Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

BENIGNA PROSTAT HIPERPLASI ( BPH )

Dosen pembimbing :

NUR HIKMATUL QOWI, S.Kep., Ns. M.Kep

OLEH:

MAGHFIROH
NIM : 2102032129

PRAKTIK PROFESI NERS

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMONGAN

2021
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN KASUS: HERNIA

DEPARTEMEN: KMB

RUANG: RS. KH ABDURRAHMAN SYAMSURI PACIRAN

Lamongan, 19 agustus 2021

Mahasiswa

( MAHMUDATIN )

Pembimbing akademik

(Nur Hikmatul Qowi, S.Kep., Ns. M.Kep)


1. KONSEP DASAR
A. Pengertian BPH

BPH adalah kelenjar prostat bila mengalami pembesaran, organ ini dapat menyumbat
uretra pars prostatika dan menyebabkan terhambatnya aliran urine keluar dari buli-buli
(Purnomo, 2011).
BPH adalah pembesaran kelenjar prostat non-kanker. BPH dapat menyebabkan
penekanan pada uretra sehingga berkenih menjadi sulit, mengurangi kekuatan aliran urine,
atau menyebabkan urine menetes (Corwin, 2012).

B. Konsep Anatomi dan Fisiologi Sistem Perkemihan


1. Anatomi Sistem Perkemihan

Sistem perkemihan adalah suatu sistem yang didalamnya terjadi proses


penyaringan darah sehingga bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh.
Zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh akan larut dalam air dan dikeluarkan berupa
urine (air kemih). Zat yang dibutuhkan tubuh akan beredar kembali ke dalam tubuh
melalui pembuluh kapiler darah ginjal, masuk ke dalam pembuluh darah, dan beredar
ke seluruh tubuh.
Sistem perkemihan merupakan suatu rangkaian organ yang terdiri dari :
a. Ginjal
Ginjal merupakan organ terpenting dalam mempertahankan homeostatis cairan
tubuh. Berbagai fungsi ginjal yaitu : mengatur volume cairan, keseimbangan
osmotik, asam basa, eksresi sisa metabolisme, sistem pengaturan hormonal dan
metabolisme.
b. Ureter
Ureter yang panjangnya sekitar 25 -30 cm dan lebarnya 0,5 cm dan mempunyai
tiga jepitan sepanjang jalan pada piala ginjal berhubungan dengan ureter. Ureter
berjumlah dua buah yaitu ureter kiri dan ureter kanan, terbentang dari hilus ginjal
sampai kandung kemih. Besarnya kurang lebih sebesar tangkai bulu angsa.
c. Vesica Urinaria
Vesika urinaria adalah suatu kantong berotot yang dapat mengempis, terletak
dibelakang sympisis pubis. Mempunyai empat permukaan (berbentuk piramid);
permukaan superior berbentuk segitiga, diliputi oleh peritonium. Basisnya berada
disebelah dorsal dan apexnya berada disebelah anterior. Apexnya tepat berada
dibagian belakang symphisis ossis pubis dan merupakan apex dari vesika urinaria
secara keseluruhan. Vesika urinaria mempunyai tiga muara, yaitu dua muara
ureter dan satu muara ke uretra.
d. Uretra
Urethra adalah saluran kecil dan dapat mengembang, berjalan dari kandung kemih
sampai keluar tubuh. Urethra di lapisi membrana mukosa yang bersambung
dengan membran yang melapisi kandung kemih.
2. Anatomi Prostat

