga, dan adanya jaminan.

Bank tidak bertanggung jawab untuk mencari untuk mencari pencatatan atas saldo
bank atau pinjaman selain yang dimasukkan dalam formulir dari klien KAP.
Laporan di bagian bawah formulir meminta bank menginformasikan kepada KAP
semua pinjaman yang tidak dimasukkan dalam konfirmasi dari bank yang
memiliki informasi tersebut. Dampak dari tanggung jawab yang terbatas ini dalah
untuk mensyaratkan auditor agar memenuhi tujuan kelngkapan atas saldo dan
utang bank yang tidak tercatat dengan cara lain. Sama halnya, bank tidak perlu
menginformasikan kepada auditor mengenai persyaratan kredit, persyaratan saldo
kompensasi, atau kewajiban kontinjen ketika kewajiban dijaminkan. Jika auditor
menginginkan konfirmasi tas jenis informasi ini, maka mereka harus mendapatkan
konfirmasi yang terpisah dari institusi keuangan yang dapat menjawab pertanyaan
tersebut.

Setelah auditor menerima konfirmasi bank secara lengkap, saldo dalam akun bank
yang dikonfirmasi oleh bank garus ditelusuri ke saldo yang disebutkan dalam
konfirmasi bank. Sama halnya dengan informasi lain, dalam konfirmasi, juga
garus ditelusuri ke skedul audit lainnya. Jika konfirmasi bank tidak sesuai dengan
skedul audit, maka auditor harus memeriksa selisihnya.

REFERENSI
Hopwood, William S., et al. 2008. Forensic Accounting. By The McGraw-Hill
Companies, Inc., 1221 Avenue of the Americas, New York, NY,10020.
Karni, Soedjono, 2000. Auditing, Audit Khusus, dan Audit Forensik dalam
Praktik, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.
Arens, Alvin A., Elder,Randal J., Beasley,Mark S., Auditing and Issurance
Service: An Integrated Approach, Sixhteen Edition, New Jersey : Prentince Hall,
2015.
Kasus Jiwasraya - PricewaterhouseCoopers (PwC)

Pada 2006-2012, KAP yang ditunjuk adalah KAP Soejatna, Mulyana, dan Rekan.
Sementara sejak 2010-2013, KAP Hertanto, Sidik dan Rekan. Pada 2014-2015,
KAP Djoko, Sidik dan Indra. Lalu 2016-2017, PricewaterhouseCoopers (PwC).

PwC memberikan opini wajar tanpa pengecualian atas laporan keuangan


konsolidasian PT Asuransi Jiwasyara (Persero) dan entitas anaknya pada tanggal
31 Desember 2016. Laba bersih Jiwasraya yang dimuat dalam laporan keuangan
yang telah diaudit dan ditandatangani oleh auditor PwC tanggal 15 Maret 2017 itu
menunjukkan laba bersih tahun 2016 adalah sebesar Rp 1,7 triliun. Sementara itu
laba bersih Jiwasraya menurut laporan keuangan auditan tahun 2015 adalah Rp
1,06 triliun.

Pada 10 Oktober 2018, Jiwasraya mengumumkan tak mampu membayar klaim


polis JS Saving Plan yang jatuh tempo sebesar Rp 802 miliar. Seminggu
kemudian Rini Soemarno yang menjabat sebagai Menteri Negara BUMN
melaporkan dugaan fraud atas pengelolaan investasi Jiwasraya.

Audit BPK selama 2015-2016 menjadi rujukan. Dalam audit tersebut disebutkan
investasi Jiwasraya dalam bentuk medium term notes (MTN) PT Hanson
International Tbk (MYRX) senilai Rp 680 miliar, berisiko gagal bayar.
Berdasarkan laporan audit BPK, perusahaan diketahui banyak melakukan
investasi pada aset berisiko untuk mengejar imbal hasil tinggi, sehingga
mengabaikan prinsip kehati-hatian.

Pada 2018, sebesar 22,4% atau Rp 5,7 triliun dari total aset finansial perusahaan
ditempatkan pada saham, tetapi hanya 5% yang ditempatkan pada saham LQ45.
Lalu 59,1% atau Rp 14,9 triliun ditempatkan pada reksa dana, tetapi hanya 2%
yang dikelola oleh top tier manajer investasi. Kondisi-kondisi tersebut
menyebabkan kerugian hingga modal Jiwasraya minus. Negara diperkirakan
mengalami kerugian hingga Rp 13,7 miliar.

