Anda di halaman 1dari 12

c 

 

   
 c
Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

c   c

Dosen Pengampu : Tentrem Widodo

Disusun Oleh:

Anta Nurrohmani Y D K 1509007

Agus Santoso K 1509003

Dwi Beauty Ratnawuri H K 1509014

Probo Septiani K 1509032

Widi Juli Budiarto K 1509041

Budi Setiawan K 15060


 
  


 



  






 

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kesempatan untuk menyelesaikan
tugas perkuliahan Ilmu Sosial dan Budaya Dasar ini dengan tema DzManusia Sebagai Makhluk
Moral dan Hukumdz.Dan sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan Nabi
agung Muhammad SAW.

Semoga dengan disusunnya makalah ini diharapkan bisa menambah pengetahuan


tentang manusia sebagai makhluk moral dan hukum khususnya pada kelompok penyusun dan
umumnya pada teman-teman semua.

Kritik dan saran kami harapkan agar dapat memperbaiki tugas kami serta kami juga
minta maaf apabila ada yang kurang atau salah dalam penyusunan makalah ini.

Surakarta,15 Desember 2010

Penulis


  
  
 

ISBD bukanlah suatu disiplin ilmu tersendiri, melainkan lebih merupakan


kajian yang interdisipliner. Mata kuliah ini merupakan sumber nilai dan pedoman
bagi penye1enggaraan program studi guna mengantarkan mahasiswa memantapkan
kepribadian, kepekaan sosial, kemampuan hidup bermasyarakat, pengetahuan
tentang pelestarian, pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan hidup, dan
mempunyai wawasan tentang perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni.

ISBD memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-


konsep yang dikembangkan untuk mengkaji gejala-gejala sosial budaya. Standar
kompetensi yang ingin dicapai adalah agar mahasiswa dapat menjadi ilmuwan dan
profeosional yang berpikir kritis, kreatif, sistemik dan ilmiah, berwawasan luas, etis,
memiliki kepekaan dan empati sosial, bersikap demokratis, berkeadaban serta dapat
ikut berperan mencari solusi pemecahan masalah sosial dan budaya secara arif.

ISBD diharapkan dapat membekali kepada mahasiswa dalam menghadapi


tantangan sosial budaya di lingkungan sekitarnya dan dalam memberi kontribusi
bagi pemecahan masalah-masalah sosial budaya.

     

ë   

     Manusia Sebagai Makhluk Moral
Dan Hukum   

     
˜ ë    
˜ ë  

˜    











 







  
   ! "

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan, moral adalah:

1. (ajaran tt) baik buruk yg diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban,
dsb; akhlak; budi pekerti; susila: -- mereka sudah bejat, mereka hanya minum-
minum dan mabuk-mabuk, bermain judi, dan bermain perempuan;
2. kondisi mental yg membuat orang tetap berani, bersemangat, bergairah,
berdisiplin, dsb; isi hati atau keadaan perasaan sebagaimana terungkap dl
perbuatan: tentara kita memiliki -- dan daya tempur yg tinggi;
3. ajaran kesusilaan yg dapat ditarik dr suatu cerita;

Menurut Bertens, moral berawal dari bahasa latin mos, jamaknya mores yang
juga berarti adat kebiasaan. Secara etimologis, kata etika sama dengan kata moral,
keduanya berarti adat kebiasaa. Perbedaannya hanya pada bahasa asalnya, Etika
berasal dari bahasa Yunani, sedangkan moral berasal dari bahasa latin.

Dalam Wikipedia dijelaskan, Moral adalah istilah manusia menyebut ke


manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang mempunyai nilai positif. Manusia
yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak
memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak
yang harus dimiliki oleh manusia. Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang
berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa
melakukan proses sosialisasi. Moral dalam zaman sekarang mempunyai nilai
implisit karena banyak orang yang mempunyai moral atau sikap amoral itu dari
sudut pandang yang sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah
dan manusia harus mempunyai moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya. Moral
adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian
terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat.Moral adalah
perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam ber interaksi dengan manusia.
apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di
masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan
masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik, begitu juga
sebaliknya.Moral adalah produk dari budaya dan Agama.