Kelenjar prostate adalah suatu kelenjar fibro muscular yang melingkar Bledder neck
dan bagian proksimal uretra. Berat kelenjar prostat pada orang dewasa kira-kira 20
gram dengan ukuran rata-rata : panjang 3,4 cm, lebar 4,4 cm, tebal 2,6 cm. Secara
embriologis terdiri dari 5 lobus yaitu lobus medius 1 buah, lobus anterior 1 buah,
lobus posterior 1 buah, lobus lateral 2 buah. Selama perkembangannya lobus medius,
lobus anterior dan lobus posterior akan menjadi satu disebut lobus medius. Pada
penampang lobus medius kadang-kadang tidak tampak karena terlalu kecil dan lobus
ini tampak homogen berwarna abu-abu, dengan kista kecil berisi cairan seperti susu,
kista ini disebut kelenjar prostat.
Jaringan stroma yang terdiri dari jaringan fibrosa dan jaringan muskuler. Jaringan
kelenjar yang terbagi atas 3 kelompok bagian :
1) Bagian luar disebut kelenjar sebenarnya.
2) Bagian tengah disebut kelenjar sub mukosal, lapisan ini disebut juga sebagai
adenomatus zone.
3) Di sekitar uretra disebut periuretral gland.
Saluran keluar dari ketiga kelenjar tersebut bersama dengan saluran dari vesika
seminalis bersatu membentuk duktus ejakulatoris komunis yang bermuara ke dalam
uretra. Menurut Mc Neal, prostat dibagi atas : zona perifer, zona sentral, zona
transisional, segmen anterior dan zona spingter preprostat. Prostat normal terdiri dari
50 lobulus kelenjar. Duktus kelenjar-kelenjar prostat ini lebih kurang 20 buah, secara
terpisah bermuara pada uretra prostatika, dibagian lateral verumontanum, kelenjar-
kelenjar ini dilapisi oleh selaput epitel torak dan bagian basal terdapat sel-sel kuboid.
3. Fisiologi
Pembentukan urine di mulai dengan proses filtrasi plasma pada glomerulus. Dari
sekitar 1200 ml darah yang melalui glomerulus setiap menit, terbentuk 120 – 125 ml
filtrat (filtrat = cairan yang telah melewati celah filtrasi). Setiap harinya dapat
terbentuk 150-180 liter filtrat. Dari jumlah ini hanya sekitar 1 % (1,5 liter) yang
akhirnya keluar sebagai kemih, sebagian besar diserap kembali.
Proses pembentukkan urine diawali dengan masuknya darah melalui vasa afferent ke
dalam glomerulus dan keluar melalui vasa efferent. Bagian yang terlihat menyerupai
bentuk batang yang terdiri dan proximal convulated tubule, descending limb of Henle,
ascending limb of Henle, distal convulated tubule, collecting tubule. Pada bagian-
bagian batang ini terjadi proses filtrasi, reabsorbsi dan sekresi.
Sebagaimana diketahui letak kandung kemih pria adalah dibelakang symphisis,
didalam panggul besar dan di depan sisi panggul besar, sedangkan kandung kemih
wanita antara symphisis pubis, uterus dan vagina. Kandung kemih dipisahkan dengan
uterus oleh lipatan peritonium ruang utero vesical (cavum doglasi).
Dinding ureter terdiri dari otot polos yang serabutnya terdiri dari serabut spiral,
longitudinal dan sirkular. Kontraksi peristaltik secara reguler terjadi 1 – 5 kali setiap
menit, menggerakan urine dari pelvis ginjal ke kandung kemih. Urine masuk dengan
cepat dan singkron dengan tiap-tiap gelombang pristaltik.
Kandung kemih memiliki serabut otot polos spiral, longitudinal dan spinter. Ketiga
otot ini dinamakan Otot Destruksor, yang bertanggung jawab terhadap pengosongan
kandung kemih selama berkemih. Berkemih pada dasarnya adalah refleks spinal yang
dirangsang dan dihambat oleh pusat saraf otak yang lebih tinggi, yang sifatnya
volunter (sistem saraf simpatis). Pada orang dewasa, volume urine dalam kandung
kemih normal yang mengawali refleks keinginan untuk berkemih kira-kira sebanyak
250 – 450 ml dan anak-anak 50 – 250 ml. Kandung kemih terangsang dan
menimbulkan gerakan yang ditimbulkan oleh kontraksi otot abdomen yang
menambah tekanan di dalam rongga abdomen dan berbagai organ yang menekan
kandung kemih kemudian merangsang saraf simpatis untuk melepaskan urine dari
kandung kemih (Brunner & Suddarth, 2011).
C. Etiologi
Menurut Alam tahun 2008 penyebab pembesaran kelenjar prostat belum diketahui secara
pasti, tetapi hingga saat ini dianggap berhubungan dengan proses penuaan yang
mengakibatkan penurunan kadar hormon pria, terutama testosteron. Para ahli berpendapat
bahwa dihidrotestosteron yang mamacu pertumbuhan prostat seperti yang terjadi pada masa
pubertas adalah penyebab terjadinya pembesaran kelenjar prostat. Hal lain yang dikaitkan
dengan gangguan ini adalah stres kronis, pola makan tinggi lemak, tidak aktif olahraga dan
seksual. Faktor lain adalah nikotin dan konitin (produk pemecahan nikotin) yang
meningkatkan aktifitas enzim perusak androgen, sehingga menyebabkan penurunan kadar
testosteron. Begitu pula toksin lingkungan (zat kimia yang banyak digunakan sebagai
pestisida, deterjen atau limbah pabrik) dapat merusak fungsi reproduksi pria.