2. Kasus SNP Finance - Deloitte

Pada dasarnya perjanjian utang piutang antara SNP Finance dengan para
kreditornya (bank) tersebut adalah kerjasama yang sifatnya mutualistik. SNP
Finance membutuhkan dana, bank juga butuh menyalurkan kredit. Namun dalam
perjalanan waktu, ternyata bisnis retail Columbia yang merupakan induk dari SNP
Finance mengalami kemunduran. Apa penyebabnya? Kita bisa melihat bahwa
perilaku pembelian customer telah berubah, konsumen saat ini tidak lagi belanja
produk furniture dan elektronik dengan datang ke toko, melainkan mereka lebih
suka membeli secara online melalui perangkat gadgetnya. Mulai
dari survey harga,  survey spesifikasi produk, sampai dengan pembelian, semua
dilakukan secara online. Bahkan para online shop tersebut juga memberikan
fasilitas kredit tanpa bunga (bunga 0%) untuk tenor yang bahkan sampai 12 bulan.
Kondisi perubahan perilaku pembelian customer inilah yang memukul pangsa
pasar dari Columbia, dan tentunya juga berdampak pada SNP Finance. Buntutnya
adalah kredit SNP Finance kepada para bank – bank/krediturnya tersebut menjadi
bermasalah, dalam istilah keuangan disebut Non Performing Loan (NPL).

   Apa yang dilakukan SNP Finance untuk mengatasi utangnya kepada bank
tersebut? SNP finance membuka keran pendanaan baru melalui penjualan surat
utang jangka menengah, disebut dengan MTN (Medium Term Notes). MTN ini
sifatnya hampir mirip dengan obligasi, hanya saja jangka waktunya adalah
menengah, sedangkan obligasi jangka waktunya panjang. MTN ini diperingkat
oleh Pefindo (Pemeringkat Efek Indonesia) dan kembali lagi bahwa Pefindo juga
memberikan peringkat salah satunya adalah berdasarkan laporan keuangan SNP
Finance yang diaudit oleh Deloitte. Awalnya peringkat efek SNP Finance sejak
Desember 2015 – 2017 adalah A-, bahkan kemudian naik menjadi A di Maret
2018. Namun tidak lama kemudian, di bulan Mei 2018 ketika kasus ini mulai
terkuak, perikat efek SNP Finance turun menjadi CCC bahkan di bulan yang sama
tersebut turun lagi menjadi SD (Selective Default). 

Default dalam bahasa sederhananya adalah gagal bayar. Berikutnya SNP Finance


mengajukan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), sebesar kurang
lebih Rp 4,07 Trilyun yang terdiri dari kredit perbankan 2,22 Trilyun dan MTN
1,85 Trilyun. Mengapa debitur dan pemegang MTN mau percaya dan
menyalurkan kredit kepada SNP Finance? Karena awalnya pembayaran dari SNP
Finance lancar, dan para kreditur tersebut juga menganalisis kesehatan keuangan
SNP Finance melalui laporan keuangannya, yang diaudit oleh kantor akuntan
publik ternama, yaitu Deloitte.

Namun ternyata terjadi pemalsuan data dan manipulasi laporan keuangan yang
dilakukan oleh manajemen SNP Finance. Diantaranya adalah membuat piutang
fiktif melalui penjualan fiktif. Piutang itulah yang dijaminkan kepada para
krediturnya, sebagai alasan bahwa nanti ketika piutang tersebut ditagih uangnya
akan digunakan untuk membayar utang kepada kreditor. Untuk mendukung
aksinya tersebut, SNP Finance memberikan dokumen fiktif yang berisi data
customer Columbia. Sangat disayangkan bahwa Deloitte sebagai auditornya gagal
mendeteksi adanya skema kecurangan pada laporan keuangan SNP Finance
tersebut. Deloitte malah memberikan opini wajar tanpa pengecualian pada laporan
keuangan SNP Finance. ( https://accounting.binus.ac.id/ )

3. PT Hanson International Tbk - Ernst  Young

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenakan sanksi kepada kantor akuntan publik
partner dari Ernst and Young (EY) karena dinilai tak teliti dalam penyajian
laporan keuangan PT Hanson International Tbk (MYRX). Atas kesalahan ini OJK
memberikan sanksi membekukan Surat Tanda Terdaftar (STTD) selama satu
tahun.

Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal I Djustini Septiana dalam suratnya


mengatakan Sherly Jokom dari Kantor Akuntan Publik (KAP) Purwantono,
Sungkoro dan Surja terbukti melanggar udang-undang pasar modal dan kode etik
profesi akuntan publik dari Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI).