Antara etika dan moral memang memiliki kesamaan. Namun, ada pula
berbedaannya, yakni etika lebih banyak bersifat teori, sedangkan moral lebih
banyak bersifat praktis. Menurut pandangan ahli filsafat, etika memandang tingkah
laku perbuatan manusia secara universal (umum), sedangkan moral secara lokal.
Moral menyatakan ukuran, etika menjelaskan ukuran itu.

Namun demikian, dalam beberapa hal antara etika dan moral memiliki
perbedaan. Pertama, kalau dalam pembicaraan etika, untuk menentukan nilai
perbutan manusia baik atau buruk menggunakan tolak ukur akal pikiran atau rasio,
sedangkan dalam pembicaran moral tolak ukur yang digunakan adalah norma-
norma yang tumbuh dan berkembang dan berlangsung di masyarakat.

Istilah moral senantiasa mengaku kepada baik buruknya perbuatan manusia


sebagai manusia. Inti pembicaraan tentang moral adalah menyangkut bidang
kehidupan manusia dinilai dari baik buruknya perbutaannya selaku manusia. Norma
moral dijadikan sebagai tolak ukur untuk menetapkan betul salahnya sikap dan
tindakan manusia, baik buruknya sebagai manusia.

   #$#%

Kata Dzhukumdz mengandung makna yang luas meliputi semua peraturan atau
ketentuan tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur kehidupan masyarakat dan
menyediakan sanksi terhadap pelanggarnya.

Para ahli sarjana hukum memberikan pengertian hukum dengan melihat dari
berbagai sudut yang berlainan dan titik beratnya. Berbeda-beda antara ahli yang
satu dengan yang lain, karena itu tidak ada kesatuan atau keseragaman tentang
definisi hukum, antara lain di bawah ini:

1. Menurut Van Kan


Hukum merupakan keseluruhan peraturan hidup yang bersifat memaksa
untuk melindungi kepentingan manusia di dalam masyarakat.
2. Menurut Utrecht
Hukum merupakan himpunan peraturan (baik berupa perintah maupun
larangan) yang mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat dan seharusnya
ditaati oleh anggota masyarakat yang bersangkutan. Oleh karena itu pelanggaran
petunjuk hidup tersebut dapat menimbulkan tindakan dari pihak pemerintah.
3. Menurut Wiryono Kusumo
Hukum adalah merupakan keseluruhan peraturan baik yang tertulis
maupun tidak tertulis yang mengatur tata tertib di dalam masyarakat dan
terhadap pelanggarnya umumnya dikenakan sanksi.

Dari pendapat para ahli hukum belum terdapat satu kesatuan mengenai
pengertian hukum, namun dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa hukum memiliki
beberapa unsur yaitu :

1. Adanya peraturan/ketentuan yang memaksa


2. Berbentuk tertulis maupun tidak tertulis
3. Mengatur kehidupan masyarakat
4. Mempunyai sanksi.

Peraturan yang mengatur kehidupan masyarakat mempunyai dua bentuk


yaitu tertulis dan tidak tertulis. Peraturan yang tertulis sering disebut perundang
undangan tertulis atau hukum tertulis dan kebiasan-kebiasaan yang terpelihara
dalam kehidupan masyarakat. Sedang Peraturan yang tidak tertulis sering disebut
hukum kebiasaan atau hukum adat.
o #&#  ! "'  #$#% 

Menurut DR. Haryatmoko, dalam ›ompas, 10 Juli 2001 mengatakan, ada lima
pola hubungan moral-hukum yang bisa dibagi dalam dua kerangka
pemahaman.Kerangka pemahaman pertama, moral sebagai bentuk yang
mempengaruhi hukum. Moral tidak lain hanya bentuk yang memungkinkan hukum
mempunyai ciri universalitas. Sebagai bentuk, moral belum mempunyai isi. Sebagai
gagasan masih menantikan pewujudan. Pewujudan itu adalah rumusan hukum
positif.