D. Patofisiologi

Menurut Purnomo 2011 pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen


uretra prostatika dan menghambat aliran urine. Keadaan ini menyebabkan peningkatan
tekanan intravesikal. Untuk mengeluarkan urine, buli-buli harus berkontraksi lebih kuat
guna melawan tahanan itu. Kontraksi yang terus menerus ini menyebabkan perubahan
anatomik buli-buli berupa hipertrofi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula,
sakula, dan divertikel buli-buli. Perubahan struktur pada bulu-buli tersebut, oleh pasien
disarankan sebagai keluhkan pada saluran kemih sebelah bawah atau lower urinary tract
symptom (LUTS) yang dahulu dikenal dengan gejala prostatismus. Tekanan intravesikal
yang tinggi diteruskan ke seluruh bagian bulibuli tidak terkecuali pada kedua muara
ureter.
Tekanan pada kedua muara ureter ini dapat menimbulkan aliran balik urine dari
buli-buli ke ureter atau terjadi refluks vesiko ureter. Keadaan keadaan ini jIka
berlangsung terus akan mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis, bahkan akhirnya dapat
jatuh ke dalam gagal ginjal. Obstruksi yang diakibatkan oleh hiperplasia prostat benigna
tidak hanya disebabkan oleh adanya massa prostat yang menyumbat uretra posterior,
tetapi juga disebabkan oleh tonus otot polos yang pada stroma prostat, kapsul prostat,
dan otot polos pada leher buli-buli. Otot polos itu dipersarafi oleh serabut simpatis yang
berasal dari nervus pudendus.
Menurut Mansjoer tahun 2007 pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan
sehingga perubahan pada saluran kemih juga terjadi secara perlahan-lahan. Pada tahap
awal setelah terjadi pembesaran prostat, resistensi pada leher buli-buli dan daerah prostat
meningkat, serta otot detrusor menebal dan merenggang sehingga timbul sakulasi atau
divertikel. Fase penebalan detrusor ini disebut fase kompensasi. Apabila keadaan
berlanjut, maka detrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak
mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensio urin yang selanjutnya dapat
menyebabkan hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas.
E. Chlinical Pathway
Menurut Tanto (2014) perjalanan penyakit BPH
Faktor pencetus BPH : Riwayat Kongenital, faktor umur, jenis kelamin