Sherly terbukti melakukan pelanggaran Pasal 66 UUPM jis. paragraf A 14 SPAP


SA 200 dan Seksi 130 Kode Etik Profesi Akuntan Publik - Institut Akuntan
Publik Indonesia. OJK menilai KAP ini melakukan pelanggaran karena tak cermat
dan teliti dalam mengaudit laporan keuangan tahun PT Hanson International Tbk.
(MYRX) untuk tahun buku 31 Desember 2016.

Kesalahan yang dilakukan perusahaan adalah tak profesional dalam pelaksanaan


prosedur audit terkait apakah laporan keuangan tahunan perusahaan milik Benny
Tjokro mengandung kesalahan material yang memerlukan perubahan atau tidak
atas fakta yang diketahui oleh auditor setelah laporan keuangan
diterbitkan. Kesalahan yang dimaksud OJK adalah adanya kesalahan penyajian
(overstatement) dengan nilai mencapai Rp 613 miliar karena adanya pengakuan
pendapatan dengan metode akrual penuh (full acrual method) atas transaksi
dengan nilai gross Rp 732 miliar.

Selain itu, dalam laporan keuangan tersebut juga tak mengungkapkan adanya
Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) atas kavling siap bangun (KASIBA)
tertanggal 14 Juli 2019 yang dilakukan oleh Hanson International sebagai penjual.
(https://www.cnbcindonesia.com/ )

4. PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk - Ernst Young

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menilai, PT Ernst Young Indonesia (EY)


melanggar UU Nomor 5 Tahun 2011 tentang Akuntan Publik, karena perusahaan
jasa konsultasi keuangan ini telah melakukan audit investigasi terhadap Laporan
Keuangan PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) Tahun Buku 2017.

Penilaian itu disampaikan Anggota Majelis Kehormatan IAI, Anton Silalahi di


Jakarta, Senin (8/4). "Audit investigasi itu termasuk jasa asurans. Dan, itu
merupakan tugas akuntan publik sebagaimana tercantum di UU Akuntan Publik,"
kata Anton.
Anton memandang, keputusan Erns Young yang melakukan audit investigasi
terhadap Laporan Keuangan AISA 

 Tahun Buku 2017 tersebut telah melanggar UU Akuntan Publik. "Itu hanya Delik
Biasa dan bukan Delik Aduan. Tetapi memang, sayangnya ada penyidik yang
kurang paham UU Akuntan Publik," imbuhnya.Lebih lanjut Anton menjelaskan,
pada Pasal 3 UU Akuntan Publik menyebutkan bahwa akuntan publik
memberikan jasa asurans yang meliputi jasa audit informasi keuangan historis,
jasa review atas informsi keuangan historis dan jasa asurans lainnya.

Sehingga, ujar Anton, jasa asurans hanya dapat diberikan oleh akuntan publik.
"Audit investigasi itu juga jasa asurans. Sayangnya, EY itu bukan akuntan
publik," ujarnya. Sebagaimana diketahui, Ernst Young Indonesia berafiliasi
dengan Kantor Akuntan Publik (KAP) Purwantono, Sungkoro Surja. Sementara
itu, menurut Anton, pada Pasal 57 ayat (2) menyebutkan bahwa setiap orang yang
bukan akuntan publik, tetapi menjalankan profesi akuntan publik dan bertindak
seolah-olah sebagai akuntan publik, maka bisa dipidana penjara paling lama enam
tahun dan pidana denda maksimal Rp500 juta. "Ernst Young (Indonesia) itu
melakukan hal yang tidak patut dan melanggar UU Akuntan Publik," ujar
Anton. Sebelumnya, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membantah yang
menyebutkan bahwa AISA  telah salah menunjuk Kantor Akuntan Publik untuk
melakukan audit investigasi terhadap Laporan Keuangan AISA  Tahun 2017. 

Menurut Direktur Utama BEI, Inarno Djajadi, pada pekan lalu BEI sudah
melakukan dengar pendapat dengan AISA  (manajemen baru), terkait dugaan
terjadinya laporan keuangan ganda yang dilakukan oleh manajemen
lama AISA Lebih lanjut inarno menegaskan, AISA  tidak salah menunjuk KAP
terkait pelaksanaan audit investigasi terhadap dugaan laporan keuangan ganda.
"Tidak salah tunjuk," kata Inarno di Gedung BEI Jakarta, Selasa (2/4) ketika
ditanya mengenai kemungkinan AISA telah salah menunjuk auditor
investigasi.Perlu diketahui, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa ( RUPS
-LB) AISA pada akhir 22 Oktober 2018 mengamanatkan agar
manajemen AISA melakukan audit investigasi dengan menunjuk KAP dan/atau
Konsultan Hukum Independen. Pada pelaksanaannya, AISA  menunjuk Ernst
Young Indonesia. Pada Selasa, 26 Maret 2019, AISA  menyampaikan
keterbukaan informasi melalui BEI mengenai "Laporan atas Investigasi Berbasis
Data" yang dilakukan Ernst Young. Investigasi tersebut didasari dugaan adanya
laporan keuangan ganda yang dilakukan oleh manajemen lama AISA .
( https://www.indopremier.com/ )