 Pola hubungan moral-hukum itu yaitu:

Pertama, moral dimengerti sebagai yang menghubungkan hukum dengan


ideal kehidupan sosial-politik, keadilan sosial. Upaya-upaya nyata dilakukan untuk
mencapai ideal itu, tetapi sesempurna apa pun usaha itu tidak akan pernah bisa
menyamai ideal itu. Bagi penganut paham hukum kodrat, ini merupakan pola
hubungan hukum kodrat dan hukum positif.

Kedua, hanya perjalanan sejarah nyata, antara lain hukum positif yang
berlaku, sanggup memberi bentuk moral dan eksistensi kolektif. Pewujudan cita-cita
moral tidak hanya dipahami sebagai cakrawala yang tidak mempunyai eksistensi
(kecuali dalam bentuk gagasan). Dalam pola kedua ini, pewujudan moral tidak
hanya melalui tindakan moral, tetapi dalam perjuangan di tengah-tengah
pertarungan kekuatan dan kekuasaan, tempat di mana dibangun realitas moral
(partai politik, birokrasi, hukum, institusi -institusi, pembagian sumber-sumber
ekonomi).

Pola ketiga adalah voluntarisme moral. Di satu pihak, hanya dalam kehidupan
nyata moral bisa memiliki makna; di lain pihak, moral dimengerti juga sebagai
sesuatu yang transenden yang tidak dapat direduksi ke dalam hukum dan politik.
Satu-satunya cara untuk menjamin kesinambungan antara moral dan hukum atau
kehidupan konkret adalah menerapkan pemahaman kehendak sebagai kehendak
murni. Implikasinya akan ditatapkan pada dua pilihan yang berbeda: Di satu pihak,
pilihan reformasi yang terus-menerus. Pilihan ini merupakan keprihatinan agar
moral bisa diterapkan dalam kehidupan nyata, tetapi sekaligus sangsi akan
keberhasilannya. Maka yang bisa dilakukan adalah melakukan reformasi terus-
menerus. Di lain pihak, pilihan berupa revolusi puritan. Dalam revolusi puritan,
misalnya Taliban di Afganistan, ada kehendak moral yang yakin bahwa penerapan
tuntutan moral itu bisa dilakukan dengan memaksakannya kepada semua anggota
masyarakat. Kecenderungannya ialah menggunakan metode otoriter. Kerangka
pemahaman kedua menempatkan moral sebagai sesuatu yang di luar politik dan
tidak dapat direduksi menjadi politik. Moral dilihat sebagai suatu bentuk kekuatan
yang tidak dapat dihubungkan langsung dengan sejarah atau politik kecuali dengan
melihat perbedaannya. Dalam kelompok ini ada dua pola hubungan antara moral
dan hukum.

Dalam pola keempat, moral tampak sebagai di luar politik. Dimensi moral
menjadi semacam penilaian yang diungkapkan dari luar, sebagai ungkapan dari
suatu kewibawaan tertentu. Tetapi, kewibawaan ini bukan merupakan kekuatan
yang efektif, karena tidak memiliki organ atau jalur langsung untuk menentukan
hukum. Pola hubungan ini mirip dengan posisi kenabian. Nabi dimengerti sebagai
orang yang mengetahui apa yang akan terjadi dan apa yang sedang berlangsung,
tetapi tidak bisa berbuat apa-apa karena ada di luar permainan politik. Tetapi, nabi
memiliki kewibawaan tertentu. Dalam perspektif ini, hubungan antara moral dan
hukum atau politik biasanya bersifat konfliktual. Dalam rezim ini ada pemisahan
antara masalah agama dan masalah politik.