Pembesaran kelenjar prostat

BPH → Stoma Dan epitel
↓ ↓
Tindakan sistotomi ← Obstruksi saluran kemih rencana operasi
↓ ↓ ↓
Luka sayatan retensi urine pengetahuan
↓ ↓ ↓
Kuman masuk produksi urine ANSIETAS
↓ ↓ ↓

RESIKO INFEKSI vesika urinaria penuh → frekuensi miksi meningkat

↓ ↓
Distensi kandung kemih terbangun untuk miksi
↓ ↓

NYERI AKUT GANGGUAN POLA TIDUR


F.Manifestasi Klinis

a. Keluhan pada saluran kemih bagian bawah :


1) Obstruksi :
a) Hesistensi (harus menggunakan waktu lama bila mau miksi)
b) Pancaran waktu miksi lemah
c) Intermitten (miksi terputus)
d) Miksi tidak puas
e) Distensi abdomen
f) Volume urine menurun dan harus mengejan saat berkemih.
2) Iritasi :
Frekuensi sering, nokturia, disuria.
b. Gejala pada saluran kemih bagian atas
Nyeri pinggang, demam (infeksi), hidronefrosis.

c. Gejala di luar saluran kemih :

Keluhan pada penyakit hernia/hemoroid sering mengikuti penyakit hipertropi


prostat. Timbulnya kedua penyakit ini karena sering mengejan pada saat miksi
sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan intra abdominal.

Gejala generalisata juga mungkin tampak, termasuk keletihan, anoreksia, mual dan
muntah, dan rasa tidak nyaman pada epigastrik (Brunner & Suddarth, 2011).
Secara klinik derajat berat, dibagi menjadi 4 gradiasi, yaitu :
a. Derajat 1 : Apabila ditemukan keluhan prostatismus, pada DRE (digital rectal
examination) atau colok dubur ditemukan penonjolan prostat dan sisa urine kurang dari
50 ml.
b. Derajat 2 : Ditemukan tanda dan gejala seperti pada derajat 1, prostat lebih menonjol,
batas atas masih teraba dan sisa urine lebih dari 50 ml tetapi kurang dari 100 ml.
c. Derajat 3 : Seperti derajat 2, hanya batas atas prostat tidak teraba lagi dan sisa urin
lebih dari 100 ml.
d. Derajat 4 : Apabila sudah terjadi retensi total.
G.Komplikasi

Apabila buli-buli menjadi dekompensasi, akan terjadi retensio urin. Karena


produksi urin terus berlanjut maka pada suatu saat buli-buli tidak mampu lagi
menampung urin sehinnga tekanan intravesika meningkat, dapat timbul hidroureter,
hidronefrosis dan gagal ginjal (Mansjoer, 2007).
Kebanyakan prostatektomi tidak menyebabkan impotensi (meskipun
prostatektomi perineal dapat menyebabkan impotensi akibat kerusakan saraf pudendal
yang tidak dapat dihindari). Pada kebanyakan kasus, aktivitas seksual dapat dilakukan
kembali dalam 6 sampai 8 Minggu, karena saat ini fossa prostatik telah sembuh. Setelah
ejakulasi, maka cairan seminal mengalir ke dalam kandung kemih dan diekskresikan
bersama urin (Brunner & Suddarth, 2003).

H.Pemeriksaan Diagnostik

a. Pemeriksaan Laboratorium, berupa :


1) Pemeriksaan darah lengkap, faal ginjal, serum elektrolit dan kadar gula digunakan
untuk memperoleh data dasar keadaan umum klien.
2) Pemeriksaan urin lengkap dan kultur.
3) PSA (Prostatik Spesific Antigen) penting diperiksa sebagai kewaspadaan adanya
keganasan.
b. Pemeriksaan Imaging dan Rontgenologik, berupa :
1) BOF (Buik Overzich ), digunakan untuk melihat adanya batu dan metastase pada
tulang.
2) USG (Ultrasonografi), digunakan untuk memeriksa konsistensi, volume dan besar
prostat juga keadaan buli – buli termasuk residual urin. Pemeriksaan dapat
dilakukan secara transrektal, transuretral dan supra pubik.
3) IVP (Pyelografi Intravena), digunakan untuk melihat fungsi exkresi ginjal dan
adanya hidronefrosis.
4) Pemeriksaan Panendoskop, digunakan untuk mengetahui keadaan uretra dan buli –
buli.