5. Kasus Indosat Ooredoo - Ernst Young

Public Company Accounting Oversight Board (PCAOB) atau Dewan Pengawas


Perusahaan Akuntan Publik Amerika Serikat (AS) menjatuhkan hukuman kepada
Kantor Akuntan Publik (KAP) Purwanto, Suherman dan Surja beserta partner
Ernst and Young (EY) Indonesia karena terbukti berperan dalam kegagalan audit
laporan keuangan PT Indosat Tbk pada tahun 2011.

Hukuman yang diberikan PCAOB yaitu berupa denda US$ 1 juta kepada Ernst
and Young Indonesia. Kemudian hukuman denda juga diberikan kepada akuntan
public yang merupakan partner EY Indonesia yaitu Roy Iman Wirahardja sebesar
US$ 20.000 ditambah larangan berpraktek selama lima tahun, kemudian denda
sebesar US$ 10.000 diberikan kepada mantan Direktur EY Asia-Pasific, Randall
Leali dengan larangan berpraktek selama satu tahun.

Hukuman ini dijatuhkan karena KAP Purwanto, Suherman dan Surja karena telah
gagal menyajikan bukti yang mendukung perhitungan atas sewa 4.000 menara
seluler yang terdapat dalam laporan keuangan Indosat. Mereka malah memberikan
label Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) terhadap laporan keuangan tersebut,
padahal  perhitungan dan analisisnya belum selesai.

PCAOB merupakan lembaga yang mengawasi praktik audit terhadap perusahaan


publik guna melindungi investor. Selain itu, lembaga ini juga mengawasi laporan
audit perusahaan broker dan manajer investasi di bursa. Tujuan lembaga ini
tentunya selain melindungi investor juga mempromosikan laporan audit yang
informatif, akurat dan independen.

CEO Indosat Ooredoo, Alexander Rusli menyampaikan terkait dengan transaksi


tower di 2011 dan 2012 dalam buku Indosat tahun 2012 sudah di disesuaikan. Jadi
masalah EY Indonesia kena periksa dan akhirnya kena denda kami sudah tidak
tahu lagi. "Setelah itu juga sudah ganti auditor," ujar Alexander kepada
KONTAN, Senin (13/2).

Sementara Group Head Corporate Communications Indosat Ooredoo, Deva


Rachman menyampaikan selama tahun yang berakhir 31 Desember 2012,
mereeevaluasi kebijakan akuntansi yang relevan dan sebagai hasilnya, seperti
yang tercantum dalam pelaporan US Securities and Exchange Commission (SEC)
pada 2012 dan 2013 di formulir 20-F, laporan keuangan 2011 kami telah sajikan
kembali.

Selain itu, lanjut Deva, manajemen juga telah merevaluasi dan


memperbaiki internal controls over financial reporting yang relevan.
“Sebagai best practice, kami mengevaluasi secara berkala kebijakan akuntansi
dan internal controls kami untuk memastikan kepatuhan dengan standar yang
berlaku,” ujar Deva. ( https://nasional.kontan.co.id/ )

6. Kasus Baker Hughes - KPMG

Nama KPMG-SSH tentu sudah tidak asing lagi bagi para eksekutif perusahaan-
perusahaan besar di Jakarta. KAP ini juga merupakan satu dari beberapa kantor
akuntan besar andalan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dalam
melakukan restrukturisasi sekian banyak institusi keuangan di Indonesia.

Namun, berita tentang KPMG-SSH yang dikeluarkan oleh Securities Exchange


Commision (SEC) pada 17 September 2001 lalu bukanlah hal yang bisa dikatakan
prestasi bagi KAP itu. Pasalnya, rilis SEC tersebut mengumumkan bahwa KPMG-
SSH dan senior partner-nya, Sony B. Harsono, diduga telah melakukan
penyuapan terhadap pejabat kantor pajak di Jakarta.
Ada apa di balik dugaan praktek penyuapan yang dituduhkan terhadap KPMG-
SSH yang notabene berkantor di Indonesia? Lagi pula, praktek suap yang
dituduhkan oleh kedua lembaga pemerintah AS itu pun terjadinya di Indonesia.
Jadi, persoalan ini menjadi tanda tanya besar bagi publik, khususnya bagi mereka
yang  telah bertahun-tahun memakai jasa KPMG-SSH.