Dalam pola kelima, politik dikaitkan dengan campur tangan suatu kekuatan
dalam sejarah. Kekuatan ini adalah tindakan kolektif yang berhasil melandaskan diri
pada mesin institusional. Moral dianggap sebagai salah satu dimensi sejarah, sebagai
etika konkret bukan hanya bentuk dari tindakan. Dengan demikian moral berbagi
lahan dengan politik. Di satu pihak, moral hanya bisa dipahami melalui praktik
politik. Melalui politik itu moral menjadi efektif: melalui hukum, lembaga-lembaga
negara, upaya-upaya dalam masalah kesejahteraan umum. Tetapi, moral tetap tidak
bisa direduksi ke dalam politik. Di lain pihak, politik mengakali moral. Sampai pada
titik tertentu, politik (dalam arti ambil bagian dalam permainan kekuatan) hanya
mempermainkan moral karena politik hanya menggunakan moral untuk
mendapatkan legitimasi dari masyarakat.

  ( " $  #$#%  ! " 

pesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang


berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di
antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. pesungguhnya Allah
memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. pesungguhnya Allah adalah
Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Qp. An -Nisaa' [4]: 58).

Predikat negara hukum menggambarkan bahwa segala sesuatu harus


berjalan menurut aturan yang jelas; masyarakat yang merupakan warga negara
hidup dalam ketertiban, ketenangan, keamanan dan keadilan. Hukum dibuat
sebagai salah satu sarana untuk menciptakan kondisi demikian. Sebagai sebuah
sarana, dia lebih berjalan pada proses. Untuk mencapai hasil yang maksimal,
maka proses harus berjalan secara maksimal pula. H.L.A. Hart (1965)
mengatakan bahwa untuk menciptakan keadilan, hukum harus meliputi tiga
unsur nilai, yakni kewajiban, moral dan aturan. Karenanya hukum tidak dapat
dipisahkan dari dimensi moral (Murphy & Coelman, 1984: The Philosophy of
Law). Jadi apabila ingin menciptakan keadilan dalam masyarakat maka unsur
moral harus dipenuhi. Belum terciptanya rasa keadilan atau dengan kata lain
gagalnya penegakan hukum dalam masyarakat kita sampai saat ini karena belum
adanya "pengawalan" moral dari aparat penegaknya.

a. Hukum Sebagai Jaring Terluar

Kehidupan sosial masyarakat tidak akan pernah terlepas dari relasi


satu sama lain. Di sinilah sistem hukum bekerja. Sistem hukum, bertanggung
jawab menjamin dihormatinya hak dan dipenuhinya kewajiban yang timbul
dalam kehidupan sosial. Dalam hal ini masyarakat "minimal" menjalankan
apa yang diperintahkan oleh hukum dan meninggalkan larangan-larangan
hukum. Inilah yang penulis maksud dari hukum sebagai jaring terluar.
Sebenarnya, kalau kita dapat memenuhi standar minimal ini saja, keadilan
sudah bisa tercipta. Namun yang terjadi tidak demikian. Jaring terluar ini
sering dilanggar dengan melakukan tindakan-tindakan yang melanggar
hukum, yang menimbulkan "kekacauan" dalam sistem sosial yang ada. Lebih
parah lagi, para pelanggar hukum sering berlindung dibalik teks-teks hukum
dengan "mengutak-atik" dan mencari celah dalam aturan hukum.

Dinamika yang terjadi dalam proses pencarian keadilan pada pranata


hukum kita telah berkembang menjadi begitu kompleks. Keadilan menjadi
sesuatu yang langka dan sulit ditemukan. Kalaulah ada, harus dibeli dengan
harga yang cukup mahal. Maka tidak heran yang dapat menikmati keadilan di
negara hukum ini hanyalah segelintir orang, yaitu orang-orang yang
mempunyai cukup uang untuk membelinya.

b. Keadilan Formal Hukum

Hukum sebagai perangkat untuk menciptakan keadilan hanya


berdasarkan fakta yang tampak dan dapat dibuktikan secara empiris. Adapun
hal yang tidak dapat dilihat dan tidak empiris maka tidak menjadi obyek dan
perangkat untuk mengukur keadilan dalam hukum.