I. Penatalaksanaan

a. Modalitas terapi BPH :

1) Observasi yaitu pengawasan berkala pada klien setiap 3-6 bulan kemudian setiap
tahun tergantung keadaan klien.

2) Medikamentosa : terapi ini diindikasikan pada BPH dengan Keluhan ringan, sedang,
sedang dan berat tanpa disertai penyulit. Obat yang digunakan berasal dari phitoterapi,
gelombang alfa blocker dan golongan supresor androgen.

b. Indikasi pembedahan pada BPH :

1) Klien yang mengalami retensi urin akut atau pernah retensi urin akut (100 ml).

2) Klien dengan residual urin yaitu urine masih tersisa di kandung kemih setelah klien
buang air kecil > 100 Ml.

3) Klien dengan penyulit yaitu klien dengan gangguan sistem perkemihan seperti retensi
urine atau oliguria.

4) Terapi medikamentosa tidak berhasil.

5) Flowcytometri menunjukkan pola obstruktif.

2. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


A. Pengkajian Keperawatan
Menurut Dongoes (2007), Hal-hal yang perlu dikaji pada pasien dengan gangguan
sistem perkemihan yang berhubungan dengan BPH dalam riwayat keperawatan harus
ditemukan :
a) Identitas pasien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai, status
perkawinan, Pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, no register, tanggal
MRS, diagnose medis
b) Riwayat kesehatan umum meliputi berbagai gangguan/penyakit yang lalu,
berhubungan dengan atau yang dapat mempengaruhi penyakit sekarang.
1) Riwayat kesehatan keluarga.
2) Riwayat kesehatan sekarang.
c) Riwayat Penyakit Sekarang meliputi keluhan/gangguan yang berhubungan dengan
gangguan/penyakit yang dirasakan saat ini :
1) Bagaimana pola/frekuensi berkemih : poliuri, oliguri, BAK keluar sedikit-sedikit
tetapi sering, nokturia, urine keluar secara menetes, incontinentia urin.
2) Adakah kelainan waktu bak seperti : disuria, ada rasa panas, hematuria, dan
lithuri.
3) Apakah rasa sakit terdapat pada daerah setempat atau secara umum :
a) Apakah penyakit timbul setelah adanya penyakit yang lain.
b) Apakah terdapat mual dan muntah.
c) Apakah tedapat edema.
d) Bagaimana keadaan urinenya (volume, warna, bau, berat jenis, jumlah urine
dalam 24 jam).
e) Adakah sekret atau darah yang keluar.
f) Adakah hambatan seksual.
g) Apakah ada rasa nyeri (lokasi, identitas, saat timbulnya nyeri)
h)
d) Data fisik :
1) Inspeksi : Secara umum dan secara khusus pada daerah genetalia. (warna, edema)
2) Palpasi : Pada daerah abdomen, buli-buli (kandung kemih), lipat paha
3) Auskultasi : Daerah abdomen.
4) Perkusi : Daerah abdomen, ginjal.
e) Data psikologis :
1) Keluhan dan reaksi pasien terhadap penyakit.
2) Tingkat adaptasi pasien terhadap penyakit.
3) Persepsi pasien terhadap penyakit.
f) Data sosial, budaya, spritual :
Hubungan dengan orang lain, kepercayaan yang dianut dan keaktifannya, kegiatan
dan kebutuhan sehari-hari :
1) Nutrisi (kebiasaan makan, jenis makanan, makanan pantang, kebiasaan minum,
jenis minuman).
2) Eliminasi BAK dan BAK (konsistensi, frekuensi, warna, bau, dan jumlah)
3) Olahraga (jenis, teratur atau tidak).
4) Istirahat/tidur (waktu, lamanya)
5) Personal Hygiene.
6) Ketergantungan.
g) Data khusus meliputi :
1) Hasil-hasil pemeriksaan diagnostik.
2) Program medis (pengobatan, tindakan medis)