Tidak ada asap kalau tidak ada api. "Api" yang menyala di Indonesia, "asapnya"
mengembara sampai ke AS. Kronologisnya begini, AS memiliki undang-undang
yang dinamakan Foreign Corrupt Practises Act (FCPA), yaitu undang-undang
yang melarang praktek korupsi yang dilakukan di ranah asing. UU ini
memungkinkan pemerintah AS melakukan aksi hukum terhadap warga asing yang
diduga terlibat korupsi dengan pihak AS, baik korporat ataupun perorangan.

Dalam kasus gugatan terhadap KPMG-SSH – mitra bisnis dari multinational


accounting firm KPMG International – ini, salah satu pihak yang terlibat secara
langsung adalah PT Eastman Christensen (PTEC). PTEC ini adalah perusahaan
Indonesia yang mayoritas sahamnya dipegang oleh Baker Hughes Incorporated,
perusahaan pertambangan yang bermarkas di Texas, AS.

PTEC ini sendiri adalah pihak yang, menurut gugatan SEC dan Departemen
Kehakiman AS, meminta KPMG-SSH untuk menyogok pejabat kantor pajak
Jakarta Selatan (PTEC berdomisili di Jakarta Selatan-red). Perintah itu
dimaksudkan agar jumlah kewajiban pajak bagi PTEC dibuat seminim mungkin.
(https://www.hukumonline.com )

7. PT Garuda Indonesia - BDO International Limited 

Kementerian Keuangan memaparkan tiga kelalaian Akuntan Publik (AP) dalam


mengaudit laporan keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk tahun 2018.
Hal itu akhirnya berujung sanksi dari Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (PPPK).

Adapun, laporan keuangan tersebut diaudit oleh AP Kasner Sirumapea dari


Kantor Akuntan Publik (KAP) Tanubrata, Sutanto, Fahmi, Bambang, dan
Rekan. Sebelumnya, laporan keuangan Garuda Indonesia menuai polemik. Hal itu
dipicu oleh penolakan dua komisaris Garuda Indonesia, Chairal Tanjung dan
Dony Oskaria untuk mendatangani persetujuan atas hasil laporan keuangan 2018.

Keduanya memiliki perbedaan pendapat terkait pencatatan transaksi dengan


Mahata senilai US$239,94 juta pada pos pendapatan. Pasalnya, belum ada
pembayaran yang masuk dari Mahata hingga akhir 2018.

Sekretaris Jenderal Kemenkeu Hadiyanto merinci kelima kelalaian yang


dilakukan. Pertama, AP bersangkutan belum secara tepat menilai substansi
transaksi untuk kegiatan perlakuan akuntansi pengakuan pendapatan piutang dan
pendapatan lain-lain. Sebab, AP ini sudah mengakui pendapatan piutang meski
secara nominal belum diterima oleh perusahaan. "Sehingga, AP ini terbukti
melanggar Standar Audit (SA) 315," ujar Hadiyanto, Jumat (28/6). Kedua,
akuntan publik belum sepenuhnya mendapatkan bukti audit yang cukup untuk
menilai perlakuan akuntansi sesuai dengan substansi perjanjian transaksi tersebut.
Ini disebutnya melanggar SA 500.

Terakhir, AP juga tidak bisa mempertimbangkan fakta-fakta setelah tanggal


laporan keuangan sebagai dasar perlakuan akuntansi, di mana hal ini melanggar
SA 560. Tak hanya itu, Kantor Akuntan Publik (KAP) tempat Kasner bernaung
pun diminta untuk mengendalikan standar pengendalian mutu KAP.  "KAP mau
tidak mau harus comply dengan seluruh standar ini," jelas dia.
Sebelumnya, Kemenkeu menjatuhkan dua sanksi kepada Akuntan Publik (AP)
Kasner Sirumapea dan Kantor Akuntan Publik (KAP) Tanubrata, Sutanto, Fahmi,
Bambang Rekan terkait dengan polemik laporan keuangan PT Garuda Indonesia
(Persero) Tbk untuk tahun buku 2018. Tak hanya itu, KAP yang mengaudit
laporan keuangan Garuda Indonesia juga dikenakan peringatan tertulis disertai
kewajiban untuk melakukan perbaikan terhadap Sistem Pengendalian Mutu KAP
dan dilakukan reviu oleh BDO International Limited kepada KAP Tanubrata,
Sutanto, Fahmi, Bambang Rekan.

Anda mungkin juga menyukai