Masalah-masalah hukum dan keadilan di negara kita hanya sekedar


masalah teknis-prosedural untuk menentukan apakah suatu perbuatan
bertentangan atau tidak dengan peraturan perundang-undangan. Apabila
suatu tindakan yang secara empiris dapat dibuktikan tidak melanggar
hukum, maka ia akan dinyatakan tidak melanggar hukum dan terbebas dari
hukuman, meskipun tindakan itu tidak benar, apalagi baik. Dan sebaliknya,
apabila ada seseorang melakukan tindakan yang secara empiris dapat
dibuktikan bahwa tindakan tersebut melanggar hukum maka ia harus
dihukum, meskipun tindakan itu baik dan benar.

Hal ini dapat dimengerti, karena hukum memang hanya menjadi


sarana atau perangkat untuk mewujudkan keadilan. Sebuah perangkat
memang harus jelas dan dapat dinilai serta berlandaskan fakta empiris.
Sebagai konsekuensinya, produk -produk yang dihasilkan oleh proses hukum
adalah sesuatu yang jelas pula. Ukuran kebenaran yang menjadi landasan
hukum sebagai perangkat formal juga hanya berdasarkan hal-hal yang
empiris pula. Jadi keadilan yang dapat diwujudkan oleh hukum hanyalah
keadilan, atau bahkan hanya kebenaran legal formal yang jauh dari nilai-nilai
keadilan.

c. Keadilan Hakiki Berangkat dari Nurani

Keadilan legal formal tidak jarang bertentangan dengan nilai-nilai


keadilan ideal moral yang pada dasarnya "keadilan tertinggi" yang
dikehendaki oleh masyarakat; keadilan yang sesuai dengan hati nurani.
Berdasarkan pemaparan di atas, tampaknya keadilan ini tidak dapat tercipta
hanya mengandalkan sistem kerja perangkat legal formal hukum semata.
Oleh kerena itu unsur moral harus benar-benar diterapkan dalam proses
hukum kita, agar keadilan yang dikehendaki oleh nurani masyarakat benar-
benar terwujud.

Merujuk pada filsuf Yunani, Aristoteles, yang cenderung menggunakan


etika untuk menunjukkan filsafat moral, menjelaskan bahwa fakta moral
tentang nilai dan norma moral, perintah, tindakan kebajikan dan suara hati
(Kanter 2001). Moral mengacu pada baik-buruknya manusia sebagai
manusia, menuntun manusia bagaimana seharusnya ia hidup atau apa yang
boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. Jadi manusia dituntut untuk
bertindak berdasarkan pada suara hati nuraninya.

Berangkat dari pemaparan di atas, para penegak hukum hendaknya


menjalankan fungsinya berdasarkan pada dua hal; pertama, berlandaskan
pada "aturan main" yang telah berlaku. Pada dasarnya apabila ini sudah
terpenuhi setidaknya rasa keadilan dapat terwujud, meskipun mungkin tidak
maksimal, karena peraturan dapat dipelintir dan direkayasa. Kedua,
berpegang teguh pada suara hati nurani. Aturan-aturan hukum yang ada
harus dikawal dengan moral yang bersumber dari hati nurani. Apabila unsur
moral ini dapat terpenuhi maka rasa keadilan yang hakiki akan dapat
terwujud dalam kehidupan masyarakat. Karena hati nurani tidak akan
pernah berdusta, apalagi berhianat.

  "))o!!*
)#)

Pengadilan adalah jantung hukum itu sendiri karena menjadi


laboratorium bedah atas paket perundang-undangan, profesional hukum
melaksanakan fungsi, produk keadilan, dan pertarungan antara moral dan
kepentingan-kepentingan lain.

Untuk itulah berkembang adagium klasik di dunia hukum bahwa sebaik


atau seburuk apapun teks perundang-undangan maka produk keadilan yang
dihasilkan tetap tergantung pada sosok-sosok yang menjalankannya. Di sinilah
pentingnya moralitas hukum yang harus dipegang oleh penguasa pengadilan.