B. Diagnosa keperawatan
Diagnosis keperawatan merupakan suatu penilaian klinis mengenai respon pasien
terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya baik yang
berlangsung actual maupun potensial. Diagnosis keperawatan bertujuan untuk
mengidentifikasi respons pasien individu, keluarga dan komunitasterhadap situasi yang
berkaitan dengan kesehatan.
Jenis jenis diagnosis keperawatan yaitu diagnosis actual, diagnosis resiko, dan
diagnosis promosi kesehatan. Diagnosis actual menggunakan respons pasien terhadap
kondisi kesehatan atau proses kehidupannya yang menyebabkan pasien mengalami
masalah kesehatan. Tanda/gejala mayor dan minor dapat di temukan dan divalidasi pada
pasien. Diagnosis resiko menggambarkan respons pasien terhadap kondisi kesehatan atau
proses kehidupannya yang dapat menyebabkan pasien beresiko mengalami masalah
kesehatan. Tidak ditemukan tanda/gejala mayor dan minor pada pasien , namun pasien
memiliki factor resiko mengalami masalah kesehatan.
Diagnosis promosi kesehatan menggambarkan adanya kenginan dan motivasi pasien
untuk meningkatkan kondisi kesehatannya ke tingkat yang lebih baik atau optimal.
Diagnosis keperawatan memiliki dua komponen utama yaitu masalah (problem) atau
label diagnosis dan indicator diagnostik. Masalah (problem) merupakan label diagnosis
keperawatan yang menggambarkan inti dari respons pasien terhadap kondisi kesehatan
atau proses kehidupannya. Indicator diagnostic terdiri atas penyebab, tanda/gejala, dan
factor resiko. Penyebab (etiology) merupakan factor-faktor yang mempengarui perubahan
status kesehatan. Etiologic dapat mencakup empat katagori yaitu: a) fisiologis, biologis,
atau psikologis; b) efek terapi/tindakan ; c) situasional(lingkungan atau personal ), dan d)
muturasional.Tanda (sign) dan Gejala (syimptom). Tanda merupakan data objektif yang
diperoleh dari hasil pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan prosedur
diagnostic, sedangkan gejala merupakan data subjektif yang diperoleh dari hasil
anamnesis. Tanda/gejala dikelompokan menjadi dua yaitu mayor dan minor. Factor
resiko merupakan kondisi atau situasi yang dapat meningkatkan kerentanan pasien
mengalami masalah kesehatan (SDKI, 2016)
Diagnosa keperawatan ditegakan atas dasar data pasien. Kemungkinan
diagnosa keperawatan pada pasien BPH adalah sebagai berikut :
1) Nyeri akut
Nyeri akut adalah pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan
jaringan actual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas
ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan.
2) Gangguan eliminasi urine
Gangguan eliminasi urine adalah disfungsi eliminasi urine.
3) Resiko infeksi
Resiko infeksi yaitu beresiko mengalami peningkatan terserang organisme patogenik.
4)Resiko perdarahan
Resiko perdarahan adalah beresiko mengalami kehilangan darah baik internal (terjadi di
dalam tubuh) maupun eksternal (terjadi hingga keluar tubuh).
5)ansietas
Ansietas adalah kondisi emosi dan pengalaman subyektif individu terhadap obyek yang
tidak jelas dan spesifik akibat antisipasi bahaya yang memungkinkan individu melakukan
tindakan untuk menghadapi ancaman.
No SDKI SLKI SIKI
1 Nyeri akut Setelah dilakukan asuhan Pain manajemen
berhubungan keperawatan selama 1x6 - Lakukan pengkajian secara
dengan agen cidera jam diharap nyeri komprehensif dengan PQRST
fisik (operasi) berkurang / hilang - Gunakan teknik komunikasi terapiutik
dengan kreteria: - Anjurkan pasien untuk memberitahu
- Klien dapat perawat dengan cepat bila terjadi
mengekspresikan bahwa nyeri dada.
nyeri berkurang/hilang - Gunakan teknik distraksi relaxasi
- Tanda vital dalam batas - Observasi pasien tentang skala nyeri
normal. atau ketidaknyamanan
- Klien dapat - Gunakan tebel nyeri untuk memonitor
mendemonstrasikan nyeri terhadap efek pemberian obat
teknik relaksasi - Kaji tentang kepercayaan,
untuk meningkatkan kebudayaan, terhadap nyeri pasien
kenyamanan dan responnya.
- Klien dapat mengenali - Observasi nonverbal pasien terhadap
factor penyebab dan ketidaknyamanan.
menggunakan tindakan - Observasi gejala yang berhubungan
untuk memodifikasi dengan dispnea, mual/muntah, pusing.
factor - Evaluasi laporan nyeri pada leher,
tersebut bahu, tangan/lengan khususnya sisi
- Klien dapat beristirahat kiri.
- Posisikan pasien pada istirahat total
selama episode angina.
- Observasi tanda-tanda vital
- Ciptakan lingkungan yang tenang,
nyaman bila perlu batasi pengunjung
- Berikan makanan yang lembut
- Kolaborasi :
- Pemberian oksigen
- Nitro Gliserin
- Beta Bloker
- Morfin sulfat
2 Gangguan Eliminasi urine Manajemen eliminasi urine
eliminasi urine Ekspektasi: membaik - monitor eliminasi urine (frekuensi,
berhubungan Kriteria hasil: konsistensi,aroma, volume, dan warna)
dengan efek - sensasi berkemih Teraupetik
tindakan medis dan meningkat - catat waktu-waktu dan haluaran
diagnosis - volume residu urine berkemih
meningkat Edukasi
- urine menetes menurun - Ajarkan mengukur asupan cairan dan
- frekuensi BAK haluaran urine
membaik - Anjurkan minum yang cukup,bila
tidak ada kontraindikasi