Pernyataan itu dapat dikatakan suatu jawaban atas fenomena hilangnya


keadilan di pengadilan adanya kasus Minah, Basar-Kolil, dan Prita Mulyasari. Di
sisi lain, semuanya merupakan kelompok masyarakat kelas bawah sehingga
menjadi bukti langsung bahwa hukum belum dapat dicerna oleh masyarakat
awam.

Hukum dan moral sama-sama berkaitan dengan tingkah laku manusia


agar selalu baik, namun positivisme hukum yang murni justru tidak memberikan
kepastian hukum. Itulah sebabnya, hukuman terhadap Amir Mahmud, sopir di
BNN hanya karena sebuah pil ekstasi justru dikenai hukuman 4 tahun oleh
Pengadilan Negeri Jakarta Barat, sedangkan jaksa Ester dan Dara yang telah
menggelapkan 343 butir ekstasi hanya divonis 1 tahun.
Hukum merupakan positivasi nilai moral yang berkaitan dengan
kebenaran, keadilan, kesamaan derajat, kebebasan, tanggung jawab, dan hati
nurani manusia. Hukum sebagai positivasi nilai moral adalah legitimasi karena
adil bagi semua orang.

Tanpa moral, hukum tidak mengikat secara nalar karena moral


mengutamakan pemahaman dan kesadaran subjek dalam mematuhi hukum. Hal
ini sebagaimana diungkapkan K Bertens bahwa quid leges sine moribus yang
memiliki arti apa gunanya undang-undang kalau tidak disertai moralitas.

Moral jelas menjadi senjata ampuh yang dapat membungkam


kesewenangan hukum dan pertimbangan kepentingan lain dalam penegakan
keadilan di pengadilan. Minah, secara substansi hukum memang melakukan
pelanggaran berupa delik pencurian, namun secara moral mesti dipahami bahwa
keadilan di tengah lalu lintas hukum modern adalah menekankan pada struktur
rasional, prosedur, dan format.

Jika hal ini ditiadakan, maka akan menegaskan tulisan Harold Rothwax
dalam buku Guilty- The Collapse of the Criminal Justice System bahwa
masyarakat modern tidak lagi mencari keadilan tetapi mencari kemenangan
dengan segala cara. Setidaknya hal demikian dapat terbaca dalam kasus Prita
yang menjadi tersangka pencemaran nama baik Omni International Hospital
Alam Sutera Tangerang. Prita dituduh setelah menulis keluhan pelayanan rumah
sakit itu terhadap dirinya melalui internet.



  
Hukum dan moral sama-sama berkaitan dengan tingkah laku manusia agar
selalu baik, namun positivisme hukum yang murni justru tidak memberikan kepastian
hukum.

Hukum merupakan positivasi nilai moral yang berkaitan dengan kebenaran,


keadilan, kesamaan derajat, kebebasan, tanggung jawab, dan hati nurani manusia.
Hukum sebagai positivasi nilai moral adalah legitimasi karena adil bagi semua orang.

Tanpa moral, hukum tidak mengikat secara nalar karena moral mengutamakan
pemahaman dan kesadaran subjek dalam mematuhi hukum. Hal ini sebagaimana
diungkapkan K Bertens bahwa quid leges sine moribus yang memiliki arti apa gunanya
undang-undang kalau tidak disertai moralitas.

Moral jelas menjadi senjata ampuh yang dapat membungkam kesewenangan


hukum dan pertimbangan kepentingan lain dalam penegakan keadilan di pengadilan.
Minah, secara substansi hukum memang melakukan pelanggaran berupa delik
pencurian, namun secara moral mesti dipahami bahwa keadilan di tengah lalu lintas
hukum modern adalah menekankan pada struktur rasional, prosedur, dan format.
+

Mardian, A. H., 2010, Moral dan Hukum Positif,
http://www.mardianaly.co.cc/2010/04/makalah-moral-dan-hukum-positif.html , April
30

Arif, N., 2010, Pengertian Hukum,


http://arifnurahmanblog.blogspot.com/2010/03/pengertian -hukum.html, Maret