3 Resiko infeksi Resiko infeksi Pencegahan infeksi


berhubungan Ekspektasi: menurun Observasi
dengan kerusakan Kriteria hasil: - monitor tanda dan gejala infeksi local
integritas kulit - tidak ada demam dan sistemik
- nyeri menurun Terapeutik
- Kerusakan jaringan - berikan perawatan kulit pada area luka
menurun post operasi
- Kerusakan lapisan kulit - cuci tangan sebelum dan sesudah
menurun kontak dengan pasien
- Perdarahan menurun - pertahankan teknik aseptic pada pasien
- Kemerahan menurun beresiko tinggi
Edukasi
- jelaskan tanda dan gejala infeksi
- Ajarkan cara mencuci tangan dengan
benar
- ajarkan cara memeriksa kondisi luka
operasi
- Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi
- Anjurkan meningkatkan asupan cairan

DAFTAR PUSTAKA
Basuki B. Purnomo. 2011. Dasar-Dasar Urologi. Jakarta: CV. Sagung Seto
Corwin, E, (2012), Buku Saku Patofisiologi, Jakarta, EGC
Herdman & Kamitsuru. (2015). Diagnosis Keperawtan Definisi & Klasifikasi. Jakarta : ECG.
Smeltzer, S. C & Brenda G. Bare. 2014.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth’s Edisi 10. Jakarta: EGC
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Edisi 1. Jakarta :
Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Edisi 1. Jakarta :
Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2019. Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Edisi 1. Jakarta :
Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.